Dimyati Natakusumah Pindah ke PKS

Dimyati Natakusumah Pindah ke PKS

Ahmad Dimyati Natakusumah, yang terakhir diketahui menjabat Sekjen PPP kubu Djan Faridz, mengakui dirinya telah bergabung ke PKS. Dimyati jadi bakal calon legislatif (caleg) PKS untuk daerah pemilihan (dapil) Banten I. “Saya baru dilaunching oleh PKS, penetapannya belum. Ini sebuah kehormatan buat saya,” kata Dimyati saat dikonfirmasi, Kamis (28/12/2017). Dimyati menuturkan dirinya belum memutuskan mundur dari jabatannya sebagai anggota DPR RI. Menurutnya, belum ada yang mengharuskan dia mundur karena pindah partai. “Kita lihat saja tahapannya nanti. Yang bisa membuat saya mundur itu UU yang diamanatkan pada PKPU, tapi itu pun bila saya diharuskan mundur oleh UU. Saya masih anggota DPR dari PPP yang mewakili konstituen dan masyarakat serta daerah saya,” tutur mantan Bupati Pandeglang ini. Dimyati kemudian menuturkan ketertarikannya pada visi dan misi PKS yang menurutnya serupa dengan PPP saat zaman orde baru. “PKS itu mirip dengan PPP dulu, yang komit dengan dakwah dan keumatan serta bela Islam. Yang punya prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Saya sangat terpikat dengan visi misi PKS tersebut,” ujarnya. Meski begitu, ia berharap agar antara dua kubu di PPP segera islah. “Saya berharap PPP islah. Bila ribut dan konflik terus bisa membuat ketidaknyamanan di dalam rumah besar ini. Dan saya juga tidak nyaman bila terus konflik sampai 4 tahun ini,” pungkasnya.

Baca juga : sekjen ppp djan faridz disebut pindah ke pks

INILAHCOM, Jakarta – Elit Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masih belum bisa bersatu dan tetap bersikeras dengan keinginan masing-masing. PPP yang dipimpin Djan Faridz beberapa waktu lalu menyatakan dukungan terhadap Kepala Daerah dalam Pilkada 2018. Menanggapi hal itu, PPP yang dipimpin Romahurmuziy menilai dukungan tersebut tidak berlaku. Ya itu dukungan cek kosong karena tidak bakal diterima KPU. Kasihan saja orang-oramg yang masih percaya, kata Wakil Sekretaris Jenderal PPP, Achmad Baidowi kepada INILAHCOM, Sabtu (23/12/2017).

seperti di kutip dari http://m.inilah.com

Bahkan lanjut anggota Komisi II DPR itu, Sekretaris Jenderal PPP Djan Faridz sudah berpindah partai, yaitu Ahmad Dimyati Natakusumah. Lha Sekjen mereka A. Dimyati N, informasinya sudah tercatat sebagai bakal caleg PKS, ujarnya. Sebelumnya, Dimyati memang mengakui bahwa dirinya sudah tidak mempunyai chemistry dengan PPP akibat konflik yang tidak berkesudahan. Dimyati mengaku sudah tidak betah melihat konflik di PPP. “Saya sudah tidak nyaman di PPP karena konflik terus. Ini kayanya apa ya punya hidden agenda kayanya nih, agenda apa, untuk kepentingan apa, tujuannya apa. Kan sudah ada falsafah, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Apalagi ini partai persatuan, boro-boro mau bersatu pecah mulu ini kaya telor pecah,” kata Dimyati. [fad]


