Dipanggul Petugas Damkar, Anies: Pundaknya Keras-keras

Dipanggul Petugas Damkar, Anies: Pundaknya Keras-keras

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berbagi cerita saat dirinya dibopong petugas Damkar di HUT ke-99 Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta. Anies salut dengan stamina tinggi para petugas itu. “Saya tadi waktu saat saya menyaksikan petugasnya naik ke atas menggendong korban turun tangga kebetulan mereka itu kuat tapi itu saya lihat dari jauh. Terus giliran saya digendong saya pegang pundak mereka pundaknya keras-keras semua. kalau dilihat itu kuat kuat,” ujar Anies di halaman Kantor Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta, Jl KH Zainul Arifin No 71 Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menilai petugas pemadam kebakaran merupakan salah satu sosok yang dibutuhkan untuk membantu mengamankan Jakarta. Dia berharap para petugas bisa bekerja maksimal dan selalu menjaga stamina. “Saya bilang ini lah yang dibutuhkan, orang-orang yang kuat, orang-orang yang staminanya tinggi ikut memastikan bahwa Jakarta aman. Saya salut. Staminanya dijaga, latihannya jangan berkurang dan semangatnya terus tinggi,” katanya. Dalam HUT tersebut para petugas pemadam kebakaran juga unjuk kebolehan memamerkan aksi penyelamatan korban kebakaran. Para petugas mulai unjuk kebolehan dengan senam perahu karet, aksi penyelamatan korban kecelakaan kendaraan, sampai penyelamatan korban kebakaran yang terjadi di dalam gedung. Pada saat aksi penyelematan korban kebakaran pada gedung bertingkat, empat petugas Damkar menuruni gedung menggunakan tali. Setelahnya, empat petugas tersebut menyerahkan fire jacket dan kampak rescue kepada Anies.

Baca juga : aksi anies mainkan kapak saat hut ke 99 pemadam kebakaran

Anies Baswedan dengan kapak rescue (Foto: Nabilla Fatiara/kumparan) Peringatan Hari Ulang Tahun ke-99 Pemadam Kebakaran di Jakarta berlangsung meriah. Tidak hanya upacara, tapi ratusan pemadam kebakaran ikut unjuk aksi di depan Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan, jajaran Pemprov DKI dan masyarakat umum lainnya. Upacara berlangsung di halaman kantor Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta, Jalan KH. Zainul Arifin, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (1/3). Usai upacara, Anies memotong tumpeng nasi kuning yang kemudian diberikan kepada Kepala Dinas Pemadam Kebakaran DKI Subejo. Setelah itu, acara dilakukan oleh peragaan eksebisi oleh para petugas damkar. Demonstrasi pertama adalah saat 190 anggota pekerja harian lepas (PHL) Dinas Pemadam Kebakaran DKI memperagakan senam perahu karet. Puluhan petugas memainkan kemampuannya senam menggunakan perahu karet, sedangkan petugas lainnya melakukan gerakan lain dengan tongkat. VIDEO Demonstrasi berlanjut dengan aksi penyelamatan petugas Damkar saat terjadi kecelakaan lalu lintas, termasuk dengan cara penyelamatannya. Selanjutnya demonstrasi penyelamatan petugas yang dilakukan dari atas gedung. Dengan sigap dan cekatan mereka turun menggunakan tali webing. Sesampainya mereka di tanah, mereka membawakan Anies satu set rescue kit berupa jaket dan kapak. Anies dengan antusias menerima pemberian rescue kit oleh empat petugas damkar. Setelah itu ia memainkan kapak itu dengan Subejo dan Sekretaris Daerah DKI Saefullah. Anies Baswedan di HUT ke 99 Pemadam Kebakaran DKI (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan) Setelah seluruh demonstrasi selesai, para petugas Damkar berkumpul untuk kemudian menyanyikan yel-yel. Anies kemudian berjalan menuju mereka lalu ikut bertepuk tangan dan joget mengikuti alunan yel-yel. Setelah selesai yel-yel, Anies kemudian foto bersama sambil dinyanyikan, “Terima kasih kami ucapkan, terima kasih bapak gubernur atas semangatnya”, begitu penggalan lirik lagu. Setelah itu, ia digendong dan diarak-arak oleh petugas damkar menuju bangkunya. Saat diangkat, wajah Anies terlihat semangat, begitu juga dengan puluhan petugas yang menggendongnya. Sesampainya di kursinya, ia kemudian menyalami mereka. Seusai acara, Anies memberikan komentar saat dirinya digendong oleh petugas damkar itu. “Giliran saya digendong saya pegang pundak mereka. Pundaknya keras-keras semua. Saya pegang (pundaknya saat) diangkat. Kuat-kuat. Inilah orang-orang yang kita butuhkan, kuat dan punya stamina tinggi,” kata Anies.


Baca juga :

Dalam suatu kejadian yang tidak bersamaan waktunya, YM Maha Mogallana Thera bersama dua rekan seperjalanannya bersua dengan 2 (Dua) Mahluk halus/Jin/Setan (peta) . yang satu, seluruh tubuhnya terdiri dari tulang belulang sedangkan mahluk yang kedua, seluruh ubuhnya justru terdiri dari hanya daging saja. Kedua mahluk itu diketemukan YM Maha Monggala Thera, dalam keadaan sedang dikejar-kejar oleh tiga jenis burung yakni burung layang-layang, gagak dan pemakan bangkai. Burung-burung itu mengejar dan mematuki tubuhnya. Dua mahluk Peta itu berlari sambil menangis kesakitan karena tubuhnya terus-menerus dipatuki.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat setelah mereka bertemu Sang Buddha, maka Sang Buddha menjelaskan sebab-musabab mahkluk ini menjadi peta tulang dan daging adalah karena akibat kamma(perbuatan) buruk mereka dalam salah satu kehidupannya di masa lalu. Dulu mereka adalah seorang penjagal hewan. Akibat perbuatan buruknya ini, setelah meninggal dunia mereka terlahir di alam neraka selama jutaan tahun. Setelah keluar dari alam neraka mereka terlahir lagi sebagai peta yang berbentuk tulang belulang dan Peta yang berbentuk gumpalan daging dan dikejar-kejar terus menerus oleh burung layang-layang, burung gagak dan burung pemakan bangkai. Kehidupannya sebagai peta akan berakhir setelah kamma buruknya saat menjagal hewan berakhir.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ya! bermula dari ketertarikanku untuk mendapat jawaban maka mulailah ku baca Bhara Sutta ini lebih lanjut lagi. Semakin membaca, membaca dan membaca. Aku semakin menyadari bahwa yang kemudian kutemukan ternyata lebih dari sekedar pemuas dahaga rasa tertarik-ku! Aku bahkan menemukan sesuatu yang luarbiasa hebatnya! Ya, sutta ini telah memberikan ku sebuah Oase di pandang pasir sekaligus dengan Harta karun yang tidak akan habis-habisnya! Ah, benar-benar suatu keberuntungan besar! Satu hal yang aku tahu dengan pasti adalah kebahagian dan keberuntungan ini tak mungkin dapat aku nikmati sendirian saja. Ya! maka aku putuskan untuk mengajak anda semua menikmati Oase padang pasir dan harta karunnya ini bersama-sama.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Sang Buddha membabarkan Bhara sutta ini saat beliau berdiam di Vihara Jetavana, di kota Savatti. Sutta ini disampaikan di bangsal besar saat para bhikkhu, bhikkhuni dan umat biasa berkumpul. Beliau menyebut Bhara sebagai kelompok kehidupan (Pali: khandha ) batin-jasmani yang merupakan “beban”. Lebih jauh beliau mengatakan khandha memiliki arti kelompok atau kumpulan. Sang Buddha menyebutkan, seseorang adalah kumpulan dari lima khandha . Selama membabarkan sutta ini Sang Buddha menguraikan dhamma dengan singkat sebagaimana akan diterangkan di bawah ini. Sesungguhnya semua manusia dan binatang terdiri atas batin dan jasmani, nama dan rupa , yang saling berhubungan. Keduanya, nama dan rupa , timbul tenggelam, menciptakan suatu keadaan yang tidak sama bahkan untuk dua detik lamanya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Pada bagian kedua Bhara Sutta dibabarkan cara beban-beban itu diperoleh dan diterima, serta bagaimana beban-beban itu dapat diletakkan atau dibuang seluruhnya. Kekuatan kamma lampau yang tak berbilang bekerja di alam raya menghasilkan berbagai mahkluk hidup. Kelahiran didahului oleh kematian demi kematian. Di sisi lain kematian melahirkan kehidupan baru. Rangkaian kelahiran dan kematian ini membentuk gelombang kehidupan seperti yang dikenal dalam Buddha Sasana sebagai samsara : lingkaran kelahiran kembali yang tak berkesudahan. Dalam semua putaran keberadaan atau kelahiran yang tak berkesudahan ini bentukan dari ke-5 kelompok kehidupan terjadi.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Keberadaan atau hidup membawa aneka persoalan, kesengsaraan dan penderitaan. Beban ini benar-benar berat dan harus dipanggul mulai saat dilahirkan sampai meninggal kelak. Oleh karena itu, untuk menyingkirkan atau meletakkan kumpulan penderitaan, Sang Buddha telah menunjukkan kepada kalian “jalan” berupa praktek meditasi yang bisa menumbuhkan pengertian mendalam. Sehingga seseorang bisa meraih sedikitnya tingkat kesucian sotapanna yang akan secepatnya mendorong ke arah pembebasan akhir dari lingkaran samsara.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Empat bulan setelah Sang Buddha meninggal atau Mahaparinibbana para anggota Sangha berkumpul di Vebara dekat Rajagraha. Mereka berkumpul, yang kemudian dikenal sebagai Konsili Sangha pertama, untuk mengumpulkan seluruh ajaran Sang Buddha. Pertemuan ini dipimpin oleh Mahakassapa Thera. Pertemuan ini diikuti oleh 500 bhikkhu yang semuanya arahat . Dalam pertemuan itu Mahakassapa Thera bertanya kepada Ananda Thera dimana dan mengapa Bhara Sutta dibabarkan oleh Sang Buddha. Kemudian Ananda Thera menjawab dengan diawali kalimat pembuka, “ Evam me Suttam … demikian yang telah saya dengar…”.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Setelah itu Ananda Thera menguraikan kelanjutan Bhara Sutta dalam kata-kata sebagai berikut: “Pada suatu waktu Sang guru yang patut dimuliakan sedang berdiam di Vihara Jetavana, di kota Savatti yang didanakan oleh saudagar Anathapindika. Kota ini diperintah oleh Raja Pasenadi dari Kosala”. Savatti adalah sebuah kota besar yang digunakan sebagai markas besar dari dua negara yakni Kasi dan Kosala. Pada kesempatan tertentu Sang Buddha berdiam di Vihara Veluvana, di Rajagraha atau di bukit Gijjhakuta yang terletak tak jauh dari kota besar ini.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Pada umumnya beliau ber- pindapatta seperti para bhikkhu lainnya yakni dengan jalan kaki. Tapi, kadang-kadang di suatu tempat persinggahan tertentu beliau memperlihatkan keajaiban-keajaiban. Keajaiban tersebut misalnya, muncul angin sepoi-sepoi bersikap layaknya sapu, membersihkan jalan setapak yang akan dilewati oleh Sang Buddha. Tetesan lembut air hujan turun dan menyingkirkan debu di sepanjang jalan itu. Sementara awan-awan terbentang layaknya payung yang memberikan keteduhan kepada beliau. Selain itu lubang-lubang dan kerikil menghilang di jalan-jalan yang akan dilewati oleh Guru Agung ini. Jalan-jalan menjadi lembut dan lunak. Kapan saja beliau menjejakkan kaki ke tanah muncul bunga teratai mekar yang bertindak sebagai bantalan kaki.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Itulah jenis-jenis keajaiban yang diperlihatkan Sang Buddha. Keajaiban ini dimaksudkan untuk membangkitkan kepercayaan dan keyakinan kepada Sang Buddha. Keyakinan ini akan membimbing mereka menuju ke pembebasan dari kesengsaraan hidup. Bagi orang-orang inilah Sang Buddha memperlihatkan keajaiban-keajaiban yang dinamakan patihariya . Orang-orang pada umumnya berbeda karakternya. Beberapa orang menghargai dan meyakini dhamma ketika dhamma diuraikan secara sederhana dan terperinci. Beberapa yang lain, bagaimana pun, mulai meyakini ajaran ketika Sang Buddha telah memperlihatkan hal-hal luar biasa yang menghasilkan keajaiban.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kembali ke zaman Sang Buddha. Ketika penduduk suatu kota melihat keajaiban mereka segera mengetahui bahwa Sang Buddha sedang dalam perjalanan untuk meminta-minta dana makanan di jalan-jalan atau rumah-rumah penduduk. Setelah itu para penduduk ini mempersiapkan diri dengan memakai busana terbaik serta memberi penghormatan kepada beliau dengan mempersembahkan bunga dan wangi-wangian. Kemudian mereka mengundang sekelompok bhikkhu yang menemani Sang Buddha dalam ber- pindapatta untuk menerima dana makanan. Tentu saja undangan ini sesuai dengan kemampuan si pemberi dana.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Setelah memperoleh cukup dana makanan Sang Buddha membabarkan dhamma yang sesuai dengan kemajuan batin dari pendengarnya. Pada saat demikian ada di antara penduduk itu yang kemudian berlindung kepada Tiratana (Buddha, Dhamma dan Sangha). Ada juga yang bertekad untuk menjalankan lima sila. Sementara ada di antara kelompok orang atau individu yang mampu meraih tingkat kesucian Sotapatti, Sakadagami, Anagami dan Arahat . Setelah membabarkan dhamma beliau kembali ke vihara. Beliau beristirahat di ruang pertemuan sambil menunggu kembalinya para bhikkhu dari pindapatta . Ketika diberi tahu bahwa seluruh bhikkhu telah kembali ke vihara dan telah selesai menyantap dana makanannya, beliau mengundurkan diri ke kuti harum, gandhakuti , dan menyelesaikan purebhatta kicca -nya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

2. Tugas kedua dinamakan pacchabhatta kicca . Tugas ini berlangsung sejak beliau selesai menyantap makanan sampai sore hari. Seperti diceritakan di atas sebelum memasuki kuti harum beliau mencuci kaki terlebih dahulu. Setelah itu beliau berdiri dan memberi nasehat demikian: “O, para bhikkhu, waspadalah! Rajin-rajin dan bekerja-keraslah demi kemajuanmu. Adalah sulit terlahir dizaman kemunculan Sang Buddha. Adalah sulit terlahir sebagai manusia. Adalah sulit terlahir dengan memiliki kebajikan yang lengkap. Adalah sulit memasuki kebhikkuan. Adalah sulit memperoleh kesempatan mendengar ajaran yang benar”.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Setelah kemunculan Sang Buddha Gautama ke dunia ini sampai kini kalian masih berada di bawah pengaruh dhammaNya. Sehingga kalian masih berada di zaman Buddhasasana (Ajaran Sang Buddha). Kesempatan semacam ini sulit diperoleh. Bagi seseorang yang memperoleh kesempatan harus waspada dan bekerja keras untuk melaksanakan sila , kesusilaan, samadhi (konsentrasi) dan panna (pengetahuan). Sang Buddha menyebut hal ini dengan nama sampatti , pemenuhan yang lengkap. Dalam hal Sampatti atau pemenuhan yang lengkap akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kemudian Sang Buddha kembali ke kuti harum. Jika beliau berkenan, beliau beristirahat dengan merebahkan diri ke sisi kanan dan melakukan pengamatan dengan mata batin ke seluruh dunia dengan pengetahuan paropariyatta nana , suatu pengetahuan batin melihat derajat kematangan spiritual mahkluk hidup. Juga memakai pengetahuan asayanusaya nana , kemampuan melihat hasrat-hasrat dan bias-bias yang ada di dalam diri mereka. Dua macam pengetahuan atau kebijaksanaan ini biasa dikenal dengan nama ‘Mata Buddha’. Beliau melihat ke seluruh dunia kepada para mahkluk yang memiliki kematangan spiritual sehingga bisa membebaskan ‘diri’nya dari penderitaan dan kesengsaraan manusia. Ketika veneyya dengan kualitas demikian mendatangi beliau, beliau berkenan menunggunya. Bila ia tinggal di tempat yang sangat jauh beliau yang pergi kepadanya dengan kemampuan supra naturalnya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Tugas-tugas ini beliau laksanakan sepanjang paruh waktu kedua. Pada periode waktu ketiga para penduduk dari kota-kota terdekat dimana sebelumnya Sang Buddha dan para bhikkhu pengiringnya ber-pindapatta datang ke vihara dan memenuhi bangsal pertemuan. Para penduduk ini mengunjungi vihara dengan memakai busana terbaik dengan membawa bunga dan benda-benda yang harum. Biasanya para penduduk Rajagraha datang ke vihara Veluvana. Para penduduk Vesali mengunjungi Vihara Mahavana. Penduduk Savatthi berkunjung ke Vihara Pubbarama. Sedang pembabaran Bhara Sutta terjadi saat Sang Buddha berdiam di Vihara Jetavana.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat mereka telah berkumpul, diceritakan jumlahnya bisa ratusan sampai ribuan orang. Kemudian baru Sang Buddha memasuki ruang pertemuan. Pada saat semacam ini Sang Buddha membabarkan dhamma yang sesuai dengan pendengarnya. Juga seluruh bhikkhu yang tidak sakit atau memiliki keterbatasan fisik lainnya hadir di pertemuan ini. Mereka memberi perhatian sepenuhnya pada apa yang dibabarkan Sang Buddha. Perhatian yang sungguh-sungguh ini juga dilakukan umat biasa yang mendengarkan pembabaran dhamma tersebut. Para bhikkhu itu memasuki Sangha untuk mempertahankan pikirannya untuk meraih tingkat kearahatan, dimana seluruh penderitaan dan kesengsaraan samsara , lingkaran tumimbal lahir, bisa dihentikan. Yang tak bisa hadir hanyalah para bhikkhu yang sedang sakit atau memiliki keterbatasan fisik.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Purimayabhatta kicca mengandung arti tugas-tugas yang dilakukan pada malam hari. Pada waktu itu Sang Buddha mengawalinya dengan mandi jika beliau menginginkan dan duduk sendiri di suatu tempat yang telah disediakan di kuti harum. Kemudian para bhikkhu datang untuk meminta penjelasan beberapa hal yang berhubungan dengan perkembangan spiritual mereka, meminta nasehat atas meditasi mereka selanjutnya atau meminta Sang Buddha untuk membabarkan dhamma. Beliau menghabiskan waktu dengan memenuhi permintaan mereka sampai, kira-kira sebutlah pukul 10 malam.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Sisa waktu terakhir dari malam itu dihabiskan Sang Buddha untuk memenuhi tugas-tugas pacchumayama kicca . Tugas ini hanya berlangsung tiga jam. Pada jam pertama beliau berjalan bolak-balik di vihara untuk menjaga kesehatannya. Pada jam kedua beliau pergi tidur yang berlangsung hanya satu jam. Saat bangun pada jam ketiga, beliau mengamati dunia, melihat orang-orang yang memiliki kematangan batin tertentu. Tugas ini seperti pada pacchabhatta kicca , yakni melihat jika ada seseorang yang memiliki kematangan spiritual dan siap untuk dicerahkan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Dari cerita di atas diketahui Sang Buddha selalu memikirkan atau melakukan aktifitas keduniawian. Beliau selalu sibuk melaksanakan tugas-tugas tersebut. Ada kemungkinan sutta ini dibabarkan pada waktu tugas sore. Sebab saat Bhara Sutta dibabarkan ada empat macam pendengar yang hadir, yakni para bhikkhu dan bhikkhuni serta umat biasa pria dan wanita. Yang harus diingat adalah walaupun empat jenis pendengar hadir, Sang Buddha tetap menggunakan kata pembuka dengan menyapa para bhikkhu terlebih dahulu dengan kata-kata, “O para bhikkhu…..”

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Dengan cara demikian Sang Buddha meminta kepada para bhikhu untuk memusatkan perhatiannya kepada pembabaran dhamma tentang beban, si kuli pengangkut beban, tindakan membawa beban itu dan bagaimana cara meletakkannya. Sang Buddha dengan tegas meminta para bhikkhu untuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Hal ini merupakan permintaan yang sangat penting untuk dilakukan. Barang siapa yang tidak mendengarkan dengan baik tak akan mengerti apa yang beliau ajarkan. Hanya bagi mereka yang mendengar dengan penuh perhatian atas apa yang tengah dibabarkan bisa meraih pencerahan berupa pengetahuan batin magga, jalan dan buahnya, phala.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kalian pernah bertemu dengan buruh-buruh atau kuli pengangkut barang di pelabuhan atau di stasiun kereta api. Mereka membawa barang-barang dari satu tempat ke tempat lain. Beberapa beban atau barang bawaan itu sangatlah berat. Sehingga dibutuhkan alat bantu berupa mesin pengangkat untuk membawa beban tersebut. Suatu pemandangan yang umum di Burma adalah seorang pekerja yang sedang membawa karung-karung beras. Seorang pria yang kuat bisa membawa karung itu bahkan dalam jangka waktu lama. Tapi, berapa lamakah itu?

