Aparat Didorong Tegas terhadap Intoleransi dan Hoax

Aparat Didorong Tegas terhadap Intoleransi dan Hoax

Sejumlah tokoh masyarakat memberikan enam seruan moral untuk menjaga dan memperjuangkan kebinekaan. Seruan itu dilakukan untuk menjaga persatuan bangsa menjelang Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019. Deklarasi seruan moral tersebut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, aktivis, dan tokoh agama. Seruan tersebut disepakati 185 tokoh, serta dibacakan secara bergantian oleh tokoh masyarakat. Pertama, para tokoh masyarakat menyerukan masyarakat menjaga, merawat, dan memperjuangkan kebinekaan Indonesia. Caranya dengan melakukan cara-cara efektif menangani ancaman kebinekaan. “Kita semua harus mengeluarkan segenap upaya yang efektif untuk mencegah dan menangani setiap ancaman atas kebinekaan tersebut,” kata tokoh dari Agama Islam, Musdah Mulia, di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (20/2/2018). Kedua, dia meminta penegak hukum menindak tegas dan merespons tindakan bagi mereka yang mengancam kebinekaan. Ketiga, aparat penegak hukum dan pemerintah diminta berpegang teguh pada kalimat Presiden Jokowi yang menyatakan ‘tidak ada tempat bagi intoleransi di Indonesia’. Tokoh masyarakat, tokoh agama, dan aktivis lawan intoleransi. (Yulida Medistiara/detikcom) “Presiden Joko Widodo berulang kali menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi intoleransi di Indonesia, dan kebebasan beragama merupakan hak setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Maka standing position Presiden tersebut harus memberikan energi tambahan bagi setiap aparat pemerintahan di bawah kendali Prediden untuk menindak setiap ancaman atas kebinekaan,” kata pengamat politik, Ray Rangkuti dalam kesempatan yang sama. Keempat, setiap kompetisi di pesta demokrasi baik Pilkada dan Pilpres harus menghindari kampanye hitam, politisasi agama, syiar kebencian yang berbasis isu SARA yang dapat mengancam kohesi sosial, kebhinekaan san integrasi nasional. Kelima, setiap elemen masyarakat memiliki peran di bidang pendidikan, baik di institusi pendidikan resmi hingga keluarga untuk berperan mendidik masyarakat menanamkan kebinekaan. Dengan begitu setiap orang memiliki cipta, rasa, dan karsa untuk berinteraksi secara damai dalam perbedaan dan keberagaman. Keenam, menyerukan para tokoh dan pemuka agama sebagai simbol spiritualitas keagamaan, memiliki peran sentral merawat, menjaga, dan memperjuangkan kebinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Mereka harus memastikan bahwa pendidikan dan pengajaran keagamaan efektif membentuk kepribadian banhsa dan mencegah segala upaya yang dapat memecah-belah antar elemen bangsa dengan menggunakan sentimen keagamaan,” kata Ray. Sementara itu, Ketua Setara Institute Hendardi menyebut kegiatan ini bertujuan agar pemerintah dan penegak hukum tidak membiarkan isu hoax beredar, apalagi beredar menjelang Pilkada dan Pilpres. “Karena itu kami mengambil inisiatif mengajak para tokoh, akademisi, dan aktivis untuk membuat seruan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum dan juga masyarakat. Buat pemerintah dan aparat penegak hukum melakukan tindakan tegas terhadap cara-cara yang tidak kompatibel seperti dengan hoax medsos dan sebagainya,” kata Hendardi.

