Anies: Jakarta Punya Alat Penanggulangan Bencana Paling Lengkap

Anies: Jakarta Punya Alat Penanggulangan Bencana Paling Lengkap

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut Jakarta memiliki peralatan penanggulangan bencana paling lengkap di Indonesia. Dengan kelengkapan ini, Anies berharap petugas pemadam kebakaran bisa bekerja cepat. “Alhamdulillah Jakarta bisa dibilang memiliki peralatan penanggulangan bencana paling lengkap di seluruh Indonesia. Kita insyaallah terus tingkatkan fasilitas-fasilitas yang bisa memastikan bahwa kejadian-kejadian apa pun di Jakarta bisa ditangani dengan cepat dan tuntas,” kata Anies di halaman kantor Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta, Jl KH Zainul Arifin No 71 Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Pernyataan ini disampaikan Anies usai melihat aksi petugas pemadam kebakaran unjuk kebolehan proses penyelamatan korban kebakaran. Penanggulangan kebakaran di perkampungan jalan sempit juga bisa dilakukan dengan peralatan yang dimiliki Damkar DKI. “Anda tadi lihat salah satunya motor pemadam yang bisa bergerak cepat tanpa terkendala macet sehingga bisa sampai lokasi kebakaran dan langsung bertindak,” terangnya. “Jakarta banyak gedung tinggi. Karena itu kita punya fasilitas untuk pengamanan gedung tinggi. Di sisi lain, Jakarta banyak kampung-kampung yang jalannya agak sempit. Karena itu, fasilitas yang dimiliki bukan hanya untuk penckar langit tapi juga kampung-kampung yang jalannya sempit dan sudah disiapkan,” lanjut dia. Untuk memaksimalkan penanggulangan kebakaran, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta berharap ada penambahan personel. Kepala Dinas PKP DKI Jakarta Subejo meminta Pemprov menambah 600 personel. “Kita berharap nanti sesuai kemampuan pemda, kita kaji lagi karena masih ada kekurangan. Kita mohon lagi ke pemda. Kita sudah ada penambahan 1.200 mungkin tahun depan kalau diizinkan kita mohon 600 lagi sehingga 1 unit bisa 5 orang. Bisa lebih optimal,” ujar Subejo.

Baca juga :

Sebenarnya, sampai sekarang belum ada kandidat yang dapat dikatakan sebagai calon presiden (capres). Yang ada barulah “balon” presiden, bakal calon presiden. Resminya, capres baru muncul sesudah pemilu legislatif. Ia harus mendapat dukungan dari satu atau gabungan partai yang memperoleh minimal 25 persen suara nasional atau 20 persen kursi DPR. Melihat fakta fragmentasi politik dalam masyarakat, persyaratan ini akan menjadi alat penyaring yang ampuh. Sebagian besar partai akan gigit jari, tidak akan mampu memiliki capresnya sendiri. Yang akan muncul paling-paling dua atau tiga capres resmi dari partai-partai besar yang ada.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Dari segi jumlahnya, lumayan banyak tokoh yang kini muncul. Hampir setiap partai mempunyai satu atau lebih nama balon presiden. Bahkan salah satu partai muncul dengan 10 nama, yang kini bersaing dalam konvensi. Balon presiden ini datang dari berbagai latar belakang. Ada jenderal purnawirawan, ada anggota parlemen, menteri dan mantan menteri kabinet, gubernur, mantan hakim, diplomat, pengusaha, investment banker, pemilik media, akademisi, bahkan artis dan penyanyi. Siapa di antara mereka yang akan muncul sebagai capres betulan? Siapa di antara mereka yang akan menjadi Presiden RI ke-7? Kita tunggu tanggal mainnya.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Dari segi latar belakang atau asal-usul presiden kita, ada beberapa hal yang bisa dikatakan. Bung Karno adalah seorang insinyur, aktivis, dan seniman sekaligus. Pak Harto, jenderal dan akrab dengan dunia petani. Presiden Habibie, insinyur, profesor, mantan manajer perusahaan besar Jerman, serta mantan menteri kabinet. Gus Dur, ulama besar, budayawan, penulis, aktivis, mantan pendiri partai, dan bisa juga disebut humoris. Ibu Megawati, mantan anggota parlemen, aktivis, ketua umum partai, dan mantan wapres. Pak SBY, jenderal, mantan menteri kabinet, dan pendiri partai.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Negeri Paman Sam telah memiliki 44 presiden. Kecuali beberapa kasus, semua Presiden AS terpilih dalam pilpres secara langsung, lewat perwakilan electoral college yang agak sedikit rumit. Semuanya juga dicalonkan partai politik, kecuali Presiden George Washington, sebagai Presiden AS yang pertama. Pemilihan Bung Karno sebagai presiden mirip dengan George Washington: keduanya dianggap sebagai Bapak Pendiri Bangsa, dan karena itu, sewaktu pemerintahan pertama terbentuk pasca-revolusi, keduanya tidak perlu berjuang merebut atau berkompetisi lewat pemilu dalam bentuk apapun, tetapi diminta, dimohon, atau didorong untuk menduduki posisi terhormat tersebut.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Pada masa-masa awal, presiden AS datang dari generasi founding fathers, tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan, perumusan konstitusi, serta diplomasi luar negeri melawan Inggris. Setelah George Washington, posisi terhormat itu berturut-turut diduduki oleh John Adams, Thomas Jefferson, dan James Madison. Selain pejuang kemerdekaan, perumus konstitusi dan politisi, tokoh-tokoh awal ini juga dikenal luas sebagai intelektual, filsuf, natural scientists, pengacara, dan penulis yang cemerlang.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Dari segi ini, sejarah AS agak mirip juga dengan sejarah kita: Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dan banyak lagi yang layak disebut sebagai the Indonesian founding fathers: mereka adalah kaum intelektual, pemikir dan penulis yang piawai (dalam soal ini, karena tulisannya yang mengalir, tajam, dan dengan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti, Bung Karno adalah primus interpares di antara mereka. Kalau tidak menjadi presiden, atau kalau tidak terlalu sibuk membidani lahirnya sebuah bangsa, tokoh asal Blitar ini pasti bisa menjadi penulis lebih banyak lagi buku yang cemerlang).

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Bedanya adalah, kursi kekuasaan terlalu lama diduduki oleh presiden pertama dan presiden kedua kita. Kalau George Washington hanya 8 tahun menjadi presiden dan John Adams hanya 4 tahun, masa kekuasaan Bung Karno dan Pak Harto secara berurutan berlangsung praktis hampir setengah abad. Akibatnya adalah, tokoh-tokoh pendiri bangsa lainnya tidak sempat menduduki jabatan tersebut. Hatta hanya sempat menjadi wapres. Memang, ada beberapa yang menjadi perdana menteri (posisi tertinggi eksekutif waktu itu), seperti Sjahrir. Tapi karena pergolakan politik zaman itu, posisi ini hanya diduduki secara singkat, bahkan ada yang memimpin hanya dalam hitungan bulan.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Kembali ke soal latar belakang dan asal-usul presiden, sosok yang juga cukup dominan di AS adalah para jenderal dan pahlawan perang, baik perang kemerdekaan, perang saudara, perang di perbatasan, maupun perang dunia. George Washington adalah jenderal perang, disusul oleh Andrew Jackson, William Harrison, dan Ullyses S. Grant. Tokoh terakhir ini adalah jenderal besar yang membantu Presiden Abraham Lincoln menaklukkan pemberontakan negara-negara bagian di selatan yang terus berusaha mempertahankan sistem perbudakan. Grant kemudian menjadi sangat populer dan terpilih menjadi presiden AS pada pemilu 1868.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Di abad ke-20, jenderal terkenal dan paling dicintai rakyat AS yang kemudian menjadi presiden adalah Dwight D. Eisenhower, panglima tertinggi sekutu yang berhasil mengalahkan Hitler dan menaklukkan Eropa. Rupanya, keterlibatan dalam perang, baik sebagai prajurit biasa maupun perwira menengah, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi publik AS. John F. Kennedy adalah perwira menengah di US NAVY, angkatan laut AS, dan dianggap sebagai pahlawan muda yang heroik dalam Arena Perang Pasifik melawan Jepang. Jimmy Carter pernah bertugas sebagai perwira kapal selam nuklir. George HW. Bush adalah penerbang tempur dalam Perang Dunia II.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Dalam hal ini, barangkali Indonesia juga hampir sama. Pak Harto dan Pak SBY adalah jendral yang dalam masa mudanya pernah terlibat dalam perang. Pak Harto dalam perang perjuangan, Pak SBY dalam perang di Timor Timur. Sekarang pun, dari banyak balon presiden yang ada, sebagian berlatar belakang militer (Wiranto, Prabowo Subianto, dan Pramono Edhi Wibowo). Apakah latar belakang militer sekarang ini masih memiliki daya tarik yang kuat di masyarakat kita seperti pada zaman Pak Harto dulu? Wallahu a’lam bissawab.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Selain militer dan perang, latar belakang yang juga menonjol di Negeri Paman Sam adalah profesi hukum dan pengacara. Mayoritas presiden AS pernah berprofesi sebagai pengacara atau meniti karir di dunia hukum, sejak Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, sampai Bill Clinton dan Barrack Obama. Profesi hukum tampaknya menjadi modal besar untuk mengetahui berbagai seluk beluk ketatanegaraan. Ia juga menjadi arena yang tepat untuk melatih kemampuan seseorang dalam berdebat, menyajikan argumen yang tajam dan trengginas dalam mempengaruhi pikiran orang lain. Karena itu, profesi ini sering dijadikan sebagai pintu masuk ke dunia politik, mulai di tingkat lokal, sampai tingkat nasional.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Di Indonesia, profesi hukum dan karir di universitas memang belum menjadi latar belakang yang menonjol dari balon-balon presiden yang ada. Mungkin karena usia sistem demokrasi kita masih muda. Dari tokoh-tokoh yang ada, hanya dua nama yang mengemuka, yaitu Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan akedemisi dari UII Jogja, serta Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina. Kita tunggu kiprah dan langkah keduanya dalam menapak karir politik sampai ke puncak. Barangkali bukan untuk pemilu kali ini, tapi untuk pemilu pada lima tahun berikutnya.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Dengan menjadi gubernur, seorang tokoh dapat membangun rekam jejak yang positif dalam pemerintahan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan orang banyak. Selain itu, karena dipilih langsung, tokoh tersebut sudah terlatih dalam mengikuti pemilu. Walaupun di tingkat lokal atau regional, pengalaman seperti ini jangan dianggap remeh. Ia memberikan kepekaan tertentu, melatih seseorang untuk mengerti apa dan bagaimana merebut hati pemilih, teknik, cara, dan gaya berbicara yang mudah dipahami oleh rakyat kebanyakan. Singkatnya, dengan menjadi gubernur, seorang tokoh telah lulus melewati ujian untuk berkompetisi secara terbuka serta, sebagai hasilnya, memperoleh panggung dan kesempatan untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang baik dan berhasil.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Tidak heran jika posisi gubernur di Indonesia juga sudah mulai menjadi modal besar untuk sampai ke Istana Merdeka. Walaupun masih perlu dibuktikan, namun beberapa nama kini sudah mulai muncul. Sinyo Sarundayang, Gubernur Sulawesi Utara, adalah salah satu peserta Konvensi Partai Demokrat. Gubernur lain, seperti Sukarwo (Jatim), Ganjar Pranowo (Jateng), Ahmad Heryawan (Jabar), Syahrul Yasin Limpo (Sulsel), Alex Noerdin (Sumsel) telah mengisi daftar baru calon-calon pemimpin nasional, kalau tidak sekarang mungkin di masa-masa mendatang.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Begitu banyak pertanyaan menarik. Tren baru, gejala baru, tokoh-tokoh baru, semangat baru, serta sejumlah teka-teki baru. Itu baru perbandingan dan telaah latar belakang menurut pengalaman, profesi, keahlian, dan pekerjaan capres atau balon presiden yang ada. Kalau kita tarik perbandingan Indonesia-AS ke aspek lain lagi, katakanlah dalam soal minoritas-mayoritas etnis, suku atau agama, maka banyak hal yang juga penting dan tidak kalah menariknya, tetapi sudah terlalu panjang untuk dijelaskan secara lengkap dalam tulisan ini.

