Dipanggil KPK, Fredrich: Insyaallah, tapi Ada Apa-apa Saya Nggak Tahu

Dipanggil KPK, Fredrich: Insyaallah, tapi Ada Apa-apa Saya Nggak Tahu

Pengacara Fredrich Yunadi tidak menjawab lugas soal panggilan pemeriksaan KPK, Jumat (12/1) besok. Fredrich dipanggil terkait kasus dugaan merintangi penyidikan Setya Novanto. “Insyaallah…Namanya orang bisa saja ada kecelakaan atau ada apa, saya kan nggak tahu. Saya kasih tahu, saya ini jantung saya pasang 12 ring ya kan, tahu-tahu misal kan saya ‘dipanggil’ terus saya dibilang bohong. Sudah mati kok bohong, gimana sih. Saya nggak tahu lah,” kata Fredrich kepada wartawan di kantornya Jl Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018). Soal perkara yang menyeret dirinya, Fredrich menegaskan setiap orang memiliki pembelaan. Namun Fredrich menyesalkan penyidikan yang dilakukan KPK terhadap dirinya. “Seperti contoh, sangat jelas UU Advokat Pasal 16 dan Putusan MK Nomor 26, advokat tidak bisa dituntut baik dalam maupun di luar sejak dia menerima kuasa. Tapi mereka mengganggap saya bisa mengesampingkan putusan MK, itu kan ya hak ya,” sambung Fredrich. Fredrich dan dokter Bimanesh Sutarjo menjadi tersangka KPK karenadiduga memanipulasi data rekam medis Novanto yang saat itu dirawat di RS Medika Permata Hijau karena mobil yang ditumpangi kecelakaan. Pada hari ini penyidik KPK melakukan penggeledahan di kantor Fredrich. Sejumlah dokumen dari kantor Fredrich dibawa penyidik KPK. “Ya menurut saya silakan saja mereka (KPK) mengaku punya bukti. Keterangan saksi kan bukan bukti, bedakan ya. Keterangan saksi adalah petunjuk, bukan bukti. Keterangan saksi, kalau ada dua keterangan saksi dengan suatu hal yang sama itu akan menjadi namanya bukti. Menurut Pasal 184 KUHAP kan gitu,” papar Fredrich. KPK sebelumnya meminta Fredrich Yunadi memenuhi panggilan penyidik. Fredrich disebut KPK bisa memberikan penjelasan atau sanggahan pada saat pemeriksaan. “Tadi saya cek juga, direncanakan pemeriksaan dilakukan pada hari Jumat. Kita harap yang bersangkutan dapat memenuhi proses hukum,” ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK.

Baca juga :

JAKARTA, GRESNEWS.COM – Mungkin Ketua DPR Setya Novanto memang memiliki kesaktian tertentu. Bayangkan saja, ketika ditetapkan sebagai tersangka kasus E KTP oleh KPK, dia mendadak sakit. Dalam sakitnya, sempat-sempatnya ‘Papa’ Setnov melayangkan gugatan praperadilan atas penetapan dirinya sebagai tersangka, dan menang pula. Dipanggil sebagai saksi dia mangkir meski kerap hadir sebagai saksi di persidangan. Kemudian, ketika ditetapkan sebagai tersangka untuk kedua kalinya, dia kabarnya sempat sakit lagi. Kini, saat akan dijemput paksa oleh penyidik KPK, sang ‘Papa’ menghilang entah kemana. Seperti diketahui, setelah terus mangkir dari pemanggilan untuk pemeriksaan baik sebagai saksi maupun tersangka, pada Rabu (15/11) malam, sekitar pukul 21.30, belasan penyidik KPK dikawal anggota Brimob Polri mendatangi Belasan penyidik KPK dengan dikawal anggota Brimob akhirnya mendatangi rumah Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Penyidik datang dengan membawa surat penangkapan Novanto dan surat penggeledahan rumah. Penyidik mencari keberadaan Novanto. Namun, Novanto tidak ditemukan di kediamannya. Kemudian, penyidik KPK melakukan penggeledahan selama 5 jam. Mereka pun pulang dengan membawa koper dan CCTV yang berada di pos sekuriti. Meski tak menemukan Novanto, namun penyidik KPK sempat melakukan penggeledahan di rumah Ketua Umum Partai Golkar itu. Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, menyebut penyidik KPK menggeledah kamar hingga lemari kliennya. Fredrich pun menegaskan Novanto tak punya rahasia yang disembunyikan. ‘Kita tak ada rahasia. Beliau tidak punya rahasia. Sampai kamarnya, sampai lemari bajunya. Silakan nggak ada. Memang nggak sesuatu yang rahasia. Silakan diperiksa. Foto-foto diperiksa silakan nggak ada masalah apa-apa,’ kata Fredrich di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (16/11). Fredrich menyebutkan pihaknya sangat terbuka terhadap penggeledahan yang dilakukan oleh KPK. Namun dirinya tetap mengawasi jalannya penggeledahan tersebut. ‘Akhirnya sampai lama, mereka bilang boleh nggak saya geledah. Silakan tapi kita awasi,’ terangnya. Fredrich juga menegaskan kliennya itu tidak sedang bersembunyi. Menurutnya, Novanto adalah orang yang sangat patuh terhadap hukum ‘Yang jelas saya kasih tahu neliau itu bukan sembunyi, saya dipersilakan mau cari kolong bawah, cari sono,’ ujarnya. Sementara itu, menurut Fredrich, istri Novanto yakni Deisti Astriani Tagor merasa risau dengan adanya penangkapan tersebut. Fredrich sebagai pihak yang mewakili keluarga juga sempat meminta waktu penggeledahan dipercepat. ‘Ya sangat khawatir. Ibu (Deisti) sangat risau. Ibu nggak bisa berbuat apa apa. Saya mendesak KPK. Bisa nggak dipercapat? Ibu itu kan sakit, juga anak kecil, saya bilang kalau mau geledah. Jangan sampai mengganggu anak,’ tuturnya.

