Cuma 2% di Survei LSI Denny JA, PAN: Kami Tak Percaya Survei

Cuma 2% di Survei LSI Denny JA, PAN: Kami Tak Percaya Survei

Partai Amanat Nasional (PAN) mendapat suara sebesar 2,0% pada hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Wakil Ketua Umum PAN Taufik Kurniawan menyebut partainya tak percaya dengan hasil survei. “PAN tidak perduli terhadap hasil survei. Kalau survei itu salah satu indikator kinerja itu silahkan. Tidak pernah empat kali pemilu itu 2004, 2009, dan 2014 PAN di survei di atas lima persen. Kami tidak pernah. Selalu di bawah 1,6 (persen). Sekarang malah di atas 1,6 ya itu lebih baik dari pada yang dulu,” kata Taufik di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (25/1/2018). Taufik bahkan menilai sistem survei yang digunakan saat ini sudah terlampau kuno. Ia pun berpendapat bahwa sistem yang sudah kuno itu menyebabkan banyak hasil survei yang meleset. “Karena sudah kuno. Survei seperti itu sudah kuno. Secara jurnal akademik itu ketinggalan zaman 10 tahun yang lalu. pentingnya apa. Buktinya Pilgub DKI ini salah semua. Tidak semata-mata unsur pragmatisme. Unsur idealisme ini sangat berpengaruh terhadap bagaimana persepsi publik terhadap konsep idealisme seseorang menentukan pilihan partai politik,” ujarnya. Tak hanya itu, Wakil Ketua DPR RI itu pun melihat bahwa hasil-hasil survei tersebut dapat menjadi salah satu indikator penggiringan opini publik terhadap partai politik. Ia kemudian mempertanyakan tujuan dari survei tersebut. “Keliru. Penggiringan opini terhadap partai tertentu siapa pun itu. Dalam hal ini tentunya kami dari PAN juga mengingatkan karena kami salah terus. Karena kalau kondisinya seperti itu tujuannya ke mana survei itu, Pemilu masih 2019,” tuturnya. “Silahkan di survei silahkan saja. Tapi saya minta survei itu jangan sampai ada terjadi penggiringan opini. Karena survei pun di Jakarta Pilkada, Pilgub nggak ada yang survei Pak Anies sama Pak Sandi menang, gitu. Semuanya kalah semua,” imbuhnya. LSI Denny JA melakukan survei pada 7-14 Januari 2018 dengan menggunakan metode multistage random sampling dan jumlah responden 1.200 orang. Berikut hasil survei terhadap pertanyaan “Jika Pileg dilakukan hari ini, partai mana yang anda pilih?”. 1. PDIP 22,2% 2. Golkar 15,5% 3. Gerindra 11,4% 4. Demokrat 6,2% 5. PKB 6,0% 6. NasDem 4,2% 7. PKS 3,8% 8. PPP 3,5 % 9. Perindo 3,0% 10. PAN 2,0% 11. Hanura 0,7% 12. PSI 0,3% 13. PBB 0,3% 14. PKPI 0,2%