Baca juga :

Dengan ketajaman otaknya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang – cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca  Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho -nya Al-Farabi (870 – 950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi. [5]

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan buku – buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu .[8]

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam  Regacy of Islam -nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena peperangan-peperangan yang meraja lela di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas. [9]

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Pemikiran ini berbeda dengan pemikiran kaum sufi dan kaum mu’tazilah. Bagi kaum sufi kemurnian tauhid mengandung arti bahwa hanya Tuhan yang mempunyai wujud. Kalau ada yang lain yang mempunyai wujud hakiki disamping Tuhan, itu mngandung arti bahwa ada banyak wujud, dan dengan demikian merusak tauhid. Oleh karena itu mereka berpendapat : Tiada yang berwujud selain dari Allah swt. Semua yang lainnya pada hakikatnya tidak ada. Wujud yang lain itu adalah wujud bayangan. Kalau dibandingkan dengan pohon dan bayangannya, yang sebenarnya mempunyai wujud adalah pohonnya, sedang bayangannya hanyalah gambar yang seakan – akan tidak ada. Pendapat inilah kemudian yang membawa kepada paham  wahdat al-wujud  (kesatuan wujud), dalam arti wujud bayangan bergantung pada wujud yang punya bayangan. Karena itu ia pada hakekatnya tidak ada; bayangan tidak ada. Wujud bayangan bersatu dengan wujud yang punya bayangan.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Kalau kaum Mu’tazilah dalam usaha memurnikan tauhid pergi ke peniadaan sifat – sifat Tuhan dan kaum sufi ke peniadaan wujud selain dari wujud Allah swt, maka kaum filosof Islam yang dipelopori al-Farabi, pergi ke faham emanasi atau  al-faidh . Lebih dari mu’tazilah dan kaum sufi, al-Farabi berusaha meniadakan adanya arti banyak dalam diri Tuhan. Kalau Tuhan berhubungan langsung dengan alam yang tersusun dari banyak unsur ini, maka dalam pemikiran Tuhan terdapat pemikiran yang banyak. Pemikiran yang banyak membuat faham tauhid tidak murni lagi. [18]

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Jiwa rasional mencakup daya-daya yang khusus pada manusia. Jiwa rasional melaksanakan fungsi yang dinisbatkan pada akal. Ibnu Sina mendefinisikan jiwa rasional sebagai kesempurnaan pertama bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik, dimana pada suatu sisi ia melakukan berbagai prilaku eksistensial berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi yang lain ia mempersepsi semua persoalan universal. Pada jiwa rasional mempunyai dua daya, yaitu daya akal praktis dan daya akal teoritis.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Menurut Ibn Sina antara jasad dan jiwa memiliki korelasi sedemikian kuat, saling bantu membantu tanpa henti-hentinya. Jiwa tidak akan pernah mencapai tahap fenomenal tanpa adanya jasad. Begitu tahap ini dicapai ia menjadi sumber hidup, pengatur, dan potensi jasad, bagaikan nakhoda ( al-rubban ) begitu memasuki kapal ia menjadi pusat penggerak, pengatur dan potensi bagi kapal itu. Jika bukan karena jasad, maka jiwa tidak akan ada, karena tersedianya jasad untuk menerima, merupakan kemestian baginya wujudnya jiwa, dan spesifiknya jasad terhadap jiwa merupakan prinsip entitas dan independennya nafs. Tidak mungkin terdapat nafs kecuali jika telah terdapat materi fisik yang tersedia untuknya. Sejak pertumbuhannya, jiwa memerlukan, tergantung, dan diciptakan karena (tersedianya) jasad. Dalam aktualisasi fungsi kompleknya, jiwa mempergunakan dan memerlukan jasad, misalnya berpikir yang merupakan fungsi spesifiknya tak akan sempurna kecuali jika indera turut membantu dengan efeknya.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Selanjutnya dalam pandangannya pikiran mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap fisik, berdasarkan pengalaman medisnya, Ibn Sina menyatakan bahwa sebenarnya secara fisik orang-orang sakit, hanya dengan kekuatan kemauannyalah dapat menjadi sembuh. Begitu juga orang yang sehat, dapat benar-benar menjadi sakit bila terpengaruh oleh pikirannya bahwa ia sakit. Demikian pula, jika sepotong kayu diletakkan melintang di atas jalan sejengkal, orang dapat berjalan di atas kayu tersebut dengan baik. Akan tetapi jika kayu diletakkan sebagai jembatan yang di bawahnya terdapat jurang yang dalam, orang hampir tidak dapat melintas di atasnya, tanpa benar-benar jatuh. Hal ini disebabkan ia menggambarkan kepada dirinya sendiri tentang kemungkinan jatuh sedemikian rupa, sehingga kekuatan alamiah jasadnya menjadi benar-benar seperti yang digambarkan itu.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Korelasi antara jiwa dan jasad, menurut Ibn Sina tidak terdapat pada satu individu saja. Jiwa yang cukup kuat, bahkan dapat menyembuhkan dan menyakitkan badan lain tanpa mempergunakan sarana apapun. Dalam hal ini ia menunjukkan bukti fenomena hipnotis dan sugesti ( al-wahm al’amil ) serta sihir. Mengenai masalah ini, Hellenisme memandang sebagai benar-benar ghaib, sementara Ibn Sina mampu mengkaji secara ilmiah dengan cara mendeskripsikan betapa jiwa yang kuat itu mampu mempengaruhi fenomena yang bersifat fisik. Dengan demikian ia telah berlepas diri dari kecenderungan Yunani yang menganggap hal-hal tersebut sebagai gejala paranatural, pada campur tangan dewa-dewa.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Mereka melaksanakan berbagai riset di dalam alam semesta dan segala sesuatu yang menakjubkan di dalam dunia binatang dan tumbuh – tumbuhan. Melalui riset-riset itu mereka cukup banyak menyaksikan keajaiban – keajaiban di dalam ciptaan  Allah dan mereka menemukan kebijaksanaan-Nya sehingga akhirnya mereka mau tak mau mengakui adanya satu pencipta yang Maha Bijaksana. Walaupun demikian mereka tetap menyangkal adanya hari pengadilan, kebangkitan kembali dan kehidupan akhirat. Mereka tidak mengenal pahala dan dosa, karenanya mereka memuaskan nafsu – nafsu mereka seperti binatang.

