Buka Pameran Kampung Hukum, Ketua MA Ingatkan Etika di Media Sosial

Buka Pameran Kampung Hukum, Ketua MA Ingatkan Etika di Media Sosial

Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali mengingatkan soal etika dalam menggunakan media sosial. Ia mengatakan penggunaan media sosial saat ini cenderung mengarah pada hal negatif. “Namun, pemanfaatan media sosial saat ini telah berekembang pada hal-hal yang cenderung menggiring ke sisi negatif dari perkembangan teknologi. Perkembangan demikian telah memanggil filsuf teknologi untuk beretika di media sosial,” kata Hatta di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (1/3/2018). Hal itu disampaikan Hatta dalam pembukaan pameran Kampung Hukum bertajuk ‘Meningkatkan Integritas dan Kualitas Pelayanan Publik dalam Pelaksanaan Kemandirian Badan Peradilan’. Ia menyatakan etika dalam media sosial bukan hanya untuk melindungi hak pribadi, namun untuk menjaga agar aktivitas ruang publik tidak tercederai oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. “Etika dalam media sosial bukan hanya untuk melindungi hak pribadi. Tapi untuk menjaga agar aktivitas di ruang publik tidak tercederai oleh aktivitas tidak bertanggung jawab,” ucapnya. Pameran Kampung Hukum Mahakamah Agung di JCC (Foto: Haris Fadhil/detikcom) Ia menyebut hukum tidak akan mengekang kebebasan. Hatta berharap lewat kegiatan Kampung Hukum, masyarakat bisa memahami soal tugas penegak hukum dalam mencerdaskan masyarakat dalam penggunaan media sosial. “Hukum juga tidak untuk mengekang. Namun untuk menjadi norma. Berkaitan hal itu melalui pameran kampung hukum bisa berkontribusi membangun masyarakat yang cerdas khusunya dalam penggunaan media sosial,” ujar Hatta. “Kegiatan ini juga membuka kesempatan yang seluas-luasnya kepada publik untuk mengakses kemajuan lembaga hukum untuk meningkatkan pelayanan publik,” pungkasnya. Sejumlah lembaga ikut membuka gerai pameran dalam acara ini. Antara lain, KPK, Polri, PPATK, hingga BNN.

Baca juga :

“Dan para pimpinan imam dan ahli Taurat mencari jalan bagaimana mereka akan membunuh Jesus; karena mereka khawatir terhadap kaum itu; Lalu masuklah Setan kepada Judas Iskariot, murid kedua belas dari Jesus. Dan dia pergi menuju pada imam serta para kepala tentara Romawi bahwa dia akan mengkhianati Jesus untuk mereka. Mereka sangat gembira dan bermufakat akan memberikan kepadanya sejumlah uang. Lalu Judas menyetujuinya dan mencari kesempatan untuk menyerahkan Jesus kepada mereka tanpa sepengetahuan orang banyak.”

seperti di kutip dari https://arifkurniawan.wordpress.com

Dalam sabda berikutnya bisa kita lihat bahwa ‘Isa al-Masih menyesali kelahiran muridnya yang melakukan khianat itu dan ini sebenarnya sudah membuyarkan konsep dosa turunan yang harus ditebus oleh putera Maryam sebagaimana yang diajarkan dalam dunia Kristen; Bila memang ‘Isa dijadikan oleh Allah untuk menjadi penebus dosa Adam, maka seharusnya kelahiran Yudas Iskariot tidak perlu untuk disesali justru ‘Isa al-Masih dan semua orang Nasrani harus berterima kasih kepadanya, sebab dengan begitu akan ada yang namanya penebusan dosa.

seperti di kutip dari https://arifkurniawan.wordpress.com

Setelah kepergian Judas, Jesus sendiri tidak sudi menunggu dan berpangku tangan untuk ditangkap begitu saja oleh musuh-musuhnya. Jesus berencana untuk segera membuat jalur pertahanan demi menghadapi rencana jahat dari Judas, Jesus lalu menyiapkan para sahabat atau murid-muridnya yang lain untuk ikut pergi bersamanya dengan tidak lupa Jesus juga mengingatkan mereka akan adanya kemungkinan terjadinya bentrokan dan pertikaian nantinya. Dengan berhati-hati agar mereka semua tidak takut, Jesus mengajarkan cara mempertahankan diri dengan mempergunakan kata-kata yang indah.

seperti di kutip dari https://arifkurniawan.wordpress.com

Jesus tahu, untuk menghadapi para musuhnya hanya dengan mengandalkan tongkat yang senantiasa dibawa para muridnya (Markus 6:8) adalah suatu kekonyolan, maka dari itu dia memerintahkan untuk membeli pedang. Dan manakala para muridnya hanya berhasil mendapatkan dua bilah pedang dalam Lukas 22:38, Jesus tidak bisa berkata lain lagi, Jesus tahu bahwa perlawanan yang akan ia lakukan terhadap para musuhnya kemungkinan besar akan menjadi sia-sia, para muridnya ini tidak bisa melakukan hal yang lebih baik untuk menolongnya.

seperti di kutip dari https://arifkurniawan.wordpress.com

Bahkan dalam cerita Yohanes dikisahkan betapa ketika mengetahui kedatangan Judas dan musuh-musuhnya yang lain itu, Jesus secara serta merta menyambutnya diluar taman Getsemani dan mengajukan pertanyaan kepada Judas mengenai siapa orang yang dicari oleh Judas dan anehnya Judas sendiri tidak mengenali Jesus yang berdiri dihadapannya mengajukan pertanyaan tersebut, pertanyaan Jesus ini diulangnya sampai 3 kali dan lucunya pada pertanyaan yang kedua, Yohanes menceritakan seluruh musuh Jesus itu langsung rebah ketanah.

seperti di kutip dari https://arifkurniawan.wordpress.com

Kata yang menerangkan Allah telah mengangkat dia kepada-Nya itu merupakan sambungan dari ayat sebelumnya yang merupakan kata bantahan yang merefer kepada peristiwa penyaliban yang dijelaskan secara pasti dan tidak perlu ditambah atau dikurangi bahwa Isa tidak dibunuh dan tidak disalib melainkan disamarkan kepada mereka, dalam artian bahwa penyamaran itu terjadi atas diri ‘Isa al-Masih putera Maryam dengan pengangkatan jasad dan rohani ‘Isa kepada-Nya. Dan menggantikan orang lain untuk tersalibkan.

seperti di kutip dari https://arifkurniawan.wordpress.com

Kata terakhir ini sebenarnya merupakan kata kunci dari keterangan sebelumnya, dimana sesungguhnya dengan Keperkasaan-Nya, Kekuatan-Nya atau Kemampuan-Nya, Tuhan telah menyelamatkan dengan mengangkat dan menyamarkan Nabi ‘Isa alaihissalam /mungkin istilah sekarang ini dengan tekhnologi transformasi/ pada kejadian hari itu sehingga dia tidak berhasil dibunuh oleh tentara itu sekaligus juga tidak tersalibkan atau tergantungkan diatas kayu terkutuk (Galatia 3:13). Itulah Kebijaksanaan yang sudah ditetapkan Allah kepada Nabi Isa Almasih seperti yang terdapat pada bagian akhir ayat 4:158.


Baca juga : membuka kedok.doc

ĐĎॹá > ţ˙ ż Á ţ˙˙˙ Ť Ź ­ Ž Ż ° ą ˛ ł ´ ľ ś ˇ ¸ š ş ť ź ˝ ž Ä Ĺ Ć Ç ü D ˛ ł ÷ ˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙˙ěĽÁ [€ řż 0 :b bjbjŹúŹú eů ΐ ΐ ăÇ r ] 4 ˙˙ ˙˙ ˙˙ ˇ Ü Ü $ C Č    ˙˙˙˙ “ “ “ 8 Ë l 78 t “ /n † Ť= ^ > ( 1> : k> > Ż„ Ż„ Ż„ Šj Œj Œj Œj Œj Œj Œj $ ľr ˘ Wu P °j 9  Ż„ W~ X Ż„ Ż„ Ż„ °j k> > Ö? ém ĺ2 ĺ2 ĺ2 Ż„ č R k>  > Šj ĺ2 Ż„ Šj ĺ2 ĺ2


Baca juga :

Dan sangat tidak masuk akal bila ada orang kristen yang hanya tamat SMP. SMU, Atau juga orang kristen penunggu warnet yang mengatakan alqur’an tidak benar, Sedangkan ilmuan dunia yang Gelar mereka Prof. Dr. Dan mereka merupakan imuan yang diakuin dunia dibidangnya, dan keluaraan universitas ternama didunia, dan mereka juga peneliti dan penemu, membenarkan Alqur’an, dan ada orang kristen indonesia yang pendidikannya hanya sebatas SMP SMU SI,Menyalahkan kebenaran alqur’an, ini jelas tidak masuk akal, Dan saya pikir mereka ini adalah orang–orang yang bodoh iri hati dengki dan dalam hati mereka ada penyakit kebodohan yang luar binasa!!

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Dan kita biarkan orang kristen indonesia mengatakan alqur’an salah dan tidak benar, biarkan mulut mereka sampai berbusa menghujat alqur’an dan tidak ada ngaruhnya buat umat islam sebab ilmuan dunia telah mengakui kebenaran alqur’an, dan ini sangat jelas memukul iman kristiani sebab yang berbicara kebenaran alqur’an adalah ilmuan dunia, dengan bukti 1.8 milion setiap tahunya penduduk america dan eropa masuk islam, Sedangkan yang menghujat alqur’an. Kristen kelas coro kelas copy paste tentu tidak ada ngaruhnya sedikitpun buat kita umat islam

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Saya sangat terkesan dengan menemukan fakta-fakta kebenaran astronomi dalam Quran, dan bagi kami para astronom modern telah mempelajari potongan-potongan yang sangat kecil dari alam semesta, Kami telah memusatkan upaya kami untuk memahami bagian terkeci itu. Karena dengan menggunakan teleskop, kita dapat melihat bagian yang paling kecil dari langit tanpa berpikir tentang alam semesta. Dan alqur’an menjawab semua pertanyaan dan apa yang dikatakan alqur’an tentang astronomomi benar tidak ada kesalahan sedikitpun, dan alqur’an ini merupakan jalan dan patner buat saya untuk investigasi alam semesta. ”

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,Kanada. Persaud is Professor of Anatomy, Professor of Pediatrics and Child Health, and Professor of Obstetrics, Gynecology, and Reproductive Sciences at the University of Manitoba, Winnipeg, Manitoba, Canada. There, he was the Chairman of the Department of Anatomy for 16 years. He is well-known in his field. He is the author or editor of 22 textbooks and has published over 181 scientific papers. In 1991, he received the most distinguished award presented in the field of anatomy in Canada, the J.C.B. Grant Award from the Canadian Association of Anatomists. When he was asked about the scientific miracles in the Quran which he has researched, he stated the following:

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Dia mengatakan: Muhammad tidak bisa menulis dan membaca, seorang yang geniuspun tidak akan mampu membuat pernyataan yang menakjubkan dan akurat tentang fakta kebenaran ilmiyah.Dan Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. “ dan tidak menyulitkan akal saya untuk menerima dan mengatkan bahwa alqur’an adalah wahyu ilahi. We’re talking about 1400 years ago, you have some illiterate person making profound statements that are amazingly accurate, of a scientific nature…

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

In a relatively few ayahs (Qur’anic verses) is contained a rather comprehensive description of human development from the time of commingling of the gametes through organogenesis. No such distinct and complete record of human development such as classification, terminology, and description existed previously. In most, if not all instances, this description antedates by many centuries the recording of the various stages of human embryonic and fetal development recorded in the traditional scientific literature.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

6. Prof. DR. Keith L. Moore is a professor emeritus in the division of anatomy (department of surgery), former Chair of anatomy from 1974 to 1984[1] and associate dean for Basic Medical Sciences (Faculty of Medicine) at the University of Toronto, Ontario, Canada. He has also worked at the King Abdulaziz University in Jeddah, Saudi Arabia. Moreover, he is a founding member of the American Association of Clinical Anatomists (AACA). He was President of the AACA between 1989 and 1991[2]. He is most known for his textbooks on the subjects of anatomy and human embryology.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Telah jelas bagi saya bahwa pernyataan ini pasti berasal dari Allah melalui Muhammad, sebab hampir seluruh pengetahuan ini tldak ditemukan sampai beberapa abad setelahnya. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. “Karena pementasan embrio manusia sangat kompleks, karena proses berkelanjutan perubahan selama perkembangan, dan sistem klasifikasi baru dapat dikembangkan dengan menggunakan istilah yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Sunnah. Sistem yang diajukan lebih sederhana, komprehensif, dan sesuai dengan pengetahuan embriologi saat ini.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan Prof. Molecular dan Genetika Manusia, Baylor College Medicine, Houston, Amerika Serikat and Professor of Molecular and Human Genetics at the Baylor College of Medicine, Houston, Texas, USA. Formerly, he was Professor of Ob-Gyn and the Chairman of the Department of Ob-Gyn at the University of Tennessee, Memphis, Tennessee, USA. He was also the President of the American Fertility Society. He has received many awards, including the Association of Professors of Obstetrics and Gynecology Public Recognition Award in 1992. Professor Simpson studied the following two sayings of the Prophet Muhammad:

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Jika Anda menggabungkan semua ini dan Anda menggabungkan semua laporan yang dibuat dalam Al Qur’an dalam hal yang berhubungan dengan bumi dan pembentukan bumi dan ilmu pengetahuan pada umumnya, pada dasarnya anda bisa mengatakan bahwa pernyataan yang dibuat ada banyak cara benar, sekarang dapat dikonfirmasikan dengan metode ilmiah, dan dengan cara, kita bisa mengatakan bahwa Qur’an adalah buku teks ilmu pengetahuan sederhana untuk orang sederhana. Dan pernyataan alqur’an pada wakut alqur’an dituruan tidak dapat dibuktikan, tetapi metode ilmiah modern sekarang ini dapat membuktikan apa yang dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

12. E. Denisen Ross dari “Introduction to the Koran-George Sale”, p. 5, berkata: “Qur’an memegang peranan yang lebih besar terhadap kaum Muslimin daripada peranan Bible dalam agama Kristen. Ia bukan saja merupakan sebuah kitab suci dari kepercayaan mereka, tetapi juga merupakan text book dari upacara agamanya dan prinsip-prinsip hukum kemasyarakatan…..Sungguh sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa-masa ini, di mana ruang dan waktu hampir telah dipunahkan oleh penemuan-penemuan modern.”

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

14. . G. Margoliouth dalam buku “Introduction to the Koran” (kata pendahuluan untuk buku J. M. H. Rodwell), London, 1918, berkata: “Diakui bahwa Our’an itu mempunyai kedudukan yang penting diantara kitab-kitab Agama di dunia. Walau kitab ini merupakan yang terakhir dari kitab-kitab yang termasuk dalam kesusasteraan ini, ia tidak kalah dari yang mana pun dalam effeknya yang mengagumkan, yang telah ditimbulkannya terhadap sejumlah besar manusia yang telah menciptakan suatu phase kemajuan manusia dan satu tipe karakter yang segar.”

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

15. DR. John William Draper dalam buku “A History of the intelectual Development in Europe”, London, 1875, jilid 1 , p. 343-344, berkata: “Qur’an mengandung sugesti-sugesti dan proses moral yang cemerlang yang sangat berlimpah-limpah; susunannya demikian fragmenter, sehingga kita tidak dapat membuka satu lembaran tanpa menemukan ungkapan-ungkapan yang harus diterima olehsekalian orang. Susunan fragmenter ini, mengemukakan teks-teks, moto dan peraturan- peraturan yang sempurna sendirinya, sesuai bagi setiap orang untuk setiap peristiwa dalam hidup.”

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

20. Prof: Dr Maurice Bucaille: Ia adalah penulis best-seller,”The Bible, The Qur’an and Science” (1976). His classical studies of the scriptural languages, including Arabic, in association with his knowledge of hieroglyphics, have allowed him to hold a multidisciplinary inquiry, in which his personal contribution as a medical doctor has produced conclusive arguments. His work, “Mummies of the Pharaohs – Modern Medical Investigations” (St. Martins Press, 1990), won a History Prize from the Académie Française and another prize from the French National Academy of Medicine.


Baca juga :

Setakat ini bahasa selalu hidup seirama dengan perkembangan teknologi. Zaman perubahan sosial yang begitu hebat dan sebuah era yang begitu cepat yang sering disebut sebagai era “tunggang langgang” yaitu era yang tidak begitu jelas antara yang kiri dan yang kanan. Melihat era yang begitu cepat dan hebat, maka peranan bahasa amatlah penting. Bahasa merupakan media komunikasi yang primer dalam peradaban kehidupan umat manusia di planet bumi ini. Jika tidak ada bahasa, bisa dibayangkan dunia ini akan menjadi tanpa aktivitas dan terasa sepi. Penghuni planet bumi yang disebut manusia memerlukan bahasa sebagai media interaksi sosial dan juga peradaban keilmuan juga memerlukan bahasa, ini membuktikan bahwa kehidupan di jagat raya ini tidak mungkin tanpa bahasa. Peran bahasa di bidang keilmuan adalah sebagai pentransfer ilmu, alat pengembangan keilmuan, dan bahasa merupakan penghela ilmu lain dalam dunia pendidikan. Misalnya publikasi segala keilmuan jelas menggunakan media bahasa. Melihat fakta itu menjadikan bahasa merupakan hal yang esensial dalam segala aspek kehidupan. Bahasa mutlak diperlukan oleh manusia untuk mencurahkan segala pikiran dalam kehidupannya. Bahasa ibaratnya napas dalam kehidupan manusia, artinya sepanjang napas itu ada dalam tubuh manusia maka sepanjang itu pun bahasa melekat dalam kehidupan itu sendiri. Manusia tidak pernah menjadikan napas itu sebuah beban dalam hidupnya, justru napas itu merupakan sang jiwa yang penting untuk menjadikan manusia itu hidup. Begitu juga halnya dengan bahasa, manusia tidak pernah merasakan beban dalam berbahasa karena kapan manusia berhenti bernapas saat itu manusia akan berhenti berbahasa dan kapan berhenti berbahasa saat itu aktivitas dan proses berpikir pun akan berhenti. Berhentinya proses berpikir sebagai ciri manusia mati dan jika sudah mati maka bahasapun ikut lenyap. Mengingat begitu kompleks dan luasnya peranan bahasa dalam kehidupan maka bahasa selalu menarik untuk dikaji karena masalah bahasa tidak pernah kering untuk dikaji atau diteliti.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berbahasa adalah bertutur dalam bentuk untaian wacana yang disampaikan secara lisan maupun secara tertulis. Untaian tersebut didukung oleh hal yang paling kecil dalam sebuah bahasa yang disebut morfem sampai kewujud yang paling besar yaitu wacana. Wacana memuat rentetan kalimat yang berhubungan dan menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi lainnya, membentuk satu kesatuan informasi (Fatimah Djajasudarma, 2006 :1). Wacana memiliki untaian kalimat yang mendukung dari makna sebuah wacana. Wacana merupakan wujud penggunaan bahasa yang dibentuk oleh manusia sebagai pengguna bahasa dengan cara memilih topik pembicaraan dan menyusunnya dengan pola tertentu, menggunakan serta memilih kata, membentuk frasa, menyususn kalimat serta mwujudkannya yang lebih besar. Geertz (dalam Hikam. 1996:81) menyatakan memahami bahasa sebagai salah satu simbol kultural yang berfungsi memberikan orientasi, komunikasi, dan pengendalian diri kepada manusia, maka bagi Geertz bahasa tidak hanya dimengerti dalam fungsi kognitif belaka, tetapi lebih penting lagi dalam kapasitas penghasil kenyataan-kenyataan sosial. Memaknai pandangan Geertz berarti bahasa sebagai media komunikasi sosial untuk mengendalikan diri terutama dalam berbicara. Realitas ini menandakan bahwa keberhasilan suatu komunikasi sangat bergantung kepada keefektifan dan kekonsistensian dalam penggunaan kalimat dalam wacana. Begitu juga halnya komunikasi yang digunakan dalam dunia perpolitikan untuk sebuah kepentingan, yang sering disebut dengan komunikasi politik. Strategi komunikasi politik sangat diperlukan sebagai upaya menyalurkan isu politik melalui komunikasi agar tanpa hambatan untuk mencapai tujuan politik yang diharapkan. Media yang paling besar pengaruhnya sebagai strategi komunikasi politik untuk memperjuangkan ideologi partai adalah bahasa. Oleh karena itu tidak bisa dipungkiri lagi bahwa bahasa adalah senjata yang keampuhannya tidak diragukan lagi dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan di panggung politik. Kawan menjadi lawan dan lawan menjadi kawan dalam dunia politik merupakan suatu kewajaran , tentunya dalam konteks dunia politik. Peran bahasa tidak bisa dinomorduakan untuk menuju dan meraih kesuksesan seorang politikus dalam panggung politik. Bahasa dapat membuat orang lain menjadi “hitam” atau “putih” dan bahasa juga bisa membuat kawan jadi lawan. Begitu hebat dan kuatnya energi dan pengaruh bahasa dalam kehidupan manusia baik dalam kehidupan bermasyarakat, dalam dunia pendidikan maupun dalam panggung politik maka bahasa harus ditempatkan terdepan dalam hal tersebut. Baudrillard dengan tegas menyatakan the real monopoly is never that of technical means, but of speech ( Santoso, 2012:7). Bahasa memiliki kekuatan yang maha dahsyat untuk mengontrol perilaku individu, prilaku politukus, komunitas, atau masyarakat. Keterampilan seseorang dalam mendayagunakan , mengatur strategi dalam menggunakan bahasa dan mampu merekayasa kekuatan bahasa akan memiliki peluang untuk menggerakkan orang lain untuk tujuan tertentu ataupun sebaliknya, itulah taksu dan energi kekuatan dari bahasa.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bolinger dalam Santoso (2012) menyatakan bahwa guns don’t kill people, people kill people” bukan senjata yang membunuh orang, tetapi manusia sendirilah yang membunuh orang. Alat membunuh yang dimaksud dalam pemikiran Bolinger tiada lain adalah aspek bahasa. Melalui bahasa yang digunakan seorang manusia dapat membuat selamat orang lain, sebaliknya dengan bahasa pula manusia dapat mencelakakan orang lain. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia politik, lewat bahasa lawan politik bisa terpersuasif atau terpengaruh bahkan lewat bahasa bisa memenangi debat di panggung politik. Bahkan lewat bahasa yang digunakan oleh seorang politikus bisa terjebak dan dijebak karena berbeda penafsiran sehingga melahirkan konflik politik. Hal yang terpenting dalam konteks ini bahwa bahasa seseorang bisa mengangkat pencitraan dirinya ke arah yang lebih positif demi kepentingan politik. Politik selalu berkaitan dengan penguasaan terhadap orang banyak atau seni memengaruhi orang karena sejatinya politik adalah seni. Alat yang efektif digunakan untuk penguasaan itu adalah bahasa, di samping perilaku politik seorang politikus. Bahasa takkan pernah lepas dan steril dari dunia politik. Misalnya, pidato politik saat kampanye pemilu jelas menggunakan bahasa register politik atau fitur bahasa politik, maka jika dipandang dari kajian pragmatik bahasa pidato politik kemungkinan memiliki banyak implikatur dibalik janji-janji yang disampaikan kepada audien (Wijana dan Rohmadi. 2011 : 287). Oleh karena itu, pidato politik diperlukan tuturan istitusi seperti wacana strategis dan wacana komunikatif. Wacana strategis adalah wacana yang bermuatan kekuasaan ( power laden ) dan diatur oleh tujuan ( goal-directed ) sedangkan wacana komunikatif adalah wacana yang di dalamnya ada hubungan simetris antarpenutur dalam mencapai kesepahaman di antara penutur itu (Thornborrow. 2002 dalam Anang Santoso:123)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Survei yang dilakukan oleh Indobarometer menunjukkan pengetahuan masyarakat terhadap kasus Century cukup tinggi yakni 77 % responden, mengalahkan respon masyarakat atas program seratus hari SBY-Boediono dan kasus Bibit dan Chandra. Sebanyak 58 % masyarakat menilai kasus Century akibat salah kelola, bukan karena krisis keuangan internasional. Kemudian 43 % masyarakat melihat, Boediono dan Sri Mulyani adalah pihak yang bertanggung jawab atas pencairan dana itu. Meski 36,6 % menyatakan SBY dan keluarganya tidak menerima uang Century namun 48 % menyatakan kasus ini bisa merusak citra SBY. Masyarakat juga menaruh harapan besar kepada pansus Century DPR, 52,4 % yakin pansus Century akan mengungkap kasus ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Tentu saja ini menimbulkan opini publik yang sangat tidak diinginkan oleh SBY. Sampai kemudian akhirnya pansus Century memberikan laporan akhir terkait penyelidikan kasus ini sesuai dengan deadline yang diberikan oleh presiden. Laporan tersebut disampaikan pada rapat paripurna DPR, namun berakhir dengan kericuhan dan sidang terpaksa ditutup tanpa alasan yang jelas. SBY sebagai presiden kemudian ikut turun tangan. Sesuai janjinya, Presiden menyampaikan tanggapan atas hasil paripurna DPR tanggal 3 Maret 2010 terkait kasus Bank Century. Presiden SBY menyampaikan pidatonya dengan tegas, menjelaskan keputusan bailout Century. Berbagai hal bisa diusahakan dalam membuat sesuatu itu akan menjadi positif atau negatif. Termasuk salah satu di antaranya adalah melalui proses retorika. Retorika dipahami sebagian orang sebagai bentuk bahasa atau tulisan persuasif dan efektif yang bertujuan untuk mengendalikan realita guna memengaruhi audien tertentu. Model dan cara ini memang masih efektif untuk memengaruhi opini publik yang mulai menyimpang. Masyarakat yang mulai tidak percaya akan kredibilitasnya sebagai presiden, mulai membuat SBY kembali bekerja untuk memulihkan citranya tersebut. Salah satunya dengan melancarkan hal-hal yang berbau pencitraan melalui pidatonya. Kabar keterlibatan dan tidak mampunya SBY menangani kasus ini tentu saja membuatnya harus kembali memengaruhi opini publik agar berpihak padanya. Paparan di atas jelas ingin mengembalikan citra Presiden SBY ke dalam ranah yang positif lewat pidatonya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Deskripsi fenomena di atas menunjukkan bahasa sangat ampuh dipergunakan sebagai media pencitraan diri. Di samping efek positif dari bahasa yang digunakan untuk pencitraan diri seorang politikus ada juga efek negatifnya. Efek negatif yang dimaksud dari bahasa bisa dilihat dari penggunaan bahasa dalam panggung politik yang bisa memunculkan konflik politik, bahkan lebih dari itu bahasa bisa memicu peperangan umat manusia seperti pernah terjadi pada rezim diktator Jerman yang bernama Hilter bahwa lewat pidatonya memicu peperangan rakyatnya. Konflik politik yang sarat dengan kepentingan terjadi jika para komunikator politik memaknai kata secara politis yang sarat kepentingan politik yang mengabaikan makna leksikal dan lebih menekankan pada makna konteks. Praktik kewacanaan memberikan kontribusi bagi penciptaan dan pereproduksian hubungan kekuasaan termasuk di dalamnya ideologi politik yang disampaikan lewat pidato politik (Marianne dan Louise J. 2007 :119). Jadi pidato dalam konteks politik salah satu upaya memulihkan pencitraan diri demi power (kekuasaan) dan penanaman ideologi yang disertai dengan efek ideologinya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Realitas yang lain dari argumen di atas peneliti mengambil salah satu peristiwa sebagai contoh fakta konflik politik karena komunikasi bahasa. Konflik politik terjadi karena pemaknaan bahasa yang berbeda sudut pandang antara pembicara dan pendengar ( audience) . Perbedaan pandangan memaknai bahasa dalam komunikasi itu merupakan kegagalan yang fatal dalam berkomunikasi. Hal ini penulis membaca pada berita hariaan Bali Post edisi Minggu, 17 Februari 2013 yang berjudul “Gubernur Usir Anggota Dewan” saat simakrama gubernur Bali di wantilan gedung DPRD Bali Sabtu 16 Februari 2013 ( Bali post, 17 /2/2013). Pemicu konflik adalah hanya sebuah ujaran bahasa yang diucapkan atau diujarkan oleh peserta simakrama yaitu ujaran kata “pas” yang diucapkan oleh seorang anggota dewan dari fraksi PDIP (isi berita Bali Post). Secara leksikal makna kata “pas” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘tepat’, sedangkan makna pengujarannya atau makna dalam konteks politik dari kata “pas” akan melahirkan berbagai implikatur makna yang tersembunyi bergantung konteks orang, konteks situasi, dan konteks sosial dari bahasa itu. Kata “pas” akan bermakna politik jika diucapkan oleh seorang politikus apalagi yang mengujarkan kata tersebut sebagai lawan politiknya. Ujaran kata “pas” terlontar dari peserta simakrama yang saat itu Bali akan berlangsung perhelatan pemilihan gubernur maka jelas bagi lawan politik akan memaknai secara politis karena yang berbicara juga orang politik (konteks orang dan konteks situasi). Penafsiran makna “pas” oleh gubernur adalah penonjolan kepanjangan “Puspayoga Sukrawan”. Mengingat kata “Pas” merupakan akronim dari pasangan calon gubernur yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yaitu Puspayoga-Sukrawan. Puspayoga adalah kandidat calon gubernur periode 2013-2018 dan Sukrawan calon wakil gubernur yang mendampingi Puspayoga. Jika dimaknai secara leksikal kata “pas” bermakna tepat namun di sisi lain penggunaan kata “pas” dipergunakan jargon akronim politik untuk mengusung salah satu kandidat calon gubernur dari parpol PDIP untuk periode lima tahun ke depan, yaitu periode 2013-2018. Karena konteks situasi dan konteks orang yang mengujarkan kata “pas” saat itu maka konflik politik pun terjadi. Konflik itu muncul karena memaknai bahasa dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu yang pertama memaknai kata secara leksikal dan kedua memaknai kata dikaitkan dengan konteks orang dan situasi. Perbedaan pandangan ini melahirkan perbedaan menafsirkan makna kata. Gubernur Made Mangku Pastika yang saat penelitian ini dilaksanakan sedang menjabat sebagai gubernur Bali (konteks orang) dan juga kandidat gubernur Bali periode kedua (konteks situasi). Gubernur Made Mangku Pastika sesuai berita Koran harian Bali Post mengusir anggota dewan hanya karena melontarkan ujaran kata “pas” saat pertemuan ( simakrama ). Kekuatan bahasa bisa dibuktikan dari kasus terjadi di atas, betapa kuatnya pengaruh bahasa dalam dunia komunikasi. Kesalahpahaman antara penutur dengan petutur dalam konteks kasus di atas karena perbedaan memaknai secara ilokusi antara penutur dengan petutur .

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping kasus di atas peneliti juga pernah menghadiri pertemuan ( simakrama) guru-guru di Kabupaten Karangasem. Pada pertemuan itu peneliti kutip satu kalimat dari wacana yang bersifat deklaratif disampaikan oleh Bapak I Wayan Geredeg dan kalimat tersebut peneliti menafsirkan ada terkandung atau memuat makna secara politis. Wacana (kutipan kalimat) yang diujarkan yaitu “ boleh di mana-mana tetapi jangan ke mana-mana”, (disampaikan saat acara pertemuan/ simakrama guru-guru). Kenapa kalimat tersebut peneliti tafsirkan mengandung makna secara politis karena kalimat yang disampaikan oleh Bapak I Wayan Geredeg selaku bupati dan sekaligus Beliau selaku ketua DPC partai Golkar Kabupaten Karangasem. Itu berarti kalau dikaji dari perspektif ilmu pragmatik bahwa tuturan yang disampaikan oleh penutur dalam konteks kalimat di atas mengandung makna politis karena penutur (pembicara) saat bertutur (berbicara) masih ada napas politik yang melekat pada dirinya. Di samping itu juga karena saat tuturan (pengucapan) kalimat tersebut Bali sedang mengadakan perhelatan pemilihan gubernur Bali (konteks situasi). Dengan konteks situasi dan konteks orang yang mendasari ujaran tersebut akan memunculkan penafsiran pemaknaan ujaran secara politis juga bagi pendengar ( audience ) dan terutama peneliti. Implikatur dari wacana itu kalau dilihat dari konteks situasi (situasi saat ada kampanye Pilkada), yaitu situasi pemilihan gubernur Bali dan konteks orang (sebagai orang yang berkuasa, sebagai Bupati dan ketua Golkar Karangasem) sehingga register bahasanyapun cenderung menggunakan register bahasa politik, maka   sesuai dengan konteks dan register bahasa yang digunakan memunculkan implikatur makna secara politis. Implikatur makna politik dari ujaran tersebut adalah pendengar diajak untuk tetap memilih walaupun berada di mana tetapi tetap suaranya jangan dibawa kemana-mana pilih gubernur dan partai Golkar sebagai pengusung kandidat calon gubernur Bali (Made Mangku Pastika). Peneliti menafsirkan makna seperti itu karena orang yang bertutur itu adalah orang petinggi partai Golkar dan sebagai bupati yang masih memiliki pawer (kekuasaan) serta konteks situainya Bali sedang mengadakan perhelatan Pemilukada . Melihat fenomena di atas memberikan pemahaman betapa kekuatan peran bahasa dalam kehidupan berkekuasaan demi melanggengkan pawer (kekuasaannya). Bahasa salah satu yang digunakan sebagai peranti melanggengkan kekuasaan dan kepentingan politiknya. Ini menandakan bahasa (wacana) bukan sekadar sebagai alat komunikasi antar individu satu dengan yang lainya, antara masyarakat satu dengan yang lain bahkan lebih dari itu bahwa bahasa dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan kekuatan-kekuatan dalam konteks kekuasaan dalam menaklukkan yang dikuasainya. Bahasa bukan alat komunikasi yang netral, bahasa selalu mengabdi pembicara. Ketidaknetralan bahasa maka diperlukan suatu kajian dan analisis wacana kritis yang menempatkan makna kata sesuai dengan konteks situasi, konteks orang dan konteks ideologi (kepentingan politik). Menguatkan argumen tersebut maka benar apa yang dikatakan seorang pakar ilmu bahasa bahwa makna bukanlah sesuatu yang alamiah, tetapi dibangun dalam proses-proses sosial dan politik (Anang Santoso, 2003:8). Semestinya kesalahpahaman kasus saat pertemuan ( simakrama ) gubernur tidak akan  terjadi jikalau kedua belah pihak mengerti, paham terhadap konteks pembicaraan, dan yang terpenting lagi peka terhadap konteks (context sensitive) yakni konteks lingual, situasi, dan konteks orang. Kesalahpahaman tersebut karena penutur dan petutur memaknai kata “pas” itu dari sudut pandang konteks yang berbeda, yaitu penutur memaknai dari sudut konteks lingual sedangkan petutur memaknai dari sudut konteks orang, situasi, dan konteks politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Jika dikaitkan dengan ideologi, bahasa dapat menjadi alat untuk pencitraan diri dan memiliki taksu kekuatan di bidang politik. Bahasa sebagai taksu kekuatan tidak diragukan lagi bahwa di bidang politik bahasa dan bahasa dalam politik sangat memegang peranan yang penting untuk bisa menaklukan ideologi lawan politik. Bahasa dijadikan alat untuk melakukan aktivitas politik terutama dalam kampanye (pidato-pidato politik) misalnya melalui jargon bahasa maupun bahasa politik atau politik bahasa. Realitas ini menjadikan barometer keberhasilan pencitraan diri demi mewujudkan impian politik menggunakan peranti bahasa baik secara lisan maupun tulis. Di sini bahasa politik berperan melunakkan kekuatan politik lawan agar ideologi yang diinginkan diterima yang dibarengi dengan politik bahasa yang mapan dan berterima. Seperti apa yang pernah terlontar oleh Bung Karno “ Beri saya sepuluh pemuda, maka akan saya guncang dunia!”. Itu bisa masuk kategori bahasa politik seorang orator piawai yang mengguncang, mengajak, membujuk dan menggugah. Masih ingat pidatonya Hilter, dengan kepiawiannya berpidatonya bisa meyakinkan rakyatnya sehingga bisa menyeret api peperangan. Itu artinya kekuatan bahasa tidak terkira dan tidak diragukan lagi. Bagaimana seorang politikus berdebat seperti Ruhut Sitompul, seorang politikus saat berdebat, beradu argumen di parlemen karena tak mampu menahan diri melawan “kata-kata” politikus dari partai lain. Bagaikan kehabisan akal dan kehabisan bahasa, yang salah satunya disebabkan keterbatasan kosa kata. Ini menandakan kemampuan orang berbahasa (didukung penguasaan kosa kata) sangat membantu menaklukkan ideologi lawan politik dan jika tidak menguasai bahasa jelas kecerdasan emosional ( EQ ) akan mulai mendominan. Kehabisan kosa kata saat berbicara apalagi dalam debat akan memicu adrenalin dan melabilkan tingkat EQ ( Emotional Question ). Jadi fenomena-fenomena di atas menjadikan pembuktian bahasa dalam politik dan politik dalam bahasa sangan urgen. Dan juga kecerdasan emosional ( EQ ) sesorang tidak terkontrol salah satunya dipengaruhi oleh faktor bahasa, bisa karena tidak memahami implikatur dialog atau mungkin karena terbatasnya pembendaharaan kosa kata sehingga nalar orang berubah menjadi temperamental.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bahasa politisi para politikus itu beragam sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Ada yang bertenaga, meradang dan hati-hati penuh empati dan ada juga memohon dengan beragam majas demi terkabulkannya sebuah harapan. Meski apa yang digunakan, sangat bisa jadi, sesuai dengan latar belakangnya: pendidikan, lingkungan dan cara berpikir. Bisa ditambahkan, politik dan ideologi partainya. Walaupun yang belakangan ini begitu cair, sulit untuk dicerna. Mengingat partai politik adalah memperjuangkan ideologi terlebih lagi partai yang berada di luar pemerintahan yang disebut dengan partai oposisi pemerintah. Partai oposisi pemerintah di era pemerintahan SBY adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) selaku kontrol pemerintah dan sekaligus sebagai partai pemenang nomor dua setelah partai Demokrat, pasti menjadi partai pengontrol dan pengkritisi yang signifikan. Bahasa yang digunakan dalam konteks komunikasi politik sebagai partai oposisi sudah tentu menggunakan bahasa register politik baik dari aspek suprastruktur ( superstructure ), aspek struktur mikro ( micro structure ) maupun struktur makronya ( macro structure ). Wujud penggunaan bahasa pada partai oposisi dalam konteks berwacana jelas dibangun oleh faktor-faktor linguistik atau aspek kebahasaan yang memuat tujuan pembicara atau penulis teks dari wacana. Tujuan tersebut tidak hanya untuk menyampaikan pesan semata, tetapi lebih dari itu, yakni untuk menyampaikan gagasan, pandangan, dan memperjuangkan kepentingan (ideologi). Praktik berwacana ( discursive practice ) sesorang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengarahkan, memengaruhi, membatasi perhatian, dan bahkan bisa merekayasa bathin pembaca atau pendengar. Berdasarkan pandangan itu maka wacana dapat dikaji dari aspek suprastruktur ( superstructure ), struktur mikro ( micro structure) , dan struktur makro ( macro structure) . Suprastruktur ( superstructure ) yang dimaksud adalah bagaimana pendahuluan, isi dan penutup saat memberikan pidato-pidato politik seorang ketua partai oposisi atau bagaimana suprastruktur yang digunakan saat mengkritisi pemerintah. Aspek struktur mikro ( micro structure) yang dimaksud adalah pilihan kata, kalimat, dan stilistika bahasa yang digunakan oleh seorang ketua dalam teks-teks pidatonya. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat ( local meaning ) yang dapat meliputi struktur gagasan, peranti kohesif dan kepaduan atau kesatuan gagasan. Struktur makro ( macro structure) adalah implikatur yang diinginkan oleh sang pembuat teks. Struktur makro mengkaji makna secara keseluruhan ( global meaning ) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kajian-kajian suprastruktur, mikro, dan makro wacana dalam praktik berbahasa khususnya bahasa pidato politik pada prinsipnya merupakan suatu upaya penguasaan hegemoni demi menanamkan ideologi politik dan kepentingan untuk memengaruhi orang lain dalam konteks hegemoni politik. Oleh karena itu analisis wacana dengan pandangan kritis menjadi begitu penting untuk dipahami. Mengingat berpolitik adalah seni memengaruhi dengan strategi berbahasa. Begitu ampuhnya peran bahasa sebagai alat pertarungan dalam dunia politik maka perlu ada sebuah kontrol berbahasa untuk memersuasif lawan politik yang memiliki ideologi yang berbeda. Akan tetapi, semakin terkontrol bahasa yang digunakan dalam ranah politik semakin diulas oleh lawan politik baik dari bahasa politik maupun dari konteks ideologinya. Kontrol merupakan pemicu munculnya konflik karena semakin ada kontrol konflik akan muncul dan di mana ada konflik di situ ada permainan politik. Hal ini didukung oleh pernyataanya Birch 1996 dalam Santoso (2012 :219) mengatakan “ Di mana ada kontrol, di situ terdapat konflik, dan di mana ada konflik di situ selalu politik. Tidak ada tindak komunikasi, tidak ada masalah yang tampak sederhana dan innocent dapat melarikan diri dari politik” Dalam pandangan Rakhmat dalam Santoso mengatakan berbicara masalah politik tidak dapat terlepas dari persoalan “ideologi”, dalam perumusan dan penyebaran ideologinya, peran bahasa sangat penting (Santoso,2012 hal: 13-14). Berikut Pandangan Tampubolon, sifat hubungan politik antara penguasa dan rakyat akan memengaruhi ragam bahasa politik (Susanto,2012, 6). Jika bahasa masuk sudah ke ranah politik maka sudah berbicara bahasa dan seni dalam menanamkan ideologi kepada lawan politik. Dan di kalangan politikus, bahasa bisa ditekuk-tekuk sesuai tujuan dan harapan pembicara. Rakyat menjadi begitu dibingungkan menafsirkan dan memaknai bahasa yang digunakan oleh para politikus secara tepat. Sebenarnya sedang berbicara apa dan maksud atau sasarannya mau ke mana? Walau rakyat kerap dilibatkan untuk kepentingan dalam wacana itu. Baik dalam jargon, kampanye, keputusan dan teks dalam undang-undang atau dalam pidato-pidato politik, bila perlu. Dengan bahasa, orang dapat membungkam lawan politiknya. Bahasa dapat mengubah opini publik terhadap suatu masalah. Bahasa pun dapat membujuk dan meyakinkan khalayak terhadap suatu argumen politik. Melalui pendekatan bahasa, seseorang dapat dijadikan pendukung setia suatu partai politik. Melalui pidato politik dengan menggunakan bahasa politik yang tepat dan politik bahasa yang tepat publik akan bisa terpengaruh. Kekuatan bahasa telah mampu mendongkrak popularitas seorang politikus. Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa telah merasuki dunia politik dan bisa mengubah pemikiran publik. Bahasa politik itu adalah bahasa yang digunakan oleh elit politik dalam memperjuangkan kepentingan politik tertentu. Bahasa politik memeroleh tempat yang strategis karena berbagai kepentingan elit diperjuangkan melalui bahasa yang dikemas dalam cara tertentu dalam percaturan politik tingkat tinggi (Yudi Latif dan Subandy Ibrahim, 19). Oleh karena itu  seorang politikus harus menguasai register bahasa politik untuk bisa menguasai simpati masyarakat sesuai dengan kehendaknya. Bahasa dianggap sebagai senjata ampuh dan sesuatu yang sebenarnya hanya bersifat kepentingan individu dikemas menjadi sesuatu yang tampaknya menjadi kepentingan orang banyak. Sesuatu yang sebenarnya hanya kepentingan kelompok dikemas menjadi sesuatu yang tampaknya menjadi kepentingan nasional atau kepentingan masyarakat banyak. Sejalan dengan pendapat Orwell dalam Santoso (2012,221) bahwa pada prinsipnya bahasa politik adalah pembelaan terhadap sesuatu yang tidak pantas dibela. Bahasa politik mesti dipahami dan dibedah dengan pandangan kritis atau pisau kepentingan. Bahasa senantiasa berdenyut dan berhembus dalam setiap napas politik di Indonesia. Dalam sejarah dunia, justru kepandaian berbicara atau berpidato merupakan instrumen utama untuk memengaruhi massa . Bahasa dipergunakan untuk meyakinkan orang lain. Dan kemampuan ini umumnya dimiliki oleh tokoh penting seperti para Presiden, politikus, ketua-ketua atau tokoh-tokoh partai politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sejalan dengan adanya Pemilihan Umum (Pemilu) baik legislatif maupun pemilihan kepala daerah atau presiden maka bahasa menjadi media yang sangat penting digunakan untuk memenangi pertarungan politik. Seorang calon seperti calon presiden, calon gubernur, dan calon bupati memerlukan pencitraan diri yang positif saat pemilu, yakni melalui jargon-jargon politik atau bahasa politiknya sebagai media ideologi politik yang disampaikan lewat pidato-pidato politiknya (lisan maupun tulis). Kekuatan bahasa dapat digunakan untuk membangun kepercayaan publik sudah sepatutnya dimiliki oleh orang yang berkecimpung di panggung politik untuk bisa memainkan peran politiknya secara baik. Gunawan (1992:184) dalam Wijana menyatakan bahwa selain untuk menyampaikan amanat, tugas, dan kebutuhan penutur, tujuan komunikasi adalah menjaga atau memelihara hubungan sosial penutur dengan pendengar dan yang terpenting lagi adalah memelihara hubungan komunikasi politik. Mengingat begitu pentingnya bahasa digunakan media komunikasi dalam pertarungan politik maka bahasa harus digunakan sesuai dengan konteksnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pidato politik merupakan pidato yang disampaikan dengan tujuan dan target tertentu yang disebut dengan kepentingan. Pidato politik memerlukan sebuah bahasa yang politis yang disebut dengan bahasa politik. Mengingat bahasa politik adalah bahasa yang digunakan para politikus maka penelitian terhadap bahasa politik dengan pisau analisis wacana kritis dengan pandangan kritis sangat perlu. Dalam pandangan Beard penelitian terhadap bahasa politik (BP) khususnya yang digunakan oleh para politikus dalam berpidato dapat membantu memahami bagaimana bahasa digunakan dalam persoalan-persoalan seperti 1. Siapa yang ingin berkuasa, 2. Siapa yang ingin menjalankan kekuasaan dan 3. Siapa yang ingin memelihara kekuasaan (Beard, 2000: 2 dalam Santoso, 2003 : 1). Berpijak pada paparan di atas bahwa bahasa politik (BP) digunakan untuk mengacu pada pemakaian bahasa oleh rezim pemerintah yang berkuasa dan agen partai politik dalam menggerakkan masyarakat banyak agar mau dengan apa yang menjadi harapan dan kepentingan sang orator politik. Bahasa politik (BP) termuat ideologi dan kekuasaan untuk mencapai maksud-maksud atau tujuan politik tertentu. Hal itu jelas menganalisis wacana teks pidato politik tidak hanya melihat teks tersebut semata-mata sebagai fenomena linguistik, tetapi juga sebagai fenomena sosial, yang menurut Van Dijk disebut dengan kognisi sosial. Analisis kajian tersebut bisa dilakukan dengan pendekatan formal dan pendekatan forma-fungsional secara dialektis dengan pandangan kritis. Pandangan pendekatan formal, wacana berwujud kalimat-kalimat yang runtut dan utuh. Wacana dibangun dengan struktur tertentu (Schiffrin, 2007:24). Sedangkan pandangan yang melihat teks-teks sebagai wacana sesuai dengan pandangan formal-fungsional secara dialektis yang disebut dengan pandangan kritis. Fairclough (1995) dalam Jufri (2006:25) menyatakan bahwa dalam pandangan kritis, dimensi kewacanaan secara simultan meliputi dimensi teks yang bekaitan dan interpretasi teks, dan dimensi praktik sosial kultural. Hal ini dapat dilihat pada karakteristik dari analisis wacana yang meliputi, tindakan, konteks, historis, kekuasaan, dan ideologi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dari segi bentuk, Teks Pidato politik Ketua Umum partai oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dalam hal ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mempunyai struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro tersendiri. Mengingat teks pidato politik memiliki tujuan secara politik. Kemudian dari aspek struktur makro penggunaan bahasa, tulisan-tulisan tersebut memuat ideologi dengan melibatkan relasi kekuasaan agar pendengar dapat menerima. Dengan kata lain, pilihan bahasa pada teks pidato mencerminkan pandangan pembicara. Pembicara mengontrol pembenaran itu dengan alasan beragam melalui bahasa-bahasa dengan memanfaatkan aktor kekuasaan, sosial budaya, adat, dan partainya. Dalam konteks itu terdapat jalinan ideologi dan kekuasaan yang menunjukkan posisi penulis/pembicara, sebagai komunitas yang mendominasi sebagai orang yang berkuasa dan pendengar/pembaca yang didominasi sebagai orang yang lemah. Posisi penulis / pembicara mencerminkan bahwa ia berupaya mendominasi pendengar. Hal tersebut berarti bahwa teks-teks pidato itu tidak hanya merupakan fenomena linguistik, tetapi juga merupakan fenomena sosial (sosiolinguistik). Di samping itu juga perlu disadari bahwa bahasa tampil sebagai representasi dari ruang bagi pegelaran ( deployment ) berbagai macam kuasa. Oleh karena itu, bahasa lantas dilihat pula sebagai salah satu ruang ( space ) tempat konflik-konflik berbagai kepentingan, kekuatan, kekuasaan, proses hegemoni dan hegemoni tandingan ( counter-hegemony ) terjadi (A.S. Hikam,1996:77).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian aspek bahasa dalam pidato politik yang disampaikan oleh M.S. menggunakan pisau bedah analisis wacana kritis karena bisa membongkar secara kritis makna apa yang tersembunyi ( latent ) dan nyata ( manifest ) dalam pidato politik dimaksud. Penelitian ini nanti bisa berguna dalam ranah pendidikan khususnya dalam pengajaran dan pengembangan materi berbicara khusunya berpidato yang bersifat persuasif dengan bingkai karakter bangsa. Di samping itu mempersiapkan peserta didik terutama siswa SMA untuk mempersiapkan terjun ke dalam dunia politik dengan asas demokrasi baik yang berskala nasional, maupun daerah dan terutama bisa diterapkan pada sekala kecil misalnya pemilihan ketua Osis di sekolah-sekolah. Dengan pengajaran materi pidato yang tepat dan teknik memengaruhi pendengar ( audience) nanti akan melahirkan calon-calon intelektual dan politikus yang mempunyai prinsip, karakter baik, dan bukan semata-mata mencari kemenangan. Di samping itu, para siswa mempunyai kemampuan berbahasa yang kuat dan kritis sebagai bekal terjun dalam kehidupan masyarakat politik yang bermartabat dan berkarakter.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Trina Desryantini dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro) menyimpulkan bahwa struktur mikro yang digunakan penulis dalam membangun wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post adalah pola pengembangan deduktif dengan menggunakan aspek sintaksis, semantik dan retorik bervariasi. Hasil penelitian dari aspek struktur makro yang digunakan penulis pada wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post terdiri atas pengungkapan ideologi. Pada prinsipnya ideologi penulis menolak judi togel dengan argument agama, budaya (adat), sosial, dan hukum. Penelitian sejenis yang lain adalah tesis I Wayan Numerteyasa yang berjudul “ Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menengah Sekecamatan Rendang Tahun 2011.”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dilaksanakan dengan menerapkan prinsip bahwa (1) bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau kaidah kebahasaan, (2) penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir manusia.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Jenis-jenis teks tersebut dapat dibedakan atas dasar tujuan (yang tidak lain adalah fungsi sosial teks), struktur teks (tata organisasi), dan ciri-ciri kebahasaan teks-teks tersebut. Sesuai dengan prinsip tersebut, teks yang berbeda tentu memiliki fungsi yang berbeda, struktur teks yang berbeda, dan ciri-ciri kebahasaan yang berbeda. Dengan demikian, pembelajaran bahasa berbasis teks merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk menguasai dan menggunakan jenis-jenis teks tersebut di masyarakat. Dan yang terpenting bagi guru-guru bahasa Indonesia dalam mengajarkan bahasa Indonesia terutama materi pidato dan khusunya siswa-siswa SMA agar mempunyai bekal tentang pidato persuasif utamanya pidato politik sebagai bekal terjun ke masyarakat dan dunia politik. Di samping itu Kurikulum 2013, buku siswa kelas X ini juga memuat lima pelajaran yang terdiri atas dua jenis teks faktual, yaitu laporan hasil observasi dan prosedur kompleks; dua jenis teks tanggapan, yaitu teks negosiasi dan teks eksposisi; dan satu jenis teks cerita, yaitu teks anekdot.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Mengingat pentingnya bahasa dalam panggung perpolitikan untuk pencitraan yang positif dan menanamkan ideologi (kepentingannya) bagi kalangan politikus memaknai maksud yang ingin disampaikan dalam wacana dalam konteks dan situasi politik dalam menancapkan kuku ideologinya , maka peneliti merasa tertarik mengangkat judul “ Analisis Wacana Kritis (AWK) Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “ Teks pidato yang diteliti adalah teks pidato partai politik dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) merupakan partai yang berada di luar pemerintahan karena Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tidak ikut dalam jajaran kabinet pemerintahan SBY dari partai demokrat. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memosisikan sebagai partai oposisi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian yang menggunakan pisau bedah yang berupa teori analisis wacana memiliki ruang lingkup kajian yang sangat luas . Keluasan itu mencakup struktur supra, mikro dan makro. Struktur supra mencakup struktur yang melingkupi wacana dari pendahuluan, isi dan penutup. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) yang menyangkut aspek sematik , sintaksis, stilistika, majas, leksikalisasi, relasi makna, modus kalimat, strategi kehadiran kata ganti, struktur teks, dan retorika. Di samping menyangkut aspek yang sudah disebutkan di depan struktur mikro dapat juga berkaitan dengan implikatur (konvensi kebermaknaan penggunaan kata-kata dalam tuturan), praanggapan (berupa pola penautan proposisi dalam kalimat, baik dihadirkan atau tidak dalam paparan bahasanya), dan inferensi (kesimpulan oleh pembaca atau pendengar sewaktu memahami paparan bahasa). Struktur makro mengacu pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana dalam konteks ini adalah wacana pidato politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian tentang Analisis Wacana Kritis (AWK) Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terpokus pada struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro dengan memperhatikan tiga dimensi/bangun yaitu dimensi teks, dimensi kognisi sosial, dan dimensi konteks sosial. Kajian terhadap superstruktur mencakup pendahuluan teks pidato, isi pidato, dan penutup pidato politik. Kajian struktur makro mencakup ideologi atau pandangan penulis dalam upaya mendominasi pendengar agar terpengaruh dan mau mengikuti apa yang dikehendakinya. Kajian mikro mencakup pola pengembangan paragraf, struktur, stilistika dan peranti kohesif leksikal dan gramatikal.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan kontribusi terhadap keilmuan terutama bagi perkembanganm dan pengembangan teori tentang analisis wacana khususnya Analisis Wacana Kritis (AWK) pada teks pidato politik dalam rangka pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia khusunya pada materi pengajaran pidato persuasif di SMA. Penelitian ini diharapkan dapat membedah secara kritis ideologi dan hal-hal tersembunyi yang terdapat dalam teks pidato politik. Analisis Wacana Kritis (AWK) dapat meretas secara tuntas unsur-unsur struktur supra, struktur mikro, dan struktur makro pidato politik yang dikaitkan dengan konteks, kondisi sosial politik masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini dapat dipakai referensi atau rujukan dalam rangka pengembangan bahan ajar pembelajaran materi pidato pada mata pelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMA khususnya kelas XII. Apalagi siswa kelas XII sudah menginjak umur 17 tahun maka hak-hak politiknya sudah bisa dipergunakan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Secara praktis penelitian ini memberikan sumbangan dan kontribusi keilmuan di kalangan masyarakat akademik terutama yang tertarik pada ilmu linguistik khususnya tentang analisis wacana. Di kalangan masyarakat akademis dapat memberikan pemahaman tentang struktur supra yakni skematik dari teks pidato, pemahaman tentang struktur mikro yakni dari tatanan kata sampai ketatanan paragraf yang digunakan dalam tek pidato, dan pemahaman tentang struktur makro yakni hal-hal yang tidak tampak atau tersembunyi ( latent ) bisa menjadi eksplisit atau nyata. Di samping itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan atau referensi oleh guru-guru bahasa Indonesia sebagai bahan pengembangan materi pelajaran bahasa Indonesia khusus menyangkut materi berbicara atau materi berpidato persuasif. Di samping itu kalangan dunia pendidikan yang merupakan sumber pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter bisa dipergunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama siswa-siswi yang sudah kelas XII untuk mempersiapkan diri terjun ke dalam masyarakat baik sebagai pemerhati dan atau terjun ke panggung politik. Maka lewat materi pengajaran membaca dan berbicara pada submateri berpidato yang bercorak persuasif siswa bisa menyampaikan pikiran kritis dan belajar memperjuangkan ideologinya. Dan manfaat terakhir yaitu bagi peneliti yang lain yang tertarik pada penelitian wacana kritis, penelitian ini bisa digunakan salah satu referensi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping itu, dilihat dari perspektif dunia pendidikan bahwa analisis wacana kritis pada teks politik sangat bermanfaat bagi kalangan siswa, terutama siswa SMA khususnya siswa SMA kelas XII yang sudah menginjak umur 17 tahun dan secara hukum sudah memiliki hak-hak politik, baik sebagai pemilih maupun hak untuk dipilih. Mengingat dalam kurikulum tahun 2004 pada materi pelajaran membaca dan berbicara kelas XII yaitu yang pertama Standar Kompetensi (SK) tiga yaitu memahami artikel dan teks pidato pada Kompetensi Dasar (KD) 3.2. membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat. Yang kedua pada Standar Kompetensi sepuluh yaitu mengungkapkan informasi melalui presentasi program/proposal dan pidato tanpa teks pada Kompetensi Dasar (KD) 10.2 berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada dan sikap yang tepat. Materi pidato baik menyangkut materi memproduksi teks pidato maupun materi cara menyampaikan pidato secara persuasif sangat bermanfaat sekali untuk bekal siswa siswi terjun ke masyarakat. Pidato secara persuasif adalah pidato yang tujuannya memengaruhi audien atau pendengar agar terpesuasif/terpengaruh oleh isi pidatonya. Pidato politik salah satu contoh jenis pidato persuasif untuk membujuk, merayu atau memengaruhi pendengar. Apalagi kurikulum 2013 menitikberatkan pembelajaran berbasis teks dengan pendekatan saintifik ( scientific) .dan komunikatif. Pendekatan saintifik dan komunikatif pada mata pelajaran bahasa Indonesia peserta didik (siswa) dituntut untuk berpikir kritis, ilmiah, prosedural, dan metakognitif maka analisis wacana kritis sangat penting untuk pembelajaran bahasa Indonesia di kalangan siswa SMA. Materi pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan saintifik ( scientific) dan komunikatif yang berbasis pada fakta atau fenomena artinya dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Media komunikasi yang paling penting bagi manusia untuk melakukan interaksi sosial adalah bahasa. Kenyataannya bahasa menjadi aspek yang amat penting dalam melakukan sosialisasi (berinteraksi sosial) dengan sesama anggota masyarakat. Interaksi sosial dilakukan manusia karena mengingat manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial (zoon politicon ). Bahasa tidak bisa digantikan perannya di masyarakat. Manusia dapat menjalin hubungan sosial dengan menggunakan bahasa. Selain itu, dengan bahasa, manusia dapat menyampaikan berbagai berita, pikiran, pengalaman, pendapat, kritik, keinginan pada orang lain (Kurniawaan dalamYoce Aliah, 2009 :1). Selanjutnya Menurut Yoce Aliah Darma (2009:1), bahasa terdiri atas tataran fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan wacana. Wacana didukung oleh beberapa paragraf, beberapa paragraf didukung oleh beberapa klausa atau kalimat dan kalimat didukung oleh beberapa frasa dan frasa didukung oleh beberapa kata sampai yang terkecil yang disebut dengan morfem. Hakikat wacana ditentukan oleh antarhubungan kalimat, tetapi yang lebih penting adalah konteks sosial dan sistem komunikasi secara keseluruhan (Kutha Ratna. 2009:220). Istilah wacana dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, komunikasi sastra,dan sebagainya. Pembahasan wacana adalah pembahasan bahasa dan tuturan yang harus dalam satu rangkaian kesatuan situasi atau dengan kata lain, makna suatu bahasa berada dalam rangkaian konteks dan situasi. Wacana juga bisa dipakai dalam ilmu politik sehingga ada muncul wacana politik, sebatas wacana atau baru wacana . Ada banyak definisi tentang wacana. Berkaitan dengan hal itu, pada subbab berikut dipaparkan tentang hakikat wacana dan jenis-jenis wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kata wacana dalam bahasa Indonesia dipakai sebagai terjemahan kata discourse dalam bahasa Inggris. Kata discourse secara etimologis berasal dari bahasa latin, yaitu discursusus ‘lari kian kemari’. Kata discourse itu diturunkan dari kata discurrere . Bentuk discurrere itu merupakan gabungan dari dis dan currere ‘lari, berjalan kencang’ (Wabster dalam Baryadi 2002:1). Selanjutnya menurut Badudu (dalam Eriyanto 2001: 2), wacana memiliki dua pengertian, yaitu (1) Rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu; (2) Kesatuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sehubungan dengan hal itu, dalam pengertian linguistik, wacana merupakan unit bahasa yang lebih besar dari kalimat (Eriyanto, 2001: 3). Dalam hal ini Analisis wacana dalam studi linguistik tradisional lebih memperhatikan pada kata, frasa, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. Kebalikan dari analisis wacana tradisional, lebih memusatkan perhatian pada taraf yang lebih tinggi di atas kalimat seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada taraf yang lebih besar dari kalimat. Lebih lanjut dinyatakan oleh Baryadi (2002:2) bahwa istilah wacana dan discourse dipakai dalam istilah linguistik. Dalam hal ini, wacana dimengerti sebagai satuan lingual yang berada di atas satuan kalimat. Hal ini sejalan dengan pendapat Hymes (dalam Scriffin, 2007: 28) yang menyatakan bahasa adalah bahasa di atas kalimat atau di atas klausa. Hal itu dapat dilihat pada bagan berikut ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Hakikat wacana seperti diuraikan tersebut pada dasarnya beranjak dari pandangan formal. Berdasarkan pendekatan formal, wacana berwujud kalimat-kalimat yang runtut dan utuh. Wacana dibangun dengan struktur tertentu. Wacana dapat pula beranjak dari pandangan fungsional, yakni wacana dipandang sebagai bahasa dalam penggunaan. Dengan cara pandang tersebut, wacana dipahami sebagai peristiwa komunikasi, yakni perwujudan dari individu yang sedang berkomunikasi. Dalam hal ini, bahasa yang digunakan oleh pembicara dipandang sebagai wujud dari tindakan pembicaranya (Schiffrin, 2007:24).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengertian wacana dapat dipahami berdasarkan pandangan fungsional. Pengertian seperti ini dapat dilihat pada pandangan Samsuri (1987:1), yaitu wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi yang dapat menggunakan bahasa lisan dan bahasa tertulis. Itu berarti, wacana mempelajari bahasa dalam pemakaiannya. Berdasarkan pandangan di atas dapat dikatakan bahwa wacana tidak bisa terlepas dari konteks baik konteks situasi, konteks sosial maupun konteks orang yang melingkunginya. Menurut Norman Fairclough (dalam Yoce) wacana adalah bahasa yang digunakan untuk merepresentasikan sesuatu praktik sosial, ditinjau dari sudut pandang tertentu. Berdasarkan konsep tersebut wacana tidak bisa dilepaskan dengan konteks sosial. Jack Ricards, et al. (1987:83-84) dalam Longman Dictionary of Applied Linguistik, menyatakan bahwa wacana ( discourse ) merupakan contoh umum bagi contoh-contoh penggunaan bahasa, yakni bahasa yang diproduksi sebagai hasil dari suatu tindakan komunikasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa wacana menekankan pada segi pemakaian bahasa Hal ini sesuai dengan pendapat Darma (2009:1) yang menyatakan bahwa wacana adalah pembahasan bahasa dan tuturan yang harus ada dalam suatu rangkaian kesatuan situasi. Pandangan di atas sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa wacana   adalah   rangkaian   ujar   atau   rangkaian   tindak   tutur   yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam suatu   kesatuan   yang   koheren,   dibentuk  oleh   unsur   segmental   maupun nonsegmental bahasa (Sobur dalam Darma, 2009: 3). Menurut Yoce (2013) mengatakan wacana adalah proses komunikasi, yang menggunakan simbol-simbol, yang berkaitan dengan interpretasi dan peristiwa-peristiwa.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Hakikat wacana juga dapat dikembangkan berdasarkan pandangan formal dan fungsional. Artinya, bahwa aspek-aspek kebahasaan yang disusun dan digunakan oleh pembicara dipandang sebagai wujud dari tindakan pembicaranya (Schiffrin, 2007:24). Berdasarkan pandangan tersebut, hakikat wacana tampak pada pandangan Tarigan (1987:27), yaitu wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi, yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis. Selain itu, wacana dapat dipandang sebagai ujaran, yakni dipahami sebagai suatu kumpulan unit struktur bahasa yang tidak lepas dari konteks. Dengan cara pandang tersebut, keberadaan kalimat dalam suatu wacana tidak hanya dipandang sebagai sistem ( langue ), tetapi juga dipandang sebagai parole . Meskipun ujaran dalam suatu wacana disusun berdasarkan gramatika (sistem bahasa), tetapi makna ujaran timbul itu karena lawan bicara juga memperhatikan konteks penggunaan bahasanya yang disebut ujaran dan pengujarannya. Dengan demikian, selain kaidah tata bahasa, konteks penggunaan bahasa juga harus diperhatikan pada saat menyusun sebuah wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dalam perkembangannya, pandangan formal dan fungsional dikenal dengan pandangan kritis.Menurut Fairclough dan Wodak (dalam Darma, 2009) dalam pandangan kritis, wacana dilihat sebagai pemakaian bahasa, baik tuturan maupun tulisan yang merupakan bentuk dari praktik sosial. Menggunakan wacana sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialektis di antara peristiwa deskriptif (menggunakan bahasa) tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi. Wacana ini dapat memproduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan perempuan, kelompok mayoritas dan minoritas melalui perbedaan representasi dalam posisi sosial yang ditampilkan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan uraian tentang wacana dari beberapa ahli bahasa tersebut, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pendekatan formal, wacana adalah satuan bahasa di atas kalimat yang terlengkap dan terluas; berdasarkan pendekatan fungsional, wacana adalah rekaman peristiwa komunikasi dengan menggunakan bahasa, baik secara lisan maupun tertulis dalam konteks interaksi yang mempunyai makna, maksud, atau tujuan tertentu. Pendekatan formal dan fungsional secara dialektis, memandang wacana sebagai rangkaian tuturan lisan atau tulisan yang teratur yang mengungkapkan suatu hal (subjek). Dalam pandangan ini, wacana dapat dikatakan sebagai pemakaian bahasa, baik tuturan maupun tulisan yang merupakan bentuk dari praktik sosial. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi atau pandangan penulis dalam konteks sosial.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Realitas sebuah wacana itu berbentuk rangkaian kebahasaan dengan semua kelengkapan struktur bahasa seperti apa adanya (Yoce, 2009:7). Akan tetapi, pada pihak lain wacana dapat juga berwujud sebagai rangkaian nonbahasa. Wacana dapat diwujudkan dalam bentuk lisan dan tulisan yang bisa ditampilkan di depan umum/publik. Strategi priming adalah salah satu teknik menampilkan wacana di depan publik. Wujud wacana di depan publik sering disebut dengan pidato. Tampilan suatu wacana bisa berupa tulisan ( text ), ucapan ( talk ), tindakan (act ) atau berupa peninggalan ( artifact). Oleh karena itu wacana selalu ada makna dan citra yang dinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan baik secara nyata maupun secara tersembunyi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Secara esensial wujud dan jenis wacana dapat ditinjau dari sudut realitas, media komunikasi, cara pemaparan dan jenis pemakaian. Dalam kenyataannya wujud dari bentuk wacana itu dapat dilihat dalam beragam buah karya si pembuat wacana yaitu : teks (wacana dalam wujud tulisan/grafis) misalnya wujud berita, cerpen, novel maupun pidato dalam bentuk teks. Talk (wacana dalam bentuk ucapan) misalnya rekaman, wawancara, obrolan dan pidato dalam bentuk lisan. Act (wacana dalam wujud tindakan) misalnya dalam wujud lakon drama, tarian, film dsb. Artifact (wacana dalam wujud jejak) misalnya wujud bangunan, fashion, puing dsb.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana dapat diklasifikasikan menjadi berbagai jenis menurut dasar pengklasifikasian tertentu. Syamsuddin (1997:12) meninjau jenis wacana dari sudut (i) realitas (verbal dan nonverbal), (ii) media komunikasi (wacana lisan dan wacana tulis), dan (iii) segi penyusunan (wacana naratif, wacana prosedural, wacana hartotorik, dan wacana diskriptif). Kemudian Baryadi (2002:9) mengklasifikasikan wacana berdasarkan (i) media yang dipakai untuk mewujudkannya, (ii) keaktifan partisipan komunikasi, (iii) tujuan pembuatan wacana, (iv) bentuk wacana, (v) langsung tidaknya pengungkapan, (vi) genre sastra, dan (vii) isi wacana. Berbeda dengan Baryadi, Sumarlam (2003:15) membagi jenis-jenis wacana berdasarkan bahasanya yang dipakai, media yang dipakai untuk mengungkapkan, jenis pemakaian, bentuk serta cara dan tujuan penyampaiannya. Jenis-jenis wacana beserta pengklasifikasiannya dapat dirangkum seperti tabel di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana menurut Tarigan (1987:51) dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, antara lain: berdasarkan media (wacana lisan dan wacana tulis), berdasarkan pengungkapan (wacana langsung dan wacana tidak langsung), berdasarkan bentuk (wacana drama, wacana puisi, dan wacana prosa), dan berdasarkan penempatan (wacana penuturan dan wacana pembeberan). Berdasarkan pendapat dari ahli bahasa tersebut peneliti mencoba merangkum jenis-jenis wacana antara lain; media sarana penyampaiannya, peran penutur dan mitra tutur, pengemasan materi, struktur, kelangsungan, dan bentuk. Berikut ini dipaparkan tentang klasifikasi wacana di atas.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Fungsi bahasa ini digunakan apabila si pingirim ingin memengaruhi si penerima. Fungsi bahasa ini berpusat pada penerima. Semua unsur bahasa yang di dalam wacana berkaitan atau menonjolkan penerima, mengandung fungsi konatif. Realisasi fungsi konatif dalam komonikasi dapat dilihat dalam kalimat imperatif. Fungsi ini bisa dilihat dalam teks konatif. Adapun teks konatif, yaitu yang langsung melibatkan si penerima dalam komunikasi, misalnya dengan penggunaan persona kedua baik tunggal maupun jamak, imperatif dan vokatif (seruan, ajakan atau panggilan). Jenis teks ini sering digunakan dalam teks pidato politik atau iklan-iklan. Jadi, argumen-argumen dalam pidato politik jelas merujuk pada konsep teks yang bersifat konatif karena pidato politik lebih mengedepankan ideologi dan bersifat persuasif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengacuan ( referensi) dalam teks ada tiga yaitu : pengacuan (referensi ) persona, pengacuan ( referensi ) demonstratif, dan pengacuan ( referensi ) komparatif (Sumarlan,2009: 27 dalam Sri Pamungkas,2012:168). Referensi persona direalisasikan melalui pronominal persona (kata ganti orang) yang meliputi persona orang pertama, persona orang kedua, dan persona orang ketiga, misalnya persona pertama tunggal, bentuk bebas misalnya saya dan pronominal persona pertama jamak, bentuk bebas misalnya kami. Hal ini dapat dilihat dari contoh berikut :

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penyulihan ( substitusi ) adalah bentuk kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu (yang telah disebut) dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memeroleh unsur pembeda. Penyulihan ( substitusi ) terdiri dari yang pertama penyulihan nominal, yaitu pergantian satuan lingual yang berkatagori nomina (kata benda) dengan satuan lingual lain yang juga berkatagori nomina, misalnya kata derajat, tingkat diganti dengan pangkat, kata gelar diganti dengan titel. Yang kedua penyulihan verbal, yaitu penggantian satuan lingual yang berkatagori verba (kata kerja) dengan satuan lingual lain yang juga berkatagori verba, misalnya kata mengarang diganti dengan berkarya. Dan yang ketiga penyulihan frasa, yaitu penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frasa dengan satua lingual lain yang berupa frasa. (Sumarlan, 2009:29 dalam Pamungkas)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pelesapan ( ellipsis ) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa pelesapan atau penghilangan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan lingual yang dilesapkan itu dapat berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat. Kegunaan pelesapan ( ellipsis ) dalam wacana antara lain untuk 1) efektivitas kalimat, 2) efisiensi pemakaian bahasa, 3) kepaduan wacana, 4) mengaktifkan pikiran pembaca atau pendengar terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan bahasa, dan 5) kepraktisan berbahasa.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Perangkaian (konjungsi ) yaitu salah satu kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa unsur satuan lingual kata, frasa, klausa, atau kalimat. Ada dua jenis konjungsi, yaitu konjungsi sekuensial dan konjungsi optatif. Konjungsi sekuensial menyatakan hubungan makna urutan antara tuturan sebelum dan sesudah konjungsi, misalnya “Terima kasih Pak, lalu bagaimana, apa yang seharusnya saya lakukan?” kata “lalu” merupakan konjungsi sekuensial. Sedangkan konjungsi optatif menyatakan hubungan makna harapan, yaitu harapan si penerima pesan, misalnya “ semoga orang yang meninggal itu tergolong khusnul khotimah .” Kata “semoga” merupakan konjungsi optatif. Dan masih banyak contoh konjungsi yang lain seperti sebab, tetapi, agar, dan lain-lain.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kepaduan wacana selain didukung oleh aspek gramatikal atau kohesi gramatikal juga didukung oleh kohesi leksikal. Aspek leksikal menyatakan hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis. Makna leksikal dari teks lebih mengacu pada makna yang sebenarnya sesuai dengan makna kamus dan bisa lepas dari makna kontekstual. Aspek leksikal ini terdiri dari pengulangan ( repetisi ), padan kata ( sinonimi ), lawan kata ( antonimi ), sanding kata ( kolokasi), hubungan atas-bawah (hiponimi ), dan kesepadanan atau paradigma ( ekuivalensi ).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberikan tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Penggunaan repetisi biasanya bukan hanya menunjukkan sifat kohesif teks, melainkan juga menyembunyikan makna konotatif tertentu dan hal ini bergantung pada konteksnya. Misalnya, “ Dalam kehidupan demokrasi, rakyat harus berani menyatakan pendapat, berani menentang kezaliman, berani menyongsong masa depan. Kata “berani” pada kalimat di atas selalu diulang untuk memberikatan tekanan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dari segi penutur dan mitra tutur, wacana dapat dipilah menjadi wacana dialog dan wacana monolog. Menurut Trina (2011), wacana monolog adalah wacana yang tidak melibatkan suatu bentuk tutur percakapan atau pembicaraan antara dua pihak yang berkepentingan. Yang termasuk pada jenis pertama ini adalah semua bentuk teks, surat, bacaan, cerita, dan lain-lain yang sejenisnya. Kedua, wacana dialog, yaitu wacana yang dibentuk oleh percakapan, atau pembicaraan antara dua pihak seperti terdapat pada obrolan, pembicaraan dalam telepon, tanya jawab, wawancara, teks drama, film strip, dan sejenisnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping itu menurut Hartono (2000:80) Wacana narasi adalah wacana yang menceritakan kejadian secara kronologis atau dari suatu waktu ke waktu yang lain. Kejadian itu dapat bersifat faktual (benar-benar terjadi), dapat pula bersifat fiktif. Oleh karena itu, ada wacana narasi fiksi dan wacana narasi nonfiksi. Wacana ini bertujuan untuk menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Wacana ini adalah wacana yang berupa rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh pelaku (orang I atau II) dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut Syamsuddin (1997:17) wacana persuasif disebut wacana hortatorik, karena sama-sama bersifat ajakan atau bujukan untuk mau ikut dengan keinginan penulis (ideologi penulis). Wacana persuasi adalah wacana yang menyatakan ajakan, imbauan, harapan, saran, permintaan, atau bujukan. Wacana ini bertujuan memengaruhi pembaca tentang pendapat atau pernyataan penulis. Wacana ini digunakan untuk memengaruhi pendengar atau pembaca agar tertarik akan pendapat yang dikemukakan oleh pembicara atau penulis. Isi wacana selalu berusaha untuk mendapatkan pendukung, bahkan penganut atau paling tidak menyetujui pendapat yang dikemukakannya itu, kemudian terdorong untuk melakukan atau mengalaminya. Jenis wacana ini biasanya digunakan dalam komunikasi propaganda baik yang bersifat bisnis maupun politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut Sumantri, dkk. (dalamTrina, 2011) wacana eksposisi mengandung suatu penjelasan dan bertujuaan pembaca agar memahami sesuatu. Dalam hal ini sebuah wacana memaparkan sesuatu secara objektif dan global (secara keseluruhan). Karena yang penting adalah paparan menyeluruh (global), penyajian materinya tidak dianalisis secara mendalam dari berbagai segi. Wacana ini bertujuan untuk menjelaskan atau memberi informasi tentang sesuatu. Wacana ini merupakan salah satu tipe wacana yang dikembangkan dalam bentuk paparan tentang suatu fakta secara global atau keseluruhan secara sistematis. Wacana ini merupakan rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran yang sering disebut eksposisi. Pokok pikiran itu lebih dijelaskan lagi dengan cara menyampaikan uraian-uraian, bagian-bagian atau detailnya. Tujuan pokok yang ingin dicapai pada wacana ini adalah tercapainya tingkat pemahaman akan sesuatu itu supaya lebih jelas, mendalam, dan luas dari sekadar sebuah pernyataan yang bersifat global atau umum. Kadang-kadang wacana ini dapat berbentuk ilustrasi dengan contoh, berbentuk perbandingan, berbentuk uraian kronologis dan ada juga secara penentuan ciri-ciri (identifikasi) dengan orientasi pokok pada materi, bukan kepada tokohnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut Sumantri, dkk. (dalamTrina: 2011) wacana deskripsi adalah wacana yang mengungkapkan secara representatif secara rinci. Berbeda dengan wacana eksposisi, dalam wacana deskripsi sesuatu yang dilukiskan secara objektif itu dianalisis secara mendalam dan sistematis dari berbagai segi. Jadi, wacana deskripsi melukiskan sesuatu secara objektif sampai kepada detail-detailnya secara mendalam dan sistematis sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tentang sesuatu yang dilukiskan itu. Wacana ini bertujuan untuk memberikan perincian atau detail tentang objek sehingga seakan-akan mereka ikut melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami langsung tentang objek tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Lebih lanjut, Syamsuddin (1997:19-20) menyatakan bahwa wacana deskripsi pada dasarnya berupa rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuan yang ingin dicapai oleh wacana ini adalah tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu, sehingga pendengar atau pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahui secara langsung. Selanjutnya, menurut Syamsuddin, unsur pada wacana ini ada yang hanya memaparkan sesuatu secara objektif dan juga memaparkannya secara imajinatif. Pemaparan yang pertama bersifat menginformasikan sebagaimana adanya, sedangkan yang kedua dengan penambahan daya khayal. Oleh karena itu, wacana yang kedua ini banyak dijumpai dalam karya sastra, seperti pada novel ataupun cerpen.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berbeda halnya kalau dilihat materi pembelajaran wacana di tingkat sekolah menengah ada lima jenis wacana, yaitu  (1) eksposisi, (2) narasi, (3) persuasi (hortatorik), (4) deskripsi, dan (5) argumentasi. Kelima jenis wacana itu empat di antaranya sudah diuraikan di atas dan wacana yang kelima yang belum diuraikan. Berbeda dengan wacana tersebut di atas, wacana argumentasi menyatakan pendapat disertai argumentasi tentang kebenaran pendapat tersebut (Hartono 2000:81). Menurut Sumantri, dkk. (dalam Trina, 2011) wacana ini adalah suatu tipe wacana yang bertujuan untuk memengaruhi pembaca dalam mengambil sikap serta pandangan sesuai dengan keinginan penulis atau pebicara, dengan mengajukan bukti-bukti yang benar, meyakinkan dan dirangkai melalui permainan bahasa. Wacana argumentasi bertujuan untuk (1)melontarkan pandangan/pendirian, (2) mendorong atau mencegah suatu tindakan, (3) mengubah tingkah laku pembaca, dan (4) menarik simpati.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Seperti yang telah dijelaskan di atas wacana merupakan bentuk tuturan yang berupa satuan-satuan bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi dalam situasi tertentu. Satuan inilah yang dimanfaatkan sebagai salah satu unsur pembentukan wacana. Karena itu, struktur wacana dapat membantu menyampaikan bentuk-bentuk tuturan yang berupa pengungkapan gagasan secara runtun kepada lawan tutur. Dari segi strukturnya, wacana dapat dipilah menjadi dua teknik 1) wacana dasar (wacana sederhana) dan 2) wacana turunan, yang meliputi (a) wacana luas dan (b) wacana kompleks (Ekowardono dalam Hartono 2000:86).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut langsung tidaknya pengungkapan, wacana dapat dipilah menjadi wacana langsung ( direct discourse atau direct speech ) dan wacana tidak langsung ( indirect discourse atau indirect speech ). Wacana langsung adalah kutipan wacana yang sebenarnya dibatasi oleh intonasi dan pungtuasi. Wacana tidak langsung adalah pengungkapan kembali wacana tanpa mengutip harfiah kata-kata yang dipakai oleh pembicara dengan mempergunakan konstruksi gramatikal atau kata tertentu, antara lain dengan klausa subordinatif, kata bahwa, dan sebagainya (Kridalaksana dalam Tarigan 1987:55).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan bentuknya, Sumarlam (2003:17) mengkasifikasikan wacana menjadi tiga bentuk wacana prosa, wacana puisi, dan wacana drama. Wacana prosa adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa (Jawa: gancaran ). Wacana bentuk prosa ini dapat berupa wacana tulis dan wacana lisan. Contoh wacana prosa tulis misalnya cerita pendek, cerita bersambung, novel, dan artikel. Adapun wacana prosa lisan misalnya pidato, khotbah, dan kuliah. Wacana puisi adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk puisi (Jawa: geguritan ). Seperti halnya wacana prosa, wacana puisi juga dapat berupa wacana tulis maupun lisan. Puisi dan syair adalah contoh jenis puisi tulis, sedangkan puitisasi atau puisi yang dideklamasikan dan lagu-lagu merupakan contoh jenis wacana puisi lisan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pada dasarnya, setiap tuturan atau praktik berwacana yang dilakukan seseorang memiliki maksud tertentu. Maksud dalam praktik berwacana itu dapat disampaikan secara eksplisit dan implisit. Dalam hal ini, praktik berwacana yang banyak terjadi di masyarakat cenderung mengarah pada praktik berwacana yang mengimpisitkan maksud tertentu. Dalam Linguistik, teori yang dapat digunakan untuk mengungkapkan maksud yang terselubung dalam suatu praktik berwacana adalah teori wacana kritis atau analisis wacana kritis (AWK). AWK merupakan suatu teori yang digunakan untuk mengungkapkan hubungan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Dalam konteks sehari-hari, AWK dapat digunakan untuk membangun kekuasaan dan hegemoni. Selain itu, AWK juga digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu, menerjemahkan, menganalisis, dan mengeritik kehidupan sosial yang tercermin dalam analisis teks atau ucapan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Habermas (dalam Darma, 2009: 53)mengemukakan bahwa AWK bertujuan membantu menganalisis dan memahami masalah sosial dalam hubungannya antara ideologi dan kekuasaan. Tujuan AWK adalah mengembangkan asumsi-asumsi dalam teks yang bersifat ideologis yang terkandung di balik kata-kata dalam teks atau ucapan dalam berbagai bentuk kekuasaan. AWK bermaksud untuk menjelajahi secara sistematis tentang keterkaitan antara praktik-praktik berwacana, teks, peristiwa, dan struktur sosiokultural yang lebih luas. Jadi, AWK dibentuk oleh struktur sosial (kelas, status, identitas etnik, zaman, dan jenis kelamin), budaya, dan wacana (bahasa yang digunakan).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Setiap praktik berwacana merujuk pada aturan, norma, perasaan, sosialisasi yang spesifik dalam hubungannya dengan penerima pesan dan penerjemah pesan. Dalam hal ini, AWK bertujuan menentukan bagaimana individu belajar berpikir, bertindak, dan berbicara dalam berbagai posisi kehidupan sosial (konteks sosial). Menurut Darma (2009:54), konteks sosial adalah tempat di mana wacana terjadi (di pasar, ruang kelas, tempat bermain, tempat suci, dsb). Apapun konteks sosial yang mendasari terjadinya praktik berwacana itu tidak pernah terlepas dari kekuasaan dan ideologi. Oleh karena itulah, AWK dapat digunakan untuk membongkar kekuasaan dan idelogi yang terselubung dalam suatu praktik berwacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Fairclough ( dalam Anang) mengusulkan bahwa pengertian wacana secara komprehensif dari pandangan kritis. Wacana adalah penggunaan bahasa yang dipahami sebagai praksis sosial, dan secara spesifik Van Dijk merumuskan analisis wacana kritis sebagai sebuah kajian tentang relasi-relasi antara wacana, kuasa, dominasi, ketidaksamaan sosial, dan posisi analisis wacana dalam relasi-relasi sosial itu ( Anang Santoso, 2012 : 120). Jadi dalam menganalisis sebuah wacana semestinya memandang wacana itu secara simultan sebagai wacana dari teks-teks bahasa, wacana sebagai praksis kewacanaan (produksi teks dan interprestasi teks) dan memandang wacana sebagai praksis sosiokultural. Maka menganalisis suatu wacana berarti menganalisis ketiga dimensi wacana itu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Ada tiga pandangan berbeda mengenai bahasa dalam analisis wacana (Hikam, dalam Eriyanto, 2001:4). Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivisme-empiris. Aliran ini menyatakan bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa adanya hambatan. Hal ini berlaku selama ia dinyatakan dengan logis, sintaksis, dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Dalam kaitannya dengan analisis wacana, konsekuensi logis dari pemahaman tersebut adalah orang tidak perlu memahami makna subjektif dari sebuah pernyataan, sebab yang paling penting adalah apakah pernyataan itu sudah benar menurut kaidah semantik dan sintaksis. Oleh karena itu, analisis wacana dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan bahasa sebagaimana dalam pandangan formal.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pandangan yang kedua diwakili oleh kaum konstruktivisme. Dalam aliran ini, bahasa tidak dipandang sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan oleh subjek sebagai penyampai pernyataan. Justru, konstruksivisme memandang subjek sebagai sentral utama dalam kegiatan wacana. Dalam hal ini, bahasa dipahami sebagai pernyataan yang dihidupkan dengan tujuan tertentu. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan realitas sosial. Oleh karena itu, analisis wacana dimaksudkan untuk mengungkapkan makna dan maksud tertentu. Analisis wacana adalah suatu upaya untuk membongkar maksud penulis yang tersembunyi dalam wacana itu. Pandangan ini dikenal juga dengan pandangan fungsional atau padangan paradigma interpretivisme.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Aliran ini mengoreksi pandangan konstruksivisme yang kurang sensitif pada produksi dan reproduksi makna yang terjadi, baik secara historis maupun institusional. Menurut aliran ini, paham konstruksivisme belum menganalisis faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana, yang pada gilirannya berperan dalam membentuk jenis-jenis subjek tertentu. Pemikiran inilah yang akan melahirkan paradigma kritis. Analisis wacana dalam pandangan ini menekankan konstelansi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Pemilihan bahasa dalam paradigma kritis dipahami sebagai representasi yang berperan membentuk subjek dan strategi tertentu. Oleh karena itulah, analisis wacana kritis digunakan untuk membongkar praktik kekuasaan dan ideologi yang tersembunyi dalam wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pada hakikatnya, tindakan digunakan untuk memahami suatu wacana. Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa konsekuensi bagaimana bahasa dilihat. Pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan membujuk, mengganggu, bereaksi, menanggapi, menyarankan, memperjuangkan, memengaruhi, berdebat, dan sebagainya. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar dan terkontrol, bukan sesuatu yang diekspresikan atau dikendalikan di luar kesadaran. Dengan konsep tersebut, wacana dipahami sebagai suatu bentuk interaksi yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial. Dalam hal ini, penulis menggunakan bahasa untuk berinteraksi dengan pembaca.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dalam analisis wacana kritis (AWK), perlu dikaji konteks dari suatu wacana, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana dalam hal ini dimengerti, diproduksi, dan dianalisis dalam konteks tertentu. AWK juga mengkaji konteks dari komunikasi; siapa yang mengonsumsikan, dengan siapa, dan mengapa; dalam jenis khalayak dan dalam situasi apa; melalui medium apa; bagaimana perbedaan tipe perkembangan komunikasi, dan bagaimana perbedaan antara setiap pihak. Bahasa dalam hal ini dipahami dalam konteks secara keseluruhan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Ada tiga hal sentral dalam pengertian teks, konteks, dan wacana. Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, melainkan semua jenis ekspresi komunikasi yang ada di dalamnya. Selanjutnya, pengertian konteks dalam hal ini, yaitu memasukkan semua jenis situasi dan hal yang berada di luar teks dan memengaruhi pemakaian bahasa, situasi di mana teks itu diproduksi, serta fungsi yang dimaksudkan. Sementara itu, wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatiannya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi. Dalam hal ini dibutuhkan proses kognisi dan gambaran spesifik dari budaya yang dibawa dalam wacana tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Salah satu aspek penting untuk bisa mengerti teks adalah dengan menempatkan wacana itu dalam konteks historis tertentu. Sebagai contoh, kita melakukan analisis wacana teks selebaran mengenai pertentangan terhadap kasus Century . Pemahaman mengenai wacana teks ini hanya akan diperoleh kalau kita bisa memberikan konteks historis, tempat teks itu diciptakan (bagaimana situasi sosial politik dan suasana pada saat itu). Oleh karena itu, pada waktu melakukan analisis, perlu tinjauan untuk mengerti mengapa wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa yang dipakai seperti itu, dan seterusnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan, atau apapun tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dan masyarakat. Kekuasaan dalam hubungannya dengan wacana penting untuk melihat apa yang disebut dengan kontrol. Bentuk kontrol tersebut terhadap wacana bisa bermacam-macam. Kontrol terhadap konteks, yang secara mudah dapat dilihat dari siapakah yang boleh dan harus berbicara, dan siapa pula yang hanya mendengar dan mengiakan, atau siapa yang mendominasi dan siapa yang didominasi. Selain konteks, kontrol dapat juga diwujudkan dalam bentuk mengontrol struktur wacana. Hal ini dapat dilihat dari penonjolan atau pemakaian kata-kata tertentu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Selain itu, ada konsep sentral dalam AWK, yaitu ideologi. Pada hakikatnya, setiap bentuk teks, percakapan, dan sebagainya adalah salah satu praktik ideologi atau pancaran ideologi tertentu. Wacana bagi ideologi adalah medium melalui mana kelompok dominan mempersuasi dan mengomunikasikan kepada khalayak kekuasaan yang mereka miliki, sehingga absah dan benar. Semua karakteristik penting dari analisis wacana kritis, tentunya membutuhkan pola pendekatan analisis. Hal ini diperlukan untuk memberi penjelasan bagaimana wacana dikembangkan dan memengaruhi khalayak.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Hal yang pertama harus dipahami adalah wacana dipandang sebagai suatu tindakan ( action ) yang memiliki tujuan dan maksud tertentu. Eriyanto (2001:8) mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi, seseorang berbicara, menulis, dan menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, wacana dipahami sebagai tindakan karena akan ada dampak atau hasil yang terjadi dari hadirnya suatu wacana tersebut. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan misalnya untuk mendebat atau memengaruhi/membujuk. Yang kedua wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol dan bukan sesuatu di luar kendali atau kesadaran.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Konteks merupakan sesuatu yang penting dalam analisis wacana kritis, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Dalam analisis wacana kritis, terdapat beberapa konteks penting. Pertama, partisipan wacana. Latar belakang siapa yang memproduksi wacana, seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnis, agama, dan hal-hal yang relevan dalam penggambaran wacana. Selanjutnya, setting sosial tertentu, misalnya tempat, waktu, posisi pembicara dan pendengar, atau lingkungan fisik, konteks yang berguna untuk mengeti suatu wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Gagasan sentral dalam analisis wacana kritis adalah kekuasaan, lebih khususnya kekuatan sosial dalam kelompok atau lembaga. Dalam hal ini, wacana dianggap sebagai sesuatu yang tidak netral, alamiah, wajar, dan merupakan bentuk dari pertarungan kekuasaan. Hubungan antara wacana dan kekuasaan dapat dilihat dari   kontrol   yang dilakukan.   Lewat   wacana   ini   kelompok   yang   memiliki kekuasaan mengontrol atau menghegemoni kelompok yang lemah. Kontrol melaui wacana dapat berupa kontrol atas konteks, dapat dilihat dari siapa yang boleh berbicara dan harus berbicara, siapa yang mendengar dan siapa yang mengiyakan. Selain itu, kontrol melaui wacana dapat dilihat dalam bentuk mengontrol struktur wacana. Hal tersebut dilihat dari penonjolan atau penggunaan kata-kata tertentu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teori Analisis wacana atau pisau bedah yang relevan untuk menggali ideologi dalam penelitian ini adalah teori analisis wacana dari Teun A. Van Dijk. Dari sekian banyak teori yang ada terkait dengan analisis wacana kritis peniliti menggunakan teori Teun A. Van Dijk karena menurut pandangan Van Dijk bahwa perlunya mengelaborasi elemen-elemen wacana sehingga bisa didayagunakan dan dipakai secara praktis. Model yang dipakai oleh Van Dijk sering disebut sebagai “kognisi sosial”. Menurut Van Dijk , penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati (Eriyanto, 2001 : 221). Artinya mengupas pandangan pendapat di atas bahwa menganalisis wacana teks pidato politik tidak hanya semata-mata melihat makna yang tersurat dari teks pidato saja tetapi perlu melihat siapa orang yang berpidato, dari partai apa dan situasi kondisi bagaimana teks pidato itu diproduksi? Di samping itu Van Dijk juga melihat struktur sosial, dominasi dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat karena kekuasaan berpengaruh terhadap teks wacana apalagi wacana partai politik yang memiliki kepentingan untuk kekuasaan dan ideologi (kepentingan politik) pasti kecendrungan teks wacananya lebih menekankan kepentingan politik dengan pilihan bahasa politik yang setepat mungkin. Melihat fenomena itu, Van Dijk dalam teorinya lebih menekankan pada elaborasi teks, kognisi sosial dan konteks saat wacana itu diproduksi seperti contoh tabel 2.3 di bawah ini. Wacana oleh Van Dijk digambarkan menjadi tiga dimensi yaitu : teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Selanjutnya lihat tabel analisis Van Dijk.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping yang dipaparkan di atas, pendekatan yang ditawarkan pun bertolak dari pencermatan atas tiga tingkatan struktur wacana, yaitu: struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro ( superstructure, micro structure, and macro structure) (Rosidi, 2007:10). Struktur supra menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat ( local meaning ) suatu wacana. Ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, leksikon dan retorika. Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan ( global meaning ) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh pemakaian bahasa dalam suatu wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi sosial pembuat wacana termasuk konteks dari wacana itu. Secara teoretik, pernyataan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang terhadap suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan. Bila dikehendaki sampai pada ihwal bagaimana wacana tertentu bertali-temali dengan struktur sosial, kognisi sosial, konteks dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat, maka analisis wacana kritis ini harus dilanjutkan dengan analisis sosial.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Melalui analisis wacana kritis, bahasa telah digunakan sebagai peranti kepentingan, mengingat dalam Analisis Wacana Kritis (AWK) unsur ideologi salah satu bagian yang dibedah dalam analisis tersebut. Wacana politik khususnya wacana teks pidato politik seorang ketua umum partai, terutama pada kasus yang melibatkan ideologi atau kepentingan partai baik dalam hal pemilihan legeslatif, pemilihan presiden, pemilukada dan atau dalam rangka pencitraan partainya, ternyata   bahasa dipergunakan sebagai media politik yang cukup ampuh dan terbukti telah dijadikan sebagai senjata, baik bagi yang kuat maupun bagi yang lemah. Satu pihak menggunakan wacana sebagai sarana untuk mengendalikan dan merekayasa batin yang lain. Sebaliknya, pihak lain, dengan peranti wacana pula melakukan perlawanan, atau sekurang-kurangnya melakukan pembangkangan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan atau teori kritis Teun van Dijk, wacana terdiri atas struktur supra, mikro, dan makro. Hal itu menunjukkan wacana tidak bisa terlepas dari tindakan, teks, konteks, historis, kekuasaan, analisis sosial, kognisi sosial dan ideologi yang melingkunginya. Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi (pengetahuan, ideologi, kepentingan, dan sebagainya) sosial pembuat wacana. Oleh karena itu, teori kritis sangat relevan digunakan dalam menganalisis wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Realitas sosial di masyarakat berpengaruh terhadap produksi teks atau wacana sehingga melahirkan teks yang dekat dengan realitas sosial. Munculnya kampanye hitam ( black campaign ) dalam dunia politik khususnya saat pidato-pidato kampanye, itu disebabkan struktur pikiran saat memproduksi wacana politik memandang persoalan lawan politik dari sudut kepentingan politik, hal ini jelas berimplikasi terhadap produksi teks. Dunia politik sarat dengan ideologi kepentingan (kepentingan politik) dan ideologi kepentingan menggunakan peranti bahasa sebagai media pencapaiannya. Analisis sosial memandang bagaimana teks dihubungkan dengan struktur sosial dan sejauh mana pengetahuan masyarakat terhadap dunia politik. Bahasa hubungannya dengan sosial akan dikaji secara semiotik sosial. Pernyataan ini didukung oleh tulisan Halliday (1978) dalam Yoce mengungkapkan bahasa sebagai semiotik sosial, ini memberikan tekanan pada keberadaan konteks sosial bahasa, yaitu fungsi sosial yang menentukan bentuk bahasa dan bagaimana perkembangannya. Bahasa merupakan produk proses sosial dan digunakan dalam kegiatan sosial di segala aspek kehidupan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teks menurut pandangan Van Dijk terdiri dari beberapa struktur/tingkatan yaitu pertama struktur makro ( macro structure ), ini merupakan makna umum/global dari suatu teks yang amat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu pidato. Kedua struktur supra (superstructure ), struktur ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks seperti pendahuluan pidato, isi pidato, dan penutup pidato serta bagaimana bagian-bagian teks tersebut disusun ke dalam pidato secara sistematis dan utuh. Ketiga struktur mikro ( micro structure ) adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks seperti kata, kalimat, klausa, proposisi, anak kalimat, dan parafrasa. Ketiga bagian tingkatan/struktur itu harus masing-masing bagian saling mendukung dan terkait. Lebih jelasnya lihat tabel 2.4 struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Makna umum/global dari struktur makro jelas didukung struktur supra ( super structure ) dan struktur mikro dari teks tersebut. Pemakaian penanda pada struktur mikro ( micro structure) seperti kata, kalimat, proposisi bahkan stilistika bahasa yang digunakan dalam berpidato merupakan dari strategi politikus dalam menanamkan kepercayaannya kepada audien atau pendengar. Pemakaian stilistika atau pilihan kata-kata tertentu oleh seorang tokoh partai bukan semata-mata sebagai cara berkomunikasi, tetapi merupakan suatu strategi politik berkomunikasi yaitu suatu cara mempersuasif pendapat umum, menciptakan dukungan kepercayaan dan memperkuat legitimasi ideologi politik. Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan (Eriyanto, 2001: 227).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Memahami makna atau maksud dari suatu wacana tidak bisa lepas dari konteks wacana itu sendiri. Konteks merupakan ciri-ciri alam di luar bahasa yang menumbuhkan makna pada ujaran atau wacana yang sering disebut lingkungan nonlinguistik dari wacana (Yoce Aliah Darma, 2009:4). Konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode dan saluran (Moeliono & Soenjono Dardjowidjojo, 1988, dalam Fatimah). Unsur-unsur seperti pembicara (orang) yang disebut dengan konteks orang (siapa yang berbicara), situasi (di mana wacana itu diujarkan) yang disebut konteks situasi dan waktu (kapan wacana itu diujarkan) yang disebut konteks waktu. Dengan demikian unsur-unsur itulah yang sangat berpengaruh dalam memaknai wacana yang mendekati kebenaran, misalnya yang penulis paparkan pada bab I kenapa kata “Pas” bisa menimbulkan keributan saat gubernur Bali simakrama karena unsur konteks itu melekat pada pemaknaan kata “Pas” itu. Unsur-unsur di atas sangat berhubungan dengan unsur-unsur dalam komunikasi (Hymes dalam Yace Darma, 2009:4). Unsur-unsur itu antara lain :