Partai Amanat Nasional (PAN) mendapat suara sebesar 2,0% pada hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Wakil Ketua Umum PAN Taufik Kurniawan menyebut partainya tak percaya dengan hasil survei. “PAN tidak perduli terhadap hasil survei. Kalau survei itu salah satu indikator kinerja itu silahkan. Tidak pernah empat kali pemilu itu 2004, 2009, dan 2014 PAN di survei di atas lima persen. Kami tidak pernah. Selalu di bawah 1,6 (persen). Sekarang malah di atas 1,6 ya itu lebih baik dari pada yang dulu,” kata Taufik di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (25/1/2018). Taufik bahkan menilai sistem survei yang digunakan saat ini sudah terlampau kuno. Ia pun berpendapat bahwa sistem yang sudah kuno itu menyebabkan banyak hasil survei yang meleset. “Karena sudah kuno. Survei seperti itu sudah kuno. Secara jurnal akademik itu ketinggalan zaman 10 tahun yang lalu. pentingnya apa. Buktinya Pilgub DKI ini salah semua. Tidak semata-mata unsur pragmatisme. Unsur idealisme ini sangat berpengaruh terhadap bagaimana persepsi publik terhadap konsep idealisme seseorang menentukan pilihan partai politik,” ujarnya. Tak hanya itu, Wakil Ketua DPR RI itu pun melihat bahwa hasil-hasil survei tersebut dapat menjadi salah satu indikator penggiringan opini publik terhadap partai politik. Ia kemudian mempertanyakan tujuan dari survei tersebut. “Keliru. Penggiringan opini terhadap partai tertentu siapa pun itu. Dalam hal ini tentunya kami dari PAN juga mengingatkan karena kami salah terus. Karena kalau kondisinya seperti itu tujuannya ke mana survei itu, Pemilu masih 2019,” tuturnya. “Silahkan di survei silahkan saja. Tapi saya minta survei itu jangan sampai ada terjadi penggiringan opini. Karena survei pun di Jakarta Pilkada, Pilgub nggak ada yang survei Pak Anies sama Pak Sandi menang, gitu. Semuanya kalah semua,” imbuhnya. LSI Denny JA melakukan survei pada 7-14 Januari 2018 dengan menggunakan metode multistage random sampling dan jumlah responden 1.200 orang. Berikut hasil survei terhadap pertanyaan “Jika Pileg dilakukan hari ini, partai mana yang anda pilih?”. 1. PDIP 22,2% 2. Golkar 15,5% 3. Gerindra 11,4% 4. Demokrat 6,2% 5. PKB 6,0% 6. NasDem 4,2% 7. PKS 3,8% 8. PPP 3,5 % 9. Perindo 3,0% 10. PAN 2,0% 11. Hanura 0,7% 12. PSI 0,3% 13. PBB 0,3% 14. PKPI 0,2%

