Hindari Hoax, Umat Islam Diimbau untuk Selalu Tabayun

Hindari Hoax, Umat Islam Diimbau untuk Selalu Tabayun

Ratusan ulama muda Muhammadiyah mengimbau umat Islam agar tak menjadi penyebar hoax. Soalnya, pekerjaan itu adalah pekerjaan yang haram. “Kami juga mengimbau kepada umat Islam agar tidak bekerja sebagai buzzer politik/penyebar hoax karena penghasilan yang didapat dari pekerjaan yang fasad adalah haram dan akan membawa kemudaratan bagi pelakunya,” demikian pernyataan tausiyah kebangsaan ulama muda Muhammadiyah. [Gambas:Video 20detik] Pernyataan itu disampaikam oleh ulama muda dari Pondok Pesantren Muhammadiyah Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Jati Sarwo Edy di Gedung Dakwan Muhammadiyah, Rabu (31/1/2018). Ini adalah salah satu hasil dari Kongres Ulama Muda Muhammadiyah (KUMM) yang sudah digodok sejak tiga hari sebelumnya. “Mengimbau umat Islam agar selektif dan menggunakan prinsip tabayyun (klarifikasi) dalam menyampaikan berita, karena menyebar berita bohong/hoax adalah dosa besar dan pelakunya dapat dikategorikan fasik,” kata Jati. Ulama muda dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang, Arif Hidayat, membidangi pembahasan soal isu hoax dan berita bohong di Kongres ini. Arif mengataka hoax tidak terbatas pada berita bohong secara langsung saja, namun kabar yang bertendensi melebih-lebihkan supaya menimbulkan citra positif, isitilahnya glorifikasi, juga merupakan hoax yang haram. “Glorifikasi juga termasuk berita bohong, soalnya ada hiperbola di situ. Itu berbahaya bagi masyarakat,” kata Arif. Literasi media harus digencarkan agar masyarakat bisa lebih selektif menerima informasi. Di Jepang, kara pria yang sedang menempuh studi doktoral bidang pendidikan di Negeri Sakura ini, hoax politik juga marak. Namun masyarakatnya sudah cerdas dan selektif sehingga hoax tidak berakibat buruk. “Kita juga mendukung sistem QR Codes untuk media, namun QR Codes itu bisa dijadikan tidak permanen. Ketika media menyebarkan hoax maka QR Codes itu dicabut,” usulnya. Kelompok-kelompok anti-hoax di media sosial juga didukungnya. Masyarakat diimbaunya untuk tak mudah percaya kabar viral, meski kabar itu berasal dari kalangan internal umat Islam sendiri. “Informasi dari internal juga perlu dicek,” kata Arif. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, beropini pribadi. Tak semua pekerjaan buzzer adalah pekerjaan haram. Ada pula buzzer yang menyebarkan kabar yang benar. Buzzer yang haram adalah buzzer yang menyebarkan hoax. “Buzzer politik yang dimaksud adalah yang menyebar fitnah dan hoax. Kan ada juga buzzer hasanah, itu istilah saya saja, yang menyebar pesan-pesan positif,” kara Dahnil menambahkan.

Ratusan ulama muda Muhammadiyah mengimbau umat Islam agar tak menjadi penyebar hoax. Soalnya, pekerjaan itu adalah pekerjaan yang haram. “Kami juga mengimbau kepada umat Islam agar tidak bekerja sebagai buzzer politik/penyebar hoax karena penghasilan yang didapat dari pekerjaan yang fasad adalah haram dan akan membawa kemudaratan bagi pelakunya,” demikian pernyataan tausiyah kebangsaan ulama muda Muhammadiyah. [Gambas:Video 20detik] Pernyataan itu disampaikam oleh ulama muda dari Pondok Pesantren Muhammadiyah Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Jati Sarwo Edy di Gedung Dakwan Muhammadiyah, Rabu (31/1/2018). Ini adalah salah satu hasil dari Kongres Ulama Muda Muhammadiyah (KUMM) yang sudah digodok sejak tiga hari sebelumnya. “Mengimbau umat Islam agar selektif dan menggunakan prinsip tabayyun (klarifikasi) dalam menyampaikan berita, karena menyebar berita bohong/hoax adalah dosa besar dan pelakunya dapat dikategorikan fasik,” kata Jati. Ulama muda dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang, Arif Hidayat, membidangi pembahasan soal isu hoax dan berita bohong di Kongres ini. Arif mengataka hoax tidak terbatas pada berita bohong secara langsung saja, namun kabar yang bertendensi melebih-lebihkan supaya menimbulkan citra positif, isitilahnya glorifikasi, juga merupakan hoax yang haram. “Glorifikasi juga termasuk berita bohong, soalnya ada hiperbola di situ. Itu berbahaya bagi masyarakat,” kata Arif. Literasi media harus digencarkan agar masyarakat bisa lebih selektif menerima informasi. Di Jepang, kara pria yang sedang menempuh studi doktoral bidang pendidikan di Negeri Sakura ini, hoax politik juga marak. Namun masyarakatnya sudah cerdas dan selektif sehingga hoax tidak berakibat buruk. “Kita juga mendukung sistem QR Codes untuk media, namun QR Codes itu bisa dijadikan tidak permanen. Ketika media menyebarkan hoax maka QR Codes itu dicabut,” usulnya. Kelompok-kelompok anti-hoax di media sosial juga didukungnya. Masyarakat diimbaunya untuk tak mudah percaya kabar viral, meski kabar itu berasal dari kalangan internal umat Islam sendiri. “Informasi dari internal juga perlu dicek,” kata Arif. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, beropini pribadi. Tak semua pekerjaan buzzer adalah pekerjaan haram. Ada pula buzzer yang menyebarkan kabar yang benar. Buzzer yang haram adalah buzzer yang menyebarkan hoax. “Buzzer politik yang dimaksud adalah yang menyebar fitnah dan hoax. Kan ada juga buzzer hasanah, itu istilah saya saja, yang menyebar pesan-pesan positif,” kara Dahnil menambahkan.

