Gempa 5,7 SR Guncang Padang Sidempuan

Gempa 5,7 SR Guncang Padang Sidempuan

Baca juga :

Untunglah sebelum situasi bertambah panas Lettu Sainan Sagiman diperintahkan untuk mengkonsolidasi dan mengkoordinasikan dengan Panglima Sumatera Tengah Letkol A. Husain, Panglima Sumatera Utara Letkol. Djamin Ginting serta Panglima Aceh Letkol  Syamaun Gaharu agar memberikan dukungan kepada TT. II/SRIWIJAYA meyakinkan MBAD masalah Sumatera Selatan dibawa ketingkat pusat dan tidak perlu dengan pengerahan kekuatan mliter. Usulan ini didukung secara penuh oleh ketiga panglima wilayah sumatera dengan tujuan mencegah pertempuran sesama kekuatan NKRI

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Harus juga kita mengerti yang penting buat  kita  pendirin sebagai Negara  yang selalu  menyebut setia kepada Proklamsi 17 Agustus a945.Pada kita cukup sekarang petunjuk-petunjuk bahwa usaha ini juga dibidang lain telah meliwati batas-batas yang bisa kita pakai.Pertama saya berpendapat selaludan  dengan saya juga saya kira sebagian besar  dari pada Angkatan Perang kita bahwa  Pergolakan dalam negeri ini tidak pada tempatnya ada  Militer yang bekerja sama dengan Gerembolan DI.Dalam hal semacam ini kita tidak  dapat sebagai tentara  menyebut ini masih dalam batas pelanggaran rutin, seperti dalam peristiwa Cikini dan lain-lainnya  maupun dalam soal ini .

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kedua kita  tidak bisa membenarkan  bagaimanapun juga bahwa  dalam Pergolakan anatar kita  dengan kita sebagai Negara  yang muda ini kita bersedia  bekerja sama dengan Angkatan Perang Asing.Hal ini sudah melanggar  Tujuh Belas Agustus  Empat Lima Saya tidak usah bicara mengenai  Politik Bebas Yang Aktif  tapi  semua kita  percuma lah berjuang  sejak  45 kalau kita  dalam perkelahian anatar kita dengan kita yang  lumayan sebagai Negara Yang Muda ini, juga bersedia bekerja sama dengan Negara Asing  dan juga alat-alat Senjata asing.Saya tidak akan memberikan satu persatu peristiwa disini,kan tetapi inipun sekarang kita konstantir.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Keadaan kita memang sekarang ini pada waktu Cikini mulai dalam satu konflik yang besar sekali dengan belanda yang disebut  Pembebasan Irian Barat.Dimana kita sedang  melikwidasi  Kekuasaan ekonomi Belanda di Indonesia  dan dimana  Belanda  dan lain-lainnya  yang suka membantunya  itu  berusaha  meniadakan tindakan kita  itu yang  dianggap  sebagai lanjutan Kemerdekaan kita  harus  kita laksanakan.Dalam hubungan ini juga  juga tidak dapat kita benarkan pendirian dari mereka yang membentuk Pemrintahan yang baru  itu yang juga tidak membenarkan ini dan  mereka bersedia mengembalikan atau meminta tolong kepada mereka itu kembali.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Perdana Menter   : Mr. Syafruddin Prawiranegara                                                                                                Menteri Luar Neger  : Kol. Maluddin Simbolon                                                                                                          Menteri Pertahanan & Menteri Kahakiman : Mr. Burhanuddin Harahap                                                             Menteri Perhubungan & Pelayaran : Dr. Soemitro Joyohadikusumo                                                                       Menteri Pendidikan, Pengajaran, & Kebudayaan(PP & K)                                                                                        merangkap Menteri Kesehatan : Mohammad Syafei                                                                                                                                                                                                                             Menteri Perhubungan     : JF. WarouwMenteri Pertanian & Perburuhan    : S. Sarumpait                            Menteri Agama: Mochtar Lintang                                                                                                                               Menteri Penerangan  : M.Saleh Lahade                                                                                                                     Menteri Sosi    : Ayah Gani Usman                                                                                                                                                 Menteri Dalam Negeri* : Kol. Dahlan Djambek kemudian digantikan Mr. Assa                                               tmenteri Pos dan Telekomunikasi*  : Kol. Dahlan Djambek.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bertepatan waktu dengan diumumkannya PRRI pada tanggal 15 Pebruari 1958, di Staf Umum Angkatan Darat oleh Gabungan Kepala-Kepala Staf Angkatan dibentuklah suatu Komando Operasi Gabungan (Task Force) yang diberi nama “TEGAS” dengan Komandannya waktu itu Letkol Inf Kaharudin Nasution (sekarang Mayjen TNI) dari AD, dengan Wakil Komandan I Letkol (U) Wirijadinata dari AU dan Wakil Komandan II Mayor (L) Indra Soebagio dari AL. Komando ini merupakan komando pertempuran expedisionir yang langsung di bawah perintah Kasad dengan ditentukan sebagai kawasan operasi daerah Sumatera Tengah

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Untuk itu ia telah mendapat dukungan Balikpapan(Hartoyo) dan diharapkan  Banjarmasin(Kol Hasan Basri,Ketua dewan Lambung Mangkurat) akan menyediakan Bandar Udara untuk pesawat pembomnya. Kapal-kapal pendarat ke Jakarta itu bersifat pendadakan, karena pasukan Pusat sedang memusatkan perhatian ke Indonesia Timur dan Sumatera tengah. Padahal serangan-serang di indonesai Timur itu (antara lain Pope) hanya gerak tipu saj karena Pusat sudah terikat pada mitos “ Gerakan separatis” yang seolah-olah ingin memisahkan Indonesia  Timur dari RI,maka strategi itu tidak pernah dipahami.Berkobarnya pertempuran di Sulawesi Utara dan Sumatera tengah sejak April 1958 menutup kemungkinan dilaksanakannya rencana tersebut

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Tidak lama setelah pengumuman berdirinya PRRI, tiga Orang Amerika  dengan mempergunakan Pesawat Catalina  mendarat di danau singkarak. Kedatangan mereka untuk mengatur  penerimaan pengiriman  Senjata dan Peralatan Militer lainnya. Mereka menghubungi Komando Militer Sumatera tengah  dan meminta bantuan  mempertemukan mereka dengan Kolonel Mauludin Simbolon , Kolonel Mauludin simbolon melayani mereka  dengan baik sebagai mana biasanya . Besama Letkol Ahmad Husein ia menerima  perangkat alat komunikasi  serta buku sandi  dan memberikan pelatihan cara mengunakannya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah itu dilakukan pengiriman senjata dengan kapal laut, melalui penerjunan dua kali di  udara di lapangan terbang tabing  sehingga cukup untuk mempersenjatai 8000 orang. Sebagain senjata itu secara sembunyi-sembunyi dikirim Kol Simbolon ke Tapanuli untuk melengkapai persenjataan  Mayor Sinta Pohan  dan 3000 pucuk kepada Daud Berueh  di Aceh dan sebagian lagi untuk melengkapi persenjataan Mayor  Nawawi di Bengkulu , Kol Zulkifli Lubis diperbatasan  Sumatera Barat dan Jambi.menurut orang Amerika tersebut pemberian senjata  dalam rangka menjamin  tetap adanya daerah de Facto PRRI dan dijadikan basis operasi militernya dalam rangka membentung kekuatan Komunis diwilayah tersebut.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Soal yang terakhir ini kita tidak bisa melepaskan dari  perkembangan sejak bermula kita melihat selama ini didalam Negeri  adanya pertentangan politik mengenai Pemerintahan,pimpinan Negara dan lain lain yang tidak habis-habisnya  yang meluas kedalam Angkatan Perang kita kecuali  itu janganlah kita lupakan bahwa  Republik kita ini juga belum lepas dari pada persoalan  Perjuangan lain, baik dalam persoalan Irian Barat menghadapi Belanda,maupun dalm persoalan ada dua blok didunia yang juga ingin  membikin Indonesia ini  menjadi  sesuatu  operasi  dari pada cold war yang berlaku itu (di Asia) sekarang ini.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saya selalu  mengutarakan , sebut satu persatu namanya dan saya akan sebut dari Partai mana diaa,begitu  juga disebut  bahwa Pimpinan Angkatan  Darat telah dikuasai Komunis, seya selin menanya,sebutlah Perwira mana  yang memang Komunis itu. Memang nama-nam itu  belum pernah dapat disampaikan kepada saya, jani memang jelas bahwa  pemberitaan itu  berlangsung dengan luas bahwa Pemerintah  dan Pimpinan Angkatan darat telah dikuasai Komunis ,dikoran-koran Luar Negeri  saya membaca  sendiri seperti di Koran Australia ,dikoran Singapura , bahwa  ayapun telah  komunis. Jadi itu bukan barang baru.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saya yakin bahwa dikalangan Perwira yang bnayk dihadapan saya  sekarang ini saya kira hamper 70 orang , tentu ada yang setuju  dengan tujuan daripada  mereka  yang telah memberontak di Padang , saya  sebut dengan tujuannya, aertinya tumuannya itu  Kabinet Hatta,Hemangakubuwono adanya  sesaat, adanya Pemerintahan yang tegas anti Komunis  dan Presiden  Sukarno Cuma  konstitutionil  Presiden. Mungkin disini ada yang setuju  saya akan menghormat, tujuan dari tiap-tiap  orang yang semacam itu.itu tersilah, Mungkin  ada yang setuju  dengan perbuatan  itu.Dalam soal ini saya tidak bisa menghormati . Tujuan Politik itu bisa disetujui  tapi  perbuatan itu tidak bisa disetujuinya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kita semua tahu bahwa ujian itu tidaklah mudah. Tetapi bagaimanapun sulitnya ,kalau kita mau maju terus  mencapai cita-cita bangsa dan Rakyat, yaitu satu Indonesia  yang bersatu jaya dan sejahtera  bagi seluruh rakyatnya, betapun rumitnya ujian itu, harus kita tempuh,. Dari penjelasan tentang situasi Tanah Air, dapatlah  kita pahami, bahwa anasir-anasir yang lebih mementingkan diri daripada  kepentingan bangsa  dan Rakyat, sudah menyatakan dirinya sebagai pemberontak, dengan segala kemampuan nya yang ada, dengan segala cara kaum pemberontak, sudah berbuat jauh bertentangan  dengan sumpah pemuda, bertentangan dengan Proklamasi 1945, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara,bertentangan dengan Sumpah Prajurit.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kita semua tahu bahwa penderitaaan Rakyat disebabkan karena belum bebasnya secara penuh Tanah Air kita ini dari sisa-sisa Kolonialisme terutama dilapangan ekonomi.Sekarang Rakyat selangkah demi selangkah secara postif menghapuskan sisa-sisa Kolonialisme ini. Dengan penuh rasa persatuan, saling mengerti akan tugasnya, terutama anatara angkatan Perang dan Rakyat,tugas pembebasan ini dilakukan dengan setia tanpa mementingkan diri sendiri.Tetapi kita melihat bahwa pukulan dari rakyat Indonesia terhadap Kolonialisme ini ternyata membikin beringasan orang-orang  avonturir yang mengabdi kepada kolonialsme . Seelsi alam tersu menerus terjadi dan ini akan berfjalan terus. Orang-orang ini dengan berbagai dalih, dengan menunggangi tokoh-tokoh daerah  yang sempit, dengan menggunakan kekuasaan yang diperolehnya dari Rakyat untuk memberontak.Karena  itu penilaian yang secepat-cepatnya dari kita tidak bisa lain pemebrontak ini adalah pengkhianatan! Pengkhianatan terhadap Proklamasi 1945, pengkhianatan terhadap UUD,Negara RI,pengkhianatan terhadap Sumpah Prajurit,Sumpah jabatan dan Saptamarga.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Tindakan-tindakan tersebut adalah tindkan yang wajar, suatu tindakan yang adil demi keselamatn Bangsa,Rakyat dan Tanah Air dijiwai oleh api cita-cita Rewvolusi Agustus 1945.Cita-cita yang senantiasa menuntun arah eprjuangan kita,cita-cita keramat bagi seluruh Bangsa Indonesia,kita harus bertindak setimpal terhadap kaum pemberontak itu. Jalan lain tidak da,demikian pula jalan-jalan mundur tidak ada,sepenuhnya kami menyetujui sikap Pimpina Angkatan Perang bahwa tindkan itu hanya ditujukan kepada yang bersalah.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sandarn kaum pemerontak buka Rakyat, malainkan impian kekuatan asing, kekuatan kolonialisme. Memang kekuatan kolonialisme di Asia masih ada, Tetapi terang bahw akekuatan ini sedang dengan secepat menuju keproses keruntuhannya. Sebaliknya kekuatan rakyat inti Kolonialisme sedang tumbuh berkembang ddengan kemungkinan tak terbatas. Kaum pemberontak bersandar kepada kekuatan yang lapuk, sebaliknay kita berada dalam kandungan  kekuatan Raksasa rakyat yang sedang tumbuh. Inilah  yang meyakinkan kami,bahwa kaum pemberontak pasti  dapat kita hancurkan, betapapun sulitnya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada tanggal 12 Maret 1958 jam 05.00 waktu setempat, dimulai gerakan Komando Operasi Gabungan “TEGAS” dengan memberangkatkan 10 (sepuluh) buah pesawat Mustang dari Tanjung Pinang (tempat berkumpul) menuju sasaran pokok yakni lapangan udara Simpang Tiga Pekanbaru dengan tugas pokok mengadakan penyerangan terhadap objek tersebut. Kemudian menyusul pula pesawat-pesawat Dakota dengan mengangkut dan untuk menerjunkan Komando X Ray di lapangan udara Simpang Tiga untuk merebut dan menguasai lapangan terbang ini.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Lanud Tanjung Pinang merupakan Home Base kekuatan udara yang terdiri dari pesawat-pesawat TNI AU dan Wing Garuda. Peranan TNI AU dalam operasi tersebut sejak hari “H” bertepatan tanggal 12 Maret 1958 yang ditetapkan bagi pelaksanaan Operasi Tegas dalam rangka penumpasan pemberontakan PRRI didaerah Sumatra sampai selesai, Tni Angkatan Udara melibatkan berbagai jenis pesawat yang berpangkalan di pangkalan udara Tanjung Pinang sebanyak 40 Buah pesawat terdiri dari 26 pesawat C-47 Dakota, 10 pesawat P-51 Mustang dan 4 pesawat B-25 Bomber Mitchell. Berbagai peran yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara dalam operasi tersebut sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dan dua B-25 Mitchell di Padang.Melakukan pengejaran terhadap pasukan Nainggolan yang melarikan ke daerah Tapanuli dengan menggunakan pesawat P-51 Mustang dan B-25 Mitchell. Pelaksanaan operasi gabungan APRI dalam rangka penumpasan PRRI merupakan sikap tegas pemerintah Rl terhadap usaha golongan yang tidak puas terhadap kebijaksanaan pemerintah pusat pada waktu itu. Sikap pemerintah ini diarnbil setelah pendekatan yang dilakukan tidak berhasil. Operasi ini merupakan gabungan yang pertama, bagi AURI merupakan operasi yang cukup besar dengan hasil yang gemilang, walaupun kondisi personel dan materiil pada waktu itu sangat memprihatinkan. Keterbatasan jumlah personel khususnya awak pesawat bila dibandingkan dengan banyaknya operasi-operasi yang dilaksanakan, ditambah lagi kondisi pesawat terbang yang sudah tua dengan jumlah yang sangat terbatas dan kesulitan-kesulitan dalam memperoleh suku cadang, itulah kondisi AURI saat itu. Unsur kekuatan udara operasional AU saat itu tergabung dalam Komando Gabungan Komposisi (KGK) yang terdiri dari Skadron I B-25 Mitchell, Skadron II C-47 Dakota, Skadron III P-51 Mustang, Skadron IV T-6 Harvard, Skadron V PBY-Catalina dan Skadron DAUM C-47 Dakota. Latar Belakang pembuatan Monumen Lanud Tanjung Pinang. Lanud Tanjung Pinang merupakan Home Base kekuatan udara yang terdiri dari pesawat-pesawat TNI AU dan Wing Garuda. Peranan TNI AU dalam operasi tersebut sejak hari “H” bertepatan tanggal 12 Maret 1958 yang ditetapkan bagi pelaksanaan Operasi Tegas dalam rangka penumpasan pemberontakan PRRI di daerah Sumatra sampai selesai. TNI Angkatan Udara melibatkan berbagai jenis pesawat yang berpangkalan di pangkalan udara Tanjung Pinang sebanyak 40 buah pesawat terdiri dari 26 pesawat C-47 Dakota, 10 pesawat P-51 Mustang, dan 4 pesawat B-25 Bomber Mitchell. Berbagai peran yang dilaksanakan TNI Angkatan Udara dalam operasi tersebut sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Namun, semua usaha ini juga menemukan kegagalan untuk menekan Jakarta. Ofensif dibalas dengan ofensif. Jenderal Nasution terus mengerahkan pasukan terbaiknya untuk merebut satu per satu pertahanan Permesta. Puncaknya ketika ALRI menembak jatuh pesawat pembom yang dikemudikan Allen Pope, warga negara AS, di Teluk Ambon pada 18 Mei 1958. Peristiwa ini tidak saja mengejutkan publik AS, tetapi juga masyarakat internasional. Apalagi Allen Pope mengaku bekerja untuk CIA. Kecaman terhadap agresi AS mulai mengalir.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Jam D pendaratan 1 bn kko didaerah airtawar dan paratroop di tabing dan sekitarnya ttk jam D tambah 30 menit sampai jam D tambah 210 menit  pemboman objek-objek militer  termasuk jembatan-jembatan ttk jam D tambah 30 menit kapal-kapal mendekati pantai ttk jam D tambah 35 menit waktu untuk 1 bn Infanteri dan komando rtp 2 mendarat ttk jam D tambah X menit pendaratan dari keseluruhan rtp-rtp time table 2 rtp I akan menduduki solok dan pajakumbuh kurungbuka kemungkinan rtp 1 ini adalah pasukan yang dipimpin oleh kaharudin nasution yang bergerak dari timur kuruntutup ttk rtp 2 menduduki jembatan muarapenjalinan dan mengambil over dari rpkad tabing dengan 1 bn cadangan ttp rtp 3 mnduduki padang dan telukbayur ttk konosildasi sesudah itu tt IV keteragan-kterangan sesudah itu kko mendarat akan diberi tanda dengan 2 sein hijau ttk jika mendapat perlawanan yang sengit akan diberi seinmerah ttk batas dari komadua  pancangan kaki komadua kurungbuka bechea kurungtutup akan diberi tanda panels kuning/oranye ttk headquarters dri komando bersama rtp3 berada dikapal tampomas ttk auri akan mempergunakan pbr dan rgt sebagai landasan untuk untuk pemberian penembakan dan drop ttk habis(X)0414 1900 =

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pesawt P 22 adalah satu-satunya alat yang banyak menolong gerakan pasukan Infantri APRI,akan tetapi kalau sudah terbentur pada persoalan diganggu  obatnya hanya keuletan dan sabar. Klaau dikutib perkatam-perkatan musuh PRRRI pada waktu menyerobot hubungan kita sangat tidak pantas diucapkan untuk adat kesopanan bangsa kita. Bagaimana cara mengatasinya kalau kita jawb akhirnya tetu hanya caci maki yang megakibatkan terlanatrnya hubungan, Kalau kita memindahkan channel(frekuensi) mereka bisa mengejar dengan mudah, karena memutar seluruh channel P 22 itu lebih dari 15 detik.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sungguh suatu kejadian perlu mendapat perhatian para pencipta teknis pesawart P 22. Wlaupun kita diganggu,kita harus diam saja.Perlunya agar mereka mengira bahwa suaranya tidak bisa kita tangkap (ingat jarak capai dari pesawat P 22).Disamping itu ada satu hal lagi yang dapat merhasiakan pembicaraan kita melalui P 22 yaitu mengunakan bahsa jawa halus. Cara ini setelah dilakukan ternyata musuh menjadi marah dan jengkel, karena tidak mengethui pembicaraan kita buktinya mereka pernah masuk dalam channel kita dengan memgatakan Kalau berani  tentara  Sukarno sipaya mengunakan bahasa Indonesia,tetapi kita diam saja.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Yang bersangkutan saya kenal , karena gendut dianmakan si Buncik, beliau setelah pendaratan APRI ikut mengungsi ke pedalaman dan setelah itu tidak pernah ditemukan laigi informainya, KTP ini ditemukan bersama arsip yang bersangkuta lainnya termasuk SK pengangkatannya jadi anggotaKepolisian Negara RI di tempat sampah kertas bekas dari arsip-arsip brimob Sumbar   yang dibuang dan digunakan untuk membersihkan tangan di bengkel POLDA Sumbar d jalan sawahan dekat stasiun kereta api waktu saya menservis ganti oli kendaraan dinas jsaya jeep willys 1957 disana.sebagian arsipnya sudah saya serahkan kepada putrinya Lien yang menikah dengan putra saudara nenek mantu saya grace iteri putra saya anton.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Serangan dilaksanakan. Pemerintah pusat menyerang Padang. Padang dijatuhi bom-bom yang mengakibatkan kota ini hancur. Banyak rakyat padang yang mengungsi ke daerah Solok dengan membawa barang-barang seadanya yang dapat ibawa. Tokoh-tokoh PRRI ditangkap. PRRI mendapat dukungan Permesta. Akhirnya PRRI dapat ditumpas. Setelah PRRI berhasil ditumpas maka untuk mencegah munculnya pemberontakan serupa Suprapto diangkat menjadi Deputi Republik Indonesia Staf Angkatan Darat Untuk Wilayah Sumatra yang bermarkas di Medan. Peristiwa ini meninggalkan trauma bagi rakyat Sumatra.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Segera para wanita Ibu ,kakak dan adik sembunyi diruang perlindungan yang sudah dipersiapkan satu minggu yang lalu dibuat dalam tumpukan karung berisi pasir mengeliling tempat tidur, tetapi karena serangan bom mortir tambah gencar,serta lubang perlindingan sangat pengap, Para wanita dari keluarga kami malam tersebut saya dan akak lelaki mengantarkan mereka berlindung dirumah Paman di kompleks  kampung Pondok Namanya (sekarang jalan Niaga), hal ini diprtuskan ayah berdasarkan pengalaman saat serangan pendudukan jepang tahnun 1942 yang lalu,

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Teman-teman di fakultas kedokteran tahun 1963-1972 ada beberapa eks Tentara Pelajar PRRI ,dan ada yang berasal dari solok, dan ada juag anak kapolres Pariaman masa PRRI, mereka seluruhnay akhirnay jadi dokter dan bertugas di suamtera barat. Duluntya sebelum PRRI  diproklamirkan telah dimualai mendirikan Fakultas kedoteran di Baso dekat Payakumbuh, sisas-sias bangunannya masih ada sedikit, dan baru setelah PRRI  Fakultas kedokteran Universitas Andalas di Pindahkan ke Padang di Air Tawar, dan sekarang sudah dipindahkan Ke jalan Jati Kota Padang/Salam buat mereka Uda Baidar, Cheir, dan Anja NazarAnja pernah bertugas di sulit air, dan pasien saya saat bertugas di solok tahun 1974 sampai 1979  banyak dari Saninbakar yang lokasinya diseberang danau singkarak.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Situasi di kampung yang semula terasa meriah dan menggembirakan setelah terbentuknya PRRI tidak berlangsung lama.Tak lama kemudian terjadi penyerbuan oleh tentara pusat, dan ada pula kabar bahwa dua batalyon tentara menyambut kedatangan tentara pusat.Perasaan optimis kemudian terganggu, situasi semakin tidak jelas, penuh kekuatiran dan kecurigaan.Orang-orang sudah merasa tidak aman lagi jalan sendirian, bisa saja ditangkap karena dicurigai.Kita tidak tahu lagi siapa lawan dan siapa kawan ketika itu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

There were several important consequences: the forced retirement of many officers from Sumatra and the eastern archipelago, making the officer corps proportionately more Javanese (and presumably more loyal to Sukarno); the firm implantation of central authority in the Outer Islands; and the emergence of Nasution, promoted to lieutenant general, as the most powerful military leader. But the army’s victory in suppressing regional rebellion caused Sukarno dismay. To offset the military’s power, Sukarno’s ties with the PKI grew closer.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

And many in the CIA and the State Department saw merit in supporting these dissident elements. Even if Sukarno were not overthrown, they argued, it might be possible for Sumatra, Indonesia’s big oil producer, to secede, thereby protecting private American and Dutch holdings. At the very least, the pressures of rebellion might loosen Sukarno’s ties with the Communists and force him to move to the Right. At best, the Army, headed by General Abdul Haris Nasution, an anti-Communist, might come over to the rebels and force wholesale changes to the liking of the United States. [The Invisible Government, p. 139]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Probably no one knows better than former Secretary of Defense McNamara what importance Indonesia has in Washington’s Asian strategy. While he is known to have a thousand answers ready and a volume of statistics at hand on other vital subjects, he was suspiciously tight-lipped on this. In the 1967 Fulbright Committee hearings on the U.S. Foreign Assistance Program, McNamara testified at length on the results of U.S. military aid programs in many countries throughout the world. Yet he was strangely uninformative on the results of such “assistance” to Indonesia, despite the unofficial leaks from “informed sources” greeting the military coup with glee. But McNamara was too modest to take credit for it.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Probably no one knows better than former Secretary of Defense McNamara what importance Indonesia has in Washington’s Asian strategy. While he is known to have a thousand answers ready and a volume of statistics at hand on other vital subjects, he was suspiciously tight-lipped on this. In the 1967 Fulbright Committee hearings on the U.S. Foreign Assistance Program, McNamara testified at length on the results of U.S. military aid programs in many countries throughout the world. Yet he was strangely uninformative on the results of such “assistance” to Indonesia, despite the unofficial leaks from “informed sources” greeting the military coup with glee. But McNamara was too modest to take credit for it.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Rep. Zablocki’s committee was worried that increased military aid to Indonesia, which was being urged by the State Department after Johnson sent Ellsworth Bunker on a special mission to Djakarta in March, would be used to implement President Sukarno’s outspokenly anti-imperialist policies. Called to testify before the committee in closed-door hearings was Assistant Secretary of State for Far Eastern Affairs, William Bundy. What’s the purpose of this aid, the committee wanted to know. Won’t it be used in the campaign against Malaysia? “I want to point out,” replied Bundy carefully, “that this equipment is being sold to the Indonesian army and not the Indonesian government.” “What’s the difference?” demanded Rep. William Broomfield. “It will be used against Malaysia.” “We hope not,” said Bundy. “When Sukarno leaves the scene, the military will probably take over. We want to keep the door open.”

