Datang ke Tanah Abang, Sandiaga-Lulung Sapa PKL

Datang ke Tanah Abang, Sandiaga-Lulung Sapa PKL

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno bersama Wakil Ketua DPRD Abraham Lunggana (Lulung) datang ke kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tiba di lokasi bersama, keduanya menyapa para pedagang kaki lima (PKL) dan warga yang ada di lokasi. Keduanya tiba sekitar pukul 11.25 WIB. Sandiaga dan Lulung langsung mendatangi lapak-lapak PKL. Mereka sempat berbincang sebentar sembari berjalan. “Pak, murah, Pak. Murah,” kata pedagang di lokasi, Selasa (26/12/2017). Haji Lulung datang bersama Sandiaga ke Tanah Abang. (Yulida Medistiara/detikcom) “Obral ya?” kata Sandiaga menanggapi. Setelah itu, Sandiaga dan Lulung berjalan lagi melihat-lihat lapak PKL. Sandi juga sempat bersalaman dengan warga. Sandiaga datang mengenakan kaos lari dan kacamata tersemat di kepalanya. Sedangkan Lulung mengenakan kemeja batik. Dia juga memakai topi berwarna putih. Sebelumnya diberitakan, Sandiaga Uno dan Lulung merapikan rambut di Pangkas Rambut Ko Tang, Glodok, Jakarta Barat.

Baca juga : lulung bodoh banget pkl mau sewa trotoar tanah abang

“Trotoar yang mana sih yang disewain? Jangan katanya-katanya. Harus ada investigasi,” kata Abraham Lunggana (Lulung) di Jakarta, Rabu (15/11/2017). Ucapan Wakil Ketua DPRD Jakarta dari PPP itu menjawab pertanyaan soal dugaan sebagian trotoar di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, disewakan untuk PKL. Itu sebabnya, PKL bisa leluasa memakai jalur untuk pejalan kaki. Lulung mengatakan sudah menginvestigasi dan memang tidak ditemukan orang yang menyewakan trotoar. “Saya sudah investigasi kemarin, yang saya bilang sama polisi tuh, nggak ada tuh sewa-menyewa, masa itu (lapak) disewain. Bodoh amat orang yang mau sewa itu,” kata Lulung. Lebih jauh, Lulung mengatakan memang ada sewa menyewa di Tanah Abang, tapi bukan trotoar. Lulung mengatakan semua orang yang mau berdagang di sekitar Tanah Abang pasti lapor ke pengurus RT atau RW. “Misalkan pedagang (baru) datang, mencari tempat dong, datang ke tempat itu pasti ke wilayah RW. Nah mereka datang ya dibantuinlah, ayo dagang di situ. Nggak mungkin kalau di trotoar, nekat namanya itu,” kata dia. Lulung memiliki lahan pribadi di area Tanah Abang. Area itu dikelola anak Lulung dan anggota Pemuda Panca Marga. “Nah di situ dikelola oleh temen-temen di situ, supaya pedagang ini pada kagak ke trotoar. Tapi saking penuhnya itu nggak muat. Akhirnya dikelola oleh masing-masing pedagang sendiri ke kelompok-kelompok pedagang,” katanya. “Kalau yang punya saya ini kan PPM, ini kan tanah kosong, itu dikelola oleh PT-nya anak saya,” kata Lulung. “Kalau di trotoar itu ada sewa menyewa itu namanya bodoh (yang nyewa), ketahuan datang trantib setiap hari,” Lulung menambahkan. Dicari Sandiaga ‎Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno sedang mencari tahu informasi mengenai sebagian trotoar di Pasar Tanah Abang disewakan kepada PKL. “‎Informasi yang disampaikan itu sedang diklarifikasi oleh Pak Irwandi (Kepala Dinas UMKM). Tetapi kami tidak mengutip sama sekali, Pemprov itu menata,” kata Sandiaga di acara Civil Engineering National Summit Universitas Indonesia ke-15 di Hotel Bidakara, Jakarta. Dia menegaskan pemprov tidak minta pernah mengizinkan PKL berjualan di trotoar, apalagi menyewakan. Sebab, ada aturan perundangan tentang retribusi yang menjadi koridor pemerintah daerah. Sandiaga menegaskan bila ada yang meminta pungutan dari pedagang di trotoar itu ilegal dan harus ditertibkan. Sandi mengimbau kepada pedagang agar mematuhi aturan dan tidak memberikan uang kepada pihak yang menarik pungutan tersebut. Sebab, uang itu termasuk pungutan liar. Dia menambahkan konsep penataan kawasan Pasar Tanah Abang ke depan adalah merespons permasalahan yang terjadi antara pejalan kaki dan PKL yang berjualan di trotoar. “Itu yang akan menjadi konsep penataan ke depan, bagaimana pejalan kaki dimuliakan. PKL yang cari makan dan nafkah diberikan ruang, tempatnya nanti akan kami umumkan begitu pak gubernur memberikan persetujuan,” kata dia. “Konsepnya holistik, tapi memang ada fokus untuk jangka pendek dulu seperti apa, jangka menengah dengan Sky Bridge, jangka panjangnya dengan konsep TOD,” Sandiaga menambahkan.