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur supra (super structure ) menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup (Van Dijk, dalam Rosidi, 2007:11). Bagian pendahuluan biasanya berisi ucapan salam, latar belakang mengapa hal itu penting untuk dibicarakan dalam wacana. Bagian isi merupakan hal pokok yang ingin disampaikan dalam wacana dan penutup berisi kesimpulan. Hal ini terlihat dari kutipan berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pendahuluan merupakan awal dari pijakan dalam berbicara baik lisan maupun tulis, maka dalam pendahuluan harus mengandung cukup banyak bahan untuk menarik perhatian pembaca yang tidak ahli sekalipun dan memperkenalkan kepada pembaca fakta-fakta pendahuluan yang benar-benar diseleksi. Pendahuluan penulis harus menegaskan dan mengutarakan mengapa persoalan itu penting untuk dibicarakan. Hal ini bisa dikatakan sebagai lantar belakang persoalan mengapa persoalan itu penting. Selanjutnya, penulis wacana harus menyampaikan latar belakang historis dan apa yang melantarbelakangi menulis atau membicarakan masalah itu yang disertai dengan argumentasi sehingga pembaca memahami dasar masalah. Namun demikian, apa yang diuraikan dalam pendahuluan tidak boleh terlalu banyak, karena fungsi pendahuluan sekadar menggambarkan secara umum untuk menimbulkan keingin-tahuan, dan bukan untuk menjelaskan secara detail. Bagian pendahuluan merupakan hal yang sangat penting dalam wacana untuk menciptakan konsentrasi pembaca/pendengar untuk ke bagian isi atau intinya terutama teks pidato yang menyangkut ranah politik. Sebaliknya ia mungkin akan menegaskan suatu sistem yang dianggap akan menolongnya untuk sampai kepada konklusi yang benar. Begitu pula dalam pendahuluan harus jelas dibedakan persoalan-persoalan yang menyangkut selera dan persoalan-persoalan yang membawa kepada konklusi yang objektif. Pendahuluan dalam teks pidato politik biasanya dimulai dengan menyampaikan salam yang disertai gambaran umum mengapa orator berbicara tentang persoalan itu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“Once a topic is being selected, language users have another option in the realization of their mental model (= what they know about an event): To give many or few details about an event, or to describe it at a rather abstract, general level, or at the level of specifics. We may simply speak of ‘police violence’, that is, in rather general and abstract terms, or we may ‘go down’ to specifics and spell out what precisely the police did. And once we are down to these specifics, we may include many or few details.” (Dijk, 2013)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“Ideological discourse structures are organized by the constraints of the context models, but also as a function of the structures of the underlying ideologies and the social representations and models controlled by them. Thus, if ideologies are organized by well-known ingroup-outgroup polarization, then we may expect such a polarization also to be coded in talk and text. This may happen, as suggested, by pronouns such as us and them, but also by possessives and demonstratives suchas our people and those people , respectively.” (Dijk, 2004).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“Thus, we assume that ideological discourse is generally organized by a general strategy of positive self-presentation and negative other-presentation (derogation). This strategy may operate at all levels, generally in such a way that our good things are emphasized and our bad things de-emphasized, and the opposite for the Others   whose bad things will be enhanced, and whose good things will be mitigated, hidden or forgotten. This general polarizing principle may be applied both to forms as well as to meanings” (Dijk, 2004).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“Intentions are no more or less mysterious than interpretations   they are two of a kind, namely subjective mental models of participants. And only then are we able to address more detailed questions such as which properties of discourse can be consciously controlled, and which not,or less so.Thus, choice of overall topics is obviously more intentional than the detailed syntactic structure or intonation of a sentence. Selection of words falls in between   lexicalization is largely automatic given underlying mental models and the lexicon as a basis,but often specific words are chosen deliberately, and depending on genre and context quite well controlled, especially in written communication. There is no doubt that in an important political speech of a president or presidential candidate each word is chosen as a function of its ideologically and communicative presuppositions and implications. That is, when overall communicative control is strict, also ideological discourse expression will become more conscious. In some contexts, on the other hand, both discourse control and ideological control will be largely automatized.”(Dijk, 2004).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“In the production of news, event models (personal knowledge, etc),context models (situation knowledge) and semantic representations form the input for the various levels of expression or formulation: (i) lexicalization, (ii) syntactic structures, (iii) phonological and graphical/visual expression, and (iv) overall discourse schemata for overall ordering of text or talk. Thus, lexicalization willdepend, e.g.,on the knowledge about the assumed lexical knowledge of the recipients (represented inthe context model), on the assumed object knowledge of the recipients, on the assumed context knowledge of the recipients (in formal contexts, more formal words will beused), and so on. Even the production of syntactic structures may depend on the knowledge of the speaker aboutthe linguistic knowledge of the recipients, as well as about recipient’s knowledge about the communicative situation.”(van Dijk, 2004).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut Nuryuri (2011:19) Latar adalah bagian yang dapat memengaruhi arti yang ingin ditampilkan seseorang dalam teks yang disusunnya. Latar biasanya ditampilkan di awal berita (kalau itu teks berita) sebelum pendapat wartawan muncul dengan maksud memengaruhi dan memberi kesan bahwa pendapatnya masuk akal dan beralasan. Latar membantu membongkar atau menyelidiki bagaimana seseorang atau wartawan memberikan penekanan, dan maksud yang ingin disampaikan atas suatu peristiwa. Lihatlah contoh latar di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen maksud hampir sama dengan elemen detil. Elemen maksud melihat informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas. Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraiakn secara tersamar, eufemistik, berbelit-belit, implisit, dan tersembunyi. Elemen wacana maksud menunjukkan bagaimana secara eksplisit wartawan menggunakan praktik bahasa tertentu untuk menonjolkan kebenarannya dan secara implisit menyingkirkan kebenaran yang lain (Eriyanto, 2001: 240). Jika dikaitkan dengan konteks pidato politik pandangan Eriyanto sangat jelas bagaimana orator politik menyampaikan citra diri dan partainya secara eksplisit dan jelas yang didukung oleh fakta-fakta untuk menyakinkan simpatisannya (rakyat). Berikut diberikan contoh elemen maksud yang eksplisit dan implisit.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saya bersyukur dengan kerja Panitia Angket DPR kebenaran sejati itu telah terungkap. Berdasarkan keterangan resmi lembaga negara yang berwenang termasuk Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Bank Indonesia yang disampaikan di depan sidang-sidang  Panitia Angket jelas-jelas ditegaskan bahwa tuduhan adanya penyertaan modal sementara kepada Bank Century telah disalahgunakan untuk menyokong tim kampanye pasangan Capres- cawapres tertentu nyata-nyata tidak terbukti dan memang tidak pernah ada. (par. 10)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kohesi dan koherensi adalah dua unsur yang menyebabkan sekelompok kalimat membentuk kesatuan makna (Hasan Alwi, dkk, 2008 : 41). Menurut Halliday dan Hasan (1980) dalam Sumantri Zaimar kohesi adalah suatu konsep sematik yang menampilkan hubungan makna antarunsur teks, dan menyebabkannya dapat disebut teks. Kohesi atau kepaduan wacana ialah keserasian hubungan antarunsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana, sehingga tercipta pengertian yang koheren. Kohesi mengacu pada aspek bentuk atau aspek formal bahasa, dan wacana itu terdiri dari kalimat-kalimat. Sehubungan dengan hal tersebut, Tarigan (1987:96) mengatakan bahwa kohesi atau kepaduan wacana merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan kata lain, bahwa kepaduan wacana merupakan organisasi sintaktik, wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal itu berarti pula bahwa kepaduan wacana ialah hubungan antarkalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana (hubungan yang tampak pada bentuk). Kohesi merupakan organisasi sintaksis dan merupakan wadah kalimat-kalimat yang disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan (Tarigan, 1987:96). Selanjutnya, Grawmsky (dalam Tarigan 1987:96) mengutarakan bahwa kohesi adalah hubungan antarkalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam skala gramatikal maupun dalam skala leksikal tertentu. Pernyataan itu dipertegas oleh Alwi, (1998:427) bahwa kohesi merupakan hubungan perkaitan antarproposisi yang dinyatakan secara eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan semantik dalam kalimat-kalimat yang membentuk wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Selanjutnya, dalam sebuah wacana, mekanisme kohesi itu dapat dilihat dari penggunaan referensi. Referensi (pengacauan) merupakan salah satu bentuk kohesi gramatikal. Pengacuan (referensi) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu dengan mengacu pada satuan lingual lain (atau satuan acuan) yang mendahului atau mengikutinya (Sumarlam, Ed., 2003:23). Referensi dalam analisis wacana dapat berupa endofora (anafora dan katafora) dan eksofora. Endofora bersifat tekstual, referensi (acuan) ada di dalam teks, sedangkan eksofora bersifat situasional (acuan atau referensi di luar teks). Endofora terbagi atas anafora dan katafora berdasarkan posisi (distribusi) acuannya (referensinya). Anafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan terdahulu; katafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan kemudian (Dajajasudarma 1994:51). Penggunaan anafora dapat dilihat pada contoh berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pada kalimat tersebut pronominal – nya mengacu ke kata yaitu Pak Made. Contoh lain misalnya “ Siti adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Meskipun dia bukan anak yang pandai, nilainya selalu baik, karena selain rajin dan cantik, dia pandi bergaul. Teman-temannya selalu bersedia membantunya.” Pronomina persona dia (terdapat dua kali pada kalimat yang kedua) dan nya (terdapat satu kali pada kalimat yang kedua dan satu kali lagi pada kalimat yang ke tiga). Dia dan nya mengacu pada unsure yang sama, yaitu Siti.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang). Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang. Pronomina persona dapat mengacu pada diri sendiri (pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (pronomina persona ketiga). Di antara pronomina itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu; ada bentuk yang besifat eksklusif, ada yang bersifat inklusif, dan ada yang bersifat netral (Alwi 1998:249). Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel 2.5.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sumarlam, Ed. (2003:25) membagi pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) menjadi dua, yaitu pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina tempat (lokasional). Pronomina demonstratif waktu ada yang mengacu pada waktu kini (seperti kini dan sekarang ), lampau (seperti kemarin dan dulu ), akan datang (seperti besok dan yang akan datang ), dan waktu netral (seperti pagi dan siang ). Sementara itu, pronomina demonstratif tempat ada yang mengacu pada tempat atau lokasi yang dekat dengan pembicara ( sini, ini ), agak jauh dengan pembicara ( situ, itu ), jauh dengan pembicara ( sana ), dan menunjuk tempat secara eksplisit ( Surakarta, Yogyakarta ). Klasifikasi pronomina demonstratif tersebut dapat diilustrasikan dalam bentuk bagan 2.3 sebagai berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengacuan waktu (temporal) dan tempat (lokasional). Pengacuan demonstratif waktu terdiri atas waktu kini (saat ini, kini, sekarang), waktu lampau (kemarin, dulu, yang lalu), waktu yang akan datang (besok, yang akan dating), dan waktu netral (pagi, siang, sore, dsb). Adapun pengacuan tempat yaitu, dekat dengan penutur (sini, ini), agak dekat (situ, itu), jauh (sana), serta menunjuk secara eksplisit (Semarang, Kendal, dsb).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk atau wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya (Sumarlam, Ed., 2003:27). Kata-kata yang biasa digunakan untuk membandingkan misalnya seperti, bagai, bagaikan, laksana, sama dengan, tidakberbeda dengan, persis seperti , dan persis sama dengan . Berikut ini adalah contoh beberapa kalimat yang menggunakan pengacuan komparatif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(1) Pronomina, disebut juga kata ganti. Dalam bahasa Indonesia kata ganti terdiri dari kata ganti diri, kata ganti petunjuk, kata ganti empunya, kata ganti penanya, kata ganti penghubung, dan kata ganti tak tentu. Kata ganti diri, dalam bahasa Indonesia meliputi: saya, aku, kami, kita, engkau, kau, kamu, kalian, anda, dia, dan mereka. Kata ganti petunjuk , dalam bahasa Indonesia meliputi: ini, itu, sini, sana, di sini, di sana, di situ, ke sini, dan ke sana. Kata ganti penanya , dalam bahasa Indonesia meliputi: apa, siapa, dan mana. Kata ganti penghubung , dalam bahasa Indonesia yaitu yang. Kata ganti tak tentu, dalam bahasa Indonesia meliputi: siapa-siapa, masing-masing, sesuatu, seseorang, para.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(5) Leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi, misalnya pengulangan kata yang sama, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi, dan ekuivalen. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi, antara lain: (a) pengulangan kata yang sama: pemuda-pemuda; (b) sinonim: pahlawan-pejuang; (c) antonim: putra-putri; (d) hiponim: angkutan darat – kereta api, bis, mobil; (e) kolokasi : buku, koran, majalah – media massa; dan (f) ekuivalensi: belajar, mengajar, pelajar, pengajaran, sebelum, dan sesudah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sementara itu, koherensi merupakan pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta, dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dihubungkannya. Ada beberapa penanda koherensi yang digunakan dalam penelitian ini, di antaranya penambahan (aditif), rentetan (seri), keseluruhan ke sebagian, kelas ke anggota, penekanan, perbandingan (komparasi), pertentangan (kontras), hasil (simpulan), contoh (misal), kesejajaran (paralel), tempat (lokasi), dan waktu (kala). Hal itu dijelaskan sebagai berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dengan keyakinan yang kuat bahwa krisis benar-benar terjadi, saya percaya bahwa siapapun yang berkewajiban mengambil keputusan pada saat itu pasti akan melakukan hal yang sama.   Siapa saja berkewajiban untuk memadamkan sekecil apa pun api yang dapat  jadi pemicu kebakaran yang akan melumpuhkan dunia perbankan. Dan kita tahu sekarang ini dunia perbankan bukanlah hanya milik para bankir. Dunia perbankan berkaitan erat dengan kehidupan sosial ekonomi rakyat, seperti pedagang kecil, petani, pegawai, bahkan pensiunan, penata laksana rumah tangga, dan mahasiswa. (par. 25)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bentuk kalimat merupakan elemen sintaksis yang berhubungan dengancara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Bentuk kalimat bukan hanya sekadar persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi menemukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Bentuk kalimat ini menentukan subjek diekspresikan secara eksplisit atau implisit dalam teks. Penempatan ini dapat memengaruhi makna yang timbul karena akan menunjukkan bagian mana yang lebih ditonjolkan kepada khlayak (Eriyanto, 2001: 251). Berkaitan dengan hal itu, bentuk kalimat yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah kalimat aktif- pasif dan modus kalimat, yaitu deklaratif, interogatif, dan imperatif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen kata ganti merupakan elemen memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menunjukan di mana posisi sesorang dalam wacana. Kaitannya dengan wacana teks pidato politik maka elemen kata ganti merupakan sebuah strategi para elite politik menhadirkan dirinya dalam komunikasi politik. Beberapa strategi kehadiran diri yang digunakan dan dipilih oleh elite politik dalam komunikasi adalah 1) persona jamak “kita”, 2) persona jamak “kami” dan “mereka”, 3) persona tunggal “saya” dan “dia”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Strategi penggunaan persona “kita” adalah pronomina persona jamak yang bersifat inklusif. Persona “kita” terkandung makna kehadiran “saya” dan “anda”, “penutur”dan “petutur”. Penggunaan persona “saya” lebih menonjolkan pemikiran pribadi komunikator. Penggunaan persona “kami” bersifat jamak yang mewakili orang yang berbicara. Sedangkan “mereka” bersifat jamak yang menunjuk orang ketiga (orang dibicarakan) yang sifatnya lebih dari satu (jamak). Berikut diberikan contoh penggunaan persona dalam kalimat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Leksikalisasi ( lexicalization ) merupakan istilah yang dipergunakan oleh Halliday (1978) dalam Anang (2003). Fairclough (1989) menggunakan istilah “pengataan” ( wordingi ). Pada dasarnya elemen ini merupakan pilihan seseorang dalam pemilihan kata atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Misalnya, kata “meninggal” yang memiliki banyak konotasi kata seperti “ gugur”, “mati”, “mampus” dan “wafat”. Pilihan kata tersebut harus sesuai dengan konteks situasi atau ideologi jika dikaitkan dengan komunikasi dalam konteks politik. Contoh kalimat di bawah ini menandakan pilihan leksikon yang menunjukan sikap dan ideologi tertentu. Kalimat pertama menggunakan kata “melakukan kekerasan” konotasinya lebih halus jika dibandingkan dengan kalimat kedua dan ketiga yaitu kata “membunuh” dan “membantai” mengandung konotasi makna yang negatif karena kata “membunuh” dan “membantai” memiliki nilai rasa yang rendah dan terlalu ekstrim.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengandaian dalam bahasa Indonesia ditandai dengan adanya kata penghubung atau konjungsi yaitu jika, andaikata, asal, asalkan, jikalau, sekiranya, dan seandainya (Gorys Keraf:1991). Terdapat dua makna pengandaian di dalam bahasa Indonesia, yaitu sebagai persyaratan dan pengandaian. Pengandaian mempunyai makna syarat bagi terlaksananya apa yang tersebut pada klausa inti. Secara jelas hubungan ini ditandai dengan kata penghubung jika, apabila, kalau, asalkan, asal, manakala dan jikalau . Sebagai contoh adalah kalimat berikut ini :

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)     Kemauan untuk hidup ini akan ada jika di dalam diri seseorang ada perasaan bahwa dia dibutuhkan oleh lingkungannya. Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu klausa 1) kemauan untuk hidup ini akan ada   sebagai klausa inti , klausa 2) di dalam diri seseorang ada perasaan, klausa 3) dia dibutuhkan oleh lingkungannya. Klausa 2 (dua) dan kausa 3 (tiga) merupakan klausa bawahan yang menyatakan ‘syarat’ bagi terlaksananya apa yang tersebut pada klausa inti. Contoh pada kalimat lain adalah sebagai berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen grafis merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) atau ditekankan oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. (Eryanto,2000:257). Penanda elemen ini dalam suatu teks biasanya membuat ukuran huruf lebih besar, huruf dicetak tebal, menggunakan garis bawah atau penggunaan tanda petik dua. Menurut Nuryuri (2011:22), elemen grafis merupakan cara untuk melihat bagian yang ditekankan atau ditonjolkan dalam teks berita. Dalam wacana berita, grafis biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain, yaitu dengan pemakaian huruf tebal, huruf miring, pemakaian garis bawah, dan huruf yang dibuat dengan ukuran lebih besar. Bagian-bagian yang ditonjolkan ini menekankan kepada khalayak pentingnya bagian tersebut. Bagian yang dicetak berbeda adalah bagian yang dipandang penting oleh wartawan, di mana ia menginginkan khalayak menaruh perhatian lebih pada bagaian tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Metafora didefinisikan melalui dua pengertian, yaitu pengertian secara luas dan secara sempit (Kutha Ratna, 2008:181). Pengertian secara sempit, metafora adalah majas seperti metonimia, sinekdoke, hiperbola, dll. Pengertian secara luas meliputi semua bentuk kiasan, penggunaan bahasa yang dianggap ‘menyimpang’ dari bahasa baku. Menurut Wahab dalam Anang, (2012) mengatakan Metafora adalah ungkapan kebahasaan yang maknanya tidak dapat dijangkau secara langsung dari lambang yang dipakai karena makna yang dimaksud terdapat pada predikasi ungkapan kebahasaan itu. Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Beard (2000:19) dalam Anang bahwa metafora “refer to when a word or a phrase is used which establishes a comparison between one idea and another” . Pada suatu wacana, baik yang bersifat lisan atau wacana tulis komunikator/ orator politik tidak hanya menyampaikan pesan pokok, tetapi juga ungkapan, kiasan, metafora yang dimasudkan sebagai bumbu dari suatu teks. Metafora pun bisa jadi petunjuk untuk memahami makna suatu teks (Eriyanto, 2001: 259). Jadi metafora itu merupakan mendeskripsikan sesuatu dengan uraian lain yang dapat dibandingkan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Metafora predikatif jika dikaitkan dengan dunia politik akan memberikan gambaran tentang demensi ideologi dalam wacana teks pidato politik. Verba yang berfungsi sebagai metafora predikatif misalnya, dibantai, membidik, kebakaran jenggot, dll. Contoh dalam kalimat yang menggunakan metafora predikatif adalah “ Kadang-kadang mereka rela dibantai orang untuk mempertahankan idealisme yang baik”. Kata “dibantai” termasuk verba metafora predikatif. “ Menurut saya, Habibie sedang membidik Mega dan PDI Perjuangan . Kata “membidik” termasuk metafora predikatif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan pandangan di atas dapat dikatakan bahwa tematik adalah hal yang diamati dari struktur makro. Tematik merupakan makna umum dari suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik yang dikedepankan dalam suatu teks. Topik wacana ini bukan hanya isi dari suatu wacana, tetapi juga sisi tertentu yang ingin dibangun dari suatu peristiwa. Elemen tematik merujuk pada gambaran umum dari suatu teks, tematik merupakan gagasan inti dari suatu teks yang dikedepankan wartawan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang telah dikemukakan oleh Eriyanto (2001: 230)   yang menyatakan topik didukung   juga   oleh   subtopik   dan   serangkaian   fakta   yang   menunjuk   dan menggambarkan subtopik (Eriyanto, 2001: 230).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Idiologi yang digunakan dalam AWK sedikit berbeda dari pengertian yang biasa digunakan dalam banyak hal, terutama di bidang politik. Seperti yang dikemukakan oleh Fairclough (dalam Purwo, Ed., 2000), idiologi diinterpretasikan sebagai suatu kebijakan masyarakat yang sebagian atau seluruhnya berasal dari teori sosial secara sadar. Dalam AWK, idiologi tidak hanya terbatas pada pengertian politis, tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas lagi. Sejak dahulu, misalnya, rakyat Indonesia telah mengenal hidup bergotong royong. Mereka mengenalnya sebelum secara resmi gotong royong itu diangkat menjadi salah satu sila dalam Pancasila. Pengertian yang semacam itulah yang disebut dengan idiologi AWK oleh Fairclough (dalam Purwo, Ed., 2000).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Ada tiga dimensi atau tahap AWK yang dipaparkan oleh Kartomihardjo (dalam Purwo, Ed., 2000:116). Dimensi AWK tersebut di antaranya adalah deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Deskripsi adalah hal-hal yang menyangkut properti formal dari suatu teks; interpretasi adalah hal-hal yang menyangkut hubungan antara teks dan interaksi dengan melihat teks sebagai hasil dari suatu proses produksi dan sebagai sumber dalam proses interpretasi; sedangkan eksplanasi adalah hal-hal yang menyangkut hubungan antara interaksi dan konteks sosial. Perlu diingat bahwa setiap dimensi itu, analisis terhadap wacana akan berubah. Pada tahap deskripsi yang dilakukan adalah melihat bagaimana teks disusun menurut kosakatanya, tata bahasanya, dan struktur tekstualnya. Pada tahap interpretasi, teks dianalisis sebagai suatu hasil dari proses produksi. Sementara itu, pada tahap eksplanasi, teks dianalisis sebagai suatu interaksi yang dikaitkan dengan konteks sosialnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teks adalah sesuatu pilihan semantik (semantic choice ) data konteks sosial, yaitu suatu cara pengungkapan makna melalui bahasa lisan atau tulis (Halliday, 1978 dalamYoce. 2009: 189). Teks merupakan sesuatu yang dimaknai dan dikatakan oleh masyarakat dalam situasi yang nyata dan aktual. Teks bisa dalam wujud tulisan/grafis seperti artikel, opini maupun karya sastra dan juga ada teks dalam wujud lisan/ucapan seperti wawancara, obrolan, dan pidato. Kajian teks lebih menekankan pada persoalan materialitis, bentuk, dan struktur bahasa (Anang Santoso.2012:121). Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, melainkan semua jenis ekspresi komunikasi yang ada di dalamnya (Arifin. 11).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tetang suatu hal. (Putra Bahar, 2013:9). Dengan kata lain pidato merupakan penyampaian gagasan, pikiran atau informasi serta tujuan dari pembicara kepada orang lain ( audience) dengan cara lisan baik yang menggunakan teks atau tanpa teks. Pidato merupakan seni memengaruhi orang lain sehingga apa yang disampaikan bisa dipahami dan mau menerima yang disampaikan oleh pembicara. Berkenaan dengan konsep tersebut maka sering berpidato merupakan the art of persuasion . Kemampuan berpidato yang baik harus ditopang oleh ilmu retorika dan kemampuan memberikan energi kekuatan bahasa yang maksimal dan sistematis karena tatanan bahasa yang disusun secara sistematis dan luwes akan memenentukan keberhasilan dalam berpidato.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Politik pada negara demokrasi tidak begitu asing, karena segala sesuatu yang dilakukan atas dasar kepentingan kelompok atau kekuasaan sering kali diberikan label politik. Mutasi pegawai atau pergeseran pejabat di kalangan birokrasi selalu dikaitkan dengan isu politik bahkan konflik yang terjadi baik bersifat horizontal maupun vertikal sering dikaitkan dengan ranah politik. Jadi politik begitu luas jangkauan wilayahnya. Politik dapat mencakup banyak kegiatan, mulai dari (1) proses pembuatan kebijakan nasional (politik pemerintah), (2) kesetaraan gender (politik seksual), (3) persaingan dalam kelompok seperti kelompok partai-partai yang ada.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kaspar Bluntschli mengatakan bahwa “ politics is the science which concerned with the state, which endeavors to understand and comprehend the state in its conditions, in its essential nature, its various forms of manifestation, its development.” Harol D. Lasswell lebih tegas merumuskan politik sebagai ilmu tentang kekuasaan “ when we speak of the science of politics, we mean the science of power.” (Hafied Cangara. 2011:23). Berdasarkan pandangan tersebut maka politik mengandung sejumlah konsep kenegaraan, yakni dalam politik ada kekuasaan ( power ), ada pengambilan keputusan ( decision making ), dan ada kebijakan ( policy ). Politik dalam kontek penelitian ini lebih mengarah pada perebutan kekuasaan ( power ) dengan memengaruhi lewat energi kekuatan bahasa. Jadi politik adalah perjuangan untuk memeroleh kekuasaan, menjalankan kekuasaan, mengontrol kekuasaan, serta bagaimana menggunakan kekuasaan (Hafied Cangara. 2011:26). Pidato-pidato politik seorang politikus kadang-kadang kata tertentu digunakan secara berulang-ulang dan menjadi kata kunci, seluruhnya merupakan lambang-lambang pembicara (Virginia M H: 56-67). Mengingat hal tersebut maka bahasa dan politik selalu berkaitan, oleh karena itu bahasa dapat dilihat sebagai salah satu ruang ( space ) tempat konflik-konflik berbagai kepentingan, kekuatan, kuasa, proses hegemoni dan hegemoni tandingan ( counter hegemony ) terjadi (A.S. Hikam.1996:77).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Terkait dengan penelitian yang berjudul “ Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahaan Susilo Bambang Yudhoyono.” Terdapat dua penelitian sejenis sehubungan dengan judul penelitian ini yaitu, (1) “ Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro)” dan “Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menegah Kecamatan Rendang Tahun 2011”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian Trisna Des Ryantini mengbedah masalah strukur mikro wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post terdiri atas (1) pola pengambangan paragraf deduktif dan induktif yang tergolang sederhana; (2) peranti kohesif gramatikal dan leksikal; (3) penanda koherensi; dan (4) penekanan pada penggunaan kata, frasa, dan kalimat. Pola pengembangan paragraf yang paling banyak digunakan adalah pola pengembangan paragraf deduktif. Selanjutnya, peranti kohesif gramatikal yang digunakan adalah referensi, elipsis, dan konjungsi. Pola pengacuan yang digunakan terdiri atas pola pengacuan endofora (anafora dan katafora) dan eksofora. Selanjutnya, konjungsi yang digunakan dalam wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post memiliki makna, yaitu makna kausal, pertentangan, perkecualian, konsesif, tujuan, adiktif, pilihan, urutan, perlawanan, waktu, dan syarat. Peranti kohesif leksikal yang digunakan adalah repetisi, antonimi, hiponimi, dan ekuivalensi. Selanjutnya, penanda koherensi yang digunakan adalah adiktif, rentetan (seri), ke seluruhan ke bagian, penekanan, perbandingan, pertentangan, simpulan, contoh, tempat, dan waktu. Pada wacana ini penulis menekankan pada penggunaan kata, frasa, dan kalimat. Wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post tergolong wacana yang apik. Keapikan wacana ini dapat dilihat pada hubungan antarkata, frasa, klausa, kalimat dan antarparagraf dalam wacana ini. Hal ini sangat membantu pembaca dalam menerima dan memahami pesan yang disampaikan penulis dalam wacana tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur makro pada wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali terdiri atas pengungkapan kekuasaan dan ideologi. Kekuasaan yang diungkapkan dalam wacana ini menunjukkan adanya pendominasian kelompok atau individu. Pendominasian yang diungkapkan lebih banyak menunjukkan bentuk pendominasian kelompok atau individu karena mampu memberikan imbalan kepada orang yang didominasi. Dalam hal ini, penulis lebih banyak mengungkapkan bahwa bandar togel adalah kelompok yang mampu mendominasi penulis (masyarakat) dan aparat penegak hukum. Pendominasian itulah yang menyebabkan judi togel sulit diberantas sampai tuntas karena bandar togel kelas kakap sulit dilacak keberadaannya. Selanjutnya, temuan dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa penulis juga berupaya memengaruhi masyarakat (pembaca) agar ikut memberantas togel dengan berbagai argumen, yaitu argumen agama, adat, sosial budaya dan prosedur hukum. Dalam hal ini, argumen yang lebih banyak digunakan adalah argumen agama Hindu dan prosedur hukum. Hal itu menunjukkan bahwa ideologi yang dianut penulis adalah ideologi agama Hindu dan hukum. Ideologi tersebut dimanfaatkan penulis untuk memengaruhi masyarakat Bali agar menolak keberadaan judi togel yang semakin marak di Bali.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Trisna Des Ryantini adalah 1) metode analisis yang digunakan sama yaitu analisis deskrpitif kualitatif dengan pendekatan AWK dengan pendekatan kritis, model Teun Van Dijk. 2) metode pengumpulan data yang dipakai sama yaitu metode dokumentasi. Sedangkan dari segi perbedaan dengan penelitian ini adalah dari segi sumber datanya yaitu penelitian Des Ryantini sumber datanya opini tentang togel pada harian Bali Post sedangkan penelitian ini sumber datanya adalah teks pidato politik ketua umum partai oposisi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan ruang lingkup kajian penelitian ini lebih luas yaitu mencakup struktur supra, mikro, dan makro, sedangkan penelitian Des Ryantini hanya menganalisis kajian makro dan mikro. Jadi penelitian dengan judul “ Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahaan Susilo Bambang Yudhoyono ” merupakan penelitian yang belum pernah diteliti oleh peneliti lain

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur mikronya terdiri atas (1) latar, (2) pengandaian, (3)rincian, (4) bentuk kalimat pasif dan aktif, (5)penanda kohesif dan koherensi, (6) pemakaian kata ganti, (7) pemakaian grafis, dan (8) metafora. Hasil penelitian dari struktur mikro bahwa penggunaan kalimat aktif lebih banyak digunakan dibandingkan dengan kalimat pasif. peranti kohesif gramatikal yang digunakan adalah referensi dan konjungsi. Pola referensi yang digunakan berupa pola pengacuan endofora (anafora dan katafora) dan eksofora.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persamaan penelitian Numertayasa dengan penelitian ini, yaitu (1) metode analisis yang digunakan sama yaitu analisis deskrpitif kualitatif dengan pendekatan AWK dengan pendekatan kritis, model Teun Van Dijk; (2) metode pengumpulan data yang dipakai sama yaitu metode dokumentasi. Perbedaannya, penelitian Numertayasa menganalisis wacana esai anak sekolah menengah sebagai sumber data penelitiannya, sedangkan penelitian ini menganalisis wacana teks pidato politik partai oposisi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Hal ini jelas akan menghasilkan perbedaan kemampuan penggunaan bahasa yang terdapat dalam wacana masing-masing, baik ketajaman bahasa maupun kekritisan bahasa yang digunakannya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis teks, khususnya analisis wacan ktitis. Pendekatan utama dalam analisis wacana kritis adalah analisis bahasa kritis ( critical linguistik ). Analisis ini memusatkan analisis wacana pada bahasa dan menghubungkannya dengan ideologi. Inti dari gagasan critical linguistik adalah mellihat bagaimana supra struktur, mokro, dan mikro membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Dengan kata lain, aspek ideologi diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini akan mengkaji wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi. Hal itu dilakukan untuk mengetahui struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro dari wacana teks pidato politik ketua partai oposisi, maksudnya partai yang berada di luar pemerintah. Untuk mengetahui ketiga elemen tersebut peneliti menggunakan peranti struktur makro yaitu topik/tema dari pidato, superstruktur yakni skematiknya, dan struktur mikro. Struktur makro mengkaji ideologi dan kekuasaan penulis untuk mendominasi pembaca/pendengar agar pandangannya diterima. Kajian terhadap struktur mikro mencakup pola pengembangan paragraf, penggunaan peranti leksikal dan gramatikal, pilihan kata atau stilistika dari kata sampai kalimatnya dan pola hubungan antarunsur berupa rujukan yang digunakan penulis dalam membentuk wacana kohesif dan keheren, sedangkan kajian suprastruktur mencakup skematiknya yakni pendahuluan, isi, dan penutup dalam pidato politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang berusaha menggambarkan sesuatu dengan menggunakan kata-kata (Arikunto, 1998:116). Analisis isi kualitatif maksudnya adalah suatu metode yang biasa digunakan untuk memahami pesan simbolik dari suatu wacana atau teks pidato ketua partai oposisi. Pesan simbolik tersebut dapat berupa tema/ ide pokok sebagai isi utama dan konteks wacana sebagai isi laten atau yang tersembunyi. Pesan-pesan simbolik meliputi aspek sosial, politik, dan ideologi yang terdapat pada teks pidato politik. Sedangkan pesan berdasrkan konteks meliputi aspek historis, sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang memengaruhi terbentuknya wacana tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sumber data primer dalam penelitian ini adalah pidato ketua umum partai oposisi dari Partai Demokkrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang diketuai oleh Megawati Soekarnoputri (MS). Data primer adalah merupakan data yang utama untuk menjawab permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini. Kebenaran data primer sangat ditentukan oleh teks tersebut. Teks pidato politik yang digunakankan dalam penelitian ini adalah teks pidato dari partai yang beroposisi dengan pemerintah (dalam konteks ini adalah pemerintahan yang dipimpin oleh Susilo Bangbang Yudoyono (SBY) dari partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu tahun 2009 (teks pidato terlampir). Objek penelitian dalam penelitian ini adalah struktur makro, struktur mikro, dan superstruktur/struktur supra.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting dan strategis dalam suatu penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mencari data seakurat mungkin. Peneliti dalam hal ini sangat perlu mengerti teknik pengumpulan data itu. Adapun teknik yang digunakan peneliti menjaring data dalam penelitian ini adalah dengan teknik dokumentasi. Secara spesifik data dalam penelitian ini meliputi superstruktur, struktur mikro, dan struktur makro. Menurut Sugiyono (2006:270), dokumen merupakan catatan peritiwa yang sudah berlalu, lebih lanjut dinyatakan bahwa dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental. Pada teknik ini, peneliti mengumpulkan data dengan mengambil naskah-naskah pidato politik ketua partai oposisi dari pemerintah yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Selanjutnya data itu dianalisis menggunakan teori analisis wacana Van Dijk.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan peneliti adalah (1) peneliti sendiri dan (2) pedoman dokumentasi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sugiyono (2006:250) bahwa dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Hal ini dipertegas oleh Moleong (2007:9) bahwa salah satu ciri penelitian kualitatif adalah manusia sebagai alat atau instrumen. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuan dalam penelitian itu. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh manusia.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian kualitatif menghendaki pula keterandalan ( reliability ) dan validitas kesahihan (validity) sama halnya dengan penelitian kuantitatif. Kirk dan Miller. 1987 (dalam Badara. 2012: 73) mengemukakan bahwa yang penting di dalam penelitian kualitatif ialah checking the reliability , yaitu kekuatan data yang dapat menggambarkan keaslian dan kesederhanaan yang nyata dari setiap informasi, sedangkan checking the validity yakni dengan evaluasi awal dari kegiatan penelitian yang penuh perhatian terhadap masalah penelitian dan alat yang digunakan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pemeriksaan keabsahan data penelitian ini dilakukan dengan membaca, mengecek, dan mengintensifkan analisis data. Pengecekan data dapat dilakukan dengan triangulasi data, yaitu triangulasi data, peneliti, metode, dan teori. Tahap ini sangat diperlukan pihak lain atau teman sejawat untuk menghindari multi tafsir terhadap data yang sudah diperoleh. Di samping itu hasil analisis data juga dikonfirmasikan ( comfirmability ) dengan pakar ilmu bahasa (dosen pembimbing) dan teman sejawat (triangulasi sumber) antara lain masyarakat akademik. Yang terpenting dalam hal ini dan yang sangat berkompeten dengan penelitian ini adalah dosen pembimbing tesis ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal. Sugiyono mengatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam katagori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting sehingga mudah dipelajari oleh diri sendiri maupun orang lain.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Analisis ini dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data pada periode tertentu. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Secara keseluruhan metode kualitatif memanfaatkan cara-cara atau mendeskripsikan fakta yang ada dalam data. Data yang dianalisis dari tatanan kata, kalimat, paragraf, wacana bahkan penafsiran makna yang tersembunyi dari data yang ada dalam tek wacana pidato yang berjudul ” Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan” dan ” Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bab ini menyajikan hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, dan implikasi penelitian. Hasil penelitian ini menguraikan tentang struktur Supra, struktur mikro, dan struktur makro yang membangun wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Teks pidato politik yang dipakai sebagai sumber data dalam penelitian ini adalah pidato politiknya Megawati Soekarnoputri (M.S.) yang berjudul yang pertama “Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan” dan pidato yang kedua berjudul “ Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan.” Hasil penelitian ini kemudian dibahas pada bagian pembahasan berdasarkan teori analisis wacana kritis yang digunakan untuk membahas hasil penelitian ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Data penelitian yang terkait dengan struktur supra didapatkan dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yaitu teks pidato Megawati Soekarnoputri (M.S.) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Jumlah teks pidato politik yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini sebanyak dua teks pidato politik yaitu 1) pidato politik Megawati Soekarnoputri (M.S.) pada saat pembukaan kongres III PDI Perjuangan di Bali, April 2010 dan 2) teks pidato politik ketua umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP tahun 2011. Peneliti menggunakan dua teks pidato sebagai data penelitian ini karena dari sekian banyak teks pidato politik yang disampaikan M.S. selaku ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya dua teks pidato ini yang menonjolkan bahasa-bahasa politik yang kental dan banyak berbicara tentang   koalisi dan oposisi partai di parlemen. Di samping itu, juga karena keterbatasan waktu dan dana maka peneliti hanya menggunakan dua teks pidato sebagai data penelitian ini. Pidato yang digunakan sebagai data adalah pidato yang memuat topik dan isu-isu politik dan kepartaian. Bagian struktur supra data ini akan dianalisis skematik atau alur dari pendahuluan, isi, kesimpulan, dan penutup dari sebuah pidato. Penganalisisan struktur supra teks pidato ini peneliti menggunakan struktur teks atau kerangka pidato politik sebagai landasan analisis struktur supra teks tersebut. Kerangka pidato politik sebagai acuan menganalisis struktu supra teks tersebut maka penulis gambarkan seperti di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan pada tabel 4.1 di atas ditemukan bahwa struktur supra wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang disampaikan oleh M.S. selaku ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dibangun berdasarkan alur atau skematika, yaitu : (1) pendahuluan, (2) isi, dan (3) penutup. Berdasarkan analisis data 1, pidato politik M.S. yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan yang tersebut pada tabel di atas bahwa bagian yang mendukung pendahuluan teks ditemukan ada 7 paragraf, yakni 13,2 %, bagian yang mendukung isi pada teks pidato ditemukan sebanyak 38 paragraf, yaitu 71,6 %, dan bagian penutup/kesimpulan ditemukan sebanyak 8 paragraf, yaitu 15,0%. Dari analisis data 1 pada tabel di atas ternyata struktur supra yang paling banyak ada pada isi yang disertai pembahasan pidato, yaitu 71,6%. Hal ini sesuai dengan teori Putra Bahar (2013) bahwa isi dan pambahasan pidato merupakan kesatuan yang berisi alasan-alasan yang mendukung hal-hal yang dikemukakan pada bagian isi. Uraian data pada tabel 4.1 kutipan paragrafnya akan diuraiakan secara jelas pada tabel 4.2 di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berisi pentingnya pidato ini disampaikan karena saat ini PDIP dihadapkan pada ujian berupa pilihan yaitu koalisi dan oposisi. Hal ini bisa dilihat kutipan paragraf, yaitu “ Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik.”K utipan paragraf ke-7 ini mengakhiri bagian pendahuluan dan selanjutnya orator memulai dengan paragraf isi pada paragraf ke-8 dengan kalimat “ Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen….”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana teks pidato politik pembukaan kongres III Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang disampaikan oleh ketua umumnya Megawati Soekarnoputri (M.S.) di atas merupakan teks pidato politik yang memosisikan partainya sebagai partai oposisi pemerintah. Berdasarkan analisis struktur supranya, yakni skematika atau alur dari teks pidato politik yang digunakan oleh Megawati Soekarnoputri (M.S.) selaku ketua umum partai, M.S. mengawali pidatonya dengan menyampaikan salam agama, salam nasional, harapan, tujuan, gagasan-gagasan, pentingnya diadakan kongres dan memekikan salam kemerdekaan. Penyampaian salam itu merupakan strategi orator M.S. untuk menarik perhatian pendengar menuju ke paparan isi pidato. Di samping itu, penyampaian salam agama Islam, Hindu, dan Kristen secara implisit menunjukkan bahwa seorang orator politik (M.S.) ingin menunjukkan bahwa Megawati Soekarnoputri (M.S.) seorang yang solidaritas, nasionalisme dan menghargai kebhinekaan atau perbedaan terutama dalam hal agama. Kesan ini akan membawa dampak pada pendengar ( audience ) dalam menerima isi pidato selanjutnya. Pekikan kemerdekaan menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dan semangat kader partai sebagai gelora semangat. Selanjutnya dengan mengucapkan salam hormat kepada peserta kongres sebagai bentuk penghormatan dan bentuk kedekatan orator kepada pendengar. Pengucapan salam di awal pidato M.S. memberikan kesan yang santun sebagai pencitraan awal dari M.S. sebagai tokoh partai.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pendahuluan teks pidato di atas terdapat pada paragraf ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dan paragraf 7 seperti yang diuraikan padaa tabel 4.1 di atas. Paragraf ke-1 menyatakan hal-hal yang berkaitan aspek keagamaan ( religious ) untuk menunjukkan jati diri partai bahwa agama merupakan hal yang mendasar dalam sebuah partai dan menggugah pendengar ( audience ) untuk mengingat torehan sejarah Partai Perjuangan Indonesia Perjuangan (PDIP) yang pernah terjadi di Bali. Pendahuluan pidato M.S. mengajak pendengarnya menggelorakan semangat dengan mengenang masa lalu PDIP yang pernah diinjak-injak oleh penguasa. M.S. mengawali pidato politiknya menggunakan latar historis untuk menyentuh pendengarnya dengan mengingatkan luka lama apa yang pernah dialami PDIP di Bali. Bentuk komunikasi ini sebagai bentuk pencitraan untuk mencari simpati dari pendengar ( audience ), seperti kutipan pidatonya “ yang telah menjaga dan mengantarkan kita kembali ke Bali, tempat dimana kesejarahan PDI Perjuangan ditoreh, dan sekaligus tempat dimana spirit ‘merah’ tetap terjaga. (paragraf 1)” Di samping penggunaan frasa “spirit merah” sebagai pendahuluan pidato merupakan adagium politik yang mengawali kata yang menyentuh rasa pendengar ( audience ).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Kongres PDI Perjuangan III ini diselimuti oleh rasa bela sungkawa mendalam dimana dua tokoh bangsa telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa: yaitu bapak K.H. Abdur Rahman Wahid yang akrab disapa oleh mereka, Gus Dur serta yaitu seorang kader nasionalis yang hidup di tiga zaman yaitu Bapak Frans Seda. 2)Beberapa waktu lalu kita juga kehilangan seorang tokoh PDI Perjuangan yaitu Bapak Subagyo Anam yang hingga akhir hayat terus memberikan sumbangsih bagi Partai. 3)Saya mengajak warga kita semua untuk mendoakan, dan lebih lagi meneladani pikiran dan tindakan mereka dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. (paragraf 2)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-2 ini tidak sekadar ucapan bela sungkawa tetapi lebih menekankan untuk mengajak pendengar   untuk menghormati tokoh nasionalis dan membangkitkan rasa nasionalis lewat PDIP sebagai partai nasionalis. Paragraf ini khusus menyampaikan rasa bela sungkawa kepada yang berjasa kepada PDIP untuk mebangkitkan semangat keteladanannya. Bagian ini merupakan ajakan kepada pendengar. Paragraf 2 merupakan bagian dari pendahuluan tetapi modus kalimatnya menggunakan modus imperatif berupa ajakan untuk bisa meneladani ketokohan PDIP, yaitu Subagyo Anam.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“1)Saudara-saudara utusan peserta Kongres III, Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. 2) Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka. 3)Mengapa hal ini saya katakan Saudara-saudara? 4)Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. 5) Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada suatu kekelaman sejarah bagi suatu   bangsa.                 ( paragraf 4)”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-4 di atas mengungkapkan latar pentingnya diadakan sebuah kongres, jawabannya tersurat dalam paragraf di atas. Latar dari pidato pembukaan kongres III PDIP terdapat pada kalimat ke-2 paragraf 4 “ Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka.” Kalimat ini merupakan latar diadakannya kongres sebagai bentuk suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam memperjungkan rakyat sesuai tema yang diusung dalam kongres ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bagian isi teks pidato yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan terdapat pada paragraf 8 s.d. paragraf 45. Isi pidato politik M.S. pada intinya penataan kembali PDIP lewat pengaderan atau kaderisasi pemimpin partai atau pemimpin bangsa yang dilandasi aturan partai yaitu AD/ART partai. Inti isi pidato politik M.S. penyelenggaraan kongres partai untuk pengaderan pemimpin dengan penekankan pada ideologi partai, yaitu mengangkat harkat-martabat rakyat serta berjuang untuk kepentingan rakyat dan bukan hanya sekadar bagi-bagi kekuasaan. Secara tersamar/tersembunyi M.S. mengungkapkan bahwa PDIP melakukan regenerasi kepemimpinan bukan tidak ada regenerasi. Hal ini diungkapkan secara implisit untuk menjawab keragu-raguan dan kecurigaan rakyat terhadap PDIP, mengapa PDIP tidak pernah melaksanakan regenerasi kepemimpinan. Jawaban itu terungkap pada kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. 2)Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. 2)Cobalah tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh. 3) Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. 4)Merekalah yang telah siap menyatakan diri memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tetapi  juga  menjadi pemimpin bangsa yang di masa datang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.  5)Saudara-saudara. Melihat semua ini saya sering merenung dan berkata pada diri saya sambil menertawakan diri saya; “Bagaimana Saya bisa belajar pada suatu partai yang dalam waktu begitu cepat bisa naik sampai 300%. (paragraf 20)”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. 2)Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi . 3)Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. 4)Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka. (paragraf 7)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf 7 dan 17 menekankan bahwa partai PDIP lebih berorientasi pada ideologi partai yaitu menyejahterakan rakyat (wong cilik) dan bukan hanya bagi-bagi kekuasaan. Penggunaan kalimat-kalimat yang selalu menggunakan kata-kata rakyat dan wong cilik sebagai ikon dan ideologi politik partai merupakan strategi komunikasi M.S. dengan rakyat sebagai pendengar untuk menanamkan simpatinya. Strategi komunikasi yang dibangun PDIP lewat pidato politiknya selalu keberpihakan pada rakyat kecil (wong cilik).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-46, ke-47, ke-48, ke-50, ke-51, ke52, dan ke-53 merupakan paragraf kesimpulan/penutup yang berisi ucapan terima kasih kepada seluruh elemen tokoh PDIP, panitia kongres, dan aparat keamanan. Kata terima kasih selalu muncul pada paragraf ke-46, ke-47, ke-ke-48, dan ke-51 sebagai paragraf penutup pidato M.S.. Penyampaian kata-kata terima kasih pada akhir pidatonya merupakan hal yang bersifat umum setiap mengakhiri pidato, baik pidato politik maupun pidato di luar konteks politik. Untuk lebih jelasnya lihat uraian tabel di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 52 pidato M.S. mengungkap tiga pilar kebangsaan sebagai bentuk bahwa PDIP memandang pilar kebangsaan yang harus diimplementasikan dan dijaga selalu. Kutipan paragraf 52 mengungkapkan tema/topik dalam kongres III PDIP. Tema/topik pidato ditempatkan pada akhir pidato dengan tujuan memberikan kesan secara emosional kepada pendengar agar merasakan keberpihakan PDIP kepada rakyat kecil. “ Berjuang untuk Kesejahtraan Rakyat” , tema ini dimaknai sebagai bentuk perjuangan PDIP kepada wong cilik. Terakhir sebagai salam penutup pidatonya M.S. menyampaikan salam agama seperti mengawali pidatonya. Penutup pidatonya M.S. dengan menekankan pilar-pilar kebangsaan dan kesejahtraan rakyat sehingga memberikan kesan yang lebih kepada pendengar bahwa PDIP bekerja untuk rakyat. M.S. memilih menyampaikan hal ini pada penutup pidatonya karena kata-kata terakhir akan memberikan kesan dan energi makna yang lebih pada pendengar. Strategi komunikasi politik yang dipakai M.S. dalam akhir pidatonya memberikan kesan adem dan membela rakyat, hal ini dapat dilihat dari strategi komunikasi M.S. dengan menyampaikan tema di akhir pidatonya dengan memilih tema menyentuh langsung pada rakyat “ Berjuang untuk Kesejahtraan Rakyat”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Data penelitian tentang struktur mikro diperoleh dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi dari M.S. selaku ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). PDIP merupakan satu-satunya partai oposisi pada zaman pemerintahan SBY. Jumlah wacana teks pidato politik yang digunakan data penelitian ini sebanyak dua naskah pidato politik. Kedua teks pidato tersebut disampaikan oleh Megawati Soekarnoputri (M.S.). Kedua data dalam penelitian ini dianalisis secara terpisah menggunakan acuan instrumen penelitian yang ada, yaitu struktur supra, struktur mikro dan struktur makro. Data dari naskah pidato yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres PDI Perjuangan dianalisis dari struktur mikro. Wacana Teks pidato tersebut dikontruksi dan dianalisis dari empat elemen, yaitu : elemen semantik, sintaksis, stilistika, dan elemen retorika. Keempat elemen tersebut dipakai instrumen menganalisis data tersebut. Hasil penelitian dari analisis data itu selengkapnya diuraikan dalam tabel berikut ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan tabel 4.6 di atas, elemen semantik dalam teks pidato politik M.S. pada saat pembukaan kongres III PDIP dapat diuraikan sebagai berikut. Elemen latar pada teks tersebut ditemukan sebanyak 7 paragraf, yakni 13,2%, elemen detail ditemukan 5 paragraf, yakni 9,4%, elemen maksud ditemukan 5 paragraf, yakni 9,4%, dan elemen praanggapan ditemukan 9 paragraf, yakni 16,9%. Dari data pada tabel di atas   elemen yang paling banyak digunakan untuk membangun teks itu elemen pra-anggapan, yaitu sebanyak 9 paragraf dari 53 paragraf yang ada atau sebanyak 16,9%. Elemen latar berjumlah 7 paragraf (13,2%) dan elemen detail serta elemen maksud masing-masing hanya 5 paragraf (9,4%). Selanjutnya keempat elemen semantik itu akan diuraikan secara terpisah di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan peserta Kongres III, Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. 2) Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka . 3)Mengapa hal ini saya katakan Saudara-saudara? 4) Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. 5) Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada suatu kekelaman sejarah bagi suatua bangsa.(paraagraf 4)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 4 memiliki elemen latar sebagai landasan diadakannya kongres III partai PDIP. Latar diadakan kongres partai PDIP terdapat pada kalimat ke-2 dan ke-4 pada paragraf ke-4. Mengapa PDIP mengadakan kongres? Jawaban ini memunculkan jawaban latar yaitu “bukan sekadar memenuhi rutinitas lima tahunan dan juga tidak hanya sekadar memilih pengurus partai melainkan karena oleh ingar bingar politik nasional dan sejarah kekelaman bangsa dengan tujuan untuk menyalakan suluh perjuangan partai.” Berikut disajikan kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, atau sejumlah menteri, ataupun juga sampai melangkah ke istana merdeka, saudara-saudara. 2 )Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan . 3)Saya ingin tegaskan bahwa dalam dialektika dengan rakyat tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. 4)Saya berkeyakinan, dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan kembali puncak keemasannya. 5)Karenanya, karenanya saudara-saudara sebagai kader, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat, saudara-saudara. (paragraf 8)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-8 kalimat ke-2 yaitu “ Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan.” Kalimat tersebut lebih menekankan elemen latar sejarah (historis) berdirinya partai PDIP. Ideologi partai sudah terungkap lewat elemen latar pidato yang disampaikan oleh seorang pemimpin partai. Ideologi Partai Perjuangan Indonesia Perjuangan (PDIP), yaitu mengangkat harkat dan martabat wong cilik (rakyat kecil) sebagai latar belakang dan tujuan lahirnya PDIP. Pidatonya memilih elemen latar historis dan wong cilik memiliki kaitan historis dengan pendiri bangsa ini dan sekaligus sebagai ideologi partai. Elemen latar yang lain terdapat pada paragraf ke-21 seperti yang terungkap pada paragraf berikut ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Saya ingin belajar kiatnya karena PDI Perjuangan juga berkeinginan seperti itu saudara-saudara. 2)PDI Perjuangan juga dihadapkan pada rendahnya disiplin warga partai sebagai salah satu tulang punggung tegaknya partai ideologis. 3)Kita dihadapkan pada kemerosotan militansi anggota. Voluntarisme dan aktivisme memudar sebagai elan berpolitik digantikan dengan pertimbangan “untung-rugi”. 4)Ditinggalkannya TPS oleh saksi Partai pada pemilu legislatif dan pilpres adalah suatu contoh kecil, saudara-saudara. ( paragraf 21)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-21 di atas mengungkap latar mengapa partai PDIP mengalami kemerosotan sedangkan partai yang baru berdiri bisa menjadi pemenang, itu diungkap dalam latar karena kurang disiplin warga partai, kemerosotan militansi anggota dan lebih mempertimbangkan untung rugi dari sisi finansial. Hal lain juga terungkap di paragraf ke-24 kemerosotan lebih dilatar belakangi oleh sistem demokrasi yang bersifat manipulatif seperti dalam kalimat berikut “… kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif .”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. 2)Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. 3)Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. 4)Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. 5)Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia. (paragraf 24)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Jadi inti kongres III bukan untuk kalender lima tahun atau sekadar memilih pemimpin / pengurus partai tetapi menjadi partai pengontrol pemerintahan yang akhir-akhir ini menunjukan karakter yang jauh dari nilai-nilai pancasila sebagai contoh terungkap pada paragraf ke-40 kalimat pertama. Hal ini tertulis pada kalimat pertama paragraf ke-39 “ Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa?” dan paragaraf ke -40 kalimat pertama “ Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century .”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen detail dalam wacana berhubungan dengan kontrol informasi yang disampaikan penulis teks pidato atau orator politik dalam teks pidatonya. Komunikator (orator politik) dalam membangun komunikasi politik, akan menampilkan secara berlebihan informasi yang menguntungkan bagi pembicara atau partai demi pencitraan partai dan dirinya. Sebaliknya orator akan menampilkan informasi yang serba sedikit, kurang lengkap dan bahkan tersamar atau tersembunyi ( latent ) jika merugikan dirinya atau partai yang diwakilinya. Detail merupakan bagian dari strategi komunikasi, bagaimana seorang orator politik mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Detail ini akan menyikap makna yang tersembunyi ( latent ) yang ingin diungkapkan oleh seorang orator politik. Detail pada teks pidato yang berjudul “ Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan ” terdapat pada kutipam paragraf ke-7, ke-9, ke-34, ke-39, dan ke- 40 dan diuraikan sebagai berikut ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. 2)Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. 3)Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. 4)Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka. (paragraf 7)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 7 menguraikan secara mendetail bahwa PDIP dihadapkan pada suatu ujian sejarah berupa pilihan opsi “koalisi atau oposisi”. Kalimat detailnya dijelaskan pada kalimat ke-2, ke-3, dank e-4. Kalimat ke-2, ke-3 dan ke-4 merupakan kontrol informasi yang ingin disampaikan untuk menguntungkan PDIP. Pernyataan itu terungkap dengan jelas bahwa partai PDIP bukan tujuan membagi kekuasaan lewat koalisi tetapi yang lebih penting bagaimana merealisasikan ideologi partai yang membela wong cilik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Detail pada paragraf ke-7 tersebut diuraikan begitu menonjol karena lebih menguntungkan PDIP, orator sebagai penguasa PDIP, dan juga partai itu sendiri. M.S. menggunakan lebih banyak strategi pencitraan dalam teks pidatonya dan memilih kata keberpihakan pada rakyat dan wong cilik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 9 kalimat 1 diuraikan tanpa detail seperti diagram di atas dan elemen detailnya diuraikan pada kalimat ke-2. Kontrol informasi yang menguntungkan pembicara/orator dalam teks pidato politik M.S. terlihat jelas pada detail kalimat penjelasnya yang diuraikan secara jelas bahwa PDIP tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan jika kekuasaan itu tidak berpihak pada wong cilik. Di balik makna kalimat itu secara tersamar bahwa PDIP sekarang tidak memegang tampuk kekuasaan tetapi tidak mau berkoalisi dengan partai penguasa yang dipegang oleh partai lain.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara yang saya cintai. 2) Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. 3)Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. 4) Mengapa? 5) Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. 6) Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. 7) Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. 8) Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-34 menguraikan elemen detailnya dengan memberikan penjelasan menggunakan uraian secara metafora perbandingan bahwa bangsa akan menjadi rapuh dan mudah terobang ambing dalam segala hal tanpa fondasi ideologi yang kuat, dalam konteks ini PDIP jelas ingin menancapkan fondasi ideologi partainya secara kuat. Metafora analogi yang digunakan orator jelas dan mudah untuk dicerna maksudnya. Strategi yang dibangun dalam konteks di atas jelas ingin menyampaikan ideologi penting bagi partai. Ideologi PDIP memihak kepada rakyat kecil dan penting bagi keberadaan bangsa ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-39 menguraikan elemen detail terlihat pada kalimat ke-2. Penonjolan elemen detail yang menyudutkan pemerintah penguasa terlihat pada kalimat terakhir dari paragraf ini yaitu kalimat ke-4. Artinya watak atau tabiat dari pemerintah Indonesia yang dinahkodai oleh SBY dari partai demokrat memperlihatkan watak bangsa yang tidak mengadopsi ideologi bangsa yakni pancasila, ini terungkap secara implisit dalam pidatonya M.S.. Jadi bangsa ini bangsa yang pola pemerintahannya kacau balau. Pernyataan M.S. pada paragraf ke-39 mengindikasikan pemerintahan yang dipimpin SBY masih kacau balau atau belum mantap. Pernyataan M.S. dipertegas/diperjelas dan diuraikan secara detail lagi pada paragraf ke-40 kalimat pertama seperti terurai di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. 2)Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. 3)Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. 4)Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya. (paragraf 40)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen maksud dari wacana hampir sama dengan elemen detail. Pola pilihan Semantik sebagai elemen maksud lebih melihat informasi yang lebih menguntungkan dan diuraikan secara ekplisit dan jelas. Informasi yang menguntungkan pembicara/orator lebih disajikan secara jelas dengan kata-kata yang tegas dan menunjuk langsung pada fakta. Sebaliknya dalam elemen maksud informasi yang merugikan akan disajikan secara tersamar/tersembunyi ( latent ) dan implisit. Wacana teks pidato dalam pembukaan kongres PDIP III elemen maksud terungkap pada kutipan paragraf     ke-10, ke- 23, ke-24, ke-34, dan ke- 40 seperti terurai di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-10 di atas bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ingin menjadi partai kekuatan penyeimbang dan bukan partai anti kekuasaan. Paragraf 10 kalimat 1 secara implisit PDIP menyatakan ingin berkuasa atau menjadi bagian dari pemerintahan. Akan tetapi setelah muncul kalimat 2 dan 3 akan menjadi jelas maksud dari paragraf 10 yaitu semua itu diserahkan kepada kehendak rakyat. Paragraf tersebut secara tersamar menyampaikan kepada rakyat bahwa PDIP menolak kekuasaan seperti masuk ke dalam jajaran kabinet pemerintahan SBY bukan berarti anti kekuasaan tetapi kalau memang kehendak rakyat PDIP pun mau dan mampu memegang tampuk pemerintahan. PDIP lewat pidatonya secara tersamar ingin menyampaikan pandangannya bahwa kalau rakyat menghendaki PDIP berkuasa pilihlah PDIP sebagai partai wong cilik. Maksud umumnya bahwa PDIP memilih di jalur oposisi atau partai penyeimbang dan pengontrol karena kehendak rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai. Saya ingin mengucapkan terimakasih yang setinggi-tinggi pada Pimpinan MPR yang telah dengan sekuat tenaga mendorong pemerintah untuk menetapkan 1 Juni, Pancasila  1 Juni 1945 untuk bisa disosialisasikan bagi seluruh bangsa dan negara, saudara-saudara. (paragraf 23)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 23 mengandung maksud bagaimana pembicara/orator mengeksoposisi (memaparkan) secara lugas bahwa Pemilihan Umum (Pemilu) yang dilaksanakan penuh dengan kekacauan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai impian politiknya. Pada bagian awal kalimat orator menyampaikan maksud secara implisit tetapi akan menjadi jelas setelah membaca paragraf secara keseluruhan. Dengan memaparkaan bukti bahwa Megawati datang ke daerah-daerah dan melihat kekacauan itu. Awal kalimat pada paragraf yang sama pembicara/orator (M.S.) membuat sindiran yang bersifat eufimise bahwa pencitraan jauh lebih penting jika dibandingkan dengan perjuangan ideologi partainya. Hal ini merupakan sindiran yang disampaikan kepada pemerintah (SBY) yang sering pidato-pidatonya bertendensi pencitraan pemerintahan dan dirinya dengan mengabaikan ideologi partai. “ Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi.” Kalimat ini yang memang menguatkan elemen maksud dari pembicara/orator untuk menyindir pidato-pidato yang mengedepankan pencitraan demi keuntungan pribadi dan mengesampingkan ideologi partai. Menguatkan pendapat itu karena sejatinya PDIP adalah partai yang mengedepankan ideologi partai bukan hanya sekadar pencitraan atau bagi-bagi kekuasaan. Akan tetapi, pencitraan PDIP memang perlu tapi diungkapkan secara tersamar pada awal kalimat. Sebenarnya pidato M.S. merupakan bagian dari pencitraan tapi disampaikan secara tersamar saat berpidato. Ideologi adalah hal yang menjadi utama yang ingin diperjuangkan PDIP dan bukan hanya pencitraan semata seperti diperjelas pada kalimat 1 dan kalimat 2 paragraf 34 seperti dipaparkan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara yang saya cintai. Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Fakta yang disampaikan pada paragraf ke-24 mengandung maksud yang ingin disampaikan oleh M.S. sebagai pembicara/orator politiknya bahwa kegagalan PDIP bukan karena ditinggalkan oleh rakyat melainkan karena penyelenggaraan demokrasi yang penuh penyelewengan (manipulatif) seperti penulis kutip di bawah ini. Secara implisit kekalahan PDIP dalam pemilu 2009 bukan karena PDIP ditinggalkan atau tidak lagi menjadi partai pilihan rakyat tetapi lebih karena banyak penyelewengan seperti tidak beresnya Daftar Pemilih Tetap (DPT). Lihat kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia . (paragraf 24)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya. (paragraf 40)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf di atas menggunakan pernyataan berupa premis dasar yaitu partai yang memosisikan ideologi partai dengan memilih menjadi oposisi pemerintah. Partai PDIP tidak akan meminta kekuasaan (berupa menteri di kabinet) jika kekuasaan yang tidak memihak pada wong cilik (rakyat kecil). Konteks paragraf ke-9 berpraanggapan bahwa kalau Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ikut dalam koalisi partai maka PDIP tidak berpihak pada rakyat kecil dan akan terjebak pada diskursus oposisi – koalisi yang tidak memiliki dasar ketatanegaraan yang kuat atau inkonstitusional. Jadi ideologi partai PDIP yang berpihak pada wong cilik akan menjadi terabaikan kalau berkoalisi dengan partai pemerintah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pada paragraf ke-10 memakai praanggapan berupa pernyataan (proposisi) bahwa PDIP bukan anti kekuasaan, pernyataan ini akan memunculkan praanggapan berupa proposisi bahwa pilihan bagi PDIP untuk menjadi penyeimbang yaitu prinsip checks and balance yang disebut oposisi adalah kehendak dan pilihan rakyat. Praanggapan yang muncul apapun sikap PDIP diambil dalam keputusan politik lewat pidato politik M.S. adalah pilihan dan kehendak rakyat. PDIP adalah partai milik rakyat maka selalu mengamankan amanah rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pernyataan (proposisi) teks pidato politik Megawati pada paragraf ke-13 mengandung praanggapan bahwa memilih berkoalisi partai dengan partai penguasa pemerintah adalah tidak sesuai dengan misi dan visi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). “ Karenanya, menurut saya adalah suatu hal yang aneh, kalau yang namanya saya itu kok terus menerus disuruh bergabung, saya punya misi dan visi sendiri bagi rakyat ini .” Praanggapan dalam konteks kalimat ini jika bergabung berarti mengabaikan misi dan visi dari partai PDIP yang sebenarnya misi dan visi partai untuk rakyat. Jika PDIP begabung berarti menghianati kehendak rakyat karena rakyat menghendaki menjadi partai penyeimbang.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara sekalian, Jika kita mau sedikit merenung, maka kita pasti akan sampai pada keyakinan bahwa kegagalan kita dalam memaknai garis sejarah sebagaimana saya sampaikan di atas merupakan inti sebab dari ditinggalkannya PDI Perjuangan dalam dua pemilu yang lalu. Kemerosotan suara, ingat! adalah teguran rakyat agar kita kembali ke takdir sebagai sarana dan wadah perjuangan rakyat. Saudara-saudara-ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita. (paragraf 14)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia. (paragraf 24)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sebagai seorang orator akan memiliki praanggapan demokrasi yang sudah berlalu tidak lebih sebuah imajinasi yang menjadi dasar sebuah karya sastra sehingga melahirkan politik seperti sastra yang penuh dengan imajinasi manipulasi seperti drama dan sinetron dengan penuh kepura-puraan. Jika ini terus dibiarkan ke depan akan terjadi pesta demokrasi yang penuh dengan sandiwara dan hanya mementingkan kekuasaan tanpa memikirkan wong cilik. Sikap pragamatis rakyat mulai tumbuh seiring penyelenggaraan pesta demokrasi yang berorientasi pada finansial ( money political ) seperti yang terungkap pada pidato politiknya Megawati di paragraf ke-31 di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bentuk kalimat, yaitu bagian elemen sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Bentuk kalimat ini bukan hanya persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Susunan kalimat yang dimaksud antara lain yang berstruktur aktif dan pasif, modus kalimat yang digunakan, yaitu deklaratif, interogatif, dan imperatif. Wacana teks pidato politik Megawati selaku ketua umum PDIP yang bertjudul “ Pidato Pembukaan Kongres III PDIP Perjuangan ” penulis akan menguraikan persentase penggunaan kalimat yang berstruktur aktif dan pasif, persentase penggunaan modus kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif yang digunakan dalam wacana teks pidato politik dimaksud.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. 2)Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. 3)Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. 4)Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. 5)Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. 6)Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. 7)Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. 8)Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai. 9)Saya ingin mengucapkan terimakasih yang setinggi-tinggi pada Pimpinan MPR yang telah dengan sekuat tenaga mendorong pemerintah untuk menetapkan 1 Juni, Pancasila  1 Juni 1945 untuk bisa disosialisasikan bagi seluruh bangsa dan negara, saudara-saudara. (paragraf 23)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-23 mengindikasikan lebih dominan dan lebih produktif penggunaan kalimat aktif dalam teks pidato politik M.S.. Hal ini didukung fakta bahwa dari 9 kalimat pada paragraf 23 hanya satu kalimat ditemukan menggunakan kalimat pasif. Kalimat 2 paragraf di atas inti kalimatnya adalah “Kita harus berhadapan” “kita” sebagai inti subjek sebagai pelaku dan “berhadapan” sebagai inti predikat. Inti subjek dan predikat kalimat 2 diperluas menggunakan struktur kalimat pasif yaitu “…digambarkan oleh kekacauan….” Sedangkan penggunaan kalimat pasif paragraf 23 itu ditemukan pada kalimat 5, yaitu Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Kalimat ini menggunakan kata kerja (verba) pasif transitif, yaitu “disikapi”. Jadi paragraf 23 pola pengembangan paragrafnya menggunakan 8 kalimat aktif dan 1 kalimat pasif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. 2)Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika belaka. 3)Untuk bisa bekerja efektif, ideologi membutuhkan kader. 4)Ideologi membutuhkan pemimpin. 5)Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik. 6)Ideologi membutuhkan aturan bermain. 7)Ideologi membutuhkan kebijakan. 8)Ideologi membutuhkan program yang merakyat. Ideologi membutuhkan sumber-daya. (paragraf 43)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Modus kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif berdasarkan tabel 4.8 diuraikan sebagai berikut. Dari 201 kalimat yang ada dalam teks pidato politik ditemukan, 1) kalimat deklaratif sebanyak 180 kalimat, yakni 89 %, 2) kalimat interogatif berjumlah 14 kalimat, yakni 6 % , dan kalimat imperatif sebanyak 7 kalimat, yakni 3 %. Berdasarkan analisis data pada tabel di atas penggunaan modus kalimat deklaratif yang banyak 89% , yaitu 180 kalimat. Melihat persentase pada tabel tersebut, artinya teks pidato politik PDIP lebih banyak menggunakan kalimat pernyataan dan penjelasan. Dan modus kalimat yang bersifat imperatif penggunaannya paling sedikit, hanya 6%, yaitu sebanyak 14 kalimat. Dengan demikian teks pidato M.S. lebih banyak menggunakan strategi menjelaskan dan pernyataan-pernyataan daripada menggunakan kalimat-kalimat perintah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan tabel 4.9 kohesi gramatikal teks wacana pidato politik dapat diuraikan sebagai berikut. Yang pertama kohesi gramatikal pengacuan ( referensi ) sebanyak 81 kalimat, yakni 40,2 %. Yang kedua kohesi gramatikal substitusi sebanyak 11 kalimat, yakni 5,47 %. Yang ketiga kohesi gramatikal ellipsis sebanyak 7 kalimat, yakni 3,48 %. Dan yang terakhir kohesi konjungsi antarkalimat dan antarparagraf sebanyak 46 kalimat, yakni 22,8 %. Keempat kohesi gramatikal itu dapat penulis uraikan pada kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara yang saya cintai. 2)Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. 3)Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. 4)Mengapa? 5)Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia . 6)Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. 7)Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. 8)Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-34 menggunakan tiga pengacuan (referensi) , yaitu pada kalimat ke-2 menggunakan pengacuan demonstratif lokasional yang bersifat anafora yakni mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya. Pada kalimat ke-5 menggunakan pengacuan (referensi) komparatif, yaitu membandingkan secara metafora membangun bangsa diibaratkan atau dianalogikan dengan membangun rumah di atas pasir. Artinya bangsa diibaratkan sama dengan rumah dan secara ideologi politik membangun bangsa ini oleh pemerintah jangan seperti membangun rumah di atas pasir, cepat bangunan selesai sedikit kena angin menjadi hancur. Secara tersembunyi pidato M.S. ingin menyampaikan kepada penyelenggara negara bangunlah bangsa ini dengan pondasi yang kuat agar bangsa menjadi kokoh. Sedangkan pada kalimat ke-6 menggunakan pengacuan persona dengan persona ketiga tunggal “ia”. Makna pengacuan ( referensi ) “ia” adalah bangsa yang diibaratkan dengan bangunan di atas pasir.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Demokrasi Indonesia yang telah lama kita perjuangkan bukanlah suatu ruang kosong yang bekerja secara metafisis ataupun mekanis. 2) Ia adalah medan peperangan ideologi. 3)Demokrasi prosedural yang kini kita jalani berangkat dari kutub ideologi liberal-individual. 4)Sebagai ideologi ia memberikan mekanisme dan jaminan berkompetisi dan melahirkan pemenang dan pecundang. 5)Demokrasi liberal tak akan pernah menjadi bentangan karpet merah menuju keadilan sosial bagi segenap tumpah darah Indonesia. 6) Ia bukan pula jalan bagi penguatan partisipasi rakyat. 7)Demokrasi semacam ini bisa jauh lebih buruk lagi, ketika dia dibangun di atas politik pencitraan dan bekerja untuk melindungi citra itu semata-mata. 8)Demokrasi Indonesia mestinya dibangun di atas keutamaan kolektivitas, dijalankan melalui musyawarah untuk mufakat, dan bekerja di tengah-tengah keyakinan akan kebhinnekaan sebagai anugrah Alllah  Subhana wa ta’ala.  9) Ia adalah demokrasi yang konon kata para ahli adalah demokrasi deliberatif. (paragraf 38)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan kongres yang saya cintai, Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab kita untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. 2)Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. 3)Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. 4)Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak. (paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur mikro peranti kohesi leksikal teks pidato politik dalam rangka pembukaan kongres III PDIP diperoleh hasil analisis sebagai berikut : 1) kohesi leksikal repetisi sebanyak 71 kata. 2) peranti kohesi leksikal sinonim sebanyak 9 pasang kata, 3) peranti kohesi leksikal antonim sebanyak 7 pasang kata, dan 4) peranti kohesi leksikal hiponim tidak ada dalam data teks pidato politik. Untuk mebuktikan data pada tabel di atas dikutip peranti-peranti kohesi leksikal yang terdapat pada tabel 4.10 di atas.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 9 pada kalimat 2 , yaitu “oposisi-koalisi” merupakan bentuk kohesi leksikal antonim. Makna leksikal kata “oposisi” adalah partai penentang di dewan perwakilan, yang menentang dan mengkritik pendapat atau kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa (KBBI,2001: 800) sedangkan kata “ koalisi” kerjasama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dalam parlemen. (KBBI,2001:576). Jika dimaknai secara konteks wacana kognisi sosial pemerintahan sekarang maka makna “oposisi” adalah partai yang berada di luar pemerintahan. Realitas dari ini bahwa PDIP berada di luar pemerintahaan SBY tetapi bukan semata-mata sebagai penentang, bukti ini bahwa PDIP tidak ikut dalam jajaran pemerintahan SBY. Sedangkan makna kata “koalisi” artinya partai yang ikut dalam pemerintahan termasuk ke dalam jajaran kabinet pemerintahan (dalam konteks penelitian ini adalah pemerintahan SBY).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Sudah saatnya kita menyadari untuk kemudian bangkit membenahi segala kekurangan dan kelengahan kita selama ini. 2) Sudah saatnya kita menata ulang seluruh perangkat perjuangan untuk kemudian menatap dengan penuh optimisme bahwa partai ini adalah partainya wong cilik dan dipersembahkan bagi mereka. 3) Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali aktif dalam membangun solidaritas horizontal bersama rakyat untuk membuat lompatan kualitatif. 4) Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali menjadi kekuatan yang merajut keaneka-ragaman kita ke dalam satu kesatuan tekad, satu kesatuan jiwa, dan satu kesatuan gerak. (paragraf 15)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 15 merupakan pengembangan paragraf dengan pola kohesi leksikal yang menggunakan penanda repetisi (pengulangan). Hal ini bisa dilihat pada kalimat 1 diawali dengan frasa “sudah saatnya kita” dan frasa itu diulang lagi pada kalimat 2. Kalimat 3 “sudah saatnya PDI Perjuangan” diulang lagi pada kalimat 4 di baagian awal kalimatnya. Pengulangan (repetisi) yang digunakan dalam pengembangan paragraf merupakan strategi komunikasi bahwa kata, frasa, klausa atau kalimat yang diulang merupakan hal penting dan yang perlu mendapaatkan penekanan yang disebut dengan elemen grafis. Komunikasi dalam dunia politik hal ini penting dilakukan agar pendengar (audien) bisa memahami dengan baik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. 2)Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. 3)Cobalah tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh . 4)Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. 5)Merekalah yang telah siap menyatakan diri memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tetapi  juga  menjadi pemimpin bangsa yang di masa datang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.  6)Saudara-saudara. Melihat semua ini saya sering merenung dan berkata pada diri saya sambil menertawakan diri saya; “Bagaimana Saya bisa belajar pada suatu partai yang dalam waktu begitu cepat bisa naik sampai 300%.” (paragraf 20)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 15 kalimat 2 muncul kata bersinonim antara kata dengan frasa. Kata “regenerasi” bersinonim dengan frasa “tunas-tunas harapan bangsa” atau juga pada kalimat 3 paragraf 10 yaitu frasa ” banyak tunas-tunas baru yang tumbuh” serta frasa “ banyak generasi muda”. Di samping itu juga sinonim yang berupa frasa muncul juga pada paragraf 24, yaitu kalimat 1 dan kalimat 2 “menghilangkan secara paksa” = “perampasan secara paksa”. Sinonim merupakan bentuk dan strategi repetisi yang pengulangannya menggunakan bentuk kata yang berbeda tetapi masih memiliki ikatan makna atau kesamaan makna. Seperti apa yang teruraikan di atas bahwa pengulangan baik pengulangan utuh, pengulangan dengan sinonim, atau pengulangan dengan anafora atau katapora semua itu merupakan strategi dalam komunikasi terutama komunikasi politik untuk menegaskan hal yang penting kepada pendengar (audien). Di samping pengulangan di atas pola pengembangan paragraf dengan penekanan pada paragraf sebelumnya juga digunakan oleh M.S. dalam pidato politiknya, yaitu dengan menggunakan repetisi antarparagraf seperti kutipan-kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan Kongres ke III, Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa? 2)Kecenderungan menciptakan semakin banyak lembaga menyebabkan fragmentasi pemerintahan yang serius. 3)Setiap hari media massa menyajikan betapa kronisnya fragmentasi yang terjadi akibat dari tidak adanya tuntunan ideologis yang jelas. 4)Akhirnya sangat jelas: suatu kekacauan pengelolaan pemerintahan. (paragraf 39)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century . 2)Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. 3)Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. 4)Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya. (paragraf 40)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 39, 40 dan 41 merupakan kutipan paragraf yang menyatakan repetisi antarparagraf dan sinonim antarparagraf. Repetisi antarparagraf terdapat pada kalimat terakhir di paragraf 39 dan kalimat ke-1 paragraf 40 yaitu “kasus bank century” dan “kekacauan pengelolaan pemerintahan”. Pengulangan kedua frasa tersebut sebagai bentuk penegasan bahwa frasa tersebut penting maka frsae “kekacauan pengelolaan pemerintahan” yang terdapat pada kalimat 4 paragraf 39 dan frasa “kasus bank century” pada kalimat 1 diulang lagi pada kalimat ke-1 pada paragraf 41 di bagian akhir kalimat. Ini menandakan bahwa frasa itu penting dan menjadi komunikasi politik dalam pidato politik M.S..

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Strategi elite politik menghadirkan dirinya dalam komunikasi politik merupakan persoalan bagaimana elite politik memilih pronomina persona dalam orator politiknya. Elemen kata ganti ini merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Elemen ini menentukan komunikator (orator) untuk menunjukkan di mana posisi seseorang dalam wacana. Pilihan strategi kehadiran seseorang dalam wacana berimplikasi terhadap jarak sosial yang tercipta antara penutur dan petuturnya. Wacana teks pidato politik yang disampaikan Megawati dalam rangka “Pembukaan kongres III PDI Perjuangan “ strategi kehadiran diri yang digunakan dan dipilih adalah 1) penggunaan pronomina persona jamak yang berifat inklusif kita, 2) Penggunaan pronomina persona jamak orang ketiga mereka , 3) penggunaan pronomina persona tunggal orang pertama saya dan aku , dan 4) penggunaan pronomina persona tunggal orang ketiga ia dan dia juga 5) penggunaan kata sapaan Bapak, Saudara, dan Beliau . Jumlah persona (kata ganti) yang digunakan dalam wacana teks pidato Megawati dalam pembukaan kongres lihat tabel di

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penggunaan persona atau kata ganti dan sapaan pada wacana teks pidato politik PDIP yang disampaikan dalam rangka pembukaan kongres III partai PDIP adalah sebanyak 194 kata ganti (persona) dengan rincian pada tabel 4.11 di atas. Penggunaan strategi komunikasi kehadiran diri dengan kata ganti (persona) “saya” pada teks pidato politik saat pembukaan kongres III PDIP sebanyak 58 kali persona “saya/aku”, yaitu 29% dengan rincian 57 kali menggunakan kata ganti “saya” dan 1 kali kata “aku” dengan bentuk klitika “ku”. Pengguana kata ganti (persona) “kita” berjumlah 95 persona “kita” sebagai persona inklusif, yaitu 48%. Penggunaan kata ganti (persona) “mereka” sebagai kata ganti orang ketiga jamak sebanyak 6 kali, yakni 3%. Penggunaan kata ganti (persona) “dia/ia” sebagai kata ganti orang ketiga tunggal sebanyak 6 kali, yakni 6%, dan penggunaan kata sapaan sebanyak 29 kali, yakni 14%.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penggunaan persona “ku” dalam bentuk klitika terdapat pada paragraf ke-14 kalimat “ Saudara-saudara-ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita. Bentuk klitika “ku” yang digunakan dalam teks pidatonya menunjukan pribadi orator dalam hal ini Megawati menandakan keakraban dan kedekatan dengan pendengar atau rakyat. Mengingat persona “aku” digunakan bersifat informal dalam konteks penuh keakraban. Begitu juga halnya dengan persona “saya” yang digunakan oleh M.S. selaku elite politik dari PDIP dalam komunikasi politiknya sebagai simbol begitu teguhnya memegang prinsip dan perhatian terhadap kader-kader partainya. Persona “saya” yang digunakan M.S. lebih menyentuh hati kepada kader partai dan rakyat dalam tatanan ideologi. Hal ini dipaparkan pada paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka. (paragraf 7)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke- 5 teks pidato politik M.S. menghadirkan dirinya dengan pronomina persona “kita” sebagai persona jamak yang bersifat inklusif. Persona “kita” terkandung makna kehadiran “saya” dan “anda” (pembicara/orator, audien dan rakyat yang diwakili), “petutur” dan “penutur”. Ada suatu hal yang menarik dalam kutipan paragraf ke-5 yaitu konstruksi kalimat “Sebagai partai kita boleh berbangga.” Secara normatif, orator (penghasil teks) seharusnya hadir dengan menggunaakan persona “kami” karena menghadirkan dirinya sebagai wakil partai. Temuan ini merupakan penyimpangan penggunaan persona “kita” yang sebenarnya menggunakan persona “kami” M.S. berbicara mewakili partai. Fenomena yang menarik bahwa dalam teks pidato M.S. yang berjudul” Pidato Pembukaan Kongres III PDIP” tidak satupun ditemukan persona “kami”, mestinya jika M.S. berbicara mewakili pengurus partai seharusnya menggunakan persona “kami”. Persona yang banyak digunakan adalah “kita”, “saya” dan bentuk-bentuk sapaan seperti “beliau”, “saudara”, dan “bapak”. Pada hal M.S. berpidato selaku ketua umum partai dan M.S. berpidato jelas atas nama pengurus DPP partai, semestinya jika mengatasnamakan pengurus partai mestinya menggunakan bentuk persona “kami”. Akan tetapi, dalam teks pidato M.S. tidak satu pun persona “kami” yang digunakan M.S. dalam pidatonya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 9 penggunaan persona”kita” terkandung makna bahwa PDIP menempatkan posisi pembicara (M.S.) sebagai petutur sekaligus sebagai penutur. Pemilihan persona “kita” pada pidato politiknya M.S. untuk memosisikan diri bahwa M.S. dan rakyat sama yaitu sama-sama memiliki partai PDIP. Hal yang menarik dari temuan dalam teks pidatonya adalah penggunaan persona “kita” pada kalimat “ Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan .” “kita” pada kalimat tersebut terkandung makna masyarakat Indonesia dari partai manapun. “ Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut ” pemaknaan “kita” merupakan pemaknaan yang menyatakan seluruh rakyat Indonesia karena yang menganut sistem ketatanegaraan dimaksud adalah Indonesia bukan hanya PDIP saja. Sudut linguistik kebahasaan persona “kita” mestinya tidak muncul kaarena yang berbicara itu adalah M.S. selaku ketua PDIP dalam konteks kongres dan seharusnya pesona “kita” menjadi “Negara Indonesia” sehingga kalimat menjadi “Apalagi dari sudut ketatanegaraan yang dianut oleh negara Indonesia” maka dengan membandingkan kalimat itu jelas persona “kita” dalam konteks paragraf ke-9 terkandung makna negara Indonesia. Jadi, penggunaan persona “kita” tidak tepat. Melihat pemaknaan persona “kita” pada kalimat dimaksud lebih menekankan pada makna ideologi politik dan bukan makna secara linguistik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-15 menggunakan persona orang ketiga jamak yaitu “mereka”. Penggunaan persona “mereka” oleh orator politik yakni M.S. sebagai bentuk kepedulian dan keberpihakan PDIP kepada masyarakat kecil (wong cilik) karena perseona “mereka” mengacu pada wong cilik. Penggunaan persona “mereka” bermakna bahwa komunikasi juga dilakukan kepada orang ke-3. “mereka” yang dimaksud adalah di luar pendengar saat pidato disampaikan. Akan tetapi, berbeda halnya persona “mereka” yang digunakan dalam paragraf ke -16. Persona “mereka” pada paragraf ke-16 mengandung makna secara ideologi adalah warga PDIP secara luas, termasuk M.S. yang menggunakan persona”saya” , orang yang diajak berbicara (orang ke-2), dan orang ketiga pun masuk ke dalam makna kata persona “mereka”. Kalimat “Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada….” Jika dimaknai kalimat di atas maka persona “mereka” mengandung makna orang pertama “saya” karena persona “saya” sebagai warga PDIP, orang kedua yang diajak berbicara (audien) juga masuk dalam makna “mereka”, dan juga orang ketiga juga ikut dalam makna “mereka”. Penggunaan persona “mereka” oleh M.S. dalam pidato politiknya sebagai upaya menyamaratakan status sebagai warga PDIP.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Ideologi yang berkaitan dengan agama seperti diuraikan seperti tabel di bawah ini. Elemen ini menandakan bagaimana seseorang melakukan pemilihan kata untuk berbagai kemungkinan kata yang tesedia dan penggunaanya tepat sesuai konteks. Leksikalisasi ( lexicalization) berkaitan dengan keberadaan sebuah kata untuk sebuah konsep. Leksikalisasi (lexicalization ) dalam pandangan kritis diperlakukan sebagai fenomena yang bersifat dinamis dan penuh dengan muatan makna yang bersifat ideologi politik baik yang bersifat nyata atau eksplisit maupun bersifat tersembunyi ( latent ) atau tersamar. Pemilihan unsur leksikalisasi yang berisfat tersembunyi selalu dipakai dalam dunia politik demi etika politik. Untuk itu elemen leksikalisai pada teks pidato politik M.S. yang disampaikan saat pembukaan kongres III PDIP terjadi pergeseran-pergeseran makna, ada makna yang secara khusus mewakili pembawa makna ideologi dan juga muncul kata yang membawa makna

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada mari kita jadikan lima tahun kemarin sebagai pelajaran berharga, dan kita jadikan lima tahun ke depan sebagai tahun-tahun PERUBAHAN & KEBANGKITAN KEMBALI, saudara-saudara.Ini mengingatkan saya, pada tahun tahun sulit yang pernah dilewati oleh Bung Karno, dan hingga hari ini masih terngiang di telinga saya, kata-kata Beliau:  “Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. 2)Kita telah mencapai suatu point of no return !!!”, saudara-saudara. 3)Untuk itu, kita tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke jati diri sebagai partai yang mempunyai ideologis. (paragraf 16)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke 16 elemen yang ditekankan atau ditonjolkan “perubahan & kebangkitan kembali” perubahan dan kebangkitan yang dimaksud dalam konteks makna ideologi politik adalah kebangkitan PDIP yang mengalami kemerosotan suara dalam pemilu dan perubahan paradigma. Penekanan atau penonjolan itu dengan menggunakan huruf kapital dan juga dengan menggunakan tanda petik dua sebagai makna bahwa hal itu penting untuk disampaikan seperti “ Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. Kita telah mencapai suatu point of no return !!!”, penonjolan dan penekanan (elemen grafis) yang digunakan pada kutipan kalimat di atas dengan pengulangan kata (repetisi) seperti kata “mundur” diulang, menggunakan pola penonjolan dengan antonim seperti kata “maju x mundur”, menggunakan persajakan (rima) seperti “mundur-hancur”, dan “mandeg-ambleg” dan yang paling menarik dengan menggunakan kutipan bahasa Inggris “point of no return”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Dari sisi eksternal, tantangan bagi PDI Perjuangan untuk kembali ke jalan ideologis juga tidak ringan. 2)PDI Perjuangan harus bekerja dalam situasi psiko-politik “anti-partai” dan “anti-ideologi”. 3)PDI Perjuangan harus bekerja dalam suatu masyarakat yang semakin pragmatis, transaksional, dan berpikir instant untuk kepentingan individual berjangka pendek. 3) Kita harus bekerja dalam situasi dimana sebagian pihak menganggap bahwa menduduki jabatan publik melalui jalan partai adalah jalan baru bagi keamanan ekonomi. 4)Partai bukan lagi sebagai alat ideologi, alat perjuangan tapi alat akumulasi ekonomi. 5)Partai menjadi sarana transportasi cepat untuk keuntungan ekonomi individual, bukan lagi sarana untuk mewujudkan kepentingan rakyat, saudara-saudara.(paragraf 22)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. 2)Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika belaka. 3)Untuk bisa bekerja efektif , ideologi membutuhkan kader. 4) Ideologi membutuhkan pemimpin. 5) Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik. 6) Ideologi membutuhkan aturan bermain. 7) Ideologi membutuhkan kebijakan. 8) Ideologi membutuhkan program yang merakyat.9) Ideologi membutuhkan sumber-daya. (paragraf 43)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Untuk itu, mari kita kembali ingat akan kata-kata Proklamator kita, Bung Karno, beliau mengatakan, mengambil kata-kata ini dari bahasa Sansekerta:“KARMA NEVAD NI ADIKARASTE MA PHALESHU KADA CHANA”,“Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya!”. 2)Kata-kata di atas, adalah tulisan tangan Bung Karno yang dikutip dari Percakapan Kedua, Kitab Baghawad Gita. 3)Kata-kata di atas adalah sebagian dari nasihat Kresna pada Arjuna di medan perang Kurusetra. 4)Nasihat yang disampaikan setelah Arjuna nampak bimbang menghadapi lawan-lawannya yang adalah para guru dan sanak-saudara sendiri. 5)Tuhan pasti memberikan jalan bagi kita semua. (paragraf 45)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping memperjuangkan ideologi partai dengan segala perubahan dan untuk bangkit kembali PDIP pun menggunakan elemen agama sebagai dasar berpolitik seperti kutipan paragraf ke 45. Elemen agama ditonjolkan pada paragraf ini sebagai ikon bahwa PDIP partai yang menjungjung tinggi nilai-nilai agama dan ke-bhineka-an yang nasionalis. :“KARMA NEVAD NI ADIKARASTE MA PHALESHU KADA CHANA”,“Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya!”. kutipan ini berasal dari bahasa Sansekerta yang langsung ditekankan pada petikan maknyanya seperti hal di atas sebagai konsep Hindu akan tetapi seorang M.S. yang beragama Islam mengangkat sastra agama dalam teks pidatonya sebagai wujud teloransi yang tinggi. Dengan mengutif sastra agama dalam teks pidato M.S. menandakan bahwa PDIP dalam menjalankan etika politik masih menjungjung tinggi nilai-nilai agama.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana teks pidato politik pada saat pembukaan kongres III PDIP menggunakan 53 paragraf. Dari ke-53 paragraf tersebut ditemukan penggunaan tiga jenis metafora, yaitu metafora nominatif berjumlah 12 paragraf yakni 22 %, metafora predikatif sebanyak 2 paragraf, yakni 3 %, dan metafora kalimat hanya 1 paragraf, yakni 1 %. Dari 53 paragraf yang terdapat pada teks pidato politik yang disampaikan M.S. 15 paragraf atau 28 % menggunakan metafora untuk menyampaikan pesan-pesan politiknya. Paragraf yang menyatakan metafora nominatif seperti kutipan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Kita dihadapkan pada keterbatasan sumber pembiayaan di tengah-tengah kebutuhan anggaran pengelolaan partai yang semakin besar. 2) Kita dihadapkan pada kelangkaan kepemimpinan baik secara kualitas maupun kuantitas. 3) Pengaturan kelembagaan partai kita masih terpusat pada satu tiang penyanggah, yakni organisasi partai dari DPP hingga anak ranting saja. 4) Kita membiarkan tangan-tangan partai yang mengelola kekuasaan dan pemerintahan tidak diatur dalam AD/ART partai. 5) Ini menimbulkan kesulitan dalam membangun koordinasi dan sinergi lintas pilar penyangga partai. 6) Kita akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan, meluasnya kecenderungan fraksi berjalan sendiri-sendiri atau sebaliknya kegagalan struktural partai dalam memberikan arahan bagi fraksi dan dalam membangun komunikasi dan sinergitas dengan kepala daerah. (paragraf 18)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 18 pada kalimat 3, 4, dan 5, yaitu kata-kata yang ditebalkan merupakan metafora nominatif. Jadi ketiga kalimat tersebut menggunakan metafora berjenis nominatif. Metafora “ tiang penyanggah”, “tangan-tangan partai”, dan “ pilar penyangga” dikatagorikan sebagai metafora nominatif karena inti frasanya berjenis kata benda. Kata-kata yang dicetak tebal dikatagorikan metafora karena ketiga kata itu tidak bermakna secara leksikal melainkan melahirkan makna-makna yang bersifat idomatis.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Saudara-saudara utusan kongres yang saya cintai, Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab kita untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. 2) Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan . 3) Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. 4) Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak. (paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara yang saya cintai. 2) Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. 3) Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. 4) Mengapa? 5) Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. 6) Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. 7) Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. 8) Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berbeda halnya dengan metafora nominatif yang pemunculannya lebih banyak jika dibandingkan dengan dua metafora lainnya. Kutipan paragraf 34 merupakan satu-satunya paragraf yang menggunakan metafora kalimat dari 53 paragraf yang ada pada teks pidato politik M.S.. Kalimat 5, yaitu “ Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia .” Kesatuan makna kalimat merupakan satu kesatuan yang melahirkan makna bias dari makna leksikalnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

2.Inilah hal-hal yang perlu kita semua renungkan kembali. Apakah realitas seperti ini yang kita kehendaki bagi masa depan Indonesia kita? Realitas dimana survei dan indeks kepuasaan menjadi lembaga dan instrumen baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Realitas dimana citra dikedepankan tetapi di saat yang sama, membiarkan tugas sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta melahirkan Indonesia yang bermartabat, menjadi sekadar pekerjaan seolah-olah. (paragraf 30)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 52 pembicara/penulis teks mengungkapkan temanya secara eksplisit diakhir dan sekaligus sebagai penutup pidato. Pidato politik M.S. yang berjudul Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan mengangkat tema yaitu, “Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat”. Makna global yang ingin disampaikan oleh M.S. dalam pidato politiknya adalah perjuangan PDIP untuk kesejahteraan rakyat.   Tema yang disampaikan diakhir dan sebagai penutup merupakan strategi penyampian yang kurang tepat. Temuan ini tidak sesuai dengan teori pidato yang menyatakan bahwa pokok pembahasan yang menjadi tema pidato ditampilkan dengan terlebih dahulu mengemukakan latar belakang permasalahannya. (Putra Bahar.2013:204).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping diperkuat dan didukung oleh subtopik tema tersebut juga diperkuat oleh fakta yang ditemukan pada kutipan paragraf 25 “ Meski saat itu saya dikalahkan tetapi saya berbangga dan berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang demokrasi yang telah diletakkan akan menjadi jalan keluar bagi kesejahteraan rakyat serta bagi terpeliharanya kemajemukan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, saudara-saudara” dan kutipan paragraf 30 “ Realitas dimana citra dikedepankan tetapi di saat yang sama, membiarkan tugas sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta melahirkan Indonesia yang bermartabat, menjadi sekadar pekerjaan seolah-olah”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Data yang ke-2 menggunakan teks pidato politik dari Megawati Soekarnoputri yang berjudul” Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan”. Analisis data ini pun juga menggunakan parameter dari teorinya Van Dijk, yaitu struktur supra, struktu mikro, dan struktur makro. Data penelitian terkait dengan struktur supra didapatkan dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi yaitu Megawati Soekarnoputri yang berjudul “Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan”. Untuk menganalisis struktur supra dari teks pidato dimaksud penulis menggunakan kerangka teori pidato politik. Kerangka pidato sebagai acuan dalam menganalisis data struktur supra teks pidato politik penulis gambarkan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kerangka teori pidato politik ini secara garis besar terdiri atas empat tahapan yaitu : yang pertama pembukaan/pendahuluan yang berisi ucapan salam (salam agama, pekik kemerdekaan atau pekik partai) , gagasan pentingnya hal dalam pidato disampaikan, gagasan umum dan latar belakang kenapa mengangkat tema/topik pidato atau apa urgensinya. Pilihan berbagai salam akan memberikan interpretatif bagi pendengar (audience ) mengenai identitas partai politik. Yang kedua eksposisi pemaparan mengenai fakta-fakta yang terkait dengan ideologi partai, identitas partai, dan program-program partai yang merupakan isi dari sebuah pidato politik. Eksposisi pada pidato politik akan menyampaikan isi yang disertai dengan pembahasan tentang program kerja partai sebagai argumen dan isu politik untuk memersuasif pendengar. Yang ketiga adalah persuasi, ini masih merupakan bagian dari isi pidato politik dan bagian ini merupakan suatu yang penting karena persuasi dalam dunia politik merupakan strategi memengaruhi audien atau pendengar terkait dengan ideologi yang ditawarkan. Dan yang kempat adalah penutup dan kesimpulan yangb ersisi ucapan salam penutup, saran, dan atau harapan-harapan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan pada tabel 4.16 di atas ditemukan bahwa struktur supra wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi yang disampaikan oleh ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dibangun berdasarkan alur atau skematika pidato politik yaitu : (1) pendahuluan, (2) isi, dan (3) penutup. Berdasarkan analisis data pidato yang berjudul “ Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan” yang tersebut pada tabel 4.6 di atas bahwa bagian pendahuluan teks ditemukan ada 6 paragraf, yakni 21,4 %, bagian isi pada teks pidato ditemukan sebanyak 20 paragraf, yaitu 71,4 %, dan bagian penutup/kesimpulan ditemukan sebanyak 2 paragraf, yaitu 7,14 %. Dari analisis data pada tabel di atas ternyata struktur supra yang paling banyak ada pada isi pidato, yaitu 21,4 %. Hal ini sesuai dengan teori bahwa dalam pidato paragraf isi harus paling banyak. Uraian data pada tabel 4.16 kutipan paragrafnya akan diuraiakan secara jelas pada tabel 4.2 di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“ Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana teks pidato politik ketua umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP yang disampaikan oleh M.S. di atas merupakan teks pidato politik dalam rangka memperingati hari ulang tahun partainya. Analisis struktur supranya yakni skematika atau alur dari teks pidato politik yang digunakan oleh M.S. selaku tokoh partai sekaligus sebagai ketua umum partai politik, M.S. mengawali pidatonya selalu dengan menyampaikan salam agama, salam nasional dan memekikan salam kemerdekaan. Menyampaikan salam agama Islam, Hindu, dan Kristen untuk menunjukkan bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menunjukkan partai nasionalis yang menghargai ke-bhineka-an bangsa. Pribadi M.S. juga seorang yang solidaritas, rasa nasionalisme dan menghagai perbedaan terutama dalam hal agama. Pekikan kemerdekaan menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tidak pernah pudar. Selanjutnya dengan mengucapkan salam hormat kepada peserta kongres. Paragraf pertama selalu memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan disertai menyampaikan pandangan yang bersifat umum baik secara politik, ekonomi, karakter maupun budaya. Tema/topik pidato M.S. ini sudah disampaiakan pada bagian pendahuluan, yaitu paragraf 5 lihat tabel 4.17. Berikut cuplikan paragraf di bawah ini