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Apa yang ingin saya katakan pada kalian adalah beban khandha lebih berat dari beban manapun. Dimana beban khanda ini dibawa orang-orang setiap hari dari satu tempat ke tempat lain. Setiap mahkluk hidup disibukkan untuk memelihara tubuhnya agar tetap sehat dan kuat. Ia harus memberi makan tubuhnya setiap hari sehingga tubuhnya tetap sehat. Beberapa orang lainnya harus terus mengingat dalam pikirannya bahwa dirinya tak sekedar memelihara kesejahteraan jasmaninya sendiri, tetapi juga kesejahteraan tubuh-tubuh lainnya. Hal ini tidak hanya berlangsung sesaat. Tetapi sepanjang hidupnya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Semua fenomena baik yang terjadi di masa lalu, sekarang dan di masa yang akan datang dikelompokkan ke dalam khandha-khandha . Tentu pernyataan ini perlu perjelasan lebih lanjut. Ketika muncul suatu peristiwa rupa atau materi terlibat di dalamnya. Materi ini terbentuk dari kamma lalu. Ia, materi, masih tetap ada di saat ini dan akan tetap ada di masa yang akan datang. Ia ada di dalam kalian juga di luar kalian. Ia bisa berwujud kasar, jelek atau baik. Semua kumpulan itu dapat dikelompokkan ke dalam rupa . Dan kalian menyebutnya rupakkhandha , kumpulan materi.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ada suatu kritik yang menyatakan bahwa rupa tak bisa dimasukkan ke dalam kelompok khandha . Karena khandha berarti sesuatu yang terkumpul secara kolektif dari ke lima kelompok itu. Dalam kenyataannya, bagaimana pun, komponen dari kelompok kehidupan-kelompok kehidupan itu secara terpisah-pisah bisa menggunakan istilah khandha . Jadi, materi adalah khandha . Perasaan juga khandha . Persepsi adalah khandha . Aktifitas-aktifitas kecenderungan merupakan khandha pula. Kesadaran juga khandha .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kayanupadana Sensasi-sensasi yang menyenangkan muncul ketika ada kontak dengan obyek-obyek indra. Karena munculnya sensasi-sensasi ini berkembang pula hasrat untuk menikmati di dalam diri. Setelah itu muncul kemelekatan terhadap obyek-obyek ini. Kemelekatan di dalam diri ini berhubungan dengan sensasi-sensasi yang muncul dari dalam dan di luar diri. Seorang laki-laki memiliki hasrat yang kuat dengan perempuan demikian juga sebaliknya. Ini dinamakan daya tarik seksual. Daya tarik seksual ini adalah contoh keterikatan yang sangat kuat.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ditthupadana Secara umum, kalian biasanya tertarik pada ideologi tertentu. Meski demikian, tidaklah biasa bagi kalian untuk terikat dengan ide “ini” atau “itu”, baik secara moderat maupun khusus. Tapi, dalam kasus ini, kalian berhubungan atau terikat dengan pandangan yang salah. Yang termasuk di dalamnya adalah melakukan tindakan moral yang salah sebagai suatu kebenaran serta kepercayaan akan adanya diri atau ego. Di halaman-halaman berikut akan dibahas kedua hal itu secara terpisah. Soal kepercayaan yang salah ini sekelompok orang menyakini suatu ajaran yang mengatakan bahwa tak ada akibat kamma pada suatu perbuatan, baik yang bermanfaat maupun tidak. Pandangan salah semacam ini termasuk ke dalam kelompok ditthupadana .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Silabbatupadana Kemelekatan membuta pada praktek keagamaan tidak membawa pada penghentian lingkaran tumimbal lahir serta meraih nibbana . Silabbata artinya penampilan ritual keagamaan. Ia tak berhubungan sama sekali dengan Agama Buddha. Yang termasuk di dalamnya adalah “praktek lembu” dan “anjing”. Suatu kepercayaan yang mengajarkan bila kalian bertingkah laku seperti lembu, anjing, dewa, Brahma, Tuhan, atau bertingkah laku meniru seorang guru tertentu akan mampu membebaskan kalian dari penderitaan. Yang termasuk di dalamnya adalah kepercayaan bila seseorang berendam di sungai Gangga akan bisa mengikis kilesa -nya. Kepercayaan lainnya adalah dengan mengorbankan hewan-hewan tertentu akan membuat seorang terbebas dari penderitaan. Ini semua termasuk silabbatupadana .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Attavadupadana Ada banyak teori tentang asal muasal dari kehidupan. Beberapa kelompok percaya bahwa ada suatu benda hidup yang bersemayam di dalam tubuh yang menyebabkan seseorang hidup. Seseorang dikatakan ada atau hidup jika benda itu bersemayam di dalam diri. Tapi, kehidupan itu lenyap dari dirinya saat meninggal dunia. Cara berpikir semacam ini dinamakan ucchedaditthi ; suatu kepercayaan bahwa kematian berarti berakhirnya seluruh kehidupan secara total termasuk kamma-kamma nya. Keyakinan semacam ini dinamakan juga sebagai paham nihilisme. Cara pandang lainnya dinamakan sassataditthi . Kepercayaan ini menganggap atta atau ‘diri’ atau “ego” dianggap sebagai suatu zat yang tidak akan hancur untuk selamanya. Pada saat kematian zat itu berpindah ke dalam tubuh yang lain. Faham ini dinamakan juga sebagai faham eternalisme.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat indra kontak dengan obyek, sensasi muncul. Setelah itu muncul kemelekatan. Semua sensasi ini baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan berasal dari jasmani. Seseorang dapat menikmati ataupun tidak menikmati tuntutan sensasi tersebut, “saya merasa, saya mendengar, saya melihat.” Ketika seseorang merasa sehat ia berkata, “saya sehat”. Saat sakit ia berkata, “saya lagi tidak enak badan.” Ketika merasa tidak nyaman atau tersiksa ia berkata, “saya menderita” atau “saya mengalami dukkha .” Ketika menghadapi perselingkuhan, ia berkata, “saya mengalami kesulitan”, “saya dalam bahaya”, “saya sedang sedih” atau “saya memalukan.”

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Aktifitas kemauan atau sankhara menentukan perilaku batin dan jasmani. Meski semua perbuatan dan kondisi ditentukan oleh kemauan, seseorang akan berpikir ialah yang melakukan ini atau itu. Maka ia berkata, “saya duduk”, “saya berdiri”, “saya berpikir”, “saya membayangkan”, “saya marah”, “saya tertarik pada hal itu”, “saya tak punya keyakinan”, “saya bodoh”, “saya bijaksana”, “saya memiliki keyakinan.” Semua hal itu memperlihatkan bahwa ia mengambil semua kelompok mental itu sebagai ”dirinya”. Inilah cara munculnya kemelekatan terhadap sankhara .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ketika seseorang mengunjungi sebuah toko dan melihat aneka baju dan sepatu disana, hasrat untuk menggunakan barang-barang itu muncul. Kemudian dia membayangkan dirinya sedang menggunakan barang-barang itu. Pada saat itu ia berpikir bahwa dirinyalah pemilik barang-barang tersebut. Disini tanha , kemelekatan, telah berkembang di dalam dirinya. Pada saat seseorang menikmati pikirannya, seperti ia berhasrat untuk memiliki benda-benda itu, seseorang harus mengenali bahwa tanha sedang bekerja. Jadi kemelekatan memperkuat kemelekatan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Meski telah bermeditasi pandangan terang ada saja sekelompok orang yang gagal untuk membedakan nama dari rupa . Mereka tetap beranggapan adanya suatu substansi, inti hidup yang berdiam di dalam diri. Orang ini sulit menyingkirkan gagasan tentang adanya diri. Inilah yang dinamakan kemelekatan kepada atta . Meski mereka datang untuk memahami nama dan rupa , namun mereka masih belum dapat secara penuh melepaskan diri dari konsep ‘aku’ tersebut. Hal ini haruslah dimengerti dengan cara demikian; mereka telah mempelajari apa yang selama ini dianggap sebagai diri merupakan perwujudan dari batin dan jasmani. Bila suatu hal dapat ditemukan dalam diri seseorang yang seolah-olah tidak memiliki kemelekatan, hal ini tidak dapat secara pasti dikatakan bahwa ketidakmelekatan itu merupakan bangkitnya suatu keyakinan tapi lebih dikarenakan penerimaan atas tradisi suatu ajaran. Ini merupakan pengetahuan umum, bukan pengetahuan batin, pernyataan sesungguhnya tentang materi dan pikiran.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Di masa hidup Sang Buddha, masyarakat pada waktu itu sangat menghargai ajaran yang disampaikan oleh para gurunya. Mereka selalu meyakini apa yang dikatakan gurunya. Saat penduduk mendengar pembabaran dhamma Sang Buddha tentang tak adanya konsep ‘diri’ mereka bisa melepaskan gagasan itu sehingga bisa memperoleh magga (jalan) dan phala (buah) dari dhamma . Hal ini memperlihatkan awalnya mereka tidak datang kepada Sang Buddha untuk membebaskan konsep atta -nya sebelumnya. Hanya saat mendengarkan pembabaran dhamma mereka menemukan pencerahan dan memperoleh ‘jalan’.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bila pencatatan dilakukan berulang-ulang maka akan muncul kesadaran tentang sebab-akibat terbentuknya batin-jasmani. Pada akhirnya, gagasan tentang adanya ‘diri’ bisa dihancurkan. Sebelum mempraktekkan latihan ini ia mungkin berputar-putar pada gagasan bahwa atta berasal dari kehidupan di masa lalu. Kemudian atta akan ada sekarang dan dimasa mendatang. Setelah mempraktekkan vipassana semua keragu-raguan itu akan teratasi. Iapun akan mengerti kebenaran alami dari fenomena batin dan jasmani.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bila yogi ini terus melakukan pencatatan, ia akan menemukan bahwa obyek indra dan kesadaran bersama-sama lenyap. Keduanya muncul dan lenyap dengan sendirinya. Apa yang bersifat tidak tetap sesungguhnya tidak memuaskan. Setelah ia mampu mencatat hal yang penting ini akan muncul perenungan, apa yang tersisa di sana untuk dilekati ? Semua fenomena batin dan jasmani dalam keadaan berubah-ubah. Saat ini muncul, saat ini juga lenyap. Dengan merenungkan hal ini seseorang dapat menyingkirkan gagasan tentang atta oleh keyakinannya sendiri.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ambil contoh lain. Tempatkan sebuah cermin di salah satu sisi jalan. Lihat ke dalam cermin. Semua pengendara sepeda dan pejalan kaki akan terlihat di dalam cermin itu apa adanya. Dengan cara yang sama, jika mengawasi dan mencatat dengan kesadaran semua obyek yang muncul melalui enam pintu indra, kalian akan mencatat semua obyek indra (yang tak memiliki kesadaran) muncul ketika pikiran (subyek yang memiliki kesadaran) memetik pengetahuan dari kemunculannya. Setelah itu kalian akan menyadari bahwa baik subyek dan obyeknya melenyap. Dan, proses yang sama muncul lagi sesaat kemudian. Setelah itu yogi bersangkutan menyadari, inilah fenomena dari batin-jasmani, yang muncul untuk kemudian lenyap. Keduanya bersifat tidak tetap dan tidak kekal. Mereka bersifat dukkha, penuh penderitaan. Serta, keduanya tak memiliki substansi yang kekal.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ketika mencatat proses batin dan jasmani kalian akan mengetahui keadaan alami mereka. Setelah mengetahui keadaan alaminya apa yang tersisa di sana untuk diingat dan dipikirkan? Jadi, berpikir tentang batin dan jasmani tanpa secara nyata mencatat tentang muncul dan lenyapnya mereka, itu sungguh tidak alami. Dengan demikian sungguh tidak masuk akal jika seseorang mampu berkata ‘muncul’ dan ‘lenyap’ tanpa pernah mengalami prosesnya secara nyata. Memperoleh pengetahuan dari metode berpikir semacam ini atau pengucapan belaka bersifat tidak hakiki. Ini adalah pengetahuan yang dipetik dari tangan kedua yaitu melalui buku-buku.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Lebih jauh, intisari dari meditasi pandangan terang adalah mencatat semua dhamma atau fenomena pada saat munculnya. Jika kalian menelan pengetahuan kedua itu maka konsentrasi tidak akan terbangun dengan baik. Tanpa adanya konsentrasi kalian tidak akan memperoleh pemurnian pikiran. Jika kalian memperoleh kebenaran melalui filsafat batin dan jasmani itu adalah hal yang kurang baik. Jika membawa cara pandang yang salah kalian akan ‘habis’ karenanya. Jika cara pandang yang salah ini dipertahankan kalian akan melihat ketidakkekalan sebagai kekekalan atau sesuatu yang berubah-ubah sebagai sesuatu yang tetap. Dengan demikian konsep tentang adanya ‘diri’ tetap berada di sana.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saya akan menyarankan kepada para pemula yang berlatih meditasi pandangan terang untuk mencatat berbagai hal sebagaimana adanya. Misal, ketika sedang berjalan ia mencatat saat mengangkat kaki, maju dan meletakkan kaki. Catat setiap proses dari mengangkat, maju dan meletakkan kaki. Bagi pemula sangat sulit untuk membedakan satu proses dari proses lainnya. Tapi, suatu saat ketika konsentrasi menguat ia akan mampu mencatat tidak saja setiap proses tapi juga mengamati pikiran yang tengah melakukan pencatatan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Pada setiap gerakan yang dibuat, ia dapat mengenali fenomena ‘bergerak’ sebagai sesuatu yang berbeda dari ‘mengetahui’. Lebih jauh, seluruh ide “keberadaan” tergantung pada batin yang mengetahui dan jasmani yang diketahui. Tak ada sesuatu, zat hidup atau individu di sana. Batin dan jasmani menjadi ‘sesuatu’ dalam satu saat dan lenyap untuk kemudian muncul pada saat berikutnya. Pengetahuan mengetahui realitas ini dinamakan namarupapariccheda nana , pengetahuan membedakan antara batin dari jasmani.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Setelah memperoleh pengetahuan ini dengan sendirinya ia akan mendapatkan masukan pengetahuan untuk membebaskan konsep atta -nya. Hal ini telah saya jelaskan di awal ceramah. Meski seorang yogi mempercayai hukum ketidakkekalan, penderitaan dan ketanpa-intian ( anicca, dukkha , dan anatta ) kemelekatan terhadap diri tetap muncul saat ia tengah berlatih meditasi untuk meraih tingkat-tingkat kesucian. Ketidakberpihakan muncul hanya ketika serangkaian pengetahuan batin sepenuhnya bisa diperoleh sehingga suatu saat ia bisa meraih ‘jalan’ ( magga ) dan ‘buah’ ( phala ).

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Sebelumnya saya telah berbicara tentang kemelekatan karena pandangan salah memandang lima kelompok kehidupan (lima khanda ). Saat melekat pada benda-benda yang dilihat (karena proses penglihatan itu menyenangkan) mendorong kalian untuk membangun kemelekatan terhadap diri. Inilah yang dinamakan kemelekatan terhadap jasmani. Dengan cara yang sama kalian melekat pada vedana (perasaan), sanna (persepsi-persepsi), sankhara (aktifitas kemauan) dan vinnana atau kesadaran. Akhirnya kalian bisa memahami prinsip-prinsip kemelekatan melalui pintu indra dimana semua fenomena berawal. Kalian akan menyimpulkan bahwa semua batin dan jasmani merupakan upadanakkhada , kelompok kemelekatan dimana beban itu berada.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ingatlah baik-baik, kalian akan menyadari betapa berat beban ini. Ketika sosok manusia terbentuk di rahim ibunya pada saat itulah ia mulai membawa beban (ke-5 kelompok kehidupan) tersebut. Sang Ibu telah memberikan semua perlindungan sehingga ia bisa lahir sebagai manusia. Sejak saat itu si ibu harus berhati-hati untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ketika mengonsumsi makanan, saat tidur, dan lain-lain. Jika ibu tersebut seorang buddhis, ia akan berperilaku baik sehubungan dengan bayi yang sedang dikandungnya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat si bayi lahir, ia belum mampu menjaga dirinya sendiri. Si bayi akan dijaga dan dirawat ibunya atau sanak saudaranya yang lebih tua. Ia harus diberi minum dan makan dari air susu ibunya. Juga dibersihkan, dimandikan dan diberi pakaian. Ia harus digendong dari satu tempat ke tempat lain. Sedikitnya dibutuhkan dua atau tiga orang untuk menjaga dan membawa beban kecil dari ke-5 khandha itu. Dalam hal ini dapat diketahui betapa banyak anak-anak berhutang pada orang tua dan kerabatnya atas penjagaan yang telah mereka berikan. Tapi, generasi yang tidak tahu berterimakasih ini mengatakan bahwa orang tuanya tidak dapat menahan nafsu. Suatu pikiran yang sangat buruk. Karena sesungguhnya beban keberadaan bayi itu bukan karena orang tua, tapi dikarenakan oleh kamma . Disini kamma dihembuskan oleh cahaya kilesa , kekotoran batin, kegelapan batin. Sehingga beban ke-5 khandha itu dibawa ke dalam dunia sebagai mahkluk hidup. Kedua orang tua hanya alat bantu. Jika manusia meniadakan orang tuanya, yang berakar dari kamma buruk dan kekotoran batin, maka ia akan membuka jalan menuju ke empat alam-alam bawah.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Untuk membuat dirinya berfungsi normal ia harus melakukan aktifitas harian seperti duduk, berdiri, menekuk, merentang, berjalan, dan lain-lain. Segala sesuatunya harus dikerjakan sendiri. Ketika merasa panas, ia menyejukkan dirinya. Saat merasa kedinginan, ia menghangatkan badannya. Ia harus berhati-hati menjaga kesehatan dan kehidupannya. Sewaktu berjalan-jalan, ia menjaga dirinya agar tidak tersandung. Saat menempuh perjalanan jauh, ia menjaga dirinya dari mara bahaya. Dari seluruh penjagaan awal ini ada kemungkinan ia menderita sakit dan harus menjalani perawatan medis. Adalah suatu beban yang sangat berat untuk menjaga kesejahteraan khandha -nya, kelompok kehidupan dari fenomena batin-jasmani.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Beberapa dari mereka yang kamma baiknya terbatas ini terpaksa bangun pagi-pagi untuk memperoleh beras agar bisa dimasak. Beberapa lagi bahkan tidak memiliki beras sama sekali sehingga harus meminjamnya dari tetangga. Jika kalian ingin mengetahui lebih jauh tetang hidup semacam ini pergilah ke perempatan-perempatan jalan di wilayah permukiman miskin dan puaskan diri kalian dengan mengamatinya. Tapi, Burma adalah suatu tanah yang kaya. Sehingga keadaan disini tidak separah dibanding di negeri dimana beras tidak ditanam.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Di sini padi-padian disimpan untuk disalurkan pada saat dibutuhkan. Untuk waktu yang lama sebagai manusia beradab persoalan begitu sedikit. Tapi, di dunia hewan, mencari dan menemukan makanan adalah persoalan besar, Bagi hewan herbivora (pemakan tumbuh-tumbuhan) tidak terlalu sulit menemukan rumput atau buah-buahan untuk dimakan. Tapi, ada saja tempat dimana air sulit diperoleh sehingga tumbuh-tumbuhan mengering. Dalam keadaan ini hewan-hewan malang itu harus memikul beban yang berat untuk mencari makan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ketika hewan ini mati ia akan mati dengan membawa akusala citta , suatu pikiran buruk yang terbawa oleh kemarahan. Dalam kasus demikian bentuk pikiran buruk ini akan menjadi pemicu untuk terlahir dalam rupa yang buruk di masa mendatang. Jika ia meninggal dengan membawa bentuk pikiran tidak menyenangkan seperti kemarahan dan kebencian, bagaimana mungkin bentuk-bentuk pikiran ini bisa memicu munculnya mahkluk baru yang lebih baik? Malah, ia akan tertarik turun dan terlahir sebagai suatu mahkluk yang lebih rendah. Sang Buddha mengatakan, saat suatu mahkluk terlahir di alam binatang akan sangat sulit baginya untuk terlahir lagi sebagai manusia. Semua ini memperlihatkan cara mencari makanan untuk memenuhi kebutuhan khandha .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kalian telah melihat bagaimana kehidupan suatu mahkluk hidup itu selalu berbeban berat. Meski demikian, ditempat ini pula ada orang-orang baik yang mempraktekkan kehidupan benar. Mereka menggarap tanah pertanian atau berdagang atau melakukan tugas administrasi yang secara umum disebut sebagai jenis usaha yang tidak menganggu atau menyakiti mahkluk hidup lain. Orang-orang semacam ini tidak berhadapan langsung dengan dukkha atau penderitaan dalam lingkaran samsara . Sehingga beban keberadaannya terlihat tidak terlalu berat untuk dipanggul.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ada begitu banyak orang desa yang pergi bekerja dan bermandi keringat sepanjang hari untuk memperoleh sedikit uang. Sementara itu seorang koruptor bisa mendapatkan uang dengan mudah dengan cara menipu atau melakukan cara-cara kotor lainnya dalam memperoleh sejumlah besar uang. Orang-orang terakhir ini tidak akan pernah ragu-ragu untuk melakukan penipuan, pencurian, perampokan, pembunuhan atau perbuatan buruk lain dalam mengumpulkan harta benda. Inilah cara hidup seorang kriminal. Namun, cara-cara keji semacam ini tidak gratisan. Suatu saat ia harus membayarnya tidak hanya disini dan dalam kehidupan ini, tapi juga sampai ke kehidupan mendatang. Perbuatan buruk membawa akibat yang buruk, sebagaimana bisa kalian lihat dalam kisah-kisah para peta dan mahkluk-mahkluk alam bawah seperti yang telah disaksikan sendiri oleh Maha Moggalana Thera.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Suatu kali Maha Moggalana Thera dan Lakkhana Thera tinggal di bukit Gijjhakuta yan terletak di sebelah utara kota Rajagraha. Pada hari berikutnya kedua Thera itu menuruni bukit untuk ber- pindapatta di kota. Moggalana Thera, dalam perjalanan menuruni bukit, dengan kekuatan supranaturalnya, melihat mahkluk peta yang hanya terdiri dari tulang belulang saja. Si mahkluk, kerangka itu, menangis dengan keras dan sangat menyayat hati. Sementara dibelakangnya mengejar burung layang-layang, burung gagak dan burung pemakan bangkai mematuki sisa-sisa daging dari mahkluk ini.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Lalu muncul suatu penglihatan di dalam diri Moggalana Thera atas semua kekuatan kamma-nya. Beliau melihat bagaimana kekotoran batinnya telah punah sama sekali. Sehingga tak ada kesempatan baginya untuk terlahir seperti mahkluk yang dilihatnya barusan. Pengetahuan batin ini membuat Sang Thera diliputi kebahagiaan sehingga beliau tersenyum. Perlu diketahui, seorang arahat yang merasa gembira tidak pernah tertawa keras-keras. Mereka pun jarang tersenyum kecuali untuk alasan yang sangat penting. Lakkhana Thera yang melihat hal ini, bertanya kepada Moggalana Thera, mengapa beliau tersenyum. Beliau menjawab kepada Lakkhana Thera bahwa ia akan menceritakan alasannya nanti di hadapan Sang Buddha.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Setelah berkeliling mengumpulkan dana makanan kedua thera pergi ke vihara dimana Sang Buddha berdiam. Kemudian Lakkhana Thera bertanya lagi kepada Moggalana Thera mengapa beliau tersenyum. Beliau menjawab, “Ketika kami menuruni bukit Gijjhakuta, saya melihat sesosok peta berlari di angkasa dikejar oleh burung gagak, burung layang-layang dan burung pemakan bangkai. Burung-burung itu mematuki dan memakan sisa daging dan ‘jeroan’ dari kerangka tersebut. Si peta menjerit dan menangis kesakitan. Ketika melihat hal ini saya mengatakan kepada diri sendiri alasan yang membuat mahkluk itu terlahir dengan penderitaan semacam itu”.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Mendengar hal ini Sang Buddha memberi penjelasan demikian, “O, para bhikkhu. Muridku Moggalana Thera memiliki mata kebijaksanaan sehingga ia telah melihat mahkluk demikian. Dan, biarlah kenyataan ini menunjukkan bahwa mahkluk semacam ini memang ada. Aku sendiri telah melihat mereka ketika pertama kali memperoleh pencerahan di bawah pohon Bodhi. Tapi, aku tak pernah mengatakan kepadamu sebelumnya tentang hal ini. Bila aku menceritakan hal ini sebelumnya, maka akan menimbulkan keraguan bagi orang yang tidak percaya. Keragu-raguan itu akan menumbuhkan akusala kamma , akibat yang tak bermanfaat, pada diri mereka”.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Sebelumnya Sang Buddha menolak menceritaan keberadaan mahkluk ini. Biarlah orang yang ragu-ragu dan memiliki pikiran buruk mencatat kenyataan ini. Bentuk-bentuk pikiran tak bermanfaat ini bisa mengakibatkan aksi yang tak bermanfaat. Sehingga, saat Moggalana Thera menceritakan pengalamannya barulah Sang Buddha mendukung cerita nyata dari muridnya ini. Para pengkritik dan orang yang suka beradu argumentasi muncul dari ketiadaan bukti fisik secara jelas yang secara umum akan menciptakan keragu-raguan. Bentuk pikiran semacam ini adalah akusala dhamma dan ini akan membuka jalan bagi pemilik pikiran ini untuk menuju ke kehidupan di alam-alam bawah.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Apa yang ingin saya tegaskan dengan penuh hormat tentang cerita ini adalah si peta , dulunya sebagai seorang penjagal binatang, telah membunuh dan memenggal banyak kepala hewan yang memungkinkan baginya untuk memenuhi kebutuhannya. Ia membunuh hewan-hewan itu untuk menyantap dagingnya dan untuk memenuhi kebutuhan ke-5 khandha -nya. Tapi, orang ini harus membayar seluruh perbuatannya dengan menderita di alam neraka setelah kematiannya selama tak berbilang tahun. Meski kemudian ia bisa keluar dari alam neraka, akibat dari endapan kamma buruknya masih ia terima. Beban ke-5 khandha memang berat.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Sekali lagi Sang Buddha menjelaskan sebab-musabab mahkluk ini menjadi peta daging. Ini akibat kamma buruknya dalam salah satu kehidupannya di masa lalu. Dulunya si peta daging dalam salah satu kehidupannya adalah seorang penjagal hewan juga yang tinggal di kota Rajagraha. Akibat perbuatan buruknya ini setelah meninggal dunia ia terlahir di alam neraka selama jutaan tahun. Setelah keluar dari alam neraka ia terlahir lagi sebagai peta berbentuk gumpalan daging yang tengah dikejar oleh burung layang-layang, burung gagak dan burung pemakan bangkai. Kehidupannya sebagai peta akan berakhir setelah kamma buruknya saat menjagal hewan berakhir.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Lambang kematian yang terlihat oleh penjagal hewan pertama tidak sama dengan yang dilihat oleh penjagal kedua. Tak diragukan lagi perbuatan buruk keduanya sama. Tapi, nimitta yang mereka saksikan berbeda. Saat sakaratul maut penjagal pertama melihat nimitta berupa tulang belulang. Sebagaimana pekerjaannya selama ini yakni memisahkan tulang-tulang dari daging sehingga terikat dengan bentuk tulang ini. Dimana tumpukan tulang telah terlihat sebagai kammanimitta saat menjelang ajal. Sehingga ketika terlahir sebagai peta , ia lahir dengan bentuk tulang belaka.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Pada suatu malam ke-4 peta perempuan ini berkumpul. Mereka sepakat untuk memperlihatkan kehadirannya kepada orang-orang yang mereka kenal di masa lalu. Mereka memanggil-manggil dengan menjerit-jerit. Jeritan mereka terdengar oleh para penduduk. Penduduk merasa jengkel dan takut mendengar suara-suara yang begitu berisik. Untuk menghilangkan gangguan itu para penduduk sepakat pergi ke vihara dan berdana kepada Sang Buddha serta para muridNya. Di Vihara mereka menceritakan sebab kedatangan dan ketakutan mereka.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