Baca juga : 26792 dimyati natakusumah nyebrang ke pks

Namun, pada acara itu Dimyati tidak hadir. “Iya hari ini (Sabtu) enggak bisa hadir, izin ada acara dengan presiden,” ujar Ketua DPW PKS Miptahuddin, disela-sela kegiatan. Miptahuddin megatakan bahwa bergabungnya Dimyati menjadi tambahan energi sendiri bagi PKS. Sebab, pada dapil I (Kabupaten Lebak-Pandeglang), PKS belum pernah mendapatkan kursi.”PKS sangat menyambut baik bergabung nya Pak Dimyati. Kita dapat energi baru. Karena di dapil I Pandeglang-Lebak ini, kita belum pernah dapat kursi. Mudah-mudahan kita dapat kursi setelah Pak Dimiyati ada di sana,” tegas Miptah, nama panggilan Miptahuddin. Miptah mengakui bahwa saat ini Dimyati masih anggota DPR RI dari PPP. “Kalau masalah itu, silahkan tanya ke yang bersangkuran langsung. Itu bukan kewenangan kita,” jelasnya.Menurut Miptah, pendaftaran masuknya Dimyati sebagai caleg DPR RI dari PKS merupakan kewenangan DPP PKS. “Kalau DPR RI itu kewenangan DPP, pembahasannya ada di DPP. Kalau caleg provinsi dibahas di DPW,” kata Miptah, seraya menjelaskan, di dapil Lebak-Pandeglang ada nama Sanuji Pentamerta dan Sadeli Karim yang juga caleg PKS. “Nama-nama yang lain saya lupa siapa saja,” katanya. Miptah menjelaskan, pada pileg 2019 PKS sudah memasang target 12 persen. Target 12 persen sudah dikalkulasikan dengan sumber daya yang ada. “Menurut kami angka itu rasional. Terpaan dan pengalaman mengikuti kontestan pemilu menjadi guru berharga bagi PKS untuk membuat grand strategy yang tepat dalam menghadapi pemilu 2019,” katanya. Miptah mengatakan, soliditas kader dan kerja dengan sistem menjadi modal besar PKS dalam mengejar target 12 persen. “PKS optimistis bisa memenuhi target tersebut karena kesiapan kader dan mesin partaipun sudah siap bekerja,” kata Miptahudin. Anggota  Komisi IV DPRD Banten ini menegaskan bahwa PKS akan menjadi partai Islam yang konsen sebagai partai yang dekat dengan masyarakat. “Tagline Berkhidmat untuk Rakyat sudah bekerja dan mendapat respon positif dari publik. Ini menjadi modal PKS juga karena kepercayaan publik jadi energi bagi PKS,” kata Miptah. Koordinator PKS Wilda Banjabar Tate Komarudin menjelaskan, untuk mengejar target 12 persen struktur PKS mulai dari DPW, DPD, DPC sampai ranting harus bekerja dengan semangat pengabdian. “Semangat pengabdian ini lah yang selama ini membuat PKS tetap mendapat kepercayaan. Semangat pengabdian ini pula yang menjadi ruh PKS dan dipahami para kader PKS,” kata mantan Dekan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Kabid Humas DPW PKS Banten Yoga Utama mengatakan, jumlah bakal caleg 485 orang, terdiri dari 24 caleg DPR RI, 93 caleg Provinsi Banten, dan 378 caleg kabupaten/kota se-Banten. Ia mengatakan, PKS Banten berkomitmen untuk menjadi partai yang bisa optimal memberikan kontribusi bagi bangsa dan Banten pada umumnya. “Sebagai bentuk komitmen PKS kami pun menyiapkan para calon legislatif untuk DPR RI, DPRD Banten dan DPRD kabupaten/kota yang memiliki komitmen untuk meraih suara 12 persen pada pemilu 2019 nanti,” ujar Yoga. (rahmat)


Baca juga :

SERANG, (KB).-  Pengamat Politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Suwaib Amiruddin menilai, langkah mantan Bupati Pandeglang Achmad Dimyati Natakusumah untuk maju menjadi calon legislatif (Caleg) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tepat. Karena posisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sedang mengalami kekisruhan yang secara politik tidak begitu menguntungkan Achmad Dimyati Natakusumah. “Nah jadi langkah Dimyati (Achmad Dimyati Natakusumah) tepat,” katanya saat dihubungi Kabar Banten melalui sambungan seluler, Senin (11/12/2017).

