Ba’asyir Pernah Ajukan Permohonan Tahanan Rumah Sejak Era SBY

Ba’asyir Pernah Ajukan Permohonan Tahanan Rumah Sejak Era SBY

Menhan Ryamizard Ryacudu mengusulkan ustaz Abu Bakar Ba’asyir dipindahkan dari Lapas Gunung Sindur menjadi tahanan rumah. Pihak pengacara Ba’asyir merespons positif usulan tersebut. “Sebetulnya itu yang sudah bolak-balik kami ajukan permohonan. Kami minta dengan alasan beliau sudah tua dan sakit-sakitan. Kalau bagian itu, kenapa tidak kita dukung?” ujar pengacara Ba’asyir, Achmad Michdan saat dihubungi, Kamis (1/3/2018). Pihak Ba’asyir mengaku sudah mengajukan permohonan tahanan rumah sejak era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga Joko Widodo (Jokowi). Salah satu alasannya, karena faktor usia Ba’asyir. Ba’asyir kini sudah berusia 79 tahun. “Sejak zamannya Pak SBY sampai zamannya Jokowi. Ini kita ingin memberitahukan, respons pejabat bagian yang kami apresiasi sepanjang tidak digunakan untuk kepentingan eksploitasi politik,” kata Michdan. Sebelumnya, Ryamizard menjelaskan pilihan tahanan rumah untuk Ba’asyir menjadi hal tepat karena persoalan keamanan. Ia menyebut, Jokowi setuju usulan itu. “Tahanan rumah saja bagus. Beliau (Jokowi) setuju. Tahanan rumah kan ketemu anak-cucu. Bukan apa-apa. Keamanan dia biar kita tanggung juga. (Misalkan) beliau kita bebaskan nanti kalau ada apa-apa pemerintah lagi,” kata Ryamizard kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (1/3). Ustaz Ba’asyir diizinkan meninggalkan Lapas Gunung Sindur untuk berobat sementara waktu di luar lapas. Ba’asyir sendiri sudah menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

TEMPO.CO , Jakarta – Kuasa hukum  Abu Bakar Baasyir , Guntur Fattahillah, menyambut baik wacana pemerintah yang akan memindahkan kliennya dari Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor, ke tahanan rumah. “Alhamdulillah kalau memang demikian. Kalau memang Menteri Pertahanan sudah menyampaikan, saya terima kasih pada tokoh politik, agama, maupun masyarakat atau pun aparatur pemerintah,” kata Guntur di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018. Baca: Pemerintah Wacanakan Abu Bakar Baasyir Jadi Tahanan Rumah Guntur menuturkan permohonan menjadikan Ba’asyir sebagai tahanan rumah sebenarnya sudah pernah diajukan pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun, kata dia, proses pengajuan itu hingga kini tak mendapat tanggapan.