“O para umat biasa yang berbakti. Tak ada bahaya apapun yang akan menimpa kalian akibat suara-suara yang menakutkan itu. Suara-suara itu berasal dari tangisan empat peta perempuan. Mereka merasa sedih karena dalam kehidupannya dimasa lalu telah melakukan perbuatan buruk. Mereka meratap dengan sangat sedih karena dalam kehidupannya sebagai manusia dulu telah mengumpulkan kekayaan dengan cara yang tidak jujur. Hal ini mereka lakukan hanya untuk melayani kebutuhan khandha -nya. Ketika meninggal dunia mereka terjatuh ke alam bawah yang disebabkan perilaku mereka yang salah dalam menjalani hidup. Karenanya, sungguh berat beban tubuh ini.”

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Aktifitas ini mengancam dan menyodorkan tawaran pada kalian setiap hari. Maksudnya, jika aktifitas ini tak dilakukan, maka kalian akan menemui kesulitan dan bahkan kematian. Jika hasrat ini tak terpenuhi, mereka akan melakukan tindakan jahat. Sungguh berat beban sankhara yang harus dipanggul. Ini dikarenakan kalian tak mampu membawa beban tersebut, dikarenakan moral yang rendah dan mengakibatkan dosa serta menimbulkan rasa malu dalam diri kalian. Perbuatan jahat dilakukan karena ketidakmampuan membawa beban sankhara khandha dengan baik.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kelompok kehidupan persepsi, sannakkhandha , juga merupakan beban yang berat. Karena dengan persepsi ini kalian memiliki kemampuan seperti ingatan yang dapat digunakan untuk meraih pengetahuan dan kebijaksanaan yang dapat membedakan baik dan buruk serta mengenyahkan keburukan dari pikiran. Hal-hal tak bermanfaat dipicu oleh obyek-obyek indra yang tak menyenangkan. Jika pikiran untuk menikmati obyek yang menyenangkan tak terpenuhi, maka akan timbul kejahatan semata. Penyesalan dan kecemasan timbul karena ketidakmampuan memanggul beban sankhara khandha ini.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kalian membawa beban khandha ini tidak untuk satu menit, satu jam, satu hari, satu bulan, satu tahun, satu waktu, satu kehidupan, atau satu kalpa . Beban ini dipanggul mulai dari awal lingkaran samsara , lingkaran kelahiran. Dan waktu pemanggulan ini tanpa batas. Tak ada awal. Juga tak ada cara untuk mengetahui kapan hal ini akan berakhir. Hanya dengan melenyapkan semua kilesa , kekotoran batin, kondisi ini dapat diakhiri. Ini adalah tahap kalian mencapai tingkat arahat . Meski demikian para arahat ini pun harus menanggung beban khandha -nya sebelum mereka memasuki nibbana .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Meski telah arahat ia harus menanggung beban khandha -nya sebagai konsekuensi terlahir sebagai mahkluk hidup. Misalnya untuk memberi makan jasmani, mereka harus berkeliling kampung atau desa untuk mengumpulkan dana makanan. Harus mandi untuk menjaga tubuhnya tetap bersih. “Buang air” untuk menjaga keseimbangan metabolismenya. Mereka juga harus menjaga kesehatan setiap hari dengan memperhatikan empat posisi tubuh: iriyapatha , yakni berjalan, duduk, berdiri dan berbaring. Mereka tidur dengan teratur untuk memulihkan tenaga.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Sebagai gambaran, ada seorang pria yang sangat mencintai istrinya. Meski para tetangga melihat kesalahan yang diperbuat si istri, sang suami sama sekali tak melihat kesalahan tersebut. Sejauh yang ia ketahui si istri selalu bersikap manis terhadapnya. Di mata si suami, tingkah laku sang istri tak ada cela. Sehingga ia tak percaya dengan kata-kata orang mengenai kesalahan yang diperbuat oleh istrinya. Melalui cara yang sama seseorang yang memiliki kecintaan terhadap khandha -nya, tak akan bisa menerima teguran bahwa khandha itu merupakan suatu beban.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat kalian melihat seorang buruh memanggul sebuah beban, beban itu pasti sangat berat. Tapi ini dilakukannya hanya sesaat. Saat menyadari beban itu akan mencederai punggungnya, maka ia akan segera meletakkan beban itu. Pada saat itu ia terbebas dari beban yang berat tersebut. Ini berbeda dengan beban khandha yang harus dipanggul sepanjang kehidupan, bahkan sepanjang lingkaran samsara . Beban tersebut hanya akan terlepas saat kalian meraih ke- arahat -an. Ini akan terjadi setelah kalian melenyapkan semua kilesa . Setelah memasuki nibbana barulah kalian terbebas dari beban tersebut. Dan beban terberat ini adalah lima upadanakkhandha .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Buddha Dhamma menyangkal adanya atta . Namun, Sang Buddha menggunakan istilah umum dengan memakai kata puggala atau satta . Juga ada saat-saat dimana beliau secara bahasa menggunakan kata atta (diri) dan paro (yang lain) untuk membedakan satu dengan yang lain. Ada contoh dalam kalimat ini, “ atta hi paro natho ”, artinya saya adalah penyelamat diri sendiri, tak ada yang lain yang bisa menyelamatkan diriku. Atta disini bukan dimaksudkan sebagai konsep filosofis tentang ‘diri’. Tapi secara kebahasaan merujuk pada “saya” yang adalah individu.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Terdapat dua cara pengajaran dalam Buddha dhamma. Keduanya dinamakan paramatta desana dan pannatta desana . Yang pertama berhubungan dengan abstraksi pengetahuan. Sementara cara terakhir merujuk pada pengetahuan umum atau konvensional yang muncul dari obyek-obyek yang diketahui melalui penamaannya. Saat kalian mendiskusikan anicca (ketidakkekalan), dukkha (penderitaan), anatta (ketiadaan diri), dhatu (sifat dasar suatu zat), sacca (kebenaran), satipatthana (kesadaran yang kokoh), dan ayatana (perasaan yang utuh), kalian berhubungan dengan bahasa pengetahuan abstrak. Tetapi bila kalian membicarakan laki-laki, perempuan, dewa-dewa, brahmin, dan lain-lain, ini merupakan subyek sehari-hari dimana suatu makhluk dikenali melalui penamaannya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat dijelaskan bahwa khandha hanya memiliki satu-satunya harta yakni kamma -nya sendiri, maka arti dari pernyataan ini bisa beragam. Akan berbeda bila dikatakan individu-individu yang melakukan perbuatan baik atau buruk akan menerima akibat tumbuhnya kamma baik atau buruk hasil dari perbuatannya itu. Maka pernyataan ini lebih bisa dipahami. Inilah yang dimaksud dengan kamma merupakan satu-satunya harta yang dimiliki. Istilah kamma individu lebih gampang untuk dimengerti. Sehingga maksud dari pernyataan ini pun lebih gampang untuk dipahami. Karenanya Sang Buddha menggunakan istilah-istilah yang mudah dimengerti saat menguraikan tentang kamma .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bila diceritakan ada khandha yang membunuh orang tuanya, tak seorang pun mengerti maksud dari pernyataan ini. Tapi setiap orang akan mengerti kalau kalian katakan ada anak laki-laki yang membunuh orang tuanya atau pangeran Ajatasattu membunuh ayahnya sendiri, yaitu raja Bimbisara. Pada suatu saat kamma buruk yang telah dilakukan, dengan membunuh ayah atau ibu, akan berbuah ketika mereka meninggal. Dan bekerjanya kamma paling buruk yang dikenal dengan istilah anantariya ini tidak dapat digantikan. Kamma tersebut bekerja secara terus-menerus. Untuk membabarkan jenis kamma semacam ini Sang Buddha menggunakan bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Raja Ajatasattu terperangkap oleh anantariya kamma karena membunuh ayahnya. Maka, meski memiliki kesempatan mendengarkan pembabaran dhamma dari Sang Buddha, ia gagal memperoleh pencerahan. Perbuatan Raja Ajatasattu membunuh ayahnya menjadi kendala baginya untuk memperoleh “jalan – magga ”. Dalam kasus ini Raja Ajatasattu digolongkan sebagai maggantaraya , artinya orang yang berbahaya bagi “jalan”. Setelah kematiannya, ia terlahir di alam neraka Lohakumbhi. Diceritakan ia kehilangan kesempatan tumimbal lahir di alam-alam dewa karena kamma buruknya. Disebabkan perbuatannya yang sangat buruk ini Raja Ajatasattu juga digolongkan sebagai saggantaraya , maksudnya mahkluk yang berbahaya bagi para dewa.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat mengirim metta dan jenis-jenis pikiran baik kepada pihak lain kalian harus secara langsung mengarahkan pikiran atau perhatian kepada individu secara keseluruhan dan bukan kepada pikiran atau jasmaninya. Sebab pikiran dan badan jasmani menunjuk kepada sesuatu yang bersifat abstrak, tak ubahnya batu atau kerikil. Jika demikian, cinta, keyakinan dan penghormatan semacam apa yang dikirimkan seseorang kepada benda mati? Lebih jauh, dalam mempraktekkan Brahmavihara , kalian harus mengenali individu yang menjadi obyek dari buah pikiran baik kalian.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Jika dikatakan, kami melakukan pemberian dana kepada khandha , ini merupakan kalimat yang membingungkan. Coba baca kalimat ini, “ada satu khandha yang memberikan jubah kepada khandha yang lain”. Bagaimana caranya khandha-khandha itu memberi? Dan bagaimana caranya khandha-khandha yang lain menerima pemberian? Kumpulan materi mana yang bisa melakukan perbuatan baik, berdana ini? Juga kelompok materi yang mana lagi yang tidak suka melakukan perbuatan baik? Kumpulan yang satu bermanfaat dan kumpulan yang lain adalah tidak bermanfaat? Jika seseorang membaca abstraksi kalimat semacam itu akan muncul perasaan bingung. Sang Buddha lebih memilih menjelaskan hal di atas dengan mengatakan si pemberi dan penerima sebagai Individu. Dengan demikian kebingungan dapat dihindari.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Alasan kedelapan, mengapa Sang Buddha mengajar dengan menggunakan metode pannatta desana . Siapa yang memiliki kesadaran lebih tinggi dari Sang Buddha dalam memahami keberadaan semua makhluk, yang sesungguhnya hanya merupakan fenomena batin dan jasmani, muncul dan lenyap serta selalu berubah ? Sang Buddha selalu membahas masalah ini pada saat yang tepat. Tapi, beliau tidak pernah menolak untuk menggunakan istilah-istilah awam seperti ibu, bapak, anak laki-laki, anak perempuan, laki-laki, perempuan, dewa, bhikkhu, dan lain-lain. Istilah-istilah ini dipakai Sang Buddha dalam pembabaran dhamma. Sang Buddha mengajar dengan bahasa sehari-hari yang berlaku pada saat itu.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Secara teori, jasa tertinggi bisa diperoleh jika seseorang memberi persembahan kepada yogi yang telah memasuki tingkat kesucian. Tapi, rentang waktu inspirasi tingkat kesucian muncul dan lenyap sangat singkat. Karenanya merupakan hal yang amat sulit untuk berdana pada saat tersebut agar dana itu bisa membuahkan jasa tertinggi. Meski demikian, adalah sesuatu yang mungkin untuk memperoleh keberuntungan tertinggi diluar pemberian kepada seorang kalyana putthujana , orang biasa yang memiliki kebajikan tertentu, yang telah memperoleh tingkat pengetahuan keseimbangan batin setelah melengkapi ke-9 tingkat-tingkat pengertian dalam latihan meditasi pandangan terang, yang dinamakan sankhara upekkha nana .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Selain itu ada pemberian yang berupa undangan kepada beberapa bhikkhu saja. Saat ini prakteknya demikian, si calon pendana memberitahu kepada kepala vihara yang akan mengutus beberapa bhikkhu untuk mengunjungi rumah si pengundang. Sehingga si pendana dapat secara langsung memberikan penghormatan kepada Sangha melalui anggota Sangha yang hadir ke rumahnya pada saat itu. Pada jenis dana semacam ini si pemberi tak memiliki tujuan perseorangan kepada bhikkhu atau bhikkuni tertentu tapi undangan ditujukan kepada seluruh anggota Sangha. Ketua Sangha akan mengirim bhikkhu atau bhikkhuni berdasarkan senioritasnya atau sejumlah bhikkhu yang diundang tersebut. Diantara kelompok ini mungkin ada anggota Sangha yang tak ingin dirujuk oleh si pengundang. Meski demikian, si pendana harus meneruskan undangannya kepada mereka semua sebagai perwakilan dari Sangha.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat seseorang mempersembahkan bunga dan lilin kepada Buddha rupang, si patung hanya melayani kebutuhan seseorang yang menujukan perhatiannya kepada Sang Buddha. Sebenarnya pikiran seseorang bukan kepada patung itu tapi kepada Sang Buddha. Patung hanyalah suatu obyek yang meneruskan pikiran seseorang kepada Sang Buddha. Dengan cara yang sama para bhikkhu yang mengunjungi rumah seorang pemberi dana hanya bersifat perwakilan. Dan, mereka menggambarkan pikirannya sebagai pengikut Sang Buddha bagi si pemberi dana. Para bhikkhu yang hadir pada saat itu hanya dimaksudkan agar ia menjadi sadar bahwa seseorang telah memberikan dana kepada Sangha sebagai pengikut Buddha. Itulah mengapa berdana kepada Sangha memiliki buah tertinggi.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Jenis pemberian semacam ini hanya dapat dilakukan kepada bhikkhu-bhikkhu yang dekat secara fisik, sebagaimana telah diatur dalam vinaya . Ketika seorang donatur mempersembahkan makanan kepada bhikkkhu yang sedang ber- pindapatta dengan mengatakan kalimat, “ Sanghassa dhemi – aku memberikan ini kepada Sangha”. Maka dana ini dinamakan Sanghika dana , karena pemberian itu dimaksudkan untuk Sangha. Tapi, jika bhikkhu bersangkutan menerima dana dengan mengucapkan kalimat, “ mayham papunati – itu datang melalui tanganku”, maka makanan itu menjadi miliknya. Ia pun dapat menggunakan untuk dirinya sendiri.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Perlu ditegaskan disini perenungan semacam ini tidak berasal dari ajaran Sang Buddha. Perenungan semacam ini tidak pantas untuk dilakukan. Perbuatan memberi, berdana, dilakukan untuk memperoleh jasa dari hasil perbuatan tersebut. Dana ini dilakukan bukan untuk mempraktekkan meditasi pandangan terang. Apabila pikiran seseorang mengalami kekacauan selama bermeditasi, tak ada gunanya ia berdana. Yang harus dilakukan adalah beristirahat di suatu tempat yang sunyi dan melanjutkan praktek vipassana saat kekuatan konsentrasinya menguat. Cara ini akan memberinya keuntungan dan pada akhirnya tercapai vipassana kusala , kebajikan yang muncul sebagai akibat dari berlatih vipassana .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Hasil yang dicapai dari berlatih vipassana ini sangat berbeda dengan kamma baik yang ditimbulkan dari pikiran baik saat berdana yang berlangsung hanya selama satu atau dua menit saja. Yang penting dalam berdana adalah membentuk kecenderungan seseorang untuk mengumpulkan dana kusala, kamma baik yang tumbuh sebagai akibat berdana, dengan mengajarkan cara berdana secara tulus. Karenanya saya berusaha secara terus-menerus mengingatkan kepada para pendana agar selalu bergembira dengan perbuatan baik mereka.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kamma baik yang tumbuh dari berdana akan berlipat ganda apabila si pemberi dana merenungkan betapa tinggi kualitas moral, perilaku dari penerima dana dan manfaat yang bisa dipetik dari perbuatan baik tersebut. Jenis perenungan semacam ini mendatangkan lebih banyak kegembiraan karena si pemberi akan menikmati akibat yang terkumpul dari pemberian yang telah dilakukannya. Bila ia merenung hanya kepada khandha si penerima dana dan merenungkan mereka apa adanya, ia tak akan bisa membedakan antara yang bermoral dan tidak bermoral atau kesucian dan sesuatu yang tercela. Karena kualitas semacam ini tidak terdapat pada khandha-khandha yang bersifat abstrak tersebut. Sekali lagi, jika ia merenungkan khandha si penerima dan merenungkan khandha-khandha itu sebagaimana adanya, apa yang telah didanakan menjadi tak berharga seperti kerikil-kerikil dan batu-batu. Dalam kasus ini apa yang dapat membuatnya bersuka-cita? Tanpa kesuka-citaan dana kusala -nya menjadi sia-sia.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Puggala pannatti adalah bahasa konvensional. Saat dikatakan bahwa seseorang adalah suatu individu, suatu makhluk, seorang perempuan atau seorang laki-laki, kalian menjadi realistis. Gambaran itu dapat diterima oleh semua manusia. Pembenaran pendapat oleh kesepakatan umum ini disebut samuti sacca . Dengan kata lain hal itu merupakan kebenaran yang diterima bahasa atas kesepakatan umat manusia, sehingga tidak akan timbul kesalahfahaman arti. Dan Sang Buddha dalam Bhara Sutta tidak berkeberatan dengan konvensi tersebut. Oleh karenanya beliau menyebut kata kuli sebagai individu.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Tapi, perlu dicatat bahwa kelima khandha tak bisa dipahami sebagai suatu hal yang terpisah dari individu. Hal ini telah dijelaskan panjang lebar sebelumnya. Beberapa orang barangkali tidak setuju dengan penjelasan bahwa lima khandha adalah sekaligus si kuli dan bebannya. Dalam kasus ini mohon dimengerti bahwa beban tersebut merupakan khandha yang mengharapkan kebahagiaan dan kesejahteraan serta si kuli sebagai lima khandha yang pada kenyataannya berjuang keras mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraannya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Tulisan ini adalah bagian kedua dari penjelasan saya. Dimana sebelumnya telah saya uraikan tentang upadanakkhandha sebagai beban dan individu sebagai kuli yang membawa beban. Dengan kata lain batin dan jasmani merupakan beban dan setiap orang adalah kulinya. Kalian setiap hari melayani diri ini yang terdiri dari batin dan jasmani dengan cara membersihkan, memakaikan baju, memberi makan, hiburan-hiburan, menjaga kesehatannya, dan lain-lain. Kalian secara tetap memberi perhatian kepada kesejahteraannya. Saat ini, saya harap, kalian bisa percaya betapa beratnya beban itu.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat ini, mengapa orang-orang yang membawa beban mengetahui hal itu sebagai sesuatu yang sangat berat? Siapa yang menganjurkan mereka untuk membawanya? Dengan suatu pertimbangan yang serius sudah cukup untuk memperlihatkan kepada kalian bahwa tak ada seorang pun yang menyarankan untuk membawa beban tersebut. Diri sendirilah yang memanggul beban atas kemauan pribadi. Bagi orang-orang yang percaya dengan adanya ‘sang pencipta’, akan mengatakan bahwa tuhan telah membuatnya membawa beban itu. Jika demikian, si miskin, si penyakitan, si buta, si tuli dan orang-orang yang tertindas akan memiliki cukup alasan untuk mempertanyakan keadaan ini kepada penciptanya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Setelah melihat obyek-obyek yang menyenangkan tanha masih terus ingin melihat obyek yang menyenangkan lainnya. Tanha haus untuk mendengarkan suara-suara musik yang merdu, menikmati aroma yang harum. Tanha pun suka mencicipi rasa yang lezat. Ia suka menikmati sentuhan yang menyenangkan. Memikirkan atau mengkhayalkan hal-hal yang indah dan menyenangkan. Namun ia tak pernah terpuaskan dengan obyek-obyek yang tampak atau yang pernah dinikmatinya. Tanha selalu lapar dan ingin menikmati semua hal.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Telah diketahui bahwa semua indra; penglihatan, pendengaran, pengecap, pembau, peraba dan pikiran memainkan bagiannya masing-masing dalam proses menciptakan nafsu-nafsu atau kemelekatan. Nafsu-nafsu yang berkembang ini diterima sebagai beban oleh tubuh. Didorong oleh nafsu keinginan, kemelekatan dipicu. Ini kami gambarkan sebagai upadana kamma yang menyumbang munculnya khandha-khandha yang baru. Perlu diketahui bahwa pengharapan menciptakan suatu keberadaan baru atau bhava setelah kematian.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Dan seperti yang telah dijelaskan dalam naskah-naskah bahwa hal ini dapat dikatakan sebagai menikmati kesenangan atas obyek-obyek. Tanha tak pernah bosan dengan kesenangan. Dari sudut pandang seorang laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi, seorang bawahan tidak memiliki kualitas hidup seperti yang dimiliki atasannya. Mereka memandang kehidupan seperti itu sebagai sesuatu yang membosankan atau merasa jijik. Tapi saat berada dalam derajat kehidupan yang rendah (seperti hidup yang dialami para bawahan tersebut), mereka akan menikmati kehidupan baru itu.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat melihat dirinya dalam bentuk naga, ia merasa jijik. Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, “Dana yang telah aku lakukan ketika aku sebagai manusia dulu seharusnya menghasilkan akibat baik dan membuatku terlahir di alam dewa…di catumaharajika, tavatimsa, yama, tussita, nimmanarati dan paranimmitavasatti ; enam alam dewa. Tapi hal ini tidak terjadi, karena aku terlahir sebagai seekor naga. Ada yang salah denganku. Lebih baik aku mati daripada terus hidup sebagai seekor ular.” Ia pun berpikir untuk bunuh diri.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Pada waktu itu seekor naga betina bernama Sumana ada di sisinya. Naga betina ini memberi isyarat kepada para naga betina lainnya untuk menghibur raja naga yang baru, yang juga dikenal dengan nama Campeyya. Semua ular yang berpenampilan layaknya manusia, tampak begitu indah, melayaninya dengan musik dan tari-tarian. Dan Campeyya yang baru, melihat kenyataan tersebut berpikir bahwa dunianya saat ini adalah sebaik seperti raja dewa. Ia mulai bersuka cita dengan kehidupan barunya, menjadi pusat perhatian seluruh naga betina yang saat itu tengah menghiburnya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Untuk beberapa waktu ia lupa, bahwa sebelumnya ia benci dengan kehidupannya sebagai ular. Tapi, sebagai bodhisatta , ia dibawa kesadarannya untuk memahami situasi yang dialaminya. Maka ia memikirkan cara untuk lari dari kehidupannya saat ini dan terlahir sebagai manusia lagi. Akhirnya ia mengetahui bahwa satu-satunya cara adalah mepraktekkan kesempurnaan dengan mengumpulkan perbuatan baik seperti berdana dan menjalankan sila . Hal ini dapat ia lakukan dengan mengunjungi alam manusia dan menyamar sebagai manusia.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kesombongan bisa muncul karena kekayaan, pendidikan, status dalam hidup, hubungan kekeluargaan maupun kecantikan. Saat seseorang diliputi kesombongan, ia lupa mengembangkan ketulusan hati, rasa hormat kepada orang lain dan mengumpulkan kebajikan. Berkenaan dengan hal ini, dalam Cula Khamma Vibhanga Sutta , Sang Buddha mengajarkan demikian, kesombongan merendahkan derajat orang yang memilikinya. Jika ia memiliki kerendahan hati, ia bisa memperoleh kualitas hidup yang lebih baik dalam kehidupan selanjutnya. Dalam kasus permaisuri Upari bisa diduga dalam kedudukannya yang tinggi, ia bersikap tidak hormat kepada orang yang patut dihormati. Karena kelakuan buruknyalah ia terlahir sebagai seekor kumbang betina yang rendah.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Dengan cara yang sama diketahui tidak setiap mahkluk bisa terlahir sebagai seorang manusia atau dewa. Bagi mahkluk-mahkluk dengan kamma baik yang cukup akan terlahir di alam-alam tingkat tinggi. Namun kamma baik hanya bisa dikumpulkan melalui berdana, melaksanakan sila dan melatih pikiran. Barang siapa gagal mengumpulkan kusala kamma, kamma baik, ia tak bisa terlahir di alam manusia atau alam-alam dewa. Malah sebaliknya ia akan jatuh ke alam-alam tingkat bawah (neraka), alam binatang atau alam peta .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Diperlukan waktu 30.000 tahun bagi masing-masing pemuda itu untuk meluncur dari permukaan ke dasar kawah dan 30.000 tahun lagi naik dari dasar ke permukaan kawah. Jadi, katakanlah, setelah 60.000 tahun keempatnya bisa bertemu pada kesempatan yang sangat singkat di permukaan kawah yang mendidih. Ketika keempat pemuda itu bertemu mereka ingin menceritakan keadaannya yang sangat susah dan menderita. Pada saat itu mereka hanya bisa mengucapkan kata-kata yang tidak lengkap seperti, ‘ du, sa, na dan so ’.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Dalam hal ini, seseorang harus awas, tidak kehilangan kewaspadaannya. Seseorang bisa menjadi tidak awas saat dirinya dipenuhi obyek-obyek indrawi yang gemerlapan. Sang Buddha telah mengingatkan untuk tidak tergila-gila pada obyek-obyek tersebut. Hanya ketika menjadi tua, sudah dekat dengan kematian, terlahir kembali di alam binatang, peta atau alam neraka, kalian baru merasa menyesal karena tidak mempraktekkan dhamma saat masih muda, kuat dan sehat dulu. Penyesalan sungguh tidak berguna. Dalam keadaan semacam itu, tak ada satupun hal yang bisa dilakukan untuk merubahnya. Saat ini, kalian masih memiliki kesempatan untuk mempraktekkan vipassana , meditasi pandangan terang, maka segeralah lakukan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Para bhikkhu maupun umat biasa harus bersungguh-sungguh memperhatikan kata-kata Sang Buddha dan mematuhi nasehat beliau. Saat ini kalian tengah menikmati hidup. Tapi untuk berapa lama? Setelah meninggalkan masa muda dan memasuki usia tua, yang hanya berlangsung sekitar 40 atau 50 tahun, kalian ternyata hanya melayani khandha-khandha tersebut. Jika selama masa itu hidup kalian tidak ditunjang oleh perbuatan-perbuatan baik dan hanya sibuk melakukan perbuatan buruk, maka perbuatan buruk tersebut akan mengirim kalian ke neraka.