2 Anak Setya Novanto akan Diperiksa KPK Besok

2 Anak Setya Novanto akan Diperiksa KPK Besok

KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap dua anak Setya Novanto, Rheza Herwindo dan Dwina Michaella, pada Kamis dan Jumat besok. Pemeriksaan keduanya sebagai saksi untuk tersangka Dirut PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo. “Besok, Kamis dan Jumat, rencananya (Rheza dan Dwina) akan diperiksa untuk tersangka ASS (Anang Sugiana Sudihardjo),” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (20/12/2017). Namun Febri belum menjelaskan siapa yang akan diperiksa terlebih dahulu. Ia hanya menyebut pemeriksaan seputar kepemilikan saham di PT Murakabi Sejahtera dan PT Mondialindo Graha Perdana. “Mendalami posisi dan kepemilikan saham dari Murakabi dan Mondialindo,” ujarnya. Sebelumnya, istri dan anak Novanto, Deisti Astriani Tagor dan Rheza Herwindo, turut disebut dalam surat dakwaan yang dibacakan jaksa KPK. Deisti dan Rheza disebut membeli saham perusahaan yang merupakan holding PT Murakabi Sejahtera, yang ikut dalam konsorsium proyek e-KTP. “Deisti Astriani Tagor dan Rheza Herwindo membeli sebagian besar saham PT Mondialindo Graha Perdana, yang merupakan holding dari PT Murakabi Sejahtera. PT Murakabi Sejahtera berkantor di Menara Imperium, Jalan Rasuna Said Kavling 1 Nomor 27, milik terdakwa. Sebelum pelaksanaan lelang Pekerjaan Penerapan KTP Elektronik, PT Murakabi Sejahtera memasukkan ‘Jasa Pembuatan’ ID card , hologram, specific ribbon dari security printing ke dalam bidang usahanya,” kata jaksa KPK pada sidang perdana Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu (13/12) lalu. Terkait proses penyidikan dugaan korupsi yang merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun ini, KPK juga sudah memblokir rekening keluarga Novanto, yakni Deisti, Rheza, dan Dwina.

Baca juga : panggil dua anak setya novanto kpk kamis dan jumat

JAKARTA,  JITUNEWS.COM –  Penyidik KPK akan memeriksa dua anak Setya Novanto, yaitu Rheza Herwindo dan Dwina Michaella. Keduanya akan diperiksa sebagai saksi dalam kasus korupsi e-KTP dengan tersangka Anang Sugiana Sudiharjo.  Bacakan Eksepsi, Pengacara Minta Setya Novanto Dibebaskan “Besok Kamis dan Jumat, penyidik sudah mengirimkan surat untuk rencana pemeriksaan terhadap dua anak SN (Setya Novanto). Persisnya tentu besok saya sampaikan jadwalnya,” kata Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah di gedung KPK, Rabu (20/12). Febri mengatakan Rheza dan Dwina akan dimintai keterangan terkait kasus e-KTP, termasuk soal PT Mondialindo Graha Perdana, pemilik saham mayoritas peserta lelang di proyek tersebut, PT Murakabi Sejahtera.

seperti di kutip dari http://www.jitunews.com

Ini Kata KPK Soal Kemungkinan Setya Novanto Jadi Justice Collaborator “Kami masih fokus pada bagaimana proses Murakabi dan saham PT Mondialindo dengan perkara ini,” kata Febri. Sebelumnya, Rheza dan Dwina pernah dipanggil oleh penyidik KPK, namun keduanya tidak hadir. Dalam surat dakwaan Novanto, disebut Rheza dan istri Novanto, Deisti Astriani Tagor memiliki saham di perusahaan yang menjadi holding PT Murakabi Sejahtera, yang ikut dalam konsorsium lelang proyek e-KTP. Jaksa mengatakan, PT MUrakabi Sejahtera adalah perusahaan yang dikendalikan Novanto melalui keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, bersama istri dan anaknya. Pengacara Setya Novanto Beberkan Beberapa Nama Penerima Uang e-KTP yang Hilang di Surat Dakwaan


