Ada Penyempitan Jalur, Tol Cikampek Arah Jakarta Macet 7 Km

Ada Penyempitan Jalur, Tol Cikampek Arah Jakarta Macet 7 Km

Sejumlah titik di ruas Tol Jakarta-Cikampek mengalami kemacetan. Kondisi ini terjadi karena lonjakan volume kendaraan dan adanya penyempitan jalur. “Untuk sementara hanya (karena) volume kendaraan dan penyempitan jalur akibat proyek pembangunan,” kata petugas PT Jasa Marga, Reno, saat dihubungi, Jumat (5/1/2018) sekitar pukul 23.00 WIB. Reno mengatakan titik kemacetan berada di Km 54. Kemacetan terjadi sepanjang 7 kilometer. “Ke arah Jakarta, di Karawang Timur ke Karawang Barat dari Km 54-47,” ujar dia. Selain ke arah Jakarta, kemacetan terjadi di jalur yang mengarah ke Cikampek. Kemacetan mulai Jatiwaringin hingga Bekasi. “Untuk yang mengarah ke Cikampek, dari Jatiwaringan ke Bekasi dari Km 08-14,” ujar dia. Reno menginformasikan kemacetan sepanjang 2 kilometer juga terjadi di Cibatu arah Cikarang Pusat.

Kepadatan kendaraan terjadi di Tol Cikampek arah Jakarta. Kepadatan kendaraan mencapai 7 kilometer (km). “Kepadatannya, informasi yang kami dapat dari Km 53 sampai Km 46 arah Jakarta. Selepasnya, mengarah ke Cawang lancar kembali. Panjangnya sekitar 7 km,” kata petugas call center PT Jasa Marga, Widodo, ketika dihubungi detikcom, Minggu (8/10/2017) pukul 23.20 WIB. Dia mengatakan kepadatan tersebut karena petugas sedang melakukan perbaikan jalan sejak pukul 23.00 WIB. Sehingga terjadi penyempitan lajur. “Informasinya, sedang ada penyempitan lajur, ada dampak perbaikan jalan di lajur kanan,” tuturnya. Sementara, untuk arah sebaliknya, kepadatan kendaraan juga terjadi di dua lokasi. Kepadatan ini disebabkan meningkatnya volume kendaraan dan adanya perbaikan jalan sejak pukul 22.00 WIB. “Untuk arah Cikampek, ada kepadatan dari Jatibening di Km 8 sampai Bekasi Barat di Km 14. Kemudian mengarah ke Cikarang lancar. Kepadatan kembali di Km 49 atau Karawang Barat yang sedang ada perbaikan jalan di jalur tengah. Selepasnya lancar kembali,” tutur Widodo.

Kemacetan terjadi di Tol Cikampek arah Jakarta mulai dari Km 49 hingga Km 46. Kemacetan terjadi akibat penyempitan lajur terkait pembangunan jalan layang Tol Cikampek. “Iya benar, ada kemacetan lajur pembangunan layang Tol Cikampek,” kata petugas PT Jasa Marga, Ahmad, saat dimintai konfirmasi, Jumat (15/12/2017). Ahmad menerangkan kemacetan ini terjadi sejak pukul 24.00 WIB. Selepas Km 46, lalu lintas kembali normal. Selain itu, kemacetan terjadi di Tol Bekasi Timur-Bekasi Barat Km 16-14. Penyebab kemacetan ini sama, yakni adanya penyempitan lajur. “Di sekitar Bekasi Timur juga terjadi kepadatan,” terang Ahmad.

Kemacetan terjadi di Jalan Tol Jakarta-Bekasi Timur. Kendaraan mengular sepanjang 11 km hingga daerah Cikunir. “Kondisi di tol dari Halim atau Cawang di KM 0 sudah ada kepadatan sampai Cikunir di KM 11. Kepadatan karena lajur di Cikunir ada penyempitan lajur di Cikunir,” kata petugas call center PT Jasa Marga, Nugroho, ketika dihubungi, Senin (10/7/2017) sekitar pukul 21.20 WIB. Dia mengatakan kepadatan ini sudah terjadi sejak siang tadi. Kendaraan melaju pelan di dalam jalan tol tersebut. “Dari Cawang, kendaraan melaju di bawah 30 km/jam. Namun kondisi dinamis, informasi terakhir demikian,” ujarnya. Setelah melewati KM 11, kondisi lalu lintas kembali lancar hingga di kawasan Tambun. Nugroho mengatakan kepadatan tersebut disebabkan adanya penyempitan lajur. Sedangkan untuk kondisi lalu lintas pada arah sebaliknya, terjadi kepadatan di Cikarang. “Arah sebaliknya ada kepadatan di Cikarang Barat di KM 33 sampai Gerbang Tol Cikarang Utama. Kepadatan karena antrean atau volume kendaraan,” ucapnya.