seperti di kutip dari https://pustakailmudotcom.wordpress.com

Dalam hal tertentu, barangkali kita bisa berkata bahwa Indonesia lebih beruntung. Kennedy dan Obama muncul setelah demokrasi AS berjalan dua abad. Habibie, yang bukan berasal dari suku Jawa yang mayoritas, telah menjadi presiden saat demokrasi Indonesia justru baru melangkah. Tentu saja, Habibie tidak dipilih langsung oleh rakyat, jadi ia bukan ukuran yang sempurna. Tapi fakta bahwa orang Jawa tidak melancarkan protes kesukuan di bawah pemerintahan Habibie yang singkat itu menandakan suatu hal yang cukup membesarkan hati.


Baca juga :

Intelligence is knowledge , demikian secara generik menurut kamus. Jargon militer mengartikan – intelligence is foreknowledge . – kemampuan “ weruh sadurunge winarah ”. Meski intelijen diharapkan weruh sadurunge winarah , tatkala garis pertahanan Bar Lev Israel di Gurun Sinai hancur berkeping-keping pada ofensif Oktober 1973 oleh serbuan yang mendadak dari jenderal Sazely dalam Perang Ramadhan, orang hampir-hampir tidak bisa percaya bahwa badan intelijen Mossad yang legendaris itu ternyata tidak memiliki kawruh akan adanya ofensif di hari raya Youm Kippur sesuai dengan reputasinya yang digembar-gemborkan selama ini.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Ketika menjelang Natal pada 24 Desember 1979 sembilan divisi Uni Soviet, yang terdiri dari divisi berlapis baja ke-5, ke-54, ke-103, ke-104, lalu divisi mobil udara ke-105, serta divisi infanteri bermotor ke-66, ke-201, ke-357 dan ke-360, terdiri tidak kurang dari 45.000 orang prajurit melancarkan serbuan besar-besaran menyeberangi perbatasan Tajikistan menyerbu dan menduduki Afganistan, tiga badan intelejen Amerika Serikat paling canggih –-CIA, DIA ( Defense Intelligence Agency ) dan NIA ( National Intelligence Agency )-– yang diawaki dengan personil yang paling terlatih dan paling berpengalaman, diperlengkapi dengan sarana penyadap elektronika dan pemantau satelit yang mampu mengawasi tiap jengkal permukaan bumi pada tiap saat, tiba-tiba saja oleh keberhasilan pendadakan itu tampak menjadi badan-badan intelijen paling konyol di dunia. Harap diingat, sembilan divisi bukanlah jumlah kekuatan yang kecil yang begitu saja dapat lolos dari pengamatan.1)

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Contoh lain lagi. Ofensif Argentina pada tanggal 2 April 1982 terhadap kepulauan Falkland, atau Malvinas kata orang Argentina, adalah juga ceritera nyata betapa sebuah lembaga intelijen paling bergengsi seperti MI-6 Inggeris tertangkap basah tidak mampu mengantisipasi serangan dadakan tersebut sebelumnya. Jadi, badan-badan intelijen, yang paling canggih, paling berpengalaman, dan paling bergengsi seperti Mossad, CIA, MI-6, bahkan KGB sekalipun, ternyata bukanlah lembaga-lembaga dewa yang serba tahu dan serba bisa. Bahwa intelijen sebagai lembaga harus mampu menjalankan empat fungsi utamanya, yaitu –- to anticipate , to detect , to identify , and to forewarn- – secara mumpuni, memang itulah yang diharapkan.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Maka dari itu, ketika Pemerintah Orde Baru pada waktu yang lalu menginstruksukan untuk membangun “posko-posko kewaspadaan” guna mengantisipasi terhadap berbagai kemungkinan adanya dadakan kerusuhan sosial, perintah semacam itu tak pelak lagi merupakan suatu sindiran gaya Jawa terhadap komunitas intelijen, terutama dalam menjalankan keempat fungsi utama yang disebutkan di atas tadi. Kalau tidak, untuk apalah pula “posko-posko kewaspadaan” itu, meski kelemahan itu tidak terletak sebagai tanggung jawab badan-badan intelijen an sich . Dalam hal ini aparat pemerintah lainnya perlu diperiksa juga akan peran dan tanggung jawabnya, terutama berkenaan dengan efektivitas dari intelijen fungsional. Sehubungan dengan intelijen tersebut, tokoh guru peperangan gerilya Che Guevara memperingatkan dari dalam belantara Colombia, bahwa “ informasi akan mengalir ke arah ke mana simpati rakyat diberikan. “ Barangkali kaidah besi ini harus menjadi peringatan bagi badan-badan intelijen kita juga.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Dari contoh-contoh di atas tadi, kenyataan empirik memperlihatkan kelemahan-kelemahan alamiah memang akan terus melekat pada badan-badan intelijen kapanpun dan dimanapun, karena kelemahan yang bersifat manusiawi. Kelemahan itu dapat bersifat struktural (artinya, bisa diperbaiki), bisa kultural (sulit diperbaiki). Meski dengan segala kemungkinan akan kelemahan yang ada, yang dapat membatasi kemampuannya, fungsi intelijen sejak zaman dahulu kala telah telah diakui menduduki peran yang menentukan. Sun Tzu (250 s.Masehi) telah menetapkan adagiumnya yang terkenal “ Ketahui musuhmu, dengan mengetahuinya sudah separuh dari kemenangan ”.2)

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Karakterisasi ancaman menuntut adanya spesialisasi penanganan masing-masing. Spesialisasi intelijen terhadap fungsi-fungsi dari sekuriti nasional tersebut dimanifeskan ke dalam crime and law enforcement intelligence , yang dilaksanakan oleh badan intelijen kepolisian (seperti FBI, Spesial Branch, Intelpol, dsb). Fungsi berikutnya, yakni defence intelligence , dilaksanakan oleh badan badan intelijen pertahanan, mulai yang terbatas pada lingkup intelijen daerah pertempuran ( combat intelligence ) sampai kepada intelijen yang berlingkup strategis. Kemudian oleh berbagai intelijen yang ditujukan untuk melindungi masyarakat ( intelligence for public protection ) dari berbagai wujud bahaya yang tanggung-jawabnya dilaksanakan oleh departemen terkait (mulai dari lembaga pengawasan kegiatan vulkanologi, pengendalian banjir, penanggulangan kenakalan remaja, narkotika dan uang palsu, sampai kepada pengawasan lalu-lintas orang asing, dsb) serta untuk perlindungan kepentingan nasional yang lebih luas, yang mencangkup bidang politik, ekonomi, keuangan, sosial-budaya, serta keamanan sosial, yang dilaksanakan oleh badan-badan intelijen nasional (NIA, MI-6/5, BIN, dsb)