Baca juga : kpk jadwalkan periksa anak setya novanto dwina michaella besok

Febri mengingatkan agar saksi yang dipanggil Komisi memenuhi kewajiban hukum untuk menghadiri pemeriksaan penyidik. “Karena surat panggilan sudah disampaikan secara patut,” kata dia. KPK menelisik keterlibatan keluarga Setya dalam proyek e-KTP . Fakta ini mengemuka dalam persidangan korupsi proyek tersebut. Dalam persidangan pada 3 November, misalnya, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto membenarkan ia pernah menjadi komisaris PT Mondialindo Graha Perdana, perusahaan yang memiliki saham mayoritas di PT Murakabi Sejahtera, salah satu perusahaan pemenang tender proyek  e-KTP . PT Murakabi dipimpin keponakan Setyo Novanto, Irvanto Hendra Pambudi. Pada perusahaan tersebut, Irvan menjabat direktur operasional. Saham perseroan ini juga pernah dimiliki Vidi Gunawan, adik Andi Narogong. Jaksa penuntut umum KPK menyebutkan istri dan anak Setya memiliki saham di PT Mondialindo pada 2008-2011. Istri Setya, Deisti, memiliki 50 persen saham, sedangkan anaknya, Reza Herwindo, 30 persen. Dalam persidangan Jumat, 3 November 2017, Setya Novanto membantah keterlibatannya dalam korupsi e-KTP. Meski mengaku pernah menjadi komisaris di Mondialindo, Setya menyatakan tak mengetahui bahwa Deisti Astriani Tagor dan Reza Herwindo pernah menguasai mayoritas saham perusahaan tersebut. Setya juga mengklaim tak tahu bahwa Dwina Michaella pernah menjadi komisaris Murakabi.

KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap dua anak Setya Novanto, Rheza Herwindo dan Dwina Michaella, pada Kamis dan Jumat besok. Pemeriksaan keduanya sebagai saksi untuk tersangka Dirut PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo. “Besok, Kamis dan Jumat, rencananya (Rheza dan Dwina) akan diperiksa untuk tersangka ASS (Anang Sugiana Sudihardjo),” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (20/12/2017). Namun Febri belum menjelaskan siapa yang akan diperiksa terlebih dahulu. Ia hanya menyebut pemeriksaan seputar kepemilikan saham di PT Murakabi Sejahtera dan PT Mondialindo Graha Perdana. “Mendalami posisi dan kepemilikan saham dari Murakabi dan Mondialindo,” ujarnya. Sebelumnya, istri dan anak Novanto, Deisti Astriani Tagor dan Rheza Herwindo, turut disebut dalam surat dakwaan yang dibacakan jaksa KPK. Deisti dan Rheza disebut membeli saham perusahaan yang merupakan holding PT Murakabi Sejahtera, yang ikut dalam konsorsium proyek e-KTP. “Deisti Astriani Tagor dan Rheza Herwindo membeli sebagian besar saham PT Mondialindo Graha Perdana, yang merupakan holding dari PT Murakabi Sejahtera. PT Murakabi Sejahtera berkantor di Menara Imperium, Jalan Rasuna Said Kavling 1 Nomor 27, milik terdakwa. Sebelum pelaksanaan lelang Pekerjaan Penerapan KTP Elektronik, PT Murakabi Sejahtera memasukkan ‘Jasa Pembuatan’ ID card , hologram, specific ribbon dari security printing ke dalam bidang usahanya,” kata jaksa KPK pada sidang perdana Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu (13/12) lalu. Terkait proses penyidikan dugaan korupsi yang merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun ini, KPK juga sudah memblokir rekening keluarga Novanto, yakni Deisti, Rheza, dan Dwina.

