Eks Tapol Filep Karma Sempat Tertahan di Soetta, Ini Kata Polisi

Eks Tapol Filep Karma Sempat Tertahan di Soetta, Ini Kata Polisi

Eks tahanan politik Filep Karma sempat tertahan petugas Avsec dan Polisi Militer TNI AU di Bandara Soekarno-Hatta. Aktivis Papua itu sempat diinterogasi karena mengenakan ‘pin’ bergambar bintang kejora yang dipasang di dadanya. Kapolres Bandara Soekarno-Hatta Kombes Ahmad Yusep Gunawan membenarkan adanya kejadian pada Selasa (2/1) pukul 21.00 WIB tersebut. Yusep mengatakan, pihaknya hanya menerima pelimpahan dari pihak Avsec dan Pom AU yang mencurigainya. “Dia dibawa Pom AU dan Avsec, setelah diminta keterangan terkait adanya atribut dari kertas diduga ada lambang bintang kejora,” kata Yusep kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (3/1/2018). Polisi kemudian menginterogasinya. Kepada polisi, Filep mengatakan bahwa dirinya tidak punya niat apa-apa memasang ‘pin’ tersebut. “Itu pinnya juga dari kertas, hasil keterangan yang bersangkutan bahwa motivasinya hanya senang saja menggunakan hal itu dan tidak ada niatan apa-apa,” lanjut Yusep. Terkait pemasangan pin berlambang bintang kejora itu, Yusep masih mendalami apakah ada dugaan tindak pidana di dalamnya. “Masih kita koordinasikan. Ini (pin) dari kertas, masih kita coba terapkan pasal 107 KUHP apakah di dalamnya terkandung itu, tapi tidak kita temukan,” sambungnya. Yusep membantah pihaknya menahan Filep. Setelah diambil keterangan, Filep dikembalikan ke pihak pengacara. Ia menambahkan kedatangan Filep ke Jakarta adalah untuk transit guna melanjutkan perjalanan ke Jerman dalam rangka mengikuti konferensi terkait HAM (Hak Asasi Manusia). “Sekarang sudah kita serahkan ke pengacara. Sekarang di Jakarta, sudah diserahkan ke pengacara, tdak dilakukan penahanan,” tutup Yusep.

Eks tahanan politik Filep Karma sempat tertahan petugas Avsec dan Polisi Militer TNI AU di Bandara Soekarno-Hatta. Aktivis Papua itu sempat diinterogasi karena mengenakan ‘pin’ bergambar bintang kejora yang dipasang di dadanya. Kapolres Bandara Soekarno-Hatta Kombes Ahmad Yusep Gunawan membenarkan adanya kejadian pada Selasa (2/1) pukul 21.00 WIB tersebut. Yusep mengatakan, pihaknya hanya menerima pelimpahan dari pihak Avsec dan Pom AU yang mencurigainya. “Dia dibawa Pom AU dan Avsec, setelah diminta keterangan terkait adanya atribut dari kertas diduga ada lambang bintang kejora,” kata Yusep kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (3/1/2018). Polisi kemudian menginterogasinya. Kepada polisi, Filep mengatakan bahwa dirinya tidak punya niat apa-apa memasang ‘pin’ tersebut. “Itu pinnya juga dari kertas, hasil keterangan yang bersangkutan bahwa motivasinya hanya senang saja menggunakan hal itu dan tidak ada niatan apa-apa,” lanjut Yusep. Terkait pemasangan pin berlambang bintang kejora itu, Yusep masih mendalami apakah ada dugaan tindak pidana di dalamnya. “Masih kita koordinasikan. Ini (pin) dari kertas, masih kita coba terapkan pasal 107 KUHP apakah di dalamnya terkandung itu, tapi tidak kita temukan,” sambungnya. Yusep membantah pihaknya menahan Filep. Setelah diambil keterangan, Filep dikembalikan ke pihak pengacara. Ia menambahkan kedatangan Filep ke Jakarta adalah untuk transit guna melanjutkan perjalanan ke Jerman dalam rangka mengikuti konferensi terkait HAM (Hak Asasi Manusia). “Sekarang sudah kita serahkan ke pengacara. Sekarang di Jakarta, sudah diserahkan ke pengacara, tdak dilakukan penahanan,” tutup Yusep.

