Dirkrimsus Polda Papua Dicatut untuk Penipuan, 5 Orang Ditangkap

Dirkrimsus Polda Papua Dicatut untuk Penipuan, 5 Orang Ditangkap

Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap lima pelaku penipuan yang mencatut nama Dirkrimsus Polda Papua Kombes Edi Swasono. Korban mengalami kerugian hingga puluhan juta dalam kasus ini. “Sindikat penipuan dengan cara menelepon korban, mengaku pejabat pemerintahan, dalam hal ini pejabat polisi di Polda Papua,” kata Wadireskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (25/1/2018). Keempat pelaku itu yakni ND alias A (32), AIS alias W (26), T (24), HL (25) dan R (38). Para pelaku berperan sebagai pelaku yang mengaku polisi, pencari informasi calon korban, penyedia rekening, penjual rekening dan perantara penjual rekening. “Mereka mencari korban secara acak,” imbuh Ade Ary. Kasus ini terbongkar setelah polisi menerima laporan dari korban berinisial DMP. Korban sebelumnya mendapatkan SMS dari seseorang yang mengaku sebagai Kombes Edi, ketika dirinya berada di Jl Gajah Mada, Jakarta Barat pada Kamis 11 Januari 2018. “Pelaku berjumlah tiga orang yang berasal dari Sulsel, menggunakan sarana handphone untuk mengaku jadi pejabat agar korban tergerak kirim sejumlah uang,” sambungnya. Sementara itu, Pjs Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Stefanus mengatakan korban yang merasa yakin bahwa pelaku adalah Kombes Edi, dia pun akhirnya mentransfer uang. “Korban sempat mentransfer Rp 100 juta ke para pelaku,” ujar Stefanus. Di sisi lain, korban kemudian mengonfirmasi ke sejumlah pihak, termasuk kepada Kombes Edi terkait hal itu. Setelah mengetahui bahwa Edi tidak pernah memintanya mengirimkam uang, korban segera memblokir transferannya itu. “Sehingga korban memblokir dan yang terkirim baru Rp 70 juta, yang Rp 30 juta terselamatkan,” sambungnya. Para pelaku ini bekerja sama dengan sindikat pemalsuan rekening. Di mana, mereka menyediakan rekening dengan identitas yang dipalsukan, sebagai rekening penampungan. “Mereka membeli rekening pakai dari sindikat pemalsuan rekening yang juga kita tangkap,” imbuhnya. Sejumlah ATM dan buku tabungan disita polisi dari para pelaku. Polisi juga menyita uang tunai Rp 56 juta hasil kejahatan para pelaku, dan sejumlah handphone.

Kompol Johana Latuharhary mengalami luka-luka setelah dianiaya oleh seorang sopir truk di Karawaci, Tangerang. Penganiayaan dipicu masalah serempetan di jalan. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (24/1) sekitar pukul 19.00 WIB. Saat itu, Polwan yang menjabat sebagai Kasubbag Bin Ops Bagops Polres Metro Tangerang Kota mengemudikan mobil Honda Jazz di Tol Jakarta-Merak. Pada saat korban berada di Tol Karawaci arah Kebon Nanas, mobil korban terserempet bemper bagian belakang sebelah kanan truk Fuso BE 9616 CK. “Kemudian dengan adanya insiden tersebut, korban dan pelaku berhenti, kemudian keduanya turun dari mobil dan terjadi cekcok mulut antara korban dengan pelaku di situ,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono kepada detikcom, Kamis (24/1/2018). Setelah cekcok mulut itu, korban merasa permasalahan dengan pelaku sudah selesai sehingga beregas masuk ke dalam mobilnya. Sebelum berangkat kembali, korban kemudian hendak menelepon temannya. “Tidak lama kemudian pelaku mengklakson-klakson mobil korban dari arah belakang,” ucapnya. Foto: Kompol Johana Latuharhary (Bil Wahid-detikcom) Tiba-tiba pelaku turun dari mobilnya dan menghampiri mobil korban. Pelaku kemudian memukul kaca mobil korban sebelah kanan dengan menggunakan tangan dan membuka paksa pintu mobil korban. “Pelaku kemudian melakukan pemukulan ke arah mata korban bagian kanan sebanyak 1 kali dengan menggunakan tangan kosong yang mengakibatkan luka memar,” sambungnya. Korban pun tidak tinggal diam. Dia membela diri dan mengambil kunci roda di mobilnya. Namun upaya korban sia-sia karena pelaku berhasil mencengkeram tangannya dan pelaku kembali memukulinya. “Korban dipukuli lagi hingga mengalami luka sobek di bagian kepala kirinya dan mengakibatkan pendarahan,” tuturnya. Setelah itu pelaku melarikan diri ke arah Jakarta. Sementara korban langsung ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Seorang wanita pasien National Hospital menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan perawat pria. Siapa sangka, korban ternyata istri pengacara. Suami korban tersebut adalah Yudi Wibowo Sukinto. Tidak terima dengan perlakuan yang diterima istrinya, Yudi pun melaporkan kasus pelecehan seksual ini ke SPKT Polrestabes Surabaya. [Gambas:Video 20detik] dalam laporannya ke SPKT, Yudi melaporkan perbuatan asusila yang dilakukan Junaidi, perawat National Hospital, terhadap istrinya yang saat itu baru saja selesai menjalani operasi kandungan. “Dia (korban) operasi kandungan, dari ruang operasi keluar di ruang pemulihan. Setelah operasi kan bajunya setengah telanjang, diraba payudaranya 2-3 kali, istri saya terasa,” kata Yudi Wibowo Sukinto, usai melapor di SPKT Polrestabes Surabaya, Kamis (25/1/2018). [Gambas:Video 20detik] Yudi mengungkapkan rasa jengkelnya pada petugas medis yang sudah melecehkan istrinya yang saat itu dalam keadaan tidak sadar akibat obat bius. “Kurang ajar itu, perawat cabul. Bisa saja bukan hanya istri saya mungkin orang lain juga mengalami hal serupa,” ungkapnya. Meski merasa marah dan tidak terima dengan perilaku yang dialami istrinya, Yudi pasrah dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum ke kepolisian. “Kalau manusia bisa minta maaf bukan menghapus pidananya. Saya serahkan sepenuhnya ke penyidik dan kami percaya akan ada hukuman setimpal,” ujar Yudi.

