Ba’asyir Minta Ditemukan dengan Jokowi

Ba’asyir Minta Ditemukan dengan Jokowi

Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir (ABB) meminta dipertemukan Presiden Joko Widodo. Permintaan itu, disampaikan ABB lewat ketua tim kuasa hukumnya, Ahmad Michdan. “Beliau belakangan ini minta kalau bisa dipertemukan Jokowi,” ucap Michdan kepada detikcom, Kamis (1/3/2018). Namun Michdan tidak bisa mengungkap apa yang akan diutarakan ABB ke Jokowi seandainya pertemuan itu terjadi. Dia mengatakan, ABB tidak menyampaikan apa yang akan dibahas jika nantinya akan bertemu dengan Jokowi. “Entah apa yang disampaikan itu Allahualam, beliau hanya minta ke saya untuk dipertemukan,” ujarnya. Michdan menambahkan, pihak keluarga juga meminta ABB untuk dijadikan tahanan kota. Permintaan itu sudah diberikan pihak keluarga ke Ditjen Pas Kemenkumham. “Kaitan dengan pembebasan kita sudah lama minta. Baik jaman SBY, Pak Jokowi kita sudah kirim surat karena alasan kesehatan dan usia untuk bisa dijadikan tahanan kota,” ujarnya. Lantas apa tanggapan Kemenkumham? “Sampai saat ini belum ada respons,” jawab Michdan mengakhiri pembicaraan.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta Presiden Joko Widodo membolehkan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir mendapatkan perawatan kesehatan di RS Cipto Mangunkusumo. Presiden Jokowi pun disebut setuju terkait rencana tersebut. Hal ini dikatakan oleh Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain. Tengku mengatakan permintaan itu direspons cepat Jokowi dengan memanggil Wakil Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). “Langsung direspons segera, saat itu juga Presiden langsung memanggil Wakil Kepala BNPT untuk menyelesaikan hal itu dengan segera,” kata Tengku saat dihubungi, Selasa (27/2/2018). Tengku mengetahui hal ini karena Ma’ruf Amin bercerita kepadanya. Selain itu, Ma’ruf Amin bercerita juga soal Jokowi yang meminta Ba’asyir diangkut menggunakan helikopter dari Lapas Gunung Sindur ke RSCM. Tengku memandang respons yang ditunjukkan Jokowi sebagai wujud kepedulian terhadap HAM. Dia berharap rencana pengobatan Ba’asyir tak terbentur birokrasi. “(Waktunya) Harusnya segera. Bahkan harus disediakan helikopter kalau perlu untuk mengangkut beliau. Sebegitu Presiden Jokowi ngomong begitu. Hebat juga ya kalau presiden sepeduli itu dengan HAM, saya harap ya anak buah di bawah kalau benar ini perintah Pak Jokowi, harusnya lincah. Mengimbangi gerakan presiden ini. Presiden lincah, yang di bawah juga harus lincah,” ungkapnya. Tengku berharap Ba’asyir dapat diperbolehkan berobat dan pulang ke rumah. Dia mengambil contoh mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais yang mendapatkan grasi pada masa Presiden ke-5 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Syaukani diberikan grasi pada 17 Agustus 2010 atas dasar sudah sakit parah. “Saya pikir kalau Ustaz Abu Bakar Ba’asyir, yang tahu tentu dokter ya. Kalau dokter mengatakan sudah parah, demi hukum semestinya Ustaz Abu Bakar Ba’asyir ya harus pulang. Itu kan demi hukum karena kemanusiaan. Itu sudah tertulis dalam konstitusi kita jadi tidak mungkin dilanggar. Kita kan negara hukum. Tapi dokter yang tahu hal ini,” ungkapnya. Anak ketiga Ba’asyir, Abdul Rohim Baasyir, menceritakan kondisi ayahnya yang mengalami pembengkakan di kaki. Pihak dokter yang merawat terpidana kasus terorisme itu memberikan kaos kaki khusus agar pembengkakan kaki dapat diminimalisir. “Kemudian oleh dokter, karena ada penumpukan air di kaki, diberi kaos kaki khusus. Agar kakinya tak bengkak. Sekarang kakinya sudah tak terlalu bengkak karena kaos kaki itu. Memang butuh perawatan intensif,” ucap Abdul.

