Cerita Pendeta Luspida Rayakan Natal di Aceh: Kami Nyaman Beribadah

Cerita Pendeta Luspida Rayakan Natal di Aceh: Kami Nyaman Beribadah

Pendeta Luspida menyalami satu per satu jemaat yang berkunjung ke rumahnya di belakang Gereja HKBP, Banda Aceh. Senyum ceria tergambar dari raut wajahnya. Setelah semua berkumpul, mereka bergerak bersama-sama menuju gereja. Perayaan Natal 2017 di Aceh tidak jauh berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Meski Provinsi Aceh menerapkan syariat Islam, umat Kristiani bebas melaksanakan ibadah. Baik gereja maupun rumah Luspida dihiasi pernak-pernik Natal. Selama tiga tahun merayakan Natal di Tanah Rencong, Pendeta Luspida Simanjuntak (45) dapat beribadah dengan nyaman. Masyarakat sekitar gereja yang mayoritas Islam tidak pernah mengusik keberadaan mereka. “Toleransi umat beragama di sini masih kuat. Walaupun di Aceh mayoritas Islam, tapi selama saya melayani di sini, yang namanya ibadah tidak pernah terganggu,” kata Pendeta Luspida saat ditemui di rumahnya, Senin (25/12/2017). Tahun ini, Luspida merayakan Natal bersama kedua anaknya. Suaminya, Timbul Siahaan, bekerja di kapal tanker dan baru pulang delapan bulan sekali. Luspida sendiri baru tiga tahun tinggal di Aceh. Sebelumnya, dia bertugas di Jakarta. Saban hari, perempuan asal Balige, Sumatera Utara, ini bertugas melayani jemaat di gereja HKBP Banda Aceh. Ada sekitar 211 keluarga yang beribadah di sana. Namun, saat perayaan Natal, sebagian jemaat memilih mudik ke kampung masing-masing. Selama tiga kali merayakan Natal di Tanah Rencong, Luspida punya kesan tersendiri. Dia tidak pernah terganggu dan dapat menikmati perayaan dengan nyaman meski berada di daerah yang menerapkan syariat Islam. “Kesannya pokoknya enaklah, nggak pernah terganggu bisa menikmatinya dengan nyaman. Aparat negara secara khusus polisi, TNI, menyiapkan dirinya supaya kami nyaman beribadah di perayaan Natal ini,” jelasnya. Gereja HKBP yang sudah berusia 50 tahun ini terletak di Kampung Mulia, Banda Aceh. Lokasinya persis di tengah-tengah perkampungan penduduk. Di desa ini, terdapat rumah ibadah antarumat beragama dalam jarak tidak terlalu jauh. Selain masjid sebagai rumah ibadah warga mayoritas, terdapat tiga gereja, masing-masing Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB), yang bersebelahan dengan Gereja Methodis Indonesia (GMI), di Jalan Pocut Baren, serta gereja adat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Jalan Pelangi. Kemudian ada tiga vihara. Kenyamanan beribadah masyarakat nonmuslim juga terjamin. Penduduk Aceh memang mayoritas muslim, tapi ada juga pemeluk Nasrani, Buddha, dan Hindu. Berdasarkan sensus penduduk 2010, yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 4.413.244 atau 98,18 persen penduduk Aceh beragama Islam. Sedangkan pemeluk Kristen berjumlah 50.309 jiwa, Katolik 3.315 jiwa, Buddha 7.062 jiwa, Hindu 136 jiwa, dan Konghucu 36 jiwa. Penduduk Kota Banda Aceh berjumlah 223.446 jiwa. Dari jumlah itu, 216.941 jiwa memeluk Islam, 1.571 beragama Kristen, 431 Katolik, 2.535 memeluk Buddha, 3 orang beragama Konghucu, dan 50 jiwa beragama Hindu. Sebaran terbanyak pemeluk Kristen, Katolik, Buddha, dan Islam ada di Peunayong, Kampung Mulia, dan Kampung Laksana. Ketiga desa ini terletak di Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Di Banda Aceh terdapat empat gereja, yakni GPIB, GMI, HKBP, dan Gereja Khatolik Hati Kudus, yang masing-masing memiliki sekolah sendiri. Selanjutnya, untuk umat Buddha, ada empat rumah ibadah, yaitu Vihara Sakyamuni, Vihara Maitri, Vihara Dewi Samudra, dan Vihara Dharma Bhakti. Sedangkan umat Hindu juga memiliki Kuil Palani Andawer di Jalan Teugku Dianjong, Keudah, atau hanya berjarak puluhan meter dari Masjid Jami Keudah. Keberadaan rumah ibadah di ibu kota Provinsi Aceh ini memiliki izin resmi dari pemerintah, sehingga tetap dijaga keberadaannya oleh masyarakat dan tidak pernah diusik. Menurut Luspida, hubungan mereka dengan warga sekitar selama ini terjalin dengan baik. Bahkan, jika ada kegiatan di desa, warga nonmuslim ikut diundang. “Hubungan kita dengan masyarakat sekeliling gereja merasa nyaman, kita bisa bergaul dan bergabung dengan mereka. Mereka tidak pernah mengganggu kita dan kita tidak pernah merasa terganggu. Kita tetap menjalin komunikasi dengan tetangga,” ungkap Luspida. Berjarak sekitar 3 km dari gereja HKBP, Pastor Hermanus Sahar memimpin misa Matal di Gereja Hati Kudus. Jemaat lintas usia beribadah dengan khusyuk di sana. Sejumlah polisi berjaga-jaga di luar gereja. Misa Natal di sana digelar sekitar pukul 20.00 WIB, Minggu (25/12) malam. “Pesan penting Natal kali ini semoga Natal kali ini sungguh-sungguh membawa sukacita dan damai bagi orang merayakannya, terutama umat Katolik di Banda Aceh,” kata Pastor Hermanus. Baginya, syariat Islam yang berlaku di Aceh tidak menghalangi umat nonmuslim untuk beribadah. Perayaan Natal pun berjalan dengan baik. “Saya kira berjalan dengan baik, kami boleh merayakan Natal ini dengan cukup bagus. Dan semua itu karena ada pengamanan dari polisi dan TNI yang mau membantu di sini,” jelas Hermanus.