seperti di kutip dari https://www.kabar-banten.com

Soal dampak, dia melihat bahwa perpindahan Achmad Dimyati Natakusumah ke PKS tidak akan begitu signifikan mendongkrak perolehan PKS di Pileg 2019, meskipun Achmad Dimyati Natakusumah terbilang tokoh populer di Banten dan Nasional. Namun, kata dia, popularitas satu tokoh bukan ukuran utama yang dapat menggiring masyarakat memilih tokoh tersebut. “Salah satu yang terpenting untuk membuat masyarakat memilih adalah programnya. Kalau di partai baru suatu tokoh tidak mempunyai program, sama saja,” ucapnya.

seperti di kutip dari https://www.kabar-banten.com

Kepada PPP, perpindahan Achmad Dimyati Natakusumah ke PKS juga dinilai tidak akan membuat PPP terpuruk, karena kemajuan dan kemunduran partai tidak ditentukan oleh ketokohan individu, tapi sejauh mana kerja kader partai. Misalnya, ada beberapa partai yang tokoh populernya pindah tapi partainya tetap maju, atau ada juga partai yang tokoh populernya tidak pernah pindah akan tetapi partai malah menurun. “Karena partai itu masing-masing punya basis, jadi elemen politisi secara individu bukan salah satu magnet partai untuk besar atau kecil,” ucapnya.

seperti di kutip dari https://www.kabar-banten.com

Sementara itu, Sekretaris DPW PPP Banten, Iskandar mengatakan, PPP tidak dapat menghalangi niat Achmad Dimyati Natakusumah maju lewat PKS, karena hal tersebut menjadi hak politik seseorang. “Tidak dapat menghalangi karena itu menjadi hak politik sesorang,” tuturnya. Terkait dampak terhadap PPP, dia mengaku perpindahan Achmad Dimyati Natakusumah ke PKS tidak begitu banyak berpengaruh terhadap keberadaan PPP. Karena PPP sendiri sudah terbilang partai lama dan mempunyai basis yang mengakar di masyakakat. “Memang dampaknya ada, tapi tidak terlalu besar,” tuturnya. Disinggung terkait sanksi, anggota DPRD Banten ini belum memberikan sanksi kepada Achmad Dimyati Natakusumah. “Kalau nanti sudah jelas, DPP PPP akan mengambil langkah,” tuturnya.

seperti di kutip dari https://www.kabar-banten.com

Sebelumnya diberikan, DPW PKS Provinsi Banten menghimpun sebanyak 450 nama untuk menjadi calon Anggota DPRD kabupaten/kota se-Banten, DPRD Provinsi Banten, dan DPR RI pada pemilihan legilatif (pileg) 2019. Di antara nama-nama tersebut juga terdapat nama mantan Bupati Pandeglang, Achmad Dimyati Natakusumah, yang terdaftar sebagai bakal caleg untuk DPR RI Dapil I yang meliputi Pandeglang dan Lebak. Saat dikonfirmasi, Achmad Dimyati Natakusumah membenarkan jika dirinya masuk daftar calon DPR RI dari PKS. Ia ditempatkan di dapil Pandeglang-Lebak. “Betul, tapi masih menunggu penetapan secara resminya. Ini sebuah penghargaan yang sangat tinggi, dan baik dari PKS,” katanya.

Ahmad Dimyati Natakusumah, yang terakhir diketahui menjabat Sekjen PPP kubu Djan Faridz, mengakui dirinya telah bergabung ke PKS. Dimyati jadi bakal calon legislatif (caleg) PKS untuk daerah pemilihan (dapil) Banten I. “Saya baru dilaunching oleh PKS, penetapannya belum. Ini sebuah kehormatan buat saya,” kata Dimyati saat dikonfirmasi, Kamis (28/12/2017). Dimyati menuturkan dirinya belum memutuskan mundur dari jabatannya sebagai anggota DPR RI. Menurutnya, belum ada yang mengharuskan dia mundur karena pindah partai. “Kita lihat saja tahapannya nanti. Yang bisa membuat saya mundur itu UU yang diamanatkan pada PKPU, tapi itu pun bila saya diharuskan mundur oleh UU. Saya masih anggota DPR dari PPP yang mewakili konstituen dan masyarakat serta daerah saya,” tutur mantan Bupati Pandeglang ini. Dimyati kemudian menuturkan ketertarikannya pada visi dan misi PKS yang menurutnya serupa dengan PPP saat zaman orde baru. “PKS itu mirip dengan PPP dulu, yang komit dengan dakwah dan keumatan serta bela Islam. Yang punya prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Saya sangat terpikat dengan visi misi PKS tersebut,” ujarnya. Meski begitu, ia berharap agar antara dua kubu di PPP segera islah. “Saya berharap PPP islah. Bila ribut dan konflik terus bisa membuat ketidaknyamanan di dalam rumah besar ini. Dan saya juga tidak nyaman bila terus konflik sampai 4 tahun ini,” pungkasnya.

