Bunda Sitha Segera Disidang di Semarang terkait Kasus Suap

Bunda Sitha Segera Disidang di Semarang terkait Kasus Suap

Siti Masitha Soeparno, yang akrab disapa Bunda Sitha, akan segera menjalani sidang terkait kasus suap yang menjeratnya. Wali Kota Tegal nonaktif itu akan disidang di Semarang, Jawa Tengah. “Berangkat, mau berangkat sudah, ke Semarang dong sidang. Doakan ya,” ujar Bunda Sitha di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (22/12/2017) usai menjalani pemeriksaannya yang terakhir. Bunda Sitha kemudian segera meninggalkan KPK tanpa memberi keterangan lebih jauh. Sebelumnya, pengusaha Amir Mirza Hutagalung lebih dulu keluar dari KPK. Namun, tidak ada sepatah kata pun yang diungkapkan terkait pemeriksaannya. Amir diketahui merupakan orang kepercayaan Bunda Sitha. Sebelum terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK, Bunda Sitha berencana maju di Pilwalkot Tegal periode 2019-2024, berpasangan dengan Amir sebagai wakilnya. Dimintai konfirmasi terpisah, Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha membenarkan pelimpahan tahap II atas tersangka Wali Kota Tegal nonaktif ini. “Benar. Pada hari ini dilakukan pelimpahan berkas dan tersangka ke penuntutan,” ucap Priharsa. Sitha dan Amir terjaring operasi tangkap tangan (OTT) bersama Direktur Keuangan RSUD Kardinah Cahyo Supriadi pada Selasa (29/8) lalu. Dalam OTT diamankan uang Rp 200 juta di rumah Amir yang dijadikan posko pemenangan mereka. Sementara itu, Rp 100 juta dikirimkan ke rekening Amir. Masing-masing Rp 50 juta ke rekening di Bank BCA dan Rp 50 juta ke rekening di Bank Mandiri. KPK menduga total keseluruhan suap yang diterima keduanya adalah Rp 5,1 miliar. Sebanyak Rp 1,6 miliar dari jasa pelayanan rumah sakit dengan indikasi diterima dalam rentang waktu Januari-Agustus 2017. Kemudian duit fee dari proyek-proyek di Pemkot Tegal sekitar Rp 3,5 miliar dalam rentang waktu Januari-Agustus 2017.

Baca juga : aneh mau disidang tersangka kasus dugaan korupsi ini malah sumringah

Dia lantas pamit kepada awak media di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang telah meliputnya sejak terjaring operasi tangkap tangan (OTT). “Makasih ya teman-teman. Sekalian saya pamit, ya. Assalamualaikum ,” tukasnya seraya beranjak masuk ke mobil tahanan KPK . Sekadar informasi, KPK menetapkan Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno sebagai tersangka pada 30 Agustus 2017. Dia diduga menerima suap terkait pengelolaan dana jasa kesehatan di RSUD Kardinah dan pengadaan barang jasa di lingkungan Pemerintahan Kota Tegal Tahun Anggaran 2017. Selain Siti, penyidik menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka. Kedua orang itu, yakni Amir Mirza Hutagalung (AMH) Ketua DPD Partai Nasdem Kota Brebes dan Cahyo Supardi (CHY) Wakil Direktur RSUD Kardinah Tegal. Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka karena terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh penyidik KPK pada Selasa, 29 Agustus 2017 malam. Siti Mashita dan Amir diduga sebagai penerima suap. Sementara, Cahyo diduga selaku pemberi suap. Uang yang disita dalam OTT tersebut sebesar Rp 300 juta, yakni Rp 200 juta dan Rp 100 juta dari rekening Amir. Sebagai penerima, Siti Masitha dan Cahyo disangkakan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.