Baca juga : kisah lonceng raksasa hadiah laksamana cheng ho di aceh

Banda Aceh – Banyak sekali hal menarik di Banda Aceh. Termasuk lonceng raksasa di Museum Aceh yang merupakan hadiah dari Laksamana Cheng Ho untuk Sultan Pasai. Lonceng raksasa itu tergantung di dalam sebuah bangunan yang tak terlalu besar. Warnanya mulai berkarat. Di bawah lonceng, terdapat monumen kecil yang menjelaskan asal-usul benda yang pernah dirampas Portugis tersebut. Lokasi penempatannya di kompleks Museum Aceh. Keberadaan lonceng ini menjadi daya tarik tersendiri bagi traveler yang berkunjung ke Museum Aceh di Banda Aceh. Letaknya di pinggir pagar yang tak jauh dari jalan protokol menjadikannya dapat di tengok dari berbagai sudut. Wisatawan yang berkunjung dengan kendaraan roda dua pun langsung disambut lonceng usai memarkirkan motor. Namanya lonceng Cakra Donya. Berdasarkan catatan sejarah, lonceng ini merupakan hadiah dari Laksamana Cheng Ho kepada Sultan Pasai. Ketika itu, Cheng Ho sedang menggelar satu ekpedisi sehingga tiba di Tanah Rencong. Berselang satu abad kemudian, Kerajaan Pasai berada di dalam kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam. (Agus Setyadi/detikTravel) Nah, lonceng tersebut kemudian dibawa ke pusat kerajaan oleh Sultan Ali Mughayatsyah. Ketika masa Sultan Iskandar Muda memimpin pada abad ke-17, lonceng hadiah ini selanjutnya ditaruh di dalam kapal perang Aceh. Nama Cakra Donya sendiri diambil dari nama kapal perang yang dimiliki kerajaan Aceh. “Cakra Donya itu kapal induk Aceh. Ukurannya hampir sama besar dengan kapal layar Ma Ho (Cheng Ho),” kata Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid kepada detikTravel, Jumat (29/9/2017). Ketika masih dalam kekuasaan Sultan Iskandar Muda, lonceng Cakra Donya dipakai sebagai alat pemanggil jika ada hal-hal darurat terjadi di laut. Namun ketika kapal induk Aceh dirampas Portugis, keberadaan lonceng ini sempat berpindah tangan. (Agus Setyadi/detikTravel) “Setelah kapal induk tersebut dirampas oleh Portugis, lonceng dikembalikan ke sultanan,” jelas pria yang akrab disapa Cek Midi ini. Usai dikembalikan, lonceng ditempatkan di kompleks Istana Darud Dunia di sudut kanan Masjid Raya Baiturrahman. Fungsinya pun berubah. Dari semula sebagai kode jika ada darurat, kemudian jadi alat untuk memanggil orang salat dan penanda waktu berbuka puasa dan lainnya. Berdasarkan informasi pada prasasti di bawah lonceng, pada abad ke-19, lonceng Cakra Donya digantung di bawah pohon di depan kantor regional Belanda Kutaraja. Pada Desember 1915, lonceng tersebut kemudian menjadi koleksi Museum Aceh. “Jadi lonceng Cakra Donya ini rampasan perang milik Kerajaan Pasai,” ungkap Cek Midi. Lalu siapa Laksamana Cheng Ho yang memberi hadiah tersebut? Menurut Cek Midi, Cheng Ho merupakan sosok Muslim yang taat. Dia melakukan ekspedisi ke Aceh untuk memperdalam agama. Dalam ekspedisi itulah Cheng Ho menyerahkan lonceng untuk Sultan Pasai sebagai hadiah. Pada prasasti di Museum Aceh, tertulis lonceng tersebut sebagai penanda harmonisasi Kesultanan Pasai dengan Dinasti Ming. “Cheng Ho ini merupakan seorang China muslim. China yang taat beragama,” jelas Cek Midi. (krn/aff)


