BMKG Ingatkan Longsor Bisa Terjadi Usai Hujan Lebat

BMKG Ingatkan Longsor Bisa Terjadi Usai Hujan Lebat

Baca juga : bmkg ingatkan longsor bisa terjadi usai hujan lebat

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengimbau kepada warga yang tinggal di kawasan lereng gunung dan bantaran sungai untuk waspada terhadap bencana longsor dan banjir bandang. Dwi mengatakan tanah longsor dan banjir bandang tidak hanya terjadi saat hujan. “Potensi bencana akibat cuaca ekstrim kita yang perlu hati-hati, contohnya di Brebes. Saat longsor (di Brebes) itu tidak ada hujan. Longsor bisa saja terjadi saat hujan dan setelah hujan. Banjir bandang pun ada tanda-tandanya, kok sungai tiba-tiba menjadi keruh, padahal tidak ada hujan,” kata Dwi di kantornya, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2/2018). Dwi menuturkan tanah longsor dan banjir bandang bisa diprediksi sebelum terjadi. Tanah longsor bisa dideteksi dengan melihat kondisi tanah. Sedangkan banjir bandang dapat diprediksi dengan meninjau kondisi sungai. “Longsor bisa dideteksi misalnya ada retakan di lereng, atau lereng mulai mengembung. Khusus longsor tidak muncul seketika. Penyebabnya cuaca dan penggunaan lahan yang tidak terkontrol,” terang Dwi. “Banjir bandang pun ada tanda-tandanya, kok sungai tiba-tiba menjadi keruh, padahal tidak hujan. Masyarakat harus waspada menghindari zona-zona yang menunjukkan tanda-tanda tadi, atau paling tidak menjauh dari lereng dan sungai,” imbuh dia. Berdasarkan pengamatan BMKG dalam beberapa suplai uap air sebagai pendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera, Jawa dan Kalimantan relatif tinggi. Diprediksi potensi hujan masih terus meningkat dalam tiga hari ke depan khususnya di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Papua.


Baca juga : waspada sejumlah daerah diprediksi diguyur hujan lebat mulai besok

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah di Indonesia akan diguyur hujan yang cukup intensif. Mulai 25-26 Februari 2018 ini curah hujan di beberapa wilayah bisa mencapai 50 mm/hari. Prediksi tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2/2018), sekitar pukul 21.55 WIB. Dwi didampingi oleh Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo. “Peringatan dini cuaca ekstrim di atas 50 mm per hari diperkirakan mulai besok hingga 26 Februari akan terjadi khususnya dalam beberapa wilayah sebagai berikut, pantai barat Sumatera Utara, menerus ke pantai barat Sumatera Barat, pantai barat Bengkulu, pantai barat Sumatera Selatan, pantai barat Lampung, Selat Sunda, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara,” kata Dwi. Dwi menuturkan khusus wilayah Jawa Timur terdapat sejumlah daerah yang diperkirakan akan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Pihak BMKG menitikberatkan pada wilayah hulu Sungai Bengawan Solo. “Khusus wilayah Jawa Timur mulai besok hingga 26 Februari diperkirakan yang akan mengalami curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat adalah hulu Sungai Bengawan Solo, yang sampai saat ini masih hujan, Kediri, Malang, hulu Sungai Berantas, Lumajang, Bondowoso, puncak dan lereng gunung raung dan Banyuwangi,” papar Dwi. Dwi mengimbau kepada warga yang tinggal di bantaran sungai dan lereng gunung di wilayah yang akan diguyur hujan dengan intensitas sedang dan lebat untuk tetap waspada. Karena bencana longsor dan banjir bandang bisa saja terjadi. “Potensi bencana akibat cuaca ekstrim kita yang perlu hati-hati, contohnya di Brebes. Saat longsor (di Brebes) itu tidak ada hujan. Longsor bisa saja terjadi saat hujan dan setelah hujan. Banjir bandang pun ada tanda-tandanya, kok sungai tiba-tiba menjadi keruh, padahal tidak ada hujan,” terang Dwi.