seperti di kutip dari https://nasional.tempo.co

Menurut Guntur, Ba’asyir sudah semestinya dirawat oleh keluarganya karena usianya sudah mencapai 80 tahun. Bahkan, kata Guntur, organisasi kesehatan dunia (World Health Organization) menganjurkan agar orang yang berusia di atas 80 tahun sepatutnya dirawat keluarga. Simak: Jokowi Belum Terima Surat Permohonan Grasi dari Abu Bakar Baasyir “Silakan dicari referensi itu. Ada di WHO mengatur tentang seseorang yang sudah tua, apalagi dalam hal ini dia ditahan, butuh komunikasi dengan keluarga, intensif dengan istrinya,” ujarnya. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu sebelumnya mengatakan pemerintah berencana menjadikan Baasyir sebagai tahanan rumah. Pertimbangannya, kata dia, kemanusiaan. Saat ini, kondisi kesehatan Ba’asyir sedang menurun. Ia didiagnosa menderita chronic venous insufficiency (CVI) bilateral atau kelainan pembuluh darah vena berkelanjutan. Dia dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Lihat: Merasa Tidak Bersalah, Abu Bakar Baasyir Tolak Ajukan Grasi Baasyir dipenjara karena terbukti bersalah dalam tindakan terorisme. Ia pun mendapat vonis 15 tahun penjara pada 2011 dan telah menjalani hukuman selama hampir 7 tahun di penjara. Awalnya ia dihukum di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Jawa Tengah. Namun, karena kondisi kesehatan yang menurun, ia dipindahkan ke Rumah Tahanan Gunung Sindur, Bogor.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengusulkan agar Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dipindahkan dari Lapas Gunung Sindur menjadi tahanan rumah. Pihak pengacara mengatakan Ba’asyir bersedia menjadi tahanan rumah. “Tadi disampaikan, saya sempat mendengar ada berita di mana Pak Menhan akan memindahkan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir ditahan di sekitar wilayah Solo, dan saya konfirmasi ke Ustaz Abu dan beliau bilang, ‘Saya nggak mau dipindahkan ke Solo (jika dijadikan tahanan kota). Tapi, kalau saya dipindahkan menjadi tahanan rumah, saya mau,'” kata pengacara Ba’asyir, Guntur Fattahillah, di RS Cipto Mangunkusumo, Jl Pangeran Diponegoro, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Guntur mengatakan Ba’asyir sudah beberapa kali mengajukan permohonan menjadi tahanan rumah. Usul itu sudah diajukan sejak kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Melihat ada pertimbangan dari WHO juga orang yang usia sudah 80 tahun itu sepatutnya dirawat oleh keluarga,” kata Guntur. Sebelumnya, Ryamizard menjelaskan pilihan tahanan rumah untuk Ba’asyir menjadi hal tepat karena persoalan keamanan. Ia menyebut Presiden Jokowi menyetujui usulan itu. “Tahanan rumah saja bagus. Beliau (Jokowi) setuju. Tahanan rumah kan ketemu anak-cucu. Bukan apa-apa. Keamanan dia biar kita tanggung juga. (Misalkan) beliau kita bebaskan, nanti kalau ada apa-apa, pemerintah lagi,” kata Ryamizard kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (1/3).

VIVA  – Tim pengacara Abu Bakar Ba’asyir mengaku sudah lama telah mengajukan kepada pemerintah agar kliennya bisa menjadi tahanan rumah. Bahkan, pengajuan itu diklaim telah disampaikan saat Susilo Bambang Yudhoyono masih menjadi presiden. “Kami sudah sampaikan sejak zaman Pak SBY untuk jadi tahanan rumah,” kata salah satu pengacara Ba’asyir, Guntur Fattahillah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis 1 Maret 2018. Menurutnya, pengajuan tahanan rumah itu juga merujuk kepada aturan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Dalam aturan yang dibuat WHO, kata Guntur, apabila tahanan sudah berumur di atas 60 tahun harus dipulangkan untuk dirawat keluarga. Dalam usia yang sudah memasuki 80 tahun, kata dia, Ba’asyir, sudah sepantasnya menjadi tahanan rumah.

seperti di kutip dari https://www.viva.co.id

“Karena melihat ada pertimbangan WHO juga, orang yang usia sudah 80 tahun itu sepatutnya dirawat keluarga. Silakan dicari tentang referensi itu. Ada di WHO yang mengatur tentang seseorang yang sudah tua, apalagi dalam hal ini, dia ditahan butuh komunikasi dengan keluarga, intensif dengan istrinya,” kata Guntur. Dia pun berterima kasih apabila pemerintah di era Presiden Joko Widodo bisa mengabulkan permintaan Ba’asyir. Namun, kata Guntur, hingga kini permintaan Ba’asyir belum pernah ditanggapi pemerintah. “Terima kasih kalau itu bisa diberikan kepada ustaz Abu Bakar Ba’asyir menjadi seorang yang ditahan di rumah. Namun sampai saat ini belum ada tanggapan,” kata dia. Guntur mengaku kaget mendengar isu Ba’asyir telah mengajukan grasi kepada Presiden Jokowi. Bahkan, Guntur telah mengonfirmasi langsung ke Ba’asyir soal isu grasi yang beredar. “Baru tadi beliau mendengar dan beliau tidak setuju dengan grasi karena beliau menyampaikan tidak bersalah,” katanya. “Dia menyampaikan, hanya menerangkan apa yang diyakininya, yaitu agama Islam. Dia menerangkan tentang agama Islam itu sendiri. Seperti halnya seorang penulis atau wartawan yang menulis tentang pendapat-pendapatnya, boleh dong ,” lanjut Guntur. Dia juga meluruskan kabar yang beredar soal permintaan kepada pemerintah agar Ba’asyir dibebaskan. Menurutnya, yang dimaksud usulan itu yakni, agar pemerintah memberikan keleluasan supaya Ba’asyir bisa menjalani pengobatan di rumah sakit. “Perlu diluruskan bahwa kami mengurus ustaz untuk kesehatannya dari tahun lalu, bukan baru hari ini atau minggu lalu. Tapi dari tahun lalu yang terakhir pada bulan Oktober dirawat di RSCM selama kurang lebih 10 hari,” kata dia. Sore tadi, Ba’asyir telah selesai menjalani tes kesehatan di RSCM Kencana. Dari hasil pemeriksaan dokter, tak ada permasalahan serius pada kesehatan Ba’asyir. Namun, hasil diagnosis, ada kelenjar seperti kista yang bersarang di kaki kanan Ba’asyir.  Tim dokter RSCM juga meminta agar Ba’asyir kembali menjalani pemeriksaan kesehatan pada Kamis 8 Maret pekan depan.