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Oleh karena itu, peran dan fungsi koordinasi antar badan-badan intelijen yang ada itu tidak saja tidak boleh dinafikan, bahkan secara fungsional merupakan kebutuhan yang wajib dilakukan. Hambatan dan kelemahan utama dari badan-badan intelijen justru terletak pada fungsi koordinasi ada take and give dan prinsip intelijen tentang pemberian informasi hanya kepada mereka yang memang mutlak harus tahu ( need to know basis ), turut mengendala proses koordinasi . Masalah lain adalah menetapkan “siapa yang memang perlu tahu”. Kendala lain terhadap koordinasi , yang turut menentukan, lebih bersifat kultural, yaitu faktor subyektif dari badan-badan intelijen –persisnya tokoh-tokoh– yang terlibat. Faktor gengsi misalnya.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Koordinasi adalah kegiatan tukar-menukar keterangan mengenai masalah-masalah yang “tidak jelas” atau “tidak diketahui” atau “perlu diketahui bersama”. Sementara kaum intelijen adalah sosok yang acapkali harus menampilkan kesan yang serba tahu. Oleh karena itu untuk menghindari embarrassment akan hal semacam itu, banyak bos-bos intelijen yang sebenarnya memerlukan exchange of notes , konsultasi, atau koordinasi dalam rangka memerlukan informasi yang ada di tangan mereka, acap kali merasa enggan dan kalaupun terpaksa, cukup mengirim wakil dari eselon rendahan saja, yang biasanya tidak memiliki mandat untuk memutuskan sesuatu.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Lalu, rivalitas (persaingan) yang inheren atau melekat di dalam tubuh berbagai badan-badan intelijen menjadi faktor lain lagi yang mengendala usaha koordinasi dan sinkronisasi dalam rangka mengefisienkan kegiatan badan intelijen yang ada. Berbeda dengan kompetisi (yang juga berarti persaingan dalam bahasa indonesia), di mana di dalamnya perjuangan merebut prestasi dilaksanakan tanpa merugikan pihak-pihak yang bersaing, rivalitas adalah persaingan yang kadangkala tanpa perlu memperebutkan prestasi, justru bertujuan untuk menimbulkan kerugian pada pihak pesaing lainnya. Rivalitas adalah permainan zero-sum-game . Keadaan yang merugikan ini bias bertambah parah bila penguasa politik menggunakan rivalitas itu untuk power balancing penguasa. Ciri dari sistem demikian, berbagai kelompok kepentingan bertarung untuk memperebutkan kedekatan atau untuk memperoleh favorit dari penguasa.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Lembaga intelijen Indonesia yang pertama, Badan Istimewa BKR, disusun setelah selesainya penyelenggaraan Pendidikan Penyelidik Militer Khusus dibawah Letnan Kolonel Zoelkifli Loebis, yang menjadi kepala Tjabang Chusus (staf intelijen) BKR (Badan Keselamatan Rakyat). Badan Istimewa BKR diresmikan pada tanggal 6 Oktober, 1945 di Cileungsi, Bogor, sehari setelah pemerintah meresmikan BKR sebagai badan keamanan dari Republik yang baru lahir. Ketika ditanyakan tentang hal itu Zoelkifli Loebis menyatakan tidak ingat lagi kapan Badan Istimewa BKR itu diresmikan. “Saya tidak ingat tanggal pembentukannya. Yang jelas sesudah 17 Agustus 1945 dan sebelum 5 Oktober 1945,” ucap bapak intelijen Indonesia ini. 4)

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Letnal Kolonel Zoelkifli Loebis merekrut 40 orang opsir PETA mantan lulusan Seinen Dojo (Pusat Pelatihan Pemuda), yang kemudian diikutkan dalam pelatihan intelijen oleh Zanchi Yugeki-tai (Satuan Intelijen Bala Tentara Ke-16) sebagai kader intelijen. Latihan para kader intelijen itu hanya berlangsung tidak lebih dari seminggu lamanya, ditekankan terutama pada intelijen lapangan dan teritorial, seperti pengumpulan informasi militer, sabotase dan perang urat saraf. Tenaga pelatihnya terdiri dari para perwira dari badan intelijen Jepang Sambobu Tokubetsu-han (Beppan), seperti Letnan Yanagawa, Letnan Tsuchiya, Letnan Yonemura dan seorang muslim Jepang Abdul Hamid Nobuharu Ono, yang dikenal dekat dengan perwira-perwira BKR, Selain Zoelkifli Loebies sendiri yang pernah bertugas sebagai perwira intelijen di Singapura.5) Ketika pusat pemerintahan publik dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta, Badan Istimewa BKR diubah namanya menjadi BRANI (Badan Rahasia Nasional Indonesia) yang secara administratif menginduk ke Kementerian Pertahanan dan secara operasional memiliki akses langsung kepada Panglima Besar Soedirman dan Presiden Soekarno. Pemimpinnya tetap Zoelkifli Loebis. BRANI melanjutkan melakukan pelatihan terhadap beratus pemuda dalam rangka membentuk FP ( Field Preparation ).

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Pada masa Amir Sjarifoeddin menjadi perdana menteri pada April 1947 lembaga intelijen ini dirombak menjadi KP V (Kementerian Pertahanan V). Satuan-satuan intelijen yang berada di luar struktur militer, yakni yang berada di bawah kepolisian dan kejaksaan pada masa sebelum perang, dimasukkan kedalam jajaran kementerian pertahanan pada staf yang berbeda. Seksi-A (bekas BRANI) diserahkan di bawah kepemimpinan Kolonel Abdoerahman, orang kepercayaan Amir Sjarifoeddin, sedangkan Zoelkifli Loebis menjadi wakilnya. Amir Sjarifoeddin dan Abdoerahman kemudian hari terlibat dalam Peristi Pengkhianatan PKI di Madiun pada 1948.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Setelah terjadi peristiwa 17 Oktober 1952 IKP “digembosi”. Peran intelijen pada lingkup nasional dilakukan oleh SUAD-I. Pada tahun 1959 Presiden Soekarno membentuk sebuah badan intelijen baru di tingkat nasional, Badan Pusat Intelijen (BPI), yang dipimpin langsung oleh menteri luar negri Soebandrio. Dibawah kepemimpinan Soebandrio, BPI dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh kaum komunis dan simpatisannya. BPI menyusup ke dalam Departemen Hankam, Komando-Komando Militer, dan badan-badan pemerintahan lainnya untuk tugas mengamati lawan-lawan politik Presiden Soekarno. Untuk pertama kali sebuah badan intelijen seperti BPI secara sengaja diarahkan dan digunakan sebagai sebuah instrumen politik dengan tugas khusus untuk mengawasi dan menghabisi lawan-lawan pemerintah seperti yang lazim berlaku di negara-negara yang bercorak otoriter.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Dengan tumbangnya kekuasaan Presiden Soekarno, dan bangkitnya Rezim Orde Baru pada tahun 1965, BPI dibubarkan.sebuah badan intelijen baru dibentuk, yaitu Komando Intelijen Nasional (KIN) pada tahun 1966, tetapi sebelum berusia setahun KIN dibubarkan dan digantikan oleh BAKIN ( Badan Koordinasi Intelejen Negara ) di bawah pimpinan Kolonel, kemudian Letnan Jenderal Yoga Sugama. Presiden Soeharto tidak sepenuhnya percaya dan menyandarkan dirinya pada BAKIN. Ia membentuk sebuah jaringan Intelijen lain sebagai saingan BAKIN di bawah kendali mayor Jendral Ali Murtopo dengan Operasi Khusus (Opsus)-nya, di luar pengetahuan Bakin maupun staf intelijen Departemen Pertahanan Keamanan/Markas Besar ABRI, serta komando pemulihan keamanan dan ketertiban (Kopkamtib) yang ada pada waktu itu. Dalam melaksanakan tugas intelijennya Ali Murtopo bertanggung jawab langsung kepada Presiden Soeharto. Selain itu di luar Opsus, Presiden Soeharto masih membentuk dan mengendalikan jaringan intelijennya sendiri.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Sesudah Peristiwa Malari Presiden Soeharto memanggil Brigadir Jenderal Benny Moerdani dari posnya di Seoul untuk menggantikan Ali Moertopo. Ia diangkat sebagai asisten intelijen Dephankam /ABRI, dan mengambil alih kepemimpinan CSIS dari tangan Ali Moertopo. Pada waktu itu Pusintelstrat (Pusat Intelijen Strategis) yang berada di bawah kendali asisten intelijen Dephankam/ABRI, dan mengambil alih kepemimpinan CSIS dari tangan Ali Moertopo. Pada waktu itu Pusintelstrat (Pusat Intelijen Strategis) yang berada dibawah kendali asisten intelijen Dephankam/ABRI, berfungsi hanya sebagai “lembaga pusat” dengan tugas pokok terbatas pada merumuskan doktrin dan menyelenggarakan latihan semata. Jenderal Benny Moerdani tidak puas dengan hal itu, dan mereorganisasikan “tenaga pusat” itu menjadi sebuah ‘badan’ – agency- yakni BAIS (Badan Intelijen Strategis) ABRI dengan tugas-tugas yang sangat luas. Di bawah kepemimpinan Jendral Benny Moerdani BAIS tidak saja merambah sampai kepada perumusan politik luar negeri (yang membuatnya tidak disenangi oleh kalangan Pejambon), tetapi terutama ia berhasil menyakinkan Presiden Soeharto untuk memberikannya kewenangan melaksanakan sesuatu “operasi tertutup” melakukan invasi ke Timor Portugis pada tahun 1975. Kegiatan operasi itu sedemikian tertutupnya sampai-sampai Menhankam/Pangab Jenderal Surono tidak mengetahuinya sampai detik-detik terakhir Hari–H serbuan, yang dengan sekaligus menandai berakhirnya peran Opsus yang masih melakukan kegiatan intelijen di timor portugis dengan nama sandi “Operasi Komodo”.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Untuk “mensinergikan operasi-operasi intelijen” sesudah peristiwa Malari, Presiden Soeharto kemudian menempatkan Jenderal Benny Moerdani sebagai Waka BAKIN, di bawah Jenderal Yoga Sugama. Berdalihkan bahwa BAKIN hanyalah sebuah “badan koordinasi”, maka struktur organisasinya “dilangsingkan” dengan menjadikannya sebuah organisasi yang tidak menjadi badan intelijen yang berfungsi melakukan operasional intelijen secara penuh. Tugas pokoknya lebih ditekankan pada koordinasi. Barangkali karena alasan tersebut, ketika saya mengambil alih pimpinan BAKIN pada bulan April 1999, sarana operasional seperti untuk intelijen komunikasi-elektronika, dan organ untuk operasi lapangan tidak ada. Fungsi komunikasi-elektronika diturunkan menjadi hanya sebuah seksi yang berada pada detasemen markas, yang bertugas untuk pelayanan internal. Karena tiadanya organ operasional lapangan, “laporan intelijen” yang saya terima dari staf, yang diharapkan berisi “analisis” dari intelijen matang, tidak lebih berupa guntingan dari berbagai koran nasional. Sementara itu badan intelijen militer, BAIS, mengendalikan operasi dan kegiatannya mulai dari intelijen lapangan, teritorial dan intelijen strategis, dengan fokus terutama pada intelijen politik dalam negeri. Dalam melaksanakan tugasnya, kadang kala kegiatan intelijen merambah kepada bidang-bidang dan tindakan-tindakan yang dikemudian hari membuat nama “intel” tidak terlalu harum di masyarakat.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Tadi di awal pembicaraan telah dikemukakan bahwa kegiatan intelijen terkait erat dengan proses pengambilan keputusan, pelaksanaan, serta pengendalian hasilnya. Keputusan yang baik ditentukan oleh tersedianya informasi yang benar, faktual, cermat, obyektif, lengkap, terkini, dapat tepat waktu.Dengan kata lain, intelijen adalah kegiatan mencari jawaban terbaik guna mendapatkan solusi terbaik . Untuk memperoleh jawaban terbaik itu, maka pengorganisasian intelijen menuntut segala yang terbaik dalam segaenap aspeknya. Sulit untuk mendapatkan jawaban terbaik bila organisasi intelijen tidak mampu melaksanakan fungsi-fungsi dasarnya sekalipun, seperti contoh yang dialami oleh BAKIN tadi.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Organisasi intelijen tidak lain hanyalah sekedar sarana untuk menjalankan misinya. Misi organisasi intelijen, seperti organisasi-organisasi lainnya ditentukan lingkungan strategisnya, tugas utama dan khusus yang dipikulkan keatas pundaknya, serta tantangan yang sedang dan bakal dihadapinya. Mengingat wataknya sebagai organisasi yang mengabdi hanya untuk seorang klien , badan intelijen harus tajam pada spesialisasinya. Organisasi yang terlampau luas dan lebar tanggung jawabnya dapat terjebak kedalam perangkap tahu sedikit tentang banyak hal .