Pengacara Fredrich Yunadi tidak menjawab lugas soal panggilan pemeriksaan KPK, Jumat (12/1) besok. Fredrich dipanggil terkait kasus dugaan merintangi penyidikan Setya Novanto. “Insyaallah…Namanya orang bisa saja ada kecelakaan atau ada apa, saya kan nggak tahu. Saya kasih tahu, saya ini jantung saya pasang 12 ring ya kan, tahu-tahu misal kan saya ‘dipanggil’ terus saya dibilang bohong. Sudah mati kok bohong, gimana sih. Saya nggak tahu lah,” kata Fredrich kepada wartawan di kantornya Jl Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018). Soal perkara yang menyeret dirinya, Fredrich menegaskan setiap orang memiliki pembelaan. Namun Fredrich menyesalkan penyidikan yang dilakukan KPK terhadap dirinya. “Seperti contoh, sangat jelas UU Advokat Pasal 16 dan Putusan MK Nomor 26, advokat tidak bisa dituntut baik dalam maupun di luar sejak dia menerima kuasa. Tapi mereka mengganggap saya bisa mengesampingkan putusan MK, itu kan ya hak ya,” sambung Fredrich. Fredrich dan dokter Bimanesh Sutarjo menjadi tersangka KPK karenadiduga memanipulasi data rekam medis Novanto yang saat itu dirawat di RS Medika Permata Hijau karena mobil yang ditumpangi kecelakaan. Pada hari ini penyidik KPK melakukan penggeledahan di kantor Fredrich. Sejumlah dokumen dari kantor Fredrich dibawa penyidik KPK. “Ya menurut saya silakan saja mereka (KPK) mengaku punya bukti. Keterangan saksi kan bukan bukti, bedakan ya. Keterangan saksi adalah petunjuk, bukan bukti. Keterangan saksi, kalau ada dua keterangan saksi dengan suatu hal yang sama itu akan menjadi namanya bukti. Menurut Pasal 184 KUHAP kan gitu,” papar Fredrich. KPK sebelumnya meminta Fredrich Yunadi memenuhi panggilan penyidik. Fredrich disebut KPK bisa memberikan penjelasan atau sanggahan pada saat pemeriksaan. “Tadi saya cek juga, direncanakan pemeriksaan dilakukan pada hari Jumat. Kita harap yang bersangkutan dapat memenuhi proses hukum,” ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK.