Artis Jennifer Dunn tercatat telah tiga kali ditangkap polisi terkait kasus narkoba. Setelah tiga kali tertangkap, apakah hukuman bagi wanita yang akrab disapa Jedun itu? Awalnya, Jedun pertama kali berurusan dengan polisi saat usianya masih 15 tahun. Ia ditangkap pada tahun 2005 karena terciduk memiliki ganja. Namun Jedun kembali tertangkap mengkonsumsi narkoba pada Oktober 2009. Polisi menggerebek kos Jennifer Dunn di kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan dan menemukannya sedang berpesta seks dan narkoba. Saat itu dia ditangkap polisi karena menyimpan tujuh butir ekstasi di rumahnya. Dia kemudian divonis empat tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada 2010 atas kepemilikan narkoba dan mendekam di Rutan Pondok Bambu. Selanjutnya pada awal Januari 2018 ini Jedun kembali terciduk polisi di rumahnya di Jl Bangka XIC, Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Minggu (31/12/2017) pukul 17.30 WIB karena kedapatan memiliki narkoba. Kali ini dia mempunyai sabu seberat 1 gram yang dipesan melalui pengedar narkoba berinisial FS. Awalnya penangkapan Jedun tersebut karena polisi berhasil mengungkap adanya komunikasi antara FS dengan Jedun. Sebelum Jedun ditangkap, polisi pun menangkap FS terlebih dulu di lokasi terpisah dengan Jedun. Dari hasil pemeriksaan FS, Jedun diketahui sudah sering memesan sabu. Kasubdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvin Simanjuntak mengatakan Jedun sudah satu tahun mengenal FS. Selama itu, Jedun sering memesan narkotika kepada FS. “Dalam proses perkenalan satu tahun dan pengakuan di berita acara pemeriksaan (BAP) FS, (Jennifer Dunn) sudah melakukan pemesanan sebanyak sepuluh kali,” kata Calvin kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (2/1/2018). Sementara itu, Jennifer mengelak. Ia mengaku tidak terlalu sering memesan narkoba kepada FS. “Dari sepuluh kali ini sedang didalami kapan dan di mana, tetapi pengakuan dari JD hanya tiga kali (pemesanan),” ujar Calvin. Terkait adanya perbedaan keterangan itu, polisi akan mengonfrontasi keduanya. “Nanti kita konfrontir,” imbuh Calvin. Dalam peristiwa ini beberapa jam sebelum ditangkap Jennifer telah mengonsumsi sabu kiriman tersangka FS sebesar 0.5 gram. Awalnya Jedun memesan sabu seberat 1 gram kepada tersangka FS. Keduanya kemudian bertransaksi di sebuah restoran cepat saji di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Minggu (31/12/2017). Saksikan video 20detik tentang Jennifer Dunn di sini: [Gambas:Video 20detik] Setelah transaksi itu, Jennifer mengonsumsi sabu tersebut. Namun, karena pesanannya dirasa kurang, Jennifer kemudian meminta FS mengirimkan sisa sabu kepadanya. Hal itu diketahui setelah polisi melakukan penelusuran chat antara keduanya. “Chat komunikasi ini sangat jelas bahwa kapan memesan, di mana diantar, dan pada saat pengantaran untuk barang bukti ini (0,6 gram sabu), karena ada pembicaraan kenapa barang bukti yang diantar jam 09.00 WIB ini kok sedikit, jadi mau diantar yang kedua,” tambah Calvin. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut Jedun telah memesan narkoba sekitar 10 kali dari FS. Namun Jedun menolak, mulutnya juga mengucapkan, “Tidak… tidak,” saat itu. Jennifer juga sempat terlihat terkejut ketika Argo salah menyebut barang bukti yang disita polisi dari Jennifer. Argo menyebut polisi menyita bong dari rumah Jennifer, yang kemudian dia ralat menjadi sedotan untuk pipet sabu. “Hah? Nggak ada…,” Jennifer nyeletuk. Pasca kejadian tersebut Jedun meminta maaf. Kemudian dia juga mengaku menyesal. Namun berdasarkan pantauan awak media di lokasi, Jennifer tampak tersenyum-senyum ketika dihadirkan dalam jumpa pers. Dia sama sekali tidak menutupi wajahnya dari sorotan kamera. “Cuma mau ngomong maaf semuanya buat temen-temen media dan keluarga semuanya,” ujar Jennifer sambil tertawa di hadapan wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (2/1/2018). “Aku nyesel, sudah itu saja,” ujar Jennifer sambil tertawa lagi, yang disambut sorakan wartawan.