Baca juga : bmkg ingatkan untuk waspada hujan lebat jelang natal tahun baru.html

Arah –   Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kondisi cuaca yang diprediksikan akan terjadi hujan lebat menjelang Natal dan Tahun Baru. “Berdasarkan analisis BMKG, potensi hujan lebat menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 cukup besar. Hal ini disebabkan suplai massa udara lembab dari Samudera Pasifik dan daratan Asia serta dari Samudera Hindia yang terakumulasi di wilayah kepulauan Indonesia sehingga sangat intensif menjadi penyebab utama terjadi potensi hujan lebat di wilayah negara kita,” kata Dwikorita di Jakarta, Senin. Hal itu disampaikan pada konferensi pers tentang perkembangan kondisi cuaca dan iklim serta potensi ancaman gempa dan tsunami. Dia menjelaskan, untuk beberapa wilayah yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat antara lain menjelang Natal yaitu pada 19-23 Desember 2017 akan terjadi di wilayah Aceh bagian barat, pesisir selatan Sumatera, Banten, pesisir utara Jawa, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan sebagian Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam periode Natal yaitu pada 24-26 Desember 2017, potensi hujan sedang hingga lebat antara lain di pesisir selatan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, NTB, NTT, Sulawesi Tengah dan Papua bagian tengah. Menjelang Tahun Baru 2018 yaitu 26-31 Desember 2017 diprediksikan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akan terjadi di pesisir utara Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah dan Maluku. Sedangkan awal tahun 2018 yaitu pada 1-7 Januari 2018 potensi hujan sedang hingga lebat antara lain terjadi di Aceh, pesisir barat Sumatera, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah dan NTT. Selain itu, diprediksikan juga adanya potensi angin kencang yang mencapai lebih dari 20 knots atau lebih dari 65 km per jam juga berpotensi terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia selatan Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara Barat.

seperti di kutip dari https://www.arah.com

“Potensi angin kencang tersebut berdampak pada peningkatan gelombang laut di beberapa wilayah antara lain Laut Cina Selatan dan Laut Natuna utara dengan tinggi gelombang mencapai 6-7 meter, ini yang perlu diwaspadai,” tambah dia. Selain itu juga di perairan Kepulauan Anambas, Kepulauan Natuna, Laut Natuna, Laut Jawa bagian tengah dan timur, Selat Makassar bagian selatan perairan Kepulauan Talaud dan perairan utara Halmahera diperkirakan akan mencapai tinggi gelombang 2,5-6 meter. “Masyarakat diimbau agar waspada potensi genangan, banjir, maupun longsor bagi yang tinggal diwilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor, juga waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon atau baliho tumbang,” katanya. Ia juga menyarankan agar tidak berlindung di bawah pohon jika terjadi hujan disertai kilat atau petir. Waspada terhadap kenaikan tinggi gelombang laut saat hujan lebat disertai angin kencang pada kapal berukuran kecil terutama bagi para nelayan. “Dimohon menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda. Jangan mudah terpancing dengan berbagai isu atau video animasi atau berbagai berita di sosial media. Kami juga terus memantau isu-isu yang berkembang di media sosial,” kata Dwikorita.


Baca juga : bmkg ingatkan hujan ekstrim di wilayah eks karesidenan cirebon 1426576261

BMKG Ingatkan Hujan Ekstrim di Wilayah Eks Karesidenan Cirebon Selasa, 17 Maret 2015 – 16:05 WIB loading… BMKG Stasiun Jatiwangi, mengingatkan, agar warga di wilayah eks Karesidenan Cirebon yaitu Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan mewaspadai hujan ekstrim. Ilustrasi. Sindonews MAJALENGKA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Jatiwangi, Majalengka mengingatkan, agar warga di wilayah yang dulu termasuk Karesidenan Cirebon yaitu Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan untuk mewaspadai kondisi hujan ekstrim. Pasalnya, hujan ekstrim masih akan terjadi hingga beberapa hari kedepan. Seperti diketahui di Kabupaten Majalengka, hujan lebat disertai angin dan petir tejadi sejak lima hari lalu. “Akibat hujan ekstrim, Majalengka, Cirebon, Indramayu dan Kuningan terkena banjir dan terjadi longsor,” kata Forecaster BMKG Stasiun Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Ahmad Faizyn, Selasa (17/3/2015). Menurut dia, hujan sangat lebat yang disertai petir dan angin kencang melanda berbagai daerah dalam beberapa hari terakhir.  Dia pun memperingatkan warga agar waspada akan munculnya bencana seperti banjir dan longsor. Faizyn menuturkan, dalam beberapa hari terakhir, terdapat pertemuan massa udara di wilayah Jawa Barat khususnya di empat wilayah tersebut. Menurutnya, pertemuan massa udara tersebut menyebabkan pertumbuhan awan-awan hujan (cummulonimbus) yang disertai dengan kecepatan angin di atmosfer lapisan atas yang tidak kencang. Kondisi itu, menurutnya, berpotensi menimbulkan hujan sangat lebat atau hujan ekstrim yang disertai petir. Dari pengukuran curah hujan di BMKG Jatiwangi per 15 Maret 2015, terpantau curah hujan di empat wilayah tersebut mencapai 80 mm per jam dan 107 mm per hari. Dia menjelaskan, curah hujan itu sudah termasuk kategori hujan sangat lebat/ hujan ekstrim. Dikatakannya, puncak musim hujan sendiri memang sudah berlalu. Namun, hujan sangat lebat dengan durasi pendek (satu sampai dua jam) masih bisa terjadi hingga pertengahan Mei 2015. “Kondisi tersebut bisa menyebabkan terjadinya berbagai bencana, terutama banjir dan longsor,” tegasnya. Faizyn pun memberikan peringatan dini akan terjadinya hujan dengan intensitas lebat pada beberapa hari ini. halaman ke-1 dari 2