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bundy’s reticence to allay the fears of his less-informed colleagues seems to be the policy of top-level Administration personnel when questioned about Indonesia. As James Reston pointed out “Washington is being careful not to claim any credit” for the coup “but this does not mean that Washington had nothing to do with it.” [New York Times, June 19, 1966] And former Secretary of Defense McNamara, who could have adopted an I-told-you-so attitude when reminded in the spring of 1966 by Senator Sparkman of earlier criticism of the military aid program, modestly limited his comment to “I think, in retrospect that the aid was well-justified.”

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

By now, Zablocki must surely be convinced that it wasn’t out of some idealistic urge or altruism that Washington tightened its connections with the Indonesian military. Since the takeover led by Generals Nasution and Suharto, Indonesia has moved into the American orbit. Final proof of this was the visit of the new Indonesian Foreign Minister, Adam Malik, to then President Johnson in September of 1966. And on that trip, Malik also dropped in on Zablocki and personally reassured him that the new government was “friendly” to the United States.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The content of the book is most alarming. As the authors take us through the political quagmire created primarily by successive American Administrations, we come to understand how the United States, virtually at the whim of a select, albeit powerful few, orchestrated the demise of millions in Southeast Asia. Detailed research provides startling information and an informed perspective of the Eisenhower years and how policy was formulated under the Dulles brothers. John Foster Dulles was secretary of state under President Eisenhower between 1953 and 1959. His younger brother Allen Dulles was director of the CIA.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Most intensively between April 1957 and March 1958, the US supplied military rebels in Sumatra and Sulawesi with arms and political support. Eisenhower and his colleagues thought Sukarno leaned dangerously toward communism, and they believed the rebels would be able to move in on Jakarta and take over the government. Alternatively, they did not flinch from the idea of Indonesia’s breakup. They drew down their support when Jakarta’s army commander Gen Nasution called their bluff and put down the PRRI rebellion with little military effort, but not till after US planes had bombed many hundreds to death on Indonesian navy ships and in a crowded market and churches in Ambon.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dissatisfied with the division of power in 1957 and Sukarno’s open flirtation with the communists, the outer islands of the Indonesian Archipelago decided to act. In 1958 the Sumatrans under Colonel Simbolon declared their formal opposition to Sukarno’s policies by forming the Pemerintah Revolusionir Republik Indonesia (Revolutionary Government of the Republic of Indonesia, PRRI). The Sumatran action was quickly followed by revolt in the Celebes (modern-day Sulawesi), and suddenly the government on Java was feeling vulnerable, for without Sumatra and Sulawesi there would be no Indonesian Republic.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

At first it seemed that Sukarno was incapable of acting, for the rebel challenge remained unanswered. Eventually, in mid-1958, after much posturing by both sides, the central government despatched military forces to deal with the threat. Despite Western observers’ contempt for the military ability of these forces, the rebels on Sumatra and Sulawesi posed no real threat and they collapsed without any serious battles being fought. By 1960 the central government had restored its authority, albeit in a limited sense, across Indonesia.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Neither Pope nor the United States was ever to admit any of this — even after his release from an Indonesian jail in the summer of 1962. But Sukarno and the Indonesian Government were fully aware of what had happened. And that awareness fundamentally influenced their official and private attitude toward the United States. Many high-ranking American officials — including President Kennedy — admitted it within the inner circles of the government, but it is not something that they were ever likely to give public voice to.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Allen Pope, a six-foot-one, 195-pound Korean War ace, was the son of a moderately prosperous fruit grower in Perrine, just south of Miami. From boyhood he was active and aggressive, much attracted by the challenge of physical danger. He attended the University of Florida for two years but left to bust broncos in Texas. He volunteered early for the Korean War, flew fifty-five night missions over Communist lines as a first lieutenant in the Air Force, and was awarded the Distinguished Flying Cross.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

After the war Pope returned to Texas, got married, had a daughter, and was divorced. He worked for a local airline but found it dull stuff compared with the excitement he had experienced as a combat pilot in the Far East. And so in March of 1954 Pope signed on with Civil Air Transport, an avowedly civilian airline based on Formosa. He spent two months flying through Communist flak to drop supplies to the French at Dienbienphu. CAT grew out of the Flying Tigers and inherited much of its technique and swagger.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Big-game hunting in the jungles of South Vietnam was their most daring diversion. Pope was ready for an even more dangerous challenge when the CIA approached him in December, 1957. The proposition was that he would fly a B-26 for the Indonesian rebels, who were seeking to topple Sukarno. A half-dozen planes were to be ferried in and out of the rebel airstrip at Menado in the North Celebes from the U.S. Air Force Base at Clark Field near Manila. In the Philippines the planes would be safe from counterattack by Sukarno’s air force.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

But Sukarno was not to be easily convinced. A shrewd, fifty-six-year-old politician, he was a revolutionary socialist who led his predominantly Moslem people to independence after 350 years of Dutch rule. Sukarno knew he was deeply distrusted by the conservative, businesslike administration in Washington. A mercurial leader, he was spellbinding on the stump but erratic in the affairs of state. He was also a ladies’ man (official Indonesian publications spoke openly of his “partiality for feminine charm” and quoted movie-magazine gossip linking him with such film stars as Gina Lollobrigida and Joan Crawford) and has had four wives.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Many of Indonesia’s political leaders, particularly those outside of Java, shared Washington’s apprehensions about Sukarno’s compromises with the Communists. And many in the CIA and the State Department saw merit in supporting these dissident elements. Even if Sukarno were not overthrown, they argued, it might be possible for Sumatra, Indonesia’s big oil producer, to secede, thereby protecting private American and Dutch holdings. At the very least, the pressures of rebellion might loosen Sukarno’s ties with the Communists and force him to move to the Right. At best, the Army, headed by General Abdul Haris Nasution, an anti-Communist, might come over to the rebels and force wholesale changes to the liking of the United States.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

“As a consequence of the actions taken by the United States and Taiwan adventurers,” Djuanda commented, “there has emerged a strong feeling of indignation amongst the armed forces and the people of Indonesia against the United States and Taiwan. And if this is permitted to develop it will only have a disastrous effect in the relationships between Indonesia and the United States.” Sukarno accused the United States of direct intervention and warned Washington “not to play with fire in Indonesia … let not a lack of understanding by America lead to a third war …

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

On May 7, three days after the fall of Bukittinggi,* the Indonesian military command charged that the rebels had been supplied weapons and ammunition with the knowledge and direction of the United States. The military command cited an April 3 telegram to the Revolutionary Government from the “American Sales Company” of San Francisco. Robert Hirsch, head of the company, confirmed that he had offered to sell the arms to the rebels but said he had done so without clearing it with the State Department. In any case, he said, the arms were of Italian make and none had been delivered.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

AURI F-51D “F-338” was the Mustang flown by Capt. Dewanto when he finished off Pope’s B-26 on 18 May 1958. Several details about the appearance of this aircraft at the time remain unclear, however: it is unknown if the plane has got the full national insignia, for example. By 1958, most – but by far not all – of the Indonesian Mustangs (regardless if F-51Ds or F-51Ks), should have got the national markings between the prefix “F”, and serial. If not, then the aircraft might still have carried the Indonesian flag underneath the right wing instead the Pentagon. Unclear is also the colour of the spiner and propeler: some sources insist these were painted blue, as seen here, others that they were pained red (spinner) and black (propelers, like on the artwork bellow), but it is also possible that the spinner was blue, but propellers black with yellow tips. Interestingly, today there is an AURI Mustang F-338 preserved at the Yogyakarta Air Force Musuem. The aircraft in question, however, is a Cavalier Mustang previously coded F-361: it was re-serialled into F-338 in memory of Capt. Dewant’s aircraft, which scored the only known air-to-air kill in the history of the Indonesian Air Force. There is also a second F-338 – possibly fake – displayed on pole at the Air Force’s Headquarters in Jakarta

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dissatisfied with the division of power in 1957 and Sukarno’s open flirtation with the communists, the outer islands of the Indonesian Archipelago decided to act. In 1958 the Sumatrans under Colonel Simbolon declared their formal opposition to Sukarno’s policies by forming the Pemerintah Revolusionir Republik Indonesia (Revolutionary Government of the Republic of Indonesia, PRRI). The Sumatran action was quickly followed by revolt in the Celebes (modern-day Sulawesi), and suddenly the government on Java was feeling vulnerable, for without Sumatra and Sulawesi there would be no Indonesian Republic.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

At first it seemed that Sukarno was incapable of acting, for the rebel challenge remained unanswered. Eventually, in mid-1958, after much posturing by both sides, the central government despatched military forces to deal with the threat. Despite Western observers’ contempt for the military ability of these forces, the rebels on Sumatra and Sulawesi posed no real threat and they collapsed without any serious battles being fought. By 1960 the central government had restored its authority, albeit in a limited sense, across Indonesia.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Australi a was faced with a dilemma. It was unhappy with Sukarno’s policies, the erosion of constitutional democracy and the rise of the Partai Komunis Indonesia (PKI). However, recognition of, or even support for, the Revolutionary Government was fraught with danger for it could well have played into the hands of the communists and encouraged Sukarno’s anti-Western rhetoric. Australia trod warily, careful to nurture the constitutional validity of the central government, but at the same time cautious of Sukarno’s wayward mood and the ability of the PKI to use the situation to its own advantage.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

President Sukarno occupies a key position. As the father of the revolution, his prestige is firmly established and with the frustration and disillusionment which have resulted from the wranglings and manoeuvres of coalition governments, his importance as controller of the balance of power has increased as the reputations of others have declined. He has a remarkable understanding of the public relations technique required of a national figure and he has successfully kept Vice-President Hatta in the background.[5]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

By 1957 Sukarno had become increasingly annoyed with the restrictions placed on his power by the Parliament, an annoyance compounded by interminable parliamentary debates and lack of any progress on important national issues. Early that year he announced the idea of ‘guided democracy’, which would cut through the irrelevant Western liberal democratic debate and reach proper decisions under the guidance of an enlightened leader, namely Sukarno. His concept was modelled on that of the Indonesian village: after prolonged deliberation by village elders, the villagers would reach consensus. Although practical at the village level, it did not translate easily into running a nation deeply divided by ethnic, regional, class and religious differences.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sukarno created a national council which, apart from members of the political parties, comprised representatives from functional groups such as religious and workers’ organisations and the military. Under Sukarno’s personal guidance, this national council would come to national consensus on various matters. This innovation allowed Sukarno to bypass the political parties and, more importantly, it promoted the interests of the functional groups, particularly the military, who were soon deeply involved in managing the nationalised Dutch estates.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

he creation of the national council ushered in a series of crises, including the resignation of the government, the formation of a revolutionary government in Sumatra and the seizing of Dutch assets as part of the campaign to recover ‘Irian Barat’ (the PKI term for Netherlands New Guinea). Despite these setbacks Sukarno pressed on with his concept of guided democracy. After he was thwarted by the Constituent Assembly, which was elected in 1955 to draft the permanent constitution, he simply brought down the policy of guided democracy by presidential decree on 5 July 1959.[6]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

It is not well known in the United States that the 1958 rebellion led to a major Indonesian civil war. The CIA-inspired uprising in Indonesia, unlike the Bay of Pigs invasion of Cuba, was a full-scale military operation. The Bay of Pigs invasion in 1961 was made by a thin brigade of about 1,500 Cuban exiles trained by the CIA in Guatemala. But the 1958 Indonesian action involved no less than 42,000 CIA-armed rebels supported by a fleet of bombers and vast numbers of four-engine transport aircraft as well as submarine assistance from the U.S. Navy. It also involved a major training and logistical supporting effort on the part of the Philippines, Okinawa, Taiwan, and Singapore. But despite this massive armed force, the 1958 rebellion, like the Bay of Pigs invasion, was a total failure. Sukarno’s army drove the rebels on Sumatra and Celebes into the sea.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

There are some who might call the 1965 uprising a success. At least the rebels were not driven into the sea. However, for the United States it was a fantastically costly endeavor. The rebellion ended in the most massive and ruthless bloodbath since World War II. While the headlines in the United States dealt with the slaughter in Vietnam, the press of the rest of the world heaped blame on the United States for the barbaric massacre in Indonesia. The victorious new government of General Suharto proceeded to assassinate nearly one million people. This terrible slaughter and the ensuing imprisonment of tens of thousands of Indonesians stirred Dewi Sukarno to seek President Ford’s assistance in gaining the release of her countrymen from prison.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dewi Sukarno has received no answer. But even without a reply she knows. The silence from Washington speaks for itself. A denial, if true, would have come without hesitation. The Indonesians know. The Latins had a phrase for it, “Is fecit cui prodest” — the perpetrator of a crime is he who profits by it. Today, major U.S. enterprises are plundering the raw material wealth of Indonesia — rubber, tin, and oil — in a manner that is more vile than what is happening in Chile. And there is no one to stop them.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sukarno was forced to thread his way between communism and capitalism. His independence made him both friends and enemies. His worst enemies came from his polyglot people who are scattered over more than 3,000 islands. These islands make up the world’s largest archipelago; they stretch along the equator for over 3,400 miles and are located in Southeast Asia between the Philippines and Australia. From one of these islands came Lt. Col. Alex Kawilarang, the military attache serving in Washington who was to defect to the rebel forces and lead the rebel contingent on Sumatra, the Indonesian island richest in natural resources.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

As the widow of the late President Sukarno and being the only member of the family living overseas, I address myself to you, being deeply alarmed and disturbed by numerous and persistent reports in the international press. For instance, the CIA is said to have spied on my husband: manufactured a fake film in order to slander the good name and honor of Sukarno: prepared an assassination attempt against him and conspired to oust him from power to estrange him from the Indonesian people by accusing him of collaborating with international communism in betrayal of Indonesian independence, which of course was totally absurd.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Both in 1958 and in 1965, the CIA directly interfered in the internal affairs of Indonesia. In 1958, this monstrous action led to civil war. In 1965, it led to the ultimate takeover by a pro-Amencan military regime, while hundreds of thousands of innocent peasants and loyal citizens were massacred in the name of this insane crusade against international communism. Still today, ten years later, many tens of thousands of true patriots and Sukarnoists are locked up in jails and concentration camps being denied the simplest and most elementary human rights. American companies and aggressive foreign interests are indiscriminately plundering the natural riches of Indonesia to the advantage of the few and the disadvantage of the millions of unemployed and impoverished masses.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

I must now ask you, Mr. President, in the name of freedom and justice, in the name of decency in relations between states and statesmen, between powerful nations and developing lands, in the name of the Indonesian people and the Sukarno family: did the United States of America commit these hideous crimes against Indonesia and against the founder of the nation? Will your Government be prepared to accept responsibility for these evil practices? Over one hundred million Indonesians have been brainwashed, as was the rest of the world by the present regime’s propaganda to believe that the communists carried out the insurrection. My countrymen, as well as everyone else, have the right to know the truth of the historic facts. It will be the painful duty for America now to reveal the CIA involvement in Indonesia and release all information and documents relevant to who really initiated the terrifying bloodbath that led to the overthrow of the legal Government and to the inhuman treatment in house arrest lasting three years until my husband’s death.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In closing, I would like to strongly appeal to you, Mr. President, to use your influence with the military regime in Jakarta, to immediately free those many thousands of political prisoners, men and women, former cabinet ministers, writers and journalists, who I know are entirely innocent of the crime of treason they have been accused of. If the United States were to be instrumental in helping to improve the fate of so many thousands of courageous compatriots, I think the entire Indonesian nation would be grateful and Indonesians would regain their confidence in America’s intentions towards the Third World.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In the Philippines there was a strong nucleus of military men, chief among them a Colonel Valeriano, who had been President Magsaysay’s military assistant. He had also worked on paramilitary exercises with the CIA during the Magsaysay campaign against the leftist rebel Huk movement. This military group had gained considerable power during the Magsaysay tenure. Many of these special warfare experts from the Philippines had volunteered for duty in South Vietnam in 1955 when the CIA was deeply involved in providing undercover support for the new and uncertain regime of President Ngo Dinh Diem.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

By early 1958 these Filipinos and their CIA counterparts were prepared to involve the Philippines in the rebellion against Sukarno by setting up special warfare “Green Beret” training bases and by providing the Indonesian revolutionary council with clandestine air bases. One of those bases was on Palawan, the most western island of the Philippine archipelago, in the vicinity of the airfield at Puerto Princessa on Honda Bay. The other base was on the big southern island of Mindanao, near Davao Gulf.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Concurrently, in Washington, operations were being organized. Frank Wisner took over direct command of the everyday operations of the Indonesian project. A large staff under Desmond Fitzgerald of the Far East Division was set up. The most active element of this special staff came from the CIA’s clandestine Air Division which at that time was under the control of Dick Helms. As the plans expanded for this major undertaking, requirements for military equipment, people, aircraft, weapons, bases, submarines, and communications skyrocketed.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In the Pentagon there are thousands of nondescript offices in which all sorts of tasks are done. One of these unobtrusive offices was an Air Force Plans Division office. One day in 1958 two men from the CIA entered that office. After being identified they were permitted entrance to an interior office that was the “Focal Point” office for all U.S. Air Force Support of the clandestine operations of the CIA. I had established that office in 1955 on orders from Gen. Thomas D. White, then Chief of Staff of the Air Force. This came about after several meetings with Allen W. Dulles, the Director of Central Intelligence, and others. When the CIA men entered that office in 1958, I was still in charge.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The agents outlined the Indonesian Plan, the Philippine support and training program, and told me about their own special operations staff that had been put together specifically for this vast project. Then they urgently requested light bombardment aircraft and long-range transport aircraft. We decided to take a number of twin engine B-26 aircraft out of mothball storage, put them through a retrofit line, and modify them so that they could be armed with a special 50-caliber machine gun package of eight guns, in the nose of the plane. This would give the B-26 more firepower than it ever had during the Korean War or World War II. The project was given top priority and covered in deep secrecy. Programs for pilot training and the recruitment of “mercenaries” were established.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

High on the ridge line of central Okinawa overlooking the city of Naha there was a modest size “Army” installation that hustled with considerable activity. This was the main CIA operational base in the Far East. It was under the direction of Ted Shannon, one of the Agency’s most powerful agents. It was Shannon’s office that had actually requested 42,000 rifles from General Shoup and since the order was so large Shoup had been unable to supply them, and had therefore borrowed 14,000 from the Army.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

On Feb. 9, 1958, rebel Colonel Maluddin Simbolon issued an ultimatum in the name of a provincial government, the Central Sumatran Revolutionary Council, calling for the formation of a new central government. Sukarno refused and called upon his loyal army commander, General Abdul Haris Nasution, to destroy the rebel forces. By Feb. 21 loyal forces had been airlifted to Sumatra and had begun the attack. The rebel headquarters was in the southern coastal city of Padang. Rebel strongholds stretched all the way to Medan, near the northern end of the island and not far from Malaysia.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

This was important administratively because by that time Frank Wisner, the CIA Deputy Director of Plans, had set up his forward headquarters in Singapore and at the direction of the 5412 Committee of the National Security Council, headed by Nixon, Wisner occupied that faraway headquarters himself. (It should be noted that in 1958 Allen Dulles was the head of the CIA, his brother John Foster Dulles was the Secretary of State, Eisenhower was President, and Nixon, as Vice President, chaired the clandestine affairs committee, then known as the “Special Group 5412/2.” In other words nothing was done in Indonesia that was not directed by Nixon. If an action had not been directed by the NSC, then it was done unlawfully by the CIA.)

