Fredrich Ngaku ke RS Setelah Kecelakaan, KPK Punya Bukti Sebaliknya

Fredrich Ngaku ke RS Setelah Kecelakaan, KPK Punya Bukti Sebaliknya

Fredrich Yunadi menyebut KPK berbohong soal tudingan pemesanan kamar untuk Setya Novanto sebelum kejadian kecelakaan 16 November 2017. Namun, KPK memastikan bukti yang dimiliki berbanding terbalik dengan klaim Fredrich itu. “Dalam kasus tersebut, penyidik sudah miliki sejumlah bukti, termasuk yang sifatnya visual tentang siapa yang datang ke RS sebelum kecelakaan. Jadi, kami sudah mengetahui bagaimana dugaan kerja sama untuk menghalang-halangi KPK dalam menangani kasus e-KTP ini, termasuk siapa yang menghubungi dokter RS terkait rencana pemesanan kamar,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada detikcom , Rabu (17/1/2018). Febri juga tak mempermasalahkan bantahan dari Fredrich Yunadi selaku tersangka dugaan menghalangi penyidikan Novanto dalam kasus e-KTP. Menurutnya, hukum acara di Indonesia memperbolehkan tersangka memberi bantahan. “Jika ada bantahan dari tersangka, saya kira hal itu wajar saja. Dan itu dapat disampaikan pada penyidik atau di persidangan nanti. Bahkan, jika ada bukti-bukti pendukung untuk sangkalan tersebut sangat mungkin disampaikan. Hukum acara kita memungkinkan untuk itu,” ujar Febri. “Yang pasti KPK tidak akan bergantung semata pada sangkalan atau bahkan pengakuan seseorang,” sambungnya. Sebelumnya, Fredrich mengaku menyewa 3 kamar RS Medika Permata Hijau untuk 6 ajudan Novanto saat kecelakaan pada 16 November 2017. Ia juga mengatakan urusan sewa kamar itu dilakukan pukul 20.30 WIB pada hari Novanto mengalami kecelakaan. Menurutnya, ada bukti yang ia miliki soal penyewaan kamar itu setelah Novanto tiba di rumah sakit. Fredrich telah dijerat KPK dengan dugaan menghalangi proses penyidikan Novanto dalam perkara korupsi proyek e-KTP. Dia ditetapkan sebagai tersangka bersama-sama dengan dr Bimanesh Sutarjo, dokter yang menangani Novanto ketika mengalami kecelakaan. Keduanya diduga memanipulasi hasil pemeriksaan medis Novanto untuk menghindari pemeriksaan KPK.

Baca juga :

INILAHCOM, Jakarta – Fredrich Yunadi, tersangka kasus dugaan merintangi penyidikan e-KTP, membantah menyewa satu lantai Runah Sakit Medika Permata Hijau untuk kliennya Setya Novanto. Kala itu, saat Novanto mengalami kecelakaan, dirinya memesan kamar lebih, tapi tidak satu lantai, untuk ajudan Novanto yang ikut mengawal. “Saya tanya sama (pihak) RS, bu depan (kamari) ini kan kosong, boleh enggak kita sewa buat ajudan. Selama tidak ada pasien boleh, jadi kita sewa 3 kamar,” kata Fredrich usai diperiksa, di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (16/1/2018). Tiga kamar yang disewa itu, digunakan untuk enam (6) orang ajudan Novanto yang ikut ke rumah sakit. “Lah kalau saya sewa 3 kamar salah saya apa? Kok bisa menuduh fitnah saya sewa 1 lantai. Itu kan berarti yang ngomong begitu itu, yang menurut saya perlu masuk psikiater Sumber Waras. Sana diperiksa itu,” tutur Fredrich. Fredrich mengklaim baru berada di RS Medika setelah Novanto mengalami kecelakaan mobil, bukan sebaliknya. Dia menyatakan, baru berhasil memesan kamar untuk terdakwa korupsi proyek e-KTP itu sekitar pukul 20.30 WIB. “Saya punya bukti, saya daftar. Saya tanya, sewa (kamar) rumah sakit apakah bisa seperti sewa hotel, telepon booking, eh saya mau booking ya untuk tanggal sekian, sekian kamar, ya ndak bisa dong,” tandasnya. KPK telah menetapkan Fredrich dan dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo sebagai tersangka merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Novanto. [ton]


