Bupati Rita Hobi Jual Beli Tas Hermes Asli Rp 200 Jutaan

Bupati Rita Hobi Jual Beli Tas Hermes Asli Rp 200 Jutaan

Bupati Kutai Kertanegara (Kukar) nonaktif yang merupakan terdakwa dugaan suap, Rita Widyasari, mengaku pernah punya hobi jual beli tas bermerek yang tentunya asli. Merek apa? “Biasa Hermes (yang dijual). Asli,” kata Rita sebelum menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2018). Berapa harganya? “Berapa ya, lupa saya. Rp 100-200 (juta) gitu,” jawabnya. Rita mengaku sudah lama menjadi kolektor tas branded. Tas-tas itu ada yang dia lelang hingga diberikan orang. “Sudah lama saya, kan sebelum jadi bupati sudah jadi kolektor saya dulu tuh dan pernah saya lelang, saya kasihin ke orang. Saya udah nggak punya lagi. Makanya begitu dicek, udah nggak ada lagi. Sudah saya kasihin orang, bosen,” ungkap Rita. Lewat jual beli tas itu juga, Bupati Rita berkenalan dengan dr Sonia Wibisono. dr Sonia pernah diperiksa sebagai saksi untuk kasus TPPU Rita namun sudah menegaskan bahwa dia tidak memiliki keterkaitan dengan kasus Rita. Saat ditetapkan sebagai tersangka, Rita diduga menerima suap Rp 6 miliar dari Direktur Utama PT Sawit Golden Prima (SGP) Hery Susanto Gun. Uang itu disebut diberikan pada Juli dan Agustus 2010 untuk pemberian izin lokasi guna keperluan inti dan plasma perkebunan kelapa sawit di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman, kepada PT SGP. Masih dalam penetapan kasus yang sama, Rita juga menjadi tersangka dalam dugaan gratifikasi. Rita bersama Khairudin selaku Komisaris PT Media Bangun Bersama (MBB) diduga menerima uang sebesar USD 775 ribu atau setara dengan Rp 6,975 miliar. Gratifikasi itu diduga berkaitan dengan sejumlah proyek di Kukar.

Bupati Kutai Kertanegara (Kukar) nonaktif yang merupakan terdakwa dugaan suap, Rita Widyasari, mengaku pernah punya hobi jual beli tas bermerek yang tentunya asli. Merek apa? “Biasa Hermes (yang dijual). Asli,” kata Rita sebelum menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2018). Berapa harganya? “Berapa ya, lupa saya. Rp 100-200 (juta) gitu,” jawabnya. Rita mengaku sudah lama menjadi kolektor tas branded. Tas-tas itu ada yang dia lelang hingga diberikan orang. “Sudah lama saya, kan sebelum jadi bupati sudah jadi kolektor saya dulu tuh dan pernah saya lelang, saya kasihin ke orang. Saya udah nggak punya lagi. Makanya begitu dicek, udah nggak ada lagi. Sudah saya kasihin orang, bosen,” ungkap Rita. Lewat jual beli tas itu juga, Bupati Rita berkenalan dengan dr Sonia Wibisono. dr Sonia pernah diperiksa sebagai saksi untuk kasus TPPU Rita namun sudah menegaskan bahwa dia tidak memiliki keterkaitan dengan kasus Rita. Saat ditetapkan sebagai tersangka, Rita diduga menerima suap Rp 6 miliar dari Direktur Utama PT Sawit Golden Prima (SGP) Hery Susanto Gun. Uang itu disebut diberikan pada Juli dan Agustus 2010 untuk pemberian izin lokasi guna keperluan inti dan plasma perkebunan kelapa sawit di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman, kepada PT SGP. Masih dalam penetapan kasus yang sama, Rita juga menjadi tersangka dalam dugaan gratifikasi. Rita bersama Khairudin selaku Komisaris PT Media Bangun Bersama (MBB) diduga menerima uang sebesar USD 775 ribu atau setara dengan Rp 6,975 miliar. Gratifikasi itu diduga berkaitan dengan sejumlah proyek di Kukar.

Dokter Sonia Wibisono pernah diperiksa sebagai saksi di kasus dugaan TPPU Bupati nonaktif Kukar Rita Widyasari. Meski demikian, Rita mengaku tidak pernah menjalani perawatan kecantikan bersama dr Sonia. “Nggak benar itu. Boleh tanya ke dr Sonia. Saya cuma jual beli tas. Saya jual tas ke dia. Kan selain dokter, dia juga hobi jual beli tas. Ketemunya aja cuma sekali, jadi bbman aja,” kata Rita sebelum menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2018). “Saya nggak pernah perawatan sekalipun, apa facial nggak pernah,” tambahnya. Rita mengaku sudah lama menjadi kolektor tas branded. Tas-tas itu ada yang dia lelang hingga diberikan orang. Jual beli tas dengan dr Sonia dilakukan Rita pada 2011 silam. “Sudah lama banget, aku lupa jumlahnya, modelnya pun lupa. Saya ketemu tuh ulang tahun anak sama dia, bukan acara sosialita, enggak. Nah, dia itu temannya teman saya. Temannya anak saya di ulang tahun anak saya,” paparnya. Sonia Wibisono / Foto: Haris Fadhil/detikcom Rita menuturkan dia dulu mengobrol lewat BBM dengan dr Sonia. Dia menegaskan tidak pernah melakukan perawatan kecantikan, melainkan hanya tanya-tanya soal rahasia cantik dr Sonia. “Tanya saja dia, saya nggak pernah perawatan sama dokter. Pernah tanya konsultasi, gimana sih bisa cantik kayak dia. Ya cuma ngobrol di BBM doang, nggak pernah ke rumah dia, nggak pernah perawatan,” ucap Rita. Sebelumnya, dokter kecantikan Sonia Wibisono juga sudah mengatakan dirinya tidak ada sangkut pautnya dengan kasus-kasus yang menjerat Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif Rita Widyasari. Dia juga menegaskan tidak pernah mangkir dari panggilan penyidik KPK.

Selama kurang lebih 2 bulan, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif Rita Widyasari sekamar dengan Miryam S Haryani di rumah tahanan (rutan) KPK. Mereka kerap membahas berbagai macam hal termasuk politik. “Sudah lama banget, 2 bulan berduaan, sekarang sudah penuh, ada (tersangka dari kasus) Subang, Kebumen, dan sekarang sudah banyak, ada 6 orang,” ucap Rita sebelum sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2018). Menurut Rita, Miryam hobi mengurusi dapur di rutan. Sedangkan, dia lebih senang bersih-bersih serta tak lupa senam hingga yoga. “Bu Miryam hobi mengurusi dapur dan saya bersih-bersih, senam sehari 2 kali gitu. Pokoknya asyik-asyik sajalah,” ucap Rita. Tak hanya itu, Rita mengaku kerap membahas tentang kasusnya dengan Miryam. Selain itu, mereka juga berdiskusi tentang politik. “Iya bahas kasus dan politik kan kami masih suka ngomongin politik. Bentar lagi kan tahun politik jadi nonton TV lalu bahas, kan sedih Hanura dapat nomor 13 gitu-gitulah kan Bu Miryam Hanura,” ucap Rita. Saat pengundian nomor urut untuk partai politik di KPU pada Minggu (18/2) lalu, Partai Hanura memang mengantongi nomor urut 13. Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang menyebut nomor urut 13 sebagai berkah.

Related Posts

Comments are closed.