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Sebelum masa Sang Buddha, saat ajaranNya belum disampaikan, orang-orang memelihara dan memberi makan tubuhnya menurut apa yang didiktekan oleh keinginan tubuh tersebut. Tapi Sang Buddha mengatakan bahwa tubuh yang merupakan khandha adalah suatu beban, beban yang sangat berat. Bahwa khanda-khandha itu tak pernah bisa terpuaskan, sebanyak apapun yang diberikan kepadanya. Tubuh tak bisa melakukan apapun pada saat kritis karena sifatnya yang tidak kekal. Dan, memanggul mereka berarti penderitaan yang tak terkatakan sepanjang lingkaran kehidupan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ini berarti kalian adalah pelayan bagi tubuh. Sebagai pelayan ada kemungkinan kalian telah menyelesaikan tugas dengan setia dan patuh. Ini sungguh menakutkan. Namun tidak secara keseluruhan ini buruk. Ada kemungkinan baik. Bila dalam melayani tubuh kalian melakukan tindakan-tindakan buruk, seperti mencari nafkah dengan tidak jujur, sebagai akibatnya kalian akan berputar-putar di lingkaran samsara yang tak berkesudahan, menderita, baik di alam-alam tingkat bawah, di alam binatang atau di alam peta.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Seorang yogi atau orang bijaksana melihat keadaan ini sebagai dukkha atau penderitaan. Bayangkan seseorang yang hanya duduk sepanjang hari tanpa melakukan apapun. Ia akan merasa jemu. Apabila ada orang yang hanya duduk dan merenung selama sebulan penuh, ia juga akan menderita. Lantas apa yang akan kalian katakan tentang para brahma yang ‘duduk’ selama ribuan tahun tanpa melakukan apapun kecuali melakukan perenungan. Perenungan ini bisa berlangsung selama ber- kalpa-kalpa lamanya. Inilah yang dinamakan sankhara dukkha , penderitaan yang berhubungan dengan aktifitas batin.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bhavatanha , kemelekatan atau kemelekatan untuk menjadi, tumbuh dan bergabung dengan cara pandang adanya kekekalan yang beranggapan bahwa kesenangan tidak bisa dihancurkan karena substansi hidup yang ada di dalam diri bersifat kekal. Dalam pandangan ini, badan jasmani bisa saja lapuk atau hancur. Tapi, ‘jiwa’ di dalamnya tetap hidup dan akan berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain. Setelah kematian ‘jiwa’ akan berpindah dan bersemayam di tubuh yang baru. Begitulah proses keberadaan yang akan berlangsung terus-menerus.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kelompok yang lain lebih suka percaya bahwa ‘jiwa’ seseorang berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain dan memperbaharui ‘diri’ menurut bekerjanya kamma mereka. Sementara kelompok yang lainnya lagi percaya bahwa hidup telah dikodratkan dan tak bisa diubah. Suatu waktu ia akan pergi menuju ke kekekalan sesuai kodratnya. Secara jelas disebutkan oleh cara pandang ini bahwa ‘substansi’ yang bersemayam di dalam diri bersifat kekal. Inilah bentuk-bentuk pemikiran sassata ditthi . Dibawah anggapan kelompok ini hidup layaknya seperti seekor burung yang hinggap dari satu pohon ke pohon lain. Sebagaimana sebuah pohon tua yang menunggu keluruhannya sambil menanti anak pohonnya tumbuh. Jadi, saat meninggal jasmani akan hancur, sementara ‘zat hidup’ bergerak keluar dan menuju ke jasmani barunya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Di bawah pengaruh bhavatanha yang didukung oleh konsep kekekalan seseorang terpuaskan dengan beranggapan bahwa atta , ‘diri’, berada di dalam dirinya secara tetap. Ia begitu percaya diri dan merasa bahwa yang ada di dalam dirinya adalah “dirinya” sendiri. Hal-hal yang ia nikmati sekarang bisa juga dinikmatinya di masa yang akan datang. Disini, kemelekatan kepada semua yang dilihat, didengar, dibaui, dicicip, disentuh dan dipikirkan tumbuh lebih kuat dan semakin kuat dari satu keberadaan ke keberadaan yang lain.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ia tak hanya bisa menikmati obyek-obyek indra yang dinikmatinya saat ini. Tapi, ia pun berharap bisa menikmati hal yang sama di masa yang akan datang. Biasanya, setelah memiliki kehidupan yang bahagia sebagai manusia ia memimpikan lebih dari itu. Ia berharap bisa hidup lagi dan terlahir sebagai dewa yang berbahagia. Itulah proses berkembangnya keinginan. Sementara kelompok lain ingin terlahir sebagai pria di seluruh kelahirannya. Dan kelompok lainnya lagi ingin terlahir sebagai perempuan. Semua keinginan-keinginan ini ada akibat bekerjanya bhavatanha . Lebih jauh, bhavatanha rindu akan kenikmatan indrawi yang berakar dari konsep adanya kekekalan jiwa.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Inti cara pandang ini adalah; individu terbuat dari unsur-unsur atau elemen-elemen utama yakni tanah, air, api dan udara. Setelah meninggal elemen air mengalir ke dalam massa air. Elemen api berubah menjadi panas. Elemen udara mengalir bersama massa udara. Semua organ indra seperti penglihatan, pendengaran, pengecap, pembau, peraba dan indra pemikir lenyap ke angkasa. Saat individu, apakah ia orang bijaksana atau orang bodoh meninggal, maka tubuhnya akan hancur dan lenyap. Tak ada yang tersisa setelah kematian.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Jawabnya, menurut kepercayaan Ajita dan pengikutnya, adanya atta (diri) yang hidup atau satta (keberadaan). Walau pandangan ini mempercayai adanya empat elemen utama, atta atau satta tetap ada. Inilah kemelekatan terhadap adanya sesuatu yang suci di dalam diri. Bagi kelompok orang yang percaya akan pandangan ini beranggapan bahwa tak perlu membuang-buang waktu untuk melakukan perbuatan baik sebagai bekal dalam hidup mendatang. Karena keberadaan yang akan datang itu tidak ada. Sehingga mereka umumnya memenuhi hari-harinya dengan menikmati kesenangan sebanyak-banyaknya dalam satu kehidupan ini. Karena hanya kehidupan satu-satunya inilah yang mereka miliki.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Jika tak ada kehidupan baru setelah kematian semua perbuatan buruk mereka akan berakhir dengan berakhirnya keberadaan. Orang-orang ini tak perlu bertanggungjawab terhadap semua perbuatannya, baik atau buruk. Karena perbuatan buruk yang mereka lakukan akan terhapus ketika mereka meninggal. Demikian juga semua perbuatan baik akan terhapus setelah meninggal dunia. Penganut vibhavatanha menemukan kepuasan pada pandangan tentang kehancuran total. Seseorang yang terikat dengan gagasan ini selalu tergerak untuk menikmati semua kesenangan hidup tanpa adanya pengekangan terhadap semua hal-hal buruk. Melakukan semua kenikmatan hidup saat ini serupa dengan menerima khandha-khandha yang akan muncul dalam kehidupan mendatang. Perbuatan buruk yang terkumpul pada kehidupan ini adalah akusala kamma . Saat kematian mereka akan berhadapan dengan perbuatan buruknya dan dilekati olehnya. Digambarkan, mereka akan diterangi oleh kamma-kamma -nya sehingga akan muncul khandha yang baru.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kemelekatan semacam ini berlangsung terus-menerus dan dalam waktu yang tak terhitung sehingga keberadaan yang baru tak bisa dihindarkan. Di sisi lain cara pandang nihilisme ini tak bisa dipertahankan. Ada ilustrasi yang bisa diberikan di sini. Biasanya seorang dokter menganjurkan agar pasiennya yang sedang sakit tak diberikan makanan yang akan menganggu kesehatannya. Tapi, pasien bersangkutan justru tak bisa menahan diri. Ia tetap mengkonsumsi makanan-makanan pantangan itu. Akibatnya, kondisi kesehatannya semakin buruk. Mungkin saja ia akan menghadapi kematian.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Orang yang melekat dengan cara pandang uccheda ditthi seperti pasien bandel di atas. Meski ia percaya tak ada keberadaan apapun setelah kematian, kemelekatannya akan obyek-obyek yang menyenangkan begitu kuat. Sehingga sekali lagi ia akan ‘menjadi’, apapun cara pandangnya. Setelah itu keberadaannya yang baru akan sangat sulit dan keras karena ia tak pernah melakukan perbuatan baik sebelumnya. Perlu diingat, setiap perbuatan buruk akan menghasilkan akibat buruk. Atau dengan kata lain, dari setiap perbuatan buruk akan muncul suatu reaksi yang buruk pula.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Cara pandang ini menjadi fondasi bagi tumbuhnya rasa mementingkan diri sendiri. Dalam hal ini tak ada tempat untuk menghormati keberadaan pihak lain. Biarkan yang lain meninggal dan ia tetap hidup. Dengan cara pandang ini ia tak punya rasa cemas atau penyesalan terhadap perbuatannya yang menyakiti pihak lain. Yang dikembangkan hanya perbuatan-perbuatan buruk. Dengan cara hidup demikian ia tak akan memiliki harapan apapun kecuali akan terlahir dalam bentuk keberadaan yang rendah dan buruk pada kehidupan mendatang.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Jalan bagi yang tak terlahir kembali, arahatta magga , mengantarkan individu pada pemusnahan sepenuhnya semua bentuk kemelekatan. Pada tingkat anagami magga , tingkat yang tak akan kembali, semua kemelekatan pada kesenangan indra atau nafsu raga, kamaraga , padam. Karena ketiadaan jenis kemelekatan semacam ini seorang anagami terbebas dari kamma bhava , proses aktif untuk menjadi; sehingga ia tak akan terlahir lagi di alam manusia atau di alam dewa untuk memanggul beban kelima khandha sebagai manusia atau dewa. Bagi individu di tingkat Sakadagami magga , jejak bagi yang akan terlahir sekali, bisa memusnahkan nafsu raga sepenuhnya. Sehingga ia bisa menurunkan beban setelah dua kali keberadaan lagi. Pada tingkat sotapatti magga , jalan para pemenang arus, maka sakkaya ditthi , ilusi tentang adanya ‘aku’ dan vicikiccha , keragu-raguan, padam. Kedua belenggu itu hampir sama dengan kemelekatan, samyojana .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Para bhikkhu menjawab, bahwa sejumput pasir yang ada di ujung jari tangan Sang Buddha sangat sedikit dibanding jumlah pasir yang ada di bumi. Kemudian beliau mengatakan bahwa penderitaan yang muncul dari proses ‘menjadi’ sebelum seorang yogi meraih tingkat sotapatti adalah tak terhitung, sebanyak pasir-pasir yang ada di bumi. Setelah meraih ‘jalan’ dan ‘buah’ ( magga dan phala ), maka jenis penderitaan yang tersisa dari tujuh kelahiran seorang sotapatti ‘terlihat’ seperti pasir di ujung jari Sang Buddha. Lebih jauh Sang Buddha menasehati para bhikkhu untuk berlatih dengan serius sehingga bisa merealisir empat kesunyataan mulia.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bila demikian, kalian akan menganggap ketidakkekalan sebagai kekekalan. Atau kalian akan menganggap ketidaknikmatan sebagai kenikmatan. Serta yang tidak memiliki substansi sebagai memiliki substansi. Bisa juga dikatakan dengan menjadi tidak waspada kalian tidak akan menyadari hakekat dari ketidakkekalan, penuh penderitaan dan ketanpaintian ( anicca, dukkha, dan anatta ). Dengan tidak memahami hal ini berarti kalian memiliki pandangan salah atau dipenuhi avijja. Avijja artinya ketidaktahuan atau dipenuhi khayalan-khayalan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Khayalan-khayalan inilah yang memikat kalian. Ia membelenggu kalian pada obyek-obyek yang menyenangkan. Sebagaimana kalian terpikat pada badan jasmani. Inilah kondisi alami dari kemelekatan. Dan setiap saat kemelekatan semacam ini terus membuntuti kalian. Sehingga kalian harus menerima beban berat dari khandha karena adanya kemelekatan ( tanha ) dan kemelekatan ( upadana ) yang muncul terus-menerus. Kemelekatan mengaktifkan kamma , aksi atau perbuatan, dan sankhara , kekuatan kemauan. Dengan cara demikian terbentuk mahkluk berupa khandha yang baru.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bila seseorang enggan berlatih meditasi vipassana dan gagal mencatat obyek-obyek indra, kemelekatan akan membayanginya terus-menerus. Kemelekatan itu muncul bersama dengan proses melihat atau mendengar. Atau pada saat tertentu kemelekatan seolah ‘tidur’ untuk sementara waktu sambil menunggu saat yang tepat untuk muncul. Itulah sebabnya kalian harus waspada saat pikiran kontak dengan obyek-obyek indra. Jika kalian gagal melihat proses itu, kemelekatan yang ditemani oleh khayalan-khayalan akan mengambil alih. Dalam keadaan ini kalian sepenuhnya terbuka untuk menerima khandha yang baru sesuai dengan kamma yang telah dilakukan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kemudian kalian akan mengetahui adanya subyek yang mengetahui (dinamakan batin) dan obyek yang diketahui (disebut jasmani). Batin yang (kedua) baru muncul setelah (batin) yang sebelumnya lenyap. Dan batin yang ketiga muncul setelah batin yang kedua lenyap. Hal demikian ini berlangsung terus-menerus, dimana batin yang baru muncul setelah batin yang sebelumnya lenyap. Ketika mengamati keadaan ini kalian akan menyadari bahwa tak ada apapun yang kekal. Yang ada hanyalah proses perubahan terus-menerus. Dan, semua proses ini adalah subyek dari hukum ketidakkekalan. Ini bukanlah kondisi yang memuaskan. Ketidakpuasan ini adalah dukkha , penderitaan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ketika kalian mampu menyadari bahwa batin dan jasmani adalah subyek dari hukum ketidakkekalan, penderitaan dan ketanpa-intian, berarti kalian telah memiliki pengetahuan atau vijja . Inilah yang dinamakan pencerahan. Setelah menyadari hal ini kalian akan berkata meditasi pandangan terang telah menolong kalian memperoleh cahaya kebijaksanaan. Dimana kebijaksanaan ini telah mengusir khayalan-khayalan. Pada tingkat ini kalian dapat menolak pikiran salah yang mengidamkan obyek-obyek yang menggiurkan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kemelekatan bisa dihalau dengan mencatat obyek suara dan penglihatan yang masuk ke pikiran. Saat pencatatan berlangsung, tak ada kesempatan bagi kemelekatan atau keinginan untuk muncul. Akibatnya tak ada lagi kemelekatan terhadap obyek itu meski kemudian kalian memanggil atau mengingat kembali apa yang telah dilihat atau didengar. Ini berarti kalian terbebas dari belenggu tanha atau kemelekatan meski dalam waktu yang relatif singkat. Jadi, saat kusala dhamma terbentuk, kemelekatan tidak akan muncul. Dengan demikian telah terjadi proses pembebasan dari kemelekatan atau tanha yang muncul dan dicatat secara tepat dan teliti sekarang atau yang akan muncul kemudian oleh kusala dhamma yang diperoleh melalui praktek vipassana .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat mencatat kembung dan kempisnya perut atau mencatat duduk, berdiri, menekuk atau merentangkan lengan, kalian sedang melihat diri sendiri ‘ke dalam’. Saat pencatatan berlangsung kemampuan kalian melihat kenyataan berkembang setingkat demi setingkat, tahap demi tahap. Dengan cara ini keinginan untuk menikmati sensasi kesenangan gagal untuk muncul. Jika gagal melihat fenomena itu apa adanya, kalian akan tersesat saat proses itu muncul sehingga akan timbul pandangan salah seperti, ‘ini adalah perutku’. Cara pandang semacam ini dipenuhi khayalan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kemudian kalian akan menyadari bahwa pikiran-pikiran, keinginan-keingian atau maksud-maksud ini tak ada di sana sebelumnya. Kalian juga melihat bahwa bentuk-bentuk pikiran ini muncul dan lenyap. Kalian akan mengetahuinya secara intuitif, tanpa perlu melakukan daya upaya untuk menyelidiki bentuk-bentuk pikiran tersebut. Kalian tak lagi terpikat oleh bentuk-bentuk pikiran, keinginan-keinginan dan kemauan kehendak. Kalian tak lagi melekat dengan obyek-obyek itu. Tak memandang mereka sebagai produk dari atta . Ini adalah hal penting yang patut diketahui bila ingin memusnahkan tanha , kemelekatan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Seorang yogi yang telah meraih bhanga nana menemukan bahwa baik subyek yang melakukan pencatatan (batin) dan obyeknya (jasmani) muncul dan lenyap dalam waktu yang sangat cepat. Saat mencatat kembung dan kempisnya perut (jasmani), keduanya, baik kembung dan kempisnya perut maupun pikiran (batin) yang tengah mencatat proses itu segera lenyap pada saat diamati. Baik batin maupun jasmani tidak pernah berada pada satu keadaan yang tetap. Kalian tak tahu kapan munculnya. Proses ini selalu berubah-ubah, bersifat tidak tetap. Sehingga secara mutlak tak ada alasan bagi siapapun untuk terikat dengan khandha -nya dan menyebutnya sebagai ‘tubuhku’, ‘perutku’, atau ‘Ini pikiranku’. Dengan demikian kemelekatan tidak bisa berkembang.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bila proses kemelekatan gagal muncul, tanha pun tak akan muncul. Setelah itu upadana maupun kamma , proses aktif untuk menjadi, tak akan muncul. Ketika tengah mencatat berbagai fenomena (seperti kembung dan kempisnya perut, atau menekuk dan merentangkan anggota badan) kalian akan melihat bahwa obyek yang diamati, jasmani, dan subyek yang mengetahui, batin, lenyap sekaligus tanpa meninggalkan bekas berupa bentuk atau substansi apapun di dalamnya. Keduanya bersifat tidak kekal. Maka fenomena ini tak bisa dicatat atau dikatakan sebagai ‘perutku’ atau ‘tubuhku’. Pada saat inilah kemelekatan bisa dipadamkan. Dengan pemadaman ini, upadana, kamma dan sankhara tak lagi bekerja. Dengan berhentinya aktifitas ini, khandha-khandha yang baru gagal untuk muncul. Dan beban diletakkan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Umpama kalian berkonsentrasi pada rasa panas yang muncul di salah satu bagian tubuh. Orang-orang awam akan berpikir bahwa rasa panas itu terjadi secara tetap dan terus-menerus. Tapi, saat mencatat rasa panas itu menurut petunjuk meditasi pandangan terang, kalian akan menemukan bahwa rasa panas itu muncul sebagai rangkaian sensasi panas. Saat ini muncul, saat ini juga lenyap. Sesaat kemudian muncul rasa panas yang baru dan akan lenyap pada saat itu juga. Pada proses itu ada patahan-patahan atau jeda-jeda dalam rangkaian sensasi rasa panas itu.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bagi yogi yang sedang mempraktekkan vipassana semua jeda-jeda atau patahan-patahan itu terlihat jelas. Sementara bagi masyarakat awam sensasi panas itu dibayangkan sebagai suatu rangkaian sensasi yang tak terputus. Hal ini menyadarkan kalian bahwa, tak hanya sensasi rasa panas tapi juga pikiran yang tengah mengawasi sensasi itu muncul dan lenyap. Pada satu saat pikiran menyadari adanya sensasi rasa panas dan kemudian pikiran itu lenyap pada saat itu juga. Sesaat kemudian pikiran yang baru muncul lagi dan lenyap seperti sebelumnya. Hal ini berlangsung terus-menerus sampai sensasi rasa panas itu berakhir.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Dari contoh sensasi rasa panas, sensasi ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian, saat demi saat. Dan ketika kalian mencatat dukkha vedana , sensasi yang tak menyenangkan, sukha vedana , sensasi yang menyenangkan, dan upekha vedana , sensasi yang bukan menyenangkan maupun bukan tidak menyenangkan, kalian tak akan melekat pada ide tentang adanya suatu substansi yang permanen, ‘aku’, ‘aku’ yang menderita atau ‘aku’ yang tengah berbahagia. Ketidakmelekatan ini membawa pada akhir bekerjanya upadana, kamma, sankhara, khandha dan kebebasan mutlak. Saat itulah seluruh beban bisa terangkat dari pundak kalian. Dengan padamnya khandha , maka usia tua, penyakit dan kematian tak akan muncul. Sehubungan dengan ini Sang Buddha mengatakan, seorang yogi akan terbebas dari kematian setelah ia berhasil menyingkirkan bebannya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Setiap individu yang gagal secara keseluruhan atau sebagian dalam berlatih meditasi pandangan terang akan gagal mewujudkan ‘jalan’. Lebih jauh, akan terbuka bagi individu semacam ini untuk terlahir kembali dan menderita di alam-alam bawah sebagai akibat dari dorongan kamma buruknya. Jika jalan yang ditempuhnya telah dekat ke tingkat sotapanna , ada kemungkinan, ia bisa terhindar dari terjatuh di alam-alam neraka pada kehidupan berikutnya. Namun, pada kelahirannya yang ketiga, orang ini akan terjebak dalam lingkaran samsara , melewati berbagai kelahiran sebagai manusia atau dewa.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Jika orang di atas terus berlatih meditasi pandangan terang dimanapun dalam salah satu kehidupannya ia akan berkesempatan mendapatkan buah kamma baik dari ajaran Sang Buddha. Bahkan setelah itu ia bisa meraih magga dan phala dalam waktu singkat pada beberapa kelahiran berikutnya, meski ia kehilangan kesempatan berlatih dalam kehidupan saat ini. Itu berarti ia telah menetapkan suatu batas untuk tumimbal lahirnya. Inilah keuntungan yang bisa diperoleh seorang yogi vipassana dibanding individu-indvidu yang tidak berlatih meditasi ini. Sementara khayalan dan kemelekatan yang membelenggu membuat seseorang terus terjebak dalam lingkaran samsara yang tak berkesudahan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Pengetahuan umum tentang proses melihat, mendengar, dan lain-lain melalui khandha (yang terbentuk dari batin dan jasmani) bukanlah pengetahuan sebenarnya. Itu termasuk avijja , kegelapan batin. Avijja menciptakan khayalan tentang kekekalan dari benda-benda yang dilihat atau didengar seseorang. Kekotoran batin menjerat kalian untuk percaya bahwa suatu obyek itu menyenangkan, baik dan indah. Kekotoran batin membentuk kalian pada ide tentang adanya ‘diri’, ‘Ini adalah aku, itu adalah dia, ini adalah suatu mahkluk’. Demikianlah kalian selalu berpikir karena belenggu kekotoran batin.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Keadaan ini menutupi kebenaran alami dari khandha-khandha . Sehingga kalian terus berpikir bahwa suatu obyek itu indah dan menyenangkan. Ini menjadikan kalian terikat padanya. Inilah kerjasama kemelekatan dan khayalan. Kemelekatan ibarat tambatan. Hewan ternak yang terikat bisa bergerak sejauh panjang tambang yang mengikatnya. Hewan ini tak bisa pergi lebih jauh dari tambang itu. Seperti inilah cara mahkluk hidup tertambat karena kemelekatannya. Dan, mahkluk hidup semacam ini terus-menerus berputar-putar tak bisa keluar dari ikatan kemelekatan itu. Mahkluk hidup-mahkluk hidup ini terlahir kembali, lagi dan lagi dalam berbagai wujud fisik atau khandha-khandha tanpa akhir.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Mereka tak bisa mematahkan lingkaran samsara . Nyatanya, mereka tak memiliki ide tentang keluar dari lingkaran samsara . Sehingga khandha-khandha akan muncul lagi dan lagi selama jutaan lingkaran kelahiran. Dan tak diketahui kapan mereka mulai tersadar tentang keadaan menyedihkan ini. Mereka akan terus meng-ada sampai bisa merealisir sotapanna magga . Ketika mereka sudah memperoleh ‘jalan’, diasumsikan khandha-khandha -nya akan berwujud hanya sampai tujuh kelahiran saja. Setelah itu tak akan ada lagi proses ‘menjadi’. Selanjutnya mereka bisa mencapai kedamaian mutlak. Saat itulah mereka bisa meletakkan semua beban.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Beban berarti lima kelompok kemelekatan. Adanya beban memperlihatkan kebenaran tentang penderitaan. Si penerima beban adalah kemelekatan. Dan kemelekatan menunjukkan kebenaran tentang sebab penderitaan. Meletakkan beban berarti melenyapkan kemelekatan. Hal ini memperlihatkan kebenaran tentang padamnya penderitaan. Meditasi pandangan terang dan empat kesunyataan mulia adalah cara melenyapkan penderitaan. Meditasi pandangan terang dan empat kesunyataan mulia merupakan jalan menuju lenyapnya penderitaan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Memanggul beban adalah penderitaan. Dan melepaskannya berarti memberi peluang untuk meraih kebahagiaan. Kemelekatan muncul ketika kalian gagal mencatat berbagai fenomena saat melihat, mendengar, dan lain-lain. Atau, kemelekatan tak muncul sementara waktu sampai akan muncul lagi belakangan. Kemunculannya pun membutuhkan pencatatan lagi. Dalam berbagai cara munculnya kemelekatan membawa serta upadana, kamma dan sankhara yang pada gilirannya akan menumbuhkan khandha yang baru. Kemudian sampailah giliran munculnya penderitaan baru.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bagi para arahat kematian adalah pembebasan dari beban. Saat arahat meninggal dunia adalah saat-saat untuk bergembira. Tapi mahkluk hidup yang masih diselimuti kemelekatan tetap memanggul bebannya dengan penuh penderitan. Bahkan Ananda Thera (Sekretaris/Pembantu/Sepupu, Karena paling sering menemani Beliau, maka Ia yang paling banyak mendengarkan Pembabaran Dhamma) menangis saat Sang Buddha mencapai mahaparinibbana . Juga ada kisah tentang para perempuan desa yang menangis sewaktu ibu tiri Sang Buddha yakni Mahapajapati Gotami parinibbana .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Bahkan para sotapatti tak memiliki masa istirahat sesingkat apapun selama tujuh kali keberadaannya. Keadaan ini juga berlaku bagi para sakadagami . Sementara seorang anagami bahkan harus bertoleransi tumimbal lahir sebanyak empat atau lima kali sesuai dengan jumlah alam-alam brahma yang dimasukinya. Hanya para arahat yang sepenuhnya selamat dari tumimbal lahir ke dalam khandha yang baru segera setelah mereka mencapai parinibbbana . Tentu saja para arahat ini telah berhasil mencabut akar kemelekatannya. Dengan kata lain mereka telah melepaskan beban dari pundaknya. Kemelekatan atau tanha telah sepenuhnya padam di dalam diri seorang arahat .