Polwan Polres Metro Tangerang Kota Kompol Johana Latuharhary dianiaya oleh sopir truk karena persoalan serempetan di Tol Karawaci. Pelaku ditangkap polisi hanya berselang 1,5 jam setelah kejadian. “Pelaku atas nama Faturahman ditangkap di Tol Fatmawati,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (25/1/2018). Peristiwa terjadi pada Rabu (24/1) sekitar pukul 19.00 WIB. Saat itu Joana mengemudikan mobil Honda Jazz, diserempet oleh truk Fuso bernopol BE 9619 CK, di Tol Karawaci. Korban dan pelaku kemudian turun dari mobil. Setelah itu terjadi cekcok mulut. Setelah itu, korban kembali ke mobilnya. Dan ketika korban hendak menelepon temannya, pelaku mengklakson mobil korban berulang kali. Pelaku kemudian turun dari truk dan memukul-mukul kaca mobil. Korban dipukuli wajahnya hingga memar. Ketika korban hendak membela diri, pelaku kembali memukulinya bertubi-tubi sehingga mengakibatkan korban mengalami luka robek di bagian wajahnya. “Setelah itu pelaku kan melarikan diri, nah kemudian pukul 20.30 WIB, pelaku berhasil ditangkap di Tol Fatmawati,” tuturnya.

Karaoke Kimura di Jalan Progo, Kota Madiun digerebek polisi. Dalam penggerebekan tersebut, polisi menemukan dua pasangan sedang melakukan hubungan badan di ruang VIP. “Iya, dini hari tadi kami mendatangi sebuah rumah karaoke di Kota Madiun,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera kepada detikcom, Kamis (25/1/2018). Barung juga membenarkan adanya dua pasangan yang sedang melakukan hubungan badan di sebuah ruang VIP karaoke tersebut. Mereka adalah dua pemandu lagu dan dua pengunjung. Polisi juga membawa 25 perempuan pemandu lagu, 1 mami, 1 kasir, dan 2 tamu. Karaoke Kimura digerebek diduga menjadi tempat mesum (Foto: istimewa) Sementara barang bukti yang dibawa adalah kondom, bra, celana dalam wanita, uang tunai, dan HP. Polisi melakukan penggerebekan karena karaoke tersebut disinyalir sering digunakan untuk tempat mesum. “Tempat karaoke kami police line. Semuanya kami bawa ke Polda Jatim. Kami sedang melakukan pemeriksaan,” tandas Barung.

Sebuah video viral dugaan pelecehan seksual seorang pasien wanita yang dilakukan perawat laki-laki beredar. Video tersebut menggambarkan pasien wanita duduk di ranjang menangis dan meminta pengakuan perawat laki-laki. Pasien tersebut menangis dan didampingi dua perawat. Diduga video itu berada di salah satu rumah sakit di Surabaya. [Gambas:Video 20detik] Waka Polsek Wiyung AKP Budi Waluyo membenarkan ada laporan tentang video viral tersebut. “Iya benar. Yang lapor suaminya, tapi kami tidak punya unit PPA dan kami arahkan ke Polrestabes Surabaya,” kata Wakapolsek saat dihubungi, Kamis (25/1/2017).

Mantan Wakil Ketua Banggar DPR Mirwan Amir mengatakan proyek e-KTP tidak pernah dibahas di dalam rapat Banggar. Ia pun mengaku tidak tahu jalannya proyek e-KTP. “E-KTP memang tidak pernah dibahas di Banggar (tapi) di Komisi II. Memang dalam UU MD3 kita tidak boleh membahas, Banggar memang hanya membahas postur APBN,” kata Mirwan dalam sidang lanjutan perkara korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (25/1/2018). Mirwan juga menampik anggapan pernah bertemu dengan Muhammad Nazaruddin terkait perencanaan proyek e-KTP. Ia menegaskan tidak pernah terlibat dalam proyek tersebut. “Ketemu Muhammad Nazaruddin dalam rangka perencanaan?” tanya anggota majelis hakim Emilia Djaja Subagja. “Tidak pernah,” jawab Mirwan. “Saudara sama sekali tidak terlibat?” tanya hakim Emilia. “Iya, tidak,” kata Mirwan. “Dalam tender?” tanya Emilia lagi. “Tidak,” ucap Mirwan. Dalam sidang pada Senin, 3 April 2017, mantan anggota DPR Muhammad Nazaruddin mengatakan Mirwan bertugas memastikan Banggar menyetujui anggaran proyek e-KTP. Mirwan disebut ‘mengkondisikan’ Komisi II DPR supaya menggolkan anggaran DPR berlanjut ke Banggar. “Iya, dibicarakan secara detail, pengusulan dari Kemendagri, nanti RDP-nya berapa kali dan mengkondisikan teman-teman di Komisi II itu supaya semua diterima usulannya itu dari Kemendagri,” ujar Nazar bersaksi dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Senin (3/4/2017).

Related Posts

Comments are closed.