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial . 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf pendahuluan yang terdapat pada paragraf ke-5 mengungkapkan kegagalan negara dalam mengangkat kesejahtraan rakyat. Kedua pidato politiknya M.S. selalu mengusung kesejahtraan rakyat sebagai isu politik. Kesejahtraan rakyat dan wong cilik merupakan pilihan kata M.S. dalam pidato-pidato politiknya. Penggunaan kata-kata “kesejahteraan rakyat” dan “wong cilik” sebagai strategi komunikasi politik M.S. untuk memberikan kesan awal bahwa PDIP memiliki ideologi partai yang berpihak pada rakyat. Fakta ini peneliti temukan dari dua teks pidato politiknya M.S. selalu menggunakan topic/tema pidato yang mngangkat masalah kesejaheraan rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik . Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan. (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pendahuluan pidatonya kental kelihatan keberpihakan pada rakyat (wong cilik) sebagai pilihan ideologi partainya. Wong cilik sebagai ikon pidato politik M.S. sebagai bentuk pencitraan dirinya sebagai pemimpin partai dan sekaligus sebagai pilihan ideologi partai. Ini membawa makna bahwa PDIP tidak ambisi kekuasaan tetapi partai yang membela rakyat wong cilik. M.S. mengawali pidatonya seperti ini untuk menaruh simpati kepada rakyat. Pada paragraf ke-5 M.S. mengawali pidatonya dengan mengangkat problema dasar yaitu kegagalan negara dalam membangun kesejahteraan rakyat. Makna umum tentang kesejahteraan rakyat selalu disampaikan dalam pendahuluan pidatonya. Selanjutnya pada paragraf ke-6 skematik pendahuluannya menggunakan rujukan ke luar wacana situasional ( eksoforik ) yaitu rujukan wacana yang menunjuk pada objek di luar teks seperti “ Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali.”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat. 2)Pada saat bersamaan, pemerintah seharusnya mendengar jeritan rakyat atas kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar, yang sudah melebihi daya beli rakyat. 3)Bahkan, untuk kesekian kalinya, rakyat menjadi korban hanya untuk sekedar mendapatkan makan. 4)Oleh karena itu, tidak boleh terjadi lagi, rakyat kecil bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin berat sebagaimana telah terjadi di Cirebon, Kebumen, dan beberapa daerah lainnya. 5)Inilah gambaran, betapa sulitnya rakyat berjuang hidup-mati hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. 6)Bukankah konstitusi menjamin penghidupan yang layak bagi warga negaranya? 7)Kemana alokasi anggaran yang ribuan trilyun rupiah tersebut? 8)Sudah saatnya kita hentikan pameran keberhasilan indikasi makro ekonomi, dan menggantikannya dengan gerakan ekonomi kerakyatan, yang bertumpu pada kekuatan rakyat, agar terjaminlah kebutuhan dasar rakyat. (paragraf 8)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Mengakhiri pidato politik ini, ijinkan saya dan seluruh jajaran DPP PDI Perjuangan menyampaikan Selamat Ulang Tahun ke 38 bagi kita semua. 2)Semoga pertambahan usia ini memberikan kekuatan baru bagi kita untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. 3)Kepada para pimpinan partai politik, para tokoh masyarakat, dan para Senior Partai serta undangan yang tidak bisa saya sebut satu-persatu, terimakasih atas kehadirannya. 4)Kepada Panitia yang telah bekerja dengan sangat keras terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan. 5)Pada aparat keamanan, terimalah rasa terimakasih dan hormat kami atas segala kerja keras sehingga penyelenggaraan Ulang Tahun kali ini bisa berjalan tanpa gangguan. 6)Terimakasih juga saya sampaikan pada para pengamat politik yang telah meluangkan waktu untuk hadir pada kesempatan kali ini. 7)Dan terakhir, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan yang telah menjadi sahabat PDI Perjuangan selama ini.(paragraph 28)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Saudara-saudara, Ulang tahun adalah peristiwa istimewa. 2) Tetapi ia menjadi istimewa bukan saja karena pertambahan usia semata. 3) Ulang tahun menjadi istimewa karena ia memberikan alasan etis dan menjadi momentum yang bersifat spiritual untuk merenungi, berkontemplasi dan memetik pelajaran dari satu tahun perjalanan yang baru saja kita lewati bersama. 4)Tanpa itu, ulang tahun tak akan memiliki makna apapun, tapi hanya sekadar sebagai kelebatan waktu yang tak menyisakan arti, lewat begitu saja. (paragraf 3)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-3 di atas mengungkapkan latar diperingati HUT PDIP. Latar makna dari HUT diulas dalam perspektif spiritual. Hal lain yang penulis dapat dari analisis teks pidato M.S. bahwa latar yang mendukung topik terkait HUT PDIP hanya pada paragraf ke-3 sedangkan paragraf ke-18 dan ke-20 lebih menekankan latar historis seperti kutipan di bawah ini. secara politis M.S. menyampaikan latar pidatonya yang diuraikan paragraf ke-3 itu hanya bersifat normatif dan datar tanpa ada isu politik tersembunyi yang ingin disampaikan M.S.. Akan tetapi, pada bagian paragraf ke-18 dan 20 justru memberikan latar historis dan ada isu politik yang disampaikan secara tersamar seperti kalimat ke-5 paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Hal di atas sangat disayangkan karena sejarah telah mencatatkan tinta emas bahwa Indonesia mampu berdiri ditengah pluralisme dalam persatuan. 2)Bhinneka Tunggal Ika bukan sebuah jargon kebetulan. Ia juga bukan hasil temuan yang baru. 3)Bhinneka Tunggal Ika telah mengakar panjang dalam sejarah bangsa yang majemuk ini. 4)Ia adalah rumusan yang merupakan kristalisasi dari pengalaman empirik kita hidup sebagai bangsa majemuk dalam sebuah kesatuan yang harmonis. 5)Demikian pula dengan gotong royong yang oleh para pendiri bangsa dijadikan sebagai spirit dasar dalam merancang Indonesia yang ideal, kini tenggelam di bawah persaingan bebas sebagai metode politik dominan. 6)Kita akhirnya terjebak dalam mobilisasi dan konflik, gagal berdialog dan membangun konsensus yang sesuai dengan nalar publik. (paragraf 18)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kontrol informasi yang disampaikan komunikator/pembuat/orator politik dalam teks pidato merupakan dasar dari elemen detail dari suatu teks wacana. Seperti yang diuraikan dalam analisis data pada teks wacana pidato politik dalam pembukaan kongres PDIP bahwa komunikator (orator politik) akan menampilkan secara berlebihan informasi yang menguntungkan bagi orator demi pencitraan bagi partai dan dirinya. Sebaliknya orator akan menampilkan informasi yang serba sedikit, kurang lengkap dan bahkan tersamar atau tersembunyi ( latent ) jika merugikan dirinya atau partai yang diwakilinya. Detail merupakan bagian dari strategi, bagaimana seorang orator politik mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Detail ini akan menyikap makna yang tersembunyi ( latent ) yang ingin diungkapkan oleh seorang orator politik. Detail pada teks wacana pidato politik M.S. yang kedua   yang berjudul “ Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan ” terdapat paragraf-paragraf yang meneonjolkan elemen detail, yaitu paragraf 2,5,9, 13, 14, dan 15. Sesuai dengan pengertiannya bahwa detail selalu mengungkapkan secara jelas dan tegas jika menguntungkan orator/pembicara seperti kutipan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kita harus bersyukur karena rentang panjang sejarah kepartaian di bumi tercinta ini telah membuktikan: tidak banyak kekuatan politik yang bisa terus bertahan dan memberikan sumbangsihnya bagi rakyat, bangsa dan negara untuk waktu yang panjang. Sejarah membuktikan, banyak partai-partai lahir dan mati, bukan saja wadahnya, tapi juga ruhnya, ideologinya. Bahkan sejak memasuki era reformasi, kita menyaksikan begitu banyaknya partai politik yang hanya bisa bertahan seumur jagung, kemudian musnah dan akhirnya dilupakan sejarah. Sementara PDI Perjuangan tetap diberi anugerah panjang usia yang memungkinkan kita berkumpul hari ini untuk merayakan Ulang Tahun yang 38. (paragraf 2)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 5 ini menguraikan secara detail dan lugas tentang kegagalan negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial sebagai pondasi dasar kekuatan negara. Uraian yang lugas paragraf di atas akan lebih menguntungkan PDIP sebagai partai oposisi (tidak ikut dalam pemerintahan SBY). Dengan uraian tersebut kontrol informasi lebih menguntungkan PDIP dan lebih menyudutkan pemerintahan SBY yang berasal dari koalisi berbagai partai antara lain partai Golkar, PKS, PAN, dan Demokrat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Seperti apa yang diuraikan pada analisis data teks yang pertama bahwa elemen maksud dari wacana hampir sama dengan elemen detail. Semantik pada elemen maksud lebih melihat informasi yang lebih menguntungkan dan diuraikan secara ekplisit dan jelas. Informasi yang menguntungkan orator lebih disajikan secara jelas dengan kata-kata yang tegas dan menunjuk langsung pada fakta. Sebaliknya dalam elemen maksud informasi yang merugikan akan disajikan secara tersamar/tersembunyi ( latent ) dan implisit. Wacana teks pidato dalam memperingati HUT XXXVIII PDIP elemen maksud terungkap pada kutipan paragraf ke-5, ke-6 , ke-8, dank e-12 seperti terurai di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-5 secara implisit orator politik dalam pidatonya ingin menyampaikan kepada pendengar negara mengalami tragedi. Penggunaan kata tragedi memiliki konotasi politik negatif yang hampir sama maknanya dengan musibah. Akan tetapi, pada kalimat penjelas dari paragraf tersebut secara eksplisit dipaparkan tragedi yang dimaksud orator politik dalam teks pidatonya adalah tiada lain adalah kegagalan negara dalam mengangkat kesejahteraan rakyat. Jika dikaitkan dengan konteks ideologi politik bahwa kegagalan menyejahteraan rakyat oleh pemerintah merupakan bencana atau tragedi suatu negara yang harus ditangani. Jadi kutipan paragraf ke-5 M.S. dalam teks pidatonya ingin menyampaikan maksud bahwa PDIP selalu berjuang untuk kesejahteraan rakyat. Selanjutnya maksud yang disampaikan pada paragraf ke-5 dipertegas lagi pada kutipan paragraf ke-6 seperti kutipan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2)Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun.3) Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan. (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya banggakan, Di tengah-tengah keterpurukan sosial ekonomi dan bencana alam yang terus mengintai, muncul ancaman bencana lain yang menyangkut  karakter dan kepribadian bangsa kita. 2)Bencana ini mempunyai implikasi lebih serius karena ia mengancam secara simultan dasar mental dan pikiran rakyat. 3)Lihat saja proses hukum kasus Bank Century. 4)Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan. (paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-12 pada kalimat ke-3 berupa pernyataan yang belum disertai praanggapan. Dengan hadirnya kalimat penjelas pada kalimat ke-4 muncul praanggapan pada teks pidato politik M.S. berupa ketidakpercayaan kepada hukum dan praanggapan yang muncul bahwa kewenangan DPR dimandukkan atau dikebiri oleh campur tangan kekuasaan dalam menjalankan hukum. Makna dalam konteks paragraf ke-12 melahirkan penafsiran atau praanggapan pemerintah tidak serius dalam menyelesaikaan kasus bank century. Ini terlihat jelas pada pernyataan kalimat ke-4 paragraf di atas. Praanggapan lemahnya dan masih adanya campur tangan kekuasaan dalam penyelesaian hukum masalah-masalah yang terjadi dalam negara juga terlihat pada paragraf ke-13 di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Kasus lain yang tidak kalah menariknya, bagaimana Gayus Tambunan  dengan berbagai variasi dan keleluasaannya,  mempertontonkan betapa kekuatan uang sedemikian berjaya dalam mengharu-biru sistem hukum secara keseluruhan. 2)Hal ini akhirnya membuat rakyat percaya bahwa “faktor uang adalah segala-galanya”. 3)Kasus yang sama juga mengungkapkan rendahnya kedaulatan negara. 4)Negara yang berdaulat adalah negara yang mampu menegakan hukum atas warganya. 5)Dalam kasus Gayus, dan masih banyak kasus sejenis lainnya, nampaknya hukum tidak bisa ditegakkan, negara jauh dari berdaulat. 6)Bencana mental di atas juga tampak dari cara penguasa memaknai reformasi birokrasi. 7)Reformasi birokrasi dikecilkan maknanya sebatas sebagai remunerasi. 8)Sebuah bentuk pemujaan pada materi yang semakin meyakinkan rakyat bahwa “materi adalah segala-galanya”. 9)Padahal kita tahu bahwa pembenahan sistem remunerasi hanyalah salah satu bagian kecil dan merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan yang lebih besar dan menyeluruh. (paragraf 13)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara yang saya hormati, Penyakit kronis lainnya yang menonjol dalam beberapa saat terakhir ini adalah sikap elit yang lebih meributkan soal koalisi, sekretariat gabungan (setgab), wacana pemilihan gubernur oleh DPRD, atau apapun namanya dibanding mengurus rakyat. 2)Hal ini menegaskan semakin meluasnya cakupan bencana mental yang melanda negeri ini. 3)Fenomena ini menggambarkan bagaimana penggalangan kekuasaan ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang mengurusi kepentingan rakyat. 4)Bahkan kita semua menikmati sedemikian pentingnya “penggalangan kekuasaan” tanpa peduli terhadap akibat-akibat negatifnya bagi perkembangan demokrasi politik di Indonesia. (paragraf 14)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Hal-hal itulah yang membuat saya terus khawatir bahwa sistem ekonomi yang kita bangun semakin jauh dari sistem ekonomi yang menjadi amanat konstitusi. 2)Karena itulah, wajar kalau kita bertanya, inikah arah pengelolaan ekonomi yang akan menuntun ke arah keberdikarian dalam bidang ekonomi? 3)Ataukah sebaliknya, justru menjadi jalan cepat menuju ketergantungan ekonomi yang bersifat permanen pada kekuatan asing. 4)Saya berpendapat, bahwa kita tidak bisa menunda lagi untuk mewujudkan keberdikarian ekonomi kita. 5)Lebih-lebih kalau kita melihat resesi yang kini terjadi di Amerika Serikat, dan krisis ekonomi di beberapa negara di Eropa. 6 )Krisis yang terjadi di kedua kawasan tersebut pada akhirnya tetap memerlukan campur tangan negara. 7 )Bahkan di kawasan itulah kembali terbukti, bahwa kepentingan nasional suatu negara akhirnya menjadi hukum tertinggi di dalam membangun kedaulatan ekonomi setiap bangsa. 8)Inilah yang seharusnya kita lakukan guna membangun kepercayaan diri kita, untuk berani menyatakan bahwa pengolahan sumber daya alam, harus kita prioritaskan pada kemampuan nasional. 9)Pling tidak, kita harus mampu mencukupi kebutuhan pokok secara mandiri untuk pasar dalam negeri kita. 10)Inilah yang saya maksudkan sebagai prinsip berdiri di atas kaki sendiri. 11)Saya tidak anti asing, namun marilah kita letakkan skala prioritas pengabdian pada kepentingan nasional. 12 )Setidak-tidaknya dalam bidang pangan, energi, keuangan dan pertahanan, pilar-pilar ekonomi berdikari dapat diletakkan. 13)Percayalah, bahwa kita bisa bangkit. Kita bisa menjadi bangsa besar. 14)Kita bisa berdikari. 15)Sebab kita memiliki modal, berupa keanekaragaman kekayaan alam, tanah air yang subur, keindahan alamnya, keanekaragaman suku, agama, budaya, yang semua terangkai bagaikan zamrud katulistiwa. 16)Inilah modal besar yang harus terus menerus kita syukuri dan kembangkan. (paragraf 10)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 10 dari 16 kalimat rinciannya adalah 13 kalimat menggunakan kalimat aktif dan 3 kalimat berkatagori kalimat pasif. ketiga kalimat itu, yakni kalimat 6, 7, dan 12. Kalimat 6 inti kalimatnya “ Krisis yang terjadi” “krisis” sebagai subjek dan “yang terjadi” sebagai predikat. Kalimat 7 inti kalimatnya “ kembali terbukti” Subjeknya diellipkan dan kembali terbukti sebagai predikat. Dan kalimat 12 inti kalimatnya “ Setidak-tidaknya dapat diletakkan” setidak-tidaknya sebagai subjek dan dapat diletakkan sebagai predikat. Analisis data ini mengindikasikan subjek-subjek pada kalimat-kalimat di atas aktif sebagai pelaku tindakan. Penggunaan modus kalimat aktif dalam teks pidato politiknya yang berjudul Pidato Politik PDIP pada HUT XXXVIII PDIP, membuktikan posisi pembicara/orator dalam pidato itu sebagai subjek pelaku yang aktif dalam tindakan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen sintaksis yaitu tentang modus kalimat yang digunakan dalam teks pidato politik M.S. yang berjudul “Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT   XXXVIII   PDI Perjuangan” diuraikan sebagai berikut. Dari 161 kalimat yang terdapat pada teks pidato M.S. di atas bahwa penggunaan kalimat yang berkatagori kalimat deklaratif berjumlah 131 kalimat yakni 81,3%, penggunaan kalimat berkatagori introgatif berjumlah 7 kalimat, yakni 4,3%, dan penggunaan kalimat yang berkatagori imperatif berjumlah 23 kalimat, yakni 14,2%. Berdasarkan tabel di atas penggunaan kalimat yang paling dominan / paling banyak adalah kalimat yang bermodus deklaratif, yaitu 81,3% atau 131 kalimat dari 161 yang ada pada teks tersebut. Penggunaan kalimat-kalimat deklaratif yang begitu produktif pada wacana pidato politik menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan ide dalam sebuah pidato politik merupakan hal yang amat penting karena pidato politik lebih bersifat pernyataan ideologi kepada pendengar ( audience ). Pernyataan atau deklaratif pada teks pidato M.S. menggunakan pilihan kata yang menyentuh rakyat kecil (wong cilik) dengan mengangkat isu politik kesejahteraan rakyat. Peranti yang tepat menyampaikan ide dalam pidato politik adalah dengan menggunakan kalimat-kalimat deklaratif. Ini berarti pidato politik M.S. memilih kalimat-kalimat bersifat deklaratif yang disertai penjelasan adalah sangat tepat dan wajar sebagai bentuk proposisi politiknya untuk disampaikan kepada pendengar. Penggunaan kalimat yang bermodus interogatif dan imperatif juga digunakan dalam teks pidato politik M.S. dengan persentase yang lebih sedikit, yaitu hanya 4,3% untuk kalimat introgatif dan 14,2% kalimat imperatif seperti kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat.2) Pada saat bersamaan, pemerintah seharusnya mendengar jeritan rakyat atas kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar, yang sudah melebihi daya beli rakyat. 3)Bahkan, untuk kesekian kalinya, rakyat menjadi korban hanya untuk sekedar mendapatkan makan. 4)Oleh karena itu, tidak boleh terjadi lagi, rakyat kecil bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin berat sebagaimana telah terjadi di Cirebon, Kebumen, dan beberapa daerah lainnya. 5)Inilah gambaran, betapa sulitnya rakyat berjuang hidup-mati hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. 6)Bukankah konstitusi menjamin penghidupan yang layak bagi warga negaranya? 7)Kemana alokasi anggaran yang ribuan trilyun rupiah tersebut? 8)Sudah saatnya kita hentikan pameran keberhasilan indikasi makro ekonomi, dan menggantikannya dengan gerakan ekonomi kerakyatan, yang bertumpu pada kekuatan rakyat, agar terjaminlah kebutuhan dasar rakyat. (paragraf 8)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-8 pada kalimat ke-6 dan 7 menggunakan modus kalimat introgatif atau pertanyaan yang bersifat retoris yaitu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban langsung. Pertanyaan kalimat pada paragraf di atas secara ideologi politik bersifat meragukan pemerintah dalam menjalankan konstitusi terutama yang menjamin penghidupan yang layak bagi warga negaranya karena masih banyak masyarakat yang belum sejahtra seperti kutipan-kutipan pidato yang lain dari M.S.. Pertanyaan pada kalimat ke-7 secara ideologi politik meragukan dan adanya unsur kecurigaan pada pemerintah tentang pengelolaan keuangan negara yang tidak dikelola dengan baik dan pengalokasiaanya tidak berpihak pada rakyat. Kedua modus kalimat yang bersifat introgatif pada teks pidato M.S. betul-betul PDIP memposisikan partainya sebagai partai oposisi yakni pengontrol dan pengkritisi. Kalimat-kalimat yang digunakan itu secara ideologi politik lebih menonjolkan pencitraan PDIP dan secara tersamar/tersembunyi mengindikasikan makna bahwa kalau PDIP berkuasa akan menjalankan kostitusi secara benar dan mengalokasikan dana yang berpihak pada rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan kedua paragraf di atas, yaitu pada kalimat yang ditebalkan bermakna perintah yaitu bermakna larangan dan bersifat perintah maka kalimat tersebut bermodus kalimat imperatif tetapi kalimat tersebut tidak menggunakan tanda imperatif yaitu tanda seru (!). Penggunaan kalimat bermodus perintah (imperatif) oleh M.S. karena ingin memberikan kesan bahwa orator dalam menyampaikan pidatonya tidak ingin memerintah tetapi lebih banyak menggunakan pernyataan-pernyataan faktual dengan tujuan mengajak pendengar bisa memunculkan simpati.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Analisis data struktur mikro peranti kohesi gramatikal pada teks pidato politik dalam rangka perayaan HUT XXXVIII PDIP yang disajikan dalam bentuk tabel 4.26 diperoleh hasil sebagai berikut. Peranti aspek gramatikal yang dianalisis ada empat katagori, yaitu 1)pengacuan (referensi ), 2) substitusi, 3) ellipsis, dan 4) konjungsi. Berdasarkan tabel 4.26 peranti gramatikal pengacuan ( referensi ) diperoleh hasil 48 kalimat yang menggunakan pengacuan, yaitu 29,8 % dari keseluruhan kalimat pada teks. Peranti kohesi gramatikal substitusi sebanyak 9 kalimat, yaitu 5,59 %. Peranti kohesi gramatikal ellipsis sebanyak 3 kalimat, yaitu 1,86 %. Peranti kohesi gramatikal konjungsi sebanyak 40 kalimat, yaitu 24,8 %.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bertitik tolak dari uraian di atas ternyata peranti aspek gramatikal yang paling banyak adalah peranti pengacuan ( referensi ), yaitu sebanyak 48 kalimat (29,8 %), selanjutnya peranti konjungsi sebanyak 40 kalimat (24,8%), dan peranti yang paling sedikit adalah peranti kohesi ellipsis, yaitu 3 kalimat (1,86%). Penggunaan peranti pengacuan ( referensi ) sebanyak 48 kalimat dan merupakan peranti kohesi gramatikal paling banyak merupakan suatu bukti bahwa peranti pengacuan sangat produktif digunakan dalam teks pidato politik. Alas an yang lain juga karena jenis peranti ini tujuannya untuk mengefektifkan kalimat, menghindari pengulangan kalimat yang panjang, dan memberikan penekanan atau penegasan tanpa mengulang kalimat yang sama. Untuk hal tersebut penulis kutipkan beberapa kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Ulang tahun adalah peristiwa istimewa. 2) Tetapi ia menjadi istimewa bukan saja karena pertambahan usia semata. 3)Ulang tahun menjadi istimewa karena ia memberikan alasan etis dan menjadi momentum yang bersifat spiritual untuk merenungi, berkontemplasi dan memetik pelajaran dari satu tahun perjalanan yang baru saja kita lewati bersama. 4) Tanpa itu , ulang tahun tak akan memiliki makna apapun, tapi hanya sekadar sebagai kelebatan waktu yang tak menyisakan arti, lewat begitu saja. (paragraf 3)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2) Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Ulang tahun adalah peristiwa istimewa. 2)Tetapi ia menjadi istimewa bukan saja karena pertambahan usia semata. 3) Ulang tahun menjadi istimewa karena ia memberikan alasan etis dan menjadi momentum yang bersifat spiritual untuk merenungi, berkontemplasi dan memetik pelajaran dari satu tahun perjalanan yang baru saja kita lewati bersama. 4)Tanpa itu, ulang tahun tak akan memiliki makna apapun, tapi hanya sekadar sebagai kelebatan waktu yang tak menyisakan arti, lewat begitu saja. (Paragraf 3)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Sebelum saya menyampaikan hal-hal pokok yang perlu kita renungkan bersama, ijinkanlah saya pada kesempatan ini menyampaikan selamat Natal bagi umat Kristiani dimanapun saudara-saudara berada. 2)Kiranya “kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi” beserta saudara-saudara sekalian. 3)Dan selamat tahun baru bagi setiap warga bangsa disertai doa, semoga tahun 2011 dapat memberikan harapan dan semangat baru untuk kehidupan yang lebih baik bagi kita semua. Amin. (paragraf 4)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2)Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. 3)Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. 4)Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial . 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2) Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. 3)Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. 4)Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan.   (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Seperti penyajian data pada teks pidato politik yang pertama bahwa Strategi elite politik menghadirkan dirinya dalam komunikasi politik merupakan persoalan bagaimana elite politik memilih pronomina persona dalam orator politiknya. Elemen kata ganti (persona) ini merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Elemen ini menentukan komunikator (orator) untuk menunjukkan di mana posisi seseorang dalam wacana (dalam teks pidatonya). Pilihan strategi kehadiran seseorang dalam wacana berimplikasi terhadap jarak sosial yang tercipta antara penutur dan petuturnya. Wacana teks pidato politik yang disampaikan M.S. dalam rangka peringatan HUT PDIP XXXVIII strategi kehadiran diri yang digunakan dan dipilih M.S. adalah 1) penggunaan pronomina persona jamak yang berifat inklusif kita, 2) Penggunaan pronomina persona jamak orang ketiga mereka , 3) penggunaan pronomina persona tunggal orang pertama saya , dan 4) penggunaan pronomina persona tunggal orang ketiga ia dan dia juga 5) penggunaan kata sapaan Saudara . Jumlah persona (kata ganti) yang digunakan dalam wacana teks pidato M.S. dalam peringatan HUT XXXVIII lihat tabel di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan tabel 4.28 di atas Elemen sintaksis yang menggunakan elemen persona (kata ganti) dalam teks pidato politik M.S. yang berjudul “Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT   XXXVIII   PDI Perjuangan” diuraikan sebagai berikut. Dari 161 kalimat yang terdapat pada teks pidato M.S. di atas kalimat yang menggunakan persona (kata ganti) “saya” sebanyak 33 persona, yaitu sebanyak 24,8 %, persona “kita” sebanyak 77, yakni 57,8 %, persona “mereka” sebanyak 1 persona, yaitu 0,7 %, persona “ia” sebanyak 6 persona, yaitu 4,5 %, persona “kami” tidak ada, dan penggunaan kata sapaan sebanyak 16, yaitu12,0 %. Ada hal yang menarik dan unik bahwa teks pidato M.S. tidak satu pun ditemukan penggunaan persona “kami” padahal jika orator mewakili pengurus partai semestinya menggunakan persona “kami” tetapi hasilnya tidak ditemukan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan tabel 4.29di atas penggunaan elemen kata ganti pada teks pidato politik M.S. yang berjudul “Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP” terdapat 133 elemen kata ganti dari 161 kalimat yang digunakan dalam teks pidato, termasuk sapaan yang digunakan dalam teks pidato tersebut. Strategi kehadiran diri dalam bentuk persona (kata ganti) orang pertama tunggal “saya” berjumlah 33 persona, yakni 24,8%, penggunaan persona “kita” sebagai persona / kata ganti inklusif sebanyak 77 persona, yakni 57,8%, penggunaan persona/ kata ganti “mereka” sebagai orang ketiga jamak hanya 1 persona, yakni 0,7%, persona/kata ganti “dia” dan “ia” sebagai orang ketiga tunggal sebanyak 6 persona, yakni 4,5%, dan penggunaan kata sapaan sebanyak 16, yakni 12,0% penggunaan persona pronomina persona “kita” sebagai persona jamak yang bersifat inklusif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Hal-hal itulah yang membuat saya terus khawatir bahwa sistem ekonomi yang kita bangun semakin jauh dari sistem ekonomi yang menjadi amanat konstitusi. Karena itulah, wajar kalau kita bertanya, inikah arah pengelolaan ekonomi yang akan menuntun ke arah keberdikarian dalam bidang ekonomi? Ataukah sebaliknya, justru menjadi jalan cepat menuju ketergantungan ekonomi yang bersifat permanen pada kekuatan asing. Saya berpendapat, bahwa kita tidak bisa menunda lagi untuk mewujudkan keberdikarian ekonomi kita. Lebih-lebih kalau kita melihat resesi yang kini terjadi di Amerika Serikat, dan krisis ekonomi di beberapa negara di Eropa. Krisis yang terjadi di kedua kawasan tersebut pada akhirnya tetap memerlukan campur tangan negara. Bahkan di kawasan itulah kembali terbukti, bahwa kepentingan nasional suatu negara akhirnya menjadi hukum tertinggi di dalam membangun kedaulatan ekonomi setiap bangsa. Inilah yang seharusnya kita lakukan guna membangun kepercayaan diri kita, untuk berani menyatakan bahwa pengolahan sumber daya alam, harus kita prioritaskan pada kemampuan nasional. Pling tidak, kita harus mampu mencukupi kebutuhan pokok secara mandiri untuk pasar dalam negeri kita . Inilah yang saya maksudkan sebagai prinsip berdiri di atas kaki sendiri. Saya tidak anti asing, namun marilah kita letakkan skala prioritas pengabdian pada kepentingan nasional. Setidak-tidaknya dalam bidang pangan, energi, keuangan dan pertahanan, pilar-pilar ekonomi berdikari dapat diletakkan. Percayalah, bahwa kita bisa bangkit . Kita bisa menjadi bangsa besar. Kita bisa berdikari. Sebab kita memiliki modal, berupa keanekaragaman kekayaan alam, tanah air yang subur, keindahan alamnya, keanekaragaman suku, agama, budaya, yang semua terangkai bagaikan zamrud katulistiwa. Inilah modal besar yang harus terus menerus kita syukuri dan kembangkan. (paragraf 10)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penggunaan persona “kita” pada teks pidato politik M.S. yang kedua persentasenya paling banyak, yaitu 77 persona “kita” (57,8 %). Hal ini bisa dilihat pada kutipan paragraf ke-10 penggunaan persona “kita” mendominasi jika dibandingkan dengan persona yang lain. Penggunaan persona “kita” memiliki makna bahwa M.S. ingin mennyejajarkan dengan pendengar dalam hal posisi dalam partai. Hal ini peneliti menafsirkan tidak ada dalam kedua teks pidatonya menonjolkan bahwa M.S. seorang pemimpin atau orang nomor satu di partai PDIP.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Leksikalisasi ( lexicalization ) merupakan pilihan sesorang dalam pemilihan kata atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Tabel di bawah ini akan menyajikan beberapa leksikalisai yang mengalami pergeseran karena konteks paragraf dan wacana dikaitkan dengan politik dan juga leksikalisasi pembawa ideologi politik. Leksikalisasi merupakan pilihan kata seseorang dalam menyampaikan ide kepada pendengarnya. Pilihaan kata itu akan membawa pergeseran, konotasi makana, dan baahkan perubahan makna. Adapun daftar kata-kata yang mengalami pergeseran makna, pembawa ideologi politik dan leksikalisasi yang berkaitan dengan agama. Ketiga hal tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen grafis merupakan bagian yang ditekankan atau ditonjolkan (bagian yang dianggap penting dari teks pidato politik) yang ingin disampaikan kepada petutur (audien). Pada elemen ini sesuatu yang ditekankan atau ditonjolkan bisa dengan penggunaan tanda kutip (“) bahwa hal itu penting untuk ditekankan, bisa dengan menggunakan huruf kapital, dan bisa dengan pengulangan kata atau kalimat (repetisi). Elemen grafis pada data teks pidato yang ke-2 bisa dilihat pada uraian paragraf di bawah ini. berdasarkan analisis data pada teks pidato politik M.S. yang kedua elemen grafis dapat ditemukan pada paragraf ke-5, 6, 13, 16 dan paragraf ke-26 dan diuraikan pada kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2)Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. 3)Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. 4)Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan. (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Kasus lain yang tidak kalah menariknya, bagaimana Gayus Tambunan  dengan berbagai variasi dan keleluasaannya,  mempertontonkan betapa kekuatan uang sedemikian berjaya dalam mengharu-biru sistem hukum secara keseluruhan. 2)Hal ini akhirnya membuat rakyat percaya bahwa “faktor uang adalah segala-galanya”. 3) Kasus yang sama juga mengungkapkan rendahnya kedaulatan negara. 4) Negara yang berdaulat adalah negara yang mampu menegakan hukum atas warganya. 5)Dalam kasus Gayus, dan masih banyak kasus sejenis lainnya, nampaknya hukum tidak bisa ditegakkan, negara jauh dari berdaulat. 6)Bencana mental di atas juga tampak dari cara penguasa memaknai reformasi birokrasi. 7)Reformasi birokrasi dikecilkan maknanya sebatas sebagai remunerasi. Sebuah bentuk pemujaan pada materi yang semakin meyakinkan rakyat bahwa “materi adalah segala-galanya”. 8)Padahal kita tahu bahwa pembenahan sistem remunerasi hanyalah salah satu bagian kecil dan merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan yang lebih besar dan menyeluruh. (paragraf 13)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Hal-hal di atas baru sebagian kecil dari persoalan yang kita hadapi. 2) Di lahan kepemimpinan, kontradiksi juga dengan mudah kita temukan. “Satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan” sebagai adagium politik yang diajarkan Bung Karno, bahwa penanda dari kepemimpinan yang berkualitas, praktis tidak kita temukan dalam diri pemimpin bangsa saat sekarang. 3)Ada selisih yang sangat jauh antara “citra” dan “realitas”. 4)Lebih lagi, hampir setiap pemimpin berlomba membangun citra diri. 5)Lihatlah di televisi dan di berbagai media, semakin banyak menteri dan kementerian yang lebih sibuk “ mengiklankan diri” , ketimbang bekerja untuk mensejahterakan rakyat. 6)Hal ini juga berlaku bagi sejumlah kepala daerah.(paragraf 16)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Hal terakhir yang ingin saya garis bawahi adalah perintah Kongres agar setiap warga partai menjadi contoh hidup dari Pancasila sebagai ideologi. 2)Kita masih mengalami kesulitan di sana-sini. 3)Masih banyak perilaku elit PDI Perjuangan yang jauh dari standar norma Pancasila.4) Karenanya, saya serukan agar setiap kader partai menyadari hal ini. 5)Dan untuk itu, tuntunannya sangat sederhana, yakni setiap kita harus “ menyatukan perkataan dengan perbuatan, menyamakan mulut dengan tindakan”. 6 ) Ajaran dasar yang berulang-kali disuarakan Bung Karno untuk diikuti oleh setiap pengikutnya.7) Ingatlah, setiap kader partai adalah ibarat guru. 8)Bahkan oleh Bung Karno, kader partai harus menjadi bintang pengarah yang memberikan gerak hidup. 9)Ia harus menjadi teladan, dan terus mengobarkan semangat “ karma nevad ni adikaraste ma phalesu kada cana ”, yang artinya kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya.  10)Inilah keteguhan sebagai kader partai dan sebagai antitesa terhadap maraknya pragmatisme politik yang sangat transaksional tersebut. (paragraf 26)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana teks pidato politik pada saat HUT ke-38 PDIP digunakan tiga jenis metafora, yaitu metafora nominatif berjumlah 9 paragraf yakni 32 %, metafora predikatif berjumlah 3 paragraf yakni 10%, sedangkan metafora kalimat tidak ditemukan pada teks pidato tersebut. Dari 28 paragraf yang terdapat pada teks pidato politik yang disampaikan M.S. dalam rangka HUT XXXVIII PDIP 42% menggunakan paragraf bermetafora untuk menyampaikan pesan politiknya. Temuan hasil penelitian bahwa metafora nominatif yang paling banyak digunakan pada teks pidato politiknya M.S., dan metafora predikatif hanya ditemukan hanya tiga paragraf. Sedangkan metafora kalimat pada teks pidato politik M.S. tidak ditemukan penggunaan dalam paragrafnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Kita harus bersyukur karena rentang panjang sejarah kepartaian di bumi tercinta ini telah membuktikan: tidak banyak kekuatan politik yang bisa terus bertahan dan memberikan sumbangsihnya bagi rakyat, bangsa dan negara untuk waktu yang panjang. 2) Sejarah membuktikan, banyak partai-partai lahir dan mati , bukan saja wadahnya, tapi juga ruhnya, ideologinya. 3) Bahkan sejak memasuki era reformasi, kita menyaksikan begitu banyaknya partai politik yang hanya bisa bertahan seumur jagung , kemudian musnah dan akhirnya dilupakan sejarah. 4) Sementara PDI Perjuangan tetap diberi anugerah panjang usia yang memungkinkan kita berkumpul hari ini untuk merayakan Ulang Tahun yang 38. (paragraf 2)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-2 M.S. menggunakan dua metafora nominatif, yaitu kalimat 2 dan 3. Kedua kalimat tersebut menggunakan metafora nominatif , yakni : “ banyak partai-partai lahir dan mati” dan “bertahan seumur jagung ”. Partai dipersonifikasikan layaknya hidup seperti manusia melalui proses kelahiran, kehidupan, dan kematian. Penggunaan metafora seperti itu menandakan partai bisa diberikan ruh dan ideologi sebagai sumber kehidupan partai dan organisasi partai sebagai wadah seperti istilah yang digunakan dalam kutipan paragraf ke-2 di atas. Dengan munculnya metafora tersebut berkoherensi dengan munculnya metafora yang kedua yaitu “ bertahan seumur jagung” kehidupan partai dimetaforkan secara analogi perbandingan dengan tumbuhan yang memiliki umur singkat. Pidato M.S. pada kutipan di atas memberikan keyakinan kepada publik bahwa secara tersamar PDIP adalah partai yang tidak mudah mati atau berumur seperti umur jagung tetapi adalah partai yang sudah melewati masa-masa kritis dan sekarang sudah menginjak dewasa untuk bisa menentukan sikap. Metafora yang digunakan M.S. dalam pidatonya membandingkan partai-partai yang baru berdiri dibandingkan dengan tumbuhan jagung yang hidupnya singkat dan tumbuhnya gambang dan hanya bisa hidup di musim hujan atau bila ada air. Makna tersamar yang ingin disampaikan bahwa PDIP adalah partai yang sudah teruji dan sudah melewati masa-masa kritis seperti halnya zaman orde baru.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya banggakan, Di tengah-tengah keterpurukan sosial ekonomi dan bencana alam yang terus mengintai, muncul ancaman bencana lain yang menyangkut  karakter dan kepribadian bangsa kita. 2) Bencana ini mempunyai implikasi lebih serius karena ia mengancam secara simultan dasar mental dan pikiran rakyat. 3) Lihat saja proses hukum kasus Bank Century. 4) Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan. (paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 12 pada kalimat 4 di atas menggunakan metafora predikatif. Metafora predikatif adalah metafora yang memiliki fungsi predikat pada kalimat. Kalimat 4 yaitu, “ Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan. “ Kalimat ini berstruktur K – S – P – O dengan kata “dimandulkan “ sepagai predikat. Metafora “dimandulkan” membawa implikasi makna bahwa ”hak angket DPR” seolah-olah bisa dikebiri kejantanannya oleh tangan-tangan penguasa. Makna metafora dimandulkan adalah menghilangkan fungsi dan tugasnya. Misalnya kalau seorang laki-laki dimandulkan, itu artinya laki-laki itu tidak difungsikan kelaki-lakiannya (kejantanannya). Orator politik memilih kata yang bermetafora yang pedas.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

3. Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat. Pada saat bersamaan, pemerintah seharusnya mendengar jeritan rakyat atas kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar, yang sudah melebihi daya beli rakyat. Bahkan, untuk kesekian kalinya, rakyat menjadi korban hanya untuk sekedar mendapatkan makan. Oleh karena itu, tidak boleh terjadi lagi, rakyat kecil bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin berat sebagaimana telah terjadi di Cirebon, Kebumen, dan beberapa daerah lainnya. Inilah gambaran, betapa sulitnya rakyat berjuang hidup-mati hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. (paragraf 8)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

4. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya banggakan, Di tengah-tengah keterpurukan sosial ekonomi dan bencana alam yang terus mengintai, muncul ancaman bencana lain yang menyangkut  karakter dan kepribadian bangsa kita. Bencana ini mempunyai implikasi lebih serius karena ia mengancam secara simultan dasar mental dan pikiran rakyat. Lihat saja proses hukum kasus Bank Century. Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan.(paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosia l. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Tema teks pidato ditemukan pada paragraf 5 kalimat 1, yaitu “ Kesejahteraan Rakyat dan Keadilan Sosial”. Kedua teks pidato politik M.S. tema-temanya selalu mengangkat isu kesejahteraan rakyat dan wong cilik. Tema ini didukung dan diperkuat oleh subtopik-subtopik dan fakta yang ada pada beberapa paragraf. Paragraf-paragraf yang mendukung tema/topik pidato terdapat pada paragraf 6, 7, 8, 9, 11,14, 15, dan 16. Paragraf subtopik untuk mendukung makna global yang ingin disampaikan oleh pembicara/penulis teks pidato. Kutipan paragraf yang mengandung subtopik bisa dilihat di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2) Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. 3)Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. 4)Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan. (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Hal-hal di atas baru sebagian kecil dari persoalan yang kita hadapi. 2)Di lahan kepemimpinan, kontradiksi juga dengan mudah kita temukan. “Satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan” sebagai adagium politik yang diajarkan Bung Karno, bahwa penanda dari kepemimpinan yang berkualitas, praktis tidak kita temukan dalam diri pemimpin bangsa saat sekarang. 3)Ada selisih yang sangat jauh antara “citra” dan “realitas”. 4)Lebih lagi, hampir setiap pemimpin berlomba membangun citra diri. 5)Lihatlah di televisi dan di berbagai media, semakin banyak menteri dan kementerian yang lebih sibuk “mengiklankan diri”, ketimbang bekerja untuk mensejahterakan rakyat . Hal ini juga berlaku bagi sejumlah kepala daerah. (paragraf 16)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan analisis data teks pidato partai politik PDIP yang berjudul Pidato Politik Pembukaan Kongres III PDI (data 1) dan teks pidato partai politik yang berjudul Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan (data 2) ditemukan strukturnya sebagai berikut. Struktur supra yang digunakan dalam membangun teks pidato politik adalah yang pertama ada bagian pendahuluan yang berisi ucapan salam, yang kedua ada bagian isi, yaitu ada identitas partai, visi misi partai dan program-program partai di samping ada menyampaikan kegagalan pemerintahan SBY, semua itu untuk pencintraan PDIP sekaligus mengandung unsur persuasif. Dan yang ketiga bagian penutup/kesimpulan yang berisi ucapan terimakasih dan salam penutup. Dari hasil analisis bahwa struktur supra kedua teks pidato tersebut sudah menggunakan skematika yang terstruktur, hal ini sesuai dengan teori Santoso (2003:241), tentang langkah-langkah pidato politik yang meliputi: 1. Pembukaan, 2 Eksposisi (identitas partai dan program-program partai), 3 persuasi, dan 4 penutup. Penataan teks pidato yang digunakan oleh elite politik PDIP (ketua umum) dari hasil analisis menunjukan bahwa skematika teks terstruktur. Pengurutan teks secara sistematis akan memudahkan pendengar menyimak isi teks. Penataan teks pidato politik diawali dengan pembukaan/pendahuluan berisi ucapan salam pembuka dengan berbagai model yaitu Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh , Salam Sejahtera bagi kita semua, Om Swastiastu, Merdeka!!! Ini bisa dilihat pada teks pertama (data 1) paragraf 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 pada teks pidato pembukaan kongres III PDIP dan paragraf 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 pada teks yang kedua (data 2) yaitu pidato dalam rangka HUT XXXVIII PDIP. Pilihan berbagai salam oleh M.S. akan memberikan interpretatif bagi pendengar terhadap identitas dan keberadaan partai PDIP. Penyampaian salam berbagai agama secara normatif akan memberikan persepsi pendengar bahwa PDIP adalah partai nasionalis yang menghargai pluralisme dan kebhinekaan karena bangsa Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku dan banyak agama. Pilihan berbagai salam pembuka pada bagian pendahuluan akan memberikan prosedur interpretatif bagi pendengar ( audience) mengenai identitas partai politik yang diwakilinya. Pilihan diksi atau kata pada pendahuluan kedua teks pidatonya M.S. relatif sama termasuk bagian penutup juga menggunakan pilihan kata yang sama. Pendahuluan sebuah pidato merupakan langkah awal yang penting untuk mengantarakan ke arah pokok persoalan yang akan dibahas sebagai upaya menyiapkan mental pendengar ( audience) dan memberikan kesan pertama pada pendengar (Bahar,2013:203). Langkah selanjutnya berupa paparaan (eksposisi) tentang satu hal yang dianggap penting menurut kacamata partai PDIP, misalnya memaparkan dengan panjang lebar isu kesejahteraan rakyat atau wong cilik dan juga memaparkan tentang kegagalan pemerintah SBY dalam menyejahterakan rakyat. Pemaparan ini merupakan bagian dari strategi politik untuk memberikan isu positif terhadap eksistensi partai PDIP dan memaparkan isu yang melemahkaan partai lawan dengan bahasa bersayap (dalam hal ini partai Demokrat). Bagian paparan ini sudah masuk dalam ranah isi dari pidato, yiatu berupa pemaparan yang disertai dengan pembahasan dengan argumen dan fakta-fakta yang terkait ideologi dan isu politik misalnya, identitas partai, program-program partai, dan termasuk posisi partai PDIP sebagai partai oposisi dari pemerintahan SBY. Bagian isi kedua pidato politik M.S. menggunakan pilihan kata yang bersifat memersuasif dengan mengangkat tema dan sekaligus sebagai isu politik yang ingin disampaikan, yaitu “ kesejahteraan rakyat”. Tahapan selanjutnya diikuti oleh paparan yang disertai memersuasif pendengar dengan menggunakan pilihan leksikalisasi yang kadang kala akan menimbulkan pergeseran-pergeseran makna. Dan terakhir pada bagian penutup berisi ucapan dengan pilihan kata “terima kasih” dan salam yang fungsinya sama dengan salam pada bagian pendahuluan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur supra bagian isi kedua teks pidato M.S. memaparkan identitas partai, program-program partai, dan usaha memersuasif pendengar. pada bagian isi pidato politik M.S. menyampaikan visi dan misi partai sekaligus sebagai program partai. Bagian isi lebih banyak menguraikan tentang ideologi partai yaitu keberpihakan kepada wong cilik serta mengangkat isu politik tentang kesejahteraan rakyat. PDIP bukan semata-mata hanya kekuasaan dan menjaga kekonsistenannya sebagai partai oposisi. Dengan penyampaian identitas partai dan program partai secara positif dalam pidatonya, akan berdampak positif terhadap pendengar. Pidato politik M.S. sesuai dengan teori Anang bahwa di dalamnya ada pemaparan identitas partai, program-program partai, dan ada unsur memengaruhi pendengar (persuasif). Temuan penelitian ini bahwa penggunaan pola paragrafnya lebih banyak menggunakan paragraf deduktif. Pidato politik M.S. dalam teks pidatonya menempatkan ide pokok di awal paragraf. Data teks pidato yang pertama membuktikan bahwa hanya ada 2 paragraf yang menggunakan pola paragraf induktif (ide pokok di akhir paragraf), yaitu paragraf 37 dan 39. Dan data teks pidato M.S. yang kedua hanya ditemukan 1 paragraf yang menggunakan paragraf pola induktif, yaitu paragraf 18. Dari kedua data tersebut peneliti mengambil kesimpulan bahwa penulis/orater teks pidato lebih banyak dan produktif menempatkan ide pokok di awal kalimat karena ide pokok di awal memberikan kesan dan pemahaman lebih mudah kepada pendengar (audience).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sistematis dan terstrukturnya pola pengurutan teks pidato politik M.S. memberikan kesan bahwa penghasil teks merencanakan secara matang teks yang dipaparkannya. Kematangan penyusunan teks pidato tersebut terlihat dari penggunaan pilihan kata antara teks pidato yang pertama dengan yang kedua selalu muncul kata-kata kesejahteraan rakyat, wong cilik, dan perjuangan. Ikon ketiga kata itu selalu muncul pada kedua teks pidatinya M.S.. Di samping itu, kedua teks tersebut bahwa M.S. (PDIP) betul-betul menyiapakan pilihan kata (diksi) yang sarat dengan ideologi politik yang selalu berpihak pada rakyat. Bukti ini peneliti simpulkan bahwa kata-kata (diksi) ideologi politik yang digunakan pada kedua teks pidato M.S. banyak yang sama bahkan gagasan umum kedua teks tersebut mengangkat tema “Kesejahteraan Rakyat”. Pada tahap eksposisi dan persuasi teks pidato politik M.S. memaparkan secara panjang lebar eksistensi PDIP dan kegagalan pemerintahan SBY dalam mengelola negara. Pernyataan kegagalan pemerintahan SBY misalnya dengan mengungkap kasus bank century yang sampai saat ini belum terselesaikan. Pidato politik M.S. menggunakan strategi pencitraan dengan mengungkapkan secara detail kelemahan dan kegagalan pemerintahan SBY. Penekanan yang menguntungkan posisi PDIP, M.S. menggunakan strategi elemen grafis, yaitu kalimat atau frasa yang penting ditulis dengan huruf kapital, dengan pengulangan beberapa frasa/kalimat, atau tanda petik (“). Hal ini bisa dilihat dari data elemen gafis kedua teks pidato politik M.S., yaitu pada data 1 terdapat 5 paragraf yang menggunakan penekanan/penonjolan maksud (9,43%) dan data 2 juga 5 paragraf, yaitu 17,8%. Eksposisi yang lebih banyak memaparkan kegagalan pemerintah mengelola negara dan isu bank century yang masuk dalam isu wilayah politik akan berimplikasi kepada pendengar dan segaligus bagian dari strategi PDIP untuk memersuasif pendengar ( audience ). Pemunculan kegagalan pemerintah, kelemahan pemerintah dalam pidato politik M.S. bisa dikatagorikan pidato M.S. bagian dari kampanye hitam ( black campaign ).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Hasil penelitian struktur supra penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Numertayasa (2013) yang berjudul “ Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menegah Kecamatan Rendang Tahun 2011” menunjukkan bahwa struktur supra penelitian ini dan penelitian Numertayasa keduanya menggunakan struktur supra yang sistematis dan terstruktur. Hal ini dilihat dari bagian pendahuluan, isi, dan penutup dari kedua teks wacana tersebut bersifat sistematis dan terstruktur .

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teks wacana pidato politik yang disampaikan saat pembukaan kongres PDI Perjuangan dan juga saat HUT XXXVIII PDI Perjuangan dibangun oleh struktur mikro. Struktur mikro yang digunakan orator politik dalam membangun wacana teks pidatonya terdiri beberapa elemen. Elemen-elemen itu antara lain : 1) elemen semantik terdiri dari latar, detail, maksud, dan pra-anggapan; 2) elemen sintaksis terdiri dari bentuk kalimat, koherensi/kohesi, dan kata ganti (pronominal); 3) elemen stilistika yaitu leksikalisai; dan 4) elemen retorika yang terdiri atas grafis dan metafora. Pada elemen latar mengungkapkan latar diadakannya kongres seperti yang terdapat pada teks pidato yang pertama, yaitu “bukan saja dilatari karena agenda lima tahunan partai tetapi karena ingar binger politik nasional” (paragraf 4). Di samping itu, orator politik juga mengungkapkan latar historis diadakan kongres seperti kutipan kalimat ini. “ Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan.” (paragraf 8). Kutipan ini tergolong dalam latar historis karena mengungkapkan latar sejarah perjuangan partai yang mengutamakan harkat dan martabat wong cilik dibandingkan dengan urusan bagi-bagi kekeuasaan. Bagian latar dari kedua teks pidato politik M.S. sudah membangun komunikasi politik dengan isu politik yang kental dan menyentuh rakyat kecil. Komunikasi politik dibangun dengan pilihan kata sederhana, yaitu wong cilik dan kesejahteraan rakyat. Kata-kata ini selalu muncul pada kedua teks pidato politiknya M.S..

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen maksud kedua teks pidato politik M.S. kalau lebih menguntungkan PDIP akan diuraikan secara eksplisit sedangkan yang kurang menguntungkan PDIP diuraikan secara implisit atau tersembnyi ( latent). Misalnya “ Kita juga harus bekerja di dalam situasi citra menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi” Pencitraan tidak dijelaskan secara eksplisit karena pada intinya pidato-pidato politik M.S. juga merupakan satu strategi pencitraan yang sama dengan pidato-pidato SBY sebagai pemerintah penguasa. Hanya saja pencitraan PDIP lewat penguraian secara detail hal-hal yang menguntungkan PDIP. Kalimat-kalimat yang mengungkapkan kelemahan dan kegagalan pemerintah SBY dalam pidato politik M.S. merupakan strategi komunikasi dan pencitraan PDIP. Dengan mengungkap kelemahan pemerintah SBY seperti kasus bank century sama artinya mengatakan kalau PDIP menjadi penguasa pemerintah akan bisa mengatasi masalah tersebut. Makna yang tersembunyi dari PDIP adalah meminta dukungan dan kesempatan kepada rakyat untuk bisa memimipin Negara ini (berkuasa).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa struktur mikro yang digunakan dalam teks pidato dalam rangka pembukaan kongres PDIP dan HUT XXXVIII PDIP yang paling banyak digunakan oleh orator politik adalah elemen sintaksis. Penggunaan paling banyak elemen sintaksis dalam teks pidato karena unsur dan strategi media komunikasi yang terpenting digunakan dalam teks harus menggunakan media kalimat. Elemen sintaksis kedua teks tersebut selalu hadir dan ada pada setiap paragraf sebab paragraf didukung oleh kalimat-kalimat sebagai penjelas dari ide pokok. Jadi penjelasan ide pokok dari sebuah paragraf tidak bisa tanpa kalimat penjelas. Pola pengembangan dengan elemen sintaksis dalam bentuk kalimat ditemukan penggunaan kalimat aktif dan pasif serta penggunaan modus kalimat. Modus kalimat yang digunakan dalam pola pengembangan teks pidatonya menggunakan modus kalimat deklaratif, modus kalimat interogatif, dan modus kalimat imperatif. Di antara ketiga modus yang digunakan pada kedua teks tersebut bahwa modus kalimat yang bersifat deklaratif penggunaannya paling banyak atau paling produktif karena tujuan dari teks pidato politik adalah memberikan pernyataan dan penjelasan terkait eksistensi partainnya. Buktinya teks pidato dalam rangka pembukaan kongres III PDIP menggunakan modus kalimat deklaratif sebanyak 180 kalimat, yaitu 89%. Di sisi lain penggunaan modus kalimat deklaratif dalam teks pidato politik tersebut karena isi dan tujuan pidatonya adalah menjelaskan dan menyatakan secara jelas dari keberadaan partai baik menyangkut ideologi atau program-program partai. Dari sisi penggunaan aktif pasif, kedua teks pidato politik M.S. tersebut lebih mendominasi penggunaan bentuk kalimat aktif   jika dibandingkan dengan penggunaan kalimat pasif. Penggunaan kalimat aktif pada teks pidato politik M.S. begitu produktif karena secara teori bahwa orator politik mestinya lebih banyak menggunakan kalimat aktif dibandingkan kalimat pasif. Menurut Chaer (2012) kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya kata kerja aktif. Dengan demikian kalimat aktif itu adalah kalimat yang subyeknya melakukan suatu pekerjaan maka dengan teori ini pembuat/orator teks menyadari sebagai orator yang melakukan suatu pekerjaan dan bukan hanya dikenai pekerjaan. Penggunaan lebih banyak kalimat aktif jika dibandingkan kalimat pasif ingin memberikan pemahaman politik bahwa PDIP lebih banyak melakukan pekerjaan untuk rakyat dan negara bukan hanya dikenai pekerjaan saja. Jadi penggunaan kalimat aktif oleh orator politik dalam teks pidatonya membuktikan bahwa orator atau penulis teks pidato berlaku sebagai aktor atau subjek yang lebih banyak melakukan tindakan/perbuatan sehingga penulis teks lebih cenderung memilih kalimat aktif daripada pasif. Hal ini diperkuat dan diacukan pada pendapat Orwell (1946) dalam Anang (2003) yang menganjurkan agar elite politik lebih menggunakan kalimat aktif dibandingkan dengan kalimat pasif. Lebih lanjut Jones dan Wareing mengatakan penggunaan konstruksi kalimat aktif biasanya lebih langsung dan lebih informatif, sementara itu konstruksi pasif tampak lebih formal dan lebih berbelit yang sering memberikan informasi yang kurang sehingga lebih sukar untuk dipahami. Dengan demikian pemilihan lebih banyak bentuk kalimat aktif dalam pidato politik M.S. sebagai bentuk strategi komunikasi politik M.S..

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penggunaan elemen koherensi/kohesi pada kedua teks pidato politik di atas yang paling banyak penggunaanya adalah koherensi/kohesi aspek gramatikal pengacuan (referensi) dan konjungsi sedangkan aspek leksikalnya yang paling banyak adalah repetisi. Dengan demikian penggunaan aspek gramatikal pengacuan (referensi) menegaskan bahwa teks pidato selalu berkaitan antara paragraf satu dengan paragraf yang lain baik yang bersifat anafora maupun katafora. Bahkan pengacuan pada teks pidato yang berjudul “ Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDIP” ada yang menggunakan acuan di luar teks atau mengacu pada teks pidato yang lalu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Aspek leksikal berupa repetisi yang digunakan orator dalam teks pidatonya untuk mengulang dan menegaskan hal-hal yang penting yang patut mendapat poin perhatian dari pendengar. Penggunaan repetisi baik berupa kata, frasa, ataupun kalimat merupakan suatu strategi komunikasi untuk menekankan suatu yang penting dalam teks tersebut. Penggunaan pilihan kata dalam aspek leksikal menurut pandangan studi bahasa kritis memunyai misi tertentu, niat serta kepentingan tertentu, dan agenda / ideologi tertentu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bagian yang terakhir dalam struktur mikro ada yang disebut elemen retorika. Elemen ini ada dua, yakni elemen grafis dan elemen metafora. Wacana teks pidato politik M.S. keduanya menggunakan elemen grafis, misalnya saat M.S. menyampaikan hal-hal penting sering mengulang dengan kohesi repetisi kata, klausa ataupun kalimat. Di samping dengan cara itu M.S. sebagai orator politik penekanan-penekanan hal yang dianggap penting menulis dengan huruf kapital, dengan pengulangan kata atau frasa dan juga dengan tanda petik dua (“).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen metafora juga banyak digunakan pada kedua tek pidato politiknya M.S.. Makna metafora memberikan makna yang tersembunyi (latent) dan makna tersamar kepada pendengar atau makna sindiran kepada lawan politik. Perlu diingat bahwa analisis terhadap makna metafora merupakan langkah awal memahami bahasa politik (Beard, 2000:19. dalam Anang). Penggunaan metafora tertentu memiliki maksud untuk menghaluskan kritik kepada penguasa (pemerintah SBY). Hal ini sesuai dengan pendapat Anang (2012:71) bahwa dalam wacana politik Indonesia, partai oposisi memiliki kecendrungan lebih aktif menyerang atau mengkritik partai pemerintah (partai penguasa) baik secara implisit maupun secara eksplisit. Pemanfaatan metafora bukan hanya sebagai pemanis ucapan semata tetapi menunjukkan bagaimana pendengar dalam hal ini rakyat memahami konsep politik secara halus dan tidak radikal. Ini sejalan dengan teori Gibbs dalam Anang (2013:128) bahwa metafora bukan alat retoris semata-mata dan kunci metafora melibatkan konsep “musuh” dan “lawan”. Jadi berdasarkan analisis metafora yang digunakan pada kedua teks pidato tersebut dan pendapat dari Beard maka bahasa dalam teks pidato politik tidak semuanya lugas, selalu ada makna-makna yang tersembunyi (latent ) dalam penyampaian ide-ide politiknya. Makna metafora pada teks pidato politik M.S. ada yang bersifat pedas dan sarkasme seperti metafora “ sekian lama dibugkam” dan “DPR dimandulkan”. Secara leksikal makna “bungkam” adalah menutup mulut dan makna “mandul” adalah tidak memunyai anak. Jika dimaknai secara metafora menganalogikan bahwa rakyat tidak boleh bicara pada alam demokrasi dan wakil rakyat tidak lagi bisa melahirkanpemikiran baru dan tidak lagi difungsikan sebagai alat kontrol pemerintah. Kedua teks pidato politik M.S. selalu memunculkan bahasa-bahasa bersayap seperti kata-kata yang bermetafora. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Anwar (dalam Anang 2013:3) bahwa bahasa politik penuh dengan semboyan-semboyan dan kata-kata bersayap serta menghindari penggunaan bahasa yang berkonotasi netral dan objektif. Temuan penelitian ini adalah penggunaan bahasa-bahasa yang digunakan M.S. dalam pidatonya selalu menguntungkan daan berpihak pada partai PDIP. Hal ini disebabkan karena pidato M.S. adalah pidato politik yang mewakili partai PDIP. Jadi dengan demikian bahasa yang digunakan bukanlah makna alamiah tetapi dibangun oleh proses sosial dan politik dalam teks tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persamaan temuan hasil penelitian ini dalam hal struktur mikro dengan penelitian Trina Des Ryantini (2011) yang berjudul “ Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro)” adalah kedua penelitian ini lebih banyak menggunakan tipe paragraf deduktif. Aspek penggunaan ide pokok pada paragraf dalam kedua teks wacana yang digunakan sumber data penelitian ditemukan penggunaan lebih banyak paragraf deduktif paling banyak jika dibandingkan dengan paragraf induktif. Jadi kedua hasil penelitian tersebut ,yaitu penelitian tentang teks wacana pada kolom debat tentang togel di Bali Post dan teks wacana pidato politik partai oposisi sama-sama menggunakan lebih banyak tipe paragraf deduktif dan sebagian kecil menggunakan paragraf induktif. Penelitian Trina Des Ryantini yang berjudul Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro dan penelitian ini yang berjudul Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan SBY, keduanya mnggunakan peranti-peranti kohesif gramatikal dan leksikal.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kedua teks pidato tersebut dalam penyampaian tema/topik pidatonya memiliki strategi penyampaian yang berbeda walaupun disampaikan oleh orang yang sama. Pada pidato pertama yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDIP penyampaian atau penulisan tema/topiknya ada pada bagian akhir pidato yaitu pada paragraf 52. Temuan ini membantahkan teori Anang (2013:241) bahwa Pembukaan/pendahuluan berisi ucapan salam (pembuka), gagasan umum dan pentingnya pidato itu disampaikan. Berdasarkan teori tersebut, pidato yang baik adalah pidato yang gagasan umum (tema) disampaikan di awal bukan diakhir sebuah pidato. Jadi pidato politik M.S. menyimpang dari teori Anang karena menempatkan tema pidato di akhir. Akan tetapi, dalam dunia panggung politik, ini merupakan sebuah strategi komunikasi politik untuk memberikan kesan yang lebih menempatkan tema di akhir pidato apalagi mengangkaat tema “Kesejahteraan Rakyat”. Penyampaian tema di akhir pidato membuat pendengar penasaran dan kemungkinan akan merindukan pidato M.S. selanjutnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persamaan temuan hasil penelitian ini dalam hal struktur makro dengan penelitian Trina Des Ryantini (2011) yang berjudul “ Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro)” adalah penelitian ini menunjukkan bahwa penulis teks/pembicara berupaya meyakinkan pendengar dengan beberapa argumen dan fakta-fakta kalimat agar mengikuti pandangan pembicara (orator politik) sedangkan temuan hasil penelitian Trina Des Ryantini menunjukkan bahwa penulis berupaya mendominasi pembaca agar mengikuti pandangannya, yaitu menolak dan membrantas judi togel di Bali. Jadi kedua penelitian ini menekankan pada audien (pendengar atau pembaca) untuk mengikuti pandangan ideologinya. Penelitian Trina menekankan pemberantasan judi togel sedangkan penelitian ini menekankan pada kesejahteraan rakyat. Jadi kedua hasil penelitian ini berusaha meyakinkan pendengar (baik secara lisan atau tulisan) dengan argumen dan fakta-fakta kalimat agar mau mengikuti pandangan pembicara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini diharapkan dapat berimplikasi dan memberikan kontribusi terhadap keilmuan terutama bagi perkembangan dan pengembangan teori tentang analisis wacana khususnya Analisis Wacana Kritis (AWK). Penelitian ini dapat memberikan sumbangan dan kontribusi keilmuan di kalangan masyarakat akademik terutama yang tertarik pada ilmu linguistik khususnya tentang analisis wacana. Di kalangan masyarakat akademis dapat memberikan pemahaman tentang struktur supra, yakni skematik dari teks pidato, pemahaman tentang struktur mikro yakni dari tatanan semantik, sintaksis, stilistika sampai keretorikaan wacana, dan pemahaman tentang struktur makro, yaitu tema/topik tidak tampak (tersembunyi) bisa menjadi eksplisit atau nyata. Penelitian ini diharapkan dapat membedah secara kritis ideologi dan hal-hal tersembunyi yang terdapat dalam teks pidato politik. Analisis Wacana Kritis (AWK) dapat meretas secara tuntas unsur-unsur suprastruktur, struktur mikro, dan struktur makro pidato politik yang dikaitkan dengan konteks, kondisi sosial politik masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini dapat dipakai referensi atau rujukan dalam rangka pengembangan bahan ajar pembelajaran materi pidato pada mata pelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMA khususnya kelas XII. Apalagi siswa kelas XII sudah menginjak umur 17 tahun maka hak-hak politiknya sudah bisa dipergunakan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Implikasi penelitian ini terhadap dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat memberikan sumbangan dan kontribusi bagi guru-guru dalam pengajaran bahasa Indonesia khususnya mengajakan materi pidato yang bersifat persuasif. Di samping itu hasil penelitian ini dapat dijadikan oleh guru bahasa Indonesia sebagai salah satu bahan pengembangan materi ajar pelajaran bahasa Indonesia khusus menyangkut materi berbicara atau materi berpidato persuasif. Implikasi ini sangat penting di kalangan dunia pendidikan karena pendidikan merupakan sumber pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas maka hasil penelitian in bisa dipergunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama siswa-siswi yang sudah kelas XII untuk mempersiapkan diri terjun ke dalam masyarakat baik sebagai pemerhati dan atau terjun ke panggung politik. Maka lewat materi pengajaran membaca dan berbicara pada submateri berpidato yang bercorak persuasif siswa bisa menyampaikan pikiran kritis dan belajar memperjuangkan ideologinya. Dan manfaat terakhir yaitu bagi peneliti yang lain yang tertarik pada penelitian wacana kritis, penelitian ini bisa digunakan salah satu referensi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Secara praktis penelitian yang mengangkat judul Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Ketua Umum Partai Oposisi pada Zaman Pemerintahan SBY sangat bermanfaat bagi kalangan siswa, terutama siswa SMA khususnya siswa SMA kelas XII yang sudah menginjak umur 17 tahun dan secara hukum sudah memiliki hak-hak politik, baik sebagai pemilih maupun hak untuk dipilih. Implikasi penelitian ini bisa diterapkan langsung dalam kehidupan sosial politik di masyarakat. Mengingat kurikulum tahun 2004 pada materi pelajaran membaca dan berbicara kelas XII pada Standar Kompetensi (SK) tiga yaitu memahami artikel dan teks pidato pada Kompetensi Dasar (KD) 3.2. membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat. Yang kedua pada Standar Kompetensi sepuluh yaitu mengungkapkan informasi melalui presentasi program/proposal dan pidato tanpa teks pada Kompetensi Dasar (KD) 10.2 berpidato tanpa teks dengan lafat, intonasi, nada dan sikap yang tepat. Melihat fakta itu Analisis Wacana Kritis (AWK) untuk materi pidato baik menyangkut materi memproduksi teks pidato maupun materi cara menyampaikan pidato secara persuasif sangat bermanfaat sekali untuk bekal siswa siswi terjun ke masyarakat. Pidato secara persuasif adalah pidato yang tujuannya memengaruhi audien atau pendengar agar terpesuasif/terpengaruh oleh isi pidatonya. Pidato politik salah satu contoh jenis pidato persuasif untuk membujuk, merayu atau memengaruhi pendengar. Apalagi kurikulum 2013 menitikberatkan pembelajaran berbasis teks.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berbahasa adalah bertutur dalam bentuk untaian wacana yang disampaikan secara lisan maupun secara tertulis dan sudah tentu untaian tersebut didukung dari hal yang paling kecil dalam sebuah bahasa yang disebut dengan morfem sampai kewujud yang paling besar yaitu wacana. Wacana merupakan wujud penggunaan bahasa yang dibentuk oleh manusia sebagai pengguna bahasa dengan cara memilih topik pembicaraan dan menyusunnya dengan pola tertentu, menggunakan serta memilih kata, membentuk frasa, menyususn kalimat serta mwujudkannya yang lebih besar. Berdasarkan pandangan tersebut maka wacana merupakan media komunikasi baik yang bersifat lisan atau tulisan. Begitu juga halnya dalam komunikasi yang digunakan dalam dunia politik untuk sebuah kepentingan yang sering disebut dengan komunikasi politik. Strategi komunikasi politik sangat diperlukan menyalurkan komunikasi agar tanpa hambatan untuk menyampaikan tujuan politiknya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bahasa yang digunakan dalam komunikasi politik sudah tentu menggunakan bahasa register politik. Ragam bahasa politik bisa dikaji dari suprastruktur ( superstructure ), aspek struktur mikro ( micro structure ) maupun struktur makronya ( macro structure ). Penggunaan bahasa dalam ragam politik khususnya partai oposisi, dalam konteks berwacana jelas dibangun oleh faktor-faktor linguistik atau aspek kebahasaan yang memuat tujuan pembicara atau penulis teks dari wacana. Teks wacana yang mengambarkan hal tersebut adalah teks pidato partai politik yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDIP dan Pidato politik PDIP pada HUT XXXVIII PDIP.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur supra, struktur mikro, dan struktur makro yang digunakan dalam teks pidato menyampaikan ideologi politik kepada pendengar (audien). Penelitian ini mengangkat tiga permasalahan, yaitu 1) bagaimanakah struktur supra teks pidato politik ketua umum PDIP?, 2) bagaimanakah struktur mikro teks pidato politik ketua umum PDIP?, dan 3) bagaimanakah struktur makro teks pidato politik ketua umum PDIP? Ketiga permasalahan tersebut dibedah dengan menggunakan teori wacana kritis dari Van Dijk, yaitu 1) struktur supra yang mengkaji tentang skematika/alur dari pidato politik. Unsur-unsur struktur supra meliputi pendahuluan, isi, dan penutup/kesimpulan. 2) struktur mikro mengkaji elemen semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. 3) struktur makro mengkaji tentang tema/topik yang diangkat dalam pidato politik yang didukung oleh subtopik dan fakta-fakta yang mendukung tema/topik tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dengan sumber data penelitian adalah teks pidato politik partai PDIP pada saat pidato pembukaan kongres dan HUT XXXVIII partai PDIP. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1) peneliti sendiri dan 2) pedoman dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif model Van Dijk dengan prosedur 1)Reduksi data, 2)penyajian data,       3) analisis data, 3) penyimpulan data (verifikasi). Data itu dianalisis dengan menggunakan teori Analisis Wacana Kritis (AWK) dari Van Dijk.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur Mikro yang ditemukan dalam teks pidato politik ketua umum partai PDIP dalam rangka pidato pembukaan kongres dan HUT XXXVIII PDIP menggunakan tiga elemen yang membangun wacana teks pidato. Ketiga elemen itu adalah, 1) elemen semantik meliputi latar, detail, maksud, dan pra-anggapan, 2) elemen sintaksis meliputi bentuk kalimat, koherensi/kohesi, dan kata ganti,      3) elemen stilistika meliputi leksikon, dan 4) elemen retorika meliputi grafis dan metafora. Dari keempat elemen yang ditemukan dalam teks pidato tersebut, elemen sintaksis penggunaannya yang paling banyak bahkan setiap paragraf ditemukan elemen sintaksis. Hasil temuan ini menyatakan bahwa elemen sintaksis penggunaanya sangat produktif dalam wacana teks pidato.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur Makro yang digunakan dalam teks pidato politik ketua umum partai PDIP dalam rangka pidato pembukaan kongres dan HUT XXXVIII PDIP mengangkat masing-masing satu tema. Wacana teks pidato yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDIP mengangkat tema Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat dan yang berjudul Pidato Politik pada HUT XXXVIII mengangkat tema Kesejahteraan Rakyat dan Keadilan Sosial . Tema-tema itu didukung oleh beberapa subtopik dan fakta-fakta yang terdapat dalam wacana teks pidato. Dari ketiga struktur itu ideologi partai PDIP, yaitu mengangkat harkat dan martabat wong cilik yang berlandaskan pancasila.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur supra teks pidato politik yang berjudul         Pidato Politik Pembukaan Kongres III PDI dan Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan struktur pidatonya terdiri atas bagian-bagian, yaitu yang pertama bagian pendahuluan, yang kedua bagian isi, dan yang ketiga bagian penutup/kesimpulan. Bagian pendahuluan berisi ucapan salam merupakan hal yang bersifat normatif dalam berpidato dan bisa memberikan interpretatif bagi pendengar. Bagian isi mencakup pemaparan identitas dan program-program partai dan sekaligus memersuasif pendengar lewat pemaparan program partai. Bagian isi teks pidato politik M.S. selalu menggunakan pilihan kata dan isu politik kesejahteraan rakyat dan keberpihakan kepada wong cilik. Bagian penutup hampir sama dengan bagian pendahuluan yaitu dalam pengucapan salam, hanya saja fungsinya yang berbeda. Kedua teks pidato tersebut sudah menggunakan skematika yang terstruktur sesuai dengan struktur dan langkah-langkah kerangka pidato daaalam konteks politik. Langkah-langkah itu antara lain 1)Pembukaan/pendahuluan berisi ucapan salam (pembuka), gagasan umum dan pentingnya pidato itu disampaikan, 2) paparaan (eksposisi) tentang satu hal yang dianggap penting menurut kacamata paratai PDIP. Tahapan 3) persuasi yaitu strategi orator partai untuk memengaruhi pendengar. 4) bagian penutup berisi ucapan salam yang fungsinya sama dengan salam pada bagian pendahuluan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur Mikro teks pidato politik yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan dan Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI perjuangan terdiri atas beberapa elemen yang membangun wacana itu menjadi satu kesatuan wacana yang utuh. Elemen-elemen itu antara lain 1) elemen semantik yang meliputi latar, detail, maksud, dan pra-anggapan, 2) elemen sintaksis meliputi bentuk kalimat, kohesi/koherensi, dan bentuk persona/kata ganti, 3) stilistika berupa penggunaan leksikalisasi, dan 4) elemen retorika meliputi grafis dan metafora. Elemen semantik lebih menonjolkan latar historis diadakan kongres dan HUT PDIP, detailnya lebih menekankan dan menguraikan secara mendetail makna yang menguntungkan bagi pencitraan PDIP, elemen maksudnya disampaikan secara eksplisit kalau informasinya menguntungkan pencitraan PDIP, dan elemen praanggapannya memilih isu politik oposisi partai. Dengan memilih posisi oposisi, rakyat berpranggapan bahwa PDIP berpihak pada wong cilik bukan sekadar mencari kekuasaan. Jadi dengan demikian dari analisis struktur mikro, keempat elemen yang digunakan dalam teks wacana pidato politik M.S. yang paling banyak digunakan adalah elemen sintaksis.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur makro pada wacana teks pidato politik pembukaan kongres III PDI Perjuangan mengangkat tema Berjuang untuk kesejahteraan rakyat dan teks pidato politik dalam rangka HUT XXXVIII PDI Perjuangan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan. Kedua teks pidato tersebut dalam penyampaian tema/topik pidatonya memiliki strategi penyampaian yang berbeda walaupun disampaikan oleh orang yang sama. Pada pidato pertama yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDIP penyampaian atau penulisan tema/topiknya ada pada bagian akhir pidato yaitu pada paragraf 52. Sedangkan pada pidato kedua yang berjudul Pidato Ketua Umum PDIP pada HUT XXXVIII PDIP penyampaian atau penulisan tema/topiknya ada pada awal pidato yaitu pada paragraf.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Mengawali biodata Megawati Soekarnoputri peneliti membuka lembaran sejarah berdirinya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yaitu diawali perebutan kekuasaan Partai Demokrasi Indonesia oleh Soerjadi yang didukung pemerintah saat itupun memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI itu. Ancaman itu kemudian menjadi kenyataan. Pagi, tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, dia makin memantapkan langkah mengibarkan perlawanan. Tekanan politik yang amat telanjang terhadap Mega itu, mengundang empati dan simpati dari masyarakat luas.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Mega Soekarnoputri terus berjuang. PDI pun menjadi dua. Yakni, PDI pimpinan Megawati dan PDI pimpinan Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan mengakui Mega. Tetapi, pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Akibatnya, PDI pimpinan Mega tidak bisa ikut Pemilu 1997. Setelah rezim Orde Baru tumbang, PDI Mega berubah nama menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai politik berlambang banteng gemuk dan bermulut putih itu berhasil memenangkan Pemilu 1999 dengan meraih lebih tiga puluh persen suara. Kemenangan PDIP itu menempatkan Mega pada posisi paling patut menjadi presiden dibanding kader partai lainnya. Tetapi ternyata pada SU-MPR 1999, Mega kalah. Tetapi, posisi kedua tersebut rupanya sebuah tahapan untuk kemudian pada waktunya memantapkan Mega pada posisi sebagai orang nomor satu di negeri ini. Sebab kurang dari dua tahun, tepatnya tanggal 23 Juli 2001 anggota MPR secara aklamasi menempatkan Megawati duduk sebagai Presiden RI ke-5 menggantikan KH Abdurrahman Wahid. Megawati menjadi presiden hingga 20 Oktober 2003. Setelah habis masa jabatannya, Megawati kembali mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan presiden langsung tahun 2004. Namun, beliau gagal untuk kembali menjadi presiden setelah kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono yang akhirnya menjadi Presiden RI ke-6.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(2) Kongres PDI Perjuangan III ini diselimuti oleh rasa bela sungkawa mendalam dimana dua tokoh bangsa telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa: yaitu bapak K.H. Abdur Rahman Wahid yang akrab disapa oleh mereka, Gus Dur serta yaitu seorang kader nasionalis yang hidup di tiga zaman yaitu Bapak Frans Seda. Beberapa waktu lalu kita juga kehilangan seorang tokoh PDI Perjuangan yaitu Bapak Subagyo Anam yang hingga akhir hayat terus memberikan sumbangsih bagi Partai. Saya mengajak warga kita semua untuk mendoakan, dan lebih lagi meneladani pikiran dan tindakan mereka dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(4)               Saudara-saudara utusan peserta Kongres III, Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka. Mengapa hal ini saya katakan Saudara-saudara? Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada suatu kekelaman sejarah bagi suatua bangsa.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(7)               Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(8)               Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, atau sejumlah menteri, ataupun juga sampai melangkah ke istana merdeka, saudara-saudara. Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan. Saya ingin tegaskan bahwa dalam dialektika dengan rakyat tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. Saya berkeyakinan, dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan kembali puncak keemasannya. Karenanya, karenanya saudara-saudara sebagai kader, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(12)           Saudara-saudara utusan kongres yang saya cintai, Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab kita untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(14)           Saudara-saudara sekalian, Jika kita mau sedikit merenung, maka kita pasti akan sampai pada keyakinan bahwa kegagalan kita dalam memaknai garis sejarah sebagaimana saya sampaikan di atas merupakan inti sebab dari ditinggalkannya PDI Perjuangan dalam dua pemilu yang lalu. Kemerosotan suara, ingat! adalah teguran rakyat agar kita kembali ke takdir sebagai sarana dan wadah perjuangan rakyat. Saudara-saudara-ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(15)           Sudah saatnya kita menyadari untuk kemudian bangkit membenahi segala kekurangan dan kelengahan kita selama ini. Sudah saatnya kita menata ulang seluruh perangkat perjuangan untuk kemudian menatap dengan penuh optimisme bahwa partai ini adalah partainya wong cilik dan dipersembahkan bagi mereka. Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali aktif dalam membangun solidaritas horizontal bersama rakyat untuk membuat lompatan kualitatif. Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali menjadi kekuatan yang merajut keaneka-ragaman kita ke dalam satu kesatuan tekad, satu kesatuan jiwa, dan satu kesatuan gerak.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(16)           Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada mari kita jadikan lima tahun kemarin sebagai pelajaran berharga, dan kita jadikan lima tahun ke depan sebagai tahun-tahun PERUBAHAN & KEBANGKITAN KEMBALI, saudara-saudara.Ini mengingatkan saya, pada tahun tahun sulit yang pernah dilewati oleh Bung Karno, dan hingga hari ini masih terngiang di telinga saya, kata-kata Beliau:  “Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. Kita telah mencapai suatu point of no return !!!”, saudara-saudara.Untuk itu, kita tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke jati diri sebagai partai yang mempunyai ideologis.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(18) Kita dihadapkan pada keterbatasan sumber pembiayaan di tengah-tengah kebutuhan anggaran pengelolaan partai yang semakin besar. Kita dihadapkan pada kelangkaan kepemimpinan baik secara kualitas maupun kuantitas. Pengaturan kelembagaan partai kita masih terpusat pada satu tiang penyanggah, yakni organisasi partai dari DPP hingga anak ranting saja. Kita membiarkan tangan-tangan partai yang mengelola kekuasaan dan pemerintahan tidak diatur dalam AD/ART partai. Ini menimbulkan kesulitan dalam membangun koordinasi dan sinergi lintas pilar penyangga partai. Kita akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan, meluasnya kecenderungan fraksi berjalan sendiri-sendiri atau sebaliknya kegagalan struktural partai dalam memberikan arahan bagi fraksi dan dalam membangun komunikasi dan sinergitas dengan kepala daerah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(20) Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. Cobalah tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh. Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. Merekalah yang telah siap menyatakan diri memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tetapi  juga  menjadi pemimpin bangsa yang di masa datang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.  Saudara-saudara. Melihat semua ini saya sering merenung dan berkata pada diri saya sambil menertawakan diri saya; “Bagaimana Saya bisa belajar pada suatu partai yang dalam waktu begitu cepat bisa naik sampai 300%.”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(21) Saudara-saudara, Saya ingin belajar kiatnya karena PDI Perjuangan juga berkeinginan seperti itu saudara-saudara. PDI Perjuangan juga dihadapkan pada rendahnya disiplin warga partai sebagai salah satu tulang punggung tegaknya partai ideologis. Kita dihadapkan pada kemerosotan militansi anggota. Voluntarisme dan aktivisme memudar sebagai elan berpolitik digantikan dengan pertimbangan “untung-rugi”. Ditinggalkannya TPS oleh saksi Partai pada pemilu legislatif dan pilpres adalah suatu contoh kecil, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(22) Dari sisi eksternal, tantangan bagi PDI Perjuangan untuk kembali ke jalan ideologis juga tidak ringan. PDI Perjuangan harus bekerja dalam situasi psiko-politik “anti-partai” dan “anti-ideologi”. PDI Perjuangan harus bekerja dalam suatu masyarakat yang semakin pragmatis, transaksional, dan berpikir instant untuk kepentingan individual berjangka pendek. Kita harus bekerja dalam situasi dimana sebagian pihak menganggap bahwa menduduki jabatan publik melalui jalan partai adalah jalan baru bagi keamanan ekonomi. Partai bukan lagi sebagai alat ideologi, alat perjuangan tapi alat akumulasi ekonomi. Partai menjadi sarana transportasi cepat untuk keuntungan ekonomi individual, bukan lagi sarana untuk mewujudkan kepentingan rakyat, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

23) Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai. Saya ingin mengucapkan terimakasih yang setinggi-tinggi pada Pimpinan MPR yang telah dengan sekuat tenaga mendorong pemerintah untuk menetapkan 1 Juni, Pancasila  1 Juni 1945 untuk bisa disosialisasikan bagi seluruh bangsa dan negara, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(24) Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(25) Saudara-saudara, Sebagai Presiden pada tahun 2004, saya telah mencoba dengan susah payah membangun sistem demokrasi yang dikehendaki dalam alam reformasi agar Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih secara langsung oleh rakyat. Pada saat itu, tidak terpikirkan sedikitpun oleh saya untuk menciderai jalannya demokrasi. Karena saya berkeyakinan, rakyat adalah yang berhak untuk mendapatkan kembali kedaulatannya sebagai penentu kehidupan politik, setelah sekian lama dibungkam. Meski saat itu saya dikalahkan tetapi saya berbangga dan berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang demokrasi yang telah diletakkan akan menjadi jalan keluar bagi kesejahteraan rakyat serta bagi terpeliharanya kemajemukan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, saudara-saudara. Ternyata keyakinan saya di atas tidak sepenuhnya benar.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(29) Hal-hal di atas mencemaskan karena moralitas negara demokrasi yang dibangun melalui partai, idealnya dimaksudkan agar pendidikan politik kewarganegaraan dapat diwujudkan. Partai adalah “taman sari” untuk menyiapkan kader-kader pemimpin bangsa dan negara guna mengisi sirkulasi kekuasaan secara damai. Tugas etis partai di atas dalam kenyataannya di-subkontrakkan kepada segelintir konsultan politik yang menghasilkan deretan angka yang menghegemoni masyarakat. Akibatnya,  prinsip dikalahkan oleh citra dan pendidikan politik digantikan dengan indeks kepuasan publik belaka.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(32) Saya sering bertanya-tanya, apa salahnya kalau rakyat ingin mandiri? Apa salahnya kalau ingin mewujudkan rakyat berdikari? Bukankah suatu bangsa yang berdikari harus ditopang oleh rakyat yang dapat berdiri di atas kakinya sendiri, saudara-saudara. Karena melihat pada hal-hal di atas, kita bukan saja dituntut untuk bergotong-royong dan bermusyawarah dengan rakyat sebagai inti berpolitik PDI Perjuangan, partai kita. Tetapi juga, harus dapat mengorganisir kekuatan rakyat untuk menjaga agar watak manipulatif di atas tidak akan pernah berulang di 2014 nanti. Rakyat perlu sekali lagi diorganisir agar keutamaan dan moralitas kembali menjadi prinsip-prinsip dasar dalam berpolitik. Lebih lanjut rakyat perlu diorganisir agar terbangun kesadarannya untuk melawan citra bahwa bukan sebagai satu-satunya ukuran berpolitik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(34) Saudara-saudara yang saya cintai. Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa?

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(36) Pengalaman sejumlah negara adidaya akhir-akhir ini menunjukkan sebuah bangsa bukan saja membutuhkan ideologi, tapi ideologi yang didedikasikan bagi mayoritas rakyat. 100 tahun lalu tidak terpikirkan bahwa jalan kapitalisme dari negara-negara di atas akan membawa mereka ke suatu krisis yang mendalam. Sebagai seorang pemikir, Bung Karno telah memprediksi sejak tahun 1930: saya sitir, beliau mengatakan kapitalisme mengandung kontradiksi-kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Ia pasti akan memakan anaknya sendiri. Dan inilah yang sedang kita saksikan. Sebagai bangsa, sudah tentu kita tidak ingin berjalan di rel yang keliru. Kita sudah memiliki Pancasila 1 Juni 1945. Itulah jalan yang telah kita pilih sebagai suatu keyakinan tanpa ragu, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(38) Demokrasi Indonesia yang telah lama kita perjuangkan bukanlah suatu ruang kosong yang bekerja secara metafisis ataupun mekanis. Ia adalah medan peperangan ideologi. Demokrasi prosedural yang kini kita jalani berangkat dari kutub ideologi liberal-individual. Sebagai ideologi ia memberikan mekanisme dan jaminan berkompetisi dan melahirkan pemenang dan pecundang. Demokrasi liberal tak akan pernah menjadi bentangan karpet merah menuju keadilan sosial bagi segenap tumpah darah Indonesia. Ia bukan pula jalan bagi penguatan partisipasi rakyat. Demokrasi semacam ini bisa jauh lebih buruk lagi, ketika dia dibangun di atas politik pencitraan dan bekerja untuk melindungi citra itu semata-mata. Demokrasi Indonesia mestinya dibangun di atas keutamaan kolektivitas, dijalankan melalui musyawarah untuk mufakat, dan bekerja di tengah-tengah keyakinan akan kebhinnekaan sebagai anugrah Alllah  Subhana wa ta’ala.  Ia adalah demokrasi yang konon kata para ahli adalah demokrasi deliberatif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(40) Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PMS adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(43) Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika belaka. Untuk bisa bekerja efektif, ideologi membutuhkan kader. Ideologi membutuhkan pemimpin. Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik. Ideologi membutuhkan aturan bermain. Ideologi membutuhkan kebijakan. Ideologi membutuhkan program yang merakyat. Ideologi membutuhkan sumber-daya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(1)               Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air, tamu undangan yang saya hormati, serta kader dan simpatisan PDI Perjuangan yang saya cintai dan banggakan. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa,  atas segala rahmat dan hidayahNya yang telah menjaga kita selama tahun 2010, serta mengantarkan kita memasuki tahun 2011 dengan selamat sentosa. Secara khusus kita bersyukur karena atas rahmatNya, PDI Perjuangan tetap bertahan melewati tahun-tahun perubahan politik yang sangat dinamis dan sulit. Dengan bertambah usianya PDI Perjuangan, semakin memberikan kesempatan untuk mengabdi pada ibu pertiwi dalam perjuangan mencapai cita-cita Indonesia merdeka, yakni Indonesia yang berdaulat secara politik; Indonesia yang berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) di bidang ekonomi; dan Indonesia yang tetap mampu menjaga karakter dan kepribadian budayanya sebagai sebuah bangsa yang bermartabat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(2) Kita harus bersyukur karena rentang panjang sejarah kepartaian di bumi tercinta ini telah membuktikan: tidak banyak kekuatan politik yang bisa terus bertahan dan memberikan sumbangsihnya bagi rakyat, bangsa dan negara untuk waktu yang panjang. Sejarah membuktikan, banyak partai-partai lahir dan mati, bukan saja wadahnya, tapi juga ruhnya, ideologinya. Bahkan sejak memasuki era reformasi, kita menyaksikan begitu banyaknya partai politik yang hanya bisa bertahan seumur jagung, kemudian musnah dan akhirnya dilupakan sejarah. Sementara PDI Perjuangan tetap diberi anugerah panjang usia yang memungkinkan kita berkumpul hari ini untuk merayakan Ulang Tahun yang 38.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(5)                 Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(6) Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(7)Saudara-saudara yang saya cintai, Bagi PDI Perjuangan Pancasila 1 Juni 1945 adalah ideologi dan sekaligus metode berpikir. Dengan Pancasila, kita bisa membedah dengan lebih cermat berbagai kontradiksi dalam pengelolaan negara saat ini. Kita bisa menyaksikan bagaimana gambaran sukses pembangunan lebih sering ditampilkan melalui keberhasilan statistik makro ekonomi. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana lambannya penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan di tengah-tengah peningkatan secara dramatis anggaran yang disediakan untuk itu. Itukah yang dimaksudkan dengan keberhasilan?

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(8)Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat. Pada saat bersamaan, pemerintah seharusnya mendengar jeritan rakyat atas kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar, yang sudah melebihi daya beli rakyat. Bahkan, untuk kesekian kalinya, rakyat menjadi korban hanya untuk sekedar mendapatkan makan. Oleh karena itu, tidak boleh terjadi lagi, rakyat kecil bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin berat sebagaimana telah terjadi di Cirebon, Kebumen, dan beberapa daerah lainnya. Inilah gambaran, betapa sulitnya rakyat berjuang hidup-mati hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Bukankah konstitusi menjamin penghidupan yang layak bagi warga negaranya? Kemana alokasi anggaran yang ribuan trilyun rupiah tersebut? Sudah saatnya kita hentikan pameran keberhasilan indikasi makro ekonomi, dan menggantikannya dengan gerakan ekonomi kerakyatan, yang bertumpu pada kekuatan rakyat, agar terjaminlah kebutuhan dasar rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kita juga menyaksikan terjadi pengurangan sistematis subsidi untuk rakyat atas nama kepentingan publik. Pada saat bersamaan, pemborosan anggaran belanja aparatur negara terus berlangsung tanpa keberanian untuk melakukan koreksi. Kita juga menyaksikan bagaimana pemerintah terus mendewakan impor barang sebagai penyelamat, dan membiarkan ketergantungan atas sumber pembiayaan APBN dari pinjaman luar negeri yang berdampak pada melunturnya ketahanan dan kemandirian kita sebagai sebuah bangsa. Kita juga melihat bahwa keberhasilan Bursa Efek Indonesia sebagai bursa terbaik di Asia Pasifik lebih ditonjolkan, sementara kerawanan pelarian modal asing yang spekulatif terus saja mengancam. Apabila kebijakan ini tidak berubah, maka stabilisasi mata uang rupiah akan terus menjadi pekerjaan berat kita. Membengkaknya defisit neraca Bank Indonesia harus dicermati sebagai mahalnya ongkos stabilisasi dan lemahnya daya dukung sektor riil. Karena itulah, hentikan pengungkapan keberhasilan statistikal tersebut. Tidak ada salahnya, apabila kita memperkuat peran negara, sehingga Indonesia tidak menjadi korban dari pertarungan berbagai mata uang dunia seperti Euro, Yen, dan Yuan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(10)Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Hal-hal itulah yang membuat saya terus khawatir bahwa sistem ekonomi yang kita bangun semakin jauh dari sistem ekonomi yang menjadi amanat konstitusi. Karena itulah, wajar kalau kita bertanya, inikah arah pengelolaan ekonomi yang akan menuntun ke arah keberdikarian dalam bidang ekonomi? Ataukah sebaliknya, justru menjadi jalan cepat menuju ketergantungan ekonomi yang bersifat permanen pada kekuatan asing. Saya berpendapat, bahwa kita tidak bisa menunda lagi untuk mewujudkan keberdikarian ekonomi kita. Lebih-lebih kalau kita melihat resesi yang kini terjadi di Amerika Serikat, dan krisis ekonomi di beberapa negara di Eropa. Krisis yang terjadi di kedua kawasan tersebut pada akhirnya tetap memerlukan campur tangan negara. Bahkan di kawasan itulah kembali terbukti, bahwa kepentingan nasional suatu negara akhirnya menjadi hukum tertinggi di dalam membangun kedaulatan ekonomi setiap bangsa. Inilah yang seharusnya kita lakukan guna membangun kepercayaan diri kita, untuk berani menyatakan bahwa pengolahan sumber daya alam, harus kita prioritaskan pada kemampuan nasional. Pling tidak, kita harus mampu mencukupi kebutuhan pokok secara mandiri untuk pasar dalam negeri kita. Inilah yang saya maksudkan sebagai prinsip berdiri di atas kaki sendiri. Saya tidak anti asing, namun marilah kita letakkan skala prioritas pengabdian pada kepentingan nasional. Setidak-tidaknya dalam bidang pangan, energi, keuangan dan pertahanan, pilar-pilar ekonomi berdikari dapat diletakkan. Percayalah, bahwa kita bisa bangkit. Kita bisa menjadi bangsa besar. Kita bisa berdikari. Sebab kita memiliki modal, berupa keanekaragaman kekayaan alam, tanah air yang subur, keindahan alamnya, keanekaragaman suku, agama, budaya, yang semua terangkai bagaikan zamrud katulistiwa. Inilah modal besar yang harus terus menerus kita syukuri dan kembangkan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(11)Saudara-saudara yang saya cintai, Dari sudut pandang Pancasila, tujuan pembangunan ekonomi sangat sederhana dan jelas, yakni menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berdasarkan azas kemanusiaan dan kekeluargaan. Hal ini diamanatkan dalam konstitusi utamanya Pasal 23, Pasal 27, Pasal 33 UUD 1945. Amanat yang menekankan bahwa kedaulatan rakyat dan negara di ranah ekonomi tidak boleh digusur atau dipertukarkan dengan kedaulatan pasar dan korporasi. Mengapa? Karena kita berkeyakinan, bahwa berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) dalam bidang ekonomi tidak bisa tidak mengharuskan kita untuk memberikan peran yang lebih besar bagi rakyat sebagai kekuatan produktif bangsa, dan mewajibkan negara untuk bertanggungjawab dalam ranah ekonomi. Dan inilah masalah kita dalam  lima tahun terakhir ini: kita mengkhayalkan keberdikarian ekonomi, sambil mengurangi kewenangan dan tanggung-jawab negara, serta membiarkan kekuatan produktif rakyat mati dalam persaingan yang tidak sehat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(12)Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya banggakan, Di tengah-tengah keterpurukan sosial ekonomi dan bencana alam yang terus mengintai, muncul ancaman bencana lain yang menyangkut  karakter dan kepribadian bangsa kita. Bencana ini mempunyai implikasi lebih serius karena ia mengancam secara simultan dasar mental dan pikiran rakyat. Lihat saja proses hukum kasus Bank Century. Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(13) Kasus lain yang tidak kalah menariknya, bagaimana Gayus Tambunan  dengan berbagai variasi dan keleluasaannya,  mempertontonkan betapa kekuatan uang sedemikian berjaya dalam mengharu-biru sistem hukum secara keseluruhan. Hal ini akhirnya membuat rakyat percaya bahwa “faktor uang adalah segala-galanya”. Kasus yang sama juga mengungkapkan rendahnya kedaulatan negara. Negara yang berdaulat adalah negara yang mampu menegakan hukum atas warganya. Dalam kasus Gayus, dan masih banyak kasus sejenis lainnya, nampaknya hukum tidak bisa ditegakkan, negara jauh dari berdaulat. Bencana mental di atas juga tampak dari cara penguasa memaknai reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi dikecilkan maknanya sebatas sebagai remunerasi. Sebuah bentuk pemujaan pada materi yang semakin meyakinkan rakyat bahwa “materi adalah segala-galanya”. Padahal kita tahu bahwa pembenahan sistem remunerasi hanyalah salah satu bagian kecil dan merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan yang lebih besar dan menyeluruh.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(14)Saudara-saudara yang saya hormati, Penyakit kronis lainnya yang menonjol dalam beberapa saat terakhir ini adalah sikap elit yang lebih meributkan soal koalisi, sekretariat gabungan (setgab), wacana pemilihan gubernur oleh DPRD, atau apapun namanya dibanding mengurus rakyat. Hal ini menegaskan semakin meluasnya cakupan bencana mental yang melanda negeri ini. Fenomena ini menggambarkan bagaimana penggalangan kekuasaan ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang mengurusi kepentingan rakyat. Bahkan kita semua menikmati sedemikian pentingnya “penggalangan kekuasaan” tanpa peduli terhadap akibat-akibat negatifnya bagi perkembangan demokrasi politik di Indonesia.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(15) Dalam pidato pembukaan Kongres III di Bali ancaman mentalitas bangsa ini sudah saya ingatkan. Saya tegaskan bahwa “cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, sejumlah menteri, ataupun istana merdeka”. Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan. Saya juga tegaskan pada waktu itu bahwa dalam dialektika dengan rakyat, tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. Pada saat itu dan hingga hari ini saya berkeyakinan bahwa dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan puncak keemasannya. Karena itulah, sekali lagi saya tegaskan kepada kader partai, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat. Kita, seperti yang saya katakan di Bali, tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(16) Hal-hal di atas baru sebagian kecil dari persoalan yang kita hadapi. Di lahan kepemimpinan, kontradiksi juga dengan mudah kita temukan. “Satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan” sebagai adagium politik yang diajarkan Bung Karno, bahwa penanda dari kepemimpinan yang berkualitas, praktis tidak kita temukan dalam diri pemimpin bangsa saat sekarang. Ada selisih yang sangat jauh antara “citra” dan “realitas”. Lebih lagi, hampir setiap pemimpin berlomba membangun citra diri. Lihatlah di televisi dan di berbagai media, semakin banyak menteri dan kementerian yang lebih sibuk “mengiklankan diri”, ketimbang bekerja untuk mensejahterakan rakyat. Hal ini juga berlaku bagi sejumlah kepala daerah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(17) Saudara-saudara, Di lahan demokrasi kita juga menghadapi masalah. Kerakyatan yang  dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan merupakan garis yang jelas dalam membangun tatanan demokrasi di Indonesia. Tetapi yang kita saksikan adalah sebaliknya: kita berdemokrasi dengan sepenuhnya percaya pada keajaiban angka dan pencitraan belaka. Demikian pula, integritas kebangsaan yang terjelmakan dalam sila ketiga Pancasila “Persatuan Indonesia”, akhir-akhir ini dihadapkan pada kondisi sulit. Kondisi ini semakin dipersulit oleh kecenderungan kepemimpinan nasional yang lebih produktif menciptakan polemik, ketimbang menjadi rujukan integritas kebangsaan kita. Lihatlah kasus debat tanpa kesudahan atas status keistimewaan Yogyakarta. Rakyat akhirnya dipaksa untuk memilih antara kesetiaan kebangsaan atau kedaerahan. Sebuah ironi dalam pengelolaan kekuasaan negara karena lunturnya pemahaman terhadap sejarah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(18) Hal di atas sangat disayangkan karena sejarah telah mencatatkan tinta emas bahwa Indonesia mampu berdiri ditengah pluralisme dalam persatuan. Bhinneka Tunggal Ika bukan sebuah jargon kebetulan. Ia juga bukan hasil temuan yang baru. Bhinneka Tunggal Ika telah mengakar panjang dalam sejarah bangsa yang majemuk ini. Ia adalah rumusan yang merupakan kristalisasi dari pengalaman empirik kita hidup sebagai bangsa majemuk dalam sebuah kesatuan yang harmonis. Demikian pula dengan gotong royong yang oleh para pendiri bangsa dijadikan sebagai spirit dasar dalam merancang Indonesia yang ideal, kini tenggelam di bawah persaingan bebas sebagai metode politik dominan. Kita akhirnya terjebak dalam mobilisasi dan konflik, gagal berdialog dan membangun konsensus yang sesuai dengan nalar publik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(20) Bagi kita posisi strategis partai di atas sudah sangat jelas. Bahkan keputusan Kongres III Bali telah memberikan arah yang sangat jelas, yakni keharusan bagi PDI Perjuangan untuk menjadi ujung tombak bagi pencapaian Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya. Hal di atas dimandatkan Kongres untuk diwujudkan melalui fungsionalisasi secara sinergis dan efektif 3 pilar partai — struktural, legislatif dan eksekutif. Lebih lagi, arah perubahannya harus dituntun oleh Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi Partai. Kita memilih jalan ideologi dalam membangun Partai

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(21) Rangkaian rumusan sikap dan program-program partai, berikut perubahan-perubahan penting dalam AD/ART Partai yang dihasilkan oleh Kongres III telah memberikan pijakan yang sangat memadai. Beberapa keputusan strategis Kongres seperti konsolidasi partai telah berhasil dijalankan. Kita tak lagi dihadapkan pada persoalan serius yang terkait dengan konsolidasi organisasi dan program, kecuali untuk sejumlah kecil daerah. Sekalipun demikian, dalam sejumlah bidang masih banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian kita sebagai warga partai.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(22) Pada kesempatan ulang tahun kali ini saya hanya akan menyoroti tiga perintah Kongres III yang paling strategis yang masih membutuhkan kerja ekstra kita semua. Yang pertama adalah soal keharusan kita untuk menghasilkan kader-kader politik dengan kualitas yang diperlukan untuk berbagai jabatan publik, termasuk untuk mengelola partai. Saya mengamati persoalan ini masih menjadi persoalan serius di banyak daerah. Saya menyaksikan setelah berlalunya generasi pertama, banyak daerah mengalami kesulitan untuk memunculkan figur baru yang secara ideologis baik, secara politik diterima, dan secara teknokratis mumpuni. Dalam proses pencalonan kepala daerah misalnya, kita akhirnya terjebak pada dua kecenderungan esktrim, yakni mengusung calon non-kader partai yang kadang melahirkan masalah serius dalam partai, atau sebaliknya, mengambil jalan pintas dengan mencalonkan orang-orang disekitarnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(23) Sebagai kekuatan politik yang merupakan ujung tombak dari kemajuan dan kemunduran bangsa, kecenderungan di atas sangat tidak sehat. Karenanya, perhatian ekstra harus kita berikan pada proses kaderisasi dan regenerasi. Hal ini bukan saja penting bagi kelangsungan hidup partai. Bukan saja bermanfaat bagi bangsa dan rakyat. Tapi di atas segalanya, pengembangan sistem kaderisasi dan regenerasi, yang di satu sisi tetap mengedepankan ideologi, dan di sisi lain mengedepankan penjenjangan kualitas kader, harus terus-menerus dilakukan guna membendung politik jalan pintas untuk meraih pucuk pimpinan kekuasaan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(24) Hal kedua yang ingin saya sampaikan adalah keharusan bagi Partai untuk menginstrumentasikan nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945 yang memungkinkan Pancasila menjadi ideologi yang hidup. Salah satu arena paling pokok untuk melaksanakan hal tersebut berada pada arena pengambilan keputusan. Dalam konteksi inilah sinergi tiga pilar partai —struktural, eksekutif, dan legislatif — menjadi kekuatan penting, tidak hanya di dalam merumuskan kebijakan, namun  untuk menentukan apa yang saya sebut sebagai agenda setting. Kita harusnya bisa lebih berfungsi dalam menentukan kebijakan apa saja yang harus diprioritas dan harus dihasilkan oleh negara. Tetapi hingga saat inil, fraksi kita di semua jajaran legislatif masih sebatas sebagai kekuatan yang aktif dalam membahas berbagai regulasi. Kita belum mampu untuk menjadi penentu agenda setting.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(25) Karenanya, dengan tegas saya perintahkan kepada jajaran fraksi di seluruh tingkatan untuk lebih pro-aktif dalam mengajukan agenda-agenda kebijakan yang harus diprioritaskan. Manfaatkanlah semua sumber-daya dan kelembagaan yang dimiliki partai, mulai dari Litbang hingga individu-individu yang matang secara ideologis dan mumpuni secara teknokratis untuk bisa saling membantu. Manfaatkan juga semua sumber daya intelektual dan kelembagaan yang berada di negeri ini, termasuk pusat-pusat riset dan perguruan tinggi serta lembaga swadaya masyarakat yang sungguh-sungguh bekerja bersama di tengah-tengah rakyat. Dan yang sama pentingnya, sinergikan struktural, eksekutif dan legislatif partai di semua tingkatan guna menghasilkan kebijakan yang secara ideologi benar, secara teknokratis layak, dan secara politik bisa diterima, serta didukung semakin banyak pihak yang berkepentingan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(26) Hal terakhir yang ingin saya garis bawahi adalah perintah Kongres agar setiap warga partai menjadi contoh hidup dari Pancasila sebagai ideologi. Kita masih mengalami kesulitan di sana-sini. Masih banyak perilaku elit PDI Perjuangan yang jauh dari standar norma Pancasila. Karenanya, saya serukan agar setiap kader partai menyadari hal ini. Dan untuk itu, tuntunannya sangat sederhana, yakni setiap kita harus “menyatukan perkataan dengan perbuatan, menyamakan mulut dengan tindakan”. Ajaran dasar yang berulang-kali disuarakan Bung Karno untuk diikuti oleh setiap pengikutnya. Ingatlah, setiap kader partai adalah ibarat guru. Bahkan oleh Bung Karno, kader partai harus menjadi bintang pengarah yang memberikan gerak hidup. Ia harus menjadi teladan, dan terus mengobarkan semangat “karma nevad ni adikaraste ma phalesu kada cana”, yang artinya kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya.  Inilah keteguhan sebagai kader partai dan sebagai antitesa terhadap maraknya pragmatisme politik yang sangat transaksional tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(28) Saudara-saudara, Mengakhiri pidato politik ini, ijinkan saya dan seluruh jajaran DPP PDI Perjuangan menyampaikan Selamat Ulang Tahun ke 38 bagi kita semua. Semoga pertambahan usia ini memberikan kekuatan baru bagi kita untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kepada para pimpinan partai politik, para tokoh masyarakat, dan para Senior Partai serta undangan yang tidak bisa saya sebut satu-persatu, terimakasih atas kehadirannya. Kepada Panitia yang telah bekerja dengan sangat keras terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan. Pada aparat keamanan, terimalah rasa terimakasih dan hormat kami atas segala kerja keras sehingga penyelenggaraan Ulang Tahun kali ini bisa berjalan tanpa gangguan. Terimakasih juga saya sampaikan pada para pengamat politik yang telah meluangkan waktu untuk hadir pada kesempatan kali ini. Dan terakhir, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan yang telah menjadi sahabat PDI Perjuangan selama ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Komang Warsa merupakan putra bungsu dari sebelas bersaudara yang terdiri delapan wanita dan tiga laki-laki. Warsa yang lengkap dipanggil I Komang Warsa lahir dari pasangan suami istri I Made Tjanderi (almarhum) dengan Ni Nyoman Canderi (almarhum) pada tahun 1943.   Dari hasil perkawinan itu pada rahinan pawukun Redite Pon, Julungwangi tanpa tanggal dan bulan tahun 1969 di sebuah pinggiran kampung yang diberi nama Banjar Alasngandang, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem Warsa dilahirkan. Pengenalan huruf dan belajar membacanya diawali di SD Negeri 3 Pempatan dengan bukti selembar kertas yang disebut ijazah beranggka tahun 1982. Selanjutnya pendidikan menengah pertama dilakoninya dengan berjalan kaki sejauh delapan kilo meter yaitu di SMP PGRI 2 Rendang dengan surat tanda tamat berangka tahun 1985. Seiring dengan perjalanan waktu Warsa pun memilih melanjutkan di SMA Parisadha Amlapura dengan selembar kertas sebagai bukti tamat bertahun 1988. Pada tahun 1988 memilih melanjutkan studinya di salah satu di perguruan tinggi yakni di FKIP Universitas Udayana Singaraja yang sekarang bernama UNDIKSA Singaraja dengan bukti selembar ijazah berangka tahun 1993 dengan konsentrasi pada Pendidikan ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia. Sambil mengabdikan diri sebagai pendidik (guru) di sekolah negeri maupun di swasta ia pun melanjutkan studi magisternya ( S-2) di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar tahun 2007 dengan konsentrasi pada program Ilmu Agama dan Kebudayaan . Pendidikan program magisternya ditempuh selama dua tahun yakni tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. Pada tahun 2012, Warsa pun melanjutkan studi S2 di PPs Undiksha Singaraja dengan mengambil konsentrasi ilmu pendidikan Bahasa Indonesia selesai 2014.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Tahun 1993 s.d. 1999 bekerja sebagai Tenaga Lapangan Dikmas (TLD) di Kanwil Pendidikan provinsi Bali untuk wilayah Kecamatan Rendang sambil mengajar di SMA PGRI Rendang. Tahun 2000 diangkat menjadi guru tetap di SMA Negeri 1 Tampaksiring, Gianyar-Bali sampai tahun 2004. Tahun 2004 dipindahtugaskan di SMA Negeri 1 Rendang sampai sekarang.Tahun 2005 diberi tugas tambahan sebagai staf pendamping Waka bidang kurikulum.Tahun 2006 s.d. 2011 diberikan tugas tambahan oleh Kepsek SMA Negeri 1 Rendang sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Penjaminan Muru Pendidikan (PMP). Tahun 2011 sampai sekarang diberikan tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.Pernah menjadi tutor kejar paket A, B dan paket C aktif dalam organisasi keagamaan seperti PHDI dan Peradah untuk wilayah kecamatan Rendang sampai sekarang.Tahun 2012 menjadi tim penyuluh Adat, Budaya dan Agama di Kabupaten Karangasem sampai sekarang.Tahun 2011 mendirikan yayasan Giri Pendawa yaitu sebagai dewan pendiri (Pembina Yayasan) sampai sekarang.Staf pengajar pada program studi pendidikan Bahasa Indonesia di STKIP SUAR Bangli. Menjadi tutorial di Universitas Terbuka (UT) Denpasar.


Baca juga :

kebetulan rumah orang tua gue berada di atas kota kembang sektor anggrek (kalimulya). Di kota kembang ingin dijadikan kawasan elite, Sayang pintu gerbangnya dilalui Sutet, dibagian tengah (perumahan yang berada dipinggir jalan) membelah makam kalimulya dan cilodong yang membuat harga jatuh tidak ada peminatnya dan ditambah terlalu banyak yang meminta jatah dari elite pemerintah depok maupun DPRD, buktinya kantor DPRD Depok dan rumah bekas Walikota Depok Badrul Kamal juga memiliki rumah berada ditengah tengah kota kembang. Jadinya beban pengembang menjadi berat sedangkan peminatnya sedikit, dan akhirnya pengembang mengundurkan diri mungkin juga bangkrut, dan sekarang sudah 3 pengembang yang yang bergantian menangani kota kembang, dari DAKSA GROUP, ISPI dan sekarang SMR. mudah-mudahan banyak peminatnya yang membeli kalo tidak kemungkinan akan ganti pengembang lagi……Sayang sekali developernya yang lama (Daksa) ngabur. Sekarangpun developer baru (SMR) kurang “menyentuh”. Jalanan komplek berkualitas buruk, aq batal beli rumah di GDC, sepagian ini aq browsing di net dan berdasarkan data yang aq dapet by phone dari pengembangnya trus aq masukin ke net ternyata semua perumahan SMR group itu sama dengan perumahan yang dibangun sama Daksa group (ex bogor asri)jadinya tingkat keraguanku semakin tinggi takutnya Daksa group ganti nama jadi SMR group

seperti di kutip dari https://bicararumah.wordpress.com

btw SMR itu Sanubari Mandiri Realindo dah aq cek di net ternyata aq gak dapet referensinya sama sekali. Grand Depok City yang punya sekarang kelompok Artha Graha (konglomerat). Lebar jalan GDC gede banget (tiap berangkat kerja lewat situ- kalo pulang kerja kemaleman ga berani),yang diapit oleh 2 sungai dan hutan bambu serta makam dengan pemukiman warga diatasnya, jadi kudu hati2 kalo pulang lewat dari jam 10 malem, banyak kejadian pembegalan motor yang muncul tiba2 dari jalan pemukiman warga. Beberapa minggu lalu saya survey di GDC…emang beberapa cluster sedang dipersiapkan…tapi masih belum ada tanda-tanda mulai pembangunan rumah..kata marketingnya sih rumah baru jadi sekitar 1tahun setelah akad kredit…lama banget ya???

seperti di kutip dari https://bicararumah.wordpress.com

Bahkan ketika saya tawarin DP lebih dari 50%, developernya kurang “welcome”…mungkin takut gagal sehingga bisa ngecewakan seperti dulu. saya sangat kecewa sekali sama pengembang terdahulu, karena untuk mendapatkan rumah saya perlu waktu panjang untuk berdebat dengan daksa kurang lebih 3 tahunan….(capee….deh….) jadi saya mohon untuk para pembeli rumah di GDC jangan terburu nafsu dengan perubahan sekarang ini, tolong dilihat lagi apakah memang sudah benar-benar berubah atau cuma sekedar “kedok” ajah…beberapa bulan lalu aku dah transaksi di GDC (cluster gardenia)sudah bayar tanda jadi, sudah mencicil DP nya, dll…

seperti di kutip dari https://bicararumah.wordpress.com

entah kenapa istri saya agak punya pikiran ganjil tentang GDC… tanya2 lha aku ke kantor Pajak, BPN, sempet menghubungi SMR segala (bukan gedung SMR…tapi… PT SMR) dan jawaban yang saya terima…NOT RECOMENDED… lemes deh aku ma istri… sudah itu kwitansi yang kita terima untuk pembayaran, tanda tangannya tidak disertai nama jelas… kita sudah menanyakan dan meminta supaya di beri nama jelas pd tanda tangan kwitansi… tapi mereka tidak bersedia dengan alaan “kan ditanda tangan diatas materai…” kita bilang “semua orang bisa tanda tangan di materai… tapi siapa yang tanda tangan..??” dan mereka tidak menggubris..