Baca juga : fredrich akui pesan tiga kamar rs medika untuk setnov

Jakarta, CNN Indonesia — Pengacara Fredrich Yunadi membantah telah memesan satu lantai di Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau untuk Setya Novanto yang mengalami kecelakaan pada 16 November 2017. Fredrich mengaku hanya memesan tiga kamar di rumah sakit itu. Fredrich menuturkan, lantai tempat Setnov dirawat kala itu terdapat delapan kamar, empat di antaranya telah diisi oleh pasien lainnya. Mengetahui masih ada sisa kamar yang belum diisi pasien, Fredrich pun menghubungi pihak RS Medika untuk memasan 2 kamar yang kosong. Kamar tersebut untuk tempat beristirahat 6 ajudan Setnov.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

“Saya tanya sama (pihak) RS, ‘Bu, depan (kamar) ini kan kosong, boleh tidak kami sewa buat ajudan?’ Selama tidak ada pasien boleh, jadi kami sewa tiga kamar,” kata Fredrich usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (16/1). Fredrich merasa tak ada yang salah dengan pemesanan tiga kamar di RS Medika untuk Setnov dan ajudan yang mendampinginya. Menurut bekas pengacara Setnov itu, tudingan KPK terhadap dirinya yang menyebut memesan satu lantai merupakan fitnah yang tak berdasar. “Lah, kalau saya sewa tiga kamar salah saya apa? Kok, bisa menuduh fitnah saya sewa satu lantai. Itu kan berarti yang ngomong begitu itu, yang menurut saya perlu masuk psikiater Sumber Waras. Sana diperiksa itu,” ujarnya. Setnov mengalami kecelakaan mobil yang dikendarai mantan kontributor Metro TV Hilman Mattauch.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Fredrich mengklaim baru berada di RS Medika setelah Setnov mengalami kecelakaan mobil, bukan sebaliknya. Dia mengatakan, kamar untuk terdakwa korupsi proyek e-KTP itu dipesan sekitar pukul 20.30 WIB. “Saya punya bukti, saya daftar. Saya tanya, sewa (kamar) rumah sakit apakah bisa seperti sewa hotel, telepon booking , eh saya mau booking ya untuk tanggal sekian, sekian kamar, ya ndak bisa dong,” kata dia. Fredrich menyebut, seseorang yang ingin masuk rumah sakit harus memiliki surat pengantar dari dokter. Pemilik kantor hukum Yunadi & Associated itu mengatakan, baru mendapat surat pengantar dokter yang menangani Setnov sekitar pukul 20.00 WIB. “Jadi gini loh, jangan terbiasa melakukan rekayasa, makanya dalam hal ini yang jelas,” tuturnya. KPK telah menetapkan Fredrich dan dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo sebagai tersangka merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setnov.