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Di bidang intelijen pertahanan konon banyak hal Indonesia masih perlu berbenah diri. Salah satu fungsi dari intelijen pertahanan, misalnya saja di bidang survaillance udara dan maritim , yang belum mampu kita tangani dengan memuaskan. Beberapa kawasan Tanah Air, seperti Laut Natuna, Selat Malaka, Laut Sulawesi, serta laut-laut di kawasan timur Indonesia, tetap masih merupakan black areas untuk intelijen kita. Bukan saja karena kawasan-kawasan tadi belum terliput secara penuh dan efektif oleh sistem jaringan kadar kita, juga kalaupun sarana deteksi tersebut tersedia, beberapa faktor baik jenis, kemampuan, dan usia sudah tidak lagi memenuhi kebutuhan sekarang. Beberapa radar buatan Rusia yang sudah jompo tidak memiliki suku cadang lagi. Beberapa lagi, seperti radar Plessey dan Thomson tidak kompatibel satu sama lain, sehingga saling tidak mampu memberikan peringatan dini yang merupakan inti fungsinya suatu jaringan radar. Padahal kemampuan peringatan dini dan deteksi dini dari sistem jaringan radar, baik di atas daratan maupun dibawah permukaan air, akan sangat menentukan kemampuan unsur-unsur surveillance udara dan maritim yang juga masih sanngat terbatas dalam jumlah, kekuatan, dan kemampuannya- dalam rangka membangun pagar pertahanan tanah air yang dapat diandalkan. Jangan lupa, wilayah nusantara yang harus kita lindungi sekarang ini telah meningkat tiga kali lipat, dari yang semula hanya dua juta kilometer persegi kini menjadi enam juta kilometer persegi, sebagai akibat bertambah luasnya wilayah tanggung-jawab keamanan dengan kawasan zona ekonomi eksklusif.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Intelijen bukan hanya berurusan bagaimana mengamati partai-partai politik, tetapi juga bagaimana harus mampu menegakkan hak-hak kedaulatan nasional di lautan dari pelanggaran lalu-lintas ilegal, penyelundupan dan kejahatan di laut, termasuk antara lain pencurian kekayaan laut yang kini telah mencapai triliunan rupiah, maupun ancaman penggerogotan terhadap garis-garis batas nasional. Lautan telah menjadi frontier baru yang menuntut perhatian, karena berkaitan dengan bukan hanya hari ini, tetapi masa depan anak-cucu kita.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Sementara itu negeri ini terbuka telanjang oleh pengamatan pihak-pihak lain melalui geo-stationary orbiting surveillance satellite yang diperlengkapi baik dengan alat pendengar elektronika serta thermal dan satelit fotografik , yang mampu mengamati, menyadap berita, dan memotret sampai detil mulai dari nomor kendaraan pasukan darat, di nomor lambung kapal-kapal yang ada di permukaan laut, jumlah dan jenis pesawat yang masih air serviceable , sampai pada semua pergerakan latihan maupun operasi pasukan-pasukan darat, laut dan udara, mulai dari Aceh, sampai dengan Papua. Kesibukan badan-badan intelijen dengan politicking selama ini telah menjadikannya alpa membangun intelijen pertahanan yang akhirnya akan menentukan kemampuan kita mempertahankan dan melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tanah tumpah darah Indonesia dengan sebaik-baiknya.

seperti di kutip dari https://serbasejarah.wordpress.com

Keterbatasan kemampuan udara strategis serta telekomunikasi elektronika sangat menghambat kemampuan intelijen strategis di lapangan. Pekerjaan tersebut selama ini terbatas dilakukan secara terbuka oleh para petugas di perwakilan-perwakilan di luar negeri. Tetapi bila saatnya mengharuskan untuk melakukan pengumpulan keterangan secara senyap di daerah yang bermusuhan, maka kemampuan itu patut dipertanyakan. Barangkali unsur intelijen strategis masih mampu melaksanakan misi infiltrasi, tetapi pekerjaan eksfiltrasi terhadap pasukan tersebut setelah misi berakhir masih merupakan tanda tanya besar. Apresiasi intelijen yang menyatakan dalam tempo sepuluh tahun ke depan tidak akan ada perang sungguh telah menina-bobokkan kita. Bahwasanya contoh-contoh tentang pecahnya perang dadakan seperti di Falkland, Afganistan, Teluk, dan sebagainya, seharusnya tidak mengizinkan suatu angkatan perang alpa dalam mempersiapkan dirinya. Bukankah, si vis pacem para bellum . Titik-titik ledak yang eksplosif berada di tepian Pasifik, seperti semenanjung Korea, kepulauan Daoyu-tai, selat Taiwan, sengketa di pulau-pulau atol Spratley, dan sebagainya, bisa saja terjadi peluberan, karena hampir semuanya berbatasan langsung dengan zona ekonomi eksklusif Indonesia yang menempati posisi silang.


Baca juga :

Menurut Shariati dalam Agustian (2005: 16), manusia adalah makhluk dua-dimensional yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelegensia yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan ruhiyah vertikal atau Spiritual Quotient (SQ). Namun, selama ini pendidikan akuntansi diakui atau tidak hanya terpaku untuk mengasah kecerdasan intelektualnya  saja  (Triyuwono, 2010). James (2008) dan  Kamayanti (2010)  juga mengungkapkan hal yang serupa yaitu, “fokus rasionalitas pendidikan akuntansi ini membentuk ciri maskulinitas”. Sehingga tuntutan dari lingkungan sosial ini membentuk siswa dengan sendirinya membentuk sebagai peserta didik memahami ilmu dengan sudut pandang intelektualnya saja. Dampak pendidikan yang hanya berpusat pada kecerdasan akal saja dapat dilihat dari perilaku dan sifat siswa, dalam mengambil keputusan dengan terlalu mempertimbangkan berapa materi yang akan dikorbankan dan apa benefit yang akan didapat dari keputusan tersebut. Hal ini didukung oleh temuan Mulawarman (2006, 2007), Triyuwono (2010) dan dalam Kamayanti (2012) yang mengatakan hal inilah yang membentuk calon-calon akuntan bercirikan rasionalis, antroposentris/egois, apatis, tidak peka keadaan sekitar ( impersonality ), objektif dan keringakan nilai-nilai spiritualitas. Secara umum, sifat yang dihasilkan adalah individualis, materialistis dan terpaku pada pemikiran yang logis.

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Pelajaran yang sangat penting adalah menyatunya dunia fisik dengan dunia psikis dan spiritual. Peradaban dunia  modern  selalu  mengakui  materi  sebagai “yang pusat” (at au menganggapnya  sebagai  “ Gusti ”),  dan  sebaliknya  memandang  remeh,  memarjinalkan,  dan bahkan meniadakan sesuatu yang di pinggiran (“ kawulo ”), yaitu “ sing liyan” ( the others ). Sing liyan dalam konteks ini adalah dunia psikis (mental) dan spiritual. (Triyuwono, 2007). Triyuwono 2007 mencoba memaparkan pada tataran ilmiah esensi ajaran  Manunggaling Kawulo-Gusti dari Syeikh Siti Jenar:

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Selama ini banyak berkembang dalam masyarakat sebuah pandangan stereotip, dikotomisasi antara dunia dan akhirat. Dikotomisasi antara unsur-unsur kebendaan dan unsur agama, antara unsur kasat mata dan tak kasat mata. Materialisme versus orientasi nilai-nilai Ilahiyah semata. Mereka yang cenderung memilih keberhasilan di alam “vertikal” cenderung berpikir bahwa kesuksesan dunia justru adalah sesuatu yang bisa “dinisbikan” atau sesuatu yang bisa demikian mudahnya “dimarjinalkan”. Hasilnya, mereka unggul dalam kekhusyu‟an dzikir dan kekhitmatan berkontemplasi, dalam kata lain menjadi seorang petapa, namun menjadi kalah dalam akancah ekonomi, ilmu pengetahuan, sosial, politik dan perdagangan di alam “horizontal”. Begitupun sebaliknya  yang  berpijak  hanya  pada  alam  kebendaan,  kekuatan  berpikirnya  tak  pernah diimbangi  oleh  kekuatan  dzikir,  berujung  pada  egoisme  dan  materialistis.  Sehingga  wajar menurut  penulis  jika  Ary  Ginanjar  Agustian  menyatakan  dalam  bukunya  bahwa  “Realitas kebendaan yang masih membelenggu hati, tidak memudahkan baginya untuk berpijak pada alam fitrahnya ( zero mind )”.

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Dengan adanya Undang-Undang tersebut, maka dari waktu ke waktu bidang pendidikan yang didasarkan kepada pengembangan moral serta etika yang mengedepankan keikutsertaan penerapan religiuitas yang tidak hanya sebatas penyampaian ilmu, haruslah menjadi prioritas dan menjadi orientasi untuk kemudian diusahakan penyediaan sarana dan prasarananya sehingga akan meningkatkan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari suatu pendidikan akuntansi yang mengarah kepada basis keseimbangan (La‟lang, 2010).