Baca juga :

Setakat ini bahasa selalu hidup seirama dengan perkembangan teknologi. Zaman perubahan sosial yang begitu hebat dan sebuah era yang begitu cepat yang sering disebut sebagai era “tunggang langgang” yaitu era yang tidak begitu jelas antara yang kiri dan yang kanan. Melihat era yang begitu cepat dan hebat, maka peranan bahasa amatlah penting. Bahasa merupakan media komunikasi yang primer dalam peradaban kehidupan umat manusia di planet bumi ini. Jika tidak ada bahasa, bisa dibayangkan dunia ini akan menjadi tanpa aktivitas dan terasa sepi. Penghuni planet bumi yang disebut manusia memerlukan bahasa sebagai media interaksi sosial dan juga peradaban keilmuan juga memerlukan bahasa, ini membuktikan bahwa kehidupan di jagat raya ini tidak mungkin tanpa bahasa. Peran bahasa di bidang keilmuan adalah sebagai pentransfer ilmu, alat pengembangan keilmuan, dan bahasa merupakan penghela ilmu lain dalam dunia pendidikan. Misalnya publikasi segala keilmuan jelas menggunakan media bahasa. Melihat fakta itu menjadikan bahasa merupakan hal yang esensial dalam segala aspek kehidupan. Bahasa mutlak diperlukan oleh manusia untuk mencurahkan segala pikiran dalam kehidupannya. Bahasa ibaratnya napas dalam kehidupan manusia, artinya sepanjang napas itu ada dalam tubuh manusia maka sepanjang itu pun bahasa melekat dalam kehidupan itu sendiri. Manusia tidak pernah menjadikan napas itu sebuah beban dalam hidupnya, justru napas itu merupakan sang jiwa yang penting untuk menjadikan manusia itu hidup. Begitu juga halnya dengan bahasa, manusia tidak pernah merasakan beban dalam berbahasa karena kapan manusia berhenti bernapas saat itu manusia akan berhenti berbahasa dan kapan berhenti berbahasa saat itu aktivitas dan proses berpikir pun akan berhenti. Berhentinya proses berpikir sebagai ciri manusia mati dan jika sudah mati maka bahasapun ikut lenyap. Mengingat begitu kompleks dan luasnya peranan bahasa dalam kehidupan maka bahasa selalu menarik untuk dikaji karena masalah bahasa tidak pernah kering untuk dikaji atau diteliti.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berbahasa adalah bertutur dalam bentuk untaian wacana yang disampaikan secara lisan maupun secara tertulis. Untaian tersebut didukung oleh hal yang paling kecil dalam sebuah bahasa yang disebut morfem sampai kewujud yang paling besar yaitu wacana. Wacana memuat rentetan kalimat yang berhubungan dan menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi lainnya, membentuk satu kesatuan informasi (Fatimah Djajasudarma, 2006 :1). Wacana memiliki untaian kalimat yang mendukung dari makna sebuah wacana. Wacana merupakan wujud penggunaan bahasa yang dibentuk oleh manusia sebagai pengguna bahasa dengan cara memilih topik pembicaraan dan menyusunnya dengan pola tertentu, menggunakan serta memilih kata, membentuk frasa, menyususn kalimat serta mwujudkannya yang lebih besar. Geertz (dalam Hikam. 1996:81) menyatakan memahami bahasa sebagai salah satu simbol kultural yang berfungsi memberikan orientasi, komunikasi, dan pengendalian diri kepada manusia, maka bagi Geertz bahasa tidak hanya dimengerti dalam fungsi kognitif belaka, tetapi lebih penting lagi dalam kapasitas penghasil kenyataan-kenyataan sosial. Memaknai pandangan Geertz berarti bahasa sebagai media komunikasi sosial untuk mengendalikan diri terutama dalam berbicara. Realitas ini menandakan bahwa keberhasilan suatu komunikasi sangat bergantung kepada keefektifan dan kekonsistensian dalam penggunaan kalimat dalam wacana. Begitu juga halnya komunikasi yang digunakan dalam dunia perpolitikan untuk sebuah kepentingan, yang sering disebut dengan komunikasi politik. Strategi komunikasi politik sangat diperlukan sebagai upaya menyalurkan isu politik melalui komunikasi agar tanpa hambatan untuk mencapai tujuan politik yang diharapkan. Media yang paling besar pengaruhnya sebagai strategi komunikasi politik untuk memperjuangkan ideologi partai adalah bahasa. Oleh karena itu tidak bisa dipungkiri lagi bahwa bahasa adalah senjata yang keampuhannya tidak diragukan lagi dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan di panggung politik. Kawan menjadi lawan dan lawan menjadi kawan dalam dunia politik merupakan suatu kewajaran , tentunya dalam konteks dunia politik. Peran bahasa tidak bisa dinomorduakan untuk menuju dan meraih kesuksesan seorang politikus dalam panggung politik. Bahasa dapat membuat orang lain menjadi “hitam” atau “putih” dan bahasa juga bisa membuat kawan jadi lawan. Begitu hebat dan kuatnya energi dan pengaruh bahasa dalam kehidupan manusia baik dalam kehidupan bermasyarakat, dalam dunia pendidikan maupun dalam panggung politik maka bahasa harus ditempatkan terdepan dalam hal tersebut. Baudrillard dengan tegas menyatakan the real monopoly is never that of technical means, but of speech ( Santoso, 2012:7). Bahasa memiliki kekuatan yang maha dahsyat untuk mengontrol perilaku individu, prilaku politukus, komunitas, atau masyarakat. Keterampilan seseorang dalam mendayagunakan , mengatur strategi dalam menggunakan bahasa dan mampu merekayasa kekuatan bahasa akan memiliki peluang untuk menggerakkan orang lain untuk tujuan tertentu ataupun sebaliknya, itulah taksu dan energi kekuatan dari bahasa.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bolinger dalam Santoso (2012) menyatakan bahwa guns don’t kill people, people kill people” bukan senjata yang membunuh orang, tetapi manusia sendirilah yang membunuh orang. Alat membunuh yang dimaksud dalam pemikiran Bolinger tiada lain adalah aspek bahasa. Melalui bahasa yang digunakan seorang manusia dapat membuat selamat orang lain, sebaliknya dengan bahasa pula manusia dapat mencelakakan orang lain. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia politik, lewat bahasa lawan politik bisa terpersuasif atau terpengaruh bahkan lewat bahasa bisa memenangi debat di panggung politik. Bahkan lewat bahasa yang digunakan oleh seorang politikus bisa terjebak dan dijebak karena berbeda penafsiran sehingga melahirkan konflik politik. Hal yang terpenting dalam konteks ini bahwa bahasa seseorang bisa mengangkat pencitraan dirinya ke arah yang lebih positif demi kepentingan politik. Politik selalu berkaitan dengan penguasaan terhadap orang banyak atau seni memengaruhi orang karena sejatinya politik adalah seni. Alat yang efektif digunakan untuk penguasaan itu adalah bahasa, di samping perilaku politik seorang politikus. Bahasa takkan pernah lepas dan steril dari dunia politik. Misalnya, pidato politik saat kampanye pemilu jelas menggunakan bahasa register politik atau fitur bahasa politik, maka jika dipandang dari kajian pragmatik bahasa pidato politik kemungkinan memiliki banyak implikatur dibalik janji-janji yang disampaikan kepada audien (Wijana dan Rohmadi. 2011 : 287). Oleh karena itu, pidato politik diperlukan tuturan istitusi seperti wacana strategis dan wacana komunikatif. Wacana strategis adalah wacana yang bermuatan kekuasaan ( power laden ) dan diatur oleh tujuan ( goal-directed ) sedangkan wacana komunikatif adalah wacana yang di dalamnya ada hubungan simetris antarpenutur dalam mencapai kesepahaman di antara penutur itu (Thornborrow. 2002 dalam Anang Santoso:123)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Survei yang dilakukan oleh Indobarometer menunjukkan pengetahuan masyarakat terhadap kasus Century cukup tinggi yakni 77 % responden, mengalahkan respon masyarakat atas program seratus hari SBY-Boediono dan kasus Bibit dan Chandra. Sebanyak 58 % masyarakat menilai kasus Century akibat salah kelola, bukan karena krisis keuangan internasional. Kemudian 43 % masyarakat melihat, Boediono dan Sri Mulyani adalah pihak yang bertanggung jawab atas pencairan dana itu. Meski 36,6 % menyatakan SBY dan keluarganya tidak menerima uang Century namun 48 % menyatakan kasus ini bisa merusak citra SBY. Masyarakat juga menaruh harapan besar kepada pansus Century DPR, 52,4 % yakin pansus Century akan mengungkap kasus ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Tentu saja ini menimbulkan opini publik yang sangat tidak diinginkan oleh SBY. Sampai kemudian akhirnya pansus Century memberikan laporan akhir terkait penyelidikan kasus ini sesuai dengan deadline yang diberikan oleh presiden. Laporan tersebut disampaikan pada rapat paripurna DPR, namun berakhir dengan kericuhan dan sidang terpaksa ditutup tanpa alasan yang jelas. SBY sebagai presiden kemudian ikut turun tangan. Sesuai janjinya, Presiden menyampaikan tanggapan atas hasil paripurna DPR tanggal 3 Maret 2010 terkait kasus Bank Century. Presiden SBY menyampaikan pidatonya dengan tegas, menjelaskan keputusan bailout Century. Berbagai hal bisa diusahakan dalam membuat sesuatu itu akan menjadi positif atau negatif. Termasuk salah satu di antaranya adalah melalui proses retorika. Retorika dipahami sebagian orang sebagai bentuk bahasa atau tulisan persuasif dan efektif yang bertujuan untuk mengendalikan realita guna memengaruhi audien tertentu. Model dan cara ini memang masih efektif untuk memengaruhi opini publik yang mulai menyimpang. Masyarakat yang mulai tidak percaya akan kredibilitasnya sebagai presiden, mulai membuat SBY kembali bekerja untuk memulihkan citranya tersebut. Salah satunya dengan melancarkan hal-hal yang berbau pencitraan melalui pidatonya. Kabar keterlibatan dan tidak mampunya SBY menangani kasus ini tentu saja membuatnya harus kembali memengaruhi opini publik agar berpihak padanya. Paparan di atas jelas ingin mengembalikan citra Presiden SBY ke dalam ranah yang positif lewat pidatonya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Deskripsi fenomena di atas menunjukkan bahasa sangat ampuh dipergunakan sebagai media pencitraan diri. Di samping efek positif dari bahasa yang digunakan untuk pencitraan diri seorang politikus ada juga efek negatifnya. Efek negatif yang dimaksud dari bahasa bisa dilihat dari penggunaan bahasa dalam panggung politik yang bisa memunculkan konflik politik, bahkan lebih dari itu bahasa bisa memicu peperangan umat manusia seperti pernah terjadi pada rezim diktator Jerman yang bernama Hilter bahwa lewat pidatonya memicu peperangan rakyatnya. Konflik politik yang sarat dengan kepentingan terjadi jika para komunikator politik memaknai kata secara politis yang sarat kepentingan politik yang mengabaikan makna leksikal dan lebih menekankan pada makna konteks. Praktik kewacanaan memberikan kontribusi bagi penciptaan dan pereproduksian hubungan kekuasaan termasuk di dalamnya ideologi politik yang disampaikan lewat pidato politik (Marianne dan Louise J. 2007 :119). Jadi pidato dalam konteks politik salah satu upaya memulihkan pencitraan diri demi power (kekuasaan) dan penanaman ideologi yang disertai dengan efek ideologinya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Realitas yang lain dari argumen di atas peneliti mengambil salah satu peristiwa sebagai contoh fakta konflik politik karena komunikasi bahasa. Konflik politik terjadi karena pemaknaan bahasa yang berbeda sudut pandang antara pembicara dan pendengar ( audience) . Perbedaan pandangan memaknai bahasa dalam komunikasi itu merupakan kegagalan yang fatal dalam berkomunikasi. Hal ini penulis membaca pada berita hariaan Bali Post edisi Minggu, 17 Februari 2013 yang berjudul “Gubernur Usir Anggota Dewan” saat simakrama gubernur Bali di wantilan gedung DPRD Bali Sabtu 16 Februari 2013 ( Bali post, 17 /2/2013). Pemicu konflik adalah hanya sebuah ujaran bahasa yang diucapkan atau diujarkan oleh peserta simakrama yaitu ujaran kata “pas” yang diucapkan oleh seorang anggota dewan dari fraksi PDIP (isi berita Bali Post). Secara leksikal makna kata “pas” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘tepat’, sedangkan makna pengujarannya atau makna dalam konteks politik dari kata “pas” akan melahirkan berbagai implikatur makna yang tersembunyi bergantung konteks orang, konteks situasi, dan konteks sosial dari bahasa itu. Kata “pas” akan bermakna politik jika diucapkan oleh seorang politikus apalagi yang mengujarkan kata tersebut sebagai lawan politiknya. Ujaran kata “pas” terlontar dari peserta simakrama yang saat itu Bali akan berlangsung perhelatan pemilihan gubernur maka jelas bagi lawan politik akan memaknai secara politis karena yang berbicara juga orang politik (konteks orang dan konteks situasi). Penafsiran makna “pas” oleh gubernur adalah penonjolan kepanjangan “Puspayoga Sukrawan”. Mengingat kata “Pas” merupakan akronim dari pasangan calon gubernur yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yaitu Puspayoga-Sukrawan. Puspayoga adalah kandidat calon gubernur periode 2013-2018 dan Sukrawan calon wakil gubernur yang mendampingi Puspayoga. Jika dimaknai secara leksikal kata “pas” bermakna tepat namun di sisi lain penggunaan kata “pas” dipergunakan jargon akronim politik untuk mengusung salah satu kandidat calon gubernur dari parpol PDIP untuk periode lima tahun ke depan, yaitu periode 2013-2018. Karena konteks situasi dan konteks orang yang mengujarkan kata “pas” saat itu maka konflik politik pun terjadi. Konflik itu muncul karena memaknai bahasa dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu yang pertama memaknai kata secara leksikal dan kedua memaknai kata dikaitkan dengan konteks orang dan situasi. Perbedaan pandangan ini melahirkan perbedaan menafsirkan makna kata. Gubernur Made Mangku Pastika yang saat penelitian ini dilaksanakan sedang menjabat sebagai gubernur Bali (konteks orang) dan juga kandidat gubernur Bali periode kedua (konteks situasi). Gubernur Made Mangku Pastika sesuai berita Koran harian Bali Post mengusir anggota dewan hanya karena melontarkan ujaran kata “pas” saat pertemuan ( simakrama ). Kekuatan bahasa bisa dibuktikan dari kasus terjadi di atas, betapa kuatnya pengaruh bahasa dalam dunia komunikasi. Kesalahpahaman antara penutur dengan petutur dalam konteks kasus di atas karena perbedaan memaknai secara ilokusi antara penutur dengan petutur .

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping kasus di atas peneliti juga pernah menghadiri pertemuan ( simakrama) guru-guru di Kabupaten Karangasem. Pada pertemuan itu peneliti kutip satu kalimat dari wacana yang bersifat deklaratif disampaikan oleh Bapak I Wayan Geredeg dan kalimat tersebut peneliti menafsirkan ada terkandung atau memuat makna secara politis. Wacana (kutipan kalimat) yang diujarkan yaitu “ boleh di mana-mana tetapi jangan ke mana-mana”, (disampaikan saat acara pertemuan/ simakrama guru-guru). Kenapa kalimat tersebut peneliti tafsirkan mengandung makna secara politis karena kalimat yang disampaikan oleh Bapak I Wayan Geredeg selaku bupati dan sekaligus Beliau selaku ketua DPC partai Golkar Kabupaten Karangasem. Itu berarti kalau dikaji dari perspektif ilmu pragmatik bahwa tuturan yang disampaikan oleh penutur dalam konteks kalimat di atas mengandung makna politis karena penutur (pembicara) saat bertutur (berbicara) masih ada napas politik yang melekat pada dirinya. Di samping itu juga karena saat tuturan (pengucapan) kalimat tersebut Bali sedang mengadakan perhelatan pemilihan gubernur Bali (konteks situasi). Dengan konteks situasi dan konteks orang yang mendasari ujaran tersebut akan memunculkan penafsiran pemaknaan ujaran secara politis juga bagi pendengar ( audience ) dan terutama peneliti. Implikatur dari wacana itu kalau dilihat dari konteks situasi (situasi saat ada kampanye Pilkada), yaitu situasi pemilihan gubernur Bali dan konteks orang (sebagai orang yang berkuasa, sebagai Bupati dan ketua Golkar Karangasem) sehingga register bahasanyapun cenderung menggunakan register bahasa politik, maka   sesuai dengan konteks dan register bahasa yang digunakan memunculkan implikatur makna secara politis. Implikatur makna politik dari ujaran tersebut adalah pendengar diajak untuk tetap memilih walaupun berada di mana tetapi tetap suaranya jangan dibawa kemana-mana pilih gubernur dan partai Golkar sebagai pengusung kandidat calon gubernur Bali (Made Mangku Pastika). Peneliti menafsirkan makna seperti itu karena orang yang bertutur itu adalah orang petinggi partai Golkar dan sebagai bupati yang masih memiliki pawer (kekuasaan) serta konteks situainya Bali sedang mengadakan perhelatan Pemilukada . Melihat fenomena di atas memberikan pemahaman betapa kekuatan peran bahasa dalam kehidupan berkekuasaan demi melanggengkan pawer (kekuasaannya). Bahasa salah satu yang digunakan sebagai peranti melanggengkan kekuasaan dan kepentingan politiknya. Ini menandakan bahasa (wacana) bukan sekadar sebagai alat komunikasi antar individu satu dengan yang lainya, antara masyarakat satu dengan yang lain bahkan lebih dari itu bahwa bahasa dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan kekuatan-kekuatan dalam konteks kekuasaan dalam menaklukkan yang dikuasainya. Bahasa bukan alat komunikasi yang netral, bahasa selalu mengabdi pembicara. Ketidaknetralan bahasa maka diperlukan suatu kajian dan analisis wacana kritis yang menempatkan makna kata sesuai dengan konteks situasi, konteks orang dan konteks ideologi (kepentingan politik). Menguatkan argumen tersebut maka benar apa yang dikatakan seorang pakar ilmu bahasa bahwa makna bukanlah sesuatu yang alamiah, tetapi dibangun dalam proses-proses sosial dan politik (Anang Santoso, 2003:8). Semestinya kesalahpahaman kasus saat pertemuan ( simakrama ) gubernur tidak akan  terjadi jikalau kedua belah pihak mengerti, paham terhadap konteks pembicaraan, dan yang terpenting lagi peka terhadap konteks (context sensitive) yakni konteks lingual, situasi, dan konteks orang. Kesalahpahaman tersebut karena penutur dan petutur memaknai kata “pas” itu dari sudut pandang konteks yang berbeda, yaitu penutur memaknai dari sudut konteks lingual sedangkan petutur memaknai dari sudut konteks orang, situasi, dan konteks politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Jika dikaitkan dengan ideologi, bahasa dapat menjadi alat untuk pencitraan diri dan memiliki taksu kekuatan di bidang politik. Bahasa sebagai taksu kekuatan tidak diragukan lagi bahwa di bidang politik bahasa dan bahasa dalam politik sangat memegang peranan yang penting untuk bisa menaklukan ideologi lawan politik. Bahasa dijadikan alat untuk melakukan aktivitas politik terutama dalam kampanye (pidato-pidato politik) misalnya melalui jargon bahasa maupun bahasa politik atau politik bahasa. Realitas ini menjadikan barometer keberhasilan pencitraan diri demi mewujudkan impian politik menggunakan peranti bahasa baik secara lisan maupun tulis. Di sini bahasa politik berperan melunakkan kekuatan politik lawan agar ideologi yang diinginkan diterima yang dibarengi dengan politik bahasa yang mapan dan berterima. Seperti apa yang pernah terlontar oleh Bung Karno “ Beri saya sepuluh pemuda, maka akan saya guncang dunia!”. Itu bisa masuk kategori bahasa politik seorang orator piawai yang mengguncang, mengajak, membujuk dan menggugah. Masih ingat pidatonya Hilter, dengan kepiawiannya berpidatonya bisa meyakinkan rakyatnya sehingga bisa menyeret api peperangan. Itu artinya kekuatan bahasa tidak terkira dan tidak diragukan lagi. Bagaimana seorang politikus berdebat seperti Ruhut Sitompul, seorang politikus saat berdebat, beradu argumen di parlemen karena tak mampu menahan diri melawan “kata-kata” politikus dari partai lain. Bagaikan kehabisan akal dan kehabisan bahasa, yang salah satunya disebabkan keterbatasan kosa kata. Ini menandakan kemampuan orang berbahasa (didukung penguasaan kosa kata) sangat membantu menaklukkan ideologi lawan politik dan jika tidak menguasai bahasa jelas kecerdasan emosional ( EQ ) akan mulai mendominan. Kehabisan kosa kata saat berbicara apalagi dalam debat akan memicu adrenalin dan melabilkan tingkat EQ ( Emotional Question ). Jadi fenomena-fenomena di atas menjadikan pembuktian bahasa dalam politik dan politik dalam bahasa sangan urgen. Dan juga kecerdasan emosional ( EQ ) sesorang tidak terkontrol salah satunya dipengaruhi oleh faktor bahasa, bisa karena tidak memahami implikatur dialog atau mungkin karena terbatasnya pembendaharaan kosa kata sehingga nalar orang berubah menjadi temperamental.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bahasa politisi para politikus itu beragam sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Ada yang bertenaga, meradang dan hati-hati penuh empati dan ada juga memohon dengan beragam majas demi terkabulkannya sebuah harapan. Meski apa yang digunakan, sangat bisa jadi, sesuai dengan latar belakangnya: pendidikan, lingkungan dan cara berpikir. Bisa ditambahkan, politik dan ideologi partainya. Walaupun yang belakangan ini begitu cair, sulit untuk dicerna. Mengingat partai politik adalah memperjuangkan ideologi terlebih lagi partai yang berada di luar pemerintahan yang disebut dengan partai oposisi pemerintah. Partai oposisi pemerintah di era pemerintahan SBY adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) selaku kontrol pemerintah dan sekaligus sebagai partai pemenang nomor dua setelah partai Demokrat, pasti menjadi partai pengontrol dan pengkritisi yang signifikan. Bahasa yang digunakan dalam konteks komunikasi politik sebagai partai oposisi sudah tentu menggunakan bahasa register politik baik dari aspek suprastruktur ( superstructure ), aspek struktur mikro ( micro structure ) maupun struktur makronya ( macro structure ). Wujud penggunaan bahasa pada partai oposisi dalam konteks berwacana jelas dibangun oleh faktor-faktor linguistik atau aspek kebahasaan yang memuat tujuan pembicara atau penulis teks dari wacana. Tujuan tersebut tidak hanya untuk menyampaikan pesan semata, tetapi lebih dari itu, yakni untuk menyampaikan gagasan, pandangan, dan memperjuangkan kepentingan (ideologi). Praktik berwacana ( discursive practice ) sesorang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengarahkan, memengaruhi, membatasi perhatian, dan bahkan bisa merekayasa bathin pembaca atau pendengar. Berdasarkan pandangan itu maka wacana dapat dikaji dari aspek suprastruktur ( superstructure ), struktur mikro ( micro structure) , dan struktur makro ( macro structure) . Suprastruktur ( superstructure ) yang dimaksud adalah bagaimana pendahuluan, isi dan penutup saat memberikan pidato-pidato politik seorang ketua partai oposisi atau bagaimana suprastruktur yang digunakan saat mengkritisi pemerintah. Aspek struktur mikro ( micro structure) yang dimaksud adalah pilihan kata, kalimat, dan stilistika bahasa yang digunakan oleh seorang ketua dalam teks-teks pidatonya. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat ( local meaning ) yang dapat meliputi struktur gagasan, peranti kohesif dan kepaduan atau kesatuan gagasan. Struktur makro ( macro structure) adalah implikatur yang diinginkan oleh sang pembuat teks. Struktur makro mengkaji makna secara keseluruhan ( global meaning ) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kajian-kajian suprastruktur, mikro, dan makro wacana dalam praktik berbahasa khususnya bahasa pidato politik pada prinsipnya merupakan suatu upaya penguasaan hegemoni demi menanamkan ideologi politik dan kepentingan untuk memengaruhi orang lain dalam konteks hegemoni politik. Oleh karena itu analisis wacana dengan pandangan kritis menjadi begitu penting untuk dipahami. Mengingat berpolitik adalah seni memengaruhi dengan strategi berbahasa. Begitu ampuhnya peran bahasa sebagai alat pertarungan dalam dunia politik maka perlu ada sebuah kontrol berbahasa untuk memersuasif lawan politik yang memiliki ideologi yang berbeda. Akan tetapi, semakin terkontrol bahasa yang digunakan dalam ranah politik semakin diulas oleh lawan politik baik dari bahasa politik maupun dari konteks ideologinya. Kontrol merupakan pemicu munculnya konflik karena semakin ada kontrol konflik akan muncul dan di mana ada konflik di situ ada permainan politik. Hal ini didukung oleh pernyataanya Birch 1996 dalam Santoso (2012 :219) mengatakan “ Di mana ada kontrol, di situ terdapat konflik, dan di mana ada konflik di situ selalu politik. Tidak ada tindak komunikasi, tidak ada masalah yang tampak sederhana dan innocent dapat melarikan diri dari politik” Dalam pandangan Rakhmat dalam Santoso mengatakan berbicara masalah politik tidak dapat terlepas dari persoalan “ideologi”, dalam perumusan dan penyebaran ideologinya, peran bahasa sangat penting (Santoso,2012 hal: 13-14). Berikut Pandangan Tampubolon, sifat hubungan politik antara penguasa dan rakyat akan memengaruhi ragam bahasa politik (Susanto,2012, 6). Jika bahasa masuk sudah ke ranah politik maka sudah berbicara bahasa dan seni dalam menanamkan ideologi kepada lawan politik. Dan di kalangan politikus, bahasa bisa ditekuk-tekuk sesuai tujuan dan harapan pembicara. Rakyat menjadi begitu dibingungkan menafsirkan dan memaknai bahasa yang digunakan oleh para politikus secara tepat. Sebenarnya sedang berbicara apa dan maksud atau sasarannya mau ke mana? Walau rakyat kerap dilibatkan untuk kepentingan dalam wacana itu. Baik dalam jargon, kampanye, keputusan dan teks dalam undang-undang atau dalam pidato-pidato politik, bila perlu. Dengan bahasa, orang dapat membungkam lawan politiknya. Bahasa dapat mengubah opini publik terhadap suatu masalah. Bahasa pun dapat membujuk dan meyakinkan khalayak terhadap suatu argumen politik. Melalui pendekatan bahasa, seseorang dapat dijadikan pendukung setia suatu partai politik. Melalui pidato politik dengan menggunakan bahasa politik yang tepat dan politik bahasa yang tepat publik akan bisa terpengaruh. Kekuatan bahasa telah mampu mendongkrak popularitas seorang politikus. Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa telah merasuki dunia politik dan bisa mengubah pemikiran publik. Bahasa politik itu adalah bahasa yang digunakan oleh elit politik dalam memperjuangkan kepentingan politik tertentu. Bahasa politik memeroleh tempat yang strategis karena berbagai kepentingan elit diperjuangkan melalui bahasa yang dikemas dalam cara tertentu dalam percaturan politik tingkat tinggi (Yudi Latif dan Subandy Ibrahim, 19). Oleh karena itu  seorang politikus harus menguasai register bahasa politik untuk bisa menguasai simpati masyarakat sesuai dengan kehendaknya. Bahasa dianggap sebagai senjata ampuh dan sesuatu yang sebenarnya hanya bersifat kepentingan individu dikemas menjadi sesuatu yang tampaknya menjadi kepentingan orang banyak. Sesuatu yang sebenarnya hanya kepentingan kelompok dikemas menjadi sesuatu yang tampaknya menjadi kepentingan nasional atau kepentingan masyarakat banyak. Sejalan dengan pendapat Orwell dalam Santoso (2012,221) bahwa pada prinsipnya bahasa politik adalah pembelaan terhadap sesuatu yang tidak pantas dibela. Bahasa politik mesti dipahami dan dibedah dengan pandangan kritis atau pisau kepentingan. Bahasa senantiasa berdenyut dan berhembus dalam setiap napas politik di Indonesia. Dalam sejarah dunia, justru kepandaian berbicara atau berpidato merupakan instrumen utama untuk memengaruhi massa . Bahasa dipergunakan untuk meyakinkan orang lain. Dan kemampuan ini umumnya dimiliki oleh tokoh penting seperti para Presiden, politikus, ketua-ketua atau tokoh-tokoh partai politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sejalan dengan adanya Pemilihan Umum (Pemilu) baik legislatif maupun pemilihan kepala daerah atau presiden maka bahasa menjadi media yang sangat penting digunakan untuk memenangi pertarungan politik. Seorang calon seperti calon presiden, calon gubernur, dan calon bupati memerlukan pencitraan diri yang positif saat pemilu, yakni melalui jargon-jargon politik atau bahasa politiknya sebagai media ideologi politik yang disampaikan lewat pidato-pidato politiknya (lisan maupun tulis). Kekuatan bahasa dapat digunakan untuk membangun kepercayaan publik sudah sepatutnya dimiliki oleh orang yang berkecimpung di panggung politik untuk bisa memainkan peran politiknya secara baik. Gunawan (1992:184) dalam Wijana menyatakan bahwa selain untuk menyampaikan amanat, tugas, dan kebutuhan penutur, tujuan komunikasi adalah menjaga atau memelihara hubungan sosial penutur dengan pendengar dan yang terpenting lagi adalah memelihara hubungan komunikasi politik. Mengingat begitu pentingnya bahasa digunakan media komunikasi dalam pertarungan politik maka bahasa harus digunakan sesuai dengan konteksnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pidato politik merupakan pidato yang disampaikan dengan tujuan dan target tertentu yang disebut dengan kepentingan. Pidato politik memerlukan sebuah bahasa yang politis yang disebut dengan bahasa politik. Mengingat bahasa politik adalah bahasa yang digunakan para politikus maka penelitian terhadap bahasa politik dengan pisau analisis wacana kritis dengan pandangan kritis sangat perlu. Dalam pandangan Beard penelitian terhadap bahasa politik (BP) khususnya yang digunakan oleh para politikus dalam berpidato dapat membantu memahami bagaimana bahasa digunakan dalam persoalan-persoalan seperti 1. Siapa yang ingin berkuasa, 2. Siapa yang ingin menjalankan kekuasaan dan 3. Siapa yang ingin memelihara kekuasaan (Beard, 2000: 2 dalam Santoso, 2003 : 1). Berpijak pada paparan di atas bahwa bahasa politik (BP) digunakan untuk mengacu pada pemakaian bahasa oleh rezim pemerintah yang berkuasa dan agen partai politik dalam menggerakkan masyarakat banyak agar mau dengan apa yang menjadi harapan dan kepentingan sang orator politik. Bahasa politik (BP) termuat ideologi dan kekuasaan untuk mencapai maksud-maksud atau tujuan politik tertentu. Hal itu jelas menganalisis wacana teks pidato politik tidak hanya melihat teks tersebut semata-mata sebagai fenomena linguistik, tetapi juga sebagai fenomena sosial, yang menurut Van Dijk disebut dengan kognisi sosial. Analisis kajian tersebut bisa dilakukan dengan pendekatan formal dan pendekatan forma-fungsional secara dialektis dengan pandangan kritis. Pandangan pendekatan formal, wacana berwujud kalimat-kalimat yang runtut dan utuh. Wacana dibangun dengan struktur tertentu (Schiffrin, 2007:24). Sedangkan pandangan yang melihat teks-teks sebagai wacana sesuai dengan pandangan formal-fungsional secara dialektis yang disebut dengan pandangan kritis. Fairclough (1995) dalam Jufri (2006:25) menyatakan bahwa dalam pandangan kritis, dimensi kewacanaan secara simultan meliputi dimensi teks yang bekaitan dan interpretasi teks, dan dimensi praktik sosial kultural. Hal ini dapat dilihat pada karakteristik dari analisis wacana yang meliputi, tindakan, konteks, historis, kekuasaan, dan ideologi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dari segi bentuk, Teks Pidato politik Ketua Umum partai oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dalam hal ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mempunyai struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro tersendiri. Mengingat teks pidato politik memiliki tujuan secara politik. Kemudian dari aspek struktur makro penggunaan bahasa, tulisan-tulisan tersebut memuat ideologi dengan melibatkan relasi kekuasaan agar pendengar dapat menerima. Dengan kata lain, pilihan bahasa pada teks pidato mencerminkan pandangan pembicara. Pembicara mengontrol pembenaran itu dengan alasan beragam melalui bahasa-bahasa dengan memanfaatkan aktor kekuasaan, sosial budaya, adat, dan partainya. Dalam konteks itu terdapat jalinan ideologi dan kekuasaan yang menunjukkan posisi penulis/pembicara, sebagai komunitas yang mendominasi sebagai orang yang berkuasa dan pendengar/pembaca yang didominasi sebagai orang yang lemah. Posisi penulis / pembicara mencerminkan bahwa ia berupaya mendominasi pendengar. Hal tersebut berarti bahwa teks-teks pidato itu tidak hanya merupakan fenomena linguistik, tetapi juga merupakan fenomena sosial (sosiolinguistik). Di samping itu juga perlu disadari bahwa bahasa tampil sebagai representasi dari ruang bagi pegelaran ( deployment ) berbagai macam kuasa. Oleh karena itu, bahasa lantas dilihat pula sebagai salah satu ruang ( space ) tempat konflik-konflik berbagai kepentingan, kekuatan, kekuasaan, proses hegemoni dan hegemoni tandingan ( counter-hegemony ) terjadi (A.S. Hikam,1996:77).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian aspek bahasa dalam pidato politik yang disampaikan oleh M.S. menggunakan pisau bedah analisis wacana kritis karena bisa membongkar secara kritis makna apa yang tersembunyi ( latent ) dan nyata ( manifest ) dalam pidato politik dimaksud. Penelitian ini nanti bisa berguna dalam ranah pendidikan khususnya dalam pengajaran dan pengembangan materi berbicara khusunya berpidato yang bersifat persuasif dengan bingkai karakter bangsa. Di samping itu mempersiapkan peserta didik terutama siswa SMA untuk mempersiapkan terjun ke dalam dunia politik dengan asas demokrasi baik yang berskala nasional, maupun daerah dan terutama bisa diterapkan pada sekala kecil misalnya pemilihan ketua Osis di sekolah-sekolah. Dengan pengajaran materi pidato yang tepat dan teknik memengaruhi pendengar ( audience) nanti akan melahirkan calon-calon intelektual dan politikus yang mempunyai prinsip, karakter baik, dan bukan semata-mata mencari kemenangan. Di samping itu, para siswa mempunyai kemampuan berbahasa yang kuat dan kritis sebagai bekal terjun dalam kehidupan masyarakat politik yang bermartabat dan berkarakter.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Trina Desryantini dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro) menyimpulkan bahwa struktur mikro yang digunakan penulis dalam membangun wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post adalah pola pengembangan deduktif dengan menggunakan aspek sintaksis, semantik dan retorik bervariasi. Hasil penelitian dari aspek struktur makro yang digunakan penulis pada wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post terdiri atas pengungkapan ideologi. Pada prinsipnya ideologi penulis menolak judi togel dengan argument agama, budaya (adat), sosial, dan hukum. Penelitian sejenis yang lain adalah tesis I Wayan Numerteyasa yang berjudul “ Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menengah Sekecamatan Rendang Tahun 2011.”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dilaksanakan dengan menerapkan prinsip bahwa (1) bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau kaidah kebahasaan, (2) penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir manusia.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Jenis-jenis teks tersebut dapat dibedakan atas dasar tujuan (yang tidak lain adalah fungsi sosial teks), struktur teks (tata organisasi), dan ciri-ciri kebahasaan teks-teks tersebut. Sesuai dengan prinsip tersebut, teks yang berbeda tentu memiliki fungsi yang berbeda, struktur teks yang berbeda, dan ciri-ciri kebahasaan yang berbeda. Dengan demikian, pembelajaran bahasa berbasis teks merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk menguasai dan menggunakan jenis-jenis teks tersebut di masyarakat. Dan yang terpenting bagi guru-guru bahasa Indonesia dalam mengajarkan bahasa Indonesia terutama materi pidato dan khusunya siswa-siswa SMA agar mempunyai bekal tentang pidato persuasif utamanya pidato politik sebagai bekal terjun ke masyarakat dan dunia politik. Di samping itu Kurikulum 2013, buku siswa kelas X ini juga memuat lima pelajaran yang terdiri atas dua jenis teks faktual, yaitu laporan hasil observasi dan prosedur kompleks; dua jenis teks tanggapan, yaitu teks negosiasi dan teks eksposisi; dan satu jenis teks cerita, yaitu teks anekdot.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Mengingat pentingnya bahasa dalam panggung perpolitikan untuk pencitraan yang positif dan menanamkan ideologi (kepentingannya) bagi kalangan politikus memaknai maksud yang ingin disampaikan dalam wacana dalam konteks dan situasi politik dalam menancapkan kuku ideologinya , maka peneliti merasa tertarik mengangkat judul “ Analisis Wacana Kritis (AWK) Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “ Teks pidato yang diteliti adalah teks pidato partai politik dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) merupakan partai yang berada di luar pemerintahan karena Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tidak ikut dalam jajaran kabinet pemerintahan SBY dari partai demokrat. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memosisikan sebagai partai oposisi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian yang menggunakan pisau bedah yang berupa teori analisis wacana memiliki ruang lingkup kajian yang sangat luas . Keluasan itu mencakup struktur supra, mikro dan makro. Struktur supra mencakup struktur yang melingkupi wacana dari pendahuluan, isi dan penutup. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) yang menyangkut aspek sematik , sintaksis, stilistika, majas, leksikalisasi, relasi makna, modus kalimat, strategi kehadiran kata ganti, struktur teks, dan retorika. Di samping menyangkut aspek yang sudah disebutkan di depan struktur mikro dapat juga berkaitan dengan implikatur (konvensi kebermaknaan penggunaan kata-kata dalam tuturan), praanggapan (berupa pola penautan proposisi dalam kalimat, baik dihadirkan atau tidak dalam paparan bahasanya), dan inferensi (kesimpulan oleh pembaca atau pendengar sewaktu memahami paparan bahasa). Struktur makro mengacu pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana dalam konteks ini adalah wacana pidato politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian tentang Analisis Wacana Kritis (AWK) Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terpokus pada struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro dengan memperhatikan tiga dimensi/bangun yaitu dimensi teks, dimensi kognisi sosial, dan dimensi konteks sosial. Kajian terhadap superstruktur mencakup pendahuluan teks pidato, isi pidato, dan penutup pidato politik. Kajian struktur makro mencakup ideologi atau pandangan penulis dalam upaya mendominasi pendengar agar terpengaruh dan mau mengikuti apa yang dikehendakinya. Kajian mikro mencakup pola pengembangan paragraf, struktur, stilistika dan peranti kohesif leksikal dan gramatikal.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan kontribusi terhadap keilmuan terutama bagi perkembanganm dan pengembangan teori tentang analisis wacana khususnya Analisis Wacana Kritis (AWK) pada teks pidato politik dalam rangka pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia khusunya pada materi pengajaran pidato persuasif di SMA. Penelitian ini diharapkan dapat membedah secara kritis ideologi dan hal-hal tersembunyi yang terdapat dalam teks pidato politik. Analisis Wacana Kritis (AWK) dapat meretas secara tuntas unsur-unsur struktur supra, struktur mikro, dan struktur makro pidato politik yang dikaitkan dengan konteks, kondisi sosial politik masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini dapat dipakai referensi atau rujukan dalam rangka pengembangan bahan ajar pembelajaran materi pidato pada mata pelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMA khususnya kelas XII. Apalagi siswa kelas XII sudah menginjak umur 17 tahun maka hak-hak politiknya sudah bisa dipergunakan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Secara praktis penelitian ini memberikan sumbangan dan kontribusi keilmuan di kalangan masyarakat akademik terutama yang tertarik pada ilmu linguistik khususnya tentang analisis wacana. Di kalangan masyarakat akademis dapat memberikan pemahaman tentang struktur supra yakni skematik dari teks pidato, pemahaman tentang struktur mikro yakni dari tatanan kata sampai ketatanan paragraf yang digunakan dalam tek pidato, dan pemahaman tentang struktur makro yakni hal-hal yang tidak tampak atau tersembunyi ( latent ) bisa menjadi eksplisit atau nyata. Di samping itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan atau referensi oleh guru-guru bahasa Indonesia sebagai bahan pengembangan materi pelajaran bahasa Indonesia khusus menyangkut materi berbicara atau materi berpidato persuasif. Di samping itu kalangan dunia pendidikan yang merupakan sumber pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter bisa dipergunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama siswa-siswi yang sudah kelas XII untuk mempersiapkan diri terjun ke dalam masyarakat baik sebagai pemerhati dan atau terjun ke panggung politik. Maka lewat materi pengajaran membaca dan berbicara pada submateri berpidato yang bercorak persuasif siswa bisa menyampaikan pikiran kritis dan belajar memperjuangkan ideologinya. Dan manfaat terakhir yaitu bagi peneliti yang lain yang tertarik pada penelitian wacana kritis, penelitian ini bisa digunakan salah satu referensi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping itu, dilihat dari perspektif dunia pendidikan bahwa analisis wacana kritis pada teks politik sangat bermanfaat bagi kalangan siswa, terutama siswa SMA khususnya siswa SMA kelas XII yang sudah menginjak umur 17 tahun dan secara hukum sudah memiliki hak-hak politik, baik sebagai pemilih maupun hak untuk dipilih. Mengingat dalam kurikulum tahun 2004 pada materi pelajaran membaca dan berbicara kelas XII yaitu yang pertama Standar Kompetensi (SK) tiga yaitu memahami artikel dan teks pidato pada Kompetensi Dasar (KD) 3.2. membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat. Yang kedua pada Standar Kompetensi sepuluh yaitu mengungkapkan informasi melalui presentasi program/proposal dan pidato tanpa teks pada Kompetensi Dasar (KD) 10.2 berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada dan sikap yang tepat. Materi pidato baik menyangkut materi memproduksi teks pidato maupun materi cara menyampaikan pidato secara persuasif sangat bermanfaat sekali untuk bekal siswa siswi terjun ke masyarakat. Pidato secara persuasif adalah pidato yang tujuannya memengaruhi audien atau pendengar agar terpesuasif/terpengaruh oleh isi pidatonya. Pidato politik salah satu contoh jenis pidato persuasif untuk membujuk, merayu atau memengaruhi pendengar. Apalagi kurikulum 2013 menitikberatkan pembelajaran berbasis teks dengan pendekatan saintifik ( scientific) .dan komunikatif. Pendekatan saintifik dan komunikatif pada mata pelajaran bahasa Indonesia peserta didik (siswa) dituntut untuk berpikir kritis, ilmiah, prosedural, dan metakognitif maka analisis wacana kritis sangat penting untuk pembelajaran bahasa Indonesia di kalangan siswa SMA. Materi pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan saintifik ( scientific) dan komunikatif yang berbasis pada fakta atau fenomena artinya dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Media komunikasi yang paling penting bagi manusia untuk melakukan interaksi sosial adalah bahasa. Kenyataannya bahasa menjadi aspek yang amat penting dalam melakukan sosialisasi (berinteraksi sosial) dengan sesama anggota masyarakat. Interaksi sosial dilakukan manusia karena mengingat manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial (zoon politicon ). Bahasa tidak bisa digantikan perannya di masyarakat. Manusia dapat menjalin hubungan sosial dengan menggunakan bahasa. Selain itu, dengan bahasa, manusia dapat menyampaikan berbagai berita, pikiran, pengalaman, pendapat, kritik, keinginan pada orang lain (Kurniawaan dalamYoce Aliah, 2009 :1). Selanjutnya Menurut Yoce Aliah Darma (2009:1), bahasa terdiri atas tataran fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan wacana. Wacana didukung oleh beberapa paragraf, beberapa paragraf didukung oleh beberapa klausa atau kalimat dan kalimat didukung oleh beberapa frasa dan frasa didukung oleh beberapa kata sampai yang terkecil yang disebut dengan morfem. Hakikat wacana ditentukan oleh antarhubungan kalimat, tetapi yang lebih penting adalah konteks sosial dan sistem komunikasi secara keseluruhan (Kutha Ratna. 2009:220). Istilah wacana dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, komunikasi sastra,dan sebagainya. Pembahasan wacana adalah pembahasan bahasa dan tuturan yang harus dalam satu rangkaian kesatuan situasi atau dengan kata lain, makna suatu bahasa berada dalam rangkaian konteks dan situasi. Wacana juga bisa dipakai dalam ilmu politik sehingga ada muncul wacana politik, sebatas wacana atau baru wacana . Ada banyak definisi tentang wacana. Berkaitan dengan hal itu, pada subbab berikut dipaparkan tentang hakikat wacana dan jenis-jenis wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kata wacana dalam bahasa Indonesia dipakai sebagai terjemahan kata discourse dalam bahasa Inggris. Kata discourse secara etimologis berasal dari bahasa latin, yaitu discursusus ‘lari kian kemari’. Kata discourse itu diturunkan dari kata discurrere . Bentuk discurrere itu merupakan gabungan dari dis dan currere ‘lari, berjalan kencang’ (Wabster dalam Baryadi 2002:1). Selanjutnya menurut Badudu (dalam Eriyanto 2001: 2), wacana memiliki dua pengertian, yaitu (1) Rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu; (2) Kesatuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sehubungan dengan hal itu, dalam pengertian linguistik, wacana merupakan unit bahasa yang lebih besar dari kalimat (Eriyanto, 2001: 3). Dalam hal ini Analisis wacana dalam studi linguistik tradisional lebih memperhatikan pada kata, frasa, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. Kebalikan dari analisis wacana tradisional, lebih memusatkan perhatian pada taraf yang lebih tinggi di atas kalimat seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada taraf yang lebih besar dari kalimat. Lebih lanjut dinyatakan oleh Baryadi (2002:2) bahwa istilah wacana dan discourse dipakai dalam istilah linguistik. Dalam hal ini, wacana dimengerti sebagai satuan lingual yang berada di atas satuan kalimat. Hal ini sejalan dengan pendapat Hymes (dalam Scriffin, 2007: 28) yang menyatakan bahasa adalah bahasa di atas kalimat atau di atas klausa. Hal itu dapat dilihat pada bagan berikut ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Hakikat wacana seperti diuraikan tersebut pada dasarnya beranjak dari pandangan formal. Berdasarkan pendekatan formal, wacana berwujud kalimat-kalimat yang runtut dan utuh. Wacana dibangun dengan struktur tertentu. Wacana dapat pula beranjak dari pandangan fungsional, yakni wacana dipandang sebagai bahasa dalam penggunaan. Dengan cara pandang tersebut, wacana dipahami sebagai peristiwa komunikasi, yakni perwujudan dari individu yang sedang berkomunikasi. Dalam hal ini, bahasa yang digunakan oleh pembicara dipandang sebagai wujud dari tindakan pembicaranya (Schiffrin, 2007:24).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengertian wacana dapat dipahami berdasarkan pandangan fungsional. Pengertian seperti ini dapat dilihat pada pandangan Samsuri (1987:1), yaitu wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi yang dapat menggunakan bahasa lisan dan bahasa tertulis. Itu berarti, wacana mempelajari bahasa dalam pemakaiannya. Berdasarkan pandangan di atas dapat dikatakan bahwa wacana tidak bisa terlepas dari konteks baik konteks situasi, konteks sosial maupun konteks orang yang melingkunginya. Menurut Norman Fairclough (dalam Yoce) wacana adalah bahasa yang digunakan untuk merepresentasikan sesuatu praktik sosial, ditinjau dari sudut pandang tertentu. Berdasarkan konsep tersebut wacana tidak bisa dilepaskan dengan konteks sosial. Jack Ricards, et al. (1987:83-84) dalam Longman Dictionary of Applied Linguistik, menyatakan bahwa wacana ( discourse ) merupakan contoh umum bagi contoh-contoh penggunaan bahasa, yakni bahasa yang diproduksi sebagai hasil dari suatu tindakan komunikasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa wacana menekankan pada segi pemakaian bahasa Hal ini sesuai dengan pendapat Darma (2009:1) yang menyatakan bahwa wacana adalah pembahasan bahasa dan tuturan yang harus ada dalam suatu rangkaian kesatuan situasi. Pandangan di atas sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa wacana   adalah   rangkaian   ujar   atau   rangkaian   tindak   tutur   yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam suatu   kesatuan   yang   koheren,   dibentuk  oleh   unsur   segmental   maupun nonsegmental bahasa (Sobur dalam Darma, 2009: 3). Menurut Yoce (2013) mengatakan wacana adalah proses komunikasi, yang menggunakan simbol-simbol, yang berkaitan dengan interpretasi dan peristiwa-peristiwa.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Hakikat wacana juga dapat dikembangkan berdasarkan pandangan formal dan fungsional. Artinya, bahwa aspek-aspek kebahasaan yang disusun dan digunakan oleh pembicara dipandang sebagai wujud dari tindakan pembicaranya (Schiffrin, 2007:24). Berdasarkan pandangan tersebut, hakikat wacana tampak pada pandangan Tarigan (1987:27), yaitu wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi, yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis. Selain itu, wacana dapat dipandang sebagai ujaran, yakni dipahami sebagai suatu kumpulan unit struktur bahasa yang tidak lepas dari konteks. Dengan cara pandang tersebut, keberadaan kalimat dalam suatu wacana tidak hanya dipandang sebagai sistem ( langue ), tetapi juga dipandang sebagai parole . Meskipun ujaran dalam suatu wacana disusun berdasarkan gramatika (sistem bahasa), tetapi makna ujaran timbul itu karena lawan bicara juga memperhatikan konteks penggunaan bahasanya yang disebut ujaran dan pengujarannya. Dengan demikian, selain kaidah tata bahasa, konteks penggunaan bahasa juga harus diperhatikan pada saat menyusun sebuah wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dalam perkembangannya, pandangan formal dan fungsional dikenal dengan pandangan kritis.Menurut Fairclough dan Wodak (dalam Darma, 2009) dalam pandangan kritis, wacana dilihat sebagai pemakaian bahasa, baik tuturan maupun tulisan yang merupakan bentuk dari praktik sosial. Menggunakan wacana sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialektis di antara peristiwa deskriptif (menggunakan bahasa) tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi. Wacana ini dapat memproduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan perempuan, kelompok mayoritas dan minoritas melalui perbedaan representasi dalam posisi sosial yang ditampilkan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan uraian tentang wacana dari beberapa ahli bahasa tersebut, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pendekatan formal, wacana adalah satuan bahasa di atas kalimat yang terlengkap dan terluas; berdasarkan pendekatan fungsional, wacana adalah rekaman peristiwa komunikasi dengan menggunakan bahasa, baik secara lisan maupun tertulis dalam konteks interaksi yang mempunyai makna, maksud, atau tujuan tertentu. Pendekatan formal dan fungsional secara dialektis, memandang wacana sebagai rangkaian tuturan lisan atau tulisan yang teratur yang mengungkapkan suatu hal (subjek). Dalam pandangan ini, wacana dapat dikatakan sebagai pemakaian bahasa, baik tuturan maupun tulisan yang merupakan bentuk dari praktik sosial. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi atau pandangan penulis dalam konteks sosial.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Realitas sebuah wacana itu berbentuk rangkaian kebahasaan dengan semua kelengkapan struktur bahasa seperti apa adanya (Yoce, 2009:7). Akan tetapi, pada pihak lain wacana dapat juga berwujud sebagai rangkaian nonbahasa. Wacana dapat diwujudkan dalam bentuk lisan dan tulisan yang bisa ditampilkan di depan umum/publik. Strategi priming adalah salah satu teknik menampilkan wacana di depan publik. Wujud wacana di depan publik sering disebut dengan pidato. Tampilan suatu wacana bisa berupa tulisan ( text ), ucapan ( talk ), tindakan (act ) atau berupa peninggalan ( artifact). Oleh karena itu wacana selalu ada makna dan citra yang dinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan baik secara nyata maupun secara tersembunyi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Secara esensial wujud dan jenis wacana dapat ditinjau dari sudut realitas, media komunikasi, cara pemaparan dan jenis pemakaian. Dalam kenyataannya wujud dari bentuk wacana itu dapat dilihat dalam beragam buah karya si pembuat wacana yaitu : teks (wacana dalam wujud tulisan/grafis) misalnya wujud berita, cerpen, novel maupun pidato dalam bentuk teks. Talk (wacana dalam bentuk ucapan) misalnya rekaman, wawancara, obrolan dan pidato dalam bentuk lisan. Act (wacana dalam wujud tindakan) misalnya dalam wujud lakon drama, tarian, film dsb. Artifact (wacana dalam wujud jejak) misalnya wujud bangunan, fashion, puing dsb.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana dapat diklasifikasikan menjadi berbagai jenis menurut dasar pengklasifikasian tertentu. Syamsuddin (1997:12) meninjau jenis wacana dari sudut (i) realitas (verbal dan nonverbal), (ii) media komunikasi (wacana lisan dan wacana tulis), dan (iii) segi penyusunan (wacana naratif, wacana prosedural, wacana hartotorik, dan wacana diskriptif). Kemudian Baryadi (2002:9) mengklasifikasikan wacana berdasarkan (i) media yang dipakai untuk mewujudkannya, (ii) keaktifan partisipan komunikasi, (iii) tujuan pembuatan wacana, (iv) bentuk wacana, (v) langsung tidaknya pengungkapan, (vi) genre sastra, dan (vii) isi wacana. Berbeda dengan Baryadi, Sumarlam (2003:15) membagi jenis-jenis wacana berdasarkan bahasanya yang dipakai, media yang dipakai untuk mengungkapkan, jenis pemakaian, bentuk serta cara dan tujuan penyampaiannya. Jenis-jenis wacana beserta pengklasifikasiannya dapat dirangkum seperti tabel di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana menurut Tarigan (1987:51) dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, antara lain: berdasarkan media (wacana lisan dan wacana tulis), berdasarkan pengungkapan (wacana langsung dan wacana tidak langsung), berdasarkan bentuk (wacana drama, wacana puisi, dan wacana prosa), dan berdasarkan penempatan (wacana penuturan dan wacana pembeberan). Berdasarkan pendapat dari ahli bahasa tersebut peneliti mencoba merangkum jenis-jenis wacana antara lain; media sarana penyampaiannya, peran penutur dan mitra tutur, pengemasan materi, struktur, kelangsungan, dan bentuk. Berikut ini dipaparkan tentang klasifikasi wacana di atas.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Fungsi bahasa ini digunakan apabila si pingirim ingin memengaruhi si penerima. Fungsi bahasa ini berpusat pada penerima. Semua unsur bahasa yang di dalam wacana berkaitan atau menonjolkan penerima, mengandung fungsi konatif. Realisasi fungsi konatif dalam komonikasi dapat dilihat dalam kalimat imperatif. Fungsi ini bisa dilihat dalam teks konatif. Adapun teks konatif, yaitu yang langsung melibatkan si penerima dalam komunikasi, misalnya dengan penggunaan persona kedua baik tunggal maupun jamak, imperatif dan vokatif (seruan, ajakan atau panggilan). Jenis teks ini sering digunakan dalam teks pidato politik atau iklan-iklan. Jadi, argumen-argumen dalam pidato politik jelas merujuk pada konsep teks yang bersifat konatif karena pidato politik lebih mengedepankan ideologi dan bersifat persuasif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengacuan ( referensi) dalam teks ada tiga yaitu : pengacuan (referensi ) persona, pengacuan ( referensi ) demonstratif, dan pengacuan ( referensi ) komparatif (Sumarlan,2009: 27 dalam Sri Pamungkas,2012:168). Referensi persona direalisasikan melalui pronominal persona (kata ganti orang) yang meliputi persona orang pertama, persona orang kedua, dan persona orang ketiga, misalnya persona pertama tunggal, bentuk bebas misalnya saya dan pronominal persona pertama jamak, bentuk bebas misalnya kami. Hal ini dapat dilihat dari contoh berikut :

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penyulihan ( substitusi ) adalah bentuk kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu (yang telah disebut) dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memeroleh unsur pembeda. Penyulihan ( substitusi ) terdiri dari yang pertama penyulihan nominal, yaitu pergantian satuan lingual yang berkatagori nomina (kata benda) dengan satuan lingual lain yang juga berkatagori nomina, misalnya kata derajat, tingkat diganti dengan pangkat, kata gelar diganti dengan titel. Yang kedua penyulihan verbal, yaitu penggantian satuan lingual yang berkatagori verba (kata kerja) dengan satuan lingual lain yang juga berkatagori verba, misalnya kata mengarang diganti dengan berkarya. Dan yang ketiga penyulihan frasa, yaitu penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frasa dengan satua lingual lain yang berupa frasa. (Sumarlan, 2009:29 dalam Pamungkas)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pelesapan ( ellipsis ) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa pelesapan atau penghilangan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan lingual yang dilesapkan itu dapat berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat. Kegunaan pelesapan ( ellipsis ) dalam wacana antara lain untuk 1) efektivitas kalimat, 2) efisiensi pemakaian bahasa, 3) kepaduan wacana, 4) mengaktifkan pikiran pembaca atau pendengar terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan bahasa, dan 5) kepraktisan berbahasa.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Perangkaian (konjungsi ) yaitu salah satu kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa unsur satuan lingual kata, frasa, klausa, atau kalimat. Ada dua jenis konjungsi, yaitu konjungsi sekuensial dan konjungsi optatif. Konjungsi sekuensial menyatakan hubungan makna urutan antara tuturan sebelum dan sesudah konjungsi, misalnya “Terima kasih Pak, lalu bagaimana, apa yang seharusnya saya lakukan?” kata “lalu” merupakan konjungsi sekuensial. Sedangkan konjungsi optatif menyatakan hubungan makna harapan, yaitu harapan si penerima pesan, misalnya “ semoga orang yang meninggal itu tergolong khusnul khotimah .” Kata “semoga” merupakan konjungsi optatif. Dan masih banyak contoh konjungsi yang lain seperti sebab, tetapi, agar, dan lain-lain.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kepaduan wacana selain didukung oleh aspek gramatikal atau kohesi gramatikal juga didukung oleh kohesi leksikal. Aspek leksikal menyatakan hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis. Makna leksikal dari teks lebih mengacu pada makna yang sebenarnya sesuai dengan makna kamus dan bisa lepas dari makna kontekstual. Aspek leksikal ini terdiri dari pengulangan ( repetisi ), padan kata ( sinonimi ), lawan kata ( antonimi ), sanding kata ( kolokasi), hubungan atas-bawah (hiponimi ), dan kesepadanan atau paradigma ( ekuivalensi ).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberikan tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Penggunaan repetisi biasanya bukan hanya menunjukkan sifat kohesif teks, melainkan juga menyembunyikan makna konotatif tertentu dan hal ini bergantung pada konteksnya. Misalnya, “ Dalam kehidupan demokrasi, rakyat harus berani menyatakan pendapat, berani menentang kezaliman, berani menyongsong masa depan. Kata “berani” pada kalimat di atas selalu diulang untuk memberikatan tekanan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dari segi penutur dan mitra tutur, wacana dapat dipilah menjadi wacana dialog dan wacana monolog. Menurut Trina (2011), wacana monolog adalah wacana yang tidak melibatkan suatu bentuk tutur percakapan atau pembicaraan antara dua pihak yang berkepentingan. Yang termasuk pada jenis pertama ini adalah semua bentuk teks, surat, bacaan, cerita, dan lain-lain yang sejenisnya. Kedua, wacana dialog, yaitu wacana yang dibentuk oleh percakapan, atau pembicaraan antara dua pihak seperti terdapat pada obrolan, pembicaraan dalam telepon, tanya jawab, wawancara, teks drama, film strip, dan sejenisnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping itu menurut Hartono (2000:80) Wacana narasi adalah wacana yang menceritakan kejadian secara kronologis atau dari suatu waktu ke waktu yang lain. Kejadian itu dapat bersifat faktual (benar-benar terjadi), dapat pula bersifat fiktif. Oleh karena itu, ada wacana narasi fiksi dan wacana narasi nonfiksi. Wacana ini bertujuan untuk menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Wacana ini adalah wacana yang berupa rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh pelaku (orang I atau II) dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut Syamsuddin (1997:17) wacana persuasif disebut wacana hortatorik, karena sama-sama bersifat ajakan atau bujukan untuk mau ikut dengan keinginan penulis (ideologi penulis). Wacana persuasi adalah wacana yang menyatakan ajakan, imbauan, harapan, saran, permintaan, atau bujukan. Wacana ini bertujuan memengaruhi pembaca tentang pendapat atau pernyataan penulis. Wacana ini digunakan untuk memengaruhi pendengar atau pembaca agar tertarik akan pendapat yang dikemukakan oleh pembicara atau penulis. Isi wacana selalu berusaha untuk mendapatkan pendukung, bahkan penganut atau paling tidak menyetujui pendapat yang dikemukakannya itu, kemudian terdorong untuk melakukan atau mengalaminya. Jenis wacana ini biasanya digunakan dalam komunikasi propaganda baik yang bersifat bisnis maupun politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut Sumantri, dkk. (dalamTrina, 2011) wacana eksposisi mengandung suatu penjelasan dan bertujuaan pembaca agar memahami sesuatu. Dalam hal ini sebuah wacana memaparkan sesuatu secara objektif dan global (secara keseluruhan). Karena yang penting adalah paparan menyeluruh (global), penyajian materinya tidak dianalisis secara mendalam dari berbagai segi. Wacana ini bertujuan untuk menjelaskan atau memberi informasi tentang sesuatu. Wacana ini merupakan salah satu tipe wacana yang dikembangkan dalam bentuk paparan tentang suatu fakta secara global atau keseluruhan secara sistematis. Wacana ini merupakan rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran yang sering disebut eksposisi. Pokok pikiran itu lebih dijelaskan lagi dengan cara menyampaikan uraian-uraian, bagian-bagian atau detailnya. Tujuan pokok yang ingin dicapai pada wacana ini adalah tercapainya tingkat pemahaman akan sesuatu itu supaya lebih jelas, mendalam, dan luas dari sekadar sebuah pernyataan yang bersifat global atau umum. Kadang-kadang wacana ini dapat berbentuk ilustrasi dengan contoh, berbentuk perbandingan, berbentuk uraian kronologis dan ada juga secara penentuan ciri-ciri (identifikasi) dengan orientasi pokok pada materi, bukan kepada tokohnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut Sumantri, dkk. (dalamTrina: 2011) wacana deskripsi adalah wacana yang mengungkapkan secara representatif secara rinci. Berbeda dengan wacana eksposisi, dalam wacana deskripsi sesuatu yang dilukiskan secara objektif itu dianalisis secara mendalam dan sistematis dari berbagai segi. Jadi, wacana deskripsi melukiskan sesuatu secara objektif sampai kepada detail-detailnya secara mendalam dan sistematis sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tentang sesuatu yang dilukiskan itu. Wacana ini bertujuan untuk memberikan perincian atau detail tentang objek sehingga seakan-akan mereka ikut melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami langsung tentang objek tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Lebih lanjut, Syamsuddin (1997:19-20) menyatakan bahwa wacana deskripsi pada dasarnya berupa rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuan yang ingin dicapai oleh wacana ini adalah tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu, sehingga pendengar atau pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahui secara langsung. Selanjutnya, menurut Syamsuddin, unsur pada wacana ini ada yang hanya memaparkan sesuatu secara objektif dan juga memaparkannya secara imajinatif. Pemaparan yang pertama bersifat menginformasikan sebagaimana adanya, sedangkan yang kedua dengan penambahan daya khayal. Oleh karena itu, wacana yang kedua ini banyak dijumpai dalam karya sastra, seperti pada novel ataupun cerpen.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berbeda halnya kalau dilihat materi pembelajaran wacana di tingkat sekolah menengah ada lima jenis wacana, yaitu  (1) eksposisi, (2) narasi, (3) persuasi (hortatorik), (4) deskripsi, dan (5) argumentasi. Kelima jenis wacana itu empat di antaranya sudah diuraikan di atas dan wacana yang kelima yang belum diuraikan. Berbeda dengan wacana tersebut di atas, wacana argumentasi menyatakan pendapat disertai argumentasi tentang kebenaran pendapat tersebut (Hartono 2000:81). Menurut Sumantri, dkk. (dalam Trina, 2011) wacana ini adalah suatu tipe wacana yang bertujuan untuk memengaruhi pembaca dalam mengambil sikap serta pandangan sesuai dengan keinginan penulis atau pebicara, dengan mengajukan bukti-bukti yang benar, meyakinkan dan dirangkai melalui permainan bahasa. Wacana argumentasi bertujuan untuk (1)melontarkan pandangan/pendirian, (2) mendorong atau mencegah suatu tindakan, (3) mengubah tingkah laku pembaca, dan (4) menarik simpati.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Seperti yang telah dijelaskan di atas wacana merupakan bentuk tuturan yang berupa satuan-satuan bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi dalam situasi tertentu. Satuan inilah yang dimanfaatkan sebagai salah satu unsur pembentukan wacana. Karena itu, struktur wacana dapat membantu menyampaikan bentuk-bentuk tuturan yang berupa pengungkapan gagasan secara runtun kepada lawan tutur. Dari segi strukturnya, wacana dapat dipilah menjadi dua teknik 1) wacana dasar (wacana sederhana) dan 2) wacana turunan, yang meliputi (a) wacana luas dan (b) wacana kompleks (Ekowardono dalam Hartono 2000:86).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut langsung tidaknya pengungkapan, wacana dapat dipilah menjadi wacana langsung ( direct discourse atau direct speech ) dan wacana tidak langsung ( indirect discourse atau indirect speech ). Wacana langsung adalah kutipan wacana yang sebenarnya dibatasi oleh intonasi dan pungtuasi. Wacana tidak langsung adalah pengungkapan kembali wacana tanpa mengutip harfiah kata-kata yang dipakai oleh pembicara dengan mempergunakan konstruksi gramatikal atau kata tertentu, antara lain dengan klausa subordinatif, kata bahwa, dan sebagainya (Kridalaksana dalam Tarigan 1987:55).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan bentuknya, Sumarlam (2003:17) mengkasifikasikan wacana menjadi tiga bentuk wacana prosa, wacana puisi, dan wacana drama. Wacana prosa adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa (Jawa: gancaran ). Wacana bentuk prosa ini dapat berupa wacana tulis dan wacana lisan. Contoh wacana prosa tulis misalnya cerita pendek, cerita bersambung, novel, dan artikel. Adapun wacana prosa lisan misalnya pidato, khotbah, dan kuliah. Wacana puisi adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk puisi (Jawa: geguritan ). Seperti halnya wacana prosa, wacana puisi juga dapat berupa wacana tulis maupun lisan. Puisi dan syair adalah contoh jenis puisi tulis, sedangkan puitisasi atau puisi yang dideklamasikan dan lagu-lagu merupakan contoh jenis wacana puisi lisan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pada dasarnya, setiap tuturan atau praktik berwacana yang dilakukan seseorang memiliki maksud tertentu. Maksud dalam praktik berwacana itu dapat disampaikan secara eksplisit dan implisit. Dalam hal ini, praktik berwacana yang banyak terjadi di masyarakat cenderung mengarah pada praktik berwacana yang mengimpisitkan maksud tertentu. Dalam Linguistik, teori yang dapat digunakan untuk mengungkapkan maksud yang terselubung dalam suatu praktik berwacana adalah teori wacana kritis atau analisis wacana kritis (AWK). AWK merupakan suatu teori yang digunakan untuk mengungkapkan hubungan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Dalam konteks sehari-hari, AWK dapat digunakan untuk membangun kekuasaan dan hegemoni. Selain itu, AWK juga digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu, menerjemahkan, menganalisis, dan mengeritik kehidupan sosial yang tercermin dalam analisis teks atau ucapan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Habermas (dalam Darma, 2009: 53)mengemukakan bahwa AWK bertujuan membantu menganalisis dan memahami masalah sosial dalam hubungannya antara ideologi dan kekuasaan. Tujuan AWK adalah mengembangkan asumsi-asumsi dalam teks yang bersifat ideologis yang terkandung di balik kata-kata dalam teks atau ucapan dalam berbagai bentuk kekuasaan. AWK bermaksud untuk menjelajahi secara sistematis tentang keterkaitan antara praktik-praktik berwacana, teks, peristiwa, dan struktur sosiokultural yang lebih luas. Jadi, AWK dibentuk oleh struktur sosial (kelas, status, identitas etnik, zaman, dan jenis kelamin), budaya, dan wacana (bahasa yang digunakan).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Setiap praktik berwacana merujuk pada aturan, norma, perasaan, sosialisasi yang spesifik dalam hubungannya dengan penerima pesan dan penerjemah pesan. Dalam hal ini, AWK bertujuan menentukan bagaimana individu belajar berpikir, bertindak, dan berbicara dalam berbagai posisi kehidupan sosial (konteks sosial). Menurut Darma (2009:54), konteks sosial adalah tempat di mana wacana terjadi (di pasar, ruang kelas, tempat bermain, tempat suci, dsb). Apapun konteks sosial yang mendasari terjadinya praktik berwacana itu tidak pernah terlepas dari kekuasaan dan ideologi. Oleh karena itulah, AWK dapat digunakan untuk membongkar kekuasaan dan idelogi yang terselubung dalam suatu praktik berwacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Fairclough ( dalam Anang) mengusulkan bahwa pengertian wacana secara komprehensif dari pandangan kritis. Wacana adalah penggunaan bahasa yang dipahami sebagai praksis sosial, dan secara spesifik Van Dijk merumuskan analisis wacana kritis sebagai sebuah kajian tentang relasi-relasi antara wacana, kuasa, dominasi, ketidaksamaan sosial, dan posisi analisis wacana dalam relasi-relasi sosial itu ( Anang Santoso, 2012 : 120). Jadi dalam menganalisis sebuah wacana semestinya memandang wacana itu secara simultan sebagai wacana dari teks-teks bahasa, wacana sebagai praksis kewacanaan (produksi teks dan interprestasi teks) dan memandang wacana sebagai praksis sosiokultural. Maka menganalisis suatu wacana berarti menganalisis ketiga dimensi wacana itu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Ada tiga pandangan berbeda mengenai bahasa dalam analisis wacana (Hikam, dalam Eriyanto, 2001:4). Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivisme-empiris. Aliran ini menyatakan bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa adanya hambatan. Hal ini berlaku selama ia dinyatakan dengan logis, sintaksis, dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Dalam kaitannya dengan analisis wacana, konsekuensi logis dari pemahaman tersebut adalah orang tidak perlu memahami makna subjektif dari sebuah pernyataan, sebab yang paling penting adalah apakah pernyataan itu sudah benar menurut kaidah semantik dan sintaksis. Oleh karena itu, analisis wacana dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan bahasa sebagaimana dalam pandangan formal.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pandangan yang kedua diwakili oleh kaum konstruktivisme. Dalam aliran ini, bahasa tidak dipandang sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan oleh subjek sebagai penyampai pernyataan. Justru, konstruksivisme memandang subjek sebagai sentral utama dalam kegiatan wacana. Dalam hal ini, bahasa dipahami sebagai pernyataan yang dihidupkan dengan tujuan tertentu. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan realitas sosial. Oleh karena itu, analisis wacana dimaksudkan untuk mengungkapkan makna dan maksud tertentu. Analisis wacana adalah suatu upaya untuk membongkar maksud penulis yang tersembunyi dalam wacana itu. Pandangan ini dikenal juga dengan pandangan fungsional atau padangan paradigma interpretivisme.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Aliran ini mengoreksi pandangan konstruksivisme yang kurang sensitif pada produksi dan reproduksi makna yang terjadi, baik secara historis maupun institusional. Menurut aliran ini, paham konstruksivisme belum menganalisis faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana, yang pada gilirannya berperan dalam membentuk jenis-jenis subjek tertentu. Pemikiran inilah yang akan melahirkan paradigma kritis. Analisis wacana dalam pandangan ini menekankan konstelansi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Pemilihan bahasa dalam paradigma kritis dipahami sebagai representasi yang berperan membentuk subjek dan strategi tertentu. Oleh karena itulah, analisis wacana kritis digunakan untuk membongkar praktik kekuasaan dan ideologi yang tersembunyi dalam wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pada hakikatnya, tindakan digunakan untuk memahami suatu wacana. Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa konsekuensi bagaimana bahasa dilihat. Pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan membujuk, mengganggu, bereaksi, menanggapi, menyarankan, memperjuangkan, memengaruhi, berdebat, dan sebagainya. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar dan terkontrol, bukan sesuatu yang diekspresikan atau dikendalikan di luar kesadaran. Dengan konsep tersebut, wacana dipahami sebagai suatu bentuk interaksi yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial. Dalam hal ini, penulis menggunakan bahasa untuk berinteraksi dengan pembaca.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dalam analisis wacana kritis (AWK), perlu dikaji konteks dari suatu wacana, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana dalam hal ini dimengerti, diproduksi, dan dianalisis dalam konteks tertentu. AWK juga mengkaji konteks dari komunikasi; siapa yang mengonsumsikan, dengan siapa, dan mengapa; dalam jenis khalayak dan dalam situasi apa; melalui medium apa; bagaimana perbedaan tipe perkembangan komunikasi, dan bagaimana perbedaan antara setiap pihak. Bahasa dalam hal ini dipahami dalam konteks secara keseluruhan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Ada tiga hal sentral dalam pengertian teks, konteks, dan wacana. Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, melainkan semua jenis ekspresi komunikasi yang ada di dalamnya. Selanjutnya, pengertian konteks dalam hal ini, yaitu memasukkan semua jenis situasi dan hal yang berada di luar teks dan memengaruhi pemakaian bahasa, situasi di mana teks itu diproduksi, serta fungsi yang dimaksudkan. Sementara itu, wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatiannya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi. Dalam hal ini dibutuhkan proses kognisi dan gambaran spesifik dari budaya yang dibawa dalam wacana tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Salah satu aspek penting untuk bisa mengerti teks adalah dengan menempatkan wacana itu dalam konteks historis tertentu. Sebagai contoh, kita melakukan analisis wacana teks selebaran mengenai pertentangan terhadap kasus Century . Pemahaman mengenai wacana teks ini hanya akan diperoleh kalau kita bisa memberikan konteks historis, tempat teks itu diciptakan (bagaimana situasi sosial politik dan suasana pada saat itu). Oleh karena itu, pada waktu melakukan analisis, perlu tinjauan untuk mengerti mengapa wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa yang dipakai seperti itu, dan seterusnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan, atau apapun tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dan masyarakat. Kekuasaan dalam hubungannya dengan wacana penting untuk melihat apa yang disebut dengan kontrol. Bentuk kontrol tersebut terhadap wacana bisa bermacam-macam. Kontrol terhadap konteks, yang secara mudah dapat dilihat dari siapakah yang boleh dan harus berbicara, dan siapa pula yang hanya mendengar dan mengiakan, atau siapa yang mendominasi dan siapa yang didominasi. Selain konteks, kontrol dapat juga diwujudkan dalam bentuk mengontrol struktur wacana. Hal ini dapat dilihat dari penonjolan atau pemakaian kata-kata tertentu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Selain itu, ada konsep sentral dalam AWK, yaitu ideologi. Pada hakikatnya, setiap bentuk teks, percakapan, dan sebagainya adalah salah satu praktik ideologi atau pancaran ideologi tertentu. Wacana bagi ideologi adalah medium melalui mana kelompok dominan mempersuasi dan mengomunikasikan kepada khalayak kekuasaan yang mereka miliki, sehingga absah dan benar. Semua karakteristik penting dari analisis wacana kritis, tentunya membutuhkan pola pendekatan analisis. Hal ini diperlukan untuk memberi penjelasan bagaimana wacana dikembangkan dan memengaruhi khalayak.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Hal yang pertama harus dipahami adalah wacana dipandang sebagai suatu tindakan ( action ) yang memiliki tujuan dan maksud tertentu. Eriyanto (2001:8) mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi, seseorang berbicara, menulis, dan menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, wacana dipahami sebagai tindakan karena akan ada dampak atau hasil yang terjadi dari hadirnya suatu wacana tersebut. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan misalnya untuk mendebat atau memengaruhi/membujuk. Yang kedua wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol dan bukan sesuatu di luar kendali atau kesadaran.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Konteks merupakan sesuatu yang penting dalam analisis wacana kritis, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Dalam analisis wacana kritis, terdapat beberapa konteks penting. Pertama, partisipan wacana. Latar belakang siapa yang memproduksi wacana, seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnis, agama, dan hal-hal yang relevan dalam penggambaran wacana. Selanjutnya, setting sosial tertentu, misalnya tempat, waktu, posisi pembicara dan pendengar, atau lingkungan fisik, konteks yang berguna untuk mengeti suatu wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Gagasan sentral dalam analisis wacana kritis adalah kekuasaan, lebih khususnya kekuatan sosial dalam kelompok atau lembaga. Dalam hal ini, wacana dianggap sebagai sesuatu yang tidak netral, alamiah, wajar, dan merupakan bentuk dari pertarungan kekuasaan. Hubungan antara wacana dan kekuasaan dapat dilihat dari   kontrol   yang dilakukan.   Lewat   wacana   ini   kelompok   yang   memiliki kekuasaan mengontrol atau menghegemoni kelompok yang lemah. Kontrol melaui wacana dapat berupa kontrol atas konteks, dapat dilihat dari siapa yang boleh berbicara dan harus berbicara, siapa yang mendengar dan siapa yang mengiyakan. Selain itu, kontrol melaui wacana dapat dilihat dalam bentuk mengontrol struktur wacana. Hal tersebut dilihat dari penonjolan atau penggunaan kata-kata tertentu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teori Analisis wacana atau pisau bedah yang relevan untuk menggali ideologi dalam penelitian ini adalah teori analisis wacana dari Teun A. Van Dijk. Dari sekian banyak teori yang ada terkait dengan analisis wacana kritis peniliti menggunakan teori Teun A. Van Dijk karena menurut pandangan Van Dijk bahwa perlunya mengelaborasi elemen-elemen wacana sehingga bisa didayagunakan dan dipakai secara praktis. Model yang dipakai oleh Van Dijk sering disebut sebagai “kognisi sosial”. Menurut Van Dijk , penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati (Eriyanto, 2001 : 221). Artinya mengupas pandangan pendapat di atas bahwa menganalisis wacana teks pidato politik tidak hanya semata-mata melihat makna yang tersurat dari teks pidato saja tetapi perlu melihat siapa orang yang berpidato, dari partai apa dan situasi kondisi bagaimana teks pidato itu diproduksi? Di samping itu Van Dijk juga melihat struktur sosial, dominasi dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat karena kekuasaan berpengaruh terhadap teks wacana apalagi wacana partai politik yang memiliki kepentingan untuk kekuasaan dan ideologi (kepentingan politik) pasti kecendrungan teks wacananya lebih menekankan kepentingan politik dengan pilihan bahasa politik yang setepat mungkin. Melihat fenomena itu, Van Dijk dalam teorinya lebih menekankan pada elaborasi teks, kognisi sosial dan konteks saat wacana itu diproduksi seperti contoh tabel 2.3 di bawah ini. Wacana oleh Van Dijk digambarkan menjadi tiga dimensi yaitu : teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Selanjutnya lihat tabel analisis Van Dijk.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping yang dipaparkan di atas, pendekatan yang ditawarkan pun bertolak dari pencermatan atas tiga tingkatan struktur wacana, yaitu: struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro ( superstructure, micro structure, and macro structure) (Rosidi, 2007:10). Struktur supra menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat ( local meaning ) suatu wacana. Ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, leksikon dan retorika. Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan ( global meaning ) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh pemakaian bahasa dalam suatu wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi sosial pembuat wacana termasuk konteks dari wacana itu. Secara teoretik, pernyataan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang terhadap suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan. Bila dikehendaki sampai pada ihwal bagaimana wacana tertentu bertali-temali dengan struktur sosial, kognisi sosial, konteks dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat, maka analisis wacana kritis ini harus dilanjutkan dengan analisis sosial.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Melalui analisis wacana kritis, bahasa telah digunakan sebagai peranti kepentingan, mengingat dalam Analisis Wacana Kritis (AWK) unsur ideologi salah satu bagian yang dibedah dalam analisis tersebut. Wacana politik khususnya wacana teks pidato politik seorang ketua umum partai, terutama pada kasus yang melibatkan ideologi atau kepentingan partai baik dalam hal pemilihan legeslatif, pemilihan presiden, pemilukada dan atau dalam rangka pencitraan partainya, ternyata   bahasa dipergunakan sebagai media politik yang cukup ampuh dan terbukti telah dijadikan sebagai senjata, baik bagi yang kuat maupun bagi yang lemah. Satu pihak menggunakan wacana sebagai sarana untuk mengendalikan dan merekayasa batin yang lain. Sebaliknya, pihak lain, dengan peranti wacana pula melakukan perlawanan, atau sekurang-kurangnya melakukan pembangkangan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan atau teori kritis Teun van Dijk, wacana terdiri atas struktur supra, mikro, dan makro. Hal itu menunjukkan wacana tidak bisa terlepas dari tindakan, teks, konteks, historis, kekuasaan, analisis sosial, kognisi sosial dan ideologi yang melingkunginya. Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi (pengetahuan, ideologi, kepentingan, dan sebagainya) sosial pembuat wacana. Oleh karena itu, teori kritis sangat relevan digunakan dalam menganalisis wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Realitas sosial di masyarakat berpengaruh terhadap produksi teks atau wacana sehingga melahirkan teks yang dekat dengan realitas sosial. Munculnya kampanye hitam ( black campaign ) dalam dunia politik khususnya saat pidato-pidato kampanye, itu disebabkan struktur pikiran saat memproduksi wacana politik memandang persoalan lawan politik dari sudut kepentingan politik, hal ini jelas berimplikasi terhadap produksi teks. Dunia politik sarat dengan ideologi kepentingan (kepentingan politik) dan ideologi kepentingan menggunakan peranti bahasa sebagai media pencapaiannya. Analisis sosial memandang bagaimana teks dihubungkan dengan struktur sosial dan sejauh mana pengetahuan masyarakat terhadap dunia politik. Bahasa hubungannya dengan sosial akan dikaji secara semiotik sosial. Pernyataan ini didukung oleh tulisan Halliday (1978) dalam Yoce mengungkapkan bahasa sebagai semiotik sosial, ini memberikan tekanan pada keberadaan konteks sosial bahasa, yaitu fungsi sosial yang menentukan bentuk bahasa dan bagaimana perkembangannya. Bahasa merupakan produk proses sosial dan digunakan dalam kegiatan sosial di segala aspek kehidupan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teks menurut pandangan Van Dijk terdiri dari beberapa struktur/tingkatan yaitu pertama struktur makro ( macro structure ), ini merupakan makna umum/global dari suatu teks yang amat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu pidato. Kedua struktur supra (superstructure ), struktur ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks seperti pendahuluan pidato, isi pidato, dan penutup pidato serta bagaimana bagian-bagian teks tersebut disusun ke dalam pidato secara sistematis dan utuh. Ketiga struktur mikro ( micro structure ) adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks seperti kata, kalimat, klausa, proposisi, anak kalimat, dan parafrasa. Ketiga bagian tingkatan/struktur itu harus masing-masing bagian saling mendukung dan terkait. Lebih jelasnya lihat tabel 2.4 struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Makna umum/global dari struktur makro jelas didukung struktur supra ( super structure ) dan struktur mikro dari teks tersebut. Pemakaian penanda pada struktur mikro ( micro structure) seperti kata, kalimat, proposisi bahkan stilistika bahasa yang digunakan dalam berpidato merupakan dari strategi politikus dalam menanamkan kepercayaannya kepada audien atau pendengar. Pemakaian stilistika atau pilihan kata-kata tertentu oleh seorang tokoh partai bukan semata-mata sebagai cara berkomunikasi, tetapi merupakan suatu strategi politik berkomunikasi yaitu suatu cara mempersuasif pendapat umum, menciptakan dukungan kepercayaan dan memperkuat legitimasi ideologi politik. Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan (Eriyanto, 2001: 227).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Memahami makna atau maksud dari suatu wacana tidak bisa lepas dari konteks wacana itu sendiri. Konteks merupakan ciri-ciri alam di luar bahasa yang menumbuhkan makna pada ujaran atau wacana yang sering disebut lingkungan nonlinguistik dari wacana (Yoce Aliah Darma, 2009:4). Konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode dan saluran (Moeliono & Soenjono Dardjowidjojo, 1988, dalam Fatimah). Unsur-unsur seperti pembicara (orang) yang disebut dengan konteks orang (siapa yang berbicara), situasi (di mana wacana itu diujarkan) yang disebut konteks situasi dan waktu (kapan wacana itu diujarkan) yang disebut konteks waktu. Dengan demikian unsur-unsur itulah yang sangat berpengaruh dalam memaknai wacana yang mendekati kebenaran, misalnya yang penulis paparkan pada bab I kenapa kata “Pas” bisa menimbulkan keributan saat gubernur Bali simakrama karena unsur konteks itu melekat pada pemaknaan kata “Pas” itu. Unsur-unsur di atas sangat berhubungan dengan unsur-unsur dalam komunikasi (Hymes dalam Yace Darma, 2009:4). Unsur-unsur itu antara lain :

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur supra (super structure ) menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup (Van Dijk, dalam Rosidi, 2007:11). Bagian pendahuluan biasanya berisi ucapan salam, latar belakang mengapa hal itu penting untuk dibicarakan dalam wacana. Bagian isi merupakan hal pokok yang ingin disampaikan dalam wacana dan penutup berisi kesimpulan. Hal ini terlihat dari kutipan berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pendahuluan merupakan awal dari pijakan dalam berbicara baik lisan maupun tulis, maka dalam pendahuluan harus mengandung cukup banyak bahan untuk menarik perhatian pembaca yang tidak ahli sekalipun dan memperkenalkan kepada pembaca fakta-fakta pendahuluan yang benar-benar diseleksi. Pendahuluan penulis harus menegaskan dan mengutarakan mengapa persoalan itu penting untuk dibicarakan. Hal ini bisa dikatakan sebagai lantar belakang persoalan mengapa persoalan itu penting. Selanjutnya, penulis wacana harus menyampaikan latar belakang historis dan apa yang melantarbelakangi menulis atau membicarakan masalah itu yang disertai dengan argumentasi sehingga pembaca memahami dasar masalah. Namun demikian, apa yang diuraikan dalam pendahuluan tidak boleh terlalu banyak, karena fungsi pendahuluan sekadar menggambarkan secara umum untuk menimbulkan keingin-tahuan, dan bukan untuk menjelaskan secara detail. Bagian pendahuluan merupakan hal yang sangat penting dalam wacana untuk menciptakan konsentrasi pembaca/pendengar untuk ke bagian isi atau intinya terutama teks pidato yang menyangkut ranah politik. Sebaliknya ia mungkin akan menegaskan suatu sistem yang dianggap akan menolongnya untuk sampai kepada konklusi yang benar. Begitu pula dalam pendahuluan harus jelas dibedakan persoalan-persoalan yang menyangkut selera dan persoalan-persoalan yang membawa kepada konklusi yang objektif. Pendahuluan dalam teks pidato politik biasanya dimulai dengan menyampaikan salam yang disertai gambaran umum mengapa orator berbicara tentang persoalan itu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“Once a topic is being selected, language users have another option in the realization of their mental model (= what they know about an event): To give many or few details about an event, or to describe it at a rather abstract, general level, or at the level of specifics. We may simply speak of ‘police violence’, that is, in rather general and abstract terms, or we may ‘go down’ to specifics and spell out what precisely the police did. And once we are down to these specifics, we may include many or few details.” (Dijk, 2013)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“Ideological discourse structures are organized by the constraints of the context models, but also as a function of the structures of the underlying ideologies and the social representations and models controlled by them. Thus, if ideologies are organized by well-known ingroup-outgroup polarization, then we may expect such a polarization also to be coded in talk and text. This may happen, as suggested, by pronouns such as us and them, but also by possessives and demonstratives suchas our people and those people , respectively.” (Dijk, 2004).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“Thus, we assume that ideological discourse is generally organized by a general strategy of positive self-presentation and negative other-presentation (derogation). This strategy may operate at all levels, generally in such a way that our good things are emphasized and our bad things de-emphasized, and the opposite for the Others   whose bad things will be enhanced, and whose good things will be mitigated, hidden or forgotten. This general polarizing principle may be applied both to forms as well as to meanings” (Dijk, 2004).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“Intentions are no more or less mysterious than interpretations   they are two of a kind, namely subjective mental models of participants. And only then are we able to address more detailed questions such as which properties of discourse can be consciously controlled, and which not,or less so.Thus, choice of overall topics is obviously more intentional than the detailed syntactic structure or intonation of a sentence. Selection of words falls in between   lexicalization is largely automatic given underlying mental models and the lexicon as a basis,but often specific words are chosen deliberately, and depending on genre and context quite well controlled, especially in written communication. There is no doubt that in an important political speech of a president or presidential candidate each word is chosen as a function of its ideologically and communicative presuppositions and implications. That is, when overall communicative control is strict, also ideological discourse expression will become more conscious. In some contexts, on the other hand, both discourse control and ideological control will be largely automatized.”(Dijk, 2004).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“In the production of news, event models (personal knowledge, etc),context models (situation knowledge) and semantic representations form the input for the various levels of expression or formulation: (i) lexicalization, (ii) syntactic structures, (iii) phonological and graphical/visual expression, and (iv) overall discourse schemata for overall ordering of text or talk. Thus, lexicalization willdepend, e.g.,on the knowledge about the assumed lexical knowledge of the recipients (represented inthe context model), on the assumed object knowledge of the recipients, on the assumed context knowledge of the recipients (in formal contexts, more formal words will beused), and so on. Even the production of syntactic structures may depend on the knowledge of the speaker aboutthe linguistic knowledge of the recipients, as well as about recipient’s knowledge about the communicative situation.”(van Dijk, 2004).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Menurut Nuryuri (2011:19) Latar adalah bagian yang dapat memengaruhi arti yang ingin ditampilkan seseorang dalam teks yang disusunnya. Latar biasanya ditampilkan di awal berita (kalau itu teks berita) sebelum pendapat wartawan muncul dengan maksud memengaruhi dan memberi kesan bahwa pendapatnya masuk akal dan beralasan. Latar membantu membongkar atau menyelidiki bagaimana seseorang atau wartawan memberikan penekanan, dan maksud yang ingin disampaikan atas suatu peristiwa. Lihatlah contoh latar di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen maksud hampir sama dengan elemen detil. Elemen maksud melihat informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas. Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraiakn secara tersamar, eufemistik, berbelit-belit, implisit, dan tersembunyi. Elemen wacana maksud menunjukkan bagaimana secara eksplisit wartawan menggunakan praktik bahasa tertentu untuk menonjolkan kebenarannya dan secara implisit menyingkirkan kebenaran yang lain (Eriyanto, 2001: 240). Jika dikaitkan dengan konteks pidato politik pandangan Eriyanto sangat jelas bagaimana orator politik menyampaikan citra diri dan partainya secara eksplisit dan jelas yang didukung oleh fakta-fakta untuk menyakinkan simpatisannya (rakyat). Berikut diberikan contoh elemen maksud yang eksplisit dan implisit.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saya bersyukur dengan kerja Panitia Angket DPR kebenaran sejati itu telah terungkap. Berdasarkan keterangan resmi lembaga negara yang berwenang termasuk Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Bank Indonesia yang disampaikan di depan sidang-sidang  Panitia Angket jelas-jelas ditegaskan bahwa tuduhan adanya penyertaan modal sementara kepada Bank Century telah disalahgunakan untuk menyokong tim kampanye pasangan Capres- cawapres tertentu nyata-nyata tidak terbukti dan memang tidak pernah ada. (par. 10)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kohesi dan koherensi adalah dua unsur yang menyebabkan sekelompok kalimat membentuk kesatuan makna (Hasan Alwi, dkk, 2008 : 41). Menurut Halliday dan Hasan (1980) dalam Sumantri Zaimar kohesi adalah suatu konsep sematik yang menampilkan hubungan makna antarunsur teks, dan menyebabkannya dapat disebut teks. Kohesi atau kepaduan wacana ialah keserasian hubungan antarunsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana, sehingga tercipta pengertian yang koheren. Kohesi mengacu pada aspek bentuk atau aspek formal bahasa, dan wacana itu terdiri dari kalimat-kalimat. Sehubungan dengan hal tersebut, Tarigan (1987:96) mengatakan bahwa kohesi atau kepaduan wacana merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan kata lain, bahwa kepaduan wacana merupakan organisasi sintaktik, wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal itu berarti pula bahwa kepaduan wacana ialah hubungan antarkalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana (hubungan yang tampak pada bentuk). Kohesi merupakan organisasi sintaksis dan merupakan wadah kalimat-kalimat yang disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan (Tarigan, 1987:96). Selanjutnya, Grawmsky (dalam Tarigan 1987:96) mengutarakan bahwa kohesi adalah hubungan antarkalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam skala gramatikal maupun dalam skala leksikal tertentu. Pernyataan itu dipertegas oleh Alwi, (1998:427) bahwa kohesi merupakan hubungan perkaitan antarproposisi yang dinyatakan secara eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan semantik dalam kalimat-kalimat yang membentuk wacana.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Selanjutnya, dalam sebuah wacana, mekanisme kohesi itu dapat dilihat dari penggunaan referensi. Referensi (pengacauan) merupakan salah satu bentuk kohesi gramatikal. Pengacuan (referensi) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu dengan mengacu pada satuan lingual lain (atau satuan acuan) yang mendahului atau mengikutinya (Sumarlam, Ed., 2003:23). Referensi dalam analisis wacana dapat berupa endofora (anafora dan katafora) dan eksofora. Endofora bersifat tekstual, referensi (acuan) ada di dalam teks, sedangkan eksofora bersifat situasional (acuan atau referensi di luar teks). Endofora terbagi atas anafora dan katafora berdasarkan posisi (distribusi) acuannya (referensinya). Anafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan terdahulu; katafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan kemudian (Dajajasudarma 1994:51). Penggunaan anafora dapat dilihat pada contoh berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pada kalimat tersebut pronominal – nya mengacu ke kata yaitu Pak Made. Contoh lain misalnya “ Siti adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Meskipun dia bukan anak yang pandai, nilainya selalu baik, karena selain rajin dan cantik, dia pandi bergaul. Teman-temannya selalu bersedia membantunya.” Pronomina persona dia (terdapat dua kali pada kalimat yang kedua) dan nya (terdapat satu kali pada kalimat yang kedua dan satu kali lagi pada kalimat yang ke tiga). Dia dan nya mengacu pada unsure yang sama, yaitu Siti.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang). Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang. Pronomina persona dapat mengacu pada diri sendiri (pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (pronomina persona ketiga). Di antara pronomina itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu; ada bentuk yang besifat eksklusif, ada yang bersifat inklusif, dan ada yang bersifat netral (Alwi 1998:249). Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel 2.5.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sumarlam, Ed. (2003:25) membagi pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) menjadi dua, yaitu pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina tempat (lokasional). Pronomina demonstratif waktu ada yang mengacu pada waktu kini (seperti kini dan sekarang ), lampau (seperti kemarin dan dulu ), akan datang (seperti besok dan yang akan datang ), dan waktu netral (seperti pagi dan siang ). Sementara itu, pronomina demonstratif tempat ada yang mengacu pada tempat atau lokasi yang dekat dengan pembicara ( sini, ini ), agak jauh dengan pembicara ( situ, itu ), jauh dengan pembicara ( sana ), dan menunjuk tempat secara eksplisit ( Surakarta, Yogyakarta ). Klasifikasi pronomina demonstratif tersebut dapat diilustrasikan dalam bentuk bagan 2.3 sebagai berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengacuan waktu (temporal) dan tempat (lokasional). Pengacuan demonstratif waktu terdiri atas waktu kini (saat ini, kini, sekarang), waktu lampau (kemarin, dulu, yang lalu), waktu yang akan datang (besok, yang akan dating), dan waktu netral (pagi, siang, sore, dsb). Adapun pengacuan tempat yaitu, dekat dengan penutur (sini, ini), agak dekat (situ, itu), jauh (sana), serta menunjuk secara eksplisit (Semarang, Kendal, dsb).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk atau wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya (Sumarlam, Ed., 2003:27). Kata-kata yang biasa digunakan untuk membandingkan misalnya seperti, bagai, bagaikan, laksana, sama dengan, tidakberbeda dengan, persis seperti , dan persis sama dengan . Berikut ini adalah contoh beberapa kalimat yang menggunakan pengacuan komparatif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(1) Pronomina, disebut juga kata ganti. Dalam bahasa Indonesia kata ganti terdiri dari kata ganti diri, kata ganti petunjuk, kata ganti empunya, kata ganti penanya, kata ganti penghubung, dan kata ganti tak tentu. Kata ganti diri, dalam bahasa Indonesia meliputi: saya, aku, kami, kita, engkau, kau, kamu, kalian, anda, dia, dan mereka. Kata ganti petunjuk , dalam bahasa Indonesia meliputi: ini, itu, sini, sana, di sini, di sana, di situ, ke sini, dan ke sana. Kata ganti penanya , dalam bahasa Indonesia meliputi: apa, siapa, dan mana. Kata ganti penghubung , dalam bahasa Indonesia yaitu yang. Kata ganti tak tentu, dalam bahasa Indonesia meliputi: siapa-siapa, masing-masing, sesuatu, seseorang, para.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(5) Leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi, misalnya pengulangan kata yang sama, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi, dan ekuivalen. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi, antara lain: (a) pengulangan kata yang sama: pemuda-pemuda; (b) sinonim: pahlawan-pejuang; (c) antonim: putra-putri; (d) hiponim: angkutan darat – kereta api, bis, mobil; (e) kolokasi : buku, koran, majalah – media massa; dan (f) ekuivalensi: belajar, mengajar, pelajar, pengajaran, sebelum, dan sesudah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sementara itu, koherensi merupakan pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta, dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dihubungkannya. Ada beberapa penanda koherensi yang digunakan dalam penelitian ini, di antaranya penambahan (aditif), rentetan (seri), keseluruhan ke sebagian, kelas ke anggota, penekanan, perbandingan (komparasi), pertentangan (kontras), hasil (simpulan), contoh (misal), kesejajaran (paralel), tempat (lokasi), dan waktu (kala). Hal itu dijelaskan sebagai berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Dengan keyakinan yang kuat bahwa krisis benar-benar terjadi, saya percaya bahwa siapapun yang berkewajiban mengambil keputusan pada saat itu pasti akan melakukan hal yang sama.   Siapa saja berkewajiban untuk memadamkan sekecil apa pun api yang dapat  jadi pemicu kebakaran yang akan melumpuhkan dunia perbankan. Dan kita tahu sekarang ini dunia perbankan bukanlah hanya milik para bankir. Dunia perbankan berkaitan erat dengan kehidupan sosial ekonomi rakyat, seperti pedagang kecil, petani, pegawai, bahkan pensiunan, penata laksana rumah tangga, dan mahasiswa. (par. 25)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bentuk kalimat merupakan elemen sintaksis yang berhubungan dengancara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Bentuk kalimat bukan hanya sekadar persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi menemukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Bentuk kalimat ini menentukan subjek diekspresikan secara eksplisit atau implisit dalam teks. Penempatan ini dapat memengaruhi makna yang timbul karena akan menunjukkan bagian mana yang lebih ditonjolkan kepada khlayak (Eriyanto, 2001: 251). Berkaitan dengan hal itu, bentuk kalimat yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah kalimat aktif- pasif dan modus kalimat, yaitu deklaratif, interogatif, dan imperatif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen kata ganti merupakan elemen memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menunjukan di mana posisi sesorang dalam wacana. Kaitannya dengan wacana teks pidato politik maka elemen kata ganti merupakan sebuah strategi para elite politik menhadirkan dirinya dalam komunikasi politik. Beberapa strategi kehadiran diri yang digunakan dan dipilih oleh elite politik dalam komunikasi adalah 1) persona jamak “kita”, 2) persona jamak “kami” dan “mereka”, 3) persona tunggal “saya” dan “dia”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Strategi penggunaan persona “kita” adalah pronomina persona jamak yang bersifat inklusif. Persona “kita” terkandung makna kehadiran “saya” dan “anda”, “penutur”dan “petutur”. Penggunaan persona “saya” lebih menonjolkan pemikiran pribadi komunikator. Penggunaan persona “kami” bersifat jamak yang mewakili orang yang berbicara. Sedangkan “mereka” bersifat jamak yang menunjuk orang ketiga (orang dibicarakan) yang sifatnya lebih dari satu (jamak). Berikut diberikan contoh penggunaan persona dalam kalimat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Leksikalisasi ( lexicalization ) merupakan istilah yang dipergunakan oleh Halliday (1978) dalam Anang (2003). Fairclough (1989) menggunakan istilah “pengataan” ( wordingi ). Pada dasarnya elemen ini merupakan pilihan seseorang dalam pemilihan kata atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Misalnya, kata “meninggal” yang memiliki banyak konotasi kata seperti “ gugur”, “mati”, “mampus” dan “wafat”. Pilihan kata tersebut harus sesuai dengan konteks situasi atau ideologi jika dikaitkan dengan komunikasi dalam konteks politik. Contoh kalimat di bawah ini menandakan pilihan leksikon yang menunjukan sikap dan ideologi tertentu. Kalimat pertama menggunakan kata “melakukan kekerasan” konotasinya lebih halus jika dibandingkan dengan kalimat kedua dan ketiga yaitu kata “membunuh” dan “membantai” mengandung konotasi makna yang negatif karena kata “membunuh” dan “membantai” memiliki nilai rasa yang rendah dan terlalu ekstrim.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pengandaian dalam bahasa Indonesia ditandai dengan adanya kata penghubung atau konjungsi yaitu jika, andaikata, asal, asalkan, jikalau, sekiranya, dan seandainya (Gorys Keraf:1991). Terdapat dua makna pengandaian di dalam bahasa Indonesia, yaitu sebagai persyaratan dan pengandaian. Pengandaian mempunyai makna syarat bagi terlaksananya apa yang tersebut pada klausa inti. Secara jelas hubungan ini ditandai dengan kata penghubung jika, apabila, kalau, asalkan, asal, manakala dan jikalau . Sebagai contoh adalah kalimat berikut ini :

