Eks Wakil Ketua DPRD Bali Terancam Hukuman Mati

Eks Wakil Ketua DPRD Bali Terancam Hukuman Mati

Mantan Wakil Ketua DPRD Bali, Jro Gede Komang Swastika alias Mang Jangol terancam hukuman mati. Sebab ia didakwa menjadi pengedar narkoba. Mantan politikus Partai Gerindra itu duduk di kursi pesakitan di PN Denpasar. Jaksa mendakwa Mang Jangol dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 114 ayat 2, Pasal 131 ayat 1 dan pasal 111 ayat 1 UU Narkotika. Pasal 114 ayat 2 berbunyi: Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 kg atau melebihi 5 batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ditambah 1/3. Meski didakwa pasal berlapis, terdakwa melalui kuasa hukumnya tidak mengajukan eksepsi. Sidang tersebut diketuai hakim Ida Ayu Pradnyadewi dengan jaksa penuntut umum (PJU) Dewa Narapati. “Kami lebih mementingkan mengacu pada asas trilogi peradilan yang bersifat sederhana, cepat dengan biaya murah. Itu pertimbangan kita untuk tidak mengajukan aksepsi karena toh eksepsi itu pada akhirnya juga sebenarnya bisa dipertimbangkan di awal tapi kebanyakan dipertimbangkan di akhir putusan,” kata kuasa hukum Mang Jangol, Nyoman Sudiantara di PN Denpasar, Jalan Panglima Sudirman, Denpasar, Kamis (1/3/2018). Nyoman tidak mengajukan eksepsi karena tidak ingin sidang bertele-tele. “Nah untuk itu kita tidak mau bertele-tele, berlama-lama. Kita ingin proses ini berjalan sedemikian rupa sesuai dengan asas perundang-undangan. Tapi di lain sisi juga kita akan mencari kebenaran materiil dalam proses pemeriksaan saksi ini,” ujar Nyoman. Jro Jangol ditangkap pada 13 November 2017 malam saat bersembunyi di tengah sawah di Gianyar, Bali. Ia langsung ditahan di Mako Brimob Polda Bali. Jro Jangol menjadi buron kasus narkoba sejak jajaran Satres Narkoba Polresta Denpasar menggeledah rumahnya di Jl Pulau Batanta, Denpasar, pada Sabtu (4/11). Dari penggeledahan itu, petugas mendapatkan puluhan paket sabu dan senjata api jenis Beretta.

Mantan Wakil Ketua DPRD Bali, Jro Gede Komang Swastika alias Mang Jangol terancam hukuman mati. Sebab ia didakwa menjadi pengedar narkoba. Mantan politikus Partai Gerindra itu duduk di kursi pesakitan di PN Denpasar. Jaksa mendakwa Mang Jangol dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 114 ayat 2, Pasal 131 ayat 1 dan pasal 111 ayat 1 UU Narkotika. Pasal 114 ayat 2 berbunyi: Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 kg atau melebihi 5 batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ditambah 1/3. Meski didakwa pasal berlapis, terdakwa melalui kuasa hukumnya tidak mengajukan eksepsi. Sidang tersebut diketuai hakim Ida Ayu Pradnyadewi dengan jaksa penuntut umum (PJU) Dewa Narapati. “Kami lebih mementingkan mengacu pada asas trilogi peradilan yang bersifat sederhana, cepat dengan biaya murah. Itu pertimbangan kita untuk tidak mengajukan aksepsi karena toh eksepsi itu pada akhirnya juga sebenarnya bisa dipertimbangkan di awal tapi kebanyakan dipertimbangkan di akhir putusan,” kata kuasa hukum Mang Jangol, Nyoman Sudiantara di PN Denpasar, Jalan Panglima Sudirman, Denpasar, Kamis (1/3/2018). Nyoman tidak mengajukan eksepsi karena tidak ingin sidang bertele-tele. “Nah untuk itu kita tidak mau bertele-tele, berlama-lama. Kita ingin proses ini berjalan sedemikian rupa sesuai dengan asas perundang-undangan. Tapi di lain sisi juga kita akan mencari kebenaran materiil dalam proses pemeriksaan saksi ini,” ujar Nyoman. Jro Jangol ditangkap pada 13 November 2017 malam saat bersembunyi di tengah sawah di Gianyar, Bali. Ia langsung ditahan di Mako Brimob Polda Bali. Jro Jangol menjadi buron kasus narkoba sejak jajaran Satres Narkoba Polresta Denpasar menggeledah rumahnya di Jl Pulau Batanta, Denpasar, pada Sabtu (4/11). Dari penggeledahan itu, petugas mendapatkan puluhan paket sabu dan senjata api jenis Beretta.