Baca juga : hujan lebat

Peristiwa 31 Des 2017 16:23 Berdasarkan informasi dari BPBD DKI Jakarta, pihaknya sudah menerima setidaknya tiga laporan adanya pohon tumbang. Peristiwa 13 Des 2017 06:37 Kondisi cuaca diprediksi berawan dan berpotensi hujan sedang hingga lebat hingga 18 Desember 2017, terutama pada siang hari. Peristiwa 12 Des 2017 15:17 Hujan lebat yang mengguyur Jakarta sejak siang tadi mulai mengakibatkan banjir di beberapa titik di Jakarta. Peristiwa 11 Des 2017 18:50 Anies menegaskan akan memanggil SKPD terkait malam ini juga lantaran membiarkan pompa rusak. Hal itu menyebabkan banjir di Dukuh Atas. Peristiwa 11 Des 2017 18:07 Akibat adanya banjir yang menutup beberapa jalan di Jakarta, masyarakat pun mencari jalan alternatif lain yang dapat mereka lalui. Hits 11 Des 2017 18:00 Efek hujan deras sejak Senin (11/12/2017), siang hingga sore ini menimbulkan beberapa wilayah di Jakarta tergenang banjir. Peristiwa 11 Des 2017 14:43 Sejauh ini, belum ada penanganan dari pihak pengelola gedung KPK mengingat hujan disertai angin kencang masih berlangsung. Peristiwa 11 Des 2017 14:37 Saat ini, listrik aliran atas jalur hulu antara Stasiun Karet dan Sudirman dipadamkan sementara untuk menunggu proses evakuasi selesai. Sumatera 18 Nov 2017 16:01 Tumbangnya belasan tiang listrik itu hanya berselang sehari usai kecelakaan mobil yang ditumpangi Ketua DPR Setya Novanto. Peristiwa 06 Apr 2017 08:16 BMKG mengimbau masyarakat agar waspada terhadap dampak hujan lebat ini, seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang. Peristiwa 04 Jan 2017 07:28 Pohon tumbang di beberapa ruas jalan yang mengakibatkan lalu lintas tersendat.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengimbau kepada warga yang tinggal di kawasan lereng gunung dan bantaran sungai untuk waspada terhadap bencana longsor dan banjir bandang. Dwi mengatakan tanah longsor dan banjir bandang tidak hanya terjadi saat hujan. “Potensi bencana akibat cuaca ekstrim kita yang perlu hati-hati, contohnya di Brebes. Saat longsor (di Brebes) itu tidak ada hujan. Longsor bisa saja terjadi saat hujan dan setelah hujan. Banjir bandang pun ada tanda-tandanya, kok sungai tiba-tiba menjadi keruh, padahal tidak ada hujan,” kata Dwi di kantornya, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2/2018). Dwi menuturkan tanah longsor dan banjir bandang bisa diprediksi sebelum terjadi. Tanah longsor bisa dideteksi dengan melihat kondisi tanah. Sedangkan banjir bandang dapat diprediksi dengan meninjau kondisi sungai. “Longsor bisa dideteksi misalnya ada retakan di lereng, atau lereng mulai mengembung. Khusus longsor tidak muncul seketika. Penyebabnya cuaca dan penggunaan lahan yang tidak terkontrol,” terang Dwi. “Banjir bandang pun ada tanda-tandanya, kok sungai tiba-tiba menjadi keruh, padahal tidak hujan. Masyarakat harus waspada menghindari zona-zona yang menunjukkan tanda-tanda tadi, atau paling tidak menjauh dari lereng dan sungai,” imbuh dia. Berdasarkan pengamatan BMKG dalam beberapa suplai uap air sebagai pendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera, Jawa dan Kalimantan relatif tinggi. Diprediksi potensi hujan masih terus meningkat dalam tiga hari ke depan khususnya di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Papua.

