Banyak Lupa, ‘Orang Kepercayaan’ Novanto Ditegur Hakim

Banyak Lupa, ‘Orang Kepercayaan’ Novanto Ditegur Hakim

Bos Delta Energy Pte Ltd, Made Oka Masagung, ditegur majelis hakim. ‘Orang kepercayaan’ Setya Novanto itu ditegur lantaran banyak lupa. Awalnya, Made Oka selalu menjawab lupa ketika ditanya jaksa pada KPK. Selain itu, dia selalu menengok ke dokumen yang dibawanya. Ketua majelis hakim Yanto pun memotong. Yanto menegur Made Oka yang kerap mengaku lupa itu. “Anda banyak lupa ya,” tegur Yanto pada Made Oka dalam sidang lanjutan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (22/1/2018). Made Oka mengaku memang lupa sehingga membawa dokumen tersebut. “Makanya saya buku ini, Pak,” jawab Made Oka. Berbagai jawaban lupa itu disampaikan Made Oka ketika ditanya asal usul uang yang masuk ke rekening OCBC miliknya di Singapura. Made Oka mengaku tak tahu tentang transfer uang masuk itu. Malahan, Made Oka dengan santainya mengambil USD 10 ribu dari rekeningnya yang saat itu diakuinya hanya berisi USD 2 ribu. Made Oka pun mengaku tak menanyakan hal itu ke bank. Belakangan, Made Oka mengaku baru tahu duit itu dari PT Biomorf Mauritius milik Johannes Marliem ketika diperiksa penyidik KPK. Kini rekening banknya itu sudah diblokir. “Saya tahu dari penyidik (Biomorf Mauritius). Rekening saya sudah diblokir Pak, waktu ada ribut-ribut ini,” kata Made Oka. Di dakwaan Novanto, jaksa KPK menyebut Novanto menerima total uang USD 7,3 juta terkait korupsi proyek e-KTP. Duit itu diterima Novanto melalui tangan Made Oka Masagung dan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Uang yang diterima Novanto melalui Made Oka sebesar USD 3,8 juta. Uang itu diterima dari Johannes Marliem dan Anang Sugiana Sudihardjo. Jaksa kemudian memerinci pemberian tersebut sebagai berikut: 1. USD 3,8 juta diterima Novanto melalui Made Oka dengan perincian yaitu USD 1,8 juta melalui rekening OCBC Center Branch atas nama OEM Investment Pte Ltd dan USD 2 juta melalui rekening Delta Energy Pte Ltd di Bank DBS Singapura. 2. USD 3,5 juta diterima Novanto melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo pada 19 Januari 2012 sampai 19 Februari 2012.

Bos Delta Energy Pte Ltd, Made Oka Masagung, ditegur majelis hakim. ‘Orang kepercayaan’ Setya Novanto itu ditegur lantaran banyak lupa. Awalnya, Made Oka selalu menjawab lupa ketika ditanya jaksa pada KPK. Selain itu, dia selalu menengok ke dokumen yang dibawanya. Ketua majelis hakim Yanto pun memotong. Yanto menegur Made Oka yang kerap mengaku lupa itu. “Anda banyak lupa ya,” tegur Yanto pada Made Oka dalam sidang lanjutan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (22/1/2018). Made Oka mengaku memang lupa sehingga membawa dokumen tersebut. “Makanya saya buku ini, Pak,” jawab Made Oka. Berbagai jawaban lupa itu disampaikan Made Oka ketika ditanya asal usul uang yang masuk ke rekening OCBC miliknya di Singapura. Made Oka mengaku tak tahu tentang transfer uang masuk itu. Malahan, Made Oka dengan santainya mengambil USD 10 ribu dari rekeningnya yang saat itu diakuinya hanya berisi USD 2 ribu. Made Oka pun mengaku tak menanyakan hal itu ke bank. Belakangan, Made Oka mengaku baru tahu duit itu dari PT Biomorf Mauritius milik Johannes Marliem ketika diperiksa penyidik KPK. Kini rekening banknya itu sudah diblokir. “Saya tahu dari penyidik (Biomorf Mauritius). Rekening saya sudah diblokir Pak, waktu ada ribut-ribut ini,” kata Made Oka. Di dakwaan Novanto, jaksa KPK menyebut Novanto menerima total uang USD 7,3 juta terkait korupsi proyek e-KTP. Duit itu diterima Novanto melalui tangan Made Oka Masagung dan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Uang yang diterima Novanto melalui Made Oka sebesar USD 3,8 juta. Uang itu diterima dari Johannes Marliem dan Anang Sugiana Sudihardjo. Jaksa kemudian memerinci pemberian tersebut sebagai berikut: 1. USD 3,8 juta diterima Novanto melalui Made Oka dengan perincian yaitu USD 1,8 juta melalui rekening OCBC Center Branch atas nama OEM Investment Pte Ltd dan USD 2 juta melalui rekening Delta Energy Pte Ltd di Bank DBS Singapura. 2. USD 3,5 juta diterima Novanto melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo pada 19 Januari 2012 sampai 19 Februari 2012.