Penyidik KPK akan memanggil mantan Komisaris di PT Murakabi Sejahtera Dwina Michaela sebagai saksi kasus proyek e-KTP. Dwina rencananya akan diperiksa untuk tersangka Anang Sugiana Sudihardjo. “Besok direncanakan pemeriksaan terhadap Dwina Michaella,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Kamis (23/11/2017). Selain Dwina, anak Novanto lainnya, Rheza Herwindo juga dipanggil hari ini. Namun Rheza tidak hadir tanpa keterangan. Febri meminta para saksi bisa hadir memenuhi panggilan penyidik KPK. Karena surat panggilan sudah disampaikan secara patut. “Kami ingatkan agar para saksi yang dipanggil untuk memenuhi kewajiban hukum hadir menghadap penyidik,” ujar Febri. Dalam persidangan, Setya Novanto mengaku tidak tahu bila anaknya, Dwina Michaella, pernah menjadi komisaris perusahaan yang mengikuti lelang proyek e-KTP. Novanto pun mengaku sedikit bingung. “Saksi kenal dengan yang bernama Dwina Michaela?” tanya jaksa KPK kepada Novanto dalam sidang lanjutan dengan terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (3/11). “Iya kenal pak. Anak saya itu pak,” jawab Novanto. Kemudian, jaksa mengonfirmasi tentang informasi bila Dwina pernah menjadi Komisaris PT Murakabi Sejahtera. Novanto mengaku tak tahu. “Apakah saksi tahu Dwina Michaela ini pernah jadi Komisaris di PT Murakabi Sejahtera?” tanya jaksa. “Tidak tahu pak,” ucap Novanto.

Febri mengingatkan agar saksi yang dipanggil Komisi memenuhi kewajiban hukum untuk menghadiri pemeriksaan penyidik. “Karena surat panggilan sudah disampaikan secara patut,” kata dia. KPK menelisik keterlibatan keluarga Setya dalam proyek e-KTP . Fakta ini mengemuka dalam persidangan korupsi proyek tersebut. Dalam persidangan pada 3 November, misalnya, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto membenarkan ia pernah menjadi komisaris PT Mondialindo Graha Perdana, perusahaan yang memiliki saham mayoritas di PT Murakabi Sejahtera, salah satu perusahaan pemenang tender proyek  e-KTP . PT Murakabi dipimpin keponakan Setyo Novanto, Irvanto Hendra Pambudi. Pada perusahaan tersebut, Irvan menjabat direktur operasional. Saham perseroan ini juga pernah dimiliki Vidi Gunawan, adik Andi Narogong. Jaksa penuntut umum KPK menyebutkan istri dan anak Setya memiliki saham di PT Mondialindo pada 2008-2011. Istri Setya, Deisti, memiliki 50 persen saham, sedangkan anaknya, Reza Herwindo, 30 persen. Dalam persidangan Jumat, 3 November 2017, Setya Novanto membantah keterlibatannya dalam korupsi e-KTP. Meski mengaku pernah menjadi komisaris di Mondialindo, Setya menyatakan tak mengetahui bahwa Deisti Astriani Tagor dan Reza Herwindo pernah menguasai mayoritas saham perusahaan tersebut. Setya juga mengklaim tak tahu bahwa Dwina Michaella pernah menjadi komisaris Murakabi.

TEMPO.CO , Jakarta -Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) merencanakan kembali memanggil dua anak dari Setya Novanto untuk diperiksa sebagai saksi dalam penyidikan tindak pidana korupsi KTP-elektronik (E-KTP). Adapun dua anak Novanto itu antara lain Dwina Michaella dan Rheza Herwindo yang akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Anang Sugiana Sudihardjo. “Ada kemungkinan dipanggil kembali, namun untuk kebutuhan pemeriksaan untuk tersangka Anang Sugiana Sudihardjo yang sedang berjalan saat ini. Jadi, kami harap pada panggilan berikutnya yang bersangkutan bisa datang,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di gedung Jakarta, Senin 18 Desember 2017. Febri menyatakan bahwa rencana pemanggilan dua anak Novanto karena penyidik ingin mendalami soal kepemilikan saham dari perusahaan-perusahaan yang terkait proyek E-KTP.