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)     Kemauan untuk hidup ini akan ada jika di dalam diri seseorang ada perasaan bahwa dia dibutuhkan oleh lingkungannya. Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu klausa 1) kemauan untuk hidup ini akan ada   sebagai klausa inti , klausa 2) di dalam diri seseorang ada perasaan, klausa 3) dia dibutuhkan oleh lingkungannya. Klausa 2 (dua) dan kausa 3 (tiga) merupakan klausa bawahan yang menyatakan ‘syarat’ bagi terlaksananya apa yang tersebut pada klausa inti. Contoh pada kalimat lain adalah sebagai berikut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen grafis merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) atau ditekankan oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. (Eryanto,2000:257). Penanda elemen ini dalam suatu teks biasanya membuat ukuran huruf lebih besar, huruf dicetak tebal, menggunakan garis bawah atau penggunaan tanda petik dua. Menurut Nuryuri (2011:22), elemen grafis merupakan cara untuk melihat bagian yang ditekankan atau ditonjolkan dalam teks berita. Dalam wacana berita, grafis biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain, yaitu dengan pemakaian huruf tebal, huruf miring, pemakaian garis bawah, dan huruf yang dibuat dengan ukuran lebih besar. Bagian-bagian yang ditonjolkan ini menekankan kepada khalayak pentingnya bagian tersebut. Bagian yang dicetak berbeda adalah bagian yang dipandang penting oleh wartawan, di mana ia menginginkan khalayak menaruh perhatian lebih pada bagaian tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Metafora didefinisikan melalui dua pengertian, yaitu pengertian secara luas dan secara sempit (Kutha Ratna, 2008:181). Pengertian secara sempit, metafora adalah majas seperti metonimia, sinekdoke, hiperbola, dll. Pengertian secara luas meliputi semua bentuk kiasan, penggunaan bahasa yang dianggap ‘menyimpang’ dari bahasa baku. Menurut Wahab dalam Anang, (2012) mengatakan Metafora adalah ungkapan kebahasaan yang maknanya tidak dapat dijangkau secara langsung dari lambang yang dipakai karena makna yang dimaksud terdapat pada predikasi ungkapan kebahasaan itu. Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Beard (2000:19) dalam Anang bahwa metafora “refer to when a word or a phrase is used which establishes a comparison between one idea and another” . Pada suatu wacana, baik yang bersifat lisan atau wacana tulis komunikator/ orator politik tidak hanya menyampaikan pesan pokok, tetapi juga ungkapan, kiasan, metafora yang dimasudkan sebagai bumbu dari suatu teks. Metafora pun bisa jadi petunjuk untuk memahami makna suatu teks (Eriyanto, 2001: 259). Jadi metafora itu merupakan mendeskripsikan sesuatu dengan uraian lain yang dapat dibandingkan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Metafora predikatif jika dikaitkan dengan dunia politik akan memberikan gambaran tentang demensi ideologi dalam wacana teks pidato politik. Verba yang berfungsi sebagai metafora predikatif misalnya, dibantai, membidik, kebakaran jenggot, dll. Contoh dalam kalimat yang menggunakan metafora predikatif adalah “ Kadang-kadang mereka rela dibantai orang untuk mempertahankan idealisme yang baik”. Kata “dibantai” termasuk verba metafora predikatif. “ Menurut saya, Habibie sedang membidik Mega dan PDI Perjuangan . Kata “membidik” termasuk metafora predikatif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan pandangan di atas dapat dikatakan bahwa tematik adalah hal yang diamati dari struktur makro. Tematik merupakan makna umum dari suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik yang dikedepankan dalam suatu teks. Topik wacana ini bukan hanya isi dari suatu wacana, tetapi juga sisi tertentu yang ingin dibangun dari suatu peristiwa. Elemen tematik merujuk pada gambaran umum dari suatu teks, tematik merupakan gagasan inti dari suatu teks yang dikedepankan wartawan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang telah dikemukakan oleh Eriyanto (2001: 230)   yang menyatakan topik didukung   juga   oleh   subtopik   dan   serangkaian   fakta   yang   menunjuk   dan menggambarkan subtopik (Eriyanto, 2001: 230).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Idiologi yang digunakan dalam AWK sedikit berbeda dari pengertian yang biasa digunakan dalam banyak hal, terutama di bidang politik. Seperti yang dikemukakan oleh Fairclough (dalam Purwo, Ed., 2000), idiologi diinterpretasikan sebagai suatu kebijakan masyarakat yang sebagian atau seluruhnya berasal dari teori sosial secara sadar. Dalam AWK, idiologi tidak hanya terbatas pada pengertian politis, tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas lagi. Sejak dahulu, misalnya, rakyat Indonesia telah mengenal hidup bergotong royong. Mereka mengenalnya sebelum secara resmi gotong royong itu diangkat menjadi salah satu sila dalam Pancasila. Pengertian yang semacam itulah yang disebut dengan idiologi AWK oleh Fairclough (dalam Purwo, Ed., 2000).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Ada tiga dimensi atau tahap AWK yang dipaparkan oleh Kartomihardjo (dalam Purwo, Ed., 2000:116). Dimensi AWK tersebut di antaranya adalah deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Deskripsi adalah hal-hal yang menyangkut properti formal dari suatu teks; interpretasi adalah hal-hal yang menyangkut hubungan antara teks dan interaksi dengan melihat teks sebagai hasil dari suatu proses produksi dan sebagai sumber dalam proses interpretasi; sedangkan eksplanasi adalah hal-hal yang menyangkut hubungan antara interaksi dan konteks sosial. Perlu diingat bahwa setiap dimensi itu, analisis terhadap wacana akan berubah. Pada tahap deskripsi yang dilakukan adalah melihat bagaimana teks disusun menurut kosakatanya, tata bahasanya, dan struktur tekstualnya. Pada tahap interpretasi, teks dianalisis sebagai suatu hasil dari proses produksi. Sementara itu, pada tahap eksplanasi, teks dianalisis sebagai suatu interaksi yang dikaitkan dengan konteks sosialnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teks adalah sesuatu pilihan semantik (semantic choice ) data konteks sosial, yaitu suatu cara pengungkapan makna melalui bahasa lisan atau tulis (Halliday, 1978 dalamYoce. 2009: 189). Teks merupakan sesuatu yang dimaknai dan dikatakan oleh masyarakat dalam situasi yang nyata dan aktual. Teks bisa dalam wujud tulisan/grafis seperti artikel, opini maupun karya sastra dan juga ada teks dalam wujud lisan/ucapan seperti wawancara, obrolan, dan pidato. Kajian teks lebih menekankan pada persoalan materialitis, bentuk, dan struktur bahasa (Anang Santoso.2012:121). Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, melainkan semua jenis ekspresi komunikasi yang ada di dalamnya (Arifin. 11).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tetang suatu hal. (Putra Bahar, 2013:9). Dengan kata lain pidato merupakan penyampaian gagasan, pikiran atau informasi serta tujuan dari pembicara kepada orang lain ( audience) dengan cara lisan baik yang menggunakan teks atau tanpa teks. Pidato merupakan seni memengaruhi orang lain sehingga apa yang disampaikan bisa dipahami dan mau menerima yang disampaikan oleh pembicara. Berkenaan dengan konsep tersebut maka sering berpidato merupakan the art of persuasion . Kemampuan berpidato yang baik harus ditopang oleh ilmu retorika dan kemampuan memberikan energi kekuatan bahasa yang maksimal dan sistematis karena tatanan bahasa yang disusun secara sistematis dan luwes akan memenentukan keberhasilan dalam berpidato.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Politik pada negara demokrasi tidak begitu asing, karena segala sesuatu yang dilakukan atas dasar kepentingan kelompok atau kekuasaan sering kali diberikan label politik. Mutasi pegawai atau pergeseran pejabat di kalangan birokrasi selalu dikaitkan dengan isu politik bahkan konflik yang terjadi baik bersifat horizontal maupun vertikal sering dikaitkan dengan ranah politik. Jadi politik begitu luas jangkauan wilayahnya. Politik dapat mencakup banyak kegiatan, mulai dari (1) proses pembuatan kebijakan nasional (politik pemerintah), (2) kesetaraan gender (politik seksual), (3) persaingan dalam kelompok seperti kelompok partai-partai yang ada.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kaspar Bluntschli mengatakan bahwa “ politics is the science which concerned with the state, which endeavors to understand and comprehend the state in its conditions, in its essential nature, its various forms of manifestation, its development.” Harol D. Lasswell lebih tegas merumuskan politik sebagai ilmu tentang kekuasaan “ when we speak of the science of politics, we mean the science of power.” (Hafied Cangara. 2011:23). Berdasarkan pandangan tersebut maka politik mengandung sejumlah konsep kenegaraan, yakni dalam politik ada kekuasaan ( power ), ada pengambilan keputusan ( decision making ), dan ada kebijakan ( policy ). Politik dalam kontek penelitian ini lebih mengarah pada perebutan kekuasaan ( power ) dengan memengaruhi lewat energi kekuatan bahasa. Jadi politik adalah perjuangan untuk memeroleh kekuasaan, menjalankan kekuasaan, mengontrol kekuasaan, serta bagaimana menggunakan kekuasaan (Hafied Cangara. 2011:26). Pidato-pidato politik seorang politikus kadang-kadang kata tertentu digunakan secara berulang-ulang dan menjadi kata kunci, seluruhnya merupakan lambang-lambang pembicara (Virginia M H: 56-67). Mengingat hal tersebut maka bahasa dan politik selalu berkaitan, oleh karena itu bahasa dapat dilihat sebagai salah satu ruang ( space ) tempat konflik-konflik berbagai kepentingan, kekuatan, kuasa, proses hegemoni dan hegemoni tandingan ( counter hegemony ) terjadi (A.S. Hikam.1996:77).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Terkait dengan penelitian yang berjudul “ Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahaan Susilo Bambang Yudhoyono.” Terdapat dua penelitian sejenis sehubungan dengan judul penelitian ini yaitu, (1) “ Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro)” dan “Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menegah Kecamatan Rendang Tahun 2011”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian Trisna Des Ryantini mengbedah masalah strukur mikro wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post terdiri atas (1) pola pengambangan paragraf deduktif dan induktif yang tergolang sederhana; (2) peranti kohesif gramatikal dan leksikal; (3) penanda koherensi; dan (4) penekanan pada penggunaan kata, frasa, dan kalimat. Pola pengembangan paragraf yang paling banyak digunakan adalah pola pengembangan paragraf deduktif. Selanjutnya, peranti kohesif gramatikal yang digunakan adalah referensi, elipsis, dan konjungsi. Pola pengacuan yang digunakan terdiri atas pola pengacuan endofora (anafora dan katafora) dan eksofora. Selanjutnya, konjungsi yang digunakan dalam wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post memiliki makna, yaitu makna kausal, pertentangan, perkecualian, konsesif, tujuan, adiktif, pilihan, urutan, perlawanan, waktu, dan syarat. Peranti kohesif leksikal yang digunakan adalah repetisi, antonimi, hiponimi, dan ekuivalensi. Selanjutnya, penanda koherensi yang digunakan adalah adiktif, rentetan (seri), ke seluruhan ke bagian, penekanan, perbandingan, pertentangan, simpulan, contoh, tempat, dan waktu. Pada wacana ini penulis menekankan pada penggunaan kata, frasa, dan kalimat. Wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post tergolong wacana yang apik. Keapikan wacana ini dapat dilihat pada hubungan antarkata, frasa, klausa, kalimat dan antarparagraf dalam wacana ini. Hal ini sangat membantu pembaca dalam menerima dan memahami pesan yang disampaikan penulis dalam wacana tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur makro pada wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali terdiri atas pengungkapan kekuasaan dan ideologi. Kekuasaan yang diungkapkan dalam wacana ini menunjukkan adanya pendominasian kelompok atau individu. Pendominasian yang diungkapkan lebih banyak menunjukkan bentuk pendominasian kelompok atau individu karena mampu memberikan imbalan kepada orang yang didominasi. Dalam hal ini, penulis lebih banyak mengungkapkan bahwa bandar togel adalah kelompok yang mampu mendominasi penulis (masyarakat) dan aparat penegak hukum. Pendominasian itulah yang menyebabkan judi togel sulit diberantas sampai tuntas karena bandar togel kelas kakap sulit dilacak keberadaannya. Selanjutnya, temuan dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa penulis juga berupaya memengaruhi masyarakat (pembaca) agar ikut memberantas togel dengan berbagai argumen, yaitu argumen agama, adat, sosial budaya dan prosedur hukum. Dalam hal ini, argumen yang lebih banyak digunakan adalah argumen agama Hindu dan prosedur hukum. Hal itu menunjukkan bahwa ideologi yang dianut penulis adalah ideologi agama Hindu dan hukum. Ideologi tersebut dimanfaatkan penulis untuk memengaruhi masyarakat Bali agar menolak keberadaan judi togel yang semakin marak di Bali.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Trisna Des Ryantini adalah 1) metode analisis yang digunakan sama yaitu analisis deskrpitif kualitatif dengan pendekatan AWK dengan pendekatan kritis, model Teun Van Dijk. 2) metode pengumpulan data yang dipakai sama yaitu metode dokumentasi. Sedangkan dari segi perbedaan dengan penelitian ini adalah dari segi sumber datanya yaitu penelitian Des Ryantini sumber datanya opini tentang togel pada harian Bali Post sedangkan penelitian ini sumber datanya adalah teks pidato politik ketua umum partai oposisi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan ruang lingkup kajian penelitian ini lebih luas yaitu mencakup struktur supra, mikro, dan makro, sedangkan penelitian Des Ryantini hanya menganalisis kajian makro dan mikro. Jadi penelitian dengan judul “ Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahaan Susilo Bambang Yudhoyono ” merupakan penelitian yang belum pernah diteliti oleh peneliti lain

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur mikronya terdiri atas (1) latar, (2) pengandaian, (3)rincian, (4) bentuk kalimat pasif dan aktif, (5)penanda kohesif dan koherensi, (6) pemakaian kata ganti, (7) pemakaian grafis, dan (8) metafora. Hasil penelitian dari struktur mikro bahwa penggunaan kalimat aktif lebih banyak digunakan dibandingkan dengan kalimat pasif. peranti kohesif gramatikal yang digunakan adalah referensi dan konjungsi. Pola referensi yang digunakan berupa pola pengacuan endofora (anafora dan katafora) dan eksofora.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persamaan penelitian Numertayasa dengan penelitian ini, yaitu (1) metode analisis yang digunakan sama yaitu analisis deskrpitif kualitatif dengan pendekatan AWK dengan pendekatan kritis, model Teun Van Dijk; (2) metode pengumpulan data yang dipakai sama yaitu metode dokumentasi. Perbedaannya, penelitian Numertayasa menganalisis wacana esai anak sekolah menengah sebagai sumber data penelitiannya, sedangkan penelitian ini menganalisis wacana teks pidato politik partai oposisi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Hal ini jelas akan menghasilkan perbedaan kemampuan penggunaan bahasa yang terdapat dalam wacana masing-masing, baik ketajaman bahasa maupun kekritisan bahasa yang digunakannya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis teks, khususnya analisis wacan ktitis. Pendekatan utama dalam analisis wacana kritis adalah analisis bahasa kritis ( critical linguistik ). Analisis ini memusatkan analisis wacana pada bahasa dan menghubungkannya dengan ideologi. Inti dari gagasan critical linguistik adalah mellihat bagaimana supra struktur, mokro, dan mikro membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Dengan kata lain, aspek ideologi diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini akan mengkaji wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi. Hal itu dilakukan untuk mengetahui struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro dari wacana teks pidato politik ketua partai oposisi, maksudnya partai yang berada di luar pemerintah. Untuk mengetahui ketiga elemen tersebut peneliti menggunakan peranti struktur makro yaitu topik/tema dari pidato, superstruktur yakni skematiknya, dan struktur mikro. Struktur makro mengkaji ideologi dan kekuasaan penulis untuk mendominasi pembaca/pendengar agar pandangannya diterima. Kajian terhadap struktur mikro mencakup pola pengembangan paragraf, penggunaan peranti leksikal dan gramatikal, pilihan kata atau stilistika dari kata sampai kalimatnya dan pola hubungan antarunsur berupa rujukan yang digunakan penulis dalam membentuk wacana kohesif dan keheren, sedangkan kajian suprastruktur mencakup skematiknya yakni pendahuluan, isi, dan penutup dalam pidato politik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang berusaha menggambarkan sesuatu dengan menggunakan kata-kata (Arikunto, 1998:116). Analisis isi kualitatif maksudnya adalah suatu metode yang biasa digunakan untuk memahami pesan simbolik dari suatu wacana atau teks pidato ketua partai oposisi. Pesan simbolik tersebut dapat berupa tema/ ide pokok sebagai isi utama dan konteks wacana sebagai isi laten atau yang tersembunyi. Pesan-pesan simbolik meliputi aspek sosial, politik, dan ideologi yang terdapat pada teks pidato politik. Sedangkan pesan berdasrkan konteks meliputi aspek historis, sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang memengaruhi terbentuknya wacana tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sumber data primer dalam penelitian ini adalah pidato ketua umum partai oposisi dari Partai Demokkrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang diketuai oleh Megawati Soekarnoputri (MS). Data primer adalah merupakan data yang utama untuk menjawab permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini. Kebenaran data primer sangat ditentukan oleh teks tersebut. Teks pidato politik yang digunakankan dalam penelitian ini adalah teks pidato dari partai yang beroposisi dengan pemerintah (dalam konteks ini adalah pemerintahan yang dipimpin oleh Susilo Bangbang Yudoyono (SBY) dari partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu tahun 2009 (teks pidato terlampir). Objek penelitian dalam penelitian ini adalah struktur makro, struktur mikro, dan superstruktur/struktur supra.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting dan strategis dalam suatu penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mencari data seakurat mungkin. Peneliti dalam hal ini sangat perlu mengerti teknik pengumpulan data itu. Adapun teknik yang digunakan peneliti menjaring data dalam penelitian ini adalah dengan teknik dokumentasi. Secara spesifik data dalam penelitian ini meliputi superstruktur, struktur mikro, dan struktur makro. Menurut Sugiyono (2006:270), dokumen merupakan catatan peritiwa yang sudah berlalu, lebih lanjut dinyatakan bahwa dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental. Pada teknik ini, peneliti mengumpulkan data dengan mengambil naskah-naskah pidato politik ketua partai oposisi dari pemerintah yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Selanjutnya data itu dianalisis menggunakan teori analisis wacana Van Dijk.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan peneliti adalah (1) peneliti sendiri dan (2) pedoman dokumentasi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sugiyono (2006:250) bahwa dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Hal ini dipertegas oleh Moleong (2007:9) bahwa salah satu ciri penelitian kualitatif adalah manusia sebagai alat atau instrumen. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuan dalam penelitian itu. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh manusia.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian kualitatif menghendaki pula keterandalan ( reliability ) dan validitas kesahihan (validity) sama halnya dengan penelitian kuantitatif. Kirk dan Miller. 1987 (dalam Badara. 2012: 73) mengemukakan bahwa yang penting di dalam penelitian kualitatif ialah checking the reliability , yaitu kekuatan data yang dapat menggambarkan keaslian dan kesederhanaan yang nyata dari setiap informasi, sedangkan checking the validity yakni dengan evaluasi awal dari kegiatan penelitian yang penuh perhatian terhadap masalah penelitian dan alat yang digunakan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pemeriksaan keabsahan data penelitian ini dilakukan dengan membaca, mengecek, dan mengintensifkan analisis data. Pengecekan data dapat dilakukan dengan triangulasi data, yaitu triangulasi data, peneliti, metode, dan teori. Tahap ini sangat diperlukan pihak lain atau teman sejawat untuk menghindari multi tafsir terhadap data yang sudah diperoleh. Di samping itu hasil analisis data juga dikonfirmasikan ( comfirmability ) dengan pakar ilmu bahasa (dosen pembimbing) dan teman sejawat (triangulasi sumber) antara lain masyarakat akademik. Yang terpenting dalam hal ini dan yang sangat berkompeten dengan penelitian ini adalah dosen pembimbing tesis ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal. Sugiyono mengatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam katagori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting sehingga mudah dipelajari oleh diri sendiri maupun orang lain.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Analisis ini dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data pada periode tertentu. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Secara keseluruhan metode kualitatif memanfaatkan cara-cara atau mendeskripsikan fakta yang ada dalam data. Data yang dianalisis dari tatanan kata, kalimat, paragraf, wacana bahkan penafsiran makna yang tersembunyi dari data yang ada dalam tek wacana pidato yang berjudul ” Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan” dan ” Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bab ini menyajikan hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, dan implikasi penelitian. Hasil penelitian ini menguraikan tentang struktur Supra, struktur mikro, dan struktur makro yang membangun wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Teks pidato politik yang dipakai sebagai sumber data dalam penelitian ini adalah pidato politiknya Megawati Soekarnoputri (M.S.) yang berjudul yang pertama “Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan” dan pidato yang kedua berjudul “ Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan.” Hasil penelitian ini kemudian dibahas pada bagian pembahasan berdasarkan teori analisis wacana kritis yang digunakan untuk membahas hasil penelitian ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Data penelitian yang terkait dengan struktur supra didapatkan dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yaitu teks pidato Megawati Soekarnoputri (M.S.) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Jumlah teks pidato politik yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini sebanyak dua teks pidato politik yaitu 1) pidato politik Megawati Soekarnoputri (M.S.) pada saat pembukaan kongres III PDI Perjuangan di Bali, April 2010 dan 2) teks pidato politik ketua umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP tahun 2011. Peneliti menggunakan dua teks pidato sebagai data penelitian ini karena dari sekian banyak teks pidato politik yang disampaikan M.S. selaku ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya dua teks pidato ini yang menonjolkan bahasa-bahasa politik yang kental dan banyak berbicara tentang   koalisi dan oposisi partai di parlemen. Di samping itu, juga karena keterbatasan waktu dan dana maka peneliti hanya menggunakan dua teks pidato sebagai data penelitian ini. Pidato yang digunakan sebagai data adalah pidato yang memuat topik dan isu-isu politik dan kepartaian. Bagian struktur supra data ini akan dianalisis skematik atau alur dari pendahuluan, isi, kesimpulan, dan penutup dari sebuah pidato. Penganalisisan struktur supra teks pidato ini peneliti menggunakan struktur teks atau kerangka pidato politik sebagai landasan analisis struktur supra teks tersebut. Kerangka pidato politik sebagai acuan menganalisis struktu supra teks tersebut maka penulis gambarkan seperti di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan pada tabel 4.1 di atas ditemukan bahwa struktur supra wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang disampaikan oleh M.S. selaku ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dibangun berdasarkan alur atau skematika, yaitu : (1) pendahuluan, (2) isi, dan (3) penutup. Berdasarkan analisis data 1, pidato politik M.S. yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan yang tersebut pada tabel di atas bahwa bagian yang mendukung pendahuluan teks ditemukan ada 7 paragraf, yakni 13,2 %, bagian yang mendukung isi pada teks pidato ditemukan sebanyak 38 paragraf, yaitu 71,6 %, dan bagian penutup/kesimpulan ditemukan sebanyak 8 paragraf, yaitu 15,0%. Dari analisis data 1 pada tabel di atas ternyata struktur supra yang paling banyak ada pada isi yang disertai pembahasan pidato, yaitu 71,6%. Hal ini sesuai dengan teori Putra Bahar (2013) bahwa isi dan pambahasan pidato merupakan kesatuan yang berisi alasan-alasan yang mendukung hal-hal yang dikemukakan pada bagian isi. Uraian data pada tabel 4.1 kutipan paragrafnya akan diuraiakan secara jelas pada tabel 4.2 di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berisi pentingnya pidato ini disampaikan karena saat ini PDIP dihadapkan pada ujian berupa pilihan yaitu koalisi dan oposisi. Hal ini bisa dilihat kutipan paragraf, yaitu “ Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik.”K utipan paragraf ke-7 ini mengakhiri bagian pendahuluan dan selanjutnya orator memulai dengan paragraf isi pada paragraf ke-8 dengan kalimat “ Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen….”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana teks pidato politik pembukaan kongres III Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang disampaikan oleh ketua umumnya Megawati Soekarnoputri (M.S.) di atas merupakan teks pidato politik yang memosisikan partainya sebagai partai oposisi pemerintah. Berdasarkan analisis struktur supranya, yakni skematika atau alur dari teks pidato politik yang digunakan oleh Megawati Soekarnoputri (M.S.) selaku ketua umum partai, M.S. mengawali pidatonya dengan menyampaikan salam agama, salam nasional, harapan, tujuan, gagasan-gagasan, pentingnya diadakan kongres dan memekikan salam kemerdekaan. Penyampaian salam itu merupakan strategi orator M.S. untuk menarik perhatian pendengar menuju ke paparan isi pidato. Di samping itu, penyampaian salam agama Islam, Hindu, dan Kristen secara implisit menunjukkan bahwa seorang orator politik (M.S.) ingin menunjukkan bahwa Megawati Soekarnoputri (M.S.) seorang yang solidaritas, nasionalisme dan menghargai kebhinekaan atau perbedaan terutama dalam hal agama. Kesan ini akan membawa dampak pada pendengar ( audience ) dalam menerima isi pidato selanjutnya. Pekikan kemerdekaan menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dan semangat kader partai sebagai gelora semangat. Selanjutnya dengan mengucapkan salam hormat kepada peserta kongres sebagai bentuk penghormatan dan bentuk kedekatan orator kepada pendengar. Pengucapan salam di awal pidato M.S. memberikan kesan yang santun sebagai pencitraan awal dari M.S. sebagai tokoh partai.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pendahuluan teks pidato di atas terdapat pada paragraf ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dan paragraf 7 seperti yang diuraikan padaa tabel 4.1 di atas. Paragraf ke-1 menyatakan hal-hal yang berkaitan aspek keagamaan ( religious ) untuk menunjukkan jati diri partai bahwa agama merupakan hal yang mendasar dalam sebuah partai dan menggugah pendengar ( audience ) untuk mengingat torehan sejarah Partai Perjuangan Indonesia Perjuangan (PDIP) yang pernah terjadi di Bali. Pendahuluan pidato M.S. mengajak pendengarnya menggelorakan semangat dengan mengenang masa lalu PDIP yang pernah diinjak-injak oleh penguasa. M.S. mengawali pidato politiknya menggunakan latar historis untuk menyentuh pendengarnya dengan mengingatkan luka lama apa yang pernah dialami PDIP di Bali. Bentuk komunikasi ini sebagai bentuk pencitraan untuk mencari simpati dari pendengar ( audience ), seperti kutipan pidatonya “ yang telah menjaga dan mengantarkan kita kembali ke Bali, tempat dimana kesejarahan PDI Perjuangan ditoreh, dan sekaligus tempat dimana spirit ‘merah’ tetap terjaga. (paragraf 1)” Di samping penggunaan frasa “spirit merah” sebagai pendahuluan pidato merupakan adagium politik yang mengawali kata yang menyentuh rasa pendengar ( audience ).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Kongres PDI Perjuangan III ini diselimuti oleh rasa bela sungkawa mendalam dimana dua tokoh bangsa telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa: yaitu bapak K.H. Abdur Rahman Wahid yang akrab disapa oleh mereka, Gus Dur serta yaitu seorang kader nasionalis yang hidup di tiga zaman yaitu Bapak Frans Seda. 2)Beberapa waktu lalu kita juga kehilangan seorang tokoh PDI Perjuangan yaitu Bapak Subagyo Anam yang hingga akhir hayat terus memberikan sumbangsih bagi Partai. 3)Saya mengajak warga kita semua untuk mendoakan, dan lebih lagi meneladani pikiran dan tindakan mereka dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. (paragraf 2)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-2 ini tidak sekadar ucapan bela sungkawa tetapi lebih menekankan untuk mengajak pendengar   untuk menghormati tokoh nasionalis dan membangkitkan rasa nasionalis lewat PDIP sebagai partai nasionalis. Paragraf ini khusus menyampaikan rasa bela sungkawa kepada yang berjasa kepada PDIP untuk mebangkitkan semangat keteladanannya. Bagian ini merupakan ajakan kepada pendengar. Paragraf 2 merupakan bagian dari pendahuluan tetapi modus kalimatnya menggunakan modus imperatif berupa ajakan untuk bisa meneladani ketokohan PDIP, yaitu Subagyo Anam.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“1)Saudara-saudara utusan peserta Kongres III, Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. 2) Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka. 3)Mengapa hal ini saya katakan Saudara-saudara? 4)Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. 5) Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada suatu kekelaman sejarah bagi suatu   bangsa.                 ( paragraf 4)”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-4 di atas mengungkapkan latar pentingnya diadakan sebuah kongres, jawabannya tersurat dalam paragraf di atas. Latar dari pidato pembukaan kongres III PDIP terdapat pada kalimat ke-2 paragraf 4 “ Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka.” Kalimat ini merupakan latar diadakannya kongres sebagai bentuk suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam memperjungkan rakyat sesuai tema yang diusung dalam kongres ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bagian isi teks pidato yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan terdapat pada paragraf 8 s.d. paragraf 45. Isi pidato politik M.S. pada intinya penataan kembali PDIP lewat pengaderan atau kaderisasi pemimpin partai atau pemimpin bangsa yang dilandasi aturan partai yaitu AD/ART partai. Inti isi pidato politik M.S. penyelenggaraan kongres partai untuk pengaderan pemimpin dengan penekankan pada ideologi partai, yaitu mengangkat harkat-martabat rakyat serta berjuang untuk kepentingan rakyat dan bukan hanya sekadar bagi-bagi kekuasaan. Secara tersamar/tersembunyi M.S. mengungkapkan bahwa PDIP melakukan regenerasi kepemimpinan bukan tidak ada regenerasi. Hal ini diungkapkan secara implisit untuk menjawab keragu-raguan dan kecurigaan rakyat terhadap PDIP, mengapa PDIP tidak pernah melaksanakan regenerasi kepemimpinan. Jawaban itu terungkap pada kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. 2)Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. 2)Cobalah tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh. 3) Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. 4)Merekalah yang telah siap menyatakan diri memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tetapi  juga  menjadi pemimpin bangsa yang di masa datang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.  5)Saudara-saudara. Melihat semua ini saya sering merenung dan berkata pada diri saya sambil menertawakan diri saya; “Bagaimana Saya bisa belajar pada suatu partai yang dalam waktu begitu cepat bisa naik sampai 300%. (paragraf 20)”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. 2)Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi . 3)Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. 4)Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka. (paragraf 7)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf 7 dan 17 menekankan bahwa partai PDIP lebih berorientasi pada ideologi partai yaitu menyejahterakan rakyat (wong cilik) dan bukan hanya bagi-bagi kekuasaan. Penggunaan kalimat-kalimat yang selalu menggunakan kata-kata rakyat dan wong cilik sebagai ikon dan ideologi politik partai merupakan strategi komunikasi M.S. dengan rakyat sebagai pendengar untuk menanamkan simpatinya. Strategi komunikasi yang dibangun PDIP lewat pidato politiknya selalu keberpihakan pada rakyat kecil (wong cilik).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-46, ke-47, ke-48, ke-50, ke-51, ke52, dan ke-53 merupakan paragraf kesimpulan/penutup yang berisi ucapan terima kasih kepada seluruh elemen tokoh PDIP, panitia kongres, dan aparat keamanan. Kata terima kasih selalu muncul pada paragraf ke-46, ke-47, ke-ke-48, dan ke-51 sebagai paragraf penutup pidato M.S.. Penyampaian kata-kata terima kasih pada akhir pidatonya merupakan hal yang bersifat umum setiap mengakhiri pidato, baik pidato politik maupun pidato di luar konteks politik. Untuk lebih jelasnya lihat uraian tabel di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 52 pidato M.S. mengungkap tiga pilar kebangsaan sebagai bentuk bahwa PDIP memandang pilar kebangsaan yang harus diimplementasikan dan dijaga selalu. Kutipan paragraf 52 mengungkapkan tema/topik dalam kongres III PDIP. Tema/topik pidato ditempatkan pada akhir pidato dengan tujuan memberikan kesan secara emosional kepada pendengar agar merasakan keberpihakan PDIP kepada rakyat kecil. “ Berjuang untuk Kesejahtraan Rakyat” , tema ini dimaknai sebagai bentuk perjuangan PDIP kepada wong cilik. Terakhir sebagai salam penutup pidatonya M.S. menyampaikan salam agama seperti mengawali pidatonya. Penutup pidatonya M.S. dengan menekankan pilar-pilar kebangsaan dan kesejahtraan rakyat sehingga memberikan kesan yang lebih kepada pendengar bahwa PDIP bekerja untuk rakyat. M.S. memilih menyampaikan hal ini pada penutup pidatonya karena kata-kata terakhir akan memberikan kesan dan energi makna yang lebih pada pendengar. Strategi komunikasi politik yang dipakai M.S. dalam akhir pidatonya memberikan kesan adem dan membela rakyat, hal ini dapat dilihat dari strategi komunikasi M.S. dengan menyampaikan tema di akhir pidatonya dengan memilih tema menyentuh langsung pada rakyat “ Berjuang untuk Kesejahtraan Rakyat”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Data penelitian tentang struktur mikro diperoleh dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi dari M.S. selaku ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). PDIP merupakan satu-satunya partai oposisi pada zaman pemerintahan SBY. Jumlah wacana teks pidato politik yang digunakan data penelitian ini sebanyak dua naskah pidato politik. Kedua teks pidato tersebut disampaikan oleh Megawati Soekarnoputri (M.S.). Kedua data dalam penelitian ini dianalisis secara terpisah menggunakan acuan instrumen penelitian yang ada, yaitu struktur supra, struktur mikro dan struktur makro. Data dari naskah pidato yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres PDI Perjuangan dianalisis dari struktur mikro. Wacana Teks pidato tersebut dikontruksi dan dianalisis dari empat elemen, yaitu : elemen semantik, sintaksis, stilistika, dan elemen retorika. Keempat elemen tersebut dipakai instrumen menganalisis data tersebut. Hasil penelitian dari analisis data itu selengkapnya diuraikan dalam tabel berikut ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan tabel 4.6 di atas, elemen semantik dalam teks pidato politik M.S. pada saat pembukaan kongres III PDIP dapat diuraikan sebagai berikut. Elemen latar pada teks tersebut ditemukan sebanyak 7 paragraf, yakni 13,2%, elemen detail ditemukan 5 paragraf, yakni 9,4%, elemen maksud ditemukan 5 paragraf, yakni 9,4%, dan elemen praanggapan ditemukan 9 paragraf, yakni 16,9%. Dari data pada tabel di atas   elemen yang paling banyak digunakan untuk membangun teks itu elemen pra-anggapan, yaitu sebanyak 9 paragraf dari 53 paragraf yang ada atau sebanyak 16,9%. Elemen latar berjumlah 7 paragraf (13,2%) dan elemen detail serta elemen maksud masing-masing hanya 5 paragraf (9,4%). Selanjutnya keempat elemen semantik itu akan diuraikan secara terpisah di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan peserta Kongres III, Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. 2) Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka . 3)Mengapa hal ini saya katakan Saudara-saudara? 4) Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. 5) Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada suatu kekelaman sejarah bagi suatua bangsa.(paraagraf 4)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 4 memiliki elemen latar sebagai landasan diadakannya kongres III partai PDIP. Latar diadakan kongres partai PDIP terdapat pada kalimat ke-2 dan ke-4 pada paragraf ke-4. Mengapa PDIP mengadakan kongres? Jawaban ini memunculkan jawaban latar yaitu “bukan sekadar memenuhi rutinitas lima tahunan dan juga tidak hanya sekadar memilih pengurus partai melainkan karena oleh ingar bingar politik nasional dan sejarah kekelaman bangsa dengan tujuan untuk menyalakan suluh perjuangan partai.” Berikut disajikan kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, atau sejumlah menteri, ataupun juga sampai melangkah ke istana merdeka, saudara-saudara. 2 )Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan . 3)Saya ingin tegaskan bahwa dalam dialektika dengan rakyat tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. 4)Saya berkeyakinan, dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan kembali puncak keemasannya. 5)Karenanya, karenanya saudara-saudara sebagai kader, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat, saudara-saudara. (paragraf 8)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-8 kalimat ke-2 yaitu “ Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan.” Kalimat tersebut lebih menekankan elemen latar sejarah (historis) berdirinya partai PDIP. Ideologi partai sudah terungkap lewat elemen latar pidato yang disampaikan oleh seorang pemimpin partai. Ideologi Partai Perjuangan Indonesia Perjuangan (PDIP), yaitu mengangkat harkat dan martabat wong cilik (rakyat kecil) sebagai latar belakang dan tujuan lahirnya PDIP. Pidatonya memilih elemen latar historis dan wong cilik memiliki kaitan historis dengan pendiri bangsa ini dan sekaligus sebagai ideologi partai. Elemen latar yang lain terdapat pada paragraf ke-21 seperti yang terungkap pada paragraf berikut ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Saya ingin belajar kiatnya karena PDI Perjuangan juga berkeinginan seperti itu saudara-saudara. 2)PDI Perjuangan juga dihadapkan pada rendahnya disiplin warga partai sebagai salah satu tulang punggung tegaknya partai ideologis. 3)Kita dihadapkan pada kemerosotan militansi anggota. Voluntarisme dan aktivisme memudar sebagai elan berpolitik digantikan dengan pertimbangan “untung-rugi”. 4)Ditinggalkannya TPS oleh saksi Partai pada pemilu legislatif dan pilpres adalah suatu contoh kecil, saudara-saudara. ( paragraf 21)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-21 di atas mengungkap latar mengapa partai PDIP mengalami kemerosotan sedangkan partai yang baru berdiri bisa menjadi pemenang, itu diungkap dalam latar karena kurang disiplin warga partai, kemerosotan militansi anggota dan lebih mempertimbangkan untung rugi dari sisi finansial. Hal lain juga terungkap di paragraf ke-24 kemerosotan lebih dilatar belakangi oleh sistem demokrasi yang bersifat manipulatif seperti dalam kalimat berikut “… kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif .”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. 2)Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. 3)Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. 4)Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. 5)Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia. (paragraf 24)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Jadi inti kongres III bukan untuk kalender lima tahun atau sekadar memilih pemimpin / pengurus partai tetapi menjadi partai pengontrol pemerintahan yang akhir-akhir ini menunjukan karakter yang jauh dari nilai-nilai pancasila sebagai contoh terungkap pada paragraf ke-40 kalimat pertama. Hal ini tertulis pada kalimat pertama paragraf ke-39 “ Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa?” dan paragaraf ke -40 kalimat pertama “ Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century .”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen detail dalam wacana berhubungan dengan kontrol informasi yang disampaikan penulis teks pidato atau orator politik dalam teks pidatonya. Komunikator (orator politik) dalam membangun komunikasi politik, akan menampilkan secara berlebihan informasi yang menguntungkan bagi pembicara atau partai demi pencitraan partai dan dirinya. Sebaliknya orator akan menampilkan informasi yang serba sedikit, kurang lengkap dan bahkan tersamar atau tersembunyi ( latent ) jika merugikan dirinya atau partai yang diwakilinya. Detail merupakan bagian dari strategi komunikasi, bagaimana seorang orator politik mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Detail ini akan menyikap makna yang tersembunyi ( latent ) yang ingin diungkapkan oleh seorang orator politik. Detail pada teks pidato yang berjudul “ Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan ” terdapat pada kutipam paragraf ke-7, ke-9, ke-34, ke-39, dan ke- 40 dan diuraikan sebagai berikut ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. 2)Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. 3)Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. 4)Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka. (paragraf 7)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 7 menguraikan secara mendetail bahwa PDIP dihadapkan pada suatu ujian sejarah berupa pilihan opsi “koalisi atau oposisi”. Kalimat detailnya dijelaskan pada kalimat ke-2, ke-3, dank e-4. Kalimat ke-2, ke-3 dan ke-4 merupakan kontrol informasi yang ingin disampaikan untuk menguntungkan PDIP. Pernyataan itu terungkap dengan jelas bahwa partai PDIP bukan tujuan membagi kekuasaan lewat koalisi tetapi yang lebih penting bagaimana merealisasikan ideologi partai yang membela wong cilik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Detail pada paragraf ke-7 tersebut diuraikan begitu menonjol karena lebih menguntungkan PDIP, orator sebagai penguasa PDIP, dan juga partai itu sendiri. M.S. menggunakan lebih banyak strategi pencitraan dalam teks pidatonya dan memilih kata keberpihakan pada rakyat dan wong cilik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 9 kalimat 1 diuraikan tanpa detail seperti diagram di atas dan elemen detailnya diuraikan pada kalimat ke-2. Kontrol informasi yang menguntungkan pembicara/orator dalam teks pidato politik M.S. terlihat jelas pada detail kalimat penjelasnya yang diuraikan secara jelas bahwa PDIP tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan jika kekuasaan itu tidak berpihak pada wong cilik. Di balik makna kalimat itu secara tersamar bahwa PDIP sekarang tidak memegang tampuk kekuasaan tetapi tidak mau berkoalisi dengan partai penguasa yang dipegang oleh partai lain.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara yang saya cintai. 2) Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. 3)Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. 4) Mengapa? 5) Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. 6) Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. 7) Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. 8) Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-34 menguraikan elemen detailnya dengan memberikan penjelasan menggunakan uraian secara metafora perbandingan bahwa bangsa akan menjadi rapuh dan mudah terobang ambing dalam segala hal tanpa fondasi ideologi yang kuat, dalam konteks ini PDIP jelas ingin menancapkan fondasi ideologi partainya secara kuat. Metafora analogi yang digunakan orator jelas dan mudah untuk dicerna maksudnya. Strategi yang dibangun dalam konteks di atas jelas ingin menyampaikan ideologi penting bagi partai. Ideologi PDIP memihak kepada rakyat kecil dan penting bagi keberadaan bangsa ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-39 menguraikan elemen detail terlihat pada kalimat ke-2. Penonjolan elemen detail yang menyudutkan pemerintah penguasa terlihat pada kalimat terakhir dari paragraf ini yaitu kalimat ke-4. Artinya watak atau tabiat dari pemerintah Indonesia yang dinahkodai oleh SBY dari partai demokrat memperlihatkan watak bangsa yang tidak mengadopsi ideologi bangsa yakni pancasila, ini terungkap secara implisit dalam pidatonya M.S.. Jadi bangsa ini bangsa yang pola pemerintahannya kacau balau. Pernyataan M.S. pada paragraf ke-39 mengindikasikan pemerintahan yang dipimpin SBY masih kacau balau atau belum mantap. Pernyataan M.S. dipertegas/diperjelas dan diuraikan secara detail lagi pada paragraf ke-40 kalimat pertama seperti terurai di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. 2)Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. 3)Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. 4)Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya. (paragraf 40)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen maksud dari wacana hampir sama dengan elemen detail. Pola pilihan Semantik sebagai elemen maksud lebih melihat informasi yang lebih menguntungkan dan diuraikan secara ekplisit dan jelas. Informasi yang menguntungkan pembicara/orator lebih disajikan secara jelas dengan kata-kata yang tegas dan menunjuk langsung pada fakta. Sebaliknya dalam elemen maksud informasi yang merugikan akan disajikan secara tersamar/tersembunyi ( latent ) dan implisit. Wacana teks pidato dalam pembukaan kongres PDIP III elemen maksud terungkap pada kutipan paragraf     ke-10, ke- 23, ke-24, ke-34, dan ke- 40 seperti terurai di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf ke-10 di atas bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ingin menjadi partai kekuatan penyeimbang dan bukan partai anti kekuasaan. Paragraf 10 kalimat 1 secara implisit PDIP menyatakan ingin berkuasa atau menjadi bagian dari pemerintahan. Akan tetapi setelah muncul kalimat 2 dan 3 akan menjadi jelas maksud dari paragraf 10 yaitu semua itu diserahkan kepada kehendak rakyat. Paragraf tersebut secara tersamar menyampaikan kepada rakyat bahwa PDIP menolak kekuasaan seperti masuk ke dalam jajaran kabinet pemerintahan SBY bukan berarti anti kekuasaan tetapi kalau memang kehendak rakyat PDIP pun mau dan mampu memegang tampuk pemerintahan. PDIP lewat pidatonya secara tersamar ingin menyampaikan pandangannya bahwa kalau rakyat menghendaki PDIP berkuasa pilihlah PDIP sebagai partai wong cilik. Maksud umumnya bahwa PDIP memilih di jalur oposisi atau partai penyeimbang dan pengontrol karena kehendak rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai. Saya ingin mengucapkan terimakasih yang setinggi-tinggi pada Pimpinan MPR yang telah dengan sekuat tenaga mendorong pemerintah untuk menetapkan 1 Juni, Pancasila  1 Juni 1945 untuk bisa disosialisasikan bagi seluruh bangsa dan negara, saudara-saudara. (paragraf 23)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 23 mengandung maksud bagaimana pembicara/orator mengeksoposisi (memaparkan) secara lugas bahwa Pemilihan Umum (Pemilu) yang dilaksanakan penuh dengan kekacauan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai impian politiknya. Pada bagian awal kalimat orator menyampaikan maksud secara implisit tetapi akan menjadi jelas setelah membaca paragraf secara keseluruhan. Dengan memaparkaan bukti bahwa Megawati datang ke daerah-daerah dan melihat kekacauan itu. Awal kalimat pada paragraf yang sama pembicara/orator (M.S.) membuat sindiran yang bersifat eufimise bahwa pencitraan jauh lebih penting jika dibandingkan dengan perjuangan ideologi partainya. Hal ini merupakan sindiran yang disampaikan kepada pemerintah (SBY) yang sering pidato-pidatonya bertendensi pencitraan pemerintahan dan dirinya dengan mengabaikan ideologi partai. “ Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi.” Kalimat ini yang memang menguatkan elemen maksud dari pembicara/orator untuk menyindir pidato-pidato yang mengedepankan pencitraan demi keuntungan pribadi dan mengesampingkan ideologi partai. Menguatkan pendapat itu karena sejatinya PDIP adalah partai yang mengedepankan ideologi partai bukan hanya sekadar pencitraan atau bagi-bagi kekuasaan. Akan tetapi, pencitraan PDIP memang perlu tapi diungkapkan secara tersamar pada awal kalimat. Sebenarnya pidato M.S. merupakan bagian dari pencitraan tapi disampaikan secara tersamar saat berpidato. Ideologi adalah hal yang menjadi utama yang ingin diperjuangkan PDIP dan bukan hanya pencitraan semata seperti diperjelas pada kalimat 1 dan kalimat 2 paragraf 34 seperti dipaparkan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara yang saya cintai. Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Fakta yang disampaikan pada paragraf ke-24 mengandung maksud yang ingin disampaikan oleh M.S. sebagai pembicara/orator politiknya bahwa kegagalan PDIP bukan karena ditinggalkan oleh rakyat melainkan karena penyelenggaraan demokrasi yang penuh penyelewengan (manipulatif) seperti penulis kutip di bawah ini. Secara implisit kekalahan PDIP dalam pemilu 2009 bukan karena PDIP ditinggalkan atau tidak lagi menjadi partai pilihan rakyat tetapi lebih karena banyak penyelewengan seperti tidak beresnya Daftar Pemilih Tetap (DPT). Lihat kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia . (paragraf 24)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya. (paragraf 40)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf di atas menggunakan pernyataan berupa premis dasar yaitu partai yang memosisikan ideologi partai dengan memilih menjadi oposisi pemerintah. Partai PDIP tidak akan meminta kekuasaan (berupa menteri di kabinet) jika kekuasaan yang tidak memihak pada wong cilik (rakyat kecil). Konteks paragraf ke-9 berpraanggapan bahwa kalau Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ikut dalam koalisi partai maka PDIP tidak berpihak pada rakyat kecil dan akan terjebak pada diskursus oposisi – koalisi yang tidak memiliki dasar ketatanegaraan yang kuat atau inkonstitusional. Jadi ideologi partai PDIP yang berpihak pada wong cilik akan menjadi terabaikan kalau berkoalisi dengan partai pemerintah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pada paragraf ke-10 memakai praanggapan berupa pernyataan (proposisi) bahwa PDIP bukan anti kekuasaan, pernyataan ini akan memunculkan praanggapan berupa proposisi bahwa pilihan bagi PDIP untuk menjadi penyeimbang yaitu prinsip checks and balance yang disebut oposisi adalah kehendak dan pilihan rakyat. Praanggapan yang muncul apapun sikap PDIP diambil dalam keputusan politik lewat pidato politik M.S. adalah pilihan dan kehendak rakyat. PDIP adalah partai milik rakyat maka selalu mengamankan amanah rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pernyataan (proposisi) teks pidato politik Megawati pada paragraf ke-13 mengandung praanggapan bahwa memilih berkoalisi partai dengan partai penguasa pemerintah adalah tidak sesuai dengan misi dan visi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). “ Karenanya, menurut saya adalah suatu hal yang aneh, kalau yang namanya saya itu kok terus menerus disuruh bergabung, saya punya misi dan visi sendiri bagi rakyat ini .” Praanggapan dalam konteks kalimat ini jika bergabung berarti mengabaikan misi dan visi dari partai PDIP yang sebenarnya misi dan visi partai untuk rakyat. Jika PDIP begabung berarti menghianati kehendak rakyat karena rakyat menghendaki menjadi partai penyeimbang.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara sekalian, Jika kita mau sedikit merenung, maka kita pasti akan sampai pada keyakinan bahwa kegagalan kita dalam memaknai garis sejarah sebagaimana saya sampaikan di atas merupakan inti sebab dari ditinggalkannya PDI Perjuangan dalam dua pemilu yang lalu. Kemerosotan suara, ingat! adalah teguran rakyat agar kita kembali ke takdir sebagai sarana dan wadah perjuangan rakyat. Saudara-saudara-ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita. (paragraf 14)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia. (paragraf 24)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sebagai seorang orator akan memiliki praanggapan demokrasi yang sudah berlalu tidak lebih sebuah imajinasi yang menjadi dasar sebuah karya sastra sehingga melahirkan politik seperti sastra yang penuh dengan imajinasi manipulasi seperti drama dan sinetron dengan penuh kepura-puraan. Jika ini terus dibiarkan ke depan akan terjadi pesta demokrasi yang penuh dengan sandiwara dan hanya mementingkan kekuasaan tanpa memikirkan wong cilik. Sikap pragamatis rakyat mulai tumbuh seiring penyelenggaraan pesta demokrasi yang berorientasi pada finansial ( money political ) seperti yang terungkap pada pidato politiknya Megawati di paragraf ke-31 di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bentuk kalimat, yaitu bagian elemen sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Bentuk kalimat ini bukan hanya persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Susunan kalimat yang dimaksud antara lain yang berstruktur aktif dan pasif, modus kalimat yang digunakan, yaitu deklaratif, interogatif, dan imperatif. Wacana teks pidato politik Megawati selaku ketua umum PDIP yang bertjudul “ Pidato Pembukaan Kongres III PDIP Perjuangan ” penulis akan menguraikan persentase penggunaan kalimat yang berstruktur aktif dan pasif, persentase penggunaan modus kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif yang digunakan dalam wacana teks pidato politik dimaksud.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. 2)Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. 3)Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. 4)Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. 5)Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. 6)Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. 7)Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. 8)Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai. 9)Saya ingin mengucapkan terimakasih yang setinggi-tinggi pada Pimpinan MPR yang telah dengan sekuat tenaga mendorong pemerintah untuk menetapkan 1 Juni, Pancasila  1 Juni 1945 untuk bisa disosialisasikan bagi seluruh bangsa dan negara, saudara-saudara. (paragraf 23)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-23 mengindikasikan lebih dominan dan lebih produktif penggunaan kalimat aktif dalam teks pidato politik M.S.. Hal ini didukung fakta bahwa dari 9 kalimat pada paragraf 23 hanya satu kalimat ditemukan menggunakan kalimat pasif. Kalimat 2 paragraf di atas inti kalimatnya adalah “Kita harus berhadapan” “kita” sebagai inti subjek sebagai pelaku dan “berhadapan” sebagai inti predikat. Inti subjek dan predikat kalimat 2 diperluas menggunakan struktur kalimat pasif yaitu “…digambarkan oleh kekacauan….” Sedangkan penggunaan kalimat pasif paragraf 23 itu ditemukan pada kalimat 5, yaitu Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Kalimat ini menggunakan kata kerja (verba) pasif transitif, yaitu “disikapi”. Jadi paragraf 23 pola pengembangan paragrafnya menggunakan 8 kalimat aktif dan 1 kalimat pasif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. 2)Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika belaka. 3)Untuk bisa bekerja efektif, ideologi membutuhkan kader. 4)Ideologi membutuhkan pemimpin. 5)Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik. 6)Ideologi membutuhkan aturan bermain. 7)Ideologi membutuhkan kebijakan. 8)Ideologi membutuhkan program yang merakyat. Ideologi membutuhkan sumber-daya. (paragraf 43)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Modus kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif berdasarkan tabel 4.8 diuraikan sebagai berikut. Dari 201 kalimat yang ada dalam teks pidato politik ditemukan, 1) kalimat deklaratif sebanyak 180 kalimat, yakni 89 %, 2) kalimat interogatif berjumlah 14 kalimat, yakni 6 % , dan kalimat imperatif sebanyak 7 kalimat, yakni 3 %. Berdasarkan analisis data pada tabel di atas penggunaan modus kalimat deklaratif yang banyak 89% , yaitu 180 kalimat. Melihat persentase pada tabel tersebut, artinya teks pidato politik PDIP lebih banyak menggunakan kalimat pernyataan dan penjelasan. Dan modus kalimat yang bersifat imperatif penggunaannya paling sedikit, hanya 6%, yaitu sebanyak 14 kalimat. Dengan demikian teks pidato M.S. lebih banyak menggunakan strategi menjelaskan dan pernyataan-pernyataan daripada menggunakan kalimat-kalimat perintah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan tabel 4.9 kohesi gramatikal teks wacana pidato politik dapat diuraikan sebagai berikut. Yang pertama kohesi gramatikal pengacuan ( referensi ) sebanyak 81 kalimat, yakni 40,2 %. Yang kedua kohesi gramatikal substitusi sebanyak 11 kalimat, yakni 5,47 %. Yang ketiga kohesi gramatikal ellipsis sebanyak 7 kalimat, yakni 3,48 %. Dan yang terakhir kohesi konjungsi antarkalimat dan antarparagraf sebanyak 46 kalimat, yakni 22,8 %. Keempat kohesi gramatikal itu dapat penulis uraikan pada kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara yang saya cintai. 2)Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. 3)Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. 4)Mengapa? 5)Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia . 6)Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. 7)Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. 8)Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-34 menggunakan tiga pengacuan (referensi) , yaitu pada kalimat ke-2 menggunakan pengacuan demonstratif lokasional yang bersifat anafora yakni mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya. Pada kalimat ke-5 menggunakan pengacuan (referensi) komparatif, yaitu membandingkan secara metafora membangun bangsa diibaratkan atau dianalogikan dengan membangun rumah di atas pasir. Artinya bangsa diibaratkan sama dengan rumah dan secara ideologi politik membangun bangsa ini oleh pemerintah jangan seperti membangun rumah di atas pasir, cepat bangunan selesai sedikit kena angin menjadi hancur. Secara tersembunyi pidato M.S. ingin menyampaikan kepada penyelenggara negara bangunlah bangsa ini dengan pondasi yang kuat agar bangsa menjadi kokoh. Sedangkan pada kalimat ke-6 menggunakan pengacuan persona dengan persona ketiga tunggal “ia”. Makna pengacuan ( referensi ) “ia” adalah bangsa yang diibaratkan dengan bangunan di atas pasir.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Demokrasi Indonesia yang telah lama kita perjuangkan bukanlah suatu ruang kosong yang bekerja secara metafisis ataupun mekanis. 2) Ia adalah medan peperangan ideologi. 3)Demokrasi prosedural yang kini kita jalani berangkat dari kutub ideologi liberal-individual. 4)Sebagai ideologi ia memberikan mekanisme dan jaminan berkompetisi dan melahirkan pemenang dan pecundang. 5)Demokrasi liberal tak akan pernah menjadi bentangan karpet merah menuju keadilan sosial bagi segenap tumpah darah Indonesia. 6) Ia bukan pula jalan bagi penguatan partisipasi rakyat. 7)Demokrasi semacam ini bisa jauh lebih buruk lagi, ketika dia dibangun di atas politik pencitraan dan bekerja untuk melindungi citra itu semata-mata. 8)Demokrasi Indonesia mestinya dibangun di atas keutamaan kolektivitas, dijalankan melalui musyawarah untuk mufakat, dan bekerja di tengah-tengah keyakinan akan kebhinnekaan sebagai anugrah Alllah  Subhana wa ta’ala.  9) Ia adalah demokrasi yang konon kata para ahli adalah demokrasi deliberatif. (paragraf 38)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan kongres yang saya cintai, Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab kita untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. 2)Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. 3)Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. 4)Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak. (paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur mikro peranti kohesi leksikal teks pidato politik dalam rangka pembukaan kongres III PDIP diperoleh hasil analisis sebagai berikut : 1) kohesi leksikal repetisi sebanyak 71 kata. 2) peranti kohesi leksikal sinonim sebanyak 9 pasang kata, 3) peranti kohesi leksikal antonim sebanyak 7 pasang kata, dan 4) peranti kohesi leksikal hiponim tidak ada dalam data teks pidato politik. Untuk mebuktikan data pada tabel di atas dikutip peranti-peranti kohesi leksikal yang terdapat pada tabel 4.10 di atas.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 9 pada kalimat 2 , yaitu “oposisi-koalisi” merupakan bentuk kohesi leksikal antonim. Makna leksikal kata “oposisi” adalah partai penentang di dewan perwakilan, yang menentang dan mengkritik pendapat atau kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa (KBBI,2001: 800) sedangkan kata “ koalisi” kerjasama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dalam parlemen. (KBBI,2001:576). Jika dimaknai secara konteks wacana kognisi sosial pemerintahan sekarang maka makna “oposisi” adalah partai yang berada di luar pemerintahan. Realitas dari ini bahwa PDIP berada di luar pemerintahaan SBY tetapi bukan semata-mata sebagai penentang, bukti ini bahwa PDIP tidak ikut dalam jajaran pemerintahan SBY. Sedangkan makna kata “koalisi” artinya partai yang ikut dalam pemerintahan termasuk ke dalam jajaran kabinet pemerintahan (dalam konteks penelitian ini adalah pemerintahan SBY).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Sudah saatnya kita menyadari untuk kemudian bangkit membenahi segala kekurangan dan kelengahan kita selama ini. 2) Sudah saatnya kita menata ulang seluruh perangkat perjuangan untuk kemudian menatap dengan penuh optimisme bahwa partai ini adalah partainya wong cilik dan dipersembahkan bagi mereka. 3) Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali aktif dalam membangun solidaritas horizontal bersama rakyat untuk membuat lompatan kualitatif. 4) Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali menjadi kekuatan yang merajut keaneka-ragaman kita ke dalam satu kesatuan tekad, satu kesatuan jiwa, dan satu kesatuan gerak. (paragraf 15)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 15 merupakan pengembangan paragraf dengan pola kohesi leksikal yang menggunakan penanda repetisi (pengulangan). Hal ini bisa dilihat pada kalimat 1 diawali dengan frasa “sudah saatnya kita” dan frasa itu diulang lagi pada kalimat 2. Kalimat 3 “sudah saatnya PDI Perjuangan” diulang lagi pada kalimat 4 di baagian awal kalimatnya. Pengulangan (repetisi) yang digunakan dalam pengembangan paragraf merupakan strategi komunikasi bahwa kata, frasa, klausa atau kalimat yang diulang merupakan hal penting dan yang perlu mendapaatkan penekanan yang disebut dengan elemen grafis. Komunikasi dalam dunia politik hal ini penting dilakukan agar pendengar (audien) bisa memahami dengan baik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. 2)Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. 3)Cobalah tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh . 4)Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. 5)Merekalah yang telah siap menyatakan diri memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tetapi  juga  menjadi pemimpin bangsa yang di masa datang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.  6)Saudara-saudara. Melihat semua ini saya sering merenung dan berkata pada diri saya sambil menertawakan diri saya; “Bagaimana Saya bisa belajar pada suatu partai yang dalam waktu begitu cepat bisa naik sampai 300%.” (paragraf 20)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 15 kalimat 2 muncul kata bersinonim antara kata dengan frasa. Kata “regenerasi” bersinonim dengan frasa “tunas-tunas harapan bangsa” atau juga pada kalimat 3 paragraf 10 yaitu frasa ” banyak tunas-tunas baru yang tumbuh” serta frasa “ banyak generasi muda”. Di samping itu juga sinonim yang berupa frasa muncul juga pada paragraf 24, yaitu kalimat 1 dan kalimat 2 “menghilangkan secara paksa” = “perampasan secara paksa”. Sinonim merupakan bentuk dan strategi repetisi yang pengulangannya menggunakan bentuk kata yang berbeda tetapi masih memiliki ikatan makna atau kesamaan makna. Seperti apa yang teruraikan di atas bahwa pengulangan baik pengulangan utuh, pengulangan dengan sinonim, atau pengulangan dengan anafora atau katapora semua itu merupakan strategi dalam komunikasi terutama komunikasi politik untuk menegaskan hal yang penting kepada pendengar (audien). Di samping pengulangan di atas pola pengembangan paragraf dengan penekanan pada paragraf sebelumnya juga digunakan oleh M.S. dalam pidato politiknya, yaitu dengan menggunakan repetisi antarparagraf seperti kutipan-kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan Kongres ke III, Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa? 2)Kecenderungan menciptakan semakin banyak lembaga menyebabkan fragmentasi pemerintahan yang serius. 3)Setiap hari media massa menyajikan betapa kronisnya fragmentasi yang terjadi akibat dari tidak adanya tuntunan ideologis yang jelas. 4)Akhirnya sangat jelas: suatu kekacauan pengelolaan pemerintahan. (paragraf 39)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century . 2)Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. 3)Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. 4)Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya. (paragraf 40)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 39, 40 dan 41 merupakan kutipan paragraf yang menyatakan repetisi antarparagraf dan sinonim antarparagraf. Repetisi antarparagraf terdapat pada kalimat terakhir di paragraf 39 dan kalimat ke-1 paragraf 40 yaitu “kasus bank century” dan “kekacauan pengelolaan pemerintahan”. Pengulangan kedua frasa tersebut sebagai bentuk penegasan bahwa frasa tersebut penting maka frsae “kekacauan pengelolaan pemerintahan” yang terdapat pada kalimat 4 paragraf 39 dan frasa “kasus bank century” pada kalimat 1 diulang lagi pada kalimat ke-1 pada paragraf 41 di bagian akhir kalimat. Ini menandakan bahwa frasa itu penting dan menjadi komunikasi politik dalam pidato politik M.S..

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Strategi elite politik menghadirkan dirinya dalam komunikasi politik merupakan persoalan bagaimana elite politik memilih pronomina persona dalam orator politiknya. Elemen kata ganti ini merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Elemen ini menentukan komunikator (orator) untuk menunjukkan di mana posisi seseorang dalam wacana. Pilihan strategi kehadiran seseorang dalam wacana berimplikasi terhadap jarak sosial yang tercipta antara penutur dan petuturnya. Wacana teks pidato politik yang disampaikan Megawati dalam rangka “Pembukaan kongres III PDI Perjuangan “ strategi kehadiran diri yang digunakan dan dipilih adalah 1) penggunaan pronomina persona jamak yang berifat inklusif kita, 2) Penggunaan pronomina persona jamak orang ketiga mereka , 3) penggunaan pronomina persona tunggal orang pertama saya dan aku , dan 4) penggunaan pronomina persona tunggal orang ketiga ia dan dia juga 5) penggunaan kata sapaan Bapak, Saudara, dan Beliau . Jumlah persona (kata ganti) yang digunakan dalam wacana teks pidato Megawati dalam pembukaan kongres lihat tabel di

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penggunaan persona atau kata ganti dan sapaan pada wacana teks pidato politik PDIP yang disampaikan dalam rangka pembukaan kongres III partai PDIP adalah sebanyak 194 kata ganti (persona) dengan rincian pada tabel 4.11 di atas. Penggunaan strategi komunikasi kehadiran diri dengan kata ganti (persona) “saya” pada teks pidato politik saat pembukaan kongres III PDIP sebanyak 58 kali persona “saya/aku”, yaitu 29% dengan rincian 57 kali menggunakan kata ganti “saya” dan 1 kali kata “aku” dengan bentuk klitika “ku”. Pengguana kata ganti (persona) “kita” berjumlah 95 persona “kita” sebagai persona inklusif, yaitu 48%. Penggunaan kata ganti (persona) “mereka” sebagai kata ganti orang ketiga jamak sebanyak 6 kali, yakni 3%. Penggunaan kata ganti (persona) “dia/ia” sebagai kata ganti orang ketiga tunggal sebanyak 6 kali, yakni 6%, dan penggunaan kata sapaan sebanyak 29 kali, yakni 14%.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penggunaan persona “ku” dalam bentuk klitika terdapat pada paragraf ke-14 kalimat “ Saudara-saudara-ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita. Bentuk klitika “ku” yang digunakan dalam teks pidatonya menunjukan pribadi orator dalam hal ini Megawati menandakan keakraban dan kedekatan dengan pendengar atau rakyat. Mengingat persona “aku” digunakan bersifat informal dalam konteks penuh keakraban. Begitu juga halnya dengan persona “saya” yang digunakan oleh M.S. selaku elite politik dari PDIP dalam komunikasi politiknya sebagai simbol begitu teguhnya memegang prinsip dan perhatian terhadap kader-kader partainya. Persona “saya” yang digunakan M.S. lebih menyentuh hati kepada kader partai dan rakyat dalam tatanan ideologi. Hal ini dipaparkan pada paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka. (paragraf 7)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke- 5 teks pidato politik M.S. menghadirkan dirinya dengan pronomina persona “kita” sebagai persona jamak yang bersifat inklusif. Persona “kita” terkandung makna kehadiran “saya” dan “anda” (pembicara/orator, audien dan rakyat yang diwakili), “petutur” dan “penutur”. Ada suatu hal yang menarik dalam kutipan paragraf ke-5 yaitu konstruksi kalimat “Sebagai partai kita boleh berbangga.” Secara normatif, orator (penghasil teks) seharusnya hadir dengan menggunaakan persona “kami” karena menghadirkan dirinya sebagai wakil partai. Temuan ini merupakan penyimpangan penggunaan persona “kita” yang sebenarnya menggunakan persona “kami” M.S. berbicara mewakili partai. Fenomena yang menarik bahwa dalam teks pidato M.S. yang berjudul” Pidato Pembukaan Kongres III PDIP” tidak satupun ditemukan persona “kami”, mestinya jika M.S. berbicara mewakili pengurus partai seharusnya menggunakan persona “kami”. Persona yang banyak digunakan adalah “kita”, “saya” dan bentuk-bentuk sapaan seperti “beliau”, “saudara”, dan “bapak”. Pada hal M.S. berpidato selaku ketua umum partai dan M.S. berpidato jelas atas nama pengurus DPP partai, semestinya jika mengatasnamakan pengurus partai mestinya menggunakan bentuk persona “kami”. Akan tetapi, dalam teks pidato M.S. tidak satu pun persona “kami” yang digunakan M.S. dalam pidatonya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 9 penggunaan persona”kita” terkandung makna bahwa PDIP menempatkan posisi pembicara (M.S.) sebagai petutur sekaligus sebagai penutur. Pemilihan persona “kita” pada pidato politiknya M.S. untuk memosisikan diri bahwa M.S. dan rakyat sama yaitu sama-sama memiliki partai PDIP. Hal yang menarik dari temuan dalam teks pidatonya adalah penggunaan persona “kita” pada kalimat “ Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan .” “kita” pada kalimat tersebut terkandung makna masyarakat Indonesia dari partai manapun. “ Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut ” pemaknaan “kita” merupakan pemaknaan yang menyatakan seluruh rakyat Indonesia karena yang menganut sistem ketatanegaraan dimaksud adalah Indonesia bukan hanya PDIP saja. Sudut linguistik kebahasaan persona “kita” mestinya tidak muncul kaarena yang berbicara itu adalah M.S. selaku ketua PDIP dalam konteks kongres dan seharusnya pesona “kita” menjadi “Negara Indonesia” sehingga kalimat menjadi “Apalagi dari sudut ketatanegaraan yang dianut oleh negara Indonesia” maka dengan membandingkan kalimat itu jelas persona “kita” dalam konteks paragraf ke-9 terkandung makna negara Indonesia. Jadi, penggunaan persona “kita” tidak tepat. Melihat pemaknaan persona “kita” pada kalimat dimaksud lebih menekankan pada makna ideologi politik dan bukan makna secara linguistik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-15 menggunakan persona orang ketiga jamak yaitu “mereka”. Penggunaan persona “mereka” oleh orator politik yakni M.S. sebagai bentuk kepedulian dan keberpihakan PDIP kepada masyarakat kecil (wong cilik) karena perseona “mereka” mengacu pada wong cilik. Penggunaan persona “mereka” bermakna bahwa komunikasi juga dilakukan kepada orang ke-3. “mereka” yang dimaksud adalah di luar pendengar saat pidato disampaikan. Akan tetapi, berbeda halnya persona “mereka” yang digunakan dalam paragraf ke -16. Persona “mereka” pada paragraf ke-16 mengandung makna secara ideologi adalah warga PDIP secara luas, termasuk M.S. yang menggunakan persona”saya” , orang yang diajak berbicara (orang ke-2), dan orang ketiga pun masuk ke dalam makna kata persona “mereka”. Kalimat “Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada….” Jika dimaknai kalimat di atas maka persona “mereka” mengandung makna orang pertama “saya” karena persona “saya” sebagai warga PDIP, orang kedua yang diajak berbicara (audien) juga masuk dalam makna “mereka”, dan juga orang ketiga juga ikut dalam makna “mereka”. Penggunaan persona “mereka” oleh M.S. dalam pidato politiknya sebagai upaya menyamaratakan status sebagai warga PDIP.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Ideologi yang berkaitan dengan agama seperti diuraikan seperti tabel di bawah ini. Elemen ini menandakan bagaimana seseorang melakukan pemilihan kata untuk berbagai kemungkinan kata yang tesedia dan penggunaanya tepat sesuai konteks. Leksikalisasi ( lexicalization) berkaitan dengan keberadaan sebuah kata untuk sebuah konsep. Leksikalisasi (lexicalization ) dalam pandangan kritis diperlakukan sebagai fenomena yang bersifat dinamis dan penuh dengan muatan makna yang bersifat ideologi politik baik yang bersifat nyata atau eksplisit maupun bersifat tersembunyi ( latent ) atau tersamar. Pemilihan unsur leksikalisasi yang berisfat tersembunyi selalu dipakai dalam dunia politik demi etika politik. Untuk itu elemen leksikalisai pada teks pidato politik M.S. yang disampaikan saat pembukaan kongres III PDIP terjadi pergeseran-pergeseran makna, ada makna yang secara khusus mewakili pembawa makna ideologi dan juga muncul kata yang membawa makna

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada mari kita jadikan lima tahun kemarin sebagai pelajaran berharga, dan kita jadikan lima tahun ke depan sebagai tahun-tahun PERUBAHAN & KEBANGKITAN KEMBALI, saudara-saudara.Ini mengingatkan saya, pada tahun tahun sulit yang pernah dilewati oleh Bung Karno, dan hingga hari ini masih terngiang di telinga saya, kata-kata Beliau:  “Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. 2)Kita telah mencapai suatu point of no return !!!”, saudara-saudara. 3)Untuk itu, kita tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke jati diri sebagai partai yang mempunyai ideologis. (paragraf 16)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke 16 elemen yang ditekankan atau ditonjolkan “perubahan & kebangkitan kembali” perubahan dan kebangkitan yang dimaksud dalam konteks makna ideologi politik adalah kebangkitan PDIP yang mengalami kemerosotan suara dalam pemilu dan perubahan paradigma. Penekanan atau penonjolan itu dengan menggunakan huruf kapital dan juga dengan menggunakan tanda petik dua sebagai makna bahwa hal itu penting untuk disampaikan seperti “ Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. Kita telah mencapai suatu point of no return !!!”, penonjolan dan penekanan (elemen grafis) yang digunakan pada kutipan kalimat di atas dengan pengulangan kata (repetisi) seperti kata “mundur” diulang, menggunakan pola penonjolan dengan antonim seperti kata “maju x mundur”, menggunakan persajakan (rima) seperti “mundur-hancur”, dan “mandeg-ambleg” dan yang paling menarik dengan menggunakan kutipan bahasa Inggris “point of no return”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Dari sisi eksternal, tantangan bagi PDI Perjuangan untuk kembali ke jalan ideologis juga tidak ringan. 2)PDI Perjuangan harus bekerja dalam situasi psiko-politik “anti-partai” dan “anti-ideologi”. 3)PDI Perjuangan harus bekerja dalam suatu masyarakat yang semakin pragmatis, transaksional, dan berpikir instant untuk kepentingan individual berjangka pendek. 3) Kita harus bekerja dalam situasi dimana sebagian pihak menganggap bahwa menduduki jabatan publik melalui jalan partai adalah jalan baru bagi keamanan ekonomi. 4)Partai bukan lagi sebagai alat ideologi, alat perjuangan tapi alat akumulasi ekonomi. 5)Partai menjadi sarana transportasi cepat untuk keuntungan ekonomi individual, bukan lagi sarana untuk mewujudkan kepentingan rakyat, saudara-saudara.(paragraf 22)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. 2)Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika belaka. 3)Untuk bisa bekerja efektif , ideologi membutuhkan kader. 4) Ideologi membutuhkan pemimpin. 5) Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik. 6) Ideologi membutuhkan aturan bermain. 7) Ideologi membutuhkan kebijakan. 8) Ideologi membutuhkan program yang merakyat.9) Ideologi membutuhkan sumber-daya. (paragraf 43)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Untuk itu, mari kita kembali ingat akan kata-kata Proklamator kita, Bung Karno, beliau mengatakan, mengambil kata-kata ini dari bahasa Sansekerta:“KARMA NEVAD NI ADIKARASTE MA PHALESHU KADA CHANA”,“Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya!”. 2)Kata-kata di atas, adalah tulisan tangan Bung Karno yang dikutip dari Percakapan Kedua, Kitab Baghawad Gita. 3)Kata-kata di atas adalah sebagian dari nasihat Kresna pada Arjuna di medan perang Kurusetra. 4)Nasihat yang disampaikan setelah Arjuna nampak bimbang menghadapi lawan-lawannya yang adalah para guru dan sanak-saudara sendiri. 5)Tuhan pasti memberikan jalan bagi kita semua. (paragraf 45)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping memperjuangkan ideologi partai dengan segala perubahan dan untuk bangkit kembali PDIP pun menggunakan elemen agama sebagai dasar berpolitik seperti kutipan paragraf ke 45. Elemen agama ditonjolkan pada paragraf ini sebagai ikon bahwa PDIP partai yang menjungjung tinggi nilai-nilai agama dan ke-bhineka-an yang nasionalis. :“KARMA NEVAD NI ADIKARASTE MA PHALESHU KADA CHANA”,“Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya!”. kutipan ini berasal dari bahasa Sansekerta yang langsung ditekankan pada petikan maknyanya seperti hal di atas sebagai konsep Hindu akan tetapi seorang M.S. yang beragama Islam mengangkat sastra agama dalam teks pidatonya sebagai wujud teloransi yang tinggi. Dengan mengutif sastra agama dalam teks pidato M.S. menandakan bahwa PDIP dalam menjalankan etika politik masih menjungjung tinggi nilai-nilai agama.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana teks pidato politik pada saat pembukaan kongres III PDIP menggunakan 53 paragraf. Dari ke-53 paragraf tersebut ditemukan penggunaan tiga jenis metafora, yaitu metafora nominatif berjumlah 12 paragraf yakni 22 %, metafora predikatif sebanyak 2 paragraf, yakni 3 %, dan metafora kalimat hanya 1 paragraf, yakni 1 %. Dari 53 paragraf yang terdapat pada teks pidato politik yang disampaikan M.S. 15 paragraf atau 28 % menggunakan metafora untuk menyampaikan pesan-pesan politiknya. Paragraf yang menyatakan metafora nominatif seperti kutipan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Kita dihadapkan pada keterbatasan sumber pembiayaan di tengah-tengah kebutuhan anggaran pengelolaan partai yang semakin besar. 2) Kita dihadapkan pada kelangkaan kepemimpinan baik secara kualitas maupun kuantitas. 3) Pengaturan kelembagaan partai kita masih terpusat pada satu tiang penyanggah, yakni organisasi partai dari DPP hingga anak ranting saja. 4) Kita membiarkan tangan-tangan partai yang mengelola kekuasaan dan pemerintahan tidak diatur dalam AD/ART partai. 5) Ini menimbulkan kesulitan dalam membangun koordinasi dan sinergi lintas pilar penyangga partai. 6) Kita akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan, meluasnya kecenderungan fraksi berjalan sendiri-sendiri atau sebaliknya kegagalan struktural partai dalam memberikan arahan bagi fraksi dan dalam membangun komunikasi dan sinergitas dengan kepala daerah. (paragraf 18)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 18 pada kalimat 3, 4, dan 5, yaitu kata-kata yang ditebalkan merupakan metafora nominatif. Jadi ketiga kalimat tersebut menggunakan metafora berjenis nominatif. Metafora “ tiang penyanggah”, “tangan-tangan partai”, dan “ pilar penyangga” dikatagorikan sebagai metafora nominatif karena inti frasanya berjenis kata benda. Kata-kata yang dicetak tebal dikatagorikan metafora karena ketiga kata itu tidak bermakna secara leksikal melainkan melahirkan makna-makna yang bersifat idomatis.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Saudara-saudara utusan kongres yang saya cintai, Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab kita untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. 2) Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan . 3) Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. 4) Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak. (paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara yang saya cintai. 2) Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. 3) Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. 4) Mengapa? 5) Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. 6) Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. 7) Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. 8) Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berbeda halnya dengan metafora nominatif yang pemunculannya lebih banyak jika dibandingkan dengan dua metafora lainnya. Kutipan paragraf 34 merupakan satu-satunya paragraf yang menggunakan metafora kalimat dari 53 paragraf yang ada pada teks pidato politik M.S.. Kalimat 5, yaitu “ Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia .” Kesatuan makna kalimat merupakan satu kesatuan yang melahirkan makna bias dari makna leksikalnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

2.Inilah hal-hal yang perlu kita semua renungkan kembali. Apakah realitas seperti ini yang kita kehendaki bagi masa depan Indonesia kita? Realitas dimana survei dan indeks kepuasaan menjadi lembaga dan instrumen baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Realitas dimana citra dikedepankan tetapi di saat yang sama, membiarkan tugas sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta melahirkan Indonesia yang bermartabat, menjadi sekadar pekerjaan seolah-olah. (paragraf 30)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 52 pembicara/penulis teks mengungkapkan temanya secara eksplisit diakhir dan sekaligus sebagai penutup pidato. Pidato politik M.S. yang berjudul Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan mengangkat tema yaitu, “Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat”. Makna global yang ingin disampaikan oleh M.S. dalam pidato politiknya adalah perjuangan PDIP untuk kesejahteraan rakyat.   Tema yang disampaikan diakhir dan sebagai penutup merupakan strategi penyampian yang kurang tepat. Temuan ini tidak sesuai dengan teori pidato yang menyatakan bahwa pokok pembahasan yang menjadi tema pidato ditampilkan dengan terlebih dahulu mengemukakan latar belakang permasalahannya. (Putra Bahar.2013:204).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Di samping diperkuat dan didukung oleh subtopik tema tersebut juga diperkuat oleh fakta yang ditemukan pada kutipan paragraf 25 “ Meski saat itu saya dikalahkan tetapi saya berbangga dan berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang demokrasi yang telah diletakkan akan menjadi jalan keluar bagi kesejahteraan rakyat serta bagi terpeliharanya kemajemukan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, saudara-saudara” dan kutipan paragraf 30 “ Realitas dimana citra dikedepankan tetapi di saat yang sama, membiarkan tugas sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta melahirkan Indonesia yang bermartabat, menjadi sekadar pekerjaan seolah-olah”.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Data yang ke-2 menggunakan teks pidato politik dari Megawati Soekarnoputri yang berjudul” Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan”. Analisis data ini pun juga menggunakan parameter dari teorinya Van Dijk, yaitu struktur supra, struktu mikro, dan struktur makro. Data penelitian terkait dengan struktur supra didapatkan dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi yaitu Megawati Soekarnoputri yang berjudul “Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan”. Untuk menganalisis struktur supra dari teks pidato dimaksud penulis menggunakan kerangka teori pidato politik. Kerangka pidato sebagai acuan dalam menganalisis data struktur supra teks pidato politik penulis gambarkan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kerangka teori pidato politik ini secara garis besar terdiri atas empat tahapan yaitu : yang pertama pembukaan/pendahuluan yang berisi ucapan salam (salam agama, pekik kemerdekaan atau pekik partai) , gagasan pentingnya hal dalam pidato disampaikan, gagasan umum dan latar belakang kenapa mengangkat tema/topik pidato atau apa urgensinya. Pilihan berbagai salam akan memberikan interpretatif bagi pendengar (audience ) mengenai identitas partai politik. Yang kedua eksposisi pemaparan mengenai fakta-fakta yang terkait dengan ideologi partai, identitas partai, dan program-program partai yang merupakan isi dari sebuah pidato politik. Eksposisi pada pidato politik akan menyampaikan isi yang disertai dengan pembahasan tentang program kerja partai sebagai argumen dan isu politik untuk memersuasif pendengar. Yang ketiga adalah persuasi, ini masih merupakan bagian dari isi pidato politik dan bagian ini merupakan suatu yang penting karena persuasi dalam dunia politik merupakan strategi memengaruhi audien atau pendengar terkait dengan ideologi yang ditawarkan. Dan yang kempat adalah penutup dan kesimpulan yangb ersisi ucapan salam penutup, saran, dan atau harapan-harapan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan pada tabel 4.16 di atas ditemukan bahwa struktur supra wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi yang disampaikan oleh ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dibangun berdasarkan alur atau skematika pidato politik yaitu : (1) pendahuluan, (2) isi, dan (3) penutup. Berdasarkan analisis data pidato yang berjudul “ Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan” yang tersebut pada tabel 4.6 di atas bahwa bagian pendahuluan teks ditemukan ada 6 paragraf, yakni 21,4 %, bagian isi pada teks pidato ditemukan sebanyak 20 paragraf, yaitu 71,4 %, dan bagian penutup/kesimpulan ditemukan sebanyak 2 paragraf, yaitu 7,14 %. Dari analisis data pada tabel di atas ternyata struktur supra yang paling banyak ada pada isi pidato, yaitu 21,4 %. Hal ini sesuai dengan teori bahwa dalam pidato paragraf isi harus paling banyak. Uraian data pada tabel 4.16 kutipan paragrafnya akan diuraiakan secara jelas pada tabel 4.2 di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

“ Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana teks pidato politik ketua umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP yang disampaikan oleh M.S. di atas merupakan teks pidato politik dalam rangka memperingati hari ulang tahun partainya. Analisis struktur supranya yakni skematika atau alur dari teks pidato politik yang digunakan oleh M.S. selaku tokoh partai sekaligus sebagai ketua umum partai politik, M.S. mengawali pidatonya selalu dengan menyampaikan salam agama, salam nasional dan memekikan salam kemerdekaan. Menyampaikan salam agama Islam, Hindu, dan Kristen untuk menunjukkan bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menunjukkan partai nasionalis yang menghargai ke-bhineka-an bangsa. Pribadi M.S. juga seorang yang solidaritas, rasa nasionalisme dan menghagai perbedaan terutama dalam hal agama. Pekikan kemerdekaan menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tidak pernah pudar. Selanjutnya dengan mengucapkan salam hormat kepada peserta kongres. Paragraf pertama selalu memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan disertai menyampaikan pandangan yang bersifat umum baik secara politik, ekonomi, karakter maupun budaya. Tema/topik pidato M.S. ini sudah disampaiakan pada bagian pendahuluan, yaitu paragraf 5 lihat tabel 4.17. Berikut cuplikan paragraf di bawah ini

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial . 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Paragraf pendahuluan yang terdapat pada paragraf ke-5 mengungkapkan kegagalan negara dalam mengangkat kesejahtraan rakyat. Kedua pidato politiknya M.S. selalu mengusung kesejahtraan rakyat sebagai isu politik. Kesejahtraan rakyat dan wong cilik merupakan pilihan kata M.S. dalam pidato-pidato politiknya. Penggunaan kata-kata “kesejahteraan rakyat” dan “wong cilik” sebagai strategi komunikasi politik M.S. untuk memberikan kesan awal bahwa PDIP memiliki ideologi partai yang berpihak pada rakyat. Fakta ini peneliti temukan dari dua teks pidato politiknya M.S. selalu menggunakan topic/tema pidato yang mngangkat masalah kesejaheraan rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik . Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan. (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Pendahuluan pidatonya kental kelihatan keberpihakan pada rakyat (wong cilik) sebagai pilihan ideologi partainya. Wong cilik sebagai ikon pidato politik M.S. sebagai bentuk pencitraan dirinya sebagai pemimpin partai dan sekaligus sebagai pilihan ideologi partai. Ini membawa makna bahwa PDIP tidak ambisi kekuasaan tetapi partai yang membela rakyat wong cilik. M.S. mengawali pidatonya seperti ini untuk menaruh simpati kepada rakyat. Pada paragraf ke-5 M.S. mengawali pidatonya dengan mengangkat problema dasar yaitu kegagalan negara dalam membangun kesejahteraan rakyat. Makna umum tentang kesejahteraan rakyat selalu disampaikan dalam pendahuluan pidatonya. Selanjutnya pada paragraf ke-6 skematik pendahuluannya menggunakan rujukan ke luar wacana situasional ( eksoforik ) yaitu rujukan wacana yang menunjuk pada objek di luar teks seperti “ Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali.”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat. 2)Pada saat bersamaan, pemerintah seharusnya mendengar jeritan rakyat atas kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar, yang sudah melebihi daya beli rakyat. 3)Bahkan, untuk kesekian kalinya, rakyat menjadi korban hanya untuk sekedar mendapatkan makan. 4)Oleh karena itu, tidak boleh terjadi lagi, rakyat kecil bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin berat sebagaimana telah terjadi di Cirebon, Kebumen, dan beberapa daerah lainnya. 5)Inilah gambaran, betapa sulitnya rakyat berjuang hidup-mati hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. 6)Bukankah konstitusi menjamin penghidupan yang layak bagi warga negaranya? 7)Kemana alokasi anggaran yang ribuan trilyun rupiah tersebut? 8)Sudah saatnya kita hentikan pameran keberhasilan indikasi makro ekonomi, dan menggantikannya dengan gerakan ekonomi kerakyatan, yang bertumpu pada kekuatan rakyat, agar terjaminlah kebutuhan dasar rakyat. (paragraf 8)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Mengakhiri pidato politik ini, ijinkan saya dan seluruh jajaran DPP PDI Perjuangan menyampaikan Selamat Ulang Tahun ke 38 bagi kita semua. 2)Semoga pertambahan usia ini memberikan kekuatan baru bagi kita untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. 3)Kepada para pimpinan partai politik, para tokoh masyarakat, dan para Senior Partai serta undangan yang tidak bisa saya sebut satu-persatu, terimakasih atas kehadirannya. 4)Kepada Panitia yang telah bekerja dengan sangat keras terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan. 5)Pada aparat keamanan, terimalah rasa terimakasih dan hormat kami atas segala kerja keras sehingga penyelenggaraan Ulang Tahun kali ini bisa berjalan tanpa gangguan. 6)Terimakasih juga saya sampaikan pada para pengamat politik yang telah meluangkan waktu untuk hadir pada kesempatan kali ini. 7)Dan terakhir, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan yang telah menjadi sahabat PDI Perjuangan selama ini.(paragraph 28)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Saudara-saudara, Ulang tahun adalah peristiwa istimewa. 2) Tetapi ia menjadi istimewa bukan saja karena pertambahan usia semata. 3) Ulang tahun menjadi istimewa karena ia memberikan alasan etis dan menjadi momentum yang bersifat spiritual untuk merenungi, berkontemplasi dan memetik pelajaran dari satu tahun perjalanan yang baru saja kita lewati bersama. 4)Tanpa itu, ulang tahun tak akan memiliki makna apapun, tapi hanya sekadar sebagai kelebatan waktu yang tak menyisakan arti, lewat begitu saja. (paragraf 3)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-3 di atas mengungkapkan latar diperingati HUT PDIP. Latar makna dari HUT diulas dalam perspektif spiritual. Hal lain yang penulis dapat dari analisis teks pidato M.S. bahwa latar yang mendukung topik terkait HUT PDIP hanya pada paragraf ke-3 sedangkan paragraf ke-18 dan ke-20 lebih menekankan latar historis seperti kutipan di bawah ini. secara politis M.S. menyampaikan latar pidatonya yang diuraikan paragraf ke-3 itu hanya bersifat normatif dan datar tanpa ada isu politik tersembunyi yang ingin disampaikan M.S.. Akan tetapi, pada bagian paragraf ke-18 dan 20 justru memberikan latar historis dan ada isu politik yang disampaikan secara tersamar seperti kalimat ke-5 paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Hal di atas sangat disayangkan karena sejarah telah mencatatkan tinta emas bahwa Indonesia mampu berdiri ditengah pluralisme dalam persatuan. 2)Bhinneka Tunggal Ika bukan sebuah jargon kebetulan. Ia juga bukan hasil temuan yang baru. 3)Bhinneka Tunggal Ika telah mengakar panjang dalam sejarah bangsa yang majemuk ini. 4)Ia adalah rumusan yang merupakan kristalisasi dari pengalaman empirik kita hidup sebagai bangsa majemuk dalam sebuah kesatuan yang harmonis. 5)Demikian pula dengan gotong royong yang oleh para pendiri bangsa dijadikan sebagai spirit dasar dalam merancang Indonesia yang ideal, kini tenggelam di bawah persaingan bebas sebagai metode politik dominan. 6)Kita akhirnya terjebak dalam mobilisasi dan konflik, gagal berdialog dan membangun konsensus yang sesuai dengan nalar publik. (paragraf 18)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kontrol informasi yang disampaikan komunikator/pembuat/orator politik dalam teks pidato merupakan dasar dari elemen detail dari suatu teks wacana. Seperti yang diuraikan dalam analisis data pada teks wacana pidato politik dalam pembukaan kongres PDIP bahwa komunikator (orator politik) akan menampilkan secara berlebihan informasi yang menguntungkan bagi orator demi pencitraan bagi partai dan dirinya. Sebaliknya orator akan menampilkan informasi yang serba sedikit, kurang lengkap dan bahkan tersamar atau tersembunyi ( latent ) jika merugikan dirinya atau partai yang diwakilinya. Detail merupakan bagian dari strategi, bagaimana seorang orator politik mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Detail ini akan menyikap makna yang tersembunyi ( latent ) yang ingin diungkapkan oleh seorang orator politik. Detail pada teks wacana pidato politik M.S. yang kedua   yang berjudul “ Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan ” terdapat paragraf-paragraf yang meneonjolkan elemen detail, yaitu paragraf 2,5,9, 13, 14, dan 15. Sesuai dengan pengertiannya bahwa detail selalu mengungkapkan secara jelas dan tegas jika menguntungkan orator/pembicara seperti kutipan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kita harus bersyukur karena rentang panjang sejarah kepartaian di bumi tercinta ini telah membuktikan: tidak banyak kekuatan politik yang bisa terus bertahan dan memberikan sumbangsihnya bagi rakyat, bangsa dan negara untuk waktu yang panjang. Sejarah membuktikan, banyak partai-partai lahir dan mati, bukan saja wadahnya, tapi juga ruhnya, ideologinya. Bahkan sejak memasuki era reformasi, kita menyaksikan begitu banyaknya partai politik yang hanya bisa bertahan seumur jagung, kemudian musnah dan akhirnya dilupakan sejarah. Sementara PDI Perjuangan tetap diberi anugerah panjang usia yang memungkinkan kita berkumpul hari ini untuk merayakan Ulang Tahun yang 38. (paragraf 2)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 5 ini menguraikan secara detail dan lugas tentang kegagalan negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial sebagai pondasi dasar kekuatan negara. Uraian yang lugas paragraf di atas akan lebih menguntungkan PDIP sebagai partai oposisi (tidak ikut dalam pemerintahan SBY). Dengan uraian tersebut kontrol informasi lebih menguntungkan PDIP dan lebih menyudutkan pemerintahan SBY yang berasal dari koalisi berbagai partai antara lain partai Golkar, PKS, PAN, dan Demokrat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Seperti apa yang diuraikan pada analisis data teks yang pertama bahwa elemen maksud dari wacana hampir sama dengan elemen detail. Semantik pada elemen maksud lebih melihat informasi yang lebih menguntungkan dan diuraikan secara ekplisit dan jelas. Informasi yang menguntungkan orator lebih disajikan secara jelas dengan kata-kata yang tegas dan menunjuk langsung pada fakta. Sebaliknya dalam elemen maksud informasi yang merugikan akan disajikan secara tersamar/tersembunyi ( latent ) dan implisit. Wacana teks pidato dalam memperingati HUT XXXVIII PDIP elemen maksud terungkap pada kutipan paragraf ke-5, ke-6 , ke-8, dank e-12 seperti terurai di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-5 secara implisit orator politik dalam pidatonya ingin menyampaikan kepada pendengar negara mengalami tragedi. Penggunaan kata tragedi memiliki konotasi politik negatif yang hampir sama maknanya dengan musibah. Akan tetapi, pada kalimat penjelas dari paragraf tersebut secara eksplisit dipaparkan tragedi yang dimaksud orator politik dalam teks pidatonya adalah tiada lain adalah kegagalan negara dalam mengangkat kesejahteraan rakyat. Jika dikaitkan dengan konteks ideologi politik bahwa kegagalan menyejahteraan rakyat oleh pemerintah merupakan bencana atau tragedi suatu negara yang harus ditangani. Jadi kutipan paragraf ke-5 M.S. dalam teks pidatonya ingin menyampaikan maksud bahwa PDIP selalu berjuang untuk kesejahteraan rakyat. Selanjutnya maksud yang disampaikan pada paragraf ke-5 dipertegas lagi pada kutipan paragraf ke-6 seperti kutipan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2)Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun.3) Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan. (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya banggakan, Di tengah-tengah keterpurukan sosial ekonomi dan bencana alam yang terus mengintai, muncul ancaman bencana lain yang menyangkut  karakter dan kepribadian bangsa kita. 2)Bencana ini mempunyai implikasi lebih serius karena ia mengancam secara simultan dasar mental dan pikiran rakyat. 3)Lihat saja proses hukum kasus Bank Century. 4)Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan. (paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-12 pada kalimat ke-3 berupa pernyataan yang belum disertai praanggapan. Dengan hadirnya kalimat penjelas pada kalimat ke-4 muncul praanggapan pada teks pidato politik M.S. berupa ketidakpercayaan kepada hukum dan praanggapan yang muncul bahwa kewenangan DPR dimandukkan atau dikebiri oleh campur tangan kekuasaan dalam menjalankan hukum. Makna dalam konteks paragraf ke-12 melahirkan penafsiran atau praanggapan pemerintah tidak serius dalam menyelesaikaan kasus bank century. Ini terlihat jelas pada pernyataan kalimat ke-4 paragraf di atas. Praanggapan lemahnya dan masih adanya campur tangan kekuasaan dalam penyelesaian hukum masalah-masalah yang terjadi dalam negara juga terlihat pada paragraf ke-13 di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Kasus lain yang tidak kalah menariknya, bagaimana Gayus Tambunan  dengan berbagai variasi dan keleluasaannya,  mempertontonkan betapa kekuatan uang sedemikian berjaya dalam mengharu-biru sistem hukum secara keseluruhan. 2)Hal ini akhirnya membuat rakyat percaya bahwa “faktor uang adalah segala-galanya”. 3)Kasus yang sama juga mengungkapkan rendahnya kedaulatan negara. 4)Negara yang berdaulat adalah negara yang mampu menegakan hukum atas warganya. 5)Dalam kasus Gayus, dan masih banyak kasus sejenis lainnya, nampaknya hukum tidak bisa ditegakkan, negara jauh dari berdaulat. 6)Bencana mental di atas juga tampak dari cara penguasa memaknai reformasi birokrasi. 7)Reformasi birokrasi dikecilkan maknanya sebatas sebagai remunerasi. 8)Sebuah bentuk pemujaan pada materi yang semakin meyakinkan rakyat bahwa “materi adalah segala-galanya”. 9)Padahal kita tahu bahwa pembenahan sistem remunerasi hanyalah salah satu bagian kecil dan merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan yang lebih besar dan menyeluruh. (paragraf 13)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara yang saya hormati, Penyakit kronis lainnya yang menonjol dalam beberapa saat terakhir ini adalah sikap elit yang lebih meributkan soal koalisi, sekretariat gabungan (setgab), wacana pemilihan gubernur oleh DPRD, atau apapun namanya dibanding mengurus rakyat. 2)Hal ini menegaskan semakin meluasnya cakupan bencana mental yang melanda negeri ini. 3)Fenomena ini menggambarkan bagaimana penggalangan kekuasaan ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang mengurusi kepentingan rakyat. 4)Bahkan kita semua menikmati sedemikian pentingnya “penggalangan kekuasaan” tanpa peduli terhadap akibat-akibat negatifnya bagi perkembangan demokrasi politik di Indonesia. (paragraf 14)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Hal-hal itulah yang membuat saya terus khawatir bahwa sistem ekonomi yang kita bangun semakin jauh dari sistem ekonomi yang menjadi amanat konstitusi. 2)Karena itulah, wajar kalau kita bertanya, inikah arah pengelolaan ekonomi yang akan menuntun ke arah keberdikarian dalam bidang ekonomi? 3)Ataukah sebaliknya, justru menjadi jalan cepat menuju ketergantungan ekonomi yang bersifat permanen pada kekuatan asing. 4)Saya berpendapat, bahwa kita tidak bisa menunda lagi untuk mewujudkan keberdikarian ekonomi kita. 5)Lebih-lebih kalau kita melihat resesi yang kini terjadi di Amerika Serikat, dan krisis ekonomi di beberapa negara di Eropa. 6 )Krisis yang terjadi di kedua kawasan tersebut pada akhirnya tetap memerlukan campur tangan negara. 7 )Bahkan di kawasan itulah kembali terbukti, bahwa kepentingan nasional suatu negara akhirnya menjadi hukum tertinggi di dalam membangun kedaulatan ekonomi setiap bangsa. 8)Inilah yang seharusnya kita lakukan guna membangun kepercayaan diri kita, untuk berani menyatakan bahwa pengolahan sumber daya alam, harus kita prioritaskan pada kemampuan nasional. 9)Pling tidak, kita harus mampu mencukupi kebutuhan pokok secara mandiri untuk pasar dalam negeri kita. 10)Inilah yang saya maksudkan sebagai prinsip berdiri di atas kaki sendiri. 11)Saya tidak anti asing, namun marilah kita letakkan skala prioritas pengabdian pada kepentingan nasional. 12 )Setidak-tidaknya dalam bidang pangan, energi, keuangan dan pertahanan, pilar-pilar ekonomi berdikari dapat diletakkan. 13)Percayalah, bahwa kita bisa bangkit. Kita bisa menjadi bangsa besar. 14)Kita bisa berdikari. 15)Sebab kita memiliki modal, berupa keanekaragaman kekayaan alam, tanah air yang subur, keindahan alamnya, keanekaragaman suku, agama, budaya, yang semua terangkai bagaikan zamrud katulistiwa. 16)Inilah modal besar yang harus terus menerus kita syukuri dan kembangkan. (paragraf 10)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 10 dari 16 kalimat rinciannya adalah 13 kalimat menggunakan kalimat aktif dan 3 kalimat berkatagori kalimat pasif. ketiga kalimat itu, yakni kalimat 6, 7, dan 12. Kalimat 6 inti kalimatnya “ Krisis yang terjadi” “krisis” sebagai subjek dan “yang terjadi” sebagai predikat. Kalimat 7 inti kalimatnya “ kembali terbukti” Subjeknya diellipkan dan kembali terbukti sebagai predikat. Dan kalimat 12 inti kalimatnya “ Setidak-tidaknya dapat diletakkan” setidak-tidaknya sebagai subjek dan dapat diletakkan sebagai predikat. Analisis data ini mengindikasikan subjek-subjek pada kalimat-kalimat di atas aktif sebagai pelaku tindakan. Penggunaan modus kalimat aktif dalam teks pidato politiknya yang berjudul Pidato Politik PDIP pada HUT XXXVIII PDIP, membuktikan posisi pembicara/orator dalam pidato itu sebagai subjek pelaku yang aktif dalam tindakan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen sintaksis yaitu tentang modus kalimat yang digunakan dalam teks pidato politik M.S. yang berjudul “Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT   XXXVIII   PDI Perjuangan” diuraikan sebagai berikut. Dari 161 kalimat yang terdapat pada teks pidato M.S. di atas bahwa penggunaan kalimat yang berkatagori kalimat deklaratif berjumlah 131 kalimat yakni 81,3%, penggunaan kalimat berkatagori introgatif berjumlah 7 kalimat, yakni 4,3%, dan penggunaan kalimat yang berkatagori imperatif berjumlah 23 kalimat, yakni 14,2%. Berdasarkan tabel di atas penggunaan kalimat yang paling dominan / paling banyak adalah kalimat yang bermodus deklaratif, yaitu 81,3% atau 131 kalimat dari 161 yang ada pada teks tersebut. Penggunaan kalimat-kalimat deklaratif yang begitu produktif pada wacana pidato politik menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan ide dalam sebuah pidato politik merupakan hal yang amat penting karena pidato politik lebih bersifat pernyataan ideologi kepada pendengar ( audience ). Pernyataan atau deklaratif pada teks pidato M.S. menggunakan pilihan kata yang menyentuh rakyat kecil (wong cilik) dengan mengangkat isu politik kesejahteraan rakyat. Peranti yang tepat menyampaikan ide dalam pidato politik adalah dengan menggunakan kalimat-kalimat deklaratif. Ini berarti pidato politik M.S. memilih kalimat-kalimat bersifat deklaratif yang disertai penjelasan adalah sangat tepat dan wajar sebagai bentuk proposisi politiknya untuk disampaikan kepada pendengar. Penggunaan kalimat yang bermodus interogatif dan imperatif juga digunakan dalam teks pidato politik M.S. dengan persentase yang lebih sedikit, yaitu hanya 4,3% untuk kalimat introgatif dan 14,2% kalimat imperatif seperti kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat.2) Pada saat bersamaan, pemerintah seharusnya mendengar jeritan rakyat atas kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar, yang sudah melebihi daya beli rakyat. 3)Bahkan, untuk kesekian kalinya, rakyat menjadi korban hanya untuk sekedar mendapatkan makan. 4)Oleh karena itu, tidak boleh terjadi lagi, rakyat kecil bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin berat sebagaimana telah terjadi di Cirebon, Kebumen, dan beberapa daerah lainnya. 5)Inilah gambaran, betapa sulitnya rakyat berjuang hidup-mati hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. 6)Bukankah konstitusi menjamin penghidupan yang layak bagi warga negaranya? 7)Kemana alokasi anggaran yang ribuan trilyun rupiah tersebut? 8)Sudah saatnya kita hentikan pameran keberhasilan indikasi makro ekonomi, dan menggantikannya dengan gerakan ekonomi kerakyatan, yang bertumpu pada kekuatan rakyat, agar terjaminlah kebutuhan dasar rakyat. (paragraf 8)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-8 pada kalimat ke-6 dan 7 menggunakan modus kalimat introgatif atau pertanyaan yang bersifat retoris yaitu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban langsung. Pertanyaan kalimat pada paragraf di atas secara ideologi politik bersifat meragukan pemerintah dalam menjalankan konstitusi terutama yang menjamin penghidupan yang layak bagi warga negaranya karena masih banyak masyarakat yang belum sejahtra seperti kutipan-kutipan pidato yang lain dari M.S.. Pertanyaan pada kalimat ke-7 secara ideologi politik meragukan dan adanya unsur kecurigaan pada pemerintah tentang pengelolaan keuangan negara yang tidak dikelola dengan baik dan pengalokasiaanya tidak berpihak pada rakyat. Kedua modus kalimat yang bersifat introgatif pada teks pidato M.S. betul-betul PDIP memposisikan partainya sebagai partai oposisi yakni pengontrol dan pengkritisi. Kalimat-kalimat yang digunakan itu secara ideologi politik lebih menonjolkan pencitraan PDIP dan secara tersamar/tersembunyi mengindikasikan makna bahwa kalau PDIP berkuasa akan menjalankan kostitusi secara benar dan mengalokasikan dana yang berpihak pada rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan kedua paragraf di atas, yaitu pada kalimat yang ditebalkan bermakna perintah yaitu bermakna larangan dan bersifat perintah maka kalimat tersebut bermodus kalimat imperatif tetapi kalimat tersebut tidak menggunakan tanda imperatif yaitu tanda seru (!). Penggunaan kalimat bermodus perintah (imperatif) oleh M.S. karena ingin memberikan kesan bahwa orator dalam menyampaikan pidatonya tidak ingin memerintah tetapi lebih banyak menggunakan pernyataan-pernyataan faktual dengan tujuan mengajak pendengar bisa memunculkan simpati.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Analisis data struktur mikro peranti kohesi gramatikal pada teks pidato politik dalam rangka perayaan HUT XXXVIII PDIP yang disajikan dalam bentuk tabel 4.26 diperoleh hasil sebagai berikut. Peranti aspek gramatikal yang dianalisis ada empat katagori, yaitu 1)pengacuan (referensi ), 2) substitusi, 3) ellipsis, dan 4) konjungsi. Berdasarkan tabel 4.26 peranti gramatikal pengacuan ( referensi ) diperoleh hasil 48 kalimat yang menggunakan pengacuan, yaitu 29,8 % dari keseluruhan kalimat pada teks. Peranti kohesi gramatikal substitusi sebanyak 9 kalimat, yaitu 5,59 %. Peranti kohesi gramatikal ellipsis sebanyak 3 kalimat, yaitu 1,86 %. Peranti kohesi gramatikal konjungsi sebanyak 40 kalimat, yaitu 24,8 %.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bertitik tolak dari uraian di atas ternyata peranti aspek gramatikal yang paling banyak adalah peranti pengacuan ( referensi ), yaitu sebanyak 48 kalimat (29,8 %), selanjutnya peranti konjungsi sebanyak 40 kalimat (24,8%), dan peranti yang paling sedikit adalah peranti kohesi ellipsis, yaitu 3 kalimat (1,86%). Penggunaan peranti pengacuan ( referensi ) sebanyak 48 kalimat dan merupakan peranti kohesi gramatikal paling banyak merupakan suatu bukti bahwa peranti pengacuan sangat produktif digunakan dalam teks pidato politik. Alas an yang lain juga karena jenis peranti ini tujuannya untuk mengefektifkan kalimat, menghindari pengulangan kalimat yang panjang, dan memberikan penekanan atau penegasan tanpa mengulang kalimat yang sama. Untuk hal tersebut penulis kutipkan beberapa kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Ulang tahun adalah peristiwa istimewa. 2) Tetapi ia menjadi istimewa bukan saja karena pertambahan usia semata. 3)Ulang tahun menjadi istimewa karena ia memberikan alasan etis dan menjadi momentum yang bersifat spiritual untuk merenungi, berkontemplasi dan memetik pelajaran dari satu tahun perjalanan yang baru saja kita lewati bersama. 4) Tanpa itu , ulang tahun tak akan memiliki makna apapun, tapi hanya sekadar sebagai kelebatan waktu yang tak menyisakan arti, lewat begitu saja. (paragraf 3)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2) Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Ulang tahun adalah peristiwa istimewa. 2)Tetapi ia menjadi istimewa bukan saja karena pertambahan usia semata. 3) Ulang tahun menjadi istimewa karena ia memberikan alasan etis dan menjadi momentum yang bersifat spiritual untuk merenungi, berkontemplasi dan memetik pelajaran dari satu tahun perjalanan yang baru saja kita lewati bersama. 4)Tanpa itu, ulang tahun tak akan memiliki makna apapun, tapi hanya sekadar sebagai kelebatan waktu yang tak menyisakan arti, lewat begitu saja. (Paragraf 3)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Sebelum saya menyampaikan hal-hal pokok yang perlu kita renungkan bersama, ijinkanlah saya pada kesempatan ini menyampaikan selamat Natal bagi umat Kristiani dimanapun saudara-saudara berada. 2)Kiranya “kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi” beserta saudara-saudara sekalian. 3)Dan selamat tahun baru bagi setiap warga bangsa disertai doa, semoga tahun 2011 dapat memberikan harapan dan semangat baru untuk kehidupan yang lebih baik bagi kita semua. Amin. (paragraf 4)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2)Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. 3)Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. 4)Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial . 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2) Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. 3)Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. 4)Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan.   (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Seperti penyajian data pada teks pidato politik yang pertama bahwa Strategi elite politik menghadirkan dirinya dalam komunikasi politik merupakan persoalan bagaimana elite politik memilih pronomina persona dalam orator politiknya. Elemen kata ganti (persona) ini merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Elemen ini menentukan komunikator (orator) untuk menunjukkan di mana posisi seseorang dalam wacana (dalam teks pidatonya). Pilihan strategi kehadiran seseorang dalam wacana berimplikasi terhadap jarak sosial yang tercipta antara penutur dan petuturnya. Wacana teks pidato politik yang disampaikan M.S. dalam rangka peringatan HUT PDIP XXXVIII strategi kehadiran diri yang digunakan dan dipilih M.S. adalah 1) penggunaan pronomina persona jamak yang berifat inklusif kita, 2) Penggunaan pronomina persona jamak orang ketiga mereka , 3) penggunaan pronomina persona tunggal orang pertama saya , dan 4) penggunaan pronomina persona tunggal orang ketiga ia dan dia juga 5) penggunaan kata sapaan Saudara . Jumlah persona (kata ganti) yang digunakan dalam wacana teks pidato M.S. dalam peringatan HUT XXXVIII lihat tabel di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan tabel 4.28 di atas Elemen sintaksis yang menggunakan elemen persona (kata ganti) dalam teks pidato politik M.S. yang berjudul “Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT   XXXVIII   PDI Perjuangan” diuraikan sebagai berikut. Dari 161 kalimat yang terdapat pada teks pidato M.S. di atas kalimat yang menggunakan persona (kata ganti) “saya” sebanyak 33 persona, yaitu sebanyak 24,8 %, persona “kita” sebanyak 77, yakni 57,8 %, persona “mereka” sebanyak 1 persona, yaitu 0,7 %, persona “ia” sebanyak 6 persona, yaitu 4,5 %, persona “kami” tidak ada, dan penggunaan kata sapaan sebanyak 16, yaitu12,0 %. Ada hal yang menarik dan unik bahwa teks pidato M.S. tidak satu pun ditemukan penggunaan persona “kami” padahal jika orator mewakili pengurus partai semestinya menggunakan persona “kami” tetapi hasilnya tidak ditemukan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan tabel 4.29di atas penggunaan elemen kata ganti pada teks pidato politik M.S. yang berjudul “Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP” terdapat 133 elemen kata ganti dari 161 kalimat yang digunakan dalam teks pidato, termasuk sapaan yang digunakan dalam teks pidato tersebut. Strategi kehadiran diri dalam bentuk persona (kata ganti) orang pertama tunggal “saya” berjumlah 33 persona, yakni 24,8%, penggunaan persona “kita” sebagai persona / kata ganti inklusif sebanyak 77 persona, yakni 57,8%, penggunaan persona/ kata ganti “mereka” sebagai orang ketiga jamak hanya 1 persona, yakni 0,7%, persona/kata ganti “dia” dan “ia” sebagai orang ketiga tunggal sebanyak 6 persona, yakni 4,5%, dan penggunaan kata sapaan sebanyak 16, yakni 12,0% penggunaan persona pronomina persona “kita” sebagai persona jamak yang bersifat inklusif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Hal-hal itulah yang membuat saya terus khawatir bahwa sistem ekonomi yang kita bangun semakin jauh dari sistem ekonomi yang menjadi amanat konstitusi. Karena itulah, wajar kalau kita bertanya, inikah arah pengelolaan ekonomi yang akan menuntun ke arah keberdikarian dalam bidang ekonomi? Ataukah sebaliknya, justru menjadi jalan cepat menuju ketergantungan ekonomi yang bersifat permanen pada kekuatan asing. Saya berpendapat, bahwa kita tidak bisa menunda lagi untuk mewujudkan keberdikarian ekonomi kita. Lebih-lebih kalau kita melihat resesi yang kini terjadi di Amerika Serikat, dan krisis ekonomi di beberapa negara di Eropa. Krisis yang terjadi di kedua kawasan tersebut pada akhirnya tetap memerlukan campur tangan negara. Bahkan di kawasan itulah kembali terbukti, bahwa kepentingan nasional suatu negara akhirnya menjadi hukum tertinggi di dalam membangun kedaulatan ekonomi setiap bangsa. Inilah yang seharusnya kita lakukan guna membangun kepercayaan diri kita, untuk berani menyatakan bahwa pengolahan sumber daya alam, harus kita prioritaskan pada kemampuan nasional. Pling tidak, kita harus mampu mencukupi kebutuhan pokok secara mandiri untuk pasar dalam negeri kita . Inilah yang saya maksudkan sebagai prinsip berdiri di atas kaki sendiri. Saya tidak anti asing, namun marilah kita letakkan skala prioritas pengabdian pada kepentingan nasional. Setidak-tidaknya dalam bidang pangan, energi, keuangan dan pertahanan, pilar-pilar ekonomi berdikari dapat diletakkan. Percayalah, bahwa kita bisa bangkit . Kita bisa menjadi bangsa besar. Kita bisa berdikari. Sebab kita memiliki modal, berupa keanekaragaman kekayaan alam, tanah air yang subur, keindahan alamnya, keanekaragaman suku, agama, budaya, yang semua terangkai bagaikan zamrud katulistiwa. Inilah modal besar yang harus terus menerus kita syukuri dan kembangkan. (paragraf 10)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penggunaan persona “kita” pada teks pidato politik M.S. yang kedua persentasenya paling banyak, yaitu 77 persona “kita” (57,8 %). Hal ini bisa dilihat pada kutipan paragraf ke-10 penggunaan persona “kita” mendominasi jika dibandingkan dengan persona yang lain. Penggunaan persona “kita” memiliki makna bahwa M.S. ingin mennyejajarkan dengan pendengar dalam hal posisi dalam partai. Hal ini peneliti menafsirkan tidak ada dalam kedua teks pidatonya menonjolkan bahwa M.S. seorang pemimpin atau orang nomor satu di partai PDIP.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Leksikalisasi ( lexicalization ) merupakan pilihan sesorang dalam pemilihan kata atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Tabel di bawah ini akan menyajikan beberapa leksikalisai yang mengalami pergeseran karena konteks paragraf dan wacana dikaitkan dengan politik dan juga leksikalisasi pembawa ideologi politik. Leksikalisasi merupakan pilihan kata seseorang dalam menyampaikan ide kepada pendengarnya. Pilihaan kata itu akan membawa pergeseran, konotasi makana, dan baahkan perubahan makna. Adapun daftar kata-kata yang mengalami pergeseran makna, pembawa ideologi politik dan leksikalisasi yang berkaitan dengan agama. Ketiga hal tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen grafis merupakan bagian yang ditekankan atau ditonjolkan (bagian yang dianggap penting dari teks pidato politik) yang ingin disampaikan kepada petutur (audien). Pada elemen ini sesuatu yang ditekankan atau ditonjolkan bisa dengan penggunaan tanda kutip (“) bahwa hal itu penting untuk ditekankan, bisa dengan menggunakan huruf kapital, dan bisa dengan pengulangan kata atau kalimat (repetisi). Elemen grafis pada data teks pidato yang ke-2 bisa dilihat pada uraian paragraf di bawah ini. berdasarkan analisis data pada teks pidato politik M.S. yang kedua elemen grafis dapat ditemukan pada paragraf ke-5, 6, 13, 16 dan paragraf ke-26 dan diuraikan pada kutipan paragraf di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2)Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. 3)Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. 4)Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan. (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Kasus lain yang tidak kalah menariknya, bagaimana Gayus Tambunan  dengan berbagai variasi dan keleluasaannya,  mempertontonkan betapa kekuatan uang sedemikian berjaya dalam mengharu-biru sistem hukum secara keseluruhan. 2)Hal ini akhirnya membuat rakyat percaya bahwa “faktor uang adalah segala-galanya”. 3) Kasus yang sama juga mengungkapkan rendahnya kedaulatan negara. 4) Negara yang berdaulat adalah negara yang mampu menegakan hukum atas warganya. 5)Dalam kasus Gayus, dan masih banyak kasus sejenis lainnya, nampaknya hukum tidak bisa ditegakkan, negara jauh dari berdaulat. 6)Bencana mental di atas juga tampak dari cara penguasa memaknai reformasi birokrasi. 7)Reformasi birokrasi dikecilkan maknanya sebatas sebagai remunerasi. Sebuah bentuk pemujaan pada materi yang semakin meyakinkan rakyat bahwa “materi adalah segala-galanya”. 8)Padahal kita tahu bahwa pembenahan sistem remunerasi hanyalah salah satu bagian kecil dan merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan yang lebih besar dan menyeluruh. (paragraf 13)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Hal-hal di atas baru sebagian kecil dari persoalan yang kita hadapi. 2) Di lahan kepemimpinan, kontradiksi juga dengan mudah kita temukan. “Satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan” sebagai adagium politik yang diajarkan Bung Karno, bahwa penanda dari kepemimpinan yang berkualitas, praktis tidak kita temukan dalam diri pemimpin bangsa saat sekarang. 3)Ada selisih yang sangat jauh antara “citra” dan “realitas”. 4)Lebih lagi, hampir setiap pemimpin berlomba membangun citra diri. 5)Lihatlah di televisi dan di berbagai media, semakin banyak menteri dan kementerian yang lebih sibuk “ mengiklankan diri” , ketimbang bekerja untuk mensejahterakan rakyat. 6)Hal ini juga berlaku bagi sejumlah kepala daerah.(paragraf 16)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Hal terakhir yang ingin saya garis bawahi adalah perintah Kongres agar setiap warga partai menjadi contoh hidup dari Pancasila sebagai ideologi. 2)Kita masih mengalami kesulitan di sana-sini. 3)Masih banyak perilaku elit PDI Perjuangan yang jauh dari standar norma Pancasila.4) Karenanya, saya serukan agar setiap kader partai menyadari hal ini. 5)Dan untuk itu, tuntunannya sangat sederhana, yakni setiap kita harus “ menyatukan perkataan dengan perbuatan, menyamakan mulut dengan tindakan”. 6 ) Ajaran dasar yang berulang-kali disuarakan Bung Karno untuk diikuti oleh setiap pengikutnya.7) Ingatlah, setiap kader partai adalah ibarat guru. 8)Bahkan oleh Bung Karno, kader partai harus menjadi bintang pengarah yang memberikan gerak hidup. 9)Ia harus menjadi teladan, dan terus mengobarkan semangat “ karma nevad ni adikaraste ma phalesu kada cana ”, yang artinya kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya.  10)Inilah keteguhan sebagai kader partai dan sebagai antitesa terhadap maraknya pragmatisme politik yang sangat transaksional tersebut. (paragraf 26)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Wacana teks pidato politik pada saat HUT ke-38 PDIP digunakan tiga jenis metafora, yaitu metafora nominatif berjumlah 9 paragraf yakni 32 %, metafora predikatif berjumlah 3 paragraf yakni 10%, sedangkan metafora kalimat tidak ditemukan pada teks pidato tersebut. Dari 28 paragraf yang terdapat pada teks pidato politik yang disampaikan M.S. dalam rangka HUT XXXVIII PDIP 42% menggunakan paragraf bermetafora untuk menyampaikan pesan politiknya. Temuan hasil penelitian bahwa metafora nominatif yang paling banyak digunakan pada teks pidato politiknya M.S., dan metafora predikatif hanya ditemukan hanya tiga paragraf. Sedangkan metafora kalimat pada teks pidato politik M.S. tidak ditemukan penggunaan dalam paragrafnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Kita harus bersyukur karena rentang panjang sejarah kepartaian di bumi tercinta ini telah membuktikan: tidak banyak kekuatan politik yang bisa terus bertahan dan memberikan sumbangsihnya bagi rakyat, bangsa dan negara untuk waktu yang panjang. 2) Sejarah membuktikan, banyak partai-partai lahir dan mati , bukan saja wadahnya, tapi juga ruhnya, ideologinya. 3) Bahkan sejak memasuki era reformasi, kita menyaksikan begitu banyaknya partai politik yang hanya bisa bertahan seumur jagung , kemudian musnah dan akhirnya dilupakan sejarah. 4) Sementara PDI Perjuangan tetap diberi anugerah panjang usia yang memungkinkan kita berkumpul hari ini untuk merayakan Ulang Tahun yang 38. (paragraf 2)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf ke-2 M.S. menggunakan dua metafora nominatif, yaitu kalimat 2 dan 3. Kedua kalimat tersebut menggunakan metafora nominatif , yakni : “ banyak partai-partai lahir dan mati” dan “bertahan seumur jagung ”. Partai dipersonifikasikan layaknya hidup seperti manusia melalui proses kelahiran, kehidupan, dan kematian. Penggunaan metafora seperti itu menandakan partai bisa diberikan ruh dan ideologi sebagai sumber kehidupan partai dan organisasi partai sebagai wadah seperti istilah yang digunakan dalam kutipan paragraf ke-2 di atas. Dengan munculnya metafora tersebut berkoherensi dengan munculnya metafora yang kedua yaitu “ bertahan seumur jagung” kehidupan partai dimetaforkan secara analogi perbandingan dengan tumbuhan yang memiliki umur singkat. Pidato M.S. pada kutipan di atas memberikan keyakinan kepada publik bahwa secara tersamar PDIP adalah partai yang tidak mudah mati atau berumur seperti umur jagung tetapi adalah partai yang sudah melewati masa-masa kritis dan sekarang sudah menginjak dewasa untuk bisa menentukan sikap. Metafora yang digunakan M.S. dalam pidatonya membandingkan partai-partai yang baru berdiri dibandingkan dengan tumbuhan jagung yang hidupnya singkat dan tumbuhnya gambang dan hanya bisa hidup di musim hujan atau bila ada air. Makna tersamar yang ingin disampaikan bahwa PDIP adalah partai yang sudah teruji dan sudah melewati masa-masa kritis seperti halnya zaman orde baru.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1) Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya banggakan, Di tengah-tengah keterpurukan sosial ekonomi dan bencana alam yang terus mengintai, muncul ancaman bencana lain yang menyangkut  karakter dan kepribadian bangsa kita. 2) Bencana ini mempunyai implikasi lebih serius karena ia mengancam secara simultan dasar mental dan pikiran rakyat. 3) Lihat saja proses hukum kasus Bank Century. 4) Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan. (paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kutipan paragraf 12 pada kalimat 4 di atas menggunakan metafora predikatif. Metafora predikatif adalah metafora yang memiliki fungsi predikat pada kalimat. Kalimat 4 yaitu, “ Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan. “ Kalimat ini berstruktur K – S – P – O dengan kata “dimandulkan “ sepagai predikat. Metafora “dimandulkan” membawa implikasi makna bahwa ”hak angket DPR” seolah-olah bisa dikebiri kejantanannya oleh tangan-tangan penguasa. Makna metafora dimandulkan adalah menghilangkan fungsi dan tugasnya. Misalnya kalau seorang laki-laki dimandulkan, itu artinya laki-laki itu tidak difungsikan kelaki-lakiannya (kejantanannya). Orator politik memilih kata yang bermetafora yang pedas.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

3. Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat. Pada saat bersamaan, pemerintah seharusnya mendengar jeritan rakyat atas kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar, yang sudah melebihi daya beli rakyat. Bahkan, untuk kesekian kalinya, rakyat menjadi korban hanya untuk sekedar mendapatkan makan. Oleh karena itu, tidak boleh terjadi lagi, rakyat kecil bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin berat sebagaimana telah terjadi di Cirebon, Kebumen, dan beberapa daerah lainnya. Inilah gambaran, betapa sulitnya rakyat berjuang hidup-mati hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. (paragraf 8)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

4. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya banggakan, Di tengah-tengah keterpurukan sosial ekonomi dan bencana alam yang terus mengintai, muncul ancaman bencana lain yang menyangkut  karakter dan kepribadian bangsa kita. Bencana ini mempunyai implikasi lebih serius karena ia mengancam secara simultan dasar mental dan pikiran rakyat. Lihat saja proses hukum kasus Bank Century. Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan.(paragraf 12)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosia l. (paragraf 5)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Tema teks pidato ditemukan pada paragraf 5 kalimat 1, yaitu “ Kesejahteraan Rakyat dan Keadilan Sosial”. Kedua teks pidato politik M.S. tema-temanya selalu mengangkat isu kesejahteraan rakyat dan wong cilik. Tema ini didukung dan diperkuat oleh subtopik-subtopik dan fakta yang ada pada beberapa paragraf. Paragraf-paragraf yang mendukung tema/topik pidato terdapat pada paragraf 6, 7, 8, 9, 11,14, 15, dan 16. Paragraf subtopik untuk mendukung makna global yang ingin disampaikan oleh pembicara/penulis teks pidato. Kutipan paragraf yang mengandung subtopik bisa dilihat di bawah ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. 2) Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. 3)Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. 4)Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan. (paragraf 6)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

1)Hal-hal di atas baru sebagian kecil dari persoalan yang kita hadapi. 2)Di lahan kepemimpinan, kontradiksi juga dengan mudah kita temukan. “Satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan” sebagai adagium politik yang diajarkan Bung Karno, bahwa penanda dari kepemimpinan yang berkualitas, praktis tidak kita temukan dalam diri pemimpin bangsa saat sekarang. 3)Ada selisih yang sangat jauh antara “citra” dan “realitas”. 4)Lebih lagi, hampir setiap pemimpin berlomba membangun citra diri. 5)Lihatlah di televisi dan di berbagai media, semakin banyak menteri dan kementerian yang lebih sibuk “mengiklankan diri”, ketimbang bekerja untuk mensejahterakan rakyat . Hal ini juga berlaku bagi sejumlah kepala daerah. (paragraf 16)

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berdasarkan analisis data teks pidato partai politik PDIP yang berjudul Pidato Politik Pembukaan Kongres III PDI (data 1) dan teks pidato partai politik yang berjudul Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan (data 2) ditemukan strukturnya sebagai berikut. Struktur supra yang digunakan dalam membangun teks pidato politik adalah yang pertama ada bagian pendahuluan yang berisi ucapan salam, yang kedua ada bagian isi, yaitu ada identitas partai, visi misi partai dan program-program partai di samping ada menyampaikan kegagalan pemerintahan SBY, semua itu untuk pencintraan PDIP sekaligus mengandung unsur persuasif. Dan yang ketiga bagian penutup/kesimpulan yang berisi ucapan terimakasih dan salam penutup. Dari hasil analisis bahwa struktur supra kedua teks pidato tersebut sudah menggunakan skematika yang terstruktur, hal ini sesuai dengan teori Santoso (2003:241), tentang langkah-langkah pidato politik yang meliputi: 1. Pembukaan, 2 Eksposisi (identitas partai dan program-program partai), 3 persuasi, dan 4 penutup. Penataan teks pidato yang digunakan oleh elite politik PDIP (ketua umum) dari hasil analisis menunjukan bahwa skematika teks terstruktur. Pengurutan teks secara sistematis akan memudahkan pendengar menyimak isi teks. Penataan teks pidato politik diawali dengan pembukaan/pendahuluan berisi ucapan salam pembuka dengan berbagai model yaitu Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh , Salam Sejahtera bagi kita semua, Om Swastiastu, Merdeka!!! Ini bisa dilihat pada teks pertama (data 1) paragraf 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 pada teks pidato pembukaan kongres III PDIP dan paragraf 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 pada teks yang kedua (data 2) yaitu pidato dalam rangka HUT XXXVIII PDIP. Pilihan berbagai salam oleh M.S. akan memberikan interpretatif bagi pendengar terhadap identitas dan keberadaan partai PDIP. Penyampaian salam berbagai agama secara normatif akan memberikan persepsi pendengar bahwa PDIP adalah partai nasionalis yang menghargai pluralisme dan kebhinekaan karena bangsa Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku dan banyak agama. Pilihan berbagai salam pembuka pada bagian pendahuluan akan memberikan prosedur interpretatif bagi pendengar ( audience) mengenai identitas partai politik yang diwakilinya. Pilihan diksi atau kata pada pendahuluan kedua teks pidatonya M.S. relatif sama termasuk bagian penutup juga menggunakan pilihan kata yang sama. Pendahuluan sebuah pidato merupakan langkah awal yang penting untuk mengantarakan ke arah pokok persoalan yang akan dibahas sebagai upaya menyiapkan mental pendengar ( audience) dan memberikan kesan pertama pada pendengar (Bahar,2013:203). Langkah selanjutnya berupa paparaan (eksposisi) tentang satu hal yang dianggap penting menurut kacamata partai PDIP, misalnya memaparkan dengan panjang lebar isu kesejahteraan rakyat atau wong cilik dan juga memaparkan tentang kegagalan pemerintah SBY dalam menyejahterakan rakyat. Pemaparan ini merupakan bagian dari strategi politik untuk memberikan isu positif terhadap eksistensi partai PDIP dan memaparkan isu yang melemahkaan partai lawan dengan bahasa bersayap (dalam hal ini partai Demokrat). Bagian paparan ini sudah masuk dalam ranah isi dari pidato, yiatu berupa pemaparan yang disertai dengan pembahasan dengan argumen dan fakta-fakta yang terkait ideologi dan isu politik misalnya, identitas partai, program-program partai, dan termasuk posisi partai PDIP sebagai partai oposisi dari pemerintahan SBY. Bagian isi kedua pidato politik M.S. menggunakan pilihan kata yang bersifat memersuasif dengan mengangkat tema dan sekaligus sebagai isu politik yang ingin disampaikan, yaitu “ kesejahteraan rakyat”. Tahapan selanjutnya diikuti oleh paparan yang disertai memersuasif pendengar dengan menggunakan pilihan leksikalisasi yang kadang kala akan menimbulkan pergeseran-pergeseran makna. Dan terakhir pada bagian penutup berisi ucapan dengan pilihan kata “terima kasih” dan salam yang fungsinya sama dengan salam pada bagian pendahuluan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur supra bagian isi kedua teks pidato M.S. memaparkan identitas partai, program-program partai, dan usaha memersuasif pendengar. pada bagian isi pidato politik M.S. menyampaikan visi dan misi partai sekaligus sebagai program partai. Bagian isi lebih banyak menguraikan tentang ideologi partai yaitu keberpihakan kepada wong cilik serta mengangkat isu politik tentang kesejahteraan rakyat. PDIP bukan semata-mata hanya kekuasaan dan menjaga kekonsistenannya sebagai partai oposisi. Dengan penyampaian identitas partai dan program partai secara positif dalam pidatonya, akan berdampak positif terhadap pendengar. Pidato politik M.S. sesuai dengan teori Anang bahwa di dalamnya ada pemaparan identitas partai, program-program partai, dan ada unsur memengaruhi pendengar (persuasif). Temuan penelitian ini bahwa penggunaan pola paragrafnya lebih banyak menggunakan paragraf deduktif. Pidato politik M.S. dalam teks pidatonya menempatkan ide pokok di awal paragraf. Data teks pidato yang pertama membuktikan bahwa hanya ada 2 paragraf yang menggunakan pola paragraf induktif (ide pokok di akhir paragraf), yaitu paragraf 37 dan 39. Dan data teks pidato M.S. yang kedua hanya ditemukan 1 paragraf yang menggunakan paragraf pola induktif, yaitu paragraf 18. Dari kedua data tersebut peneliti mengambil kesimpulan bahwa penulis/orater teks pidato lebih banyak dan produktif menempatkan ide pokok di awal kalimat karena ide pokok di awal memberikan kesan dan pemahaman lebih mudah kepada pendengar (audience).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Sistematis dan terstrukturnya pola pengurutan teks pidato politik M.S. memberikan kesan bahwa penghasil teks merencanakan secara matang teks yang dipaparkannya. Kematangan penyusunan teks pidato tersebut terlihat dari penggunaan pilihan kata antara teks pidato yang pertama dengan yang kedua selalu muncul kata-kata kesejahteraan rakyat, wong cilik, dan perjuangan. Ikon ketiga kata itu selalu muncul pada kedua teks pidatinya M.S.. Di samping itu, kedua teks tersebut bahwa M.S. (PDIP) betul-betul menyiapakan pilihan kata (diksi) yang sarat dengan ideologi politik yang selalu berpihak pada rakyat. Bukti ini peneliti simpulkan bahwa kata-kata (diksi) ideologi politik yang digunakan pada kedua teks pidato M.S. banyak yang sama bahkan gagasan umum kedua teks tersebut mengangkat tema “Kesejahteraan Rakyat”. Pada tahap eksposisi dan persuasi teks pidato politik M.S. memaparkan secara panjang lebar eksistensi PDIP dan kegagalan pemerintahan SBY dalam mengelola negara. Pernyataan kegagalan pemerintahan SBY misalnya dengan mengungkap kasus bank century yang sampai saat ini belum terselesaikan. Pidato politik M.S. menggunakan strategi pencitraan dengan mengungkapkan secara detail kelemahan dan kegagalan pemerintahan SBY. Penekanan yang menguntungkan posisi PDIP, M.S. menggunakan strategi elemen grafis, yaitu kalimat atau frasa yang penting ditulis dengan huruf kapital, dengan pengulangan beberapa frasa/kalimat, atau tanda petik (“). Hal ini bisa dilihat dari data elemen gafis kedua teks pidato politik M.S., yaitu pada data 1 terdapat 5 paragraf yang menggunakan penekanan/penonjolan maksud (9,43%) dan data 2 juga 5 paragraf, yaitu 17,8%. Eksposisi yang lebih banyak memaparkan kegagalan pemerintah mengelola negara dan isu bank century yang masuk dalam isu wilayah politik akan berimplikasi kepada pendengar dan segaligus bagian dari strategi PDIP untuk memersuasif pendengar ( audience ). Pemunculan kegagalan pemerintah, kelemahan pemerintah dalam pidato politik M.S. bisa dikatagorikan pidato M.S. bagian dari kampanye hitam ( black campaign ).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Hasil penelitian struktur supra penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Numertayasa (2013) yang berjudul “ Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menegah Kecamatan Rendang Tahun 2011” menunjukkan bahwa struktur supra penelitian ini dan penelitian Numertayasa keduanya menggunakan struktur supra yang sistematis dan terstruktur. Hal ini dilihat dari bagian pendahuluan, isi, dan penutup dari kedua teks wacana tersebut bersifat sistematis dan terstruktur .

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Teks wacana pidato politik yang disampaikan saat pembukaan kongres PDI Perjuangan dan juga saat HUT XXXVIII PDI Perjuangan dibangun oleh struktur mikro. Struktur mikro yang digunakan orator politik dalam membangun wacana teks pidatonya terdiri beberapa elemen. Elemen-elemen itu antara lain : 1) elemen semantik terdiri dari latar, detail, maksud, dan pra-anggapan; 2) elemen sintaksis terdiri dari bentuk kalimat, koherensi/kohesi, dan kata ganti (pronominal); 3) elemen stilistika yaitu leksikalisai; dan 4) elemen retorika yang terdiri atas grafis dan metafora. Pada elemen latar mengungkapkan latar diadakannya kongres seperti yang terdapat pada teks pidato yang pertama, yaitu “bukan saja dilatari karena agenda lima tahunan partai tetapi karena ingar binger politik nasional” (paragraf 4). Di samping itu, orator politik juga mengungkapkan latar historis diadakan kongres seperti kutipan kalimat ini. “ Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan.” (paragraf 8). Kutipan ini tergolong dalam latar historis karena mengungkapkan latar sejarah perjuangan partai yang mengutamakan harkat dan martabat wong cilik dibandingkan dengan urusan bagi-bagi kekeuasaan. Bagian latar dari kedua teks pidato politik M.S. sudah membangun komunikasi politik dengan isu politik yang kental dan menyentuh rakyat kecil. Komunikasi politik dibangun dengan pilihan kata sederhana, yaitu wong cilik dan kesejahteraan rakyat. Kata-kata ini selalu muncul pada kedua teks pidato politiknya M.S..

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen maksud kedua teks pidato politik M.S. kalau lebih menguntungkan PDIP akan diuraikan secara eksplisit sedangkan yang kurang menguntungkan PDIP diuraikan secara implisit atau tersembnyi ( latent). Misalnya “ Kita juga harus bekerja di dalam situasi citra menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi” Pencitraan tidak dijelaskan secara eksplisit karena pada intinya pidato-pidato politik M.S. juga merupakan satu strategi pencitraan yang sama dengan pidato-pidato SBY sebagai pemerintah penguasa. Hanya saja pencitraan PDIP lewat penguraian secara detail hal-hal yang menguntungkan PDIP. Kalimat-kalimat yang mengungkapkan kelemahan dan kegagalan pemerintah SBY dalam pidato politik M.S. merupakan strategi komunikasi dan pencitraan PDIP. Dengan mengungkap kelemahan pemerintah SBY seperti kasus bank century sama artinya mengatakan kalau PDIP menjadi penguasa pemerintah akan bisa mengatasi masalah tersebut. Makna yang tersembunyi dari PDIP adalah meminta dukungan dan kesempatan kepada rakyat untuk bisa memimipin Negara ini (berkuasa).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa struktur mikro yang digunakan dalam teks pidato dalam rangka pembukaan kongres PDIP dan HUT XXXVIII PDIP yang paling banyak digunakan oleh orator politik adalah elemen sintaksis. Penggunaan paling banyak elemen sintaksis dalam teks pidato karena unsur dan strategi media komunikasi yang terpenting digunakan dalam teks harus menggunakan media kalimat. Elemen sintaksis kedua teks tersebut selalu hadir dan ada pada setiap paragraf sebab paragraf didukung oleh kalimat-kalimat sebagai penjelas dari ide pokok. Jadi penjelasan ide pokok dari sebuah paragraf tidak bisa tanpa kalimat penjelas. Pola pengembangan dengan elemen sintaksis dalam bentuk kalimat ditemukan penggunaan kalimat aktif dan pasif serta penggunaan modus kalimat. Modus kalimat yang digunakan dalam pola pengembangan teks pidatonya menggunakan modus kalimat deklaratif, modus kalimat interogatif, dan modus kalimat imperatif. Di antara ketiga modus yang digunakan pada kedua teks tersebut bahwa modus kalimat yang bersifat deklaratif penggunaannya paling banyak atau paling produktif karena tujuan dari teks pidato politik adalah memberikan pernyataan dan penjelasan terkait eksistensi partainnya. Buktinya teks pidato dalam rangka pembukaan kongres III PDIP menggunakan modus kalimat deklaratif sebanyak 180 kalimat, yaitu 89%. Di sisi lain penggunaan modus kalimat deklaratif dalam teks pidato politik tersebut karena isi dan tujuan pidatonya adalah menjelaskan dan menyatakan secara jelas dari keberadaan partai baik menyangkut ideologi atau program-program partai. Dari sisi penggunaan aktif pasif, kedua teks pidato politik M.S. tersebut lebih mendominasi penggunaan bentuk kalimat aktif   jika dibandingkan dengan penggunaan kalimat pasif. Penggunaan kalimat aktif pada teks pidato politik M.S. begitu produktif karena secara teori bahwa orator politik mestinya lebih banyak menggunakan kalimat aktif dibandingkan kalimat pasif. Menurut Chaer (2012) kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya kata kerja aktif. Dengan demikian kalimat aktif itu adalah kalimat yang subyeknya melakukan suatu pekerjaan maka dengan teori ini pembuat/orator teks menyadari sebagai orator yang melakukan suatu pekerjaan dan bukan hanya dikenai pekerjaan. Penggunaan lebih banyak kalimat aktif jika dibandingkan kalimat pasif ingin memberikan pemahaman politik bahwa PDIP lebih banyak melakukan pekerjaan untuk rakyat dan negara bukan hanya dikenai pekerjaan saja. Jadi penggunaan kalimat aktif oleh orator politik dalam teks pidatonya membuktikan bahwa orator atau penulis teks pidato berlaku sebagai aktor atau subjek yang lebih banyak melakukan tindakan/perbuatan sehingga penulis teks lebih cenderung memilih kalimat aktif daripada pasif. Hal ini diperkuat dan diacukan pada pendapat Orwell (1946) dalam Anang (2003) yang menganjurkan agar elite politik lebih menggunakan kalimat aktif dibandingkan dengan kalimat pasif. Lebih lanjut Jones dan Wareing mengatakan penggunaan konstruksi kalimat aktif biasanya lebih langsung dan lebih informatif, sementara itu konstruksi pasif tampak lebih formal dan lebih berbelit yang sering memberikan informasi yang kurang sehingga lebih sukar untuk dipahami. Dengan demikian pemilihan lebih banyak bentuk kalimat aktif dalam pidato politik M.S. sebagai bentuk strategi komunikasi politik M.S..

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penggunaan elemen koherensi/kohesi pada kedua teks pidato politik di atas yang paling banyak penggunaanya adalah koherensi/kohesi aspek gramatikal pengacuan (referensi) dan konjungsi sedangkan aspek leksikalnya yang paling banyak adalah repetisi. Dengan demikian penggunaan aspek gramatikal pengacuan (referensi) menegaskan bahwa teks pidato selalu berkaitan antara paragraf satu dengan paragraf yang lain baik yang bersifat anafora maupun katafora. Bahkan pengacuan pada teks pidato yang berjudul “ Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDIP” ada yang menggunakan acuan di luar teks atau mengacu pada teks pidato yang lalu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Aspek leksikal berupa repetisi yang digunakan orator dalam teks pidatonya untuk mengulang dan menegaskan hal-hal yang penting yang patut mendapat poin perhatian dari pendengar. Penggunaan repetisi baik berupa kata, frasa, ataupun kalimat merupakan suatu strategi komunikasi untuk menekankan suatu yang penting dalam teks tersebut. Penggunaan pilihan kata dalam aspek leksikal menurut pandangan studi bahasa kritis memunyai misi tertentu, niat serta kepentingan tertentu, dan agenda / ideologi tertentu.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bagian yang terakhir dalam struktur mikro ada yang disebut elemen retorika. Elemen ini ada dua, yakni elemen grafis dan elemen metafora. Wacana teks pidato politik M.S. keduanya menggunakan elemen grafis, misalnya saat M.S. menyampaikan hal-hal penting sering mengulang dengan kohesi repetisi kata, klausa ataupun kalimat. Di samping dengan cara itu M.S. sebagai orator politik penekanan-penekanan hal yang dianggap penting menulis dengan huruf kapital, dengan pengulangan kata atau frasa dan juga dengan tanda petik dua (“).

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Elemen metafora juga banyak digunakan pada kedua tek pidato politiknya M.S.. Makna metafora memberikan makna yang tersembunyi (latent) dan makna tersamar kepada pendengar atau makna sindiran kepada lawan politik. Perlu diingat bahwa analisis terhadap makna metafora merupakan langkah awal memahami bahasa politik (Beard, 2000:19. dalam Anang). Penggunaan metafora tertentu memiliki maksud untuk menghaluskan kritik kepada penguasa (pemerintah SBY). Hal ini sesuai dengan pendapat Anang (2012:71) bahwa dalam wacana politik Indonesia, partai oposisi memiliki kecendrungan lebih aktif menyerang atau mengkritik partai pemerintah (partai penguasa) baik secara implisit maupun secara eksplisit. Pemanfaatan metafora bukan hanya sebagai pemanis ucapan semata tetapi menunjukkan bagaimana pendengar dalam hal ini rakyat memahami konsep politik secara halus dan tidak radikal. Ini sejalan dengan teori Gibbs dalam Anang (2013:128) bahwa metafora bukan alat retoris semata-mata dan kunci metafora melibatkan konsep “musuh” dan “lawan”. Jadi berdasarkan analisis metafora yang digunakan pada kedua teks pidato tersebut dan pendapat dari Beard maka bahasa dalam teks pidato politik tidak semuanya lugas, selalu ada makna-makna yang tersembunyi (latent ) dalam penyampaian ide-ide politiknya. Makna metafora pada teks pidato politik M.S. ada yang bersifat pedas dan sarkasme seperti metafora “ sekian lama dibugkam” dan “DPR dimandulkan”. Secara leksikal makna “bungkam” adalah menutup mulut dan makna “mandul” adalah tidak memunyai anak. Jika dimaknai secara metafora menganalogikan bahwa rakyat tidak boleh bicara pada alam demokrasi dan wakil rakyat tidak lagi bisa melahirkanpemikiran baru dan tidak lagi difungsikan sebagai alat kontrol pemerintah. Kedua teks pidato politik M.S. selalu memunculkan bahasa-bahasa bersayap seperti kata-kata yang bermetafora. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Anwar (dalam Anang 2013:3) bahwa bahasa politik penuh dengan semboyan-semboyan dan kata-kata bersayap serta menghindari penggunaan bahasa yang berkonotasi netral dan objektif. Temuan penelitian ini adalah penggunaan bahasa-bahasa yang digunakan M.S. dalam pidatonya selalu menguntungkan daan berpihak pada partai PDIP. Hal ini disebabkan karena pidato M.S. adalah pidato politik yang mewakili partai PDIP. Jadi dengan demikian bahasa yang digunakan bukanlah makna alamiah tetapi dibangun oleh proses sosial dan politik dalam teks tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persamaan temuan hasil penelitian ini dalam hal struktur mikro dengan penelitian Trina Des Ryantini (2011) yang berjudul “ Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro)” adalah kedua penelitian ini lebih banyak menggunakan tipe paragraf deduktif. Aspek penggunaan ide pokok pada paragraf dalam kedua teks wacana yang digunakan sumber data penelitian ditemukan penggunaan lebih banyak paragraf deduktif paling banyak jika dibandingkan dengan paragraf induktif. Jadi kedua hasil penelitian tersebut ,yaitu penelitian tentang teks wacana pada kolom debat tentang togel di Bali Post dan teks wacana pidato politik partai oposisi sama-sama menggunakan lebih banyak tipe paragraf deduktif dan sebagian kecil menggunakan paragraf induktif. Penelitian Trina Des Ryantini yang berjudul Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro dan penelitian ini yang berjudul Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan SBY, keduanya mnggunakan peranti-peranti kohesif gramatikal dan leksikal.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kedua teks pidato tersebut dalam penyampaian tema/topik pidatonya memiliki strategi penyampaian yang berbeda walaupun disampaikan oleh orang yang sama. Pada pidato pertama yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDIP penyampaian atau penulisan tema/topiknya ada pada bagian akhir pidato yaitu pada paragraf 52. Temuan ini membantahkan teori Anang (2013:241) bahwa Pembukaan/pendahuluan berisi ucapan salam (pembuka), gagasan umum dan pentingnya pidato itu disampaikan. Berdasarkan teori tersebut, pidato yang baik adalah pidato yang gagasan umum (tema) disampaikan di awal bukan diakhir sebuah pidato. Jadi pidato politik M.S. menyimpang dari teori Anang karena menempatkan tema pidato di akhir. Akan tetapi, dalam dunia panggung politik, ini merupakan sebuah strategi komunikasi politik untuk memberikan kesan yang lebih menempatkan tema di akhir pidato apalagi mengangkaat tema “Kesejahteraan Rakyat”. Penyampaian tema di akhir pidato membuat pendengar penasaran dan kemungkinan akan merindukan pidato M.S. selanjutnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Persamaan temuan hasil penelitian ini dalam hal struktur makro dengan penelitian Trina Des Ryantini (2011) yang berjudul “ Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro)” adalah penelitian ini menunjukkan bahwa penulis teks/pembicara berupaya meyakinkan pendengar dengan beberapa argumen dan fakta-fakta kalimat agar mengikuti pandangan pembicara (orator politik) sedangkan temuan hasil penelitian Trina Des Ryantini menunjukkan bahwa penulis berupaya mendominasi pembaca agar mengikuti pandangannya, yaitu menolak dan membrantas judi togel di Bali. Jadi kedua penelitian ini menekankan pada audien (pendengar atau pembaca) untuk mengikuti pandangan ideologinya. Penelitian Trina menekankan pemberantasan judi togel sedangkan penelitian ini menekankan pada kesejahteraan rakyat. Jadi kedua hasil penelitian ini berusaha meyakinkan pendengar (baik secara lisan atau tulisan) dengan argumen dan fakta-fakta kalimat agar mau mengikuti pandangan pembicara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini diharapkan dapat berimplikasi dan memberikan kontribusi terhadap keilmuan terutama bagi perkembangan dan pengembangan teori tentang analisis wacana khususnya Analisis Wacana Kritis (AWK). Penelitian ini dapat memberikan sumbangan dan kontribusi keilmuan di kalangan masyarakat akademik terutama yang tertarik pada ilmu linguistik khususnya tentang analisis wacana. Di kalangan masyarakat akademis dapat memberikan pemahaman tentang struktur supra, yakni skematik dari teks pidato, pemahaman tentang struktur mikro yakni dari tatanan semantik, sintaksis, stilistika sampai keretorikaan wacana, dan pemahaman tentang struktur makro, yaitu tema/topik tidak tampak (tersembunyi) bisa menjadi eksplisit atau nyata. Penelitian ini diharapkan dapat membedah secara kritis ideologi dan hal-hal tersembunyi yang terdapat dalam teks pidato politik. Analisis Wacana Kritis (AWK) dapat meretas secara tuntas unsur-unsur suprastruktur, struktur mikro, dan struktur makro pidato politik yang dikaitkan dengan konteks, kondisi sosial politik masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini dapat dipakai referensi atau rujukan dalam rangka pengembangan bahan ajar pembelajaran materi pidato pada mata pelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMA khususnya kelas XII. Apalagi siswa kelas XII sudah menginjak umur 17 tahun maka hak-hak politiknya sudah bisa dipergunakan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Implikasi penelitian ini terhadap dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat memberikan sumbangan dan kontribusi bagi guru-guru dalam pengajaran bahasa Indonesia khususnya mengajakan materi pidato yang bersifat persuasif. Di samping itu hasil penelitian ini dapat dijadikan oleh guru bahasa Indonesia sebagai salah satu bahan pengembangan materi ajar pelajaran bahasa Indonesia khusus menyangkut materi berbicara atau materi berpidato persuasif. Implikasi ini sangat penting di kalangan dunia pendidikan karena pendidikan merupakan sumber pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas maka hasil penelitian in bisa dipergunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama siswa-siswi yang sudah kelas XII untuk mempersiapkan diri terjun ke dalam masyarakat baik sebagai pemerhati dan atau terjun ke panggung politik. Maka lewat materi pengajaran membaca dan berbicara pada submateri berpidato yang bercorak persuasif siswa bisa menyampaikan pikiran kritis dan belajar memperjuangkan ideologinya. Dan manfaat terakhir yaitu bagi peneliti yang lain yang tertarik pada penelitian wacana kritis, penelitian ini bisa digunakan salah satu referensi.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Secara praktis penelitian yang mengangkat judul Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Ketua Umum Partai Oposisi pada Zaman Pemerintahan SBY sangat bermanfaat bagi kalangan siswa, terutama siswa SMA khususnya siswa SMA kelas XII yang sudah menginjak umur 17 tahun dan secara hukum sudah memiliki hak-hak politik, baik sebagai pemilih maupun hak untuk dipilih. Implikasi penelitian ini bisa diterapkan langsung dalam kehidupan sosial politik di masyarakat. Mengingat kurikulum tahun 2004 pada materi pelajaran membaca dan berbicara kelas XII pada Standar Kompetensi (SK) tiga yaitu memahami artikel dan teks pidato pada Kompetensi Dasar (KD) 3.2. membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat. Yang kedua pada Standar Kompetensi sepuluh yaitu mengungkapkan informasi melalui presentasi program/proposal dan pidato tanpa teks pada Kompetensi Dasar (KD) 10.2 berpidato tanpa teks dengan lafat, intonasi, nada dan sikap yang tepat. Melihat fakta itu Analisis Wacana Kritis (AWK) untuk materi pidato baik menyangkut materi memproduksi teks pidato maupun materi cara menyampaikan pidato secara persuasif sangat bermanfaat sekali untuk bekal siswa siswi terjun ke masyarakat. Pidato secara persuasif adalah pidato yang tujuannya memengaruhi audien atau pendengar agar terpesuasif/terpengaruh oleh isi pidatonya. Pidato politik salah satu contoh jenis pidato persuasif untuk membujuk, merayu atau memengaruhi pendengar. Apalagi kurikulum 2013 menitikberatkan pembelajaran berbasis teks.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Berbahasa adalah bertutur dalam bentuk untaian wacana yang disampaikan secara lisan maupun secara tertulis dan sudah tentu untaian tersebut didukung dari hal yang paling kecil dalam sebuah bahasa yang disebut dengan morfem sampai kewujud yang paling besar yaitu wacana. Wacana merupakan wujud penggunaan bahasa yang dibentuk oleh manusia sebagai pengguna bahasa dengan cara memilih topik pembicaraan dan menyusunnya dengan pola tertentu, menggunakan serta memilih kata, membentuk frasa, menyususn kalimat serta mwujudkannya yang lebih besar. Berdasarkan pandangan tersebut maka wacana merupakan media komunikasi baik yang bersifat lisan atau tulisan. Begitu juga halnya dalam komunikasi yang digunakan dalam dunia politik untuk sebuah kepentingan yang sering disebut dengan komunikasi politik. Strategi komunikasi politik sangat diperlukan menyalurkan komunikasi agar tanpa hambatan untuk menyampaikan tujuan politiknya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Bahasa yang digunakan dalam komunikasi politik sudah tentu menggunakan bahasa register politik. Ragam bahasa politik bisa dikaji dari suprastruktur ( superstructure ), aspek struktur mikro ( micro structure ) maupun struktur makronya ( macro structure ). Penggunaan bahasa dalam ragam politik khususnya partai oposisi, dalam konteks berwacana jelas dibangun oleh faktor-faktor linguistik atau aspek kebahasaan yang memuat tujuan pembicara atau penulis teks dari wacana. Teks wacana yang mengambarkan hal tersebut adalah teks pidato partai politik yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDIP dan Pidato politik PDIP pada HUT XXXVIII PDIP.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur supra, struktur mikro, dan struktur makro yang digunakan dalam teks pidato menyampaikan ideologi politik kepada pendengar (audien). Penelitian ini mengangkat tiga permasalahan, yaitu 1) bagaimanakah struktur supra teks pidato politik ketua umum PDIP?, 2) bagaimanakah struktur mikro teks pidato politik ketua umum PDIP?, dan 3) bagaimanakah struktur makro teks pidato politik ketua umum PDIP? Ketiga permasalahan tersebut dibedah dengan menggunakan teori wacana kritis dari Van Dijk, yaitu 1) struktur supra yang mengkaji tentang skematika/alur dari pidato politik. Unsur-unsur struktur supra meliputi pendahuluan, isi, dan penutup/kesimpulan. 2) struktur mikro mengkaji elemen semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. 3) struktur makro mengkaji tentang tema/topik yang diangkat dalam pidato politik yang didukung oleh subtopik dan fakta-fakta yang mendukung tema/topik tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dengan sumber data penelitian adalah teks pidato politik partai PDIP pada saat pidato pembukaan kongres dan HUT XXXVIII partai PDIP. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1) peneliti sendiri dan 2) pedoman dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif model Van Dijk dengan prosedur 1)Reduksi data, 2)penyajian data,       3) analisis data, 3) penyimpulan data (verifikasi). Data itu dianalisis dengan menggunakan teori Analisis Wacana Kritis (AWK) dari Van Dijk.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur Mikro yang ditemukan dalam teks pidato politik ketua umum partai PDIP dalam rangka pidato pembukaan kongres dan HUT XXXVIII PDIP menggunakan tiga elemen yang membangun wacana teks pidato. Ketiga elemen itu adalah, 1) elemen semantik meliputi latar, detail, maksud, dan pra-anggapan, 2) elemen sintaksis meliputi bentuk kalimat, koherensi/kohesi, dan kata ganti,      3) elemen stilistika meliputi leksikon, dan 4) elemen retorika meliputi grafis dan metafora. Dari keempat elemen yang ditemukan dalam teks pidato tersebut, elemen sintaksis penggunaannya yang paling banyak bahkan setiap paragraf ditemukan elemen sintaksis. Hasil temuan ini menyatakan bahwa elemen sintaksis penggunaanya sangat produktif dalam wacana teks pidato.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur Makro yang digunakan dalam teks pidato politik ketua umum partai PDIP dalam rangka pidato pembukaan kongres dan HUT XXXVIII PDIP mengangkat masing-masing satu tema. Wacana teks pidato yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDIP mengangkat tema Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat dan yang berjudul Pidato Politik pada HUT XXXVIII mengangkat tema Kesejahteraan Rakyat dan Keadilan Sosial . Tema-tema itu didukung oleh beberapa subtopik dan fakta-fakta yang terdapat dalam wacana teks pidato. Dari ketiga struktur itu ideologi partai PDIP, yaitu mengangkat harkat dan martabat wong cilik yang berlandaskan pancasila.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur supra teks pidato politik yang berjudul         Pidato Politik Pembukaan Kongres III PDI dan Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan struktur pidatonya terdiri atas bagian-bagian, yaitu yang pertama bagian pendahuluan, yang kedua bagian isi, dan yang ketiga bagian penutup/kesimpulan. Bagian pendahuluan berisi ucapan salam merupakan hal yang bersifat normatif dalam berpidato dan bisa memberikan interpretatif bagi pendengar. Bagian isi mencakup pemaparan identitas dan program-program partai dan sekaligus memersuasif pendengar lewat pemaparan program partai. Bagian isi teks pidato politik M.S. selalu menggunakan pilihan kata dan isu politik kesejahteraan rakyat dan keberpihakan kepada wong cilik. Bagian penutup hampir sama dengan bagian pendahuluan yaitu dalam pengucapan salam, hanya saja fungsinya yang berbeda. Kedua teks pidato tersebut sudah menggunakan skematika yang terstruktur sesuai dengan struktur dan langkah-langkah kerangka pidato daaalam konteks politik. Langkah-langkah itu antara lain 1)Pembukaan/pendahuluan berisi ucapan salam (pembuka), gagasan umum dan pentingnya pidato itu disampaikan, 2) paparaan (eksposisi) tentang satu hal yang dianggap penting menurut kacamata paratai PDIP. Tahapan 3) persuasi yaitu strategi orator partai untuk memengaruhi pendengar. 4) bagian penutup berisi ucapan salam yang fungsinya sama dengan salam pada bagian pendahuluan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur Mikro teks pidato politik yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan dan Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI perjuangan terdiri atas beberapa elemen yang membangun wacana itu menjadi satu kesatuan wacana yang utuh. Elemen-elemen itu antara lain 1) elemen semantik yang meliputi latar, detail, maksud, dan pra-anggapan, 2) elemen sintaksis meliputi bentuk kalimat, kohesi/koherensi, dan bentuk persona/kata ganti, 3) stilistika berupa penggunaan leksikalisasi, dan 4) elemen retorika meliputi grafis dan metafora. Elemen semantik lebih menonjolkan latar historis diadakan kongres dan HUT PDIP, detailnya lebih menekankan dan menguraikan secara mendetail makna yang menguntungkan bagi pencitraan PDIP, elemen maksudnya disampaikan secara eksplisit kalau informasinya menguntungkan pencitraan PDIP, dan elemen praanggapannya memilih isu politik oposisi partai. Dengan memilih posisi oposisi, rakyat berpranggapan bahwa PDIP berpihak pada wong cilik bukan sekadar mencari kekuasaan. Jadi dengan demikian dari analisis struktur mikro, keempat elemen yang digunakan dalam teks wacana pidato politik M.S. yang paling banyak digunakan adalah elemen sintaksis.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Struktur makro pada wacana teks pidato politik pembukaan kongres III PDI Perjuangan mengangkat tema Berjuang untuk kesejahteraan rakyat dan teks pidato politik dalam rangka HUT XXXVIII PDI Perjuangan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan. Kedua teks pidato tersebut dalam penyampaian tema/topik pidatonya memiliki strategi penyampaian yang berbeda walaupun disampaikan oleh orang yang sama. Pada pidato pertama yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDIP penyampaian atau penulisan tema/topiknya ada pada bagian akhir pidato yaitu pada paragraf 52. Sedangkan pada pidato kedua yang berjudul Pidato Ketua Umum PDIP pada HUT XXXVIII PDIP penyampaian atau penulisan tema/topiknya ada pada awal pidato yaitu pada paragraf.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Mengawali biodata Megawati Soekarnoputri peneliti membuka lembaran sejarah berdirinya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yaitu diawali perebutan kekuasaan Partai Demokrasi Indonesia oleh Soerjadi yang didukung pemerintah saat itupun memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI itu. Ancaman itu kemudian menjadi kenyataan. Pagi, tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, dia makin memantapkan langkah mengibarkan perlawanan. Tekanan politik yang amat telanjang terhadap Mega itu, mengundang empati dan simpati dari masyarakat luas.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Mega Soekarnoputri terus berjuang. PDI pun menjadi dua. Yakni, PDI pimpinan Megawati dan PDI pimpinan Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan mengakui Mega. Tetapi, pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Akibatnya, PDI pimpinan Mega tidak bisa ikut Pemilu 1997. Setelah rezim Orde Baru tumbang, PDI Mega berubah nama menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai politik berlambang banteng gemuk dan bermulut putih itu berhasil memenangkan Pemilu 1999 dengan meraih lebih tiga puluh persen suara. Kemenangan PDIP itu menempatkan Mega pada posisi paling patut menjadi presiden dibanding kader partai lainnya. Tetapi ternyata pada SU-MPR 1999, Mega kalah. Tetapi, posisi kedua tersebut rupanya sebuah tahapan untuk kemudian pada waktunya memantapkan Mega pada posisi sebagai orang nomor satu di negeri ini. Sebab kurang dari dua tahun, tepatnya tanggal 23 Juli 2001 anggota MPR secara aklamasi menempatkan Megawati duduk sebagai Presiden RI ke-5 menggantikan KH Abdurrahman Wahid. Megawati menjadi presiden hingga 20 Oktober 2003. Setelah habis masa jabatannya, Megawati kembali mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan presiden langsung tahun 2004. Namun, beliau gagal untuk kembali menjadi presiden setelah kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono yang akhirnya menjadi Presiden RI ke-6.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(2) Kongres PDI Perjuangan III ini diselimuti oleh rasa bela sungkawa mendalam dimana dua tokoh bangsa telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa: yaitu bapak K.H. Abdur Rahman Wahid yang akrab disapa oleh mereka, Gus Dur serta yaitu seorang kader nasionalis yang hidup di tiga zaman yaitu Bapak Frans Seda. Beberapa waktu lalu kita juga kehilangan seorang tokoh PDI Perjuangan yaitu Bapak Subagyo Anam yang hingga akhir hayat terus memberikan sumbangsih bagi Partai. Saya mengajak warga kita semua untuk mendoakan, dan lebih lagi meneladani pikiran dan tindakan mereka dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(4)               Saudara-saudara utusan peserta Kongres III, Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka. Mengapa hal ini saya katakan Saudara-saudara? Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada suatu kekelaman sejarah bagi suatua bangsa.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(7)               Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(8)               Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, atau sejumlah menteri, ataupun juga sampai melangkah ke istana merdeka, saudara-saudara. Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan. Saya ingin tegaskan bahwa dalam dialektika dengan rakyat tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. Saya berkeyakinan, dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan kembali puncak keemasannya. Karenanya, karenanya saudara-saudara sebagai kader, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(12)           Saudara-saudara utusan kongres yang saya cintai, Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab kita untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(14)           Saudara-saudara sekalian, Jika kita mau sedikit merenung, maka kita pasti akan sampai pada keyakinan bahwa kegagalan kita dalam memaknai garis sejarah sebagaimana saya sampaikan di atas merupakan inti sebab dari ditinggalkannya PDI Perjuangan dalam dua pemilu yang lalu. Kemerosotan suara, ingat! adalah teguran rakyat agar kita kembali ke takdir sebagai sarana dan wadah perjuangan rakyat. Saudara-saudara-ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(15)           Sudah saatnya kita menyadari untuk kemudian bangkit membenahi segala kekurangan dan kelengahan kita selama ini. Sudah saatnya kita menata ulang seluruh perangkat perjuangan untuk kemudian menatap dengan penuh optimisme bahwa partai ini adalah partainya wong cilik dan dipersembahkan bagi mereka. Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali aktif dalam membangun solidaritas horizontal bersama rakyat untuk membuat lompatan kualitatif. Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali menjadi kekuatan yang merajut keaneka-ragaman kita ke dalam satu kesatuan tekad, satu kesatuan jiwa, dan satu kesatuan gerak.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(16)           Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada mari kita jadikan lima tahun kemarin sebagai pelajaran berharga, dan kita jadikan lima tahun ke depan sebagai tahun-tahun PERUBAHAN & KEBANGKITAN KEMBALI, saudara-saudara.Ini mengingatkan saya, pada tahun tahun sulit yang pernah dilewati oleh Bung Karno, dan hingga hari ini masih terngiang di telinga saya, kata-kata Beliau:  “Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. Kita telah mencapai suatu point of no return !!!”, saudara-saudara.Untuk itu, kita tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke jati diri sebagai partai yang mempunyai ideologis.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(18) Kita dihadapkan pada keterbatasan sumber pembiayaan di tengah-tengah kebutuhan anggaran pengelolaan partai yang semakin besar. Kita dihadapkan pada kelangkaan kepemimpinan baik secara kualitas maupun kuantitas. Pengaturan kelembagaan partai kita masih terpusat pada satu tiang penyanggah, yakni organisasi partai dari DPP hingga anak ranting saja. Kita membiarkan tangan-tangan partai yang mengelola kekuasaan dan pemerintahan tidak diatur dalam AD/ART partai. Ini menimbulkan kesulitan dalam membangun koordinasi dan sinergi lintas pilar penyangga partai. Kita akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan, meluasnya kecenderungan fraksi berjalan sendiri-sendiri atau sebaliknya kegagalan struktural partai dalam memberikan arahan bagi fraksi dan dalam membangun komunikasi dan sinergitas dengan kepala daerah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(20) Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. Cobalah tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh. Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. Merekalah yang telah siap menyatakan diri memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tetapi  juga  menjadi pemimpin bangsa yang di masa datang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.  Saudara-saudara. Melihat semua ini saya sering merenung dan berkata pada diri saya sambil menertawakan diri saya; “Bagaimana Saya bisa belajar pada suatu partai yang dalam waktu begitu cepat bisa naik sampai 300%.”

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(21) Saudara-saudara, Saya ingin belajar kiatnya karena PDI Perjuangan juga berkeinginan seperti itu saudara-saudara. PDI Perjuangan juga dihadapkan pada rendahnya disiplin warga partai sebagai salah satu tulang punggung tegaknya partai ideologis. Kita dihadapkan pada kemerosotan militansi anggota. Voluntarisme dan aktivisme memudar sebagai elan berpolitik digantikan dengan pertimbangan “untung-rugi”. Ditinggalkannya TPS oleh saksi Partai pada pemilu legislatif dan pilpres adalah suatu contoh kecil, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(22) Dari sisi eksternal, tantangan bagi PDI Perjuangan untuk kembali ke jalan ideologis juga tidak ringan. PDI Perjuangan harus bekerja dalam situasi psiko-politik “anti-partai” dan “anti-ideologi”. PDI Perjuangan harus bekerja dalam suatu masyarakat yang semakin pragmatis, transaksional, dan berpikir instant untuk kepentingan individual berjangka pendek. Kita harus bekerja dalam situasi dimana sebagian pihak menganggap bahwa menduduki jabatan publik melalui jalan partai adalah jalan baru bagi keamanan ekonomi. Partai bukan lagi sebagai alat ideologi, alat perjuangan tapi alat akumulasi ekonomi. Partai menjadi sarana transportasi cepat untuk keuntungan ekonomi individual, bukan lagi sarana untuk mewujudkan kepentingan rakyat, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

23) Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai. Saya ingin mengucapkan terimakasih yang setinggi-tinggi pada Pimpinan MPR yang telah dengan sekuat tenaga mendorong pemerintah untuk menetapkan 1 Juni, Pancasila  1 Juni 1945 untuk bisa disosialisasikan bagi seluruh bangsa dan negara, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(24) Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(25) Saudara-saudara, Sebagai Presiden pada tahun 2004, saya telah mencoba dengan susah payah membangun sistem demokrasi yang dikehendaki dalam alam reformasi agar Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih secara langsung oleh rakyat. Pada saat itu, tidak terpikirkan sedikitpun oleh saya untuk menciderai jalannya demokrasi. Karena saya berkeyakinan, rakyat adalah yang berhak untuk mendapatkan kembali kedaulatannya sebagai penentu kehidupan politik, setelah sekian lama dibungkam. Meski saat itu saya dikalahkan tetapi saya berbangga dan berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang demokrasi yang telah diletakkan akan menjadi jalan keluar bagi kesejahteraan rakyat serta bagi terpeliharanya kemajemukan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, saudara-saudara. Ternyata keyakinan saya di atas tidak sepenuhnya benar.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(29) Hal-hal di atas mencemaskan karena moralitas negara demokrasi yang dibangun melalui partai, idealnya dimaksudkan agar pendidikan politik kewarganegaraan dapat diwujudkan. Partai adalah “taman sari” untuk menyiapkan kader-kader pemimpin bangsa dan negara guna mengisi sirkulasi kekuasaan secara damai. Tugas etis partai di atas dalam kenyataannya di-subkontrakkan kepada segelintir konsultan politik yang menghasilkan deretan angka yang menghegemoni masyarakat. Akibatnya,  prinsip dikalahkan oleh citra dan pendidikan politik digantikan dengan indeks kepuasan publik belaka.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(32) Saya sering bertanya-tanya, apa salahnya kalau rakyat ingin mandiri? Apa salahnya kalau ingin mewujudkan rakyat berdikari? Bukankah suatu bangsa yang berdikari harus ditopang oleh rakyat yang dapat berdiri di atas kakinya sendiri, saudara-saudara. Karena melihat pada hal-hal di atas, kita bukan saja dituntut untuk bergotong-royong dan bermusyawarah dengan rakyat sebagai inti berpolitik PDI Perjuangan, partai kita. Tetapi juga, harus dapat mengorganisir kekuatan rakyat untuk menjaga agar watak manipulatif di atas tidak akan pernah berulang di 2014 nanti. Rakyat perlu sekali lagi diorganisir agar keutamaan dan moralitas kembali menjadi prinsip-prinsip dasar dalam berpolitik. Lebih lanjut rakyat perlu diorganisir agar terbangun kesadarannya untuk melawan citra bahwa bukan sebagai satu-satunya ukuran berpolitik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(34) Saudara-saudara yang saya cintai. Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa?

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(36) Pengalaman sejumlah negara adidaya akhir-akhir ini menunjukkan sebuah bangsa bukan saja membutuhkan ideologi, tapi ideologi yang didedikasikan bagi mayoritas rakyat. 100 tahun lalu tidak terpikirkan bahwa jalan kapitalisme dari negara-negara di atas akan membawa mereka ke suatu krisis yang mendalam. Sebagai seorang pemikir, Bung Karno telah memprediksi sejak tahun 1930: saya sitir, beliau mengatakan kapitalisme mengandung kontradiksi-kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Ia pasti akan memakan anaknya sendiri. Dan inilah yang sedang kita saksikan. Sebagai bangsa, sudah tentu kita tidak ingin berjalan di rel yang keliru. Kita sudah memiliki Pancasila 1 Juni 1945. Itulah jalan yang telah kita pilih sebagai suatu keyakinan tanpa ragu, saudara-saudara.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(38) Demokrasi Indonesia yang telah lama kita perjuangkan bukanlah suatu ruang kosong yang bekerja secara metafisis ataupun mekanis. Ia adalah medan peperangan ideologi. Demokrasi prosedural yang kini kita jalani berangkat dari kutub ideologi liberal-individual. Sebagai ideologi ia memberikan mekanisme dan jaminan berkompetisi dan melahirkan pemenang dan pecundang. Demokrasi liberal tak akan pernah menjadi bentangan karpet merah menuju keadilan sosial bagi segenap tumpah darah Indonesia. Ia bukan pula jalan bagi penguatan partisipasi rakyat. Demokrasi semacam ini bisa jauh lebih buruk lagi, ketika dia dibangun di atas politik pencitraan dan bekerja untuk melindungi citra itu semata-mata. Demokrasi Indonesia mestinya dibangun di atas keutamaan kolektivitas, dijalankan melalui musyawarah untuk mufakat, dan bekerja di tengah-tengah keyakinan akan kebhinnekaan sebagai anugrah Alllah  Subhana wa ta’ala.  Ia adalah demokrasi yang konon kata para ahli adalah demokrasi deliberatif.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(40) Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PMS adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(43) Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika belaka. Untuk bisa bekerja efektif, ideologi membutuhkan kader. Ideologi membutuhkan pemimpin. Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik. Ideologi membutuhkan aturan bermain. Ideologi membutuhkan kebijakan. Ideologi membutuhkan program yang merakyat. Ideologi membutuhkan sumber-daya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(1)               Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air, tamu undangan yang saya hormati, serta kader dan simpatisan PDI Perjuangan yang saya cintai dan banggakan. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa,  atas segala rahmat dan hidayahNya yang telah menjaga kita selama tahun 2010, serta mengantarkan kita memasuki tahun 2011 dengan selamat sentosa. Secara khusus kita bersyukur karena atas rahmatNya, PDI Perjuangan tetap bertahan melewati tahun-tahun perubahan politik yang sangat dinamis dan sulit. Dengan bertambah usianya PDI Perjuangan, semakin memberikan kesempatan untuk mengabdi pada ibu pertiwi dalam perjuangan mencapai cita-cita Indonesia merdeka, yakni Indonesia yang berdaulat secara politik; Indonesia yang berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) di bidang ekonomi; dan Indonesia yang tetap mampu menjaga karakter dan kepribadian budayanya sebagai sebuah bangsa yang bermartabat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(2) Kita harus bersyukur karena rentang panjang sejarah kepartaian di bumi tercinta ini telah membuktikan: tidak banyak kekuatan politik yang bisa terus bertahan dan memberikan sumbangsihnya bagi rakyat, bangsa dan negara untuk waktu yang panjang. Sejarah membuktikan, banyak partai-partai lahir dan mati, bukan saja wadahnya, tapi juga ruhnya, ideologinya. Bahkan sejak memasuki era reformasi, kita menyaksikan begitu banyaknya partai politik yang hanya bisa bertahan seumur jagung, kemudian musnah dan akhirnya dilupakan sejarah. Sementara PDI Perjuangan tetap diberi anugerah panjang usia yang memungkinkan kita berkumpul hari ini untuk merayakan Ulang Tahun yang 38.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(5)                 Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(6) Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(7)Saudara-saudara yang saya cintai, Bagi PDI Perjuangan Pancasila 1 Juni 1945 adalah ideologi dan sekaligus metode berpikir. Dengan Pancasila, kita bisa membedah dengan lebih cermat berbagai kontradiksi dalam pengelolaan negara saat ini. Kita bisa menyaksikan bagaimana gambaran sukses pembangunan lebih sering ditampilkan melalui keberhasilan statistik makro ekonomi. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana lambannya penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan di tengah-tengah peningkatan secara dramatis anggaran yang disediakan untuk itu. Itukah yang dimaksudkan dengan keberhasilan?

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(8)Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat. Pada saat bersamaan, pemerintah seharusnya mendengar jeritan rakyat atas kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar, yang sudah melebihi daya beli rakyat. Bahkan, untuk kesekian kalinya, rakyat menjadi korban hanya untuk sekedar mendapatkan makan. Oleh karena itu, tidak boleh terjadi lagi, rakyat kecil bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin berat sebagaimana telah terjadi di Cirebon, Kebumen, dan beberapa daerah lainnya. Inilah gambaran, betapa sulitnya rakyat berjuang hidup-mati hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Bukankah konstitusi menjamin penghidupan yang layak bagi warga negaranya? Kemana alokasi anggaran yang ribuan trilyun rupiah tersebut? Sudah saatnya kita hentikan pameran keberhasilan indikasi makro ekonomi, dan menggantikannya dengan gerakan ekonomi kerakyatan, yang bertumpu pada kekuatan rakyat, agar terjaminlah kebutuhan dasar rakyat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Kita juga menyaksikan terjadi pengurangan sistematis subsidi untuk rakyat atas nama kepentingan publik. Pada saat bersamaan, pemborosan anggaran belanja aparatur negara terus berlangsung tanpa keberanian untuk melakukan koreksi. Kita juga menyaksikan bagaimana pemerintah terus mendewakan impor barang sebagai penyelamat, dan membiarkan ketergantungan atas sumber pembiayaan APBN dari pinjaman luar negeri yang berdampak pada melunturnya ketahanan dan kemandirian kita sebagai sebuah bangsa. Kita juga melihat bahwa keberhasilan Bursa Efek Indonesia sebagai bursa terbaik di Asia Pasifik lebih ditonjolkan, sementara kerawanan pelarian modal asing yang spekulatif terus saja mengancam. Apabila kebijakan ini tidak berubah, maka stabilisasi mata uang rupiah akan terus menjadi pekerjaan berat kita. Membengkaknya defisit neraca Bank Indonesia harus dicermati sebagai mahalnya ongkos stabilisasi dan lemahnya daya dukung sektor riil. Karena itulah, hentikan pengungkapan keberhasilan statistikal tersebut. Tidak ada salahnya, apabila kita memperkuat peran negara, sehingga Indonesia tidak menjadi korban dari pertarungan berbagai mata uang dunia seperti Euro, Yen, dan Yuan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(10)Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Hal-hal itulah yang membuat saya terus khawatir bahwa sistem ekonomi yang kita bangun semakin jauh dari sistem ekonomi yang menjadi amanat konstitusi. Karena itulah, wajar kalau kita bertanya, inikah arah pengelolaan ekonomi yang akan menuntun ke arah keberdikarian dalam bidang ekonomi? Ataukah sebaliknya, justru menjadi jalan cepat menuju ketergantungan ekonomi yang bersifat permanen pada kekuatan asing. Saya berpendapat, bahwa kita tidak bisa menunda lagi untuk mewujudkan keberdikarian ekonomi kita. Lebih-lebih kalau kita melihat resesi yang kini terjadi di Amerika Serikat, dan krisis ekonomi di beberapa negara di Eropa. Krisis yang terjadi di kedua kawasan tersebut pada akhirnya tetap memerlukan campur tangan negara. Bahkan di kawasan itulah kembali terbukti, bahwa kepentingan nasional suatu negara akhirnya menjadi hukum tertinggi di dalam membangun kedaulatan ekonomi setiap bangsa. Inilah yang seharusnya kita lakukan guna membangun kepercayaan diri kita, untuk berani menyatakan bahwa pengolahan sumber daya alam, harus kita prioritaskan pada kemampuan nasional. Pling tidak, kita harus mampu mencukupi kebutuhan pokok secara mandiri untuk pasar dalam negeri kita. Inilah yang saya maksudkan sebagai prinsip berdiri di atas kaki sendiri. Saya tidak anti asing, namun marilah kita letakkan skala prioritas pengabdian pada kepentingan nasional. Setidak-tidaknya dalam bidang pangan, energi, keuangan dan pertahanan, pilar-pilar ekonomi berdikari dapat diletakkan. Percayalah, bahwa kita bisa bangkit. Kita bisa menjadi bangsa besar. Kita bisa berdikari. Sebab kita memiliki modal, berupa keanekaragaman kekayaan alam, tanah air yang subur, keindahan alamnya, keanekaragaman suku, agama, budaya, yang semua terangkai bagaikan zamrud katulistiwa. Inilah modal besar yang harus terus menerus kita syukuri dan kembangkan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(11)Saudara-saudara yang saya cintai, Dari sudut pandang Pancasila, tujuan pembangunan ekonomi sangat sederhana dan jelas, yakni menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berdasarkan azas kemanusiaan dan kekeluargaan. Hal ini diamanatkan dalam konstitusi utamanya Pasal 23, Pasal 27, Pasal 33 UUD 1945. Amanat yang menekankan bahwa kedaulatan rakyat dan negara di ranah ekonomi tidak boleh digusur atau dipertukarkan dengan kedaulatan pasar dan korporasi. Mengapa? Karena kita berkeyakinan, bahwa berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) dalam bidang ekonomi tidak bisa tidak mengharuskan kita untuk memberikan peran yang lebih besar bagi rakyat sebagai kekuatan produktif bangsa, dan mewajibkan negara untuk bertanggungjawab dalam ranah ekonomi. Dan inilah masalah kita dalam  lima tahun terakhir ini: kita mengkhayalkan keberdikarian ekonomi, sambil mengurangi kewenangan dan tanggung-jawab negara, serta membiarkan kekuatan produktif rakyat mati dalam persaingan yang tidak sehat.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(12)Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya banggakan, Di tengah-tengah keterpurukan sosial ekonomi dan bencana alam yang terus mengintai, muncul ancaman bencana lain yang menyangkut  karakter dan kepribadian bangsa kita. Bencana ini mempunyai implikasi lebih serius karena ia mengancam secara simultan dasar mental dan pikiran rakyat. Lihat saja proses hukum kasus Bank Century. Nampak jelas, bagaimana keputusan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penggunaan hak angket DPR RI dimandulkan oleh mekanisme hukum dan campur tangan kekuasaan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(13) Kasus lain yang tidak kalah menariknya, bagaimana Gayus Tambunan  dengan berbagai variasi dan keleluasaannya,  mempertontonkan betapa kekuatan uang sedemikian berjaya dalam mengharu-biru sistem hukum secara keseluruhan. Hal ini akhirnya membuat rakyat percaya bahwa “faktor uang adalah segala-galanya”. Kasus yang sama juga mengungkapkan rendahnya kedaulatan negara. Negara yang berdaulat adalah negara yang mampu menegakan hukum atas warganya. Dalam kasus Gayus, dan masih banyak kasus sejenis lainnya, nampaknya hukum tidak bisa ditegakkan, negara jauh dari berdaulat. Bencana mental di atas juga tampak dari cara penguasa memaknai reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi dikecilkan maknanya sebatas sebagai remunerasi. Sebuah bentuk pemujaan pada materi yang semakin meyakinkan rakyat bahwa “materi adalah segala-galanya”. Padahal kita tahu bahwa pembenahan sistem remunerasi hanyalah salah satu bagian kecil dan merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan yang lebih besar dan menyeluruh.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(14)Saudara-saudara yang saya hormati, Penyakit kronis lainnya yang menonjol dalam beberapa saat terakhir ini adalah sikap elit yang lebih meributkan soal koalisi, sekretariat gabungan (setgab), wacana pemilihan gubernur oleh DPRD, atau apapun namanya dibanding mengurus rakyat. Hal ini menegaskan semakin meluasnya cakupan bencana mental yang melanda negeri ini. Fenomena ini menggambarkan bagaimana penggalangan kekuasaan ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang mengurusi kepentingan rakyat. Bahkan kita semua menikmati sedemikian pentingnya “penggalangan kekuasaan” tanpa peduli terhadap akibat-akibat negatifnya bagi perkembangan demokrasi politik di Indonesia.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(15) Dalam pidato pembukaan Kongres III di Bali ancaman mentalitas bangsa ini sudah saya ingatkan. Saya tegaskan bahwa “cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, sejumlah menteri, ataupun istana merdeka”. Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan. Saya juga tegaskan pada waktu itu bahwa dalam dialektika dengan rakyat, tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. Pada saat itu dan hingga hari ini saya berkeyakinan bahwa dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan puncak keemasannya. Karena itulah, sekali lagi saya tegaskan kepada kader partai, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat. Kita, seperti yang saya katakan di Bali, tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(16) Hal-hal di atas baru sebagian kecil dari persoalan yang kita hadapi. Di lahan kepemimpinan, kontradiksi juga dengan mudah kita temukan. “Satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan” sebagai adagium politik yang diajarkan Bung Karno, bahwa penanda dari kepemimpinan yang berkualitas, praktis tidak kita temukan dalam diri pemimpin bangsa saat sekarang. Ada selisih yang sangat jauh antara “citra” dan “realitas”. Lebih lagi, hampir setiap pemimpin berlomba membangun citra diri. Lihatlah di televisi dan di berbagai media, semakin banyak menteri dan kementerian yang lebih sibuk “mengiklankan diri”, ketimbang bekerja untuk mensejahterakan rakyat. Hal ini juga berlaku bagi sejumlah kepala daerah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(17) Saudara-saudara, Di lahan demokrasi kita juga menghadapi masalah. Kerakyatan yang  dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan merupakan garis yang jelas dalam membangun tatanan demokrasi di Indonesia. Tetapi yang kita saksikan adalah sebaliknya: kita berdemokrasi dengan sepenuhnya percaya pada keajaiban angka dan pencitraan belaka. Demikian pula, integritas kebangsaan yang terjelmakan dalam sila ketiga Pancasila “Persatuan Indonesia”, akhir-akhir ini dihadapkan pada kondisi sulit. Kondisi ini semakin dipersulit oleh kecenderungan kepemimpinan nasional yang lebih produktif menciptakan polemik, ketimbang menjadi rujukan integritas kebangsaan kita. Lihatlah kasus debat tanpa kesudahan atas status keistimewaan Yogyakarta. Rakyat akhirnya dipaksa untuk memilih antara kesetiaan kebangsaan atau kedaerahan. Sebuah ironi dalam pengelolaan kekuasaan negara karena lunturnya pemahaman terhadap sejarah.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(18) Hal di atas sangat disayangkan karena sejarah telah mencatatkan tinta emas bahwa Indonesia mampu berdiri ditengah pluralisme dalam persatuan. Bhinneka Tunggal Ika bukan sebuah jargon kebetulan. Ia juga bukan hasil temuan yang baru. Bhinneka Tunggal Ika telah mengakar panjang dalam sejarah bangsa yang majemuk ini. Ia adalah rumusan yang merupakan kristalisasi dari pengalaman empirik kita hidup sebagai bangsa majemuk dalam sebuah kesatuan yang harmonis. Demikian pula dengan gotong royong yang oleh para pendiri bangsa dijadikan sebagai spirit dasar dalam merancang Indonesia yang ideal, kini tenggelam di bawah persaingan bebas sebagai metode politik dominan. Kita akhirnya terjebak dalam mobilisasi dan konflik, gagal berdialog dan membangun konsensus yang sesuai dengan nalar publik.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(20) Bagi kita posisi strategis partai di atas sudah sangat jelas. Bahkan keputusan Kongres III Bali telah memberikan arah yang sangat jelas, yakni keharusan bagi PDI Perjuangan untuk menjadi ujung tombak bagi pencapaian Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya. Hal di atas dimandatkan Kongres untuk diwujudkan melalui fungsionalisasi secara sinergis dan efektif 3 pilar partai — struktural, legislatif dan eksekutif. Lebih lagi, arah perubahannya harus dituntun oleh Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi Partai. Kita memilih jalan ideologi dalam membangun Partai

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(21) Rangkaian rumusan sikap dan program-program partai, berikut perubahan-perubahan penting dalam AD/ART Partai yang dihasilkan oleh Kongres III telah memberikan pijakan yang sangat memadai. Beberapa keputusan strategis Kongres seperti konsolidasi partai telah berhasil dijalankan. Kita tak lagi dihadapkan pada persoalan serius yang terkait dengan konsolidasi organisasi dan program, kecuali untuk sejumlah kecil daerah. Sekalipun demikian, dalam sejumlah bidang masih banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian kita sebagai warga partai.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(22) Pada kesempatan ulang tahun kali ini saya hanya akan menyoroti tiga perintah Kongres III yang paling strategis yang masih membutuhkan kerja ekstra kita semua. Yang pertama adalah soal keharusan kita untuk menghasilkan kader-kader politik dengan kualitas yang diperlukan untuk berbagai jabatan publik, termasuk untuk mengelola partai. Saya mengamati persoalan ini masih menjadi persoalan serius di banyak daerah. Saya menyaksikan setelah berlalunya generasi pertama, banyak daerah mengalami kesulitan untuk memunculkan figur baru yang secara ideologis baik, secara politik diterima, dan secara teknokratis mumpuni. Dalam proses pencalonan kepala daerah misalnya, kita akhirnya terjebak pada dua kecenderungan esktrim, yakni mengusung calon non-kader partai yang kadang melahirkan masalah serius dalam partai, atau sebaliknya, mengambil jalan pintas dengan mencalonkan orang-orang disekitarnya.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(23) Sebagai kekuatan politik yang merupakan ujung tombak dari kemajuan dan kemunduran bangsa, kecenderungan di atas sangat tidak sehat. Karenanya, perhatian ekstra harus kita berikan pada proses kaderisasi dan regenerasi. Hal ini bukan saja penting bagi kelangsungan hidup partai. Bukan saja bermanfaat bagi bangsa dan rakyat. Tapi di atas segalanya, pengembangan sistem kaderisasi dan regenerasi, yang di satu sisi tetap mengedepankan ideologi, dan di sisi lain mengedepankan penjenjangan kualitas kader, harus terus-menerus dilakukan guna membendung politik jalan pintas untuk meraih pucuk pimpinan kekuasaan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(24) Hal kedua yang ingin saya sampaikan adalah keharusan bagi Partai untuk menginstrumentasikan nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945 yang memungkinkan Pancasila menjadi ideologi yang hidup. Salah satu arena paling pokok untuk melaksanakan hal tersebut berada pada arena pengambilan keputusan. Dalam konteksi inilah sinergi tiga pilar partai —struktural, eksekutif, dan legislatif — menjadi kekuatan penting, tidak hanya di dalam merumuskan kebijakan, namun  untuk menentukan apa yang saya sebut sebagai agenda setting. Kita harusnya bisa lebih berfungsi dalam menentukan kebijakan apa saja yang harus diprioritas dan harus dihasilkan oleh negara. Tetapi hingga saat inil, fraksi kita di semua jajaran legislatif masih sebatas sebagai kekuatan yang aktif dalam membahas berbagai regulasi. Kita belum mampu untuk menjadi penentu agenda setting.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(25) Karenanya, dengan tegas saya perintahkan kepada jajaran fraksi di seluruh tingkatan untuk lebih pro-aktif dalam mengajukan agenda-agenda kebijakan yang harus diprioritaskan. Manfaatkanlah semua sumber-daya dan kelembagaan yang dimiliki partai, mulai dari Litbang hingga individu-individu yang matang secara ideologis dan mumpuni secara teknokratis untuk bisa saling membantu. Manfaatkan juga semua sumber daya intelektual dan kelembagaan yang berada di negeri ini, termasuk pusat-pusat riset dan perguruan tinggi serta lembaga swadaya masyarakat yang sungguh-sungguh bekerja bersama di tengah-tengah rakyat. Dan yang sama pentingnya, sinergikan struktural, eksekutif dan legislatif partai di semua tingkatan guna menghasilkan kebijakan yang secara ideologi benar, secara teknokratis layak, dan secara politik bisa diterima, serta didukung semakin banyak pihak yang berkepentingan.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(26) Hal terakhir yang ingin saya garis bawahi adalah perintah Kongres agar setiap warga partai menjadi contoh hidup dari Pancasila sebagai ideologi. Kita masih mengalami kesulitan di sana-sini. Masih banyak perilaku elit PDI Perjuangan yang jauh dari standar norma Pancasila. Karenanya, saya serukan agar setiap kader partai menyadari hal ini. Dan untuk itu, tuntunannya sangat sederhana, yakni setiap kita harus “menyatukan perkataan dengan perbuatan, menyamakan mulut dengan tindakan”. Ajaran dasar yang berulang-kali disuarakan Bung Karno untuk diikuti oleh setiap pengikutnya. Ingatlah, setiap kader partai adalah ibarat guru. Bahkan oleh Bung Karno, kader partai harus menjadi bintang pengarah yang memberikan gerak hidup. Ia harus menjadi teladan, dan terus mengobarkan semangat “karma nevad ni adikaraste ma phalesu kada cana”, yang artinya kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya.  Inilah keteguhan sebagai kader partai dan sebagai antitesa terhadap maraknya pragmatisme politik yang sangat transaksional tersebut.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

(28) Saudara-saudara, Mengakhiri pidato politik ini, ijinkan saya dan seluruh jajaran DPP PDI Perjuangan menyampaikan Selamat Ulang Tahun ke 38 bagi kita semua. Semoga pertambahan usia ini memberikan kekuatan baru bagi kita untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kepada para pimpinan partai politik, para tokoh masyarakat, dan para Senior Partai serta undangan yang tidak bisa saya sebut satu-persatu, terimakasih atas kehadirannya. Kepada Panitia yang telah bekerja dengan sangat keras terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan. Pada aparat keamanan, terimalah rasa terimakasih dan hormat kami atas segala kerja keras sehingga penyelenggaraan Ulang Tahun kali ini bisa berjalan tanpa gangguan. Terimakasih juga saya sampaikan pada para pengamat politik yang telah meluangkan waktu untuk hadir pada kesempatan kali ini. Dan terakhir, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan yang telah menjadi sahabat PDI Perjuangan selama ini.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Komang Warsa merupakan putra bungsu dari sebelas bersaudara yang terdiri delapan wanita dan tiga laki-laki. Warsa yang lengkap dipanggil I Komang Warsa lahir dari pasangan suami istri I Made Tjanderi (almarhum) dengan Ni Nyoman Canderi (almarhum) pada tahun 1943.   Dari hasil perkawinan itu pada rahinan pawukun Redite Pon, Julungwangi tanpa tanggal dan bulan tahun 1969 di sebuah pinggiran kampung yang diberi nama Banjar Alasngandang, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem Warsa dilahirkan. Pengenalan huruf dan belajar membacanya diawali di SD Negeri 3 Pempatan dengan bukti selembar kertas yang disebut ijazah beranggka tahun 1982. Selanjutnya pendidikan menengah pertama dilakoninya dengan berjalan kaki sejauh delapan kilo meter yaitu di SMP PGRI 2 Rendang dengan surat tanda tamat berangka tahun 1985. Seiring dengan perjalanan waktu Warsa pun memilih melanjutkan di SMA Parisadha Amlapura dengan selembar kertas sebagai bukti tamat bertahun 1988. Pada tahun 1988 memilih melanjutkan studinya di salah satu di perguruan tinggi yakni di FKIP Universitas Udayana Singaraja yang sekarang bernama UNDIKSA Singaraja dengan bukti selembar ijazah berangka tahun 1993 dengan konsentrasi pada Pendidikan ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia. Sambil mengabdikan diri sebagai pendidik (guru) di sekolah negeri maupun di swasta ia pun melanjutkan studi magisternya ( S-2) di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar tahun 2007 dengan konsentrasi pada program Ilmu Agama dan Kebudayaan . Pendidikan program magisternya ditempuh selama dua tahun yakni tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. Pada tahun 2012, Warsa pun melanjutkan studi S2 di PPs Undiksha Singaraja dengan mengambil konsentrasi ilmu pendidikan Bahasa Indonesia selesai 2014.

seperti di kutip dari https://imadeyudhaasmara.wordpress.com

Tahun 1993 s.d. 1999 bekerja sebagai Tenaga Lapangan Dikmas (TLD) di Kanwil Pendidikan provinsi Bali untuk wilayah Kecamatan Rendang sambil mengajar di SMA PGRI Rendang. Tahun 2000 diangkat menjadi guru tetap di SMA Negeri 1 Tampaksiring, Gianyar-Bali sampai tahun 2004. Tahun 2004 dipindahtugaskan di SMA Negeri 1 Rendang sampai sekarang.Tahun 2005 diberi tugas tambahan sebagai staf pendamping Waka bidang kurikulum.Tahun 2006 s.d. 2011 diberikan tugas tambahan oleh Kepsek SMA Negeri 1 Rendang sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Penjaminan Muru Pendidikan (PMP). Tahun 2011 sampai sekarang diberikan tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.Pernah menjadi tutor kejar paket A, B dan paket C aktif dalam organisasi keagamaan seperti PHDI dan Peradah untuk wilayah kecamatan Rendang sampai sekarang.Tahun 2012 menjadi tim penyuluh Adat, Budaya dan Agama di Kabupaten Karangasem sampai sekarang.Tahun 2011 mendirikan yayasan Giri Pendawa yaitu sebagai dewan pendiri (Pembina Yayasan) sampai sekarang.Staf pengajar pada program studi pendidikan Bahasa Indonesia di STKIP SUAR Bangli. Menjadi tutorial di Universitas Terbuka (UT) Denpasar.


Baca juga :

Kitab agama ini adalah milik umat Kristiani, dikenal dengan sebutan Alkitab atau Bibel (Inggris : Bible, Jerman : Bijbel), terdiri dari dua bagian kitab, yaitu Kitab Perjanjian Lama (PL) dan Kitab Perjanjian Baru (PB). Di dalam Perjaniian Lama Tuhan pernah berfirman bahwa orang-oran Israel itu sangat durhaka dan hobi merubah-rubah kitab suci (baca: Kitab Mikha 3:1 – 12 dan Ulangan 31:27). Akibatnya, kitab suci ini menjadi bercampur-baur antara kebenaran ilahi dan kesalahan-kesalahan manusiawi yang ditulis oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Maka Alkitab tidak boleh dibaca dengan doktrin yang harus diterima apa adanya bahwa Alkitab itu pasti baik dan benar, karena Tuhan telah mengaruniakan akal budi kepada setiap manusia. Akal budi inilah yang mendatangkan karunia (Amsal 13:15). Tanpa akal budi mengakibatkan kebodohan dan kebinasaan (Amsal 10:21). Gunakanlah akal untuk menguji dan menyaring Alkitab antara ayat-ayat firman Tuhan dan ayat-ayat buatan manusia. Sesuai dengan perintah berikut : “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (I Tesalonika 5: 2 1).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“….Waktu engkau telanjang bugil sambil menendang nendang dengan kakimu …. (ay.22). “…dan menjual kecantikanmu menjadi kekejian dengan meregangkan kedua pahamu bagi setiap orang yang lewat, sehingga persundalanmu bertambah-tambah” (ay.25.”Engkau bersundal dengan orang Mesir, tetanggamu, si aurat besar itu…..”(ay.26). “engkau bersundal juga dengan orang Asyur, oleh karena engkau belum merasa puas ya, engkau bersundal dengan mereka, tetapi masih belum puas” (ay.28). “Betapa besar hawa nafsumu itu, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (ay. 30). “….engkau yang memberi hadiah 1 umpan kepada semua yang mecintai engkau sebagai bujukan, supaya mereka dari sekitarmu datang kepadamu untuk bersundal” (ay. 33). Aku akan menyingkap auratmu di hadapan mereka, sehingga mereka melihatseluruh kemaluanmu: (ay.37).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di atas pangkuan pelacur Delila, akhimya Samson tergoda rayuan dan bujukan sehingga membuka rahasia kesaktiannya. Bahwa selama rambut kepalanya tidak dicukur, maka seluruh kekuatannya akan musnah dan dia menjadi orang lemah (ay. 17). Maka setelah nabi Samson tertidur di atas pangkuan pelacur Delila, rambutnya dicukur. Lalu musnahlah seluruh kesaktiaan dan kekuatan Samson. (ay.19). Kemudian kedua mata Samson dicungkil sehingga jadilah Samson buta mata akibat rahasia kesaktiannya dicukur (ay. 21).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

b. Batasan usia dari Tuhan itu salah besar, karena banyak orang yang usianya melebihi 120 tahun. Adam hidup selama 930 tahun (Kej. 5:3-5), Set hidup selama 912 tahun (Kej. 5:6-8), Enos hidup selama 905 tahun (Kej.9-11), Keenam hidup selama 9 1 0 tahun (Kej. 5:12-14), Mahalaleel hidup selama 895 tahun (Kej. 5:15-17), Yared hidup selama 962 tahun (Kej. 5:18-20), Henokh hidup selama 365 tahun (Kej. 5:21-23), Metusalah hidup selama 969 tahun (Kej. 5:25-27), Lamekh hidup selama 777 tahun (Kej. 5:28-32), Nuh hidup selama 950 tahun (Kej. 9:29), Sem hidup selama 600 tahun (Kej. 11: 10-11), Arpakhsad hidup selama 438 tahun (Kej. 11:12-13), Selah hidup selama 433 tahun (Kej. ll: 14-15), Eber hidup selama 464 tahun (Kej. ll:16-17). Peleg hidup selama 239 tahun (Kej. ll:18-19), Rehu hidup selama 239 tahun (Kej.11: 22-21), Serug hidup selama 230 tahun (Kej. 11: 24-25), Sara hidup selama 127 tahun (Kej. 23: 1-2), Ismael hidup selama 137 tahun (Kej. 25:17), Nahor hidup selama 148 tahun (Kej. ll: 24-25), Yakub hidup selama 147 tahun (Kej. 47: 28), Lewi hidup selama 137 tahun (Kej. 6:15), Kehat hidup selama 133 tahun (Kej. 6:19), Harun hidup selama 123 tahun (BH 33:39), Ayub hidup selama 140 tahun (Ayub. 42: 16-17).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Alkitab; kekhilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Alkitab telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Alkitab juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia” (Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta,1967, hal 298).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Jadi benarlah Daud itu pengarang Mazmur yang 73 jumlahnya ? Hal itu belum tentu. Sudah beberapa kali kita suci menjumpai gejala bahasa orang Israel suka menggolongkan karangan-karangan di bawah nama orang yang termasyhur ……. Oleh karena itu tentu tidak mustahil pengumpulan-pengumpulan mazmur-mazmur itu (atau orang-orang yang hidup lebih kemudian) memakai nama Daud, karena raja itu termasyhur sebagai pengarang mazmur-mazmur. Dengan kata lain perkataan, pemakaian nama Daud, Musa, Salomo itu merupakan tradisi kuno, yang patut diperhatikan, tetapi tradisi itu tidak mengikat” (Pembimbing ke Dalam Perjanjian Lama, BPK Jakarta, 1963 hal. 205).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dari hari ke hari semakin banyak Intelektual Umat Kristiani / Katholik yang tersadar dan mereka akhirnya memeluk Agama Islam karena HIDAYAH dari ALLAH SWT, karena Kepandaiannya dan Kesadaran Intelektualnya. Mereka masuk Islam bukan karena iming-iming Mie Instan, Uang, Materi ataupun Pekerjaan yg dijanjikan, tapi karena mereka adalah orang-orang yang mau berfikir. Betapa selama ini mereka telah terpedaya & tertipu. Semoga kesadaran mereka bisa membawa dirinya dan keluarganya kearah Keselamatan Dunia dan Akhirat. Amiiin….

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

[7:179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (ALQUR’AN Surat AL A’RAAF (Tempat tertinggi) ayat 179)

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Aisyah Bhutta (34), dulu, ia bernama Debbie Rogers. Kini hidup tenteram dan bahagia setelah memeluk Islam. Di apartemennya yang terletak di Cowcaddens, Glasgow, ia melewati hari-hari dengan amalan Islam. Rumahnya pun telah dihiasi dengan nuansa Islam. Di dinding tergantung kaligrafi Al-Quran. Ada juga poster bergambar kota suci Mekkah. Lalu jam yang disetel khusus dengan suara azan yang senantiasa mengingatkan Aisyah dan keluarganya tiap masuk waktu shalat. Wajahnya kini terbungkus rapi oleh jilbab yang makin menunjukkan kesalehannya. Dia sangat gigih dalam berdakwah. Tidak saja untuk keluarganya dan kerabat bahkan tetangga-tetangga juga tak luput dari dakwahnya. Alhasil, dia dapat mengislamkan orangtua, kerabat dan 30 temannya. Berikut kisahnya seperti dilansir dari Islamweb.com.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Debbie Rogers dulunya berasal dari keluarga Kristen yang taat. Mereka aktif dalam aneka kegiatan gereja. Kala remaja lainnya asyik dengan idola mereka, misalnya mengoleksi poster penyanyi kesayangan mereka, katakanlah seperti penyanyi terkenal George Michael atau asyik dengan hura-hura sepanjang malam. Maka Debbie Rogers justru sebaliknya. Di dinding kamarnya penuh dengan poster Yesus. Musiknya adalah musik bernuansa rohani, bernada puji-pujian bagi Yesus. Itulah aktifitasnya sebelum kenal Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Saya belum mau berhenti berdakwah. Keluarga sudah, lalu saya beralih kepada para tetangga di Cowcaddens. Kawasan ini perumahannya sangat padat, bahkan bisa dikatakan kumuh. Tiap hari Senin selama 13 tahun saya membuka kelas khusus tentangIslam bagi wanita-wanita Skotlandia yang ada di situ,” kisah Aisyah mengenang. Sejauh ini dia sudah berhasil mengislamkan tetangga sekitar 30 orang.“Latar belakang mereka macam-macam. Trudy misalnya, dia seorang dosen di Universitas Glasgow. Trudy adalah seorang Katolik yang awalnya mengikuti kelas saya untuk mengumpulkan data penelitian yang sedang dikerjakannya. Namun setelah berjalan enam tahun Trudy memutuskan memelukIslam. Menurutnya Kristen sulit diterima akal dan membingungkan,” sebut Aisyah. Trudy sendiri mengaku masuk Islam karena terkesan dengan kuliah Aisyah yang mudah diterima dan masuk akal.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Suatu siang di sebuah kantor pengacara di Hamburg. Nils Bergner, pria berusia 36 tahun, menjaga shalatnya sebanyak lima waktu, kendati kesibukan kantor menyita waktunya. Di kantor itu, Bergner satu ruangan dengan rekannya, seorang Muslim asal Turki bernama Ali Ozkan. Mereka kerap pergi shalat Jumat ke masjid terdekat, namun di luar hari Jumat, Bergner lebih sering shalat seorang diri. “Urusan pekerjaan selalu menyita waktu saya,” ujar Ozkan, “Shalat pertama pukul 06.00, …itu terlalu pagi bukan?”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejumlah sumber di Belanda, Ahad menegaskan, perpustakaan Belanda dalam minggu-minggu lalu menyaksikan kunjungan yang luar biasa banyaknya terhadap buku-buku Islam di Amsterdam. Orang-orang Belanda membeli dalam jumlah besar mushaf-mushaf elektronik yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, sehingga hampir habis di pasar dalam dua hari yang lalu. Sementara 3 orang menyatakan masuk Islam dalam seminggu ini. Sumber-sumber itu menyambut baik reaksi dingin kalangan komunitas Islam di Belanda, dan sikap bijakasana yang diambil generasi kedua umat Islam yang hidup di negara eropa itu.Hal ini menjadikan kasus yang menimpa mereka pasca ditampilkannya film anti Islam ‘Fitna’ yang dibuat seorang anggota parlemen Belanda bernama Geert Wilders mendapat simpati yang besar dari masyarakat.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pemuda Muslim dari generasi kedua di negeri itu juga mengadakan workshop dialog di pinggiran Mir, Amsterdam malam Jum’at untuk mengantisipasi implikasi film yang sempat mereka tonton tayangannya. Di tengah workshop tersebut, salah seorang warga Belanda menyatakan masuk Islam. Dengan begitu, ia menjadi orang Belanda ketiga yang melakukan hal yang sama (masuk Islam-red) sepanjang satu minggu ini. Ini mungkin sebagai reaksi atas sebuah ungkapan di akhir film itu yang berbunyi, ‘Hentikan Islamisasi Eropa.!’