Kemacetan sepanjang 7 kilometer terjadi di Tol Cikampek arah Jakarta. Kemacetan yang terjadi di daerah Karawang itu disebabkan adanya pengerjaan proyek Tol Jakarta-Cikampek II (elevated). “Kemacetan dari KM 59 sampai KM 46, karena ada pekerjaan di KM 47,” kata petugas call center PT Jasa Marga, Seto, ketika dihubungi detikcom, Rabu (3/1/2018) pukul 02.15 WIB. Dampak pengerjaan proyek tersebut menimbulkan kemacetan di KM 59. Pengerjaan proyek ini juga menyebabkan terjadinya penyempitan jalur. Sementara itu, untuk arah sebaliknya, kata Seto, lalu lintas lancar. Selanjutnya ada pula pengerjaan proyek di tol Bekasi Barat tepatnya di KM 9+200. Kemacetan tersebut berdampak sejak di KM 8 hingga KM 10. “Di tol Bekasi Barat ada pekerjaan proyek yang sama di ruas tol KM 9+200, kepadatan dari KM 8-10 setelah itu lancar, sementara arah sebaliknya lancar,” ujar Seto. Sementara itu dari Bekasi Barat arah Jakarta selanjutnya terpantau lancar, begitu pula di Cawang, Jakarta Timur. “Cawang lancar, begitu pula arah sebaliknya lancar,” ujarnya.

Kemacetan sepanjang 7 kilometer terjadi di Tol Cikampek arah Jakarta. Kemacetan yang terjadi di daerah Karawang itu disebabkan adanya pengerjaan proyek Tol Jakarta-Cikampek II (elevated). “Kemacetan dari KM 59 sampai KM 46, karena ada pekerjaan di KM 47,” kata petugas call center PT Jasa Marga, Seto, ketika dihubungi detikcom, Rabu (3/1/2018) pukul 02.15 WIB. Dampak pengerjaan proyek tersebut menimbulkan kemacetan di KM 59. Pengerjaan proyek ini juga menyebabkan terjadinya penyempitan jalur. Sementara itu, untuk arah sebaliknya, kata Seto, lalu lintas lancar. Selanjutnya ada pula pengerjaan proyek di tol Bekasi Barat tepatnya di KM 9+200. Kemacetan tersebut berdampak sejak di KM 8 hingga KM 10. “Di tol Bekasi Barat ada pekerjaan proyek yang sama di ruas tol KM 9+200, kepadatan dari KM 8-10 setelah itu lancar, sementara arah sebaliknya lancar,” ujar Seto. Sementara itu dari Bekasi Barat arah Jakarta selanjutnya terpantau lancar, begitu pula di Cawang, Jakarta Timur. “Cawang lancar, begitu pula arah sebaliknya lancar,” ujarnya.