seperti di kutip dari https://nasional.tempo.co

“Nanti akan kami sampaikan kapan persisnya pemeriksaan setelah dijadwalkan oleh penyidik,” kata Febri. BACA:  Asal Mula Anak Setya Novanto Dwina Michaela Ramai Dibicarakan Sebelumnya, dua anak Setya Novanto itu tidak memenuhi panggilan KPK dikarenakan surat pemanggilan belum diterima. “Kami harap bisa hadir meskipun kemarin alasannya karena surat disampaikan ke rumah Setya Novanto di Jalan Wijaya. Jadi, nanti akan kami cermati lebih lanjut jika penyidik membutuhkan keterangan sesuai dengan rencana kerja di penyidikan terutama untuk penyidikan dengan tersangka Anang Sugiana Sudihardjo,” ucap Febri. Kediaman Setya Novanto sendiri berada di Jalan Wijaya XIII Melawai Kebayoran Baru Jakarta Selatan, namun diketahui bahwa dua anak Novanto itu sudah memiliki kediaman masing-masing. Sebelumnya, dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat 3 Desember 2017, Deisti Astriani Tagor dan Rheza Herwindo yang merupakan istri dan anak Setya Novanto diketahui pernah memiliki saham di PT Mondialindo Graha Perdana yang merupakan pemegang saham mayoritas dari PT Murakabi Sejahtera, salah satu perusahaan peserta proyek E-KTP. “Jadi, kami ingin tahu sejauh mana pengetahuan yang bersangkutan terkait dengan kepemilikan perusahaan, saham-saham perusahaan, dan juga hal-hal lain,” ucap Febri. Baca:  Begini Jejak Keluarga Setya Novanto di Perusahaan Proyek E-KTP Dalam penyidikan kasus E-KTP dengan tersangka Anang Sugiana Sudihardjo, KPK juga telah mencegah Deisti Astriani Tagor, istri Setya Novanto ke luar negeri selama enam bulan ke depan sejak 21 November 2017. Deisti juga merupakan mantan Komisaris PT Mondialindo Graha Perdana. Anang Sugiana Sudihardjo merupakan merupakan Direktur Utama PT Quadra Solution yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi E-KTP pada 27 September 2017 lalu. PT Quadra Solution merupakan salah satu perusahaan yang tergabung dalam konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) sebagai pelaksana proyek KTP-elektronik (KTP-e) yang terdiri dari Perum PNRI, PT LEN Industri, PT Quadra Solution, PT Sucofindo, dan PT Sandipala Artha Putra. Baca:  Ini Alasan KPK Mencekal Istri Setya Novanto Anang Sugiana Sudihardjo diduga dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena kedudukannya atau jabatannya sehingga diduga mengakibatkan kerugian negara sekurang-kurangnya Rp2,3 triliun dari nilai paket pengadaan sekitar Rp5,9 triliun dalam paket pengadaan E-KTP pada Kemendagri. Indikasi peran Anang Sugiana Sudihardjo terkait kasus itu antara lain diduga dilakukan bersama-sama dengan Setya Novanto , Andi Agustinus alias Andi Narogong, Irman dan Sugiharto dan kawan-kawan.

TEMPO.CO, Jakarta- Kuasa hukum Setya Novanto , Fredrich Yunadi, mengatakan Dwina Michaella tak akan menghadiri undangan pemeriksaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dwina merupakan putri kedua Setya yang rencananya diperiksa sebagai saksi pada hari ini dalam perkara korupsi kartu tanda penduduk elektronik ( e-KTP ). Fredrich mengatakan hal tersebut karena surat panggilan dari KPK belum diterima Dwina. “Gimana mau datang, panggilan isinya apa juga belum tahu,” kata Fredrich kepada Tempo , Jumat, 24 November 2017. Baca: Begini Jejak Keluarga Setya Novanto di Perusahaan Proyek E-KTP Menurut Fredrich, memang ada surat panggilan yang diantar petugas KPK ke kediaman Setya. Namun, kata dia, Dwina sudah lama tak tinggal bersama Setya.