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Sebenarnya  isi  dari  Undang-Undang  tersebut  sudah  sarat  akan  makna  keseimbangan tersebut, tetapi kenyataannya pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan akuntansi yang berkembang selama ini, terlalu menekankan arti penting nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke bangku kuliah, jarang sekali ditemukan pendidikan tentang kecerdasan emosi yang mengajarkan tentang kecerdasan emosi yang mengajarkan tentang: integritas; kejujuran; komitmen; visi; kreatifitas; ketahanan mental; kebijaksanaan; keadilan; prinsip kepercayaan; penguasaan diri atau sinergi, padahal justru inilah hal yang terpenting. Mungkin kita bisa melihat hasil dari bentukan karakter dan kualitas sumber daya manusia era 2000 yang patut dipertanyakan, yang berbuntut pada krisis ekonomi yang berkepanjangan. Hal ini ditandai dan dimulai dengan krisis moral atau buta hati yang terjadi di mana-mana. Mengapa hal ini terjadi? Karena menurut Mulawarman (2008) sistem pendidikan saat ini telah lepas dari realitas masyarakat Indonesia dan dibawa langsung dari “dunia lain” (baca: Barat) yang memiliki nilai-nilai Indonesia sendiri tanpa kodifikasi dan penyesuaian yang signifikan. Akuntansi merupakan produk yang dibangun dari nilai-nilai masyarakat dimana akuntansi dan sistem akuntansi dikembangkan (lihat misalnya Hines 1989; Morgan 1989; Mulawarman 2006 dan banyak lainnya). Akuntansi dan sistem pendidikan akuntansi menurut Mulawarman (2008) memang membawa v alues (nilai-nilai) “sekularisasi” yang memiliki ciri utama self-interest , menekankan bottom line laba dan hanya mengakui realitas yang tercandra (materialistik) (Mulawarman, 2012).

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Pendidikan akuntansi semacam ini tentu membawa konsekuensi pada praktik akuntansi. Hal yang menarik telah dipaparkan oleh Irianto mengenai praktik-praktik akuntansi yang berjalan selama ini tidak sedikit menimbulkan permasalahan. Irianto (2003, 2006) dalam La‟lang (2010) memaparkan dengan seksama hal ini. Sebut saja skandal kebangkrutan Enron yang turut menjadi skandal terbesar dalam sejarah akuntansi. Dalam proses pengusutan sebab-sebab kebangkrutan itu Enron dicurigai telah melakukan praktek window dressing . Manajemen Enron telah menggelembungkan ( mark up ) pendapatannya US$ 600 juta, dan menyembunyikan utangnya sejumlah US$ 1,2 miliar. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dengan trik-trik manipulasi yang tinggi dan tentu saja orang-orang ini merupakan orang bayaran  dari  mulai analis keuangan,  para  penasihat  hukum,  dan  auditornya.  Ini  disebabkan karena  adanya   unsur   kebohongan   yang  dilakukan   pada   sebuah   sistem   terbuka,   terjadi pelanggaran terhadap kode etik berbagai profesi seperti akuntan, pengacara, dan lain sebagainya, dimana segelintir professional tersebut serakah dengan memanfaatkan ketidaktauan dan keawaman banyak orang, serta praktek persekongkolan tingkat tinggi. Ini tentu menunjukkan bahwa manusia sebagai pelaku sudah tidak lagi berada dalam koridor akhlak serta moralitas sebagai kehendak Tuhan sehingga hidup berdasarkan “takut akan Tuhan” mulai memudar sejalan dengan masa modernisme yang kian menjulang.

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Diakui atau tidak, selama bertahun-tahun dunia akuntansi sebagai salah satu aspek pendidikan, seakan terpasung di persimpangan jalan, tersisih di antara hiruk-pikuk dan hingar bingar ambisi penguasa yang ingin mengejar pertumbuhan dan daya saing bangsa. Pendidikan akuntansi seolah tidak diarahkan untuk memanusiakan manusia secara “utuh” dan “paripurna”, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai moral, kemanusiaan dan budi pekerti. Pendidikan akuntansi lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati, perasaan, emosi dan spiritual. Akibatnya, apresiasi output pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran budi, dan budi nurani, menjadi nihil (La‟lang, 2010).

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Saya memperhatikan proses belajar-mengajar di kelas, memang Siswa “disodorkan” oleh berbagai jenis teori, dan tentunya semua itu terpaku pada textbook sehingga “menghipnotis” siswa untuk mempunyai pemikiran yang cenderung kaku. Penelitian Davidson dan Baldwin (2005) dalam Setiawan dan Kamayanti (2012) menyimpulkan bahwa di AS, praktik pendidikan akuntansi 100% bertumpu pada accounting textbooks . Ditambah lagi kondisi bahwa tipe perkuliahan lebih disukai; situasi di mana dosen menganggap pengetahuan yang disampaikan adalah “kado/hadiah ( gift )” kepada siswa (Setiawan dan Kamayanti, 2012). Mayoritas siswa memahami akuntansi adalah suatu cara agar entitas dapat menghimpun kekayaan sebesar-besarnya, beranggapan bahwa yang lebih banyak bekerja berarti yang lebih banyak mendapatkan hasilnya, tanpa memikirkan pihak-pihak yang dirugikan atas tindakan yang telah dilakukan. Setiawan dan Kamayanti (2012) mengutip dari Powell and Dimaggio (1997:63), Max Weber menyatakan bahwa rasionalisme menjadi penjara ( iron cage ) yang mengekang unsur kemanusiaan. Terbukti pernyataan Max Weber terjadi dalam pendidikan akuntansi, berdampak pada pemahaman siswa terhadap akuntansi. Segala sesuatu diukur dengan satuan uang, sehingga menghasilkan sifat materialistis. Bahkan ada pula siswa yang memahami bahwa akuntansi merupakan sebuah alat politis yang menjadikan perantara untuk memaksimalisasi kepentingan pihak-pihak tertentu.

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Sebagaimana dikutip dari Triyuwono (2009), angka-angka adalah salah satu bentuk logosentrisme dari akuntansi mainstream. Bahkan menurut pandangan Hines  (1989)  tanpa  angka  adalah  suatu  hal  yang  sangat  mustahil  bagi  akuntansi,  dan implikasinya adalah tanpa akuntansi kita tidak dapat menggambarkan keadaan perusahaan. Logosentrisme ini terutama dicirikan dengan: pertama, pola berpikir oposisi biner (dualistik, dikhotomis) yang hierarkis, dan kedua ilmu pengetahuan positivistis yang mekanis, linier dan bebas-nilai.   Dengan   demikian   dapat   dimengerti   bahwa   logosentrisme   sebagai   produk modernisme  mempunyai  ciri  “penunggalan”  melalui  universalitas.  Konsekuensi  dari penunggalan ini adalah bahwa “sang lain” ( the others ) yang berada di luar dirinya akan selalu disubordinasikan,  dieliminasikan,  dan  jika  mungkin  harus  “dibunuh”.  Dari  gambaran  diatas dapat ditarik suatu kesimpulan sederhana bahwa akuntansi hanyalah sebuah “alat” bantu untuk mengkalkulasi angka-angka (baca: uang) yang nantinya berakhir pada pengambilan keputusan ekonomi.

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Setiap manusia mempunyai suara hati yang sejatinya menyuarakan kebenaran dalam bertingkah laku, tetapi suara hati tersebut bertentangan dengan mindset yang telah mengakar dan karena tuntutan keadaan. Agustian (2005:40) melanjutkan, kebenaran sejati, sebenarnya terletak pada suara hati yang bersumber dari spiritual center ini, yang tidak bisa ditipu oleh siapa pun, atau oleh apa pun, termasuk diri kita sendiri. Mata hati ini dapat mengungkap kebenaran hakiki yang tak tampak di hadapan mata. Bahkan kata ahli sufi Islam Jalaludin Rumi, “Mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indera penglihatan”.

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Pendidikan agama yang semestinya dapat diandalkan dan diharapkan bisa memberi solusi bagi permasalahan hidup saat ini, ternyata lebih diartikan atau dipahami sebagai ajaran fiqih. Tidak untuk dipahami dan dimaknai secara mendalam, dan lebih condong pada pemisahan kehidupan dunia dan akhirat, tanpa ada kesadaran diri untuk mengintegrasikan keduanya dalam bertingkah  laku.  Sejak  saya  duduk  di  bangku  Sekolah  Dasar,  sampai  Sekolah  Menengah Pertama, memang pelajaran Agama menjadi mata pelajaran yang wajib, tetapi hanya bentuk hafalan, tanpa dipahami maknanya secara mendalam. Unsur intuisi, rasa, emosi serta kesadaran Ketuhanan (spiritualitas) menjadi sesuatu yang terpinggirkan, termarginalkan (untuk tidak mengatakan dihilangkan sepenuhnya) (Setiawan dan Kamayanti, 2012). Padahal dari sinilah seharusnya pembentukan jiwa sosial, kecerdasan emosional dan spiritual yang sebenarnya.

seperti di kutip dari https://hfis.wordpress.com

Kemudian di tengah kemirisan tersebut, masuklah buku-buku dan ajaran modern barat ke Indonesia. Secara  tidak  langsung  buku-buku  tersebut  “menghipnotis”  pemikiran  manusia,  dan  semakin menyamarkan suara hati yang sebenarnya sangat dekat dengan dirinya sendiri. Sesuatu yang tidak terjamah, namun sebenarnya sudah mereka kenal sejak lahir. Suara hati yang bersumber dari Ilahiyah sebagai perwujudan kecerdasan Emosi dan Spiritual dari Sang Pencipta yang tak pernah d isadari walau sebenarnya berada sangat dekat dengan dirinya. Menurut Adnan (1998) dalam Agustian (2005:40), “Hati Nurani akan menjadi pembimbing terhadap apa yang harus ditempuh dan diperbuat.” Artinya, setiap manusia sebenarnya telah memiliki sinyal-sinyal dalam hatinya sebagai pembimbing dalam segala aktivitas yang dilakukan.