Sejumlah tokoh masyarakat memberikan enam seruan moral untuk menjaga dan memperjuangkan kebinekaan. Seruan itu dilakukan untuk menjaga persatuan bangsa menjelang Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019. Deklarasi seruan moral tersebut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, aktivis, dan tokoh agama. Seruan tersebut disepakati 185 tokoh, serta dibacakan secara bergantian oleh tokoh masyarakat. Pertama, para tokoh masyarakat menyerukan masyarakat menjaga, merawat, dan memperjuangkan kebinekaan Indonesia. Caranya dengan melakukan cara-cara efektif menangani ancaman kebinekaan. “Kita semua harus mengeluarkan segenap upaya yang efektif untuk mencegah dan menangani setiap ancaman atas kebinekaan tersebut,” kata tokoh dari Agama Islam, Musdah Mulia, di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (20/2/2018). Kedua, dia meminta penegak hukum menindak tegas dan merespons tindakan bagi mereka yang mengancam kebinekaan. Ketiga, aparat penegak hukum dan pemerintah diminta berpegang teguh pada kalimat Presiden Jokowi yang menyatakan ‘tidak ada tempat bagi intoleransi di Indonesia’. Tokoh masyarakat, tokoh agama, dan aktivis lawan intoleransi. (Yulida Medistiara/detikcom) “Presiden Joko Widodo berulang kali menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi intoleransi di Indonesia, dan kebebasan beragama merupakan hak setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Maka standing position Presiden tersebut harus memberikan energi tambahan bagi setiap aparat pemerintahan di bawah kendali Prediden untuk menindak setiap ancaman atas kebinekaan,” kata pengamat politik, Ray Rangkuti dalam kesempatan yang sama. Keempat, setiap kompetisi di pesta demokrasi baik Pilkada dan Pilpres harus menghindari kampanye hitam, politisasi agama, syiar kebencian yang berbasis isu SARA yang dapat mengancam kohesi sosial, kebhinekaan san integrasi nasional. Kelima, setiap elemen masyarakat memiliki peran di bidang pendidikan, baik di institusi pendidikan resmi hingga keluarga untuk berperan mendidik masyarakat menanamkan kebinekaan. Dengan begitu setiap orang memiliki cipta, rasa, dan karsa untuk berinteraksi secara damai dalam perbedaan dan keberagaman. Keenam, menyerukan para tokoh dan pemuka agama sebagai simbol spiritualitas keagamaan, memiliki peran sentral merawat, menjaga, dan memperjuangkan kebinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Mereka harus memastikan bahwa pendidikan dan pengajaran keagamaan efektif membentuk kepribadian banhsa dan mencegah segala upaya yang dapat memecah-belah antar elemen bangsa dengan menggunakan sentimen keagamaan,” kata Ray. Sementara itu, Ketua Setara Institute Hendardi menyebut kegiatan ini bertujuan agar pemerintah dan penegak hukum tidak membiarkan isu hoax beredar, apalagi beredar menjelang Pilkada dan Pilpres. “Karena itu kami mengambil inisiatif mengajak para tokoh, akademisi, dan aktivis untuk membuat seruan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum dan juga masyarakat. Buat pemerintah dan aparat penegak hukum melakukan tindakan tegas terhadap cara-cara yang tidak kompatibel seperti dengan hoax medsos dan sebagainya,” kata Hendardi.