Fredrich Yunadi meminta agar pemeriksaannya di KPK pada Jumat (12/1) besok ditunda. Dia meminta agar pemeriksaan di KPK dilakukan setelah Peradi memeriksanya terkait dugaan pelanggaran kode etik. “Kami minta pemeriksaan besok itu ditunda dulu sampai adanya putusan sidang kode etik terhadap pak Fredrich,” kata pengacara Fredrich, Sapriyanto Refa, di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018). Namun, Sapriyanto belum tahu apakah kliennya akan tetap hadir pada pemeriksaan besok. Ia menyebut hanya berupaya untuk menunda pemeriksaan terhadap Fredrich. “Apakah besok bisa hadir atau tidak, kan keputusan itu bukan ada di kami. Kami hanya melakukan upaya bagaimana pemeriksaan bisa ditunda dengan alasan yang bisa kami pertanggungjawabkan,” ujarnya. Sementara, KPK mengimbau Fredrich tetap memenuhi panggilan. Hal itu demi memperlancar proses hukum yang sedang berjalan. “Kita hargai proses pemeriksaan kode etik. Kalau di Peradi mau melakukan pemeriksaan kode etik, di IDI juga sudah melakukan. Itu domain organisasi profesi masing-masing,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah saat dimintai konfirmasi terpisah. Sebagai informasi, Fredrich merupakan tersangka kasus dugaan merintangi penyidikan atau obstruction of justice. Selain Fredrich, dr Bimanesh Sutarjo ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya disangka memanipulasi data rekam medis Novanto. Manipulasi itu dilakukan untuk menghindari panggilan KPK atas Novanto.

Fredrich Yunadi mengaku tak khawatir dengan penggeledahan yang dilakukan tim penyidik KPK. Fredrich menegaskan, tidak ada rahasia yang disembunyikan di kantornya. “Karena mereka itu (KPK) semuanya sudah sesuai dengan hukum yang berlaku, ya oleh anak buah saya dipersilakan. Penggeledahan silakan saja karena kita tidak ada rahasia apa pun kok, jadi kita tidak takut dilakukan penggeledahan apa pun, silakan,” kata Fredrich kepada wartawan di kantornya Jl Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018). [Gambas:Video 20detik] Mantan pengacara Setya Novanto ini menyebut penggeledahan KPK tindakan wajar. Sebab KPK membawa surat izin penggeledahan dari pengadilan. “Ya dalam penggeledahan memang diambil seperti surat kuasanya Pak SN pada saya, karena Pak SN surat kuasanya pada kantor saya kan nggak cuma satu, kan ada 7 surat kuasa yang di mana itu berbeda,” sambungnya. Sebelumnya Ketua tim kuasa Fredrich, Sapriyanto Refa, mengatakan dalam penggeledahan, KPK menyita dokumen yang berhubungan dengan tindak pidana yang dilakukan Fredrich. Ada 27 item yang disita KPK, termasuk 3 handphone milik karyawan. Penggeledahan ini terkait dengan kasus perintangan penyidikan dengan tersangka Fredrich dan dokter Bimanesh Sutarjo. Keduanya dijerat pasal 21 UU Nomor 31/1999 sebagaimana diubah menjadi UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1. Kedua tersangka diduga memanipulasi data rekam medis Novanto yang saat itu dirawat di RS Medika Permata Hijau karena mobil yang ditumpangi kecelakaan.

Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK, menetapkan Ketua DPR dan Ketua Umum Partai Golar, Setya Novanto -yang sedang dirawat karena kecelakaan lalu lintas- sebagai tahanan KPK. Kepada para wartawan di Gedung KPK, Jumat (17/11), juru bicara Febri Diansyah mengatakan penahanan untuk Setya Novanto itu dimulai sejak 17 November 2017 hingga 6 Desember 2017 di Rumah Tahanan Negara Kelas I Jakarta Timur Cabang KPK. Namun Setya Novanto saat ini masih sedang dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RSCM sehingga dilakukan pembantaran atau penundaan penahanan sementara. “Dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan tersangka dan menurut hasil pemeriksaan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo masih dibutuhkan rawat inap untuk kebutuhan observasi lebih lanjut, maka KPK langsung melakukan pembantalan penahanan terhadap tersangka SN,” jelas Febri. Sementara pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, mengatakan bahwa penyidik KPK sebenarnya membacakan surat perintah penahanan kepada Setya Novanto di kamarnya, saat dirawat di RS Permata Hijau sebelum dipindahkan ke RSCM. Fredrich sempat mengungkapkan protes atas pembacaan surat penahanan ketika Setya Novanto masih dalam perawatan karena yang penting sekarang, menurutnya, Setya Novanto harus lebih dulu menjalani pemeriksaan ‘alat vital.’ “Otak kan alat vital,’ tegasnya. “Ia harus menjalani MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk memeriksa otaknya. Di sini, di RS Permata Hijau ini, MRI-nya enggak ada. Daripada membahayakan pasien, sebagai bentuk tanggung jawab.”