Baca juga :

Hudhaifa bin Al-Yaman came to Uthman at the time when the people of Sham and the people of Iraq were Waging war to conquer Arminya and Adharbijan. Hudhaifa was afraid of their (the people of Sham and Iraq) differences in the recitation of the Qur’an, so he said to ‘Uthman, “O chief of the Believers! Save this nation before they differ about the Book (Quran) …” So ‘Uthman sent a message to Hafsa saying, “Send us the manuscripts of the Qur’an so that we may compile the Qur’anic materials in perfect copies and return the manuscripts to you.” Hafsa sent it to ‘Uthman. ‘Uthman then ordered Zaid bin Thabit, ‘Abdullah bin AzZubair, Said bin Al-As and ‘AbdurRahman bin Harith bin Hisham to rewrite the manuscripts in perfect copies. ‘Uthman said to the three Quraishi men, “In case you disagree with Zaid bin Thabit on any point in the Qur’an, then write it in the dialect of Quraish, the Qur’an was revealed in their tongue.” They did so, and when they had written many copies, ‘Uthman returned the original manuscripts to Hafsa. ‘Uthman sent to every Muslim province one copy of what they had copied, and ordered that all the other Qur’anic materials, whether written in fragmentary manuscripts or whole copies, be burnt. …”

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

Jadi, seprti kita tahu, semua naskah yang tidak sesuai dengan naskah yang sudah distandardisasi oleh Usman itu kemudian dibakar. Hanya teks milik Hafsah saja yang dikembalikan. Padahal menurut saya, dalam perkembangan sejarah kitab-kitab suci manapun, berbagai referensi sumber sejarah yang berbeda sekalipun tetap diperlukan, agar didapatkan data dan informasi yang nilainya berbeda-beda sesuai catatan aslinya. Bagaimanapun, arsip dan dokumentasi terlalu penting untuk dibuang. Akibatnya kini, Islam tak mempunyai lagi naskah-naskah asli berbagai koleksi milik para sahabat Muhammad. Ini amat disayangkan.

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

Allah sent Muhammad with the Truth and revealed the Holy Book to him, and among what Allah revealed, was the Verse of the Rajam (the stoning of married person (male and female) who commits illegal sexual intercourse), and we did recite this Verse and understood and memorized it. Allah’s Apostle did carry out the punishment of stoning and so did we after him. I am afraid that after a long time has passed, somebody will say, `By Allah, we do not find the Verse of the Rajam in Allah’s Book,’ and thus they will go astray by leaving an obligation which Allah has revealed.

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

Hadits ini menunjukkan kepada kita, bahwa ayat yang berisikan aturan tentang penghukuman rajam terhadap para pezina sudah tidak ada lagi di Qur’an yang baru (pasca standardisasi). Dengan kata lain, ada ayat telah yang hilang akibat proses seleksi yang berlebihan. Fatal memang, karena sampai menghilangkan ayat. Mengapa saya katakan demikian? (mohon maaf kepada teman-teman Muslim) Ini adalah karena Khalifah Usman mempunyai kontrol yang terlalu berlebihan terhadap teks-teks Al Qur’an pada waktu itu. Hal ini ditunjukkan misalnya dalam mengambil keputusan apakah suatu ayat telah diubah atau tidak. Disini, Usman pernah berselisih paham dengan Ibn-az-Zubair perihal tsb :

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

Ibn Abbas said he asked Uthman[1] what had induced them to deal with al-Anfal[2] which is one of the mathani[3] and with Bara`a[4] which is one with a hundred verses, joining them without writing the line containing “In the name of God, the Compassionate, the Merciful,”[5] and putting it among the seven long ones. When he asked again what had induced them to do that, Uthman replied, “Over a period suras with numerous verses would come down to God’s messenger, and when something came down to him he would call one of those who wrote and tell him to put these verses in the sura in which such and such is mentioned, and when a verse came down he would tell them to put it in the sura in which such and such is mentioned. Now al-Anfal was one of the first to come down in Medina and Bara`a was among the last of the Qur’an to come down, and the subject-matter of the one resembled that of the other, so because God’s messenger was taken without having explained to us whether it belonged to it, for that reason I joined them without writing the line containing `In the name of God, the Compassionate, the Merciful,’ and put it among the long suras.” (Mishkat Al-Masabih: Ahmad, Tirmidhi and Abu Dawud transmitted it. (tr. by James Robson, Sh. Muhammad Ashraf, Lahore, p. 470)

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

Selanjutnya, hasil akhir dari standardisasi Qur’an ini bukanlah keputusan final yang tak mendapat reaksi dan disetujui begitu saja secara konsensus oleh seluruh umat Islam, melainkan hanyalah keputusan sepihak yang disepakati oleh Usman saja. Sebab terhadap hal ini, beberapa reaksi segera muncul pertentangan dari kalangan sahabat yang merasa tidak senang dengan keputusan ini dan menentangnya karena tak sepakat. Salah satunya adalah Mas’ud, yang tak setuju dengan hasil tsb, dan tetap mempertahankan koleksinya sebagai teks yang paling benar. Shaqiq mengatakan, bahwa para sahabat Muhammad yang lain mendukung pendapat ini.