Baca juga :

Membicarakan tentang bid’ah memang tidak ada akhirnya, dan ini sudah terjadi pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengakibatkan terputusnya wahyu. Adapun para khalifah empat sebagai pengganti beliau hanya memiliki kewenangan dalam mengatur stabilitas bermasyarkat dan tidak memiliki kewenangan untuk melanjutkan penyampaian wahyu Allah subhanahu wa ta’ala . Adapun di bidang keagamaan, mereka hanya memiliki kemampuan untuk menerapkan dan selebihnya mereka hanya melakukan interpretasi ( ijtihad ) terhadap apa yang telah diajarkan oleh Rasulullan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Akibat dari perilaku di ataslah kemudian memunculkan spekulasi-spekulasi baru untuk mencari-cari pemaknaan dari al-sunnah dan al-bid’ah tentang hal-hal yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun melupakan pemaknaan dari al-wajibah dan al-tajdid yang juga dapat disandingkan untuk menerjemahkan makna bid’ah secara istilah. Dengan artian, apakah al-bid’ah itu lawan kata dari al-sunnah seperti yang diterjemahkan oleh sebahagian orang selama ini, atau sesungguhnya al-bid’ah itu merupakan lawan kata dari al-wajibah , dan apa bedanya pula dengan al-tajdid ? Kemudian, apakah dasar pembagian atas bid’ah dalam beberapa gerak seperti bid’ah hasanah dan sayyi’ah dibenarkan di dalam Islam dan apakah saripati dari bid’ah hasanah itu ada sejak masa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ « صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ». وَيَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ ». وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ». ثُمَّ يَقُولُ « أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَىَّ وَعَلَىَّ » {رواه مسلم}[1]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin al-Mutsanna, diceritakan kepadaku oleh Abd al-Wahhab bin Abd al-Majid dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir bn ‘Abd Allah ra, berkata : bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama jika berhutbah kedua matanya memerah, suaranya meninggi dan kemarahannya meluap, hingga seakan-akan dia seperti komandan tentara yang berkata “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkati kalian diwaktu pagi dan petang.” Lalu beliau bersabda  “Aku diutus dan hari kiamat seperti ini, “beliau mendekatkan  antara dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah, sambil bersabda, “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk perkara adalah petunjuk Muhammad. Sedangkan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap yang baru adalah sesat” kemudian beliau bersabda “Aku lebih utama bagi setiap mukmin daripada dirinya sendiri. Barang siapa mewariskan harta, maka itu untuk keluarganya, barang siapa mewariskan agama, maka akan kembali kepadaku, atau menghilangkannya, maka ia akan berhadapan denganku. ” (HR Muslim).

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Dalam kitab Mu’jam al Muqayis Fi al-Lughah , Abu al-Husain juga menyebutkan, ابتداء الشيئ وضعه لا عن مثال (sesuatu yang pertama adanya dan dibuat tanpa ada contoh)[3], sedangkan al-Imam Muhammad Abu Bakr ‘Abd al-Qadir al-Razi berkata, bahwa bid’ah secara bahasa berarti, اخترعه لا على مثال سابق (mengadakan sesuatu dengan tanpa ada contoh terlebih dahulu).[4] Adapun al-Imam Abu ‘Abd al-Rahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H) berkata, bahwa bid’ah secara bahasa, احداث شيئ لم يكن له من قبل خلق ولا ذكر ولا معرفة (mengadakan sesuatu perkara yang sebelumnya tidak pernah dibuat, tidak disebut-sebut dan tidak pernah dikenal).[5]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Melalui semua definisi di atas, maka dapat difahami bahwa apa yang disebut dengan al-bid’ah di dalam kamus bahasa Arab ditinjau dari segi bahasa adalah suatu perkara baru yang diadakan atau diciptakan dengan tidak adanya contoh sebelumnya. Adapun secara istilah, pemaknaan al-bid’ah tidak pernah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an maupun Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri seperti yang diriwayatkan oleh para ulama di dalam kitab-kitab hadits yang ada. Pemaknaan al-bid’ah secara istilah ternyata hanya ditemukan di dalam kitab-kitab karangan para ulama yang merupakan hasil interpretasi atas hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah penulis kemukaan di muka.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepada kami oleh abu Ja’far Muhammad bin Shabbah dan Abdullah bin ‘Aun al-Hilali seluruhnya dari Ibrahim bin Sa’ad, berkata ibnu al-Shabbah; diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf, diceritkan kepada kami oleh Abi al-Qasim bin Muhammad dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah) dalam urusan (agama) ini, maka hal itu tertolak. ” [HR. Muslim]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ « صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ». وَيَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ ». وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ». ثُمَّ يَقُولُ « أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَىَّ وَعَلَىَّ » {رواه مسلم}

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepadaku oleh Muhammad al-Mutasnna, diceritakan kepada kami oleh Abdul Wahab bin al-majid dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabin bin Abdullah berkata : bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berhutbah kedua matanya memerah, suaranya meninggi dan kemarahannya meluap, hingga seakan-akan dia seperti komandan tentara yang berkata “Semoga Allah SWT memberkati kalian diwaktu pagi dan petang.” Lalu beliau bersabda  “Aku diutus dan hari kiamat seperti ini, “beliau mendekatkan  antara dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah, sambil bersabda, “Ammaba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah  dan sebaik-baik petunjuk perkara adalah petunjuk Muhammad. Sedangkan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap yang baru adalah sesat” kemudian beliau bersabda “Aku lebih utama bagi setiap mukmin daripada dirinya sendiri. Barang siapa mewariskan harta, maka itu untuk keluarganya, barang siapa mewariskan agama, maka akan kembali kepadaku, atau menghilangkannya, maka ia akan berhadapan denganku. ” [HR. Muslim]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. “

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Ayat ini menjadi dalil adanya bid’ah hasanah itu, karena maknanya, memuji orang-orang yang beriman dari umat Nabi Isa yang mereka mengikutinya dengan penuh keimanan dan tauhid. Allah subhanahu wa ta’ala memuji mereka karena mereka adalah أهل الرأفة dan أهل الرحمة dan juga mengada-adakan rahbaniyyah . Al-rahbaniyyah adalah memutuskan dari nafsu sahwat, sehingga mereka tidak mau menikah karena ingin serius beribadah. Adapun makna dari “ Kami tidak memfardukan kepada mereka ,” ialah karena mereka sendiri yang menghendaki untuk lebih dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala , lalu Allah subhanahu wa ta’ala memuji mereka atas apa yang mereka ada-adakan itu, meskipun tidak ada teks kitab Injil yang mengaturnya dan tidak ada pula perintah dari Nabi Isa ‘alaihis salam .

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

وَعَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضى الله عنه  لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ ، إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ ، وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّى أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ . ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ ، قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ . يُرِ يدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ {رواه البخارى}[12]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : ” Dari Ibnu Syihab dari Urwah bin al-Zubair dari abd al-Rahman bin Abd al-Qari bahwasanya ia telah berkata; saya keluar bersama Umar ibnu al-Khathab pada suatu malam dalam bulan Ramadhan sampai tiba di masjid, tiba-tiba orang-orang berkelompok-kelompok terpisah-pisah, setiap orang shalat untuk dirinya sendiri. Ada orang yang mengerjakan shalat, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Maka Umar berkata; sesungguhnya aku mempunyai ide. Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam yang pandai membaca al-Qur’an, tentu lebih utama. Setelah Umar mempunyai azam (tekad) demikian, lalu dia mengumpulkan orang menjadi satu untuk berimam kepada Ubay bin Ka’ab, kemudian pada malam yang lain aku keluar bersama Umar, dan orang-orang melakukan shalat dengan imam yang ahli membaca al-Qur’an. Umar berkata; ini adalah sebagus-bagus bid’ah (barang baru). Orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam (untuk melakukannya pada akhir malam) adalah lebih utama daripada orang yang mendirikannya (pada awal malam). “

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Hadits shahih di atas dengan jelas menunjukkan bahwa shalat tarawih berjamaah secara terus menerus sebulan penuh adalah bid’ah , karena tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Meskipun demikian, menurut komentar Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu terklasifikasi dalam bid’ah hasanah. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Umar itu adalah menghidupkan kembali sunnah yang dulu pernah dilakukan oleh Rasul namun ditinggalkan karena takut akan menjadi wajib[13] adalah tidak bisa diterima oleh akal dan tidak ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah itu melaksanakan shalat tarawih, yang ada adalah qiyam lailah ramdhan . Sedangkan yang dilakukan oleh Umar adalah, shalat dengan niat shalat sunnah tarawih yang tentunya berbeda dengan niat shalat sunnah yang digunakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena semua ibadah itu yang dilihat adalah niatnya. Jika niatnya saja berbeda, maka tidaklah mungkin prakteknya akan sama. Contohnya adalah, ada dua orang yang sama-sama ingin (berniat) pergi, namun yang satu ingin (berniat) pergi ke Manado dan yang satunya lagi akan ke Bali, tentu praktiknya yang satu akan naik pesawat untuk rute Manado dan yang satu lagi rute Bali. Maka, apakah sama antara Manado dan Bali? Tentu tidak akan sama sampai hari kiamat. Berdasarkan penjelasan di atas, maka pantaslah jika Umar radhiyallahu ‘anhu menyebut apa yang ia lakukan sebagai bid’ah hasanah .