Dua perusahaan Jepang menyodorkan empat perempuan kepada Sukarno usai kesepakatan pampasan perang Jepang kepada Indonesia disepakati, 1958. Sukarno mengawini salah satunya dan seorang lagi bunuh diri karena kecewa. Dua perusahaan ini adalah Kinoshita Trading Company milik Kinosita Sigeru dan Tonichi Trading Company milik Kubo Masao. Kinoshita merupakan sebuah perusahaan kelas menengah, sedangkan Tonichi perusahaan kecil yang baru lahir pada 1952. Kehadiran kedua perusahaan ini dinilai cukup janggal sebab proyek perbaikan atas pampasan perang itu cukup besar harusnya perusahaan sekelas Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo Trading, dan lainnya. Akademisi Universitas Akita, Yoshimi Miyake, menyebutkan dalam artikelnya berjudul Aspek Politik dan Budaya Kompensasi Perang Jepang Kepada Indonesia kiprah kedua perusahaan mendekati Sukarno cukup fantastis. Mereka tidak hanya mengandalkan kedekatan politik dengan petinggi Jepang tetapi juga menyodorkan perempuan kepada Sukarno. “Yang lebih penting, mereka mendengar Sukarno tertarik dengan perempuan, Kinoshita memperkenalkan dengan seorang model, Kanase Sakiko, kepada Sukarno di Kyoto pada 1968,” tulis Yoshimi. Pada akhir 1958, Kanase berangkat ke Jakarta menjadi perempuan simpanan Sukarno. Ia terdaftar sebagai guru pribadi salah satu anak karyawan Kinoshita di Jakarta. Kanase dipanggil sebagai Bu Basuki, tulis Yoshimi. Kinoshita-pun sangat royal menyambut rombongan Sukarno dan partainya di Jepang pada 1958. Ia membelanjakan sekitar 100.000 dollar AS selama mereka tinggal. Akibat pemborosan ini Kinoshita gagal bersaing memperebutkan proyek yang didanai pampasan perang dengan perusahaan Mitsui. Modal Kinoshita tak hanya perempuan dan hiburan. Perusahaan ini memiliki hubungan erat dengan Perdana Menteri Jepang kala itu, Nobusuke Kishi. Jejak Kishi pada Perang Dunia II cukup kuat. Pada 1944 ia menjadi salah satu menteri di Kabinet Jenderal Tojo. Pasca perang dunia II, ia didakwa sebagai penjahat perang dan dipenjara di Sugamo. Setelah menghirup udara bebas, Kinoshita mengetahui Kishi tak dapat menduduki jabatan publik hingga 1952. Ia-pun menawarkan jabatan presiden perusahaan. Lantas pada 1952, Kishi duduk sebagai perdana menteri, kontak dengan Sukarno kemudian terjalin. Berbeda dengan Kinoshita yang memiliki jejaring politik kelas atas, Perusahaan Tonichi bertemu dengan Sukarno dengan cara unik. Salah satu dewan direksinya yang memiliki jaringan dunia bawah tanah, Yoshio Kodama, memberikan perlindungan dengan mengerahkan pengawalan Yakuza ketika Sukarno melakukan kunjungan pribadi ke Tokyo pada 1958. Keberhasilan ini membuat pemilik Tonichi, Kubo, memiliki akses pribadi kepada Sukarno. Ia-pun memperkenalkan Sukarno kepada Nemoto Naoko, gadis pekerja klub malam. Perkenalan ini dilanjutkan pertemuan dua kali di Hotel Imperial, Tokyo, Jepang. Setelah Sukarno pulang ke Indonesia, mereka saling berkirim surat. Hingga Sukarno memutuskan mengundang Nemoto ke Jakarta dan tinggal selama dua pekan dengan ditemani oleh Kubo. Kubo tahu perempuan adalah salah satu kelemahan Sukarno, ia-pun membawa dua perempuan Jepang lain. Namun Nemoto mengabarkan kepada Sukarno melalui surat yang ia kirimkan bahwa dirinya dimanfaatkan Kubo untuk kepentingan bisnis. Sukarno sendiri sudah terlanjur jatuh hati kepada Nemoto. Kehadiran Nemoto ini membuat Kanase, perempuan yang dikirim oleh Perusahaan Kinoshita berkecil hati. Enam belas hari kemudian, dia bunuh diri. Kabar ini sempat membuat Sukarno menangis, namun ia tetap mengawini Nemoto pada 1961 yang kemudian bernama Ratna Sari Dewi Sukarno. Duduknya Dewi sebagai istri Sukarno membuatnya menggenggam bisnis pengusaha Jepang di Indonenesia. Kabarnya, setiap pengusaha Jepang yang ingin berinvestasi harus bertandang ke Wisma Yaso, rumah yang dibangunkan Sukarno untuknya. Wisma itu kemudian menjadi Museum Satria Mandala. Foto: Infografis: Mindra Purnomo/detikcom Dalam wawancara dengan The Japan Time , media berbahasa Inggris terbesar di Jepang, Dewi mengaku dirinya merupakan seorang pekerja klub malam Kokusai Club di Akasaka sebelum bertemu dengan Sukarno. Pekerjaan ini dijalaninya karena butuh uang. Kehidupan Jepang pada tahun-tahun itu sangatl berat, kemiskinan merajalela. “Itu yang saya inginkan setelah mendengar berapa harga memesan sebuah meja, dan saya sadar, saya bisa mendapatkan 6.000 yen dalam semalam. Itu sama saja dengan pendapatan yang saya peroleh di Chiyoda selama sebulan,” ucap Dewi pada wawancara di rumahnya, Distrik Gotanda, Shinagawa Ward, Tokyo, pada 6 Januari 2002. Ia mengaku menikah secara diam-diam dengan Sukarno pada November 1959. Menurutnya Sukarno sudah berumur 57 tahun tapi penampilannya terlihat lebih muda dan menarik. Namun ia membantah jika terlibat politik selama bersama Sukarno. Menurutnya Presiden RI pertama itu tak hanya menyukainya karena kecantikan tetapi juga karakternya. Dewi mengaku demikian juga sebaliknya dan ia kini masih menyimpan 500 surat dari Sukarno yang disimpannya di loker sebuah bank.