Baca juga : pkl tanah abang rebutan tenda sandiaga manusiawi omset naik

“Saya tanya waktu kami memulai itu berapa yang kami lock , angkanya 394 (PKL), enggak sampai 400. Jadi ini Pak Wali Kota sudah sampaikan tenda-tendanya akan masuk semua. Begitu masuk semua, itu semua sudah ke- lock ,” ujarnya. Menurut Sandi, pemerintah DKI tidak akan mengakomodasi para pedagang yang tidak terdata Dinas KUMKMP. Ia mengancam akan menindak secara tegas jika ada PKL tak terdata yang berjualan di sana. “Kami gunakan Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) dan semua aparat kami pastikan bahwa yang di luar ketentuan dan kesepakatan kemarin harus ditindak,” katanya. Kendati begitu, Sandi menilai penataan Tanah Abang membutuhkan waktu. Ia memperkirakan sekitar 1-3 bulan mendatang baru ada penyesuaian, tapi belum terlihat hasilnya. Sebab, penataan ini harus berkelanjutan. Sandi tidak ingin solusi penataan kawasan Tanah Abang hanya sekadar penertiban. “Kemarin, waktu tertibkan Blok G, kan enggak ada solusinya. Mereka balik lagi ke bawah,” ucapnya. Pada hari pertama penataan Tanah Abang, Jumat, 22 Desember 2017, sekitar 50 PKL melakukan protes. Selama ini, mereka biasa berdagang di trotoar Jalan Jatibaru hingga pintu stasiun. Mereka memprotes Satpol PP lantaran tidak mendapat jatah tenda untuk jualan alias lapak dari Dinas KUMKMP DKI Jakarta. Padahal mereka sudah tiga kali didata sampai ke tingkat RT dan RW. Mereka kesal karena yang mendapat tenda adalah pedagang yang memiliki toko di Pasar Tanah Abang. Penataan kawasan Tanah Abang oleh Gubernur Anies Baswedan adalah dengan menutup Jalan Jatibaru pukul 08.00-18.00. Kendaraan pribadi dan angkutan umum dilarang melintas. Penutupan berlaku untuk kedua jalur, baik yang ke arah Jatibaru maupun Jalan Kebon Jati. Jalur ke arah Jalan Kebon Jati akan dipakai sekitar 400 PKL. Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan DKI telah menyiapkan tenda gratis bagi PKL. Simak juga: Blok G Tanah Abang yang Dipromosikan Jokowi Bakal Dirobohkan Sedangkan jalur satunya, yang semula mengarah ke Jatibaru, akan menjadi jalur bus Transjakarta menuju Jalan Kebon Jati. Bus akan mengangkut para penumpang kereta komuter di Stasiun Tanah Abang, yang hendak menuju kawasan Pasar Tanah Abang. Penumpang digratisan naik bus tersebut. “Ini mudah-mudahan bisa menjadi solusi yang dirasakan langsung masyarakat, yang datang rutin ke Tanah Abang,” kata Anies ketika mengumumkan konsep penataan kawasan Tanah Abang .


Baca juga : sandiaga uno yang asal omong soal tanah abang cz5m

Sangat sedikit orang di Jakarta mau lari pagi di tengah kepadatan lalu lintas ibukota, apalagi salah satu rute yang dilewatinya adalah kawasan Tanah Abang, sentra grosir terbesar se-Asia Tenggara. Orang akan melihatnya sebagai pencitraan. Dan dalam politik, pencitraan menjadi barang penting ketika orang yang melakukan lari pagi itu adalah orang terpenting kedua di Balai Kota. Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha sukses dari bisnis investasi pasca-krisis moneter 1997, ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, salah satu orang yang pernah masuk daftar terkaya versi Forbes , moncer dalam karier politik pada 2015 dan akan melihat dirinya sebagai wakil gubernur dua tahun kemudian, menjadikan “jalan sehat” sebagai kampanye yang acap ia gembar-gemborkan kepada pendukungnya dan warga Jakarta lain. Hal ini terus dilakoninya bahkan setelah ia menduduki kursi di Balai Kota sesudah dilantik pada pertengahan Oktober lalu. Pada Jumat pukul 7 pagi, 3 November lalu, ketika nyaris semua orang yang terhubung pada Tanah Abang telah menjalani aktivitas rutin sejak dini hari sekali, langkah kaki Sandiaga terhenti persis di depan Stasiun Tanah Abang, salah satu stasiun komuter terpadat se-Jabodetabek dengan 50 ribu penggunanya lalu-lalang saban hari kerja.  Langkah lari penyumbang terbesar dana kampanye Pilkada Jakarta itu terhenti ketika melihat tukang ojek melawan arus dalam kondisi jalanan macet dengan cara pintas menaiki badan trotoar dan mendekatinya. Ini bukan hal aneh di Jakarta, bagaimanapun, dan bahkan ada gerakan yang disebut #trotoarkita sebagai upaya balik para pejalan kaki merebut haknya pada ruang kota.  Dengan melihat dirinya sebagai otoritas ibu kota, Sandi lantas menegur si tukang ojek. Namun, bukan permintaan maaf yang ia terima, alih-alih ia dibentak. Semua itu akan jadi peristiwa sambil lalu bagi Anda yang terbiasa melintasi jalanan Jakarta, yang tidak membedakan mana kaya mana miskin, yang semuanya sama-sama mengumpat dan menyimpan kesal jika menghadapi pengendara yang ugal-ugalan. Namun, agaknya, hal macam itu ditempatkan oleh Sandiaga sebagai persoalan yang penting. Setiba di Balai Kota, di tengah para wartawan, ia segera melaporkan apa yang terjadi di Tanah Abang. “Ada beberapa ojek yang lawan arah, diingetin malah membentak saya karena dia enggak tahu siapa (saya), ya. Mengeluarkan kata-kata penghinaan,” kata Sandiaga. Omongan itu disambarlah oleh wartawan: Seorang wakil gubernur dibentak oleh pengendara ojek, di sebuah pasar yang menyimpan sejarah kekerasan dan bandel dikendalikan—sebuah berita besar. Media-media daring melansir. Maka, sisanya adalah sejarah. Pada awal pekan bulan ini, omongan Sandiaga dan keramaian yang diciptakan olehnya mengenai Tanah Abang menjadi bahan berita (dan bahan omongan warganet) di sebuah kota yang masyarakatnya (masih) terbelah akibat Pilkada lalu, yang paling brutal dalam sejarah negeri ini.

seperti di kutip dari https://tirto.id

Salah satu yang melihat ekses dari peristiwa itu adalah seorang pedagang kaki lima bernama Amir. Ia mendengar selentingan di antara sesama PKL bahwa “gara-gara Wagub Sandi dibentak,” terjadilah razia.   Sandiaga tak cuma omong ke wartawan yang ngepos di Balai Kota, sorenya di hari itu juga ada razia terhadap belasan kendaraan bermotor oleh Dinas Perhubungan di lokasi Pasar Tanah Abang. Suasana Jumat itu seperti biasa selepas insiden Sandiaga “dibentak”. Satuan Polisi Pamong Praja, yang posnya di dekat tempat Amir membuka lapak, cuma duduk-duduk, tepat di depan Stasiun Tanah Abang. Para petugas kamtib ini biasanya alergi terhadap para PKL. Namun, alih-alih bersikap sangar dan kasar, mereka justru berlagak ramah. Kata Amir, sesekali mereka menegur pengendara bajaj yang ngetem di bahu jalan. “Enggak ada yang aneh,” kata Amir. Namun, menjelang pukul tiga sore, gerombolan petugas berpakaian Dinas Perhubungan mendadak datang ke areal PKL di depan Stasiun Tanah Abang, persis di lokasi Sandiaga “dibentak” pada pagi hari. Amir sempat ketar-ketir. Ia membatin, Wah pertanda buruk, razia nih . “Khawatir kalau kena garuk,” ia bilang. Namun, prediksi Amir keliru. Para pegawai Dishub itu menyasar deretan sepeda motor dari pengendara ojek dan pengunjung pasar, yang diparkir di bahu jalan dan trotoar, persis di seberang jalan Amir berjualan. Motor-motor itu seketika diangkut ke truk. Beberapa pengendara ojek kabur dengan sigap. Setelah razia itu, barulah Amir tahu soal selentingan dari para PKL lain. Razia itu dilakukan karena satu kejadian yang menggelikan di pagi hari sebelum ia membuka lapak. “Kayaknya (si tukang ojek) enggak tahu kalau itu Wagub (Sandi),” kata Amir, menebak-nebak.