Dua menteri di kabinet kerja era Presiden Joko Widodo, yakni Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dan Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mendapat Anugerah Herman Johannes Award dari Fakultas Teknik (FT) UGM. Selain kedua menteri tersebut, masih ada tiga tokoh lainnya yang diberikan anugerah yakni Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso, bidang Teknologi Pengairan, Prof. Dr. Soebroto, M.A., bidang Industri dan Dr. Ir. Hartarto Sastrosoenarto, bidang Industri. Ketua Umum KATGAMA, Agus Priyatno mengatakan, Menteri Susi mendapatkan anugerah di bidang kelautan. Sementara Menteri Basuki di bidang infrastruktur. Kedua menteri ini dianggap berjasa dan memberikan kontribusi nyata buat negara. Foto: Usman Hadi/detikcom “Beliau (Menteri Susi) menggreat sesuatu yang selama ini (menjaga) masalah kekayaan laut. Dedikasinya luar biasa, tidak kenal lelah, jadi intinya adalah melaksanakan tugas tanpa pamrih,” kata Agus saat dihubungi, Selasa (20/2/2018). “Demikian juga dengan Pak Basuki, yang telah mengembangkan infrastruktur yang demikian luar biasa kemajuannya, yang kebijakan beliau walaupun ini semua adalah (arahan) Presiden Jokowi. Karya, sumbangsih, dedikasinya tidak kenal lelah,” lanjutnya. Agus menambahkan, pemberian Anugerah Herman Johannes Award memang tidak hanya ditujukan kepada tokoh yang berjasa di bidang teknik saja. Melainkan juga untuk mengapresiasi tokoh yang memberikan kontribusi nyata kepada negara. “Tidak (harus berkonstribusi di bidang teknik), jadi keilmuan itu kan bermacam-macam. Walaupun dia (Menteri Susi) bukan orang teknik, tetapi dia berkonstribusi (menjaga) masalah kekayaan laut itu,” paparnya. Pemilihan tokoh yang menerima anugerah ini, lanjut Agus, juga sudah melalui seleksi yang ketat. Pihak panitia mulai menyeleksi sejumlah tokoh yang dianggap layak menerima anugerah sejak Mei 2017. Nama-nama tersebut kemudian diseleksi panitia. “Ini kita menyeleksi hampir setahun, jadi kalau tidak salah bulan Mei 2017. Kita kan mereview putra-putri bangsa yang telah memberikan karya, sumbangsih, pengabdian, dedikasi yang tidak kenal lelah,” ungkapnya. “Jadi mudah-mudahan dengan (penganugrahan Herman Johannes Award) tadi, ini bisa menginspirasi kepada tokoh-tokoh yang lain, khususnya kepada generasi now untuk berkonstribusi yang terbaik kepada bangsa dan negara,” pungkas dia.

