150 Hektar Hutan Produksi di Aceh Dirambah, Polisi Sita Alat Berat

150 Hektar Hutan Produksi di Aceh Dirambah, Polisi Sita Alat Berat

Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Tim Reskrim Polres Aceh Tamiang dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Langsa menemukan adanya praktek perambahan hutan produksi di Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, Aceh. Seluas 150 hektar lahan hutan telah dialih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. “Banyak hutan produksi yang diubah fungsinya. Hutan produksi tersebut berubah fungsi menjadi kebun kelapa sawit,” kata Koordinator wilayah FKL Langsa, Tezar Pahlevi dalam keterangannya, Sabtu (30/12/2017). Dia menyebutkan kejadian perambahan hutan produksi tersebut diprediksi sudah dilakukan sejak Januari 2017 lalu. Dan dugaannya dilakukan oleh dua orang cukong atau pemilik modal. Saat dilakukan konfirmasi kepada para pekerjanya di lokasi, mereka mengaku dua cukong tersebut berinisial SA, warga Aceh Tamiang dan AB warga Binjai, Sumatera Utara Dari penelusuran tim gabungan di kawasan hutan produksi tersebut, berhasil menyita satu unit alat berat yang diduga menjadi alat untuk mempercepat perubahan fungsi hutan tersebut. Sementara Kasat Reskrim Polres Aceh Tamiang Iptu Ferdian Chandra menyebutkan saat dilakukan penyisiran atas dugaan perubahan alih fungsi hutan produksi bersama FKL Langsa dan KPH Langsa ditemukan satu alat berat di kawasan hutan tersebut. “Benar, saat kita lakukan penyisiran ditemukan satu unit alat berat. Saat ini sudah kita amankan di Mapolres Aceh Tamiang. Kita duga alat berat itu untuk membantu alih fungsi hutan tersebut namun saat ini terus kita lakukan penyidikan atas kasus tersebut,” kata Ferdian dikonfirmasi detikcom, Jumat (30/12)

Baca juga : 2010_09_19_archive.html

Ancaman global sudah di depan mata. Indonesia salah satu negara yang sangat rawan terhadap dampak negatif perubahan iklim. Perubahan iklim telah mengubah pola presipitasi (hujan) dan evaporasi (penguapan), sehingga berpotensi menimbulkan banjir di beberapa lokasi dan kekeringan di lokasi yang lain. Kenyataan ini sangat mengancam berbagai bidang mata pencaharian masyarakat di Tanah Air, terutama pertanian dan perikanan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami peningkatan intensitas dan frekuensi perubahan cuaca yang mengkhawatirkan. “Kita berulang menghadapi banjir, kekeringan, dan kejadian-kejadian yang berawal dari penggundulan dan kerusakan hutan,” kata mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar.

seperti di kutip dari http://hasviahasymi.blogspot.com

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, kondisi mata air di Jawa Timur sudah cukup kritis, sehingga diperlukan upaya penyelamatan terhadap yang masih tersisa. “Dari laporan yang saya dapat, dari 117 mata air yang ada, kini tersisa 53 sumber. Bahkan, ketika musim kemarau datang, sumber air hanya tersisa tiga. Kita perlu menyelamatkan sumber mata air dari kerusakan dengan melakukan konservasi melalui penanaman pohon di daerah sumber mata air, serta di sekitar daerah aliran sungai,” katanya.

seperti di kutip dari http://hasviahasymi.blogspot.com

“Target hingga 2011 nanti bisa ada 700.000 pohon yang akan ditatam. Kami tidak mementingkan jumlah pohon yang ditatam, tapi bagaimana kesinambungan penanaman pohon ini terus berlangsung. Sebab, pelestarian lingkungan demi melindungi pemenuhan kebutuhan sumber daya alam bagi manusia sungguh merupakan suatu yang tak bisa ditawar-tawar,” kata Pimpinan Danone Aqua, Parmaningsih Hadinegoro, yang 5 Agustus lalu mewakili Aqua menerima penghargaan dalam Indonesia Green Awards 2010. Dalam penghargaan tersebut, Agua mendapat Gold Award pada kategori Green CSR dan Green Manufacture.

seperti di kutip dari http://hasviahasymi.blogspot.com

Upaya penyelamatan lingkungan, termasuk di antaranya penyelamatan sumber-sumber air, harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Hal ini tak bisa ditawar-tawar. Apalagi Indonesia dalam visi airnya, telah mencanangkan menuju terwujudnya kemanfaatan air yang mantap, yang berdaya guna, dan berhasil guna, serta berkelanjutan bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Salah satu cara adalah dengan laku budaya hemat air dan ramah lingkungan seluruh komponen masyarakat. Gerakan hemat air harus lebih digalakkan.


Baca juga :

Berdasarkan hukum adat, hak milik tanah diwariskan secara turun temurun. Sepuluh tahun kemudian, perubahan demi perubahan yang berbenturan dengan hukum adat terjadi dan menimbulkan dampak hampir di segala lapisan masyarakat Aceh. Tanah telah diserobot sehingga menyebabkan sumber mata pencaharian hilang dan budaya berubah. Disisi lain, pemerintah telah mengabaikan hak-hak, keamanan dan kesejahteraan masyarakat, dan mengakibatkan gerakan perlawanan dari masyarakat. Hasilnya, kekerasan dan kerusakan terjadi selama masa sengketa lahan tersebut.

seperti di kutip dari https://amperamedia.wordpress.com

Perubahan yang terjadi di Aceh sama dengan perubahan yang terjadi di belahan dunia yang lain sebagai akibat dari invasi kapitalisme yang difasilitasi oleh pemerintah. Secara teori, pondasi inti ideologi kapitalisme adalah pertumbuhan statistik ekonomi. Investor menggalang kerjasama yang berkelanjutan dengan pemerintah, menggunakan kekuasaan struktural dalam rangka mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari sumber daya alam. Kekuasaan dan wewenang pemerintah inilah yang digunakan untuk melanggar hak-hak dasar masyarakat setempat.

