Diduga Stres, Pria di Gowa Bacok 2 Wanita lalu Bunuh Diri

Diduga Stres, Pria di Gowa Bacok 2 Wanita lalu Bunuh Diri

Seorang pria di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan tiba-tiba mengamuk dan membacok dua wanita yang merupakan iparnya. Usai membacok, pelaku kemudian menikam dirinya sendiri dengan senjata tajam. Peristiwa itu terjadi di pemukiman Pa’bangngiang, Jalan Kacong Daeng Lalalang, Kelurahan Tombolo Sungguminasa, Kecamatan Sombaopu, pukul 11.30 WITA, Selasa, (20/2/2018). Saat itu, pelaku KN (50) tiba-tiba mengamuk lalu membacok Fitri (31) dan Daeng Sunggu (36). Foto: Polisi olah TKP pria bacok dua wanita di Gowa. (Yahya Maulana-detikcom) Korban langsung terkapar dengan luka bacokan pada bagian kepala. Kedua wanita itu saat ini dalam kondisi kritis dan dievakuasi ke rumah sakit. “Tiba-tiba mengamuk dan parangi iparnya sendiri baru dia tikam dirinya sendiri” kata seorang warga, Daeng Rannu di lokasi kejadian. Aparat kepolisian yang tiba di lokasi langsung mengamankan sebilah golok berlumuran darah milik pelaku. Pelaku yang diduga stres tersebut tewas dalam kejadian itu. “Barang bukti telah kami amankan dan ketiganya telah dievakuasi ke rumah sakit ada pun kejadiannya secara tiba-tiba dan menurut informasi dari warga di sini tidak ada masalah antara tersangka dengan korban sebelumnya,” kata Kapolsek Somba Opu AKP Muhammad Arief di lokasi.

Seorang pria di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan tiba-tiba mengamuk dan membacok dua wanita yang merupakan iparnya. Usai membacok, pelaku kemudian menikam dirinya sendiri dengan senjata tajam. Peristiwa itu terjadi di pemukiman Pa’bangngiang, Jalan Kacong Daeng Lalalang, Kelurahan Tombolo Sungguminasa, Kecamatan Sombaopu, pukul 11.30 WITA, Selasa, (20/2/2018). Saat itu, pelaku KN (50) tiba-tiba mengamuk lalu membacok Fitri (31) dan Daeng Sunggu (36). Foto: Polisi olah TKP pria bacok dua wanita di Gowa. (Yahya Maulana-detikcom) Korban langsung terkapar dengan luka bacokan pada bagian kepala. Kedua wanita itu saat ini dalam kondisi kritis dan dievakuasi ke rumah sakit. “Tiba-tiba mengamuk dan parangi iparnya sendiri baru dia tikam dirinya sendiri” kata seorang warga, Daeng Rannu di lokasi kejadian. Aparat kepolisian yang tiba di lokasi langsung mengamankan sebilah golok berlumuran darah milik pelaku. Pelaku yang diduga stres tersebut tewas dalam kejadian itu. “Barang bukti telah kami amankan dan ketiganya telah dievakuasi ke rumah sakit ada pun kejadiannya secara tiba-tiba dan menurut informasi dari warga di sini tidak ada masalah antara tersangka dengan korban sebelumnya,” kata Kapolsek Somba Opu AKP Muhammad Arief di lokasi.

Liputan6.com, Bandung – Depresi diduga menjadi penyebab dua wanita nekat melompat dari balkon lantai lima Apartemen Gateway, Cicadas, Kota Bandung, Jawa Barat. Kedua wanita yang diduga bunuh diri tersebut merupakan kakak beradik. Sang kakak bernama Elviana Parubak (34) dan adiknya bernama Eva Septiany Parubak (28). Menurut Kepala Polsek Cibeunying Kidul, Kompol Anton Purwantoro, kedua jenazah wanita diduga bunuh diri itu kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri Sartika Asih untuk kepentingan visum et repertum .