Tiang girder proyek Tol Becakayu, di Kebon Nanas, Jakarta Timur, ambruk dini hari tadi. Polisi menduga tiang girder roboh karena bracket kurang kuat. “Dugaan sementara mungkin bracket (siku) tember kurang kuat,” ujar Kapolres Jakarta Timur Kombes Yoyon Tony Surya Putra, di lokasi kejadian, Jl DI Panjaitan, Jakarta Timur, Selasa (20/2/2018). Namun hal itu masih dugaan sementara. Yoyon mengatakan polisi akan terus mendalami penyebab robohnya tiang tersebut. “Ini yang harus kami dalami kenapa bracket tember itu bisa jatuh, apakah kurang kuat dalam memasang baut pengencangnya atau gimana nanti kita olah TKP,” ucapnya. Yoyon menambahkan, pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan kepada pengawas proyek dan manajer proyek. “Selain pemeriksaan saksi-saksi, kita akan lakukan pemeriksaan terhadap pengawas proyek dan manajer proyek,” tuturnya. Tiang girder proyek Becakayu ambruk pada pukul 03.40 WIB. Tiang tersebut ambruk menimpa 7 pekerja. Para pekerja berhasil dievakuasi pukul 04.45 WIB. [Gambas:Video 20detik]

Sebanyak tujuh orang mengalami luka dengan kondisi bervariasi akibat tiang girder proyek tol Becakayu roboh. Ini dia identitas para korban. [Gambas:Video 20detik] Berikut adalah identitas para korban berdasarkan data yang disampaikan Sekertaris Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur Sarjono, Selasa (20/2/2018): Data Korban di RS UKI (6 orang): 1. Supri Tempat tanggal lahir (Ttl) : Kendal 31 Desember 1971 Alamat : dsn. Pomahan desa kali putih rt. 004/007 kel. Kali putih kec. Singorejo jawa tengah Dx: Fraktur antebrachii dextra dan luka terbuka regio capitis 2. Kirpan Ttl : banyumas 16 juli 1981 Alamat : dsn. Dadapan rt. 002/004 kel. Singorojo Kec. Singorojo Jawa Tengah. Dx: Trauma tumpul thorax 3. Sarmin Ttl : kendal 10 meret 1972 Alamat : dsn. Pomahan Desa Kaliputih rt. 004/007 Kel. Kali putih kec. Singorejo Jawa Tengah Dx: Luka memar 4. Rusman Ttl : Sukabumi 11 November 1982 Alamat : kp. Bumisari rt. 005/002 kel. Wanajaya kec. Cisolok Jawa Barat Dx: Luka memar 5. Joni Arisman Ttl : Sukabumi 01 Januari 1978 Alamat : kp. Cimutir rt. 005/004 kel. Cikelat kec. Cisolok Jawa Barat Dx: Fraktur pedis dextra 6. Agus (27 tahun) Dx: Luka memar panggul dan bahu kanan. Status korban: Rawat Inap Korban di RS POLRI 1. Waldi 41 th Alamat: Kendal Dx: Susp. Fraktur os Nasal

Ketua MPR Zulkifli Hasan meminta Polri menjelaskan secara terang benderang perihal meninggalnya terduga teroris Muhammad Jefri setelah ditangkap tim Densus 88 di Indramayu. Menurut Zulkifli, penanganan kasus tersebut harus jujur. “Itu harus dijelaskan kenapa meninggal, katanya gara-gara serangan jantung ya silakan transparan, terbuka, bisa diautopsi terbuka, transparan, jujur apa adanya supaya tak ada salah paham,” kata Zulhas saat menghadiri seminar ‘Menghadapi Fenomena Penzaliman Terhadap Ulama’ di Aula DDII, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (20/2/2018). Kata Zulkifli, publik saat ini sangat sensitif dalam menyikapi sejumlah isu. Karena itu, Polri harus terbuka menjelaskan soal tewasnya M Jefri. “Karena sekarang dikit, salah paham. Publik lagi sensitif masuk tahun politik ini. Termasuk parlemen juga harus bijak seperti MD3 kita akan jelaskan aparat kepolisian kalau ada penyerangan ke ulama segera dijelaskan yang terjadi karena tafsiran macam-macam, yang penting tegas tepat terbuka kalau sekarang,” ujarnya. Sebelumnya, polisi menyebut Jefri meninggal karena serangan jantung. Polisi mengatakan tidak ada luka lebam yang ditemukan di tubuh Jefri. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menyebut awalnya Jefri ditangkap di perjalanan pada 7 Februari pukul 15.17 WIB. Setelah ditangkap, kata Setyo, Jefri pada pukul 18.00 WIB mengeluh sesak napas. Setyo mengatakan tim Densus 88 membawa Jefri ke klinik terdekat. Namun, di klinik tersebut, kata Setyo, nyawa Jefri tidak tertolong. “Setelah dilakukan penangkapan pada pukul 18.00 WIB, tersangka mengeluh sesak napas dan segera dibawa ke klinik terdekat di wilayah Indramayu, Jawa Barat. Lalu pukul 18.30 WIB, berdasarkan keterangan dokter, tersangka telah meninggal dunia,” kata Setyo di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan. Kamis (15/2).