seperti di kutip dari https://tirto.id

Usai kejadian lari pagi yang ditegur itu, mulailah Sandiaga Uno bicara mengenai salah satu topik paling sensitif di Jakarta: penataan Tanah Abang.  Saat ditanya soal penyebab kemacetan di Tanah Abang, misalnya, dengan enteng saja Sandiaga menyebut pejalan kakilah pelakunya. Beberapa hari berikutnya, ia berkata bahwa penataan Pasar Tanah Abang bakal “merangkul para preman.”  Tiga hari berikutnya, omongan itu ia koreksi; bahwa kawasan Tanah Abang semrawut lantaran pembangunan jalan; bahwa kekacauan di sana karena pejalan kaki yang keluar dari pintu Stasiun Tanah Abang; bahwa banyak angkot yang ngetem di bahu dan pinggir jalan menambah dua kemungkinan di atas.  Teranglah, lantaran ia menyebut pejalan kaki sebagai biang kemacetan, Sandiaga kena kritik.  Salah satunya yang mengkritik itu adalah Komunitas Jalan Kaki. Laili Fitri, penggiat Koalisi Pejalan Kaki Jakarta, mengatakan bahwa omongan Sandiaga tanpa dasar sama sekali. Sumber utama kemacetan di kawasan itu, katanya, karena kehadiran lapak-lapak PKL yang memakai trotoar. “Kalau seandainya trotoar itu untuk pejalan kaki, (maka)  amanin PKL biar nyaman pejalan kakinya,” kata Fitria via telepon kepada Tirto . Sambutan atas ucapan kontroversial Sandiaga, akhirnya, bikin Anies Baswedan angkat bicara. Menurut Anies, musabab pernyataan kompanyonnya benar belaka karena berdasarkan pantauan drone di kawasan Tanah Abang. Hasil tangkapan capung perekam gambar itu menunjukkan bahwa pejalan kaki memang tumpah ke jalanan pada saat jam-jam sibuk. Amanda Gita Dinanjar, juru bicara PD Pasar Jaya yang mengelola sebagian blok di kawasan Pasar Tanah Abang, berkata bahwa gambar drone yang dilihat oleh Sandiaga adalah kerja timnya. Lanskap pasar yang semrawut, demikian katanya, diambil oleh tim PD Pasar Jaya sebelum mereka memaparkan kepada Sandiaga di Balai Kota. “Sebelum rapat, jam 10, kita ambil gambar dulu menggunakan drone .” Dari pemaparan oleh tim PD Pasar Jaya itulah kemudian omongan Sandiaga berasal.  “Memang tidak sekarut-marut pada 2013, tapi, kan, tetap saja. Apalagi yang di Bongkaran, Pasar Tasik, itu mobil berjejer,” kata Amanda. Topik soal kawasan Pasar Tanah Abang yang semrawut semakin ramai di media sosial setelah menyebar foto yang membandingkan kondisi Tanah Abang pada 2015 dan Oktober 2017. Salah satunya diunggah oleh akun Facebook Haryanta Haryanta: foto tahun 2015 terlihat lengang, foto Oktober 2017 terlihat semrawut. Postingan itu dibagikan 471 kali per 15 November. Tak hanya disebarkan via Facebook, tapi juga ditangkap-layar lalu diunggah di Twitter; postingan itu terus diamplifikasi dan punya kekuatan viral dari orang-orang yang masih terbelah usai pertarungan Pilkada paling brutal dalam sejarah negeri ini. Tetapi, apakah benar ucapan Sandiaga dan postingan di media sosial tersebut?

seperti di kutip dari https://tirto.id

Ada satu pesan yang makin relevan di tengah paparan badai hoaks: gambaran di media sosial tak selalu sesuai dengan realitas sosial. Saya mendatangi kawasan Pasar Tanah Abang selama dua hari, Rabu dan Kamis pekan lalu, untuk menyusuri 7 blok di areal itu, dari Blok A sampai Blok G, serta lapak-lapak PKL di depan pintu keluar Stasiun Tanah Abang. Sejak pagi hingga sore, saya tak menemukan realitas “semrawut”, tumpah-ruah, impitan antara tenda-tenda PKL di bahu jalan, dari ujung ke ujung, bersama parkir motor dan mobil dan lalu-lalang orang-orang—apa pun itu—seperti tergambar dalam postingan foto yang jadi bahan gunjingan warganet. Begitu pula tak ada realitas yang disebut “semrawut” di sebatang jalan yang memicu macet lantaran pejalan kaki seperti tuduhan Sandiaga. Di Blok A, misalnya, kemacetan hanya di sekitar Jalan KH Mas Mansyur. Penyebabnya: laju kendaraan yang lamban saat berputar arah sebelum memasuki kawasan pasar Tanah Abang. Di sana memang terlihat ada pedagang kaki lima pada pagi dan siang hari, tetapi jumlahnya tak seperti sebelum tahun 2013 ketika Jokowi dan Ahok melakukan penataan. Para pedagang ini tertib. Menjelang pukul tiga sore, mereka sudah menutup lapak sebelum jam-jam sibuk pulang kantor. Tak ada kemacetan akibat lapak-lapak PKL. Kemacetan lain terjadi di Jalan Fachrudin, tepat di depan Blok G dan Blok F. Penyebabnya dua: pembangunan gorong-gorong dan bus-bus besar yang ngetem di pinggir jalan. Semua lapak PKL mangkal di trotoar jalan, tetapi masih ada ruang yang lengang buat pejalan kaki. Memang ada beberapa parkir liar di trotoar dan badan jalan, tetapi sedikit. Sementara di depan stasiun Tanah Abang, keramaian hanya terjadi pada jam-jam sibuk: berangkat dan pulang kerja. Lalu lintas lengang pada siang hari. Para PKL memang masih berjualan di atas trotoar, tetapi lapak mereka tidak menutupi seluruh bagian dan masih ada ruang untuk pejalan kaki.