Guys, periode ketiga Hidden Quiz Top 5 News Kopi Luwak sudah berakhir. Apakah Anda 6 orang yang beruntung di antara 5.612 pembaca detikcom yang ikut games ini? Berikut daftar pemenangnya: iPhone 7 Ramadhan Papua Putra Sony Alpha A5100 Winda Ermina OPPO F3 Imam Muharam Uang Tunai Rp 500.000 + Paket Kopi Luwak Ari Syafa’at Uang Tunai Rp 350.000 + Paket Kopi Luwak Muh Imam Muttaqin Uang Tunai Rp 250.000 + Paket Kopi Luwak Fifiana Alam Sari Apakah ada namamu di dalam daftar tersebut? Selamat untuk para pemenang. Pemenang akan dihubungi oleh detikcom melalui email dan telepon. Informasi lebih lanjut email ke promosi@detikcom dengan subjek: Hidden Quiz Top 5 News Kopi Luwak.

Dinas Pendidikan Jawa Timur membantah kabar viral yang menyebut SMA 3 Lamongan menahan ijazah siswi karena tunggakan pembayaran. Staf Ahok, Natanael T Oppusunggu, yang disebut-sebut dalam kabar itu, angkat bicara. “Kepala Sekolah dan Keluarga sudah mengakui bahwa Pak Ahok membantu untuk pengambilan ijazah. Ketika saya mau bayarkan dan minta nomor rekening pihak sekolah tidak mau jadi mereka mengeluarkan ijazahnya, tanpa dibayar. Tapi poinnya tanpa saya hubungi dan mau bayarkan, siswi ini ijazahnya ditahan. Ketika si siswa informasikan ada staf Pak Ahok mau bayar baru lah mereka mau kasih ijazahnya. Selama ini memang bisa ijazahnya keluar?” kata Natanael melalui pesan singkat kepada wartawan, Rabu (3/1/2018). Dinas Pendidikan Jawa Timur telah menginvestigasi kabar viral ini. Berdasarkan hasil investigasi itu, dinas menyatakan tidak ada penahanan ijazah yang dilakukan pihak sekolah. Perihal polemik ditahan-tidaknya ijazah siswi F karena ada tunggakan, keluarga siswi juga sudah bersuara. Rochima, kakak siswi F, mengatakan keluarga mendapatkan pemahaman bahwa ijazah F belum dapat keluar apabila uang operasional sekolah belum dilunasi. Pemahaman itu didapatkan setelah pihak keluarga mengontak wali murid perihal syarat agar bisa melakukan cap tiga jari untuk ijazah. “Saya WA (WhatsApp) wali muridnya. ‘Pak saya mohon bantuannya ini teman teman adik saya semuanya pada cap tiga jari, apakah adik saya bisa cap tiga jari karena masih punya tunggakan.’ Lalu dibalas, ‘Kapan Bu bisa melunasi tunggakannya. Ya Ibu punya berapa tolong dikasihkan sama kasih surat perjanjian untuk melunasi kapan, karena ini merupakan biaya operasional sekolah,'” tutur Rochima, Selasa (2/1/2018). Mendapatkan penjelasan itu, kata Rochima, orang tuanya lalu mengajukan pinjaman ke koperasi. Dijanjikan uang akan cair pada Januari. Sementara itu, pada waktu berdekatan, siswi F menyurati Ahok dan meminta bantuan