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

`Abdullah (b. Mas’ud) reported that he (said to his companions to conceal their copies of the Qur’an) and further said: He who conceals anything he shall have to bring that which he had concealed on the Day of Judgement, and then said: After whose mode of recitation do you command me to recite? I in fact recited before Allah’s Messenger (may peace be upon him) more than seventy chapters of the Qur’an and the Companions of Allah’s Messenger (may peace be upon him) know it that I have better understanding of the Book of Allah (than they do), and if I were to know that someone had better understanding than I, I would have gone to him. Shaqiq said: I sat in the company of the Companions on Muhammad (may peace be upon him) but I did not hear anyone having rejected that (that is, his recitation) or finding fault with it.

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

`Umar said, ‘I heard Hisham b. Hukaim reciting surat al Furqan and listened to his recital. On observing that he was reading many forms which the Prophet had not taught me, I all but rushed upon him as he prayed. But I waited patiently as he continued, and, collaring him when he had finished, I asked him, ‘Who taught you to recite this sura?’ He claimed that the Prophet had taught him. I said, ‘By God! you’re lying!’ I dragged him to the Prophet telling him that I heard Hisham recite many forms he had not taught me. The Prophet said, ‘Let him go. Recite, Hisham.’ He recited the reading I had already heard from him. The Prophet said, ‘That is how it was revealed.’ He then said, ‘Recite, `Umar’, and I recited what he had taught me. He said, ‘That’s right. That is how it was revealed. This Qur’an was revealed in seven forms, so recite what it was easiest.’ (p. 150-151, Abu Ja`far Muhammad b. Jarir al Tabari, “Tafsir”, vol. 1, p. 24)

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

Abu al-Khair ibn al-Jazari, in the first book that he published, said “Every reading in accordance with Arabic, even if only remotely, and in accordance with one of the Uthmanic codices, and even if only probable but with an acceptable chain of authorities, is an authentic reading which may not be disregarded, nor may it be denied, but it belongs to al-ahruful-sab’at (the seven readings) in which the Qur’an was sent down, and it is obligatory upon the people to accept it, irrespective of whether it is from the seven Imams, or from the ten, or yet other approved imams, but when it is not fully supported by these three (conditions), it is to be rejected as dha’ifah (weak) or shaathah (isolated) or baatilah (false), whether it derives from the seven or from one who is older than them. (As-Suyuti, Al-Itqan fii Ulum al-Qur’an, p.176).

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

ibn `Abbas bertanya `Usman, apa yg sampai membuatnya menempatkan Surat al Anfal, salah satu mathani, dgn Al Bara’a, salah satu mi’in, menggabungkan mereka tanpa adanya bismillah diantara mereka dan lalu menempatkan mereka diantara ke 7 Surat panjang. `Usman menjawab bahwa sering nabi menerima wahyu2 oanjang. Ia akan memanggil salah seorang penulis dan mengatakan, ‘Letakkan ayat2 ini dlm Surat ini dan itu.’ Anfal adalah yg pertama dari pewahyuan Medinah dan Bara’a termasuk yg terakhir. Karena isinya mirip ayat2 dlm Anfal, `Usman menyatukannya, lagipula nabi wafat tanpa menjelaskan apakah itu memang bagiannya. (p. 164, Jalal al Din `Abdul Rahman b. abi Bakr al Suyuti, “al Itqan fi `ulum al Qur’an”, Halabi, Cairo, 1935/1354, pt 1, p. 60)

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

3) [‘Umar berkata] Allah mengirim Muhamad dgn Kebenaran dan menurunkan buku suci kpdnya dan diantara apa yg diturunkan Allah adalah ayat Rajam (perajaman lelaki dan perempuan yg sudah nikah, yg terlibat perzinahan) dan kami membacakan ayat ini, dimengerti dan dihafal. Rasulullah telah melaksanakan hukuman rajam dan begitu pula kami sesudahnya. Saya takut setelah berlangsungnya waktu lama, orang akan mengatakan “Didlm Buku Allah kami tidak menemukan Ayat Rajam, dan oleh karena itu mereka akan sesat dan meninggalkan kewajiban yg diturunkan Allah. (Sahih Bukhari vol. 8, p. 539)