Mantan Ketua MPR Amien Rais meminta pemerintah tak bersikap sombong dalam menangani kasus dugaan pornografi Habib Rizieq Syihab. Amien mengatakan umat Islam tak pernah mencari masalah dengan pemerintah. “Jadi saya pesan rezim penguasa ini hati-hati, umat Islam itu tidak pernah mencari gara-gara. Tapi kalau imam besarnya dihina, dipelintir-pelintir proses hukum untuk memojokkan imam besar kita ini, maka saya sudah mengatakan hati-hati. Jangan sampai saya mengatakan, ‘ I’ve told you ,'” kata Amien di kantor DDII, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (20/2/2018). Amien juga meminta Presiden Jokowi mengingatkan aparat keamanan terkait hal tersebut. Menurutnya, umat Islam juga termasuk pemilik sah republik ini. “Jadi ini langsung Pak Jokowi saya sampaikan hati-hati. Anda adalah ‘lurah’ negeri ini, beri tahu aparat keamanan jangan jumawa, jangan takabur, karena kita juga pemilik sah negeri ini. Negeri ini milik kita semua, jadi jangan macam-macam,” ujarnya. Selain itu, Amien membandingkan kasus Rizieq itu dengan dugaan prostitusi di Alexis. Kata Amien, dua kasus itu sangat jauh berbeda. “Jadi tolong tuduhan, percakapan pornografi yang dituduhkan itu dibandingkan dengan prostitusi ala Alexis dll, itu bukan seperseribunya. Saya tak ingin membela sesuatu yang memang sudah begitu jelas,” kata Amien.

Video wanita marah dan menuduh wanita lain merebut suaminya, beredar luas di media sosial dan grup WhatsApp. Wanita itu memaki dan ‘menggebyur’ wanita berinisial N yang dituduhnya dengan uang jutaan. Bagaimana cerita di balik video itu? “Dia (OV) marah dan menuduh saya berselingkuh dengan suaminya,” kata N kepada detikcom melalui telepon, Selasa (20/2/2018). N menjelaskan kemarahan OV didasarkan chatting N dan suami OV yang berinisial D. Efek dari chatting, dia dituduh sebagai pelakor atau perebut lelaki orang. “Kalau itu (chatting) saya mengaku salah,” aku wanita asal Kediri yang tinggal di Tulungagung ini. N menambahkan, OV merupakan teman dekatnya sejak sama-sama menjadi penyanyi. Hubungan pertemanan terjalin dengan baik sebelum kejadian dalam video tersebut. Video berdurasi 4 menit 52 detik beredar luas melalui jejaring sosial dan pesan WhatsApp. Dalam video, N duduk sambil menunduk. OV marah dan melemparkan uang pecahan Rp 100 ribu serta Rp 50 ribu kepada N yang disebut merebut suami dan menginginkan uang. Dia juga menuding N berkali-kali menerima uang dari suaminya. Video tersebut viral. Akun facebook N dan OV dibanjiri komentar. OV enggan berkomentar. “Maaf no comment Mas, mohon maaf,” jawabnya via pesan WhatsApp. [Gambas:Video 20detik]

Related Posts

Comments are closed.