BMKG Kekurangan 695 Alat Deteksi Dini Gempa dan Tsunami

BMKG Kekurangan 695 Alat Deteksi Dini Gempa dan Tsunami

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan BMKG kekurangan 695 alat pendeteksi gempa dan tsunami. Padahal, Indonesia disebut sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami. Dwi mengatakan BMKG hanya memiliki sebanyak 175 sensor gempa dan 130 tide gauge (alat ukur air muka laut) yang tersebar di lebih dari 200 stasiun BMKG di seluruh Indonesia. Bahkan, Indonesia belum memiliki Buoy, radar khusus pendeteksi tsunami laut. “Untuk Indonesia tentu dibutuhkan 1.000 alat deteksi karena Jepang juga sudah 1000. Padahal, Jepang itu hanya seukuran Jawa Barat sensornya ada 1.000, sedangkan Indonesia yang luasnya 1,9 juta KM2 luasnya berapa kali lipat Jepang sensornya hanya 175 , lalu tide gaude hanya 130. Kalau di Jepang ada buoy, ada radar tsunami , kalau Indonesia belum memiliki (buoy) ” kata Dwi di gedung BMKG, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (31/8/2018). Dwi mengungkapkan data peringatan dini gempa dan tsunami di Indonesia akan terekam lima menit pertama pada sensor gempa. Kemudian, BMKG membutuhkan waktu maksimal lima menit untuk menginformasikan ke masyarakat. Lima menit ini dirasa belum maksimal untuk menginformasikan kepada masyarakat. “Dalam waktu lima menit kami harus sudah menginformasikan peringatan dini kepada masyarakat. Tetapi, ini masih terlalu lama. Masyarakat tidak memiliki waktu maksimal untuk bersiap, ” Ujar Dwi. Selain itu, rata-rata alat deteksi peringatan dini Indonesia itu juga sudah memasuki umur 10 tahun. Bahkan, kecanggihan teknologi peralatan itu dinilai ketinggalan 20 tahun dengan alat deteksi yang di miliki negara Jepang, Amerika dan Perancis. “Usia alat deteksi kami sudah 10 tahun, kami juga sedang melakukan kerja sama transfer teknologi dengan Jepang. Ketika Deputi akan ke Jepang. Saya perintahkan untuk menanyakan prediksi kecanggihan alat deteksi di Jepang 40 tahun mendatang itu seperti apa? Jangan lihat alat yang sekarang ini. Karena kami Sudah ketinggalan 20 tahun. Jadi, biar terkejar, ” imbuh Dwi. Dwi berharap dengan alat yang canggih, BMKG dapat mengeluarkan peringatan dini 12 atau 24 jam sebelum gempa dan tsunami. Dengan begit, masyarakat juga akan lebih siap dan waspada. “Kami juga ada PR untuk mengembangkan data, terutama tahun ini agar 3 menit data sudah bisa sudah keluar. Paling cepat 3 jam sebelim kejadian lah dengan keakuratan 70 persen. Harapannya, Paling tidak 12 jam atau 24 jam. Jadi, orang-orang bisa siap-siap,” imbuh Dwi. Dwi menyebut keterbatasan alat tersebut tidak berarti menghambat BMKG memberikan informasi akurat dan tepat ke warga. BMKG, kata Dwi, tetap berupaya memberikan informasi tercepat mengenai peringatan dini gempa dan tsunami. “Keterbatasan, tapi itu nggak menghambat kami melakukan peringatan dini. Jadi akurasinya masih memadai. Karena terbukti meski peralatan bagi kami masih kurang tapi sudah ditunjuk sebagai tsunami early warning untuk Indian Ocean. Kami dianggap setara dengan Australia India” ujar Dwi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan BMKG kekurangan 695 alat pendeteksi gempa dan tsunami. Padahal, Indonesia disebut sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami. Dwi mengatakan BMKG hanya memiliki sebanyak 175 sensor gempa dan 130 tide gauge (alat ukur air muka laut) yang tersebar di lebih dari 200 stasiun BMKG di seluruh Indonesia. Bahkan, Indonesia belum memiliki Buoy, radar khusus pendeteksi tsunami laut. “Untuk Indonesia tentu dibutuhkan 1.000 alat deteksi karena Jepang juga sudah 1000. Padahal, Jepang itu hanya seukuran Jawa Barat sensornya ada 1.000, sedangkan Indonesia yang luasnya 1,9 juta KM2 luasnya berapa kali lipat Jepang sensornya hanya 175 , lalu tide gaude hanya 130. Kalau di Jepang ada buoy, ada radar tsunami , kalau Indonesia belum memiliki (buoy) ” kata Dwi di gedung BMKG, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (31/8/2018). Dwi mengungkapkan data peringatan dini gempa dan tsunami di Indonesia akan terekam lima menit pertama pada sensor gempa. Kemudian, BMKG membutuhkan waktu maksimal lima menit untuk menginformasikan ke masyarakat. Lima menit ini dirasa belum maksimal untuk menginformasikan kepada masyarakat. “Dalam waktu lima menit kami harus sudah menginformasikan peringatan dini kepada masyarakat. Tetapi, ini masih terlalu lama. Masyarakat tidak memiliki waktu maksimal untuk bersiap, ” Ujar Dwi. Selain itu, rata-rata alat deteksi peringatan dini Indonesia itu juga sudah memasuki umur 10 tahun. Bahkan, kecanggihan teknologi peralatan itu dinilai ketinggalan 20 tahun dengan alat deteksi yang di miliki negara Jepang, Amerika dan Perancis. “Usia alat deteksi kami sudah 10 tahun, kami juga sedang melakukan kerja sama transfer teknologi dengan Jepang. Ketika Deputi akan ke Jepang. Saya perintahkan untuk menanyakan prediksi kecanggihan alat deteksi di Jepang 40 tahun mendatang itu seperti apa? Jangan lihat alat yang sekarang ini. Karena kami Sudah ketinggalan 20 tahun. Jadi, biar terkejar, ” imbuh Dwi. Dwi berharap dengan alat yang canggih, BMKG dapat mengeluarkan peringatan dini 12 atau 24 jam sebelum gempa dan tsunami. Dengan begit, masyarakat juga akan lebih siap dan waspada. “Kami juga ada PR untuk mengembangkan data, terutama tahun ini agar 3 menit data sudah bisa sudah keluar. Paling cepat 3 jam sebelim kejadian lah dengan keakuratan 70 persen. Harapannya, Paling tidak 12 jam atau 24 jam. Jadi, orang-orang bisa siap-siap,” imbuh Dwi. Dwi menyebut keterbatasan alat tersebut tidak berarti menghambat BMKG memberikan informasi akurat dan tepat ke warga. BMKG, kata Dwi, tetap berupaya memberikan informasi tercepat mengenai peringatan dini gempa dan tsunami. “Keterbatasan, tapi itu nggak menghambat kami melakukan peringatan dini. Jadi akurasinya masih memadai. Karena terbukti meski peralatan bagi kami masih kurang tapi sudah ditunjuk sebagai tsunami early warning untuk Indian Ocean. Kami dianggap setara dengan Australia India” ujar Dwi.

Related Posts

Comments are closed.