“Tahanan rumah saja bagus. Beliau (Jokowi) setuju. Tahanan rumah kan ketemu anak-cucu. Bukan apa-apa. Keamanan dia biar kita tanggung juga. (Misalkan) beliau kita bebaskan nanti kalau ada apa-apa pemerintah lagi,” kata Ryamizard kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (1/3). Ustaz Ba’asyir diizinkan meninggalkan Lapas Gunung Sindur untuk berobat sementara waktu di luar lapas. Ba’asyir sendiri sudah menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. (dkp/dkp) Berita Selengkapnya : detiknews

Pizaro Gozali JAKARTA Tim Pengacara Muslim (TPM) yang menjadi penasihat hukum Abu Bakar Ba’asyir membantah kliennya mengajukan grasi penahanan kepada Presiden Joko Widodo. “Ustaz [Abu Bakar Ba’asyir] tidak pernah mengajukan [grasi]. Sebab kalau dia mengajukan grasi sama saja mengakui bersalah,” ujar Koordinator TPM Ahmad Michdan saat dihubungi Anadolu Agency di Jakarta, Kamis. Menurut Michdan, TPM hanya pernah menyurati presiden untuk memberikan tahanan rumah bagi Ba’asyir karena faktor usia dan kesehatan. “Itu sudah lama kita surati, sejak zaman Presiden SBY [Soesilo Bambang Yudhoyono],” jelas Michdan. Michdan juga mengaku pengobatan Ba’asyir hari ini tidak terkait dengan pernyataan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin agar Presiden Joko Widodo memberi grasi. “Kontrol hari ini sudah dipastikan sejak bulan November lalu, tapi selalu diundur,” jelas Michdan. Menurut Michdan, pengunduran itu terjadi karena Detasemen Khusus Anti Teror (Densus) tidak siap dalam pengamanan. Awalnya, kata Michdan, pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dijadwalkan pada tanggal 22 Februari. “Dokter sudah siap, tapi Densus belum siap. Padahal Abu Bakar Ba’asyir tak perlu pengamanan ketat karena sudah renta,” terang Michdan. Sementara itu, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang menjadi tim medis Ba’asyir menjelaskan pengobatan hari ini di RSCM bagian dari pemeriksaan lanjutan. “Abu Bakar Ba’asyir sudah menjalani tiga kali pemeriksaan di RSCM, termasuk hari ini,” ujar Manajer Operasional MER-C Rima Manzaranis kepada Anadolu Agency. Namun, hingga pemeriksaan berlangsung pada Kamis pagi, Rima belum memastikan apakah Ba’asyir akan menjalani rawat inap di RSCM. “Kita akan menggelar konferensi pers setelah hasil didapatkan,” terang Rima. Isu pemberian grasi untuk Ba’asyir ini mencuat setelah kemarin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin usai bertemu dengan Jokowi di Istana Kepresidenan menyatakan meminta presiden memberikan grasi. “Kalau bisa dikasih grasi. Ya, itu terserah presiden,” kata Ma’ruf Amin kepada pewarta. Sebelumnya, pada 12 Agustus 2017, Ba’asyir didiagnosis mengalami Acute Decompensated Heart Failure (ADHF) pada Congestive Heart Failure (CHF) saat dibawa ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita pada 9 Agustus dan harus menjalani perawatan selama dua hari. Pada 2004, Ba’asyir divonis hukuman dua tahun dan enam bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ia terbukti terlibat dalam peristiwa bom Bali dan bom Hotel JW Marriott. Di 2011, Ba’asyir kembali menerima vonis bersalah dan dihukum 15 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena terlibat dalam pendanaan pelatihan militer (i’dad) di Aceh. Ba’asyir mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih, Nusakambangan. Saat itu, hakim juga menilai Ba’asyir telah melakukan pidana dalam dakwaan subsider dengan Pasal 14 Jo Pasal 7 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang tindak pidana terorisme. Dia disebut terbukti merencanakan pelatihan militer bersama Dulmatin alias Yahya Ibrahim alias Joko Pitono, tersangka kasus bom Bali 2002.  Pihak Ba’asyir, melalui kuasa hukumnya, menolak dakwaan jaksa karena i’dad dinilai tidak bisa serta merta dikaitkan dengan tindak terorisme. Pada 12 Januari 2016, tim pengacara Ba’asyir mengajukan peninjauan kembali (PK) kasusnya di Pengadilan Negeri Cilacap, Jawa Tengah. PK ini kemudian ditolak oleh Mahkamah Agung pada 18 Agustus 2016.  Lima tahun dikurung di Nusakambangan, pendiri Pondok Pesantren Al-Mukmin di Desa Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, ini kemudian dipindah ke LP Gunung Sindur, Bogor, pada 16 April 2016. Kala itu, pemindahan dilakukan karena kondisi kesehatan Ba’asyir yang mulai menurun.

