2 Elang Laut di Sangkar Kantor Kejaksaan Diserahkan ke BBKSDA Riau

2 Elang Laut di Sangkar Kantor Kejaksaan Diserahkan ke BBKSDA Riau

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menerima penyerahan dua burung elang laut (haliastur indus). Burung ini diserahkan langsung oleh Kajari Rokan Hilir (Rohil), Bima Suprayoga. “Dua ekor burung elang laut itu selama ini merupakan koleksi di sangkat burung di Kantor Kejari Rohil. Burung itu merupakan pemberian masyarakat,” kata humas BBKSDA Riau, Dian dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (23/2/2018). Dian menjelaskan, pihaknya sangat mengapresiasi atas penyerahan dua ekor burung yang statusnya dilindungi. Penyerahan dua ekor burung itu diterima Kepala Bidang BBKSDA Riau, Wilayah II, Heru Sutmantoro pada 20 Februari 2018. “Kami sangat mengapresiasi dan memberikan penghargaan atas kesadaran Kajari untuk turut serta dalam upaya konservasi satwa liar yang dilindungi, kata Dian. Dian mengimbau kepada masyarakat yang memiliki satwa liar agar dapat melaporkan ke BBKSDA Riau. Karena satwa liar dilindungi UU No 7 Tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa liar. “Kami akan melakukan pengecekan kesehatan dan faktor ketergantungan/tingkat kejinakan terhadap kedua satwa dilindungi tersebut dilepasliarkan ke habitat,” tutup Dian.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menerima penyerahan dua burung elang laut (haliastur indus). Burung ini diserahkan langsung oleh Kajari Rokan Hilir (Rohil), Bima Suprayoga. “Dua ekor burung elang laut itu selama ini merupakan koleksi di sangkat burung di Kantor Kejari Rohil. Burung itu merupakan pemberian masyarakat,” kata humas BBKSDA Riau, Dian dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (23/2/2018). Dian menjelaskan, pihaknya sangat mengapresiasi atas penyerahan dua ekor burung yang statusnya dilindungi. Penyerahan dua ekor burung itu diterima Kepala Bidang BBKSDA Riau, Wilayah II, Heru Sutmantoro pada 20 Februari 2018. “Kami sangat mengapresiasi dan memberikan penghargaan atas kesadaran Kajari untuk turut serta dalam upaya konservasi satwa liar yang dilindungi, kata Dian. Dian mengimbau kepada masyarakat yang memiliki satwa liar agar dapat melaporkan ke BBKSDA Riau. Karena satwa liar dilindungi UU No 7 Tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa liar. “Kami akan melakukan pengecekan kesehatan dan faktor ketergantungan/tingkat kejinakan terhadap kedua satwa dilindungi tersebut dilepasliarkan ke habitat,” tutup Dian.

Kejari Rohil Serahkan 2 Elang Laut Peliharaan ke Balai Konservasi Kamis, 22 Februari 2018 – 14:39 WIB loading… Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Rokan Hilir (Rohil) Riau menyerahkan dua ekor elang laut peliharaan ke petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Foto Okezone/Banda HT ROKAN HILIR – Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Rokan Hilir (Rohil) Riau selama memelihara dua ekor burung jenis elang laut (haliastur indus). Belakangan disadari jika dua ekor satwa itu merupakan satwa yang dilindungi dan tidak boleh dipelihara selain intansi berwenang. Pihak Kejari Rohil pun akhirnya menyerahkan dua ekor elang itu ke petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Penyerahan dua burung elang itu dipimpin Kepala Kejaksaan Negeri  (Kajari) Rohil, Bima Suprayoga ke Kantor BBKSDA Riau di Pekanbaru. Penyerahan dua ekor burung dilindungi ini dari Kajari Rohil diterima oleh Kepala Bidang BBKSDA Wilayah II, Heru Sutmantoro. “BBKSDA sangat mengapresiasi atas diserahkannya dua elang laut itu dari institusi adiayaksa itu,” timpal Humas BBKSDA Riau, Dian Indriati, Kamis (12/2/2018). Dia menjelaskan, bahwa dua burung elang itu merupakan koleksi di sangkar burung Kantor Kejari Rokan Hilir. Burung itu merupakan hasil pemberian masyarakat. “Setelah mengetahui bahwa jenis elang adalah termasuk satwa liar yang di lindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa  Liar, maka Kajari menghubungi kita untuk menyerahkan satwa tersebut,” imbuhnya. Dian mengimbau kepada para pejabat publik dan masyarakat yang memiliki satwa liar agar dapat melaporkan kepada BBKSDA Riau. halaman ke-1 dari 2

Seorang wanita ditemukan tewas di rumahnya di Jalan Usaha RT 07/12, Cawang Kramat Jati, Jakarta Timur. Wanita bernama Suyati Sudrajat (67) itu ditemukan dalam keadaan sudah membusuk. “Kondisi itu sudah terlentang sudah kebiru-biruan, mata melotot dan sudah bau,” kata tetangga korban, Marni di lokasi, Jumat (23/2/2018). Mayat Suyati diketahui oleh warga sekitar pukul 10.00 WIB. Marni mengaku kaget ketika mendapat kabar tetangganya itu tewas. Dia menambahkan 4 hari yang lalu memang sempat mendengar suara mirip batuk sangat keras dari rumah Suyati. “Kalau keributan sih nggak dengar, tapi empat hari yang lalu itu dengar suara batuk kayak ngorok itu keras banget sampai 3 kali,” imbuhnya. Dia mengatakan Suyati di rumah tersebut tinggal seorang diri. Menurutnya Suyati memang terkenal orang yang tertutup dengan tetangga. “Dia ini juga jarang ngumpul sama tetangga. Dia seringnya di Kemayoran. dia di sini tinggal sendiri keluarganya di Bandung,” ungkapnya. Pantauan di lokasi, nampak sejumlah personel kepolisian dari Polsek Kramat Jati berada di lokasi. Garis polisi di pasang di sekitaran rumah Suyati. Sekitar pukul 11.50 WIB mayat Suyati diangkat oleh tim dokter forensik dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Bau menyengat tercium dari kantong mayat tersebut.

HAM, mengaku merekam adegan mesum bersama mantan kekasihnya, HA. Video mesum yang kemudian tersebar viral di media sosial itu diakui hanya untuk koleksi pribadi saja. “Dia alasannya untuk pribadi saja, kemudian (handphone untuk merekam) hilang,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (18/12/2017). Argo menjelaskan, adegan mesum tersebut dilakukan HA dan HAM di sebuah apartemen di kawasan Depok, pada tahun 2015. Video mesum keduanya itu direkam menggunakan handphone HAM. “Kemudian handphone-nya pernah hilang. Sampai sekarang belum ditemukan, masih kita cari,” sambung Argo. Lama berlalu, setelah keduanya putus, video mesum itu kemudian beredar. Awalnya video itu beredar di lingkungan kampus, hingga akhirnya tersebar luas di dunia maya setelah beredar dari grup-grup WhatsApp. Baik HA maupun HAM sudah mengakui adegan itu diperankan oleh keduanya. HAM sendiri mengaku merekam video itu, tetapi membantah telah mengedarkannya. “Kami masih akan periksa saksi-saksi lain,” cetus Argo.

Related Posts

Comments are closed.