JAKARTA- Politisi Partai Persatuan Pembangunan, Dimyati Natakusumah pindah ke Partai Keadilan Sejahtera. Ia mengatakan bahwa politik dinamis semua serba mungkin.     “Saya terpikat dengan PKS  yang selalu konsisten dengan keumatan dan dakwah,” ujarnya benerapa hari lalu saat dihubungi wartawan.     Namun demikian, menurut pria yang akrab disapa Dimyati ini, dirinya belum resmi ditetapkan sebagaii Caleg di Banten 1 oleh PKS.     “Ini baru di launching saja.Saya bersyukur PKS welcome,” tambahnya.     Dimyati pun menjelaskan posisinya di PPP, menurutnya hingga saat ini dirinya masih jadi Anggota DPR RI Fraksi PPP.      “Bila sudah final saya pasti akan memutuskan yang terbaik sesuai titah ulama,” pungkasnya.     Seperti diketahui,  Dimyati berlabuh ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Puncaknya, ia menjadi Sekjen PPP. Dia juga pada tahun 2000 menjadi Bupati Kabupaten Pandeglang. Setelah itu, Dimyati menjadi Anggota DPR RI dan menjadi pimpinan Badan Legislasi DPR RI. Pada pemilu berikutnya, dia terpilih kembali menjadi anggota DPR periode 2014-2019.

Namun, pada acara itu Dimyati tidak hadir. “Iya hari ini (Sabtu) enggak bisa hadir, izin ada acara dengan presiden,” ujar Ketua DPW PKS Miptahuddin, disela-sela kegiatan. Miptahuddin megatakan bahwa bergabungnya Dimyati menjadi tambahan energi sendiri bagi PKS. Sebab, pada dapil I (Kabupaten Lebak-Pandeglang), PKS belum pernah mendapatkan kursi.”PKS sangat menyambut baik bergabung nya Pak Dimyati. Kita dapat energi baru. Karena di dapil I Pandeglang-Lebak ini, kita belum pernah dapat kursi. Mudah-mudahan kita dapat kursi setelah Pak Dimiyati ada di sana,” tegas Miptah, nama panggilan Miptahuddin. Miptah mengakui bahwa saat ini Dimyati masih anggota DPR RI dari PPP. “Kalau masalah itu, silahkan tanya ke yang bersangkuran langsung. Itu bukan kewenangan kita,” jelasnya.Menurut Miptah, pendaftaran masuknya Dimyati sebagai caleg DPR RI dari PKS merupakan kewenangan DPP PKS. “Kalau DPR RI itu kewenangan DPP, pembahasannya ada di DPP. Kalau caleg provinsi dibahas di DPW,” kata Miptah, seraya menjelaskan, di dapil Lebak-Pandeglang ada nama Sanuji Pentamerta dan Sadeli Karim yang juga caleg PKS. “Nama-nama yang lain saya lupa siapa saja,” katanya. Miptah menjelaskan, pada pileg 2019 PKS sudah memasang target 12 persen. Target 12 persen sudah dikalkulasikan dengan sumber daya yang ada. “Menurut kami angka itu rasional. Terpaan dan pengalaman mengikuti kontestan pemilu menjadi guru berharga bagi PKS untuk membuat grand strategy yang tepat dalam menghadapi pemilu 2019,” katanya. Miptah mengatakan, soliditas kader dan kerja dengan sistem menjadi modal besar PKS dalam mengejar target 12 persen. “PKS optimistis bisa memenuhi target tersebut karena kesiapan kader dan mesin partaipun sudah siap bekerja,” kata Miptahudin. Anggota  Komisi IV DPRD Banten ini menegaskan bahwa PKS akan menjadi partai Islam yang konsen sebagai partai yang dekat dengan masyarakat. “Tagline Berkhidmat untuk Rakyat sudah bekerja dan mendapat respon positif dari publik. Ini menjadi modal PKS juga karena kepercayaan publik jadi energi bagi PKS,” kata Miptah. Koordinator PKS Wilda Banjabar Tate Komarudin menjelaskan, untuk mengejar target 12 persen struktur PKS mulai dari DPW, DPD, DPC sampai ranting harus bekerja dengan semangat pengabdian. “Semangat pengabdian ini lah yang selama ini membuat PKS tetap mendapat kepercayaan. Semangat pengabdian ini pula yang menjadi ruh PKS dan dipahami para kader PKS,” kata mantan Dekan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Kabid Humas DPW PKS Banten Yoga Utama mengatakan, jumlah bakal caleg 485 orang, terdiri dari 24 caleg DPR RI, 93 caleg Provinsi Banten, dan 378 caleg kabupaten/kota se-Banten. Ia mengatakan, PKS Banten berkomitmen untuk menjadi partai yang bisa optimal memberikan kontribusi bagi bangsa dan Banten pada umumnya. “Sebagai bentuk komitmen PKS kami pun menyiapkan para calon legislatif untuk DPR RI, DPRD Banten dan DPRD kabupaten/kota yang memiliki komitmen untuk meraih suara 12 persen pada pemilu 2019 nanti,” ujar Yoga. (rahmat)