Erric Permana JAKARTA Pemerintah mewacanakan agar terpidana terorisme Abu Bakar Ba’asyir menjadi tahanan rumah. Ini disampaikan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu usai bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta. Menurut dia, Presiden sangat prihatin dengan kondisi Abu Bakar Ba’asyir yang sudah semakin tua dan sakit-sakitan. Jokowi, kata dia, menginginkan agar Ba’asyir dipindahkan. Meski demikian, lanjut Ryamizard, pilihan untuk memberikan grasi ataupun abolisi belum dibahas atau dipikirkan oleh pemerintah. “Itu urusan Polisi lah di mana [dipindahkan] yang paling bagus,” ujar Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Ryamizard menambahkan jika Ba’asyir menjadi tahanan rumah maka akan lebih baik dan bisa dekat dengan keluarga. Pemerintah pun akan menjamin keamanan masyarakat lainnya jika Ba’asyir dijadikan tahanan rumah. “Misalnya beliau kita bebaskan, nanti kalau ada apa-apa, nanti pemerintah lagi [yang kena]. Kan, begitu,” tambah dia. Kata dia juga, Abu Bakar Ba’asyir telah berjanji untuk tidak melakukan baiat ataupun mengajak untuk melakukan aksi teror jika menjadi tahanan rumah. Meski demikian, Ryamizard akan tetap waspada jika nantinya Ba’asyir menjadi tahanan rumah. “Dia janji nanti enggak ada baiat-baiat. Apalagi menjurus mengajak orang [melakukan aksi teror]. Itu janji, saya rasa bagus,” kata dia. Dihubungi secara terpisah oleh Anadolu Agency, Tim Pengacara Muslim (TPM) yang menjadi penasihat

seperti di kutip dari https://anadoluagency.com

zaman Presiden SBY,” jelas Michdan, yang membantah kliennya kini mengajukan grasi penahanan kepada Presiden Joko Widodo. Pada 12 Agustus 2017, Ba’asyir didiagnosis mengalami Acute Decompensated Heart Failure (ADHF) pada Congestive Heart Failure (CHF) saat dibawa ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah. Presiden RI Joko Widodo pun mengaku telah memberikan izin kepada Abu Bakar Ba’asyir untuk dipindah sementara ke rumah sakit. Kamis pagi ini, pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) tersebut akan memeriksakan kesehatannya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat usai diizinkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM. Jokowi mengatakan dipindahkannya Abu Bakar Ba’asyir ini dilihat dari sisi kemanusiaan lantaran pria 79 tahun itu sakit. Pada 2004, Ba’asyir divonis hukuman dua tahun dan enam bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dia terbukti terlibat dalam peristiwa bom Bali dan bom Hotel JW Marriott. Di 2011, Ba’asyir kembali menerima vonis bersalah dan dihukum 15 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena terlibat dalam pendanaan pelatihan militer (i’dad) di Aceh. Ba’asyir mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih, Nusakambangan.

Related Posts

Comments are closed.