Fredrich Yunadi menyebut KPK berbohong soal tudingan pemesanan kamar untuk Setya Novanto sebelum kejadian kecelakaan 16 November 2017. Namun, KPK memastikan bukti yang dimiliki berbanding terbalik dengan klaim Fredrich itu. “Dalam kasus tersebut, penyidik sudah miliki sejumlah bukti, termasuk yang sifatnya visual tentang siapa yang datang ke RS sebelum kecelakaan. Jadi, kami sudah mengetahui bagaimana dugaan kerja sama untuk menghalang-halangi KPK dalam menangani kasus e-KTP ini, termasuk siapa yang menghubungi dokter RS terkait rencana pemesanan kamar,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada detikcom , Rabu (17/1/2018). Febri juga tak mempermasalahkan bantahan dari Fredrich Yunadi selaku tersangka dugaan menghalangi penyidikan Novanto dalam kasus e-KTP. Menurutnya, hukum acara di Indonesia memperbolehkan tersangka memberi bantahan. “Jika ada bantahan dari tersangka, saya kira hal itu wajar saja. Dan itu dapat disampaikan pada penyidik atau di persidangan nanti. Bahkan, jika ada bukti-bukti pendukung untuk sangkalan tersebut sangat mungkin disampaikan. Hukum acara kita memungkinkan untuk itu,” ujar Febri. “Yang pasti KPK tidak akan bergantung semata pada sangkalan atau bahkan pengakuan seseorang,” sambungnya. Sebelumnya, Fredrich mengaku menyewa 3 kamar RS Medika Permata Hijau untuk 6 ajudan Novanto saat kecelakaan pada 16 November 2017. Ia juga mengatakan urusan sewa kamar itu dilakukan pukul 20.30 WIB pada hari Novanto mengalami kecelakaan. Menurutnya, ada bukti yang ia miliki soal penyewaan kamar itu setelah Novanto tiba di rumah sakit. Fredrich telah dijerat KPK dengan dugaan menghalangi proses penyidikan Novanto dalam perkara korupsi proyek e-KTP. Dia ditetapkan sebagai tersangka bersama-sama dengan dr Bimanesh Sutarjo, dokter yang menangani Novanto ketika mengalami kecelakaan. Keduanya diduga memanipulasi hasil pemeriksaan medis Novanto untuk menghindari pemeriksaan KPK.

Jakarta, CNN Indonesia — Pengacara Fredrich Yunadi membantah telah memesan satu lantai di Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau untuk Setya Novanto yang mengalami kecelakaan pada 16 November 2017. Fredrich mengaku hanya memesan tiga kamar di rumah sakit itu. Fredrich menuturkan, lantai tempat Setnov dirawat kala itu terdapat delapan kamar, empat di antaranya telah diisi oleh pasien lainnya. Mengetahui masih ada sisa kamar yang belum diisi pasien, Fredrich pun menghubungi pihak RS Medika untuk memasan 2 kamar yang kosong. Kamar tersebut untuk tempat beristirahat 6 ajudan Setnov.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

“Saya tanya sama (pihak) RS, ‘Bu, depan (kamar) ini kan kosong, boleh tidak kami sewa buat ajudan?’ Selama tidak ada pasien boleh, jadi kami sewa tiga kamar,” kata Fredrich usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (16/1). Fredrich merasa tak ada yang salah dengan pemesanan tiga kamar di RS Medika untuk Setnov dan ajudan yang mendampinginya. Menurut bekas pengacara Setnov itu, tudingan KPK terhadap dirinya yang menyebut memesan satu lantai merupakan fitnah yang tak berdasar. “Lah, kalau saya sewa tiga kamar salah saya apa? Kok, bisa menuduh fitnah saya sewa satu lantai. Itu kan berarti yang ngomong begitu itu, yang menurut saya perlu masuk psikiater Sumber Waras. Sana diperiksa itu,” ujarnya. Setnov mengalami kecelakaan mobil yang dikendarai mantan kontributor Metro TV Hilman Mattauch.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Fredrich mengklaim baru berada di RS Medika setelah Setnov mengalami kecelakaan mobil, bukan sebaliknya. Dia mengatakan, kamar untuk terdakwa korupsi proyek e-KTP itu dipesan sekitar pukul 20.30 WIB. “Saya punya bukti, saya daftar. Saya tanya, sewa (kamar) rumah sakit apakah bisa seperti sewa hotel, telepon booking , eh saya mau booking ya untuk tanggal sekian, sekian kamar, ya ndak bisa dong,” kata dia. Fredrich menyebut, seseorang yang ingin masuk rumah sakit harus memiliki surat pengantar dari dokter. Pemilik kantor hukum Yunadi & Associated itu mengatakan, baru mendapat surat pengantar dokter yang menangani Setnov sekitar pukul 20.00 WIB. “Jadi gini loh, jangan terbiasa melakukan rekayasa, makanya dalam hal ini yang jelas,” tuturnya. KPK telah menetapkan Fredrich dan dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo sebagai tersangka merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setnov.