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sementara itu, sejumlah perusahaan Belanda mengancam akan menuntut anggota parlemen Belanda, Geert Wilders bila film anti Islamnya yang dipublikasikan di jaringan internet itu menyebabkan terjadinya boikot perdagangan dari sisi yang lain. Ketua Kamar Dagang Belanda, Bernard Ventes mengatakan, “Saya tidak tahu apakah Wilders sudah merasa cukup kaya atau memiliki asuransi yang baik. Yang jelas, bila kami menghadapi pemboikotan, maka kami akan melihat sejauhmana hal itu dapat menyeret pertanggungjawabannya.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada mulanya ia jalani semua itu tanpa ada penolakan. Namun beberapa tahun kemudian, masih di komunitas yang sama, hati kecilnya mulai menolak hingga keluar dari perkumpulan itu karena bertentangan dengan rasionalnya. Secara berulangkali ia mengatakan bahwa Tuhan masih misterius baginya. Kala itu ia mulai ragu Yesus sebagai Tuhan. Sejak itula ia mulai mencari kebenaran hidup.Aminah menyelesaikan sekolah menengahnya di kota Salzburg. Selanjutnya, di kota kelahiran komponis kenamaan Mozart itu ia meneruskan pendidikan tinggi di Universitas Salzburg dan mengambil jurusan Biologi. Belajar sembari bekerja sampingan (part time) di universitas tempatnya belajar pun dilakoni.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Hanya sebentar, kemudian saya ditinggalkan lagi. Sejak itu saya mulai lagi mengatur hidup sebagai wanita single, tanpa berharap akan ada pria lagi yang datang. Saya pikir untuk apa lagi. Saya sudah punya kerja, anak-anak sudah besar, punya apartemen nyaman, mobil, bisa menyalurkan hobi seperti mendaki gunung, main ski. Sudah bisa berdiri sendiri di atas kedua kaki. Saya sudah tidak punya kerinduan asmara lagi,” imbuhnya lagi. Namun ia mengaku masih belum puas untuk terus mencari kebenaran dalam hidup.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Liburan tinggal beberapa hari lagi dan saya merasakan hati seperti berat meninggalkan tempat itu. Akhirnya saya kembali ke Austria tanpa ada nomor kontak Walid yang dapat dihubungi. Namun dengan segera aku berpikir realistis bahwa ada pembatas yang sangat dalam diantara kami (umur, budaya, agama, pendidikan dan bahasa),” kilahnya. Namun hati tidak bisa ditipu. Akhirnya ia kembali ke Mesir dua bulan kemudian untuk mendapatkan cintanya lagi. Hanya saja masalah terbesar kala itu adalah sulitnya komunikasi karena faktor bahasa.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Nampaknya Allah memang mengatur semua ini. Allah seakan mulai memperlihatkan jalan dalam hidupku. Beberapa hari selepas kembali ke Austria dari Mesir, seorang wanita datang dari Mesir dan bekerja sebagai peneliti tamu di institut kami selama satu tahun. Dua minggu kemudian saya pun mulai ikut kursus bahasa Arab di kampus yang ditawarkan oleh seorang profesor dari Mesir. Mereka juga mengajarkan banyak hal tentang Islam dan budayanya. Bahasa Arab adalah sebagai upaya untuk mempermudah komunikasi dengan Walid,” tuturnya mengenang. Karena tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam, ia membeli banyak buku dan sebuah terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jerman.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Aminah secara perlahan mulai belajar banyak hal tentang Islam, baik melalui buku-buku maupun dengan bantuan rekan-rekan muslim di Austria. Ada hal menarik, yakni tanpa disangka ia diminta oleh Cairo University untuk menjadi penguji tesis salah seorang mahasiswa di sana. Nah dari beberapa kali kunjungan akademik itulah ia akrab dengan salah satu Muslimah Mesir yang kemudian jadi tempatnya bertanya hal Islam. Ia mengaku kagum dengan kebanyakan muslim termasuk kaum mudanya yang terbuka dan sangat respek jika bicara tentang Allah dan Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Al-Quran makin membuatnya mantap untuk mempelajari Islam. “Semakin jelas, Islam bukanlah agama baru, tapi justru agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya, misal Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, yang oleh agama lain tidak diakui, adalah pembawa risalah, pembawa kebenaran yang berasal dari Allah. Tak ada yang disangsikan, Al-Quran adalah perkataan Allah dan Muhammad utusannya! Jika ini merupakan kebenaran dan saya yakin atas itu, maka saya harus menerima dan menjalankan semua isi Al-Quran,” tegasnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Enam bulan….Saya mengenal cukup lama dengan Aisyah. Namun baru kali ini berjumpa lagi dengannya, bertepatan saat pengajian. Selama ini, sister Aisyah, begitu saya sering memanggilnya, begitu sibuk dengan kursus Arab-nya (mengaji Al-Quran) selain bekerja tentunya. Kali ini ada ada kesempatan untuk berbincang. Kita memang sudah berjanji untuk bisa berbincang soal perjalanan dan pengalaman spiritualnya menuju Islam. Akhirnya, dengan senang hati ia membolehkan saya untuk menceritakan pengalamannya dalam bentuk tulisan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kepadaku, ia menceritakan kisahnya. Sebelum jadi Aisyah nama asli nya adalah Yana. Ia datang ke London 3 ahun lalu. Gadis asal Czecklo ini datang di negeri Ratu Elizabeth untuk mengadu peruntungan dan mencari pekerjaan. Baru pertama kali itulah dalam hidupnya ia melihat Muslim. Menurutnya bahwa agama Islam itu agama yang eksotik, maksudnya eksklusif hanya cocok dan melulu untuk orang Arab saja, bukan untuk orang orang Eropa, baik Eropa barat atau timur , seperti dirinya, yang berasal dari Czecklovakia. Ia tahu betul bawa agama resmi dinegeriya adalah agama Kristen.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Guru saya seorang Syeikh (baca ustadz), asal Pakistan, mengatakan bahwa Islam itu bukan sebuah agama kekerasan, opresi (opressed) menekan atau pemaksaan, tapi Islam adalah agama pertengahan dan mencari keseimbangan dalam segala aspek di dalam kehidupan kita sehari-hari. Islam bukan agama hanya ibadah ritual saja, bukan pula agama ke-rahiban, atau sebaliknya mencari dunia saja dan melupakan Tuhan atau kematian. Dalam Islam ada waktu untuk menyembah Allah, waktu untuk keluarga, bermain dengan anak-anak, berinteraksi dengan manusia, berbuat kebaikan, bekerja atau studi dan bahkan kita diperintahkan untuk santai. Semua itu adalah ibadah.” Demikian ujarnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kalimat-kalimat di atas adalah pembuka berita tentang sejumlah wanita yang memeluk Islam di Palestina. Orang-orang itu telah membuang lembar lama hidupnya yang telah mereka lewati tanpa kejelasan keyakinan dan keimanan. Mereka lalu datang kepada Islam dengan wajah penuh bahagia. “Saya sangat yakin bahwa saya dilahirkan untuk menjadi seorang muslimah, ” demikian ungkap seorang perempuan asal Okrania yang bernama Erena dan tinggal di Palestina. “Nama saya sekarang Nur, Allah telah memuliakan saya dengan nikmat Islam.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tentang kisah masuk Islamnya, Nur sang muallaf, bercerita. “Saya dahulu tinggal di Okrania. Meski saya hidup di tengah lingkungan Nasrani tapi saya merasakan dalam hati bahwa saya adalah orang yang mencari kebenaran dari berbagai agama yang benar-benar saya yakini lahir dan batin. Saya bahkan kerap pergi ke sejumlah tempat ibadah dan sangat melelahkan hingga sakit, dalam pencarian itu. Di fase perkuliahan, seorang pemuda Muslim terkejut mendengar keinginan saya mencari agama yang benar. Ia lalu menikahi saya. Pemuda Muslim itu berasal dari Palestina, tepatnya, Ghaza….”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Awalnya, keluargaku menolak aku menikah dengan seorang Muslim. Tapi saya tetap berkeras sampai akhirnya mereka setuju. Saya merasakan bahwa kehidupan saya benar-benar akan berubah. Setelah menikah, suamiku mengatakan, “Saya akan membiarkanmu menentukan pilihan sendiri untuk masuk Islam.” Saat kami sudah tinggal di Palestina, mulailah hidupku perlahan berubah. Dengan karunia Allah, suamiku ternyata seorang yang agamis. Saya banyak belajar bahasa Arab darinya. Dan itulah yang kemudian perlahan lahan mengantarkan saya meyakini Islam dan bahkan masuk Islam dengan penuh kesenangan.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Soal alasan yang menjadikannya masuk Islam, Nur bercerita, ada beberapa peristiwa yang begitu mengesankan hatinya. “Ketika saya meminta suami untuk menerima tamu dan meminta izin dahulu kepada kami sebelum berkunjung, ini menegaskan pada saya bahwa Islam sejak dahulu telah memerintahkan soal perizinan.” Ia melanjutkan, ” Ada lagi yang tak kalah mengesankan yakni ketika saya mendengar hadits Rasulullah saw yang menyebutkan bahwa ketika seorang suami menyuapi makanan ke mulut isterinya maka itu adalah shadaqah. Informasi itu membuat saya berpikir tentang agama mulia ini. Lalu suami saya berbicara tentang kenikmatan surga dan keindahannya, memberitahu banyak hal tentang kemukjizatan Al-Quran, sedikit demi sedikit sampai akhirnya saya sendiri yang ingin memeluk Islam. Dan setelah itu saya mengenakan pakaian yang diperintahkan Allah swt. Alhamdulillah atas nikmat iman ini.. ”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Selain Nur, adapula perempuan di Palestina yang memeluk Islam di bumi yang diberkahi Allah tersebut. Nama sebelumnya adalah Roxena asal Roma. Namun kini namanya berubah menjadi Fatimah Az Zahra. Ia bercerita tentang proses keIslamannya, “Saat aku kecil di Roma, saya sudah merasa tidak tenag pergi ke gereja dan melakukan sejumlah aktivitas ritual. Perasaan saya menjadi sempit khususnya ketika saya mendengar sejumlah informasi yang saya tidak mengerti artinya. Saya bertanya, “Kenapa kami diciptakan?” Apa tujuan hidup ini?” Dan ketika saya memeluk Islam, saya dapati semua jawaban yang saya pertanyakan itu yang tidak dapat dijawab oleh keyakinan Nasrani secara memuaskan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Proses masuk Islamnya Fatimah berawal ketika ia menemukan sebuah kaset di mobilnya. Kaset itu ia dengarkan dan dengan kehendak Allah ternyata kaset itu berisi dialog antara tokoh Muslim terkenal asal India, Ahmad Deedat dengan tokoh Nasrani. Ahmad Deedat benar-benar mampu memberi jawaban meyakinkan atas semua pertanyaan yang diajukan tentang bukti kebenaran Al-Quran dengan lancar. Berbeda dengan pemuka Nasrani yang justru tidak mampu menjelaskan apa yang mereka yakini sendiri. Dari situlah saya mulai ingin mempelajari lebih banyak tentang Islam.” (na-str/iol/eramuslim)

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejarah pergulatan politik, agama, kultur dan budaya antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi di Madinah, termasuk bagaimana awal terbentuknya Piagam Madinah. Saya kemudian menjelaskan bagaimana toleransi Rasulullah S.A.W di Madinah dengan fakta-fakta sejarah yang akurat. Bagaimana Umar bin Khattab memberikan keluasan bagi kaum Yahudi untuk kembali menetap di Jerusalem setelah diusir oleh kaum Kristen. Bagaiman penguasa Islam di Spanyol memberikan “kesetaraan” (equality) kepada seluruh rakyatnya, termasuk kaum Yahudi. Bahkan bagaimana penguasa kaum Muslim di bawah Khilafah Utsmaniyah menerima pelarian Yahudi dari pengusiran dan “inquisasi Spanyol” kaum Kristen di Spanyol.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Mendengarkan itu, dia nampak tersenyum tapi melihat raut wajahnya dia sepertinya cuwek. Tapi karena sejak awal memang demikian, saya yakin bahwa cuwek itu bukan berarti tidak serius, tapi memang itulah kepribadiannya. Tiba-tiba dia bertanya: “And how to do that?”. Saya menengok pada peserta lainnya yang juga ikut senang mendengarkan percakapan itu, lalu menjawab: “Brother, it’s very easy. What you need to do right know is that you must confess that there is no god worthy of worship but Allah, and that Muhammad is His Prophet and Messenger. Are you ready?” tanyaku.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dua minggu menjelang Ramadhan, the Islamic Forum seperti biasanya, padat dengan peserta dialog. Sebagian besar memang adalah para muallaf dan non Muslim yang sudah beberapa bulan belajar Islam. Salah satu dari non Muslim itu adalah seorang gadis, hampir saja kusangka gadis Aceh atau Bangladesh. Wajah dan postur tubuhnya nampak jauh lebih muda dari umurnya yang ke 23. Sangat pendiam dan sopan, tapi sangat kritis dalam mempertanyakan banyak hal. Hari itu saya memang menjelaskan makna-makna spiritual dari ibadah puasa. Penjelasan saya terkonsentrasi pada kata “taqwa” yang didetailkan kemudian oleh S. Ali Imran:

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Siang itu penjelasan saya memang banyak berkisar pada makna “takwa” dalam konteks “ihsan”. Bahwa membangun ketakwaan tidak sekedar dilakukan lewat pendekatan formal hukum tapi yang menjadi inti sesungguhnya adalah kemampuan membangun “relasi spiritual” dengan Ilahi. Simbol keberagamaan (aspek-aspek formal agama) tidak menjamin ketinggian keberagamaan (religiusitas) seseorang. Tapi banyak ditentukan oleh, selain benar secara hukum formal, juga benar secara batin. Biasanya hukum formal ini terkait erat dengan masalah-masalah fiqhiyah, dan hukum batin ini terkait dengan kesadaran jiwa di saat melakukan penghambaan (ibadah).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dia kemudian berbicara cukup panjang mengenai konsep inkarnasi dalam pandangan agama Budha. Penjelasannya cukup menarik, dan terkadang dibumbui pula dengan argumentasi rasional. Oleh karena tidak ada yang menyangka kalau gadis itu beragama Budha, hampir semua terheran-heran di saat dia mengatakan “in my belief…Buddhism”. Saya pun memotong langsung dan bertanya: “Sister, may I ask you a personal question?”. “Yes sir!” jawabnya. “Are you a Buddhist?”, tanya saya. “Yes sir. My mom is a strong follower of Buddhism, but my dad doesn’t really care about religion”, jawabnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya tiba-tiba teringat dengan Kumar, seorang pemuda Bangladesh beragama Budha yang masuk Islam beberapa waktu lalu. Saya juga tiba-tiba teringat dengan Nagakawa, seorang pendeta Budha yang seringkali saya temui dalam beberapa pertemuan antar-agama (interfaith) . Terbayang kegalauan mereka dalam melihat makna kehidupan ini. Mereka tidak tahu asal, dan juga tidak sadar ke mana mereka berjalan. Pencarian spiritualitas mereka hanya sebatas “pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat”. Inilah yang menjadikan Dalai Lama menjadi sangat populer di AS, tentu juga karena ada kepentingan politik Amerika terhadap China.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Hampir setiap keluarga di Inggris, menurutnya, mempercayai bahwa ini bukan perayaaan keagaam Kristen tapi melulu acara tradisi budaya Eropa yang dilakukan ratusan tahun,  yakni acara keluarga berkumpul yang cuma terjadi sekali setahun. Sekarang sudah banyak ditemukan kalau ini tradisi  Pagan yang menyembah matahari, merayakan malam terpanjang dan sebagainya. Di Inggris rata-rata  disaat berkumpul mereka menghidangkan masakan ayam kalkun yang di panggang dalam oven lengkap dengan sayur mayur dan ditutup dengan krismas puding yang begitu berat, plus ditambah  makanan lainnya dan tak lupa ditemani alkohol dan puncak nya dari acara ini tentunya membagikan hadiah bagi keluarga..demikian ia bertutur.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

‘Sebetulnya mereka membujuk saya untuk datang dan berkumpul dengan adik dan kakak serta para ponakan’ paparnya, ‘tapi…’ tambahnya lagi’  ibu saya khan tidak akan bisa dan tahu memasak daging atau ayam halal, lagian walaupun ini bukan acara ritual atau relijius, kalau saya hadir berarti saya merestui perayaan pagan mereka, iya engga sis?  ‘Betul juga  sih..belum lagi nanti pada minum alcoohol, kamu  menonton mereka dan mereka akan mentertawakan kamu engga minum’, tambahku. Aku menyetujui. ‘Lalu bagaimana reaksi mereka tanyaku. ‘Well, masya Allah, mereka menyambut baik, memahami , menghargai keputusanku dan bahkan cukup supportif, dan mereka tahu ko sekarang saya muslim dan saya tunjukan sajadah, hmm bahkan saya bisa sholat dirumah ibuku..’ Alhamdulillah kataku. Well, begitulah, pokoknya saya  seneng bisa lepas dari beban ini dan yang penting ibu dan ayah saya tidak kecewa atau bersedih…’

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya ingat.. suatu Ahad, saat saya berjumpa  pertama kali dengannya James dipengajian ‘StepstoAllah, di Islington, London utara.  James saat itu belum Muslim, ia masih mencari-cari  dan meyakinkan dirinya. Entah bagaimana saat pengajian usai, James berbisik kepada Hilaal ‘ I think now I would like to take shahadah…I like to do it in the mosque, what do you think?’ dengan serta merta Hilaal menyambutnya dan langsung memaklmuatkan keinginan James ini, kamipun terkejut, sekaligus terharu mendengarnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

‘Yes sister I know that but.. mmm I am very positif  and sure about it,  especially today, I have thought about this for quite  long time. It does not bother me what media say. I don’t trust  them. In fact its bit too long for me to decide’ tegasnya..’..but today Im  more confident’  ia meyakinkan dirinya.  Demikian James menambahkan bahwa mestinya ia sudah lama  bershahadat dan masuk Islam  namun ia terlalu banyak pertimbangan.‘ I am a very slow to decide’ ujarnya lagi. Akhirnya saya katakan padanya bahwa kami akan bantu dan support dia dalam banyak hal. Dari sejak itu Jamespun ikutan jadi anggota milis pengajian sehingga ia merasa kerasan, nyaman dan bisa komunikasi lewat email.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Akhrinya James mengumumkan sekalgus mengundang kami lewat email rencana untuk melakukan shahadat ini. Pada hari yang direncanakan kami ke Masjid.  Disuatu hari Sabtu, dimusim panas tahun 2007  kami bersiap-siap untuk hadir pada acara penting ini. Hilaal mengatakan bahwa acaranya usai/ba’da dzuhur. Siang itu kukebut  si maroon Reynold dengan kecepatan lumayan, dibagasi mobilku ada sepinggan besar Cheese cake, lengkap, serta beberapa piring kecil dan sendok plastik, sekedar untuk tasyakuran atau syukuran atau ‘celebration’ istilah lainnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Syukur ada tempat untuk parkir, langsung keruang lantai paling bawah (basement) Masjid Regent Park, London. Nampak beberapa orang yang saya yakin teman-temannya James yang datang menghadiri untuk menyaksikan acara ini, beberapa teman dari pengajian mingguan kamipun hadir. James hari itu mengenakan baju kemeja Koko ala Pakistan (kemeja sepanjang lutut), berwarna putih. Ia nampak tenang, begitu ia melihatku  ia menyambutku dan menyapa ‘Asalamualaiakum sister, thank you’. Akhirnya kami semua duduk lesehan ditikar rafia plastik menunggu kedatangaan pak Imam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pak Imam berdiri meninggalkan kami semua, karena beliau harus memenuhi janji lainnya. Lalu kami datang mendekat James mengucapkan selamat  kepadanya ’Well Done, congratulation, Mabruk…hmmm mereka yang lelaki berjabat tangan dan berpelukan, tentunya, saya sibuk menjepret dengan sang digital.   Aku menyaksikan penuh haru dan entahlah, akhirnya kami yang wanita atau sister dapat giliran untuk mengucapkan selamat dan hanya dengan isyarat saja. karena kami tidak bersalaman. Lalu foto bersama. Usai itu kami ke kantin untuk bertasyakur,’ lets go to cantin to celebarte..’ undangnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kami pesan minuman hangat teh atau kopi, beberapa orang pesan makan siang, karena mungkin belum makan. Kamipun duduk dengan bahagianya  Saya memilih duduk dekatnya agar bisa lebih banyak berbincang. ‘How do you feel now brother? tanyaku ‘Its great…alhamdulillah I feel so happy now feel just relief and its done!’ jawabnya. Tiba-tiba ia  mengatakan ‘ brothers and sisters…thank you for your coming, your are very supportive and really appreciate it’,  ujarnya. ‘I have chosen a Muslim name so call me from now ‘Zakariyya..no more James, please. Kami bertepuk tangan kecil.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saat makan siang James turun kedapur lalu ia berbincang lagi tentang dirinya, tiba-tiba seorang ukhti muncul, lalu saya kenalkan. Ia bersegera mengeluarkan dompetnya lalu mencari secarik kertas dengan tulisan ‘ Zakriyya’. ‘I am trying to remember my new name..’ ujarnya, santun sekali ‘Yes my namae is Zakariyya with two wai (maksudnya y) ..’ ia memperkenalkan diri pada Nadia.  Di sms dia menyingkat menjadi Zak, atau bro  Zak..kadang lebih menyingkatnya menjadi initial Z. Itulah sekilas mengenai brother Zakariyya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ramadahn tahun 2007 adalah merupakan tahun pertama bagi brother kita ini melakukan shaum atau puasa dan baginya shaum merupakan pengalaman spiritual yang luar biasa, walau katanya pada dua hari pertama ia rasakan amat berat. Dan ia bisa memahami seperti apa laparnya, mereka orang-orang miskin yang papa yang tak mampu membeli makan, sedang secara fisik ia merasakan pembersihan racun-racun yang bersemayam ditubuhnya. ‘I really enjoyed fasting , it is like de-toxed your body, and I felt so light on the third week’ kesannya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Zakaria bertutur bahwa: Orang tuanya  beragama Kristen tapi hampir tidak mempraktekan agamanya dan tidak ke gereja (they are not church goer). Saya selalu mengalami kesulitan menerima ajaran  kristen….’ kenangnya.’ Begitu banyak doktrin yang tidak mudah dicerna dan diterima oleh logika, tambahnya lagi. Hal ini telah menyisakan perasaan dan jiwa saya yang kosong (emptiness) bahkan saya merasakan secara fisikpun sepertinya diri ini tak punya arti apa-apa.  Ruang yang luas dan besar itu sepertinya betul-betul hampa untuk saya. Agama Kristen mengakui bahwa bahwa adanya Tuhan, maha Pencipta tapi saya merasakan sesuatu yang tidak nyaman dengan agama ini, ada sesuatu yang mengganjal dan saat itu saya tidak tahu apa.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kemudian tambahnya lagi, ‘Saya berkenalan dengan seorang muslim sepuluh tahun lalu, seseorang yang setia dan tetap menjadi teman baik saya. Saya memiliki juga beberapa teman Muslim yang selalu membuat saya terkesan dengan  kebaikan, dan ketenangan teman Muslim ini. Mereka sangat rendah hati, santun  dan kemanusiawiannya sangat menonjol. Mereka selalu siap menolong, dan selalu siap menjawab semua pertanyaan saya tentang Islam. Terus terang saja bahwa saya tidak pernah terlintas dan terfikir  bahwa saya akan menjadi pemeluk Islam. Ini luar biasa.!, ujarnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada musim semi tahun 2006, lanjutnya lagi, saya berjumpa seseorang yang memberi saya inspirasi  untuk menjamah  Al-Quran dan membacanya. Kebetulan saya tinggal dengan teman baik saya ini , dan hingga kini kami masih sahabat. Nah untuk menyentuh dan mengambil kitab Al-quran itu sebetulnya tidak susah dan tidak memerlukan waktu dan tenaga banyak yang mesti saya lakukan. Saya tinggal berjalan dari sofa ke rak buku yang cuma beberapa langkah untuk mendapatkan Al-Quran, mengambil  kitab itu dan membacanya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Terjemahan pertama yang saya baca adalah yang dipublikasi oleh Penguin Books. Menurut saya  ini bukan sebuah translasi yang terbaik, karena setelah  saya cermati  si penerjemah  cenderung untuk menafsikan semaunya dan  tidak menerjemahkan secara benar atau dan tidak jujur tentang kebenaran.  Perasaan saya mengatakan seperti itu.  Namun ada satu hal yang baik dari penerjemah bahwa ia  menyarankan untuk membaca surat-surat  pendek dulu sebagai pemula dan  permulaan karena surat lainya yang panjang itu sangat kompleks. Ayat 55 dari surat Ar Rahman dan ayat-ayat pada surat-surat  At-Takwir (surat 81) itu saya kaitkan dan kesimpulan yang saya mabil  membuat saya termangu dan dan merenung yang membuat saya begitu takjub dengan Al-quran dan agama Islam…

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

‘           Saya ingat waktu pertama kali saya membaca Al-Quran,  saya merasakan getaran dan dorongan kuat dihati saya. Oh, ingin rasanya saya masuk Islam seketika. Agama Islam dan Al-Qur’an menawarkan ajaran  yang sangat alami, mudah dipahami dan diterima dan dicerna oleh logika dan hati sedang didalam Al-Quran juga banyak menceritakan kisah-kisah dan kehidapan para Rasul dahulu. Semua ajarannya seakan pas dengan kehidupan saya dan yang saya yakini. Al-Quran layaknya seperti keping-kepingan puzzle yang berserakan namun bisa digabung dan disatukan dan anehnya kepingan yang berserakan dan berbagai bentuk itu bisa disatukan dan menjadi sebuah gambar atau lukisan. Jelas, terang dan komprehensif. Saya melihatnya seperti itu, kata James.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Cukup banyak buku-buku dan literatur yang harus saya baca seperti: Kehidupan Muhammad saw yang ditulis oleh  Martin Lings dan beberapa buku yang ditulis oleh para muallaf (reverts). Saat ini saya sudah memulai membaca terjemahan Al-Quran lainnya dan membaca buku-buku Sejarah Rasulullah, Nabi Muhammad saw dari beberapa dimensi sambil mengunjungi beberapa mesjid disekitar London dengan beberapa teman, sekaligus mempraktekan sholat saya. Sekali seminggu, pulang bekerja saya belajar bahasa Arab ‘Arabic lesson’ (catatan penulis maksudnya belajar membaca Al-Quran dengan IQRO yang diajar oleh brother Hilaal) .

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nur:35)

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tambahnya lagi : “Bayangkan my dear, seumur hidup saya menganut dan penganut Katolik..eh sekarang saya memeluk agama Islam, kadang saya bertanya bagaimana ko saya bisa jadi Muslim?.  Ini  merupakan tantangan baru untuk tahun yang baru  untuk saya sebagai seorang Muslim yang baru.  Alhamdulilllah, Allah masih memberi peluang kepada saya untuk menjadi hambaNya mengakui bahwa hanya Satu, bukan tiga, yaitu Allah serta pengikut Nabi Muhamda saw, padahal jarak ke kuburan untuk saya tinggal beberapa jengkal saja, bukan?. [i]‘Its never too late to change my religion’ . Tidak ada kata terlambat untuk berganti agama, walau saya sudah tua’. [/i]

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ketika pertama kali mengikuti kelas the Islamic Forum, wanita ini cukup menyebalkan sebagian peserta. Pasalnya, orangnya seringkali tertawa lepas, bersuara keras dan terkadang dalam mengekpresikan dirinya secara blak-blakan. Bahkan tidak jarang di tengah-tengah keseriusan belajar atau berdiskusi dia tertawa terbahak. Hal ini tentunya bagi sebagian peserta dianggap kurang sopan. Theresa, demikian dia mengenalkan dirinya, sangat kritis dan agresif dalam menyampaikan pandangan-pandangannya. “From what I’ve learned I do believe Islam is the best religion”, katanya suatu ketika. (watch 1.5 million Americans converted to ISLAM in USA  )

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Suatu hari Theresa meminta waktu kepada saya setelah kelas. Menurutnya ada sesuatu yang ingin didiskusikan. Setelah kelas usai saya tetap di tempat bersama Theresa. “I am sorry Imam” katanya. “Why and what is the reason for the apology?”, tanyaku. “I think I’ve been impolite in the class in the past”, katanya seraya menunduk. “Sister Theresa, I have been teaching in this class for almost 7 years. Alhamdulillah, I’ve received many people with many backgrounds. Some people are very quite and some others are the opposite”, jelasku. “But I always keep in mind that people have different ways of understanding things and different ways of expressing things”, lanjutku.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya kemudian menjelaskan kepadanya karakter manusia dengan merujuk kepada para sahabat sebagai contoh. Di antara sahabat-sahabat agung Rasulullah SAW ada Abu Bakar yang lembut dan bijak, tapi juga ada Umar yang tegas dan penuh semangat. Ada Utsman yang juga lembut dan sangat bersikap dewasa, tapi juga ada Ali yang muda tapi tajam dalam pandangan-pandangannya. “Even between themselves, they often involved in serious disagreement”, kataku. Tapi mereka salaing mamahami dan saling menghormati dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ketika saya tanya, katanya temennya itu minta diantar ke rumah seorang ustadz karena temennya ada yang ingin masuk Islam malam itu juga. Subhanallah ! bergetar hati saya mendengar kabar itu. Tanpa dikomandoi lebih lanjut langsung saya nyalakan mesin mobil dan saya siap antar kemana saja. Setelah Fatah siap-siap dan saya memanaskan mobil, kami berangkat menuju universitas Bina Nusantara, karena kita janjian untuk bertemu disana. Sekitar 15 menit kemudian dia hadir bersama temen-temen Fatah yang lain.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Subhanallah ! ternyata yang ingin masuk Islam itu seorang wanita yang masih muda angkatan 2005 keturunan chinnese. Dia berasal dari Surabaya dan tinggal di Jakarta karena kuliah di Binus. Tertarik dengan Islam sejak dia di Surabaya tapi saat itu belum ada yang bisa membimbingnya untuk masuk Islam. Dia sempat bercerita sedikit bahwa dia kagum dengan Islam karena di Islam ada perintah untuk mengingat Tuhan sebanyak 5 kali sehari, sesuatu yang tidak dia dapatkan di agama sebelumnya, dan dia merasa hanya dengan Islam seorang hamba bisa dekat dengan Tuhan. Ya Allah, hati saya semakin bergetar dan ingin menangis rasanya mendengar pengakuannya yang jujur itu dan terlebih lagi ini adalah kali pertama saya menyaksikan seseorang yang akan mengucap syahadat.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Aku berusaha mencuri kesempatan bercengkrama dengan anak anak. “Kakak dan adik saya nggak, sama mama?” tanyaku. Mereka mengangguk. AKu mewanti wanti. “Ingat ya nak, apa yang sedang kita lakukan disini adalah pura-pura. Pura pura kristen. Inga ya nak, kita ini orang Islam, sayang. Insya Allah, Allah selamatkan kita”.Pilu tak tertahankan. Aku merasa sebatangkara. Tiada teman curhat. Aku ingin tumpahkan semua beban ini pada Allah. “Ya Allah… ingin sekali kugenggam tanganMU..”. “Kenapa aku tidak dilahirkan dalam keadaan Islam saja!”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

SEBENARNYA saya tidak pernah terbayang sedikitpun untuk memeluk agama Islam. Karena keluarga saya pemeluk agama Hindu yang taat. Dari kecil saya juga dididik untuk taat kepada agama nenek moyang saya itu. Hingga akhirnya ketika hidup saya berubah, saya bercerai dengan suami pertama. Saat itulah, saya berpikir untuk melirik Islam. Meskipun keluarga saya Hindu, namun lingkungan tempat tinggal saya banyak yang Muslim. Saya merupakan orang yang berpikiran praktis dan simpel. Saya ingin anak saya tumbuh menjadi anak yang bermoral, maka saya meranggapan anak-anak tersebut harus memiliki dasar agama yang baik.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Meskipun mulanya hanya tertarik karena Islam mudah di akses, namun semakin mendalami agama ini, saya semakin jatuh cinta. Karena saya lebih dapat menerima ajaran-ajaran yang ada dalam Islam, seperti konsep ketuhanannya, yang menyembah satu Tuhan Allah. Sehingga akan saya benar-benar bisa menerima bahwa Tuhan inilah yang sesunguhnya saya harapkan, dengan tanpa niatan untuk merendahkan agama lain beserta konsep ketuhanannya. Saya orang yang menghormati kepercayaan orang lain. Meskipun saya menganggap Islam benar, namun saya tidak ingin menyalahkan ajaran lain.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya begitu kagum pada Islam. Hingga akhirnya saya bertemu dengan pria yang menurut saya memiliki latar belakang agama Islam yang baik. Karena keluarganya sudah bergelar haji semua, maka saya memutuskan menikah dengan dia. Namun, harapan saya itu tidak terwujud. Suami yang saya harapkan dapat membimbing saya, ternyata semakin menipiskan keimanan saya. Bagaimana tidak, dia tidak pernah menafkahi saya meskipun saya tidak mengharapkan uang darinya. Namun, sebagai istri saya juga menginginkan dinafkahi oleh suami. Yang lebih menyakitkan lagi, ketika suami hidup satu rumah dengan mantan istrinya, saya merasa hal ini tidak dapat ditolerir lagi.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

”Jilbab hanya menutupi kepala, bukan otak saya,” tegas Hayrunnisa (42), yang menikah dengan Gul pada usia 15 tahun. Perempuan yang dikenal cerdas, berpenampilan hangat, elegan, dan menghindari sorotan media massa ini menegaskan jilbab adalah pilihan pribadinya yang harus dihormati. Jilbab dan kepatuhannya pada ajaran Islam, tegas ibu tiga anak ini, tidak menghalanginya untuk menjadi modern. Jilbab Hayrunnisa memang sempat menjadi komoditas politik hangat di Turki. Jilbabnya menjadi sasaran tembak yang empuk bagi kubu sekuler, musuh politik suaminya, untuk menjegal pencalonan suaminya menjadi presiden oleh partai berkuasa AKP yang berbasis Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sedangkan mengenai aktifitas LKM dan IMM di sana, Zakaria mengatakan, lembaga itu didirikan untuk mengurusi permasalahan kaum Muslimin di Jepang. Sedangkan IMM didirikan tahun 1960 dengan tujuan memperhatikan para mahasiswa Muslim yang belajar di Jepang. Di samping itu, menyediakan buku-buku tentang pengetahuan Islam dan memberikan kemudahan bagi kaum Muslimin dalam menjalankan keseharian mereka. Begitu pula, berkat koordinasi dengan sejumlah lembaga-lembaga Islam, di antaranya Lembaga Kaum Muslimin, keduanya sama-sama mengawasi anak-anak generasi baru dari kalangan kaum Muslim.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kami 3 bersaudara -saya dan 2 adik saya- dididik dengan ketat dalam kehidupan kristen yang taat dan sangat kuat. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin kristen. Merendahkan & apriori terhadap Islam. Harus mampu menampakkan bahwa kristen adalah KASIH. Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat P. Lombok yang mayoritas beragama Islam, kami semua aktif dalam penginjilan/pemurtadan. Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki, sejak kira-kira Th. 1997 ia menjadi pendeta di

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pengaruh kekristenan ibu yang aktifis gereja sangat kuat, Th. 1971 Mase yang semula Islam tidak sekedar dikristenkan ibu tetapi bahkan berhasil dibina menjadi aktifis penginjilan yang militan & handal. Mase dianggap punya kelebihan talenta. Mampu berinteraksi dan mengusir kuasa kegelapan, padahal kemampuan metafisik/paranormal semacam itu yang mereka anggap kelebihan dan anugerah Tuhan, dalam kacamata Islam justru indikasi lemahnya Tauhid, karena menurut ajaran Islam talenta semacam itu sebenarnya berasal dari setan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kami 3 bersaudara -saya dan 2 adik saya- dididik dengan ketat dalam kehidupan kristen yang taat dan sangat kuat. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin kristen. Merendahkan & apriori terhadap Islam. Harus mampu menampakkan bahwa kristen adalah KASIH. Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat P. Lombok yang mayoritas beragama Islam, kami semua aktif dalam penginjilan/pemurtadan. Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki, sejak kira-kira Th. 1997 ia menjadi pendeta di daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejak itu pula saya di PHK keluarga saya. sama nenek saya , Pakde Bud, Bapak-ibu dan adik-adik yang sejak kecil saya yang mengasuh, membiayai pendidikan & pernikahan mereka. Sebenarnya sejak kecil saya sudah sering merasa sangsi, bimbang, bingung, galau dan ragu dengan ajaran Kristen. Banyak sekali kejanggalan, banyak hal tidak sesuai dengan akal sehat, tetapi saya tetap mencoba setia dengan kekristenan saya. Tetap melakukan penginjilan walau kegalauan semakin hari semakin membengkak dan terasa menyiksa. Pindah agama Islam? Wow…..sorry! secuilpun tak ada minat, image Islam tidak menarik sama sekali! kalau benci… memandang rendah …. Ya!.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya mulai meragukan Kristen, NATAL! Perayaan paling meriah dan ibadah paling sakral di dalam Kristen dan dirayakan setiap 25 Desember., tetapi tidak satupun ayat alkitab yang membahasnya atau minimal menyinggungnya, bahkan terbukti perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah perayaan yang merayakan kelahiran berhala-berhala pra Kristen, yaitu dewa Mithra yang dianggap putra tuhan dan cahaya dunia (dewa matahari), Osiris, Adonis, Dionysus, Khrisna. Jadi jelas bahwa perayaan Natal itu mengadopsi dan melestarikan perayaan tuhan-tuhan para penyembah berhala. Bahkan hari suci mingguan Kristen yang semula menghormati hari Sabat Yahudi yaitu hari Sabtu, oleh Kaisar Konstantin digeser dan disesuaikan dengan hari suci mingguan para penyembah berhala yang memuliakan dewa matahari yaitu Hari Matahari (SUN DAY) / hari Minggu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya jadi malas pergi ke gereja dan enggan membuka injil karena ada revisinya yaitu Al-Qur’an dan ketika teman meminjami buku berjudul ‘Akhlahk Islam’ masya Allah saya begitu ta’jub karena hal yang kecil diperhatikan dan ada tuntunan didalam Islam. Misal sehabis bersenggama wajib mandi besar, yang lewat lebih dulu memberi salam, istri pergi tidak cukup minta ijin tetapi suaminya harus ridho. Tentu hal yang besar lebih diperhatikan lagi! Setelah bertahun-tahun dalam kebimbangan, perenungan dan pergulatan batin serta berdoa memohon petunjuk kebenaran kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, maka saya memutuskan memeluk agama Islam pada Februari 1999.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Beberapa bulan berikutnya saya menikah untuk kedua kalinya dan yang mengantarkan saya pada Islam. Tetapi teman-teman saya yang mayoritas Islam tidak berusaha mendakwahi saya, entah karena tidak PD atau tidak paham bahwa Islam itu agama luar biasa, sempurna!. Tetapi justru saya yang getol menyampaikan Kristen kepada mereka.Setelah keislaman saya, beberapa ujian datang dari teman-teman/tetangga yang Kristen atau orang Islam yang mencurigai ke-Islam-an saya, usaha saya bangkrut ditipu kyai yang berkedok membimbing saya, saya sempat terperosok ke dalam aliran Islam sesat, suami saya yang staf manajer mengundurkan diri karena diskriminatif. Ketika semangat Islam saya baru bersemi suami meninggal dan saya sakit keras dan sedihnya uang di dompet tinggal Rp.10.000,-.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Seminggu kemudian Ibu saya mengultimatum saya bila memilih Islam biaya hidup mulai kecil dianggap sebagai hutang. Saat ini saya bergabung di Forum Arimatea Solo dan turut berdakwah bahayanya kristenisasi dan membentengi umat Islam dari bahaya pemurtadan. Untuk ini saya sudah 6 kali menerima ancaman, baik akan dilaporkan di kelurahan, kepolisian dan akan dibunuh, tetapi saya tidak gentar karena Allah yang Maha Kuasa dan Maha menepati janji telah menjanjikan “Barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya” Dan siapapun tidak akan mampu mendatangkan kemudharatan jika Allah tidak menghendaki.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sabtu lalu, 9 Juni 2007, kelas the Islamic Forum the Islamic Cultural Center of New York dipenuhi peserta lebih dari biasanya. Rata-rata peserta per Sabtu adalah 15-20, tapi siang itu sekitar 25 peserta duduk berdesakan dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu. Selain peserta dengan wajah lama, rata-rata peserta yang telah mengikuti acara ini sekitar 2-5 bulan, juga nampak beberapa wajah baru. Topik yang saya sampaikan hari itu adalah “Islam dan Tantangan Hidup” (Islam and Challenges of life). Topik ini sengaja saya kemukakan, mengingat Paris Hilton baru saja diceploskan ke dalam penjara.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kenyataanya terjadi banyak paradox dalam hidup manusia di abad 21 ini. Kemajuan material yang ditandai dengan kemampuan keilmuan dan teknologi yang tinggi ternyata tidak memberikan kepuasan dan kebahagiaan kepada manusia. Semakin banyak manusia menghasilkan semakin tinggi perasaan ketidak puasan itu. Di kota-kota besar manusia berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit, tapi di satu sisi kehidupan semakin terasa gersang. Semakin banyak rumah sakit yang dibangun, obat-obatan dan vitamin yang diproduksi juga semakin banyak penyakit dan orang sakit yang memenuhinya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kesimpulan dari semua pembahasan yang memakan waktu hampir 3 jam itu adalah bahwa manusia abad 21 dijangkiti penyakit yang lebih berbahaya dari penyakit-penyakit konvensional yang kita kenal. Penyakit ini menjadi sumber banyak masalah yang dihadapi oleh manusia sekarang ini. Penyakit itu, yang dalam bahasa Al Qur’annya adalah “Al khauf wal hazan” (penyakit takut/khawatir dan sedih). Sedemikian besarnya rasa takut dan sedih menimpa manusia modern sekarang ini, sehingga untuk tidur saja di atas kasur yang empuk sangat susah. Menurut penelitian terakhir, tahun 2006 lalu sekitar $ 80 milyar obat pembantu tidur (sleep aid) terjual. Dan anehnya, mayoritas mereka yang membelinya adalah orang-orang kaya dan sukses.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Tell me then how did you come to know Islam?” (ceritakan, mengapa tertarik pada Islam), saya memulai. Tiba-tiba dengan sedikit tersenyum dia mengatakan “I never met any Muslim before, but I studied it by my self”, jawabnya. “And how did you know about Islam in the beginning?” tanya saya. “You know, Islam is well known. I knew Islam for the first time from CNN when there was an interview by a woman….i think she was a leader of a Moslem organization.” (Islam sudah ternama. Saya dapat membedakan agama Islam pertama kalinya dengan CNN ketika ada wawancara dengan seorang wanita, yang saya pikir dia seorang pemimpin organisasi Muslim)” , jawabnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Belakangan saya ingat bahwa interview yang dimaksud adalah wawancara CNN dengan Dr. Ingrid Mattson, President ISNA (Islamic Society of North America) beberapa waktu lalu. Nampaknya Down sangat impressed dengan panampilan Ingrid yang tenang, bersahaja tapi sangat cerdik. Saya masih ingat dalam sebuah diskusi di Council on Foreign Relations baru-baru ini, di mana Ingrid menjadi salah seorang nara sumber. Pertanyaan para pesera sangat menyudutkan. Tapi dengan tenang dihadapi semuanya dan jawaban-jawaban yang diberikan mematahkan semua pertanyaan yang menyudutkan itu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya mengalaminya pertama kali saat saya SMP. Pada saat itu, hati kecil saya bertanya-tanya dan mulut saya pun melontarkannya. “Yesus itu Tuhan, kan? Sedangkan Tuhan itu Maha Segalanya, tapi kenapa mata manusia mampu menangkapnya?”, tanya saya ke guru di sekolah Katolik tempat saya belajar. Pertanyaan-pertanyaan tak berhenti begitu saja. Saya juga menanyakan tentang kenapa Yesus muncul dalam berbagai versi dan wajah. Ada versi yang berwajah Barat, Nigeria, Indonesia bahkan India. Tapi tetap saja tak ada jawaban yang memuaskan. Bahkan bisa dibilang tak pernah ada jawaban. Sementara, hati kecil tetap tak mau berhenti berontak. Hingga saya menginjak dewasa, saya tetap tak bisa memasukkan dalam kotak nalar benak saya, tentang apa yang namanya misi penginjilan yang mengajak orang-orang beragama di luar Kristen agar masuk Kristen. Bahkan, saya pernah menolak untuk jadi penginjil. Di dalam Kristen, ada ajaran, “Jadilah kau pengail orang, kalau turutku (Tuhan Yesus)”. Saya lalu berdalih, bukan menentang ajaran ini, tapi menentang tafsiran bahwa mengailnya juga di kolam yang sudah terbentuk sementara lautan luas masih belum tunduk. Debat saya akan verse ini pun sia-sia. Saya masih harus tetap menjalankan ini semua mengkristenkan orang yang sudah beragama. Menjadi misionaris.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Masalah Trinitas pun tak luput saya tanyakan kepada seorang pendeta. Bahwa 3 dalam satu itu tidak mungkin. Bahwa sangat aneh ketika Tuhan menjelma dalam bentuk manusia, tapi masih ada lagi Tuhan di atas sana. Ini sama halnya ada 3 Tuhan. Meskipun Pendeta itu mengajariku beranalog bahwa Trinitas itu seperti menggambarkan seorang ayah. Bisa jadi, ayah itu adalah seorang ayah, seorang pekerja kantoran sekaligus ketua RT. Jika seorang ayah berada di tempat dan waktu yang berbeda maka ia akan menjadi orang yang berbeda. Padahal Tuhan tidak terikat waktu dan tempat. Itu semua tidak masuk akal, bentakku pada diri sendiri. “Kamu memang keras kepala!”, kata orang tua saya ketika saya mulai berdalih macam-macam tentang Trinitas. Sejak saat itu pula saya merasa bahwa saya memang beda.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Kalau saya tadi mati, saya akan pergi kemana? Saya sudah bukan lagi Kristen karena tidak pernah ke Gereja, tidak baca doa, tidak pula baca Injil. Di Islam? Padahal saya belum Islam. Saya belum percaya dengan Islam. Saya mati akan kemana?” Saat itu pula, Adzan maghrib terdengar mengiringi pertanyaan dalam hati kecil. Saya ingat, saat itu bulan Januari, saya berdoa dengan sungguh-sungguh. Mohon petunjuk agar mampu menyingkap kebenaran dengan doa dan kesungguhan. Kemudian, di malam ketiga saya melihat sosok wicaksana duduk dengan baju putih bersih di depan saya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Bayangan ini terlihat beberapa kali hingga saya mengkonsultasikan kepada seorang kawan HMI tentang hal ini. Awalnya dia tidak percaya dan sempat curiga jangan-jangan ini sekedar permainan. Tapi ketika melihat kesungguhan diri saya, dia malah menganjurkan saya ke Masjid Nur Hidayah untuk menceritakan lagi hidayah yang saya dapat ke seorang ustadzah. Saya masuk Islam di Februari, dan Juni 1999 adalah bulan dimana saya menikah dengan pria yang mengenalkan saya dengan Islam. Beberapa tahun berselang, suami saya mendadak sakit dan akhirnya pergi menemui Allah SWT, tepatnya tanggal 18 Agustus 2003. Ketika itu, saya sangat pilu, sedih dan sendirian dalam menghadapi itu semua. Sejak perceraian dengan suami saya yang pertama, anak saya ikut dengan orang tua saya di Lombok. Saya ingin agar dia balik ke Solo dan hidup bersama saya dalam Islam. Tapi yang saya dapat hanyalah, “Kalau kamu tidak mau balik ke Kristen, maka segala yang telah saya berikan padamu adalah hutang, dan kamu harus mengembalikannya segera!” Anak saya disandera, dan saya dibebani dengan hutang yang seharusnya tidak saya bayar.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Anak saya malah datang lewat telepon, di suatu malam bulan Ramadhan dan bertanya, “Mama berat ke Islam atau berat anak?” Saya terperanjat kaget. Saya katakan kalau saya memilih Islam. Dan ia menjawabnya lagi dengan jawaban yang menyayat, “Ohh, jadi Mama itu orang yang tega terhadap anaknya, dan memilih Islam daripada anak.” Setelah mengulangi pertanyaan yang sama dan mendapat jawaban yang sama pula dari diri saya, maka ia memutuskan hubungan anak dan ibu diantara kami berdua. Telepon ditutup dengan kata-kata terakhirnya, “Semoga Ibu Dewi (bukan panggilan “Mama” yang selama ini ia memanggil ke saya) bahagia dengan agamanya yang baru itu!”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Malam itu saya menangis. Kesedihan bercampur dengan rasa lega dan gelo. Kenapa anak semata wayang yang tadinya ingin saya kembalikan ke Islam, kini lepas dari tangan saya. Saya malam itu hanya bisa berkata, “Jangankan lepas dari kamu, Nak. Kehilangan nyawa pun mama siap. Kamu, harta benda, buat mama itu tidak ada apa-apanya.” Saya masuk Islam karena saya melihat kebenaran di dalamnya. Ibu Dewi mengatakan bahwa keimanan itu seperti emas yang membutuhkan proses dan ujian yang akan ditempa sebelum menjadi perhiasan berharga. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari perjalanan rohani Ibu Dewi dan perjuangannya menegakkan Islam yang mengingatkan kita akan perjuangan orang-orang terdahulu. [Na/fosmil ]

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ketika hadir pertama kali di Islamic Forum for non Muslims di Islamic Center of New York, gadis ini nampak lugu dan pemalu. Dia hanya diam, mengamati dan sesekali menganggukkan kepala. Senyumnya pun jarang terlihat. Mungkin karena pernah mendengar bahwa senyuman wanita di tempat umum bisa dianggap tidak etis. Yuri, itulah nama yang disebutkan di saat ditanya tentang namanya. “my parents are very strong Catholics” katanya suatu saat. “My father is Venezuelan, but my mother is an Irish origin”. Mungkin campuran itulah yang menjadikan Yuri lebih mirip gadis Asia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dari pertemuan ke pertemuan, alhamdulillah, Yuri nampak serius dan banyak mengalami perubahan. Saya masih ingat, ketika pertama kali datang Yuri seperti tidak serius dan seolah acuh dengan ceramah yang disampaikan. Hingga suatu ketika, bersamaan dengan hari Paskah di kota New York, saya membahas kembali mengenai Isa A.S. Diskusi yang memakan waktu lebih 3 jam mengenai Isa itu ternyata awal perubahan drastis yang dialami oleh Yuri. Sejak itu, kerap kali meminta untuk direkomendasikan buku-buku yang dianggap “reliable” untuk dibaca.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dua bulan terakhir Yuri nampak semakin bersemangat. Bahkan tidak jarang kini menyampaikan keragu-raguannya terhadap apa yang selama ini dia sebut sebagai “my father’s inheritance” (warisan ayah). Walhasil, seringkali dia sendiri mempertanyakan konsep-konsep dasar agama Katolik. Sebagai misal, suatu ketika ada pertanyaan dari seorang peserta tentang “Dosa asal dan karakter dasar manusia”. Menurutnya, secara umum manuswia itu cenderung untuk jahat. Kalau saja tidak ada “hukum” maka manusia akan lebih jahat dari binatang buas di hutan-hutan. Maka, dosa asal itu memang ada dan terbukti dari prilaku manusia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Yuri, yang hingga kini belum sempat saya tanyakan nama lengkapnya, sejak itu pula nampak seperti seorang Muslimah yang setiap saat siap membela berbagai miskonsepsi mengenai Islam. Saya masih ingat, seorang peserta lain mempertanyakan konsep kemurnian tauhid dalam Islam. Menurutnya, orang-orang Islam itu jika shalat dan tidak menghadap Mekah tidak diterima shalatnya. Menurutnya lagi, bangunan yang ada di Mekah (Ka’bah) itu dianggap oleh kaum Muslim sebagai sesuatu yang dihormati. “Isn’t it a kind of polytheism?” tanyanya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Demikianlah hari-hari Yuri bersama the Islamic Forum di Islamic Center of New York. Hingga pada awal bulan Mei ini, di mana bersamaan dengan persiapan “Matrimonial Match Makin” yang akan dilaksanakan di Jamaica Muslim Center dua minggu silam, saya mendedikasikan sebulan penuh (Mei) membicarakan mengenai “Perkawinan dalam Islam” dari berbagai sudut. Yuri yang masih belia itu ternyata punya perhatian besar terhadap keluarga dan konsep pernikahan itu. Sampai pada akhirnya, minggu kedua dari diskusi tentang nikah itu dia mengatakan “This is the most interesting to me. I was kind of confused about how will it be as a Muslim to marry”.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Alhamdulillah, tepat Sabtu keempat bulan Mei lalu, nampak Yuri tenang tapi sesekali memperlihatkan wajah yang sepertinya gusar. Diskusi yang biasanya memakan waktu sekitar 3 jam itu ternyata molor hingga 4 jam karena memang masalah yang didiskusikan adalah hak dan kewajiban suai isteri. Ternyata bagi kebanyakan peserta hal ini menarik karena asumsi mereka isteri selalu tunduk dan patuh kepada suami. Sebaliknya suami selalu berada pada posisi yang superior. Ternyata apa yang mereka dapat adalah sebaliknya, di mana Islam menempatkan suami dan isteri pada posisi yang “sederajat” sesuai kodrat masing-masing pihak.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tidak beberapa lama setelah kelas bubar, Yuri dengan nampak berlinang airmata dan malu-malu masuk kembali ditemani 3 orang temannya. Ketiganya adalah muallaf yang masuk Islam beberapa waktu lalu. Saya langsung tanya “what’s happening?” Teman-teman itu hampir serentak menjawab “she is ready, Imam Shamsi”. Saya tidak sadar tentang Yuri dan kembali bertanya “ready for what?”. Yuri yang kini duduk sambil mengusap airmata mengatakan “I can not delay this any more. I want to be a Muslim right now!” katanya mantap.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum kedatangan seorang peserta baru. Seorang gadis berkulit putih dan tinggi semampai memasuki ruang kelas itu dengan pakaian muslimah yang sangat rapih. Pada awalnya memang saya mengira bahwa dia adalah seorang Muslimah keturunan Albania . Bahkan sangkaan saya ini berminggu-minggu, hingga suatu ketika saya tanyakan “when did you convert?”. Dengan sedikit tersipu dia menjawab: “I am still learning. I really want to know more before taking any decision”. Saya tentunya terkejut dengan jawaban itu. Sebab selama ini dia menampilkan diri di kelas persis seperti Muslim.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di saat menjadi mahasiswa itulah Alina mulai mengenal Islam lewat teman kuliahnya. Pergaulan dengan teman itulah yang membuatnya semakin tertarik untuk mendalami Islam. Hingga suatu ketika, menurutnya, dia sangat meyakini, “for me, Islam does make more sense”. Tapi menurutnya lagi, yang paling menarik perhatiannya adalah kenyataan bahwa mayoritas umat Islam “committed with the teachings”. Sementara dia sendiri beragama Yahudi tidak lebih dari sebuah “cultural inheritance” (warisan budaya). “In fact, we don’t really believe in God”, kenangnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sekitar dua bulan Alina , mengikuti “Islamic Forum” di Islamic Center New York . Saya tidak melihat ada satu hal mendasar yang dia tidak ketahui atau ragukan di agama ini. Tapi nampaknya juga masih bersikap “dingin” untuk masuk ke agama ini. Biasanya saya tidak pernah mengajak langsung atau menanyakan “kapan seseorang akan pindah agama” walaupun orang tersebut suah menampakkan simpatik yang besar terhadap Islam. Tujuan saya adalah menjaga “image” the Forum bahwa itu ditujukan untuk “convert” orang ke agama Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Hingga sekitar sebulan lalu, Alina berkunjung ke Pasadena , salah satu bagian dari California , untuk menemui kedua orang tuanya. Menurutnya, suatu ketika di saat dia berjalan di kota tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak-teriak dengan microphone mencaci Rasulullah, Muhammad SAW. Tidak tahan melihat perlakuan orang tersebut, Alina mendatanginya dan berdebat dengannya mengenai Muhammad SAW. Tapi karena orang tersebut memakai pembesar suara, orang-orang di sekitar itu tidak mendengarkan pembelaan Alina terhadap Rasulullah. “I was so sad and crying” katanya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejak kejadian itu, Alina nampak semakin kalem. Dalam beberapa saat ketika kelas dimulai Alina datang terlambat. Hingga suatu ketika saya tanyakan, “Why you always come late lately?”. Saya terkejut ketika dia menjawab: “I do my istikharah”. Saya tanyakan “Istikharah untuk apa?”. Saya justru menyangka, mungkin istikharah karena ada calon suami, dll. Ternyata menurutnya, “I do my istikharah to ask God, if the time has already come for me to be a Muslim”. Saya sempat tidak bisa menahan geli dan menjawab: “What you do itself (istkharah) is the best indication that Goad wants you to be a Muslim right away”.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Saya, mungkin seseorang yang mencari-cari kebenaran, the truth, sesuatu yang membuat saya tenang. Orang tua saya masuk tipe Agnostic barangkali. Mereka tak peduli dengan agama dan merasa tidak perlu dengan agama. Saya respek itu. Repotnya, dikatakan Atheispun bukan, tapi kalau natalan mereka merayakan. Katanya tradisi. Naah halnya dengan saya memang saya mencoba mencari sesuatu. Saya merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Lalu saya belajar agama Budha, kemudian ikutan meditasi, tapi koq saya masih tidak tenang”, tutur Terry.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Ohh ada sis..saya sering main main ke perpustakaan, library, pergi ke bagian agama dan saya temukan kitab Al-Quran. Entahlah..saya begitu penasaran. Dengan hati hati saya sentuh sang kitab, sepertinya saya menyentuh kristal yang harus saya handle with care, dengan hati-hati sekali. Saya buka lembar demi lembar. Semula saya bingung, karena harus kita baca dari sebelah kanan..tiba tiba saya tergerak untuk membacanya. Surat pertama yang saya baca adalah surat An-Nahl, ayat 68 – 69 , tentang madu. Saya baca dan saya tekuni setiap kata dan makna yang sarat. Sangat fenomenal. Mengagumkan. Belum lagi yang lainnya, entah saya merasakan sesuatu usai membaca ayat ini..seakan saya jatuh cinta pada Al-Quran” Is bercerita dengan begitu terharu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya datang ke situ. Tapi tidak ada apa-apa di rumahnya. Cuma ada selembar kasur tipis dan seekor kucing yang kurus. Namun Islam mengajarkan untuk memuliakan tamu. Dalam keramahtamahan sejati seorang Muslim, ia tetap berusaha menghidangkan saya makanan. Di negara di mana saya dilahirkan, orang cenderung amat privat. Mereka takkan mengundangmu datang ke rumahnya di pertemuan pertama. Ini hal menarik yang kita temui pada orang-orang miskin di dunia ini. Mereka justru sangat murah hati, dengan kondisi yang mereka miliki.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sebagai salah satu fotografer legendaris, Sanders terbilang unik: ia tak pernah mengenyam pendidikan fotografi. Sanders belajar secara otodidak. Kursus fotografi pertama Sanders justru dilakukan akhir 1990 di Swiss, atau tiga dasawarsa setelah ia malang melintang di jagad fotografi. ”Itu pun karena saya mendapat projek di Arab Saudi yang menuntut penggunaan kamera format besar,” tutur dia. Sanders muda mengaku sering kesulitan uang. Tapi ia berani berspekulasi dengan menjadi seorang fotografer. Ia menjajakan karya-karyanya ke penerbitan, koran, majalah, atau sampul album musik. Sanders mengaku menuruti panggilan hatinya untuk terjun ke dunia fotografi. Lantaran hobi, ia merasa bakal mampu survive di situ tanpa harus memiliki titel mentereng. Saat ini Sanders memiliki Peter Sanders Photography Library. Ini semacam pepustakaan yang mendokumentasi karya Sanders sepanjang 35 tahun di dunia muslim. Ada lebih 250 ribu foto dalam bentuk digital di situ. Ia menjualnya untuk keperluan majalah atau buku-buku tentang Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sengaja. Bukan rahasia jika umur saya sekarang sudah 60 tahun. Tapi saya tak ingin terlalu terobsesi dengan umur. Ini membuat saya selalu siap untuk melakukan apa saja. Saya tidak ingin membatasi diri saya sendiri. Ketika saya pergi ke Cina, seorang penumpang yang tengah duduk, tiba-tiba berdiri, dan memberikan kursinya pada saya. Saya sempat ragu (apa maksud dia sebenarnya). Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Lalu saya bertanya pada seseorang. Anda pikir umur saya berapa? Dia menjawab 80 tahun, ha ha ha….

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Toh, Sanders juga menunjukkan bahwa Barat masih menyisakan ruang toleransi yang besar untuk Islam. Karya fotonya, Mass for Peace, adalah pesan yang kuat soal itu. Foto tahun 2005 itu menangkap pemandangan seorang imam mesjid bernama Imran Golding yang tengah melantunkan adzan. Uniknya adzan tersebut dilakukan di dalam sebuah katedral besar di Salisbury Inggris.Saat itu di katedral sedang digelar konser musik oleh komposer Karl Jenkins yang diiringi 150 penyanyi. Tapi Jenkins secara khusus mengundang Golding. Yang terasa menggetarkan, menurut Sanders, adalah suasana hening dan khusuk di katedral. Orang-orang mendengarkan Golding dengan khidmat. Salah seorang lalu berdiri dan menyalami Iman Golding seraya mengatakan bahwa lantunan adzan tadi sangat indah. (RioL )

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tahun ketiga keIslaman saya, saya terkena serangan sakit jantung dan terpaksa melalui pembedahan jantung. Ianya waktu yang begitu sedih untuk saya, kerana saya tahu saya tidak akan dapat menyentuh dahi saya ke lantai ketika solat, tapi akan selamanya terpaksa duduk atas kerusi untuk menunaikan solat. Pada masa inilah saya memahami kemudahan yang Allah berikan dalam ibadah. Bersembahyang secara duduk diatas kerusi adalah dibolehkan; tidak berpuasa apabila keuzuran adalah dibolehkan. Saya tidak merasakan keIslaman saya kurang apabila saya melakukannya dalam keadaan yang demikian.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejak kecil, dirinya sudah menyadari bahwa dia tengah mencari sesuatu, entah apa. Pada saat-saat tertentu dia bahkan merasa seakan-akan seperti sebuah kapal tanpa kemudi di laut yang bergolak, tak tahu ke mana harus berlabuh. Saat mulai kuliah, Hilary muda mulai meneliti berbagai kepercayaan yang ada. Misalnya, sebuah sistem falsafah yang dikenal sebagai The Work, yang ternyata banyak menyontek Islam, meskipun dia belum tahu ketika itu. Hilary juga meneliti berbagai filosofi new-age, mencoba meditasi Budha, dan membaca berbagai buku pengembangan diri.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di masa lalu pun hubungan dengan lawan jenis seringkali bermasalah. Suatu kali, sesudah putus dari seorang pacar, dia baca buku karya Robin Norwood yang berjudul Wobel Who Love Too Much. Sebenarnya, Hilary sudah pernah membacanya dan dia berpikir buku itu hanya cocok untuk perempuan-perempuan yang terlalu tergantung kepada pacar atau suami yang justru senang memukuli mereka. Tapi kali ini Hilary berpikir. Jangan-jangan, dia pun sama dengan semua perempuan yang diceritakan oleh Robin Norwood itu, maka dia pun mengerjakan semua hal yang disarankan penulisnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Pada saat itu, pengetahuanku nol tentang Islam. Aku tidak pernah punya teman muslim di masa kecil dan remaja, dan hampir semua citra yang kumiliki tentang agama ini negatif. Pada pandanganku, Islam itu kuno, peninggalan jaman kegelapan, sangat menindas, dan otoriter terhadap perempuan. Persepsiku bahwa Islam itu sangat anti perempuan menjadi salah satu sumber perdebatan kami. Aku menantang pacarku ketika itu untuk menjelaskan mengapa Islam demikian anti feminis? Aku keluarkan semua argumentasi yang biasa dikemukakan orang di Barat tentang Islam, seperti, “Islam itu mengajari laki-laki untuk merendahkan perempuan. Kalau tidak, kenapa Islam mengizinkan pria memiliki empat orang istri?” Serentetan hujatan nyaris tak bisa dipatahkan pacarnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Jujur saja, semua perdebatan soal Islam inilah yang membuat kami bertahan pacaran selama empat tahun. Dia selalu berusaha mencoba menjawab semua pertanyaanku, dan memberiku rujukan dari Al-Qur’an dan Hadits. Aku mulai membacanya sendiri, dan perlahan-lahan semua pertanyaanku mulai terjawab, sampai aku tersadar bahwa banyak sekali pandanganku yang keliru tentang Islam. Karena sedikitnya pengetahuanku, misalnya tentang laki-laki boleh beristri empat, aku keliru menyimpulkan.” Hilary mencoba meyakinkan diri.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Salah satu hal yang juga kalau kusadari adalah bahwa dalam Islam, poligami bukannya didorong dan dipromosikan, melainkan ditoleransi. Kadang-kadang memang poligami menjadi kebutuhan. Tetapi selalu ada rambu-rambu penjaganya. Kalau seorang pria menikah namun istrinya tak bisa memberinya anak, maka ia boleh mengambil istri kedua dengan kesepakatan dari istri pertama. (di lain pihak, bila seorang pria tidak bisa memberi anak, maka si istri dapat meminta cerai). Bagiku, ini cara yang lebih baik daripada yang terjadi di barat, yang memungkinkan si suami menceraikan istri tanpa tunjangan apa pun.” Terang Hilary makin mantap.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Doktrin tentang poligami ini sebenarnya adalah untuk melindungi wanita. Bukan untuk mendorong kaum pria mengumpulkan sekian istri untuk berbangga-bangga. Inilah jenis pertanyaan yang aku lontarkan sendiri, lalu aku perdebatkan sampai kehabisan jawaban sendiri. Misalnya, mengapa perempuan membutuhkan perlindungan pria? Mengapa perempuan tak boleh memiliki lebih dari satu suami? Aku tersadar bahwa seorang perempuan tidak mungkin memiliki empat suami karena tentu akan sulit menentukan siapa ayah anak-anaknya, dan para ayah itu bisa saja lalu berkelahi soal siapa yang harus menunjang kehidupan anak-anak tersebut.” Hilary lalu tersadar, betapa sangat masuk akalnya Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pagi itu, Senin 19 Maret, seperti biasa saya hadir di Islamic Center of New York sekitar pukul 11:00 pagi. Suasana Islamic Center masih sepih dan hanya terlihat beberapa orang sedang shalat sunnah di ruang bawah. Penjaga (security) menyapa dan menyampaikan bahwa saya sudah ditunggu oleh dua remaja di ruang receptionist. Saya pun bersegera masuk dan sebelum sempat menyampaikan salam, salah seorang dari remaja putra tersebut mengucapkan salam. Setelah menjawab salamnya, saya berlalu, tapi kemudian dipanggil oleh receptionis bahwa ada yang ingin masuk Islam. Saya sepertinya tidak percaya karena yang ada di tempat tersebut hanya dua anak remaja, dan keduanya nampak seperti anak-anak Muslim.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ketika mendengar tentang Islam, Ayesha berniat mempelajarinya. Tapi sulit sekali menemukan informasi tentang Islam. Bahkan di perpustakaan tak ada buku-buku tentang Islam, apalagi Al-Quran. Gurunya, yang diharapkan dapat memberikan informasi tentang Islam, ternyata hanya memberi jawaban ngawur. Satu-satunya yang dikatakan gurunya tentang Islam adalah orang-orang Islam telah membunuh tentara-tentara Kristen dalam perang Salib. Islam memiliki Nabi yang sangat lucu, yaitu Muhammad dan pedoman hidup mereka adalah Al-Quran. Ayesha tak tahu harus kemana dia bertanya. Apalagi Sussex jarang ditemui pendatang Muslim Timur Tengah atau Asia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“           Perempuan harus menjaga keluarganya, bukan dirinya sendiri. Bila suatu unit keluarga utuh, keluarga itu akan selamat. Bila tidak, maka akan hancur. Hancurnya keluarga adalah awal penyebab kehancuran masyarakat,“ tandasnya. Dan anak-anak adalah yang terpenting. Bila sejak dini orang tua tidak dapat mendampingi anak-anak untuk memberikan pemahaman tentang Islam, mereka akan jauh dari Islam dan sulit nantinya membentuk mereka menjadi muslim yang baik. Memberi pemahaman keislaman sejak usia muda itu yang penting,“tandas Ayesha menutup pembicaraan. (Sumber: Ummat)

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kami naik kelantai atas dan nampak anak-anak sekitar usia 8-9 tahun serta 4 orang guru tengah menanti kedatangan kami. Kami disambut hangat. Anak-anak murid dari kelas sebelah dipanggil untuk bergabung, katanya ada sekitar 39-40 jumlahnya. Mereka masing masing mengambil tempat duduk. Mayoritas memang anak-anak berkulit putih. Anak-anak Inggris. Ada dua anak lelaki berkulit coklat, satu berkulit hitam dan satu perempuan berkulit coklat sawo matang. Ada pula satu anak, sepertinya turunan Arab yang ternyata ayahnya orang Iraq dan satu anak Indonesia yang bernama Rania.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

.’Islam..artinya damai dan penyerahan total’ saya memulai. ‘Islam means peace, submission and obidience…” Muslim percaya bahwa hanya ada satu Tuhan yang dinamakan Allah. Muslims believe that there is only one God, whose name in the Arabic language is Allah, sambil saya meminta mereka untuk menyebutkan kata-kata ‘Allah’, serempak mereka menyebut kata-kata A L L A H… saya minta mereka mengucapkan kurang lebih 2 atau 3 kali, subhanallah, mereka menirukan dengan susah payah namun penuh semangat. (Duuh saya berharap dan berdoa agar nur ini masuk menyelinap ke qalbu mereka). Huruf Arab yang dalam bentuk kaligrafi itu saya tunjukan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Bertutur tentang Muhammad saw, tentang keyatiman beliau sambil juga membandingkan betapa mereka beruntung yang memiliki kedua orang tua, sekaligus memaparkan kesantunan dan kejujuran Rasulullah, tatkala beliau remaja. Kita berupaya untuk menyisakan kesan bahwa Rasul kita adalah semata-mata manusia biasa’ yang tidak perlu di kultuskan dan perTuhankan. Muslim tidak membolehkan menggambar Rasulullah karena pesan yang bernama hadith dan sunah Nabi Muhammada lebih penting. Begitu pula kami sampaikan tentang nabi Isa as, yang dikenal sebagi Yesus serta pengakuan kita akan kenabian Nabi Isa as.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Untuk menghilangkan rasa bosan dan kantuk ini segera saya lemparkan pertanyaan tentang agama apa saja yang ada didunia dan yang mereka ketahui tentang Islam. Sang ibu guru mendorong anak-anak muridnya agar mengatakan apa yang mereka tahu dan baca tentang Islam:: “Come on children tell us what you have learnt about Islam, you have read a lot…” . Mereka mengangkat tangan ingin menyampakan apa yang mereka tahu.Yang lucunya mereka tidak bisa membedakan antara Christian dan Chatolic (Kristen dan katolik)dianggap sebagai dua agama yang berbeda. Itulah yang mereka ketahui.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kenapa sembahyang lima kali? Kalau sembahyang kenapa menghadap kubus hitam itu. Do you worship the black cubical ? Why? Kalau kamu bekerja bisakah kamu melakukan sholat ditempat bekerja, berapa lama? Subhanallah, pertanyaan ini menggelitik. Akhirnya kuberikan keterangan kenapa kami sholat limakali sehari ‘ It is a must also to thanks Allah and to remember Him as our creator, sekaligus menggambarkan bagaimana kalau sholat ini tidak mengganggu aktifitas keseharian kita, bahkan menjadi pengobat lelah selain memenuhi kewajiban, dan sholat adalah fardhu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

‘ Bahkan saya tambahkan bahwa sejak peristiwa 11 September Islam dan Muslim banyak mendapat perhatian. Perhatian itu sendiri ada dua macam tentunya. Yang berminat begitu banyak terhadapa Islam atau sebaliknya ‘Yes…infact since the 11 September, I am afraid Muslim and Islam received attention, either many people are interested or many of disliked Islam or Muslim but there are more more pople become Muslim. Sambil menambahkan bahwa ‘We are hamless people, we are normal like others, like you all, we love peace and harmonious… only those idiots has done something against humanity..and media exposed it, make people believed it’, eiiih koq tiba tiba saya meloncat bicara soal politik.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Disaat salah satu murid bertanya mengapa lelaki dan perempuan terpisah pada waktu sholat…ah pertanyaan ini mengingatkan saya pada anak remajaku pada usia yang sama dengan protesnya. Jawabnya tentu harus sesuai dengan daya tangkap mereka: ‘You know when we pray, we have to concentrate, focus only to our God Allah, only Him’ Imagine if man and women mix together, next each other, you boys will distract to the girls thinking ‘ wow she look pretty or she got lovely leg…or eyes’ hah tiba-tiba tawa mereka memecah kelas. Akhirnya mereka bisa memahami pemaparan saya dengan kapasitas cara fikir pada seusia mereka.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Well I hope you are all happy and now you know what is Islam, but if there is more question you like me to answer please ask me while I am here”. Ibu guru yang begitu cermat mendengarkan bertanya’ “Are you happy to be Muslim” lalu saya jawab. ” ” Thank you..yes, I am happy ” Saya ulang kembali ‘ Yes…I am happy and am contented to be Muslim, and even proud to be Muslim too, do you know why?. Because I know why I am coming from, why I am here for, and I know where I am going to when we die, insya Allah, (sakingan terbiasa mengucapkan kata kata ini akhirnya saya terangkan apa arti insya Allah).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Luapan perasaan senang dan terima kasih disampaikan oleh para guru yang hadir, juga anak-anak. Mereka berharap akan mengundang lagi untuk mendengarkan tentang Islam lebih banyak. Saya katakan bahwa yang akan datang akan saya presentasikan dengan PowerPoint yang tentu akan lebih menarik. Akhirnya kami tinggalkan sekolah ini dengan sebongkah rasa bahagia bahwa setidaknya Risalah Islam telah kita sampaikan dan berharap mampu menyelinap dibenak dan qalbu anak-anak dan para guru yang asli Inggirs, yang begitu ramah dan santun bahkan sangat Islami, menurut saya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pengaruh kekristenan ibu yang aktifis gereja sangat kuat, Th. 1971 Mase yang semula Islam tidak sekedar dikristenkan ibu tetapi bahkan berhasil dibina menjadi aktifis penginjilan yang militan & handal. Mase dianggap punya kelebihan talenta. Mampu berinteraksi dan mengusir kuasa kegelapan, padahal kemampuan metafisik/paranormal semacam itu yang mereka anggap kelebihan dan anugerah Tuhan, dalam kacamata Islam justru indikasi lemahnya Tauhid, karena menurut ajaran Islam talenta semacam itu sebenarnya berasal dari setan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kami 3 bersaudara -saya dan 2 adik saya- dididik dengan ketat dalam kehidupan kristen yang taat dan sangat kuat. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin kristen. Merendahkan & apriori terhadap Islam. Harus mampu menampakkan bahwa kristen adalah KASIH. Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat P. Lombok yang mayoritas beragama Islam, kami semua aktif dalam penginjilan/pemurtadan. Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki, sejak kira-kira Th. 1997 ia menjadi pendeta di daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejak itu pula saya di PHK keluarga saya. sama nenek saya , Pakde Bud, Bapak-ibu dan adik-adik yang sejak kecil saya yang mengasuh, membiayai pendidikan & pernikahan mereka. Sebenarnya sejak kecil saya sudah sering merasa sangsi, bimbang, bingung, galau dan ragu dengan ajaran Kristen. Banyak sekali kejanggalan, banyak hal tidak sesuai dengan akal sehat, tetapi saya tetap mencoba setia dengan kekristenan saya. Tetap melakukan penginjilan walau kegalauan semakin hari semakin membengkak dan terasa menyiksa. Pindah agama Islam? Wow…..sorry! secuilpun tak ada minat, image Islam tidak menarik sama sekali! kalau benci… memandang rendah …. Ya!.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya mulai meragukan Kristen, NATAL! Perayaan paling meriah dan ibadah paling sakral di dalam Kristen dan dirayakan setiap 25 Desember., tetapi tidak satupun ayat alkitab yang membahasnya atau minimal menyinggungnya, bahkan terbukti perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah perayaan yang merayakan kelahiran berhala-berhala pra Kristen, yaitu dewa Mithra yang dianggap putra tuhan dan cahaya dunia (dewa matahari), Osiris, Adonis, Dionysus, Khrisna. Jadi jelas bahwa perayaan Natal itu mengadopsi dan melestarikan perayaan tuhan-tuhan para penyembah berhala. Bahkan hari suci mingguan Kristen yang semula menghormati hari Sabat Yahudi yaitu hari Sabtu, oleh Kaisar Konstantin digeser dan disesuaikan dengan hari suci mingguan para penyembah berhala yang memuliakan dewa matahari yaitu Hari Matahari (SUN DAY) / hari Minggu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya jadi malas pergi ke gereja dan enggan membuka injil karena ada revisinya yaitu Al-Qur’an dan ketika teman meminjami buku berjudul ‘Akhlahk Islam’ masya Allah saya begitu ta’jub karena hal yang kecil diperhatikan dan ada tuntunan didalam Islam. Misal sehabis bersenggama wajib mandi besar, yang lewat lebih dulu memberi salam, istri pergi tidak cukup minta ijin tetapi suaminya harus ridho. Tentu hal yang besar lebih diperhatikan lagi! Setelah bertahun-tahun dalam kebimbangan, perenungan dan pergulatan batin serta berdoa memohon petunjuk kebenaran kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, maka saya memutuskan memeluk agama Islam pada Februari 1999.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Seminggu kemudian Ibu saya mengultimatum saya bila memilih Islam biaya hidup mulai kecil dianggap sebagai hutang. Saat ini saya bergabung di Forum Arimatea Solo dan turut berdakwah bahayanya kristenisasi dan membentengi umat Islam dari bahaya pemurtadan. Untuk ini saya sudah 6 kali menerima ancaman, baik akan dilaporkan di kelurahan, kepolisian dan akan dibunuh, tetapi saya tidak gentar karena Allah yang Maha Kuasa dan Maha menepati janji telah menjanjikan “Barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya” Dan siapapun tidak akan mampu mendatangkan kemudharatan jika Allah tidak menghendaki.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sekitar awal September 2006 lalu, kelas Islamic Forum for non Muslims kedatangan seorang gadis bule bermata biru. Duduk di salah satu sudut ruang dengan mata yang tajam, hampir tidak kerkedip dan bahkan memperlihatkan pandangan yang tajam. Beberapa kali lelucon yang saya sampaikan dalam kelas itu, tidak juga menjadikannya tersenyum. Ketika sesi tanya jawab dimulai, sang gadis itu mengangkat tangan, dan tanpa tersenyum menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menjadikan sebagian peserta ternganga, dan bahkan sebagian menyangka kalau saya akan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya justeru terkejut dengan informasi yang Amanda sampaikan. Saya pribadi tidak banyak membaca hal ini, dan tidak terlalu mempedulikan. Maka saya jelaskan, dalam semua Negara tentu ada peraturan-peraturan yang perlu dipatuhi. Ahmadiyah dan Lia Aminuddian, jelas saya, bukan mendirikan agama baru tapi mendistorsi agama Islam. Oleh karena mereka merusak agama yang diyakini oleh masyarakat Muslim banyak, pemerintah perlu menertibkan ini. Kelihatannya penjelasan saya kurang memuaskan, tapi diskusi kekudian berubah haluan kepada makanan dan tradisi halal bihalal.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada usia kecil saya sudah merasa kurang betah di Selandia Baru. Keluarga saya beragama Katolik dan Ibu saya berkulit putih tetapi saya masih merasa berbeda dengan orang lain. Kakak dan adik saya mendapatkan mata biru dan rambut coklat yang membuat mereka lebih mirip dengan orang berkulit putih yang lain. Tetapi mata saya berwarna coklat-hijau dan rambut saya hitam, dan hal itu memberi kesan bahwa saya bukan orang berkulit putih asli. Jadi, saya orang mana? Orang barat? Atau orang Asia? Saya sudah mulai merasa tidak betah dan oleh karena itu saya berfikir banyak tentang dunia dan siapa diri saya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya membesar terus dan berfikir terus tentang berbagai macam hal, terutama tentang agama, dunia dan alam semesta. Seringkali saya melihat bintang dan dalam kesunyian larut malanm saya berfikir tentang luasnya alam semesta dan bagaimana diciptakan. Dari umur 9 tahun saya mulai membaca buku tentang agama dan topik serius yang lain. Saya ingin tahu segala-galanya: agama, dunia, budaya, sejarah, alam semesta… semuanya! Seingat saya, hanya saya yang tertarik pada dinosaurus pada usia itu. Teman-teman saya yang lain tidak mau tahu tentang dinosaurus karena saat itu film Jurassic Park belum muncul. Hanya saya yang sering membaca tentang topik serius seperti pembuatan piramida, agama Buddha dan Hindu, sejarah dunia, luasnya alam semesta dan sebagainya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Seperti anak kecil yang lain, saya juga diajarkan agama oleh orang tua saya, karena mereka sebelumnya juga diajarkan oleh orang tua mereka. Di dalam ajaran agama Katolik ada banyak hal yang membingungkan saya. Setiap saya bertanya tentang Tuhan dan agama Kristen, saya seringkali mendapat penjelasan yang tidak memuaskan. Saya menjadi bingung dengan konsep Trinitas, di mana ada Tuhan, Yesus, dan Roh Kudus, dan semuanya Tuhan tetapi Tuhan hanya satu. Tuhan menjadi manusia, dan manusia itu mati, tetapi Tuhan tidak bisa mati, tetapi manusia itu adalah Tuhan. Saya menjadi bingung dengan pastor yang mengampuni dosa orang dengan mudah sekali tanpa bicara kepada Tuhan terlebih dahulu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Bagaimana kalau pastor salah dan dosa saya belum diampuni? Apakah saya bisa mendapatkan bukti tertulis dari Tuhan yang menyatakan bahwa saya sudah bebas dari dosa? Bagaimana kalau saya bertemu dengan Tuhan di hari akhirat dan Dia menyatakan bahwa dosa saya belum diampuni? Kalau saya berprotes dan menunjuk pastor yang meyakinkan saya bahwa tidak ada dosa lagi, Tuhan cukup bertanya “Siapa menyuruh kamu percaya pada omongan dia?” Siapa yang bisa menyelamatkan aku kalau pastor keliru dan dosa aku tetap ada dan dihitung oleh Tuhan?

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada suatu hari, saya menunggu sampai larut malam. Saya duduk di tempat tidur dan berdoa kepada Tuhan. Saya menyuruh Tuhan datang dan menampakkan diri kepada saya supaya saya bisa melihat-Nya dengan mata sendiri. Saya menyatakan bahwa saya siap percaya dan beriman kepada Tuhan kalau saya bisa melihatnya sekali saja dan mendapatkan jawaban yang benar dari semua pertanyaan saya. Kata orang, Tuhan bisa melakukan apa saja! Kalau benar, berarti Tuhan juga bisa muncul di kamar saya pada saat disuruh muncul. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh dan menatap jendela di kamar, menunggu cahaya Tuhan masuk dari luar.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ini merupakan contoh logika seorang anak kecil. Dalam pengertian seorang anak, apa yang tidak terlihat, tidak ada. Apalagi sesuatu yang begitu sulit didefinisikan seperti konsep “tuhan”. Pada saat itu, terjerumus dalam kebingungan, saya memutuskan untuk tidak percaya kepada Tuhan dan menyatakan diri “ateis” (tidak percaya kepada tuhan mana saja). Saya memberitahu kepada Tuhan bahwa saya sudah tidak percaya kepada-Nya. Dan saya memberitahu Tuhan bahwa Dia memang tidak ada dan semua orang yang percaya kepadanya adalah orang bodoh saja yang hanya membuang waktunya. (Dalam kata lain, saya ngambek terhadap Tuhan.) Di dalam hati, saya berbicara kepada Tuhan dengan suara yang keras supaya Dia bisa mendengar dengan jelas pernyataan saya bahwa Tuhan tidak ada!

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada hari-hari yang berikut, saya memberi waktu kepada Tuhan untuk datang dan minta maaf karena tidak sempat datang dan menampakkan diri pada hari sebelumnya. Saya sudah membuat pernyataan yang jelas. Tuhan semestinya mendengar pernyataan saya itu dan memberi tanggapan. Tetapi tidak ada tanggapan dari Tuhan. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Sudah terbukti. Kalau ada Tuhan, Dia pasti akan mendengar doa saya dan menampakkan diri. Kenyataan bahwa Tuhan tidak menampakkan diri membuktikan bahwa Tuhan tidak ada!

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya bersekolah terus dan sembunyikan kenyataan bahwa saya tidak percaya kepada Tuhan. Kalau ada yang menanyakan agama saya maka saya menjawab “Katolik” saja. Selama SD, SMP, dan SMA saya belajar terus tentang dunia tetapi sudah malas mempelajari agama secara serius, kecuali untuk mencari kekurangannya, karena saya menanggap agama itu sesuatu yang membuang waktu saja tanpa membawa hasil. Kebetulan, setelah lulus SMA, orang tua saya memutuskan untuk berpindah ke Australia. Kebetulan, saya memutuskan untuk ikut juga daripada tetap di Selandia Baru.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di Australia, saya berusaha untuk masuk kuliah Psikologi di Universitas Queensland pada tahun 1990. Saya mau menjadi seorang psikolog anak. Kebetulan, lamaran saya itu tidak diterima karena nilai masuk saya kurang tinggi. Sebagai pilihan kedua, saya ditawarkan kuliah Pelajaran Asia di Universitas Griffith. Di Australia, seorang siswa yang tidak diterima di fakultas pilihan pertamanya, akan ditawarkan fakultas atau universitas yang lain. Setelah satu tahun, dia bisa pindah kembali ke pilihan pertamanya asal nilainya bagus. Kebetulan, saya menerima tawaran untuk masuk Fakultas Pelajaran Asia dengan niat akan pindah ke Fakultas Psikologi setelah satu tahun.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada suatu hari diadakan acara barbeque (makanan panggang) untuk Klub Indonesia. Semua orang Indonesia di kampus diundang untuk bergaul dengan orang Australia yang belajar tentang Indonesia. Pada saat saya sedang makan, ada orang Indonesia yang datang dan kebetulan dia duduk di samping saya. Dia bertanya “Kamu Gene, ya?” Ternyata dia pernah dengar tentang saya dari seorang teman. “Apakah kamu pelajari agama Islam, Gene?” Saya jelaskan bahwa memang ada mata kuliah tentang semua agama di Asia termasuk agama Islam. “Apakah kamu juga tahu bahwa dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa? Tidak ada pendeta atau pastor yang boleh mengampuni dosa orang!”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya begitu kaget, saya berhenti makan dengan hotdog di tengah mulut. Saya suruh dia menjelaskan lebih mendalam lagi. Ini bukan sebuah kebetulan! Inilah sebuah jawaban yang telah saya cari selama 10 tahun. Di dalam Islam hanya Tuhan yang berhak mengampuni dosa. Apakah mungkin di dalam agama Islam ada logika dan ajaran yang bisa saya terima? Apakah mungkin ada agama yang benar di dunia ini? Dari semua kebetulan yang membawa saya ke titik itu, tiba-tiba semuanya terasa sebagai sesuatu yang terencana, dan sama sekali tidak terjadi secara tidak sengaja. Yang saya lihat adalah serangkaian kebetulan yang membawa saya ke kampus itu dan bahasa Indonesia. Tetapi dari pandangan orang yang percaya kepada Allah, tidak ada kebetulan sama sekali di dunia ini!

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada tahun 1991, saya dan dua teman kuliah menjalankan beasiswa untuk kuliah di Indonesia. Saya belajar di Universitas Atma Jaya di Jakarta dan kedua teman yang lain itu dikirim ke Salatiga dan Sulawesi. Pada saat saya di Atma Jaya (sebuah universitas Katolik), sebagian besar teman saya adalah orang Islam. Kenapa bisa begitu? Memang ada orang Islam yang kuliah di Atma Jaya, dan saya merasa sudah paham semua kekurangan yang ada di dalam agama Kristen, jadi saya tidak tertarik untuk bergaul dengan orang yang beragama Kristen. Saya lebih tertarik untuk menyaksikan agama Islam dan pengikutnya dan oleh karena itu saya menjadi lebih dekat dengan beberapa orang yang beragama Islam. Kalau ada teman yang melakukan sholat, saya duduk dan menonton orang itu dan memikirkan tentang apa yang dia lakukan dan kenapa.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada saat kembali ke Australia setelah 6 bulan di Jakarta, saya menjadi salah satu siswa yang bahasa Indonesianya paling lancar di kampus. Oleh karena itu, saya sering bergaul dengan orang Indonesia. Secara langsung dan tidak langsung saya pelajari agama Islam terus. Saya membaca buku dan berbicara dengan orang Indonesia di mana-mana. Setelah selesai kuliah Bachelor of Arts, saya mengambil kuliah tambahan selama satu tahun di fakultas pendidikan untuk menjadi guru bahasa. Pada saat yang sama saya mengikuti seleksi untuk beasiswa kedua, kali ini dari Perkumpulan Wakil Rektor Australia (Australian Vice Chancellors Committee). Beasiswa ini hanya untuk satu orang per bagian negara dan, kali ini, saya bebas memilih lokasi kuliah di Indonesia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada bulan Februari, tahun 1995, saya duduk sendiri di lantai pada tengah malam dan menonton shalat Tarawih, tayangan langsung dari Mekah. Saya melihat sekitar 3-4 juta orang melakukan gerakan yang sama, menghadap arah yang sama, mengikuti imam yang sama, berdoa dengan ucapan yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama. Saya berfikir: Mana ada hal seperti ini di negara barat? Orang yang berkumpul untuk pertandingan bola yang paling hebat di dunia cuma beberapa ratus ribu. Tidak pernah ada orang sebanyak ini berkumpul si suatu tempat untuk menonton bola, mengikuti suatu pertandingan, atau bahkan mendengarkan Paus bicara. Ini benar-benar luar biasa! Dan tidak ada tandingnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tidak ada yang bisa saya salahkan dalam ajaran agama Islam karena memang Islam didasarkan logika. Semua yang ada di dalam Islam mengandung logika kalau kita mau mencarinya. Apa boleh buat? Saya mengambil keputusan untuk masuk Islam. Akan tetapi, saya seharusnya kembali ke Australia dan mengajar di sekolah di sana. Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mempelajari agama Islam di sana? Ada masjid di mana? Dari mana saya bisa mendapatkan makanan yang halal? Dari mana saya bisa mendapatkan guru agama?

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejak tahun 1995, saya telah menetap di Jakarta dan bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris. Saya belum ada niat untuk kembali hidup di tengah-tengah orang kafir. Saya berniat untuk menetap di sini terus (selama belum diusir) dan mempelajari agama Islam dengan sebaik-baiknya. Banyak orang asing menanggap saya aneh karena mau menetap di negara yang miskin, kotor, penuh dengan korupsi dan sebagainya. Mereka itu memiliki pandangan yang keliru. Komentar mereka benar, tetapi saya juga melihat masjid, orang yang sholat, adzan, Al Qur’an di rumah orang, makanan yang halal, anak-anak yang tidak mau bezina atau menjadi mabuk, dan banyak hal yang lain yang jauh lebih besar manfaatnya. Oleh karena itu, semua kekurangan yang disebut-sebut oleh orang kafir itu menjadi tidak bermakna dan kurang terasa. Keindahan Islam bisa menutupi semua kekurangan yang diciptakan oleh manusia di negara ini.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dan alhamdullilah, di sini saya mendapatkan teman-teman yang terbaik di dunia. Belum pernah saya mendapatkan teman seperti teman yang saya jumpai di sini. Bagi saya, persahabatan mereka adalah suatu hal yang sangat nikmat, apalagi saya harus tinggal di sini tanpa keluarga. Karena takut memalukan mereka, saya tidak akan sebutkan namanya. Semuanya memiliki kedudukan sebagai saudara di dalam hati saya. Mereka yang membantu saya sehari-hari untuk selalu ingat kepada Allah dan tidak menyimpang dari jalan yang benar. Mereka yang menjadi contoh konkret bagi saya tentang kehidupan seorang Muslim. Mereka yang menggantikan keluarga yang menganggap saya gila, karena teman-teman ini justru bangga dengan usaha saya untuk menjadi orang yang beriman. Sering ada orang bertanya “Kenapa kamu tidak pulang ke Australia dan berdakwa di sana?” Jawabannya adalah: belum tentu di sana ada orang yang mau mendengar kalau saya bicara, tetapi di sini, justru banyak yang tertarik karena jarang ada orang bule yang masuk Islam, menetap di sini dan bisa berbahasa Indonesia. (Secara kebetulan!) Saya juga tidak mau kembali ke sana karena dengan demikian, saya harus tinggalkan teman-teman saya di sini dan juga guru-guru agama saya. Semoga semua yang mereka lakukan untuk membantu saya belajar agama dibalas Allah swt. karena saya sama sekali tidak sangup menjadi orang baik tanpa bantuan terus dari mereka.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Semoga sisanya dari buku ini adalah sesuatu yang menarik bagi anda yang membacanya. Semoga lewat tulisan ini, semua yang saya pahami sebagai seorang Muslim di Indonesia akan menjadi bahan pikiran untuk kita semua. Perjuangan saya dari luar negeri sampai masuk Islam dan menetap di sini adalah sebagian dari rencana Allah. Saya belum tahu kenapa Allah membawa saya ke Indonesia dan memberi saya kelancaran dalam bahasa Indonesia. Apakah semua itu hanya untuk diri saya sendiri? Atau apakah ada tujuan Allah yang lebih luas yang belum saya pahami? Apa yang Allah inginkan dari saya? Apa yang bisa saya lakukan untuk ummat Islam dan Allah sebagi balasan terhadap semua nikmat yang telah Allah berikan kepada saya?

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Barangkali, lewat buku ini, ada beberapa hamba Allah yang akan mulai memikirkan Islam dengan cara baru. Barangkali akan ada beberapa orang yang menjadi lebih dekat kepada Allah setelah membaca dan memahami pikiran saya. Saya bukan seorang ustadt. Saya bukan ahli agama. Yang bisa saya berikan kepada ummat Islam untuk membantu kita semua menjadi ummat teladan di dunia hanya sebatas komentar saja. Barangkali Allah memberikan saya kehidupan sampai sekarang supaya saya bisa bicara kepada anda lewat buku ini. Insya Allah ada tujuan Allah yang membawa hikmah buat ummat Islam lewat komentar saya ini. Saya juga mohon Allah mengangkat semua sifat sombong dan takkabur dari hati saya dan menjadikan saya seorang hamba Allah yang bermanfaat bagi Allah dan bermanfaat bagi ummat Islam. Amin amin ya robbal alamin. Semoga menjadi rahmat bagi kita semua (mualaf.com)

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Namun betapa takjubnya ia, ketika suara takbir tanda dimulainya shalat Ashar, serentak kekisruhan itu pun lambat laun berubah menjadi keheningan. Masing-masing langsung membentangkan sajadahnya, membentuk barisan baru. Semua larut mendengarkan sang Imam mengumandangkan ayat-ayat Al-Quran, dalam satu bahasa. Yvonne pun mengambil pelajaran berharga sesungguhnya Allah telah mengajarkan shalat berjamaah sebagai suatu simbol agar umat tak mudah terpecah-belah bila ia mengikuti pemimpinnya yang shaleh dan alim.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Selain itu, pemahaman tentang Islam di kalangan warga AS memang tidak menggembirakan. Diana salah seorang mualaf yang berbagi pengalaman dalam buku ini menggambarkan pemahaman tersebut. Saat bertemu dengan ketua kajian Injil di sekolahnya, dia sempat mendengar pernyataan negatif tentang Alquran. Ketua kajian itu menganggap Alquran sebagai alat setan untuk menggoda manusia menjadi kafir. Saat ditanya lebih jauh, ternyata Sang Ketua ini belum pernah membaca Alquran, meski telah berani membuat cap negatif terhadap Kitab Suci tersebut.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Buku ini memotret pengalaman-pengalaman unik para mualaf Amerika dalam perjuangannya menuju Islam. Bagaimana mereka menghadapi keluarga yang tak seiman. Bagaimana mereka menanggapi kecurigaan keluarga dan teman-teman dekat. Bagaimana menjalankan kehidupan agama di tengah masyarakat Amerika yang umumnya awam tentang Islam. Bagaimana menghadapi pelbagai sikap dan perbedaan kecenderungan di kalangan masyarakat Islam di Amerika, yang umumnya imigran dari berbagai negara Muslim. Bagaimana membangun komunitas Muslim di salah satu negara paling majemuk di dunia ini.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Hari Sabtu, 14 Oktober lalu, dilakukan buka puasa dengan mengundang tetangga-tetangga non Muslim di Jamaica Muslim Center, salah satu mesjid yang saya pimpin di kota dunia ini. Acara ini kami namai “Open House Iftar”. Memang unik, karenanya asumsinya buka puasa itu adalah mengakhiri puasa yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Tapi sore itu, justeru hadir bersama di antara lima ratusan Muslimin di Jamaica Muslim Center puluhan non Muslim dari kalangan tetangga. Menjelang buka puasa itu saya tiba-tiba saya dikejutkan oleh seorang murid saya yang baru masuk Islam seminggu menjelang bulan puasa. Namanya Carissa Hansen. Beliau yang telah saya ceritakan proses Islamnya terakhir kali.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setelah berkenalan beberapa saat saya ketahui kemudian bahwa Jessica ini berayah seorang Muslim keturunan Suriah tapi beribu Spanyol. Namun demikian, selama hidupnya belum pernah belajar Islam. Menurutnya, ayahnya memang orang Suriah tapi dia tidak pernah mengajarnya bahasa Arab (barangkali dimaksudnya Islam). Bahkan (maaf) dia menggelari ayahnya “Cassinova”, yang awalnya saya sendiri tidak tahu artinya. Ternyata dia menjelaskan bahwa “cassinova man” itu adalah seseorang yang “dating many women at the same time”. Menurut Jessica lagi, ayahnya kini sakit keras. Punya lima anak dari 5 ibu yang berbeda.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Jessica termasuk anak yang gagal sekolahnya. Ketika berumur 16 tahun terpaksa menikah karena hubungannya dengan seorang pemuda. Dia tidak menamatkan SMA sekalipun. Setelah menikah ternyata dia menjadi bulan-bulanan suami yang pemabuk dan bahkan pengkonsumsi narkoba. Perkawinan itupun tidak berumur panjang. Sejak itu pula, ayah Jessica mengalami penyakit jantung kronis dan kesehatannya semakin menurun. Maka dengan sendirinya hanya ibunyalah yang mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Inilah yang mendorong Jessica kemudian untuk bekerja membantu sang ibu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kini Jessica bertekad untuk kembali belajar dan bercita-cita untuk menjadi perawat. Alasannya karena dia senang membantu orang lain. Dua hari lalu Jessica menelpon saya memberitahu bahwa dia berjuang untuk shalat di rumahnya. “I feel it’s not clean, and my brother is laughing at me when he sees me doing it”. Saya terkejut karena saya kira Islamnya masih dirahasiakan. Ternyata menurutnya, semua sudah tahu kecuali ayahnya. Dia masih sungkan memberi tahu ayahnya karena menurutnya jangan sampai tersinggung sedangkan dia sekarang ini sakit keras.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-‘Alam al-Islami di sana.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sily berkata, “Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, “Bukankah anda seorang pendeta?” Aku jawab, “Benar.” Lantas ia bertanya kepadaku, “Siapa Tuhanmu?” Aku katakan, “Al-Masih.” Ia kembali berkata, “Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’.” Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, “Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…” lantas akupun tertidur.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, “Wahai Ibrahim!” Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, “Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?” Aku jawab, “Benar.” Ia berkata, “Lihat ke sebelah kananmu!” Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!” Lanjut lelaki itu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, “Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.” Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, “Selamat datang ya Ibrahim!” Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, “Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam.” Aku katakan, “Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?” Ia menjawab, “Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.” Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, “Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?” Ia berkata, “Benar.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.” Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, “Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.” Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, “Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.” Aku katakan, “Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.” Mereka semua terdiam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, “Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, ti-dakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Aku dibesarkan dalam budaya TiongHoa yang cukup kental. Dari kecil, aku sudah diajak oleh papa untuk belajar berdagang dan diajarkan berbagai ilmu tentang dagang serta semua keahlian pendukungnya. Papa seorang perokok dan peminum. Meski demikian, ia tidak pernah ngamuk-ngamuk seperti kebanyakan peminum. Jadi, sejak umur tujuh tahun aku sudah cukup sering minum bir bersama papa, atau pernah satu sempat aku diajak nonton tarian setengah bugil bersama-sama orang tua. Namun, semua itu tidak pernah aku lakukan tanpa orang tua. Hal yang paling dilarang saat itu oleh papa adalah berjudi, merokok dan main perempuan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saat itu, datanglah tetanggaku yang beragama Nasrani menawarkan untuk refresh ke Gadog Puncak. Tawaran itu aku sambut dengan baik. Kami berangkat jam 4 sore dan sampai di sana sekitar jam 10 malam. Di sana, kami tidur dahulu sampai jam 00.00. Kemudian dibangunkan untuk mendengarkan kotbah malam seorang pendeta dari Sulawesi. Saat itu, kami yang tidak semuanya Kristen pun ikut kebaktian malam. Di villa itu ada yang beragama Khatolik, Buddha, Khonghucu, dan kalau tidak salah adapula yang beragama Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ketika itu aku sedang sembahyang di sebuah kelenteng, seperti biasanya, aku mulai mengambil Hio atau dupa panjang, menyalakannya dan mulai menancapkannya di setiap dewa-dewi yang telah ditentukan sambil berdoa. Ketika sampai di dewa terakhir, ada sebuah suara yang berbicara di telinga kananku. Dia bertanya tentang apa yang sedang aku sembah. Aku menjawab, bahwa yang aku sembah itu adalah Buddha. Lalu ia bertanya lagi tentang yang mana Buddha itu. Aku menunjuk patung Buddha untuk menjawab pertanyaan itu. Ia bertanya lagi tentang yang aku tunjuk itu. Dengan sedikit merasa salah aku mengatakan bahwa itu patung. Ia bertanya lagi tentang siapa yang menciptakan patung? Aku menjawab, manusia! Ia bertanya lagi siapa yang menciptakan manusia? Aku mengatakan Tuhan! Sayup tapi pasti, suara itu mengatakan. “Itulah yang kamu cari. Carilah Tuhanmu, Tuhan Yang Menciptakan kamu dan aku, Tuhan Pencipta semesta alam ini, Tuhan Yang Membuat semua yang tiada menjadi ada. Ia Yang Pertama dan Terakhir.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Perjalanan pertama adalah aku mati suri selama enam jam. Di perjalankan, rohku sampai di suatu tempat yang sangat putih bersih yang disana aku memakai sorban putih, gamis putih dan memegang tasbih putih serta mulai berjalan menuju sajadah yang berwarna putih. Sayup-sayup terdengar bacaan Yasin dari seorang laki-laki, ketika aku sudah mulai duduk di atas sajadah putih itu. Akupun mulai mengucapkan satu kata yang belum pernah aku ucapkan sebelumnya, “Subhanallah”, aku bertasbih terus sampai adzan subuh sayup-sayup berkumandang.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Aku berjalan menembus milyaran manusia itu dan sampai di sebuah masjid. Aku masuk ke dalamnya, dan di sana terlihat pula jutaan manusia. Ketika aku hendak berkumpul dengan orang-orang itu ada seorang nenek-nenek yang memanggil ke depan dan meminta aku membaca Yasin, tetapi aku tolak karena aku tidak dapat membacanya. Alhasil, aku dikurung di suatu tempat di dalam masjid itu. Tidak begitu lama, aku dikeluarkan dari tempat itu dan diminta untuk membaca Yasin sekali lagi. Aku menolaknya kembali. Setelah itu, nenek tersebut tertawa dan mengatakan “Sejak kamu dilahirkan di atas dunia ini, kamu telah ditidurkan di atas sajadah” seketika itu aku bangun dan langsung pergi ke musholla SMU-ku dan berwudhu sekedarnya dan memohon kepada Allah, jikalau memang ini yang Allah inginkan maka aku memohonkan agar Dia mudahkan jalanku untuk memeluk Islam. Alhasil, beberapa hari setelah itu, tepatnya 28 Ramadhan 1420 H, di Masjid Lautze, pasar baru Jakarta, aku ber-Islam. [MQMedia.com]

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sabtu lalu wanita baya ini dengan resmi dan pasti menerima Islam sebagai jalan hidupnya. Diapun rupanya diam-diam telah mempersiapkan nama baru yang singkat “Nur” (cahaya) dengan harapan semoga dengan Islam hidupnya akan semakin bersinar. Nur adalah asli wanita Amerika putih. Setiap minggu sejak sekitar 4 bulan lalu tanpa mengenal lelah, baik di saat hujan ataupun panas, wanita cacat itu selalu datang tepat waktu di Islamic Forum for non Muslims dengan kendaraan orang cacat (Wheel chair). Walaupun Carissa adalah wanita cacat (lumpuh) namun penampilannya melebihi sebagian wanita karena memang dia adalah wanita yang berkecukupan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Carissa juga memiliki keingin tahuan yang sangat tinggi. Terkadang karena dia mendominasi kelas dalam melakukan pertanyaan, saya bercanda: “Kamu saja mewakili yang lain bertanya”. Memang sebagian besar peserta forum, khususnya yang pendatang baru masih ragu-ragu bertanya. Boleh karena memang masih malu, boleh juga karena khawatir menanyakan sesuatu yang dianggap sensitive dan menyinggung. Padahal, seringkali setiap memulai kelas itu, khususnya jika ada pendatang baru saya menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada yang perlu disakralkan untuk ditanyakan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Penyair adalah jalan hidup. Baik sedang berkarya atau tidak. Seorang penyair masuk dalam konteks realitas karena kepedulian akan panggilan kharismatik dari alam sekitarnya, dari debu, kerikil, lava, angin, pohon, kupu-kupu, margasatwa. Dari yatim piatu, orang-orang papa, lingkungan kampung halamannya, lingkungan bangsanya, lingkungan kemanusiaannya. Ia harus selalu peduli. Tetapi tidak cukup cuma peduli, karena harus dikaitkan dengan perintah dan larangan Allah. Apa pun, termasuk bersyair, harus menjadi ruang ibadah. Harus mengaitkan dengan kehendak Allah. Kita buat, misalnya, sajak mengenai pelacur, mengenai singkong, atau mengenai perahu. Itu juga religius selama dikaitkan dengan meraih kehendak Allah.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tidak. Menghadapi kekuasaan politik saya tidak pernah menangis. (Rendra sempat dijebloskan ke penjara pada 1978, selain mendapat represi pelarangan tampil di berbagai tempat). Saya menangis untuk masalah-masalah lain. Dulu saya pernah diminta membaca sebuah sajak. Lalu ada rekan mahasiswa yang menangis, terharu. Saya pun ikut menangis. Saya juga gampang menangis kalau membaca riwayat Nabi Muhammad. Indah sekali. Membayangkan pengorbanan Nabi yang tidak mementingkan diri sendiri. Tidak ada agama Islam, kalau tidak ada Nabi. Saya juga menangis kalau mengenangkan Asmaul Husna.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dalam pengertian memperoleh untung, belum bisa. Tapi cukuplah untuk lauk-pauk, meski belum bisa mengatasi ongkos listrik dan telepon. Mungkin bisa satu atau dua tahun mendatang, kalau diproses secara alami. Tanah ini dijual kepada saya murah sekali karena sudah rusak. Tanahnya retak-retak, mungkin kebanyakan dipupuk urea. Tapi, coba-coba saya perbaiki. Saya tanami kacang, padi, ketela rambat yang berarti memupuk tanah. Saya ingin menata kembali kebun. Kebetulan ada bantuan bibit-bibit dari Sulawesi Selatan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Lantas saya pergi ke satu bukit di selatan Klaten. Saya puasa mulai jam 12 malam sampai jam 12 malam. Makan cuma tujuh kepal nasi. Saat itu saya belum Islam. Saya berdoa, ”Ya Tuhan tunjukkan apa yang Kau kehendaki terhadap saya. Apa saja. Suruh jadi tukang kayu atau apalah.” Tapi kok sampai detik terakhir, saya enggak dapat mimpi. Saya tutup mata, lalu mencari tanda-tanda di bintang. Ternyata tidak ada jawaban apa-apa. Saya marah. Barangkali Tuhan enggak ada. Setan? Hantu? Juga enggak ada. Sebuah kesepian yang mutlak. Sampai akhirnya ketemu seorang tukang arang. Dia bilang Tuhan itu tak pernah berbicara kepada orang.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sewaktu saya di Amerika Serikat (kuliah teater). Coba simak surah Al-Ashr. Sebagai orang modern, saat itu sedang populer-populernya filsafat eksistensialisme, lalu ada kalimat seperti ini: Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Enggak ada loh kitab suci yang mengatakan bahwa kamu akan selalu merugi dalam perkara waktu. Lihat. Apa pun bisa kita budayakan, termasuk ruang. Tetapi kita tidak bisa membudayakan waktu. Apa bisa kita menghentikan hari? Dengan teknologi setinggi apa pun, magic setinggi apapun, tidak bisa kita membuat hari Rabu tidak menjadi Kamis. Termasuk, saya tidak bisa menolak kelahiran saya. Saya tidak bisa memilih untuk lahir pada abad ke-22 atau lahir zaman majapahit. Menurut Alquran, kita akan selalu merugi soal waktu. Tapi, Alquran juga menyodorkan solusi. Disebutkan hanya orang-orang tertentu yang akan selamat. Yakni yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat dalam kesabaran dan kebenaran. Alquran tidak menyebut yang selamat adalah orang yang Islam, orang yang kaya, orang yang pintar atau orang yang sehat.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian sava dikenal-sebagai “dedengkot” Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istri saya yang kedua.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Lirih, saya memohon. “Aduh, ya Allah, saya ini sudah memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah.” Saya betul-betul merasa takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak, “Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!” Saya baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam. Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan meminum minuman keras lagi. (Albaz – dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : ) oleh Mualaf Online Center

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sebelum ke Amerika Serikat, pada 1963, Rendra berhasil mementaskan karya Eugene Ionesco, The Chair, yang dia sadur menjadi Kereta Kencana. Dia juga menggelar Odiphus karya Sophocles. Yang menarik, setelah Bip Bop, Rendra kembali mementaskan teater yang bersumber dari naskah. Dia menggelar Isteri Yahudi, Informan, dan Mencari Keadilan, terjemahan karya Bertolt Brecht. Dan dia menggelar sandiwara yang sarat teks pula, antara lain pentas ulang Oidipus, Hamlet karya Shakespeare dan Menunggu Godot karya Samuel Becket.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Bentuk pementasan Bengkel Teater baru mengalami perubahan yang signifikan ketika Kasidah Barzanzi, Macbeth, Dunia Azwar, dan Lysistrata digelar. Warna lokal jadi bungkus utama pergelarannya. Dan kekentalan “warna lokal” semakin memancarkan daya tariknya ketika Rendra mementaskan karya-karya sendiri: Mastodon dan Burung Kondor, Perjuangan Suku Naga, Sekda, Panembahan Reso, dan Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Ketika Hamlet dan Kasidah Barzanzi dipentaskan ulang, bentuknya pun mengalami perubahan yang lebih kental dengan warna lokal, meski siratan isi lakon tetap sama.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dalam Perjuangan Suku Naga, Sekda, dan Panembahan Reso, bentuk teater rakyat, ketoprak, dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. Segera saja Rendra menjadi ikon. Living-legend dan trendsetter yang berhasil memberi daya hidup bagi dunia teater (dan puisi). Lewat kiprah Rendra, teater menjadi lebih prestisius, “berharga”, dan milik masyarakat luas. Teater (dan puisi) juga mulai diperhatikan kaum politikus, malah dianggap memiliki potensi yang bisa mempengaruhi timbulnya pemikiran baru dalam kebijakan politik bernegara. Ini perkembangan yang menarik dan penting. Dan kepada Rendra, saya berguru.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dalam penulisan, saya berguru kepada Asrul Sani, Arifin C. Noer, dan Goenawan Mohamad. Guru teater saya adalah Teguh Karya dan Rendra. Memang saya belajar langsung kepada Teguh Karya, yang mengajari cara mempertahankan daya kreatif dalam kehidupan yang semakin kompetitif. Saya memetik dasar pelajaran manajemen kehidupan kreatif dari dia. Tapi cara bagaimana membangkitkan daya hidup serta mempertahankan stamina dalam gejolak arus zaman serta menyiasati kemusykilan politik kebudayaan dalam pemerintahan yang otoriter, secara tak langsung, saya banyak menyerap dari Rendra.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setelah tidak mengajar lagi di sekolah-sekolah Amerika, saya bekerja sebagai direktur salah satu sekolh-sekolah Islam yang ada di distrik Washington. Di sana, ada pemandangan yang menggugahku, yaitu prilaku seorang wanita asal Amerika yang bekerja sebagai sekretaris. Ia merupakan contoh wanita yang pemalu, anggun dan bersungguh-sungguh bagi wanita-wanita Muslimah. Lalu saya ceritakan hal itu kepada isteri saya sembari memperbandingkan prilakunya dnegan kebanyakan wanita yang dilahirkan sebagai Muslimah tetapi tidak komitmen terhadap hijab dan etika Islami dalam berinteraksi dengan laki-laki asing

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Atau kalau ada beberapa set buku yang rusak, maka ia tidak dibuang begitu saja tetapi dijual dengan harga obral yang sangat murah. Suatu kali, ketika perpustakaan menawarkan buku-buku seperti ini, aku membeli salah satunya dengan harga 5 atau 10 Cent yang aku ambil dari kocek khususku. Ini aku lakukan karena rasa ingin memiliki buku dan mendapatkan sesuatu yang spesial. Ketika itu, aku belum tahu apa isinya. Aku hanya meletakkannya di perpustakaan khususku di kamar kemudian dimasukkan ke dalam salah satu kardus dengan buku lainnya yang sudah jelek dan terlupakan. Hari demi hari pun berlalu dan tak terasa aku sudah menamatkan SD, SLTP dan SLTA. Aku beruntung karena diterima kuiah di salah satu fakultas. Dan, adalah sebuah hikmah dan rahasia dari Allah bahwa aku memasuki fakultas Sastra dan memilih spesialisasi di bidang ilmu perbandingan agama di mana lebih memfokuskan pada tiga agama besar; Yahudi, Nashrani dan Islam. Manakala di jurusan tersebut tidak terdapat seorang dosen yang beragama Islam, maka yang kentara dibicarakan adalah gambaran Islam yang sudah tercoreng. Karena itu, aku tidak begitu interes dengannya. Selanjutnya, aku tidak menemui kendala apa pun untuk melewati kurikulum-kurikulum studi sehingga berhasil lulus dan memperoleh gelar sarjana.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setelah lulus kuliah, mulailah tahap mencari pekerjaan. Berhubung spesialisasiku termasuk spesialisasi yang sedikit mendapatkan tawaran kerja, ditambah secara umum memang lowongan kerja juga tidak banyak di kawasan yang aku tinggali, maka dengan cepat aku dicekam rasa kecewa dan bosan dalam mencari lowongan kerja tersebut. Akhirnya, sebagian besar waktu, aku habiskan di rumah alias menjadi pengangguran!! Selanjutnya untuk mengisi kekosongan waktu, aku membongkar dan membuka-buka kembali buku-buku yang dulu pernah aku beli. Saat itulah, aku menemukan buku yang telah aku beli sejak kecil dan nampak sudah tertimbun debu. Karena dibeli sejak masih kecil dari kocek pribadi, tentu ia begitu mengesankan dan istimewa bagiku seakan sekeping peninggalan berharga.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Aku ambil buku itu, lalu aku bersihkan. Selanjutnya, aku mulai membacanya…Ternyata ia adalah kitab al-Qur’an terjemahan dalam bahasa Inggeris. Mulailah aku membacanya dengan penuh perasaan dan keseriusan. Aku betul-betul tertarik dengannya. Setelah agak banyak membacanya, rupanya sama sekali berbeda dengan opini dan pendapat yang selama ini aku dapatkan di kampus mengenai Islam. Gambaran Islam di dalamnya juga amat berbeda dari gambaran yang dikatakan para dosen di fakultas mengenai agama ini dan al-Qur’an. Aku mulai bertanya-tanya: sedemikian bodohkah para dosenku di kampus? Ataukah mereka sengaja berbohong ketika menyinggung tentang Islam dan al-Qur’an? Aku terus mengulangi dan membacanya dengan penuh rasa puas dan ingin tahu mengenai apa ajaran dan petunjuk yang dikandungnya. Dan begitu menyudahinya, aku langsung memutuskan; selama Islam itu begini gambarannya, maka aku harus segera memeluknya dan menjadi seorang Muslimah.!