Baca juga : okezone

JAKARTA – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah merampungkan berkas penyidikan Wakil Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kardinah, Tegal, Cahyo Supriyadi. Cahyo pun akan segera disidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang. Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menjelaskan, tim penyidik telah melim‎pahkan berkas penyidikan Cahyo ke tahap penuntutan, pada hari ini, setelah dinyatakan P21 atau lengkap. “‎Hari ini dilakukan pelimpahan tahap dua pada tersangka CHY di kasus suap pengelolaan dana jasa pelayanan RSUD Kardinah Kota Tegal‎ tahun 2017,” kata Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (25/10/2017). ‎Setelah itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK mempunyai waktu 14 hari untuk menyusun dakwaan sebelum nantinya digelar persidangan perdana di Tipikor Semarang. Untuk memudahkan proses persidangan, Cahyo pun dititipkan sementara di Lapas Klas I Semarang. “Yang bersangkutan dititipkan di Lapas Klas I Semarang, Jawa Tengah,” pungkas Febri. Diketahui sebelumnya, KPK menetapkan tiga tersangka terkait kasus dugaan proyek pengelolaan dana jasa kesehatan di RSUD Kardinah, Tegal. Ketiga tersangka tersebut yakni, Wali Kota Tegal, Siti Masitha Soeparno; pengusaha, Amir Mirza Hutagalung; dan Wakil Direktur RSUD Kardinah, Tegal, Cahyo Supriyadi. Atas perbuatannya, Bunda Sitha serta Amir Mirza yang diduga sebagai pihak penerima disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sementara sebagai pihak pemberi, Cahyo disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.