Salah satu saksi yang dihadirkan adalah pengusaha money changer dari PT Raja Valuta, Deni Wibowo. Masih sama dengan sidang pemeriksaan saksi sebelumnya, JPU KPK mendalami alur aliran dana ke terdakwa melalui jasa money changer tersebut. Dalam persidangan, anggota Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, Anshori sempat menegur Deni lantaran mengucapkan kalimat sumpah saat ditanyakan ihwal skema barter yang dilakukannya. Awalnya, Deni menerangkan bahwa dirinya pernahdiminta melakukan transfer uang ke rekening OEM Investment Pte Ltd. Hanya saja Deni kepada siapa ia mentransfer. “Siapa nasabah Anda yang minta beli valas sehingga Anda minta bantuan Neni?” tanya hakim Anshori di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (18/1). “Di situ di rekening ada,” jawab Deni. Hakim pun meminta Deni kembali mengingat nama orang yang ada di rekening tersebut. Dalam hal ini, hakim berpatokan pada sidang sebelumnya ketika pegawai PT Mekarindo Abadi, Neni, yang mengaku pernah mengirimkan 1,4 juta dollar AS ke rekening OEM Investment Pte Ltd atas perintah Deni. Baca, Transaksi Awal Sebelum Fee Proyek KTP-El Mengalir Jauh. “Coba ingat-ingat dulu. Cash atau transfer,” tanya hakim Anshori lagi. “Transfer, lupa saya pak, enggak tahu mungkin ada money changer lain oh ini kali yang beli kayak ular pak, panjang. Siapa ujungnya yang beli,” jawab Deni. “Masak enggak ada yang ingat sih ?” tanya hakim lagi. “Sumpah enggak tahu pak,” kata Deni. “Sudah disumpah tadi. Hati-hati jangan banyak sumpah nanti kemakan sumpah,” tegas hakim pada Deni. Diketahui, dalam dakwaan Novanto, jaksa KPK menyebut Novanto menerima uang 7,3 juta dolar AS terkait proyek KTP-el. Uang itu diterima sebagian oleh Novanto melalui keponakannya yakni Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, yang sebelumnya ditarik dari OEM Investment.

Pada persidangan ke-15 ini, kubu Basuki alias Ahok menghadirkan tiga saksi ahli. Mereka masih memiliki tiga ahli lain yang tercantum dalam berkas dan 15 saksi tambahan. Sehingga total saksi yang masih ingin dihadirkan sebanyak 18 orang. Tim penasihat hukum Ahok meminta agar sidang dengan agenda mendengarkan keterangan ahli ini digelar empat kali lagi. Namun majelis hakim menawarkan, jadwal diperpadat meliputi persidangan dua kali masing-masing sampai pukul 12 malam, atau sidang digelar dua kali dalam seminggu.

Related Posts

Comments are closed.