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

While the CIA was supporting up to 100,000 rebels, the State Department professed innocence. The U.S. ambassador, Howard P. Jones, maintained that the United States had nothing to do with the rebellion and he protested the capture of the American oil properties. On the other hand, Sukarno had asked for more arms aid from the United States. He must have had strong suspicions about the source of rebel support. The vast number of guns, the bombers and heavy air transport aircraft dropping hundreds of tons of arms and equipment, as well as submarines supporting beach operations were just too sophisticated to be anything but major power ploys. Thus, his appeal for U.S. arms aid had the ring of gamesmanship.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Playing along with the game, John Foster Dulles issued a statement saying that the United States would not provide arms to either side. And while he was publishing that falsehood, the United States furnished and piloted B-26 bombers, and these were bombing shipping in the Makassar Straits. Some had even flown as far south as the Java Sea. Almost immediately all insurance rates on shipping to and from Indonesia went on a wartime scale and costs became so prohibitive that most shipping actually ceased. The bombing attacks, kept so quiet in the United States that they hardly made the news, were being viewed with great alarm by the rest of the world. What was “Top Secret” in Washington was barroom gossip in the capitals of the world.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Early in this operation I had put some men from my office into the air-combat section in the Philippines, and the Air Force was reasonably well aware of what was going on. But that was not so for the other services. At the time, Admiral Arleigh Burke was the Chief of Naval Operations. He went one step further than we did. At the height of the rebel operations, Burke sent his Chief of Naval Intelligence, Admiral Luther Frost, to Jakarta, Indonesia’s capital, where he stayed for several months carrying on a delicate relationship with the American ambassador and with the Indonesian naval chiefs. This, while U.S. Navy submarines were aiding the rebels south of Sumatra. It turned out to have been a masterful gambit because later, when the rebellion collapsed, the U.S. Navy was able to declare innocence. The Air Force was not so fortunate.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The pretense that the U.S. Government was in no way involved in this massive civil war against Sukarno was wearing thin. It was a reasonable cover as long as the United States could plausibly deny its role in the action. But one day, a lone B-26 out of the rebel CIA base at Menado, flying low over the Straits of Makassar, came upon an Indonesian ship — an ideal target. The pilot banked to take a good run at the ship and began strafing it with those eight lethal .50-caliber machine guns. He was committed to the attack before he found out that the freighter was armed. The B-26 was hit and it ditched near the ship. The pilot, an American named Allan Lawrence Pope, was picked up. Pope was identified as a former U.S. Air Force pilot. The cork was out of the bottle. Sukarno had his proof of U.S. involvement and he played his ace card for an international audience. That one plane and that one pilot cost the U.S. Government tens of millions of dollars in ransom and tribute during the next several years.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

After the capture of Pope the rebellion rapidly fell apart. Loyal forces captured Donggala in central Celebes. And on far away Halmahera, government forces captured Jailolo. That ended all opposition except for the CIA-rebel air base at Menado. With the rebellion all but crushed, except for the continued existence of the main CIA force, Secretary of State John Foster Dulles ended the embargo of arms to Sukarno and agreed to send aid to the government of Indonesia! What wondrous duplicity! And Sukarno was not fooled. His forces had been fighting a major civil war inspired and clandestinely supported by the United States, while concurrently the overt branches of the U.S. Government acted as though nothing at all had happened.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

I went in. Not a soul was there. The place had been cleaned out. Office after office was absolutely bare. Finally I found one secretary. She was sitting in a straight-back chair and her telephone was on the floor. There were tears in her eyes. She took a call from time to time and gave guarded answers about the former members of that huge staff. The entire section had been scattered to the four corners of the world. A large number of top-level, experienced, clandestine agents and operators had vanished. It took our Air Force office, skilled as we were in the ways of the CIA, months to find some

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Then we began to piece together what had happened. With the collapse of such a major effort and with the inability of the Government to deny plausibly before the world its role in the whole sordid affair, blame had to be placed somewhere. In an unprecedented action, Nixon had summarily fired Frank Wisner, along with some others. But Frank Wisner, a longtime OSS and CIA man, was a key intelligence officer. Few knew enough about his career to realize that he was senior, by far, to Helms and Colby. Clearly, he was Allen Dulles’ heir apparent. When the OSS had been deactivated after World War II by President Truman, it was Wisner who had kept a tight-knit band of professionals together. This small cadre kept valuable OSS records and, more importantly, they had maintained the delicate lines of communication with agents, spies, and underground personnel in Eastern Europe, Russia, and Germany. They held this fragile web together. Without them hundreds of people might have been killed and priceless assets destroyed. And Frank Wisner suddenly, almost whimsically, had been fired.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

This is the story that Dewi Sukarno is asking President Ford to explain to her and to the Indonesian people. Actually, the 1958 civil war was child’s play compared to the brutal bloodbath of 1965. Sukarno was in control after the 1958 disaster and he wrung a heavy tribute from the U.S. Government for its indiscretions. But in 1965 his game ended, like Allende’s in Chile, with defeat. An attempted communist coup d’etat was defeated by General Suharto. Sukarno never made the great public statement that was to assure the success of the coup, and after its defeat and the ensuing bloodbath, he was stripped of his power. After a few years of ignominious house arrest the hero of all Indonesia died in 1970.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

What was the story behind Nixon’s harsh action against Wisner? Was that the deep-rooted reason why CIA top-echelon insiders such as Dick Helms really hated and distrusted Nixon? In later years did they take out their grudge against him with a piece of tape on a Watergate doorway? There may never be answers to these questions, or perhaps they have been answered already. It is said that when the great volcanic mountain of Krakatoa in Indonesia blew up causing the greatest explosion the world had ever known, the dust of Indonesia was spread all over the world.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Prouty: . . . Millions and millions of dollars were poured into that exercise — a lot of people were involved in it — and it never went through any Air Force procurement. Now, the cleared individual — the man in the team — in the procurement offices, made papers that covered up this gap. There were papers in the files but they had never been worked on — they were simple dummy papers in the files. Now, we could do things like that with no trouble at all. The U2 was started like that. That’s how the U2 got off the ground. Ostensibly, purchased by the Air Force, but not paid for by the Air Force, and so on.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

of Staff, at that time General Lemnitzer, he said, “You know, I’ve known of two or three units in the Army that were supporting CIA. But you’re talking about quite a few. How many were there?” Well, at that time, there were 605. Well General Lemnitzer had no idea. It’s amazing — here’s the top man in the military and he had no idea that we were supporting that many CIA units. Not military units — they were phony military units. They were operating with military people but they were controlled entirely, they were financed by the CIA. Six hundred and five of them. And I’m sure that from my day it increased; I know it didn’t decrease.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

So, people don’t understand the size and the nature of this clandestine activity that is designed for clandestine operations all over the world. And it goes back, again, to things we’ve spoken of earlier, that that activity must be under somebody’s control. There is no law for the control of covert operations other than at the National Security Council level. And if the National Security Council does not sign the directives, issue the directives, for covert operations, then nobody does. And that’s when it becomes a shambles as we saw in the Contra affair and in other things. But when the National Security Council steps in and directs it and holds that control, then things are run properly. And we’ve seen that during the last decade theres been quite a few aberrations where they were talking about Iran or Latin America or even part of the Vietnam War itself. In fact, it was in the Vietnam War where the thing really began to come apart — it just outgrew itself and the leadership role disintegrated. And we see the worst of it in the Iran-Contra affair.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Prouty: Yes. When we put them in, they might be somebody’s assistant. And they’ve been there for three years and the man that was above them, who was probably a political appointee, leaves and they might move this man up there. Or when a newer political appointee comes, he has no knowledge that this man is really from CIA. He’s just a strong person in his office and he gives him a broader role. Sometimes these people (chuckling) were working — well, one man I know was in FAA and we needed his work to help us with FAA as a focal point there. He’d been there so long the FEA had him in a very big, very responsible job, and you might say 90% of his work was regular FAA work. A very strong individual. Well, that meant that when we needed him to help us with some of our activities on the covert side of things, he was in a much better position to handle this than he had been originally.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

This happened with quite a few of them. That’s why I say in the case of Frank Hand, he had been in the Defense Department so long that he was able to handle really major operations that weren’t even visualized at the time he was assigned. All this carries over into many other things. I pointed out that the Office of Special Operations under General Erskine had the responsibility for the National Security Agency as well as CIA contacts and the State Department, and so on. Well, as we filled up these positions, some of them became dominant in some those organizations, such as NSA.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Early people in this program have created quite a career for themselves in other work. For instance, a young man in this system was Major Haig. Major Al Haig. He went up through the system. He was working as a deputy to the Army’s cleared Focal Point Officer for Agency support matters who was the General Counsel in the Army, a man named Joe Califano — a very prominent lawyer today. When the General Counsel of the Army was moved up into the office of Secretary of Defense later — in McNamara’s office — he carried with him this then-Lieutenant Colonel Al Haig up to the office of Secretary of Defense. And during the Johnson Administration when they moved to the White House, Califano and Haig moved to the White House. Then during the Nixon time, Haig with all his experience in the White House worked with Kissinger. And you can see that it was this attachment through the covert side which gave Haig his ability to do an awful lot of things that people didn’t understand, because he had this whole team behind him. To be even more up-to-date, there was a Major Secord in our system. And Major Secord is the same General Secord you’ve been reading about in the Iran-Contra business.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Then he said, “Prouty, if this is routine, yet General Shoup and I have never heard of it before, can you tell me in round numbers how many Army units there are that exist as `cover` for the CIA?” I replied that to my knowledge at that time there were about 605 such units, some real, some mixed, and some that were simply telephone drops. When he heard that he turned to General Shoup and said, “You know, I realized that we provided cover for the Agency from time to time; but I never knew that we had anywhere near so many permanent cover units and that they existed all over the world.”

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

At the time of the rebellion in Indonesia when the CIA supported tens of thousands of troops with aircraft, and ships, submarines, and everything else, in an attempt to overthrow the government of Sukarno, we needed rifles pretty quick to support these rebels and I called out to Okinawa and found out that the Army didn’t have enough rifles for what we wanted. We wanted about 42,000 rifles and they had about 28,000. But that he said he thought he could get — General Lemnitzer was a Commander at that time in Okinawa. So he was right up close to this thing. He said that he’d have somebody call the Marine Corps and see what he could get from them. Well, it just happened that General Shoup was the head of the Marine unit at Okinawa and he said, sure, he could provide the extra 14,000. So without delay, we had 4-engine aircraft — C-54’s- -flown by Air America crews but under military cover — appeared to be military aircraft — come into Okinawa, pick up these 42,000 rifles, prepared for air drop in Indonesia. They’d fly down to the Philippines and then down to another base we had and then over into Indonesia and drop these rifles.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Well of course, we replaced those rifles. The General didn’t know where they were going, we just borrowed them, and the unit that borrowed them was military and the call had come from the Pentagon. There was no problem with supplying the rifles. So years later, we replaced them. Well then when I told him about that in the Pentagon, he said he never knew where those rifles went and General Shoup said, “you know, Lem, when you asked me for 14,000 rifles, I thought you wanted them and, of course, being a good Marine, I gave you 14,000 rifles.” He said, “you owe me 14,000.” They were sitting there kidding but they never knew they went to Indonesia. You see, they never knew they were part of a covert operation going into Indonesia.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Well, his kind of thing, on an established basis — the units are there — when I said there are 605 units, those are operating units- -now, some of them may only be telephone drops, because that’s their function, they don’t need a whole lot of people, they’re just handling supplies, or something like that. But put this in present terms. When Colonel North believed that he had been ordered to take 2,008 Toe missiles and deliver them to Iran — see? — there has to be some way that the supply system can let those go. You can’t just drive down there with a truck to San Antonio at the warehouse, and say, “I want 2,008 missiles.” You have to have authority. And 2,008 Toe missiles — I don’t know what one of them costs, but it’s an awful lot of money, and somebody had to prepare the paperwork for the authorization to let the supply officer release those. And I’m sure they went to a cover unit that North was using for that purpose. But it appears from what we’ve heard from this that, unlike the way we used to run the cover operations, when these things got to Iran, these characters sold hem them for money. In fact, they sold them for almost four times the listed value of these things.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

And many in the CIA and the State Department saw merit in supporting these dissident elements. Even if Sukarno were not overthrown, they argued, it might be possible for Sumatra, Indonesia’s big oil producer, to secede, thereby protecting private American and Dutch holdings. At the very least, the pressures of rebellion might loosen Sukarno’s ties with the Communists and force him to move to the Right. At best, the Army, headed by General Abdul Haris Nasution, an anti-Communist, might come over to the rebels and force wholesale changes to the liking of the United States. [The Invisible Government, p. 139]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Nevertheless, a plane carrying eight members of the Chinese delegation, a Vietnamese, and two European journalists to the Bandung Conference crashed under mysterious circumstances. The Chinese government claimed that it was an act of sabotage carried out by the US and Taiwan, a misfired effort to murder Chou En-lai. The chartered Air India plane had taken off from Hong Kong on 11 April 1955 and crashed in the South China Sea. Chou En-lai was scheduled to be on another chartered Air India flight a day or two later. The Chinese government, citing what it said were press reports from the Times of India, stated that the crash was caused by two time bombs apparently placed aboard the plane in Hong Kong. A clockwork mechanism was later recovered from the wrecked airliner and the Hong Kong police called it a case of “carefully planned mass murder”. Months later, British police in Hong Kong announced that they were seeking a Chinese Nationalist for conspiracy to cause the crash, but that he had fled to Taiwan.{4}

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In 1967 a curious little book appeared in India, entitled I Was a CIA Agent in India, by John Discoe Smith, an American. Published by the Communist Party of India, it was based on articles written by Smith for Literaturnaya Gazeta in Moscow after he had defected to the Soviet Union around 1960. Smith, born in Quincy, Mass. in 1926, wrote that he had been a communications technician and code clerk at the US Embassy in New Delhi in 1955, performing tasks for the CIA as well. One of these tasks was to deliver a package to a Chinese Nationalist which Smith later learned, he claimed, contained the two time bombs used to blow up the Air India plane. The veracity of Smith’s account cannot be determined, although his employment at the US Embassy in New Delhi from 1954 to 1959 is confirmed by the State Department Biographic Register.{5}

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

To add to the concern of American leaders, Sukarno had made trips to the Soviet Union and China (though to the White House as well), he had purchased arms from Eastern European countries (but only after being turned down by the United States),{7} he had nationalized many private holdings of the Dutch, and, perhaps most disturbing of all, the Indonesian Communist Party (PKI) had made impressive gains electorally and in union-organizing, thus earning an it was a familiar Third World scenario, and the reaction of Washington policy-makers was equally familiar. Once again, they were unable, or unwilling, to distinguish nationalism from pro-communism, neutralism from wickedness. By any definition of the word, Sukarno was no communist. He was an Indonesian nationalist and a “Sukarnoist” who had crushed the PKI forces in 1948 after the independence struggle had been won.{8} He ran what was largely his own show by granting concessions to both the PKI and the Army, balancing one against the other. As to excluding the PKI, with its more than one million members, from the government, Sukarno declared: “I can’t and won’t ride a three-legged horse.”{9}

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

It would not be the first. In 1955, during the national election campaign in Indonesia, the CIA had given a million dollars to the Masjumi party, a centrist coalition of Muslim organizations, in a losing bid to thwart Sukarno’s Nationalist Party as well as the PKI. According to former CIA officer Joseph Burkholder Smith, the project “provided for complete write-off of the funds, that is, no demand for a detailed accounting of how the funds were spent was required. I could find no clue as to what the Masjumi did with the million dollars.”{10}

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The military operation the CIA was opting for was of a scale that necessitated significant assistance from the Pentagon, which could be secured for a political action mission only if approved by the National Security Council’s “Special Group” (the small group of top NSC officials who acted in the president’s name, to protect him and the country by evaluating proposed covert actions and making certain that the CIA did not go off the deep end; known at other times as the 5412 Committee, the 303 Committee, the 40 Committee, or the Operations Advisory Group).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The manner in which the Agency went about obtaining this approval is a textbook example of how the CIA sometimes determines American foreign policy. Joseph Burkholder Smith, who was in charge of the Agency’s Indonesian desk in Washington from mid-1956 to early 1958, has described the process in his memoirs: Instead of first proposing the plan to Washington for approval, where “premature mention … might get it shot down” … we began to feed the State and Defense departments intelligence that no one could deny was a useful contribution to understanding Indonesia. When they had read enough alarming reports, we planned to spring the suggestion we should support the colonels’ plans to reduce Sukarno’s power. This was a method of operation which became the basis of many of the political action adventures of the 1960s and 1970s. In other words, the statement is false that CIA undertook to intervene in the affairs of countries like Chile only after being ordered to do so by … the Special Group. … In many instances, we made the action programs up ourselves after we had collected enough intelligence to make them appear required by the circumstances. Our activity in Indonesia in 1957-1958 was one such instance.{11}

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

When the Communist Party did well again in local elections held in July, the CIA viewed it as “a great help to us in convincing Washington authorities how serious the Indonesian situation was. The only person who did not seem terribly alarmed at the PKI victories was Ambassador Allison. This was all we needed to convince John Foster Dulles finally that he had the wrong man in Indonesia. The wheels began to turn to remove this last stumbling block in the way of our operation.”{12} John Allison, wrote Smith, was not a great admirer of the CIA to begin with. And in early 1958, after less than a year in the post, he was replaced as ambassador by Howard Jones, whose selection “pleased” the CIA Indonesia staff.{13} go to notes

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

On 30 November 1957, several hand grenades were tossed at Sukarno as he was leaving a school. He escaped injury, but 10 people were killed and 48 children injured. The CIA in Indonesia had no idea who was responsible, but it quickly put out the story that the PKI was behind it “at the suggestion of their Soviet contacts in order to make it appear that Sukarno’s opponents were wild and desperate men”. As it turned out, the culprits were a Muslim group not associated with the PKI or with the Agency’s military plotters.{14}

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The issue of Sukarno’s supposed hand-in-glove relationship with Communists was pushed at every opportunity. The CIA decided to make capital of reports that a good-looking blonde stewardess had been aboard Sukarno’s aircraft everywhere he went during his trip in the Soviet Union and that the same woman had come to Indonesia with Soviet President Kliment Voroshilov and had been seen several times in the company of Sukarno. The idea was that Sukarno’s well-known womanizing had trapped him in the spell of a Soviet female agent. He had succumbed to Soviet control, CIA reports implied, as a result of her influence or blackmail, or both. ”

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

A substantial effort was made to come up with a pornographic film or at least some still photographs that could pass for Sukarno and his Russian girl friend engaged in “his favorite activity”. When scrutiny of available porno films (supplied by the Chief of Police of Los Angeles) failed to turn up a couple who could pass for Sukarno (dark and bald) and a beautiful blonde Russian woman, the CIA undertook to produce its own films, “the very films with which the Soviets were blackmailing Sukarno”. The Agency developed a full-face mask of the Indonesian leader which was to be sent to Los Angeles where the police were to pay some porno-film actor to wear it during his big scene. This project resulted in at least some photographs, although they apparently were never used.{15}

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In 1960, Col. Truman Smith, US Army Ret., writing in Reader’s Digest about the KGB, declared: “It is difficult for most of us to appreciate its menace, as its methods are so debased as to be all but beyond the comprehension of any normal person with a sense of right and wrong.” One of the KGB methods the good colonel found so debased was the making of sex films to be used as blackmail. “People depraved enough to employ such methods,” he wrote, “find nothing distasteful in more violent methods.”{17}

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sex could be used at home as well to further the goals of American foreign policy. Under the cover of the US foreign aid program, at that time called the Economic Cooperation Administration, Indonesian policemen were trained and then recruited to provide information on Soviet, Chinese and PKI activities in their country. Some of the men singled out as good prospects for this work were sent to Washington for special training and to be softened up for recruitment. Like Sukarno, reportedly, these police officers invariably had an obsessive desire to sleep with a white woman. Accordingly, during their stay they were taken to Baltimore’s shabby sex district to indulge themselves.{18}

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The Special Group’s approval of the political action mission was forthcoming in November 1957{19}, and the CIA’s paramilitary machine was put into gear. In this undertaking, as in others, the Agency enjoyed the advantage of the United States’ far-flung military empire. Headquarters for the operation were established in neighboring Singapore, courtesy of the British; training bases set up in the Philippines; airstrips laid out in various parts of the Pacific to prepare for bomber and transport missions; Indonesians, along with Filipinos, Taiwanese, Americans, and other “soldiers of fortune” were assembled in Okinawa and the Philippines along with vast quantities of arms and equipment.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

For this, the CIA’s most ambitious military operation to date, tens of thousands of rebels were armed, equipped and trained by the US Army. US Navy submarines, patrolling off the coast of Sumatra, the main island, put over-the-beach parties ashore along with supplies and communications equipment. The US Air Force set up a considerable Air Transport force which air-dropped many thousands of weapons deep into Indonesian territory. And a fleet of 15 B-26 bombers was made available for the conflict after being “sanitized” to ensure that they were “non-attributable” and that all airborne equipment was “deniable”.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In the early months of 1958, rebellion began to break out in one part of the Indonesian island chain, then another. CIA pilots took to the air to carry out bombing and strafing missions in support of the rebels. In Washington, Col. Alex Kawilarung, the Indonesian military attachÆ, was persuaded by the Agency to “defect”. He soon showed up in Indonesia to take charge of the rebel forces. Yet, as the fighting dragged on into spring, the insurgents proved unable to win decisive victories or take the offensive, although the CIA bombing raids were taking their toll. Sukarno later claimed that on a Sunday morning in April, a plane bombed a ship in the harbor of the island of Ambon — all those aboard losing their lives — as well as hitting a church, which demolished the building and killed everyone inside. He stated that 700 casualties had resulted from this single run.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Three days later, during another bombing run over Ambon, a CIA pilot, Allen Lawrence Pope, was shot down and captured. Thirty years old, from Perrine, Florida, Pope had flown 55 night missions over Communist lines in Korea for the Air Force. Later he spent two months flying through Communist flak for the CIA to drop supplies to the French at Dien Bien Phu. Now his luck had run out. He was to spend four years as a prisoner in Indonesia before Sukarno acceded to a request from Robert Kennedy for his release.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pope was captured carrying a set of incriminating documents, including those which established him as a pilot for the US Air Force and the CIA airline CAT. Like all men flying clandestine missions, Pope had gone through an elaborate procedure before taking off to “sanitize” him, as well as his aircraft. But he had apparently smuggled the papers aboard the plane, for he knew that to be captured as an “anonymous, stateless civilian” meant having virtually no legal rights and running the risk of being shot as a spy in accordance with custom. A captured US military man, however, becomes a commodity of value for his captors while he remains alive.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

It is unfortunate that high officials of the Indonesian Government have given further circulation to the false report that the United States Government was sanctioning aid to Indonesia’s rebels. The position of the United States Government has been made plain, again and again. Our Secretary of State was emphatic in his declaration that this country would not deviate from a correct neutrality … the United States is not ready … to step in to help overthrow a constituted government. Those are the hard facts. Jakarta does not help its case, here, by ignoring them.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In February 1958 certain elements of the Indonesian Army participated in a revolt against the government of President Sukarno. This action was centered in the outer islands of Sumatra and Sulawesi (Celebes), and although the major cities had fallen to the government by June 1958, the rebellion sputtered on until 1961. The revolt failed in the face of unexpectedly resolute action by the Indonesian government. At that time there were charges that The United States participated in this conflict in alimited and clandestine fashion — on the side of the rebels. Except for the occasional rebel use of British or American military airfields, Western intervention has been difficult to trace to official agencies. This article present evifence that a U.S. Navy reconnaissance plane, flown by a rgularly assigned active duty crew, was very nearly shot down during a classified mission in the Sulawesi area on March 27, 1958.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

What the hush about? An AUREV bomber B-26 Invader bombed Ambon! Immediately he started the engine. The four blades turned the 1.590 horsepower Rolls-Royce engine. Dewanto took off and sped his Mustang impatiently. From the air, he saw black smokes engulfing Ambon. Ruins were seen scattered everywhere, indicating it had just been under heavy air attack. He flew around for awhile but there was no sign of the B-26. He later headed his plane to the west. The ferry tank was released to speed up his Mustang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dewanto flew low. Just seconds as he saw the ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia/Indonesian Navy)’s convoy ships, also saw a glimpse of a plane. “B-26,” he mumbled. Oh no! The plane was flying towards the ships. Dewanto throttled full speed his Mustang. Luckily his position was right behind the Invader. For a moment he hesitated to release his rocket because the enemy plane position was between his Mustang and the ship. One, two rockets were fired. They all missed. None hit the target. In seconds, he then fired his 12.7 machine gun. Row of bullets spurted from the gun. Dewanto was definitely sure, this time he hit the target.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Leo Wattimena was the operation commander, while the bomber fleet was trusted under Sri Mulyono command. The Mustangs were assigned to shoot down every enemy aircraft seen and Mitchell bombers were to destroy enemy runways. Departing from three different places, they rendezvoused at the edge of Lifamatola of the Sula Islands, the Mangole chain islands before headLeo Wattimena briefed all the pilots. The briefing was short, he only said: tomorrow at dawn an air strike would be conducted to grab air supremacy over the East Indonesian sky. “In the afternoon around 15.00 hours,” recalled Sri Mulyono, nine aircrafts departed from their respective airbases to three designated points around Ambon Island and spent the night there.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

“We were in the same lichting (generation), but we looked up to him because of his leadership qualities. Perhaps also because of his Faculty of Technique Gajah Mada University background,” explained Sri Mulyono who had enough knowledge to describe Dewanto’s obstinacy. Dewanto once led TP to intercept Dutch tank convoy enroute from Semarang to Solo in Boyolali area. To Sri Mulyono the unforgetable part was when TP were in ready position and the tank convoy was getting closer, Dewanto behind a trench suddenly with “craziness” opened fire with local built sten-gun against the Dutch armoured troop. “He was so brave and yet less considerate,” he recalled.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In several ambushes, TP acquired assistance from the Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) AURI led by OMO (Second Lieutenant) II A. Wiriadinata because Sri Mulyono recalled, Wiriadinata’s troops were the only troop who had a 12.7 mm. He later became the first PGT (Pasukan Gerak Tjepat, now Korpaskhau/Airforce Special Troop) commander in 1952. Because of his distinction, Wiriadinata was appointed Battle Commander of Panembahan Senopati 105 (PPS-105) which later on became known as Pasukan Garuda Mulya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Apa hush tentang ? Sebuah bomber B – 26 AUREV Invader dibom Ambon ! Segera ia menyalakan mesin . Keempat pisau berbalik 1.590 tenaga kuda mesin Rolls-Royce . Dewanto lepas landas dan melesat Mustang tak sabar . Dari udara , ia melihat asap hitam melanda Ambon . Reruntuhan terlihat berserakan di mana-mana , yang menandakan bahwa ia baru saja berada di bawah serangan udara berat . Dia terbang sekitar untuk sementara tapi ada ada tanda-tanda B – 26 . Dia kemudian menuju pesawatnya ke barat . Tangki feri dirilis untuk mempercepat Mustang nya .

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dewanto terbang rendah . Hanya beberapa detik saat ia melihat ALRI ( Angkatan Laut Republik Indonesia / Angkatan Laut Indonesia ) ‘ s kapal konvoi , juga melihat sekilas pesawat . ” B – 26 , ” gumamnya . Oh tidak! Pesawat itu terbang menuju kapal . Dewanto mencekik kecepatan penuh Mustang nya . Untungnya posisinya berada tepat di belakang Invader tersebut . Sejenak ia ragu-ragu untuk melepaskan roket karena posisi pesawat musuh adalah antara Mustang dan kapal . Satu , dua roket ditembakkan . Mereka semua terjawab . Tidak mencapai target. Dalam hitungan detik , ia kemudian menembakkan senapan mesin 12,7 . Row peluru muncrat dari pistol . Dewanto pasti yakin , kali ini ia mencapai target.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Leo Wattimena adalah komandan operasi , sedangkan armada bomber dipercaya di bawah komando Sri Mulyono . The Mustang ditugaskan untuk menembak jatuh setiap pesawat musuh dilihat dan Mitchell pembom adalah untuk menghancurkan landasan pacu musuh . Berangkat dari tiga tempat berbeda , mereka rendezvoused di tepi Lifamatola dari Kepulauan Sula , pulau-pulau rantai Mangole sebelum headLeo Wattimena penjelasan semua pilot . Briefing pendek , ia hanya mengatakan : besok subuh serangan udara akan dilakukan untuk meraih supremasi udara di atas langit Indonesia Timur. ” Pada sore hari sekitar jam 15.00, ” aku Sri Mulyono , sembilan pesawat berangkat dari pangkalan masing-masing untuk tiga poin tentukan di sekitar pulau Ambon dan bermalam di situ .

