Anak Jalanan yang Dijual ke WNA Kenal Perantara Via Facebook

Anak Jalanan yang Dijual ke WNA Kenal Perantara Via Facebook

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut anak jalanan korban eksploitasi seksual dijual ke WNA lewat perantara berinisial DM (17). Korban berkomunikasi dengan DM melalui media sosial. “Jadi anak-anak bertemu dengan penghubungnya dari Facebook. Kemudian kami menduga terhadap mendalami jual-beli fisik ini, karena bisa saja jual tisu ini kedok karena sebelum jual tisu, korban bertemu dengan penghubung itu via Facebook,” kata Komisioner Bidang Sosial dan Anak dalam Situasi Darurat KPAI, Susianah Affandy, di Mapolres Jakarta Selatan, Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Rabu (3/1/2018). Setelah bertemu, anak-anak jalanan itu kemudian ditawari bertemu dengan user (pelanggan) dari WNA. Korban juga diiming-imingi uang bila mau bertemu dengan WNA tersebut. “Kemudian bagaimana prosesnya mau nggak ketemu dengan bule? Nanti dikasih uang. Kemudian diantar, kemudian ke kamar hotel,” ujar Susianah. Bila korban telah setuju untuk bertemu WNA itu, mereka akan diajak ke sebuah hotel. Para korban tersebut kemudian dicabuli, setelah itu diberi uang. “Terduga WNA ini memberikan uang kepada korban,” tambah Susianah. Susianah menjelaskan anak-anak jalanan itu tak hanya sekali dicabuli WNA. Mereka telah dibawa ke lima tempat. “Kejadian ini bukan sekali dari pengakuan pelaku dan korban, anak-anak ini sudah masuk lima tempat,” jelasnya. Sementara itu, Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi KPAI Ai Maryati mendorong para anak jalanan yang menjadi korban segera direhabilitasi. Pengawasan juga harus terus dilakukan agar tak terjadi lagi perdagangan manusia. “Korban, dalam hal ini korban harus memiliki rehabilitasi, komprehensif, bagaimana pun juga saya melihat penanganan trafficking anak, apalagi anak jalanan, sedemikian rumit, kompleks,” ujarnya. Kasus eksploitasi anak ini terbongkar saat Sat Reskrim Polres Jaksel menangkap empat wanita yang terlibat dalam sindikat penjual anak jalanan kepada WNA. Kedua korban berinisial N (13) dan J (11) adalah anak yang berjualan tisu asongan di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Selanjutnya, polisi juga menangkap WN Jepang berinisial Ando Akira (49), yang menjadi pelanggan ( user ) anak jalanan tersebut. Akira membawa korban ke hotel dengan membayar jasa layanan seks Rp 1 juta per satu orang. Atas perbuatannya, tersangka Akira dijerat Pasal 76 huruf i jo Pasal 88 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 6 UU RI No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Polisi juga telah mengirimkan surat ke Kedubes Jepang terkait penangkapan Akira ini.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut anak jalanan korban eksploitasi seksual dijual ke WNA lewat perantara berinisial DM (17). Korban berkomunikasi dengan DM melalui media sosial. “Jadi anak-anak bertemu dengan penghubungnya dari Facebook. Kemudian kami menduga terhadap mendalami jual-beli fisik ini, karena bisa saja jual tisu ini kedok karena sebelum jual tisu, korban bertemu dengan penghubung itu via Facebook,” kata Komisioner Bidang Sosial dan Anak dalam Situasi Darurat KPAI, Susianah Affandy, di Mapolres Jakarta Selatan, Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Rabu (3/1/2018). Setelah bertemu, anak-anak jalanan itu kemudian ditawari bertemu dengan user (pelanggan) dari WNA. Korban juga diiming-imingi uang bila mau bertemu dengan WNA tersebut. “Kemudian bagaimana prosesnya mau nggak ketemu dengan bule? Nanti dikasih uang. Kemudian diantar, kemudian ke kamar hotel,” ujar Susianah. Bila korban telah setuju untuk bertemu WNA itu, mereka akan diajak ke sebuah hotel. Para korban tersebut kemudian dicabuli, setelah itu diberi uang. “Terduga WNA ini memberikan uang kepada korban,” tambah Susianah. Susianah menjelaskan anak-anak jalanan itu tak hanya sekali dicabuli WNA. Mereka telah dibawa ke lima tempat. “Kejadian ini bukan sekali dari pengakuan pelaku dan korban, anak-anak ini sudah masuk lima tempat,” jelasnya. Sementara itu, Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi KPAI Ai Maryati mendorong para anak jalanan yang menjadi korban segera direhabilitasi. Pengawasan juga harus terus dilakukan agar tak terjadi lagi perdagangan manusia. “Korban, dalam hal ini korban harus memiliki rehabilitasi, komprehensif, bagaimana pun juga saya melihat penanganan trafficking anak, apalagi anak jalanan, sedemikian rumit, kompleks,” ujarnya. Kasus eksploitasi anak ini terbongkar saat Sat Reskrim Polres Jaksel menangkap empat wanita yang terlibat dalam sindikat penjual anak jalanan kepada WNA. Kedua korban berinisial N (13) dan J (11) adalah anak yang berjualan tisu asongan di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Selanjutnya, polisi juga menangkap WN Jepang berinisial Ando Akira (49), yang menjadi pelanggan ( user ) anak jalanan tersebut. Akira membawa korban ke hotel dengan membayar jasa layanan seks Rp 1 juta per satu orang. Atas perbuatannya, tersangka Akira dijerat Pasal 76 huruf i jo Pasal 88 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 6 UU RI No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Polisi juga telah mengirimkan surat ke Kedubes Jepang terkait penangkapan Akira ini.