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kemelekatan seperti rasa lapar, tidak pernah terpuaskan. Mahkluk hidup terbelunggu oleh kemelekatannya. Bahkan para sotapatti, sakadagami dan anagami belum bisa mematahkan belenggu kemelekatan itu sepenuhnya. Mereka pun, seperti mahkluk hidup lainnya mambangun keterikatan pada tahun kematiannya, terhadap obyek indrawi yang dibentuk oleh kamma, kamma nimitta dan gati nimitta . Karena keterikatan semacam ini muncul khandha yang baru. Tapi para arahat adalah orang-orang yang telah membunuh kemelekatannya dengan senjata arahatta magga . Mereka telah mencabut seluruh kemelekatannya sampai ke akar-akarnya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Ada cerita lainnya. Pada tahun 400 di masa Buddha Dhamma, kala Dutthagamani memerintah di Ceylon (Sri lanka) ada seorang yogi yang berpikir bahwa dirinya telah meraih ke- arahat -an karena telah menyingkirkan kemelekatannya. Suatu hari ada seorang yogi perempuan bernama Dhammadina mengunjunginya. Yogi perempuan ini benar-benar seorang arahat . Ia bertanya, sudah berapa lama Dutthagamani menjadi seorang arahat . Dutthagamani menjawab bahwa ia telah menjadi arahat selama enam puluh tahun. Ia sungguh-sungguh percaya telah menjadi arahat karena tak pernah merasakan kemelekatan muncul di dalam dirinya.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Dhammadina, si yogi perempuan, memintanya untuk menciptakan sebuah danau teratai yang berisi setangkai teratai raksasa di dalamnya. Di dalam bunga itu ada gadis cantik sedang menari. Kemudian yogi perempuan ini meminta Dutthagamani mengamati gadis cantik ciptaannya itu dengan cermat. Ia pun menurutinya. Pada saat ia mengamati gadis cantik ciptaannya itu muncul gairah seksnya. Ketika itulah ia sadar menganggap dirinya sebagai arahat adalah salah besar. Karena kenyataannya ia belum meraih ke- arahat -an.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Setelah itu, Dutthagamani bertanya kepada Dhammadina untuk menunjukkan kepadanya jalan yang benar dalam berlatih dhamma serta mencabut akar kemelekatan dan khayalan-khayalannya. Sehingga dengan jalan ini ia bisa menjadi arahat sejati. Karena sejauh ini ia baru berhasil menyingkirkan kemelekatannya untuk sementara waktu saja seperti pot air yang menahan jatuhnya air turun ke tanah. Kenyataannya, ia belum benar-benar mencabut akar khayalan dari dasarnya. Hanya setelah berhasil meraih arahatta magga barulah ia bisa mencabut akar keinginan itu.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Telah diketahui saat menikmati kesenangan dari obyek-obyek indra (yang dilihat maupun didengar, dan lain-lain), kalian sedang menerima beban. Beban ini berarti dukkha itu sendiri. Kalian menikmati proses itu karena gagal mencatat untuk melihat kebenaran alaminya. Bila kebenaran alami dari proses itu semakin tidak dimengerti, makin besar ketertarikan kalian atas obyek-obyek tersebut. Kemelekatan, si penerima beban, adalah sebab dari semua masalah. Keadaan ini membawamu pada kesunyataan tentang adanya kemelekatan yang merujuk pada samudaya sacca , kesunyataaan mulia tentang sebab dari penderitaan.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Kalian juga telah menyadari bahwa lenyapnya kemelekatan berarti beban telah diletakkan. Keadaan ini menunjukkan kebenaran adanya nirodha sacca , kesunyataan mulia tentang lenyapnya penderitaan. Khayalan membangun kesalahpahaman tentang keadaan sebenarnya dari berbagai fenomena saat terjadi proses melihat, mendengar, dan lain-lain. Ketika kalian gagal mencatat saat proses-proses itu berlangsung maka muncullah kemelekatan. Sehingga, kapan pun kalian telah berhasil menyingkirkan kemelekatan, pada saat itu pula khayalan berhasil disingkirkan. Kalian pun harus tahu, saat khayalan telah berhasil dihancurkan, vijja nana , pengetahuan, tumbuh. Sebagaimana kegelapan lenyap saat cahaya muncul. Hal ini harus kalian mengerti.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Saat pengetahuan diperoleh kalian telah merealisir nirodha sacca . Penderitaan muncul saat kalian gagal mengamati obyek-obyek indra. Sewaktu kalian mampu mencatat timbul dan tenggelamnya berbagai fenomena dalam praktek meditasi, maka pengetahuan batin akan berkembang. Melalui cahaya pengetahuan khayalan akan sirna. Persis seperti kegelapan sirna kala cahaya datang. Saat khayalan telah tersingkirkan maka tak ada kemelekatan yang muncul. Pada gilirannya tak ada khandha baru yang akan muncul yang akan memunculkan kemelekatan untuk mengada. Dan tak ada kondisi untuk memanggul beban lagi.

seperti di kutip dari https://wirajhana1.wordpress.com

Semoga kalian yang telah mendengar ceramah tentang Bhara Sutta ini bisa menyadari bahwa lima khandha yang muncul dan lenyap melalui jasmani kalian adalah beban yang sungguh berat. Beban itu berasal dari kemelekatan yang muncul melalui proses melihat, mendengar, dan lain-lain. Pada saat itulah kalian menerima beban khandha . Ini menyebabkan munculnya penderitaan. Menolak untuk menerima beban berarti munculnya kedamaian. Dan kedamaian ini bisa diperoleh dengan berlatih meditasi pandangan terang (meditasi vipassana ). Akhirnya, saya berharap dengan sepenuh hati kalian bisa meraih nibbana segera melalui terkumpulnya kebajikan yang diperoleh dari pencapaian pandangan terang dan ‘jalan’.