JAKARTA – Ketua Umum PPP M Romahurmuziy mengatakan, berita palsu atau hoax bisa ditangkal dengan cara tabayun atau klarifikasi, menghidupkan nalar, memvalidasi secara masuk akal sehat dalam konteks ajaran Islam dari setiap informasi yang diterima. Jika sudah tidak diragukan kebenaran dan manfaatnya, tentu menyebarluaskannya tidak dipersoalkan bahkan bisa menuai kebaikan. Namun jika belum jelas kebenaran dan manfaatnya, dia meminta tidak disebarluaskan. “Tetapi jika belum jelas kebenaran dan manfaatnya, sebaiknya tidak melakukan apapun. Apalagi men- share kepada orang lain karena menimbulkan kemudharatan,” kata pria yang akrab disapa Romi di hadapan ribuan jamaah salat Idul Adha, Alun-alun Kebumen, Jawa Tengah, Jumat (1/9/2017). Putra pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) KH Tolchah Mansoer ini mengatakan, bahwa isu sensitif yang sering disebar dan diviralkan oleh oknum tidak bertanggung jawab adalah isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), tidak lain adalah untuk mempengaruhi opini publik. “Berita hoax seringkali dimanfaatkan kelompok radikal dan kelompok tidak bertanggung jawab untuk memprovokasi yang merusak kedamaian dan kebhinekaan NKRI,” kata cicit ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Chasbullah ini. Dia menambahkan, hoax jika dibiarkan akan menjadi ancaman nyata bagi dinamika ekonomi dan politik yang berpotensi menimbulkan kegaduhan besar. Sehingga menciptakan rasa tidak aman pada masyarakat, dan pada gilirannya mengganggu iklim investasi. “Berita hoax harus dilawan untuk menjaga kebhinekaan dan kedaulatan NKRI,” paparnya. Dalam kesempatan itu, dia menyerahkan langsung hewan kurban berupa seekor sapi jenis peranakan ongole (PO) kepada takmir Masjid Agung Kauman, Kebumen. Usai menjadi Khatib di Alun-alun Kebumen, Romi langsung menuju Kantor PP Muhammadiyah di Yogyakarta. Selain memberikan hewan kurban, Romi juga bertemu dengan mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas. (maf)

Era informasi bergeser ke era big data sekarang ini ada pergeseran makna tentang fungsi teknologi, dulu teknologi diciptakan mempunyai fungsi untuk “melayani manusia”, algoritma pemrograman di desain sedemikian rupa (sama) untuk melayani manusia, sekarang fungsi teknologi bergeser “memahami manusia” sehingga dibutuhkan algoritma yang berbeda untuk setiap manusia, pergeseran makna dari “melayani menjadi memahami” ini memberikan tantangan tersendiri untuk para programmer untuk menerjemahkannya, kalau dulu programmer cukup membuat satu model pemrograman untuk semua jenis manusia (melayani), sekarang programmer membutuhkan banyak model untuk (melayani) manusia, konsekunsinya adalah teknologi semakin manusiawi dan manusia bisa digantikan oleh teknologi.

seperti di kutip dari https://alwaasit.com

Dalam hal media, setiap hari di sosial media (facebook, twitter, whatsapp dll) kita selalu dibanjiri oleh jutaan informasi yang tidak jelas sumbernya, bahkan tak jarang informasi yang bersifat provikatif dan bisa mengakibatkan permusuhan, dan juga tersebar informasi dan gambar-gambar hoax yang pada ujungnya meminta bantuan dana, di dalam era seperti sekarang ini, susah sekali membedakan informasi yang mempunyai arti berita, fakta, prasangka (dzan), gosip, bercampur aduk menjadi satu. Rasulallah saw. bersabda “salamatul Insan fi hifdzillisan” yang artinya keselamatan seseorang tergantung pada menjaga lisan, lisan disini berarti bukan hanya kata-kata yang keluar dari mulut kita, tetapi tweet dan status yang kita posting, informasi yang kita share, berita yang kita broadcast dst.