seperti di kutip dari https://amperamedia.wordpress.com

Perkebunan kelapa sawit di Asia Tenggara merupakan yang terbesar di dunia. Area terbesar terletak di Indonesia dengan produksi 51,7 persen pada tahun 2012, Malaysia 35,4persen, Thailand memiliki lahan terluas ketiga sebanyak 3,3 persen, Kolumbia 1,7 persen, Nigeria 1,6 persen, dan Negara lainnya 6,4 persen. Indonesia bersama Malaysia memiliki keuntungan tersendiri karena memiliki sumber lahan yang luas membuat investor membuka perkebunan yang luas di kawasan dua Negara tersebut, sedangkan di Thailand hanya perkebunan berskala kecil.

seperti di kutip dari https://amperamedia.wordpress.com

Khusus di Kabupaten Aceh Singkil, ada tujuh perkebunan kelapa sawit sebagai berikut; pertama, Perusahaan Socfindo yang mempunyai izin konsesi lahan di Kecamatan Gunung Meriah hingga 4.414,18 hektar, yang telah ditanami kelapa sawit sejumlah 4.210 hektar. Kedua, Perusahaan Lemban Bakit juga mempunyai izin konsesi lahan di Kecamatan Singkil Utara hingga 6.570 hektar. Total area yang telah ditanami kelapa sawit sejumlah 5.923 hektar. Ketiga, Perusahaan Delima Makmur memiliki izin konsesi lahan di Kecamatan Danau Paris hingga 12.173,47 hektar dan yang telah ditanami kelapa sawit sejumlah 8.969 hektar.

seperti di kutip dari https://amperamedia.wordpress.com

Ke empat, Perusahaan Ubertraco mempunyai izin konsesi lahan di Kecamatan Kota Baharu hingga 13.924,68 hektar, dan yang telah ditanami kelapa sawit sejumlah 5.869 hektar. Kelima, Perusahaan Lestari Tunggal Pratama mempunyai izin membuka lahan perkebunan di Kecamatan Danau Paris hingga 1.861 hektar, dan telah ditanami kelapa sawit sejumlah 1.200 hektar. Ke enam, Perusahaan Telaga Zam-zam memiliki izin konsesi lahan di Kecamatan Gunung Meriah hingga 100,05 hektar dan seluruhnya telah ditanami kelapa sawit. Ketujuh, Perusahaan Jaya Bahni Utama memiliki izin konsesi lahan di Kecamatan Danau Paris hingga 1.800 hektar dan seluruhnya telah ditanami kelapa sawit.

Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Tim Reskrim Polres Aceh Tamiang dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Langsa menemukan adanya praktek perambahan hutan produksi di Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, Aceh. Seluas 150 hektar lahan hutan telah dialih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. “Banyak hutan produksi yang diubah fungsinya. Hutan produksi tersebut berubah fungsi menjadi kebun kelapa sawit,” kata Koordinator wilayah FKL Langsa, Tezar Pahlevi dalam keterangannya, Sabtu (30/12/2017). Dia menyebutkan kejadian perambahan hutan produksi tersebut diprediksi sudah dilakukan sejak Januari 2017 lalu. Dan dugaannya dilakukan oleh dua orang cukong atau pemilik modal. Saat dilakukan konfirmasi kepada para pekerjanya di lokasi, mereka mengaku dua cukong tersebut berinisial SA, warga Aceh Tamiang dan AB warga Binjai, Sumatera Utara Dari penelusuran tim gabungan di kawasan hutan produksi tersebut, berhasil menyita satu unit alat berat yang diduga menjadi alat untuk mempercepat perubahan fungsi hutan tersebut. Sementara Kasat Reskrim Polres Aceh Tamiang Iptu Ferdian Chandra menyebutkan saat dilakukan penyisiran atas dugaan perubahan alih fungsi hutan produksi bersama FKL Langsa dan KPH Langsa ditemukan satu alat berat di kawasan hutan tersebut. “Benar, saat kita lakukan penyisiran ditemukan satu unit alat berat. Saat ini sudah kita amankan di Mapolres Aceh Tamiang. Kita duga alat berat itu untuk membantu alih fungsi hutan tersebut namun saat ini terus kita lakukan penyidikan atas kasus tersebut,” kata Ferdian dikonfirmasi detikcom, Jumat (30/12)

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Lhokseumawe melakukan tes urine terhadap para sopir bus dan angkutan umum di terminal tipe A, Lhokseumawe, Aceh. Dari 50 orang yang dicek, tiga di antaranya positif narkoba. “Ada 50 orang sopir yang kita cek urinenya. Dua orang positif narkoba jenis sabu, satu orangnya positif narkoba jenis ganja,” kata Kepala BNN Kota Lhokseumawe AKBP Fakhrurrazi dalam keterangannya, Sabtu (30/12/2017) dini hari. Fakhrurrazi menyebutkan tes urine dilakukan untuk mengantisipasi keselamatan penumpang dalam perjalanan menuju liburan akhir tahun dan menyambut tahun baru, oleh karenanya seluruh sopir di Lhokseumawe dilakukan tes urin. Dia menambahkan, bagi sopir yang positif menyalahgunakan narkoba tersebut tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Sementara bagi penumpang yang sudah membayar tiket akan diantarkan oleh sopir pengganti untuk melanjutkan perjalanan mereka. “Tiga orang yang positif ini kita lakukan assesment untuk proses rehabilitasi lebih lanjut,” sebutnya.

Related Posts

Comments are closed.