Baca juga : login

“ Jreg, jreg, jreg, jreg, jreg ,” Kudir mengayunkan cangkul kelima kali. Namun begitu cangkulan keenamnya dihujamkan ke tanah terdengar bunyi benturan agak keras, “ trang .” Para penggali kubur itu tahu bahwa cangkul itu menghantam batu besar sehingga secara spontan Miko ganti bertindak. Dihujamkan linggis tepat di samping batu itu dan selanjutnya digerakkan ke kanan dan kiri agar batu itu goyah dari tanah yang mendekapnya. Apa yang dilakukan itu berhasil dan batu sebesar bola kaki itu dapat dicongkel dan diangkat.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sambil menunggu jenazah, keempat orang kembali menuju ke makam Mbah Jati Kramat. Sesampai di tempat itu, Joko, salah satu keluarga Mbah Slamet mendatangi keempat orang itu sambil membawa bungkusan nasi dan seteko teh manis. Bungkusan nasi dan seteko teh manis itu diserahkan kepada Sobar. “ Matur suwun yo,  terima kassih ya mas,” ujar Sobar. “ Podo, podo, sama-sama mas,” Joko menimpali. “Mas uang rokoknya habis pemakaman selesai ya,” Joko berujar kembali. Mendapat penjelasan yang demikian, Sobar dengan tersenyum mengatakan, “ Wis  nggak usah dipikir mas,  sampeyan  kan masih saudara dengan saya.” Uang rokok adalah istilah upah bagi para penggali kubur yang sudah membuatkan liang lahat.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Bungkusan nasi itu dilahap keempat orang itu. Seteko teh pun habis diteguknya. Selepas mengisi perut dan mengusir rasa haus, Kudir dan Warso menghisap rokok  yang dilintingnya sendiri. Sedang Sobar dan Miko nampak  leyeh-leyeh  kekenyangan. Di tengah asyiknya suasana itu, terlihat Soleh dengan sedikit berlari mendekati mereka. “Jenazah sudah tiba,” ujarnya. Mendengar kabar yang demikian, sontak keempat laki-laki itu segera mengambil alat-alat galinya dan bergegas menuju ke tempat di mana ia menggali liang lahat tadi.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Pak,  piye, bagaimana hari ini ada rejeki,” ujar istrinya. Pertanyaan itu mengagetkan Sobar. Dirinya pun tersenyum, “Syukur mbok,” jawabnya dengan ala kadar. “Ya pak, mudah-mudahan rejeki kita banyak karena kebutuhan sehari-hari meningkat,” papar istrinya. “Anak kita mau masuk SMA, terus yang kedua minta baju sekolah yang baru,” istrinya kembali mengoceh. “Belum lagi bahan bakar minyak naik pak,  apes, sial, kita nggak tercatat sebagai penerima kartu jaminan dari pemerintah,” istrinya terus berseloroh.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Selepas berdoa, ia pun menuju ke serambi rumah dan menduduki kursi yang biasa tempati untuk merenung. Heningnya malam membuat Sobar merasa lebih nyaman duduk di tempat itu. Tak lama setelah berada di kursi itu, dirinya baru sadar akan doa yang habis ia panjatkan kepada Tuhan. “Saya tadi minta rejeki yang banyak kepada Tuhan,” angan-angannya mulai menjalar. “Tapi memang saya butuh rejeki yang banyak karena untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak,” angan-angannya membenarkan doanya. Sebagai penggali kubur rejeki datang bila ada orang meninggal. “Ya Gusti, ya Tuhan, tadi berarti saya berdoa agar banyak orang mati?” suara hatinya keluar dengan penuh keheranan.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Suara gedoran dan teriak itu rupanya terdengar hingga ke belakang rumah. Samiun yang tengah mengunduh buah pohon kelapa, sayup-sayup mendengar namanya disebut-sebut. Dirinya yang sedang nangkring di pucuk pohon kelapa yang menjulang ke langit segera turun. Naik dan turun pohon kelapa bagi Samiun sering dilakukan, sehingga saat ia menuruni pohon itu, gerakannya sangat cekatan, tak lama untuk berpindah dari pucuk pohon ke tanah yang membenamkan pangkal pohon kepala yang menjadi sumber penghidupannya itu.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Di tengah berbagai pertanyaan seperti itu, tiba-tiba Slamet berteriak, “hai semua yang bawa cangkul, gali tanah di bawah pohon itu.” Mendengar perintah yang demikian, Samiun tampak kebingungan. Buat apa tanah di bawah pohon itu digali. “ Heh , kamu dengar tidak apa yang saya perintah,” bentak Slamet kepada Samiun. Samiun pun menuju ke tempat itu. Rupanya dirinya tidak sendiri. Sudah ada beberapa orang yang seperti dirinya. Mereka juga membawa cangkul. Samiun berpikir bahwa orang-orang itu juga didatangkan Slamet untuk diajak ke balik bukit.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba Slamet menggelandang salah satu orang dari 20 orang yang diikat tangannya tadi. Dengan kasar, Babinsa itu menyeret orang itu menuju lubang yang telah digali. Sampai di pinggir lubang, orang itu di suruh menghadap ke lubang. Saat orang itu menatap lubang ke bawah, tiba-tiba Nusiron menebaskan pedang yang dibawa ke arah leher. Sabetan yang keras dan tajamnya membuat kepala orang itu putus dari badan. Dari lehernya muncrat darah dengan tekanan yang keras. Darah itu muncrat ke muka Nusiron. Secara reflek ia menendang tubuh itu hingga tersungkur ke dalam lubang menyusul kepalanya yang sudah jatuh lebih duluan.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Bahkan yang lebih mengerikan ada penyerbuan dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Akibatnya suasana kampung menjadi tegang dan mencekam. Suasana lebih mencekam setelah ada pembunuhan dan penculikan jenderal yang dilakukan oleh pasukan pengamanan Presiden. Setelah kejadian itu, para Babinsa, Ansor, dan kelompok masyarakat lainnya menggeruduk orang-orang PKI. Mereka yang saat itu berada di rumah atau bertemu di jalan, langsung diciduk, diikat dengan tali, dan diarak di tengah masyarakat. Selanjutnya mereka dinaikkan ke dalam sebuah truk.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Satu persatu dari 20 orang itu digelandang, diseret, dan ditebas dengan pedang atau klewang oleh Nusiron dan Badak secara bergantian. Dari ke-20 orang, saat orang ke-6, digelandang, ia tiba-tiba berontak. Gerakan tubuhnya itu rupanya cukup kuat sehingga ia lepas dari genggaman Slamet. Begitu lepas, meski dengan tangan terikat, ia langsung lari. Slamet kaget tahu orang yang diciduk lari, ia segera mengambil pistol yang tesarung di pinggang. Setelah pistol itu ditangan, dibidikkan ke arah orang yang melarikan diri itu. “Dooorrrr….” Bunyi letupan keras keluar dari pistol diiringi sebuah pelor dimuntahkan. Tembakan itu rupanya tepat sasaran, terbukti pemuda yang lari terbirit-birit itu tersungkur sebelum dirinya masuk dalam semak-semak.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun adalah anak tunggal Pak Tedjo dan Mbok Siyo. Kedua orangtua itu petani kelapa di dusun. Hidup keluarga Pak Tedjo datar-datar saja, makan sehari-hari bisa dipenuhi setelah ia menjual beberapa butir kelapa di pasar desa. Hasil dari jual kelapa itu kemudian digunakan untuk membeli sekilo beras, tempe, serta minyak minyak goreng. Sayuran bisa diperoleh dari kebun yang berada di kanan dan depan rumah. Sedang untuk memasak nasi dan sayur serta menggoreng tempe, ia menggunakan kayu bakar dari patahan ranting atau pohon tumbang di hutan yang tak jauh dari rumahnya. Dengan cara seperti itu, keluarga Pak Tedjo bisa menyambung hidup.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Saat pasaran di pasar sudah sepi, dagangan dan keranjang itu dirapikan. Selanjutnya diangkat keranjang itu untuk meninggalkan tempat yang dari pagi digunakan untuk menjajakan buah kelapa itu. Pak Tedjo tidak langsung pulang. Lebih dahulu ia berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ia membeli beras dan yang lain dengan uang yang diperoleh dari hasil penjualan buah kelapa. Sebab hasil penjualan lari maka hari itu ia membeli telur ayam. Telur ayam bagi warga dusun adalah lauk yang jarang dikonsumsi, masih terbilang barang mewah, sehingga tak semua warga dusun bisa menikmati. Warga dusun tak banyak yang mengkonsumsi telur, selain harga per butirnya terbilang mahal, sebab mereka masih banyak yang miskin, juga karena stock telur sangat terbatas.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Semua alasan itu tak didengar oleh keempat orang tadi. Pak Tedjo diringkus dan digelandang menyusuri jalan dusun yang sepi. Di sebuah pertigaan ada sebuah truck perang Jepang dengan di beberapa bagian terlihat bendera hinomaru, matahari terbit, bendera Jepang. Setelah berada di bagian truck, tubuh Pak Tedjo diangkat dan dilempar ke dalam. “Braakkkk…” Tubuh itu membentur lantai besi truck itu. Pak Tedjo meraba punggungnya yang terasa sakit. Ia merintih. Rintihannya terhenti saat ia melihat di tempat itu ada puluhan laki-laki yang meringkuk.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Jalan setapak menujur rumah kayu terus disusuri hingga akhirnya berada di depan pintu rumah pintu itu. Diketuknya pintu kayu dengan pelan-pelan, “tok, tok, tok.” Tak ada jawaban, diulangi lagi. Hasilnya rupanya sama. Mbok Siyo penasaran mengapa penghuni rumah kayu tak menjawab. Ia mencoba mengintip ke dalam, kebetulan di pintu itu ada lubang kecil. Dari lubang kecil itu ia bisa melihat ke dalam dengan jelas. Dirinya terperanjat ketika Mak Sampir, penghuni rumah kayu, sedang duduk membelakangi dirinya. Di depan Mak Sampir sepertinya ada sesajen beraneka rupa, ada telur putih, kembang telon, ayam, dupa, dan lain sebagainya.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Haaahhh….” Seluruh kaum perempuan itu sontak kaget. Bahkan di antara mereka ada yang histeris menangis sebab ia tahu bahwa tentara Jepang terkenal sadis dan kejam. Apa yang dikatakan Jogoboyo itu memperjelas apa yang dimaksud oleh Mak Sampir. Mak Sampir menyampaikan pesan samar-samar pada Juminah bahwa suaminya diculik oleh setan kate. Bila dihubungkan dengan bentuk tubuh tentara Jepang yang pada masa itu bentuknya pendek, seperti ayam kate, sehingga cocok kalau Mak Sampir menyebutnya dengan setan kate.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Setelah semuanya siap, satu di antara puluhan orang yang diikat itu digelandang ke tepi di mana arus sungai mengalir deras. Orang itu disuruh duduk dengan kepala menekuk. Saat posisi sudah demikian, Nusiron menghampiri. Pedang yang dtenteng diusap dengan kain yang dibawa. Setelah itu diayunkan, “wusss…” ayunan itu menuju ke arah leher bagian belakang orang itu, “blasss….” pedang itu memenggal leher hingga membuat kepala dan badan terpisah. Kepala itu menggelinding di dekat kaki Nusiron. Nusiron langsung menendang ke arah kali di mana airnya mengalir deras, “plung…” kepala itu menjebur ke air yang berwarna coklat dan hanyut. Badan yang masih tergelak, didorong dan menjebur, “byuurrr…” Dan hanyut terbawa air dengan keadaan mengapung.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Slamet meninggalkan Samiun dengan tak peduli. Dengan muka kesal, Samiun meninggalkan tempat itu. Sebelum beranjak, ia sempat melihat tempat pembantaian. Darah segar tercecer meruah di pasir basah yang sesekali tergerus oleh limpahan air sungai. Untuk tidak menimbulkan suasana yang menakutkan, Samiun menghampiri tempat itu dan menguruk dengan pasir yang ada. Cangkul diayunkan untuk memindahkan pasir yang ada ke ceceran darah segar itu. Setelah ceceran darah itu tertimbun tanah, Samiun meninggalkan tempat itu. Ia menatap ke atas, matahari sudah melewati batas hari.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Aura Jamus Kalimasada rupanya sangat luar biasa, buktinya aura itu mampu membuat Petruk menjadi raja di Kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh. Aura Jamus Kalimasada tak hanya membuat Petruk bisa jadi raja namun juga membuat dirinya sakti. Kesaktiannya itu mampu membongkar rahasia siapa sebenarnya Raja Kerajaan Trancanggribig. Raja dari kerajaan itu dibongkar oleh Petruk dan ternyata Nala Gareng, bukan lain dan tidak adalah kakaknya sendiri. Petruk rupanya kena karma, siapa dirinya akhirnya dibongkar oleh Bagong. Bagong tahu Petruk menyembunyikan Jamus Kalimasada. Di tangan Bagong-lah, Petruk diturunkan dari tahtanya dan jimat itu dikembalikan ke Prabu Puntadewa.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Tunggu di sini,” ujar Samiun. Setelah itu dirinya menuju ke depan rumah. Kunci rumah hanya dipasang di depan sehingga dari pintulah ia keluar masuk bila hendak atau setelah bepergian jauh. Pintu itu dibuka dan ia segera masuk. Ia langsung menuju ke dapur untuk membuka pintu yang berada di belakang rumah. Kunci pintu belakang rumah itu terbuat dari pasangan kayu. Digesernya kayu yang mematok. Begitu terbuka, ia segera menyuruh Sarmini masuk. Sarmini yang berdiri tak jauh dari pintu itu langsung bergegas ke dalam.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Nasi putih dan sayur terong dirasa kurang bagi Samiun. Matanya melihat apa yang ada di dapur. Dilihatnya ada beberapa tempe terserak di lemari. “Itu dia,” gumamnya dalam hati. Tempe yang terserak diambil dan bungkusnya dibuka. Diambilnya sebuah piring. Di piring itu ditaburi garam dan selanjutnya dikucurkan air. Piring digoyang-goyang agar garam melarut. Setelah itu dicolek. Tangannya yang mencolek dimasukkan di dalam mulut, “sudah asin,” ujarnya. Selanjutnya tempe yang sudah dibuka itu dibasahi dengan air garam itu.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Rasa takut dan traumanya berusaha didepak dari jiwa. Setelah suasana dirasa aman, niat untuk kabur dari rumah masih menggelora. Ia segera melangkah menuju pintu keluar. Pintu pun dibuka, kakinya mulai melangkah keluar. Nafas panjang dihela sebagai bentuk dirinya bebas seperti orang yang keluar dari kungkungan. Jalan setapak yang menghubungkan rumah itu dengan jalan disusuri namun tiba-tiba keringat dingin mengalir dari tubuh, wajahnya pucat. Ketakutan yang demikian membuat darahnya berhenti mengalir sehingga kakinya susah digerakkan padahal ia ingin segera berlari.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun melihat ke kuburan, di tempat  itu sudah ada puluhan orang. Di antara mereka menenteng senjata tajam. Semua berkerumun berteduh di bawah pohon. Sinar matahari masih terasa menyengat sehingga pancarannya dihindari. Kedatangan Nusiron sepertinya ditunggu-tunggu, terbukti saat kedua orang itu datang, semuanya memberi salam. Nusiron sepertinya komando untuk melakukan pembantaian sehingga sebelum dirinya datang, pembantaian belum dimulai meski orang-orang yang hendak dibantai sudah digiring ke tempat itu sejak pagi.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Biar tugas mereka cepat selesai, ketiga orang itu langsung memindahkan tanah basah bekas galian ditimbunkan kembali ke dalam lubang. Samiun hampir muntah melihat tubuh-tubuh yang berserakan tanpa kepala dengan darah menggenangi lubang kubur. Agar pandangan itu cepat hilang, ia mempercepat memindahkan tanah ke lubang itu. Ayunan demi ayunan cangkul memindahkan tanah hingga akhirnya menutup mayat-mayat itu. Agar tak digangsir oleh anjing-anjing liar, salah satu penggali kubur memadatkan tanah dengan diinjak-injak.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Puas mengurus hewan ternak, Samiun beranjak meninggalkan kandang. Ia melangkah menuju ke ruang tengah. Sesampai di ruang yang tersedia meja dan kursi itu, Samiun duduk di salah satu kursi yang ada. Secangkir kopi tersungguh di atas meja. Begitu tahu ada minuman kesukaannya, ia langsung mengeluarkan rokok klobot di kantung celana. Rokok itu bikinan sendiri. Hanya bermodal membeli tembakau di pasar. Sedang bungkusnya diperoleh dari daun jagung. Daun jagung itu dijemur di terik matahari agar keras. Semakin keras semakin enak.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun tak sekadar berjualan buah kelapa di pasar namun dirinya juga sering duduk di pintu gerbang kuburan orang China, ngebong. Di tempat itu bersama penggali kubur yang lain menunggu kalau ada orang Pecinan yang meninggal dunia. Bila ada orang Pecinan yang meninggal dunia maka mereka diberi pekerjaan menggali lubang kubur. Dari situ mereka akan diupah. Hasil upah dari menggali liang lahat di ngebong lumayan buat menambah pendapatan sehari-hari. Apalagi kalau yang meninggal adalah orang China yang kaya, pemilik toko besar, upahnya bisa dua kali lipat.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun mengajak Siti Nurjanah pergi ke acara itu selain untuk menyegarkan keimanannya juga untuk menipis isu-isu miring bahwa perempuan yang bersama dirinya itu adalah seorang anggota Gerwani yang menyamar. Tuduhan itu sudah menjadi bisik-bisik para tetangga. Bisik-bisik itu tentu ditepis oleh Samiun. Ia selalu mengatakan bahwa Siti Nurjanah bukan anggota PKI. Ia mengalihkan perhatian dengan menceritakan kalau ada istri orang PKI yang lari ke desa namun itu namanya Sarmini dan perempuan itu sudah ditangkap tentara dan dibawa ke kota.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Di setiap pengajian, biasanya Samiun bertemu dengan Nusiron. Sebagai seorang Ketua Ansor Banser di desa, ia selalu duduk di barisan depan. Saat bertemu, Nusiron biasa menyapa Samiun dan menanyakan kabar. Nusiron hanya heran pada pria yang dikenalnya sebagai penggali kubur itu, setelah bersama Siti Nurjanah, kok sering ikut pengajian pada kiai yang dihormati di desa itu. Meski demikian Nusiron tidak mengusik atau menanyakan siapa perempuan itu. Nusiron hanya heran mengapa perempuan secantik itu bisa bersama dengan penggali kubur yang dekil itu.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Mbah Nah adalah dukun bayi di desa itu dan rumahnya kebetulan hanya beberapa meter. “Iya, iya,” jawab Samiun juga dengan tergopoh-gopoh. Pria itu langsung bergegas menuju ke rumah Mbah Nah. Di lintasan menuju ke rumah perempuan berumur 65 tahun itu, dirinya juga mengabarkan kepada para tetangga bahwa istrinya hendak melahirkan. Mendengar kabar itu, ada tetangga langsung meresponnya dengan sumringah . “ Yo aku melu seneng, ya saya ikut senang,” ujarnya. “Saya juga akan ke rumahmu sekarang untuk ikut bantu-bantu,” tambahnya.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Hadir dalam acara itu Mbah Nah, Kiai Sholeh, Nusiron, dan beberapa sesepuh dan toko desa. Para lelaki berkumpul di ruang tengah. Mereka duduk di hamparan tikar yang digelar. Di tengah ada makanan yang berbentuk buceng dengan dikelilingi oleh berbagai makanan dan lalapan, ijoan sayuran. Di ruang tengah itu para lelaki yang mayoritas memakai sarung dan berpeci itu melantunkan ayat-ayat suci. Setelah menderas ayat-ayat suci, Kiai Sholeh memimpin doa. Akhir doa, seluruh yang berada di ruang itu langsung menyahut, “amin,” secara panjang dan serempak.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sambil menunggu keranda datang, Kang Sukro mencari pohon pisang yang tumbuh di tempat itu. Syukur pohon yang dicari itu ditemukan. Sabit yang dibawa segera diayunkan pada daun bisa yang terlibat lebar. Ayunan sabit itu diulang lagi pada daun-daun pisang yang lain dengan ukuran yang sama. Setelah memperoleh empat daun pisang, ia bergegas menuju di mayat sesosok mayat terbujur. Dihampiri mayat itu, empat daun pisang yang berwarna hijau segar tadi lalu diletakkan di atas tubuh yang tak bernafas. Ditutupi agar martabat mayat terjaga.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sebagai sekolah yang mempunyai nama, memang banyak orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya menempuh pendidikan di tempat itu namun yang membuat jengkel Samiun sebagai orangtua, sekolah itu sedikit sedikit menarik uang, dengan alasan untuk biaya seragam, buku pelajaran, praktikum, dan lain sebagainya. Bahkan untuk seragam, mulai dari kaos kaki, ikat pinggang, topi, dasi, tanda-tanda tingkatan, semua dikoordinasi oleh sekolah. Akibat yang demikian, biaya yang harus disetor ke sekolah tentu tidak sedikit.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun senang bila ada orang-orang di Pecinan meninggal dunia. Sebab dari menggali kubur orang-orang Pecinan, upahnya lebih tinggi dan lebih banyak. Untuk mengetahui orang Pecinan meninggal, biasanya dirinya suka-jalan-jalan di daerah itu. Bila di daerah Pecinan ada yang meninggal, ia langsung menawarkan diri sebagai penggali kubur. Tawaran yang diajukan, biasanya tak pernah ditolak sebab dalam kondisi kalut dan sedih, biasanya pihak keluarga langsung mengiyakan orang-orang yang menawarkan jasa pengurusan jenazah.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Usai adzan, beberapa orang langsung membopong mayat itu. Sebab mayat itu perempuan, maka di atas lubang kubur dibentangkan kain untuk menutupi. Kain itu merupakan hijab terakhir kalinya buat sang mayat perempuan. Di lubang kubur sudah ada beberapa orang. Mayat itu selanjutnya disodorkan kepada orang yang berada di lubang kubur dan oleh mereka secara perlahan direbahkan secara perlahan-lahan dalam liang lahat. Liang lahat itu selanjutnya ditutup dengan papan kayu. Begitu liang lahat tertutup papan kayu, orang-orang yang berada di lubang kubur naik ke atas.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sobar yang tangan dan kakiknya terkena tanah basah, juga segera meninggalkan tempat itu. Ia mencari sumur untuk membersihkan tangan dan kaki dari tanah basah yang melekat padanya. Untung tak jauh dari kuburan itu ada rumah penduduk. Ia mendatangi sumur yang ada, “mbah numpang ke sumur buat cuci tangan dan kaki ya,” ujar Sobar pada seorang kakek yang duduk di rumah. Kakek itu sepertinya diam, mungkin pendengarannya kurang. Di tengah ragu-ragu karena belum diberi ijin, tiba-tiba ada suara keluar, “ o yo le , o ya mas, silahkan.”