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dari apa yang telah dititipkan Tuhan pada saya — sepasang anak kembar — saya kembali disadarkan oleh rasa keberagamaan saya. Aryo Damar, anak saya yang laki-laki, sejak berusia tiga bulan sampai sekarang, bila ada azan Magrib di televisi, ia tidak mau melepaskan diri dari depan kaca televisi. Kalaupun sedang menangis, ia berhenti dahulu untuk mendengarkan adzan. Kejadian ini saya rekam dan saya abadikan dalam kaset video. Kelakuan anak saya ini semakin memperingatkan dan membuat saya yakin bahwa pegangan paling sederhana dan mempunyai kekuatan adalah Agama.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Karikaturis GM Sudarta (kiri, duduk) melakukan acara tanya jawab mengenai buku terbarunya berjudul: Reformasi: Sejak Tumbangnya Orde Baru sampai Lahirnya Reformasi dalam Kartun, terbitan Penerbit Kompas, Selasa (29/8), dalam acara Pesta Buku Gramedia di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat. Selain melakukan demo menggambar, berbagai pertanyaan dilontarkan oleh pengunjung pameran, mulai dari yang bersifat teknis sampai dengan pengalaman tentang suka dan duka saat gambar karikatur termuat di koran. Beberapa pengunjung juga terlihat meminta tanda tangan GM Sudarta untuk dibubuhkan ke dalam buku yang dibelinya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ketika saya kembali ke dalam pangkuan Islam, agama asli semua manusia, sebuah perdebatan sengit sedang terjadi di sekolah-sekolah Prancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan-terutama keturunan imigran TImur-Tengah-hingga beberapa waktu lamanya (hal itu terjadi karena ada kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dari otoritas Prancis, pen). Mayoritas pelajar berpendapat, public-dalam hal ini sekolah negeri-seharusnya bersikap netral dalam urusan agama, termasuk tentang tudung kepala (jilbab). Tidak dapat dipungkiri, kelompok Muslim di Prancis turut membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari kepala mereka.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang “orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya!

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari. Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami. Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan terorisme dan tekanan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam : sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang ditawarkan sekularisme.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Menuju jalan kebenaran yang diridhoi Allah SWT memang didambakan semua umat manusia. Segala amal upaya akan dilakukannya untuk menuju jalan kebenaran tersebut, yaitu jalan yang lurus untuk menuju kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan yang seperti itulah yang di inginkan oleh Astrid A Nurhamzah (28). Pada hari selasa (14/12) pada pukul 15.30, di masjid At-Taqwa PP Muhammadiyah Jakarta, dengan disaksikan para jamaah shalat Ashar, atas rahmat Allah SWT, dara keturunan Makassar Sulawesi-Selatan ini dengan tulus ikhlas mengikrarkan dua kalimah syahadah dan meninggalkan agama Katolik yang selama ini ia peluk.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sebelum melangsungkan pembacaan syahadat di masjid , siang harinya Astrid datang ke Majelis Tabligh dan Dakwah (MTDK) dengan diantar oleh ayahnya Alfred Hamzah, yang sebelumnya juga masuk Islam pada tahun 1999, dan tunangannya. Saat masuk ke kantor MTDK, nampak rasa keceriaan pada raut mukanya. Perasaan penasaran dan keingintahuan tentang ajaran agama Islam secara mendalam serta ingin merasakan benar-benar menjadi seorang muslim yang sejati terbayang dalam benak dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ia menuturkan, sepanjang perjalanan hidupnya dia melihat keanehan tersendiri tentang agama Islam dan itu yang membuat dirinya tertarik. Sebagai seorang yang berprofesi dalam bidang kesehatan, ia menyadari betul, bahwa betapa hebatnya seorang dokter, belum tentu bisa menyembuhkan penyakit pada diri manusia. Masih ada kekuatan yang ada diluar jangkauan pengobatan dokter yang mampu menyembuhkan pasien. Yaitu kekuatan dan kebesaran Allah SWT, Astrid sadar, Dialah kekuatan penyembuh dari segala macam penyakit. Ini yang menjadi landasan awal bagi Astrid. Selain itu, ada keanehan pada dirinya, mengapa setiap akan melakukan sesuatu seorang pasien harus membaca kalimat basmallah. Astrid pun ikut mempraktikkannya kala ia memberikan pengobatan pada seorang pasien yang berobat padanya. Diucapkannya kalimat basmallah setiap kali dia melakukan pengobatan. Anehnya pasien yang diobati itu lekas cepat sembuh. ‘Pengalaman itu saya lakukan berulang-ulang pada setiap pasien dan saya mendapatkan kemudahan dari Allah untuk menyembuhkannya dan saya berterima kasih kepada-Nya, ‘kata Astrid dengan senyum khasnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setiap manusia memiliki pengalaman tersendiri untuk merasa terpanggil dan hijrah pada agama Allah, di mana agama Islam merupakan agama yang paling sempurna. Proses kesadaran akan kebenaran ajaran Allah tak bisa dipaksakan begitu saja. Semua itu melewati tahapan dan proses waktu yang sangat panjang pada diri manusia. Begitu pula yang dialami oleh Astrid dan keluarga Alfred. Ternyata tidak semuanya dalam keluarga Alfred Hamzah itu memeluk agama Islam. Istri Alfred dan anak-anaknya yang lain masih menganut agama Katolik sebagai keyakinannya. Seiring dengan perjalanan waktu, Alfred selaku ayah dari Astrid mengharapkan seizin Allah SWT suatu saat nanti istri dan anak-anaknya yang lain akan mengikuti jejak nya dan jejak Astrid yang sudah dulu memeluk agama Islam. Pintu Allah akan selalu terbuka bagi orang-orang yang ingin berbuat kesalihan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Buya Risman Muchtar selaku pengasuh Konsultasi Agama MTDK, dalam memberikan bimbingan kepada Astrid, mengatakan bahwa sebuah rahmat Allah dan hidayah-Nya yang sangat besar, telah memberikan jalan yang terang kepada Astrid untuk masuk Islam. Untuk masuk Islam, kata Buya Risman ada rukun yang harus dilakukan. Di antaranya adalah rukun Islam yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim yang terdiri dari membaca syahadat, shalat, puasa, zakat dan melakukan ibadah haji jika mampu. ‘Bila semua rukun Islam itu dikerjakan oleh seorang muslim, maka sempurnalah muslim tersebut dalam menjalankan agama Islam, tutur Buya Risman..

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Menjalankan agama Islam, lanjut Buya Risman, tidak sulit asalkan dilakukan dengan niat tulus dan ikhlas. Begitu pula untuk Astrid yang baru masuk agama Islam tidak sulit untuk belajar dan memahami ajaran Islam seperti yang digariskan pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Apalagi dengan tingkat pengetahuan dan pendidikan yang tinggi, Buya Risman yakin, insya Allah Astrid bisa cepat menguasai agama Islam. Untuk itu kami akan berusaha untuk terus memberikan bimbingan, dan MTDK selalu terbuka jika ada pertanyaan tentang ajaran Islam, katanya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Hukum Islam juga memberikan aturan bahwa lelaki boleh memiliki istri lebih dari satu. “Kami telah menjelaskan berulang kali bahwa menikah empat kali diizinkan hanya pada situasi darurat seperti impotensi, tidak bisa punya anak dll. Sebagai kesimpulan tidak ada pelacuran dalam Islam. Jika lelaki menginginkan wanita lain, maka nikahilah dia dan rawat anak-anaknya,” tambah Siddiqi. Hukum Islam juga memberikan aturan bahwa lelaki boleh memiliki istri lebih dari satu. “Kami telah menjelaskan berulang kali bahwa menikah empat kali diizinkan hanya pada situasi darurat seperti impotensi, tidak bisa punya anak dll. Sebagai kesimpulan tidak ada pelacuran dalam Islam. Jika lelaki menginginkan wanita lain, maka nikahilah dia dan rawat anak-anaknya,” tambah Siddiqi.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Maka, ia dengan penuh suka cita pun menempelkan nama Aysha di depan namanya. Keislaman Harumi, pada awalnya memang karena pernikahan. Ia tertarik dengan pria Muslim asal Pakistan. Beberapa bulan menjelang pernikahan dilakukan, Harumi memeluk Islam. Agar ada satu keyakinan dalam bahtera rumahtangganya. Tahun 1987 menjadi titik balik hidupnya. Dari seorang yang tak beragama, ia menjadi seorang muslimah. Dan sejak awal memang telah bertekad untuk menjadi Muslimah sejati; belajar tentang Islam, menghindari makanan yang haram, dan mengenakan jilbab untuk menutupi auratnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ia lakukan dengan sepenuh hatinya. Namun ada satu yang belum sepenuhnya dijalankan, ibadah shalat. Ia masih belum melakukan ibadah lima waktu itu, pun ketika pemuda Abid Choudry menyuntingnya. Sampai suatu saat datang pencerahan, dan ia menceritakannya seperti penggalan kalimat di atas. Kini, Harumi tak canggung lagi melaksanakan ibadah shalat di tempat kerjanya. Ia juga berjilbab. Lima tas pakaian lamanya telah dihibahkan kepada orang lain. ”Saya menjadi sosok yang berbeda sekarang,” ujar sekretaris yang dulu gemar memakai rok mini ini. Ritual shalat dari Subuh hingga Isya, memberikan tantangn berat bagi wanita Jepang seperti Harumi. Ia harus mampu menyesuaikan dengan jadwal kerjanya dan mendapatkan tempat yang cocok untuk menjalan shalat. Seperti kata Harumi, mereka yang baru memeluk Islam juga harus melakukan perubahan dalam pola makannya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Muslim yang selalu mengacu pada Alquran tak boleh mengonsumsi daging babi, minuman beralkohol, dan produk daging yang tak halal. Jus bisa saja mengandung alkohol meski dalam kadar rendah. Coklat, es krim, kue, dan makanan lainnya kemungkinan mengandung lemak hewan dan gelatin yang dibuat dari tulang hewan. Beruntung, kini telah bermunculan toko halal, kendati status halal produknya juga belum tentu terjamin. ”Pada awalnya kami tak mengetahui makanan mana saja yang boleh kami kondumsi. Kemudian kami mendaftarnya kemudian menyebarkan informasi tersebut ke saudara Muslim lainnya,” ujar Harumi. Tantangan lainnya bagi wanita Jepang yang memeluk Islam adalah keluarganya. Seringkali, keluarga seperti ‘membuang’ anaknya yang menjadi Muslim.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Mereka pun dikucilkan dari pergaulan teman-temannya. Memeluk Islam memang membutuhkan perubahan yang mendasar dalam setiap aspek kehidupan mereka. Namun dari waktu ke waktu, jumlah mualaf di Jepang — terutama kaum wanita — semakin banyak. Selain karena pernikahan, mereka justru tertarik mempelajari Islam setelah Tragedi 11 September. Namun alasan utama wanita berpindah ke Islam umumnya karena pernikahan. Muslimah lainnya, Noureen, dosen keperawatan di sebuah universitas di Saitama, juga menjadi Muslim karena menikah. Namun sebelum berislam ia telah mencoba beberapa kepercayaan lain. Kemudian ia bertemu pria Pakistan dan menikah dengannya. Sebelum acara pernikahan, ia telah menganut Islam. Noureen pun menjalankan Islam dengan tekun. Baik dalam makanan maupun berhijab.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di sisi lain, lingkungan di mana ia bekerja juga memberikan pengaruh. Ada intervensi dari mereka ketika ia menjalankan Islam. Maka suaminya menyarankan agar dirinya mencari alternatif pekerjaan lainnya. ”Ia menyatakan keyakinan (Islam) adalah hal yang utama dalam hidup, dan pekerjaan adalah masalah berikutnya,” ujarnya. Kisah Monica Suzuki lain lagi. Dengan penuh perasaan ia menyatakan bahwa dirinya dipandu oleh hati dan emosinya ke dalam Islam. Sejak kecil ia telah akrab dengan ritus Budha. Umumnya keluarga di Jepang yang menganut Budhisme. Namun interaksinya dengan ajaran tersebut tak begitu kental. Dan telah lama telah banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tentang alam dan isinya, eksistensi dan putaran hidup manusia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Hingga ia menamatkan sekolahnya dan bekerja sebagai staf penerbangan, ia terus merasakan kekosongan jiwa. Tahun 1988 ia mencoba peruntungan dengan bekerja sebagai penerjamah bagi delegasi Jepang untuk agen wisata di Mesir selama setahun. Melalui kolega barunya, ia mulai mengenal Islam. Sekembalinya ke Jepang, minat belajar Islam semakin menggebu. Dengan mempelajari Islam, ada satu sisi dalam jiwanya yang merasa terisi. Sayangnya, informasi tentang Islam baik dari sekolah maupun televisi sangat terbatas. Dan sering mengalami distorsi. Saat kembali ke Jepang, ia kemudian mendatangi Islamic Center di Tokyo dan mendapatkan terjemahan Alquran dalam bahasa Jepang. Ia juga selalu ketagihan untuk berkunjung ke Islamic Center. Di tempat ini, ia belajar Islam pada ulama yang juga mualaf. Hingga suatu saat, ia merasa yakin dengan Islam setelah mempelajari mengenai posisi wanita dalam agama yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) ini.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

”Dalam Islam, muslimah dilindungi dan dihormati,” ujarnya. Hijab lebih dipandangnya sebagai pelindung kehormatan wanita, ketimbang simbol fundamentalisme agama seperti yang digembar-gemborkan banyak kalangan. Tahun 1991, ia kembali melakukan perjalanan ke Mesir. Namun kali ini bukan untuk menjadi duta kantornya. Ia bersyahadat di Universitas Al-Azhar untuk mengikrarkan keislamannya. Di kota ini ia mendapatkan pekerjaan baru dan menikah dengan Muslim Mesir. Kini Minica tinggal di Tokyo, membesarkan putri semata wayangnya, Maryam. Lain pula kisah milik Sunaku. Ia menyatakan semakin ia membaca tentang Islam semakin meningkat pula rasa percaya dan pemahamannya terhadap Islam. Ia mengungkapakan sejak kecil tak merasa bahagia. Dan merasa kewalahan dengan perasaan bersalah. Hingga dirinya sekolah di Inggris untuk belajar bahasa. Saat musim liburan tiba, ia diajak oleh temannya ke Jordan. Dan tinggal bersama keluarga Muslim.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ia melihat bahwa keluarga ini begitu sederhana dan juga terorganisasi. Rumahnya begitu bersih. Mereka memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Suami mencari nafkah demi keluarga. Istrinya juga melakukan tugas rumahnya dengan perasaan gembira. Ia merasa bahwa kebahagiaan seperti itulah yang hilang selama ini. Dan menyadari bahwa citranya terhadap Islam sangat salah selama ini. Ia hanya mendengarnya dari televisi. Ia menilai Muslimah adalah korban dari ketidakadilan gender. Yang dilakukan suami, tentunya. Setelah kepergiannya ke Jordan ia mulai tertarik mempelajari Islam. Ia pun bertandang ke Islamic Center Tokyo. Di bawah bimbingan ulama asal Jepang dan Pakistan, ia belajar Islam. Direktur Islamic Center Tokyo, R Siddiqi mengakui banyaknya wanita muda berpindah agama memeluk Islam. Biasanya adalah mereka yang menikah dengan seorang pria Muslim yang merantau ke Jepang, baik untuk bekerja atau sekolah.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Mereka datang dari negara-negara yang mempunyai tradisi Islam seperti Iran, Bangladesh, Pakistan dan Malaysia. ”Mereka yang akan menikahi Muslim semestinya pula memeluk Islam. Dengan demikian mereka berada dalam satu keyakinan,” ujarnya. Ia menyatakan tidak semua wanita Jepang memeluk Islam karena alasan menikah, namun sebagian besar karena alasan pernikahan. Banyak juga yang terbuka matanya setelah mempelajari Islam. ”Islam menghendaki wanita menjadi manusia merdeka. Islam memberikan kebebasan kepada wanita dan tak harus menjadi budak kaum pria. Kehormatan wanita itu terpelihara,” tambah Siddiqi. Namun, banyak pula orang Jepang yang bertanya mengenai Islam yang mengizinkan seorang pria boleh menikah dengan wanita lebih dari satu. Biasanya, yang dilakukan pihaknya adalah menceritakan alasan mengapa hal itu diperbolehkan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

”Menikah hingga empat kali diizinkan jika dalam keadaan yang tak terhindarkan. Misalnya si wanita mengalami impotensi atau tidak subur,” ujarnya menyebut jawaban yang dilontarkannya bila menghadapi pertanyaan semacam itu. Dengan hukum semacam ini, katanya, tak ada prostitusi dalam Islam. Jika seorang laki-laki membutuhkan wanita lain, maka nikahilah. Dan lindungi pula anak-anak mereka. Menurut Siddiqi, hukum di Jepang juga menggunakan dasar logika yang sama dengan hukum Islam dalam soal perkawinan. Misalnya, adanya larangan wanita menikah kembali selama enam bulan setelah perceraiannya. Mungkin karena itu pula, mereka tertarik belajar islam. (fer/islamonline )

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Untuk membentengi umat dari serangan kaum kuffar itu, Yusuf menerbitkan buku-buku kristologi, antara lain: “Apa Kata al-Kitab Tentang Agama Kristen” dan “Mengungkap Fakta Penyimpangan Agama Kristen”. Isi kedua buku itu mudah dipahami dan kini menjadi referensi yang efektif untuk menangkis gerakan Kristenisasi diLampung. Rencananya tak lama lagi, Yusuf pun akan merampungkan sebuah buku yang masih terkait dengan Islam dan Kristen. “Ke depan, insya Allah saya akan mendirikan Lembaga Dakwah Kristologi di Lampung,” katanya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Yusuf lahir di Gedungtataan, Kabupaten Lampung Selatan, 15 Desember 1972. Anak pasangan Tan Sin Nio dan Lie Cun Bi ini mulai mengenal Islam sejak kecil. Tepatnya tahun 1979, ketika Yusuf pertama kali ikut pamannya yang sudah lebih dulu masuk Islam. “Alhamdulilah paman saya sudah lebih dulu masuk Islam,” katanya. Karena itulah, Ke-Islamannya sudah dimulai sejak berada di rumah pamannya. Di Teluk Betung, tempat tinggal pamannya, Yusuf ‘kecil’ sering mengikuti ibadah ritual sang paman, seperti shalat, puasa dan ibadah lainnya. Ia juga sering merayakan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha bersama keluarga pamannya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Seperti dialami para mualaf umumnya, ke-Islaman Yusuf pun tak berjalan mulus. Reaksi keluarga besarnya saat tahu dia memeluk Islam, terbelah. Pihak keluarga besar ibu sangat mendukung ke-Islaman Yusuf, sebab sebagian besar keluarga besar dari pihak Ibunya memang sudah banyak yang masuk Islam. Tantangan sangat keras datang dari pihak keluarga besar ayah. Mereka menentang keras, karena berpendapat semua agama, baik Islam, Kristen, Budha, Hindu dan lainnya adalah sama. Sama-sama menyembah Tuhan yang menciptakan manusia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sama halnya saat memutuskan diri memeluk Islam, kegetolan Yusuf berorganisasi pun tak luput dari sorotan keluarga besarnya. Sebagian besar keluarga Yusuf menentang kiprahnya di organisasi Islam karena berpendapat Islam cukup dengan shalat, puasa, membayar zakat dan naik haji. “Meski perlu cukup lama untuk menjelaskan ini semua kepada keluarga, namun alhamdulillah akhirnya mereka dapat menerima dan memahami betapa pentingnya ikut berbagai organisasi, di samping menambah pergaulan dan teman, juga dapat mendatangkan kebaikan,” katanya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dengan penuh rasa takut saya berlari, dikejar oleh lima orang bersenjata yang hendak membunuh saya. Saya terpojok di suatu sudut. Para penjahat itu makin mendekat ke arah saya, dan tanpa saya sadari, tangan saya terasa menggenggam senjata sejenis keris. Lalu, dengan satu dorongan, entah mendapat kekuatan dari mana, saya berteriak, “Allahu Akbar” tiga kali. Sungguh menakjubkan, kelima penjahat bersenjata itu, semuanya musnah dan hangus bagaikan lembaran-lembaran kertas terbakar. Apa makna mimpi tersebut?

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Catatan Redaksi : H.M. Syarif Siangan Tanudjaya, S.H. saat ini merupakan salah satu Pengurus DPP PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) sebagai Sekertaris Jenderal untuk Periode 2000-2005. Dirumah beliau, di bilangan Tegalan, Jakarta Timur, digelar pengajian walaupun tidak untuk rutin membahas dan mengkaji tentang Islam dan bertukar penglaman ber Syariah Islam bagi mualaf dan calon mualaf, dan yang ingin mengikuti pengajian tersebut dapat menghubungi redaksi di redaksi@mualaf.com untuk disampaikan kepada beliau.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ketika beragama Katolik, Lasiman bernama babtis Willibrordus, ditambah nama baptis penguatan (kader) Romanus. Jadilah ia dikenal sebagai Willibrordus Romanus Lasiman. Lasiman atau akrab dipanggil Pak Willi. Kegelisahan demi kegelisahan menyerang keyakinannya. Akhirnya ia pun berkelana dari Katolik ke Kristen Baptis, lalu pindah ke Kebatinan Pangestu (Ngestu Tunggil), mendalami kitab Sasongko Jati, Sabdo Kudus, dan lainnya. Ia juga terjun ke perdukunan dan menguasai berbagai kitab primbon dan ajian. Tujuannya satu, mencari dan menemukan kebenaran hakiki.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ketika bertugas sebagai misionaris di Garut, Allah mempertemukannya dengan prof Dr Anwar Musaddad, berdiskusi tentang agama. Diskusi inilah yang menuntunnya pada Islam. Allah memberikan hidayah ketika ia berusia 25 tahun. Lalu, Willi pulang ke Yogya dan berdiskusi dengan Drs Muhammad Daim dari UGM. Akhirnya, 15 April 1980, Willi berikrar dua kalimat syahadat, masuk dalam dekapan Islam dengan nama Wahid Rasyid Lasiman. Sejak itu, Willi tekun mengkaji Islam di pesantren. Dari pesantren inilah, Ia menjadi ustadz yang rajin berdakwah dari kampung k kampung di Sleman, Yogyakarta, hingga pelosok kampung di kaki Gunung Merapi.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tudingan Peter bahwa Willi “meng-Islamkan” Yesus pun tidak tepat. Karena, yang menyatakan Nabi Isa beragama Islam itu bukan Pak Willi alias Ustadz Wachid, melainkan Allah SWT sendiri. Dalam al-Qur’an disebutkan, satu-satunya agama yang diridhai Allah hanyalah ISlam (QS Ali Imran: 19,85,102). Karenanya, semua Nabi beragama Islam dan pengikutnya disebut muslim (QS Ali Imran:84). Islam telah diajarkan oleh paran Nabi terdahulu (QS al-Hajj:78). karena Isa Almasih adalah Nabi Allah, maka dia dan pengikutnya (Hawariyyun) pub beragama Islam (QS al-Maidah:111, Ali Imran :52).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Perkenalan Sarah dengan Islam terjadi karena teman-teman sering mengajaknya ke Daarul Tauhid. Menurut Sarah, dalam menyampaikan syiar A’a Gym tidak pernah menyinggung agama manapun, dia lebih sering menyoroti perilaku kehidupan manusia. Itulah yang membuat Sarah tertarik, dirinya bahkan sempat menangis mendengar isi ceramah yang disampaikan. “Lama-lama aku sering ikut ke Daarul Tauhid dan bertukar pikiran dengan teman-teman. Bulan Juni 2001 dibimbing oleh Ust Aldo di Bandung, aku mengucapkan dua kalimat syahadat. Selama duatahun aku masih belum berani terang-terangan menjalani ibadah yang diwajibkan dalam Islam,” kenang Sarah yang masih memiliki garis keturunan Aceh dan Batak ini.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kabar Sarah telah masuk Islam sempat terdengar oleh Opung dan bibi, namun mereka tidak yakin apakah itu benar. “Aku dijauhi oleh keluarga, selama puasa aku jarang ada di rumah, lebaran pun dirayakan sendiri. Aku belajar sholat sampai bisa, itupun aku pelajari dari buku yang dibeli di pasar. Bacaan-bacaan ketika sholat aku tempel di tembok, kalau ruku’ doanya ada di sajadah. Setelah sholat aku sering nangis, mungkin Allah melihat kesungguhanku. Mukena yang aku pakai, dibeli dari hasil kerja menjadi figuran sinetron. Karena setelah lulus sekolah aku tidak pernah minta uang I sama mama,” ujar gadis yang suka mendesain baju ini.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tahun 2004, Sarah mengaku sudah lancar sholat bahkan ia mulai melakukan sholat-sholat sunat, dan dirinya yakin bahwa Islam adalah agama yang mudah serta fleksibel. Di tahun yang sama Sarah bernazar, jika tabungan yang dimiliki terisi karena rejeki yang Allah berikan maka ia akan berangkat umroh, ternyata Allah mendengar doanya. Semua keluarga kaget mendengar keinginan Sarah, opung pun yang selama ini paling ditakuti langsung turun tangan. Dalam situasi yang agak tegang, Sarah memohon kepada Allah kemudahan berbicara. “Di depan opung dan keluarga, aku ngaku telah memeluk Islam dan sampai mati tetap Islam. Seandainya aku mati nanti, aku ingin dikubur secara Islam. Jika keluarga tidak bisa menguburkan, kasih saja jasadku kepada teman-teman, biar mereka yang mengurusnya. Dengan berangkat umroh semoga keyakinan aku kepada Islam bertambah kuat. Akhirnya semua terdiam, karena opung sudah nyerah dengan keputusanku,” tutur Sarah dengan mata berkaca-kaca. Karena begitu beratnya cobaan yang diterima Sarah selama ini, ketika di tanah suci ia tidak mengalami kejadian yang aneh-aneh, malah dirinya mendapatkan banyak kemudahan dalam melaksanakan setiap ibadah di sana. “Setiap hari aku selalu berdoa untuk mama dan adik-adikku agar diberi hidayah oleh Allah, aku ingin mereka masuk Islam tanpa paksaan,” kata Sarah yang telah menjadi jamaah pengajian Syamsul Rizal bersama Ineke Koesherawati.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Lalu, tunggu apa lagi, Sar? “Kami ingin lebih siap lagi secara materi. Bukannya aku merasa kurang dengan apa yang sudah kumiliki saat ini. Bukan. Hanya saja, saat ini aku merasa masih punya banyak pe-er. Masih ada 3 adikku yang harus aku biayai sekolahnya,” ujar gadis yang menjadi tulang punggung keluarga sejak sang ayah pergi meninggalkan keluarga mereka ini. Jadi? “Doakan saja ya, semoga aku enggak harus menunggu lama lagi untuk menikah,” bisik Sarah yang diam-diam kini sering melakukan salat istikharah ini. (tabloidnova)

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya tidak patah semangat dan saya terus berdoa agar Allah SWT menggerakan hati istri saya dan memberikan istri saya hidayah agar mau masuk kedalam agama Islam, agama yang paling sempurna dan di ridhoi oleh Allah SWT, Walaupun saya belum menjadi muslim (ketika itu), tapi setiap akhir dari doa saya selalu mengucakan salah satu dari ayat Yaasin yang jika dilafaskan berbunyi “Innama amaruhu idza araadha syaian ayakaulalahu kun fa ya kun” jika Allah SWT berkehendak terjadi maka terjadilah, tidak ada yang mustahil di hadapan Allah SWT. (mohon maaf jika salah dalam penulisan lafas dan arti harafiah salah satu ayat Yaasin di atas )

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Suatu hari istri saya membaca majalah mingguan “Bintang”, di salah satu cerita dalam majalah itu ada sebuah kisah kembalinya artis Gito Rolies ke dalam Islam setelah berpuasa Nabi daud. Istri saya lalu menyampaikan kepada saya mengenai kisah ini, dan mengatakan : ” Coba kamu puasa Nabi Daud, kali-kali saja saya bisa terpanggil juga menjadi muslimah”, lalu saya tanya: “Puasa Nabi Daud seperti apa sih ?” istri lalu menerangkan bahwa puasa Nabi Daud ialah puasa yang dilakukan secara berselang, sehari puasa, sehari tidak, dan seterusnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Alhamdulillah 1 bulan setelah saya lakukan Puasa Nabi Daud, hati istri saya pun tergerak untuk mulai mempelajari Islam. Ada kejadian yang merubah pikiran istri saya, setelah saya lakukan puasa Nabi Daud, yaitu, ketika istri melakukan doa rosario di malam hari (pkl 02.00), sejenak terlintas dalam pikirannya betapa teduhnya ia melakukan doa secara Islam dengan menggunakan mukenah.Dan keesokan paginya istri saya langsung menceritakan kejadian malam itu dan mengatakan kepada saya untuk segera mencari tempat untuk belajar bagi warga keturunan Cina yang ingin masuk Islam. Saya sudah memiliki data tempat-tempat warga keturunan yang ingin masuk Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Akhirnya saya dan istri berkunjung ke Yayasan Haji Karim Oei di Jl Lautze Pasar Baru. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan Bp H. Syarif Tanudjaya (sekarang Sekjen PITI dan pimpinan pengajian MUSTIKA). Ada satu statemen dari Bp Syarif yang semakin menggugah hati istri saya untuk segera bersahadat, yaitu ketika istri saya mengatakan ” saya mau masuk islam tapi saya mau belajar dulu” dengan bijaksana Pak Syarif mengatakan ” Proses belajar di Islam itu tidak pernah akan habis, bahkan kita berkewajiban untuk terus belajar hingga kita ke liang lahat, kalau diwaktu anda belajar dan anda belum menjadi Islam, alangkah sayangnya jika kita meninggal dalam keadaan belum memeluk agama Islam” . Alhamdulillah, satu minggu setelah pertemuan itu (1 April 1998) akhirnya kamipun bersahadat di Masjid Lautze.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Keinginan untuk masuk Islam itu, berawal sejak kecil saat saya melihat umat Islam di sekitar rumah saya menjalankan ibadah keseharian, seperti shalat lima waktu, belajar mengaji, serta merayakan peringatan hari-hari besar Islam (PHBI). Saya sangat senang melihat kaum muslimin menjalankan perintah agamanya yang dilakukan secara rutin. Dalam menjalankan ibadah, mereka tidak merasakan beban yang berat, walaupun sehari semalam harus shalat lima waktu dan ditambah lagi dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Menurut mereka, saat kutanyakan tentang ibadah-ibadah itu, shalat lima waktu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Jika seorang muslim melalaikan shalat lima waktu itu, ia berdosa. Setiap muslim juga diharuskan untuk belajar mengaji karena dengan belajar mengaji ia akan dapat memahami isi kitab suci A1-Qur’an. Peringatan hari besar Islam merupakan suatu peringatan atas setiap kejadian atau peristiwa, dengan harapan melalui peringatan tersebut kaum muslimin dapat meningkatkan kualitas ketakwaannya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Selain itu, saya juga pernah bermimpi didatangi empat buah bulan yang bersinar terang dan bermacam-macam coraknya, menghampiri diri saya dan seakan-akan mengajak saya untuk menggapainya. Saya tidak tahu apa makna mimpi itu. Menurut saya, itu mungkin suatu pertanda atau hikmah yang sangat besar yang akan saya terima. Semua kejadian itu saya sembunyikan sendiri agar keluarga tidak tahu. Tapi, saya juga butuh penyelesaian atas semua kejadian itu. Akhirnya, saya cerita kepada saudarasaudara ayah yang muslim. Mereka dengan rasa gembira menyambut keingian saya. Mereka berjanji untuk tidak menceritakan kepada ke1w rga di rumah. Atas saran mereka, saya harus belajar sendiri agar tidak timbul adanya pemaksaan atas perpindahan keyakinan saya itu. Selain kepada mereka, mimpi itu juga saya ceritakan pada bapak guru agama di sekolah.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Alhamdulillah, taufik dan hidayah Allah SWT akhirnya datang menghampiri diri saya. Dengan dibimbing oleh Bapak Saleh Abu Bakar, saya mengikrarkan diri menjadi seorang muslimah di mushala sekolah pada tanggal 15 April 1997. Dua kalimat syahadat saya ucapkan perlahan-lahan. Saya terharu. Mata saya berkaca-kaca saat ikrar syahadat itu berlangsung. Teman-teman yang menyaksikan pun larut dalam keharuan itu. Setelah proses pengucapan syahadat selesai, saya mendapat bimbingan rohani. Bapak Saleh Abu Bakar menjelaskan perihal agama Islam. “Semua teman-tenanmu yang seagama adalah saudaramu, ” katanya. “Dan semua aktivitas hidup jika diniatkan ibadah, maka akan berpahala,” jelasnya panjang lebar.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sebenarnya, kata Willy, kalau mau didata secara akurat, jumlah Muslim Tionghoa di tanah air ini cukup besar. “Namun, pemerintah sekarang ini kan hasil didikan Belanda. Jadi keberadaan PITI ini sengaja tidak diekspos dan diawasi terus. Apalagi sejak pertama kali didirikan, PITI dipimpin oleh orang militer non-Tionghoa. Jadi secara nasional bisa dikatakan PITI habis, kecuali DPW PITI Yogyakarta dan Jatim. Sebab di kedua tempat ini pimpinannya masih getol untuk terus memperjuangkan PITI,” paparnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Di Surabaya, komunitas Tionghoa sudah menetap sejak zaman kolonial Belanda. Surabaya merupakan salah satu kota penting di Jawa dan salah satu kota tertua di Indonesia. Di masa kolonial, kota ini berkembang dan menjadi salah satu kota modern. Sebagai salah satu kelompok masyarakat yang datang dan menetap di Surabaya, jumlah orang Tionghoa semakin meningkat. Jika dibandingkan dengan kelompok imigran lain, Arab dan India, masyarakat Tionghoa menempati jumlah terbesar. Hal ini dapat dilihat dari data pada 1920, penduduk Tionghoa di Surabaya berjumlah 18.020 orang, Arab 2.539 orang, dan kelompok etnis Timur Asing lainnya 165 orang.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

PITI sendiri sebagai sebuah organisasi, bisa dikatakan masih berjalan tertatih-tatih. Sejak berdiri pada 1961 hingga sekarang, PITI baru menyelenggarakan muktamar sebanyak tiga kali. Pada Muktamar Nasional III yang dilangsungkan di Surabaya, Desember 2005 yang lalu, HM Trisnoadi Tantiono terpilih sebagai Ketua DPP PITI. Sedang H. Mohammad Gozali menjadi Ketua DPW PITI Jatim. Dalam muktamar yang diselengarakan untuk ketiga kalinya itu, PITI menekankan pada pemantapan konsolidasi organisasi yang solid. Semua itu menjadi penting untuk lebih meningkatkan amal ibadah dengan ikut berperan serta aktif mengisi kemerdekaan Indonesia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

PITI juga mengadakan pengajian rutin untuk membina para muallaf. Masih dalam rangka pembinaan, PITI menerbitkan Juz ‘Amma berbahasa Mandarin dan buku tuntunan berjudul “Tuntunan bagi Saudara Baru” yang berisi tata cara shalat dan surat-surat pendek al-Qur’an (Juz ‘Amma). Semuanya ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Mandarin dan Indonesia. Buku ini dimaksudkan untuk memberi inspirasi warga etnis Tionghoa agar masuk Islam. Penerbitnya adalah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo (YHMCH), sebuah yayasan yang didirikan oleh PITI.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Yayasan ini berfungsi memayungi aktivitas PITI. YHMCH juga menerbitkan majalah KOMUNITAS serta buku lainnya. Salah satunya adalah buku yang berjudul Prasasti Masjid Laksamana Cheng Hoo yang berisi sejarah hidup Laksamana Muhammad Cheng Hoo. Semua itu menjadi sarana komunikasi dan informasi serta sosialisasi PITI kepada sesama warga Tionghoa. Upaya sosialisasi PITI tersebut setidaknya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Setiap hari Jumat minimal ada satu orang dari etnis Tionghoa yang mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Cheng Hoo.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Masjid ini bernaung di bawah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo. Sekalipun tidak terlalu luas bahkan relatif sedang untuk ukuran sebuah masjid, daya tarik utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia seluas 200 meter persegi dengan kapasitas 200 jamaah ini, terletak pada arsitekturnya. Arsiteknya adalah Ir. Aziz dari Bojonegoro, kemudian dikembangkan oleh Tim Pengawasan dan Pembangunan masjid dari PITI dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Ustadz Drs. H. Burnadi dipilih menjadi Ketua Takmir Masjid Cheng Hoo.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setamat SMA th. 1991, saya melanjutkan belajar di Sekolah Alkitab di kota Malang- Jawa Timur, dan setelah tamat dari Sekolah Alkitab saya langsung ditugaskan di daerah Cileungsi sebagai Pengerja atau Pembantu Pendeta. Selama bertugas di Cileungsi, saya tinggal di Kenari Mas hingga saat ini. Pada tahun 1997 saya melanjutkan belajar ke Sekolah Alkitab di Cianjur-Jawa Barat., Pada tahun 2003, saya melanjutkan pendidikan di salah satu sekolah tinggi Theologia di Jakarta untuk mendapatkan kesarjanaan dibidang theologi – S1/Sth- namun tidak sampai selesai. Pada tahun 2005 saya kembali melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Theologia di Lampung cabang Bekasi.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada tahun 1995 saya menjadi Pengajar Pendidikan Agama Kristen di SMA Negeri 1 – Cileungsi dan telah mengikuti Penataran Guru-Guru Agama Kristen tingkat Propinsi sebanyak tiga periode yaitu pada tahun 1995, 1999 dan 2003 yang dilaksanakan oleh Bimas Kristen Jawa Barat, dan berhenti menjadi penga-jar setelah memeluk agama Islam. Setelah menjadi guru honorer selama 10 tahun, seharusnya pada tahun 2006 ini, saya akan mengikuti pengangkatan PNS sebagai guru agama Krsiten tetapi batal karena memeluk agama Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Selama dua sampai tiga tahun saya memendam dan mengubur gejolak dan pemberontakan dalam batin saya, saya merasakan bahwa pemahaman yang saya dapatkan dalam agama Kristen, sepertinya harus ada sesuatu yang melengkapi semua yang aku yakini. Semakin menyelidik kebenaran tentang Alkitab dalam pelajaran Theologia semakin saya mendapatkan kemungkinan kekeliruan dalam Alkitab. Semakin saya belajar tentang Alkitab semakin saya mendapati Islam agama yang dapat menyempurnakan keyakinan yang selama ini saya pelajari dalam Perbandingan agama.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tetapi saya mulai melakukan perlawanan dan pemberontakan yang sebetulnya tidak perlu, mulai dari melawan pimpinan gereja yang menurut saya beliau keliru dalam mengambil kebijakan hingga pemberontakan yang saya lakukan dalam keluarga, misalnya saya sering tidak di rumah hingga berbulan-bulan hanya untuk menyembunyikan gejolak kebenaran dalam batin dan saya sering melakukan hal yang tidak baik, misalnya saya pernah mendekati seorang perempuan muslim yang tidak mungkin akan diterima oleh Gereja karena jabatan Pendeta dan Guru Agama. Kristen tidak bisa dikotori dengan pergaulan dengan wanita yang bukan istrinya. Saya sering mengambil barang milik keluarga sebagai pelampiasan ketidak puasan dalam beberapa hal yang saya temui dalam keluarga saya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tidak terlalu lama akhirnya nampak menara masjid yang tingi, maka langsung saya langkahkan kaki menuju masjid tersebut dan melakukan hal sama seperti pada masjid yang pertama, yaitu tengok kanan-kiri sambil menunggu seseorang yang dapat diharapkan bisa memberikan petunjuk atas permasalahan yang saya alami. Rupanya Allah SWT masih memperpanjang jalan saya untuk mendapatkan jawaban kebenaran, karena hingga beberapa jam tidak seorangpun yang saya jumpai yang kira-kira bisa memberikan petunjuk bagi saya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sampai kisah ini ditulis, pihak gereja telah mengetahui ke-Islam-an saya, saya masih tinggal di gereja bersama istri yang juga pimpinan jemaat, tentu saja saya tidak bisa selamanya tinggal di dalam gereja, karena geraja tersebut adalah rumah dinas saya dari ke-gereja-an dan gereja hanya diperuntukkan bagi orang-orang Kristen, dan saya harus siap terusir dari gereja tersebut yang berarti saya akan terpisah dengan keluarga saya untuk menempuh jalan yang lain yaitu jalan menuju keselamatan dunia-akhirat.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setahun lebih sudah, Liz, demikianlah kami biasa memanggilnya, memeluk agama Islam. Aku masih ingat di suatu siang hari, dia datang ditemani oleh teman-temannya dari Columbia University dan menyatakan tekad untuk menjadi Muslimah. Umurnya kala itu masih beliau, kurang dari 22 tahun. Dengan uraian air mata dan diiringi pekikan “Allahu Akbar” gadis cantik dan tinggi semampai itu dengan nama lengkap Elizabet Stwouwart akhirnya mengucapkan “kalimah syahadah.” Sejak itu, keislamannya belum pernah dibuka ke orang tuanya yang tinggal di New Haven, sebuah kota kecil di negara bagian Connecticut Amerika Serikat.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Satu hal yang menarik dari Elizabeth ini adalah, karena punya teman-teman dari berbagai negara, termasuk Saudi Arabia di Columbia, yang, seringkali jika datang ke kelas selalu memakai cadar. Biasanya saya menggoda dengan bercanda, “Sejak kapan jadi princess Liz?” Anak pendiam ini biasanya hanya menjawab dengan senyum. Idul Fitri lalu Elizabeth bersama para muallaf lainnya kami ajak ‘berhalal bihalal’ ala Indonesia ke berbagai rumah pejabat Indonesia di New York. Liz, nampaknya sangat senang dengan makanan-makanan Indonesia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Bulan Maret lalu, Elizabeth turut diundang sebagai peninjau dalam konferensi ulama Islam dan Yahudi di Seville, Spanyol. Alhamadulillah, dengan pakaian Muslimah yang sangat rapi, Elzabeth menjadi pusat perhatian berbagai kalangan di berbagai tempat yang kita singgahi di Spanyol. Ketika mata-mata membelalak melihat Elizabeth itu, saya bercanda “Anda dan pakaian Muslim anda jauh lebih memikat ketimbang wanita-wanita yang tengah telanjang itu.” Gadis rendah hati ini biasanya hanya menjawab “thank you Imam Shamsi”.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Satu lagi peristiwa menarik di Seville. Ketika kami dibawa keliling kota untuk melihat-lihat dari dekat kota klasik itu, Elizabeth tentunya ikut dengan hijab dan pakaian Muslimah yang rapi. Sekali lagi, para turis dan masyarakat di pinggir-pinggir jalan pasti tertarik untuk memandang Elizabeth. Entah itu karena kecantikannya, atau karena pakaiannya yang unik. Saya yang melihat kejadian itu biasanya bercanda, “Liz, probably they think Mary has come again to give birth to Jesus”. Elizabeth kembali tersenyum seperti biasa.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Mendengar “Yahudi dan Islam” sang ibunya terkejut. Namun menurut Elizabeth, dia tidak “shocked” dan juga tidak marah. Tapi, bapaknya belum tahu karena ibunya tidak memberitahukan perpindahan agama anaknya. Di awal pemberitahuan Elizabeth rupanya tidak jelas, sehingga ibunya menyayangkan anaknya berpindah agama ke Yahudi. Tapi sepekan sekembali dari Spanyol, di saat bapaknya berulang tahun, ibunya membuka rahasia itu. Bahwa sang anak telah berpindah ke agama Yahudi. Elizabeth hanya terdiam dan geli.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Karena hal-hal ini tidak membuat saya merasa berarti, suatu ketika saya coba-coba non aktif dari kegiatan, namun tidak ada bedanya. Maksudnya, meskipun saya tidak aktif, tetapi kerinduan ingin kembali bergabung dengan teman-teman atau kegiatan gereja, sama sekali tidak ada. Karena hal inilah, saya mulai berpikir dan koreksi diri mengenai masa depan saya. Apakah saya bisa hidup tanpa arah yang pasti? Sehingga pada suatu waktu saya tertegun dan merenungi hidup, mengapa kehidupan saya hanya sebatas senangsenang sementara, tanpa ada kedamaian atau kebahagiaan dalam sanubari.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejak pacaran, Burhan sudah menge-tahui, kekasihnya itu adalah seorang Mus-limah. Kedua orang tuanya, juga Muslim yang taat. Meski dari segi akidah berbeda, mereka sama-sama mencintai dan me-nyayangi. “Kesamaan lainnya, kami juga sama-sama orang susah. Bayangkan, sampai kami punya anak empat, rumah pun masih ngontrak. Tahu sendiri, nasib orang kontrakan, kalau sudah masuk tanggal 20, pasti bingung. Karena uang hasil bekerja sudah menipis, terlalu banyak kebutuhannya. Tapi, Tuhan memang Maha Adil, saya selalu diberi kucukupan untuk memenuhi nafkah keluarga. Alhamdulillah.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Cintalah yang mendorong saya masuk Islam. Ketika itu, saya memang bukan cinta Islamnya, tapi karena wanita yang hendak saya nikahi. Yang pasti, walaupun saya sudah menjadi Muslim, hati saya belum Islam. Meski KTP saya Islam, saya tidak pernah menjaiankan shalat lima waktu ketika itu. Jangankan shalat, ke masjid pun hamper nggak pernah.”Sebagai ayah, saya jarang di rumah, karena sering ke luar kota. Ditambah lagi, dengan lingkungan tempat saya bekerja, di mana saya sering berhubungan dengan orang Chinese” ujarnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dalam kesehariannya mengarungi kehidupan berumah tangga, suatu ketika Burhan memperhatikan anak-anak dan istrinya sedang shalat. “Ketika itu, saya melihat anak saya sembahyang, sedangkan saya sendiri tidak. Lama kelamaan, saya merenung, mau kemana sebetulnya hidup saya ini. Apa sebetulnya yang saya cari. Bukankah kebahagiaan dunia tiada yang abadi. Semua pasti akan ada akhirnya. Sejak itulah, saya seperti mendapat hidayah. Saya pun berpikir, apalah gunanya harta, kalau tak membuat hati ini menjadi tenang.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Melihat perubahan itu, istrinya sangat terharu, begitu juga anak-anaknya. “Yang pasti, saya tidak disuruh-suruh. Shalat yang saya lakukan ini adalah karena kesadaran saya sendiri. Lagipula, saya bukan tipe orang yang suka dipaksa-paksa. Murni, saya shalat karena panggilan hati saya. Tak ada yang lain. Yang saya rasakan, semakin saya melanggengkan shalat, batin saya terasa makin tenang, makin tenteram. Saya menyadari, bahwa shalat bukan lagi sekedar meng-gugurkan kewajiban, melainkan menjadi kebutuhan manusia sebagai hamba Tuhan. Dengan shalat, saya tambah bersyukur. Karena Allah selalu memudahkan jalan keluar dan menambahkan nikmatNya kepada kami sekeluarga.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sepuluh hari menjelang puasa Ra-madhan, Burhan diundang warga masyarakat setempat untuk menghadiri rapat pembangunan masjid. Tak dinyana, semua warga menunjuknya sebagai ketua panitia pembangunan masjid, ia pun dengan spontan menyatakan kesanggupannya. Padahal, ia merasa kurang dalam hal agama, bahkan butuh bimbingan. “Berbekal semangat tinggi, saya berhasil menggalang dana sebesar Rp. 10 juta dalam kurun waktu seminggu. Sejak itu saya semakin dipercaya oleh masyarakat, sehingga saya diangkat menjadi Ketua Masjid Babussalam, Pasir Jambu, Bogor,” ujarnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Sejak saya belajar bersyukur, Allah menambah nikmat kepada saya, Saya merasakan hidup yang berkah. Kalau dulu saya ngontrak, sekarang saya punya 40 pintu kontrakan. Kenikmatan itu saya yakin, bukan karena saya pintar atau semata keringat saya, tapi semua berkat karunia Allah. Saya yakin benar itu. Saat ini saya malah khawatir, semakin banyak rumah kontrakan, saya jadi takut nggak kuat menahan godaan. Kalau lihat teman-teman saya, semakin maju mereka semakin berantakan hidupnya. Mudah-mudahan saja saya tidak kufur nikmat.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kini, Burhan aktif sebagai pengurus Pondok Pesantren AI-Kariman, Bogor. Banyak hal yang ia lakukan untuk membangkitkan kesadaran umat agar menyisihkan sebagian rezeki mereka demi memelihara agama Allah. Menurut Burhan, umat Islam ini sebetulnya kaya. “Karena agama Islam mengajarkan agar setiap Muslim yang punya harta mengeluarkan zakat sebesar 2,5 %. Nah, kalau setiap orang yang punya harta mengeluarkan rezekinya sebesar Rp. 10 ribu saja, ini sudah menjadi aset yang sangat besar. Sayang aset ini sulit direalisasikan, karena masalah kesadaran yang kurang.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Siapa sangka kalau pada akhirnya jalan Islam juga yang menjadi pilihan hidup saya, sekian lama batin saya terasa kering dan rindu akan sentuhan rohani, seperti yang saya dapat dari agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. ini. Saya merindukan Islam, agama yang insya Allah akan memberikan kebahagiaan dunia akhirat kepada saya dan keluarga. Sava lahir di Cirebon, 18 Mei 1950 dengan nama Oey Kiam Tjeng. Meski terlahir sebagai WNI keturunan Cina, saya bersyukur karena masih diterima di lingkungan tempat tinggal saya, yang tentu saja didominasi kaum pribumi.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya yang saat itu beragama Budha, sesuai agama keluarga kami, seringkali pula duduk di pengajian, karena teman-teman saya hampir semuanya ada di sana saat selesai shalat magrib, sampai menjelang isya. Saya merasa, apa yang saya lakukan saat itu adalah hal yang wajar-wajar saja, sesuai dengan yang biasa dilakukan oleh teman-teman saya yang lain. Apa yang saya anggap biasa-biasa itu, temyata tidak demikian di mata orang tua saya. Mama sempat menegur saya ketika saya dengan polos menirukan gerakan orang shalat, seperti yang pemah saya lihat saat bermain di rumah teman yang beragama Islam. Mama bilang saya tidak boleh sembarangan melakukan gerakan itu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pada akhirnya, apa yang selama ini saya khatiwatirkan terjadi juga, yang membuyarkan impian masa kecil saya tentang indahnya arti hidup tanpa ada perbedaan lahir maupun batin. Saat sekolah di SMU, saya mulai dianggap sebagai “orang luar”, karena saya memang sedikit berbeda dengan mereka, orang-orang Indonesia ashi. Namun, saya tetap berkeyakinan kalau semua itu cuma berlaku sebagai ejekan teman-teman belaka. Tekad yang ada dalam hati saya saat itu cuma satu, meski cuma WNI keturunan Cina, tapi saya juga punya semangat dan rasa cinta tanah air Indonesia, seperti pribumi lainnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tahun 1979, saya bertemu seorang gadis cantik yang juga ketutunan Cina, beragama Kristen. Namanya Thio Loan Kiok. la tipe gadis idaman saya. la cantik, pintar, dan berasal dari keluarga baik-baik. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1981, kami resmi menikah sesuai agama calon istri saya, Kristen Katolik. Meski demikian, saya menolak untuk dibaptis dan diberi nama baru. Saya bilang, “Saya mau menikah dengan calon istri Katolik, tapi tidak untuk dibaptis.” Waktu itu kami menikah di Cirebon, dan selanjutnya menetap di sana.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tahun 1985, saat saya memutuskan untuk pindah ke Plered, Jawa Barat. Bisa dikatakan ini sebagai awal pertemuan saya kembali ke Islam dan itu terjadi lewat kejadian tidak disengaja dan unik. Ceritanya bermula saat istri saya yang mengurusi KTP mendapatkan status keagamaannya (tak disengaja) tertulis Islam, padahal ia beragama Kristen Katolik. Tapi istri saya anehnya tidak merasa keberatan dengan kesalahan itu. la yang memang sudah tidak terlalu aktif dengan kegiatan di gereja, yang terletak di kota Cirebon, bahkan terlihat senang-senang saja dengan ketidak sengajaan petugas kecamatan itu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tiga minggu sesudah kejadian itu, Dion bertemu saya di the Islamic Forum for non Muslim New York yang saya asuh. Rambutnya panjang. Gaya berpakaiannya membuatku hampir tidak percaya kalau hatinya begitu lembut menerima hidayah Ilahi. Biasanya ketika menerima pendatang baru di kelas ini, saya mulai menjelaskan dasar-dasar Islam sesuai kebutuhan dan pengetahuan masing-masing peserta. Tapi hari itu, tanpa kusia-siakan kesempatan, saya jelaskan makna shalat dalam kehidupan manusia, khususnya dalam konteks manusia modern yang telah mengalami kekosongan spiritualitas.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sebaliknya, lingkungan masyarakat tempat tinggal kami didominasi penduduk pribumi yang notabene kaum muslim. Mereka cukup konsisten dengan agamanya. Itu dapat saya saksikan dengan aktivitas kegiatan-kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan di masjid dekat rumah kami. Masjid menjadi pusat kegiatan mereka. Dari anak-anak, remaja, kaum ibu, dan kaum bapak, menggunakan masjid itu sebagai tempat pembinaan. Pokoknya, tiada hari tanpa kegiatan. Ini amat berbeda dengan yang saya saksikan di wihara (rumah ibadah umat Budha). Wihara tampak amat lengang dan sepi dari aktivitas kemasyarakatan. Entah dari mana asal mulanya, saya jadi sering membanding-bandingkan antara Budha dan Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Semakin saya bandingkan, saya semakin memahami kesempurnaan dan kebesaran Islam. Sementara itu, orang tua saya tidak tahu pergolakan yang terjadi di dalam hati saya ini, karena saya terlihat oleh mereka masih aktif pergi ke wihara. Padahal, pada saat itu saya sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap ajaran Sang Budha. Contohnya, Tripitaka sebagai kitab suci umat Budha, menurut nalar saya, tidak mampu menjawab persoalan-persoalan yang menjadi ganjalan saya secara tuntas, seperti persoalan yang menyangkut konsepsi ketuhanan dan kehidupan sesudah mati.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dari cerita mahasiswa Turki itu, saya makin tertarik. Terus terang, masyarakat Jepang jarang bercerita tentang agama. Dan informasi mengenai agama lain pun kurang terdengar, apalagi Islam. Justru yang selalu mereka dengungkan adalah belajar, belajar, dan bekerja. Agama bukanlah hat yang pokok. Shinto hanya sebuah kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Jepang yang dijadikan kepercayaan negara. Oleh sebagian kaum tua Jepang, kepercayaan Shinto masih tetap hidup. Misalnya, ketika panen melimpah, mereka melakukan upacara untuk mengucapkan terima kasih pada Dewa Inori (dewa pertanian). Tapi kini, kepercayaan Shinto sudah dianggap keno dan tergusur oleh kemajuan zaman.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Mohammed El Homrani, petinggi club sepak bola El Fathi Riyadi-Rabat yang juga merupakan salah satu sahabat karibnya mengatakan, bahwa Troussier pernah mengontaknya dan mengatakan bahwa ‘saya telah mengucapkan syahadat’. Hal tersebut terbukti dengan adanya dua saksi resmi dari Pengadilan Agama di rumahnya yang diminta Troussier untuk membimbing dalam belajar Laa Ilaaha Illallah Wa Anna Muhammadan Rasullah. Adapun syahadat yang dipelajari oleh dia adalah Asyhadu An Laa Ialaha illah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu Rasullah.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya menjelaskan rukun Iman, rukun Islam, tentu dengan membandingkan konsepsi iman dan ibadah antara Islam dan Katolik. Selain itu juga saya jelaskan tentang konsepsi Islam itu sendiri dalam kehidupan nyata manusia. Bahwa Islam itu adalah kehidupan kita. Dengan aturan Islam itulah kita hidup dengan lebih sehat dan bahagia. Beberapa hal memang saya rincikan, sepertyi pelarangan makan babi, minum Khamar, judi, hubungan tanpa nikah, dll. Tentu saya juga jelaskan bagaimana menjaga hubungan silaturrahim dengan semua pihak, khususnya dengan orang tua dan sanak keluarga.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Profesi biarawati membuat saya lebih mantap menjadi seorang Kristen, sehingga waktu itu, saya kurang hormat dan bahkan sangat benci kepada agama lain, terutama Islam. Bagi saya, kegiatan keislaman, khususnya di sekitar tempat saya tinggal, sangat mengganggu. Bunyi azan, shalawatan yang dilantunkan dengan memakai pengeras suara dari masjid, membuat bising dan gaduh, sehingga sangat mengganggu. Apalagi ketika mereka shalat, saya selalu bertanya, “Buat apa orang susah-susah sujud, nungging, dan lain lain?” Bagi saya, waktu itu, ini sangat lucu dan tak masuk akal.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tetapi, selama 16 tahun saya melakukan kegiatan keagamaan, tak membuat saya bahagia. Tak ada rasa kebahagiaan di sana. Apalagi menyambut hari Natal, bagiku bukan hal istimewa. Semuanya biasa saja. Tetapi anehnya, pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam takbiran, saya merasakan keharuan dan kebahagiaan yang mendalam. Bahkan, saya merinding mendengar asma Allah itu. Ada getaran tersendiri di hati. Tanpa sadar, saya mengeluarkan air mata. Padahal setiap tahun nadanya sama saja. Hal ini juga saya rasakan ketika saya menyimak renungan Ramadhan di televisi, saya sangat menikmati dan memberikan ketenangan batin.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Eugene Francis Netto – yang akrab disapa Gene (baca: Jin) – pagi menjelang Zuhur itu tampak bersemangat membina sejumlah mualaf di bilangan Kuningan, Jakarta. Tema yang dibahasnya saat itu adalah tentang bagai-mana berwudhu yang baik dan benar. Gaya mengajarnya yang komunikatif membuat dirinya disukai kaum ibu. Selain humoris, wajah Gene yang boleh dibilang cukup lumayan handsome itu, juga banyak meng-undang hadirat ngefans. Tapi pria kelahiran 28 April 1970 itu hingga kini masih betah bertahan hidup single.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Gene lahir di Selandia Baru (New Zealand) dan dibesarkan dalam Keluarga Katolik. Tapi orang tuanya jarang ke gereja dan tidak pernah membaca Al Kitab, bahkan kurang suka jika Gene sering-sering bertanya tentang agama. Ketika Gene tinggal dan sekolah di Australia, hampir semua temannya mengaku beragama Kristen. Ada juga yang mengaku ateis dan agnostik. Yang disebut terakhir ini tidak mau menyatakan Tuhan itu ada, atau tidak ada. Biasanya, mereka menunggu bukti tentang adanya Tuhan, baru mereka percaya. Karena sejauh ini tidak ada bukti yang memuaskan mereka, maka mereka tidak mengikuti salah satu agama tertentu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ia merasa tercengang setelah mem-bandingkan Al Qur’an dengan kitab suci agama lain, isi Al Qur’an tidak sedikit pun mengalami perubahan, padahal usianya telah mencapai 1.400 tahun. Sementara kitab suci agama lain sering berubah-ubah, karena bahasanya berbeda-eda. “Tapi lagi-lagi saya belum mantap, lantas membayangkan, ajaran Islam adalah agama yang berat dan banyak pantangan-nya. Bayangan saya, kalau nanti masuk Islam, apakah saya bias menjalankan ajaran Islam dengan benar, seperti shalat wajib lima waktu, puasa Ramadhan, zakat dan haji, dan ajaran moralitas lainnya.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tahun 1996, Gene resmi memeluk Islam atas kesadarannya sendiri. Setiap kali shalat, Gene merasakan betapa dekat dirinya dengan Tuhan. la seperti bicara langsung denganNya. Dalam hal memohon ampun pun, ia tak perlu perantara. Kini hatinya baru terpuaskan dengan kehadiran Islam sebagai jalan hidupnya. “Meski saya menghadap Tuhan ketika shalat, saya tidak lagi ngotot untuk melihat Allah pada saat saya masih di dunia ini. Terpenting, Allah ridho dan mengampuni seluruh dosa-dosa saya. Itu saja,” katanya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Seperti asumsi kebanyakan non-Muslim lainnya, mamanya juga meng-anggap Islam itu agama kuno, ajarannya terbelakang dan tidak manusiawi, penuh intrik, teroris, serta penuh dengan hal-hal negatif lainnya. “Padahal, seperti yang saya amati dari ajaran Islam tentang shalat berjamaah, sesungguhnya ada hikmah yang terkandung di dalamnya, yakni mendorong persatuan dan persaudaraan. Manusia berada pada kesamaan derajat di hadapan Tuhan. Tak peduli kaya ataupun miskin, semua sama. Siapa yang datang lebih dahulu berada di saf terdepan, tak ada yang berhak melarang. Begitu pula, saat berjamaah, seluruh makmum berada di bawah satu komando. Bahkan jika imam batal, ia bisa diganti dengan yang lain. Simple sekali Islam itu,” ungkap Gene.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Di depan pesawat televisi, saya terbengong-bengong menyaksikan betapa manusia berada pada kesamaan derajat di hadapan Tuhan. Terus terang saya kagum, sehingga setiap malam saya selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan shalat Tarawih. Sebelum Muslim, saya tidak pernah menjumpai di mana pun sebuah massa besar berkumpul dalam satu bangunan melakukan gerakan yang sama, teratur, tertib, dan penuh ritmik. Sambil melihat gerakan-gerakan itu, saya mencocokkannya dengan buku panduan .shalat. Di depan telivisi, saya coba mengikuti gerakan shalat, sekaligus menghafal bacaannya yang ada dalam buku panduan shalat yang saya miliki.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tidak cukup puas dengan shalat, Gene kemudian membuka tafsir Al Qur’an. la merasa takjub dengan keindahan rang-kaian firman Allah yang mirip puisi, tapi bukan puisi, juga bukan dongeng. Bagi Gene, Al Qur’an itu bisa menjadi petunjuk, bila dibaca disertai memahami maknanya. Tanpa mengerti maknanya, tidak mungkin Al Qur’an menjadi petunjuk. “Itulah sebabnya, saya begitu asyik dan larut kalau sudah mendengar dan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an. Hanya saja, tak ba-nyak umat Islam yang menghayati dan mengamalkan isi kandungan Al Qur’an tersebut. Sangat disesalkan lagi, bila masih banyak umat Islam yang belum bisa mem baca Al Qur’an.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Menurut mereka, kesulitan terbesar adalah meyakinkan keluarga bahwa pilihan yang mereka ambil merupakan sesuatu yang benar. Matoz misalnya, ia mengaku merasa terasing di tengah keluarga dan teman-temannya. ”Saya merasa sangat jauh dengan mereka,”ujarnya. Namun Matoz yang menemukan keindahan dalam Islam mengaku pengorbanannya sepadan dengan kedamaian dan kebahagiaan yang ia temukan dalam Islam. ”Mereka berpikir aku telah menolak jalan keselamatan karena tidak mempercayai Yesus Kristus sebagai putera Tuhan,”ujar Matos.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Cristina Martino, yang berasal dari Venezuela menyebut dirinya acap kali disangka berasal dari Iran dengan pakaian menutup aurat yang kini dikenakannya. ”Banyak orang menyangka saya berasal dari Iran setelah mereka melihat pakaian saya,”jelasnya. Keanehan orang dengan pemeluk Islam dari Amerika Latin memang biasa terjadi di Amerika Serikat. Pasalnya, masyarakat hispanik memang biasanya identik sebagai pemeluk kristen yang taat. Tak heran banyak orang yang tidak percaya jika beberapa di antaranya adalah seorang Muslim.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Menurut Sofian Abdul Aziz, direktur The American Muslim Association of North America di Miami, komunitas yang dipimpinnya seringkali mendapat permintaan Alquran dalam bahasa Spanyol. Beberapa tahun belakangan, jelasnya, ia sudah memberikan lima ribu terjemahan Alquran berbahasa Spanyol ke masjid-masjid dan penjara di selatan Florida. Uniknya, jumlah terbesar pemeluk Muslim di kalangan masyarakat latin justru didominasi oleh kaum hawa. Meski tidak ada catatan pastinya, namun diperkirakan dari 40 ribu muslim hispanik, 60 persennya merupakan wanita.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sebagian lagi mempelajari Islam pasca peristiwa 11 September yang kemudian menyudutkan para pemeluk Islam. Dari keingintahuan tentang Islam, mereka kemudian tertarik dan akhirnya menjadi seorang Muslim. Tak sedikit pula yang merasakan kehampaan dalam agama mereka sebelumnya, dan menemukan apa yang mereka cari dalam Islam. ”Agama Katolik Roma tidak pernah berhasil dengan saya. Setiap beribadah saya merasa tengah berdoa kepada malaikat dan patung. Sekarang saya benar-benar beribadah kepada Tuhan,”ujar Missy Sandoval. Ada raut bahagia di wajahnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sanchez, yang saat itu tengah mengambil studi doktoral di bidang antropologi budaya, menjadi seorang Muslim dan tertarik untuk mencari data tentang komunitas Muslim hispanik di negara adidaya tersebut. Dengan cepat, organisasinya berkembang dan melakukan promosi untuk memperkenalkan Islam lewat pembagian Alquran dan pamflet tentang Islam. Sekarang LADO telah memiliki cabang di Austin, Illinois, Massachusets, dan Arizona.Seiring dengan perkembangan organisasai tersebut, semakin lama penganut Islam asal Amerika Latin ini terus berkembang, terutama sejak lima tahun belakangan. ”Fenomena ini sebenarnya sudah cukup lama terjadi di seluruh Amerika Serikat,”ujar Sheikh Zoubir Bouchikhi, imam Masjid Raya Houston.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Namun meski jumlahnya terbilang sedikit, keberadaan Muslim hispanik ini memberikan pengaruh tersendiri, terutama di dalam komunitasnya. Pasalnya, bukan hanya memeluk agama Islam, mereka juga aktif melakukan kegiatan untuk memperkenalkan Islam, dan menggelar pengajian serta belajar bahasa Arab. ”Angka stastistik sulit diterka, namun yang pasti, kaum hispanik menjadi minoritas yang cukup membawa pengaruh dalam perubahan keyakinan masyarakat Amerika,”jelas Bagby. ( uli/berbagai sumber/Mualaf Center Online )

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Mary Fallot adalah gadis berkebangsaan asli Prancis. Ia lahir dan dibesarkan di negara yang dikenal sebagai kiblat mode dunia itu. Yang berbeda, Fallot ternyata beragama Islam. Terlihat jilbab mungil menyelimuti kepala wanita yang telah memeluk Islam tiga tahun lalu itu.Namun, fenomena berbondong-bondongnya wanita kulit putih berkebangsaan Prancis yang masuk Islam, justru menggusarkan sejumlah kalangan. ”Fenomena ini sedang booming dan itu mengkhawatirkan kami,” kata Kepala Badan Intelijen Dalam Negeri Prancis, Pascal Mailhos.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Memang, ketakutan berlebihan yang tak beralasan sedang menjangkiti sebagian besar warga Eropa. Mereka khawatir cara kematian Muriel Degauque, warga Belgia yang masuk Islam, karena meledakkan dirinya dalam serangan ke tentara Amerika Serikat (AS) di Irak, akhir tahun kemarin, akan ditiru. Bom manusia oleh Degauque ini, mereka generalisasi bahwa mualaf –sebutan bagi yang baru masuk Islam– berpotensi melakukan hal serupa. Sementara, sebagian besar dari mualaf di Prancis adalah wanita. Bagaimana Fallot menanggapi paranoid pihak keamanan Prancis itu? Wanita muda ini menolak semua anggapan tak berdasar tersebut. Ia masuk Islam bukan karena keterpaksaan. Tak adanya penjelasan rinci atas beberapa pertanyaan mendasar dari agama yang dianut sebelumnya, membuat ia tertarik masuk Islam. ”Bagi saya, Islam menyampaikan cinta, toleransi, dan kedamaian,” katanya tulus.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

AYAH saya seorang pastor atau pendeta dalam agama Kristen Katolik. Beliau mengajarkan Alkitab (Injil) pada saya sejak saya masih kecil dengan harapan agar saya menjadi penerus cita-citanya di kemudian hari. Saya belajar Alkitab pasal demi pasal dan ayat demi ayat dengan seksama. Berkat bimbingannya, saya betul-betul memahami kandungan dan tafsiran Alkitab. Sejak saya berumur empat belas tahun, saya diberi kepercayaan berceramah di gereja pada setiap hari Minggu dan hari-hari keagamaan Kristen lainnya. Setelah saya banyak membaca Alkitab, banyak saya dapatkan kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. Dalam Alkitab, antara pasal satu dan pasal lainnya banyak terjadi pertentangan, dan banyak ajaran gereja yang bertentangan dengan isi Alkitab.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dalam ajaran gereja, seorang bayi yang lahir akan membawa dosa warisan dari Nabi Adam dan 1bu Hawa. Juga, bayi yang mati sebelum dibaptis tidak akan masuk surga. Ajaran ini bertentangan dengan Alkitab Yehezkiel pasal 18 ayat 20 dan Matius pasal 19 ayat 14 menerangkan bahwa manusia hanya menanggung dosanya sendiri, tidak menanggung dosa orang lain. Bayi yang meninggal sebelum dibaptis akan masuk surga, karena anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang yang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan orang yang fasik akan menanggung akibat kefasikannya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Christiana Adriana adalah nama pemberian orang tua. Sesuai nama saya yang berawalan Christiana, orang sudah mafhum dengan agama saya. Saya memang pengarut agama Kristen Katolik. Sejak kecil, kedua orang tua kami selalu menanamkan ajaran Kristen dalam mendidik kami, anak-anaknya. Bersama kedua orang tua, saya pun aktif dalam setiap kegiatan gereja. Bahkan, ibu saya adalah seorang aktivis gereja yang bertugas memberi makan para pendeta. Sebagai penganut agama Kristen Katolik yang taat, saya sangat rajin membaca Alkitab. Selain itu, saya juga banyak membaca kisah-kisah Nabi Isa. Saya juga sangat kagum dengan gambar Bunda Maria yang saya tempel di banyak sudut rumah.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setelah berteriak seperti itu, pegangan tangan itu pun mengendur dan lenyap. Kemudian, saya tak sadarkan diri. Dalam keadaan seperti itu, saya mengalami halusinasi. Saya merasa dibawa entah oleh siapa ke sebuah padang yang sangat luas. Di hadapan saya terdapat gumpalan bara sebesar gunung. Semua rumput bersujud. Kemudian secara sayup-sayup saya mendengar kumandang suara azan. Lantunan suara suci itu begitu menyayat hati. Saya merasa begitu bersalah selama ini. Keempat, setiap kali saya mendapat kesulitan, muncul seseorang memakai sorban yang berdiri tegar di hadapan saya. Orang itu kemudian mengatakan, “Apa yang engkau inginkan? Apa belum cukup kebesaran yang Aku tunjukkan?”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini saya mendapat pendidikan penuh. Saya wajib mengikuti kegiatan seminari. Kemudian, saya diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama tiga tahun enam bulan pada Gereja HKBP Sebagai calon pendeta dan penginjil pada Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dalam kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan para pemuka kampung. Mereka menanyakan maksud kedatangan kami. Kami menjawab dengan terus terang. Keterusterangan kami ini oleh mereka (tokoh masyarakat) dijawab dengan ajakan berdialog. Kami diajak ke rumah tokoh masyarakat itu. Di sana kami mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat itu mengakui, tujuan kegiatan kami tersebut sangat baik. Namun, ia mengingatkan agar jangan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama. Mereka pada prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Dialog antara kami dan tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah terdengar azan magrib. Kemudian, kami kembali ke asrama sebelum kegiatan itu berlangsung sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat tersebut terus membekas dalam pikiran saya. Lalu, saya pun membaca buku Dialog Islam Kristen tersebut sampai 12 kali ulang. Lama-kelamaan buku itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya, saya ditegur oleh pendeta. Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti Alkitab. “Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga pernah mengikuti kuliah seminari,” katanya dengan nada menantang dan sinis.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kemudian saya pergi naik kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu saya berkenalan dengan seorang muslim yang berasal dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian saya dan posisi saya yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke kota Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal selama satu tahun. Saya dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka. Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kepada beliau saya utarakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama dan kegiatan saya. Tak lupa pula saya jelaskan tentang keraguan saya pada isi Alkitab yang selama ini saya imam sebagai kitab suci, karena terdapat kontradiksi pada ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab secara panjang lebar, K.H. Khotib Umar tampak sangat terharu. Secara spontan beliau merangkul saya sambil berkata, “Anda adalah orang yang beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya.”

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Lalu beliau membimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum ikrar saya ucapkan, beliau memberikan penjelasan dan nasehat. Di antaranya, “Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam. Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu. Jadi, pada hakikatnya Islam adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrahnya,” ujar beliau panjang lebar. Saya amat terharu. Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua mata saya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tentu saja, saya bukanlah apa-apa. Semua peran dakwah yang saya lakukan, termasuk lewat buku ini tak lepas dari dorongan dan bantuan banyak pihak. Dengan tidak bermaksud mengecilkan peran yang lain, pada kesempatan ini saya perlu menyampaikan secara khusus ucapan terimakasih kepada yang terhormat; H Junus Jahya, Dr. M. Roem Rowi, K.H. Kosim Nurzeha, S.Ag, H. Bisri Ilyas, H. Tamat Anshari Ismail, Dr. Ir. H. Joko Sungkono, Ust. Drs. Abdus Syakur Thawil, Ust. Khairul Yunus, dr. H. Yunus, H. Suhadi, H. Harianto, dan Hj. Sumindro. Juga kepada Muhammad Syafi’I Antonio, MSc, yang berkenan memberikan pengantar buku ini. Atas dorongan dan bantuan beliau-beliau, saya mampu menyelesaikan buku ini. Semoga Allah SWT menerima dan memberi balasan yang setimpal.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pengalaman sejarah menunjukkan “ofisialisasi” perayaan Natal bagi bukan pemeluknya (Muslim – Hindu – Budha) telah menimbulkan polema yang cukup besar antara umat Islam yang diwakili MUI dengan pemerintah di satu sisi, dan antara umat Islam dengan umat Kristiani di sisi lain. Jelas bangsa Indonesia tidak menghendaki terulang tragedi yang tidak bijaksana dan tidak benar ini. Apatah lagi kalau harus mengorbankan putra terbaik seperti Buya HAMKA pada saat bangsa Indonesia membutuhkan satu kesatuan dan kepaduan dalam memasuki PJPT II dan menghadapi era globalisasi.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sebagian dari kita ada yang memahami atau memaknai fenomena itu sebagai solidaritas untuk kerukunan umat beragama. Artinya, sampai pada batasan tertentu umat Islam boleh berinteraksi dengan umat Kristiani, apalagi perayaan natal adalah perayaan kelahiran Yesus Kristus, yang notabene dalam Islam adalah Isa Al Masih, yang diyakini termasuk salah seorang Nabi. Jika kemudian saudara kita sesama umat Islam ikut merayakan Natal, tentunya tidak apa-apa. Bukankah kita juga harus selalu mensuri tauladani peri hidup para Nabi dan Rasul.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Demikianlah, setiap fenomena yang kita temui pada skala realitas pada dasarnya selalu bersifat multi wajah sehingga melahirkan beraneka pemaknaan, pemahaman dan penyikapan. Maka dibutuhkan; Pertama, sifat intelektual. Untuk supaya dapat memahami suatu fenomena secara menyeluruh, informasi yang penuh perlu dimiliki. Tidak ada harapan untuk memahami sesuatu tanpa adanya informasi itu. Kedua, yaitu diperlukan kondisi emosional yang cukup, untuk bisa berlapang dada menerima suatu kebenaran. Ketiga, adalah kemauan untuk menerima realitas tersebut, yang diorientasikan ke arah tujuan yang konstruktif.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Begitu semaraknya perayaan tersebut, sampai-sampai, paling tidak, membawa tiga kesan: pertama, perayaan Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember adalah sebuah ritus yang berlandaskan nilai kebenaran. Kedua, perayaan Natal telah mencapai “maqam” gengsi -simbol status sosial. Sebuah simbol yang membanggakan bagi orang yang merayakannya atau bagi mereka yang turut “berpartisipasi”. Sebaliknya mereka yang tidak “menyambut” perayaan Natal, terkesan tidak prestisius. Ketiga, seolah-olah mayoritas penduduk negeri ini adalah kaum Nasrani. Padahal secara statistik, jumlah mereka tak lebih dari 15 persen.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Berbeda dengan realitas perayaannya yang gemerlap, sejarah Natal 25 Desember sendiri cukup buram. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak banyak kalangan – termasuk kaum Kristen sendiri- yang paham tentang sejarah perayaan Natal yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember tersebut. Salah satu sebabnya adalah tidak adanya literatur yang membeberkan tentang Natal. Jikalau ada hanya memuat keterangan bahwa Natal adalah perayaan orang Nasrani yang jatuh pada tanggal 25 Desember sebagai peringatan hari kelahiran Yesus.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro Fenesia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dan anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. “Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar Tuhan. Tetapi anjing yang dibawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak. “Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” (Markus 7:26-29).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Namun adakah suatu bangsa yang rela terus menerus ditindas, dijajah, ataupun diperbudak? Demikian pula dengan bangsa Filistin (Palestina), penduduk asli negeri itu, yang setelah melalui perjuangan berat akhirnya bangsa Filistin menang. Kemenangan bangsa Filistin tersebut membuat keadaan menjadi terbalik. Bangsa Yahudi – sang penindas- kini dalam bayang-bayang tertindas. Maka mereka memohon agar Yahwe (Tuhan Israel) segera mengutus seorang Al Masih (Juru Selamat) agar mereka jaya dan berkuasa lagi.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ayat ini dialamatkan kepada Raja Syrus yang pagan, untuk memenuhi kerinduan akan datangnya penyelamat, walaupun pada kenyataannya ayat tersebut adalah nubuat dari nabi Yesaya akan datangnya seorang Koresy (Quraisy) sebagai nabi akhir, yaitu Muhammad Saw. Amatlah mustahil jika Tuhan menyayangi seorang kafir untuk diurapi. Apalagi ternyata bahwa belum lama bangsa Yahudi dipimpin oleh Al Masih yang kafir, situasi keamanan dan politik berubah kembali dengan datangnya serbuan pasukan Romawi. Maka kembali lagi seperti pada peristiwa sebelumnya, yakni ketika bangsa Israel menangis, meraung, dan memohon kepada Yahwe untuk diberi Al-Masih atau seorang Juru Selamat untuk membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa Romawi. Maka mereka berangan-angan dan menyusun kriteria Al Masih.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Yesus dalam tradisi sejarah umat Islam sebenarnya adalah Isa Al Masih putra Maryam. Sebutan “Isa” (dalam bahasa Arab) berasal dari bahasa Ibrani dari kata “Esau”. Dalam bahasa Latin nama itu menjadi “Yesus”. Munculnya nama Yesus terjadi pada peristiwa pengadilan Isa Al Masih oleh mereka yang hadir dengan menambahkan huruf “J” pada awal dan “S” pada akhir kata “Esau” sehingga menjadi Yesus. Nama Yesus baru populer pada abad ke-2. Populernya nama Yesus akhirnya menenggelamkan nama asli Esau di kalangan Kristen. Sedangkan Al Qur’an dan umat Islam tetap mempertahankan nama Esau (Isa dalam dialek Arab).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sebagian lagi ada yang berpendirian bahwa Yesus itu dilahirkan secara murni suci, tanpa campur tangan (unsur jantan) manusia. Oleh karena itu Yesus adalah “anak Tuhan”. Tetapi pihak yang berpendapat demikian juga bertentangan dalam memahami dan menafsirkan kata “anak Tuhan” tersebut. Di satu pihak memahaminya secara harfiyah (literal), bahwa Yesus adalah anak secara “biologis”, yakni anak yang kejadiannya memerlukan campur tangan Tuhan secara langsung kepada Maryam melalui ruh yang suci. Pemikiran tersebut nantinya melahirkan konsep ketuhanan “Trinitas”: Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Tuhan Roh Suci. Akan tetapi sebagian pihak memahaminya secara kiasan (metafora). Bahwa anak, bukan dalam pengertian “biologis” atau nasab, melainkan kiasan saja. Pendapat seperti ini didasarkan oleh adanya penyebutan anak yang bukan hanya kepada Yesus, sebagaimana penjelasan Bibel di bawah ini:

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus ruh kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata; Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa. Ia (Jibril) berkata: Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci. Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorangpun manusia menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina. Jibril berkata: Demikianlah, Tuhanmu berfirman: Hal itu mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ketempat yang jauh. ” ( Maryam/19:16-22 )

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat munkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan? Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah, maka jadi ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” (Maryam/19:27-36).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Jadi, menurut Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu yang sedang melaksanakan sensus penduduk (7M=579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka bertiga ke sana, dan lahirlah Yesus Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal tidak mustahil.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (Surat Maryam: 23-25)

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Pemuda yang bernama Gunawan (19) ini, diketahui murtad setelah mengalami kecelakaan dan dirawat di klinik miliknya. Malam itu juga, pemuda asal Lampung ini dibawa ke FAKTA. Gunawan bercerita, setelah ayahnya meninggal, ia mondok dan sekolah di sebuah MTs di Leuwiliang, Bogor, atas biaya pamannya. Setelah lulus tahun 2003, ia berkenalan dengan Ferdinand, laki-laki Batak. Gunawan diajak ke Bekasi dan dikenalkan pada pendeta, juga asal Batak. “Diajak ke gereja saya nurut,” tutur Gunawan yang sudah mulai menjadi penginjil.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Jakarta: Perjalanan hidup manusia memang tidak bisa ditebak. Masa lalu yang kelam tak serta-merta membuat masa depan juga gelap. Johny Indo, misalnya, mantan bintang film yang pernah di penjara, kini menjadi mubalig. Sekilas, tak ada yang menyangka pria sederhana yang telah memasuki usia uzur ini adalah sosok yang dulu terkenal, Johny Indo! Johny Indo alias adalah salah satu anggota gerombolan yang merampok toko emas di Cikini, Jakarta Pusat, pada 1979. Perampokan ini menjadi berita yang menggemparkan karena gerombolan membawa lima pistol, satu buah granat, dan puluhan butir peluru. Buah dari aksinya, Johny Indo dijatuhi hukuman penjara 14 tahun. Namun baru tiga tahun menjalani hukuman, ia dan gerombolan berjumlah 34 orang berusaha melarikan diri. Menurut Johny, ia melarikan diri semata-mata mengikuti naluri.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Mendengarkan penuturan dan kisah hidup Johny Indo bak adegan dan setting sebuah film. Lantaran itu pula, kisah bekas terpidana 14 tahun kurungan penjara di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan itu menarik minat PT Tobali Indah Film. Kisah itu diangkat ke sebuah filam layar lebar berjudul Johny Indo, Kisah Nyata Seorang Narapidana. “Saya menjadi bintang utamanya atas rekomendasi Harmoko dan Menteri Kehakiman saat itu Ismail Saleh,” kata Johny Indo yang mempunyai nama Belanda Johanes Hubertus Eijkenboom.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Johny Indo alias Haji Umar Billah dikenal sebagai bekas perampok spesialis emas yang ditakuti pada era 70-an. Kini mantan perampok itu menjadi mubalig.Sukabumi: Masih ingat kisah pelarian 35 narapidana dari Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada 1982? Bila masih, tentu Anda tak lupa dengan tokoh utamanya yang legendaris Johny Indo. Bekas garong yang paling ditakuti ini sekarang tobat total dan menjadi mubalig alias dai. Ketika ditemui SCTV di rumahnya di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, belum lama berselang, bekas perampok yang kini bernama muslim Umar Billah ini bercerita panjang lebar seputar kehidupannya yang penuh petualangan. Johny Indo muda bernama asli Johanes Hubertus Eijkenboom. Nama tambahan “Indo” muncul kemudian ketika ia berurusan dengan polisi. Dalam Berita Acara (BAP) pemeriksaan sebuah kasus, tiba-tiba saja polisi memberikan nama tambahan itu. “Jadi sebenarnya nama Indo itu adalah anugerah dari polisi,” kata Johny, yang memang blasteran Belanda-Pandeglang, Banten.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Secara berkelakar, Johny menjadi perampok atau penjahat sebenarnya “tak disengaja”. Selain lantaran kemiskinan yang menjerat, menurut dia, saat itu seseorang sangat mudah mendapatkan senjata api. “Awalnya main-main. Ketika itu saya coba-coba menembakkan senjata dan orang ketakutan. Bahkan ada orang yang meninggalkan hartanya. Setelah itu menjadi keterusan,” tutur Johny mengenang. Johny dikenal sebagai spesialis perampok toko emas. Daerah operasinya di Ibu Kota, antara lain Sawah Besar, Jatinegara, Tanahabang, dan Roxy. Total jenderal, sembilan toko yang dirampok menghasilkan 120 kilogram emas. Hasil rampokan, menurut Johny, selain untuk berfoya-foya juga dibagi-bagikan sebagian ke orang-orang miskin atau kaum duafa. Kendati demikian, kisah yang menyerupai Robin Hood itu, tetap diakui Johny sebagai kekhilafan dan membuat dia terdampar di “Alcatraz”-nya Indonesia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kisah Johny tak berhenti di situ. Setelah bebas dari Nusakambangan, Johny akhirnya memeluk agama Islam. Namun, keputusannya itu mendapat tantangan dari keluarga dan berakhir dengan perceraian dari Stella. Dari istri pertamanya itu Johny dikarunia lima anak. Selama tiga tahun Johny menduda. Selama itu ia bukan malah menjadi orang baik-baik. “Penyakit lama” kumat kembali bahkan Johny memiliki puluhan anak buah dengan bersenjata lengkap. “Boleh dikatakan saat itu kami bukan perampok lagi tetapi gerombolan kecil,” kata Johny yang kerap membawa tiga pistol dan menjepit granat di ketiaknya ini mengenang.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Berikut ini kami sajikan sebuah pengakuan dari ustadz Agus Slamet (d/h Na Peng An mantan pendeta cilik) seorang mubaligh dan sekarang menjabat sebagai Sekretaris Depertemen Komunikasi dan Informasi/Korps Mubaligh DPP PITI dari situs mualaf.com , simak bagaimana perjalanan panjang beliau dari belenggu Kebencian beliau terhadap Islam akibat pendidikan yang sudah ditanamkan sejak “Di Sekolah Kristen” – program kristenisasi hingga akhirnya memperoleh hidayah Islam dan bahkan sekarang Subhanallah aktif sebagai Dai PITI.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Setelah lulus SD, saya disekolahkan ke SMP Katolik V** T****** (edited) di jalan KB. Mas Mansyur, Tanab Abang, Jakarta Pusat. Sementara itu, pada saat yang sama saya tinggal di asrama sekolah khusus calon pendeta. Pelajaran yang saya terima pun semakin meningkat. Kami, para siswa sekolab khusus, di samping terus mengikuti peridalaman Injil, juga diajarkan bagaimana cara menghancurkan agama Islam dengan jalan merombak sikap hidup islami kaum muslimin. Terutama, menciptakan dekadensi moral di kalangan remaja muslim. Dan cara yang paling ampuh, melalui jalan pernikahan. Kami yang laki-laki disuruh menikahi gadis-gadis muslimah. Sedangkan, yang perempuan disuruh menikah dengan pemuda Islam Lari Dari Tugas.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Klimaks dan semua itu, saya mengundurkan diri dan sekolah khusus. Akibatnya, semua jaminan dan fasilitas yang saya dapatkan selama itu, dicabut. Waktu itu tahun 1976, saat akhir di kelas I dan kenaikan kelas. Ketika pembagian rapor kenaikan, saya keluar dad SMP Van Tarsius itu. Saya memutuskan pindah sekolah. Sebagai konsekuensinya, saya harus memikirkan soal biaya sekolah. Padahal, sebelumnya serba gratis. Beruntung ada seorang kenalan saya yang menjadi kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) mau menerima saya mengajar di sekolah yang dipimpinnya. Waktu itu saya masih beragama Katolik. Saya diserahi mengajar bidang studi matematika dan IPS. Dengan cara itulah saya membiayai pendidilcan saya di SMP sampai kemudian menamatkan SMA tahun 1980.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Selain pendidikan di gereja, saya juga belajar melantunkan lagu-lagu Mazmur, yakni puji-pujian pada Tuhan. Kegiatan yang dilakukan di gereja ini harus dilakukan secara khusyu. Selain itu, saya juga sering mengikuti upacara sakramen, yaitu pesta minum anggur dan makan roti (hosti) yang diyakini umat kristiani sebagai pengejewantahan darah dan daging Yesus Kristus. Untuk lebih memantapkan iman, kedua orang tua sepakat untuk mengirimkan saya ke asrama Katolik yang khusus menampung pelajar putri. Dari bekal pendidikan gereja yang saya jalani sejak kecil, lalu dikirim ke asrama Katolik, kedua orang tua saya sangat berharap saya menjadi seorang biarawati.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya berusaha untuk mewujudkan impian orang tua saya itu. Saya terus belajar dan bergaul. Lambat laun, pergaulan saya kini luas. Saya tidak hanya bergaul dengan teman-teman seagama saja, tetapi juga bergaul dengan teman-teman yang beragama lain. Pergaulan yang kian luas ini, temyata memberikan pemahaman baru tentang agama, selain agama Kristen. Dari pergaulan dengan anak seorang menteri yang beragama Islam itulah, saya mulai mengenal ajaran Islam. Dari sana pulalah, awal simpati saya kepada ajaran Nabi Muhammad saw. Tanpa sadar, saya mulai tertarik dengan ajaran-ajaran Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya tidak saja bergaul dengan teman saya itu, tapi juga bergaul dengan ayahnya yang menjadi menteri. Ayah teman saya itu, yang belakangan menjadi mertua saya, adalah seorang laki-laki yang sangat taat pada agamanya. Perilaku dan sikap calon mertua saya itulah yang mengembalikan pemikiran saya tentang agama. Lewat beliau, saya bagai menemukan sesuatu yang sangat berharga yang selama ini belum pernah saya peroleh. Kalau dulu, saya mengenal agama lewat penampilan figur orang tua saya dan ibu asrama, kini, lewat figur dan perilaku calon mertua saya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Selain pergaulan dengan keluarga calon suami, saya juga banyak mendapatkan pengetahuan tentang Islam dari lingkungan sekitar rumah. Saya sering mendengar azan, menyaksikan orang shalat, dan mendengar ayat ayat Al-Qur’an dilantunkan orang. Secara sembunyi-sembunyi, saya sering memperhatikan teman-teman saya sedang shalat. Mereka sangat khusyu dan tampak tenteram dalam shalatnya. Hati kecil saya tergerak untuk memperoleh kedamaian seperti itu. Dan situlah saya mulai tergerak untuk mengetaai lebih jauh tentang Islam. Terkadang timbul pertanyaan terutama tentang ibadah shalat. Apa yang terkandung di dalamnya? Mengapa wajah mereka makin segar seusai bersujud ke kiblat? Saya berpikir bahwa Islam adalah agama yang benar-benar masuk akal. Setiap umatnya selalu diingatkan untuk selalu sujud kepada Yang Maha Pencipta, lima kali dalam sehari.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Manusia punya rencana, tapi Allah punya rencana lain. Akhirnya, saya berpisah dengan suami. Kami bercerai. Saya harus mengasuh dan membesarkan anak-anak untuk mewujudkan cita-cita saya itu. Setelah lama mengasuh anak sendiri, kemudian saya menikah kembali untuk melengkapi keutuhan rumah tangga. Saya bersyukur kepada Allah yang telah menguji rumah tangga hamba-Nya. (Maulana/Albaz) (dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : ). Catatan: Wawancara berlangsung pada Sabtu, 10 Juli 1999 di Jakarta, beberapa waktu sebelum beliau wafat. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ia lebih suka dipanggil dengan nama panggilan barunya, Iman. Sebelum menikah dengan Ahmed, seorang pria asal Yordania, dia penganut Katolik. Imigran asal Kanada yang sudah sepuluh tahun bermukim di Italia ini menjadi Muslim sejak lima tahun lalu, atau dua tahun setelah menikah. Kendati suaminya Muslim, mereka jarang mendiskusikan soal agama. Iman justru mengenal Islam di sekolah anaknya. Seorang teman meminjaminya buku Islam in Focus. Pertanyaan bertahun-tahun yang tak terjawab oleh agamanya ada dalam buku itu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Kardinal Camillo Ruini di Roma mengatakan, perbedaan budaya seperti peranan wanita dan pendidikan anak-anak membuat kaum perempuan Katolik mengalami kesulitan jika menikah dengan laki-laki Muslim. “Pengalaman beberapa tahun belakangan ini, membuat kami mengeluarkan himbauan agar tidak melakukan perkawinan campuran, atau dalam kasus apapun tidak membenarkan perkawinan itu,” kata Ruini dalam siaran persnya. Kardinal Ruini juga mengungkapkan secara intrinsik, perkawinan beda agama itu sebagai perkawinan yang rapuh.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Para mualaf, kata Ali, masih memiliki kendala dan hambatan setelah masuk Islam. Memang, kata dia, masalah yang mereka hadapi itu bentuknya bukan penyiksaan seperti zaman dulu. Namun, tekanan dalam bentuk lain, misalnya tekanan perasaan. ”Kendala yang dihadapi oleh mualaf sekarang misalnya di sekolah, begitu tahu Islam langsung dikeluarkan oleh sekolah berlatar agama lain,” jelasnya. Beruntung, jalan keluar sudah diperoleh. Mereka menjalin kerja sama dengan Muhamadiyah dan lembaga pendidikan Islam yang lain untuk menampung mereka.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sup Yusup yang juga menjadi nara sumber dalam acara itu menceritakan, pada saat menjadi mualaf, etnis Tionghoa mengalami beberapa kendala. Terutama, kata dia, berkaitan dengan stigma yang dibangun tentang islam oleh non-Muslim. Islam, kata dia, diidentikan dengan tukang nyandung (poligami). Sehingga, kata dia, pada saat istrinya yang bernama Lie Ing masuk Islam, semua temannya menghina istrinya. ”Teman-teman istri saya mengatakan, kenapa harus masuk Islam, nanti hidup kamu tidak bahagia karena dimadu, lebih baik masuk agama lain saja asal bukan Islam,” katanya menirukan.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sedangkan menurut Ketua Pengurus Masjid Lautze Cabang Bandung, Muhamad Bobby Alandi, kondisi yang dialami oleh mualaf Indonesia sesuai dengan kondisi umat Islam. Saat ini, kata dia, kondisi umat Islam merosot di segala bidang, begitu juga dengan kondisi mualafnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. Pertama, kata dia, kondisi umat islam yang lemah itu bisa membuka peluang maraknya upaya-upaya pemurtadan. Jadi, kata dia, mualaf perlu diperhatikan dengan terus memberikan bimbingan. Oleh karena itu, pihaknya akan membangun pondok singgah di Bandung. Rencananya, pembangunan dilakukan mulai 2006.”Pondok singgah untuk mualaf harus ada sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mualaf,” ujarnya. ( Republika Online / n kie / Irwan MCOL)

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

BANYAK cara yang dilakukan Iga Mawarni untuk memahami Islam. Penyanyi jazz ini kerap menonton tayangan TV yang bernuansa keislaman. “Saya juga mendengarkan ceramah,” ujar kelahiran Bogor 24 Juni 1973 ini. Perkenalan dengan Islam dimulai ketika seorang teman menyarankan Istri Charles Rubiyan Afirin ini membaca tafsir Alquran. Lambat laun pelantun lagu Kasmaran ini terbuka hatinya. “Semua yang ada di Alquran adalah nasihat Allah, bukan buatan manusia,” kata ibu seorang putra ini. Keputusan Iga berpindah keyakinan sempat ditentang sang ibu. Namun sebagai anak dia tetap berbakti dan mendoakan sang bunda. “Semoga suatu saat Allah membukakan hatinya,” ujar dia.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejak kecil aku dididik di lingkungan Katolik. Di mata teman-teman aku termasuk Katolik fanatik. Kemanapun aku pergi, senantiasa memperkenalkan keyakinanku. Setelah bersosialisasi di bangku kuliah, aku lebih fair. Di kampus aku senang diskusi sama teman-teman seangkatan yang latar belakangnya berbeda – baik suku maupun agama. Dengan diskusi wawasanku kian terbuka. Dan dari pola pikir yang cukup demokratis itu kami senantiasa menghindari debat kusir. Segala yang dibicarakan berdasar referensi jelas. Bagiku itu menambah semangat membuka Alkitab. Sekaligus bikin catatan kaki buat persiapan diskusi sama temen-temen di setiap kesempatan. Ternyata semakin aku cermat mengkaji Alkitab, sering kujumpai poin-poin yang meragukan. Akhirnya aku bertanya sama teman seiman yang lebih ngerti isi Alkitab. Bahkan sama beberapa pendeta. Setiap aku bertanya, aku berusaha memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar agama, bukan sebagai orang yang seiman dengannya. Ternyata jawaban mereka justru bikin hatiku nggak puas.Seiring dengan keraguanku aku pelan-pelan menutup Alkitab. Aku ingin belajar yang lainnya.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Sejujurnya aku gengsi. Antara ogah dan ingin tahu terus bergelora dalam diriku. “Kenapa mesti Islam?” hatiku memprotes. Langkah pertama aku baca cerita para nabi melalui buku-buku tafsir. Alasanku, Islam dan Kristen itu historinya sama. Kecuali tentang kerasulan Isa AS dan Muhammad SAW. Di Kristen Nabi Isa utusan terakhir. Tapi dalam Islam ada lagi nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa, aku melihat bahwa al Qur’an itu lebih manusiawi. Artinya segala pertanyaan ada jawabannya. Ada hukum sebab akibat. Kenapa dilarang begini? Karena bisa berakibat begini. Itu yang bikin aku tertarik masuk Islam.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Menurutku, landasan awal seseorang meyakini suatu kepercayaan itu karena buku besarnya (kitab). Melalui itu kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Bagiku itu sudah jadi pegangan kuat. Sedangkan di agama lain, aku lihat banyak ayat yang ditulis oleh orang-orang pada masa itu. Dan aku lihat beberapa surat dalam Alkitab yang menceritakan kejadian sama tetapi versinya berbeda. Buatku hal semacam itu merupakan kasus besar. Karena kitab suci itu ternyata sudah disentuh oleh tangan manusia. Sedangkan ajaran Islam lebih realitis. Karena Al-Qur’an diwahyukan sebagai suatu keharusan. Sedangkan sunah Rasul lain lagi. Yaitu bersifat nggak mengikat. Ini lebih manusiawi.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Ternyata salah seorang dari mereka juga muallaf. Banyak pengalaman religiusnya yang bikin aku terkesan. Disamping memantapkan niatku masuk Islam. Cobaannya, ibuku aktivis kegiatan gereja. Karenanya aku mengupayakan agar keislamanku nggak diketahuinya dalam kurun waktu dua tahunan. Ternyata beliau tahu lebih awal dari yang aku rencanakan. Sebagai anak pertama pasti ibuku menaruh harapan besar terhadapku. Begitu tahu anaknya berbeda keyakinan, tentu batinnya terpukul. Itu cobaanku yang paling besar. Dimana aku merasa takut kalau ibu marah.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Tapi begitu semuanya sudah terbuka, aku pasrah sama Allah. Aku tetap menempatkan diri sebagai anak, yang harus senantiasa menghormatinya. Aku bersyukur karena akhirnya sikap mereka sudah lebih baik. Tapi selama “perang dingin” berlangsung aku nggak pernah mau menyinggung soal agama. Kalau hari besar agama baik natal atau lebaran aku sengaja nggak kumpul sama keluarga. Aku tahu, mereka kecewa terhadapku. Kalau aku hadir dalam hari besar mereka, tentu ada perasaan nggak enak. Namun komunikasi tetap jalan. Aku senantiasa mengunjungi orang tua. Alhamdulillah, pada lebaran beberapa tahun lalu, ibu menemuiku. Aku anggap ini blessing. Lebih dari itu, semua ini sudah diatur oleh Allah Swt. Aku yakin itu.

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Nama Mirza Riadiani barangkali memang tidak dikenal. Tetapi nama penyanyi cilik yang mencuat di tahun 70-an lewat lagu “Helly” nama seekor anjing kecil, pasti semua orang sudah dapat menebaknya. Ya. siapa lagi kalau bukan Chicha Koeswoyo yang sekarang lebih dikenal sebagai wanita karier. Chicha sekarang memang Direktur PT Chicha Citrakarya yang bergerak di bidang Interior Design, Enterprise, Grafic Design, dan Landscape. Yang jelas perbedaan antara Chicah cilik dan Chicha sekarang bukan pada penyanyi atau wanita karier; tetapi pada keyakinan imannya. Chicha hari ini adalah Chicha yang muslimah, yang hatinya telah terbimbing cahaya kebenaran Dinullah (Islam).

seperti di kutip dari https://artsen1.wordpress.com

Saya di lahirkan di Jakarta, 1 Mei 1968, putri sulung Nomo Koeswoyo, pencipta lagu terkenal sekaligus produser rekaman. Setelah selesai studi di Australia dan Singapura, saya melanjutkan di John Robert Power Jakarta, mengambil program Public Relation.Semua hanya rahmat Allah. Sebagai probadi s