SERANG – Mantan Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah pindah partai politik, dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Suami dari Bupati Pandeglang Irna Narulita itu resmi masuk sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dari PKS. Kepastian ini diperoleh setelah PKS mengumunkan sekaligus memperkenalkan 450 calon anggota legislatif (caleg) yang akan maju pada pemilihan legislatif (pileg) 2019, di Hotel Ratu Bidakara, Kota Serang, Sabtu 9/12). Namun, pada acara itu Dimyati tidak hadir. “Iya hari ini (Sabtu) enggak bisa hadir, izin ada acara dengan presiden,” ujar Ketua DPW PKS Miptahuddin, disela-sela kegiatan. Miptahuddin megatakan bahwa bergabungnya Dimyati menjadi tambahan energi sendiri bagi PKS. Sebab, pada dapil I (Kabupaten Lebak-Pandeglang), PKS belum pernah mendapatkan kursi.”PKS sangat menyambut baik bergabung nya Pak Dimyati. Kita dapat energi baru. Karena di dapil I Pandeglang-Lebak ini, kita belum pernah dapat kursi. Mudah-mudahan kita dapat kursi setelah Pak Dimiyati ada di sana,” tegas Miptah, nama panggilan Miptahuddin. Miptah mengakui bahwa saat ini Dimyati masih anggota DPR RI dari PPP. “Kalau masalah itu, silahkan tanya ke yang bersangkuran langsung. Itu bukan kewenangan kita,” jelasnya.Menurut Miptah, pendaftaran masuknya Dimyati sebagai caleg DPR RI dari PKS merupakan kewenangan DPP PKS. “Kalau DPR RI itu kewenangan DPP, pembahasannya ada di DPP. Kalau caleg provinsi dibahas di DPW,” kata Miptah, seraya menjelaskan, di dapil Lebak-Pandeglang ada nama Sanuji Pentamerta dan Sadeli Karim yang juga caleg PKS. “Nama-nama yang lain saya lupa siapa saja,” katanya. Miptah menjelaskan, pada pileg 2019 PKS sudah memasang target 12 persen. Target 12 persen sudah dikalkulasikan dengan sumber daya yang ada. “Menurut kami angka itu rasional. Terpaan dan pengalaman mengikuti kontestan pemilu menjadi guru berharga bagi PKS untuk membuat grand strategy yang tepat dalam menghadapi pemilu 2019,” katanya. Miptah mengatakan, soliditas kader dan kerja dengan sistem menjadi modal besar PKS dalam mengejar target 12 persen. “PKS optimistis bisa memenuhi target tersebut karena kesiapan kader dan mesin partaipun sudah siap bekerja,” kata Miptahudin. Anggota Komisi IV DPRD Banten ini menegaskan bahwa PKS akan menjadi partai Islam yang konsen sebagai partai yang dekat dengan masyarakat. “Tagline Berkhidmat untuk Rakyat sudah bekerja dan mendapat respon positif dari publik. Ini menjadi modal PKS juga karena kepercayaan publik jadi energi bagi PKS,” kata Miptah. Koordinator PKS Wilda Banjabar Tate Komarudin menjelaskan, untuk mengejar target 12 persen struktur PKS mulai dari DPW, DPD, DPC sampai ranting harus bekerja dengan semangat pengabdian. “Semangat pengabdian ini lah yang selama ini membuat PKS tetap mendapat kepercayaan. Semangat pengabdian ini pula yang menjadi ruh PKS dan dipahami para kader PKS,” kata mantan Dekan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Kabid Humas DPW PKS Banten Yoga Utama mengatakan, jumlah bakal caleg 485 orang, terdiri dari 24 caleg DPR RI, 93 caleg Provinsi Banten, dan 378 caleg kabupaten/kota se-Banten. Ia mengatakan, PKS Banten berkomitmen untuk menjadi partai yang bisa optimal memberikan kontribusi bagi bangsa dan Banten pada umumnya. “Sebagai bentuk komitmen PKS kami pun menyiapkan para calon legislatif untuk DPR RI, DPRD Banten dan DPRD kabupaten/kota yang memiliki komitmen untuk meraih suara 12 persen pada pemilu 2019 nanti,” ujar Yoga. (rahmat)