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

Abu Musa al An`sari melaporkan, ‘Diwahyukan sebuah Surat mirip spt Baqara, namun kemudian ditarik.’ Ia mengingatnya, ‘Allah akan membantu ketatanegaraan dgn orang2 yg tidak memiliki bagian dlm Akhirat. Kalau ibn Adam memiliki dua wadis barang kepemilikan, ia akan merengek bagi wadis ketiga. Tidak ada apapun yg bisa mengisi perut ibn Adam selain debu, namun Allah akan membebaskan mereka yg bertobat.’ (John Burton, The Collection of the Qur’an, 1977, p. 83, Jalal al Din `Abdul Rahman b. abi Bakr al Suyuti, “al Itqan fi `ulum al Qur’an”, Halabi, Cairo, 1935/1354, pt 2, p. 25)

seperti di kutip dari https://infotekkom.wordpress.com

Yahya mengatakan kpd saya dari Malik from Zayd ibn Aslam from al-Qaqa ibn Hakim bahwa Abu Yunus, maulana A’isha, umm al-muminin mengatakan, “A’isha memerintahkan saya utk menulis sebuah Qur’an baginya. Katanya, ‘Jika kau sampai pada ayat ini, beritahu saya, “Jaga doa2 secara seksama dan doa ditengah2 dan patuhlah kpd Allah.”‘ Ketika saya sampai pada ayat itu, saya mengatakan kepadanya dan ia (Aisha) mendikte kpd saya, ‘Jaga doa2 secara seksama dan doa ditengah2 dan doa azar (asr) dan patuhlah kpd Allah.’ A’isha mengatakan, ‘Saya mendengarnya dari Rasulullah saw.’”

Natal sejatinya adalah sukacita dan membawa kedamaian. Bagi yang merayakan, Natal menjadi momentum berkumpul bersama orang terkasih serta berbagi sukacita. Namun pemandangan berbeda kita akan jumpai pada sebuah gubuk di Dusun Bena’, Kelurahan Buntu Masakke’, Kecamatan Sangala, Tana Toraja. Gubuk ini dihuni seorang wanita jompo bernama Nenek Tangsi (77) seorang diri. Saat dikunjungi, tampak Nenek Tangsi hanya duduk berdiam diri dipancari cahaya dari lampu berbahan bakar minyak tanah. Nenek Tangsi juga tidak memiliki anak. Ia hanya ditemani seekor anjing peliharaan yang diberi nama Monkey (Seba). Di gubuk ini, sama sekali tidak terlihat kesan perayaan kelahiran Sang Juru Selamat Yesus Kristus. Jangankan kelap-kelip lampu pohon Natal, makanan khas dan enak yang biasa disajikan pada hari Natal pun tidak terlihat. Rupanya Nenek Tangsi yang miskin ini tidak mampu mengadakan semuanya seperti umat lain. Nenek Tangsi sudah lama hidup sendiri sejak ditinggal mati suami tercinta, dua tahun silam. Sejak saat itu, Nenek Tangsi melanjutkan hidup seorang diri berteman Monkey, yang selalu setia di sisinya. Ditinggal suami, Nenek Tangsi hanya mengandalkan seorang keponakannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang miskin. Selama ini, keponakannya memenuhi kebutuhan hidup Nenek Tangsi, yang kadang membawa beras dan lauk ala kadarnya guna dimakan untuk beberapa hari ke depan. Namun sayang, sang keponakan tidak berada di sisinya. Sebab, rumah tinggalnya cukup jauh. Dia tinggal bersama anak-istrinya di daerah Rembon. Saat ditanya apa yang paling diinginkannya dalam momen Natal, saat ini, Nenek Tangsi menjawab bisa berkumpul bersama keluarga, itu sudah cukup. ” Sui tahu, sirempun sola keluarganna ma’ Natal . (Seperti orang lain, bisa berkumpul bersama keluarga bercerita berbagi sukacita di hari Natal),” ungkap Nenek Tangsi lirih, mengakhiri percakapan sambil menyeka air mata.