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sobar dan yang lain berhambur menuju kelas. Di dalam kelas, teman-temannya yang lain sudah duduk manis. Setelah semua masuk, tak lama kemudian guru matematika, Pak Toti, datang. Kehadiran Pak Toti ke kelas, sikap masing-masing siswa beragam, ada yang suka, ada yang biasa-biasa, ada pula yang benci. Guru itu dianggap oleh banyak siswa terbilang sok , merasa paling hebat. Tak hanya itu, ia sering mencari perhatian pada muridnya sendiri. Kesalahan kecil dari siswa dibesar-besarkan. Dalam mencari perhatian itulah, Pak Toti menghukum semuanya padahal masalah itu tak ada hubungannya dengan pelajaran yang diberikan.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Pengumuman itu masuk ke telingan Sobar dan yang lainnya. Mereka melihat nomer urut pendaftaran. Begitu nomer urut diketahui, mereka bergegas menuju truck. Riuh terdengar dari mereka saat mencari truck yang sesuai dengan nomer urut pendaftarannya. Sobar akhirnya menemukan truck yang dicari, ia segera naik ke bak terbuka di bagian belakang. Barangnya ditaruk di pojok. Dirinya menarik nafas dalam-dalam sebab dirinya sudah berada di atas angkutan yang akan membawa ke Telaga Biru. Di tengah asyiknya menikmati suasana, dirinya mendengar suara yang mengatakan, “tolongin dong.” Dirinya mencari arah suara itu. Begitu suara itu ditemukan, dirinya melihat Lucia, Rahmi, Nita, dan Sopia masih berada di bawah. Sobar sontak senang sebab mereka satu truck dengan dirinya.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Della menyodorkan tangan dan sodoran tangan yang besar itu disambut. Digenggamnya tangan Della. Tak disengaja Della melompat. Tak masalah bila lompatan itu mengarah di sampingnya. Masalahnya ketika ia melompat pada arah dirinya berdiri sehinggan tubuh berat itu menabrak tubuh Sobar dan Sobar pun terguling. Lebih sial lagi ketika dalam posisi jatuh, tubuh Della menimpa Sobar yang terlentang. “Heekkkk,” begitu  terdengar suara dari mulut Sobar saat daging seberat 100 kg itu jatuh di atas tubuhnya.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Kita bagi dua kelompok, satu menggali lubang di sini, satunya di sini,” ujar Sobar sambil menunjuk tanah yang akan dikeruk. Tanpa membuang waktu, mereka langsung mengayunkan cangkul. Setelah beberapa ayunan cangkul membelah tanah, sekop digerakkan untuk mengangkat tanah yang berserak. Apa yang dilakukan itu dilakukan berulang-ulang dan bergantian. Sobar yang gesit melakukan itu sesekali memberi petunjuk kepada teman-temannya bagaimana agar lubang kubur yang dibuat, sisi-sisinya kuat dan tak longsor. Sebab bila sisi-sisinya tak kuat nanti akan merusak bentuk lubang kubur.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Mendengar apa yang dikatakan, semuanya menjadi tegang. Kecuali Sobar, mereka baru pertama kali menggali lubang kubur sehingga mereka was-was, cemas, dan takut. Mereka masih merasa ngeri dan takut melihat jenazah yang dikaffani. Apalagi film-film yang sering di putar di lapangan desa, layar tancap, berkisah tentang pocong dan setan lainnya. Dalam film tersebut, ada adegan bagaimana orang yang sudah meninggal dunia, hidup kembali. Sosoknya menjadi pocong yang tak hanya gentayangan namun juga menghisap darah manusia.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sebelum kedua jenazah itu dikebumikan, Pak Modin memimpin doa. Dalam doanya Pak Modin berharap kepada Allah agar kedua jenazah itu dilindungi dari siksa kubur yang pedih. Pak Modin juga berdoa agar keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan. Selesai berdoa, Pak Modin meminta agar para pelayat membaca Surat Al Fatihah. Apa yang dimaui pengurus jenazah desa itu langsung disanggupi para pelayat. Mereka langsung melafadzkan surat itu. Dengan terdengarnya suara “amin” secara serempak, berarti mereka usai membaca Surat Al Fatihah.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Perintah itu langsung disambut pelayat yang lain, enam orang langsung turun di dua lubang kubur. Masing-masing kubur 3 orang. Setelah mereka siap, beberapa orang membopong kedua jenazah dan menyodorkan ke masing-masing kubur. Setelah berpindah tangan ke orang yang berada di lubang kubur. Mereka yang berada di lubang kubur merebahkan mayat itu dengan pelan-pelan di dalam liang lahat. Setelah jenazah itu direbahkan, salah seorang di antara mereka menutupkan papan kayu pada liang lahat. Setelah tertutup, mereka naik meninggalkan lubang kubur itu.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Silahkan mas-mas penggali kubur untuk menutup kubur,” kata Pak Modin. Pak Modin memanggil mas-mas sebab melihat para penggali kubur itu masih belia. Serta merta para pelajar yang untuk sementara menjadi penggali kubur itu langsung memegang alat-alat yang dibawa tadi, mereka maju dan langsung memindahkan tanah yang berada di sekeliling disorongkan ke dalam lubang kubur. Bisa jadi karena masih muda maka tenaga yang dikeluarkan sangat besar sehingga kedua lubang kubur itu sudah tertimbun tanah. Di atasnya sekarang terlihat tanah yang menggunduk.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Secara sontak ia membawa peralatan untuk menggali kubur. Ia menjemput Kudir, Warso, dan Miko untuk diajak menggali lima liang lahat. Sesampai di kuburan, ayunan suara cangkul yang menghujam ke tanah tidak mampu mengusik pertikaian antara hati dan angan-angan Sobar. Kematian lima pemuda desa itu bagi Sobar berada di antara kegembiraan dan kesedihan. Sobar merasa senang akan mendapat rejeki sehingga bisa mencukupi kebutuhan anak dan istri namun di sisi lain dirinya menangis karena saudara-saudaranya satu desa harus masuk liang lahat yang digalinya.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“ Jreg, jreg, jreg, jreg, jreg ,” Kudir mengayunkan cangkul kelima kali. Namun begitu cangkulan keenamnya dihujamkan ke tanah terdengar bunyi benturan agak keras, “ trang .” Para penggali kubur itu tahu bahwa cangkul itu menghantam batu besar sehingga secara spontan Miko ganti bertindak. Dihujamkan linggis tepat di samping batu itu dan selanjutnya digerakkan ke kanan dan kiri agar batu itu goyah dari tanah yang mendekapnya. Apa yang dilakukan itu berhasil dan batu sebesar bola kaki itu dapat dicongkel dan diangkat.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sambil menunggu jenazah, keempat orang kembali menuju ke makam Mbah Jati Kramat. Sesampai di tempat itu, Joko, salah satu keluarga Mbah Slamet mendatangi keempat orang itu sambil membawa bungkusan nasi dan seteko teh manis. Bungkusan nasi dan seteko teh manis itu diserahkan kepada Sobar. “ Matur suwun yo,  terima kassih ya mas,” ujar Sobar. “ Podo, podo, sama-sama mas,” Joko menimpali. “Mas uang rokoknya habis pemakaman selesai ya,” Joko berujar kembali. Mendapat penjelasan yang demikian, Sobar dengan tersenyum mengatakan, “ Wis  nggak usah dipikir mas,  sampeyan  kan masih saudara dengan saya.” Uang rokok adalah istilah upah bagi para penggali kubur yang sudah membuatkan liang lahat.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Bungkusan nasi itu dilahap keempat orang itu. Seteko teh pun habis diteguknya. Selepas mengisi perut dan mengusir rasa haus, Kudir dan Warso menghisap rokok  yang dilintingnya sendiri. Sedang Sobar dan Miko nampak  leyeh-leyeh  kekenyangan. Di tengah asyiknya suasana itu, terlihat Soleh dengan sedikit berlari mendekati mereka. “Jenazah sudah tiba,” ujarnya. Mendengar kabar yang demikian, sontak keempat laki-laki itu segera mengambil alat-alat galinya dan bergegas menuju ke tempat di mana ia menggali liang lahat tadi.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Pak,  piye, bagaimana hari ini ada rejeki,” ujar istrinya. Pertanyaan itu mengagetkan Sobar. Dirinya pun tersenyum, “Syukur mbok,” jawabnya dengan ala kadar. “Ya pak, mudah-mudahan rejeki kita banyak karena kebutuhan sehari-hari meningkat,” papar istrinya. “Anak kita mau masuk SMA, terus yang kedua minta baju sekolah yang baru,” istrinya kembali mengoceh. “Belum lagi bahan bakar minyak naik pak,  apes, sial, kita nggak tercatat sebagai penerima kartu jaminan dari pemerintah,” istrinya terus berseloroh.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Selepas berdoa, ia pun menuju ke serambi rumah dan menduduki kursi yang biasa tempati untuk merenung. Heningnya malam membuat Sobar merasa lebih nyaman duduk di tempat itu. Tak lama setelah berada di kursi itu, dirinya baru sadar akan doa yang habis ia panjatkan kepada Tuhan. “Saya tadi minta rejeki yang banyak kepada Tuhan,” angan-angannya mulai menjalar. “Tapi memang saya butuh rejeki yang banyak karena untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak,” angan-angannya membenarkan doanya. Sebagai penggali kubur rejeki datang bila ada orang meninggal. “Ya Gusti, ya Tuhan, tadi berarti saya berdoa agar banyak orang mati?” suara hatinya keluar dengan penuh keheranan.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Suara gedoran dan teriak itu rupanya terdengar hingga ke belakang rumah. Samiun yang tengah mengunduh buah pohon kelapa, sayup-sayup mendengar namanya disebut-sebut. Dirinya yang sedang nangkring di pucuk pohon kelapa yang menjulang ke langit segera turun. Naik dan turun pohon kelapa bagi Samiun sering dilakukan, sehingga saat ia menuruni pohon itu, gerakannya sangat cekatan, tak lama untuk berpindah dari pucuk pohon ke tanah yang membenamkan pangkal pohon kepala yang menjadi sumber penghidupannya itu.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Di tengah berbagai pertanyaan seperti itu, tiba-tiba Slamet berteriak, “hai semua yang bawa cangkul, gali tanah di bawah pohon itu.” Mendengar perintah yang demikian, Samiun tampak kebingungan. Buat apa tanah di bawah pohon itu digali. “ Heh , kamu dengar tidak apa yang saya perintah,” bentak Slamet kepada Samiun. Samiun pun menuju ke tempat itu. Rupanya dirinya tidak sendiri. Sudah ada beberapa orang yang seperti dirinya. Mereka juga membawa cangkul. Samiun berpikir bahwa orang-orang itu juga didatangkan Slamet untuk diajak ke balik bukit.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba Slamet menggelandang salah satu orang dari 20 orang yang diikat tangannya tadi. Dengan kasar, Babinsa itu menyeret orang itu menuju lubang yang telah digali. Sampai di pinggir lubang, orang itu di suruh menghadap ke lubang. Saat orang itu menatap lubang ke bawah, tiba-tiba Nusiron menebaskan pedang yang dibawa ke arah leher. Sabetan yang keras dan tajamnya membuat kepala orang itu putus dari badan. Dari lehernya muncrat darah dengan tekanan yang keras. Darah itu muncrat ke muka Nusiron. Secara reflek ia menendang tubuh itu hingga tersungkur ke dalam lubang menyusul kepalanya yang sudah jatuh lebih duluan.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Bahkan yang lebih mengerikan ada penyerbuan dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Akibatnya suasana kampung menjadi tegang dan mencekam. Suasana lebih mencekam setelah ada pembunuhan dan penculikan jenderal yang dilakukan oleh pasukan pengamanan Presiden. Setelah kejadian itu, para Babinsa, Ansor, dan kelompok masyarakat lainnya menggeruduk orang-orang PKI. Mereka yang saat itu berada di rumah atau bertemu di jalan, langsung diciduk, diikat dengan tali, dan diarak di tengah masyarakat. Selanjutnya mereka dinaikkan ke dalam sebuah truk.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Satu persatu dari 20 orang itu digelandang, diseret, dan ditebas dengan pedang atau klewang oleh Nusiron dan Badak secara bergantian. Dari ke-20 orang, saat orang ke-6, digelandang, ia tiba-tiba berontak. Gerakan tubuhnya itu rupanya cukup kuat sehingga ia lepas dari genggaman Slamet. Begitu lepas, meski dengan tangan terikat, ia langsung lari. Slamet kaget tahu orang yang diciduk lari, ia segera mengambil pistol yang tesarung di pinggang. Setelah pistol itu ditangan, dibidikkan ke arah orang yang melarikan diri itu. “Dooorrrr….” Bunyi letupan keras keluar dari pistol diiringi sebuah pelor dimuntahkan. Tembakan itu rupanya tepat sasaran, terbukti pemuda yang lari terbirit-birit itu tersungkur sebelum dirinya masuk dalam semak-semak.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun adalah anak tunggal Pak Tedjo dan Mbok Siyo. Kedua orangtua itu petani kelapa di dusun. Hidup keluarga Pak Tedjo datar-datar saja, makan sehari-hari bisa dipenuhi setelah ia menjual beberapa butir kelapa di pasar desa. Hasil dari jual kelapa itu kemudian digunakan untuk membeli sekilo beras, tempe, serta minyak minyak goreng. Sayuran bisa diperoleh dari kebun yang berada di kanan dan depan rumah. Sedang untuk memasak nasi dan sayur serta menggoreng tempe, ia menggunakan kayu bakar dari patahan ranting atau pohon tumbang di hutan yang tak jauh dari rumahnya. Dengan cara seperti itu, keluarga Pak Tedjo bisa menyambung hidup.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Saat pasaran di pasar sudah sepi, dagangan dan keranjang itu dirapikan. Selanjutnya diangkat keranjang itu untuk meninggalkan tempat yang dari pagi digunakan untuk menjajakan buah kelapa itu. Pak Tedjo tidak langsung pulang. Lebih dahulu ia berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ia membeli beras dan yang lain dengan uang yang diperoleh dari hasil penjualan buah kelapa. Sebab hasil penjualan lari maka hari itu ia membeli telur ayam. Telur ayam bagi warga dusun adalah lauk yang jarang dikonsumsi, masih terbilang barang mewah, sehingga tak semua warga dusun bisa menikmati. Warga dusun tak banyak yang mengkonsumsi telur, selain harga per butirnya terbilang mahal, sebab mereka masih banyak yang miskin, juga karena stock telur sangat terbatas.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Semua alasan itu tak didengar oleh keempat orang tadi. Pak Tedjo diringkus dan digelandang menyusuri jalan dusun yang sepi. Di sebuah pertigaan ada sebuah truck perang Jepang dengan di beberapa bagian terlihat bendera hinomaru, matahari terbit, bendera Jepang. Setelah berada di bagian truck, tubuh Pak Tedjo diangkat dan dilempar ke dalam. “Braakkkk…” Tubuh itu membentur lantai besi truck itu. Pak Tedjo meraba punggungnya yang terasa sakit. Ia merintih. Rintihannya terhenti saat ia melihat di tempat itu ada puluhan laki-laki yang meringkuk.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Jalan setapak menujur rumah kayu terus disusuri hingga akhirnya berada di depan pintu rumah pintu itu. Diketuknya pintu kayu dengan pelan-pelan, “tok, tok, tok.” Tak ada jawaban, diulangi lagi. Hasilnya rupanya sama. Mbok Siyo penasaran mengapa penghuni rumah kayu tak menjawab. Ia mencoba mengintip ke dalam, kebetulan di pintu itu ada lubang kecil. Dari lubang kecil itu ia bisa melihat ke dalam dengan jelas. Dirinya terperanjat ketika Mak Sampir, penghuni rumah kayu, sedang duduk membelakangi dirinya. Di depan Mak Sampir sepertinya ada sesajen beraneka rupa, ada telur putih, kembang telon, ayam, dupa, dan lain sebagainya.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Haaahhh….” Seluruh kaum perempuan itu sontak kaget. Bahkan di antara mereka ada yang histeris menangis sebab ia tahu bahwa tentara Jepang terkenal sadis dan kejam. Apa yang dikatakan Jogoboyo itu memperjelas apa yang dimaksud oleh Mak Sampir. Mak Sampir menyampaikan pesan samar-samar pada Juminah bahwa suaminya diculik oleh setan kate. Bila dihubungkan dengan bentuk tubuh tentara Jepang yang pada masa itu bentuknya pendek, seperti ayam kate, sehingga cocok kalau Mak Sampir menyebutnya dengan setan kate.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Setelah semuanya siap, satu di antara puluhan orang yang diikat itu digelandang ke tepi di mana arus sungai mengalir deras. Orang itu disuruh duduk dengan kepala menekuk. Saat posisi sudah demikian, Nusiron menghampiri. Pedang yang dtenteng diusap dengan kain yang dibawa. Setelah itu diayunkan, “wusss…” ayunan itu menuju ke arah leher bagian belakang orang itu, “blasss….” pedang itu memenggal leher hingga membuat kepala dan badan terpisah. Kepala itu menggelinding di dekat kaki Nusiron. Nusiron langsung menendang ke arah kali di mana airnya mengalir deras, “plung…” kepala itu menjebur ke air yang berwarna coklat dan hanyut. Badan yang masih tergelak, didorong dan menjebur, “byuurrr…” Dan hanyut terbawa air dengan keadaan mengapung.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Slamet meninggalkan Samiun dengan tak peduli. Dengan muka kesal, Samiun meninggalkan tempat itu. Sebelum beranjak, ia sempat melihat tempat pembantaian. Darah segar tercecer meruah di pasir basah yang sesekali tergerus oleh limpahan air sungai. Untuk tidak menimbulkan suasana yang menakutkan, Samiun menghampiri tempat itu dan menguruk dengan pasir yang ada. Cangkul diayunkan untuk memindahkan pasir yang ada ke ceceran darah segar itu. Setelah ceceran darah itu tertimbun tanah, Samiun meninggalkan tempat itu. Ia menatap ke atas, matahari sudah melewati batas hari.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Aura Jamus Kalimasada rupanya sangat luar biasa, buktinya aura itu mampu membuat Petruk menjadi raja di Kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh. Aura Jamus Kalimasada tak hanya membuat Petruk bisa jadi raja namun juga membuat dirinya sakti. Kesaktiannya itu mampu membongkar rahasia siapa sebenarnya Raja Kerajaan Trancanggribig. Raja dari kerajaan itu dibongkar oleh Petruk dan ternyata Nala Gareng, bukan lain dan tidak adalah kakaknya sendiri. Petruk rupanya kena karma, siapa dirinya akhirnya dibongkar oleh Bagong. Bagong tahu Petruk menyembunyikan Jamus Kalimasada. Di tangan Bagong-lah, Petruk diturunkan dari tahtanya dan jimat itu dikembalikan ke Prabu Puntadewa.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Tunggu di sini,” ujar Samiun. Setelah itu dirinya menuju ke depan rumah. Kunci rumah hanya dipasang di depan sehingga dari pintulah ia keluar masuk bila hendak atau setelah bepergian jauh. Pintu itu dibuka dan ia segera masuk. Ia langsung menuju ke dapur untuk membuka pintu yang berada di belakang rumah. Kunci pintu belakang rumah itu terbuat dari pasangan kayu. Digesernya kayu yang mematok. Begitu terbuka, ia segera menyuruh Sarmini masuk. Sarmini yang berdiri tak jauh dari pintu itu langsung bergegas ke dalam.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Nasi putih dan sayur terong dirasa kurang bagi Samiun. Matanya melihat apa yang ada di dapur. Dilihatnya ada beberapa tempe terserak di lemari. “Itu dia,” gumamnya dalam hati. Tempe yang terserak diambil dan bungkusnya dibuka. Diambilnya sebuah piring. Di piring itu ditaburi garam dan selanjutnya dikucurkan air. Piring digoyang-goyang agar garam melarut. Setelah itu dicolek. Tangannya yang mencolek dimasukkan di dalam mulut, “sudah asin,” ujarnya. Selanjutnya tempe yang sudah dibuka itu dibasahi dengan air garam itu.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Rasa takut dan traumanya berusaha didepak dari jiwa. Setelah suasana dirasa aman, niat untuk kabur dari rumah masih menggelora. Ia segera melangkah menuju pintu keluar. Pintu pun dibuka, kakinya mulai melangkah keluar. Nafas panjang dihela sebagai bentuk dirinya bebas seperti orang yang keluar dari kungkungan. Jalan setapak yang menghubungkan rumah itu dengan jalan disusuri namun tiba-tiba keringat dingin mengalir dari tubuh, wajahnya pucat. Ketakutan yang demikian membuat darahnya berhenti mengalir sehingga kakinya susah digerakkan padahal ia ingin segera berlari.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun melihat ke kuburan, di tempat  itu sudah ada puluhan orang. Di antara mereka menenteng senjata tajam. Semua berkerumun berteduh di bawah pohon. Sinar matahari masih terasa menyengat sehingga pancarannya dihindari. Kedatangan Nusiron sepertinya ditunggu-tunggu, terbukti saat kedua orang itu datang, semuanya memberi salam. Nusiron sepertinya komando untuk melakukan pembantaian sehingga sebelum dirinya datang, pembantaian belum dimulai meski orang-orang yang hendak dibantai sudah digiring ke tempat itu sejak pagi.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Biar tugas mereka cepat selesai, ketiga orang itu langsung memindahkan tanah basah bekas galian ditimbunkan kembali ke dalam lubang. Samiun hampir muntah melihat tubuh-tubuh yang berserakan tanpa kepala dengan darah menggenangi lubang kubur. Agar pandangan itu cepat hilang, ia mempercepat memindahkan tanah ke lubang itu. Ayunan demi ayunan cangkul memindahkan tanah hingga akhirnya menutup mayat-mayat itu. Agar tak digangsir oleh anjing-anjing liar, salah satu penggali kubur memadatkan tanah dengan diinjak-injak.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Puas mengurus hewan ternak, Samiun beranjak meninggalkan kandang. Ia melangkah menuju ke ruang tengah. Sesampai di ruang yang tersedia meja dan kursi itu, Samiun duduk di salah satu kursi yang ada. Secangkir kopi tersungguh di atas meja. Begitu tahu ada minuman kesukaannya, ia langsung mengeluarkan rokok klobot di kantung celana. Rokok itu bikinan sendiri. Hanya bermodal membeli tembakau di pasar. Sedang bungkusnya diperoleh dari daun jagung. Daun jagung itu dijemur di terik matahari agar keras. Semakin keras semakin enak.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun tak sekadar berjualan buah kelapa di pasar namun dirinya juga sering duduk di pintu gerbang kuburan orang China, ngebong. Di tempat itu bersama penggali kubur yang lain menunggu kalau ada orang Pecinan yang meninggal dunia. Bila ada orang Pecinan yang meninggal dunia maka mereka diberi pekerjaan menggali lubang kubur. Dari situ mereka akan diupah. Hasil upah dari menggali liang lahat di ngebong lumayan buat menambah pendapatan sehari-hari. Apalagi kalau yang meninggal adalah orang China yang kaya, pemilik toko besar, upahnya bisa dua kali lipat.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun mengajak Siti Nurjanah pergi ke acara itu selain untuk menyegarkan keimanannya juga untuk menipis isu-isu miring bahwa perempuan yang bersama dirinya itu adalah seorang anggota Gerwani yang menyamar. Tuduhan itu sudah menjadi bisik-bisik para tetangga. Bisik-bisik itu tentu ditepis oleh Samiun. Ia selalu mengatakan bahwa Siti Nurjanah bukan anggota PKI. Ia mengalihkan perhatian dengan menceritakan kalau ada istri orang PKI yang lari ke desa namun itu namanya Sarmini dan perempuan itu sudah ditangkap tentara dan dibawa ke kota.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Di setiap pengajian, biasanya Samiun bertemu dengan Nusiron. Sebagai seorang Ketua Ansor Banser di desa, ia selalu duduk di barisan depan. Saat bertemu, Nusiron biasa menyapa Samiun dan menanyakan kabar. Nusiron hanya heran pada pria yang dikenalnya sebagai penggali kubur itu, setelah bersama Siti Nurjanah, kok sering ikut pengajian pada kiai yang dihormati di desa itu. Meski demikian Nusiron tidak mengusik atau menanyakan siapa perempuan itu. Nusiron hanya heran mengapa perempuan secantik itu bisa bersama dengan penggali kubur yang dekil itu.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Mbah Nah adalah dukun bayi di desa itu dan rumahnya kebetulan hanya beberapa meter. “Iya, iya,” jawab Samiun juga dengan tergopoh-gopoh. Pria itu langsung bergegas menuju ke rumah Mbah Nah. Di lintasan menuju ke rumah perempuan berumur 65 tahun itu, dirinya juga mengabarkan kepada para tetangga bahwa istrinya hendak melahirkan. Mendengar kabar itu, ada tetangga langsung meresponnya dengan sumringah . “ Yo aku melu seneng, ya saya ikut senang,” ujarnya. “Saya juga akan ke rumahmu sekarang untuk ikut bantu-bantu,” tambahnya.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Hadir dalam acara itu Mbah Nah, Kiai Sholeh, Nusiron, dan beberapa sesepuh dan toko desa. Para lelaki berkumpul di ruang tengah. Mereka duduk di hamparan tikar yang digelar. Di tengah ada makanan yang berbentuk buceng dengan dikelilingi oleh berbagai makanan dan lalapan, ijoan sayuran. Di ruang tengah itu para lelaki yang mayoritas memakai sarung dan berpeci itu melantunkan ayat-ayat suci. Setelah menderas ayat-ayat suci, Kiai Sholeh memimpin doa. Akhir doa, seluruh yang berada di ruang itu langsung menyahut, “amin,” secara panjang dan serempak.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sambil menunggu keranda datang, Kang Sukro mencari pohon pisang yang tumbuh di tempat itu. Syukur pohon yang dicari itu ditemukan. Sabit yang dibawa segera diayunkan pada daun bisa yang terlibat lebar. Ayunan sabit itu diulang lagi pada daun-daun pisang yang lain dengan ukuran yang sama. Setelah memperoleh empat daun pisang, ia bergegas menuju di mayat sesosok mayat terbujur. Dihampiri mayat itu, empat daun pisang yang berwarna hijau segar tadi lalu diletakkan di atas tubuh yang tak bernafas. Ditutupi agar martabat mayat terjaga.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sebagai sekolah yang mempunyai nama, memang banyak orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya menempuh pendidikan di tempat itu namun yang membuat jengkel Samiun sebagai orangtua, sekolah itu sedikit sedikit menarik uang, dengan alasan untuk biaya seragam, buku pelajaran, praktikum, dan lain sebagainya. Bahkan untuk seragam, mulai dari kaos kaki, ikat pinggang, topi, dasi, tanda-tanda tingkatan, semua dikoordinasi oleh sekolah. Akibat yang demikian, biaya yang harus disetor ke sekolah tentu tidak sedikit.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Samiun senang bila ada orang-orang di Pecinan meninggal dunia. Sebab dari menggali kubur orang-orang Pecinan, upahnya lebih tinggi dan lebih banyak. Untuk mengetahui orang Pecinan meninggal, biasanya dirinya suka-jalan-jalan di daerah itu. Bila di daerah Pecinan ada yang meninggal, ia langsung menawarkan diri sebagai penggali kubur. Tawaran yang diajukan, biasanya tak pernah ditolak sebab dalam kondisi kalut dan sedih, biasanya pihak keluarga langsung mengiyakan orang-orang yang menawarkan jasa pengurusan jenazah.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Usai adzan, beberapa orang langsung membopong mayat itu. Sebab mayat itu perempuan, maka di atas lubang kubur dibentangkan kain untuk menutupi. Kain itu merupakan hijab terakhir kalinya buat sang mayat perempuan. Di lubang kubur sudah ada beberapa orang. Mayat itu selanjutnya disodorkan kepada orang yang berada di lubang kubur dan oleh mereka secara perlahan direbahkan secara perlahan-lahan dalam liang lahat. Liang lahat itu selanjutnya ditutup dengan papan kayu. Begitu liang lahat tertutup papan kayu, orang-orang yang berada di lubang kubur naik ke atas.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sobar yang tangan dan kakiknya terkena tanah basah, juga segera meninggalkan tempat itu. Ia mencari sumur untuk membersihkan tangan dan kaki dari tanah basah yang melekat padanya. Untung tak jauh dari kuburan itu ada rumah penduduk. Ia mendatangi sumur yang ada, “mbah numpang ke sumur buat cuci tangan dan kaki ya,” ujar Sobar pada seorang kakek yang duduk di rumah. Kakek itu sepertinya diam, mungkin pendengarannya kurang. Di tengah ragu-ragu karena belum diberi ijin, tiba-tiba ada suara keluar, “ o yo le , o ya mas, silahkan.”