Hujan lebat dan angin kencang yang diperkirakan terjadi hingga Sabtu (27/1) pagi. REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini kondisi cuaca buruk berupa hujan lebat disertai kilat dan angin kencang yang diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Lampung pada Jumat hingga Sabtu (27/1) pagi. Menurut BMKG, seperti disampaikan dalam rilis tim Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi Radin Inten II Lampung, di Branti, Jumat (26/1), kewaspadaan potensi cuaca buruk itu diperkirakan terjadi di wilayah Kabupaten Lampung Barat, Pesisir Barat, Lampung Tengah, Kota Metro, Kabupaten Lampung Timur, dan Tanggamus pada sore dan malam hari. Apabila terjadi perubahan cuaca yang signifikan akan diperbaharui dan diinformasikan melalui Whatsapp Group (0816404333) dan media sosial Facebook (Infocuaca BMKG Lampung) atau bisa diakses langsung via website .

seperti di kutip dari http://nasional.republika.co.id

Prakiraan cuaca umum Provinsi Lampung berlaku 26 Januari pukul 07.00 WIB hingga 27 Januari 2018 pukul 07.00 WIB, menyebutkan angin secara umum bertiup dari arah barat hingga utara dengan kecepatan antara 5-15 knot (9-30 km/jam). Jarak pandang berkisar antara 4-10 km. Suhu udara secara umum berkisar antara 23-32 derajat Celsius, kecuali Lampung bagian barat (Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, dan Pesisir Barat) berkisar antara 17-29 derajat Celsius. Kelembapan udara secara umum berkisar antara 62-97 persen, kecuali Lampung bagian barat (Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, dan Pesisir Barat) berkisar antara 70-98 persen. Secara umum, wilayah Lampung pagi hari diprakirakan cerah berawan hingga berawan, dan berpotensi hujan ringan di Kabupaten Pesisir Barat dan Tanggamus. Siang hari diprakirakan hujan ringan hingga sedang di Kabupaten Lampung Barat, Pesisir Barat, Lampung Utara, Mesuji, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Lampung Tengah, Kota Metro, Kabupaten Lampung Timur, Pesawaran, Lampung Selatan, dan Kota Bandarlampung. Malam hari diprakirakan hujan ringan hingga sedang di Kabupaten Lampung Tengah, Tanggamus, Pringsewu, dan Pesawaran. Pada Sabtu dini hari diprakirakan berawan dan berpotensi hujan ringan hingga sedang di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung Barat, dan Mesuji.

VIVA.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan tentang potensi besar bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera Selatan selama beberapa hari mendatang. Soalnya diprakirakan cuaca ekstrem melanda Sumatera Selatan pada 7-9 Maret 2017. BMKG melaporkan, sekarang saja curah hujan dengan kecepatan 186 milimeter per hari di Sumatera Selatan. Diramalkan curah hujan dengan intensitas 200 milimeter sampai 400 milimeter per hari mengguyur provinsi itu sepanjang tiga hari mendatang. “Itu sudah masuk dalam kategori ekstrem. Prakiraan cuaca hujan lebat akan bertambah,” kata Dara Kasihariani, Staf Data dan Informasi pada Stasiun Klimatologi BMKG Sumatera Selatan, kepada VIVA.co.id di Palembang pada Senin, 6 Maret 2017.

seperti di kutip dari https://www.viva.co.id

Sumatera Selatan, kata Dara, memang sedang mengalami puncak musim hujan. Hujan lebat dan lama serta angin kencang diprakirakan terus terjadi hingga pertengahan Maret. Warga, terutama yang bermukim di bantaran Sungai Musi, diminta waspada terhadap potensi bencana banjir dan longsor. “Terutama di bantaran sungai dan dataran tinggi, potensi banjir dan longsor akan terjadi,” ujarnya. Empat daerah diwaspadai bakal terdampak longsor dan banjir, antara lain, Kabupaten Empat Lawang, Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Muara Enim. “Daerah di sana, semua perbukitan. Potensi longsor memang kemungkinan bisa terjadi, karena curah hujan yang tinggi. Pada dini hari juga warga harus waspada, karena potensi angin kencang di semua wilayah Sumsel,” katanya.