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَرْوَانَ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيِّ عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ اعْلَمْ قَالَ مَا أَعْلَمُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ اعْلَمْ يَا بِلَالُ قَالَ مَا أَعْلَمُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنْ اْلأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ {رواه الترمذى}[14]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepada kami oleh abdullah bin Abdurrahman, dikabarkan kepada kami oleh Muhammad bin Uyayainah dari Marwan bin Mu’awiyah al-Fazari dari Katsir bin Abdullah anak ibnu Umar bin ‘Auf al-Muzani dari ayahnya dari kakeknya; bahsanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata kepada Bilal bin al-Harts; ketahuilah, (Bilal) berkata; apa yang harus aku ketahui wahai Rasulullah, (Rasulullah) bersabda; ketahuilah wahai Bilal, (Bilal) berkata; apa yang harus aku ketahui wahai rasulullah, (Rasulullah) bersabda; barang siapa yang menghidupkan sunnah dari sunnahku yang telah mati setelah aku (meninggal), maka baginya pahala seperti orang-orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka, dan bagi yang menciptakan bid’ah yang sesat, Allah dan rasul-Nya tidak akan pernah ridha, dan baginya dosa seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Abu ‘Isa menyebutkan bahwa hadits ini berkualitas hasan. ” [HR. al-Turmudzi]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Selama ini, analisis yang muncul tentang bid’ah adalah dari segi kebahasaan, yang kemudian memunculkan hasil, bid’ah adalah sesuatu yang bersifat umum dan yang satu lagi bid’ah bersifat khusus. Rasionalisasi dari segi bahasa ini memang tidak akan pernah bertemu kesamaannya sampai hari kiamat. Akan tetapi kalau kita mau jujur dengan sejarah yang ada, baik dari masa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup hingga masa sahabat radhiyallahu ‘anhum , maka tentunya kita akan dapatkan jawaban yang lebih rasional. Kenapa harus rasional? Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan :

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْمُجْمِرِ عَنْ عَلِىِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلاَّدٍ الزُّرَقِىِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِىِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّى وَرَاءَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم – فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ « سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ » . قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ « مَنِ الْمُتَكَلِّمُ » . قَالَ أَنَا. قَالَ « رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ » {رواه البخارى}[16]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepada kami oleh Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Nu’aim bin Abdillah al-Mujmiri dari Ali bin Yahya bin Khallad al-Zuraqi dari ayahnya dari Rifa’ah bin Rafi’ al-Zuraqi berkata; pada suatu malam kami shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mengangkat kepalanya ruku’, beliau berucap, sami’allahu liman hamidah, lalu seseorang berucap, rabbana wa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih. Setelah selesai shalat, beliau bertanya, siapa yang mengucapkan itu? Orang tersebut menjawab, aku. Belaiu berkata, aku melihat tga puluh lebih malaikat bersegera menuliskannya yang pertama. ” [HR. al-Bukhari]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Berdasarkan rasionalisasi di ataslah, sesungguhnya dapat difahami bahwa ruh dari adanya bid’ah hasanah sudah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena melalui hadits di atas, ditemukan seorang sahabat yang berani merubah bacaan sunnah dalam i’tidal setelah ucapan sami’allahu liman hamidah . Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits memaparkan bahwa pasca ucapan pasca sami’allahu liman hamidah adalah ربنا و لك الحمد , terkadang juga اللهم ربنا لك الحمد , dan اللهم ربنا لك الحمد ملء السماوات وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعد , bahkan beliau memberikan petunjuk tentang fadhilah besar bagi yang membaca doa di ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Inilah petunjuk yang jelas, di mana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup saja, sahabat berani untuk mengubah bacaan shalat. Hal ini karena memang yang dibaca adalah bacaan sunnah dan baik sekali arti yang dibaca. Oleh karenanya, wajar jika Umar bin al-Khathab radhiyallahu ‘anhu kemudian, meciptakan shalat tarawih pasca wafatnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana riwayat yang telah penulis tuangkan di atas. Dengan rasionalisasi bahwa, jika saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu ada bersama mereka, pastilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga akan memberikan apresiasi positif terhadap apa yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu .

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

وَحَدَّثَنِى أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ الْعَبْدِىُّ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ عَمَلِهِ فِى السِّرِّ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ آكُلُ اللَّحْمَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ. فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ. فَقَالَ « مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّى أُصَلِّى وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى » {رواه مسلم}[18]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Dari Anas ra, bahwa beberapa orang sahabat Nabi saw. bertanya secara diam-diam kepada istri-istri Nabi saw. tentang amal ibadah beliau. Lalu di antara mereka ada yang mengatakan: Aku tidak akan menikah dengan wanita. Yang lain berkata: Aku tidak akan memakan daging. Dan yang lain lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur dengan alas. Mendengar itu, Nabi saw. memuji Allah dan bersabda: Apa yang diinginkan orang-orang yang berkata begini, begini! Padahal aku sendiri shalat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita! Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku. ” [HR. Muslim]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Hadist ini dapat difahami bahwa, jika nikah itu adalah sunnah dilihat dari segi fiqh (yakni salah satu dari hukum taklif ) yang memiliki kesamaan dengan peribadatan sunnah lainnya (seperti shalat dan puasa sunnah), dengan artian, jika dikerjakan dengan sebanyak-banyaknya akan mendapatkan pahala yang banyak, dan jika ditinggalkan maka tidak akan mendapat dosa. Di sinilah kebanyakan umat Islam Indonesia salah dalam mengartikan kata sunah dalam nikah tersebut, sehingga kebanyakan dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (khususnya di Indonesia), pekerjaannya hanya akan kawin-cerai saja. Oleh karenanya, pantaslah jika segala segala hal yang tercipta baru, dan ia merupakan hasil produk ijtihad dengan pola pikir menciptakan kemaslahatan dan mencegah kemudharatan, جلب المصالح ودرؤ المفاسد , serta sebanding dengan perbuatan sunnah maka itulah yang disebut dengan bid’ah hasanah , dan jika melenceng dari hal di atas maka itulah bid’ah dhalalah . Apalagi kaidah fiqh telah menjelaskan bahwa nash itu akan berakhir sedangkan permasalahan akan terus berganti ;

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Tajdid merupakan bentuk masdar dari kata jaddada – yujaddidu – tajd i dan . Jaddada – yujaddidu artinya “memperbarui”. Kata jaddada – yujaddidu merupakan fi’il ts ula ts i mazid (kata kerja yang huruf asalnya tiga kemudian mendapatkan imbuhan). la berasal dari fi’il ts ula ts i mujarrad (kata kerja yang huruf asalnya terdiri dari tiga huruf), yaitu jadda – yajiddu , yang artinya “baru”. Dalam bahasa Arab disebutkan bahwa jad i d ‘aks qad i m ( jad i d adalah kebalikan dari qadim ). Qad i m artinya “lama”. Lebih jauh dalam kamus Arab disebutkan, ungkapan jaddadahu ay sh ayyarahu jad i dan , artinya menjadikan sesuatu menjadi baru. Kata jaddada artinya sama dengan istajadda , yaitu menjadikan sesuatu menjadi baru.[21]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Mengenai pembaruan dalam hukum Islam, Suratmaputra menjelaskan bahwa pembaruan hukum Islam dapat diartikan sebagai suatu upaya dan perbuatan melalui proses tertentu (dengan penuh kesungguhan) yang dilakukan oleh mereka yang mempunyai kompetensi dan otoritas dalam pengembangan hukum Islam ( mujtahid ) dengan cara-cara tertentu (berdasarkan kaidah-kaidah istinbath atau ijtihad yang dibenarkan) untuk menjadikan hukum Islam dapat tampil lebih segar dan tampak modern (tidak ketinggalan zaman) atau menjadikan hukum Islam senantiasa sh alihun likulli zaman wa makan .[25] Maka dapat dikatakan bahwa perubahan dan perkembangan pemikiran hukum Islam bukan saja dibenarkan, tetapi merupakan suatu kebutuhan, khususnya bagi umat Islam yang mempunyai kondisi dan budaya yang berbeda dengan Timur Tengah, seperti Indonesia. Hal ini didasar­kan pada pertimbangan: Pertama , banyak ketentuan-ketentuan hukum Islam yang diterapkan di Indonesia merupakan produk ijtihad yang didasarkan pada kondisi dan kultur Timur Tengah. Padahal, apa yang cocok dan baik bagi umat Islam Timur Tengah, belum tentu cocok dan baik bagi umat Islam Indonesia. Kedua , kompleksitas masalah yang dihadapi umat Islam dewasa ini jauh lebih besar dan beragam dibandingkan dengan zaman sebelumnya, karena terjadi perubahan luar biasa dalam kehidupan sosial yang disebabkan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, dalam upaya mereaktualisasi hukum Islam agar mampu memberikan jawaban-jawaban atas kebutuhan dan permasalahan baru yang muncul dalam masyarakat Indonesia, maka perlu dilakukan ijtihâd yang didasarkan pada kepribadian dan karakter bangsa Indonesia.[26]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Kesimpulan dari tulisan ini adalah, bahwa pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul dua pendapat tentang makna bid’ah menjadi bid’ah belaku umum dan bid’ah yang berlaku khusus yang terbagi menjadi hasanah dan sayyi`ah/dhalalah . Hal ini terjadi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menjelaskan secara eksplisit makna dari bid’ah . Dan melalui pendekatan historis, ternyata yang melakukan pembagian atas bid’ah menjadi hasanah dan sayyi`ah/dhalalah lebih rasional wujudnya.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

[26] Pada tahun 1940-an Hasbi ash-Shiddiegy, telah mengemukakan gagasannya tentang perlunya dibentuk “fiqh Indonesia”. Kemudian pada tahun 1960-an, gagasan Hasbi itu didefinisikan sebagai fiqh yang berdasarkan kepribdian dan karakter bangsa Indonesia. Pada tahun 1987 Munawir Sjadzali menawarkan kajian ulang penafsiran hukum Islam yang populer dengan “reaktualisasi ajaran Islam”. Dan pada tahun yang sama, Abdurrahman Wahid mengemukakan gagasan pribumisasi Islam, lihat Hasbi ash-Shiddieqy, Syari’at Islam Menjawab Tantangan Zaman , (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1961), h. 24, Munawir Sjadzali, “Reaktualisasi Ajaran Islam” dalam Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam, Iqbal Abdurrauf Sainima , (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1988), h. 1

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengecek sarana dan prasarana yang dimiliki Satpol PP DKI untuk menjalankan tugas. Anies menilai peralatan untuk Satpol PP digunakan untuk menindak segala penyimpangan. Saat itu Anies menjadi pembina upacara pada apel rotasi 3.648 anggota Satpol PP di Monas, Jakarta Pusat, Jumat (29/12/2017). Setelah upacara selesai, Anies mengecek kesiapan sarana dan prasarana yang dimiliki Satpol PP. Bersama Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Yani Wahyu, Anies menuju mobil peralatan Satpol PP. Anies mengecek peralatan Satpol PP DKI untuk menjalankan tugas. (Indra Komara/detikcom) Pertama, Anies mengecek mobil dapur umum yang dimiliki Satpol PP. Setelah itu, Anies ditemani Yani Wahyu melihat peralatan alat berat untuk penanggulangan bencana. “Ini berat, nggak?” tanya Anies. Anies mengecek peralatan Satpol PP DKI untuk menjalankan tugas. (Indra Komara/detikcom) Ketika itu Anies sedang melihat anggota Satpol PP memotong besi menggunakan alat yang bentuknya menyerupai penjepit. Tak lama kemudian, Anies mencoba menjajal alat tersebut dan memotong besi panjang berwarna hijau. “Berat juga, ya,” ujar Anies. “Ini alatnya bisa potong di dalam air juga, Pak,” kata salah satu anggota Satpol PP. Sebelumnya, dalam upacara apel rotasi Satpol PP, Anies mengingatkan tidak ada toleransi bagi anggota yang berani melakukan penyimpangan di lapangan. Anies tidak segan-segan akan menindak anggota yang nakal. “Kita akan zero tolerance terhadap penyimpangan di lapangan. Bila ada penyimpangan, laporkan, kita tindak. Mumpung ini baru, jalankan dengan kebaruan,” jelasnya. [Gambas:Video 20detik]

