Begini Koordinasi Polri-FBI Amankan Yacht Rp 3,5 T Hasil TPPU

Begini Koordinasi Polri-FBI Amankan Yacht Rp 3,5 T Hasil TPPU

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

INILAHCOM, Jakarta – Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri mengungkap barang bukti hasil kejahatan pencucian uang di Amerika Serikat, berupa super yacht seharga Rp 3,5 triliun. Kapal mewah itu ditemukan di Tanjung Benoa, Bali setelah empat tahun diburu FBI. “Hari ini kami dari Bareskrim Polri melakukan penyitaan terhadap kapal Equanimity di Pelabuhan Benoa Bali,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Agung Setya saat dikonfirmasi, Rabu (28/2/2018). Menurut Agung, pihaknya menerima surat dari FBI pada 21 Februari yang meminta bantuan Polri melakukan pencarian atas keberadaan kapal tersebut. “Kapal ini kita sita terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang terjadi di Amerika, yang kasusnya sedang diselidiki oleh FBI. Kapal ini sudah dicari beberapa tahun yang lalu dan ternyata ada di Benoa hari ini, lalu kita lakukan penyitaan,” ujarnya. Agung menambahkan, kapal tersebut diketahui masuk ke Indonesia pada November 2017. FBI kemudian melakukan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan penyitaan. “Jadi FBI Amerika melakukan joint investigation dengan Bareskrim. Bareskrim membantu,” jelasnya. Pengungkapan bukti kejahatan tersebut, kata Agung, merupakan yang terbesar sepanjang pengungkapan jajarannya. Kapal tersebut ditaksir senilai USD 250 juta atau setara Rp 3,5 triliun. Saat ini kasus tersebut sudah selesai di pengadilan dan barang bukti super yacht itu dinyatakan sebagai hasil kejahatan pencucian uang. Kajahatan tersebut juga melibatkan beberapa negara seperti Amerika, Swiss, Malaysia, dan Singapura. Sampai saat ini, tim Bareskrim Mabes Polri, bersama FBI dan Dit Pol Air Polda Bali, masih melakukan pengecekan ke dalam kapal pesiar tersebut.[van].

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap kapal Yacth seharga Rp 3,5 Triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi diantara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI, pada Rabu (21/2/) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu, kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap sebuah kapal yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabarin ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal equanimity ini,” ujar Agung di Gedung KKP, Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan bahwa uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standingnya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal super mewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok, hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersangkar di Lombok, ” ujar agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Mabes Polri bersama FBI menyita kapal yacht Equanimity diduga hasil korupsi dan pencucian uang yang ditangani Pengadilan Amerika Serikat. Seperti apa sih kapal senilai USD 250 juta atau Rp 3,5 triliun itu? “Kasus korupsi di AS dan hasil penyidikan FBI di sana bahwa hasil korupsi itu digunakan sebagian untuk membeli sebuah kapal yang sedang berlayar di Indonesia,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Tahimonang Silitonga di Perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018). Pantauan detikcom, Equanimity diparkir sekira 500 meter dari bibir pantai di Nusa Dua, Badung, Bali. Kapal itu berwarna hitam kebiruan dan putih dengan bendera negara persemakmuran Inggris di bagian buritan. Sejumlah petugas Polda Bali bersenjata laras panjang ikut dalam proses penyitaan itu. Dengan menggunakan kapal kecil, Daniel bersama-sama dengan sejumlah penyidik FBI naik ke dalam Equanimity pada pukul 13.30 WITa, dan hingga pukul 16.45 WITa belum juga keluar. Berdasarkan penelusuran, Equanimity adalah super yacht mewah dengan panjang 91 meter, berkapasitas 28 penumpang dan 33 kru. Kapal ini diproduksi oleh Oceanco asal Belanda dan dikirim kepada pemesannya pada tahun 2014 lalu. Awal diproduksi, Equanimity memiliki fasilitas spa, salon kecantikan, gym, sauna, kolam renang dan kamar mandi bergaya mediteranian. Interiornya dibalut gaya oriental dan beberapa perabotannya berbalut emas, ditambah peralatan navigasi termutakhir yang disematkan di ruang kendali. Equanimity juga disebut-sebut sebagai yacht terbesar ke-54 di dunia. Arti kata Equanimity sendiri adalah ketenangan jiwa, meskipun dalam situasi sulit. Kapal Equanimity, berdasarkan Pengadilan AS, dimiliki oleh seorang miliuner asal Malaysia Jho Low. Low terjerat kasus korupsi transfer dana USD 1 miliar dari pihak berwenang Malaysia ke rekening pribadi.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Mabes Polri menyita sejumlah dokumen hard copy dan soft copy serta log book kapten dari kapal senilai USD 250 juta atau setara dengan Rp 3,5 triliun, Equanimity. Penyitaan dilakukan terkait dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari kasus korupsi di Amerika Serikat. “Kasus korupsinya 3 tahun lalu. Kita belum cek di mana mereka (Equanimity) sebelum di Indonesia, karena log book -nya tebal sekali. Yang menyidik itu (korupsi) di AS,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018) malam. Daniel menjelaskan kru kapal berjumlah 33 orang ditemui jajaran Bareskrim Polri bersama Biro Investigasi Federal asal AS, FBI. Selama lebih dari 6 jam, mereka menyita sejumlah dokumen, data navigasi, data komunikasi, dan data elektronik lainnya dari komputer. “Jadi sementara penyidikan kita karena permintaan FBI. Jadi ini murni penyidikan kita karena yurisdiksi kita. Nanti kita akan lakukan pertemuan berikutnya untuk koordinasi antara Polri dan FBI,” ujar Daniel. Daniel menjelaskan kasus TPPU yang disidik Polri ini belum ada tersangkanya. Namun, sesuai dengan UU TPPU, pihak yang menyembunyikan atau menghalangi penyitaan barang bukti TPPU bisa dipidana. “Kasusnya sudah kita keluarkan surat perintah penyidikan dan ini penggeledahan sudah ada izin dari Pengadilan Negeri Denpasar untuk melakukan penyitaan,” ucap Daniel. “Sementara kita kenakan UU TPPU, tersangka masih kita dalami dan malam ini kita rapatkan hasil penggeledahan. Sebanyak 33 kru tanpa penumpang dan semuanya WNA,” ujarnya. Fasilitas kapal super yacht pabrikan Belanda ini diakui Daniel sangat mewah. Kapal ini juga tidak disewakan kepada siapa pun, hanya menjadi milik pribadi atau kelompok. “Kita belum dalami alasan mereka berlayar di Indonesia. Sebagian kru dan kaptennya akan kita periksa besok,” ungkap Daniel. Polri dan FBI melakukan penggeledahan terhadap Equanimity pada pukul 13.30 Wita, dan selesai pada pukul 20.00 Wita. Penggeledahan yang dilakukan di atas perairan Tanjung Benoa itu membawa hasil empat tas koper berisi dokumen perjalanan Equanimity.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap kapal Yacth seharga Rp 3,5 Triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi diantara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI, pada Rabu (21/2/) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu, kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap sebuah kapal yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabarin ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal equanimity ini,” ujar Agung di Gedung KKP, Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan bahwa uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standingnya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal super mewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok, hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersangkar di Lombok, ” ujar agung.

Related Posts

Comments are closed.