Suasana saling menghormati terasa di sebuah permukiman di Kota Semarang. Warga muslim di sana bahu-membahu membantu kesibukan umat Nasrani yang sedang merayakan Natal hari ini. Tepatnya di kampung di RT 07 RW 01 Kelurahan Bangetayu Wetan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Di sana terdapat rumah Pendeta Emeritus Eka Lasa Purwibawa yang akan kedatangan tamu setiap tanggal 25 Desember. Sejak pagi para warga sudah sibuk menyiapkan hidangan dan tenda juga sudah berdiri di depan rumah pendeta. Tamu mulai berdatangan sejak pagi untuk mengunjungi Pendeta Eka Lasa. Suasana kesibukan Perayaan Natal di Kelurahan Bangetayu Wetan, Kota Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom Tamu yang datang bukan hanya warga biasa, ada juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto, Sekda Provinsi Jateng Sri Puryono, dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Prof Mudjahirin Thohir. Pendeta Eka Laksa merupakan Ketua Persekutuan Gereja di Indonesia Tingkat Wilayah (PGIW) Jawa Tengah. Namun bukan karena Pendeta Eka Laksa merupakan orang penting kemudian warga saling membantu. Toleransi di kampung tersebut juga bisa dilihat ketika Idul Fitri karena umat Nasrani turut membantu persiapan menyambut hari raya itu. Ketika Natal, warga Muslim ikut sibuk dengan menyiapkan makanan hingga menghidangkan ke para tamu seperti yang terlihat siang ini. Tamu-tamu yang datang langsung disambut warga baik muslim maupun nasrani yang membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan. Seluruh warga ikut bahu membahu menyiapkan hidangan. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom Disajikan juga hidangan prasmanan yang dimasak dan disajikan oleh warga. Ganjar dan rombongan yang hadir pun terkesan dengan sikap toleransi di kampung tersebut. Ganjar kemudian diminta memberi sambutan oleh Pendeta Eka Lasa sebelum rombongan menyantap makanan yang dihidangkan. Saat Pendeta Eka Lasa membuka acara sebelum Ganjar memberi sambutan, terdengar adzan Zuhur di masjid yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. “Hari ini istimewa bisa rawuh semua ke sini… Nyuwun sewu (permisi), masuk adzan, ya. Berhenti dulu,” kata Pendeta Eka Lasa, Senin (25/12/2017). Warga muslim pun menghentikan kegiatannya menyajikan makanan dan mendengarkan adzan. Bahkan warga nasrani di sana menghormati dengan berdiri menunduk dan tidak berbicara hingga adzan selesai. Ganjar kemudian memberikan sambutan setelah adzan berkumandang. Ia mengungkapkan kekagumannya setiap kali datang ke kampung tersebut. “Tahun ini benar-benar istimewa, istimewa pertama ada adzan semua menghormati. Kita di kampung ini sudah menunjukkan toleransi,” ujar Ganjar. Melihat toleransi yang ada di kampung Banget Ayu itu, Ganjar berharap suasana di sana bisa menular ke tempat lain. “Kata pak Wagub ini Pancasila dalam Praktik,” lanjutnya. Kesibukan Natal di Kelurahan Bangetayu Wetan, Kota Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom Salah seorang warga muslim yang ikut membantu, Sumarni mengatakan menurutnya bukan hal istimewa jika antar tetangga saling membantu termasuk ketika menyambut hari raya apapun. Tidak perlu ada orang yang mengingatkan, warga di kampung tersebut bakal ikut sibuk membantu jika ada hari raya. “Sudah kebiasaan ya. Kalau Idul Fitri juga kita dibantu. Ya kalau membantu itu tidak perlu melihat agamanya. Jaga kerukunan,” tutur Sumarni. Pendeta Eka Lasa menambahkan, saling menghormati antara umat beragama yang dipraktikkan oleh warga di kampungnya itu tidak untuk menjaga kerukunan, namun juga sebagai contoh bagi generasi muda. “Jadi cikal yang baik, kalau jadi bakal ya bakal yang baik. Bangunan tidak bangunan agama dalam sektoral. Yangg kita bangun religiusitas, religi penyembahan Tuhan ditunjukkan dalam kegiataan riil. Kalau gawe seneng wong kan enak (kalau membuat orang lain senang kan enak),” kata Pendeta Eka Lasa. “Kalau Idul Fitiri juga kita dirikan tenda, sama-sama,” imbuhnya. Kesibukan Natal di Kelurahan Bangetayu Wetan, Kota Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom Ketua RW setempat, Heri Dwi Utomo mengatakan warga nasrani di wilayahnya memang hanya 5% dari 100 kepala keluarga yang ada. Namun kerukunan ditunjukkan 100% tanpa harus ada komando dari siapapun. “Sudah kegiatan rutin, pemberitahuannya juga cuma lisan saja. Jadi siapapun punya hajat ya saling membantu,” kata Heri. Mengunjungi kampung tersebut saat ada hari raya memang menyejukkan hati meski terik matahari bersinar cerah siang ini. Di tengah banyaknya pihak yang tidak bertanggungjawab mengadu domba umat beragama, ternyata masih banyak warga yang menjaga kerukunan dengan cara mereka masing-masing.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengunjungi kediaman salah satu anggota tim pengawalan wagub, Brigadir Togu Stevenson Naibaho. Kunjungannya tersebut dalam rangka perayaan hari Natal di rumah Togu, yang merupakan pemeluk Kristen. Pantauan di lokasi, Senin (25/12/2017), Sandi tiba di kompleks Pondok Maharta VI Blok B4 No 8 RT 03 RW 10 Pondok Kacang Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan, sekitar pukul 16.30 WIB. Sandi mengenakan baju koko lengan pendek berwarna biru dipadu dengan celana hitam dan peci putih. Kedatangannya tampak disambut oleh Togu. Kemudian disusul putra Togu, Garson (2), yang berlari kecil ikut menyambut Sandi. Sandi kemudian tampak menghentikan langkah dan dengan antusias menyapa Garson. “Hai, ini siapa?” tanya Sandi. “Garson Pak namanya,” jawab Togu, yang kemudian mengangkat Garson untuk menggendongnya. Sandiaga kemudian memangku Garson. (Marlinda Oktaviana Erwanti/detikcom) Sandi kemudian tampak ramah memegang pipi dan kepala bocah yang mengenakan pakaian berwarna kuning itu. Kemudian ia juga mencium tangan anak yang dari tadi tampak menatapnya dengan bingung itu. Sandi, yang tampak menyalami satu per satu keluarga Togu, juga sempat melontarkan gurauan. Ia mengaku tak membawa buah tangan dalam kunjungannya itu. “Tapi saya nggak bawa apa-apa nih,” katanya. “Aspri nih, Aspri katanya dikirim aja hadiah Natal-nya,” lanjut Sandi. Saat tiba di dalam rumah, Sandi tampak disambut hangat oleh keluarga besar Togu yang tengah menunggu. Togu juga memperkenalkan satu per satu keluarganya yang hadir untuk merayakan Natal bersama Sandi itu.