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Ketika mereka tiba di Ambon , matahari telah pergi sudah . Satu demi satu , pesawat mendarat . Sebuah kebiasaan Allen Lawrence Pope , menyewa pilot AS yang Permesta , ia tidak pernah muncul di malam hari . Saat fajar pada tanggal 15 Mei , Leo memulai misinya . Dia dihitung sebagai matahari terbit di 05:45 , pembentukan nya pesawat serangan udara tiba di lokasi target . Berdasarkan laporan intelijen , Permesta memiliki sekitar 10 pesawat yang terdiri dari B – 26 bomber , P – 51 Mustang dan PBY Catalina amfibi pesawat.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

” Kami berada di lichting sama ( generasi ) , tapi kami mengaguminya karena kualitas kepemimpinannya . Mungkin juga karena kuliah di bagian teknik Universitas Gajah Mada , ” jelas Sri Mulyono yang memiliki pengetahuan yang cukup untuk menggambarkan ketegaran Dewanto . Dewanto pernah memimpin TP untuk mencegat konvoi tank Belanda enroute dari Semarang ke Solo di daerah Boyolali . Untuk Sri Mulyono bagian tak terlupakan adalah ketika TP berada dalam posisi siap dan konvoi tank semakin dekat , Dewanto balik parit tiba-tiba dengan ” kegilaan ” melepaskan tembakan dengan lokal dibangun sten -gun terhadap pasukan lapis baja Belanda. ” Dia begitu berani dan namun kurang perhatian , ” kenangnya .

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Di beberapa penyergapan , TP memperoleh bantuan dari Pasukan Pertahanan Pangkalan ( PPP ) AURI dipimpin oleh OPT ( Letnan Dua ) II A. Wiriadinata karena Sri Mulyono ingat , pasukan Wiriadinata itu adalah satu-satunya pasukan yang memiliki 12,7 mm . Dia kemudian menjadi PGT pertama ( Pasukan Gerak Tjepat , sekarang Korpaskhau / Airforce Pasukan Khusus ) komandan pada tahun 1952 . Karena perbedaan itu , Wiriadinata diangkat Pertempuran Komandan Panembahan Senopati 105 ( PPS – 105 ) yang kemudian dikenal sebagai Pasukan Garuda Mulya .

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Satu persatu mulai bangun dan keluar dari lubang perlindungan, udara subuh diluar lubang perlindungan begitu dingin, embun turun menyelimuti tanah, kelihatan seperti kapas beterbangan ketika ditimpa cahaya lampu tempel yang disangkutkan di paku dekat pintu rumah dapur, semua mendekapkan tangan kedada melawan dinginnya udara subuh, ada yang menggigil kedinginan hingga giginya gemertakan, yang pakai sarung menutupi seluruh tubuhnya hingga yang kelihatan hanya muka, atau yang memakai kain panjang menyelimuti badannya. Belum semuanya tenang, suasana masih mencekam, tapi tidak seperti beberapa jam sebelumnya, disaat suara tembakan dan dentuman senjata api saling bersahutan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bersama ini surat ananda khabarkan  pada Ibunda . amada telah selamat sampai di Padang Panjang jam 11.45 dan tidak kurang suatu apapun  berkat doa ibu  dan ayah  sekeluarga. Tentang kepindahan ananda telah bicarakan  sama bapak  Saleh ,dia tidak menyetujuinya hanya  maklumlah  kantor baru dibuka  oleh sebab itu  tentu segala nya tentu memakan  waktu agak  sebulan ,persenang saja lah hati Ibunda  jangan suka mendengar  kata-kata orang diluar , selain dari itu  ananda adalah sehat  saja dan  begitu pula  hendaknya  ibu dan ayah  sekeluarga

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pekanbaru dan Padang berjarak kurang lebih 300 km, dengan waktu tempuh sekitar 7 jam perjalan darat. Kendaraan umum yang biasa di gunakan adalah Bis, seperi Yanti Group, Sinar Riau, ANS, dll. Atau bisa juga menggunakan travel seperti Bumi Minang Wisata. Kalau mau cepat anda bisa menggunakan travel “gelap” yang banyak berkeliaran di simpang Panam, Pekanbaru. Tarif angkutan umum ini berkisar antara 70- 90 ribu. Yang penting pintar menawar saja hehe.. Kalau anda ingin lebih leluasa, efisien waktu dan nyaman, sewa mobil saja dengan tarif sekitar 250 ribu perhari. Yang disayangkan adalah tidak adanya penerbangan komersial dari Pekanbaru ke Padang, kabarnya dulu pernah ada namun tidak bertahan lama karena pihak travel merasa di rugikan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Tidak begitu jauh dari bangkinang, terdapat sebuah desa wisata yang bernama pulau Belimbing (Bukan pulau beneran, tapi cuma nama aja ). Dari ruas jalan utama, pintu masuk desa pulau belimbing hanya berjarak  2 kilometer saja. Yang unik didesa ini adalah rumah Lontiok yang berumur ratusan tahun. Rumah Lontiok adalah rumah tradisional di Kabupaten Kampar, khususnya di pulau Belimbing ini. Lontiok artinya lentik, alias melengkung ke atas. Atap rumah Lontiok ini melengkung ke atas, namun tidak selentik rumah adat di Sumbar.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah menempuh perjalanan 3,5 jam , kami sampai di kelok 9 yang tersohor itu. Disebut kelok 9 karena memang jalan disini terdapat kelokan tajam yang menanjak dan menurun sebanyak 9 kali belokan. Sangat diharamkan buat anda yang baru belajar menyetir untuk mencoba melalui kelokan maut ini Karena sulitnya medan kelokan ini, tidak heran kalau disini sering terjadi macet panjang. . Untuk mengatasi itu, maka dibuatlah jembatan layang yang sangat tinggi serta memutar dan menanjak/menurun dengan landai.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Menurut keterangan 1300 orang sisa Pemberontak PRRI dipusatkan didaerah ini ,terdiri dari 500 orang apa yang mereka namakan “KKO PRRI” dibawah pimpinan Kapten pemberontak Ali Sjahruddin yang terdiri dari Pemuda-Pemuda Pasar dan Preman Pakanbaru dan sekitarnya. 500 orang lagi dari Pasukan  yang mereka namakan SKDR(Staf Komando Dearah riau) dibawah pimpinan  Mayor pemberontak Sjamsi nurdin,yang sebagian besar  terdiri dari Pelajar dan 5000 orang lainya lagi  dari pasukan yang mereka namakan “ Baringin Sati” dan kemudian ditukarnya dengan nama “Harimau Minang” dibawah pimpinan malin Maradjo.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kesemuanya harus dikoordinir sebaik-baiknya oleh kemampuan komunikasi PHB. Betapa pentingnya peran PHB, selama pasukan infantry bergerak mngulung pemberontak PRRI,tidaklah perlu diapnjang lebarkan ceritanya.Akan tetapi, satu hal penting dikethui dan dicatat oleh para tokoh PHB , bahwa akibat dipelajarkan nya vak PHB di SSKAD,PPPL dan lain sebagainya, kami sekarang benar-benar melihat,setiap Komandanpasukan (didaerah bekas PRRRI) tidak pernah pisah dengan Komanda PHBnya,kemanapun beliau pergi atau membuat siasat pertempurannya. Ini adalah suatu kemajuan yang snagat mengembirkan ,yang berrati pula timbulnya suatu kenyataan bahw aPHB, tahu 1958 itu benar-benar lin dengan PHB tahanu 1945 sampai dengan tahun 1957.Keuntungan lain ialah apabila Negara kita cq APRI akan merencanakan dan melaksanakan operasi militer bersama diantara Angkatan Darat.Laut dan udara,para Prajurit PHB tidak pelu kuatir lagi,karena segala sesuatunya tentu sudah dipikirkan oleh atasan,tidak seperti pada tahun-tahun yang lalu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Memang benar, arti BR itu hanya Banteng Raiders saja, tetapi ada sementara anngota yang mengartikan dengan “Bojok remuk”,kecuali  kita harus menarik pelatuk senjata kalau bertempur dengan musuh gaya berat dari P 22 Scr 694 G.N. dan segala perlatanya harus dipikul dengan tenaga yang ada pada kami . bantua rakyat tidak mungkin diharapkan karea lecuali mereka sudah terlalu mendarah daging diracuni propaganda PRRRI denga anati Pusatnya, juga rakyat tidak baik dibawa dalam pertempuran yang tarsus menerus itu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dalam resepsi penutupan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional di Malang hari Juma’at siang ini Prsediden sukarno mengajak para sarjana yang berkumpul dikota ini untuk berani mengadakan revolusi pula dalam ilmu pengetahuan.Dikatakannya bahwa kita sampai sekarang masih saja memakai system falsafah teori politk dan outlook yang using,yang dilahirkan dalam abad yang lalu,abad lahirnya industrial revolution, sedasng kita kini hidup dalam abad nuclear revolution.Presiden  menyatakan,bahwa kaum sarjana harus berani think and rethink ,terus berusaha mencari kebenaran dan mengabadikan Ilmu Pengetahuan pada masyarakat yang bercita-citkan Keadilan dan kemakmuran.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sekali lagi Presiden menrangkan tentang pentingnya modal(modal nasional dan kalau perlu pinjaman, tetapi jangan investasi modal  asing) Mangerial Knew how (dimana science penting sekali)  dan suasana (terutama  suasana politik)  yang baik bagi pembangunan.Berkali-kali Presiden  mengemukankan perlunya  kaum sarjana melakukan her-orientasi ,karena  tanpa ini Ilmu Pengetahuan  akan beku, mati, menjadi bangkai,.Terutama  dikemukakannya  pentingnya kaum sarjana  untuk menyelenggarakan  blue-print Pembangunan sesudash  ini disetujui oleh DPR kelak.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

KSAD Letnan Jendral A.H.Nasution  selaku Pneguasa Perang Pusat telah mengeluarkan surat perintah kepada semua kepala Urusan pegawai dari semua Kementerian dan Instasi Pemerintah Pusat, yang mewajibkan mereka untuk menyampaikan Laporan mengenai Keanggotaan Partai Politik daripada semua Pegawai negeri Golongan “F” yang administratip berdada dalam pengurusannya., harus disampaikan  kepad penuasa Perang Pusat KSAD,dalam hal ini pejabat yang ditunjuk ialah Assisten I KSAD paling lambat tgl 30 Nopember 1958.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Rencana Normalisasi Keadaan yang dibicarakan Kabinet merupakan langkah normalisasi  yang menjadi follow up  atau kelanjutan sesudah berhasilnya tindakan tegas dan Operasional mematahkan potensi pemberontakan di sumatera barat  dan Sulawesi utara. Terutama rakyat didaerah-daerah  tersebut sedang mdnantikan kelanjutan  langkah-langkah  untuk menormalisasikan  daerahnya sesudah  beberapawaktu  lamanya daerah tersebut  dikocar-kacirkan  para pemberontak  dan dirugikan  kerkayaan dan harta –Benda daerah  dan rakyat olh  Petualang-petualang itu dan  mengalami  kerusakan tidak sedikit.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Betapa hebatnya penderitaan rakyat daerah selama pemberontakan itu, krugian yang dialami rakyat berupa harta milik dan korban jiwa serta perlakuan lainnya yang tidak kenal perikemanusiaan ,dapatlah kita ketahui jelas baik dari keterangan umum dan bekas Komandan “operasi 17 agustus” di sumatera barat  Kolonel Ahmad yani .Selain korban manusia yang diderita Rakyat ,pun kesukaran yang dialami sebagai akibat pemberontakan  seperti kekuranagn beras,obat-obatan, sekolah bagi pemuda pelajar dan mahasiswa ,kerugian materiiil seperti alat-alat kantor dlll yang dilarikan pemberontakan,Semuanya itu tentunya menjadi efek dari rencana Pemerintah kearah normalisasi keadaan daerah sesudah pemberontakan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada saat sesudah Kota Padang dibebaskan ARI, sekolah tetap berjalan dengan lancer hanya keuliatn guru, guru-guru dimana saya sekolah SMP FRater,kecuali frater masih ada beberapa orang,ada pelajaran yang gurunya masih baru dan belum begitu pengalaman sehingga sebagai murid kita harus aktif belajar mandiri,saya banyak belajar dari buku-buku yang saya peroleh saat mengikuti pertandinagn tennis meja di Surabaya tahun 199,dan tennis di semarang tahun berikutnya sehingga berhasil lusu ujian Negara sMP dengan nilai yang lumaya, kami hanya lulsu 8 orang dari 32 murid kelas III jurusan B,inilah hasil SMP Frater yang paling jelek dalam sehjarah sejak berdiri, dan hanya 5 orang yang diterima di SMA Don Bosco jurusan B,kami seluruhnya yang lim aorang tiga orang jadi dokter,2 orang lulus fakultas tehnik,sedang yang tidak diterima terpaksa sekolah di SMA Adabiah,dan yang tidak lulsu terpaksa mengulang tahun berikutnya,

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Guru say Ahli Paru Prof Ilyah dt batuah mengayakan kepada saya bahwa akibat penderitaan rakyat baik fisik maupu mental,sejak setelah PRRI penderita penyakit TBC Paru sangat meningkat,dengan sangat gigih kami yang bertugas di suamtera barat sebagai doker telah berusah dan berhasil mengobati dan mencegah berkembangnay penyakit TBC paru tersebut,saat saya bertugas di solok tahun 1974-1979,saya menemui sangat banyak rakyat Minang asal solok yang menderita TBC=paru dan saya telah membantu mereka dengan program terapi murthakhir dengan biaya sangat ekonomis untuk membuat penyakit jadi inaktif dan mencegah penularannya lebih lanjut,saya harap saat ini permaslahan TBC paru tersebut dapat teratasi.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Ketua seksi Pertahanan Parlemen <Manai Sophian (PNI),menerangkan dalam percakapan dengan pers bahwa sesudah semua Lapangan Terbang di Seluruh Tanah Air dibebaskan dari tangan kaum pemberontak oleh APRI kita, tidak mungkin ada lagi Lapangan terbang yang dapat digunakan oleh Kaum Pemberontak untuk memberangkatkan sesuatu PesAwat Terbng guna melakukan pengeboman atau pengacauan didaerah RI. Oleh karena itu,maka ketua Seksi Pertahanan Parlemen  itu berpendapat bahwa masih adanya pesawat terbang  asing yang diseewa oleh kaum pemberontak untuk melakukan pengacauaan didaerah Indonesia bagian Timur tentunya diberangkatkan dari suatu Lapangan terbang diluar wilayah RI (dari Negara lain)

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Berhubung dengan itu maka Manai Sophiaan berpendapat bahwa kewajiban Pemerintah sekarang ialah menyelidiki Pngkalan terbang Asing  manakah yang dipakai untuk memberangkatkan  Peasawt terbang Asing yang disewa oleh kaum Pemberontak.Dalam hubungan ini ,Manai Sphiaan memperingatkan bahwa PM Djuanda dalam keterangannya kepada Parlemen pernah menyatakan  bahwa apabila Pemrintah Indonesia dihadapkan terus-menerus  pada kenyataan tentang  dipakainya Lapangan terbang  oleh Kaum Pemberontak PRRI/Permesta ,maka

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Patut ditambahkan bahwa seperti diberitakan  Kantor berita Antara, menjelang perayaan ulang tahun ke-13 RI baru-baru ini di Menado masih terjadi serangan oleh pesawat terbang asing guna mengacaukan perayaan itu.Manai membernarkan ketika salah seorang wartawan mengatakan bahwa  seklaipun berita tentang Pengacauan Pemberontak dengan peswat asing itu sudah  agak terlambat ,tapi soalnya kalau bisa menjelang hari Preoklamasi tempo hari,maka unya juga bisa diulangi lagi dihari-hari yang akan datang, lebih-lebih jika kitta kurang waspada.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Penguasa Perang Daerah Swatantara I Jakrta Raya Letkol E.Dachjar mulai tanggal 20 Agustus 1958 melarang semua kegiatan dan berdirnya partai,Badan dan Yaysan dri golongan Kuomintang dalam daerah hokum Jakarta. Dalam larangan itu dimaksud juga badan yang menjadi bagian atau sehaluan dengan Kuomintang termasuk cabang-cabang dan ranting-rantingnya.Yang dimaksud dengan partai Kuomintang ialah A.Tjanang,Bagian,Ranting dari partai tersebut.B.Organisasi ,Badan,Yayasan yang sehaluan dengan partaitersebut.C.Badan Hukum dimana terdapat diantara Pengurus,Direksi,Komisaris,Pemegang Saham atau Pegawainya terdapat orang jadi atau pernah jadi anggota partai Kuomintang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Amerika Serikat Sabtu 23-8 secara tidak langsung memperingatkan RRC supaya jangan sampai berusaha merebut Quemoy atau Matsu karena langkah itu bisa membahayakan Perdamaian didaerah sekitarnya.Peringatan ini tercantum didalam surat dari Mentyeri Luar negeri AS Dulles kepada Ketua seksi Luar negeri Majeleis Rendah  AS Thomas Morgan dan morgan dengan segera mengumumkannya.Dalam surat tadi Dulles mengatakan bahwa merasa “gelisah”bahwa Angkatan Perang RRC dipesisir Tiongkok  Drat yang letaknya seberang Menyeberang dengan Pulau Quemoy,Matsu dlll yang didduki pasukan Kuomintang diperkuat. Surat dulles tadi adalah Jawaban terhadap surat Morgan Juma’at ini  dalam mana Morgan mengatakan bahw aia “merasa kuatir” memperhatikan Laporan bahwa Angkatan Udara RRC disebrang Pulau Quemoy dan Matsu sedang diperkuat.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kata dulles dalam suratnya AS sungguh merasa gelisah dengan adanya bukti tentang Pemusatan Kekuaatan Komunis tiongkok.Hal ini menimbulkan dugaan bahwa mereka(RRC) mungkin akan ken goda untuk mencoba merebut dengan kekerasan Pulau Quemoy atau matsu.Saya kira akan sangat besarlah resikonya bagi setiap orang yang berkata bahwa seandainay Komunis Tiongkok mencoba mengubah keadaan ini dnegan kekerasan dan mencoba menyerang dan menaklukan Pulau-pulau itu,maka hal itu dapat mwrupakan operasi yang terbatas sja, saya kuatir bahwa perbuatan semacam itu akan berarti ancaman terhadap Perdamaian daerah itu,.Oleh sebab itu saya mengharapkan dan saya percaya bahwa itu tidka akan terjadi kata dulles.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pres. Eisenhower: “Congress has made clear its recognition that the security of the Western Pacific is vital to the security of the United States, and that we should be firm. The Senate has ratified by overwhelming vote, security treaties with The Republic of China, covering Formosa and The Pescadores, and also the Republic of Korea. We have a mutual security treaty with the Republic of The Philippines which, situated so close as it is to Formosa, could be next in line for conquest if Formosa into hostile hands.”

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Demikianlah isi suart tersebut:”Kedaulatan Rakjat “Jogya tgl 14-8- memuat laporan mengenai pidato Mr sartono itu sebagai berikut :”Mengenai Demokrasi terpimpin,Mr sartono katakana, bahwa Demokrasi terpimpin dengan UU Dasar berdasarkan Panca sila itu, merupakan syarat mutlak untuk Kesatuan Negara dan bangsa Kita yang terdiri banyak Pulau dan Suku-Suku Bangsa itu, Hendaknya konstitunte dalam hal ini dapat berbuat  hanya memperbaiki UU Dasar Sementara itu dengan tidak merobah azas dan tujuannya,  merobah Azas dan Tujuan ,berarti tidak mentaati kepada jiwa Proklamasi.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saya jadi ingat saat bertugas di Solok tahun 1974, ketika bersama orang tua naik mobil pribadi toyota Corolla 1000 cc, hamper saja menabrak seorang anak kecil umur 4 tahun yang tiba-tiaba lari  menyebrang dari rumahnya, untung saya dapat mengrem karena jalan mobil cukup pelan saat itu lagi ramai hari pasar, tiba-tiba orang—orang drai pasar lari menyerbu hendak merusak mocbil, saya saat itu berpakaian preman, keluar mencabut revolver dan siap untuk menembak perinagtan keatas , dan melihat anak tersebut diatas kap mobil dan ternyata masih hidup dan sehat, dan beberapa polisis lalulintas  dari polres Solok berteriak itu dokter polisi dan saya selamat dari serbuan rakyat.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bertempat di Gedung fakultas Muhamadijah Guguk Malintang Padang Pandjang                                                                                                                                  mulai Djam 10 pagi                                                                                                                  ATJARA                                                                                                                                             1.Uraian dri walikota Kepala daerah Kotapradja P.P

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Allan Pope was brought to trial before a military court on December 28, 1959. He was accused of flying six bombing raids for the rebels and killing twenty-three Indonesians, seventeen of them members of the armed forces. The maximum penalty was death. During the trial, which dragged on for four months, Pope pleaded not guilty. He admitted to flying only one combat mission, that of May 18, 1958. The other flights, he testified, were of a reconnaissance or non-combat nature. Contrary to the assertion that he had signed a $10,000 contract, Pope insisted he got only $200 a flight.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Selama persidangan, yang berlangsung selama empat bulan, Paus mengaku tidak bersalah. Dia mengakui untuk terbang hanya satu misi tempur, yaitu 18 Mei 1958. Penerbangan lain, dia bersaksi, yang dari pengintaian atau non-tempur alam. Bertentangan dengan pernyataan bahwa ia telah menandatangani kontrak $ 10.000, P ope menegaskan dia hanya $ 200 penerbangan.Pengadilan memperkenalkan buku harian yang diambil dari Paus setelah ditangkap. Isinya entri rinci berbagai misi pengeboman. P ope berpendapat itu tercantum kegiatan semua pilot pemberontak, bukan hanya itu. Dia menjawab dengan efek yang sama ketika dihadapkan dengan pengakuan pra-sidang, mencatat bahwa ia telah menolak untuk menandatanganinya.Ditanya apa “motif sebenarnya”-nya telah di bergabung dengan pemberontak, P ope menjawab: “Yang Mulia, saya telah memerangi Komunis sejak saya berusia dua puluh dua tahun – pertama di Korea dan kemudian Dienbienphu …


Baca juga :