Polres Jakarta Selatan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berkoordinasi terkait kasus anak jalanan yang menjadi korban eksploitasi seksual. Anak jalanan itu dijual oleh empat orang wanita kepada warga negara asing (WNA). “Rencananya KPAI akan hadir di Polres Jakarta Selatan untuk memaparkan temuan tentang trafficking anak-anak jalanan,” kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto, dalam keterangannya, Rabu (3/1/2017). Secara terpisah, Ketua KPAI Susanto menjelaskan pihaknya telah mendalami secara langsung kasus eksploitasi seksual anak jalanan tersebut. KPAI akan memaparkan sejumlah temuan mengenai hal tersebut pada siang nanti. “Ya, intinya nanti itu kami bertiga Komisioner Bidang Sosial bu Susianah kemudian Bidang Trafficking dan Eksploitasi ibu Ai Maryati, dan saya sama Kapolres. Pertama memang koordinasi terkait dengan hal itu, KPAI sudah mendalami ke lapangan. Maka kita koordinasi hasil itu. Maka kita bicarakan untuk membongkar kasus kasus lain,” ujarnya. Kasus eksploitasi anak ini terbongkar saat Sat Reskrim Polres Jaksel menangkap empat orang wanita yang terlibat dalam sindikat penjual anak jalanan kepada WNA. Kedua korban berinisial N (13) dan J (11) adalah anak yang berjualan tisu asongan di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Selanjutnya, polisi juga menangkap WN Jepang Ando Akira (49) yang menjadi pelanggan (user) anak jalanan tersebut. Akira membawa korban ke hotel dengan membayar jasa layanan seksual sebesar Rp 1 juta per satu orang. Atas perbuatannya, tersangka Akira dijerat Pasal 76 huruf i jo Pasal 88 UU RI No 35 th 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 6 UU RI No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Polisi juga telah mengirimkan surat ke Kedubes Jepang terkait penangkapan Akira ini.