Pengacara ustaz Abdul Somad, Kapitra Ampera, meminta polisi untuk turun tangan mengusut persoalan ustaz Somad yang ‘dideportasi’ dari Hong Kong. Menurut Kapitra, pengusutan perlu dilakukan terkait dugaan adanya laporan fitnah terkait hal itu. “Kami minta kepada aparat kepolisian agar melakukan investigasi apakah ada by order dari orang-orang tertentu yang memberikan laporan fitnah (hoax) kepada imigrasi Hong Kong,” ujar Kapitra melalui keterangannya, Minggu (24/12/2017). Sebelumnya, Kapitra juga mengaku akan melaporkan kejadian itu ke DPR. Dia meminta agar pemerintah Indonesia serius melindungi warganya yang berkunjung ke luar negeri. “Kami akan melaporkan hal ini kepada DPR dan instansi lainnya agar pemerintah Indonesia serius melindungi warganya yang melakukan kunjungan ke luar negeri,” kata Kapitra. Ustaz Abdul Somad mengaku mengalami perlakuan tidak menyenangkan ketika berkunjung ke Hong Kong. Dia menjelaskan hal itu melalui fanpage Facebook-nya. “Mereka jelaskan bahwa negara mereka tidak dapat menerima saya. Itu saja, tanpa alasan. Mereka langsung mengantar saya ke pesawat yang sama untuk keberangkatan pukul 16.00 WIB ke Jakarta,” kata ustaz Somad. detikcom telah mencoba menghubungi Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan BHI Kemlu Lalu M Iqbal dan juru bicara Kemlu Arrmanatha Nasir melalui sambungan telepon dan pesan singkat. Namun, keduanya belum merespons.

Pemilik toko kue yang menolak membuat ucapan Natal di Makassar menyampaikan permintaan maaf kepada para pelanggan. MUI menyayangkan dan mengingatkan bahwa muslim Indonesia harus menjaga tali persaudaraan. “Sebatas ini kemampuan kami, maksimalnya kami. Kami sudah sampaikan perminta maaf kepada pelanggan,” kata pemilik toko, Fika Kurniawaty, Minggu (24/12/2017). Namun, agar tidak mengecewakan pelanggan, Fika memperbolehkan pelanggan membawa kartu ucapan Natal. Kalau perlu, kartu itu diberikan kepada pegawainya, asalkan bukan ditulis karyawannya. “Kami tak pernah persulit pelanggan kami. Bahkan jika mereka membawa kartu ucapan sendiri silakan. Kalau perlu kami beri kartunya asal dia yang menuliskan sendiri,” jelasnya Fika. Toko kue yang berada di bilangan Jalan Pettarani, Makassar, menerima ratusan pesanan kue dengan ucapan Natal, termasuk ulang tahun. “Pelanggan banyak. Ada ratusan atau puluhan mungkin yang datang khusus pesan Natal. Tapi kebanyakan mereka datang langsung kalau hari keagamaan. Beberapa pelanggan juga mengerti bahkan membawa sendiri kartu ucapannya,” tuturnya. Video 20Detik: Enggan Ucapkan Selamat Natal, Toko Kue Ini Diprotes Netizen [Gambas:Video 20detik]

Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan pemindahan PKL di Tanah Abang ke Jalan Jatibaru untuk memastikan lapangan kerja bagi para pedagang. Sandi mengakui kebijakan tersebut untuk membantu Presiden Joko Widodo meminimalisir ketimpangan ekonomi di Ibu Kota. Sebab, menurut Sandiaga, ketimpangan ekonomi timbul karena lapangan kerja untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi kelas bawah semakin sempit. Sandiaga melihat pemindahan PKL ke jalan merupakan salah satu upaya memperluas lapangan kerja bagi mereka. “Pak Jokowi berulang-ulang kali pesan ke teman-teman, ketimpangan ini ada di DKI Jakarta, ada di depan mata kita. Kenapa ketimpangan ada? Karena ekonomi yang ada di akar rumput tidak bergerak,” kata Sandiaga, di Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (24/12/2017). “Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Ini merupakan embrio permasalahan sosial. Penataan kami ini memastikan lapangan kerja buat yang termarjinalkan tidak terganggu. Bantu Pak Jokowi,” imbuhnya. Sandiaga menuturkan kalau hanya memikirkan para pengguna jalan ketimpangan ekonomi di Jakarta tidak akan tereduksi. Karena itu, dia mengajak semua pihak turut memikirkan cara agar masyarakat kelas bawah mendapatkan akses lapangan kerja. “Kalau kita mikir hanya yang naik mobil saja, tidak akan mampu untuk menyempitkan jurang dari antara si kaya dan yang belum sejahtera. Jadi, sama-sama kita ayolah,” terang Sandiaga. Pemindahan PKL ke jalan merupakan salah satu konsep baru penataan kawasan Pasar Tanah Abang. Para PKL diperbolehkan berjualan di salah satu ruas jalan di depan Stasiun Tanah Abang mulai jam 08.00-18.00 WIB setiap hari.