MER-C sebagai lembaga kesehatan yang ditunjuk oleh keluarga Ba’asyir memaparkan kondisi kesehatan terakhir Ba’asyir dari pemeriksaan di RS Harapan Kita Jakarta. Saat dilakukan pemeriksaan jantung, dalam tubuh Ba’asyir juga ditemukan penyumbatan, tetapi secara umum kondisi jantung pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu’min, Ngruki itu baik. Atas dasar itu, keluarga meminta agar terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir menjadi tahanan rumah atau dibebaskan karena usia senja dan sudah sakit-sakitan. “Keluarga melihat kondisi kesehatan Ustadz Ba’asyir semakin tua, tentu kondisi kesehatan semakin menurun, serangan-serangan bisa terjadi sesaat karena kondisi fisik semakin tua menurun,” ucap putra Ba’asyir, Abdul Rohim Ba’asyir kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (12/8). Keluarga berharap pemerintah dapat melihat sisi kemanusiaan dan memberikan kelonggaran agar Ba’asyir dapat menjadi tahanan rumah dan dekat dengan keluarga. Saat di rumah, Ba’asyir dapat diurus keluarga, sementara ketika di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, ia tidak bisa mendapat perawatan yang baik. “Kami minta jangan fokus kesalahan apa yang dituduhkan dan mengesampingkan sisi kemanusiaan. Semoga bisa didengar penyelenggara negara dan bijaksana melihat kasus mempertimbangkan kondisi Ustadz,” kata Abdul Rohim. Ditempat yang sama, tim Pengacara Muslim yang diwakili oleh Achmad Michdan menuturkan pihaknya telah mengajukan agar Ba’asyir menjalani sisa hukuman pidana di rumah atau dekat dengan keluarga agar kondisi psikologinya juga tidak terganggu. Achmad mengatakan selama ini pihaknya juga mengusahakan agar keluarga dapat bertemu langsung dengan Ba’asyir selama di tahanan. “Selama ini keluarga hanya bisa bicara dengan kaca, tidak bisa bertemu langsung. Hanya kami dan dokter bisa berjabat tangan dan berdialog, sementara keluarga hanya saat hari raya,” kata Achmad. Achmad menegaskan pihaknya akan menyurati Presiden Joko Widodo, Mahkamah Agung (MA) dan Dirjen Pemasyarakatan agar Ba’asyir dapat menghabiskan masa tuanya di tempat yang lebih baik. [san]

Maka dari itu Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengaku pernah menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo, agar Ustaz Abu Bakar Baasyir dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Hal ini terkait dengan permintaan sejumlah ulama agar ustaz yang tengah menjalani hukuman pidana tersebut mendapatkan perawatan yang layak di RSCM. “Saya pernah menyampaikan dan presiden merespons bagus. Ya setuju, dan beliau sangat apresiasi untuk bagaimana beliau di rawat rumah sakit,” ucap Kiai Ma’ruf di kompleks Istana Negara, Jakarta pada Rabu (28/2). Ustaz Abu yang dijatuhi vonis penjara selama 15 tahun, belakangan kondisi kesehatannya terus menurun. Bahkan sering sakit-sakitan akibat pembengkakan di kakinya. Nah, Kiai Ma’ruf tidak hanya meminta ustaz yang telah menjalani masa hukuman sekitar sembilan tahun tersebut diobati, tapi juga berharap presiden memberikan grasi untuknya. “Beliau (Baasyir) sakit supaya diobati. Kemudian juga diberikan semacam kalau bisa dikasih grasi, ya itu terserah presiden,” pungkasnya seperti diberitakan JPNN. [rik]

Related Posts

Comments are closed.