Selain disepakati oleh DPD Golkar, penetapan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebagai Ketum Golkar ternyata juga menjadi harapan publik. Hal tersebut ditunjukkan dalam rilis survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) berjudul ‘Golkar Setelah Airlangga Ketum’. Survei itu dilakukan selama bulan November-Desember 2017. Nama Airlangga berhasil menempati posisi pertama sebagai caketum yang didukung oleh masyarakat akar rumput Golkar. Ia memeroleh suara sebesar 51,6 persen. “Suara masyarakat bawah juga menginginkan Airlangga menjadi Ketum Golkar yang baru. Jadi hasil itu bukan hanya suara elit golkar. Sebelum ditetapkan semalam, sebelumnya ada kesesuaian dengan pemilih Golkar,” ucap peneliti LSI Ardian Sopa, di kantor LSI, Graha Dua Rajawali, Jl Pemuda No 70, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (14/12/2017). Nama Caketum Golkar terkuat lainnya adalah Idrus Marham, Titiek Soeharto, Aziz Syamsuddin, dan Bambang Soesatyo. Persentase kelima nama ini adalah sebagai berikut: 1. Airlangga Hartarto 51,6% 2. Idrus Marham 16,3% 3. Titiek Soeharto 9,7% 4. Aziz Syamsuddin 8,3% 5. Bambang Soesatyo 7,2% 6. Lainnya di bawah 2% Survei LSI ini juga merilis 3 isu besar yang dihadapi Golkar saat ini. Pertama, ancaman terhadap Partai Golkar, kedua soal keyakinan publik akan kebangkitan Golkar, dan ketiga isu kekuatan Golkar. Menurut hasil survei LSI, salah satu ancaman terberat Golkar adalah untuk pertama kalinya peringkat partai ini tergeser ke peringkat 3 atau 4. Saat ini posisi 1 dan 2 direbut oleh PDIP dan Gerindra. 1. PDI-P 24,2% 2. Gerindra 13% 3. Golkar 11,6% 4. Partai Demokrat 5,9% 5. PKB 5,2% 6. NasDem 4% 7. PKS 3,9% 8. PPP 3,2% 9. Perindo 2,3% 10. PAN 1,9% 11. PSI 0,9% 12. Hanura 0,6% 13. PBB 0,4% 14. PKPI 0,3% 15. Partai IDAMAN 0% 16. Lainnya/Tidak jawab 22,6% Ancaman lainnya bagi Golkar adalah ketidakmampuan melahirkan tokoh kelas berat untuk pencalonan Presiden dan Wakil Presiden. Tidak ada tokoh Golkar yang muncul dalam survei tersebut. 1. Joko Widodo 38,4% 2. Prabowo Subianto 24,6% 3. Gatot Nurmantyo 7,5% 4. Anies Baswedan 4,9% 5. AHY 3,2% 6. Lainnya 4,1% 7. Rahasia/Tidak jawab 17,3% Kemudian terkait isu terpuruknya elektabilitas Partai Golkar, sebanyak 65,7 persen masih meyakini Golkar bisa bangkit. Namun, hal ini dapat dicapai apabila Golkar memiliki Ketum baru, program baru, dan tokoh-tokoh baru. 1. Ketum baru 34,4% 2. Program baru 27,6% 3. Tokoh baru 22,6% Keyakinan masyarakat bahwa Golkar mampu bangkit disebabkan partai tersebut selama ini bertumpu pada sistem dibandingkan tokoh utama. Dalam masa konflik berkepanjangan yang menimpa Ketum partai tersebut, hal ini menjadi suatu kekuatan tersendiri. Golkar juga dianggap sebagai partai yang berpengalaman dalam mengelola konflik elit utama. Survei yang melibatkan 1.200 responden itu menyebutkan sebanyak 60,4 persen percaya Partai Golkar akan bersatu pasca munaslub. Penetapan Airlangga sebagai Ketum Golkar tidak akan memicu lahirnya partai baru. LSI menyatakan survei tersebut dilakukan dengan multistage random sampling dengan teknik kuantitatif dan kualitatif, serta memiliki margin of error sebesar 2,9 persen. Hasil survei menyimpulkan saat ini Golkar sudah harus bersiap menyelesaikan PR lainnya. Setelah pergantian Ketum, masih ada perumusan program baru serta kehadiran baru yang dinantikan masyarakat. “Satu branding sudah dilakukan, yaitu pergantian Ketum. PR-nya kemudian merumuskan program baru yang ‘big bang’ dan tokoh-tokoh baru,” kata Sopa.