seperti di kutip dari https://alwaasit.com

Jika dulu ada pepatah “mulutmu harimaumu” sekarang bergeser menjadi “statusmu harimaumu” sudah banyak kasus orang yang gara-gara statusnya masuk penjara, karena melanggar UU ITE nomor 11 tahun 2008: Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dana tau mentransmisikan dana atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan melanggar kesusilaan; perjudian; penghinaan dan atau pencemaran nama baik; pemerasan dan atau ancaman (Bab VII Pasal 27), serta setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan : berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik; informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dana tau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) ancaman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dana tau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

seperti di kutip dari https://alwaasit.com

Bagaimana cara kita menyikapi dan mengelola informasi? Pertama, Tabayyun (konfirmasi) cek dan ricek (Alhujurat: 6) terkadang kita mendapatkan informasi tanpa berfikir panjang kita langsung share tanpa kita cek sehingga terjadi viral; Kedua, Dzan (prasangka) kadang info yang kita terima mengandung prasangka, jika benar maka ghibah jika salah maka fitnah; Ketiga, bicara yang baik atau diam. Sikap Bertaqwa adalah bersikap hati2 terhadap informasi, tak asal percaya dan 1000x sebelum menyebarkan. Sebelum menshare sebuah berita tanyakan pada dirimu tentang hal berikut ini: 1) apakah berita ini benar? Apakah saya sudah mengkonfirmasi kebenaran berita ini? 2) Apakah ini fakta atau prasangka? 3) Jika berita ini fakta dan benar, apa perlu disebarkan? Apakah ada orang yang disakiti dg berita ini? 4) Apakah memberikan kebaikan apakah menyulut permusuhan?

seperti di kutip dari https://alwaasit.com

Dunia maya sekarang adalah sama dengan dunia nyata untuk itu dalam berkomunikasi via media sosial ada beberapa etika berinternet (netiket) yaitu: pertama, tidak menggunakan huruf besar (capital) dalam komunikasi; kedua, jangan asal copas (copi, paste) tuliskan sumber tulisan jika berasal dari tulisan orang lain; ketiga, sopan dan hindari kata-kata sarkasme, kasar, sara atau menyinggung perasaan orang lain; keempat, No Hoax, jangan menyebar berita dan gambar yang belum jelas kebenarannya; kelima, jika mengenai tentang hal pribadi, maka manfaatkan jaringan pribadi (Japri).

seperti di kutip dari https://alwaasit.com

Saya teringat akan kisah-kisah orang dahulu ketika menyikapi perbedaan, misalnya kisah KH. Idam Khalid (Ketua Tanfidziyah PBNU) dan Buya Hamka (Tokoh Muhammadiyah) ketika berangkat haji ke tanah suci menggunakan kapal pada saat sholat subuh, ketika itu KH. Idam Khalid menjadi imam sholat subuh dan diantara makmum adalah Buya Hamka, pada rakaat kedua setelah ruku’ KH. Idam Khalid tidak mengangkat tangannya untuk membaca do’a qunut, setelah salam kemudian buya hamka bertanya kenapa kamu tidak membaca do’a qunut? KH. Idam Khalid menjawab saya tidak mau memaksa orang yang tidak membaca do’a qunut untuk saya ajak berqunut. Dan hari berikutnya gantian Buya Hamka yang menjadi imam shubuh dan diantara makmumnya adalah KH. Idam Khalid, setelah ruku’ di rakaat kedua tiba-tiba Buya Hamka membaca do’a qunut dengan fasihnya sampai selesai, setelah salam kemudian gentian KH. Idam Khalid bertanya kenapa engkau membaca do’a qunut sedangkan engkau berpendapat tanpa qunut di sholat subuh? Buya Hamka menjawab saya tidak akan memaksa orang yang membaca do’a qunut untuk tidak berqunut, betapa indahnya para tokoh tersebut dalam menghargai dan menghormati perbedaan.

seperti di kutip dari https://alwaasit.com

Minimnya ruang dialog secara akademis yang bisa dipertanggung jawabkan mengakibatkan dialog bebas tanpa etika di dinding-dinding sosial media, minimnya literasi warga kita mengakibatkan kedangkalan pengetahuan dalam bersosial media, jika waktu-waktu luang masyarakat kita masih minim dengan membaca maka sampai kapan kita akan menghujat dan menghardik antar sesama? Perbedaan adalah takdir dan sebagai salah satu bukti kuasa Tuhan, untuk itu mari kita rayakan perbedaan! Wallahu a’lam bishowab. [dutaislam.com/gg]

Related Posts

Comments are closed.