seperti di kutip dari http://www.bbc.com

Ia menyebut, di RSCM sudah menunggu sejumlah profesor ahli untuk memeriksa Setya Novanto. “Karena beliau itu orang besar, orang terkenal, jadi akan ditangani langsung oleh para profesor,” katanya. “Nanti kalau disebutkan oleh para ahlinya Pak Setya Novanto kondisinya (sehat) tidak apa-apa, silakan KPK mengambil alih,” katanya. Ia menegaskan, sekarang status Setya Novanto masih dalam ‘penguasaan’ RSCM, bukan KPK. Tak tahu dan tak berani bertanya Pengacara Setya Novanto itu meyakinkan bahwa saat kecelakaan Kamis (16/11), Setya Novanto sedang dalam perjalanan ke KPK dari luar kota. “Dari luar kotanya mana, saya tidak tahu. Saya sebagai pengacara tidak boleh menanyakan. Coba Anda sendiri, apakah berani bertanya kepada bos?” kata Fredrich Yunadi pula. Disebutkan, yang mengemudi adalah Hilman, seorang wartawan MeroTV. Kecelakaan terjadi karena Hilman kehilangan konsentrasi, menurut Yunadi, setelah Setya Novanto berubah pikiran untuk tidak menuju MetroTV, melainkan langsung ke KPK. Hilman kini sudah pula ditetapkan sebagai tersangka, untuk kelalaian mengemudi sehingga mengakibatkan kecelakaan. Kecelakaan mobil Video mobil yang diduga milik Setya Novanto disiarkan Kompas TV . Mobil Fortuner berwarna hitam bernomor polisi B 1732 ZLO itu dalam kondisi hancur di depan. Beberapa jam sebelumnya, suara rekaman wawancara yang diklaim sebagai Setya Novanto mengudara di Metro TV . Suara itu mengatakan dirinya akan datang ke gedung KPK.

seperti di kutip dari http://www.bbc.com

“Saya akan datang. Insya Allah,” ujar Setya dalam wawancara eksklusif itu. Namun, dia tidak menyebut kapan akan datang ke KPK dengan menambahkan menegaskan tidak pernah lari dari kasus e-KTP yang menjeratnya. Pada bagian lain wawancara itu, dia mengaku terkejut dengan upaya KPK menjemput paksa dan menggeledah kediamannya pada Rabu (15/11) malam. Padahal menurutnya, dia baru sekali dipanggil sebagai tersangka. Karena itu, dia merasa kasus dugaan korupsi yang menjeratnya berbau politis. “Saya lihat ini nuansa politisnya tinggi, saya merasa dizalimi. Saya tidak pernah sama sekali, tidak pernah menerima uang. Bisa dicek di BPK maupun BPKP,” ujarnya dalam wawancara via telepon.

seperti di kutip dari http://www.bbc.com

Secara terpisah, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan pemeriksaan terhadap Setya Novanto akan ditunda sampai Ketua DPR dan Ketua Umum Partai Golkar tersebut pulih dari cederanya. “Kami akan menunggu,” ujarnya. Serba serbi ‘kasus’ Setya Novanto Setya Novanto sedang dicari KPK terkait dugaan korupsi dalam pengadaan e-KTP. Setelah sempat menang dalam gugatan praperadilan tentang penetapan status tersangka, KTP kemudian menetapkannya kembali sebagai tersangka. Namun, dia tetap tidak bersedia memenuhi panggilan KPK untuk diperiksa. Terakhir kali pada Rabu (15/11), dengan alasan harus menyampaikan pidato di DPR.

seperti di kutip dari http://www.bbc.com

Malamnya KPK berupaya untuk menjemputnya langsung dari rumahnya namun Setya Novanto tidak ditemukan. Sebelumnya, dia juga pernah mangkir dengan alasan sakit dan fotonya saat di rumah sakit bersama istrinya sempat menyebar di internet dan dijadikan meme untuk menyindir. Pengacaranya kemudian melaporkan penyebar meme tersebut, yang memperlihatkan wajah Setya Novanto saat mengenakan masker alat bantu di Rumah Sakit Premier Jatinegara, Jakarta. Selain itu, dua pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Saut Situmorang, juga dilaporkan Fredrich Yunadi ke kepolisian dengan tuduhan melakukan tindak pidana penyalahgunaan wewenang jabatan. Penyalahgunaan wewenang itu terkait dengan perpanjangan pencegahan Setya Novanto ke luar negeri sampai 2 April 2018 lewat surat yang ditandatangani Ketua KPK, Agus Rahardjo. Jaksa KPK berpendapat bahwa Setya Novanto diduga ikut terlibat dalam kasus korupsi pengadaaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau e-KTP, yang mengakibatkan kerugian negara Rp 2,3 triliun dari nilai total proyek sebesar Rp5,9 triliun.

Related Posts

Comments are closed.