Wakil Ketua DPRD Bali Jro Gede Komang Swastika ditangkap polisi di kawasan Gianyar. Rupanya mantan politisi Gerindra itu ditangkap saat bersembunyi di saung di tengah sawah. Informasi yang dihimpun detikcom dari Polda Bali, Senin (13/11/2017) malam, politisi tersebut ditangkap pada pukul 20.00 WITa. Ia ditangkap saat bersembunyi di saung di tengah sawah Kecamatan Payangan, Gianyar, Bali. Informasi keberadaan pria yang akrab disapa Jro Jangol itu didapatkan petugas dari masyarakat yang melihatnya berkunjung ke rumah ibu kandungnya, 2 kilometer dari lokasi penangkapan. Ia mengunjungi ibunya pada Minggu (12/11) malam. Jro Jangol kemudian bermalam di rumah ibunya, tapi malam ini ia memilih untuk tidur sekaligus bersembunyi di tengah sawah. Jro Jangol membawa sepeda motor untuk mencapai saung yang bisa meneduhkannya dari hujan. Kabid Humas Polda Bali Kombes Hengky Widjaja maupun Kapolresta Denpasar Kombes Hadi Purnomo belum memberikan konfirmasi terkait penangkapan ini. Jro Jangol diduga menjadi bandar narkoba jenis sabu di rumahnya, Jl Pulau Batanta, Denpasar, Bali. Jro Jangol bahkan menyediakan 5 kamar di rumah untuk pelanggannya menggunakan sabu. Ia dijerat dengan UU Narkoba dan UU Darurat No 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api, ancaman hukuman penjara seumur hidup menanti Jro Jangol.

Dewi Ratna, istri ketiga Wakil Ketua DPRD Bali, Jro Gede Komang Swastika yang juga menjadi buronan kasus narkoba ditangkap. Ia ditangkap di persembunyiannya yang masih berada di Pulau Bali. “Yang perempuan berhasil ditangkap tadi Senin (6/11) malam,” kata Kapolda Bali Irjen Pol Petrus R Golose di Denpasar, Bali, Selasa (7/11/2017). Dewi diketahui berperan sebagai kepanjangan tangan dari Swastika yakni memberikan stok sabu kepada para pembeli. Ia adalah istri ketiga dan tinggal di kediaman Swastika di Jl Pulau Batanta, Denpasar. “Yang bersangkutan masih dilakukan pemeriksaan. Jadi yang buron tinggal dua (Swastika dan kakak kandungnya Wayan Kembar),” ujar Petrus. Masih belum diketahui lokasi dan kronologi penangkapan terhadap Dewi. Namun petugas telah menahannya di Mapolresta Denpasar untuk pengembangan lebih lanjut. Jajaran Satres Narkoba Polresta Denpasar menggeledah kediaman Swastika pada Sabtu (4/11) lalu. Ditemukan puluhan paket sabu dengan berat total 20,73 gram netto sabu dan uang tunai Rp 37 juta lebih. Swastika, Dewi dan Kembar melarikan diri sebelum penggeledahan dimulai. Politisi Gerindra itu dijerat dengan Pasal 112 UU Narkotika dan UU Darurat No 12 tahun 1951 tentang Senjata Api.