“Kalau kami, kan tidak percaya sama survei. Survei macam-nacam, tapi ingat bahwa survei itu dinamis. Kalau naik Alhamdulilah sehingga peluang untuk menang itu gede. Sebab kalau sudah naik mau diturunin susah, dan naiknya itu jangan drastis. Harus bertahap,” ujar Djarot. Djarot  beranggapan hasil survei tidak menjadi penentu kemenangan. “Kemarin pada saat putaran pertama kita sempat drop itu, turun. Bayangkan sampe ditempatkan nomor 3, paling rendah. Nomor 1 waktu itu Pak Agus, nomor 2 Pak Anies, kami paling rendah. Tapi, kemudian ada rebound balik. Anda harus tahu loh putaran pertama yang menang itu pasangan Basuki-Djarot loh,” tegasnya Dalam beberapa hasil survei Anies-Sandi selalu unggul. Seperti survei LSI Denny JA, pasangan Anies-Sandi mendapat perolehan suara sebesar 51,4 persen, lebih unggul dibandingkan pasangan Ahok-Djarot yang hanya mendapat dukungan sebesar 42,7 persen. Sementara, survei SMRC meskipun terpaut satu persen, Anies Baswedan-Sandiaga Uno lebih unggul dibandingkan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Pasangan Ahok-Djarot elektabilitasnya 46,9 persen dan Anies-Sandi sebesar 47,9 persen. Sementara yang belum tahu dan tidak menjawab sebanyak 5,2 persen.

Merdeka.com – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei bertajuk ‘ Jakarta Punya Gubernur Baru? Final Ahok vs Anies’. Salah satu hasil surveinya yakni membahas isu yang bisa menguntungkan masing-masing pasangan Ahok- Djarot dan Anies-Sandi di 5 hari terakhir sebelum masa pencoblosan 19 April mendatang. Pertama tentang kepuasan publik terhadap kinerja pasangan petahana yang masih di atas 70 persen. Tepatnya berasa di angka 73 persen. Sayangnya, angka kepuasan publik ini tak busa dikonversikan dengan dukungan kepada Paslon nomor urut 2 ini. Hasil survei LSI Denny JA menunjukkan Ahok-Djarot hanya memperoleh dukungan sebanyak 42,7 persen. Sedangkan penantangnya Anies Sandi memperoleh 51,4 persen. “Masyarakat masih puas dengan yang dilakukan Ahok tetapi kenapa tingkat kepuasan tinggi tetapi tidak demikian dengan dukungan. Nah masalahnya ada gangguan dari primodial agama yang mengakibatkan tidak terkonversikannya kepuasan tersebut,” jelas Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa di Jakarta, Kamis (13/4). Tak hanya itu, isu lainnya yang menguntungkan pasangan petahana adalah menurutnya presentase anggapan di masyarakat yang menilai Ahok menista agama. Pada survei Februari lalu menunjukkan 53,3 persen pemilih Jakarta setuju bahwa Ahok menista agama dari kasus surat Al Maidah 51. Sementara pada bulan April, angkanya menjadi turun menjadi 52,3 persen. “Meski masih mayoritas, mereka yang menilai Ahok menista agama cenderung menurun,” kata Ardian. Sementara dua isu yang menguntungkan pasangan penantang yakni Anies Sandi adalah kerelaan. Warga Jakarta dipimpin oleh gubernur terdakwa. “Dari hasil survei 55,4 persen responden mengaku tak rela dipimpin oleh gubernur yang menjadi terdakwa dalam kasus penistaan agama. Hanya 26,9 persen responden yang rela dipimpin gubernur dengan status terdakwa,” turun Ardian. Terakhir isu yang menguntungkan pasangan Anies Sandi adalah ada sekitar 54,1 persen warga Jakarta yang menginginkan gubernur baru. Sementara hanya 33,7 persen warga yang tetap ingin dipimpin gubernur lama. “Ada 54,1 persen warga yang ingin punya gubernur lama, 33,7 persen tetap ingin dipimpin gubernur lama dan 12,2 persen tidak menjawab,” kata Ardian. Untuk diketahui, LSI Denny JA telah melakukan survei pada 7-10 April 2017 dengan metode multistage random sampling. Jumlah responden dari 5 kota administratif dan kabupaten Kepulauan seribu yang diambil yakni sebanyak 440 orang. Sehingga wawancara tatap muka dengan menggunakan kusioner ini memiliki margin if eror lebih kurang 4.8 persen. [eko]