seperti di kutip dari https://tirto.id

Gampang mengabaikan omelan warganet, tetapi tidak kalau menyebut para pemain di kawasan Tanah Abang. Lebih-lebih jika ia menyinggung dengan sebutan yang merendahkan. Sandiaga Uno melakukan keduanya. Yang terakhir, ia sulit berkelit. Saat Sandiaga bicara “preman” di Tanah Abang, Abraham Lunggana alias Haji Lulung —yang notabene pendukungnya dalam Pilkada Jakarta lalu—merasa tersinggung. Haji Lulung menyatakan: Tak ada preman di Tanah Abang. “Saya jamin enggak ada preman. Kalau ada preman, kita tangkap, kok,” kata Lulung di Balai Kota, Jumat pekan lalu. Sandiaga segera meralat omongannya. Selasa pekan lalu, setelah mengundang “tokoh” Tanah Abang, ia tak lagi menyebut istilah “preman”. Meski begitu, tetap saja ada yang masih kecewa dengan ucapan Sandiaga. Anang, misalnya, tokoh Tanah Abang sekaligus koordinator keamanan Masjid Al Ma’mur (terletak di J l. K.H. Mas Mansyur, Kebon Kacang ), berkata bahwa sejak Kelompok Hercules tidak menguasai lagi beberapa wilayah termasuk pasar di Tanah Abang, istilah preman telah terkikis. Bahkan, kata Anang, sejak 2004 saat ia dipercaya mengelola keamanan di Pasar Tanah Abang, preman mulai dibersihkan oleh warga Tanah Abang. Posko-posko preman termasuk lapak minuman keras juga turut dibersihkan. “Apa sih yang disebut preman itu? Yang gondrong? Mukanya sangar? Tatoan? Biar ane gondrong, muka sangar, tapi kalau azan langsung ke masjid, salat,” ujar Anang kepada saya di Masjid Al Ma’mur, pekan lalu. Anang menyayangkan ucapan Sandi “tanpa melihat fakta di lapangan.” Selama Anang memegang keamanan di Blok G sejak 2006, ia tak pernah melihat ada preman berkeliaran dan memalak. Anang bilang, bahkan warga Tanah Abang ikut andil membantu Pemprov Jakarta saat “menertibkan” PKL di masa kepemimpinan Joko Widodo hingga Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama. “Zamannya Ahok, PKL dipindah ke Blok G. Ane tahu itu. Ane yang kawal Ahok waktu peresmian di sana. Tapi, faktanya, yang masuk ke Blok G itu bukan PKL. Ada banyak warga sini, ane kenal lah semua. Nah, kalau sekarang ada PKL lagi, yang itu mungkin yang lama-lama, tapi semua sudah tertib,” kata Anang. Roni Adi, Ketua Umum Perkumpulan Budaya Betawi Sikumbang Tenabang, mengatakan bahwa omongan Sandi soal “preman” bukan cuma bisa bikin warga takut datang ke pasar tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu, tapi bisa juga bikin “perpecahan” warga Tanah Abang. “Seharusnya tidak begitulah,” kata Roni. “Warga yang kena imbasnya.”  “Tidak mungkin ada preman kami biarkan. Coba lihat waktu kerusuhan 1998, hampir semua pasar itu terbakar, kecuali Tanah Abang. Kami  jagain bener.” Soal usulan “penataan” pasar dari Sandiaga, Roni berpendapat bahwa Pemprov Jakarta perlu “melibatkan warga”. Wargalah yang tahu seluk-beluk Tanah Abang karena mereka saban hari tinggal di wilayah itu, apalagi jika penataan ini terkait para PKL. “Kalau sama Satpol PP mereka itu takut, tapi kalau sama warga mereka itu segan. Pasti lebih mau diatur. Kita juga nggak akan usir mereka, kita tahu mereka juga cari makan,” tutur Roni.


Baca juga :

Jakarta, CNN Indonesia — Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta Abraham Lunggana menyebut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selama ini gagal menata kawasan Pasar Tanah Abang. Tokoh Tanah Abang yang kerap disapa Haji Lulung ini menyebut Pemprov belum punya solusi jitu untuk menempatkan para pedagang kaki lima di pusat grosir terbesar di Asia Tenggara tersebut.  Lulung menyebut, upaya relokasi pedagang selama ini tidak efektif. Pasalnya, lokasi baru yang disediakan sepi pengunjung sehingga dagangan mereka tidak laku seperti di Blok G.  Pemindahan pedagang ke Blok G dilakukan pada era Gubernur Joko Widodo. Namun kawasan tersebut saat ini ditinggalkan para pedagang karena tak ada pengunjung datang sehingga pedagang rugi. Saat relokasi dilakukan, Pemprov menurut Lulung tidak mengajak pedagang berembug.  “Ajak ngomong dong pedagangnya, jangan gusur terus. Kalau gusur terus, pedagang tidak diajak ngomong, jadi perkerjaan rumah lagi,” kata Lulung di kawasan Menteng, Jakarta, Minggu (21/5). Ia menilai sepinya aktivitas jual-beli di Blok G Tanah Abang selama ini bukan karena masalah kurangnya akses jalan atau infrastuktur di sekitar lokasi. Namun Lulung tidak mau mengatakan penyebab sepinya blok tersebut. Lulung mengklaim ada banyak kawasan di Tanah Abang yang layak untuk menjadi tempat relokasi pedagang dan ia tahu tempatnya Karena itu, jika Pemprov ingin tahu di lokasi mana saja, ia membuka pintu komunikasi.  “Banyak tempatnya, makanya tanya Haji Lulung,” ujarnya. Pada Kamis (18/5) lalu, Pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menyebut para PKL yang berjualan di trotoar jalan Tanah Abang merugikan ribuan pedagang yang menyewa lapak di dalam pasar.  Djarot mengatakan, Pemprov DKI telah sejak lama berupaya membersihkan kawasan Tanah Abang dari PKL dan memusatkan aktivitas jual-beli di dalam pasar. Jelang Ramadan, kata dia, Pemprov akan giat mensosialisasikan larangan berjualan di jalan. Di sisi lain, penertiban Satpol PP tak membuat para pedagang kaki lima di Tanah Abang jera. Selang beberapa jam usai penindakan, mereka kembali menggelar lapak di pinggir jalan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno bersama Wakil Ketua DPRD Abraham Lunggana (Lulung) datang ke kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tiba di lokasi bersama, keduanya menyapa para pedagang kaki lima (PKL) dan warga yang ada di lokasi. Keduanya tiba sekitar pukul 11.25 WIB. Sandiaga dan Lulung langsung mendatangi lapak-lapak PKL. Mereka sempat berbincang sebentar sembari berjalan. “Pak, murah, Pak. Murah,” kata pedagang di lokasi, Selasa (26/12/2017). Haji Lulung datang bersama Sandiaga ke Tanah Abang. (Yulida Medistiara/detikcom) “Obral ya?” kata Sandiaga menanggapi. Setelah itu, Sandiaga dan Lulung berjalan lagi melihat-lihat lapak PKL. Sandi juga sempat bersalaman dengan warga. Sandiaga datang mengenakan kaos lari dan kacamata tersemat di kepalanya. Sedangkan Lulung mengenakan kemeja batik. Dia juga memakai topi berwarna putih. Sebelumnya diberitakan, Sandiaga Uno dan Lulung merapikan rambut di Pangkas Rambut Ko Tang, Glodok, Jakarta Barat.

Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan tempat khusus bagi pengemudi ojek pangkalan (opang) di pintu baru Stasiun Tanah Abang. Namun masih banyak pengemudi opang yang nekat mangkal di depan pintu lama Stasiun Tanah Abang. Pantauan detikcom sekitar pukul 10.30 WIB, Selasa (26/12/2017), beberapa pengemudi ojek pangkalan masih terlihat berkumpul di bawah pintu Stasiun Tanah Abang lama atau persisnya yang mengarah ke tenda pedagang kaki lima (PKL). Mereka beralasan, jika ditempatkan di satu lokasi, yakni di dekat pintu Stasiun Tanah Abang baru, opang akan berebut penumpang dengan opang lainnya. “Itu mah kebanyakan. Memang mending di sini, memang aslinya di sini. Yang di pintu bengkel (Stasiun Tanah Abang baru) sudah ada. Di sana tidak menampung. Saya di sana susah, yang di sini alhamdulillah,” kata pengemudi ojek bernama Dian di Jl Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (26/12). Foto: Yulida Medistiara/detikcom Ia berharap Jalan Jatibaru Raya difungsikan seperti dulu, yakni bisa dilewati kendaraan. Sebab, ia merasa kesulitan mencari penumpang jika diminta pindah lokasi di pintu baru Stasiun Tanah Abang. “Sarannya difungsikan seperti semula. Jalanan kan tahu bukan untuk pedagang. Fungsinya disalahgunain oleh dia. Pengennya seperti dulu lagi, normallah,” ujarnya. Sementara itu, pengemudi ojek lainnya bernama Agus mengaku telah 8 tahun beroperasi di dekat pintu lama Stasiun Tanah Abang. Ia keberatan dipindahkan ke pintu baru karena merasa banyak pesaing. Adapun di pintu lama Stasiun Tanah Abang, pengemudi ojek pangkalan terlihat sedikit. Dengan begitu, menurutnya, peluang mendapatkan calon penumpang lebih banyak. Foto: Yulida Medistiara/detikcom “Saya kan dari dulu memang di sini mangkalnya tidak pernah di situ. Saya daripada di situ ketahuan di sini. Mau sepi mau ramai enakan di sini,” ujar Agus. Menurut Agus, jika Jalan Jatibaru Raya ditutup tiap akhir pekan, itu tidak jadi masalah. Namun dia berharap jalan tersebut tidak ditutup pada hari biasa. “Kalau mau Sabtu, Minggu, tidak apa-apa. Kalau Senin sampai Jumat ya kan kita mati juga dong,” kata Agus. Adapun pengemudi ojek lainnya, Ucit, juga mengaku kalah bersaing dengan pengemudi ojek pangkalan lainnya jika mangkal di pintu baru Stasiun Tanah Abang. Sebab, menurutnya, pengemudi ojek di pintu baru terlalu banyak. Ucit memberi saran, jika memang pengemudi ojek pangkalan diminta pindah di pintu baru, harus diatur dengan tertib, misalnya diberi antrean. Dengan begitu, pengemudi ojek lainnya akan mendapatkan penumpang. “Sekarang kalau di sana berebutan bagaimana. Kan tidak enak yang suaranya gede, kita suaranya kecil. Ada 100 lebih opangnya. Di sana kan campur. Sudah gitu kan banyak yang turun dari tangga sini. Kita manfaatin dikit ,” ujar Ucit. Ia meminta ojek pangkalan diberi tempat di dekat pintu stasiun karena seharusnya jalan raya dipakai untuk pengendara motor. Ia menyebut salah satu faktor kemacetan sebelumnya adalah angkot yang sering membuat macet jalan. Pengemudi ojek pangkalan di pintu masuk Stasiun Tanah Abang. (Yulida Medistiara/detikcom) “Kasihlah sedikit tempat buat motor. Lagian tidak ada hukumnya jalan raya jadi pasar. Jalan raya khusus untuk pengendara. Yang bikin macet mikrolet sama pedagang,” ujar Ucit. “Kalau memang opang mau di sana semua, itu bikin antrean. Diatur kan kayak gini ibaratnya tidak banyak penumpang relatif ada, yang di sini tidak makan ya tidak makan,” imbuhnya.

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana alias Lulung tak yakin pedagang kaki lima (PKL) kembali marak di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ia bahkan menganggap kabar yang menyebutkan PKL mengokupasi trotoar sebagai informasi bohong alias hoaks. Lewat akun Twitternya, Lulung memposting empat buah foto yang disebutnya merupakan kondisi trotoar di Jalan Jati Baru, tepatnya sekitar Stasiun Tanah Abang pada Rabu (24/10/2017) sekitar pukul 09.00. “Saya mencoba memfoto kondisi terbaru pada rabu tgl 25 oktober 2017 jam 09.00 wib, di jalan jati baru raya, mari bersama lawan berita hoax ,” tulis Lulung lewat akun Twitter @halus24.