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sobar dan yang lain berhambur menuju kelas. Di dalam kelas, teman-temannya yang lain sudah duduk manis. Setelah semua masuk, tak lama kemudian guru matematika, Pak Toti, datang. Kehadiran Pak Toti ke kelas, sikap masing-masing siswa beragam, ada yang suka, ada yang biasa-biasa, ada pula yang benci. Guru itu dianggap oleh banyak siswa terbilang sok , merasa paling hebat. Tak hanya itu, ia sering mencari perhatian pada muridnya sendiri. Kesalahan kecil dari siswa dibesar-besarkan. Dalam mencari perhatian itulah, Pak Toti menghukum semuanya padahal masalah itu tak ada hubungannya dengan pelajaran yang diberikan.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Pengumuman itu masuk ke telingan Sobar dan yang lainnya. Mereka melihat nomer urut pendaftaran. Begitu nomer urut diketahui, mereka bergegas menuju truck. Riuh terdengar dari mereka saat mencari truck yang sesuai dengan nomer urut pendaftarannya. Sobar akhirnya menemukan truck yang dicari, ia segera naik ke bak terbuka di bagian belakang. Barangnya ditaruk di pojok. Dirinya menarik nafas dalam-dalam sebab dirinya sudah berada di atas angkutan yang akan membawa ke Telaga Biru. Di tengah asyiknya menikmati suasana, dirinya mendengar suara yang mengatakan, “tolongin dong.” Dirinya mencari arah suara itu. Begitu suara itu ditemukan, dirinya melihat Lucia, Rahmi, Nita, dan Sopia masih berada di bawah. Sobar sontak senang sebab mereka satu truck dengan dirinya.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Della menyodorkan tangan dan sodoran tangan yang besar itu disambut. Digenggamnya tangan Della. Tak disengaja Della melompat. Tak masalah bila lompatan itu mengarah di sampingnya. Masalahnya ketika ia melompat pada arah dirinya berdiri sehinggan tubuh berat itu menabrak tubuh Sobar dan Sobar pun terguling. Lebih sial lagi ketika dalam posisi jatuh, tubuh Della menimpa Sobar yang terlentang. “Heekkkk,” begitu  terdengar suara dari mulut Sobar saat daging seberat 100 kg itu jatuh di atas tubuhnya.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Kita bagi dua kelompok, satu menggali lubang di sini, satunya di sini,” ujar Sobar sambil menunjuk tanah yang akan dikeruk. Tanpa membuang waktu, mereka langsung mengayunkan cangkul. Setelah beberapa ayunan cangkul membelah tanah, sekop digerakkan untuk mengangkat tanah yang berserak. Apa yang dilakukan itu dilakukan berulang-ulang dan bergantian. Sobar yang gesit melakukan itu sesekali memberi petunjuk kepada teman-temannya bagaimana agar lubang kubur yang dibuat, sisi-sisinya kuat dan tak longsor. Sebab bila sisi-sisinya tak kuat nanti akan merusak bentuk lubang kubur.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Mendengar apa yang dikatakan, semuanya menjadi tegang. Kecuali Sobar, mereka baru pertama kali menggali lubang kubur sehingga mereka was-was, cemas, dan takut. Mereka masih merasa ngeri dan takut melihat jenazah yang dikaffani. Apalagi film-film yang sering di putar di lapangan desa, layar tancap, berkisah tentang pocong dan setan lainnya. Dalam film tersebut, ada adegan bagaimana orang yang sudah meninggal dunia, hidup kembali. Sosoknya menjadi pocong yang tak hanya gentayangan namun juga menghisap darah manusia.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Sebelum kedua jenazah itu dikebumikan, Pak Modin memimpin doa. Dalam doanya Pak Modin berharap kepada Allah agar kedua jenazah itu dilindungi dari siksa kubur yang pedih. Pak Modin juga berdoa agar keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan. Selesai berdoa, Pak Modin meminta agar para pelayat membaca Surat Al Fatihah. Apa yang dimaui pengurus jenazah desa itu langsung disanggupi para pelayat. Mereka langsung melafadzkan surat itu. Dengan terdengarnya suara “amin” secara serempak, berarti mereka usai membaca Surat Al Fatihah.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Perintah itu langsung disambut pelayat yang lain, enam orang langsung turun di dua lubang kubur. Masing-masing kubur 3 orang. Setelah mereka siap, beberapa orang membopong kedua jenazah dan menyodorkan ke masing-masing kubur. Setelah berpindah tangan ke orang yang berada di lubang kubur. Mereka yang berada di lubang kubur merebahkan mayat itu dengan pelan-pelan di dalam liang lahat. Setelah jenazah itu direbahkan, salah seorang di antara mereka menutupkan papan kayu pada liang lahat. Setelah tertutup, mereka naik meninggalkan lubang kubur itu.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

“Silahkan mas-mas penggali kubur untuk menutup kubur,” kata Pak Modin. Pak Modin memanggil mas-mas sebab melihat para penggali kubur itu masih belia. Serta merta para pelajar yang untuk sementara menjadi penggali kubur itu langsung memegang alat-alat yang dibawa tadi, mereka maju dan langsung memindahkan tanah yang berada di sekeliling disorongkan ke dalam lubang kubur. Bisa jadi karena masih muda maka tenaga yang dikeluarkan sangat besar sehingga kedua lubang kubur itu sudah tertimbun tanah. Di atasnya sekarang terlihat tanah yang menggunduk.

seperti di kutip dari https://indonesiana.tempo.co

Secara sontak ia membawa peralatan untuk menggali kubur. Ia menjemput Kudir, Warso, dan Miko untuk diajak menggali lima liang lahat. Sesampai di kuburan, ayunan suara cangkul yang menghujam ke tanah tidak mampu mengusik pertikaian antara hati dan angan-angan Sobar. Kematian lima pemuda desa itu bagi Sobar berada di antara kegembiraan dan kesedihan. Sobar merasa senang akan mendapat rejeki sehingga bisa mencukupi kebutuhan anak dan istri namun di sisi lain dirinya menangis karena saudara-saudaranya satu desa harus masuk liang lahat yang digalinya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berbagi cerita saat dirinya dibopong petugas Damkar di HUT ke-99 Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta. Anies salut dengan stamina tinggi para petugas itu. “Saya tadi waktu saat saya menyaksikan petugasnya naik ke atas menggendong korban turun tangga kebetulan mereka itu kuat tapi itu saya lihat dari jauh. Terus giliran saya digendong saya pegang pundak mereka pundaknya keras-keras semua. kalau dilihat itu kuat kuat,” ujar Anies di halaman Kantor Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta, Jl KH Zainul Arifin No 71 Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menilai petugas pemadam kebakaran merupakan salah satu sosok yang dibutuhkan untuk membantu mengamankan Jakarta. Dia berharap para petugas bisa bekerja maksimal dan selalu menjaga stamina. “Saya bilang ini lah yang dibutuhkan, orang-orang yang kuat, orang-orang yang staminanya tinggi ikut memastikan bahwa Jakarta aman. Saya salut. Staminanya dijaga, latihannya jangan berkurang dan semangatnya terus tinggi,” katanya. Dalam HUT tersebut para petugas pemadam kebakaran juga unjuk kebolehan memamerkan aksi penyelamatan korban kebakaran. Para petugas mulai unjuk kebolehan dengan senam perahu karet, aksi penyelamatan korban kecelakaan kendaraan, sampai penyelamatan korban kebakaran yang terjadi di dalam gedung. Pada saat aksi penyelematan korban kebakaran pada gedung bertingkat, empat petugas Damkar menuruni gedung menggunakan tali. Setelahnya, empat petugas tersebut menyerahkan fire jacket dan kampak rescue kepada Anies.

Perayaan HUT Pemadam Kebakaran (Damkas) Nasional ke-99 dipusatkan di Ambon. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo meminta legislatif dan eksekutif memperhatikan kesejahteraan petugas damkar seluruh Indonesia. “Yang terhormat, DPR, baik di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, kepada gubernur, Badan Perencanaan Anggaran, kepada Wali Kota dan Bupati, tolong tingkat dan perhatikan kesejahteraan jajaran petugas kebakaran karena tugas mulia kebakaran layak diperhatikan. Baik menyangkut kartu BPJS, Kartu Pintar, Kartu Sehat, termasuk hal-hal terkait dengan kesejahteraan yang lain,” kata Tjahjo di Lapangan Merdeka, Ambon, Kamis (1/3/2018). Tjahjo juga meminta damkar berkomitmen memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Selain itu, mewujudkan perlindungan masyarakat dari ancaman kejadian kebakaran. Hal tersebut merupakan bentuk hadirnya negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat sesuai dengan amanah Nawacita pertama, yaitu menghadirkan kembali negara untuk melindung segenap bangsa dan memberikan rasa aman. “Dalam kesempatan baik ini, saya mengajak seluruh jajaran kebakaran se-Indonesia berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata Tjahjo. Setelah menghadiri peringatan hari ulang tahun pemadam kebakaran, Mendagri Thahjo Kumolo menyaksikan atraksi damkar dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Ambon.

Menekan angka kecelakaan adalah tujuan utama Operasi Keselamatan Semeru 2018 di Polres Gresik. Upaya preemptive hingga preventif pun akan dilakukan menekan angka sekaligus korban kecelakaan. “Operasi Keselamatan Semeru 2018 ini digelar 5-25 Maret 2018,” ujar Wakapolres Gresik Kompol Wahyu Pristha Utama dalam apel Operasi Keselamatan Semeru 2018 di Satpas Sat Lantas Polres Gresik, Kamis (1/2/2018). Wahyu mengatakan, ada tiga sasaran dalam operasi kali ini yakni melawan arus, pengendara di bawah umur, dan berboncengan lebih dari dua. Dalam operasi ini, polisi tidak melulu bertindak tegas dengan melakukan penilangan. Bahkan imbauan akan lebih banyak dilakukan. “Kami akan memasang banner imbauan keselamatan, sosialisasi ke sekolah, dan lain sebagainya,” kata Wahyu. Menurut Wahyu, Operasi Keselamatan Semeru 2018 di Gresik akan difokuskan pada Gresik selatan. Karena di wilayah itu angka kecelakaan terbilang tinggi. “Fokus kami ke Gresik selatan,” lanjut Wahyu. Wahyu menambahkan bahwa semua personel terlibat dalam operasi ini. Selain itu, instansi samping seperti Dishub, Satpol PP, dan juga TNI juga dilibatkan. “Kami melibatkan stake holders yang lain juga,” tandas Wahyu.

Resmi dilantik sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Irjen Heru Winarko mengaku mendapatkan pesan khusus dari Komjen Budi Waseso (Buwas). Apa isi pesan khusus itu? “Tentu ada pesan khusus dari Pak Budi Waseso,” kata Heru di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Sebelumnya Heru dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara. Heru mengaku telah lama mengenal Buwas sebagai seniornya. “Saya sudah lama kenal beliau dari tahun 1981. Beliau adalah senior saya dan sama-sama di anggota senat taruna. Banyak yang saya dapat dari bimbingan Pak Buwas,” imbuh Heru yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Penindakan di KPK tersebut. Usai pelantikan, Heru dan Buwas saling bersalaman. Senyum terkembang dari keduanya. Buwas sendiri, sebelum pelantikan, sempat menitipkan sejumlah program di BNN untuk dilanjutkan Heru. “Banyak, nanti mungkin banyak hal yang harus saya sampaikan ke pengganti saya karena itu harus ada yang dilanjutkan, ditingkatkan. Kita banyak hal yang harus dibenahi termasuk kemampuan kita tingkatkan,” ujar Buwas. “Kemarin kita berhasil membuat laboratorium internasional Indonesia, tarafnya internasional karena nanti persyaratan KPU juga setiap Pilkada, Pilpres harus ada pemeriksaan lab bebas penyalahgunaan narkotika, itu ada keterangan dari BNN karena lab khusus masalah narkotika,” imbuh Buwas.

Sudah lebih dari 40 tahun, warga Dusun Parang Tinggia, Sulawesi Selatan, hidup rukun berdamping dengan puluhan ribu ekor kelelawar yang bergelantungan di setiap pohon. pun kelelawar yang merusak, apa lagi memakan tumbuhan seperti pisang dan mangga yang ditanam oleh warga. Begitupun sebaliknya, warga Desa Jene Taesa, Kecamatan Simbang, Maros, ini sangat menjaga kelestarian kelelawar. Tak ada satu pun warga yang berani mengusik apalagi menangkap. Bahkan, jika ada kelelawar yang sakit dan jatuh dari pohon, oleh warga dirawat bagaikan binatang peliharaan mereka sendiri. Saat petang, puluhan ribu ekor kelelawar ini keluar dari kampung itu untuk mencari makanan. Mereka biasanya ke arah hutan di pegunungan karst yang tak jauh dari dusun itu. Saat subuh, kelelawar inipun kembali lagi ke kampung itu. “Kami di sini sudah seperti satu keluarga. Mereka memang binatang, tapi sepertinya mengerti menjaga harmoni dengan kami. Mereka mencari makanan di hutan,” kata seorang warga, Nuraeni kepada detikcom, Kamis (1/3/2018). Kelelawar ini dulunya dipelihara oleh seorang tokoh adat setempat. Namanya, Kamaruddin Daeng Pawata. Pria yang diperkirakan berumur 80 tahun ini mengaku awalnya memelihara tiga ekor kelelawar yang ia beli dari seseorang di daerah Takalar. Tiga kelelawar ini akhirnya berkembang biak yang hingga saat ini jumlahnya sudah mencapai puluhan ribu ekor. Bahkan, Kamaruddin sendiri sudah tidak mampu mengenali tiga kelelawar yang awalnya ia pelihara di rumahnya. “Awalnya saya beli tiga ekor dari seseorang di Takalar. Saya pelihara di rumah saya dulu. Lama-lama karena terus banyak, mereka pindah ke pohon. Akhirnya sekarang sudah ada puluhan ribu ekor,” terangnya. Dari bentuk fisiknya, kelelawar yang ada di dusun ini terbilang langka dan jauh berbeda dengan jenis kelelawar yang juga hidup berdampingan dengan warga di kota Soppeng, Sulawesi Selatan. Kelelawar ini, memiliki bulu putih di dadanya. Beberapa peneliti baik dari lokal maupun mancanegara sudah pernah datang ke dusun itu. Mereka penasaran dengan jenis kelelawar itu yang ada di dusun ini, karena jenisnya hanya bisa ditemukan di daerah Amerika Latin. “Sangat beda dengan yang ada di Soppeng. Kelelawar ini punya ciri bulu putih di dadanya. Banyak peneliti yang sudah datang karena penasaran dari mana asal kelelawar ini,” lanjutnya. Bagi Kamaruddin dan warga setempat, keberadaan kelelawar ini juga menjadi berkah tersendiri. Sebab, hama padi seperti wereng ataupun burung yang merusak tanaman, takut mendekat dengan adanya kelelawar ini.

Dalam kesempatan itu, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Suhaili, selaku ketua 1 LPTQ Provinsi Lampung, menjelaskan pelaksanaan MTQ ke-46 berdasarkan surat keputusan Gubernur Lampung Nomor: G/176/B.03/HK/2018 ditetapkan Pemerintah Provinsi Lampung sebagai penyelenggara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Lampung ke-46 tahun 2018. Pelaksanaan MTQ ke-46 tingkat Provinsi Lampung tersebut akan digelar pada 26 April s/d 1 Mei 2018 di Islamic Center Provinsi Lampung, Al-Kautsar dan MAN 1 Bandar Lampung.

seperti di kutip dari http://translampung.com

Lebih lanjut, Suhaili menjelaskan bahwa pelaksanaan MTQ ini akan diikuti sekitar 100 peserta. Adapun cabang/golongan musabaqah pada MTQ ke-46 tingkat Provinsi Lampung yakni (1) tilawah anak-anak, remaja dan dewasa; (2) Qiraat murottal remaja, qiraat murrotal dewasa, qiraat mujawwad dewasa, tartil, canet; (3) Tahfidz 1 juz, 5 juz dan 10 juz; (4) Tahfidz 20 juz, 30 juz dan tafsir; (5) fahmil Qur’an; (6) syahril qur’an; (7) khottil qur’an; dan (8) musabaqah makalah ilmiah Al-Qur’an (M2IQ). (*/hkw)

Related Posts

Comments are closed.