seperti di kutip dari https://nasional.tempo.co

“Sama penjaga dikasih tahu, anak-anak sudah punya rumah sendiri-sendiri setelah menikah. Sudah dibawa kembali (surat panggilannya),” ujarnya. Baca: Ini Alasan KPK Mencekal Istri Setya Novanto KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap Dwina sebagai saksi untuk Setya pada hari ini, Jumat, 24 November 2017. Setya menjadi tersangka dalam kasus korupsi e-KTP senilai Rp 5,84 triliun. Ketua Umum Partai Golkar ini resmi ditahan KPK sejak Ahad, 19 November 2017. Komisi antirasuah memang tengah menelusuri keterlibatan Setya Novanto dan keluarganya dalam korupsi proyek e-KTP yang diduga merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun. Kemarin, KPK sedianya juga memeriksa anak pertama Setya atau kakak Dwina, Rheza Herwindo. Namun Rheza mangkir dari panggilan tersebut. Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengingatkan agar para saksi memenuhi kewajibannya menghadiri pemeriksaan. “Karena surat panggilan sudah disampaikan secara patut,” ujar Febri di kantor KPK, Kamis, 23 November 2017.

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi Pemberantasan Korupsi akan kembali mengagendakan pemeriksaan terhadap dua anak mantan Ketua DPR Setya Novanto , yakni Rheza Herwindo dan Dwina Michaella. Putra dan putri Novanto itu akan diperiksa terkait kasus e-KTP. Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan, pemeriksaan keduanya akan dilakukan pada pekan ini. “Penyidik sudah mengirimkan kembali (surat) panggilan pada Rheza Herwindo dan Dwinna Michaella. Agenda pemeriksaan pada minggu ini,” kata Febri, di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Selasa (19/12/2017). Rheza dan Dwinna akan diperiksa dalam kapasitas sebagai saksi untuk Dirut PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, tersangka kasus ini.

Merdeka.com – Dua anak Setya Novanto hingga kini tidak menunjukkan batang hidungnya untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus korupsi proyek e-KTP. Sedianya, Dwina Michaella dan Reza Herwindo menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk tersangka Anang Sugiana Sudiharjo, tersangka korupsi e-KTP. Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan pihaknya akan tetap memanggil dua anak dari ketua DPR sekaligus tersangka atas kasus yang sama, Setya Novanto. Dia menjelaskan saat ini pihaknya tengah fokus terhadap PT Murakabi, peserta konsorsium proyek senilai Rp 5,9 Triliun itu. “Tim masih membutuhkan informasinya, karena memang perusahaan Murakabi tersebut dan pihak-pihak yang terkait perlu kita dalami dan perlu kita cari tahu,” ujar Febri saat dikonfirmasi, Rabu (29/11). Namun disinggung kapan pemanggilan terhadap keduanya akan kembali dilakukan, Febri mengaku elum mengetahui secara pasti. “Nanti kita sampaikan kembali kapan rencana penjadwalan ulang dan pemeriksaan kembali dua orang tersebut,” ujarnya. Reza dan Dwina ditengarai tahu soal yang merugikan negara Rp 2.3 Triliun itu. Saat proyek e-KTP bergulir, Dwina dan Reza merupakan komisaris PT Murakabi Sejahtera, salah satu peserta tender proyek e-KTP di Kementerian Dalam Negeri. Murakabi membentuk konsorsium bersama perusahaan lainnya. Konsorsium Murakabi diduga sengaja dibentuk oleh Tim Fatmawati untuk mendampingi Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI), yang disiapkan untuk menggarap proyek e-KTP. Selain Dwina, di PT Murakabi juga ada keponakan Setnov, Irvanto Hendra Pambudi alias Irvan. Sementara itu, Reza merupakan pemegang 30 saham PT Mondialindo Graha Perdana, bersama istri kedua Setnov, Deisti Astriani Tagor yang memiliki 50 persen saham. PT Mondialindo diketahui sebagai salah satu pemegang saham PT Murakabi. Namun, dua perusahaan tersebut diklaim sudah dijual ke pihak lain. Setnov sendiri mengaku tak tahu bila ada nama-nama keluarganya dalam dua perusahaan tersebut. Menurut Febri, penyidik KPK ingin mengorek keterangan dua anak Setnov terkait kepemilikan saham di dua perusahaan tersebut serta hal lain yang berkaitan dengan proyek e-KTP yang mulai dibahas sejak 2010 lalu. “Jadi kita ingin tahu sejauh mana pengetahuan yang bersangkutan (Rheza dan Dwina) terkait kepemilikan perusahaan, saham-saham perusahaan dan juga hal-hal yang lain,” tutur Febri. Pada pekan lalu, dua anak Setnov, Rheza dan Dwina dipanggil penyidik KPK, namun keduanya mangkir tanpa alasan. Baru Deisti dan Irvan yang telah diperiksa sebagai saksi kasus yang sudah menjerat enam orang tersangka, termasuk Setnov. KPK pun sudah memblokir rekening milik Setnov dan istrinya serta kedua anaknya tersebut sejak 2016. Pemblokiran ini berkaitan dengan penyidikan kasus korupsi proyek e-KTP. [fik]