Program affiliasi ini mencakup bidang yang cukup luas. Mulai dari pengiriman beberapa orang staf pengajar dari FEUI sampai kepada penyediaan tempat tinggal dan kebutuhan lainnya selama mereka tinggal di kota Padang. Tim affiliasi I—yang tinggal dan mengajar selama sembilan bulan—terdiri dari Dwiono Chandradi, Gunawan A. Wardhana, Hisaar Siahaan, Kartono Gunawan, Samiadji Djajengwinarno, Sjofjan Jusuf, Warsono Wiharto, dan Marsudi Djojodipuro (Ketua). Selain dari Drs. Marsudi Djojodipuro, semua staf pengajar yang dikirim ke Padang pada saat tersebut masih berstatus asisten dan dalam proses penyelesaian skripsi.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sekolah Tinggi Ekonomi Yayasan Perguruan Tinggi Pancasila secara resmi didirikan pada tanggal 7 September 1957 ditandai dengan Kuliah Pembukaan oleh Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo di Balai Prajurit Padang. Disamping tenaga-tenaga pengajar dari tim affiliasi FEUI ini, telah dikerahkan pula staf pengajar dari fakultas-fakultas lain dari Batusangkar, Payakumbuh, dan Bukitinggi untuk membantu. Dalam menjamin kualitas, telah diminta kesediaan Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo untuk memegang jabatan Dekan dengan Drs. Marsudi Djojodipuro sebagai Acting Dekan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saat itu tanggal 17 Oktober 1952. Bersamaan dengan menghadapnya Nasution Cs, di luar istana ada demontrasi yang direkayasa kubu Nasution, ditambah lagi pasukan artileri dengan meriam terkokang yang dipimpin Letkol Kemal Idris, mereka menuntut parlemen dibubarkan. Gantian, aksi ini yang membuat Soekarno murka. Nasution dicopot dan diganti dengan Kol Bambang Sugeng yang dianggap netral, sementara Supeno dipulihkan dinas militernya. Krisis ini akhirnya berakhir tahun 1955, dengan dikembalikannya jabatan KSAD kepada Nasution oleh Soekarno.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah peristiwa ini(13 agustus dan 16 oktober 1956), mka pada bulan Desember Peristiwa di daerah-daerah , saya mengingatkan  kepada para Panglima  yang terakhir pad tanggal 20 Oktober dimana memang  jelas dikalangan Pimpinan Angkatan darat timbul suatu  pendapat yang sama  bahwa  keadaan Negara  banyak sekali  tidak memuaskan menurut  apa yang dicita-citakan  dan dalam saat ini sejumlah  dari teman-Teman kita dengan tegas  menyatakan  satu-satunya jalan ialah bahwa  Tentara  mengambil tindakan  untuk mempelopori yang akhir ini dan tidak bisa diharapkan lagi dalam rangka Tata Negara yang berlaku sekarang ini.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Ada beberapa hal perbedaan:Kedudukan Kolonel Simbolon tidak sekokoh kedudukan Letkol Ahmad Husein.sejak Agustus 1956 , KSAD sudah menetapkan Simbolon harus menyerahkan Tongkat Komandonya di Medan karena itu perannya dalam  Gerakan “Ikrar 4 Desember” merupakan pembangkangan langsung.Pada pihak lain, posisi Letkol Ahmad Husein,yang didukung para perwira eks Divisi Banteng diberbgai daerah Indonesia lebih kuat sehingga kedudukannya sebagai Ketua Dewan Banteng tidak mendapat kecaman terbuka dari pihak MBAD,juka ketika ia mendapat mandat dari Gubernur Sumatera tengah untuk menjalankan tugas Kepala Daerah sejak 21 Desember 1956, kedudukannya bahkan diperkuat setelah MBAD meningkatkan Komandonya Daerah sumatera Tengah(KDMST) sehingga ia pun mendapat predikat Panglima.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Berturut-turut terbentuk Dewan Gajah di Sumatera Utara di bawah pimpinan Panglima Tentara dan Teritorium I Kolonel Maludin Simbolon, Dewan Garuda di Sumatera Selatan di bawah pimpinan Panglima Tentara dan Teritorium II Letnan Kolonel Barlian serta Dewan Manguni di Sulawesi Utara yang dipimpin oleh Panglima Tentara dan Teritorium VII Letnan Kolonel Herman Nicolas ‘Ventje’ Sumual. Berbagai musyawarah yang diselenggarakan sepanjang tahun 1956, di antara para panglima tentara maupun antara tentara dan kalangan pemerintah pusat, tak berhasil menyelesaikan persoalan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada tanggal 22 Desember 1956 Kolonel Simbolon pemimpin Dewan Gajah melalui RRI Medan mengumumkan pemutusan hubungan wilayah bukit barisan dengan pemerintah pusat. Ia mengubah nama kodam TT I menjadi Kodam TT I Bukit Barisan. Dia melihat pada permasalahan kesejahteraan dan perumahan prajurit yang sangat memprihatinkan.Karena keterbatasan dana dari pusat maka Kolonel Simbolon mencari jalan sendiri membangun asrama dan perumahan prajurit. Dia mencari dana sendiri namun sayang cara yang digunakan adalah cara illegal. Dia menjual secara illegal hasil perkebunan di wilayah Sumatra Utara.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada tanggal 26 Desember, di Pematang Siantar, yang menjadi Ibu Kota RES.II , Letkol Wahab Macmour  menyatakan mengambil alih kekuasaan.Letkol Franz Hutabat menyerang  Pematang siantar dan tewas sebagai pemberontak , Let Kol Wahab Makmoer telah mengambil alih kekuasaan Resort II Pematang siantar.karena ketika Pusat merintahkan untuk mengambil alih kekusaan disini, Let Kol djamin Gintings  menyatakan tidak sanggup dan baru bertindak  Letkol Wahab Macmour Kolonel Simbolon melarikan diri  ke Tapanuli , keadaan di  TT –I  boleh dikatakan tenang kembali serta Kol Simbolon dibiarkan berkeliaran di Sumatera Tengah sesuak hatinya

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Walaupun Letkol Ahmad Husein selaku Ketua Dewan Banteng mengambil alih jabatan Gubernur Sumatera Tengah dari tangan Gubernur Ruslan Mulyoharjo, namun Ahmad Husein tidak ditindak sebagai Komandan Resimen 4 TT. I. BB, malah sebaliknya tuntutan Dewan Banteng agar dibentuk satu Komando Militer di Sumatera Tengah yaitu Komando Militer Daerah Sumatera Tengah (KDMST) dipenuhi lepas dari TT. I BB dan Letkol, Ahmad Husein diangkat menjadi Panglima KDMST. Dewan Banteng tetap mengakuo Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia, tetap mengakui Pemerintahan Juanda dan tetap mengakui Jenderal A.H. Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Disamping bertugas untuk mendampingi Kaso Abdul Gani di PKO, ia juga diberi kepercayaan untuk mengemban tugas-tugas khusus.Ide Abdul Qahhar Mudzakkar untuk mengirim belajar putera-puteri Sulawesi keluar negeri, telah membuktikan bahwa Qahhar Mudzakkar memiliki cita-cita dan berusaha agar tidak terputus mata rantai perjuangan yang sedang dilakukannya waktu itu. Dan diantara yang telah dikirim keluar negeri untuk belajar ialah tiga anak kandungnya sendiri (anak-anak dari istri keduanya/ Corry van Stenus).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Permasalahan ketimpangan Pusat – Daerah menuai protes sejumlah perwira di Sumatera dan terbentuklah Dewan Gajah di Sumatera Utara Dewan Banteng di Sumatera Tengah serta Dewan Garuda di Sumatera Bagian Selatan. Tahap awal yang terjadi adalah Dewan Garuda melatih kedisiplinan untuk membantu pembangunan dengan anggota pemuda dari PSI, MASYUMI dan sebagian dari mliter.Gerakan ini ternyata tercium oleh MBAD atas laporan dari Lettu Sainan Sagiman yang kelanjutanya adalah pada April 1957 Asisten I MBAD Letkol. Achmad Sukendro mengeluarkan perintah kepada Komandan Resimen V Mayor Djuhartono untuk menangkap perwira TT. II/SRIWIJAYA termasuk Panglimanya Letkol Burlian

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah kami mempelajari acara rapat yang disampaikan kepada kami, timbullah rasa kegembiraan di hati kami , karena rapat ini akan membahas persoalan-persoalan otonomi, ekonomi, keuangan dan keamanan daerah secara teknis, yang akan diekmukakan kelak dalam seksi-seksi yang akan dibentuk untuk memendekkan waktu, tetapi sayang rasa kegembiraan ini segera berkurang , setelah kami perhatiakan bahwa rapat sekarang ini tidak membicarakan soal-soal pokok dari sebab musabab timbulnya pergolakaan di daerah-daerah yang didorong oleh semangat rakyat yang bergejolak , menghendaki perubahan-perubahan radikal dalam taraf pimpinan nasional dan perubahan dari mismajemen yang bersimarajalela dalam segala lapanga.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada tempatnya kiranya, Pimpinan Negara berteriama kasih kepada Gerakan Rakyat di Daerah-Daerah , yang ingin mencegah pembelokan cicta-cita Proklamasi 1945, yang disebabkan oleh usaha yang tidak jujur dari pemimpin-pemimpin yang berkuasa diwaktu-waktu yang lalu, tapi alangkah kecewanya kami mendengar reaksi-reaksi dari beberapa  pemimpin dan Golongan di Ibu Kota ini, sekan-akan Gerakan-Gerakan yang timbul didaerah itu adalah suatu kesalahan yang besar, dan kami menolak dengan keras dan tegas segala provokasi dan propaganda palsu yang dilancarkan oeh siapapun, yang mencap perjuangan suci rakyat didaerah-daerah  untuk mempertahankan  Republik Indonesia sebagai dicita-citakan oleh Proklamasi 1945, sebagai gerakan saparatisme, sukuisme, agen imperialism, dan lain-lain nama, yang hanya hati yang jahat dapat memikirkannya dan mulut yang kotor dapat mengucapkannya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Adalah menjadi kenyataan sekarang akibat dari segala persoalan-persoalan tersebut, timbullah keinginan untuk mencari penyelesaiaan yang konkret , baikpun datangnya dari Pusat maupun suara-suara dari daerah.Tetapi yang mengelikan sekali segala keinginan itu yang seharusnya disampingkan dan dijadikan bahan untuk menentukan sikap  selanjutnya tidka dilaksanakan, melainkan mengambil  suatu tindakan penyelesaiaan yang dipaksakan menurut keinginan sendiri dengan tidak mengindahkan sma sekali keinginan-keinginan yang jujur dari pihak lain, dengan menonnjolkan semboyan yang hebat dan menarik yaitu Kebijaksanaan, tegas dan cepat, yang sebenarnya adalah kekeliruan, kesalahan dan keserampangan belaka.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

CIA yang terampil dalam perang propaganda, kembali menampilkan watak sesungguhnya. Fitnah dan berita bohong mengenai Bung Karno diproduksi dan disebar melalui jaringan media massa yang berada di bawah pengaruhnya. Tujuannya mendiskreditkan proklamator itu. Hanya di depan publik menyatakan gembira atas kebebasan Allan Pope, tetapi diam-diam diproduksi berita bahwa kebebasan itu terjadi setelah istri Allan Pope berhasil merayu Bung Karno. Sedang pengeboman istana oleh Maukar, diisukan secara sistematis sebagai tindak balas setelah Bung Karno mencoba menggoda istri penerbang itu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pemerintah membuka jalan lain, ialah dengan jalan kecuali melaksanakan perimbangan keuangan  buat daerah,juga memberikan sejumlah daripada hasil bea cukai dan devisen eksport,tiap-tiap daerah langsung  buat keperluan daerah itu. Dengand emikian diberkan satu jalan lain,bahwa secara langsung mereka mendapat hasil-hasil itu karena itulah saya berkeliling kedaerah-daerah untuk menyusun BDP-BDP,kantor import/eksport dan lain lain dengan Kementerian-kementerian yang tersangkut supaya selekas mungkin dipenuhi kebutuhan ini.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Timbul lagi persoalan yang baru yaitu keputusan Pemerintah untuk memecat  perwira-perwira  yang secara  pokok telah melanggar norma-norma militer, sudah diketahui  bahwa ini tidak dapat diterima  oleh sejumlah Perwira  yang berperistiwa itu,karena itu dalam meningkat-ningkatnya itu jelas danlah kita melihat salah satu  ketentuan , baik dalam masalah Dwi Tunggal , baik soal  penyelesaian  Angkatan Darat,baik yang disebut soal Pusat dan Daerah itu, dalam suasana  demikianlah  timbul masalah yang baru, yaitu masalah didesas-desuskannya  pembentukan suatu Negara yang baru atau Pemerintah yang baru di Sumatera.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Untunglah sebelum situasi bertambah panas Lettu Sainan Sagiman diperintahkan untuk mengkonsolidasi dan mengkoordinasikan dengan Panglima Sumatera Tengah Letkol A. Husain, Panglima Sumatera Utara Letkol. Djamin Ginting serta Panglima Aceh Letkol  Syamaun Gaharu agar memberikan dukungan kepada TT. II/SRIWIJAYA meyakinkan MBAD masalah Sumatera Selatan dibawa ketingkat pusat dan tidak perlu dengan pengerahan kekuatan mliter. Usulan ini didukung secara penuh oleh ketiga panglima wilayah sumatera dengan tujuan mencegah pertempuran sesama kekuatan NKRI

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kedua kita  tidak bisa membenarkan  bagaimanapun juga bahwa  dalam Pergolakan anatar kita  dengan kita sebagai Negara  yang muda ini kita bersedia  bekerja sama dengan Angkatan Perang Asing.Hal ini sudah melanggar  Tujuh Belas Agustus  Empat Lima Saya tidak usah bicara mengenai  Politik Bebas Yang Aktif  tapi  semua kita  percuma lah berjuang  sejak  45 kalau kita  dalam perkelahian anatar kita dengan kita yang  lumayan sebagai Negara Yang Muda ini, juga bersedia bekerja sama dengan Negara Asing  dan juga alat-alat Senjata asing.Saya tidak akan memberikan satu persatu peristiwa disini,kan tetapi inipun sekarang kita konstantir.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Perdana Menter   : Mr. Syafruddin Prawiranegara                                                                                                Menteri Luar Neger  : Kol. Maluddin Simbolon                                                                                                          Menteri Pertahanan & Menteri Kahakiman : Mr. Burhanuddin Harahap                                                             Menteri Perhubungan & Pelayaran : Dr. Soemitro Joyohadikusumo                                                                       Menteri Pendidikan, Pengajaran, & Kebudayaan(PP & K)                                                                                        merangkap Menteri Kesehatan : Mohammad Syafei                                                                                                                                                                                                                             Menteri Perhubungan     : JF. WarouwMenteri Pertanian & Perburuhan    : S. Sarumpait                            Menteri Agama: Mochtar Lintang                                                                                                                               Menteri Penerangan  : M.Saleh Lahade                                                                                                                     Menteri Sosi    : Ayah Gani Usman                                                                                                                                                 Menteri Dalam Negeri* : Kol. Dahlan Djambek kemudian digantikan Mr. Assa                                               tmenteri Pos dan Telekomunikasi*  : Kol. Dahlan Djambek.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bertepatan waktu dengan diumumkannya PRRI pada tanggal 15 Pebruari 1958, di Staf Umum Angkatan Darat oleh Gabungan Kepala-Kepala Staf Angkatan dibentuklah suatu Komando Operasi Gabungan (Task Force) yang diberi nama “TEGAS” dengan Komandannya waktu itu Letkol Inf Kaharudin Nasution (sekarang Mayjen TNI) dari AD, dengan Wakil Komandan I Letkol (U) Wirijadinata dari AU dan Wakil Komandan II Mayor (L) Indra Soebagio dari AL. Komando ini merupakan komando pertempuran expedisionir yang langsung di bawah perintah Kasad dengan ditentukan sebagai kawasan operasi daerah Sumatera Tengah

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Selama pergolakan PRRI, sebagian sivitas akademika Unand, termasuk dari Sekolah Tinggi Ekonomi dan bukan Unand secara institusional mulai terlibat dalam kegiatan PRRI, dampaknya tidak dapat dielakkan. Kegiatan perkuliahan di luar kota Padang terhenti sama sekali, sebagian tenaga pengajar Unand mulai berperan selaku staf ahli dalam lingkungan PRRI. Sebaliknya, sebagian besar mahasiswa telah berada dalam medan pertempuran melawan pasukan ABRI. Sebagian besar Tim affiliasi FEUI memegang peranan penting dalam Dewan Banteng. Sjofjan Jusuf langsung ditugaskan untuk mendirikan sebuah bank kemudian berkembang menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD), Samiadji Djajengwinardo sebagai Kepala Urusan Perdagangan Luar Negeri, dan Dwiono Chandradi sebagai penasihat Menteri Perdagangan Kabinet PRRI yang dijabat oleh Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo.(fekonenand)

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Untuk itu ia telah mendapat dukungan Balikpapan(Hartoyo) dan diharapkan  Banjarmasin(Kol Hasan Basri,Ketua dewan Lambung Mangkurat) akan menyediakan Bandar Udara untuk pesawat pembomnya. Kapal-kapal pendarat ke Jakarta itu bersifat pendadakan, karena pasukan Pusat sedang memusatkan perhatian ke Indonesia Timur dan Sumatera tengah. Padahal serangan-serang di indonesai Timur itu (antara lain Pope) hanya gerak tipu saj karena Pusat sudah terikat pada mitos “ Gerakan separatis” yang seolah-olah ingin memisahkan Indonesia  Timur dari RI,maka strategi itu tidak pernah dipahami.Berkobarnya pertempuran di Sulawesi Utara dan Sumatera tengah sejak April 1958 menutup kemungkinan dilaksanakannya rencana tersebut

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah itu dilakukan pengiriman senjata dengan kapal laut, melalui penerjunan dua kali di  udara di lapangan terbang tabing  sehingga cukup untuk mempersenjatai 8000 orang. Sebagain senjata itu secara sembunyi-sembunyi dikirim Kol Simbolon ke Tapanuli untuk melengkapai persenjataan  Mayor Sinta Pohan  dan 3000 pucuk kepada Daud Berueh  di Aceh dan sebagian lagi untuk melengkapi persenjataan Mayor  Nawawi di Bengkulu , Kol Zulkifli Lubis diperbatasan  Sumatera Barat dan Jambi.menurut orang Amerika tersebut pemberian senjata  dalam rangka menjamin  tetap adanya daerah de Facto PRRI dan dijadikan basis operasi militernya dalam rangka membentung kekuatan Komunis diwilayah tersebut.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Soal yang terakhir ini kita tidak bisa melepaskan dari  perkembangan sejak bermula kita melihat selama ini didalam Negeri  adanya pertentangan politik mengenai Pemerintahan,pimpinan Negara dan lain lain yang tidak habis-habisnya  yang meluas kedalam Angkatan Perang kita kecuali  itu janganlah kita lupakan bahwa  Republik kita ini juga belum lepas dari pada persoalan  Perjuangan lain, baik dalam persoalan Irian Barat menghadapi Belanda,maupun dalm persoalan ada dua blok didunia yang juga ingin  membikin Indonesia ini  menjadi  sesuatu  operasi  dari pada cold war yang berlaku itu (di Asia) sekarang ini.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saya selalu  mengutarakan , sebut satu persatu namanya dan saya akan sebut dari Partai mana diaa,begitu  juga disebut  bahwa Pimpinan Angkatan  Darat telah dikuasai Komunis, seya selin menanya,sebutlah Perwira mana  yang memang Komunis itu. Memang nama-nam itu  belum pernah dapat disampaikan kepada saya, jani memang jelas bahwa  pemberitaan itu  berlangsung dengan luas bahwa Pemerintah  dan Pimpinan Angkatan darat telah dikuasai Komunis ,dikoran-koran Luar Negeri  saya membaca  sendiri seperti di Koran Australia ,dikoran Singapura , bahwa  ayapun telah  komunis. Jadi itu bukan barang baru.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saya yakin bahwa dikalangan Perwira yang bnayk dihadapan saya  sekarang ini saya kira hamper 70 orang , tentu ada yang setuju  dengan tujuan daripada  mereka  yang telah memberontak di Padang , saya  sebut dengan tujuannya, aertinya tumuannya itu  Kabinet Hatta,Hemangakubuwono adanya  sesaat, adanya Pemerintahan yang tegas anti Komunis  dan Presiden  Sukarno Cuma  konstitutionil  Presiden. Mungkin disini ada yang setuju  saya akan menghormat, tujuan dari tiap-tiap  orang yang semacam itu.itu tersilah, Mungkin  ada yang setuju  dengan perbuatan  itu.Dalam soal ini saya tidak bisa menghormati . Tujuan Politik itu bisa disetujui  tapi  perbuatan itu tidak bisa disetujuinya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kita semua tahu bahwa ujian itu tidaklah mudah. Tetapi bagaimanapun sulitnya ,kalau kita mau maju terus  mencapai cita-cita bangsa dan Rakyat, yaitu satu Indonesia  yang bersatu jaya dan sejahtera  bagi seluruh rakyatnya, betapun rumitnya ujian itu, harus kita tempuh,. Dari penjelasan tentang situasi Tanah Air, dapatlah  kita pahami, bahwa anasir-anasir yang lebih mementingkan diri daripada  kepentingan bangsa  dan Rakyat, sudah menyatakan dirinya sebagai pemberontak, dengan segala kemampuan nya yang ada, dengan segala cara kaum pemberontak, sudah berbuat jauh bertentangan  dengan sumpah pemuda, bertentangan dengan Proklamasi 1945, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara,bertentangan dengan Sumpah Prajurit.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kita semua tahu bahwa penderitaaan Rakyat disebabkan karena belum bebasnya secara penuh Tanah Air kita ini dari sisa-sisa Kolonialisme terutama dilapangan ekonomi.Sekarang Rakyat selangkah demi selangkah secara postif menghapuskan sisa-sisa Kolonialisme ini. Dengan penuh rasa persatuan, saling mengerti akan tugasnya, terutama anatara angkatan Perang dan Rakyat,tugas pembebasan ini dilakukan dengan setia tanpa mementingkan diri sendiri.Tetapi kita melihat bahwa pukulan dari rakyat Indonesia terhadap Kolonialisme ini ternyata membikin beringasan orang-orang  avonturir yang mengabdi kepada kolonialsme . Seelsi alam tersu menerus terjadi dan ini akan berfjalan terus. Orang-orang ini dengan berbagai dalih, dengan menunggangi tokoh-tokoh daerah  yang sempit, dengan menggunakan kekuasaan yang diperolehnya dari Rakyat untuk memberontak.Karena  itu penilaian yang secepat-cepatnya dari kita tidak bisa lain pemebrontak ini adalah pengkhianatan! Pengkhianatan terhadap Proklamasi 1945, pengkhianatan terhadap UUD,Negara RI,pengkhianatan terhadap Sumpah Prajurit,Sumpah jabatan dan Saptamarga.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Tindakan-tindakan tersebut adalah tindkan yang wajar, suatu tindakan yang adil demi keselamatn Bangsa,Rakyat dan Tanah Air dijiwai oleh api cita-cita Rewvolusi Agustus 1945.Cita-cita yang senantiasa menuntun arah eprjuangan kita,cita-cita keramat bagi seluruh Bangsa Indonesia,kita harus bertindak setimpal terhadap kaum pemberontak itu. Jalan lain tidak da,demikian pula jalan-jalan mundur tidak ada,sepenuhnya kami menyetujui sikap Pimpina Angkatan Perang bahwa tindkan itu hanya ditujukan kepada yang bersalah.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sandarn kaum pemerontak buka Rakyat, malainkan impian kekuatan asing, kekuatan kolonialisme. Memang kekuatan kolonialisme di Asia masih ada, Tetapi terang bahw akekuatan ini sedang dengan secepat menuju keproses keruntuhannya. Sebaliknya kekuatan rakyat inti Kolonialisme sedang tumbuh berkembang ddengan kemungkinan tak terbatas. Kaum pemberontak bersandar kepada kekuatan yang lapuk, sebaliknay kita berada dalam kandungan  kekuatan Raksasa rakyat yang sedang tumbuh. Inilah  yang meyakinkan kami,bahwa kaum pemberontak pasti  dapat kita hancurkan, betapapun sulitnya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada tanggal 12 Maret 1958 jam 05.00 waktu setempat, dimulai gerakan Komando Operasi Gabungan “TEGAS” dengan memberangkatkan 10 (sepuluh) buah pesawat Mustang dari Tanjung Pinang (tempat berkumpul) menuju sasaran pokok yakni lapangan udara Simpang Tiga Pekanbaru dengan tugas pokok mengadakan penyerangan terhadap objek tersebut. Kemudian menyusul pula pesawat-pesawat Dakota dengan mengangkut dan untuk menerjunkan Komando X Ray di lapangan udara Simpang Tiga untuk merebut dan menguasai lapangan terbang ini.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Lanud Tanjung Pinang merupakan Home Base kekuatan udara yang terdiri dari pesawat-pesawat TNI AU dan Wing Garuda. Peranan TNI AU dalam operasi tersebut sejak hari “H” bertepatan tanggal 12 Maret 1958 yang ditetapkan bagi pelaksanaan Operasi Tegas dalam rangka penumpasan pemberontakan PRRI didaerah Sumatra sampai selesai, Tni Angkatan Udara melibatkan berbagai jenis pesawat yang berpangkalan di pangkalan udara Tanjung Pinang sebanyak 40 Buah pesawat terdiri dari 26 pesawat C-47 Dakota, 10 pesawat P-51 Mustang dan 4 pesawat B-25 Bomber Mitchell. Berbagai peran yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara dalam operasi tersebut sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dan dua B-25 Mitchell di Padang.Melakukan pengejaran terhadap pasukan Nainggolan yang melarikan ke daerah Tapanuli dengan menggunakan pesawat P-51 Mustang dan B-25 Mitchell. Pelaksanaan operasi gabungan APRI dalam rangka penumpasan PRRI merupakan sikap tegas pemerintah Rl terhadap usaha golongan yang tidak puas terhadap kebijaksanaan pemerintah pusat pada waktu itu. Sikap pemerintah ini diarnbil setelah pendekatan yang dilakukan tidak berhasil. Operasi ini merupakan gabungan yang pertama, bagi AURI merupakan operasi yang cukup besar dengan hasil yang gemilang, walaupun kondisi personel dan materiil pada waktu itu sangat memprihatinkan. Keterbatasan jumlah personel khususnya awak pesawat bila dibandingkan dengan banyaknya operasi-operasi yang dilaksanakan, ditambah lagi kondisi pesawat terbang yang sudah tua dengan jumlah yang sangat terbatas dan kesulitan-kesulitan dalam memperoleh suku cadang, itulah kondisi AURI saat itu. Unsur kekuatan udara operasional AU saat itu tergabung dalam Komando Gabungan Komposisi (KGK) yang terdiri dari Skadron I B-25 Mitchell, Skadron II C-47 Dakota, Skadron III P-51 Mustang, Skadron IV T-6 Harvard, Skadron V PBY-Catalina dan Skadron DAUM C-47 Dakota. Latar Belakang pembuatan Monumen Lanud Tanjung Pinang. Lanud Tanjung Pinang merupakan Home Base kekuatan udara yang terdiri dari pesawat-pesawat TNI AU dan Wing Garuda. Peranan TNI AU dalam operasi tersebut sejak hari “H” bertepatan tanggal 12 Maret 1958 yang ditetapkan bagi pelaksanaan Operasi Tegas dalam rangka penumpasan pemberontakan PRRI di daerah Sumatra sampai selesai. TNI Angkatan Udara melibatkan berbagai jenis pesawat yang berpangkalan di pangkalan udara Tanjung Pinang sebanyak 40 buah pesawat terdiri dari 26 pesawat C-47 Dakota, 10 pesawat P-51 Mustang, dan 4 pesawat B-25 Bomber Mitchell. Berbagai peran yang dilaksanakan TNI Angkatan Udara dalam operasi tersebut sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Jam D pendaratan 1 bn kko didaerah airtawar dan paratroop di tabing dan sekitarnya ttk jam D tambah 30 menit sampai jam D tambah 210 menit  pemboman objek-objek militer  termasuk jembatan-jembatan ttk jam D tambah 30 menit kapal-kapal mendekati pantai ttk jam D tambah 35 menit waktu untuk 1 bn Infanteri dan komando rtp 2 mendarat ttk jam D tambah X menit pendaratan dari keseluruhan rtp-rtp time table 2 rtp I akan menduduki solok dan pajakumbuh kurungbuka kemungkinan rtp 1 ini adalah pasukan yang dipimpin oleh kaharudin nasution yang bergerak dari timur kuruntutup ttk rtp 2 menduduki jembatan muarapenjalinan dan mengambil over dari rpkad tabing dengan 1 bn cadangan ttp rtp 3 mnduduki padang dan telukbayur ttk konosildasi sesudah itu tt IV keteragan-kterangan sesudah itu kko mendarat akan diberi tanda dengan 2 sein hijau ttk jika mendapat perlawanan yang sengit akan diberi seinmerah ttk batas dari komadua  pancangan kaki komadua kurungbuka bechea kurungtutup akan diberi tanda panels kuning/oranye ttk headquarters dri komando bersama rtp3 berada dikapal tampomas ttk auri akan mempergunakan pbr dan rgt sebagai landasan untuk untuk pemberian penembakan dan drop ttk habis(X)0414 1900 =