Merdeka.com – Konsultan politik Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny JA dan Poll Mark Indonesia milik Eep Saefulloh mendapatkan penghargaan. Keduanya mendapatkan penghargaan salah satunya karena sukses memenangkan Anies-Sandi di Pilgub DKI 2017. Penghargaan diberikan oleh AROPI selaku asosiasi yang melakukan riset kinerja lembaga survei dan konsultan politik. AROPI juga memantau dan mengevaluasi kinerja para lembaga survei di bawah naungannya. AROPI didirikan oleh Denny JA dan Umar Bakrey pada tahun 2007. “Penghargaan konsultan politik kami berikan kepada 2 konsultan sekaligus, yaitu LSI Denny JA dan Pollmark Indonesia, karena 2 konsultan politik tersebut paling banyak mendapat kemenangan selama Pilkada,” ujar Pendiri AROPI, Umar Bakrey saat jumpa pers di Kantor LSI Denny JA kawasan Rawangun, Jakarta , Selasa (9/5). LSI Denny JA dan Pollmark Indonesia adalah 2 konsultan politik untuk pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. “Pak Prabowo secara khusus melalui naskah tertulis nya mengucapkan terimakasih kepada LSI Denny JA selaku Konsultan Politik,” kata Umar. Setidaknya ada 6 penilaian yang diberikan AROPI kepada LSI Denny JA dan Poll Mark Indonesia: Survei: 1. Lembaga yang melakukan survei paling banyak selama Pilkada DKI 2. Prediksi hasil survei yang paling mendekati real count KPUD quick count 3. Lembaga dengan selisih quick count paling kecil dengan real count KPUD 4. Lembaga yang paling cepat mempublikasikan pemenang dan akurat Konsultan politik: 5. Konsultan politik yang memenangkan calon 6. Konsultan politik yang paling banyak menuai kemenangan [rnd]

JAKARTA – Hasil survey Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Denny JA menunjukan Jakarta akan memiliki gubernur baru.Survey yang dilakukan lembaga tersebut, pasangan calon Anies Baswedan – Sandiaga Uno memiliki angka keterpilihan 51,4 persen.Sementara pasangan basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat memiliki angka keterpilihan 42,7 persen. loading… Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa mengatakan bahwa survey tersebut dilakukan 7 hingga 10 April 2017 dengan jumlah responden sebanyak 440 orang. “Menjelang hari H pemilihan ini, memiliki kecenderungan bahwa Jakarta akan mempunyai gubernur baru,” kata Ardian di Kantor LSI Denny JA, Jakarta, Kamis (13/4/2017).Namun begitu, survey tersebut diakuinya belum memasukkan hasil dari debat publik terakhir Pilkada DKI Jakarta, Rabu (12/4/2017) malam.”Memang belum kita masuki hasil debat semalam, tetapi kami rasa, tidak akan terlalu signifikan hasilnya. Warga Jakarta sudah memiliki pilihannya sendiri,” kata dia.Dia menjelaskan hasil survey hanya akan memberikan gambaran yang saat ini terjadi dan bukan jadi penentu apakah Jakarta akan memiliki gubernur baru atau tidak.Debat pemilihan gubernur DKI Jakarta putaran kedua pada Rabu (12/4/2017) malam, jadi babak terakhir sebelum hari pencoblosan tanggal 19 April mendatang. ***

Related Posts

Comments are closed.