Wakil Ketua DPRD Bali Jro Gede Komang Swastika menjadi buron kasus narkoba jenis sabu. Kini mantan politikus Gerindra itu telah ditangkap oleh jajaran Polda Bali di kawasan Gianyar, Bali. Informasi yang dihimpun detikcom dari Polda Bali, Senin (13/11/2017) malam, menyebutkan politikus yang akrab disapa Jro Jangol itu ditangkap Satgas Cyber, Transnational and Organized Crime (CTOC) Polda Bali. Ia ditangkap di Payangan, Gianyar, Bali, sekira pukul 22.00 Wita. Namun Kabid Humas Polda Bali Kombes Hengky Widjaja maupun Kapolresta Denpasar Kombes Hadi Purnomo belum memberikan konfirmasi hingga berita ini ditayangkan. Jro Jangol tengah dibawa petugas menuju Markas Polda Bali di Jl WR Supratman, Denpasar, Bali. Hingga pukul 23.30 Wita, petugas yang membawa Jro Jangol belum juga tiba di Polda Bali. Sejumlah pekerja media masih bertahan menantikan kedatangan Jro Jangol. Jro Jangol menjadi tersangka bandar narkoba jenis sabu. Selain memperjualbelikan sabu, Jro Jangol menyediakan lima ruangan khusus di rumahnya, Jl Pulau Batanta No 70, Denpasar, untuk pelanggannya menggunakan barang haram itu. Jro Jangol juga diketahui memiliki sejumlah airsoft gun dan satu senjata api jenis Beretta. Ia melarikan diri ketika petugas Polresta Denpasar menggeledah kediamannya pada Sabtu (4/11).

Kasus narkoba, Wakil Ketua DPRD Bali dan istri kedua jadi tersangka. Kombes Pol Hadi Purnomo, terkait kasus penggerebekan di rumah Wakil Ketua DPRD Bali jumlah tersangka bertambah menjadi 9 orang. Hanya saja Komang, Dewi dan Suadana masih buron. Wakil Ketua DPRD Bali Jero Gede Komang Swastika ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus narkoba. Selain Komang, istri keduanya bernama Dewi dan kakak kandungnya Wayan Suadana alias Wayan Kembar juga ditetapkan sebagai tersangka. Dengan demikian kata Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Hadi Purnomo, terkait kasus penggerebekan di rumah Wakil Ketua DPRD Bali jumlah tersangka bertambah menjadi 9 orang. Hanya saja Komang, Dewi dan Suadana masih buron. “Setelah kami lakukan gelar perkara, langsung menetapkan mereka (Mang Jangol, istri kedua dan kakak kandungnya) menjadi tersangka,” ujarnya di Denpasar, Senin (6/11). Dia menjelaskan, penetapan tersangka tersebut berdasarkan alat-alat yang dimiliki. Bukti pertama yaitu ada narkoba jenis sabu sebanyak 7 paket dengan berat 15 gram, kemudian ada senjata tajam dan senjata api. Lalu bukti yang ketiga berdasarkan keterangan saksi-saksi yang saat ini mencapai puluhan orang. Kemudian dari keterangan para ahli bahwa barang yang ditemukan di dalam kamar anggota dewan tersebut adalah benar-benar narkoba. “Ini sudah ada empat bukti. Kalau kami biasanya menjadikan orang sebagai tersangka itu cukup dua bukti saja, ini ada empat bukti secara otomatis kami menjadikan dia sebagai tersangka,” ungkapnya. Dia menyatakan, bukan berarti Wakil Ketua DPRD Bali kebal hukum. “Tidak ada yang kebal terhadap hukum. Meskipun dia Wakil Ketua DPRD Bali tetap saja jadi tersangka apa lagi ini kasus narkoba,” ujarnya. Dia menjelaskan, bahwa Wakil DPRD tersebut merupakan bandar narkoba. “Jelas dia bandar narkoba. Di rumahnya itu ada tempat transaksi dan ada tempat untuk memakai barang haram tersebut. Itu kekuatan kita untuk menetapkan dia sebagai tersangka,” ungkapnya. Hadi Purnomo menerangkan, bahwa ada lima kamar khusus yang dijadikan tempat untuk mengonsumsi narkoba. “Kamar-kamar itu dilengkapi dengan CCTV. Banyak CCTV yang ada di sana,” ucapnya.

Related Posts

Comments are closed.