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sungguh suatu kejadian perlu mendapat perhatian para pencipta teknis pesawart P 22. Wlaupun kita diganggu,kita harus diam saja.Perlunya agar mereka mengira bahwa suaranya tidak bisa kita tangkap (ingat jarak capai dari pesawat P 22).Disamping itu ada satu hal lagi yang dapat merhasiakan pembicaraan kita melalui P 22 yaitu mengunakan bahsa jawa halus. Cara ini setelah dilakukan ternyata musuh menjadi marah dan jengkel, karena tidak mengethui pembicaraan kita buktinya mereka pernah masuk dalam channel kita dengan memgatakan Kalau berani  tentara  Sukarno sipaya mengunakan bahasa Indonesia,tetapi kita diam saja.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Yang bersangkutan saya kenal , karena gendut dianmakan si Buncik, beliau setelah pendaratan APRI ikut mengungsi ke pedalaman dan setelah itu tidak pernah ditemukan laigi informainya, KTP ini ditemukan bersama arsip yang bersangkuta lainnya termasuk SK pengangkatannya jadi anggotaKepolisian Negara RI di tempat sampah kertas bekas dari arsip-arsip brimob Sumbar   yang dibuang dan digunakan untuk membersihkan tangan di bengkel POLDA Sumbar d jalan sawahan dekat stasiun kereta api waktu saya menservis ganti oli kendaraan dinas jsaya jeep willys 1957 disana.sebagian arsipnya sudah saya serahkan kepada putrinya Lien yang menikah dengan putra saudara nenek mantu saya grace iteri putra saya anton.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Serangan dilaksanakan. Pemerintah pusat menyerang Padang. Padang dijatuhi bom-bom yang mengakibatkan kota ini hancur. Banyak rakyat padang yang mengungsi ke daerah Solok dengan membawa barang-barang seadanya yang dapat ibawa. Tokoh-tokoh PRRI ditangkap. PRRI mendapat dukungan Permesta. Akhirnya PRRI dapat ditumpas. Setelah PRRI berhasil ditumpas maka untuk mencegah munculnya pemberontakan serupa Suprapto diangkat menjadi Deputi Republik Indonesia Staf Angkatan Darat Untuk Wilayah Sumatra yang bermarkas di Medan. Peristiwa ini meninggalkan trauma bagi rakyat Sumatra.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Segera para wanita Ibu ,kakak dan adik sembunyi diruang perlindungan yang sudah dipersiapkan satu minggu yang lalu dibuat dalam tumpukan karung berisi pasir mengeliling tempat tidur, tetapi karena serangan bom mortir tambah gencar,serta lubang perlindingan sangat pengap, Para wanita dari keluarga kami malam tersebut saya dan akak lelaki mengantarkan mereka berlindung dirumah Paman di kompleks  kampung Pondok Namanya (sekarang jalan Niaga), hal ini diprtuskan ayah berdasarkan pengalaman saat serangan pendudukan jepang tahnun 1942 yang lalu,

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Teman-teman di fakultas kedokteran tahun 1963-1972 ada beberapa eks Tentara Pelajar PRRI ,dan ada yang berasal dari solok, dan ada juag anak kapolres Pariaman masa PRRI, mereka seluruhnay akhirnay jadi dokter dan bertugas di suamtera barat. Duluntya sebelum PRRI  diproklamirkan telah dimualai mendirikan Fakultas kedoteran di Baso dekat Payakumbuh, sisas-sias bangunannya masih ada sedikit, dan baru setelah PRRI  Fakultas kedokteran Universitas Andalas di Pindahkan ke Padang di Air Tawar, dan sekarang sudah dipindahkan Ke jalan Jati Kota Padang/Salam buat mereka Uda Baidar, Cheir, dan Anja NazarAnja pernah bertugas di sulit air, dan pasien saya saat bertugas di solok tahun 1974 sampai 1979  banyak dari Saninbakar yang lokasinya diseberang danau singkarak.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Situasi di kampung yang semula terasa meriah dan menggembirakan setelah terbentuknya PRRI tidak berlangsung lama.Tak lama kemudian terjadi penyerbuan oleh tentara pusat, dan ada pula kabar bahwa dua batalyon tentara menyambut kedatangan tentara pusat.Perasaan optimis kemudian terganggu, situasi semakin tidak jelas, penuh kekuatiran dan kecurigaan.Orang-orang sudah merasa tidak aman lagi jalan sendirian, bisa saja ditangkap karena dicurigai.Kita tidak tahu lagi siapa lawan dan siapa kawan ketika itu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Suatu hari ibu dan kakak saya mencari pedati dan mengumpulkan barang-barang yang penting-penting saja untuk dibawa.Agar tidak ketahuan oleh orang orang lainnya, kami diam-diam perginya.Kalau masyarakat tahu, pastilah semua pada ikut mengungsi.Ibu saya berpendapat kampung jangan ditinggal.Pagi-pagi sekali, sekitar pukul tiga pagi, pedati yang membawa barang barang bawaan kami berangkat duluan.Kami buat tiga rombongan, seolah-olah ada urusan ke sawah, ke ladang, ke pasar atau ke mana saja.Memang setiap ada yang melihat kami, orang orang selalu bertanya, mau kemana kalian?

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Malam hari, bila telah terdengar suara rentetan tembakan senjata api, atau dentuman granat. Kami segera berkumpul dan bersembunyi didalam lubang di kolong rumah dapur tersebut. Dengan hati berdebar dan rasa takut kalau-kalau ada peluru yang nyasar kearah kami. Aku selalu dalam pelukan umi , aku dengar dia selalu berdo’a, untuk keselamatan kami semua. Juga kakak-kakakku yang sudah bisa mengaji, mereka juga berdo’a sambil berbisik, kadang sambil me-lantunkan ayat Al-Qur’an yang mereka hafal dengan lirih. Suasana hening mencekam, matapun tidak dapat dipejamkan untuk tidur, karena semua tegang, dalam suasana perang yang kami tidak tahu kapan akan berakhirnya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Satu persatu mulai bangun dan keluar dari lubang perlindungan, udara subuh diluar lubang perlindungan begitu dingin, embun turun menyelimuti tanah, kelihatan seperti kapas beterbangan ketika ditimpa cahaya lampu tempel yang disangkutkan di paku dekat pintu rumah dapur, semua mendekapkan tangan kedada melawan dinginnya udara subuh, ada yang menggigil kedinginan hingga giginya gemertakan, yang pakai sarung menutupi seluruh tubuhnya hingga yang kelihatan hanya muka, atau yang memakai kain panjang menyelimuti badannya. Belum semuanya tenang, suasana masih mencekam, tapi tidak seperti beberapa jam sebelumnya, disaat suara tembakan dan dentuman senjata api saling bersahutan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bersama ini surat ananda khabarkan  pada Ibunda . amada telah selamat sampai di Padang Panjang jam 11.45 dan tidak kurang suatu apapun  berkat doa ibu  dan ayah  sekeluarga. Tentang kepindahan ananda telah bicarakan  sama bapak  Saleh ,dia tidak menyetujuinya hanya  maklumlah  kantor baru dibuka  oleh sebab itu  tentu segala nya tentu memakan  waktu agak  sebulan ,persenang saja lah hati Ibunda  jangan suka mendengar  kata-kata orang diluar , selain dari itu  ananda adalah sehat  saja dan  begitu pula  hendaknya  ibu dan ayah  sekeluarga

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pekanbaru dan Padang berjarak kurang lebih 300 km, dengan waktu tempuh sekitar 7 jam perjalan darat. Kendaraan umum yang biasa di gunakan adalah Bis, seperi Yanti Group, Sinar Riau, ANS, dll. Atau bisa juga menggunakan travel seperti Bumi Minang Wisata. Kalau mau cepat anda bisa menggunakan travel “gelap” yang banyak berkeliaran di simpang Panam, Pekanbaru. Tarif angkutan umum ini berkisar antara 70- 90 ribu. Yang penting pintar menawar saja hehe.. Kalau anda ingin lebih leluasa, efisien waktu dan nyaman, sewa mobil saja dengan tarif sekitar 250 ribu perhari. Yang disayangkan adalah tidak adanya penerbangan komersial dari Pekanbaru ke Padang, kabarnya dulu pernah ada namun tidak bertahan lama karena pihak travel merasa di rugikan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Tidak begitu jauh dari bangkinang, terdapat sebuah desa wisata yang bernama pulau Belimbing (Bukan pulau beneran, tapi cuma nama aja ). Dari ruas jalan utama, pintu masuk desa pulau belimbing hanya berjarak  2 kilometer saja. Yang unik didesa ini adalah rumah Lontiok yang berumur ratusan tahun. Rumah Lontiok adalah rumah tradisional di Kabupaten Kampar, khususnya di pulau Belimbing ini. Lontiok artinya lentik, alias melengkung ke atas. Atap rumah Lontiok ini melengkung ke atas, namun tidak selentik rumah adat di Sumbar.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah menempuh perjalanan 3,5 jam , kami sampai di kelok 9 yang tersohor itu. Disebut kelok 9 karena memang jalan disini terdapat kelokan tajam yang menanjak dan menurun sebanyak 9 kali belokan. Sangat diharamkan buat anda yang baru belajar menyetir untuk mencoba melalui kelokan maut ini Karena sulitnya medan kelokan ini, tidak heran kalau disini sering terjadi macet panjang. . Untuk mengatasi itu, maka dibuatlah jembatan layang yang sangat tinggi serta memutar dan menanjak/menurun dengan landai.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Menurut keterangan 1300 orang sisa Pemberontak PRRI dipusatkan didaerah ini ,terdiri dari 500 orang apa yang mereka namakan “KKO PRRI” dibawah pimpinan Kapten pemberontak Ali Sjahruddin yang terdiri dari Pemuda-Pemuda Pasar dan Preman Pakanbaru dan sekitarnya. 500 orang lagi dari Pasukan  yang mereka namakan SKDR(Staf Komando Dearah riau) dibawah pimpinan  Mayor pemberontak Sjamsi nurdin,yang sebagian besar  terdiri dari Pelajar dan 5000 orang lainya lagi  dari pasukan yang mereka namakan “ Baringin Sati” dan kemudian ditukarnya dengan nama “Harimau Minang” dibawah pimpinan malin Maradjo.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kesemuanya harus dikoordinir sebaik-baiknya oleh kemampuan komunikasi PHB. Betapa pentingnya peran PHB, selama pasukan infantry bergerak mngulung pemberontak PRRI,tidaklah perlu diapnjang lebarkan ceritanya.Akan tetapi, satu hal penting dikethui dan dicatat oleh para tokoh PHB , bahwa akibat dipelajarkan nya vak PHB di SSKAD,PPPL dan lain sebagainya, kami sekarang benar-benar melihat,setiap Komandanpasukan (didaerah bekas PRRRI) tidak pernah pisah dengan Komanda PHBnya,kemanapun beliau pergi atau membuat siasat pertempurannya. Ini adalah suatu kemajuan yang snagat mengembirkan ,yang berrati pula timbulnya suatu kenyataan bahw aPHB, tahu 1958 itu benar-benar lin dengan PHB tahanu 1945 sampai dengan tahun 1957.Keuntungan lain ialah apabila Negara kita cq APRI akan merencanakan dan melaksanakan operasi militer bersama diantara Angkatan Darat.Laut dan udara,para Prajurit PHB tidak pelu kuatir lagi,karena segala sesuatunya tentu sudah dipikirkan oleh atasan,tidak seperti pada tahun-tahun yang lalu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Memang benar, arti BR itu hanya Banteng Raiders saja, tetapi ada sementara anngota yang mengartikan dengan “Bojok remuk”,kecuali  kita harus menarik pelatuk senjata kalau bertempur dengan musuh gaya berat dari P 22 Scr 694 G.N. dan segala perlatanya harus dipikul dengan tenaga yang ada pada kami . bantua rakyat tidak mungkin diharapkan karea lecuali mereka sudah terlalu mendarah daging diracuni propaganda PRRRI denga anati Pusatnya, juga rakyat tidak baik dibawa dalam pertempuran yang tarsus menerus itu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dalam resepsi penutupan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional di Malang hari Juma’at siang ini Prsediden sukarno mengajak para sarjana yang berkumpul dikota ini untuk berani mengadakan revolusi pula dalam ilmu pengetahuan.Dikatakannya bahwa kita sampai sekarang masih saja memakai system falsafah teori politk dan outlook yang using,yang dilahirkan dalam abad yang lalu,abad lahirnya industrial revolution, sedasng kita kini hidup dalam abad nuclear revolution.Presiden  menyatakan,bahwa kaum sarjana harus berani think and rethink ,terus berusaha mencari kebenaran dan mengabadikan Ilmu Pengetahuan pada masyarakat yang bercita-citkan Keadilan dan kemakmuran.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sekali lagi Presiden menrangkan tentang pentingnya modal(modal nasional dan kalau perlu pinjaman, tetapi jangan investasi modal  asing) Mangerial Knew how (dimana science penting sekali)  dan suasana (terutama  suasana politik)  yang baik bagi pembangunan.Berkali-kali Presiden  mengemukankan perlunya  kaum sarjana melakukan her-orientasi ,karena  tanpa ini Ilmu Pengetahuan  akan beku, mati, menjadi bangkai,.Terutama  dikemukakannya  pentingnya kaum sarjana  untuk menyelenggarakan  blue-print Pembangunan sesudash  ini disetujui oleh DPR kelak.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

MASUK PARTAI ATAU TIDAK? SEMUA PEGAWAI NEGERI GOLONGAN F  HARUS MEMBERI KETERANGAN                                                                                                                        KSAD Letnan Jendral A.H.Nasution  selaku Pneguasa Perang Pusat telah mengeluarkan surat perintah kepada semua kepala Urusan pegawai dari semua Kementerian dan Instasi Pemerintah Pusat, yang mewajibkan mereka untuk menyampaikan Laporan mengenai Keanggotaan Partai Politik daripada semua Pegawai negeri Golongan “F” yang administratip berdada dalam pengurusannya., harus disampaikan  kepad penuasa Perang Pusat KSAD,dalam hal ini pejabat yang ditunjuk ialah Assisten I KSAD paling lambat tgl 30 Nopember 1958.                                   Surat Perintah ini dikeluarkan atas dasar pertimbangan dalam hubungan dengan penyelenggaraan ketertiban dan keamanan umum dalam intasi pemerintah.Jurubicara KSAD menegaskan  bahwa hal itu adalah salah satu pasal menyatakanSetiap Pegawai negeri  wajib memberikan segala keteranagn yang diperlukan oleh Pemerintah  Perang bila keterangan tsb sangat diperlukan untuk kepentingan ketertiban Umum maupun bila dperlukan untuk menegakkan kelancaran roda pemrintahan,demikian letnan colonel Pirgandie.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Rencana Normalisasi Keadaan yang dibicarakan Kabinet merupakan langkah normalisasi  yang menjadi follow up  atau kelanjutan sesudah berhasilnya tindakan tegas dan Operasional mematahkan potensi pemberontakan di sumatera barat  dan Sulawesi utara. Terutama rakyat didaerah-daerah  tersebut sedang mdnantikan kelanjutan  langkah-langkah  untuk menormalisasikan  daerahnya sesudah  beberapawaktu  lamanya daerah tersebut  dikocar-kacirkan  para pemberontak  dan dirugikan  kerkayaan dan harta –Benda daerah  dan rakyat olh  Petualang-petualang itu dan  mengalami  kerusakan tidak sedikit.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Betapa hebatnya penderitaan rakyat daerah selama pemberontakan itu, krugian yang dialami rakyat berupa harta milik dan korban jiwa serta perlakuan lainnya yang tidak kenal perikemanusiaan ,dapatlah kita ketahui jelas baik dari keterangan umum dan bekas Komandan “operasi 17 agustus” di sumatera barat  Kolonel Ahmad yani .Selain korban manusia yang diderita Rakyat ,pun kesukaran yang dialami sebagai akibat pemberontakan  seperti kekuranagn beras,obat-obatan, sekolah bagi pemuda pelajar dan mahasiswa ,kerugian materiiil seperti alat-alat kantor dlll yang dilarikan pemberontakan,Semuanya itu tentunya menjadi efek dari rencana Pemerintah kearah normalisasi keadaan daerah sesudah pemberontakan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada saat sesudah Kota Padang dibebaskan ARI, sekolah tetap berjalan dengan lancer hanya keuliatn guru, guru-guru dimana saya sekolah SMP FRater,kecuali frater masih ada beberapa orang,ada pelajaran yang gurunya masih baru dan belum begitu pengalaman sehingga sebagai murid kita harus aktif belajar mandiri,saya banyak belajar dari buku-buku yang saya peroleh saat mengikuti pertandinagn tennis meja di Surabaya tahun 199,dan tennis di semarang tahun berikutnya sehingga berhasil lusu ujian Negara sMP dengan nilai yang lumaya, kami hanya lulsu 8 orang dari 32 murid kelas III jurusan B,inilah hasil SMP Frater yang paling jelek dalam sehjarah sejak berdiri, dan hanya 5 orang yang diterima di SMA Don Bosco jurusan B,kami seluruhnya yang lim aorang tiga orang jadi dokter,2 orang lulus fakultas tehnik,sedang yang tidak diterima terpaksa sekolah di SMA Adabiah,dan yang tidak lulsu terpaksa mengulang tahun berikutnya,

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Guru say Ahli Paru Prof Ilyah dt batuah mengayakan kepada saya bahwa akibat penderitaan rakyat baik fisik maupu mental,sejak setelah PRRI penderita penyakit TBC Paru sangat meningkat,dengan sangat gigih kami yang bertugas di suamtera barat sebagai doker telah berusah dan berhasil mengobati dan mencegah berkembangnay penyakit TBC paru tersebut,saat saya bertugas di solok tahun 1974-1979,saya menemui sangat banyak rakyat Minang asal solok yang menderita TBC=paru dan saya telah membantu mereka dengan program terapi murthakhir dengan biaya sangat ekonomis untuk membuat penyakit jadi inaktif dan mencegah penularannya lebih lanjut,saya harap saat ini permaslahan TBC paru tersebut dapat teratasi.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Berhubung dengan itu maka Manai Sophiaan berpendapat bahwa kewajiban Pemerintah sekarang ialah menyelidiki Pngkalan terbang Asing  manakah yang dipakai untuk memberangkatkan  Peasawt terbang Asing yang disewa oleh kaum Pemberontak.Dalam hubungan ini ,Manai Sphiaan memperingatkan bahwa PM Djuanda dalam keterangannya kepada Parlemen pernah menyatakan  bahwa apabila Pemrintah Indonesia dihadapkan terus-menerus  pada kenyataan tentang  dipakainya Lapangan terbang  oleh Kaum Pemberontak PRRI/Permesta ,maka

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Patut ditambahkan bahwa seperti diberitakan  Kantor berita Antara, menjelang perayaan ulang tahun ke-13 RI baru-baru ini di Menado masih terjadi serangan oleh pesawat terbang asing guna mengacaukan perayaan itu.Manai membernarkan ketika salah seorang wartawan mengatakan bahwa  seklaipun berita tentang Pengacauan Pemberontak dengan peswat asing itu sudah  agak terlambat ,tapi soalnya kalau bisa menjelang hari Preoklamasi tempo hari,maka unya juga bisa diulangi lagi dihari-hari yang akan datang, lebih-lebih jika kitta kurang waspada.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Penguasa Perang Daerah Swatantara I Jakrta Raya Letkol E.Dachjar mulai tanggal 20 Agustus 1958 melarang semua kegiatan dan berdirnya partai,Badan dan Yaysan dri golongan Kuomintang dalam daerah hokum Jakarta. Dalam larangan itu dimaksud juga badan yang menjadi bagian atau sehaluan dengan Kuomintang termasuk cabang-cabang dan ranting-rantingnya.Yang dimaksud dengan partai Kuomintang ialah A.Tjanang,Bagian,Ranting dari partai tersebut.B.Organisasi ,Badan,Yayasan yang sehaluan dengan partaitersebut.C.Badan Hukum dimana terdapat diantara Pengurus,Direksi,Komisaris,Pemegang Saham atau Pegawainya terdapat orang jadi atau pernah jadi anggota partai Kuomintang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Amerika Serikat Sabtu 23-8 secara tidak langsung memperingatkan RRC supaya jangan sampai berusaha merebut Quemoy atau Matsu karena langkah itu bisa membahayakan Perdamaian didaerah sekitarnya.Peringatan ini tercantum didalam surat dari Mentyeri Luar negeri AS Dulles kepada Ketua seksi Luar negeri Majeleis Rendah  AS Thomas Morgan dan morgan dengan segera mengumumkannya.Dalam surat tadi Dulles mengatakan bahwa merasa “gelisah”bahwa Angkatan Perang RRC dipesisir Tiongkok  Drat yang letaknya seberang Menyeberang dengan Pulau Quemoy,Matsu dlll yang didduki pasukan Kuomintang diperkuat. Surat dulles tadi adalah Jawaban terhadap surat Morgan Juma’at ini  dalam mana Morgan mengatakan bahw aia “merasa kuatir” memperhatikan Laporan bahwa Angkatan Udara RRC disebrang Pulau Quemoy dan Matsu sedang diperkuat.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kata dulles dalam suratnya AS sungguh merasa gelisah dengan adanya bukti tentang Pemusatan Kekuaatan Komunis tiongkok.Hal ini menimbulkan dugaan bahwa mereka(RRC) mungkin akan ken goda untuk mencoba merebut dengan kekerasan Pulau Quemoy atau matsu.Saya kira akan sangat besarlah resikonya bagi setiap orang yang berkata bahwa seandainay Komunis Tiongkok mencoba mengubah keadaan ini dnegan kekerasan dan mencoba menyerang dan menaklukan Pulau-pulau itu,maka hal itu dapat mwrupakan operasi yang terbatas sja, saya kuatir bahwa perbuatan semacam itu akan berarti ancaman terhadap Perdamaian daerah itu,.Oleh sebab itu saya mengharapkan dan saya percaya bahwa itu tidka akan terjadi kata dulles.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pres. Eisenhower: “Congress has made clear its recognition that the security of the Western Pacific is vital to the security of the United States, and that we should be firm. The Senate has ratified by overwhelming vote, security treaties with The Republic of China, covering Formosa and The Pescadores, and also the Republic of Korea. We have a mutual security treaty with the Republic of The Philippines which, situated so close as it is to Formosa, could be next in line for conquest if Formosa into hostile hands.”