Lulung mengaku sudah dihubungi Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang meminta bantuannya. “Kemarin Sandi sudah telpon saya, ‘Pak Haji siap, ya’. Saya bilang siap, Sandi sudah berkomunikasi dengan saya,” ujar Lulung ketika dihubungi Kompas.com , Minggu (5/11/2017). Lulung mengatakan tanpa diminta pun dia siap mendukung kebijakan Anies dan Sandiaga. Bukan hanya masalah Tanah Abang, Lulung mengaku siap membantu untuk permasalahan di Jakarta lainnya. Dia akan membantu berkomunikasi kepada pihak-pihak terkait. “Saya bilang kerjaan saya di DPRD, ngantor saya di kaki lima. Sebelum itu tuntas saya siap. Bukan hanya di kaki lima, di mana saja di Jakarta saya siap jadi garda terdepan untuk pemerintah daerah,” ujar Lulung.

seperti di kutip dari http://megapolitan.kompas.com

Lulung sebenarnya memiliki ide sendiri untuk menata kawasan Tanah Abang. Namun, Anies dan Sandiaga belum bertanya kepadanya mengenai solusi itu. Dia siap untuk bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah Tanah Abang jika diminta. Menurut Lulung, hal yang paling penting untuk dilakukan Anies-Sandi hanya menjalin pola komunikasi yang baik saja. Pola komunikasi yang baik dengan warga akan membuat kebijakan lebih mudah diterima. “Gubernur tidak boleh gagal membangun komunikasi seperti dulu, sudah begitu saja. Harus bangun komunikasi dengan siapa pun terutama dengan orang-orang kecil. Orang kecil kalau diajak komunikasi pasti dia mau,” ujar Lulung.

JAKARTA, KOMPAS.com  — Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham ” Lulung ” Lunggana mendampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berkeliling Tanah Abang . Setelah turun dari transjakarta, Lulung mendekati Anies dan memberikan topi putih untuk Anies. “Supaya enggak panas, Pak,” kata Lulung di kawasan Tanah Abang, Jumat (22/12/2017). Anies berterima kasih dan langsung mengenakan topi itu. Lulung juga mengenakan topi serupa dengan yang diberikan kepada Anies. Siang itu, cuaca di Tanah Abang memang terik. Sinar matahari langsung mengenai kepala siapa saja yang berada di kawasan itu. Meski demikian, Anies tak terus-menerus mengenakan topi itu. Tidak lama kemudian, Anies melepas topi putih dan kembali berdialog dengan pedagang kaki lima Tanah Abang.

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham ” Lulung ” Lunggana mengaku tidak tahu jika trotoar di Tanah Abang disewakan. Lulung menyebut pedagang bodoh jika mau menyewa lapak di trotoar. “Kalau di trotoar ada sewa-menyewa, itu namanya bodoh. Kan, ketahuan datang trantib setiap hari,” ujar Lulung di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Rabu (15/11/2017). “Bodoh amat orang yang mau sewa itu,” tambah dia. Menurut dia, tempat yang bisa disewakan adalah lahan yang bukan area publik. Lulung mengaku punya lahan kosong yang dikelola perusahaan anaknya di kawasan Tanah Abang.

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan jajarannya akan menindak tegas pedagang kaki lima yang berjualan tak sesuai aturan di Tanah Abang . Ia tak ingin pedagang berebut tenda hingga kembali berjualan di trotoar. “Di situ perannya Satpol pp dan Dishub, jadi sekarang sudah enggak ada lagi toleransi, pokoknya akan kami tindak tegas kalau tidak sesuai dengan aturan yang disepakati,” ujar Sandiaga ditemui di kawasan Kota Tua, Sabtu (23/12/2017). Sandiaga mengatakan pihaknya sudah mendata siapa-siapa saja yang berhak berdagang di Tanah Abang. Sehingga, kata Sandiaga, tak sepatutnya pedagang saling berebut. “Sekarang yang di tenda bilang pendapatannya meningkat dua kali lipat, ya pasti rebutan tapi kan kami sudah ada data, kami tahu siapa yang berhak mendapat di sana, juga datang dari yg mana-mana. Kami akan tindak tegas aja,” ujar Sandiaga.

“(Penertiban PKL) yang selama ini (dilakukan) terbukti tidak efisien, tidak efektif untuk menghadirkan sebuah penataan yang berkelanjutan,” kata Sandi. Kompas.com/Sherly Puspita Suasana di depan Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (30/10/2017). Meski belum menjelaskan konsep penataan di kawasan Tanah Abang, Sandi memastikan, penataan akan mengikutsertakan PKL dan preman untuk merumuskan penataan jangka pendek. Sandi memastikan, semua stakeholder atau pemangku kebijakan terkait turut dilibatkan dalam pembahasan. “Kami juga melibatkan para PKL yang untuk pertama kalinya diajak berbicara dalam mengambil kebijakan,” kata Sandi. “Semua masuk dalam diskusi ini, termasuk mohon maaf, termasuk preman-premannya. Jadi, kami bicara juga sama preman-premannya. Ya, tentu enggak di Balai Kota, tetapi di tempat-tempat yang mereka biasa kumpul,” ujarnya.

Sangat sedikit orang di Jakarta mau lari pagi di tengah kepadatan lalu lintas ibukota, apalagi salah satu rute yang dilewatinya adalah kawasan Tanah Abang, sentra grosir terbesar se-Asia Tenggara. Orang akan melihatnya sebagai pencitraan. Dan dalam politik, pencitraan menjadi barang penting ketika orang yang melakukan lari pagi itu adalah orang terpenting kedua di Balai Kota. Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha sukses dari bisnis investasi pasca-krisis moneter 1997, ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, salah satu orang yang pernah masuk daftar terkaya versi Forbes , moncer dalam karier politik pada 2015 dan akan melihat dirinya sebagai wakil gubernur dua tahun kemudian, menjadikan “jalan sehat” sebagai kampanye yang acap ia gembar-gemborkan kepada pendukungnya dan warga Jakarta lain. Hal ini terus dilakoninya bahkan setelah ia menduduki kursi di Balai Kota sesudah dilantik pada pertengahan Oktober lalu. Pada Jumat pukul 7 pagi, 3 November lalu, ketika nyaris semua orang yang terhubung pada Tanah Abang telah menjalani aktivitas rutin sejak dini hari sekali, langkah kaki Sandiaga terhenti persis di depan Stasiun Tanah Abang, salah satu stasiun komuter terpadat se-Jabodetabek dengan 50 ribu penggunanya lalu-lalang saban hari kerja.  Langkah lari penyumbang terbesar dana kampanye Pilkada Jakarta itu terhenti ketika melihat tukang ojek melawan arus dalam kondisi jalanan macet dengan cara pintas menaiki badan trotoar dan mendekatinya. Ini bukan hal aneh di Jakarta, bagaimanapun, dan bahkan ada gerakan yang disebut #trotoarkita sebagai upaya balik para pejalan kaki merebut haknya pada ruang kota.  Dengan melihat dirinya sebagai otoritas ibu kota, Sandi lantas menegur si tukang ojek. Namun, bukan permintaan maaf yang ia terima, alih-alih ia dibentak. Semua itu akan jadi peristiwa sambil lalu bagi Anda yang terbiasa melintasi jalanan Jakarta, yang tidak membedakan mana kaya mana miskin, yang semuanya sama-sama mengumpat dan menyimpan kesal jika menghadapi pengendara yang ugal-ugalan. Namun, agaknya, hal macam itu ditempatkan oleh Sandiaga sebagai persoalan yang penting. Setiba di Balai Kota, di tengah para wartawan, ia segera melaporkan apa yang terjadi di Tanah Abang. “Ada beberapa ojek yang lawan arah, diingetin malah membentak saya karena dia enggak tahu siapa (saya), ya. Mengeluarkan kata-kata penghinaan,” kata Sandiaga. Omongan itu disambarlah oleh wartawan: Seorang wakil gubernur dibentak oleh pengendara ojek, di sebuah pasar yang menyimpan sejarah kekerasan dan bandel dikendalikan—sebuah berita besar. Media-media daring melansir. Maka, sisanya adalah sejarah. Pada awal pekan bulan ini, omongan Sandiaga dan keramaian yang diciptakan olehnya mengenai Tanah Abang menjadi bahan berita (dan bahan omongan warganet) di sebuah kota yang masyarakatnya (masih) terbelah akibat Pilkada lalu, yang paling brutal dalam sejarah negeri ini.