INILAHCOM, Jakarta – Elit Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masih belum bisa bersatu dan tetap bersikeras dengan keinginan masing-masing. PPP yang dipimpin Djan Faridz beberapa waktu lalu menyatakan dukungan terhadap Kepala Daerah dalam Pilkada 2018. Menanggapi hal itu, PPP yang dipimpin Romahurmuziy menilai dukungan tersebut tidak berlaku. “Ya itu dukungan cek kosong karena tidak bakal diterima KPU. Kasihan saja orang-oramg yang masih percaya,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PPP, Achmad Baidowi kepada INILAHCOM, Sabtu (23/12/2017). Bahkan lanjut anggota Komisi II DPR itu, Sekretaris Jenderal PPP Djan Faridz sudah berpindah partai, yaitu Ahmad Dimyati Natakusumah. “Lha Sekjen mereka A. Dimyati N, informasinya sudah tercatat sebagai bakal caleg PKS,” ujarnya. Sebelumnya, Dimyati memang mengakui bahwa dirinya sudah tidak mempunyai chemistry dengan PPP akibat konflik yang tidak berkesudahan. Dimyati mengaku sudah tidak betah melihat konflik di PPP. “Saya sudah tidak nyaman di PPP karena konflik terus. Ini kayanya apa ya punya hidden agenda kayanya nih, agenda apa, untuk kepentingan apa, tujuannya apa. Kan sudah ada falsafah, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Apalagi ini partai persatuan, boro-boro mau bersatu pecah mulu ini kaya telor pecah,” kata Dimyati. [fad]

SERANG, (KB).-  Pengamat Politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Suwaib Amiruddin menilai, langkah mantan Bupati Pandeglang Achmad Dimyati Natakusumah untuk maju menjadi calon legislatif (Caleg) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tepat. Karena posisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sedang mengalami kekisruhan yang secara politik tidak begitu menguntungkan Achmad Dimyati Natakusumah. “Nah jadi langkah Dimyati (Achmad Dimyati Natakusumah) tepat,” katanya saat dihubungi Kabar Banten melalui sambungan seluler, Senin (11/12/2017).