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saya jadi ingat saat bertugas di Solok tahun 1974, ketika bersama orang tua naik mobil pribadi toyota Corolla 1000 cc, hamper saja menabrak seorang anak kecil umur 4 tahun yang tiba-tiaba lari  menyebrang dari rumahnya, untung saya dapat mengrem karena jalan mobil cukup pelan saat itu lagi ramai hari pasar, tiba-tiba orang—orang drai pasar lari menyerbu hendak merusak mocbil, saya saat itu berpakaian preman, keluar mencabut revolver dan siap untuk menembak perinagtan keatas , dan melihat anak tersebut diatas kap mobil dan ternyata masih hidup dan sehat, dan beberapa polisis lalulintas  dari polres Solok berteriak itu dokter polisi dan saya selamat dari serbuan rakyat.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bertempat di Gedung fakultas Muhamadijah Guguk Malintang Padang Pandjang                                                                                                                                  mulai Djam 10 pagi                                                                                                                  ATJARA                                                                                                                                             1.Uraian dri walikota Kepala daerah Kotapradja P.P

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Allan Pope was brought to trial before a military court on December 28, 1959. He was accused of flying six bombing raids for the rebels and killing twenty-three Indonesians, seventeen of them members of the armed forces. The maximum penalty was death. During the trial, which dragged on for four months, Pope pleaded not guilty. He admitted to flying only one combat mission, that of May 18, 1958. The other flights, he testified, were of a reconnaissance or non-combat nature. Contrary to the assertion that he had signed a $10,000 contract, Pope insisted he got only $200 a flight.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Keadaan dikota Padang sudah aman,saya sekolah dengan lancar, dan saya diutus oleh Perkumpulan Tennis Meja Seluruh Indonesia cabang Padang selaku juara Tennis meja SUMBAR mengikuti Kejuaraan tennis meja se Indonesia di Surabaya dikawal oleh Mayor Sutrisno, orang tua mengajak famili saya yang lagi sekolah sekolah menengah Farmasi di jakarta Nyo Oen Sam (Iparnya Dr Ronny Handoko spesialis Kukit  Jakarta), inilah perjalan saya pertama ke Jawa naik pesawat terbang ke Jakarta dan dari Jakarta naik Kerata Api ke Surabaya,nginap di Hotel Brantas, sayang saya gagal di babak kedua karena bertemu dengan juara Indonesia,

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saat menemukan sungai kecil dan jernih yang pantas untuk bertahan hidup, maka barulah diputuskan untuk beristirahat dan membuat tempat berteduh dari kain terpal dan plastik atau kalau sekiranya akan lama berada di tempat itu, membuat dangau apa adanya.Kadang-kadang, dalam perjalanan yang bagi sebagian besar anggota rombongan ini tidak mengetahui arahnya, juga terdapat tempat-tempat yang sangat sulit mendapatkan air, walau seteguk.Ada jenis pohon-pohon tertentu yang meneteskan air di pagi hari, dan air ini dapat langsung diminum, sehingga merupakan kesempatan mendapat pelepas dahaga.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

It is does not change  very soon  its present attitudetoward  the population  at  the outer region which  it does not consider  as free  Citizen  fighting  to their  fundamental rights and Liberties , but  as common  Rebels who dare to protest against  appression ,we shall be compelled to react , not of course  in the same manner , for we  are not terrorist , but  with all  our strength which as  the World  will see the is greater  than most  people think. It is because  that we  are source of our strength  that we can proclaim  openly,  even at the present moment ,the possibility of a peaceful Settlement  on the  reasobable condition  which have been brought to the cognizance of the Djkarta Gouvernment, but this is the last Opportunistis.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Hal ini tidak berubah segera sikap terhadap  yang sekarang , penduduk di luar daerah yang tidak dianggap sebagai pemduduk  bebas berjuang untuk hak-hak dan Kebebasan dasar mereka, tetapi sebagai Pemberontak umum yang berani memprotes appression, kita akan dipaksa untuk bereaksi, tentu saja tidak dengan cara yang sama, karena kita tidak teroris, tapi dengan semua kekuatan kami yang saat Dunia akan melihat lebih besar dari kebanyakan orang berpikir. Hal ini karena bahwa kita adalah sumber kekuatan kita bahwa kita dapat menyatakan secara terbuka, bahkan pada saat ini, kemungkinan Penyelesaian damai pada kondisi reasobable yang telah dibawa ke kesadaran dari Gouvernment Djkarta, tapi ini adalah Opportunistis terakhir .

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Why the people in some saction of Java , are literally starving and now have to look the leaves of the trees in order in order the get some clothing like they used to the times the Javanese occupation, when Indonesia was reduced to a state or servitude  and completely cut out of the oustside world ? Can we get accept to get back to the same condition now, when according to the speeches of Sukarno, our nation enter an era of Glory, and we are supposed to enjoy the utmost posperity  in the potential richest country of the world ?

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Mengapa orang-orang di beberapa bagian Jawa , secara harfiah kelaparan dan sekarang harus melihat daun dari pohon-pohon dalam rangka untuk mendapatkan beberapa pakaian seperti dulu waktu pendudukan Jawa , ketika Indonesia berkurang menjadi negara atau penghambaan dan benar-benar dipotong dari dunia luar ? Bisakah kita menerima untuk kembali ke kondisi yang sama sekarang , ketika menurut pidato-pidato Soekarno , bangsa kita memasuki era Kemenangan Glory , dan kita seharusnya menikmati kesejahteraan  hati dalam potensi negara terkaya  di dunia ?

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

4.Pernyataan bahwa suatu daerah tidak aman dilakukan dengan surat ketetapan  dari Gubernur Jbs yuntuk tiap-tiap kecamatan dan Kewedanaan .Surat ketetapan ini berlaku paling lama 6 bulan,jangka  waktu mana  dengan surat Ketetapan baru dapat diperpanjang untuk tiap kali tidak lebih dari 6 bulan .Tentang ada atau tidaknya surat Ketetapan  ini, yang dibuat  oleh Gubernur berdasarkan  surat keputusan menteri  Dalam negeri no/19 tahun 1956(tanggal 8 Oktober 1956) ,para kepala  Daerah Pos/Telekomunikasi hendaknya berhubungan dengan gubernur itu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah keamanan dapat dipulihkan seluruhnya di daerah Riau Daratan maka berdasarkan Surat Keputusan KASAD Nomor KPTS-265/4/1959 tanggal 15-4-1959, Surat Keputusan DAN KOOPAG Nomor KPTS-037/4/1959 tanggal 28-4-1959  Surat Keputusan DAN RTP-I “TEGAS” Nomor KPTS-614/6/1959 tanggal 6-6-1959 terhitung mulai tanggal 12-6-1959 RTP-I “TEGAS” diganti namanya menjadi Komando Resor Militer Riau Daratan (KOREM RIDAR), yang daerah kekuasan dan tanggung jawabnya sama dengan daerah kekuasaan dan tanggung jawab RTP-I “TEGAS”

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Personel KOREM RIDAR sebagian diambil dari anggota-anggota yang tadinya bersifat penugasan dalam susunan Komando Operasi Gabungan “TEGAS” kecuali satuan-satuan tempur, yang secara berangsur-angsur diorganikkan pada KOREM RIDAR ditambah dengan anggota-anggota bekas PRRI yang menyerah dan bergabung serta telah selesai di-screening. Dalam pembentukan KOREM RIDAR ini tidak diadakan formatur atau panitia mengingat tenaga sangat kurang dan pembentukkannya bersamaan waktunya dengan pembentukan KOMANDO DAERAH MILITER 17 AGUSTUS.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sejalan dengan pemberian nomor Kodam 17 Agustus menjadi KODAM III/17 AGUSTUS, maka kepada KOREM RIDAR diberikan nomor kodenya menjadi KOREM 31/RIDAR, yang kemudian berdasarkan Surat Keputusan Panglima Daerah Militer III/17 Agustus Nomor Kep-95/10/1963 tanggal 5 Oktober 1963 dan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat Nomor Kep-233/3/1964 tanggal 11-3-1964 tentang pengesahan DUADJA dan TUNGGUL untuk Rindam, Korem dan Yonif-Yonif, KOREM 31/RIDAR diberi Lambang kesatuannya dengan sebutan “DHUAJA WIRABIMA”, dan dari saat inilah KOREM 31/RIDAR menjelma menjadi KOREM 031/WIRABIMA

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Perdana Menteri Djuanda menilai tawaran itu sebagi blackmail politik yang amat kasar dan dengan tegas menolak keras kebijakan “Two-Indonesia Policy” serta meminta agar pemerintah Amerika Serikat menghentikan keinginan untuk memecah negara Republik Indonesia menjadi dua bagian yang masing-masing akan mendapat perlakuan yang sama, setingkat dan sederajat, dari pemerintah Amerika Serikat.      Keesokan harinya tanggal 16 Mei 1958 presiden Sukarno dalam suatu kesempatan di Jawa Timur menekankan bahwa rakyat Indonesia tidak saja dirongrong oleh intervensi negara asing tertentu bahkan sudah menjurus ke arah agresi secara terang-terangan.         Kemudian Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio pada tanggal 17 Mei 1958 memanggil Duta Besar Howard Jones dan disampaikan permintaan agar pemerintah Amerika Serikat membuat pernyataan secara terbuka menghentikan campur tangan dalam soal intern Indonesia.    Kalau dalam waktu empat hari penyataan dimaksud tidak dilakukan, maka pemerintah Indonesia tidak akan ragu untuk mengundang kehadiran kekuatan asing lainnya guna menghadapi agresi Amerika Serikat itu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dunia terkejut mendengar reaksi keras dan berani yang mengandung ultimatum dari pemerintah Indonesia apalagi ditujukan kepada sebuah negara adi kuasa seperti Amerika Serikat.   Dengan harap-harap cemas dunia menunggu apa yang bakal terjadi empat hari kemudian.     Apakah Perang Dunia ke III akan dimulai dari Asia tepatnya Indonesia?. Pada tanggal 20 Mei 1958, tiga hari setelah ultimatum Jakarta, John Foster Dulles mengeluarkan sebuah pernyataan pers: “ Pemerintah Amerika Serikat percaya bahwa keadaan yang terdapat di Indonesia sekarang dapat dan harus dianggap sebagai persoalan intern Indonesia tanpa ikut sertanya kekuatan asing dalam penyelesaiannya.   Kami harap perdamaian dan kestabilan dapat cepat dipulihkan kembali dalam Republik Indonesia ”.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Mereka berdua adalah tokoh pemuda yang pada awal Agustus 1945 mendesak Sukarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di luar BPUPKI dan PPKI yang dianggap bentukan dan di bawah pengaruh Jepang, yang merencanakan dan mempersiapkan sebuah “revolusi di Jakarta” untuk merebut alat-alat kekuasaan dari tangan Jepang segera setelah Sukarno/Hatta memproklamasikan kemerdekaan di Rengasdengklok, yang dengan setengah memaksa membawa Sukarno /Hatta ke Rengasdengklok lalu  mendesak agar  Sukarno/Hatta

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Rengasdengklok namun gagal karena ditolak, yang mengikuti sidang di rumah Admiral Maeda untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia, yang tidak bersedia menghadiri saat-saat proklamasi dibacakan oleh Sukarno keesokan harinya di Pegangsaan Timur-Jakarta,   yang menggerakkan pemuda untuk melakukan aksi perebutan kantor-kantor pemerintah dan juga senjata dari tangan Jepang setelah proklamasi kemerdekaan diumumkan, yang menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di awal terbentuknya dan melakukan gerakan menarik Sutan Syahrir ke dalam KNIP, yang mendukung Sutan Syahrir merubah fungsi KNIP dari bagian eksekutif menjadi legislatif, pembukaan kesempatan pendirian partai-partai politik, merubah bentuk pemerintahan presidensial menjadi parlementer dan tampilnya Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri kepala pemerintahan sekaligus menempatkan Sukarno/Hatta hanya sebagai Kepala Negara saja.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Mereka berdua pulalah yang kemudian menentang pemerintahan Sutan Syahrir karena melakukan perundingan dengan Belanda, yang menjalin kerjasama erat dengan Tan Malaka seorang tokoh revolusioner kiri,  yang ikut mendirikan Persatuan Perjuangan di bawah pimpinan Tan Malaka untuk melakukan gerakan oposisi terhadap pemerintahan Sutan Syahrir, yang ditangkap lalu dipenjarakan oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir namun kemudian dibebaskan oleh presiden Sukarno melalui grasi, yang dipenjarakan lagi oleh pemerintah karena dituduh terlibat dalam aksi penculikan terhadap Perdana Menteri Sutan Syahrir di Yogyakarta padahal sebenarnya dilakukan oleh salah satu faksi Persatuan Perjuangan di bawah Mohammad Yamin dan kemudian dibebaskan kembali oleh presiden Sukarno melalui grasi,  yang tetap melakukan oposisi terhadap garis politik perundingan dari pemerintahan Perdana Menteri Amir Syarifuddin,  yang bersama Tan Malaka ikut melakukan gerakan perlawanan dalam bentuk lasykar rakyat terhadap Aksi Militer Belanda kedua,  yang pada tahun 1948 mendirikan Partai Murba di dalam kancah revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia,  yang tetap meneruskan fungsi korektif terhadap pemerintah baik sebagai anggota Konstituante (Sukarni) maupun sebagai wartawan (Adam Malik).      Posisi mereka berdua di luar pemerintahan membuat mereka lebih mantap dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap kinerja pemerintah yang dipegang oleh siapapun.    Tatkala keduanya ditunjuk sebagai Duta Besar di negara lain, mereka sempat menaruh kecurigaan tehadap presiden Sukarno dengan persangkaan mengucilkan agar tidak bersikap kritis terus.    Di dalam politik, penunjukan sebagai Duta Besar di negara lain acapkali dimaknakan sebagai “pembuangan” sehingga kecurigaan Adam Malik maupun Sukarni cukup beralasan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Adam Malik menjadi Duta Besar RI untuk USSR dan berkedudukan di Moskow pada 28 November 1959.     Dia mulai melakukan pendekatan dan perintisan untuk melaksanakan secret mission (oleh Maruto Nitimihaardjo disebut: mission impossible ) dari presiden Sukarno.    Setelah semua akses terbuka, Adam Malik memberitahu si Bung di Jakarta, yang segera mengirim Menkohankam Letnan Jendral Abdul Haris Nasution ke Uni Soviet guna melakukan pembelian persenjataan untuk memberdayakan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.     Proses penguatan ABRI ini berlangsung hingga bulan Juni tahun 1962, di saat mana ABRI sudah sampai pada taraf mampu melancarkan penyerbuan total untuk menduduki Irian Barat.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Panglima Komando Mandala, Jendral Mayor Soeharto, yang diberi tugas untuk melaksanakan rencana operasi yang diberi nama “Rencana Operasi Jaya Wijaya” tersebut.   Perintah pelaksanaan akan dikomandokan langsung oleh presiden Sukarno.     CIB-PTT hanyalah bagian kecil saja dari alat perjuangan nasional pembebasan Irian Barat.   Sejumlah anggota CIB-PTT Komponen Khusus telah berangkat lebih maju ke garis depan dan menyatu dalam operasi militer.   Yang lain masih menunggu giliran untuk dikirimkan juga ke garis depan.     Makasar tidak termasuk katagori garis depan, namun semua kebijakan dan komando diolah dan diperintahkan dari Makasar.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kota ini tercatat sebagai salah satu dari tempat terjadinya percobaan pembunuhan terhadap presiden Sukarno, selain juga pemberontakan-pemberontakan terhadap Pemerintah Pusat di Jakarta.      Dalam suatu kunjungannya ke Makasar,  iring-iringan kendaraan rombongan presiden Sukarno yang mengikut-sertakan sejumlah Duta Besar negara-negara sahabat,  beberapa saat setelah meninggalkan pelabuhan udara Mandai, tiba-tiba ditembaki oleh gerombolan bersenjata dengan granat dan mortir tetapi tidak mengenai sasaran.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

telah disiapkan.    Di dalam kota, rakyat menyambut kedatangan presiden mereka dengan gegap gempita, baik di sepanjang jalan yang dilalui rombongan presiden, maupun di tempat rapat raksasa akan diselenggarakan.    Presiden Sukarno membalas sambutan rakyat sambil berdiri di atas Jeep terbuka dan melambai-lambaikan tangannya.   Peristiwa penembakan terhadap presiden Sukarno di dekat lapangan terbang Mandai yang kemudian dikenal dengan sebutan “Peristiwa Mandai”, tidak diketahui oleh masyarakat kota Makasar yang menyambut kedatangan presidennya waktu itu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Percobaan pembunuhan yang kedua terhadap presiden Sukarno di Makasar terjadi pada tanggal 7 Januari 1962, pukul 20.00 waktu setempat.   Rombongan presiden Sukarno dari Gubernuran Sulawesi Selatan menuju ke Gedung Olahraga Matoangin untuk memberikan amanat kepada para mahasiswa dan pelajar kota Makasar.    Ketika berada di jalan Cenderawasih beberapa orang melemparkan granat ke arah mobil yang membawa presiden dan Kolonel Mohamad Yusuf, Panglima TNI-AD di Sulawesi Selatan.    Granat meledak di sekitar mobil yang disasar.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sebuah granat meledak di belakang mobil presiden dan mengakibatkan ban depan mobil yang membawa Perdana Menteri Djuanda pecah.    Meskipun demikian sopir tidak menghentikan mobil melainkan terus melaju dengan ban depan yang kempes untuk menghindari granat lainnya.   Beberapa mobil yang ditumpangi pengawal presiden mengalami kaca pecah atau pintu terkoyak.    Korban juga jatuh di kalangan rakyat yang berada di tempat kejadian terkena pecahan granat.     Peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan “Peristiwa Cenderawasih”.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Di daratan Irian Barat sendiri, pasukan penyusup Indonesia telah berhasil masuk dan melakukan penyerangan-penyerangan sporadis ke kota di mana terdapat markas tentara Belanda.    Tiba-tiba keadaan menjadi berubah.    Belanda mulai mengalah.    Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Elsworth Bunker, bertindak sebagai perantara yang menjembatani dialog antara Indonesia dengan Belanda.     Di saat itulah Duta Besar Adam Malik menerima perintah dari presiden Sukarno untuk memimpin delegasi Indonesia pada perundingan rahasia dengan pemerintah Belanda di Middleburg, dekat Washington DC.    Perintah presiden tersebut berbunyi: “ Dalam pembicaraan saya dengan Presiden Kennedy tempo hari (tahun 1961) saya memberi ancar-ancar waktu dua tahun untuk menyerahkan administrasi pemerintahan Irian Barat kepada Indonesia.   Kalau Belanda menolak usul ini kita terpaksa mengambil jalan lain, jalan kekerasan.   Aturlah perundingan sesuai dengan ancar-ancar itu ”.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Adam Malik dibantu oleh sejumlah diplomat karir ternama seperti Sudjarwo Tjondronegoro SH,  Suryono Suryotjondro SH dan Nugroho, SH.    Perundingan berjalan seret karena Belanda terlalu memikirkan efek kerugian bagi mereka, sehingga melakukan taktik memperpanjang waktu, diulur-ulur tanpa memberikan hasil.    Merasa kesal dengan sikap delegasi Belanda itu,  Adam Malik melaporkan hal tersebut kepada presiden.        Pemerintah Indonesia di Jakarta memberitahu agar ditempuh siasat untuk memacetkan perundingan dengan mengajukan tuntutan supaya penyerahan Irian Barat harus sudah dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 1963.   Kalau tuntutan tidak diterima oleh Belanda maka perundingan akan diputuskan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Keputusan itu diamanatkan kepada wakilnya dalam perundingan antara Indonesia dan Belanda, Duta Besar Elsworth Bunker.  Persetujuan Middleburg-pun tercapai pada tanggal 14 Agustus 1962 yang ditandatangani seharusnya oleh Menteri Luar Negeri Belanda dan Indonesia di Markas Besar PBB.     Dalam kenyataannya Menteri Luar Negeri Luns tidak hadir sebagai protes terhadap tekanan oleh Amerika Serikat dan menguasakan kepada Duta Besar Van Royen.  Dengan tercapainya persetujuan Middleburg itu, maka ketiga kekeliruan hasil Konperensi Meja Bundar di Den Haag semuanya telah diperbaiki.   Wilayah Republik Indonesia kini telah utuh kembali, melengkapi kedaulatan politik dan ekonomi lainnya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Berita tercapainya Persetujuan Middleburg disambut dengan penuh suka-cita oleh bangsa Indonesia.  Semua kekhawatiran terjadinya peperangan untuk merebut Irian Barat meskipun telah menjadi tekad dari pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia, sirna dengan sendirinya.    Suasana sedemikian pulalah yang terjadi di Markas CIB-PTT Makasar.    Kami semua saling berjabatan tangan dengan senyuman yang lebar.   Mereka yang sudah berkeluarga meluapkan kegembiraan karena akan segera bertemu dengan anak dan isterinya kembali dalam waktu yang tidak lama lagi.     Mungkinkah saya juga bisa kembali ke Ungaran untuk bertemu dengan kedua orangtuaku di sana?.      Di dalam surat yang saya kirimkan ke Ungaran, saya belum bisa memastikan hal tersebut karena tugas kami adalah masuk ke Irian Barat, dalam situasi dan kondisi apapun.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pemerintahpun mengendorkan keadaan siap tempur di daerah Maluku yang berbatasan dengan Irian Barat.    Pasukan yang ditugaskan di sana berangsur-angsur ditarik kembali.  Komponen Khusus CIB-PTT yang sudah diberangkatkan ke perbatasan pun ditarik kembali.     Kapal ADRI yang mengangkut mereka telah merapat di dermaga Sukarno.    Anggota CIB-PTT Komponen Khusus yang berasal dari Makasar dan Sulawesi turun di Makasar, sedangkan yang berasal dari Jawa dan Sumatera akan meneruskan perjalanannya ke Jakarta.     Pimpinan CIB-PTT telah mengganti anggotanya yang turun di Makassar dengan anggota lainnya untuk dikirim kembali ke Jakarta dengan menumpang kapal yang sama.  Dalam kesempatan singgah di Makasar itu, Butje Likumahwa, Bernard Pasuhuk dan lain-lainnya sempat bertandang ke Markas.    Mereka menceritakan pengalamannya selama di daerah perbatasan.    Tidak jauh beda dengan apa yang kami lakukan di Makasar ini.   Membantu telekomunikasi militer di daerah perbatasan.    Salah satunya adalah  mendirikan setasiun radio pemancar dan membuka perhubungan ke titik-titik konsentrasi pasukan di tempat lain.    Yang membedakan dengan kami di Makasar adalah suasana kebatinan dan lingkungannya.     Mereka dalam keadaan siap tempur dan harus selalu waspada.     Makan seadanya dengan ransum militer, jauh berbeda dengan kami di Markas.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

urat Perintah Panglima Mandala Pembebasan Irian Barat, No. SP-0089/9/1962, ditandatangani oleh PS Kepala Staf  Kol. Inf. Amir Machmud, NRP. 11646, yang dikeluarkan di Makasar, pada tanggal 27-9-1962, pada jam 16.00, disampaikan ke Markas oleh kurir dari Markas Besar Komando Mandala.     Isinya berupa perintah untuk segera mempersiapkan diri guna berangkat / kembali ke Jakarta secara bergelombang seperti tersebut dalam lajur 5 daftar lampiran Surat Perintah.    Terdapat 34 anggota CIB-PTT yang akan diberangkatkan kembali ke Jakarta, terbagi dalam 5 gelombang.    Saya termasuk dalam gelombang ke-5 atau yang akan diberangkatkan terakhir bersama 6 orang lainnya.     Kalau melihat banyaknya yang diberangkatkan pada tiap gelombang yang hanya 7 orang saja, kami semua menduga akan menggunakan pesawat terbang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah beberapa hari menunggu tiba-tiba ada pemberitahuan bahwa semuanya akan diberangkatkan lusa, secara sekaligus dengan kapal ADRI yang akan merapat di pelabuhan Makasar esok hari.    Ada di antara kami yang merasa kecewa tetapi sebagian besar tidak mempermasalahkannya.    Saya sendiri termasuk yang justru merasa senang, karena akan menjadi pengalaman saya yang pertama kali pula bepergian menggunakan kapal laut.     Bentuk kapal ADRI sendiri sudah saya ketahui tatkala melepas teman-teman anggota Komponen Khusus.    Besar, kokoh dan gagah apalagi mampu membawa ratusan penumpang.    Sutjipto memanfaatkan sisa waktu di Makasar itu dengan sering bertandang ke rumah kekasihnya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sebuah upacara perpisahan dan pelepasan diselenggarakan pada halaman Markas yang dihadiri oleh Kepala Daerah Telekomunikasi Sulawesi Van Raalten dan para pejabat lainnya.    Kemudian dengan beberapa buah kendaraan kami dibawa ke dermaga.    Setelah menunggu beberapa saat untuk penyelesaian administrasi, kemudian kami menuju ke kapal beriringan menaiki tangga sempit yang agak bergoyang-goyang ke atas kapal.    Anggota TNI Angkatan Darat sudah hampir memenuhi kapal, baik di atas dek maupun pada ruangan di bawah.   Rombongan CIB-PTT yang berseragam coklat tampak mencolok di dalam lautan hijau.     Tempat yang diperuntukkan kami ternyata di atas dek, yang sudah dipasang terpal untuk pelindung sengatan matahari atau air hujan.    Tampaknya kurang luas untuk bisa menampung 34 orang beserta barang bawaannya.    Widho menarik tangan saya dan meletakkan barangnya di suatu sudut yang cukup terlindung.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kapal mengarungi laut dengan gerak yang lambat seakan berlomba dengan punggung-punggung ombak di kedua sisinya.   Haluan kapal menyambut ombak yang datang dan memecahnya tiada henti.   Buritan kapal meninggalkan jalur buih putih yang memanjang ke belakang dan air yang bergejolak dan menggelegak di antaranya.     Warna biru air laut seakan menyimpan  dalam sebuah rahasia alam.      Langit tampak cerah dengan awan tipis putih yang merata.     Sekali-sekali tampak burung terbang rendah mengepakkan sayap.   Kadang-kadang menukik ke laut untuk menyambar ikan yang berenang di permukaan.    Juga ikan lomba-lomba kadang-kadang tampak berenang di samping kapal pada jarak yang cukup dekat sehingga kami bisa puas melihatnya dari balik pagar besi di atas kapal.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada tahun 1959 Mata Uang  RI tahun 1952 dengan tanda tangan Sjafruddin Prawiranegara yang saat itu menjadi Menteri Keuangan RI  ditarik dari peredaran karena Sjafruddin Prawiranegara memimpin Pemberontakan PRRI dan banyak Uang ini dirampas PRRI dari Bank Pemerintah di Seluruh Wilayah Yang dikuasainya, dan untuk mengatasinya  PRRI mengunakan uang NICA lama, Uang  RI 1952 dibubuhi tanda tangan dan stempel PRRI  yang dinyata sebagai alat pembayaran yang sah di area  yang dikuasai PRRI kecuali nominal 5 rupiah deri Kartini sampai saat ini belumpernah ditemukan..