seperti di kutip dari https://tirto.id

Salah satu yang melihat ekses dari peristiwa itu adalah seorang pedagang kaki lima bernama Amir. Ia mendengar selentingan di antara sesama PKL bahwa “gara-gara Wagub Sandi dibentak,” terjadilah razia.   Sandiaga tak cuma omong ke wartawan yang ngepos di Balai Kota, sorenya di hari itu juga ada razia terhadap belasan kendaraan bermotor oleh Dinas Perhubungan di lokasi Pasar Tanah Abang. Suasana Jumat itu seperti biasa selepas insiden Sandiaga “dibentak”. Satuan Polisi Pamong Praja, yang posnya di dekat tempat Amir membuka lapak, cuma duduk-duduk, tepat di depan Stasiun Tanah Abang. Para petugas kamtib ini biasanya alergi terhadap para PKL. Namun, alih-alih bersikap sangar dan kasar, mereka justru berlagak ramah. Kata Amir, sesekali mereka menegur pengendara bajaj yang ngetem di bahu jalan. “Enggak ada yang aneh,” kata Amir. Namun, menjelang pukul tiga sore, gerombolan petugas berpakaian Dinas Perhubungan mendadak datang ke areal PKL di depan Stasiun Tanah Abang, persis di lokasi Sandiaga “dibentak” pada pagi hari. Amir sempat ketar-ketir. Ia membatin, Wah pertanda buruk, razia nih . “Khawatir kalau kena garuk,” ia bilang. Namun, prediksi Amir keliru. Para pegawai Dishub itu menyasar deretan sepeda motor dari pengendara ojek dan pengunjung pasar, yang diparkir di bahu jalan dan trotoar, persis di seberang jalan Amir berjualan. Motor-motor itu seketika diangkut ke truk. Beberapa pengendara ojek kabur dengan sigap. Setelah razia itu, barulah Amir tahu soal selentingan dari para PKL lain. Razia itu dilakukan karena satu kejadian yang menggelikan di pagi hari sebelum ia membuka lapak. “Kayaknya (si tukang ojek) enggak tahu kalau itu Wagub (Sandi),” kata Amir, menebak-nebak.

seperti di kutip dari https://tirto.id

Usai kejadian lari pagi yang ditegur itu, mulailah Sandiaga Uno bicara mengenai salah satu topik paling sensitif di Jakarta: penataan Tanah Abang.  Saat ditanya soal penyebab kemacetan di Tanah Abang, misalnya, dengan enteng saja Sandiaga menyebut pejalan kakilah pelakunya. Beberapa hari berikutnya, ia berkata bahwa penataan Pasar Tanah Abang bakal “merangkul para preman.”  Tiga hari berikutnya, omongan itu ia koreksi; bahwa kawasan Tanah Abang semrawut lantaran pembangunan jalan; bahwa kekacauan di sana karena pejalan kaki yang keluar dari pintu Stasiun Tanah Abang; bahwa banyak angkot yang ngetem di bahu dan pinggir jalan menambah dua kemungkinan di atas.  Teranglah, lantaran ia menyebut pejalan kaki sebagai biang kemacetan, Sandiaga kena kritik.  Salah satunya yang mengkritik itu adalah Komunitas Jalan Kaki. Laili Fitri, penggiat Koalisi Pejalan Kaki Jakarta, mengatakan bahwa omongan Sandiaga tanpa dasar sama sekali. Sumber utama kemacetan di kawasan itu, katanya, karena kehadiran lapak-lapak PKL yang memakai trotoar. “Kalau seandainya trotoar itu untuk pejalan kaki, (maka)  amanin PKL biar nyaman pejalan kakinya,” kata Fitria via telepon kepada Tirto . Sambutan atas ucapan kontroversial Sandiaga, akhirnya, bikin Anies Baswedan angkat bicara. Menurut Anies, musabab pernyataan kompanyonnya benar belaka karena berdasarkan pantauan drone di kawasan Tanah Abang. Hasil tangkapan capung perekam gambar itu menunjukkan bahwa pejalan kaki memang tumpah ke jalanan pada saat jam-jam sibuk. Amanda Gita Dinanjar, juru bicara PD Pasar Jaya yang mengelola sebagian blok di kawasan Pasar Tanah Abang, berkata bahwa gambar drone yang dilihat oleh Sandiaga adalah kerja timnya. Lanskap pasar yang semrawut, demikian katanya, diambil oleh tim PD Pasar Jaya sebelum mereka memaparkan kepada Sandiaga di Balai Kota. “Sebelum rapat, jam 10, kita ambil gambar dulu menggunakan drone .” Dari pemaparan oleh tim PD Pasar Jaya itulah kemudian omongan Sandiaga berasal.  “Memang tidak sekarut-marut pada 2013, tapi, kan, tetap saja. Apalagi yang di Bongkaran, Pasar Tasik, itu mobil berjejer,” kata Amanda. Topik soal kawasan Pasar Tanah Abang yang semrawut semakin ramai di media sosial setelah menyebar foto yang membandingkan kondisi Tanah Abang pada 2015 dan Oktober 2017. Salah satunya diunggah oleh akun Facebook Haryanta Haryanta: foto tahun 2015 terlihat lengang, foto Oktober 2017 terlihat semrawut. Postingan itu dibagikan 471 kali per 15 November. Tak hanya disebarkan via Facebook, tapi juga ditangkap-layar lalu diunggah di Twitter; postingan itu terus diamplifikasi dan punya kekuatan viral dari orang-orang yang masih terbelah usai pertarungan Pilkada paling brutal dalam sejarah negeri ini. Tetapi, apakah benar ucapan Sandiaga dan postingan di media sosial tersebut?