seperti di kutip dari https://www.kabar-banten.com

Soal dampak, dia melihat bahwa perpindahan Achmad Dimyati Natakusumah ke PKS tidak akan begitu signifikan mendongkrak perolehan PKS di Pileg 2019, meskipun Achmad Dimyati Natakusumah terbilang tokoh populer di Banten dan Nasional. Namun, kata dia, popularitas satu tokoh bukan ukuran utama yang dapat menggiring masyarakat memilih tokoh tersebut. “Salah satu yang terpenting untuk membuat masyarakat memilih adalah programnya. Kalau di partai baru suatu tokoh tidak mempunyai program, sama saja,” ucapnya.

seperti di kutip dari https://www.kabar-banten.com

Kepada PPP, perpindahan Achmad Dimyati Natakusumah ke PKS juga dinilai tidak akan membuat PPP terpuruk, karena kemajuan dan kemunduran partai tidak ditentukan oleh ketokohan individu, tapi sejauh mana kerja kader partai. Misalnya, ada beberapa partai yang tokoh populernya pindah tapi partainya tetap maju, atau ada juga partai yang tokoh populernya tidak pernah pindah akan tetapi partai malah menurun. “Karena partai itu masing-masing punya basis, jadi elemen politisi secara individu bukan salah satu magnet partai untuk besar atau kecil,” ucapnya.

seperti di kutip dari https://www.kabar-banten.com

Sementara itu, Sekretaris DPW PPP Banten, Iskandar mengatakan, PPP tidak dapat menghalangi niat Achmad Dimyati Natakusumah maju lewat PKS, karena hal tersebut menjadi hak politik seseorang. “Tidak dapat menghalangi karena itu menjadi hak politik sesorang,” tuturnya. Terkait dampak terhadap PPP, dia mengaku perpindahan Achmad Dimyati Natakusumah ke PKS tidak begitu banyak berpengaruh terhadap keberadaan PPP. Karena PPP sendiri sudah terbilang partai lama dan mempunyai basis yang mengakar di masyakakat. “Memang dampaknya ada, tapi tidak terlalu besar,” tuturnya. Disinggung terkait sanksi, anggota DPRD Banten ini belum memberikan sanksi kepada Achmad Dimyati Natakusumah. “Kalau nanti sudah jelas, DPP PPP akan mengambil langkah,” tuturnya.

seperti di kutip dari https://www.kabar-banten.com

Sebelumnya diberikan, DPW PKS Provinsi Banten menghimpun sebanyak 450 nama untuk menjadi calon Anggota DPRD kabupaten/kota se-Banten, DPRD Provinsi Banten, dan DPR RI pada pemilihan legilatif (pileg) 2019. Di antara nama-nama tersebut juga terdapat nama mantan Bupati Pandeglang, Achmad Dimyati Natakusumah, yang terdaftar sebagai bakal caleg untuk DPR RI Dapil I yang meliputi Pandeglang dan Lebak. Saat dikonfirmasi, Achmad Dimyati Natakusumah membenarkan jika dirinya masuk daftar calon DPR RI dari PKS. Ia ditempatkan di dapil Pandeglang-Lebak. “Betul, tapi masih menunggu penetapan secara resminya. Ini sebuah penghargaan yang sangat tinggi, dan baik dari PKS,” katanya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PPP, Dimyati membantah dirinya tertangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Dimyati menjelaskan, berita yang mengatakan dirinya tertangkap di sebuah rumah makan di Pandeglang, adalah Hoax. “OTT oleh Istri kale ,” ujar dia saat dihubungi Republika melalui pesan teks, Rabu (27/9). Dimyati menjelaskan, sore hari ini dirinya justru sedang bertemu dengan salah seorang tamu dari Komisi Investigasi Negara (KIN), Kolonel Purnawirawan Didi, rumah makan. Saat di tengah pertemuan, istri Dimyati datang dan ikut bergabung dalam pertemuan tersebut. “Akhirnya Kolonel Purn Didi dari KIN ikut makan nyumbangkan lagu buat saya,” ujar dia. Acara makan siang tersebut hanya acara makan siang biasa bertempat di rumah makan Sop Ikan di daerah Serang. Sebelumnya, dikabarkan Dimyati terjaring OTT oleh KPK di daerah Pandeglang, Banten.

Related Posts

Comments are closed.