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saya merasa bangga sekali dapat ikut menghadiri Kongres ini bersama dengan kawan-kawan, Kongres dari suatu Partai yang tidak saja besar, tapi juga mempunyai tradisi perjuangan yang heroik dari sejak lahirnya hingga sekarang, Partai yang mempunyai sejarah gemilang dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda, Partai yang kesetiaannya telah teruji dengan pengabdiannya yang tulus membela kepentingan rakyat — dengan gagah berani tampil ke depan melawan musuh-musuh rakyat, tidak saja dulu terhadap Belanda, tapi juga sekarang terhadap “PRRI”-Permesta.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Laporan CC yang disampaikan oleh Kawan D. N. Aidit dalam Kongres Nasional ke-VI Partai, saya menyetujui sepenuhnya. Menurut pendapat saya Laporan CC tidak saja telah mengemukakan pengalaman-pengalaman Partai, kelemahan-kelemahan dan sukses-sukses yang pernah dicapai oleh Partai di lapangan politik, organisasi dan ideologi, tapi juga telah menggariskan tugas-tugas pokok Partai untuk masa depan, taktik dan strategi Partai dalam perjuangannya menyelesaikan tuntutan Revolusi 17 Agustus ‘45 yang belum selesai. Mempelajari Laporan CC, sekaligus berarti mempelajari keadaan rakyat dan masyarakat kita, watak revolusi, arah dan perspektif Revolusi kita, disamping mengetahui sejarah perjuangan Partai dan kebesaran Partai kita sekarang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada kesempatan ini saya ingin hendak mengemukakan mengenai beberapa persoalan daerah Jambi, tentang penduduk dan kebudayaannya, tentang keadaan kaum tani, dan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Partai kita. Penduduk daerah ini terdiri dari dua golongan, penduduk asli (suku Melayu) dan penduduk yang datang dari pulau Jawa, Sumbar, dan Tapanuli. Keadaan penduduk asli, ekonomi dan kebudayaannya belum dapat dikatakan maju. 85% dari penduduk yang dewasa masih buta huruf, tifus dan kolera merupakan penyakit yang biasa di kalangan rakyat. Balai-balai Pengobatan di desa-desa hampir tak ada sama sekali, kecuali di ibu negeri Kewedanaan dan Kecamatan-kecamatan. Takhayul, kepercayaan kepada roh-roh yang dianggap keramat merupakan kepercayaan yang teguh di kalangan rakyat.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Disamping itu jika Permindo menemukan sumber minyak baru, untuk keperluan pembikinan jalan dan sebagainya, mau tak mau kaum tani harus menyerahkan tanah berikut tanamannya dan membongkar gubuknya yang dibangun dengan susah payah ¡tu, untuk kepentingan Permindo. Memang oleh Permindo sebelumnya diadakan perundingan dengan kaum tani untuk mengganti kerugian kaum tani, tapi perundingan itu tidak dengan ikhlas diterima oleh kaum tani, karena bagaimana juga mereka tetap merasa dirugikan oleh tindakan ini.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Disamping itu lagi jika terjadi persengketaan antara kaum tani dengan Permindo, kaum tani merasa tidak mendapat perlindungan dari Pemerintah, karena Peraturan Pemerintah mengenai persengketaan tanah antara kaum tani dengan Permindo pada pokoknya membenarkan tindakan Permindo untuk menguasai tanah kaum tani, dan memberikan bantuan langsung pada Permindo dengan mengirim tenaga polisi ke tempat tersebut untuk menjaga keamanan orang-orang yang mentraktor tanah kaum tani. Ini baru sebagian saja dari penderitaan-penderitaan yang dipikul oleh kaum tani, belum lagi peraturan-peraturan lainnya seperti bunga kayu, pancung alas, bunga pasir dan sebagainya yang sangat memberatkan penderitaan kaum tani.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Keadaan ini sepenuhnya membenarkan perumusan Partai, tentang masih berkuasanya sisa-sisa feodalisme di desa-desa, tentang beratnya penderitaan kaum tani karena pengisapan yang terus menerus dari tuan tanah dan lintah darat dan peraturan-peraturan lain yang sangat merugikan kaum tani, yang menempatkan kedudukan mereka sebagai budak tuan tanah dan lintah darat. Ini sepenuhnya berlaku di daerah Jambi. Semboyan Partai di lapangan pertanian, sita tanah tuan tanah, bagikan pada kaum tani, terutama pada kaum tani tidak bertanah, adalah semboyan yang sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan kaum tani. Karenanya semboyan ini tidak saja akan disambut hangat oleh kaum tani, tapi juga akan membangkitkan daya juang mereka untuk mengakhiri sama sekali kekuasaan tuan tanah di segala lapangan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Penduduk yang mendatang (dari Sumbar dan Tapanuli), sebagian kecil bekerja pada berbagai instansi-instansi jawatan Pemerintahan. Pedagang-pedagang kecil termasuk pedagang pinggiran jalan, umumnya terdiri dari penduduk yang berasal dan Sumbar. Nasib pedagang-pedagang ini tidak berbeda banyak dengan nasib kaum tani, disamping tidak mempunyai modal mereka juga dihisap terus menerus oleh pedagang-pedagang besar. Pedagang-pedagang besar, pemilik-pemilik N.V., pemilik-pemilik perusahaan-perusahaan kecil, seperti rumah-rumah asap, gedung-gedung bioskop, restoran-restoran, warung-warung, pabrik roti, kecap dan sebagainya umumnya dimiliki oleh orang-orang Tionghoa.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Karena tuntutan Otonomi ini menyangkut kepentingan semua golongan, maka kerja sama di kalangan Partai-partai, juga dengan beberapa tokoh-tokoh Masyumi dapat kita wujudkan. Ikutnya beberapa dari tokoh-tokoh kepala batu dalam perjuangan menuntut otonomi ini, ialah dengan tujuan untuk dapat terus berkuasa, atau untuk mempertahankan kedudukannya dalam badan-badan instansi pemerintahan, atau untuk mengharapkan kedudukan baru dalam Pemerintahan Otonomi yang akan dibentuk itu nanti. Begitu pun dari sebagian golongan tengah, juga ada yang dengan harapan seperti itu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kawan-kawan, tentang tidak teguhnya kekuatan tengah menjalankan politik yang progresif anti-imperialis dan anti-feodal, seperti yang dikatakan Kawan D. N. Aidit dalam Laporan CC pada Kongres ini, yaitu, bergantung kepada tepat atau tidak tepatnya garis politik Partai dalam menghadapi kekuatan tengah, bergantung kepada besar atau kecilnya kekuatan Partai sendiri sebagai sandaran kekuatan tengah, bergantung kepada ada atau tidak adanya pukulan yang jitu dari kekuatan progresif terhadap kepala batu yang menguntungkan kekuatan tengah, sepenuhnya dibenarkan oleh pengalaman Partai kita di daerah Jambi.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Belum berhasilnya Partai kita bersatu dengan kekuatan tengah untuk tetap berada di pihak kekuatan progresif yang dengan teguh menjalankan politik anti-imperialis dan anti-feodal, menentang politik reaksioner dan kepala batu, karena belum berhasilnya Partai kita memobilisasi massa yang luas, kaum buruh dan kaum tani, dan karena belum berhasilnya kita meningkatkan lebih tinggi kesadaran politik massa rakyat kepada taraf yang lebih tinggi, terutama kesadaran politik kaum tani yang masih terbelakang dari kaum buruh.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kawan-kawan. Tentang belum berkuasanya ideologi proletar dalam Partai tidak saja berakibat tidak terurusnya masalah organisasi, dan tidak dapatnya Partai memberikan pimpinan pada rakyat, tapi juga berakibat timbulnya ketegangan-ketegangan dalam badan pimpinan Partai. Ketegangan ini timbul hanya disebabkan karena perbedaan-perbedaan pendapat — yang memang wajar — mengenai masalah yang dihadapi oleh Partai, ketegangan-ketegangan ini jika tidak segera diatasi akan sangat membahayakan Partai. Ucapan-ucapan “tidak mau aktif, terserah pada kawan-kawan”, “merajukisme”, dan sebagainya, sebagai pernyataan ideologi tuan tanah sering dikemukakan dalam Partai. Diskusi-diskusi yang diadakan oleh Partai lebih banyak digunakan untuk menyelesaikan soal-soal seperti ini daripada mendiskusikan masalah tugas-tugas Partai. Dari pengalaman ini amat dirasakan sekali oleh Partai kita, betapa perlu dan dibutuhkannya oleh Partai adanya kesatuan ideologi, kesatuan pendapat, kesatuan tindakan dan kolektifitas dalam badan pimpinan Partai. Masalah mewujudkan kesatuan ini, merupakan masalah yang penting bagi Partai kita di daerah Jambi.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Disamping itu masalah menggunakan kritik otokritik sebagai suatu metode untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang timbul dalam Partai, juga memerlukan suatu pengertian dan penguasaan yang mendalam tentang prinsip-prinsip bagaimana cara menggunakannya, dan tujuan utama yang harus dicapai dengan kritik otokritik ini bagi kader-kader Partai. Tanpa memiliki prinsip-prinsip ini, kritik yang dimaksudkan untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang ada, malah menimbulkan sebaliknya yaitu mempertajam kontradiksi-kontradiksi itu. Karena belum menguasai sepenuhnya prinsip-prinsip ini, kritik otokritik yang pernah kita adakan belum dapat berhasil membawa perbaikan-perbaikan dalam Partai.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Demikian beberapa persoalan yang dihadapi oleh Partai kita yang menyebahkan Plan belum dapat dilaksanakan dengan baik. Disamping Comite-comite bawahan yang belum tersusun rapi, disamping kekurangan kader di tiap tingkat organisasi dan keterbatasan tenaga kader yang dapat digunakan untuk Partai, ditambah lagi dengan masih rendahnya teori kader, serta tipisnya rasa tanggung jawab kader terhadap Partai. Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini, untuk dapat melaksanakan tugas-tugas Partai selanjutnya penting sekali artinya peringatan Kawan D. N. Aidit yang dikemukakan dalam laporan CC, memperbaiki cara kerja, langgam kerja Partai, mewujudkan kolektifitas dan menjaga kemurnian ideologi Marxisme-Leninisme dalam Partai. Terlaksana atau tidaknya tugas-tugas Partai, dalam pengalaman kita sepenuhnya bergantung kepada ada atau tidak adanya cara kerja dan langgam kerja yang tepat dalam Partai, bergantung kepada ada atau tidak adanya kesatuan ideologi, kesatuan pendapat dan kesatuan tindakan dalam Partai.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kawan-kawan. Mengingat keadaan Partai kita pada waktu ini, pekerjaan memperkuat Comite-comite Partai, mengadakan pembagian pekerjaan di dalam Partai, mengaktifkan dan memperbarui Comite-comite Partai di semua tingkat, adalah pekerjaan yang mendesak yang harus segera dilaksanakan. Kemudian meneruskan pelaksanaan Plan, mengkonkretkan keanggotaan, mengintensifkan pembentukan Grup-grup, membuang cara kerja yang liberal dan cara berpikir yang subjektif. Jika pekerjaan ini dapat kita laksanakan, barulah ada kemungkinan bagi Partai kita untuk menduduki tempatnya melaksanakan tugas sejarah yang dipikul oleh kelas proletariat sebagai Partai pelopor, sebagai jenderal-staf dari massa rakyat yang mampu mempersatukan massa rakyat ke bawah panji-paji Partai, guna berjuang menghapuskan sama sekali kekuasaan imperialisme dan tuan tanah, menuju pembangunan Indonesia baru yang merdeka di lapangan politik, ekonomi dan kebudayaan, membangun masyarakat Indonesia yang demokratis, bersatu dan makmur sebagaimana yang dicantumkan dalam Program PKI.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dalam pengumumannya, Ketua Badan Pekerja Dewan Pertimbangan Pusat (DPP) Permesta, Henk Rondonuwu menolak RPI ini. Meskipun RPI ini telah berdiri, namun di daerah gerilya Permesta sendiri seperti di perbatasan Minahasa – Bolaang Mongondow, masih dilaksanakan Upacara Peringatan HUT RI secara resmi dan dihadiri oleh tokoh² militer dan sipil Permesta. Sedangkan oleh pihak perwira Permesta di sebelah utara seperti Mayjen Alex Kawilarang, Kolonel D.J. Somba, Letkol Wim Tenges, menolak RPI ini, apalagi mengibarkan bendera baru (RPI) di wilayahnya dan tetap memakai lambang² NKRI seperti Pancasila dan Merah Putih dalam logo maupun atribut lainnya. Distrik/WK-III dibawah komando Letkol Wim Tenges memiliki hampir separuh kekuatan pasukan Permesta, dan merupakan WK yang paling kompak dan disiplin dari antara WK lainnya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pasukan rangers dari SPMB Porong ,mulai tanggal 10 maret sampai Oktober 1960 telah menjalankan tugas selama tujuh bulan sebagai “Pengempur” di Komda (Komando Mobil brigade_ daerah VI Sumatera Barat dan RIAU pasukan di tempatkan diwilayah KODIM Padang dan kemudian dipindahkan ke daerah RTP III Sukaramai dan Lintau,dan dari daerah Sumatera Barat juga mempertahankan daerah RIDAR(Riau Daratan),lapangan tempat mereka bertugas merupakan daerah rawa dan hutan serta pegunungan sehingga sepatunya lekas rusak. Dan hancur oleh karena itu diminta pengantiannya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pemberontakan Dewan Banteng yang dipimpin oleh Ahmad Husein akhirnya dapat  dipatahkan oleh Angkatan Perang Republik Indonesia yang melakukan “Operasi 17 Agustus”di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani dalam waktu yang tidak terlalu lama, yaitu kurang lebih satu minggu. Pemberontakan PRRI di Sumatera Barat itu, dengan sendirinya menimbulkan kekacauan, baik terhadap pemerintah daerah, maupun terhadap kehidupan dalam masyarakat, setelah Ahmad Husein mengambil alih fungsi Gubernur Roeslan Muljodihardjo, yang diangkat oleh pemerintah Pusat di Jakarta. Kabinet Karya yang dipimpin

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Meski inti dari perjuangan pak Natsir adalah agar Negara yang baru merdeka tidak jatuh ke tangan komunis dan tidak terpecah belah menjadi beberapa Negara boneka bagi Negara Asing,  dan meskipun dukungan terhadap perjuangan pak Natsir  itu amat besar  seperti  rekomendasi Alim Ulama se-Sumatera itu,  tetapi tidak juga digubris rezim penguasa. Justru, jawaban yang diberikan pada pak Natsir adalah penyerbuan. Beliau  akhirnya  harus masuk hutan-keluar hutan, bahkan dipenjarakan. Tapi itulah  pak Natsir yang saya kenal. Beliau  seorang pemimpin  yang ikhlas dan istiqamah  dimana dan kapan pun,  bahkan  ditengah hutan sekalipun.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Saya menemukan sebuah dokumen faktur pengiriman barang dari PT Yudha Bhakti mengunakan ex BUMN Hindia Belanda Jacobson van De Berg Padang ke Toko Sim Hok Liong (milik Kakek Isteri Saya) Padang Panjang, dengan stempel sampai didaerah melapor kepada PKP,izin berlaku selama dua hari setelah dikeluarkan  dan dibelakang faktur ini lengkap stempel legalisir dari para pejabat  setempat Pelaksana Perang KMKB Padang, (Dr Iwan) , setlah tiba di Padang panjang tanggal 10 januari  dilapor ke Kantor Polisi Distrik Padang Panjang dan Kantor Walikota Padang Panjang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Selanjutnya dalam operasi ini di area Sarik Alam Tigo Daerah Alahan Pandjang tanggal 23 pebruari 1961 berhasil dirampas beberapa senjata  dan dokumen-dokumen penting PRRI.Di kompleks Sarik tersebut diduga Mayor PRRI Amirhamsjah dan stafnya berada. dan pasukan APRI telah merapas didaerah tersebut sejanta yang terdiri dari 2 buah Bazooka, 2 LMG,1 Karaben, 1 Own Gun.sebuah radio penerima Phillips disamping beberapa dokumen.                                                                                                                                                 2)Dalam surat kabar ini juga ada berita dari Kota Padang Panjang                                                Diruangan balaikota Padang Panjang telah diadakan penyerahan bantuan kepada para korban keganasan gerembolan PRRI didaerah Kotapraja Padangpanjang.Hadir  pada upacara ini R.Sudioto sebagai wakil Walikota Padang Panjang, DAN Vak a Jon 439 Diponegoro Lettu Kasimin, Dan CPM Pelda Sukarim,BUTERPRA Peltu  Mawardi,dsbnya.Para korban berjumlah 50 orang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Semua warganegara ,Jawakah ia, Minangkabaukah ia, Minahasakah ia, Batakkah ia, Bugiskah ia, semua warganegara harus bersatu, dengan tidak pandang perbedaan suku bnagsa,tidak pandang agama,tidang pandang keturunan asli atau tidak alsi. Pemberontakan PRRI,pemberontakan Permesta,kegiatan subversif Manguni,tidak boleh diarftikan berontakan atau kegiatan subversif suku Minangkabau atau suku Minahasa. Pemberontakan itu adalah perbuatan kaum imperialis yang memeprgunakan orang-orang pengchianak  dari budak-budak dari suku itu atau suku lain.Rakyat dari semua suku dan dari semua turunan ,asli atau tak asli-sipetani,siburuh,situkang dokar,sinelayan,sipegawai kecil, sipedagang kecil,sijembel ,simarhaen- adalah cinta kepada Republik Proklamsi menyetujui Manipol (manifesto Politik) dan USDEK,gandurng kepada masyarakat adil dan makmur.Rakyat itu semua harus di Gotong Royongkan dalam perjuangan raksasa ini.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

3) Illustrasi Masyarakat sumatera barat umumnya dan Kota Padang khususnya memperingatai hari ulang tahun III pembebasan Sumbar , ditengah meneriahkan hari bersejarah ini sejenak kita kenangkan bagaimana kekejaman sisa gerembolan selama ini dengan teroir yang dilakukan dalam kota seperti melemparkan granat di bioskjop,saat Pekan USDEK yang membawa korban bukan sedikit dikalangan rakyat dan anak-anak dibawa umur., mereka baru sjaa menerim abnatuan dari masyarakat yang dilangsungkan dengan satu upacara di Balai Kota Padang tanggal 4 April 1961.

Gempa bumi berkekuatan 5,5 skala richter (SR) mengguncang Padang Sidempuan, Sumatera Utara (Sumut). Gempa tak berpotensi tsunami. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jumat (14/7/2017) pukul 08.25.16 WIB. Titik gempa berada di koordinat 1.37 LU dan 99.19 BT. Lokasi gempa berada di 9 kilometer barat daya Padang Sidempuan. Sedangkan, kedalaman gempa 10 kilometer. Belum ada laporan soal dampak gempa dan korban jiwa. Namun, dipastikan gempa tak berpotensi tsunami. “Gempa ini tidak berpotensi tsunami,” kata Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah 1 Medan, Syahnan dalam keterangan tertulisnya.

Gempa bumi berkekuatan 5,0 skala Richter (SR) mengguncang kawasan Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Gempa tak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. “Tidak berpotensi tsunami,” tulis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam situs resminya, Jumat (15/9/2017). Berdasarkan laporan BMKG, pusat gempa berada pada koordinat 1,43 Lintang Utara (LU) dan 99,37 Bujur Timur (BT). Gempa terjadi pada pukul 19.36 WIB. Pusat gempa berada di kedalaman 187 kilometer di bawah permukaan laut. Posisi gempa tepatnya berada pada 12 kilometer timur laut Padang Sidempuan. Belum diketahui ada-tidaknya korban akibat kejadian ini.

MEDAN – Setelah Kabupaten Aceh Jaya, gempa bumi kembali melanda Kota Padang Sidimpuan, Provinsi Sumut dengan kekuatan 3,3 SR, Selasa (1/8/2017) sekira pukul 11:39:57 WIB.Kepala BMKG Wilayah I, Edison Kurniawan menjelaskan, gempabumi berkekuatan 3.3 SR dengan posisi episenter pada koordinat 1,40 LU dan 99,46 BT, terjadi di darat pada jarak 21 km arah timur laut dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara, pada kedalaman 23 km.Berdasarkan hasil analisis pada peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG dan laporan yang diterima dari masyarakat, gempa bumi ini dirasakan di Padang Sidempuan dan Aekgodang dengan intensitas gempa bumi I SIG-BMKG (II MMI). loading… “Dari hasil observasi BBMKG Wilayah I, gempa bumi ini berada pada zona sesar Sumatera pada Segmen Angkola, karakteristik sinyal gempabumi ini menunjukkan gempa bumi tektonik. Dari kedalaman hiposenternya gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi tektonik dangkal pada lapisan kerak bumi,” ujarnya Kepada masyarakat disekitar wilayah Kota Padang Sidempuan dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak bertangjungjawab. Masyarakat juga dihimbau untuk mengikuti arahan Pemerintah daerah melalui BPBD dan mengikuti perkembangan informasi gempabumi susulan dari BMKG.”Khusus masyarakat di daerah pesisir pantai barat Sumatera Utara dan sekitarnya dihimbau agar tidak terpancing isu mengingat gempa bumi yang terjadi tidak berpotensi tsunami,” tutur Edison mengakhiri.

Hasil analisis Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan menunjukkan, gempa terjadi di koordinat episenter 1,49 LU dan 99,25 BT, atau tepatnya di darat dengan jarak 10 kilometer arah Barat Daya Tapanuli Selatan pada kedalaman 10 kilometer. Berdasarkan hasil analisis pada peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG dan laporan dari masyarakat, gempa bumi dirasakan dengan intensitas I-II SIG-BMKG (II-III MMI). “Sampai saat ini belum ada laporan kerusakan yang terjadi. Kalau ditinjau dari kedalaman hiposenternya, gempa termasuk dalam klasifikasi gempa bumi dangkal,” ujar Kepala BBMKG Wilayah I, Edison Kurniawan, Kamis siang.

Related Posts

Comments are closed.