Guru Besar Hukum Internasional UI Prof Hikmahanto Juwana menilai suatu negara berhak menolak kedatangan warga negara asing. Hikmahanto pun membandingkan penolakan ustaz Abdul Somad di Hong Kong dengan mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang pernah berkunjung ke Amerika Serikat (AS). “Ya nggak ada (langkah diambil ustaz Somad) karena itu kewenangan absolut dari negara tersebut. Coba bayangkan Panglima TNI Gatot Nurmantyo saja kemarin sempat ditolak sampai hari ini sudah ada penjelasan belum?” kata Hikmahanto saat berbincang dengan detikcom, Senin (25/12/2017). Padahal menurut Hikmahanto, Jenderal Gatot Nurmantyo saat itu menjabat Panglima TNI. Gatot disebut Hikmahanto datang ke negara Paman Sam atas undangan tentara AS. “Nah itu lah kira-kira (tak dijelaskan AS) padahal ini yang sudah punya jabatan dan diundang secara resmi. Ketika pemerintah kita tanya apa alasannya, tidak dikasih karena memang negara ini akan memback up petugas di lapangannya,” ujar Hikmahanto. Dia menyatakan petugas otoritas yang berada ditempat kejadian mempunyai hak untuk mengambil keputusan warga negara asing boleh masuk atau tidak. Apabila pemerintah pusat membatalkan keputusan petugas dan menjelaskan alasan penolakan warga negara asing kepada negaranya, maka petugas akan takut mengambil keputusan. “Jadi petugas di lapangan punya diskresi dalam mengambil keputusan kalau misalnya diskresi dianulir atau dibatalkan oleh pemerintah pusat lalu dijelaskan negara lain. Nanti orang di lapangan mereka pada takut mengambil keputusan, jadi mereka ini akan di-back up kalau pun ada kesalahan di mereka, mereka nggak akan diungkap kesalahan mereka,” tutur dia. Selain itu, menurut Hikmahanto masalah penolakan ustaz Somad merupakan subjetivitas petugas yang tak akan menjelaskan kesalahan warga negara asing yang masuk ke negaranya. Dia juga mencontohkan Indonesia dalam Pasal 13 UU Keimigrasian, bahwa warga negara asing ditolak Indonesia karena membahayakan negara. Namun tak bisa dijelaskan mengenai membahayakan negara. “Ini masalah subjektivitas masing-masing negara, apalagi ini merupakan subjektivitas dari mereka petugas berada di lapangan jadi gak bisa disebut bahwa masalahnya begini dan begitu. Kita misalnya di undang-undang keimigrasian ada pasal 13 yang menyatakan bahwa orang di luar negeri itu tidak boleh atau bisa ditolak kehadiran di Indonesia, masuk daftar tangkal atau lebih umum lagi dia membahayakan negara. Yang membayakan negara kita nggak tahu seperti apa itu nanti interprestasi petugas yang berada di lapangan,” jelas dia. “Nah sama juga di banyak negara memberikannya secara umum tetapi bagaimana kejadian itu diserahkan petugas di lapangan. Petugas lapangan terkait somad dianggap wah dibuka akun sosial medianya atau lihat sosial mediannya baru muncul dan sebagaianya lalu mereka menganggap ini bisa membahayakan keamanan mereka yaitu merupakan diskresi keputusan yang dibawah itu, mungkin orang yang di pusat tidak tahu masalah ini,” lanjut dia. Sebagaimana diketahui, dalam akun Facebook-nya, Somad menceritakan apa yang dialaminya saat tiba di Hong Kong. Somad dipulangkan tidak lama setelah mendarat di Hong Kong “Keluar dari pintu pesawat, beberapa orang tidak berseragam langsung menghadang kami dan menarik kami secara terpisah, saya, Suadara Dayat dan Saudara Nawir,” ujar Somad. “Lebih kurang 30 menit berlalu. Mereka jelaskan bahwa negara mereka tidak dapat menerima saya. Itu saja. Tanpa alasan. Mereka langsung mengantar saya ke pesawat yang sama untuk keberangkatan pukul 16.00 WIB ke Jakarta,” sambung Somad.

Related Posts

Comments are closed.