Baca juga : irwandi gubernur aceh yang suka piloti pesawat sendiri saat dinas

Seminggu usai dilantik sebagai gubernur Aceh, sosok Irwandi Yusuf menarik perhatian. Dia suka menyetir mobil dan pesawat sendiri saat melakukan perjalanan dinas. Gayanya itu memang tidak jauh beda dengan waktu kepemimpinannya periode 2007-2012 silam. Saat hendak melantik bupati Aceh Utara dan Walikota Lhokseumawe pada Rabu (12/7/2017) kemarin, Irwandi berangkat sendiri dari Banda Aceh. Ia terbang ke sana dengan menggunakan pesawat pribadi jenis Shark Aero dan mendarat mulus di Bandara Malikussaleh, di Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. Irwandi setiri mobil sendiri terjang sungai (Foto: Suparta) Kedatangan orang nomor satu di Tanah Rencong ini disambut oleh beberapa pejabat dan protokoler yang sudah berangkat duluan dari Banda Aceh. Usai mendarat, iring-iringan mobil Irwandi selanjutnya berangkat ke lokasi pelantikan dengan pengawalan voorijder. “Kalau agenda resmi, beliau (Irwandi) tetap pakai jalur protokoler. Sejak dilantik sampai sekarang masih agenda resmi (pelantikan bupati dan walikota),” kata ajudan Irwandi, Hendri Yuzal, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (13/7/2017). Meski mengikuti jalur protokoler, tapi tetap saja kadang Irwandi membuat petugas Patwal serta personel Pengamanan Tertutup (Pamtup) kelimpungan. Saat hari pertama masuk ngantor, misalnya, mobil resmi jenis Land Cruiser lengkap dengan sopir sudah disiapkan sebagai kendaraan menuju ke kantor gubernur. Polisi juga sudah bersiap-siap untuk melakukan pengawalan. Hendri bersama Gubernur Irwandi (Foto: Dok. Suparta) Mereka menunggu Irwandi di depan rumah pribadinya di kawasan Lampriet, Banda Aceh, Aceh. Setelah sekian lama ditunggu, Irwandi malah keluar rumah melalui pintu belakang dengan menggunakan mobil Toyoto Prius putih. Ia menyetir sendiri. Petugas Patwal dan Pamtup panik. Mereka terpaksa mengejar orang yang seharusnya mereka kawal. Kebiasannya menyetir sendiri memang bukan kali itu saja terjadi. Saat masih menjabat sebagai gubernur pada periode 2007-2012, Irwandi hampir tidak pernah memakai sopir pribadi. Kemana saja bepergian, dia selalu duduk di depan setir. Kemampuan mengemudinya tidak diragukan lagi baik di jalan aspal atau pun medan berlumpur. Pernah suatu ketika, mobil pribadi Irwandi jenis Rubicon menembus belantara pegunungan Jalin di Jantho, Aceh Besar, Aceh. Saat itu, dia bersama rombongan berangkat ke lokasi untuk melepas orangutan ke habitatnya di tengah hutan. Medan yang harus dilewati memang menantang, jalanan terjal dan licin. Beberapa orang di dalam rombongan meminta Irwandi untuk tidak ikut saja. Tapi ia tetap bersikukuh untuk memimpin tim. Dalam perjalanan, dua mobil pengawal tidak mampu melewati ‘rintangan’. Alhasil, Irwandi tetap berangkat meski tanpa pengawalan. Ia tiba di lokasi dan kemudian menyaksikan langsung empat orangutan dilepas ke alam liar. “Sosok pak Irwandi ini unik. Nggak ditemukan karakter seperti ini pada seorang pejabat di Indonesia. Kalau kita bilang, selama (Irwandi) masih bisa menyelesaikan sesuatu sendiri beliau akan kerjakan itu. (Gaya periode lalu) kalau dikaitkan dengan konteks sekarang masih ada sebenarnya,” jelas alumni S2 di University of Hawai, Amerika Serikat itu. Bukan itu saja, Irwandi juga pernah menjemput seorang menteri ke Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, Aceh dengan mobilnya. Ia menjadi sopir sementara menteri duduk di samping. Padahal, posisinya ketika itu adalah seorang gubernur. Usai menggelar pertemuan dan rapat di Banda Aceh, menteri tersebut kembali diantar ke bandara untuk balik ke Jakarta. Setelah tak lagi menjabat, hobinya mengemudi tetap ia salurkan. Hendri yang kerap bersama Irwandi mengaku pernah beberapa kali duduk disamping pria yang akrap disapa Bang Wandi itu. “Saya sering disetirin sama dia. waktu di Jakarta itu, ke mana-mana dia yang nyetir. Saya ke Bandung misal berdua kan, dari Jakarta ke Bandung itu dia yang nyetir,” ungkap Hendri. Setelah dilantik sebagai gubernur periode 2017-2022, kini Irwandi tak hanya gemar mengemudi mobil saja. Tapi ia juga kerap menyetir sendiri pesawat jika harus berangkat ke luar daerah. Dari Banda Aceh, ia terbang sendiri sementara tim protokoler dan pejabat provinsi lain berangkat lebih dulu via jalur darat. “Gayanya masih sama, tapi sekarang sudah nambah satu lagi yaitu pesawat. Dulu dia nggak pakai pesawat sekarang pakai pesawat. Jadi dia akses ke daerah-daerah seperti Simeulue bisa jalan sendiri saja. Itu bisa diakses dalam sehari saja,” ungkap pria yang pernah bekerja sebagai staf khusus Deputi Insfratruktur di Badan Rehabiliasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias tersebut. Menurut Hendri, Irwandi memilih menggunakan pesawat ke daerah-daerah untuk menghemat waktu. Dengan pergerakannya yang cepat seperti itu, banyak hal yang dapat Irwandi selesaikan. Hendri memberi tamsil seperti rentan waktu pelantikan bupati di Aceh Timur dan Bener Meriah yang berselang waktu sehari. “Nah satu hari itu bisa beliau pakai untuk balik ke Banda Aceh. Jadi nanti ke Bener Meriah dari Banda Aceh. Nah waktu balik ke Banda Aceh ada hal lagi kan yang bisa beliau selesaikan di sana,” ungkapnya.