mengenai ijazah yang disebut ditahan pihak sekolah. Ahok lantas meminta stafnya yang bernama Natanael untuk membantu F. “Surat dari Pak Natael, stafnya Pak Ahok, meminta pihak keluarga meminta rekening sekolah, untuk melunasi tunggakan FM agar ijazahnya bisa keluar,” kata Rochima. Setelah mendapat surat dari Ahok, F dan Rochima pun menghadap ke sekolah dan bertemu dengan Kepala SMAN 3 Lamongan Wiyono. Rochima mengatakan Wiyono memang langsung memberikan ijazah kepada F. Wiyono tak membaca surat dari Ahok tersebut. ” Wis gak atek ngene-ngenean, Bu, aku wis percoyo (Sudah nggak pakai begituan Bu, saya sudah percaya, red). Silakan diambil. Sekolah tidak menerima kiriman uang lewat rekening. Silakan untuk siswinya saja,” kata Rochima menirukan ucapan Wiyono saat ditunjukkan surat dari Ahok. Rochima mengatakan, pada akhirnya, uang dari Ahok itu tidak ditransfer ke rekening sekolah. Pihak sekolah tidak membuka nomor rekening kepada Rochima. “Tidak ditransfer ke sekolah,” ujar Rochima.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkit soal bantuan jutaan dolar yang diberikan negaranya kepada sejumlah negara. Negara yang dimaksud di antaranya kepada warga Palestina. Trump selama ini selalu menyebut ‘Palestinians’ yang berarti warga Palestina dan bukannya Palestina. Ia mengancam akan menahan bantuan jutaan dolar yang selama ini dikucurkan apabila warga Palestina tak juga mau melakukan perundingan damai. Dilansir dari Reuters, Rabu (3/1/2017), Trump mem- posting dua cuitan di Twitternya pada Selasa (2/1) waktu setempat. Berikut 2 Tweet tersebut: [Gambas:Twitter] [Gambas:Twitter] Mengacu pada website United Nations Relief And Works Agency (UNRWA), sepanjang 2016, AS telah menyumbang untuk agen tersebut sebesar hampir USD 370 juta (sekitar Rp 4,99 triliun). Dua hari sebelumnya, dikutip dari BBC, Trump menyebut AS bodoh karena telah memberi bantuan senilai hampir Rp 450 triliun kepada Pakistan. “Amerika Serikat dengan bodohnya telah memberi Pakistan lebih dari 33 miliar dollar (AS) dalam bentuk bantuan selama 15 tahun terakhir dan mereka tidak memberikan apa-apa, kecuali kebohongan dan penipuan, berpikir para pemimpin kita bodoh,” cuit Trump. Dia menambahkan, “Mereka memberi tempat perlindungan kepada para teroris yang kita buru di Afghanistan, dengan sedikit bantuan. Tidak lagi!” Terkait kicauan Trump ini, Pemerintah Pakistan memanggil Dubes AS di Islamabad, David Hale. Namun isi pembicaraan dalam pemanggilan itu tidak diungkap ke publik. “Kami tidak berkomentar soal substansi pertemuan,” ucap juru bicara Kedutaan Besar AS di Pakistan.