Tim penyidik KPK untuk kasus korupsi e-KTP dengan tersangka Anang Sugiana Sudihardjo kali ini akan memanggil kembali dua anak Setya Novanto yakni Dwina Michaella dan Rheza Herwindo untuk diperiksa sebagai saksi.  “Ada kemungkinan dipanggil kembali, namun untuk kebutuhan pemeriksaan untuk tersangka Anang Sugiana Sudihardjo yang sedang berjalan saat ini. Jadi, kami harap pada panggilan berikutnya yang bersangkutan bisa datang,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Senin (18/12/2017). Sebelumnya, dua anak Novanto itu tidak memenuhi panggilan KPK dikarenakan surat pemanggilan belum diterima. “Kami harap bisa hadir meskipun kemarin alasannya karena surat disampaikan ke rumah Novanto di Jalan Wijaya. Jadi, nanti akan kami cermati lebih lanjut jika penyidik membutuhkan keterangan sesuai dengan rencana kerja di penyidikan terutama untuk penyidikan dengan tersangka Anang Sugiana Sudihardjo,” ucap Febri. Kediaman Novanto sendiri berada di Jalan Wijaya XIII Melawai Kebayoran Baru Jakarta Selatan, namun diketahui bahwa dua anak Novanto itu sudah memiliki kediaman masing-masing. Febri menyatakan bahwa rencana pemanggilan dua anak Novanto karena penyidik ingin mendalami soal kepemilikan saham dari perusahaan-perusahaan yang terkait proyek e-KTP.  “Nanti akan kami sampaikan kapan persisnya pemeriksaan setelah dijadwalkan oleh penyidik,” kata Febri. Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (3/11/2017), Deisti Astriani Tagor dan Rheza Herwindo yang merupakan istri dan anak Setya Novanto diketahui pernah memiliki saham di PT Mondialindo Graha Perdana yang merupakan pemegang saham mayoritas dari PT Murakabi Sejahtera, salah satu perusahaan peserta proyek e-KTP. “Jadi, kami ingin tahu sejauh mana pengetahuan yang bersangkutan terkait dengan kepemilikan perusahaan, saham-saham perusahaan, dan juga hal-hal lain,” ucap Febri. Dalam penyidikan kasus e-KTP dengan tersangka Anang Sugiana Sudihardjo, KPK juga telah mencegah Deisti Astriani Tagor, istri Novanti ke luar negeri selama enam bulan ke depan sejak 21 November 2017. Deisti juga merupakan mantan Komisaris PT Mondialindo Graha Perdana. Anang Sugiana Sudihardjo merupakan merupakan Direktur Utama PT Quadra Solution yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP pada 27 September 2017 lalu.  PT Quadra Solution merupakan salah satu perusahaan yang tergabung dalam konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) sebagai pelaksana proyek KTP-elektronik (e-KTP) yang terdiri dari Perum PNRI, PT LEN Industri, PT Quadra Solution, PT Sucofindo, dan PT Sandipala Artha Putra. Anang Sugiana Sudihardjo diduga dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena kedudukannya atau jabatannya sehingga diduga mengakibatkan kerugian negara sekurang-kurangnya Rp2,3 triliun dari nilai paket pengadaan sekitar Rp5,9 triliun dalam paket pengadaan KTP-e pada Kemendagri. Indikasi peran Anang Sugiana Sudihardjo terkait kasus itu antara lain diduga dilakukan bersama-sama dengan Setya Novanto, Andi Agusitnus alias Andi Narogong, Irman dan Sugiharto dan kawan-kawan.

Related Posts

Comments are closed.