Siti Masitha Soeparno, yang akrab disapa Bunda Sitha, akan segera menjalani sidang terkait kasus suap yang menjeratnya. Wali Kota Tegal nonaktif itu akan disidang di Semarang, Jawa Tengah. “Berangkat, mau berangkat sudah, ke Semarang dong sidang. Doakan ya,” ujar Bunda Sitha di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (22/12/2017) usai menjalani pemeriksaannya yang terakhir. Bunda Sitha kemudian segera meninggalkan KPK tanpa memberi keterangan lebih jauh. Sebelumnya, pengusaha Amir Mirza Hutagalung lebih dulu keluar dari KPK. Namun, tidak ada sepatah kata pun yang diungkapkan terkait pemeriksaannya. Amir diketahui merupakan orang kepercayaan Bunda Sitha. Sebelum terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK, Bunda Sitha berencana maju di Pilwalkot Tegal periode 2019-2024, berpasangan dengan Amir sebagai wakilnya. Dimintai konfirmasi terpisah, Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha membenarkan pelimpahan tahap II atas tersangka Wali Kota Tegal nonaktif ini. “Benar. Pada hari ini dilakukan pelimpahan berkas dan tersangka ke penuntutan,” ucap Priharsa. Sitha dan Amir terjaring operasi tangkap tangan (OTT) bersama Direktur Keuangan RSUD Kardinah Cahyo Supriadi pada Selasa (29/8) lalu. Dalam OTT diamankan uang Rp 200 juta di rumah Amir yang dijadikan posko pemenangan mereka. Sementara itu, Rp 100 juta dikirimkan ke rekening Amir. Masing-masing Rp 50 juta ke rekening di Bank BCA dan Rp 50 juta ke rekening di Bank Mandiri. KPK menduga total keseluruhan suap yang diterima keduanya adalah Rp 5,1 miliar. Sebanyak Rp 1,6 miliar dari jasa pelayanan rumah sakit dengan indikasi diterima dalam rentang waktu Januari-Agustus 2017. Kemudian duit fee dari proyek-proyek di Pemkot Tegal sekitar Rp 3,5 miliar dalam rentang waktu Januari-Agustus 2017.

“Benar. Pada hari ini dilakukan pelimpahan berkas dan tersangka ke penuntutan,” kata Priharsa. Sementara itu, usai diperiksa di Gedung Merah Putih KPK pada hari ini Siti mengaku akan segera menuju ke Semarang guna menjalani persidangan atas perkaranya. “Ke Semarang dong. Sidang. Doakan ya?” kata perempuan dengan sapaan akrab Bunda Sitha ini. Namun, ia mengaku tidak tahu pelimpahan berkas dirinya bersamaan dengan mantan Ketua DPD Nasdem Brebes Amir Mirza Hutagalung yang juga tersangkut delik serupa. “Nggak tahu saya,” kata Sitha menjawab pertanyaan pewarta di KPK.

Dia lantas pamit kepada awak media di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang telah meliputnya sejak terjaring operasi tangkap tangan (OTT). “Makasih ya teman-teman. Sekalian saya pamit, ya. Assalamualaikum ,” tukasnya seraya beranjak masuk ke mobil tahanan KPK . Sekadar informasi, KPK menetapkan Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno sebagai tersangka pada 30 Agustus 2017. Dia diduga menerima suap terkait pengelolaan dana jasa kesehatan di RSUD Kardinah dan pengadaan barang jasa di lingkungan Pemerintahan Kota Tegal Tahun Anggaran 2017. Selain Siti, penyidik menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka. Kedua orang itu, yakni Amir Mirza Hutagalung (AMH) Ketua DPD Partai Nasdem Kota Brebes dan Cahyo Supardi (CHY) Wakil Direktur RSUD Kardinah Tegal. Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka karena terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh penyidik KPK pada Selasa, 29 Agustus 2017 malam. Siti Mashita dan Amir diduga sebagai penerima suap. Sementara, Cahyo diduga selaku pemberi suap. Uang yang disita dalam OTT tersebut sebesar Rp 300 juta, yakni Rp 200 juta dan Rp 100 juta dari rekening Amir. Sebagai penerima, Siti Masitha dan Cahyo disangkakan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Related Posts

Comments are closed.