VIVA  – Pengacara Fredrich Yunadi membantah telah memesan satu lantai di Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau, untuk Setya Novanto usai kecelakaan pada 16 November 2017 lalu. Fredrich mengaku hanya memesan tiga kamar di rumah sakit tersebut. Fredrich menuturkan, di lantai tempat mantan Ketua DPR dirawat itu ada delapan kamar. Klaim Fredrich, ada empat kamar yang telah diisi oleh pasien lainnya di RS Medika. Mengetahui masih ada sisa kamar yang belum diisi pasien, Fredrich pun menghubungi pihak RS untuk memasan dua kamar yang kosong. Kamar itu untuk tempat beristirahat enam ajudan Novanto.

seperti di kutip dari https://www.viva.co.id

“Saya tanya sama (pihak) RS, bu depan (kamar) ini kan kosong, boleh enggak kami sewa buat ajudan. Selama tidak ada pasien boleh, jadi kami sewa tiga kamar,” kata Fredrich usai diperiksa KPK, Selasa, 16 Januari 2018. Fredrich merasa tak ada yang salah dengan hal tersebut. Menurut mantan pengacara Novanto itu, tudingan KPK terhadap dirinya yang menyebut memesan satu lantai merupakan fitnah yang tak berdasar. “Lah kalau saya sewa tiga kamar salah saya apa? Kok bisa menuduh fitnah saya sewa satu lantai. Itu kan berarti yang bicara begitu itu, yang menurut saya perlu masuk psikiater Sumber Waras. Harus diperiksa di sana itu,” kata Fredrich. Fredrich mengklaim baru berada di RS Medika setelah Novanto mengalami kecelakaan mobil, bukan sebaliknya. Fredrich mengatakan, baru dapat memesan kamar untuk terdakwa korupsi proyek e-KTP itu sekitar Pukul 20.30 WIB. “Saya punya bukti, saya daftar. Saya tanya, sewa (kamar) rumah sakit apa bisa seperti sewa hotel, telepon booking, saya mau booking ya untuk tinggal sekian, sekian kamar, ya enggak bisa dong,” ujarnya. Fredrich menyebut, seseorang yang ingin masuk rumah sakit harus memiliki surat pengantar dari dokter. Pemilik kantor hukum Yunadi & Associated tersebut mengatakan baru mendapat surat pengantar dokter yang menangani Novanto sekitar pukul 20.00 WIB. “Jadi gini loh, jangan terbiasa lakukan rekayasa, makanya dalam hal ini yang jelas,” ujarnya. Diketahui, Fredrich bersama dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesh, telah ditetapkan tersangka KPK. Mereka diduga telah memanipulasi data medis Setya Novanto untuk menghindari pemeriksaan KPK pada pertengahan November lalu. Selain itu, Fredrich ditengarai telah mengondisikan RS Medika Permata Hijau sebelum Novanto kecelakaan mobil bersama mantan kontributor Metro TV Hilman Mattauch pada 16 November 2017. (one)

“Kapan pemeriksaan calon tersangka? Namanya kan ada calon tersangka, berarti sudah harus ada dulu tindak pidananya. Tindak pidananya itu ada dimana? Setelah Sprindik keluar. Setelah Sprindik keluar, namanya bukan tersangka, tapi calon tersangka. Jadi, tulisannya di Sprindik harusnya calon tersangka atau saksi. Selama ini kan tidak ada istilah calon tersangka, adanya saksi, tulis saja saksi (di Sprindik). Nah, sebelum dia ditetapkan jadi tersangka, dia harus diperiksa dulu. Diperiksanya bukan di tahap penyelidikan lho , tapi di tahap penyidikan,” tandasnya.

Related Posts

Comments are closed.