Sidoarjo (betitajatim.com) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya di Kabupaten Sidoarjo mengingatkan potensi terjadinya hujan deras disertai petir dan hujan deras di wilayah Indonesia. Prakirawan BMKG Juanda, Ari Pulung Baskhoro mengatakan, kondisi ini terjadi akibat terjadinya tekanan rendah udara di lima lokasi. “Saat ini dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya pembentukan pusat tekanan rendah di lima titik memanjang di perairan Selatan Jawa, Laut Aru dan di Papua Nugini,” katanya Kamis (6/4/2017) Menurut dia, terjadinya tekanan udara rendah di lima titik ini termasuk tidak lazim karena biasanya tidak lebih dari dua titik. Tekanan udara rendah yang memanjang inilah yang membawa pengaruh cuaca di Indonesia termasuk Jawa Timur berupa angin kencang. Selain itu suhu muka laut hangat diidentifikasi terjadi di wilayah perairan sekitar Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. “Suhu laut hangat ini berpotensi menimbulkan hujan deras disertai petir,” jelasnya. Masih kata Ari, saat ini kondisi cuaca atau wilayah di laut Jawa kondisinya terpantau berawan hujan seperti terpantau di Surabaya, Sidoarjo dan Madura dengan intensitas hujan bervariasi. “Intensitas hujan tersebut bisa panjang di atas satu jam sehingga perlu diwaspadai. Terutama di dataran tinggi karena hutan atau tebing bisa rawan longsor. Daerah rawan tersebut seperti Jombang, Malang dan Banyuwangi,” jelas Ari. (isa/kun)

TEMPO.CO , Yogyakarta – Kepala Kelompok Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, Djoko Budiyono mengingatkan kepada masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena supermoon untuk memperhatikan angin kencang. Sebab, intensitas angin saat ini meningkat. Fenomena supermoon akan terjadi pada 31 Januari 2018. Di Yogyakarta, sejumlah warga dan komunitas bersiap untuk menyambut fenomena saat bulan mencapai fase puncaknya dan full moon , dengan cara menonton bareng di sejumlah spot, terutama di kawasan perbukitan seperti Kabupaten Gunungkidul yang menjadi rekomendasi karena cuaca di sana relatif cerah. Baca: Gerhana Bulan Super Blue Blood Moon, BMKG: Fenomena Langka Djoko menjelaskan, kecepatan angin di Selatan Jawa, termasuk Yogyakarta pada akhir Januari ini menjadi lebih besar. Kecepatan angin di pesisir selatan Yogya bisa mencapai 15- 25 knot atau setara 27-46 km/jam dan sudah masuk kategori tinggi. Dampak angin tinggi ini memicu tinggi gelombang laut mencapai empat meter.

seperti di kutip dari https://nasional.tempo.co

“Namun melihat topografi Gunungkidul yang letak daratan pesisirnya lebih tinggi dibanding pesisir lainnya, itu akan membantu mengurangi dampak gelombang laut. Frekuensi hujan terbanyak saat ini juga ada di bagian utara Yogya atau area Kabupaten Sleman,” ujar Djoko. Ia juga mengingatkan kepada warga yang ingin menonton fenomena supermoon, agar waspada terhadap potensi terjadinya petir. Sebab, sepanjang Januari ini terpantau terus menyertai hujan lebat dan angin kencang di Yogya. Baca: Terjadi Bersamaan, Ini Bedanya Gerhana Bulan, Supermoon, Bluemoon “Masyarakat perlu waspada hujan yang diakibatkan awan cumulonimbus yang saat ini lebih banyak terbentuk, karena ciri awan ini kalau hujan skalanya lokal, periodenya singkat namun dampaknya besar disertai petir dan angin kencang,” ujarnya. Petir ini biasanya dibawa awan cumulonimbus dan sering muncul saat siang menjelang sore hari. Adapun pembina komunitas Jogja Astro Club (JAC) Mutoha Arkanuddin merekomendasikan spot-spot di bagian selatan Yogyakarta, seperti Gunungkidul karena relatif kecil frekuensi hujannya, bagi yang ingin menyaksikan fenomena supermoon. “Awan-awan gelap tebal itu menjadi halangan utama menyaksikan gerhana,” ujarnya. Mutoha menuturkan sebisa mungkin warga jangan menunggu supermoon di Yogya bagian utara seperti kawasan Gunung Merapi atau perbukitan utara lain, karena hampir setiap sore hingga malam muncul awan gelap yang disusul hujan deras.