Jakarta, CNN Indonesia — Gubernur Anies Baswedan meminta pemerintah Provinsi DKI Jakarta siap dan tanggap dalam mencegah bencana di ibu kota menjelang musim hujan. “Dalam kondisi cuaca di Kota Jakarta saat ini sering terjadi cuaca yang cukup ekstrem disertai hujan dengan angin kencang, Pemprov DKI harus mengantisipasi kemungkinan bencana melalui kegiatan apel siaga,” ujarnya saat memimpin apel siaga di lapangan silang Monas, Jakarta, Sabtu (18/11). Anies mengatakan, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam mengantisipasi bencana, yaitu siap, tanggap, dan galang. Selain selalu siap, Anies juga meminta jajaran Pemprov untuk tanggap, yaitu dapat merespons dengan cepat, bertanggung jawab, tidak lepas tangan dan melempar masalah, serta proaktif dalam berkoordinasi hingga dapat langsung bertindak.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Namun, Anies tak menjelaskan secara rinci tindakan konkret yang harus dilakukan dalam mengantisipasi bencana itu. Tak hanya itu, Anies juga meminta Pemprov untuk memperhatikan kata kunci ketiga, yaitu galang. Anies mengatakan, aparatur harus terbuka mengajak dan menggalang partisipasi semua pihak, seperti warga dan lembaga kemasyarakatan, termasuk TNI-Polri. “Saya berharap dalam mengantisipasi penanganan bencana di Provinsi DKI Jakarta harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Prioritaskan rasa aman, bantu warga tanpa pandang status termasuk para kaum disabilitas yang termaginalkan,” ucapnya.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Anies menegaskan, ketiga hal ini harus terus diperhatikan dalam apel siaga yang akan diselenggarkan selama tiga bulan ke depan ini. Dia juga memerintahkan laporan siaga bencana ini harus bersifat real-time. Komunikasi juga harus aktif mnggunakan SMS Blast dan alat Disaster Warning System. Merujuk pada proyeksi Studi Meterologi ITB dengan model Smart Climate Model, Anies mengatakan bahwa curah hujan diprediksi mulai tinggi pada sepuluh hari kedua di bulan November, dan puncaknya terjadi pada sepuluh hari kedua Januari 2018. (has)

Instruksi dia sampaikan di hadapan 49.000 pasukan yang terdiri dari pasukan warna, RT, RW, LMK, camat, lurah, hingga anggota Pramuka dalam apel siaga bencana di Lapangan Silang Monas Selatan. Instruksi pertama adalah menyiapkan posko bencana dan peralatannya. “Pertama, posko bencana harus siaga 24 jam, baik personelnya, peralatannya, alat komunikasinya, dan memastikan semua kebutuhan logistik ditempatkan di lokasi rawan,” ujar Anies di Lapangan Silang Monas Selatan, Sabtu (18/11/2017). Kemudian, Anies menginstruksikan agar ketinggian air selalu dimonitor. Jika tingginya mulai melampaui batas, early warning system harus diaktifkan. Caranya bisa dengan mengirim SMS serentak ke warga, menggunakan kentongan, atau sarana komunikasi lain. “Masyarakat Jakarta yang tinggal di daerah rawan bencana dapat info secepatnya,” ujar Anies.

Usai itu semua, Anies menyampaikan pidato politik pertamanya sebagai Gubernur DKI di hadapan warga Ibu Kota yang sudah hadir sejak pagi di halaman Blok G Balai Kota. Berikut pidato lengkap Gubernur DKI periode 2017-2022 itu: Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Washolatu wassalamu ‘ala asrofil ambiya iwal mursalin wa’ala alihi wasohbihi aj ma’in. Amma ba’du. Saudara-saudara semua warga Jakarta. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera. Om swastiastu. Namo buddhaya. Saudara-saudara semua, hari ini satu lembar baru kembali terbuka dalam perjalanan panjang Jakarta. Ketika niat yang lurus, ikhtiar gotong-royong dalam makna yang sesungguhnya, didukung dengan doa-doa yang kita terus bersama panjatkan, maka pertolongan dan ketetapan Allah SWT itu telah datang. Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang telah ditetapkan oleh-Nya, dan tidak ada pula yang bisa mewujudkan apa yang ditolak oleh-Nya. Warga Jakarta telah bersuara dan terpaut dengan satu rasa yang sama, “Keadilan bagi semua”. Mari kita terus panjatkan syukur dan doa keselamatan kepada Allah SWT, Yang Maha Menolong dan Maha Melindungi. Hari ini sebuah amanat besar telah diletakkan di pundak kami berdua. Sebuah amanat yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Hari ini adalah penanda awal perjuangan dalam menghadirkan kebaikan dan keadilan yang diharapkan seluruh Rakyat Jakarta, yaitu kemajuan ibukota tercinta dan kebahagiaan seluruh warganya. Hari ini, saya dan Bang Sandi dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur bukan bagi para pemilih kami saja, tapi bagi seluruh warga Jakarta. Kini saatnya bergandengan sebagai sesama saudara dalam satu rumah untuk memajukan kota Jakarta. Holong manjalak holong, holong manjalak domu, demikian sebuah pepatah Batak mengungkapkan. Kasih sayang akan mencari kasih sayang, kasih sayang akan menciptakan persatuan. Ikatan yang sempat tercerai, mari kita ikat kembali. Energi yang sempat terbelah, mari kita satukan kembali. Jakarta adalah tempat yang dipenuhi oleh sejarah. Setiap titik Jakarta menyimpan lapisan kisah sejarah yang dilalui selama ribuan tahun. Jakarta tidak dibangun baru-baru saja dari lahan hampa. Sejak era Sunda Kalapa, Jayakarta, Batavia hingga kini, Jakarta adalah kisah pergerakan peradaban manusia. Jakarta sebagai melting pot telah menjadi tradisi sejak lama. Di sini tempat berkumpulnya manusia dari penjuru Nusantara, dan penjuru dunia. Jakarta tumbuh dan hidup dari interaksi antar manusia. Dalam sejarah panjang Jakarta, banyak kemajuan diraih dan pemimpin pun datang silih berganti. Masing-masing meletakkan legasinya, membuat kebaikan dan perubahan demi kota dan warganya. Untuk itu kami sampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para gubernur dan wakil gubernur sebelumnya, yang turut membentuk dan mewarnai wujud kota hingga saat ini. Jakarta juga memiliki makna penting dalam kehidupan berbangsa. Di kota ini, tekad satu Tanah Air, satu bangsa dan satu bahasa persatuan ditegakkan oleh para pemuda. Di kota ini pula bendera pusaka dikibartinggikan, tekad menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat diproklamirkan ke seluruh dunia. Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, Itik se atellor, ajam se ngeremme . Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain.

Petugas Dinas Kebersihan Pemprov DKI Jakarta atau pasukan oranye mengambil sampah dan limbah yang terbawa aliran Sungai Ciliwung di Kawasan Banjir Kanal Timur, Jakarta, Jumat (10/2). Dinas Kebersihan DKI Jakarta mengangkat sampah seberat 90 hingga 220 ton per hari dari badan air di sungai, waduk, setu, dan danau di wilayah Ibu kota. ANTARA FOTO – Aprillio Akbar Bisnis.com, JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memastikan tidak akan ada pengurangan jumlah petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) atau yang akrab dikenal sebagai Pasukan Oranye. Anies mengatakan akan memperpanjang kontrak petugas PPSU dan meningkatkan upahnya. “Akan kami teruskan, bahkan dari sisi pengupahan akan mengalami peningkatan. Pada 2018 ini mereka akan meningkat menjadi Rp3,87 juta per bulan,” ujar Anies di Balai Kota Jakarta, pada Rabu (15/11/2017). Perpanjangan kontrak bagi PPSU ini sekaligus menepis kabar bahwa petugas yang dibesut oleh Basuki Tjahaja Purama atau Ahok, gubernur sebelumnya, akan dihapus apabila Anies terpilih menjadi gubernur. Pada era Ahok, petugas PPSU mendapatkan gaji setara dengan upah minimum provinsi (UMP) sebesar Rp 3,3 juta. Adapun tugas dari PPSU yaitu menangani prasarana dan sarana jalan, yang bertugas untuk perbaikan jalan berlubang, perbaikan trotoar, termasuk membantu penanganan banjir. Selain kenaikan gaji PPSU, Anies mengatakan ada penambahan anggaran juga dialokasikan untuk penanganan banjir dan pengelolaan air. “Kami pastikan aman untuk pengadaan tanah saluran waduk, saluran waduk itu Rp 1,4 triliun. Kemudian pengadaan alat berat untuk kebersihan air juga kami pastikan ada Rp 282 miliar dialokasikan,” ujar Anies. Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menganggarkan untuk pembebasan sarana dan prasarana di sungai dan kali Rp 227 miliar. Setidaknya, ada alokasi anggaran sebesar Rp 1,98 triliun untuk pengelolaan air di Jakarta. Anies berharap dengan anggaran yang ada, pengelolaan air di Jakarta bisa lebih baik sehingga terhindar dari potensi banjir. Anies akan memanggil seluruh wali kota dan biro tata pemerintahan untuk memastikan seluruh aparat dalam posisi siap siaga. Ia meminta tidak boleh keterlambatan dalam merespons situasi apa pun. “Seluruh jajaran harus dalam posisi siaga. Seluruh jajaran harus dalam posisi responsif sehingga tidak ada situasi yang lambat direspons,” kata Anies Baswedan. Sumber : Tempo

Related Posts

Comments are closed.