Hasil Lelang Barang Inventaris, KPK Kumpulkan Rp 783 Juta

Hasil Lelang Barang Inventaris, KPK Kumpulkan Rp 783 Juta

KPK melelang sejumlah barang inventaris. Dari lelang itu kemudian laku puluhan kendaraan bermotor senilai Rp 783 juta. “Dari pelaksanaan lelang barang inventaris KPK melalui KPKNL III Jakarta hari ini (1/3), 10 mobil dari 12 kendaraan roda 4 (mobil) yang ditawarkan laku terjual dengan harga total Rp 735 juta dan 1 paket kendaraan roda 2 (motor) berjumlah 12 item laku terjual Rp 48 juta,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Kamis (1/3/2018). Namun, ada pula 2 mobil yang tidak laku terjual karena tidak ada peminat. Dua kendaraan itu adalah: 1 unit mobil tahanan Toyota Kijang KF 60 Standar warna hitam berpelat nopol B 8593 WU dengan nilai limit Rp 31.204.000, serta 1 unit Toyota Previa 2.4 L A/T warna hitam, tahun 2004 dengan nilai limit Rp 101.412.000. Sebelumnya, KPK mengumumkan soal penyelenggaraan lelang barang inventaris berupa motor hingga mobil. Barang yang dilelang itu merupakan kendaraan operasional KPK yang paling singkat telah digunakan selama 7 tahun. Lelang itu dilaksanakan secara langsung. Namun, pesertanya harus lebih dulu memiliki akun yang telah terverifikasi pada website www.lelangdjkn.kemenkeu.go.id. Dilihat dari website KPK sebelumnya, barang yang dilelang antara lain, 1 unit mobil Honda Jazz tahun 2007 dengan nilai limit Rp 59 juta, 1 unit mobil Toyota Yaris tahun 2007 dengan nilai limit Rp 61 juta hingga 3 unit mobil tahanan Toyota Kijang. Ada pula 12 unit motor yang dilelang dalam 1 paket dengan nilai limit Rp 39 juta.

KPK melelang sejumlah barang inventaris. Dari lelang itu kemudian laku puluhan kendaraan bermotor senilai Rp 783 juta. “Dari pelaksanaan lelang barang inventaris KPK melalui KPKNL III Jakarta hari ini (1/3), 10 mobil dari 12 kendaraan roda 4 (mobil) yang ditawarkan laku terjual dengan harga total Rp 735 juta dan 1 paket kendaraan roda 2 (motor) berjumlah 12 item laku terjual Rp 48 juta,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Kamis (1/3/2018). Namun, ada pula 2 mobil yang tidak laku terjual karena tidak ada peminat. Dua kendaraan itu adalah: 1 unit mobil tahanan Toyota Kijang KF 60 Standar warna hitam berpelat nopol B 8593 WU dengan nilai limit Rp 31.204.000, serta 1 unit Toyota Previa 2.4 L A/T warna hitam, tahun 2004 dengan nilai limit Rp 101.412.000. Sebelumnya, KPK mengumumkan soal penyelenggaraan lelang barang inventaris berupa motor hingga mobil. Barang yang dilelang itu merupakan kendaraan operasional KPK yang paling singkat telah digunakan selama 7 tahun. Lelang itu dilaksanakan secara langsung. Namun, pesertanya harus lebih dulu memiliki akun yang telah terverifikasi pada website www.lelangdjkn.kemenkeu.go.id. Dilihat dari website KPK sebelumnya, barang yang dilelang antara lain, 1 unit mobil Honda Jazz tahun 2007 dengan nilai limit Rp 59 juta, 1 unit mobil Toyota Yaris tahun 2007 dengan nilai limit Rp 61 juta hingga 3 unit mobil tahanan Toyota Kijang. Ada pula 12 unit motor yang dilelang dalam 1 paket dengan nilai limit Rp 39 juta.

Para nelayan di Pantai Mekar, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, berharap calon pemimpin yang bertarung di Pilgub Jabar 2018 memberikan perhatian lebih berkaitan kepedulian lingkungan dan potensi wisata. Ketua Gabungan Kelompok Nelayan (Gapokyan) Muara Gembong Nari menyampaikan aspirasi tersebut kepada Calon Gubernur (Cagub) Jabar Ridwan Kamil. Emil, sapaan Ridwan, menyambangi Bekasi bertepatan masa kampanye Pilgub Jabar, seperti disampaikan dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (1/3/2018). Mewakili nelayan, Nari curhat ke Emil soal masalah limbah. Dia menyebut saat ini limbah industri yang mencemari membuat ikan mati dan banyak tambak yang ditinggal oleh nelayan lantaran tidak menghasilkan. “Air tercemar, kotor, bau dari limbah industri,” kata Nari. Nari mengaku sudah melaporkan hal tersebut pada pihak berwenang. Namun hingga kini belum ada penanganan. “Malah saya disuruh cari dari mana asal limbah itu. Bagaimana mau cari, caranya saja tidak tahu dan saya sibuk cari ikan di laut,” kata Nari. Keluhan serupa diungkapkan nelayan lainnya, Marudi (60). Lelaki tersebut mengeluhkan soal abrasi lantaran tidak ada bendungan. Sehingga nelayan berinisiatif menanam mangrove , meski kurang kuat menahan abrasi. “Kami ingin pemimpin Jabar nanti bisa membangun dam agar abrasi tidak terus terjadi. Lalu air di sini asin, kami berharap ada air bersih,” ujar Marudi. Ketua Kelompok Sadar Wisata Muara Gembong Ahmad Daryanto mengatakan wilayah tersebut memiliki potensi wisata karena ada ekowisata mangrove sepanjang 100 meter dari target 650 meter. “Untuk ekowisata mangrove 100 meter menghabiskan Rp 20 juta. Kami kekurangan dana untuk mengembangkannya,” ujar Ahmad. Mendengar keluhan tersebut, Cagub Emil mengaku sudah mencatat dan akan mencarikan solusi. Soal abrasi, Emil menjelaskan memang perlu dibuat dam, namun mangrove harus tetap dilestarikan. “Soal limbah biar pemerintah yang cari solusinya. Enggak masuk akal kalau nelayan yang harus selidiki limbah,” ujar pria berkacamata itu. Terkait ekowisata, Emil yang sempat menyusuri tempat tersebut, memiliki sketsa yang nantinya dapat menjadi penunjang. “Saya berencana ada teras di sepanjang sungai yang jual makanan, suvenir dan wisata mangrove ,” kata Emil.

Related Posts

Comments are closed.