Dua bocah perempuan menjadi korban human trafficking. Kedua korban yang masih berusia belasan tahun itu dieksploitasi untuk menjajakan tubuh kepada warga negara asing (WNA). Salah satu korban berinisial N (12), sehari-hari jualan asongan tisu di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Dia bertemu dengan pelaku ketika berjualan tisu di sana. “(Dijual kepada WNA) sudah lama,” ujar N saat ditemui di Mapolres Jakarta Selatan, Jl Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2017). N sudah putus sekolah sejak bangku Sekolah Dasar (SD). N mengaku berjualan agar menghasilkan uang untuk jajan. Sementara uang hasil menjajakan seks digunakan untuk main internet. “Buat ke warnet, main Facebook-an,” lanjut N. Ibu korban, T mengaku sering melarang anaknya untuk berjualan tisu. Namun N diam-diam keluar rumah tanpa sepengetahuan T. “Suka dilarang jualan, kan saya juga dagang teh botol di Senayan. Nah dia suka diam-diam jualan tisu,” kata T. Sementara T mengaku baru mengetahui anaknya dieksploitasi secara seksual oleh para pelaku. T baru mengetahuinya sejak tanggal 18 Desember 2017 lalu. “Iya tahunya dari anak sendiri, dia yang cerita,” kata T lagi. Dalam kasus ini, polisi menangkap empat orang wanita. Keempat pelaku, salah satunya Dinah (54) sebagai mami, dua orang perekrut dan satu orang perantara.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA — Unggulan kedua asal Spanyol Pablo Carreno Busta dan unggulan ketiga Tomas Berdych tersingkir pada putaran pertama Qatar Terbuka pada Selasa. Mereka dikalahkan dalam pertarungan keras melawan Borna Coric dan Jan-Lennard Struff. Carreno Busta diharapkan bersinar pada ajang pembukaan musim setelah berpartisipasi di ATP Finals 2017. Namun, Coric mampu mengatasi perlawanannya dalam pertandingan yang berlangsung dua jam 41 menit setelah melakukan kebangkitan untuk menang 5-7, 6-2, 7-6(8). Coric mengatasi rasa gugupnya untuk mengalahkan petenis peringkat sepuluh dunia itu. Ia akan berhadapan dengan petenis Georgia, Nikoloz Basilashvili, pada putaran kedua. “Ini merupakan pertandingan berat,” kata Coric setelah pertandingan. “Menurut saya, ia melakukan serve dua kali untuk pertandingan ini dan saya hanya memikirkan diri sendiri (bahwa) saya bermain bagus sepanjang pertandingan. Itulah fokus utama saya.” Petenis Republik Ceska, Berdych, tergelincir pada awal pertandingannya. Ia kalah pada set pertama sebelum mengamankan kemenangan pada set kedua melalui penampilan dominan. Namun, petenis Jerman Struff bekerja keras untuk memaksakan tiebreak pada set terakhir dan mendulang kemenangan 6-4, 1-6, 7-6(4). Struff, yang menghuni peringkat ke-53 dunia, akan berhadapan dengan pemenang pertandingan antara Paolo Lorenzi asal Italia dan petenis Prancis Gael Monfils di putaran berikutnya.

x���[k�F�� ��(|4g��B��mJnװaD�x��R�(�|��I쮥��Sl|�������y(�{��Cq����׺bwź��n��ؾ\���r����F^�8�a�\p�/�,w�_����⚎������el�V �I����KƊMp��������o��xf�c��M��d��ˬ>����&��R���ó��؞wނ����8C�!A�0d�q���x�oj��)�”�g B���vG{S ���lw,k���U>�eg�7���ڃ�G�m�W�O��*c�CI��o�÷9Y �Qٳ���(*9�l]���jz2���am���cQP�jv(P�B0q�8���`k���]�̛kT4W �-��u`ݴU������r�k�,H{N�Q�G�CKzH��Y�A��Be’3� U׆�R-�m(ŗy_c���J����զ�9�lRMc�3�]���4�0�’J��$�D��O� *��n�wQB�2� ��n���j� �}�= ���]Vu�ʑg�K�vS��;�z���1:�t�)�6ݛ]qa�lH��ȯun2jG��@*��J)������RR(c�L]T_�r���r_�S���$H?���RE>��f���y�m���}I�jg�b /�ġԼ�&�!��`m�N7��”D8�����0*T��s��A%]K$OEj�a&]Rdl�I�z�@���XS���� i��qy�Am�tw�IWAyꏿ�����À#-O�Z�����O�%��īmV�hR;0�B�‘{-n����c�D�w��QU8��T�}U�7I�9�z滞�&��W]�8[���1�

Related Posts

Comments are closed.