Wali Kota Bandung yang sedang melaju sebagai bakal calon Gubernur Jawa Barat (Jabar) 2018, Ridwan Kamil, menyambangi DPP PDIP. Partai berlambang banteng moncong putih itu membuka diri. Pantauan di DPP PDIP, Jl Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (3/1/2018), Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto lebih dulu datang. Tak lama kemudian, Ridwan Kamil tiba di DPP PDIP pada pukul 11.11 WIB. “Kami menanggapi sebagai hal positif, karena di dalam proses mencari pemimpin sebagai tanggung jawab PDIP untuk Jabar kami membuka ruang dialog itu, sehingga bagi kami yang mengetuk pintu kami membuka. Ada dialog dan hal-hal yang kita gali bersama,” kata Hasto. [Gambas:Video 20detik] Hasto mengatakan Ridwan Kamil akan ditemui oleh Andreas Pareira dan Bambang DH selaku tim pemenangan pemilu PDIP. Hasto menambahkan PDIP membuka ruang untuk bekerja sama dengan parpol lain guna mengusung cagub Jabar. “PDIP mempunyai dua opsi. Opsi pertama, menggunakan tanggung jawab kami yang dipercaya rakyat untuk mengusung kombinasi antara internal dan eksternal. Lalu opsi yang kedua, itu antara bekerja sama dengan partai-partai lain dengan mengusung mereka yang membuka persahabatan dan juga bersedia bergandengan tangan,” ujar Hasto.

Bakal cagub Jabar Ridwan Kamil mendatangi kantor DPP PDIP. Kedatangan Kang Emil ini terjadi di saat injury time Pilgub Jabar 2018. Pantauan di lokasi, Jl Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (3/1/2018), Emil tiba pukul 11.11 WIB. Ia disambut Ketua DPP PDIP Andreas Hugo. Ketua DPP PDIP Andreas Hugo (kiri) mendampingi Ridwan Kamil di DPP PDIP. (Tsarina Maharani/detikcom) [Gambas:Video 20detik] Emil datang dengan mengenakan batik kebiruan. Ia tak menjelaskan isi kedatangannya ke kantor DPP PDIP. “Iya, liat nanti ya. Nanti. Kalau sekarang kan belum jelas,” ucap Emil saat tiba di lokasi. Sebelumnya diberitakan, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto telah menyebutkan nama-nama bakal calon Gubernur Jabar yang digodok PDIP. Nama Ridwan Kamil pun masuk rincian tersebut. “Ya (Anton) namanya masih on . Itu adalah TB Hasanudin, Anton Charliyan, Pak Iwa Sekda, Ono Surono, itu nama-nama on . Kemudian terakhir Pak RK juga membangun komunikasi dengan kami, kecuali sebagai partai yang mengedepankan semangat musyawarah, kami menanggapi keinginan tersebut,” ucapnya di kawasan Jaksel, Selasa (2/1). Saat ini, untuk maju dalam Pilgub Jabar 2018, Emil telah didukung tiga partai koalisi, yaitu NasDem, PPP, dan PKB. Selain itu, DPD Hanura Jabar telah memberikan surat tugas (ST) kepada Emil.

Bakal cagub Jabar Ridwan Kamil (Emil) mengaku kedatangannya ke kantor DPP PDIP sekadar bersilaturahmi. Emil turut membawa oleh-oleh khas Bandung. “Jadi ini kan awal tahun. Saya datang ke sini bertemu dengan sahabat lama Pak Bambang (Ketua Bappilu PDIP). Karena masih awal tahun baru, saya mengucapkan tahun baru, plus bawa oleh-oleh Bandung, kira-kira begitu,” ujar Emil di kantor DPP PDIP, Jl Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (3/1/2018). “Jadi kami ngobrol sambil makan biskuit, macam-macamlah ya, Kartika Sari dan sebagainya,” sambung Emil. Emil mengaku hanya berbincang ringan dengan elite PDIP hari ini. Pertemuan itu belum membahas lebih jauh terkait Pilgub Jabar 2018. “Namanya silahturahmi, belum menjurus terlalu jauh. Ini kan baru kali pertama kan, jadi lebih mencairkan suasana ngobrol yang ringan-ringan, jadi pertanyaan-pertanyaan tadi yang terlalu berat saya kira belum dibahas,” ucap Emil. Emil juga belum bisa memastikan kapan dirinya akan bertemu Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun ia berharap mendapat dukungan dari PDIP. “Kalau memang memungkinkan, kenapa tidak?” tutupnya.

Related Posts

Comments are closed.