Longsor masih mengancam rumah warga Boyolali. Solopos.com, BOYOLALI —Ancaman bencana tanah longsor akibat hujan deras yang mengguyur kawasan lereng gunung Merapi-Merbabu, Boyolali, masih mengintai rumah warga. Dua rumah masing-masing di Desa Genting, Kecamatan Cepogo dan Desa Ringinlarik, Kecamatan Musuk, Boyolali, terdampak cuaca ekstrem tersebut, Jumat (23/2/2018). Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com , di Kantor BPBD Boyolali, Sabtu (24/2/2018), lahan rumah Ariyanto, 33, warga Dukuh Kadipiro RT 010 RW 003 mengalami retak karena terkikis air hujan, Jumat malam sekitar pukul 21.00 WIB. Dikhawatirkan, jika hujan terus terjadi dalam intensitas tinggi, lahan yang berada di dekat tebing itu bakal longsor dan merubuhkan rumah. Sementara itu, di Desa Ringinlarik, Kecamatan Musuk, hujan deras mengikis tanah sehingga membuat fondasi rumah milik Siti Asisah, warga Dukuh Kebonluak, RT 003 RW 001 amblas dan membuat bangunan dapur berukuran sekitar 9×3 meter itu ambruk. Di sisi lain, bencana alam longsor juga terjadi Jumat sekitar pukul 13.00 WIB di sejumlah lokasi, yakni satu titik di jalur wisata Solo-Selo-Borobudur (SSB) di Dukuh Gebyok, Desa/Kecamatan Selo dan dua titik di Dukuh Senet di desa yang sama. Longsor pada siang itu menimpa rumah Supatmo, warga di Dukuh Sepandan, RT 021 RW 004, Desa Selo. Kejadian ini membuat rumahnya mengalami kerusakan di beberapa bagian. (baca:  BENCANA BOYOLALI : Hujan Deras Sebabkan Longsor di Jalur SSB ) Bahkan tetangga Supatmo, Sisar, rumahnya yang terbuat dari bambu mengalami kerusakan parah karena terdorong material tanah longsor. Tim penanggulangan bencana Boyolali dan warga setempat bergotong-royong bersama membersihkan lokasi-lokasi bencana. Salah satu anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Boyolali, Puguh, yang bertugas memonitor kegiatan dari markas BPBD mengatakan, 9 personel diberangkatkan untuk membantu membersihkan lokasi. “Tadi pagi personel diberangkatkan menggunakan tiga unit mobil dan membawa logistik untuk membantu warga dan personel yang bertugas di sana [di lokasi bencana],” ujarnya. Sementara itu, Kepala BPBD Boyolali, Bambang Sinungharjo, mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap bencana tanah longsor mengingat saat ini hujan beras masih sering terjadi. “Kami mengharapkan agar masyarakat khususnya di daerah rawan bencana agar selalu waspada karena masih sering hujan,” jelasnya. Lowongan Pekerjaan Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

JAKARTA (TAJUKTIMUR.COM) – Beberapa hari yang lalu telah terjadi bencana hidrometeorologi, seperti kejadian bencana tanah longsor di kawasan Puncak, Bogor dan banjir di beberapa wilayah Jakarta akibat luapan bendungan Katulampa. Kejadian bencana alam ini telah memakan korban jiwa. Kondisi ini diakibatkan salah satunya hujan ekstrem yang terjadi di wilayah Puncak Bogor dalam dua hari terakhir berturut-turut. Curah hujan yang tercatat sebesar 152 mm/ hari dan 164 mm/ hari, seperti yang diutarakan Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. di depan media massa dalam video konferensi.

seperti di kutip dari https://www.tajuktimur.com

Kementerian Pekerjaan dan Perumahan Rakyat tengah melakukan beberapa program dalam upaya mengurangi banjir di Jakarta. Salah satunya dengan membangun dua bendungan di Bogor, seperti yang diutarakan Jarot Widyoko, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR. “Dua bendungan itu adalah Bendungan Ciawi dan Sukamahi yang sekarang mulai dalam proses, bendungan ini digunakan untuk mengurangi banjir yang akan ditargetkan akan selesai pada 2019 mendatang,” ujar Jarot saat dimintakan keterangan usai kegiatan Jumpa pers di Kantor BMKG.

Related Posts

Comments are closed.