seperti di kutip dari http://regional.liputan6.com

Salah seorang saksi, Imas (44), mengenal kakak beradik yang diduga bunuh diri tersebut. Keduanya kerap mengunjungi toko binatu miliknya di lantai dasar Apartemen Gateway, dengan sikap yang ganjil. “Empat hari ke belakang yang kakaknya datang ke sini curhat macam-macam. Memang kelihatan kayak orang lagi depresi,” tutur Imas. Adapun salah satu saksi yang juga merupakan juru parkir apartemen, Reza Setiawan, mengatakan bahwa peristiwa yang diduga bunuh diri itu terjadi pada Senin sore tadi sekitar pukul 17.00 WIB. Dia pun tak mengetahui penyebab kedua perempuan itu diduga bunuh diri dengan cara melompat dari apartemen. Reza menjelaskan, kedua perempuan tersebut melompat dalam waktu yang berbeda. “Setelah yang pertama lompat, sekitar lima menit kemudian yang satu lagi lompat,” tutur dia. Sebelum kejadian diduga bunuh diri tersebut, imbuh Reza, kedua perempuan itu sempat diperingatkan untuk tidak nekat melompat. Namun, akhirnya kedua wanita itu melompat dari balkon apartemen. “Sudah diperingatkan jangan loncat, eh malah loncat,” kata dia.

Merdeka.com – Hengki Qeli Dawi (37), warga Jalan Sultan Sulaiman, Samarinda harus berurusan dengan polisi. Dia meringkuk penjara, usai menganiaya istri sirinya, Ria Apriani. Gara-garanya, menolak didatangi istrinya meski mengeluh kesakitan usai disunat. Keterangan diperoleh, peristiwa itu terjadi Senin (17/4) malam kemarin, sekira pukul 19.00 Wita. Saat itu, Hengki mengeluh kesakitan, setelah sebelumnya selesai dikhitan. Keluhannya membuat istrinya penasaran. “Jadi kemarin itu, istrinya (Ria Apriani) itu mendatangi pelaku (Hengki), karena mengeluh kesakitan. Sebagai istri, maksudnya mau menanyakan suaminya,” kata Kanit Reskrim Polsekta Samarinda Ilir, Ipda Purwanto, kepada merdeka.com, Selasa (18/4) malam. Maksud baik istrinya, berbanding terbalik dengan perlakuan Hengki sebagai suami. Meski sang istri Ria Apriani datang menghampiri, Hengki malah marah dan mengusir korban yang ada di sampingnya. “Dia bukan cuma mengusir, tapi juga melakukan pemukulan dengan tangannya, mengenai kepala korban dan mata kiri korban,” ujar Purwanto. Pukulan Hengki berakibat fatal. Korban mengalami luka memar di bagian mata kirinya, dan menimbulkan rasa sakit di bagian kepalanya. “Mata kiri korban sampai bengkak,” tambah Purwanto. Korban pun merintih kesakitan usai dianiaya Hengki. Akhirnya, korban memilih melapor ke kepolisian, setelah dianiaya suaminya sendiri. Tanpa menunggu lama, Ria membuat laporan ke Polsekta Samarinda Ilir di Jalan Bhayangkara. “Terkait kejadian itu, korban keberatan, dan melapor resmi ke Polsek,” sebut Purwanto. Menindaklanjuti laporan Ria Apriani, tim Reskrim mencari Hengki. Tidak ada kesulitan berarti, saat petugas mengamankan pelaku terkait dugaan tindak penganiayaan. “Benar, kita amankan sekira jam 5 sore tadi, di rumah yang dihuni korban dan pelaku,” terang Purwanto. Hengki kini meringkuk di sel penjara Polsekta Samarinda Ilir. Polisi menjeratnya dengan pasal penganiayaan, sebagaimana diatur dalam KUHP. “Kita lakukan visum terhadap korban, untuk memperkuat berkas penyidikan,” demikian Purwanto. [ded]

Related Posts

Comments are closed.