seperti di kutip dari https://tirto.id

Ada satu pesan yang makin relevan di tengah paparan badai hoaks: gambaran di media sosial tak selalu sesuai dengan realitas sosial. Saya mendatangi kawasan Pasar Tanah Abang selama dua hari, Rabu dan Kamis pekan lalu, untuk menyusuri 7 blok di areal itu, dari Blok A sampai Blok G, serta lapak-lapak PKL di depan pintu keluar Stasiun Tanah Abang. Sejak pagi hingga sore, saya tak menemukan realitas “semrawut”, tumpah-ruah, impitan antara tenda-tenda PKL di bahu jalan, dari ujung ke ujung, bersama parkir motor dan mobil dan lalu-lalang orang-orang—apa pun itu—seperti tergambar dalam postingan foto yang jadi bahan gunjingan warganet. Begitu pula tak ada realitas yang disebut “semrawut” di sebatang jalan yang memicu macet lantaran pejalan kaki seperti tuduhan Sandiaga. Di Blok A, misalnya, kemacetan hanya di sekitar Jalan KH Mas Mansyur. Penyebabnya: laju kendaraan yang lamban saat berputar arah sebelum memasuki kawasan pasar Tanah Abang. Di sana memang terlihat ada pedagang kaki lima pada pagi dan siang hari, tetapi jumlahnya tak seperti sebelum tahun 2013 ketika Jokowi dan Ahok melakukan penataan. Para pedagang ini tertib. Menjelang pukul tiga sore, mereka sudah menutup lapak sebelum jam-jam sibuk pulang kantor. Tak ada kemacetan akibat lapak-lapak PKL. Kemacetan lain terjadi di Jalan Fachrudin, tepat di depan Blok G dan Blok F. Penyebabnya dua: pembangunan gorong-gorong dan bus-bus besar yang ngetem di pinggir jalan. Semua lapak PKL mangkal di trotoar jalan, tetapi masih ada ruang yang lengang buat pejalan kaki. Memang ada beberapa parkir liar di trotoar dan badan jalan, tetapi sedikit. Sementara di depan stasiun Tanah Abang, keramaian hanya terjadi pada jam-jam sibuk: berangkat dan pulang kerja. Lalu lintas lengang pada siang hari. Para PKL memang masih berjualan di atas trotoar, tetapi lapak mereka tidak menutupi seluruh bagian dan masih ada ruang untuk pejalan kaki.

seperti di kutip dari https://tirto.id

Gampang mengabaikan omelan warganet, tetapi tidak kalau menyebut para pemain di kawasan Tanah Abang. Lebih-lebih jika ia menyinggung dengan sebutan yang merendahkan. Sandiaga Uno melakukan keduanya. Yang terakhir, ia sulit berkelit. Saat Sandiaga bicara “preman” di Tanah Abang, Abraham Lunggana alias Haji Lulung —yang notabene pendukungnya dalam Pilkada Jakarta lalu—merasa tersinggung. Haji Lulung menyatakan: Tak ada preman di Tanah Abang. “Saya jamin enggak ada preman. Kalau ada preman, kita tangkap, kok,” kata Lulung di Balai Kota, Jumat pekan lalu. Sandiaga segera meralat omongannya. Selasa pekan lalu, setelah mengundang “tokoh” Tanah Abang, ia tak lagi menyebut istilah “preman”. Meski begitu, tetap saja ada yang masih kecewa dengan ucapan Sandiaga. Anang, misalnya, tokoh Tanah Abang sekaligus koordinator keamanan Masjid Al Ma’mur (terletak di J l. K.H. Mas Mansyur, Kebon Kacang ), berkata bahwa sejak Kelompok Hercules tidak menguasai lagi beberapa wilayah termasuk pasar di Tanah Abang, istilah preman telah terkikis. Bahkan, kata Anang, sejak 2004 saat ia dipercaya mengelola keamanan di Pasar Tanah Abang, preman mulai dibersihkan oleh warga Tanah Abang. Posko-posko preman termasuk lapak minuman keras juga turut dibersihkan. “Apa sih yang disebut preman itu? Yang gondrong? Mukanya sangar? Tatoan? Biar ane gondrong, muka sangar, tapi kalau azan langsung ke masjid, salat,” ujar Anang kepada saya di Masjid Al Ma’mur, pekan lalu. Anang menyayangkan ucapan Sandi “tanpa melihat fakta di lapangan.” Selama Anang memegang keamanan di Blok G sejak 2006, ia tak pernah melihat ada preman berkeliaran dan memalak. Anang bilang, bahkan warga Tanah Abang ikut andil membantu Pemprov Jakarta saat “menertibkan” PKL di masa kepemimpinan Joko Widodo hingga Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama. “Zamannya Ahok, PKL dipindah ke Blok G. Ane tahu itu. Ane yang kawal Ahok waktu peresmian di sana. Tapi, faktanya, yang masuk ke Blok G itu bukan PKL. Ada banyak warga sini, ane kenal lah semua. Nah, kalau sekarang ada PKL lagi, yang itu mungkin yang lama-lama, tapi semua sudah tertib,” kata Anang. Roni Adi, Ketua Umum Perkumpulan Budaya Betawi Sikumbang Tenabang, mengatakan bahwa omongan Sandi soal “preman” bukan cuma bisa bikin warga takut datang ke pasar tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu, tapi bisa juga bikin “perpecahan” warga Tanah Abang. “Seharusnya tidak begitulah,” kata Roni. “Warga yang kena imbasnya.”  “Tidak mungkin ada preman kami biarkan. Coba lihat waktu kerusuhan 1998, hampir semua pasar itu terbakar, kecuali Tanah Abang. Kami  jagain bener.” Soal usulan “penataan” pasar dari Sandiaga, Roni berpendapat bahwa Pemprov Jakarta perlu “melibatkan warga”. Wargalah yang tahu seluk-beluk Tanah Abang karena mereka saban hari tinggal di wilayah itu, apalagi jika penataan ini terkait para PKL. “Kalau sama Satpol PP mereka itu takut, tapi kalau sama warga mereka itu segan. Pasti lebih mau diatur. Kita juga nggak akan usir mereka, kita tahu mereka juga cari makan,” tutur Roni.

Related Posts

Comments are closed.