Total panjang megaproyek ini mencapai 36 km. Setelah memulai pekerjaan fisik berupa lajur baru di sisi kiri jalan tol sebelum Lebaran, proyek beralih ke median jalan untuk pembangunan pilar tol layang sejak Kamis 6 Juli 2017. Imbasnya, kemacetan semakin panjang. Upaya PT Jasa Marga selaku pengelola tol melakukan rekayasa lajur pun tak banyak berarti. PT Jasa Marga mengakui, kemacetan parah ini kemungkinan masih terus terjadi hingga proyek berakhir pada 2019. Selain adanya proyek tol Jakarta-Cikampek II ( elevated ), kemacetan di ruas ini makin sulit dihindari karena terdapat tiga proyek lain yang bersamaan pengerjaannya, yakni light rail transit (LRT) Jakarta (KM 2)-Bekasi Timur (KM 18), kereta cepat Jakarta-Bandung, dan jalan tol Cibitung-Cilincing di Simpang Susun Cibitung KM 25. Dari pengamatan, kemacetan akibat proyek ini bahkan merembet hingga jalan masuk ( on ramp ) di beberapa titik seperti di daerah Cikunir. Meski terdapat tujuh lajur dengan satu lajur darurat, kendaraan di tol Jakarta-Cikampek pada titik ini sangat padat. Titik ini merupakan pertemuan lalu lintas dari arah Jatiasih (selatan) dan Cakung (utara) lewat JORR. Penyempitan lajur mulai terjadi di KM 25 hingga KM 26 (Cibitung). Meski begitu, kepadatan kendaraan telah mengular dari Gerbang Tol Cikarang Utama di KM 29, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi hingga di KM 9, Kelurahan Cikunir, Kota Bekasi. Kemacetan terjadi di kedua arah. Kemacetan panjang terjadi karena pengendara harus mengambil kartu elektronik dan membayar tagihan tol di Gerbang Tol Cikarang Utama. Kondisi ini diperparah dengan adanya penyempitan jalan di KM 25. Di titik ini, lajur empat atau lajur cepat di tiap arah ditutup petugas sebagai akses masuk untuk alat berat guna menghancurkan median jalan. Median jalan berupa movable concrete barrier (MCB) dibongkar petugas untuk dibangun tiang pancang atau pilar tol Jakarta-Cikampek II. “Sekarang macetnya tambah parah, bisa lebih dari 3 jam tidak bergerak,” kata Mirza (30), salah satu pegawai Setwan DPRD Kabupaten Bekasi, kemarin. Menurut Mirza, biasanya untuk pulang ke rumah dari kantornya di Cikarang Pusat, dia membutuhkan waktu 1 jam. Namun setelah dimulainya kembali proyek tol layang ini, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke rumahnya di Perumnas III Bekasi Timur bisa mencapai 4 jam. Kepala Humas Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek Handoyono mengakui imbas pengerjaan megaproyek ini adalah kemacetan. Proyek pemerintah pusat ini juga direncanakan bakal selesai pada 2019. Meski begitu, kata dia, pembangunan yang dilakukan pemerintah semata-mata untuk kepentingan masyarakat. “Setiap pembangunan pasti ada dampaknya, kami mohon masyarakat bersabar, proyek ini untuk meminimalkan kemacetan di ruas tol Jakarta-Cikampek nantinya,” ujar dia. Handoyono mengungkapkan, pemasangan barrier seperti di KM 25 sampai 25+500 dimaksudkan agar pengendara bisa melintas dengan leluasa. “Kita juga sudah bangun beberapa lajur baru arah Cikampek dan Jakarta sebagai pengganti lajur empat yang digunakan untuk membangun tol Jakarta-Cikampek elevated ,” jelasnya. AVP Corporate Communications Jasa Marga Dwimawan Heru mengatakan beban lalu lintas yang dihadapi jalan tol Jakarta-Cikampek saat ini sangat tinggi. Kepadatan kerap terjadi di jalan tol yang lalu lintas harian rata-ratanya (LHR) mencapai 590.000 kendaraan tersebut. “Rasio jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan (V/C) di beberapa ruas di jalan tol Jakarta-Cikampek sudah mencapai 1,3 yang artinya kondisi arus lalu lintas sangat sensitif terhadap gangguan lalu lintas,” kata Heru dalam keterangan tertulisnya di Jakarta kemarin. Pembangunan jalan tol layang ini dikerjakan oleh anak usaha Jasa Marga, PT Jasamarga Jalan layang Cikampek (JJC). Untuk membantu meminimalkan dampak kemacetan akibat pengerjaan empat proyek yang bersamaan, pelaksanaannya dibantu konsultan manajemen konstruksi agar lebih terintegrasi. Pakar infrastruktur transportasi Universitas Pancasila (UP) Jakarta Herawati Zetha Rahman menilai kemacetan bisa diatasi jika ada perencanaan dengan baik. “Mestinya ada rekayasa lalu lintas. Ini untuk menghindari dampak lain pembangunan tersebut,” kata Hera. Dia menyarankan rekayasa yang dimaksud, yaitu mengalihkan jalur mana yang bisa dilalui sebagai pengganti ketika pembangunan dilaksanakan. Dengan demikian, pengguna jalan lain tidak merasa terganggu atau dirugikan. “Perlu membuka jalur alternatif dan ada kepastian kapan jadwal pembangunan selesai,” kata dia. Pengamat Transportasi Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan pembatasan truk bisa menjadi solusi mengurangi kemacetan.

seperti di kutip dari https://economy.okezone.com

“Pada jam-jam tertentu truk dilarang melintas. Sehingga kemacetan bisa dikurangi,” tutur Yayat. Baginya kemacetan yang terjadi di ruas tol itu merupakan imbas kebijakan lama yang tak memikirkan banyaknya kendaraan serta pertumbuhan masyarakat. Sehingga ketika pemerintah saat ini melakukan pembangunan, efeknya jadi lebih berasa. Selain melakukan pembatas terhadap jam operasional truk, pemerintah juga disarankan untuk mengurangi kepadatan dengan rekayasa lalu lintas. Cara ini dinilai menjadi solusi lain untuk mengurangi, salah satunya memperluas sistem ganjil genap di kawasan tol. Selain integrasi dengan moda transportasi lain. Upaya lain adalah bekerja sama dengan Pemkot Bekasi untuk mempercepat operasi dan pengoptimalkan moda trans patriot milik bekasi. “Bisa juga dengan melakukan subsidi, seperti Transjakarta dengan KWK 11 itu,” tuturnya. Pendapat serupa juga diungkapkan Guru Besar Transportasi Universitas Gadjah Mada, Danang Parikesit. Dia mengatakan rekayasa bisa dilakukan pemerintah seperti saat melakukan pembangunan MRT di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Menurut Wakil Ketua Komisi V DPR Muhidin M Said, kemacetan di lokasi pembangunan proyek-proyek di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek memang tak bisa dihindari. Namun, pembangunan yang saat ini bersamaan waktunya memang harus segera dituntaskan. Proyek besar ini merupakan tugas pemerintah kepada BUMN sehingga kecil menyedot APBN. “Lebih baik kita membangun daripada terlambat. Risikonya memang ada kemacetan, tapi sementara untuk efek jangka panjangnya bagus. Kita tidak bisa melarang karena industri kendaraan terus tumbuh,” jelas dia.

Related Posts

Comments are closed.